0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan37 halaman

RK3K Pembangunan Gereja Kerasulan

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K) untuk proyek pembangunan Gereja Kerasulan Baru. Perusahaan berkomitmen untuk menerapkan kebijakan K3 yang efektif, termasuk identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko untuk memastikan keselamatan pekerja. Kebijakan ini juga mencakup pelatihan dan komunikasi berkala kepada seluruh personil mengenai tanggung jawab K3.

Diunggah oleh

tomi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan37 halaman

RK3K Pembangunan Gereja Kerasulan

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K) untuk proyek pembangunan Gereja Kerasulan Baru. Perusahaan berkomitmen untuk menerapkan kebijakan K3 yang efektif, termasuk identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko untuk memastikan keselamatan pekerja. Kebijakan ini juga mencakup pelatihan dan komunikasi berkala kepada seluruh personil mengenai tanggung jawab K3.

Diunggah oleh

tomi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK

(RK3K) - PELAKSANAAN PEKERJAAN

PAKET PEKERJAAN :
PEMBANGUNAN GEREJA KERASULAN BARU (LANJUTAN)

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K)


RENCANA KESELAMATAN DAN
Logo Perusahaan KESEHATAN KERJA KONSTRUKSI
(RK3K)

A. KEBIJAKAN RK3K

CV/PT. …………………………….. adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan pada


komitmen untuk turut serta dalam pembangunan melalui jasa konstruksi.
Kami menyadari bahwa aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah penting dalam
pelaksanaan seluruh kegiatan operasi perusahaan, oleh karena itu kami berkomitmen
untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan menyediakan tempat kerja yang aman dan
sehat dengan menerapkan perbaikan yang berkelanjutan melalui Rencana Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K).
CV/PT. …………………………….. konsisten untuk melaksanakan pengelolaan aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara efektif dan efesien dengan cara :

1. Menginformasikan kepada seluruh personil baik internal dan eksternal perusahaan


mengenai tanggung jawabnya dalam pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
di lingkungan perusahaan.
2. Mematuhi perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang berkaitan dengan K3,
serta mengintegrasikannya kedalam semua aspek kegiatan operasi perusahaan.
3. Meminimalkan jumlah terjadinya kesalahan kerja, terjadinya kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja.
4. Melakukan identifikasi bahaya sesuai dengan sifat dan skala resiko-resiko K3.
5. Meningkatkan kompetensi pekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
6. Mengkomunikasikan dan menanamkan kesadaran kebijakan ini kepada seluruh
personil secara berkala.

Kebijakan ini dibuat untuk dapat dipahami oleh seluruh karyawan dan menjadi acuan dalam
pelaksanaan seluruh kegiatan operasi perusahaan.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


B. ORGANISASI K3

Memastikan semua pekerja untuk mematuhi peraturan yang telah ditetapkan

KETUA/ PENANGGUNG
JAWAB K3

PETUGAS KOMUNIKASI PETUGAS TEKNIK

KOORD. KOORD. KOORD. KOORD. KOORD.


KEBAKARAN EVAKUASI P3K HURU-HARA DARURAT
LINGKUNGAN

PETUGAS PETUGAS PETUGAS SECURITY


APAR EVAKUASI / P3K
RESCUE

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K)


C. PERENCANAAN K3

C 1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko, Skala Prioritas, Pengendalian Resiko K3, dan Penanggung Jawab
Nama Perusahaan :
Paket : PEMBANGUNAN GEREJA KERASULAN BARU (LANJUTAN)
Lokasi : WAISAI DISTRIK WAISAI KOTA KAB. RAJA AMPAT
T.A : 2025

PENANGGUNG
NO URAIAN PEKERJAAN IDENTIFIKASI BAHAYA PENGENDALIAN RESIKO K3
JAWAB

(1) (2) (3) (8) (9)


Penempatan material yang aman .
Terjadi luka akibat tertimpa material
Memakai APD (sepatu kerja, sarung
Terjadinya luka akibat peralatan kerja
tangan, masker dan helm), Kotak P3K Ispektor K3 / Petugas
Management Penempatan dan tersengat listrik
1. dan pasang tanda bahaya pengawas pekerjaan,
Material Mematuhi keselamatan dan kesehatan petugas K3
kerja, mentaati prosedur
Terjadi kecelakaan akibat mobilisasi
pengoperasian kendaraan ,tempatkan
material
petugas pengatur kendaraan , pasang
rambu rambu K3.

Terjatuh , luka ringan akibat terpeleset .


Pemasangan penerangan yang cukup
, pasang rambu rambu k3
Ispektor K3 / Petugas
Manajemen dan keselamatan Memakai APD (sepatu kerja, sarung pengawas pekerjaan,
2.
lalulintas manusia tangan, masker dan helm), Kotak P3K, petugas K3, Quality
Terbentur benda keras / tertimpa materia mengatur letak penempatan material engineering
yang aman

Memakai APD (sepatu kerja, sarung


Tertusuk benda tajam, teriris seng
tangan, masker dan helm), Kotak P3K

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K)


Memakai APD (sepatu kerja, sarung
Terbentur benda keras / tertimpa material tangan, masker dan helm), Kotak P3K, Ispektor K3 / Petugas
: luka ringan / berat mengatur letak penempatan material pengawas pekerjaan,
3. Pengamanan Lingkungan hidup
yang aman petugas K3, Quality
Tertusuk benda tajam, teriris seng : luka Memakai APD (sepatu kerja, sarung engineering
ringan / berat tangan, masker dan helm), Kotak P3K
Memakai APD (sepatu kerja, sarung
tangan, masker dan helm), Kotak P3K, Ispektor K3 / Petugas
Terbentur benda keras / tertimpa material
Manajemen Mutu mengatur letak penempatan material pengawas pekerjaan,
4
yang aman petugas K3, Quality
Tertusuk benda tajam, teriris seng : Luka Memakai APD (sepatu kerja, sarung engineering
ringan / berat tangan, masker dan helm), Kotak P3K

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


TABEL 1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, PENETAPAN PENGENDALIAN RISIKO K3

PENILAIAN RESIKO PENETAPAN


PENGENDALIAN
IDENTIFIKASI
SKALA RISIKO K3
NO URAIAN PEKERJAAN JENIS BAHAYA DAMPAK
PRIORITAS PENETAPAN
& RISIKO K3
TINGKAT PENGENDALIAN
KEPARAHAN KEKERAPAN RISIKO K3
RESIKO

PEKERJAAN
I
PERSIAPAN

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
1 Papan Nama Proyek Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan Memakai APD


Kondisi
pada saat Safety
Berbahaya,
lalulintas Pekerjaan,
pekerjaan, Kerusakan
2 Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
3 P 3 K & Peralatan Keselamatan Kerja Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
II PEKERJAAN BETON Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan Rabat lantai Beton Camp.1 : 3 : Kerusakan
1 Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
5 t= 7 cm Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan Penambahan Cor Beton Plat Kerusakan
2 Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
Teras Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
III PEKERJAAN RANGKA DAN ATAP Tertabrak alat 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
kerja, Tertimpa Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
1 Pekerjaan Rangka Atap Baja Ringan C75 lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Pekerjaan Atap Galvalum Spandek Kerusakan
2 lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
(menara gereja) Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
3 Pekerjaan Nok. Atap lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
4 Pekerjaan Perbaikan Atap Bocor lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Pekerjaan Sikabon Anti Bocor Plat Dak Kerusakan
5 lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Menara dan Plat Dak Teras Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
6 Pekerjaan Talang Air lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

IV PEKERJAAN LANTAI DAN DINDING

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan Pasangan Granit Lantai 60 x 60 Kerusakan
1 Terjatuh ke 1 2 2 Berhati-hati Dan
cm Dan 3
lubang, Mematuhi
Kecelakaan
Tertabrak alat segala aturan
Kerja
kerja, Tertimpa dalam bekerja
alat kerja,
Terkena Benda

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
2 Pekerjaan Pas. Rolag bata lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Pekerjaan Urugan Tanah Peninggi Lantai Kerusakan
3 lubang, 1 2 2 Berhati-hati Dan
Selasar Dan 3
Tertabrak alat Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Kecelakaan Kondisi
Memakai APD
pada saat Berbahaya, Safety
Pekerjaan Plesteran Camp. 1Pc : 4 Pp lalulintas Kerusakan
4 1 2 2 Pekerjaan,
(Selasar dan Dinding menara dalam) pekerjaan, Dan 3 Berhati-hati Dan
Terjatuh ke Kecelakaan Mematuhi
lubang, Kerja segala aturan
Tertabrak alat

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


kerja, Tertimpa dalam bekerja
alat kerja,
Terkena Benda
Tajam.

TABEL 2. PENYUSUNAN SASARAN DAN PROGRAM K3

5. Pekerjaan Acian

6. Pekerjaan Finishing perapihan Kolom dan Balok

Kecelakaan Memakai APD


Kondisi
pada saat Safety
Berbahaya,
lalulintas Pekerjaan,
Kerusakan
7. Pekerjaan Finishing Profil kolom teras pekerjaan, Berhati-hati
Tertabrak alat Dan 1 2 2 3
Dan Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
8 Pekerjaan Interior Belakang Altar Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan Finishing Motif Belakang Altar dengan Kerusakan
9 Tertabrak alat Berhati-hati
GRC Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan Pemasangan Salib Depan Gereja (Besi Kerusakan
10 Tertabrak alat Berhati-hati
Stenlis Steel) Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
11 Pekerjaan Pasangan Lampu Hias Belakang Altar Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
12 Pemasangan Aluminium Composite Panel (ACP) Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

V PEKERJAAN PLAFOND

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
1 Pekerjaan Plafond Gypsum 9 mm Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
2 Pekerjaan List Plafon Kayu (area Selasar) Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Pekerjaan List Plafon Profil gypsum (Dalam Kerusakan
3 Tertabrak alat Berhati-hati
Gedung) Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

VI PEKERJAAN PENGECETAN

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
1 Pekerjaan Cat Tembok Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
2 Pekerjaan Cat Plafon Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat Memakai APD
Kondisi
lalulintas Safety
Berbahaya,
pekerjaan, Pekerjaan,
Kerusakan
VII PEKERJAAN AKHIR Tertabrak alat Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
kerja, Tertimpa Dan Mematuhi
Kecelakaan
alat kerja, segala aturan
Kerja
Terkena Benda dalam bekerja
Tajam.

Kecelakaan
pada saat
lalulintas Memakai APD
Kondisi
pekerjaan, Safety
Berbahaya,
Terjatuh ke Pekerjaan,
Kerusakan
1 Pekerjaan Pembersiahan Sisa Material lubang, Berhati-hati
Dan 1 2 2 3
Tertabrak alat Dan Mematuhi
Kecelakaan
kerja, Tertimpa segala aturan
Kerja
alat kerja, dalam bekerja
Terkena Benda
Tajam.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


C 2. Pemenuhan Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan Lainnya

Daftar Peraturan Perundang-Undangan dan Persyaratan K3 yang wajib dipunyai dan dipenuhi
dalam melaksanakan proyek Pekerjaan Pembangunan Puskesmas Yembun
a) Undang-undang (UU)
Undang-undang yang mengatur tentang K3 adalah undang-undang tentang pekerja,
keselamatan kerja dan kesehatan. Undang-undang ini menjelaskan tentang apa yang
dimaksud dengan tempat kerja, kewajiban pimpinan tempat kerja, hak dan kewajiban
pekerja.
b) Peraturan Pemerintah (PP)
Peraturan pemerintah yang mengatur tentang aspek K3 adalah Peraturan Pemerintah
tentang keselamatan kerja terhadap radiasi dan izin pemakaian zat radioaktif dan atau
sumber radiasi lainnya serta pengangkutan zat radioaktif.
c) Keputusan Presiden (Kepres)
Keputusan presiden yang mengatur aspek K3 adalah Keputusan Presiden tentang
penyakit yang timbul karena hubungan kerja.
d) Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Tenaga Kerja (Kepmenaker).
Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Depnaker di rumah sakit pada umumnya
menyangkut tentang syarat-syarat keselamatan kerja misalnya syarat-syarat K3 dalam
pemakaian lift, listrik, pemasangan alat pemadan api ringan (APAR), Konstruksi
bangunan, instalasi penyalur petir dan lain-lain.
e) Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan (Permenkes)
Peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan tentang aspek K3 di rumah
sakit, lebih terkait dengan aspek kesehatan kerja daripada keselamatan kerja. Hal
tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Kementrian Kesehatan.
f) Peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian lainnya yang berhubungan dengan
pelaksanaan K3 di fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu Peraturan dari Kementrian lain
adalah yang terkait dengan aspek radiasi.

1. PENJELASAN UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN K3


a. Undang-Undang
➢ Undang – undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
➢ Undang-undang RI No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Undang-undang
ini mengatur tentang:
❖ Kewajiban pengurus (pimpinan tempat kerja)
❖ Kewajiban dan hak pekerja
❖ Kewenangan Menteri Tenaga Kerja untuk membentuk Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) guna mengembangkan kerja sama,
saling pengertian dan partisipasi aktif dari pengusaha atau pengurus dan
Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K)
pekerja di tempat-tempat kerja, dalam rangka melancarkan usaha berproduksi
dan meningkatkan produktivitas kerja.
❖ Ancaman pidana atas pelanggaran peraturan ini dengan hukuman kurungan
selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.100.000,
(seratus ribu rupiah)

b. Kewajiban pengurus (pimpinan tempat kerja) Kewajiban memenuhi syarat-syarat


keselamatan kerja yang meliputi :
❖ Mencegah dan mengurangi kecelakaan
❖ Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
❖ Mencegah dan mengurangi bahaya ledakan
❖ Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran
atau kejadian lain yang berbahaya
❖ Memberi pertolongan pada kecelakaan
❖ Menyediakan alat-alat perlindungan diri (APD) untuk pekerja

contoh alat – alat Pelindung Diri yang harus dipakai dilokasi

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


contoh alat – alat Pelindung Diri yang harus dipakai dilokasi
❖ Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebar luasnya bahaya
akibat suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin,
cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran
❖ Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik psikis,
keracunan, infeksi atau penularan
❖ Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
❖ Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik
❖ Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
❖ Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
❖ Membuat tanda-tanda sign di lokasi proyek agar pekerja selalu waspada

contoh rambu-rambu keselamatan yang wajib dipasangkan


dilokasi

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


❖ Menciptakan keserasian antara pekerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerja
❖ Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman
atau barang
❖ Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
❖ Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan
penyimpanan barang
❖ Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
❖ Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
berbahaya agar kecelakaan tidak menjadi bertambah tinggi.
❖ Kewajiban melakukan pemeriksaan kesehatan badan, kondisi mental dan
kemampuan fisik pekerja yang baru diterima bekerja maupun yang akan
dipindahkan ke tempat kerja baru sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang
diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
❖ Kewajiban menunjukan dan menjelaskan kepada setiap pekerja baru tentang :
• Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya yang dapat timbul di tempat
kerjanya.
• Pengaman dan perlindungan alat-alat yang ada dalam area tempat
kerjanya
• Alat-alat perlindungan diri bagi pekerja yang bersangkutan
• Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
❖ Kewajiban melaporkan setiap kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja.
❖ Kewajiban menempatkan semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan
pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca oleh pekerja.
❖ Kewajiban memasang semua gambar keselamatan kerja yang diharuskan dan
semua bahan pembinaan lainnya pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan
dibaca.
❖ Kewajiban menyediakan alat perlindungan diri secara cuma-cuma disertai
petunjuk-petunjuk yang diperlukan pada pekerja dan juga bagi setiap orang
yang memasuki tempat kerja tersebut.

c. Kewajiban dan hak pekerja


❖ Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pengawas atau ahli
keselamatan kerja.
❖ Memakai APD dengan tepat dan benar
❖ Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


❖ Meminta kepada pimpinan agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan
kesehatan kerja yang diwajibkan
❖ Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan
kesehatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan
olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pengawas, dalam
batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

d. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Dalam UNDANG-


UNDANG nomor 23 pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja dijelaskan sebagai berikut :
❖ Kesehatan Kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara
sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga
diperoleh produktifitas kerja yang optimal sejalan dengan program
perlindungan pekerja.
❖ Kesehatan Kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit
akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.
❖ Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
❖ Ketentuan mengenai kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada poin (1),
(2) dan (3) ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
❖ Tempat kerja yang tidak memenuhi ketentuan kesehatan kerja dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau pidana denda paling banyak
Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah)

e. Undang-undang RI No. 25 Tahun 1991 Tentang Ketenagakerjaan Dalam peraturan ini


diatur bahwa setiap pekerja berhak memperoleh perlindungan atas :
❖ Keselamatan dan Kesehatan Kerja
❖ Moral dan kesusilaan
❖ Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.

f. Undang-Undang no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Dalam UNDANG-


UNDANG ini diataur tentang:
❖ Perenacanaan tenaga kerja
❖ Pelatihan kerja
❖ Kompetensi kerja
❖ Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
❖ Waktu kerja
❖ Keselamatan dan kesehatan Kerja

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


2. PERATURAN PEMERINTAH
Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan SMK3
Dalam peraturan ini terdapat beberapa hal yang digunakan diantaranya :
1. Dasar Hukum yang digunakan

i. UU No. 13 th 2003 ttg Ketenagakerjaan


ii. UU No. 1 th 1970 ttg Keselamatan Kerja

2. Tujuan penerapan SMK3

a) Meningkatkan efektivitas perlindungan K3 yg terencana, terukur dan


teintegrasi;
b) Mencegah dan mengurangi [Link] dan PAK dgn melibatkan unsur
manajemen, pekerja/ buruh, dan/atau SP/SB;
c) Menciptakan tempat kerja yg aman, nyaman dan efisien utk mendorong
produktivitas

3. Ketentuan Penilaian SMK3

1. Audit dilakukan Lembaga Audit Independen yg ditunjuk Menteri atas


permohonan perusahaan.
2. Perusahaan yg berpotensi bahaya tinggi wajib melakukan penilaian
penerapan SMK3

4 Laporan Audit SMK3

1. Hasil Audit dilaporkan kpd Menteri

2. Laporan Audit, tembusan disampaikan kpd :

• Menteri pembina sektor

• Gubernur

• Bupati/Walikota
untuk peningkatan SMK
5 Tinjauan Ulang Peningkatan Kinerja Penerapan SMK3

1. Mengevaluasi strategi SMK3 untuk menentukan apakah telah memenuhi

tujuan yang direncanakan;

2. Mengevaluasi kemampuan SMK3 untuk memenuhi kebutuhan organisasi

dan para pemangku kepentingan, termasuk para pekerja;

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


3. Mengevaluasi kebutuhan perubahan pada SMK3, termasuk kebijakan dan

sasaran;

4. Mengevaluasi kemajuan dalam pencapaian tujuan organisasi dan tindakan

korektif;

5. Mengevaluasi efektivitas tindak lanjut dari tinjauan ulang sebelumnya;

6. Mengidentifikasi tindakan apa yang diperlukan untuk memperbaiki setiap

kekurangan dalam waktu yang tepat, termasuk adaptasi terhadap aspek2

yang berkaitan dengan struktur manajemen dan pengukuran kinerja

perusahaan;

7. Memberikan arahan terhadap umpan balik, termasuk penentuan prioritas,

perencanaan yang bermakna dan perbaikan berkesinambungan;

Peraturan pemerintah RI No. 11 Tahun 1975 Tentang Keselamatan Kerja Terhadap


Radiasi. Dalam peraturan ini diatur nilai ambang batas yang diizinkan. Selanjutnya
ketentuan nilai ambang batas yang diizinkan, diatur lebih lanjut oleh instansi yang
berwenang.
Pengaturan mengenai petugas dan ahli proteksi radiasi, pemeriksaan kesehatan calon
pekerja dan pekerja radiasi, kartu kesehatan, pertukaran tugas pekerjaan, ketentuan-
ketentuan kerja dengan zat radioaktif dan atau sumber radiasi lainnya, pembagian daerah
kerja dan pengelolaan limbah radioaktif, kecelakaan dan ketentuan pidana. Rangkuman isi
peraturan sebagai berikut :
a. Instalasi atom harus mempunyai petugas dan ahli proteksi radiasi dimana petugas
proteksi mempunyai tugas menyusun pedoman dan instruksi kerja, sedangkan ahli
proteksi mempunyai tugas mengawasi ditaatinya peraturan keselamatan kerja
terhadap radiasi.
b. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada pekerja radiasi adalah:
• calon pekerja radiasi
• berkala setiap satu tahun
• pekerja radiasi yang akan putus hubungan kerja.
c. Pekerja radiasi wajib mempunyai kartu kesehatan dan petugas proteksi radiasi wajib
mencatat dalam kartu khusus banyaknya dosis pajanan radiasi yang diterima masing-
masing pekerja.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


d. Apabila pekerja menerima dosis radiasi melebihi nilai ambang batas yang diizinkan,
maka pekerja tersebut harus dipindahkan tempat kerjanya ketempat lain yang tidak
terpajan radiasi.
e. Perlu adanya pembagian daerah kerja sesuai dengan tingkat bahaya radiasi dan
pengelolaan limbah radioaktif.
f. Perlu ada tindakan dan pengamanan untuk keadan darurat apabila terjadi kecelakaan
radiasi.
g. Pelanggaran ketentuan ini diancam pidana denda Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah)
Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1975 Tentang Izin pemakaian Zat Radioaktif atau
sumber Radiasi lainnya Dalam peraturan ini diatur tentang pemakaian zat radioaktif
dan atau sumber radiasi lainnya, syarat dan cara memperoleh izin, kewajiban dan
tanggung jawab pemegang izin serta pemeriksaan dan ketentuan pidana.

3. KEPUTUSAN PRESIDEN
Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit Yang Timbul karena
Hubungan Kerja. Dalam peraturan ini diatur hak pekerja kalau menderita penyakit yang
timbul karena hubungan kerja, pekerja tersebut mempunyai hak untuk mendapat jaminan
kecelakaan kerja baik pada saat masih dalam hubungan kerja maupun setelah hubungan
kerja berakhir (paling lama 3 tahun sejak hubungan kerja berakhir)

4. PERATURAN- PERATURAN YANG DIKELUARKAN OLEH KEMENTRIAN TENAGA


KERJA DAN TRANSMIGRASI (PERMENAKERTRANS)
a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi [Link].05/Men/1978 Tentang
Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam pemakaian lift listrik untuk
pengangkutan orang dan barang.
Dalam peraturan ini disebutkan bahwa pemasang lift (instalatir) harus mempunyai izin.
Demikian pula untuk pemasangan, pemakaian dan perubahan teknis harus dengan
izin tertulis Depnaker. Selain kewajiban izin, dalam peraturan tersebut juga diatur
mengenal syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja, penggunaan lift dan
perawatan lift.

b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.01/Men/1980 Tentang Keselamatan dan


Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan
Dalam peraturan ini, diatur tentang tempat kerja dan alat kerja, perancah, tangga dan
rumah tangga, alat-alat angkat, kabel baja, tambang, rantai dan peralatan bantu,
mesin-mesin, peralatan konstruksi bangunan, konstruksi di bawah tanah, penggalian,
pekerjaan memancang, pekerjaan beton, pekerjaan pembongkaran, penggunaan
perlengkapan, penyelamatan dan perlindungan diri. Peraturan ini sangat bermanfaat

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


bagi rumah sakit yang sedang mengadakan renovasi atau membangun rumah sakit
baru ataupun dalam perawatan bangunan.

c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.02/Men /1980 tentang
Pemeriksaan Kesehatan Kerja dalam Penyelenggaraan keselamatan Kerja. Dalam
peraturan ini diatur tentang pemeriksaan kesehatan pekerja dalam penyelenggaran
keselamatan kerja, dimana ada 3 jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan sebelum
bekerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus.
Pemeriksaan sebelum kerja
1. Pemeriksaan sebelum kerja adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan
oleh dokter sebelum seorang pekerja diterima untuk bekerja (pre
employment)
2. Tujuan agar pekerja berada dalam kondisi kesehatan yang setinggi-
tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai pekerja
lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukannya sehingga
keselamatan dan kesehatan yang bersangkutan serta pekerja lainnya juga
dapat terjamin.
3. Pemeriksaan kesehatan kerja meliputi pemeriksaan fisik lengkap,
kesegaran jasmani, rontgen paru-paru dan laboratorium rutin serta
pemeriksaan lain yang dianggap perlu sesuai dengan hazard di tempat
kerja.
4. Penyusunan pedoman pemeriksaan kesehatan sebelum kerja merupakan
kewajiban pimpinan dan dokter perusahaan untuk menjamin penempatan
pekerja sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Pemeriksaan Kesehatan Berkala


1. Pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan kesehatan pada
waktu-waktu tertentu terhadap pekerja yang dilakukan oleh dokter
perusahaan (biasanya dilakukan secara rutin setiap tahun).
2. Tujuannya untuk mempertahankan derajat kesehatan pekerja sesudah
berada dalam pekerjaannya, serta menilai kemungkinan adanya pengaruh
pekerjaan terhadap kesehatan sedini mungkin agar dapat dikendalikan
dengan usaha-usaha pencegahan
3. Pemeriksaan berkala dilakukan sekurang-kurangnya setahun sekali
meliputi pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen dan
laboratorium rutin serta pemeriksaan-pemeriksaan lain yang dianggap perlu
4. Kewajiban pimpinan dan dokter perusahaan untuk menyusun pedoman
pemeriksaan kesehatan berkala yang dikembangkan mengikuti

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


perkembangan perusahaan dan kemajuan kedokteran dalam keselamatan
kerja
5. Apabila pada waktu pemeriksaan berkala ditemukan kelainan-kelainan atau
gangguan-gangguan kesehatan pada pekerja, pimpinan wajib melakukan
tindak lanjut untuk mengobati gangguan kesehatan tersebut dan mencari
penyebab masalah agar dapat dilakukan koreksi untuk menjamin
terselenggaranya keselamatan dan kesehatan kerja

Pemeriksaan Khusus
1. Pemeriksaan kesehatan khusus adalah pemeriksaan kesehatan yang
dilakukan oleh dokter perusahaan secara khusus terhadap pekerja tertentu
2. Tujuan untuk menilai adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan tertentu
terhadap pekerja atau golongan-golongan pekerja tertentu
3. Pemeriksaan kesehatan khusus dilakukan pula terhadap :
❖ Pekerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang
memerlukan perawatan yang lebih dari 2 (dua) minggu.
❖ Pekerja yang berusia di atas 40 tahun atau pekerja cacat, serta
pekerja muda usia yang melakukan pekerjaan tertentu
❖ Pekerja yang diduga terpajan dengan hazard khusus yang
menimbulkan gangguan kesehatan, juga perlu dilakukan
pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan
❖ Jika ditemukan keluhan pekerja atau atas pengamatan pengawas
keselamatan dan kesehatan kerja, atau atas penilaian Pusat Bina
Hyperkes dan Keselamatan Kerja dan instansi terkait lainnya atau
atas pendapat umum di masyarakat.

d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-04/Men/1980 tentang


Syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan (APAR)
Peraturan ini menjelaskan jenis kebakaran dan jenis alat pemadam api ringan serta
bagaimana pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan. Pemasangan
alat pemadam api ringan (APAR)
❖ Ditempatkan posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil
serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan
❖ Tinggi pemberian tanda pemasangan adalah 125 cm dari lantai tepat di atas
APAR tersebut.
❖ Jarak antara APAR satu dengan yang lainnya tidak melebihi 15 meter kecuali
ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


❖ Tabung APAR sebaiknya warna merah dan tidak boleh ada lubang-lubang atau
cacat karena karat
❖ Tabung APAR harus dipasang (ditempatkan) menggantung pada dinding dengan
penguatan sengkang atau dengan konstruksi penguat lainnya ditempatkan dalam
lemari atau box. Apabila box tersebut dikunci maka bagian depannya harus diberi
kaca aman dengan tebal maximum 2 mm.

Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan Setiap APAR harus diperiksa 2 (dua) kali
dalam setahun yaitu pemeriksaan dalam jangka 6 bulan dan pemeriksaan dalam
jangka 12 bulan, selain itu setiap tabung APAR perlu dilakukan percobaan secara
berkala dengan jangka waktu tidak melebihi 5 tahun guna melihat kekuatan tabung.

Pelanggaran aturan ini diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga)


bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

Peraturan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi No. Per-01/Men/1981 tentang


kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja. Dalam peraturan ini diuraikan jenis-jenis
penyakit akibat kerja, dimana ada 30 jenis. Dari 30 jenis penyakit tersebut salah satunya
adalah penyakit-penyakit infeksi atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan
kesehatan dan laboratorium. Batas waktu kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja
adalah 2 x 24 jam. Dalam peraturan ini diuraikan juga tentang kewajiban pimpinan untuk
melakukan tindakan preventif agar penyakit akibat kerja tidak terulang lagi serta kewajiban
untuk menyediakan alat pelindung diri.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per-03/ Men/1982 Tentang
Pelayanan Kesehatan Kerja. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa merupakan kewajiban
pimpinan untuk memberikan pelayanan kesehatan kerja kepada pekerja, dapat
diselenggarakan sendiri atau mengadakan ikatan kerjasama dengan pelayanan kesehatan
kerja lain. Tugas pokok Pelayanan Kesehatan Kerja meliputi :
❖ Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan
kesehatan khusus.
❖ Pembinaan dan Pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap pekerja
❖ Pembinaan dan pengawasan lingkungan kerja
❖ Pembinaan dan pengawasan perlengkapan saniter
❖ Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan pekerja
❖ Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat kerja
❖ Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
❖ Pendidikan kesehatan untuk pekerja dan latihan untuk petugas P3K

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


❖ Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan
APD yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja
❖ Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja
❖ Pembinaan dan pengawasan terhadap pekerja yang mempunyai kelainan tertentu
dalam kesehatannya
❖ Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus

e. Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. Per-02/Men/1983 tentang Instalasi Alarm


Kebakaran Otomatik Peraturan ini mengatur perencanaan, pemasangan,
pemeliharaan dan pengujian alarm kebakaran otomatik. Untuk pemasangan diperlukan
akte pengesahan, selain buku akte pengesahan diperlukan juga buku catatan yang
ditempatkan di ruangan panel indicator. Buku catatan tersebut dipergunakan untuk
mencatat semua peristiwa alarm, latihan, penggunaan alarm dan pengujiannya. Yang
dimaksud dengan instalasi alarm kebakaran otomatik adalah system atau rangkaian
alarm kebakaran yang menggunakan detector panas, detector asap, detector nyala api
dan titik panggil secara manual serta perlengkapan lainnya yang dipasang pada
system alarm kebakaran. Oleh karena itu dalam peraturan ini juga diatur system
deteksi panas, system deteksi asap dan system detector api (flame detector).

Pemeliharaan dan pengujian berkala instalasi alarm kebakaran otomatik dilakukan


secara mingguan, bulanan dan tahunan.
❖ Pemeliharaan dan pengujian mingguan meliputi membunyikan alarm secara
simulasi, memeriksa kerja lonceng, memeriksa tegangan dan keadaan baterai,
memeriksa seluruh system alarm dan mencatat hasil pemeliharaan serta
pengujian dan dicatat di buku catatan.
❖ Pemeliharaan dan pengujian bulanan antara lain meliputi: uji coba kebakaran
simulasi, memeriksa lampu-lampu indicator, fasilitas penyediaan sumber tenaga
darurat, mencoba dengan kondisi gangguan terhadap system, memeriksa kondisi
dan kebersihan panel indicator dan mencatat hasil pemeliharaan dan pengujian
dalam buku catatan.
❖ Pemeliharaan dan pengujian tahunan meliputi: memeriksa tegangan instalasi,
memeriksa kondisi dan kebersihan seluruh detector, menguji sekurang-
kurangnya 20 % detector dari setiap kelompok instalasi sehingga selambat-
lambatnya dalam waktu 5 (lima) tahun, seluruh detektor sudah diuji.

f. Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. Per-02/Men/1989 Tentang Pengawasan Instalasi


Penyalur Petir
Yang dimaksud dengan instalasi penyalur petir ialah seluruh susunan sarana penyalur
petir terdiri dari penerima (Air Termina/Rod), penghantar penurunan (Down conductor),

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Elektroda bumi (Earth Electrode) termasuk perlengkapan lainnya yang merupakan
satu kesatuan yang berfungsi untuk menangkap muatan petir dan menyalurkan ke
bumi.

Sejalan dengan hal tersebut maka dalam peraturan ini diatur mengenai penerima (air
terminal), penghantar turunan, pembumian, menara, bangunan yang mempunyai
antena, cerobong yang lebih tinggi dari 10 meter, pemeriksaan pengujian,
pengesahan. Oleh karena itu instalasi penyalur petir harus direncanakan, dibuat,
dipasang dan dipelihara sesuai dengan peraturan ini. Gambar rencana instalasi
penyalur petir harus mendapat pengesahan dan sertifikat dari Menteri atau pejabat
yang ditunjuknya.
g. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen
Keselamatan Kerja (SMK3)
Dalam peraturan ini dijelaskan mengenai tujuan dan sasaran system manajemen K3,
penerapan system manajemen K3, audit system manajemen K3, mekanisme
pelaksanaan audit dan sertifikasi K3. Dalam lampiran peraturan tersebut diuraikan
mengenai Pedoman Penerapan Sistem Manajemen K3 Yang terdiri dari :
❖ Komitmen dan kebijakan
• Kepemimpinan dan Komitmen  menempatkan organisasi K3 pada posisi yang
dapat menentukan keputusan perusahaan.
• Setiap tingkat pimpinan dalam perusahaan harus menunjukkan komitmen
terhadap K3 sehingga penerapan SMK3 berhasil diterapkan dan
dikembangkan
• Setiap pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja harus berperan serta
dalam menjaga dan mengendalikan pelaksanaan K3.
❖ Tinjauan Awal Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Initial Review)
❖ Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh pimpinan dan atau pengurus yang
memuat keseluruhan visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekad
melaksanakan K3, kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan
perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan atau operasional.
❖ Perencanaan
• Perencanaan Identifikasi Bahaya Penilaian dan Pengendalian Risiko
• Peraturan Perundangan dan persyaratan lainnya
• Tujuan dan sasaran (SMART)
• Penetapan tujuan dan sasaran kebijakan K3 harus dikonsultasikan dengan
wakil pekerja, Ahli K3, P2K3 dan pihak lain yang terkait.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


• Tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan ditinjau ulang kembali secara teratur
sesuai dengan perkembangan
❖ Indikator Kinerja
Dalam menetapkan tujuan dan sasaran kebijakan K3 perusahaan harus menggunakan
indikator kinerja yang dapat diukur sebagai dasar penilaian keinerja K3 yang sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3
❖ Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang sedang berlangsung
• Penerapan
1. Jaminan Kemampuan
2. Sumber daya manusia sarana dan dana
3. Integrasi
4. Tanggung jawab dan tanggung gugat
5. Konsultasi, motivasi dan kesadaran
6. Pelatihan dan kompetensi kerja
7. Kegiatan pendukung

❖ Komunikasi 2 arah, mengkomunikasikan hasil audit K3, identifikasi dan menerima


informasi K3 yang terkait dari luar perusahaan dan menjamin informasi terkait
disampaikan kepada pihak yang membutuhkan.
• Pelaporan
• Insiden
• Ketidaksesuaian
• Kinerja K3
• Identifikasi sumber bahaya
• Pelaporan untuk memenuhi regulasi
• Pendokumentasian
• Pengendalian dokumen
1. Sesuai dengan uraian tugas dan tanggung jawab di perusahaan
2. Ditinjau ulang secara berkala, jika perlu direvisi
3. Sebelum diterbitkan harus disetujui oleh personil berwenang
4. Dokumen versi terbaru harus tersedia di tempat kerja yang dianggap perlu
5. Semua dokumen yang usang harus segera disingkirkan
6. Mudah ditemukan, bermanfaat dan mudah dipahami
7. Pencatatan dan manajemen informasi
8. Identifikasi Sumber Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko
9. Identifikasi sumber bahaya
10. Penilaian risiko
11. Tindakan Pengendalian

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


12. Perancangan (design) dan rekayasa
13. Pengendalian administrative
14. Tinjauan ulang kontrak
15. Pembelian
16. Prosedur menghadapi keadaan darurat atau bencana
17. Prosedur menghadapi Insiden
18. Prosedur rencana pemulihan keadaan darurat.
19. Pengukuran dan Evaluasi
20. Inspeksi dan pengujian
21. Audit Sistem Manajemen K3
22. Tindakan Perbaikan dan pencegahan
23. Tinjauan Ulang dan Peningkatan oleh Pihak Manajemen
24. Evaluasi terhadap penerapan kebijakan K3
25. Tujuan, sasaran dan kinerja K3
26. Hasil temuan audit system manajemen K3
27. Evaluasi efektifitas penerapan system manajemen K3 dan kebutuhan untuk
mengubah system manajemen K3 sesuai dengan :
• Perubahan peraturan perundangan
• Tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar
• Perubahan produk dan kegiatan perusahaan
• Perubahan struktur organisasi perusahaan

5. PERATURAN K3 YANG DIKELUARKAN OLEH KEMENTRIAN KESEHATAN


a. Surat Kep. Men. Kes. RI No.1231/Yankes/Instal/IX/83
tentang Pembentukan Panitia Ketentuan Mengenai Peralatan Elektromedis untuk
Menjamin Keamanan Jalannya Pelayanan. Panitia ini telah menyusun pedoman
mengenai peralatan elektromedis untuk menjamin keamanan jalannya pelayanan.
Dalam pedoman tersebut diuraikan mengenai keselamatan peralatan untuk mencegah
kesalahan-kesalahan, maka perlu diketahui bahaya masing-masing peralatan tersebut.
Bahaya tersebut terdiri dari bahaya listrik, mekanik, ledakan, kebakaran, radiasi,
kebisingan, suhu dan lingkungan. Selain keselamatan peralatan, dalam pedoman ini
juga diuraikan tentang keselamatan instalasi yaitu susunan semua peng-kawatan,
sakelar, transformator dan bagian-bagian lain yang dimaksudkan untuk penyaluran
daya ke peralatan listrik yang digunakan dalam fasilitas pelayanan kesehatan.
Pedoman ini juga mengatur aturan pemakaian, organisasi, latihan dan pengawasan
dan dapat dipakai sebagai acuan bagi rumah sakit pada waktu mengadakan
pemasangan alat elektromedis

b. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 712/Menkes/Per/X/96

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


tentang Persyaratan Kesehatan Jasa Boga Yang diatur di dalam peraturan ini adalah
lokasi dan bangunan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, pengusaha,
penanggungjawab dan tenaga, izin penyehatan makanan, pembinaan dan
pengawasan. Peraturan ini dapat dipakai sebagai acuan bagi rumah sakit, dimana
makanan pasien dikerjakan oleh catering. Dalam memilih catering harus yang sudah
memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan jasa boga. Selain itu, peraturan ini juga
dapat digunakan sebagai acuan bagi instalasi Gizi di rumah sakit dalam melaksanakan
kegiatan pengolahan, penyimpanan dan pengangkutan serta fisik bangunan.

c. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 986/Menkes/Per/XI/1992


tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Dalam peraturan ini diatur
tentang lokasi, lingkungan, bangunan, fasilitas sanitasi dan jasa pelayanan lainnya,
pengelola dan tenaga yang termasuk upaya penyehatan lingkungan rumah sakit,
pembinaan dan pengawasan. Di dalam peraturan ini, aturan hanya bersifat umum,
sedangkan aturan teknisnya diatur melalui SK Dirjen P2MPLP No.[Link]

d. Keputusan Dirjen PPM & PLP No. [Link] tanggal 18 Februari 1993
tentang Persyaratan dan Petunjuk Teknis Tata Cara Penyehatan Lingkungan Rumah
Sakit
Peraturan ini merupakan Petunjuk Teknis dari Permenkes No.986/1992 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Dalam peraturan ini dijelaskan
tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan ruang dan bangunan serta fasilitas
sanitasi Rumah Sakit, Persyaratan Kesehatan Konstruksi Ruangan di Rumah Sakit,
Kualifikasi Tenaga di Bidang Kesehatan Lingkungan yang bekerja di rumah sakit dan
petunjuk Teknis Tata cara Pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit.

e. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1244/ Menkes/SK/XII/1994


tentang Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan Biomedis Pedoman ini
menjelaskan mengenai klasifikasi mikroorganisme dan laboratorium, manajemen
keamanan kerja laboratorium, yang meliputi tingkatan manajemen keamanan kerja,
kewajiban petugas atau tim keamanan kerja dalam laboratorium, system pencatatan
dan pelaporan adanya bahaya di dalam laboratorium, pelatihan keamanan kerja dalam
laboratorium, praktek laboratorium yang benar, pengelolaan specimen, tata ruang dan
fasilitas laboratorium, sterilisasi, desinfeksi, dekontaminasi dan tata laksana limbah
laboratorium, peralatan laboratorium dan bahaya yang dapat dicegah, kesehatan
petugas laboratorium dan lain sebagainya.

f. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 472/Menkes/Per/V/1996


tentang Pengamanan Bahaya Berbahaya Bagi Kesehatan Dalam peraturan ini di atur
tentang distribusi atau pengedaran, pengelolaan bahan berbahaya bagi kesehatan,

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


dimana setiap bahan berbahaya yang diedarkan harus diberi wadah dan kemasan
dengan baik dan aman. Pada wadah kemasan dicantumkan nama sediaan atau nama
dagang, nama bahan aktif, isi berat netto, kalimat peringatan dan tanda atau symbol
bahaya, petunjuk pertolongan pertama pada kecelakaan yang disebut MSDS (Material
Safety Data Sheet). Dalam peraturan ini juga dilampirkan daftar bahan berbahaya
yang harus didaftarkan

g. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.363/Menkes/Per/V/1998


tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan pada Sarana Pelayanan Kesehatan
Dalam peraturan ini diatur jenis-jenis peralatan medis yang wajib diuji dan di kalibrasi.
Alat yang wajib diuji dan dikalibrasi dicantumkan pada lampiran surat keputusan ini.
Alat yang telah dilakukan pengujian dan atau sudah dikalibrasi dengan hasil memenuhi
standar diberikan sertifikat.

h. Surat Keputusan Bersama Dirjen YanMed (Depkes) dengan Dirjen Binawas


(Depnaker) SKB No.147A/Yanmed/Insmed/II/92-Kep 44/BW/92
tentang Pelaksanaan Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Berbagai
Peralatan Berat Non Medik di Lingkungan Rumah Sakit. Pembinaan K3 meliputi
pesawat uap, bejana tekan, pesawat angkat atau crane, lift, instalasi deteksi pemadam
kebakaran, instalasi listrik dan penangkal petir, pesawat pembangkit tenaga listrik.

6. PERATURAN K3 YANG DIKELUARKAN OLEH KEMENTRIAN LAIN


Keputusan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional No. PN 03/160/DJ/89 tentang
Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi Peraturan ini mengatur tentang
ketentuan-ketentuan keselamatan terhadap radiasi.

C3. Sasaran dan Program K3

1. Sasaran K3
❖ Tidak ada kecelakaan kerja yang berdampak terjadi korban jiwa (Zero Fatal Accident)
❖ Tingkat penerapan elemen SMK3 minimal 80%
❖ Semua pekerjaan wajib memakai APD yang sesuai bahaya dan resiko pekerjaanya
masinng-masing
❖ 5R (Ringkas,Rajin,Rapi,Resik dan Rawat)
❖ Tidak ada barang yang diperlukan ditempat kerja atau lokasi pekerjaan konstruksi
❖ Semua barang mempunyai tempat yang pasti
❖ Tidak terdapat kotoran apa saja di tempat kerja
❖ Kondisi yang sudah baik terjaga tetap dari waktu ke waktu
❖ Semua orang berprilaku sesuai dengan norma kerja positif yang dikembangkan
ditempat kerja.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


2. Program K3
❖ Membersihkan tempat kerja setelah selesai melakukan pekerjaan
❖ Menjaga kebersihan jalan kerja, papan kerja, tangga dari peralatan atau material yang
❖ Membersihkan segera tumpahan oli, minyak, dan lain-lain
❖ Membuang sampah pada tempatnya
❖ Buang air besar/kecil pada tempaynya
❖ Menyingkirkan logam ptongan paku atau paku yang tidak terpasang
❖ Menekuk ujung-ujung paku yang runcing pada potongan kayu
❖ Peralatan ataupun material sisa dikembalikan pada tempatnya
❖ Memasang poster 5R
❖ Memasang rambu/ himbauan untuk menjaga kebersihan
❖ Memberikan brieffing kepada pekerja
❖ Mengadakan inspeksi bersama

D. PENGENDALIAN OPERASIONAL

Uraian Tanggung Jawab

1) Tim tanggap darurat (TTD)


a. Siaga
b. Memantau pelaksanaan K3, misalnya pengecekan terhadap penandaan di proyek dan
penggunaan APD
c. Melakukan koordinasi untuk mengatasi situasi / kondisi darurat
d. Menghubungi instansi terkait apabila diperlukan
e. Membuat laporan-laporan terjadinya situasi / kondisi darurat ke atasan maupun ekstrem
apabila diperlukan
f. Membuat evaluasi penyebab terjadinya situasi dan kondisi darurat
g. Mengadakan simulasi dan scenario keadaan darurat did proyek

2) Unit proyek K3
a. Memberikan penjelasan mengenai K3
b. Mengevaluasi pelaksanaan K3 secara perodik
c. Memberikan penyuluhan / pembinaan dan pengembangan mengenai mengenai
pelaksanaan K3 did proyek
d. Konsultasi dan komunikasi K3

3) Koordinator Tim Tanggap Darurat


a. Membatu P2K3 dalam menjalankan manajemen K3

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


b. Mengkoordinir bagian-bagian dibawahnya dan melakukan pengawasan bahwa manajemen
K3 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan.
c. Mempelajari, menganalisa dan melaksanakan semua perencanaan yang diterima dari
P2K3
d. Memonitor kondisi dan siatuasi fisik dan personil yang ada di lingkungan proyek
e. Melakukan koordinasi dengan aparat setempat
f. Menghentukan pelaksanaan pekerjaan bilamana dinilai hal tersebut dapat membahayakan
keselamatan pekerja
g. Membuat dan mengajukan jadwal pelatihan-pelatihan
h. Menyusun metrics kompetensi
i. Mengkoordinir petugas-petugas evakuasi, pemadaman kebakaran, P3K dan anti huru hara
j. Memerintahkan petugas teknis dan mekanik untuk memutuskan atau mematikan aliran listrik
bila terjadi ekbakaran, gempa bumi, kecelakaan kerja yang diakibatkan listrik.

4) Koordinator evakuasi
a. Membantu koordinator tim tanggap darurat dalam menjalankan manajemen K3
b. Mempelajari situasi dan kondisi bila setiap saat diperlukan untuk melakukan evakuasi
c. Melaksanakan evakuasi bila terjadi keadaan darurat, kecelakaan kerja, bahaya kebakaran,
ancaman bom dan huru hara
d. Selalu mendahulukan keselamatan jiwa daripada barang

5) Koordinator pemadaman kebakaran


a. Membantu koordinator tim tanggap darurat dalam menjalankan manajemen k3
b. Mempelajari situasi dan kondisi bila ada bahaya kebakaran
c. Melakukan pemeriksaan atas alat pemadam api ringan
d. Melaksanakan tindakan pemadaman api bila terjadi indikasi kebakaran
e. Membarikan tanda bahaya kepada seluruh personil yang berada di sekitar lokasi
kebakaran

6) Koordinator P3K
a. Membantu koordinator tim tanggap darurat dalam menjalankan manajemen k3
b. Memperlajari situasi dan kondisi bila setiap saat diperlukan untuk melakukan pertolongan
pertama pada kecelakaan
c. Membuat hubungan yang baik dengan pihak terkait seperti rumah sakit, dokter dan tim
medis
d. Memberikan pertolongan pertama pada korban sesuai kondisi korban

7) Koordinator Anti Huru Hara

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


a. Membantu koordinator tim tanggap darurat dalam menjalankan manajemen k3
b. Memperlajari situasi dan kondisi bila setiap saat diperlukan untuk melakukan pengamanan
atas terjadi nya huru hara
c. Melokalisir tindakan huru hara agar tidak meluas
d. Menyidik tindakan persuasive untuk meredakan huru hara tersebut
e. Siaga dan tanggap atas kondisi yang ada

8) Koordinator lingkungan
a. Membantu koordinator tim tanggap darurat dalam menjalankan pengendalian pencemaran
lingkungan
b. Mempelajari situasi dan kondisi bila terjadi saat diperlukan untuk melakukan pengamanan
atas terjadinya pencemaran lingkungan
c. Mengidentifikasi area-area yang rawan terhadap pencemaran lingkungan
d. Menyelidiki timbulnya pencemaran lingkungan
e. Melaporkan kepada atasan kejadian pencemaran lingkungan, baik kronologis terjadinya
pencemaran maupun kondisi akhir lingkungan
f. Siaga dan tanggap atas kondisi yang ada.

E. PEMERIKSAAN DAN EVALUASI KINERJA K3


a. Inspeksi harian, teguran dan pelaporan atas temuan ketidak sesuaian, lalu diteruskan
dengan safety meeting harian yang membahas tentang tindak lanjut dan pemantauan
b. Rapat K3 / Safety meeting mingguan dengan melibatkan semua perwakilan pekerja dan
sub kontraktor
c. Audit Internal
d. Tindakan Koreksi, perbaikan dan pencegahan atas temuan ketidak sesuaian pada saat
pelaksanaan tindakan pemantauan, tinjauan dan audit internal

F. TINJAUAN ULANG K3
Manajemen secara rutin meninjau ulang dan terus menerus meningkatkan OHSAS/SMK3
dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja K3 secara keseluruhan.
Tinjauan ini dilakukan terhadap :
- Penerapan Kebijakan K3
- Pencapaian tujuan dan sasaran K3
- Hasil temuan audit internal

Untuk memenuhi kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan peraturan perundangan yang
berlaku, perusahaan melakukan identifikasi bahaya, penilaian resiko dan penerapan langkah
pengendalian yang berjalan.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)


Hal ini berlaku terhadap aktifitas rutin dan non rutin, aktifitas semua orang memiliki akses ke
tempat kerja (termasuk sub kontraktor dan pengunjung), fasilitas ditempat kerja, baik yang
diberikan pihak organisasi maupun pihak lainnya.

Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)

Anda mungkin juga menyukai