BRAIN ROT
Cerpen: Dian Chandra
Ini rumahku, nyanyian duka di dalamnya. Melengking-lengking sepanjang
malam. Kadang-kadang membikin nyeri di dada. Tetapi, ia selalu saja
menyanyikannya dengan membayangkan wajah-wajah perempuan
jahanam yang ia tiduri berulang kali.
Rumahku tak besar tapi juga tak kecil. Punya tiga kamar tidur dan
ruangan-ruangan lainnya. Dan ia selalu saja betah berlama-lama di ruang
tv dengan sekerat rokok dan ponsel kesayangannya.
Ia tak menonton tv, tak pernah. Saat pulang ke rumah, ia hanya
memainkan ponselnya sendirian di ruang itu. Ia bahkan mengurungku di
kamar bersama anak-anaknya.
Aku tahu, ahh, sangat tahu. Caci maki itu akan datang menyergapku.
Seolah-olah aku salah ini-itu. Kadang-kadang ia mendatangiku dengan
nyala api di matanya. Lalu aku hanya bisa mengadu sendu, “Ampun!”
Malam-malam, jauh sebelum Subuh bertandang, kusembunyikan tangisan
anak-anakku yang meratapi kepayahanku. Sebagaimana kututupi biru-biru
di wajah.
***
Ini hidupku, ini nyala keberanian di dada, “Aku ingin bercerai!” Tetapi
orang-orang itu menuduhku dungu, “Mau makan apa kau nanti? Kau
takpikirkan anak-anakmu yang akan hidup tanpa bapak?”
Lihat, keberanianku dianggap busuk.