BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam teknologi masa kini penggunaan sepeda motor terus semakin meningkat,
kebutuhan akan alat transportasi tidak akan pernah habis dan sangat membantu dalam
mempermudah rutinitas sehari-hari manusia untuk menjangkau lokasi kegiatan. Masyarakat
cenderung lebih memilih sepeda motor sebagai alat transportasi utama karena dianggap
lebih cepat serta mudah digunakan. Perkembangan teknologi dari era ke era semakin pesat,
semakin meningkat pula kebutuhan manusia akan kendaraan untuk transportasi (Pitrajaya,
2008; Diniardi dkk, 2014).
Kemajuan teknologi dibidang transportasi yaitu terciptanya mesin Otto.(Internal
Combustion Engine, ICE) adalah jenis mesin yang mengubah energi panas yang dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar menjadi energi mekanik, yang kemudian digunakan untuk
menggerakkan kendaraan atau peralatan lainnya. Mesin ini banyak digunakan pada
kendaraan bermotor, kapal, pesawat terbang, dan berbagai aplikasi industri. Mesin Otto
merupakan salah satu jenis motor pembakaran yang menggunakan bensin sebagai bahan
bakarnya .termasuk teknologi pada sepeda motor yang semakin berkembang (Prasetyo dkk,
2009). Mesin motor memiliki banyak komponen yang membentuk mesin motor salah
satunya kenalpot berfungsi untuk mengeluarkan gas sisa pembakaran dari sepeda motor
tersebut.
Knalpot merupakan salah satu komponen yang berfungsi sebagai saluran pembuangan
gas sisa pembakaran. Dalam proses pembakaran, kendaraan bermotor akan mengeluarkan
hasil pembakaran berupa gas buang yang mengandung berbagai pencemar (polutan) yang
pada umumnya merupakan gas-gas yang berbahaya antara lain CO, HC, Sox, Nox, asap, dan
Pb. Gas-gas tersebut dapat mengganggu makhluk hidup dan berbagai macam jenis material
(zat). Selain itu Knalpot pada kendaraan berguna untuk meredam hasil ledakan di ruang
bakar. Ledakan pembakaran campuran bahan bakar dan udara berlangsung begitu cepat
diruang bakar. Ledakan ini menimbulkan suara yang sangat bising. Untuk meredam suara
tersebut/gas sisa hasil pembakaran yang keluar dari katup buang tidak langsung dilepas ke
udara terbuka. Gas buang disalurkan terlebih dahulu ke dalam sarinngan di dalam knalpot.
Selain itu Perubahan knalpot dari knalpot standar menjadi knalpot racing diharapkan
kinerja mesin menjadi lebih baik dari sebelumnya. pada sepeda motor kenalpot sangat
berpengaruh untuk membentuk suara mesin dan menambah performa kendaraan bermotor
terutama kendaraan sepeda motor (Putra,Deki. S. 2017) dan Pengaruh knalpot sebenarnya
mempunyai prinsip yaitu semakin jalur pembuangan lancar maka tenaga mesin pun akan
keluar secara maksimal. Kelancaran gas buang dipengaruhi oleh desain dan ukurannya,
makin sedikit lekukannya maka hambatan akan semakin berkurang begitu juga dengan
diamater pipa yang besar, pipa yang besar akan membuat aliran gas buang menjadi semakin
lancar. Aliran gas buang yang terlalu lancar juga tidak terlalu baik bagi sebuah knalpot,
karena bila terlalu lancar maka efek back pressure pada mesin akan berkurang, efek back
pressure adalah efek dorongan untuk membantu piston untuk bergerak dengan
memanfaatkan tekanan gas sisa pembakaran. Efeknya bila terlalu lancar maka tenaga dan
torsinya turun. Kemudian panjang dan pendek knalpot juga sangat berpengaruh pada
karakter mesin.
Dengan masalah yang ada pada performa motor tersebut, Saya memberikan solusi
dalam memaximalkan performa kendaraan bermotor maka dari itu saya mengambil
PENGARUH MODIFIKASI SARINGAN KNALPOT TERHADAP PERFORMA
SEPEDA MOTOR SHOGUN 110 MENGUNAKAN DAYNO TEST ini diharapkan
tidak hanya membantu, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang agar performa yang
di berikan untuk maximal performa pada motor tersebut.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah modifikasi knalpot pada mesin sepeda motor standart dapat mempengaruhi
kinerja mesin terutama dalam hal daya dan torsi?
2. Apakah perubahan atau modifikasi pada knalpot dapat meningkatkan atau malah
menurunkan performa sepeda motor?
1.3 Tujuan Penelitian
1. pengaruh modifikasi knalpot terhadap performa sepeda motor termasuk peningkatan atau
penurunan daya mesin setelah dilakukan modifikasi pada knalpot
2. Mengukur perubahan dalam output daya mesin menggunakan alat uji Dayno Test untuk
membandingkan performa sepeda motor sebelum dan setelah modifikasi knalpot.
1.4 Batasan Masalah
1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor Suzuki shogun 110 dalam kondisi standar pabrik
2. Modifikasi yang diteliti terbatas pada perubahan saringan knalpot tanpa perubahan pada
komponen mesin lainya.
3. Pengujian performa sepeda motor di lakukan mengunakan alat dayno test dengan
pengukuran parameter daya, torque dan akselerasi pada motor tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Ibad, Zainul, dkk (2022).” Analisis Perbandingan Knalpot Standart Dengan Knalpot
Racing Terhadap Performa Mesin Ninja 250 Fi Tahun 2017”. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaruh penggunaan knalpot racing dibandingkan dengan knalpot
standar terhadap performa mesin sepeda motor Kawasaki Ninja 250 FI tahun 2017.
Dalam konteks industri otomotif yang berkembang pesat di Indonesia, pemilik kendaraan
sering mencari cara untuk meningkatkan kinerja motor mereka. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan pengujian dynotest untuk mengukur daya
dan torsi mesin pada kedua jenis knalpot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa knalpot
racing menghasilkan daya maksimal sebesar 28,7 Hp pada 12.500 rpm, sedangkan
knalpot standar menghasilkan daya maksimal sebesar 28,3 Hp pada 12.000 rpm. Torsi
maksimal yang dihasilkan oleh knalpot standar adalah 17,36 N.m pada 10.000 rpm,
sedangkan knalpot racing menghasilkan torsi maksimal 17,10 N.m pada 9.270 rpm.
Wibowo, dkk (2023). “Analisis Penggunaan Knalpot Racing Slip-On Dan Knalpot
Racing Full System Terhadap Performa Mesin Pada Motor 150 CC”. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan berbagai jenis knalpot terhadap
performa mesin sepeda motor 150 CC. Empat jenis knalpot yang diuji meliputi knalpot
standar pabrik, knalpot slip-on (header standar dengan muffler modifikasi), knalpot slip-
on (header modifikasi dengan muffler standar), dan knalpot full system. Pengujian
dilakukan menggunakan dynamometer untuk mengukur torsi dan daya, serta alat analisis
emisi gas untuk mengukur kadar CO dan HC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
knalpot full system menghasilkan torsi maksimum 15,02 N.m pada 7.500 rpm dan daya
maksimum 18,36 hp pada 9.500 rpm, lebih tinggi dibandingkan dengan knalpot standar
yang hanya mencapai torsi 14,62 N.m dan daya 16,67 hp.
Jaya Saputra, dkk (2023). “Pengaruh Penggunaan Knalpot Standard dan Knalpot Racing
Terhadap Daya dan Torsi pada Motor Supra GTR K56 150 CC”. Penelitian ini menguji
perbedaan performa antara penggunaan knalpot standar dan knalpot racing pada sepeda
motor Supra GTR K56 150 cc. Eksperimen digunakan dengan alat ukur dynometer untuk
mengukur daya dan torsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan knalpot
racing menghasilkan peningkatan daya sebesar 1,86 hp pada 9000 rpm dan memperlebar
puncak daya pada putaran mesin tinggi. Selain itu, knalpot racing memberikan akselerasi
yang lebih terkontrol dan kenaikan daya yang lebih halus dibandingkan dengan knalpot
standar. Meskipun peningkatan performa tidak signifikan, penggantian knalpot ke racing
memberikan respons yang lebih baik pada putaran mesin tinggi.
Akhya, Ridho Bugis, dkk (2019). “Analisis Pengaruh Daya, Tingkat Kebisingan, Dan
Torsi Sepeda Motor 4 Tak Pada Penggunaan Knalpot Dengan Busi Racing Dan Model
Free Flow”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan knalpot
model free flow dan busi racing terhadap torsi, daya, dan tingkat kebisingan sepeda
motor 4 tak. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif deskriptif dengan
sampel sepeda motor Supra X 125D. Data diperoleh dari pengukuran torsi, daya, dan
tingkat kebisingan menggunakan Sportdyno V3.3 dan Sound Level Meter. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan knalpot dan busi racing memiliki variasi
yang signifikan. Torsi mengalami penurunan pada semua perlakuan, dengan penurunan
terbesar terjadi pada penggunaan knalpot free flow dan busi racing.
2.2 MOTOR BENSIN
Motor bensin adalah mesin yang menggunakan pencampuran antara udara dengan bensin
sebagai bahan bakar untuk menghasilkan tenaga pada mobil. Pada mesin bensin,
umumnya udara dan bahan bakar dicampur oleh karburator atau sistem injeksi sebelum
masuk ke ruang bakar. Bahan bakar yang bercampur udara mengalir ke dalam ruang
bakar dan dikompresikan dalam ruang bakar, Kemudian dipercikan busur api yang
berasal dari busi. Karena itu motor bensin disebut juga sebagai mesin penyalaan bunga
api. Ledakan yang terjadi dalam ruang bakar yang digunakan untuk mendorong torak,
kemudian poros engkol dioperasikan untuk menyalurkan tenaga ke roda. Torak juga
berfungsi membuang gas sisa pembakaran dan memasok campuran udara dan bensin
pada waktu yang tepat, sehingga torak dapat bergerak secara teratur dan terus melakukan
kerja tetap.
Kerja periodik pada motor bensin mengacu pada siklus berulang yang dilakukan oleh
mesin untuk menghasilkan tenaga. Siklus pada motor bensin 9 melewati berapa tahap
yang dimulai dari pemasukan campuran udara dan bensin ke dalam silinder, kompresi,
pembakaran dan mengeluarkan gas sisa dari pembakaran di dalam silinder.
Pada motor bensin dapat dibedakan mejadi beberapa jenis berdasarkan cara kerjanya dan
komponen yang digunakan. Beberapa jenis motor bensin yang umum digunakan yaitu:
1. Motor bensin 4 langkah (Four-stroke engine), Mesin ini menjalankan 4 langkah
yaitu hisap, kompresi, pembakaran, dan buang dalam satu siklus kerja.
2. Motor bensin 2 langkah (Two-stroke engine), Mesin ini hanya menjalankan 2
langkah dalam satu siklus kerja, dimana langkah hisap dan kompresi terjadi
bersamaan dan juga pada langkah pembakaran dan buang.
2.3 MOTOR BESNSIN 4 LANKAH
Motor bensin 4 langkah adalah mesin pembakaran dalam yang menyelesaikan satu
siklusnya melalui 4 langkah torak atau dua putaran poros engkol. Torak bergerak naik
turun dalam silinder dengan Gerakan bolak-balik. Titik tertinggi yang dicapai torak
disebut titik mati atas (TMA), sedangkan titik terendahnya disebut titik mati bawah
(TMB). Pergerakan torak dari TMA ke TMB disebut langkah torak (stroke). Pada motor
4 langkah, terdapat empat tahap dalam satu siklus, yaitu langkah penghisapan, kompresi,
pembakaran, dan pembuangan.
1. Langkah Hisap (Intake Stroke)
Pada langkah hisap, campuran udara dan bensin ditarik masuk ke dalam silinder. Hal
ini terjadi karena tekanan di dalam silinder lebih rendah dibandingkan tekanan udara
luar. Proses yang sama terjadi pada motor, dimana torak yang bergerak turun dari titik
mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB) menyebabkan kondisi hampar pada
silinder, sehingga campuran udara dan bensin tersedot masuk. Dalam langkah ini,
katup hisap terbuka sementara katup Buang tetap tertutup.
Sumber : [Link]
sepeda-motor-4-tak
2 Langkah Kompresi (Compression Stroke)
Langkah ini memanfaatkan campuran udara dan bensin di dalam silinder saat torak
bergerak ke atas dari titik mati bawah (TMB) ke titik mati atas (TMA). Selama
langkah ini, katup hisap dan katup buang tertutup, sehingga tekanan dan suhu
campuran udara dan bensin meningkat. Ketika tekanan campuran ini bertambah,
ledakan yang dihasilkan semakin besar. Sehingga tekanan kuat ini akan mendorong
torak ke bawah. Pada tahapan ini, torak telah melakukan dua Gerakan atau satu
putaran, dan pada poros engkol berputar satu kali.
Sumber : [Link]
sepeda-motor-4-tak
3. Langkah usaha
Pada langkah ini, campuran udara dan bensin yang telah dihisap mengalami
pembakaran dan menghasilkan tenaga yang mendorong torak ke bawah, kemudian
mengubahnya menjadi tenaga penggerak yang nyata. Selama proses ini, katup hisap
dan katup buang tetap tertutup. Pada langkah ini,
torak telah menyelesaikan tiga langkah dan poros engkol telah berputar satu setengah
kali.
Sumber : [Link]
sepeda-motor-4-tak
4. Langkah buang
Dalam langkah ini, torak mendorong ke titik mati bawah (TMB) dan kemudian naik
Kembali ke titik mati atas (TMA) untuk mengeluarkan gas sisa pembakaran dari
silinder
Sumber : [Link]
sepeda-motor-4-tak
Selama langkah ini, katup buang terbuka. Setelah torak mencapai titik mati atas
(TMA) setelah melakukan langkah-langkah sebelumnya, torak akan Kembali ke posisi
awal untuk memulai langkah hisap. Torak telah menyelesaikan 4 langkah penuh yaitu
hisap, kompresi, pembakaran, dan pembuangan. Poros engkol berputar dua kali, dan
menghasilkan satu siklus tenaga. Dalam praktiknya, katup-katup tidak selalu membuka
dan menutup tepat di TMA dan TMB, tetapi sedikit lebih awal atau lebih lambat, yang
digunakan untuk mengoptimalkan aliran gas dan meningkatkan efisiensi.
2.4 fungsi knalpot pada sepeda motor
Fungsi utama knalpot adalah mengalirkan gas buang dari ruang pembakaran mesin keluar
dari kendaraan. Ini membantu menghilangkan gas buang beracun dan menghindari
akumulasi gas beracun di sekitar mesin.
Knalpot berperan sebagai peredam suara untuk mengurangi kebisingan yang dihasilkan
oleh mesin. Ini sangat penting untuk mematuhi regulasi kebisingan lalu lintas dan untuk
meminimalkan gangguan lingkungan Knalpot membantu mengurangi tekanan tegangan
di dalam mesin dengan memungkinkan gas buang untuk keluar dengan lancar.
Tanpa knalpot, tekanan tinggi bisa merusak komponen internal mesin Knalpot
membantu mengendalikan suhu di sekitar mesin dengan menghilangkan panas dari gas
buang. Ini penting untuk mencegah kerusakan pada komponen mesin dan sistem terkait.
Knalpot yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan kinerja mesin dengan
memungkinkan aliran gas buang yang lebih efisien. Ini dapat meningkatkan daya dan
torsi mesin.
2.5 jenis knalpot motor
Knalpot standar (OEM, atau Original Equipment Manufacturer) adalah sistem
knalpot yang sudah terpasang pada motor dari pabrik. Sistem ini dirancang untuk
memenuhi standar keselamatan, emisi, dan kebisingan yang ditetapkan oleh regulator
setempat, serta untuk memberikan kinerja yang memadai untuk penggunaan sehari-hari.
Knalpot standar biasanya lebih fokus pada kenyamanan, ketahanan, dan kepatuhan
terhadap peraturan, dibandingkan dengan peningkatan performa atau suara yang lebih
keras. Sistem knalpot standar pada motor umumnya dilengkapi dengan komponen yang
membantu mengurangi kebisingan, mengontrol emisi, serta menjaga efisiensi bahan
bakar. Pada motor keluaran terbaru, knalpot standar sering kali sudah dilengkapi dengan
konverter katalitik untuk mengurangi polusi udara.
Knalpot slip-on adalah jenis knalpot aftermarket yang hanya menggantikan bagian
akhir dari sistem knalpot motor, yaitu muffler (penekan suara). Knalpot slip-on terpasang
dengan cara "diselempangkan" ke ujung pipa knalpot standar tanpa memerlukan
modifikasi besar pada sistem knalpot yang ada. Ini adalah pilihan populer bagi
pengendara yang ingin meningkatkan performa, suara, atau penampilan motor tanpa perlu
mengganti seluruh sistem knalpot (seperti pada full system). Knalpot slip-on dirancang
untuk memberikan peningkatan kecil dalam hal performa, suara, dan estetika, tetapi lebih
sederhana dan lebih terjangkau dibandingkan dengan full system. Karena pemasangannya
yang mudah, knalpot slip-on sering menjadi pilihan bagi mereka yang ingin modifikasi
motor tanpa perlu mengganti banyak komponen.
Knalpot full system adalah jenis sistem knalpot yang menggantikan seluruh bagian
dari sistem knalpot motor, mulai dari header hingga muffler. Ini berarti semua komponen
dalam sistem knalpot diganti dengan bagian aftermarket yang dirancang untuk
meningkatkan aliran gas buang dan performa motor secara keseluruhan. Knalpot full
system sering dipilih oleh pengendara yang ingin meningkatkan daya mesin,
meningkatkan respons gas, dan mengurangi bobot [Link] system knalpot biasanya
dirancang khusus untuk motor tertentu, dengan mempertimbangkan konfigurasi mesin
dan jenis penggunaan. Beberapa knalpot full system bahkan dilengkapi dengan teknologi
untuk mengurangi emisi gas buang atau menambah durabilitas, seperti pengaplikasian
material khusus yang tahan panas dan korosi.
2.6 bagian bagian knalpot
Knalpot motor terdiri dari beberapa bagian penting yang berkontribusi dalam
mengalirkan gas buang dari mesin ke atmosfer. Berikut adalah bagian-bagian utama dari
knalpot motor:
2.6.1 header pipe
Bagian pertama dari knalpot yang terhubung langsung ke silinder mesin. Header
pipe mengumpulkan gas buang dari satu atau lebih saluran pembuangan silinder
dan mengalirkannya menuju bagian utama knalpot
Sumber : [Link]
motor-pakai-stainless-siapkan-dana-segini
2.6.2 Catalytic Converter
Catalytic converter berfungsi untuk mengurangi emisi gas beracun dengan
mengubah sebagian besar hidrokarbon, karbon monoksida, dan nitrogen oksida
menjadi senyawa yang lebih aman.
Sumber : [Link]
catalytic-converter-ini-tanda-dan-fungsinya
2.6.3 Muffler atau silencer
Muffler atau silincer adalah bagian terluar dari knalpot dan berfungsi sebagai
peredam suara utama. Ini menggunakan bahan serat suara atau bahan peredam
lainnya untuk mengurangi kebisingan dari gas buang.
Sumber : [Link]
2.6.4 Tailpipe
Tailpipe adalah bagian akhir dari knalpot yang mengarahkan gas buang ke
belakang motor. Tailpipe juga memiliki pengaruh terhadap suara akhir yang
dihasilkan oleh knalpot.
Sumber : [Link]
2.6.5 Heat Shield atau yang disebut pelindung panas
Beberapa knalpot dilengkapi dengan pelindung panas untuk menghalangi panas
berlebih dari knalpot agar tidak menghanguskan atau merusak komponen di
sekitarnya
Sumber : [Link]
z900/
2.6.6 Mounting Brackets
Mounting Brackets atau yang biasa disebut bracket pemasangan adalah bagian
yang digunakan untuk memasang knalpot pada rangka atau kerangka motor.
Mereka memastikan knalpot tetap dalam posisi yang benar.
Sumber : [Link]
2.7 Dyno test
Dyno test merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui hasil kekuatan torsi dan
horsepower. Dalam dunia otomotif canggih, banyak perusahaan besar yang memproduksi
berbagai jenis kendaraan. Hal ini menghasilkan perbaikan jangka panjang tidak hanya
pada mesin tetapi juga teknologi yang dibangun dalam sistem kendaraan.
Mesin terus berkembang dan ditingkatkan untuk menyederhanakan kinerja sistem
komponen dan mencapai berbagai aspek penting seperti kecepatan, kenyamanan, dan
keekonomian yang sempurna. Kecepatan putaran suatu mesin mempunyai gaya yang
disebut torsi dan tenaga waktu. Kedua kinerja ini dapat dengan mudah diukur
menggunakan peralatan pengukuran bangku tes.
2.8 kinerja mesin
Kinerja mesin merujuk pada kemampuan mesin untuk menghasilkan output (tenaga, torsi,
atau performa lainnya) yang diinginkan sesuai dengan tujuan atau fungsi mesin tersebut.
Dalam konteks motor, kinerja mesin sering kali diukur berdasarkan beberapa parameter
utama, seperti tenaga (power), torsi (torque), akselerasi, . Kinerja mesin mencerminkan
seberapa efektif mesin mengubah energi (biasanya energi kimia dari bahan bakar)
menjadi tenaga mekanik untuk menggerakkan kendaraan. Kinerja mesin motor
dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari desain mesin, sistem pembakaran, sistem
pembuangan, sistem transmisi, hingga kondisi mesin itu sendiri. Mesin dengan kinerja
tinggi dapat menghasilkan tenaga lebih besar, akselerasi lebih cepat, dan efisiensi bahan
bakar yang lebih baik, memberikan pengalaman berkendara yang optimal baik untuk
keperluan sehari-hari maupun performa tinggi seperti balap.
2.9 Parameter kinerja mesin
Kinerja mesin ditentukan melalui beberapa parameter utama berikut:
2.9.1 Daya Mesin (HP)
Daya adalah keluaran energi mekanis yang dihasilkan mesin dalam satuan
waktu tertentu. Daya menunjukkan kemampuan mesin untuk melakukan kerja,
seperti menggerakkan kendaraan pada kecepatan tertentu.
Relevansi:
Daya mesin menentukan kemampuan kendaraan untuk mencapai kecepatan tinggi
atau mengatasi beban berat.
2.9.2 Torsi Mesin
Torsi adalah gaya puntir yang dihasilkan oleh mesin pada poros engkol. Torsi
berhubungan langsung dengan akselerasi kendaraan, terutama pada putaran
rendah.
Relevansi:Torsi yang tinggi pada putaran rendah memudahkan kendaraan untuk
berakselerasi atau mendaki tanjakan.
2.9.3 akselerasi
Akselerasi adalah laju perubahan kecepatan suatu objek, akselerasi mengacu pada
kemampuan kendaraan untuk meningkatkan kecepatan dari keadaan diam atau
saat bergerak pada kecepatan rendah menuju kecepatan yang lebih tinggi dalam
waktu singkat. Akselerasi merupakan salah satu parameter penting yang
menggambarkan performa kendaraan, baik itu mobil, motor, atau kendaraan
lainnya.