2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Gabus
Ikan gabus akan banyak ditemukan pada musim kemarau yaitu pada
bulan Mei sampai Juli. Sedangkan ketika bulan Juli sampai Februari ikan gabus
akan sulit untuk dijumpai dalam kondisi segar sehingga harganya akan relatif
lebih mahal (Petrus et.,al 2012).Ikan gabus adalah ikan predator (memangsa
ikan-ikan lain yang lebih kecil dari ukuran badannya). Ikan gabus telah banyak
digunakan sebagai obat yang telah dikenal sejak nenek moyang. Pada berbagai
daerah seperti Sulawesi Selatan selalu menyajikan masakan dengan olahan dari
ikan gabus kepada keluarga yang sakit agar mempercepat penyembuhan. Selain
itu, secara klinis konsentrat protein dari ikan gabus dalam bentuk suplemen telah
membantu mempercepat proses penyembuhan pasien pasca operasi dan stroke
pada pasien rawat inap di rumah sakit (Asfar et.,al 2014)
Ikan gabus mempunyai panjang 1 meter dengan bentuk badan yang
memanjang. Kepalanya besar dan agak pipih yang menyerupai seperti kepala
ular. Disamping badan terdapat sirip yang panjang dan sirip pada ekornya.
Selain itu, warna ikan gabus berwarna gelap pada kepala sampai ekor, hitam
kecoklatan atau kehijauan. Pada bagian bawah badannya berwarna putih. Dan
ikan ini memiliki mulut yang besar dengan gigi yang besar dan tajam (Suprayitno,
2014).
Ikan gabus merupakan jenis ikan yang memiliki kadar protein lebih tinggi
dibandingkan ikan bandeng, ikan mas, ikan kakap atau ikan sarden. Protein
albumin adalah salah satu jenis protein globular yang larut dalam air, larutan
garam dan terdenaturasi oleh panas (Prasetyo et.,al2012). Ditambahkan oleh
Agustina et.,al (2014), pengolahan dengan pemanasan pada bahan makanan
yang memiliki kadar protein tinggi akan mengakibatkan terjadi denaturasi
protein yang akan dipecah menjadi asam amino. Yang mana diketahui pada
ikan gabus memiliki kadar protein tinggi.
Klasifikasi ikan gabus menurut Listyanto dan Andrianto (2009) adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Channidae
Genus : Ophiocephalus
Spesies : Ophiocephalus striatus
Morfologi ikan gabus dapat dililihat pada Gambar 1.
Gambar [Link] Pribadi 2017 Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus)
Menurut Yuniarti et.,al (2013) salah satu yang mudah larut air pada
protein adalah albumin dan terkoagulasi oleh panas. Selain itu, albumin adalah
protein yang mudah rusak oleh panas. Albumin ada pada serum darah dan puti
telur. Protein terbanyak dalam plasma manusia yaitu albumin (4,5 g/dl) atau
sekitar 60% dari total plasma. Sehingga peranannya sangat penting untuk tubuh.
Berikut adalahkandungannutrisi ikan gabus dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Ikan Gabus
Kandungan Satuan Kadar Sumber
Protein % 13.9 [6]
Asam amino
Phenylalanine g/100 AA 4.739
Isoleucine g/100 AA 5.032
Leucine g/100 AA 8.490
Methionine g/100 AA 3.318
Valine g/100 AA 5.128
Threonine g/100 AA 5.039
Lysine g/100 AA 9.072
Histidine g/100 AA 2.857
Aspartic g/100 AA 9.571 [7]
Glutamic g/100 AA 14.153
Alanine g/100 AA 5.871
Proline g/100 AA 3.618
Arginine g/100 AA 8.675
Serine g/100 AA 4.642
Glycine g/100 AA 4.815
Cysteine g/100 AA 0.930
Tyrosine g/100 AA 4.100
Lemak % 5.9 [6]
Asam Lemak (AL)
C16:0 asam Palmatic % dari total AL 30.39
C18:0 asam stearat 15. 18
C16:1 asam palmitat 2.98
C18:1 asam oleat 12.04 [8]
C18:2 Asam linolieat 8.34
C20:4 Asam Arachidonat 19.02
C22:6 Asam 15. 18
dokosahexaenoat
Total Abu % 0.77 [6]
Mineral
Na (Natrium) 346
K (Kalium) 2195
Ca (Kalsium) 290
Mg (Magnesium) 215
Fe (Zat Besi) 6.4 [6]
Zn (Zink/Seng) 5.1
Mn (Mangan) 0.88
Cu (Tembaga) 1.3
P (Pospor) 1240
Sumber : Asfat et.,al (2014).
2.1.1 Tepung Ikan
Tepung ikan adalah suatu produk yang dihasilkan dari ikan yang telah
digiling sehingga didapatkan hasil output berupa tepung yang sebagian besar
terdiri dari protein ikan. Jika ditinjau dari kualitas dan harga,tepung ikan masih
merupakan sumber protein hewani yang sulit untuk [Link] protein
yang terdapat dalam tepung ikan tersusun oleh asam-asam amino essensial
kompleks, diantaranya asam amino lisin dan methionin. Selain mengandung
asam amino essensial kompleks tepung ikan juga mengandung beberapa
senyawa lain seperti mineral, kalsium, phosphor serta vitamin B
kompleks(Simatupang et.,al 2015).
Tepung ikan pangan memiliki berbagai macam manfaat diantaranya
adalah sebagai makanan diet atau suplemen, penyedap rasa dan bahan aditif
pada produk roti tawar (Nurhayati, 1996). Ditambahkan oleh Talibet.,al (2014),
sumber mineral terutama Ca dan P sangat penting untuk metabolisme tulang.
Sumber mineral yang dapat membantu memenuhi kecukupan tubuh sehari-hari
salah satunya adalah dari sektor perikanan. Kandungan mineral yang tinggi
salah satunya terdapat pada tepung ikan. Tepung ikan merupakan sumber alami
Ca yang dapat ditambahkan pada produk makanan, pakan ternak atau sebagai
pelengkap masak. Standar mutu tepung ikan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Tepung Ikan menurut SNI
Tepung ikan
Komponen
Mutu 1 Mutu 2 Mutu 3
Kimia:
Kandungan air (%) Maks 10 Maks 12 Maks 12
Protein kasar (%) Min 65 Min 55 Min 45
Serat kasar (%) Maks 1,5 Maks 2,5 Maks 3
Abu (%) Maks 20 Maks 25 Maks 30
Lemak (%) Maks 8 Maks 10 Maks 12
Kalsium (%) 2,5-5,0 2,5-6,0 2,5-7,0
Fosfor (%) 1,6-3,2 1,6-4,0 1,6-4,7
NaCl (%) 2 2,7 2,7
Mikrobiologi:
Salmonella (pada Negatif Negatif Negatif
25 gram sampel)
Organoleptik 7 6 6
Sumber: SNI 01-2715-1996
2.2 Jahe
Jahe merupakan rempah-rempah yang memiliki manfaat sebagai tanaman
obat-obatan bahan makanan dan minuman. Selain itu jahe juga memiliki
beberapa fungsiyaitu sebagai antioksidan, anti inflamasi, antibakteri, antipiretik,
anthelmintik, mengobati masuk angin, flu, batuk, panu, gatal-gatal dan rematik
(Suhartiet.,al 2016). Ditambahkan oleh Handayaniet.,al (2015), senyawa
antioksidan memberikan efek positif bagi tubuh diantaranya pada arteri jantung,
penyumbatan pembuluh darah, kanker dan pencegahan penuaan. Dalam tubuh
manusia tidak memiliki cadangan antioksidan yang berlebih, sehingga diperlukan
asupan dari bahan makanan yang mengandung antioksidan yaitu seperti jahe.
Kandungan yang terdapat dalam tanaman jahe terdiri dari fenol, flavonoid,
terpenoid, gingerol, shogaol, zingerone, resin dan minyak [Link] sering
digunakan untuk melancarkan ASI, nafsu makan, obat perut kembung, gatal,
obat batuk, mengobati mual dan mulas, sakit kepala dan obat luar luka bakar.
Hal ini karena pada jahe terkandung flavonoid, fenol, terpenoid, dan minyak atsiri
(Susila et.,al 2014).
Terdapat tiga jenis jahe yang tersebar di Indonesia berdasarkan ukuran
daan warna kulit rimpangnya diantaranya adalah jahe gajah (badak), jahe emprit
(biasa), jahe merah (berem). Jahe gajah memiliki ukuran yang lebih besar dari
pada jahe emprit dan jahe merah, kulitnya berwarna putih atau kuning, rasanya
tidak teralu pedas. Biasanya jahe jenis ini dapat diolah untuk manisan dan
asinan. Jahe emprit memiliki ukuran lebih kecil, kulitnya berwarna putih atau
kuning, rasanya pedas dan biasanya digunakan sebagai bumbu masak, obat.
Jahe merah memiliki ukuran yang sedang, kulitnya berwarna merah dan
biasanya dapat digunakan sebagai obat. Jahe emprit dan jahe gajah adalah jenis
jahe yang sering dimanfaatkan (Setyawan, 2002).Jenis-jenis jahe dapat dilihat
pada Gambar 2.
a. b. c.
Gambar 2a. Jahe gajahb. Jahe empritc. Jahe merah (Google image, 2017).
Menurut Palupi dan Widyaningsih (2015), jahe mempunyai beberapa
kandungan salah satunya yaitu minyak atsiri. Pada minyak atsiri terdapat
senyawa diantaranya zingeron,zingiberal, limonene, felandren, zingiberen,
sitral,oleoresin, kamfena, borneol, sesquiterpen,sineol, vitamin A,B dan C, serta
senyawa polifenol dan flavonoid
Mekanisme senyawa antibakteri menurut Dewi et.,al (2014) antara lain
mempengaruhi dinding sel, merusak permeabilitas membran sel, mengganggu
kerja enzim dan menghambat sintesis protein. Pada perusakan dinding sel
senyawa yang berperan adalah fenol, alkaloid dan flavonoid. Ketika perusakan
itu terjadi, senyawa metabolit sekunder akan masuk lebih dalam sehingga
mengganggu organel lain. Pada bagian dalam dinding sel akan dirusak oleh
senyawa fenol, alkaloid dan flavonoid. Bebrapa senyawa tsb, dapat menguraikan
fosfolipid menjadi gliserol, asam karboksilat, asam fosfat sehingga membran
akan bocor akibat dari tidak dapat mempertahankan bentuknya. Dan dengan
mudahnya zat keluar masuk kedalam sel yang akan mengganggu metabolisme
dan bakteri lisis.
Gingerolpada jahe memiliki fungsi sebagai penghambat pertumbuhan
bakteri yang dapat mematikan sel bakteri. Mekanisme kerja dari gingerol adalah
dengan denaturasi protein dan perusak membran sitoplasma. Yang akan
membuat sel bakteri tidak dapat berfungsi secara normal sehingga secara tidak
langsung menghambat pertumbuhan bakteri bahkan dapat berakibat mematikan
sel bakteri adalah denaturasi protein. Sedangkan perusakan membran
sitoplasma, ion Hᶧ dari senyawa gingerol akan menyerang gugus fosfat sehingga
molekul fosfolipida akan terurai menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam
fosfat. Efek dari proses tersebut adalah fosfolipida tidak mampu
mempertahankan membran sitoplasma dan pada akhirnya membran sitoplasma
akan bocor dan bakteri akan mengalami gangguan dalam pertumbuhan atau
bahkan kematian. Komponen minyak atsiri mempunyai tugas khusus sebagai
antimikroba, caranya adalah dengan mengganggu pembentukan membran atau
dinding sel bakteri.(Hijriy, 2015).
Penambahan jahe pada suatu bahan pangan mempengaruhi keempukan
dan total mikroba. Struktur yang terbuka akan memudahkan penetrasi zat-zat
tertentu kedalam daging. Dengan adanya struktur terbuka inilah yang
memudahkan masuknya enzim proteolitik dan zat antimikroba jahe. Proteinase
jahe adalah proteinase thiol yang efektif untuk meningkatkan keempukan daging
melalui fragmentasi dari miofibril karena degradasi dari filamen tipis pada I-
bands. Enzim proteolitik dapat menghambat kerusakan bakteri dengan senyawa
antimikroba dan mampu untuk memecah atau mengurai protein. Dalam jahe
enzim proteolitik seperti papain, bromelin dan lisin akan menghasilkan
keempukan awal pada serabut-serabut jaringan ikat. Awalnya merusak
mukopolisakarida dari matriks substansi dasar setelah itu dengan cepat
menurunkan serat-serat tenunan pengikat menjadi massa yang amorf. Enzim tsb
merusak protein tenunan pengikat menjadi molekul-molekul yang mengandung
hidroksiprolin yang larut. (Komariah et.,al 2004). Enzim protease yang terdapat
pada jahe adalah sebesar ±2,26% (Arum dan Purwidiani, 2014).
2.3 Puding
Puding adalah makanan dari bahan dasar rumput laut kemudian diolah
dengan penambahan air yang mana menghasilkan gel dengan tekstur lembut.
Biasa dihidangkan sebagai makanan penutup atau disebut sebagai (dessert).
Komposisi dari puding umumnya adalah rumput laut yang telah diekstrak
sehingga menjadi karaginan atau agar-agar, gula, telur dan ada juga yang
ditambah dengan susu (Nurjanah et.,al 2007). Puding juga disebut sebagai
kembang gula lunak jelly yang memiliki struktur lembek, diolah dengan
ditambahkan komponen hidrokoloid seperti karagenan, gelatin, agar dan lain-lain
sehingga mendapatkan tekstur yang lembut dan kenyal. Kemudian puding
dicetak dan memlalui proses ageing sebelum dikemas (Harismah et.,al 2015).
Menurut Fransiska et.,al (2014) puding yang berbahan dasar karaginan atau
agar pada proses pembutannya harus menggunakan pemanasan dengan
pesteurisasi karena agar ataupun karaginan sifatnya yang tidak dapat larut
dalam air dingin. Ditambahkan oleh Titik dan Eddy (2014), pada pemanasan
suhu pasteurisasi bertujuan untuk membunuh organisme yang berbahaya seperti
bakteri, virus, protozoa, jamur dan ragi. Syarat mutu puding berdasarkan SNI
dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Syarat Mutu Puding
Kriteria uji Satuan Persyaratan
Keadaan:
a) Bentuk Semi padat
b) Bau Normal
c) Rasa Normal
d) Warna Normal
e) Tekstur % b/b Kenyal
Sakarosa Min. 20
Bahan Tambahan
Makanan:
a) Pemanis buatan
b) Pewarna tambahan Negatif
c) Pengawet
Cemaran Logam
a) Timbal (Pb) mg/kg Maks. 0,5
b) Tembaga (Cu) mg/kg Maks. 5,0
c) Seng (Zn) mg/kg Maks. 20
d) Timah (Si) mg/kg Maks. 40
e) Cemaran Arsen (As) mg/kg Maks. 0,1
Cemaran Mikroba
- Angka lempeng total koloni/g Maks. 10-4
Sumber : SNI 01-3552-1994.
2.4 Bahan Tambahan Puding
Pada pembuatan puding ikan gabus terdapat beberapa bahan tambahan
dalam pembuatannya diantaranya adalah gula, tepung agar, tepung ikan gabus,
garam, vanili, air, dan essense.
2.4.1 Gula
Gula (gula pasir) merupakan sumber kalori yang digunakan sebagai
pemanis dalam pembuatan makanan dan bahan baku pada industri pangan.
Setiap hari masyarakat mengkonsumsi gula sebagai alternatif sumber energi
bagi tubuh. Selain itu gula yang ditambahkan pada makanan merupakan bahan
pengawet alami yang tidak berbahaya. Sehingga penggunaannya tidak
menyebabkan penyakit yang membahayakan tubuh kecuali dikonsumsi secara
berlebihan (Sugiyanto, 2007).
1.4.2 Tepung agar
Tepung agar atau agar-agarmerupakan makroalga (rumput laut) yang
memiliki senyawa hidrokoloid yang bermanfaat. Tepung agar salah satu penentu
indikator kualitas produk. Agar-agar biasanya digunakan sebagai penstabil pada
makanan seperti selai, jelly, sirup, dan lainnya. Semakin banyak penambahan
hidrokoloid suatu bahan pangan akan menghasilkan tekstur yang kaku dan
semakin sedikit hidrokolid yang ditambahkan membuat produk menjadi
[Link] hidrokoloid yang terdapat pada agar memiliki beberapa fungsi
yaitu sebagai pengemulsi, pembuat gel, penstabil, pengental, dan lain-lain (Putri
et.,al2013).Terdapat beberapa jenis antioksidan lain dari tanaman contohnya
alga. Menurut Bambang et.,al(2013) antioksidan alami yang terdapat pada alga
aman penggunaannya. Selain itu, alga merupakan salah satu sumber komponen
bioaktif yang mempunyai aktivitas sebagai antidiabetik, antitumor, antibakteri
ndan antioksidan. Menurut Hardoko et.,al (2016) tidak hanya alga terdapat
tanaman lain yang memiliki sifat sebagai antioksidan salah satunya yaitu
mengrove yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri, antifungal, antioksidan,
antikanker dan antibakteri. Dan pada magrove memiliki kandungan steroid,
triterpen, saponin, flavonoid, alkoloid, dan tanin.
Menurut Khotimah et.,al (2013) tepung agar, agar-agar, alginat dan
karagenan merupakan senyawa yang cukup penting dalam industri pangan.
Karena beberapa jenis rumput laut mengandung mineral yang baik untuk
metabolisme tubuh seperti iodin, kalsium dan selenium. Ditambahkan oleh
Sasmito et.,al (2014) Rumput laut merupakan sumber daya alam yang banyak
terdapat pada perairan Indonesia yang sangat bermanfaat. Karena merupakan
sumber bioaktif antioksidan yang berperan untuk menghambat radikal
[Link] itu tidak hanya rumput laut yang memiliki aktivitas antioksidan,
salah satunya adalah magrove. Syarat mutu tepung agar dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Syarat Mutu Tepung Agar
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
Keadaan:
1. Organoleptik (kenampakan bau - Normal atau dengan
dan konsisten) score min. 7
2. Air % b/b Maks. 17
3. Kelarutan (lolos ayakan 80 % b/b Maks. 80
mesh)
4. Abu tidak larut dalam asam % b/b Maks 0,5
5. Uji pati (kualitatif) - Negatif
6. Absorpi air - Min 5 kali berat agar-
agar
Bahan tambahan makanan :
7. Pewarna tambahan Sesuai SNI 01- Maks 0,6
0222-1987*
7. 1 Bahan tambahan lain - -
Cemaran logam
8. Timbal (Pb) mg/kg Maks. 2,0
9. Tembaga (Cu) mg/kg Maks. 30,0
10. Seng (Zn) mg/kg Maks. 40,0
11. Timah (Sn) mg/kg Maks. 40,0
12. Raksa (Hg) mg/kg Maks. 0,03
13. Cemaran aksen mg/kg Maks. 1,0
Cemaran logam:
14. Timbal (Pb) mg/kg Maks 1,00
15. Raksa (Hg) mg/kg Maks 0,05
16. Tembaga (Cu) mg/kg Maks 10
17. Cemaran Arsen mg/kg Maks 0,50
Sumber : SNI 01-2802-1995.
1.4.3 Garam
Garam biasa dipakai sebagaitambahan penyedap rasa pada makanan,
pengawet alami untuk mengawetkan ikan, obat herbal dan campuran berbagai
minuman. Garam merupakan padatan berbentuk kristal yang berwarna putih.
Garam memiliki kandungan yaitu senyawa natrium klorida (NaCl) sebesar >80%,
kalsium klorida, magnesium sulfat, magnesium klorida, dan lain-lain. Pada garam
bersifat mudah menyerap air dan memilki bulk density (tingkat kepadatan)
sebesar 0,8-0,9 (Subhan, 2014).Ditambahkan oleh Max et.,al (2016), konsentrasi
garam yang tinggi dapat mengendalikan pertumbuhan patogen dan dapat
menghasilkan rasa dan aroma pada produk makanan. Berdasarkan SNI Syarat
mutu garam konsumsi beriodium dapat dilihat pada Tabel5.
Tabel 5. Syarat Mutu Garam Konsumsi Beriodium.
No Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Kadar air % (b/b) maks. 7
(H2O)
2 Kadar NaCl % (b/b) min. 94,7
(natrium ad
klorida) bk
dihitung
dari
jumlah
klorida
(Cl)
3 Iodium mg/kg min. 30
dihitung
sebagai
kalium
iodal
(KIO3)
4 Cemaran
logam:
4.1 Timbal (Pb) mg/kg maks. 10
4.1 Tembaga mg/kg maks. 10
(Cu)
4.3 Raksa (Hg) mg/kg maks. 0,1
5 Arsen (As) mg/kg maks. 0,1
Sumber: SNI01-3556-2000.
1.4.4 Vanili
Vanili adalah salah satu tanaman di Indonesia yang berekonomis tingggi
dan sering diolah untuk tambahan bahan makanan seperti tambahan pada kue.
Dalam buah vanili segar terdapat beberapa komponen flavor vanili seperti
vanillin, p-hidroksil benzaldehid, asam vanilat, asam p-hidroksi benzoate, berada
dalam bentuk glikosidiknya. Senyawa glikosida berubah menjadi senyawa flavor
volatile ikatan glikosida terhidrolisis terutama oleh enzim β-glukosidase yang
berbeda-beda(Setyaningsih et.,al 2007).
2.5 Protein
Protein merupakan senyawa penting yang ada di dalam tubuh dan
memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Didalam tubuh proses
kimia yang terjadi dapat berjalan dengan baik karena adanya enzim, suatu
protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Hemoglobin atau eritrosit yang
berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh
merupakan salah satu jenis protein. Protein terdapat pada makanan hewani dan
nabati. Protein yang berasal dari hewan disebut sebagai protein hewani,
sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut sebagai protein nabati. Contoh
beberapa sumber makanan yang mengandung protein ialah daging, telur, susu,
ikan, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan (Poedjiada dan
Supriyanti, 2006).
Menurut Winarno (2004), diperkirakan terdapat 2000 jenis protein yang
ada di alam dan 21 jenis asam amino dan jenis yang tidak terbatas. Berikut
adalah sktruktur berdasarkan bentuk protein yaitu struktur primer, sekunder,
tersier, dan kuartener.
a. Struktur primer
Struktur primer adalah susunan linier asam amino untuk menentukan sifat
dasar protein dan untuk menentukan bentuk struktur sekunder dan tersier.
b. Struktur sekunder
Strukur sekunder adalah tiga dimensi dengan cabang-cabang rantai
polipeptida yang saling berdekatan.
c. Struktur tersier
Struktur tersier adalah kumpulan dari struktur sekunder satu dengan
struktur sekunder bentuk lain. Contohnya seperti beberapa protein yang
mempunyai bentuk α-heliks dan bagian yang tidak berbentuk α-heliks.
Selain itu struktur tersier merupakan bentuk penyusun terbesar pada
rantai cabang.
d. Struktur kuartener
Struktur kuartener adalah kumpulan dari beberapa polipeptida yang
membentuk protein. Sedangkan perbedaannya adalah struktur primer,
sekunder dan tersier hanya melibatkan satu rantai polipeptida.
Protein dibagi menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan fungsi
biologisnya antara lain adalah protein pengangkut, protein pembangun,protein
pelindung,protein sebagai enzim, protein hormon,protein cadangan, protein
bersifat racun dan protein kontraktil. Protein juga berperan dalam jaringan otot
tulang yaitu protein pengikat dan protein myofibril. Protein pengikat biasanya
dijumpai pada hewan dan protein ini terdapat di beberapa bagian tubuh sebagai
dasar pengikat kulit dan tulang hewan. Sedangkan pada protein myofibril
terdapat protein kontraktil yang memiliki bagian terbesarnya aktin dan myosin
yang berfungsi sebagai kontraksiSuprayitno (2017).
2.6 Albumin
Albumin adalah protein plasma darah yang disintesis di dalam
[Link] tubuh yang menyeimbangkan tekanan osmotik pada plasma, obat-
obatan yang diserap tubuh akan diikat, dan molekul-molekul kecil akan diangkut
baik melalui plasma maupun cairan eksternal adalah beberapa peranan dari
albumin. Selain itu albumin yang terdapat dalam protein mempunyai sifat
fungsional pada proses pengolahan maknan, seperti membentuk gel,
membentuk emulsi dan membentuk buih (Legowo et.,al 2003).
Untuk penyembuhan pada pasien pasca operasi alternatif utama adalah
mengkonsumsi albumin ikan gabus jauh lebih baik dari pada albumin dari
[Link] ikan gabus sendiri mencapai 6,2% albumin dan 0,001741% Zn
dengan asam amino treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin,
histidin, dan arginin, serta asam amino non-essensial seperti asam aspartat,
serin, asam glutamate, glisin, alanin, sistein, tiroksin, hidroksilisin, ammonia,
hidroksiprolin dan prolin. Dan ternyata pada kandungan albumin ikan gabus yang
hidup di perairan payau lebih tinggi menapai 4,76% daripada yang hidup di air
danau yaitu 0,8%. Selain itu, kadar albumin yang dimiliki ikan gabus jantan dan
betina juga berbeda yang mana ikan gabus betina mempunyai kadar albumin
lebih tinggi mencapai 8,2% sedangkan ikan gabus jantan mencapai 6,7%
(Suprayitno, 2008).
2.7 Masa Simpan
Masa simpan dan sensori adalah hal yang penting untuk
mengembangkan suatu produk pangan yang baru dan juga pada [Link]
penetapan umur simpan untuk skala industri besar maupun komersial yaitu dari
hasil analisis laboratorium pada hasil evaluasi dilapangan. Yang mempengaruhi
suatu produk mengalami penurunan mutu adalah meningkatnya kadar air dan
aktivitas air (aw) dapat diamati dengan kurva isometris dan meningkatnya
pertumbuhan jamur atau [Link] itu, yang menyebabkan penurunan
produk adalah terjadi ketengikan karena oksidasi atau hidrolisis pada bahan
pangan. Dapat dilihat dengan analisis free fatty acid (FFA) dan tio barbituric acid
(TBA). Ketika terjadinya degradasi lemak akan berakibat naiknya nilai peroksida
yang berakibat meningkatnya kandungan [Link] TBA merupakan
alat tolak ukur yang bisa mengetahui malonaldehida dalam bahan
[Link] beberapa faktor intrinsik dan ekstrinsik pada pertumbuhan
mikroba. Faktor intrinsik meliputi keasaman (pH), aktivitas air (aw), Equilibrium
Relative Humidity (ERH), kandungan nutrisi, struktur biologis, dan kandungan
antimikroba. Faktor ekstrinsik meliputi suhu penyimpanan, kelembapan relatif,
serta jenis dan jumlah gas pada lingkungan (Herawati,2008).