0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Definisi Belajar, Mengajar, dan Pembelajaran

Diunggah oleh

nurliautami80
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Definisi Belajar, Mengajar, dan Pembelajaran

Diunggah oleh

nurliautami80
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Belajar
Kegiatan belajar adalah suatu proses yang kompleks, berlangsung secara
terus menerus dan melibatkan berbagai lingkungan yang dibutuhkan.
Menurut Suryabrata dalam Nur Ghufron dan Rini Rismawati (2014:4)
Mengemukakan bahwa pada dasarnya belajar merupakan sebuah proses
untuk melakukan perubahan perilaku seseorang, baik lahiriah maupun
batiniah”. Perubahan menuju kebaikan, dari yang jelek menjadi baik.
Proses perubahan tersebut bersifat relatif permanen dalam artinya bahwa
kebaikan yang diperoleh berlangsung lama dan proses perubahan tersebut
dilakukan secara adaptif, tidak mengabaikan kondisi lingkungannya.

Alsa dalam Nur Ghufron dan Rini Rismawati (2014:4) berpendapat bahwa
“Belajar adalah tahapan perubahan perilaku individu yang relatif menetap sebagai
hasil pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan”. Kolb dalam Nur
Ghufron dan Rini Rismawati (2014:6) menyatakan “Belajar merupakan suatu
proses yang memungkinkan individu untuk lebih adaptif”. Menurut Slameto
(2015:2) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seserang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkunganya”.
Menurut Aunurrahman (2012:33) “Belajar merupakan kegiatan penting
setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar”.
Menurut H.C. Witherington dalam Aunurrahman (2012:35) mengemukakan
bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan
diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,
kepribadian atau suatu pengertian”. Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris (2012:1)
menyatakan bahwa “Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang
sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan barang pendidikan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar
adalah suatu proses yang dibutuhkan oleh semua manusia yang berlangsung
7
8

seumur hidup, sejak masih bayi hingga meninggal yang mana untuk mengetahui
berhasil atau tidaknya seseorang mengubah kepribadadian dari yang buruk
menjadi yang lebih baik yang sesuai dengan interaksi yang terjadi di
lingkungannya.

2. Pengertian Mengajar
Menurut Sardiman (2014:47) “Mengajar adalah menyampaikan
pengetahuan pada anak didik. Menurut pengertian ini berarti bertujuan dari siswa
itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan”. Menurut
Mohamad Ali dalam Nur Hamiyah dan Muhammad Jauhar (2014:4) menyatakan
bahwa “Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam memberi
kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar siswa dengan tujuan yang
telah dirumuskan”. Oemar Hamalik dalam Nur Hamiyah dan Muhammad Jauhar
(2014:5) menyatakan bahwa “Mengajar diartikan sebagai usaha pemberian
bimbingan kepada siswa untuk belajar”.
Mengajar adalah menciptakan lingkungan dan berbagai kemudahan belajar
bagi siswa. Menurut Sudjana dalam Nur Hamiyah dan Muhammad Jauhar
(2014:5) menyatakan bahwa “Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa
belajar”. Nur Hamiyah dan Muhammad Jauhar (2014:5) menyatakan bahwa
menurut [Link] “Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir lingkungan
sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar”.
Menurut Slameto (2015:29) menyatakan bahwa “Mengajar adalah penyetrahan
kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik
kita atau usaha mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai
generasi penerus”.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah
suatu usaha yang dilakukan seorang guru dalam proses pembimbingan siswa
dengan memiliki tujuan akhir yang sudah ditetapkan.
9

3. Pengertian Pembelajaran
Menurut Wanger dalam Miftahul Huda (2014:2) menyatakan bahwa
“Pembelajaran bukanlah aktivitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika
ia tidak melakukan aktivitas yang lain. Pembelajaran juga bukanlah sesuatu yang
berhenti dilakukan oleh seseorang”. Menurut Gagne dalam Miftahul Huda
(2014:3) menyatakan bahwa “Pembelajaran adalah sebagai proses modifikasi
dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan di tingkatkan levelnya”.
Menurut Miarso dalam Siregar Eveline dan Hartini Nara (2010:12) menyatakan
bahwa “Pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja,
dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan,
serta pelaksanaanya terkendali”.
Pembelajaran merupakan konsep yang terbuka dan lepas. Menurut Miftahul
Huda (2014:4) “Kita seseorang berusaha memahami operasi-perasi kompleks
proses pembelajaran, praktik pembelajaran itu sendiri sebenarnya telah
didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda”. Menurut Winkel dalam Siregar
Eveline dan Hartini Nara 2010:12) menyatakan bahwa “Pembelajaran adalah
tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan demikian
memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian
kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa”. Menurut Asep Jihad
dan Abdul Haris (2013:11) “Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri
dari kombinasi dua aspek, yaitu: belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan
oleh siswa, mengajar beorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai
pemberi pelajaran”.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah suatu usaha yang dilakukan seorang guru dalam proses belajar yang
memiliki tujuan yang telah ditetapkan sebelum proses dilakukan serta
pelaksanaanya terangkai.
10

4. Pengertian Hasil Belajar


Menurut Rusman (2016:67) “Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman
yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”.
Menurut Hamalik dalam Rusman (2016:67) menyatakan bahwa “Hasil belajar itu
dapat terlihat dari terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga
perbaikan perilaku”. Menurut Abdurrahman dalam Asep Jihad dan Abdul Haris
(2013:14) menyatakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh
anak setelah melalui kegiatan belajar”. Menurut Benjamin S. Bloom dalam Asep
Jihad dan Abdul Haris (2013:14) “tiga ranah (domain) menyatakan bahwa hasil
belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomorik”.
Menurut Briggs dalam Ekawarna (2011:40) menyatakan bahwa
“Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah “scholastic
achievement” atau “academic achievement” adalah seluruh kecakapan
hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang
dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil
belajar”.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah


suatu nilai yang diperoleh seseorang anak memlalui proses belajar mengajar yang
dilaksanakan sehingga dapat terlihat peningkatan perubahan dari pengetahuan
seorang anak sebelum dan sesudahah melakukan pembelajaran.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar


Menurut Slameto (2015:54) menyatakan bahwa ada 2 jenis faktor yang
mempengaruhi beajar siswa yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
a. Faktor Intern
Dalam pembahasan faktor Intern ini terbagi atas faktor jasmaniah,
faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah ini terdiri
atas faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor psikologis ini terdiri
atas intelegensi, perhatiaan, minat, bakat, motif, kematangan, dan
kesiapan belajar.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah
dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor
sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga berupa cara orang
tua mendidik anak, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah
11

berupa metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi


siswa dengan siswa, disiplin di sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung sekolah dan tugas di
rumah. Faktor masyarakat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat,
mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat

6. Media Pembelajaran
a) Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan dalam proses
pembelajaran yang dapat merangsang siswa. Menurut Azhar Arsyad (2013:2)
menyatakan bahwa “Media adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses
belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan
pembelajaran di sekolah pada khususnya”. Menurut Gerlach & Ely dalam Azhar
Arsyad (2012:3) menyatakan bahwa “Media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap”.
Menurut Gagne dalam Arief S. Sadiman dkk (2007:6) menyatakan bahwa
“Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsangnya untuk belajar”. Menurut Briggs dalam Arief S Sadiman dkk
(2007:6) menyatakan bahwa “Media adalah segala alat fisik yang dapat
menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar”. Menurut Asosiasi
Pendidikan Nasional dalam Arief S Sadiman dkk (2007:7) menyatakan bahwa
“Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta
peralatannya”. Menurut Atwi Suparman dalam Pupuh Fathurrohman dan Sobry
Sutikno (2007:65) menyatakan bahwa “Media merupakan alat yang digunakan
untuk menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima pesan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah guru dalam
memberikan pembelajaran kepada siswa dan mempermudah siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru.
12

b) Fungsi Media Pembelajaran


Menurut Arief S. Sadiman dkk (2007:17) menyatakan bahwa secara umum
media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas
(dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2. Mengenai keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya:
a) Objek yang terlalu besar-bisa digantikan dengan realita, gambar
film, atau model;
b) Objek yang kecil-dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai,
film atau gambar;
c) Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan
timelapse atau high-speed photography;
d) Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan
lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara
verbal;
e) Objek yang terlalu komplek (misalnya mesin-mesin) dapat
disajikan dengan model, diagram dan lain-lain, dan
f) Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan
lain-lain) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai,
gambar dan lain-lain.
3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat
mengatasi sikap pasif anak didik. Model pendidikan berguna untuk:
a) Menimbulkan kegairahan belajar;
b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik
dengan lingkungan dan kenyataan;
c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut
kemampuan dan minatnya.
4. Dengan sikap yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan
lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan
materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru
banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi
sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru
dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media
pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam:
a) Memberi perangsangan yang sama;
b) Mempersamakan pengalaman;
c) Menimbulkan persepsi yang sama.

Menurut Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2013:20) mengemukakan


bahwa 4 fungsi media pembelajaran khusus media visual, yaitu:
1. Fungsi atensi
2. Fungsi afektif
3. Fungsi kognitif
4. Fungsi kompensatoris
13

Menurut Kemp & Dayton dalam Azhar Arsyad (2013:25) menyatakan


bahwa:
1. Penyampaian pembelajaran menjadi lebih baku.
2. Pembelajaran bisa menjadi lebih menarik.
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori
belajar dan prinsip-prisip psikologis yang diterima dalam hal
partisipasi siswa, umpan balik, dan penguat.
4. Lama waktu pembelajaran yang diperlukian dapat dipersingkat.
5. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan.
6. Pembelajaran dapat diberikan kapan dan dimana saja.
7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari.
8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif.

c) Prinsip-prinsip Pemilihan Penggunaan Media


Menurut Azhar Arsyad (2013:74) menyatakan bahwa ada beberapa kriteria
pemilihan menggunakan media sebagai berikut:
1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2) Tepat dan mendukung isi pembelajaran yang sifatnya fakta.
3) Praktis, luwes, dan bertahan.
4) Guru terampil menggunakannya.
5) Pengelompokan sasaran.
6) Mutu teknis.

7. Media Visual
Menurut Azhar Arsyad (2013:89) “Media Visual dapat pula menumbuhkan
minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan
dunia nyata”.
Pengelompokaan berbagai jenis media telah dikemukakan oleh beberapa
ahli seperti Leshin, Pollock & Reigeluth dalam Azhar Arsyad (2013:38)
mengklasifiksikan media ke dalam lima kelompok yaitu:

(1) media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, kegiatan


kelompok, field-triep); (2) media berbasis cetak (buku, penuntun,buku
latihan (workbook), alat bantu kerja, dan lembar lepas); (3) media
berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar,
transparansi, slide); (4) media berbasis audiovisual (video, film, program
slide-tape, televisi); dan (5)media berbasis komputer (pengajaran dengan
bantuan komputer, interaktif video, hypertext).
14

a. Langkah-langkah dalam Penggunaan Media Gambar


Menurut Yustina Supartini (2011:18) langkah-langkah pembelajaran
menggunakan media gambar sebagai berikut:
a. Peserta didik dibagi menjadi beberapa grup sesuai dengan
kepentingan.
b. Guru menyiapkan media gambar.
c. Guru menunjukkan gambar-gambar sesuai materi pembelajaran.
d. Guru menjelaskan menyangkut dengan materi pembelajaran.
e. Masing-masing peserta didik mencermati gambar.
f. Guru membagi lembar kerja kepada masing-masing grup.
g. Masing-masing anggota grup mengerjakan lembar soal.
h. Masing-masing anggota grup membacakan hasil diskusi soal.
i. Meluruskan jawaban dan menarik kesimpulan terhadap
pembelajaran.
j. Evaluasi.

8. Ilmu Pengetahuan Alam


Usman Samatowa (2016:1) menyatakan bahwa:
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains dalam arti sempit sebagai
disiplin ilmu dari physical sciences dan life sciences. Yang termasuk
physical sciences adalah ilmu-ilmu astrologi, kimia, geologi,mineralogy,
meteorology, dan fisika; sedangkan life sciences meliputi biologi (
anatomi, fisiologi, zoology, citologi, dan seterusnya).

James Conant dalam Usman Samatowa (2016:1) menyatakan bahwa “Sains


sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama
lain, dan yang tumbuh sebagai hasil dieksperimentasikan lebih lanjut”. Menurut
[Link] dalam Usman Samatowa (2016:1) menyatakan bahwa “Sains
dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde pertama diasarkan pada
hasil observasi terhadap gejala/fakta (orde observasi), dan kedua didasarkan pada
konsep-konsep manusia mengenai alam (orde konsepsional)”. Menurut Asih Widi
Wisudawati dan Eka Sulistyowati (2015:22) menyatakan bahwa “IPA adalah
rumpun ilmu, memiliki karakteristik khusus yang mempelajari fenomena alam
yang faktual, baik berupa kenyataan atau kejadian dan hubungan sebab-
akibatnya”. Menurut Kemendiknas, dalam Asih Widi Wisudawati dan Eka
Sulistyowati (2015:22) menyatakan bahwa “IPA adalah ilmu yang pada awalnya
diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada
15

perkembangan selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan


teori atau deduktif”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu
ilmu pembelajaran yang mengajarkan suatu konsep yang berhubungan tentang
alam beserta makhluk hidup sehingga kita lebih muda memahaminya.

9. Materi Pembelajaran
Tema 5 : Cuaca
Sub Tema 1 : Keadaan Cuaca
A. Kompetensi Inti
K1. Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya.
K2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli,
dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman,
guru, tetangga dan negara.
K3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual procedural dan
metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya,
dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan kegiatannya, serta benda-benda yang
dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain.
K4. Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam
bahaa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat dan tindakan
yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap
perkembangannya.

B. Kompetensi Dasar
1.1 Mengidentifikasikan tentang perubahan cuaca dan pengaruhnya
terhadap kehidupan manusia.
16

C. Indikator
1.1.1 Menjelaskan pengertian cuaca.
1.1.2 Menyebutkan jenis-jenis keadaan cuaca dan simbol- simbol
cuaca.

D. Tujuan Pembelajaran
1.1.1 Siswa dapat menjeaskan pengertian cuaca.
1.1.2 Siswa dapat menyebutkan jenis-jenis keadaan cuaca dan simbol-
simbol cuaca.
a. Pengertian Cuaca
Cuaca adalah keadaan udara pada suatu tempat. Oleh sebab itu, sering
terjadi pada suatu tempat udara berawan atau hujan turun lebat, tetapi di tempat
yang lain cuaca terang benderang. Cuaca dapat diperkirakan dari hasil
pengamatan cuaca yang dilakukan secara terus menerus oleh Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berpusat di Jakarta.
Badan Meteorologi dan Geofisika bertugas menyelidiki dan mencatat
keadaan udara seperti suhu udara, temperatur udara, tekanan udara, keadaan awan
atau curah hujan. Badan Meteorologi dan Geofisika memiliki stasiun- stasiun
pengamatan cuaca yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Ilmu yang
mempelajari cuaca dinamakan Meteorologi.

b. Jenis- jenis Keadaan Cuaca


1. Cerah
Cuaca cerah merupakan salah satu cuaca yang paling sering kita alami.
Cuaca cerah ini ditandai dengan matahari yang bersinar cerah, langit terang, awan
yang ada di langit jumlahnya sangat sedikit, serta udara terasa hangat. Kondisi
cuaca cerah ini biasanya ada di tengah musim kemarau di mana tidak banyak uap
air yang terbentuk menjadi awan karena jauh dari musim hujan. Dengan cerah ini
banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Dapat di lihat pada gambar dibawah ini.
17

Gambar 2.1 Cuaca Cerah


Sumber: [Link]

2. Berawan
Cuaca berawan merupakan keadaan di mana cuaca ketika sinar matahari
sering tertutup oleh awan yang ada di langit. Awan juga terlihat menebal dan
menyebabkan langit menjadi agak gelap. Awan tersebut terbentuk karena
banyaknya uap air yang bergerak ke atas langit. Cuaca berawan ini biasanya
menandakan bahwa hujan akan turun di hari tersebut. Dapat di lihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 2.2 Cuaca Berawan


Sumber: [Link]
18

3. Hujan
Cuaca hujan terjadi di saat butiran air yang tersimpan di awan jatuh ke
bumi. Pada waktu cuaca hujan terjadi, langit biasanya berubah menjadi geap dam
matahari tertutup oleh awan mendung sehingga suhu udaramenjadi dingin. Hujan
terjadi karena uap air yang sangatbanyak di awan sudah tak sanggup lagi
tertampung hingga akhirnya jatuhlah butiran air ke atas bumi. Hujan ringan atau
lebat biasanya dipengaruhi oleh kecepatan angin. Dapat di lihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 2.3 Cuaca Hujan


Sumber: [Link]

c. Simbol- simbol Cuaca


Di bawan ini ada beberapa simbol- simbol cuaca, dapat dilihat sebagai
berikut:

Gambar 2.4 Simbol Cuaca


Sumber: [Link]
19

10. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Ekawarna (2011:4) “Penelitian tindakan kelas adalah penelitian
tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru dalam kelas”. Menurut
Hopkins dalam Ekawarna (2011:4) menyatakan bahwa
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan
prosedur penelitian dengan tindakan substatif, suatu tindakan yang
dilakukan dalam disiplin inquiri, atas apa yang sedang terjadi, sambil
terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Penelitian tindakan kelas menurut Zainal Aqib dkk, (2016:3) yaitu “Penelitian
yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan
untuk memperbaiki kinerjannya sehingga hasil belajar siswa meningkat”.
Menurut Suharsimi Arikunto (2015:1) Penelitian tindakan kelas adalah
penelitian yang memaparkan terjadinya sebab-akibat dari perlakuan, sekaligus
memaparkan apa saja yang terjadi sejak awal pemberian perilaku sampai dengan
dampak”. Menurut Suharsimi Arikunto dalam Ekawarna (2011:5) menyatakan
bahwa “PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran
berupa sebuah tindakan, yang sengaja diunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas
secara bersamaan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian
tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan seorang guru dalam
ruangan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki hasil belajar siswa ataupun
untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam suatu pembelajaran yang diajarkan.

b. Kelebihan dan Keterbatasan Penelitian Tindakan Kelas


Menurut Wina Sanjaya (2009:37) penelitian tindakan kelas memiliki
beberapa keterbatasan dan kelebihan sebagai berikut:
1) Kelebihan Penelitian Tindakan Kelas
a) Penelitian tindakan kelas tidak dilaksanakan oleh seorang saja akan
tetapi dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan pihak
antara lain guru sebagai pelaksana tindakan sekaligus sebagai
peneliti, observasi baik yang dilakukan oleh guru lain sebagai teman
sejawat atau oleh oran lain, ahli peneliti yang biasanya orang-orang
LPTK dan siswa itu sendiri.
20

b) Kerja sebagai ciri khas dalam Penelitian tindakan kelas,


memungkinkan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif dan
inovatif, sebab setiap yang terlibat memiliki kesempatan untuk
memunculkan pandangan-pandangan kritisnya.
c) Hasil atau simpulan yang diperoleh adalah hasil kesepakatan semua
pihak khususnya antara guru sebagai peneliti dengan mitranya.
d) PTK berangkat dari masalah yang dihadapi guru secara nyata,
dengan demikian kelebihan PTK adalah hasil yang diperoleh dapat
secara langsung diterapkan oleh guru.

2) Keterbatasan Peneitian Tindakan Kelas


a) Keterbatasan yang berkaitan dengan aspek peneliti atau guru itu
sendiri. Banyak guru yang beranggapan bahwa tugas mereka terbatas
pada pelaksanaan mengajar. Mereka tidak dibekali dengan
kemampuan berfikir ilmiah, sehingga dalam pelaksanaan PTK tidak
secara otomatis dapat dilakukan.
b) PTK adalah penelitian yang berangkat dari masalah praktis yang
dihadapi oleh guru, dengan demikian simpulan yang dihasilkan tidak
bersifat universal yang berlaku secara umum.
c) PTK adalah penelitian yang bersifat situasional dan kndisional, yang
bersifat longgar yang kadang-kadang tidak menerapkan prinsip-
prinsip metode ilmiah secara ajek, dengan demikian banyak orang
yang meragukan PTK sebagai suatu kerja penelitian ilmiah.

c. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas


Menurut Kunandar (2013:68) menyatakan bahwa manfaat PTK memiliki 2
aspek yaitu:
1) Manfaat aspek akademis adalah untuk membantu guru menghasilkan
pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk
memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek.
2) Manfaat praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:1) merupakan
pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. 2) pengembangan
kurikulum di tingkat sekolah.

Menurut Suroso (2009:32) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah


sebagai berikut:
1. Inovasi pembelajaran.
2. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas.
3. Peningkatan Profesionalisme Guru.
21

11. Pelaksanaan Pembelajaran


Untuk memenuhi pelaksanaan PTK digunakan alat lembar penilaian dalam
lembar observasi berisi tentang bagaimana pengellahan pembelajaran yang dinilai
oleh observer. Pembelajararan tersebut sekurang-kurangnya berjalan dengan
efektif, hal ini dapat dilihat dari hubungan timbal balik yang teradi antara guru
dengan siswa pada proses pemelajaran. Kriteria penilaian dalam pelaksanaan
aktifitas guru menurut Piet A. Suhertian (2010:60) sebagai berikut:
A. 81-100% = Baik Sekali
B. 61-80% = Baik
C. 41-60% = Cukup
D. 21-40% = Kurang
E. 0-20%= Sangat Kurang

Asep Jihad dan Abdul Haris (2013:131) kriteria penilaian dalam


pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Nilai 10 - 29 =Sangat Kurang
2. Nilai 30 - 49 =Kurang
3. Nilai 50 - 69 =Cukup
4. Nilai 70 - 89 =Baik
5. Nilai 90 - 100 =Sangat Baik

Berdasarkan pernyataan diatas, peneliti dapat menyimppulkan beberapa


indikator untuk melihat adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa
dalam pembelajaran yang dicantumkan pada lembar observasi yang
memperhatikan perbaikan pembelajaran yang memperhatikan aktifitas guru saat
pembelajaran. Hasil observasi efektif jika pelaksanaannya dapat disimpulkan
dengan baik.
22

12. Ketuntasan Belajar


Berdasarkan kriteria ketuntasan yang dibuat maka untuk mengetahui
presentase kemampuan siswa secara individual dari setiap tes yang diberikan
ditinjau dari nilai kognitif.
Trianto (2010:241) menyatakan “Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya
(ketuntasan individual) jika proporsi jawaban benar siswa ≥ 65% dan suatu kelas
dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas terdapat ≥85%
siswa yang telah tuntas belajarnya”.

B. Kerangka Berfikir
Belajar adalah suatu proses yang dibutuhkan oleh semua manusia yang
berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi hingga meninggal yang mana untuk
mengetahui berhasil atau tidaknya seseorang mengubah kepribadadian dari yang
buruk menjadi yang lebih baik yang sesuai dengan interaksi yang terjadi di
[Link] merupakan suatu usaha yang dilakukan seorang guru
dalam proses pembimbingan siswa dengan memiliki tujuan akhir yang sudah
[Link] Belajar adalah suatu nilai yang diperoleh seseorang anak
memlalui proses belajar mengajar yang dilaksanakan sehingga dapat terlihat
peningkatan perubahan dari pengetahuan seorang anak sebelum dan sesudah
melakukan pembelajaran.
Proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dengan siswamelalui
kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai hasil belajar yangmaksimal.
Keberhasilan suatu proses belajar mengajar ditentukan dan dipengaruhioleh
banyak faktor penting, baik faktor internal maupun eksternal. Penggunaanmedia
pembelajaran yang tepat dan efektif merupakan salah satu faktor eksternyang
perlu diperhatikan dalam meningkatkan keefektifan kegiatan belajarmengajar dan
hasil belajar siswa. Penggunaan Media Visual Gambar diharapkan mampu
meningkatkan keefektifan siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA serta dapat
meningkatkan hasil belajar IPA pada kelas III SD Negeri 040565 Peceren Tahun
Pelajaran 2019/2020.
23

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka yang menjadi hipotesis tindakan
dalam penelitian ini dengan menggunakan Media Visual Gambar dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada Tema 5 Cuaca Sub Tema 1 Keadaan
Cuaca Kelas III SD N 045965 Peceren Tahun Pelajaran 2019/2020.

D. Defenisi Operasional
1. Belajar dengan menggunakan Media Visual Gambar adalah suatu aktivitas
belajar yang dilakukan yang dilakukan oleh murid yang memiliki unsur
gambar atau sering disebut Visual, yang membahas tentang cuaca yang
disajikan oleh seorang guru.
2. Mengajar dengan menggunakan Media Visual Gambar Tema 5 Cuaca
merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang guru dalam
menyampaikan pembelajaran cuaca kepada murid dengan menggunakan
media yang memiliki unsur gambar pada saat berlangsungnya belajar
mengajar.
3. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah mata pelajaran yang digunakan dalam
menyampaikan materi pembelajaran.
4. Cuaca adalah keadaan udara pada suatu tempat, pembelajaran yang
membahas tentang bagaimana tentang pendalaman mengenai keadaan
cuaca.
5. Media pembelajaran dengan menggunakan Media Visual Gambar Tema 5
Cuaca adalah suatu perantara dalam proses belajar mengajar yang berbentuk
gambar yang berisikan materi tentang makhluk hidup yang disajikan dalam
bentuk gambar dan menyampaikan pesan, merangsang pikiran, dan
kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya rasa ingin tahu saat
proses belajar pada diri siswa.
6. Pelaksanaan Pembelajaran adalah pelaksanaan pembelajaran yang
diterapkan dalam penilaian aktivitas GuRru minimal berkriteria baik yaitu
61-80%, penilaian aktivitas siswa minimal kriteria baik yaitu 70-89.
24

7. Hasil belajar dengan menggunakan Media Visual Gambar pada Tema 5


Cuaca adalah pencapaian nilai yang diperoleh siswa pada saat belajar Sub
Tema 1 Keadaan Cuaca dengan penggunaan media yang memiliki unsur
gambar ataupun sering disebut Visual Gambar. Kriterian ketuntasan dalam
belajar adalah sebagai berikut:
a. Setiap siswa dikatakan tuntas belajar (ketuntasan individual) jika nilai
siswa menenuhin nilai KKM sekolah yang telah ditetapkan adalah 70.
b. Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam
keas terdapat ≥ 85% siswa yang telah tuntas belajaranya atau nilai
KKM.
8. PTK (Penelitian Tindakan Kelas) merupakan suatu kegiatan yang
berkonteks kelas yang dilaksankan untuk memecahkan masalah-masalah
pembelajaran yang dihadapi guru, memperbaiki mutu dan hasil
pembelajaran dan mencoba hal-ha baru dalam pembelajaran demi
peningatan mutu dan hasil pembelajaran. Penelitian tindakan kelas dapat
dilakukan dengan secara individual maupuan kolaboratif.

Anda mungkin juga menyukai