5.
Sekolah Ramah Anak
a. Definisi Sekolah Ramah Anak:
Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang
aman, bersih, sehat, peduli terhadap lingkungan, dan mampu menjamin, memenuhi, serta
menghargai hak-hak anak, serta melindungi anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan
salah lainnya.
b. Tujuan Sekolah Ramah Anak
Tujuan utama Sekolah Ramah Anak adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
bagi perkembangan anak, memastikan hak-hak anak terpenuhi, dan melindungi mereka dari
segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.
c. Prinsip Sekolah Ramah Anak
Prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak meliputi non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi
anak, hak hidup, dan penghargaan terhadap anak.
d. Evaluasi Sekolah Ramah Anak
Evaluasi Sekolah Ramah Anak dilakukan untuk mengukur dan menilai status Sekolah Ramah
Anak, dan hasilnya digunakan untuk menentukan level atau strata Sekolah Ramah Anak
(Pratama, Madya, Nindya, Utama).
e. Konsep BARIISAN
Konsep BARIISAN (Bersih, Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman, dan Nyaman)
merupakan pendekatan yang diterapkan untuk mewujudkan sekolah ramah anak.
Peraturan ini menjadi dasar bagi upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik
dan aman bagi anak-anak di Indonesia.
f. Program Sekolah yang sesuai
Program sekolah seharusnya disesuaikan dengan dunia anak, artinya program
disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan [Link] tidak harus
dipaksakan melakukan sesuatu tetapi dengan program tersebut anak secara otomatis
terdorong untuk mengeksplorasi [Link] penting yang perlu diperhatikan sekolah
adalah partisipasi aktif anak terhadap kegaiatan yang [Link] yang tumbuh
karena sesuai dengan kebutuhan anak.
Pada anak SD ke bawah program sekolah lebih menekankan pada fungsi dan sedikit
proses, bukan menekankan produk atau hasil. Produk hanya merupakan konsekuensi dari
[Link] teori biologi menyatakan “Fungsi membentuk organ.” Fungsi yang kurang
diaktifkan akan menyebabkan atrofi, dan sebaliknya organ akan terbentuk apabila cukup
fungsi.
Hal ini relevan jika dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh
karena itu, apa pun aktivitasnya diharapkan tidak menghambat pertumbuhan dan
perkembangan anak, baik yang berkaitan dengan fisik, mental, maupun sosialnya. Biasanya
dengan aktivitas bermain misalnya, kualitas-kualitas tersebut dapat difungsikan secara
serempak. Di sisi lain, nilai-nilai karakter yang seharusnya dimiliki anak juga dapat terbina
sebagai dampak partisipasi aktif anak.
g. Lingkungan sekolah yang mendukung
Suasana lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar
tentang kehidupan. Apalagi sekolah yang memprogramkan kegiatannya sampai sore. Suasana
aktivitas anak yang ada di masyarakat juga diprogramkan di sekolah sehingga anak tetap
mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seharusnya ia dapatkan di masyarakat. Bagi
anak lingkungan dan suasana yang memungkinkan untuk bermain sangatlah penting karena
bermain bagi anak merupakan bagian dari hidupnya.
Bahkan UNESCO menyatakan “Right to play” (hak bermain). Pada dasarnya,
bermain dapat dikatakan sebagai bentuk miniatur dari [Link], nilainilai yang ada
di masyarakat juga ada di dalam permainan atau aktivitas [Link] suasana ini dapat
tercipta di sekolah, maka suasana di lingkungan sekolah sangat kondusif untuk menumbuh-
kembangkan potensi anak karena anak dapat mengekspresikan dirinya secara leluasa sesuai
dengan dunianya. Ketika anak-anak bisa bermain dengan bebas dan mengekpresikan dirinya
sesuai dengan hak anak, maka kemungkinan anak melakukan prilaku yang tidak sesuai dan
menyimpang dapat dihindarkan.
Disamping itu penciptaan lingkungan yang bersih, akses air minum yang sehat, bebas
dari sarang kuman, dan gizi yang memadai merupakan faktor yang penting bagi pertumbuhan
dan perkembangan anak.
h. Sarana – prasarana yang memadai
Sarana-prasarana utama yang dibutuhkan adalah yang berkaitan dengan kebutuhan
pembelajaran anak. Sarana-prasarana tidak harus mahal tetapi sesuai dengan kebutuhan anak.
Adanya zona aman dan selamat ke sekolah, adanya kawasan bebas reklame rokok,
pendidikan inklusif juga merupakan faktor yang diperhatikan sekolah. Sekolah juga perlu
melakukan penataan lingkungan sekolah dan kelas yang menarik, memikat, mengesankan,
dan pola pengasuhan dan pendekatan individual sehingga sekolah menjadi tempat yang
nyaman dan menyenangkan.
Sekolah juga menjamin hak partisipasi anak. Adanya forum anak, ketersediaan pusat-
pusat informasi layak anak, ketersediaan fasilitas kreatif dan rekreatif pada anak, ketersediaan
kotak saran kelas dan sekolah, ketersediaan papan pengumuman, ketersediaan majalah atau
koran anak. Sekolah hendaknya memungkinkan anak untuk melakukan sesuatu yang meliputi
hak untuk mengungkapkan pandangan dan perasaannya terhadap situasi yang memiliki
dampak pada anak.
i. Indikator Sekolah Ramah Anak
Indikator sekolah ramah anak dikembangkan untuk mengukur capaian Sekolah Ramah Anak
yang meliputi 6 Komponen:
1. Kebijakan Sekolah Ramah Anak
2. Pelaksanaan kurikulum
3. Pendidik dan tenaga pendidik terlatih Hak-Hak Anak
4. Sarana dan prasarana SRA
5. Partisipasi anak
6. Partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, pemangku kepentingan lainnya
dan alumni.