0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan1 halaman

Keberanian dalam Kegelapan Rumahku

Cerpen 'BRAIN ROT' karya Dian Chandra menggambarkan kehidupan seorang wanita yang terjebak dalam rumah tangga yang menyakitkan, di mana ia menghadapi kekerasan dan pengabaian dari suaminya. Meskipun ia merindukan kebebasan dan berani untuk bercerai, masyarakat di sekitarnya menganggap keputusannya sebagai tindakan bodoh yang akan merugikan anak-anaknya. Kisah ini menyoroti perjuangan dan keberanian seorang ibu dalam menghadapi situasi yang sulit.

Diunggah oleh

Hardianti S Hum
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan1 halaman

Keberanian dalam Kegelapan Rumahku

Cerpen 'BRAIN ROT' karya Dian Chandra menggambarkan kehidupan seorang wanita yang terjebak dalam rumah tangga yang menyakitkan, di mana ia menghadapi kekerasan dan pengabaian dari suaminya. Meskipun ia merindukan kebebasan dan berani untuk bercerai, masyarakat di sekitarnya menganggap keputusannya sebagai tindakan bodoh yang akan merugikan anak-anaknya. Kisah ini menyoroti perjuangan dan keberanian seorang ibu dalam menghadapi situasi yang sulit.

Diunggah oleh

Hardianti S Hum
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BRAIN ROT

Cerpen: Dian Chandra

Ini rumahku, nyanyian duka di dalamnya. Melengking-lengking sepanjang


malam. Kadang-kadang membikin nyeri di dada. Tetapi, ia selalu saja
menyanyikannya dengan membayangkan wajah-wajah perempuan
jahanam yang ia tiduri berulang kali.

Rumahku tak besar tapi juga tak kecil. Punya tiga kamar tidur dan
ruangan-ruangan lainnya. Dan ia selalu saja betah berlama-lama di ruang
tv dengan sekerat rokok dan ponsel kesayangannya.

Ia tak menonton tv, tak pernah. Saat pulang ke rumah, ia hanya


memainkan ponselnya sendirian di ruang itu. Ia bahkan mengurungku di
kamar bersama anak-anaknya.

Aku tahu, ahh, sangat tahu. Caci maki itu akan datang menyergapku.
Seolah-olah aku salah ini-itu. Kadang-kadang ia mendatangiku dengan
nyala api di matanya. Lalu aku hanya bisa mengadu sendu, “Ampun!”

Malam-malam, jauh sebelum Subuh bertandang, kusembunyikan tangisan


anak-anakku yang meratapi kepayahanku. Sebagaimana kututupi biru-biru
di wajah.

***

Ini hidupku, ini nyala keberanian di dada, “Aku ingin bercerai!” Tetapi
orang-orang itu menuduhku dungu, “Mau makan apa kau nanti? Kau
takpikirkan anak-anakmu yang akan hidup tanpa bapak?”

Lihat, keberanianku dianggap busuk.

Anda mungkin juga menyukai