0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Multitester: Fungsi & Cara Pakai

Diunggah oleh

ahokpin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Multitester: Fungsi & Cara Pakai

Diunggah oleh

ahokpin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Multitester : Pengertian, Fungsi Bagian, Cara

Menggunakannya

Apa itu multitester? Jika dilihat dari pengertiannya, multitester adalah alat
yang difungsikan untuk melakukan pengukuran pada arus listrik. Sedangkan
berdasarkan jenisnya, multitester dibedakan menjadi dua yaitu multitester
analog dan digital.

Rasanya tidak cukup hanya mengetahui pengertian dan jenis multitaster saja,
bukan? Untuk itu mari pelajari lengkap pembahasan di bawah ini. Kita ulas
pengertian, jenis, fungsi serta cara menggunakan multitester analog maupun
multitester digital

Pengertian Multitester

Multitester adalah perangkat elektronik yang berfungsi untuk mengukur


besaran arus listrik, selain itu juga sering digunakan untuk menentukan
resistansi atau nilai hambatan.

Multitester juga dikenal dengan istilah lain, yakni AVOmeter atau multimeter.

Karena fungsi multitester yang sangat banyak dan bervariasi inilah, maka tidak
heran jika alat tersebut sangat penting dan banyak digunakan dalam berbagai
kesempatan.

Salah satu kegunaan multitester adalah untuk melihat uji kelayakan dari
sebuah peralatan elektronik. Dimana fungsi multimeter yakni untuk
mengetahui apakah alat tersebut masih dalam keadaan baik ataukah tidak.
Fungsi Multitester

Diantaranya fungsi multitester adalah sebagai berikut :

 Multitester memiliki fungsi utama untuk mengetahui tingkat tegangan


arus listrik AC dan DC.
 Multitester juga difungsikan untuk mengukur tingkat kekuatan arus yang
ada pada tegangan listrik DC.
 Multitester berfungsi untuk mengetahui tingkat nilai hambatan yang ada
pada sebuah resistor.
 Bisa digunakan untuk mengetahui hubungan arus listrik, terutama untuk
jenis hubungan arus singkat.
 AVOmeter/Multitester bisa dimanfaatkan untuk melihat kondisi
kapasitor elektrolit dan transistor.
 AVOmeter dapat digunakan untuk mengecek kondisi dioda, ini berlaku
baik dioda led maupun dioda zener.
 Kegunaan multitester untuk mengukur HFE transistor pada tipe tertentu.
 AVOmeter/Multitester juga dapat digunakan untuk proses mengukur
suhu dan lain sebagainya.

Bagian-bagian penting Multimeter :

Multimeter atau multitester pada umumnya terdiri dari 3 bagian


penting, diantanya adalah :
1. Display
2. Saklar Selektor
3. Probe

Jenis – jenis Multitester

Adapun jenis multitester dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni

 Multitester analog
 Multitester digital.

Apa perbedaan antara multitester analog dan digital? Mari simak ulasan
selengkapnya di bawah ini.
1. Multitester Analog

Multitester analog adalah alat ukur arus listrik yang versi manual.

Alat tersebut memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Dimana proses dan hasil
pengukurannya masih menggunakan metode dan perhitungan manual.

Selain itu, angka-angka dalam penghitungan multitester versi analog juga


memiliki range yang masih ditunjukkan dengan menggunakan penunjuk.
Dimana jarum penunjuk ini memiliki bentuk yang menyerupai dengan jarum
jam.

Karena masih masuk dalam kategori penghitungan manual, tentunya


membutuhkan ketelitian yang lebih ketika Anda menggunakannya. Selain itu,
hasil akurasinya juga cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan
multitester versi digital.

2. Multitester Digital
Multitester digital adalah alat ukur arus listrik digital yang lebih canggih dari
yang versi sebelumnya, bisa dikatakan hasil pengukurannya lebih akurat serta
mudah dibaca.

Dan tentu saja yang menjadikan alat ini lebih diminati yakni karena hasil
pengukuran akan lebih mudah dibaca atau dipahami.

Selain itu, versi digital juga dapat digunakan untuk pengukuran dengan
jangkauan yang lebih luas. Tidak hanya dapat digunakan untuk mengukur
tegangan, hambatan, ataupun arus listrik saja.

Alat tersebut juga dapat digunakan untuk mengukur transistor ataupun Hfe
dengan tipe-tipe tertentu.

Cara Kerja Multitester

Bisa dibilang multitester atau Avometer ini merupakan salah satu alat ukur
yang mempunyai cara kerja yang unik. Pada alat ukur multitester, di bagian
dalamnya terdapat sebuah komponen yang bernama kumparan. Dimana
kumparan ini yang terbuat dari bahan atau material tembaga.

Cara kerja multitester ketika beroperasi, multitester haruslah dialiri dengan


arus listrik terlebih dahulu. Perhatikan saat arus listrik mengalir pada
multitester dan sampai pada lilitan kumparan yang ada di dalamnya.

Hal ini terlihat secara otomatis saat jarum penunjuk akan bekerja dan dapat
bergerak menuju skala tertentu berdasarkan jenis pengukuran yang
dibutuhkan.

Bagian-Bagian Multitester Analog


Cara menggunakan multitester analog maupun digital sebenarnya nyaris sama.
Yang membedakannya hanyalah cara membaca kedua alat ukur tersebut. Jika
versi digital dapat langsung menampilkan angka-angka hasil penghitungan.

Tidak demikian dengan versi analog yang membutuhkan tingkat ketelitian yang
tinggi untuk dapat membaca hasil pengukurannya. Untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai cara membaca multitester analog dan digital.

Terlebih dahulu kita akan mengupas tuntas apa saja bagian-bagian dari
multitester. Simak pengertian dan fungsi dari setiap bagian-bagian multitester
sebagai berikut.

1. Kotak Meter

Kotak meter sering disebut juga sebagai meter cover. Bagian ini merupakan
kerangka terluar atau bodi dari sebuah AVOmeter. Di bagian dalam kotak
meter, nantinya seluruh komponen-komponen yang terdapat dalam alat ukur
tersebut akan ditempatkan.

Kotak meter pada umumnya terbuat dari bahan plastik. Namun untuk
menghindari terjadinya selip atau licin ketika digunakan, ada juga yang
menyiasatinya dengan menggunakan bahan karet untuk membungkus kotak
meter.

2. Skala

Skala adalah salah satu komponen yang terdapat dalam multitester. Untuk
fungsinya sendiri yakni digunakan saat membaca nilai meter.

Inilah mengapa terdapat papan berisi nilai baca yang menjadi komponen
penyusunnya. Berikut ini contoh papan skala nilai pengukuran:

 Nilai pengukuran tahanan


 Nilai pengukuran tegangan AC
 Nilai pengukuran tegangan DC
 Nilai pengukuran arus listrik

3. Jarum Penunjuk

Jarum penunjuk disebut juga sebagai Knife Egde Pointer. Komponen ini
berfungsi sebagai media penunjuk tentang berapa besar nilai ukur yang
didapatkan ketika menggunakan multitester.
Jika pada multitester digital hasil pengukuran dapat dilihat secara langsung.
Maka tidak demikian dengan multitester versi analog. Hal ini karena versi
tersebut biasanya juga menambahkan cermin pada papan skala. Tujuannya
adalah untuk mempermudah pemakainya untuk membaca hasil pengukuran
dengan lebih akurat.

4. Zero Adjusting Screw

Sekrup atau zero adjusting screw merupakan komponen yang berfungsi untuk
mengatur kedudukan jarum penunjuk. Pada multimeter dengan versi analog,
biasanya sekrup ini digunakan untuk mengatur jarum penunjuk.

Apabila terjadi kerusakan, Anda dapat menggunakan obeng kecil. Kemudian


mengatur sekrup agar membuat jarum penunjuk pada posisi yang tepat. Yaitu
tepat berada ditengah-tengah angka 0.

5. Zero OHM Adjusting Knob

Sama seperti sekrup, zero OHM adjusting knob juga memiliki fungsi untuk
mengatur jarum penunjuk. Lebih tepatnya agar posisi jarum penunjuk tersebut
tetap berada di titik 0.

Selain itu, Zero OHM juga mempunyai fungsi lain dalam proses pengukuran
nilai OHM maupun nilai hambatan pada arus listrik.

6. Lubang Kutub Positif

Komponen yang satu ini berfungsi sebagai tempat untuk mengukur test lead
positif. Lubang kutub positif (+) ditandai dengan adanya kabel probe yang
berwarna merah.

7. Lubang Kutub Negatif

Komponen yang satu ini mempunyai fungsi untuk memasang test lead negatif.
Ini bisa Anda temui pada saat penggunaan kabel probe. Mudahnya Anda bisa
mengenai dari warna hitam pada kabel probe.

8. Saklar Pemilih

Saklar pemilih sering dikenal juga dengan istilah Range Selector Switch.
Kegunaannya adalah untuk memilih tingkat pengukuran berdasarkan
kebutuhan.
Ketika menggunakannya, Anda hanya tinggal mengukur saklar ini ke kanan
atau kiri. Kemudian memposisikan saklar tersebut sesuai kebutuhan Anda akan
tingkat pengukuran.

Adapun tingkat pengukuran yang biasanya disediakan pada alat ini antara lain:

 Posisi Ohm digunakan untuk melihat ukuran


 Posisi ACV digunakan untuk mengukur tingkat tegangan pada arus
 Posisi DCV digunakan untuk mengukur arus DC.
 Posisi DCmA digunakan untuk mengukur arus DC, namun bisa dalam
satuan milimeter.

9. Test Lead Negatif Dan Test Lead Positif

Kedua komponen umumnya bisa ditemukan pada bagian lubang kutub. Untuk
fungsi dari test lead ini sendiri yakni sebagai tempat meletakkan kabel probe
positif dan kabel probe negatif.

1. Cara Mengukur Tegangan DC (DC Voltage)

1. Atur Posisi Saklar Selektor ke DCV


2. Pilihlah skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Jika ingin
mengukur 6 Volt, putar saklar selector ke 12 Volt (khusus Analog Multimeter)
**Jika tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka disarankan
untuk memilih skala tegangan yang lebih tinggi untuk menghindari terjadi
kerusakan pada multimeter.
3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Probe Merah
pada terminal Positif (+) dan Probe Hitam ke terminal Negatif (-). Hati-hati agar
jangan sampai terbalik.
4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.

2. Cara Mengukur Tegangan AC (AC Voltage)

1. Atur Posisi Saklar Selektor ke ACV


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Jika ingin
mengukur 220 Volt, putar saklar selector ke 300 Volt (khusus Analog
Multimeter)

**Jika tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka disarankan


untuk memilih skala tegangan yang tertinggi untuk menghindari terjadi
kerusakan pada multimeter.
3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Untuk Tegangan
AC, tidak ada polaritas Negatif (-) dan Positif (+)
4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.

3. Cara Mengukur Arus Listrik (Ampere)

1. Atur Posisi Saklar Selektor ke DCA


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan arus yang akan diukur. Jika Arus yang
akan diukur adalah 100mA maka putarlah saklar selector ke 300mA (0.3A). Jika
Arus yang diukur melebihi skala yang dipilih, maka sekering (fuse) dalam
Multimeter akan putus. Kita harus menggantinya sebelum kita dapat
memakainya lagi.
3. Putuskan Jalur catu daya (power supply) yang terhubung ke beban,
4. Kemudian hubungkan probe Multimeter ke terminal Jalur yang kita
putuskan tersebut. Probe Merah ke Output Tegangan Positif (+) dan Probe
Hitam ke Input Tegangan (+) Beban ataupun Rangkaian yang akan kita ukur.
Untuk lebih jelas, silakan lihat gambar berikut ini.
5. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter

4. Cara Mengukur Resistor (Ohm)

1. Atur Posisi Saklar Selektor ke Ohm (Ω)


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan Ohm yang akan diukur. Biasanya diawali
ke tanda “X” yang artinya adalah “Kali”. (khusus Multimeter Analog)
3. Hubungkan probe ke komponen Resistor, tidak ada polaritas, jadi boleh
terbalik.
4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter. (Khusus untuk Analog
Multimeter, diperlukan pengalian dengan setting di langkah ke-2)
Sistem Pengapian Konvensional: Cara Kerja dan
Komponennya
Sebuah kendaraan memiliki mesin yang digerakkan karena adanya
pembakaran antara udara dan bahan bakar atau bensin. Supaya proses
pembakaran berhasil dibutuhkan percikan api yang berasal dari busi.

Percikan api tersebut berhasil muncul karena sistem pengapian konvensional


yang digunakan sejak kendaraan bermotor dengan bensin pertama kali dibuat.
Hingga saat ini sistem pengapian tersebut masih terus digunakan.

Apa Itu Sistem Pengapian Konvensional dan Fungsinya

Secara umum ada empat jenis sistem pengapian yang digunakan pada
kendaraan mobil. Pertama adalah sistem pengapian konvensional, kedua
sistem pengapian CDI, ketiga sistem pengapian transistor dan terakhir sistem
pengapian DLI.

Di antara keempatnya, pengapian konvensional adalah sistem yang pertama


kali dirancang oleh manusia dalam sebuah kendaraan bermotor. Pengertian
dari sistem ini adalah rangkaian mekatronika sederhana.

Tujuan dibuat adalah untuk menciptakan percikan api pada busi dengan
interval tertentu.

Busi akan menciptakan percikan api karena energi listrik dari tegangan yang
mengalir tinggi melewati elektroda busi.

Tegangan bisa mencapai 30.000 V DC, di mana celah 0,8 mm pada elektroda
tersebut akan menciptakan lompatan elektron yang bentuknya percikan api.
Ciri utamanya sendiri adalah menggunakan platina untuk menghubungkan dan
memutuskan pengapian.

Ada dua fungsi yang dimiliki sistem pengapian konvensional. Pertama adalah
untuk menciptakan loncatan bunga api pada busi di waktu yang tepat.
Waktunya adalah untuk menciptakan pembakaran antara udara dengan bahan
bakar bensin.

Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan loncatan bunga api dibutuhkan
tegangan listrik yang tinggi. Tegangan tersebut akan menaikkan tegangan
baterai sehingga menjadi tegangan tinggi coil melalui hubungan singkat arus
primer oleh platina.

Sistem ini berbeda dengan sistem pengapian CDI yang justru menganut prinsip
pengosongan arus pada kapasitor supaya terdapat tegangan pada coil.
Berbeda juga dengan sistem pengapian transistor yang tak lagi menggunakan
platina.

Komponen dalam Sistem Pengapian Konvensional

Setiap sistem pengapian memiliki komponen yang berbeda-beda tergantung


bagaimana caranya bekerja. Masing-masing komponen ini memiliki fungsi dan
tugas berbeda namun saling berhubungan untuk menciptakan percikan api.

Jadi busi tidak bekerja sendiri dalam sebuah kendaraan motor atau mobil
untuk bisa menciptakan percikan api. Secara umum ada tiga komponen utama
yang penting yaitu Nok, Ignition Coil dan Distributor.

Komponen dalam Sistem Pengapian Konvensional

Setiap sistem pengapian memiliki komponen yang berbeda-beda tergantung


bagaimana caranya bekerja. Masing-masing komponen ini memiliki fungsi dan
tugas berbeda namun saling berhubungan untuk menciptakan percikan api.

Jadi busi tidak bekerja sendiri dalam sebuah kendaraan motor atau mobil
untuk bisa menciptakan percikan api. Secara umum ada tiga komponen utama
yang penting yaitu Nok, Ignition Coil dan Distributor.

Berikut ini komponen sistem pengapian konvensional yang digunakan.

Baterai

Sama seperti baterai pada umumnya, baterai di sini fungsi utamanya adalah
untuk menyediakan arus listrik dengan voltase rendah yaitu sekitar 12 volt.
Selain untuk sistem pengapian, baterai juga memiliki fungsi kelistrikan pada
bagian lainnya.

Contohnya saja untuk suplai listrik menyalakan klakson, sistem pengisian dan
komponen yang membutuhkan kelistrikan lainnya. Baterai ini lebih sering
disebut dengan aki di mana fungsinya sangat penting untuk kelistrikan
kendaraan.

Ignition Coil

Komponen inilah yang berperan besar untuk menaikkan daya dari baterai yang
tadinya hanya 12 volt. Daya bisa dinaikan 10 KV bahkan lebih, seperti yang
dijelaskan bahwa untuk menciptakan percikan api dibutuhkan tegangan listrik
yang tinggi.

Ignition coil ini memiliki dua jenis kumparan yang masing-masing dililitkan
pada bagian inti besi. Di mana kumparan yang pertama disebut kumparan
primer, yang akan menerima arus dari baterai dan diputus breaker point atau
platina.

Kumparan kedua atau kumparan sekunder ini nantinya akan menciptakan


induksi elektromagnetik ketika arus listrik diputus oleh platina sehingga bisa
membangkitkan tegangan sampai 10 KV bahkan lebih.

Kumparan primer biasanya menggunakan kawat tembaga yang ukurannya 0,5


hingga 1,0 mm bahkan lebih besar dan gulungannya sedikit. Sedangkan
kumparan sekunder lebih kecil dan jumlah gulungannya lebih banyak.

Distributor

Kemudian komponen distributor ini sendiri terdiri dari banyak komponen di


mana fungsi utamanya adalah untuk mendistribusikan tegangan listrik yang
sudah dibangkitkan ignition coil ke setiap silinder. Berikut ini macam-macam
bagian dari distributor.

 Nok

Disebut juga dengan Cam, komponen ini akan membuka platina di sudut poros
engkol dengan tepat bagi masing-masing silinder. Nok sendiri terhubung
dengan poros distributor dan akan digerakkan oleh poros nok.
 Platina

Pada sistem pengapian konvensional fungsi platina adalah untuk memutuskan


arus listrik yang mengalir ke kumparan primer dalam ignition coil. Tujuannya
agar ignition coil mampu menciptakan tegangan listrik yang lebih tinggi dari
baterai.

 Kondensor

Sesuai dengan namanya, komponen distributor ini memiliki fungsi utama untuk
menyerap loncatan bunga api pada platina. Penyerapan berlangsung ketika
terjadi pembukaan yang bertujuan untuk menaikkan tegangan pada coil
sekunder.

 Centrifugal Governor Advancer

Fungsi dari komponen ini adalah untuk memajukan pada saat pengapian yang
disesuaikan dengan putaran dari mesin.

 Vakum Advancer

Komponen ini dipasang pada bagian distributor dan dihubungkan ke backing


plate atau dudukan platina. Bentuknya sendiri seperti piringan yang memiliki
dua selang dan dihubungkan ke karburator dan intake manifold.

Pada saat komponen ini menyala maka akan menggeser backing plate dan
menciptakan buka tutup platina. Fungsinya adalah memajukan saat pengapian
sesuai dengan beban mesin.

 Rotor

Komponen sistem pengapian konvensional ini memiliki fungsi untuk


membagikan arus listrik tegangan tinggi yang sudah dihasilkan ignition coil ke
busi.

 Distributor Cap

Fungsi distributor ini adalah untuk membagikan arus listrik dari rotor ke kabel
tegangan listrik sehingga setiap busi bisa menghasilkan percikan api.
 Busi

Busi merupakan bagian dari distributor yang fungsinya adalah menciptakan


percikan bunga api dari elektroda yang sudah didapatkan melalui kabel
tegangan tinggi.

 Kabel Tegangan Tinggi

Komponen dari sistem pengapian konvensional ini memiliki fungsi untuk


mengalirkan arus dengan tegangan sangat tinggi ke busi dari ignition coil.

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Setelah mengenali apa saja komponen dari sistem pengapian ini Anda pasti
sudah bisa memiliki garis besar bagaimana cara kerjanya. Ada dua cara kerja
sistem pengapian konvensional yang bisa diperhatikan sebagai berikut:

 Cara Kerja saat Kontak On

Sistem pengapian ini akan bekerja ketika kontak dalam posisi ON. Maka
Ignition Relay dan Main Relay akan aktif dan muncul aliran arus listrik dari
baterai ke keduanya.

Arus tersebut akan masuk ke kumparan primer dan sekunder pada ignition
coil. Arus listrik hanya dialirkan saja sehingga sistem pengapian belum berjalan
dan tak ada perubahan pada tegangannya.

 Cara Kerja saat Posisi Start

Barulah pada saat flywheel diputar sistem starter, maka sistem pengapian akan
mengalami pemutusan arus. Rangkaian pengapian ini terhubung dengan
crankshaft mesin, jadi saat mesin berputar maka putaran akan menyesuaikan
RPM mesin.

Nok pada distributor jumlahnya sama dengan silinder mesin, di mana pada
saat berputar maka akan menyentuh kaki platina dan terjadilah kontak point
yang menyebabkan arus primer terputus.

Pada saat arus di kumparan primer terputus, maka medan magnet yang
tadinya terbentuk juga akan padam. Namun medan magnet tersebut akan
bergerak ke kumparan sekunder di mana arus tegangan listrik akan
meningkat.
Pergerakan dari pemutusan arus hingga meningkat terjadi dalam waktu yang
singkat. Supaya prosesnya berjalan maka dibutuhkan platina yang bisa
memutuskan dan menghubungkan arus pada kumparan primer dan sekunder.

Selanjutnya tegangan listrik yang tinggi tinggal dialirkan ke busi untuk


menciptakan percikan api sehingga terjadilah pembakaran dan mesin akan
menyala.

Inilah sistem pengapian konvensional di mana ada beberapa rangkaian penting


yang bekerja dengan sangat singkat pada kendaraan Anda.

A. Komponen Sistem Pengapian Motor

Memiliki sebuah motor saat ini menjadi sangat penting karena dapat
mempermudah dan mempercepat mobilitas kita sehari-hari. Namun, saat
motor yang kita miliki tiba-tiba saja tidak mau bergerak, jangan langsung
membawanya ke tempat service. Kita dapat melakukan pengecekan sendiri
seputar sistem pengapian. Sistem pengapian pada motor sangat penting
peranannya karena dapat membuatnya tidak bergerak. Walau terlihat rumit,
akan tetapi kita dapat belajar agar mampu memperbaiki jika masalahnya tidak
terlalu besar. Oleh karena itu, agar kita lebih mengetahui jenis dari komponen
pada sistem pengapian motor, berikut penjelasannya :

1. Sistem Pengapian Elektronik (Transistor)

Sebuah sistem pengapian elektronik yang tidak lagi menggunakan penyetelan


manual. Sistem pengapian motor elektronik ini memeiliki beberapa jenis yang
umum digunakan, yaitu :

 Sistem TCI ( Transistor Coil Ignition ), yaitu sebuah sistem pengapian


dengan menggunakan IGBT atau yang berdaya besar.
 Sistem DLI ( Distributor Less Ignition ), yaitu sebuah sistem yang
merupakan pengembangan dari TCI. Sistem pengapiannya sama dengan
TCI yaitu menggunakan micro controller.
 Sistem CDI ( Capacitor Discharge Ignition ), yaitu sebuah sistem
pengapian yang menggunakan SCR ( Silicon Controlled Rectifier ). Sistem
yang satu ini yang paling umum ditemukan pada motor produksi tahun
2000-an.
2. Sistem Pengapian Konvensional

Sebuah sistem yang banyak digunakan pada tahun 90-an. Membutuhkan usaha
lebih karena dibutuhkan penyetelan pada celah katup platina. Menjadi sedikit
rumit karena jika tidak sesuai, maka tidak akan dapat menghasilkan percikan
bunga api. Sistem ini sudah tidak banyak digunakan karena motor produksi
sekarang lebih mudah pengoperasiannya. Untuk sebagian orang yang
menyukai motor model lama, terbiasa dengan sistem pengapian ini. Meskipun
terbilang rumit, tetapi justru menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang
sangat menyukai dunia otomotif.

B. Sistem Pengapian Motor Dan Cara Kerjanya

Sistem pengapian atau pembakaran pada kendaraan bermotor sangatlah


penting. Umumnya kita lebih mengenal CDI pada motor daripada mobil. Hal ini
dikarenakan ukuran komponen dari CDI yang lebih cocok untuk ukuran pada
motor. CDI sendiri memiliki dua jenis yang berbeda. Pada jenis pertama, kita
akan tetap menemukan platina. Hanya saja, platina pada sistem ini berfungsi
sebagai pengalih arus bukan untuk pemutus arus primer. Sedangkan CDI pada
jenis kedua, platina digantikan oleh pulse igniter yang bekerja sesuai dengan
timing mesin.

Pada CDI versi modern dengan menggunakan pulse igniter, cara kerja
pengapiannya pun lebih mudah. Saat kita memutar kunci kontak pada posisi
on, maka akan terjadi aliran arus dari baterei CDI. Setelah itu arus akan
melewati converter, sebelum masuk ke CDI unit. Tujuannya agar menaikkan
tegangan hingga 300 volt. Dalam kondisi ini mesin belum menyala dikarenakan
belum terkirimnya sinyal PWM dari pick up coil untuk melakukan discharging.
Dapat dikatakan jika arus dari baterai masih ditahan oleh capasitor. Namun jika
mesin mulai berputar, maka sinyal PWM akan dikirim dari pick up coil yang
memiliki frekuensi yang sama dengan RPM mesin.

Melalui beberapa tahapan lainnya, RPM mesin yang akan membuat mesin
menyala. Meskipun terlihat rumit dan membuat pusing, justru sebenarnya ini
lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan sistem pengapian motor
yang konvensional. Dapat kita ketahui bahwa jika mesin tidak menyala itu
disebabkan sistem pengapian.
C. Penyebab Pengapian Motor Hilang

Dalam sebuah kendaraan seperti sepeda motor terdapat sistem pembangkit


listrik yang memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik pada sepeda
motor. Sistem pembangkit listrik yang digunakan pada motor terdiri dari dua
macam yakni pembangkit listrik dengan arus bolak-balik dan pembangkit listrik
searah.

Pada sistem pengapian sepeda motor, sistem kelistrikan motor pengapian


selalu mensuplai percikan api yang dibutuhkan di ruang pembakaran. Percikan
api yang dihasilkan sistem pengapian sangat wajar dan tidak dapat
menimbulkan kebakaran. Percikan api timbul karena ada perbedaan pada
tegangan yang berada pada dua elektroda busi. Akhirnya terjadi sebuah
loncatan api kecil saat celah platina busi terbuka. Loncatan api tersebut yang
menyebabkan terjadinya pembakaran bensin sepeda motor. Dalam hal ini
sebagian pengendara pasti pernah merasakan sepeda motor yang tiba-tiba
mogok. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya pengapian. Percikan api
dalam sistem pengapian ini berfungsi untuk membakar uap bahan bakar yang
masuk ke dalam ruang pembakaran. Disinilah sebuah sepeda motor bisa
memperoleh daya gerak.

Apabila percikan api hilang otomatis tidak ada proses pembakaran dan mesin
pun tidak akan hidup. Untuk mencari permasalahan hilangnya api harus
mendeteksi satu per satu komponen pengapian motor tersebut misalnya mulai
dari komponen busi, lalu koil, cdi, sepul, aki dan lainnya. Oleh sebab itu, kita
dapat mendeteksi bagian yang mana yang mengalami kerusakan yang
mengakibatkan hilangnya api.
Nama : Agung Permana
Putra
Kelas : XI TBSM 2
Materi : MULTITESTER DAN
SISTEM PENGAPIAN

Anda mungkin juga menyukai