0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan49 halaman

Efektivitas Enzim Bromelin pada Gurami

Diunggah oleh

nurmayantiputry1404
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan49 halaman

Efektivitas Enzim Bromelin pada Gurami

Diunggah oleh

nurmayantiputry1404
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ENZIM BROMELIN TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP PADA BENIH
GURAMI (Osphronemus gouramy)

EFFECTIVENESS USE BROMELIN ENZYME TO GROWTH AND


SURVIVAL RATE OF GURAMI SEEDS (Osphronemus gourami)

OLEH:
SUKO TRIONO
190800003

PROGRAM STUDI AKUAKULTUR


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
JAKARTA
2024
RIWAYAT HIDUP

SUKO TRIONO, lahir di Lampung Selatan tepatnya di Desa


Sidorejo Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung
Selatan pada tanggal 14 April 1991. Anak ketiga dari tiga
bersaudara pasangan dari Bapak Kasyono dan Ibu Sukarti.
Peneliti menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar di SDN
04 Sidodadi yang ada di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten
Lampung Selatan 2003. Pada tahun itu juga peneliti melanjutkan Pendidikan di
Mts Al-Khairiyah Sidodadi Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan
dan tamat pada tahun 2006. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di
SMK N 2 Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2006 dan seslesai
pada tahun 2009. Pada tahun 2019 peneliti melanjutkan pendidikan di perguruan
tinggi, tepatnya di Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) Fakultas Ilmu
Perikanan Dan Kelautan pada Program Studi Akuakultur di Jakarta selatan,
Kebayoran Lama. Penulis mengucap rasa syukur yang sebesar-besarnya atas
terselesaikannya skripsi dengan judul “EFEKTIVITAS PENGGUNAAN
ENZIM BROMELIN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
KELANGSUNGAN HIDUP GURAMI (Osphronemus gurami)”.

v
ABSTRAK

SUKO TRIONO, NIM: 190800003. “Efektivitas Penggunaan Enzim Bromelin


Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Benih Gurami (Osphronemus
gourami)”. Di bimbing oleh Yudha Lestira Dhewantara selaku pembimbing 1
dan Armen Nainggolan selaku pembimbing 2.

Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan ikan yang banyak dibudidayakan di


Indonesia. Gurami (Osprhonemus gouramy) pertumbuhan relatif lambat
dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, namun banyak dibudidayakan
karena banyaknya permintaan. Mengingat gurami merupakan salah satu sumber
protein yang sangat tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk peningkatan kualitas
pakan, efesiensi pemanfaatan pakan melalui penggunaan enzim bromelin. Maka
dari itu penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh enzim
bromelin terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih gurami. Ikan yang
digunakan adalah gurami sebanyak 60 ekor dengan ukuran 1-2 cm, penelitian ini
mengunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan
3 kali ulanga, perlakuan A kontrol tanpa penambahan enzim bromelin, perlakuan B
Pakan ditambah enzim bromelin dengan dosis 3%/kg, perlakuan C Pakan ditambah
enzim bromelin dengan dosis 3,5%/kg, dan perlakuan D Pakan ditambah enzim
bromelin dengan dosis 4%/kg. Parameter yang di uji adalah pertumbuhan dan
kelangsungan hidup benih gurami. Hasil penelitian menunjukan, penambahan
enzim bromelin pada pakan komersil dengan dosis 4% mendapatkan nilai tertinggi
mengasilkan rata-rata pertumbuhan terbaik yaitu 1,57 g/ekor. dan ikan yang diberi
pakan dengan penambahan ezim bromelin 4% pada pakan komersil memiliki
pertumbuhan panjang mutlak tertinggi dengan panjang mutlak terdapat pada
perlakuan D sebesar 2,2 cm/ekor, kemudian tingkat kelangsungan hidup (SR) benih
gurami tidak berbeda nyata antara perlakuan A,B,C,D.

Kata Kunci: Enzim Bromelin, ikan gurami, pakan, pertumbuhan, kelangsungan


hidup

vi
ABSTRACT

SUKO TRIONO, NIM: 190800003. “Effectiveness Use Bromelin Enzyme To


Growth And Survival Rate Of Gurami Seeds (Osphronemus gourami)”. Supervised
by Yudha Lestira Dhewantara as supervisor 1 and Armen Nainggolan as
supervisor 2.

Gourami (Osphronemus gouramy) is a fish that is widely cultivated in Indonesia.


Gourami (Osphronemus gouramy) grows relatively slowly compared to other types
of freshwater fish, but is widely cultivated due to high demand. considering that
gourami is one of the very high sources of protein, it is necessary to make efforts to
improve feed quality, feed utilization efficiency through the use of bromelin
enzymes. Therefore, this study aims to determine the effect of bromelin enzyme on
the growth and survival of gourami seeds. The fish used were 60 gourami with a
size of 1-2 cm, this study used a complete randomized design (RAL) using 4
treatments and 3 repeats, treatment A control without the addition of bromelin
enzyme, treatment B Feed plus bromelin enzyme at a dose of 3% / kg, treatment C
Feed plus bromelin enzyme at a dose of 3.5% / kg, and treatment D Feed plus
bromelin enzyme at a dose of 4% / kg. The parameters tested are growth and the
survival of gourami seeds. The results showed, the addition of bromelin enzyme to
commercial feed with a dose of 4% got the highest value resulting in the best growth
average of 1.57 g / head. and fish fed with the addition of 4% bromelin ezim to
commercial feed have the highest absolute length growth with absolute length found
in treatment D of 2.2 cm / head, then the survival rate (SR) of gourami seeds is not
significantly different between A, B, C, D treatments.

Keywords: Bromelin enzyme, Gourami, Feed, growth, Survival

vii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
akhirnya skripsi yang berjudul “Efektivitas Penggunaan Enzim Bromelin Terhadap
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Pada Benih Gurami (Osphronemus
gouramy) ” dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini tidak semata-mata dapat selesai
dengan begitu saja tanpa bimbingan, dorongan dan motivasi dari Dosen
Pembimbing, Keluarga dan orang-orang terdekat.
Dalam melaksanakan penyusunan skripsi dan pada kesempatan kali ini
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1) [Link] Patanda, [Link]., [Link] selaku Dekan Falkutas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia
2) Yudha Lestira Dhewantara, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi
Akuakultur juga sekaligus menjadi Pembimbing I
3) Dr. Armen Nainggolan, [Link], [Link]. selaku Pembimbing II
4) Kedua orang tua, Bapak Kasyono dan Ibu Sukarti yang selalu memberi
dukungan moril dan materil
5) Istri Syifa Nurhardiyanti, AMK yang telah memberi dukungan dan motivasi
secara moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan
kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini
memberikan informasi dan manfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 17 Agustus 2024

Suko Triono
190800003

viii
DAFTAR ISI
Halaman
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ........................................................................... iv
RIWAYAT HIDUP ......................................................................................................... v
ABSTRAK .................................................................................................................... vi
ABSTRACT ................................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR.................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... xii
I. PENDAHULUAN .......................................................................................................1
1) Latar Belakang ......................................................................................................1
2) Rumusan Masalah .................................................................................................3
3) Manfaat Penelitian ................................................................................................3
4) Tujuan...................................................................................................................3
II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................4
2.1 Biologi Ikan Gurami (Osprenemus gouramy) ........................................................4
2.1.1 Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) .......................................4
2.1.2 Morfologi Ikan Gurami (Osphronemus gourami) .........................................4
2.1.3 Sifat Biologi Ikan Gurami (Osphronemus gourami) .....................................5
2.1.4 Habitat dan Kebiasaan Makan .....................................................................5
2.2 Pakan ....................................................................................................................6
2.3 Enzim Bromelin ....................................................................................................7
2.4 Kualitas Air ...........................................................................................................7
III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................................................9
3.1 Waktu dan Tempat ................................................................................................9
3.2 Alat dan Bahan......................................................................................................9
3.2.1 Alat .............................................................................................................9
3.2.2 Bahan ........................................................................................................ 10
3.3 Metode Penelitian ............................................................................................... 10
3.4 Prosedur Penelitian.............................................................................................. 11
3.4.1 Persiapan Wadah ....................................................................................... 11

ix
3.4.2 Persiapan Bahan ........................................................................................ 11
3.4.3 Penebaran Benih........................................................................................ 11
3.4.4 Pemberian Pakan ....................................................................................... 12
3.4.5 Kualitas Air ............................................................................................... 12
3.5 Parameter Penelitian ............................................................................................ 12
3.5.1 Specifik Grow Rate (SGR) ........................................................................ 13
3.5.2 Laju Pertumbuhan Mutlak ......................................................................... 13
3.5.3 Survival Rate............................................................................................. 14
3.5.4 Konversi Pakan (FCR) dan (EPP) .............................................................. 14
3.6 Analisis Data ....................................................................................................... 15
3.7 Hipotesis ............................................................................................................. 15
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................ 16
4.1 Analisis Nutrisi Pakan ......................................................................................... 16
4.2 Pertumbuhan Harian ............................................................................................ 17
4.3 Pertumbuhan Mutlak ........................................................................................... 18
4.4 Kelangsungan Hidup (SR) ................................................................................... 21
4.5 Rasio Konversi Pakan (FCR) ............................................................................... 22
4.6 Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP) ..................................................................... 23
4.7 Kualitas Air ......................................................................................................... 24
V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 26
5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 26
5.2 Saran................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 27
LAMPIRAN ................................................................................................................. 31

x
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
1. Alat .......................................................................................................... 9
2. Bahan ..................................................................................................... 10
3. Perlakuan ............................................................................................... 11
4. Hasil Uji Proksimat ................................................................................ 16
5. Pertumbuhan Harian ............................................................................... 17
6. Pertumbuhan Mutlak .............................................................................. 20
7. Kelangsungan Hidup .............................................................................. 21
8. Rasio Konversi Pakan ............................................................................. 22
9. Efesiensi Pakan ...................................................................................... 23
10. Kulaitas Air ............................................................................................ 24

xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
1. Benih ikan gurami (Oshronemus gouramy)............................................... 4
2. Peta lokasi penelitian ................................................................................ 9
3. Time line penelitian ................................................................................ 12
4. Bobot Mutlak ......................................................................................... 18
5. Panjang Mutlak ...................................................................................... 19
6. Lampiran 1 Foto Kegiatan ...................................................................... 31
7. Lampiran 2 Data Hasil SPSS .................................................................. 33
8. Lampiran 3 Hasil Uji Proksimat ............................................................. 37

xii
1

I. PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan ikan yang sangat populer
dan mempunyai banyak sekali peminatnya, selain itu gurami juga mempunyai nilai
ekonomis yang sangat tinggi dan sangat dikenal oleh banyak masyarakat hal ini
dibuktikan menurut Pio et al, (2023). Kementrian Kelautan Perikanan (2022),
menyatakan bahwa produksi ikan gurami tahun 2022 di Indonesia sebesar
159.571,64 ton mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya
149.169,56 ton. Peningkatan ini menunjukan bahwa budidaya ikan gurami sangat
potensial di Indonesia. Ikan gurami (Osprhenomus Gouramy) merupakan sejenis
ikan air tawar asal Asia Tenggara, termasuk Indonesia, seperti yang disebutkan
dalam penelitian oleh Sulistyo dan Yanuhar pada tahun 2016. Ikan ini memiliki
tubuh yang lebar dan pipih, dengan panjang maksimal mencapai 65 cm dan berat
20kg. Namun, varian gurami yang biasa dikonsumsi memiliki berat sekitar 500
gram. Habitat alami ikan gurami meliputi rawa-rawa, sungai, dan genangan air
dengan aliran yang tenang, sehingga banyak orang yang membudidayakannya.
Karena nilai jual yang tinggi, masyarakat banyak yang tertarik untuk
membudidayakan ikan gurami (Adhitia et al, 2022).
Ikan gurami (Osprhonemus gouramy) pertumbuhan relatif lambat
dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, namun banyak dibudidayakan
karena banyaknya permintaan (Yandes et al., 2003). Pertumbuhan terjadi apabila
ada kelebihan energi setelah energi yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh,
metabolisme basal dan aktivitas. Rendahnya laju pertumbuhan tersebut salah satu
penyebabnya adalah rendahnya efisiensi pemanfaatan bahan dan energi yang
terkandung dalam pakan yang diberikan sehingga energi yang tersedia tidak
mencukupi untuk pertumbuhan (Kurnia, 1997).
Fase benih, merupakan masa kritis dalam daur hidup ikan gurami karena
tingkat kelangsungan hidup rendah atau mortalitas pada fase ini sangatlah tinggi,
pada tahap larva dan benih yaitu hingga 50-70 % serta laju pertumbuhan yang
lambat (Khairuman et al, 2013). Hal ini disebabkan karena benih sangat peka
terhadap pengaruh lingkungan. Seperti yang dikemukakan oleh Saparinto (2011).
Pada tahap ini, pemberian pakan masih belum efisien karena sistem pencernaan
2

belum sepenuhnya berkembang, mengakibatkan produksi enzim endogen rendah.


Dampaknya, proses pemecahan protein tidak berjalan dengan baik, sehingga
pencernaan terhambat dan berdampak negatif pada pertumbuhan dan kelangsungan
hidup ikan (Nurhayati et al., 2014). Mengingat gurami merupakan salah satu
sumber protein yang sangat tinggi, maka perlu dilakukan usaha untuk peningkatan
kualitas pakan, efesiensi pemanfaatan pakan melalui penggunaan enzim bromelin.
Menurut Winastia (2011), bromelin dapat membantu melarutkan
pembentukan lendir di usus dan juga mempercepat pembuangan lemak melalui
ginjal. Bromelin juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting dan diperlukan
untuk meningkatkan proses pembuangan lemak dan mangan, serta merupakan
komponen penting dari enzim tertentu yang diperlukan dalam metabolisme protein.
Penggunaan enzim bromelin dapat meningkatkan efisiensi penggunaan
protein di dalam pakan. Ini terjadi melalui proses pemecahan molekul protein
menjadi bentuk yang lebih sederhana. Enzim bromelin memiliki kemampuan untuk
menguraikan ikatan peptida dalam protein, mengubahnya menjadi asam amino
yang lebih mudah dicerna oleh tubuh (Purwaningsih, 2017). Ikan membutuhkan
asam amino untuk pembentukan protein baru dalam proses pertumbuhannya
(Halver, 1989). Asam amino terbagi menjadi dua kelompok, yaitu asam amino
esensial dan asam amino non esensial. Asam amino kelompok, yaitu asam amino
esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh hewan maupun
tumbuhan untuk memicu pertumbuhan maksimal (Lovell, 1998).
Beberapa studi sebelumnya mengenai penggunaan enzim bromelin dalam
pakan telah dilakukan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Masniar et al. (2016)
menunjukkan bahwa penambahan ekstrak batang nanas dalam pakan ikan betok
(Anabas testudineus) sebanyak 5% mengakibatkan peningkatan dalam berat
pertumbuhan antara 0,448 hingga 1,678 g, pertumbuhan spesifik antara 0,039
hingga 0,973% per hari, pertumbuhan harian antara 0,007 hingga 0,028 g, konversi
pakan antara 2,537 hingga 7,829, dan efisiensi pakan antara 12,868 hingga
40,222%. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Adri et al., (2021), menyimpulkan
bahwa dosis terbaik penambahan enzim bromelain dalam pakan komersil untuk
ikan gurami adalah 3%/kg pakan.
3

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di atas, Ikan gurami memiliki
pertumbuhan yang lambat diharapkan penambahan Enzim bromelin pada pakan
diharapkan mampu menghidrolisis protein pakan untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidup ikan. Penambahan enzim ke dalam pakan bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi pakan pada ikan yang sedang dibudidayakan. Tujuan dari
studi ini adalah memberikan wawasan tentang efek penambahan enzim bromelin
pada pakan yang umum digunakan, dengan harapan dapat mencapai hasil optimal
dalam hal retensi protein pada ikan gurami.
2) Rumusan Masalah

Rumusan masalah terhadap penelitian ini adalah:


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang akan dibahas,
yaitu:
Apakah penambahan enzim bromelin dengan dosis berbeda pada pakan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada benih gurami?
3) Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah memberikan informasi kepada mahasiswa dan pelaku


budidaya mengenai penggunaan enzim bromelain terhadap pakan komersil dapat
mempercepat pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada benih gurami.
4) Tujuan

 Mengetahui pengaruh pemberian enzim bromelin yang berbeda pada pakan


komersil terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada benih
gurami.
 Mengetahui dosis enzim bromelain terbaik dalam pakan komersil untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih gurami
4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Ikan Gurami (Osprenemus gouramy)

2.1.1 Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)


Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu jenis ikan air
tawar yang banyak di budidayakan dan merupakan ikan asli Indonesia yang
memiliki niai ekonomis yang tinggi (Pio et al, 2023) . Klasifikasi ikan gurami
(Susanto, 1989) adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Ordo : Labirintichi
Subordo : Anabantoide
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus gouramy

Gambar 1. Benih Ikan Gurami (Osphronemus gourami)

2.1.2 Morfologi Ikan Gurami (Osphronemus gourami)


Secara morfologi, Ikan gurami memiliki bentuk tubuh oval dengan bagian
perut yang lebih lebar dari bagian punggungnya. Bagian kepala ikan gurami
cenderung runcing dengan mulut yang terletak di bagian ujung. Ikan gurami juga
memiliki sirip punggung, sirip ekor dan sirip perut. Warna kulit ikan gurami
bervariasi dari hitam, abu-abu hingga putih keperakan. Monyong adalah hasil dari
penyembulan ujung mulut, mengubah penampilan gurami ketika dewasa menjadi
berbeda dengan saat masih muda. Perbedaan ini nampak pada dimensi tubuh,
warna, serta struktur kepala dan dahi. Ikan gurami yang masih muda menonjolkan
daya tarik lebih besar melalui warna dan perilaku yang menarik jika dibandingkan
dengan gurami dewasa (Sitanggang, M., 2007).
5

Ikan gurami hidup di perairan tawar yang tenang, seperti sungai, danau, rawa,
dan tambak. Mereka lebih menyukai perairan yang berlumpur dengan kondisi air
yang agak keruh. Ikan gurami adalah ikan omnivora, yang berarti mereka memakan
segala jenis makanan, seperti plankton, cacing, serangga, moluska, krustasea, dan
tumbuhan air. Mereka juga makanan ikan kecil atau jasad renik. Ikan gurami juga
memiliki sistem reproduksi gonochorisme, yang berarti mereka memiliki kelamin
jantan dan betina yang terpisah. Proses pemijahan ikan gurame melibatkan
pembentukan sarang atau kolam pemijahan oleh jantan, di mana betina akan
meletakkan telurnya. Telur kemudian dibuahi oleh jantan dan menetas menjadi
larva (Soelistiono, E., 2017).

2.1.3 Sifat Biologi Ikan Gurami (Osphronemus gourami)


Gurami pada umumnya berada di perairan yang cukup tenang dan hidup di
perairan tawar. Gurami biasanya memijah pada umur 2-3 tahun pada musim
kemarau, biasanya di kolam-kolam budidaya memijah sepanjang tahun (Darsono,
2001). Gurami memiliki suatu kebiasaan meletakan telur hasil pemijahan di dalam
sarang yang terbuat dari tumbuhan-tumbuhan air, rumput atau juga serabut-serabut
lain yang ada disekitarnya (Ghufran dan Khordi, 2010). Telur telur ikan gurami
akan menetas dalam waktu 10 hari. Pada umumnya, gurami yang masih tergolong
muda bersifat agresif, tetapi sifat tersebut akan berkurang seiring dengan
pertambahan umurnya (Khairuman dan Amri, 2003).

2.1.4 Habitat dan Kebiasaan Makan


Ikan gurami memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di lingkungan
perairan berkurang kadar garamnya dan cenderung menghendaki air yang bersih.
Ikan gurami umumnya mendiami kolam tanpa vegetasi air dan cenderung bersifat
kurang aktif (Rukmana, R., 2005). Ikan gurami cenderung menghuni perairan yang
damai dan tidak mengalir. Mereka jarang ditemukan di lingkungan air yang berarus
deras, seperti yang dapat terlihat dari kemudahan dalam pemeliharaan ikan gurami
di kolam-kolam yang diam (Sitanggang, M., 2007). Habitat asli atau tempat hidup
ikan gurami adalah rawa di dataran rendah. Salah satu faktor yang membedakan
dataran rendah dan dataran tinggi adalah suhu. Suhu di dataran rendah lebih tinggi
dibandingkan diataran tinggi suhu rendah. dengan suhu, ikan Gurami ini bisa
tumbuh dan berkembang dengan baik pada suhu antara 24° - 28°C karena pada
6

ketinggian lokasi ini cocok untuk pemeliharaan ikan gurami (Sitanggang, M.,
2007).
Ikan gurami merupakan ikan yang mengalami perubahan kebiasaan makan.
Ikan gurami pada fase bulan pertama kehidupannya merupakan ikan karnivora yaitu
pemakan detritus. Fase benih kebiasaan makannya berubah menjadi omnivora
(pemakan detritus dan dedaunan) dan memasuki fase induk ikan gurami menjadi
ikan dengan perubahan kebiasaan makan ini menjadikan pertumbuhannya menjadi
lambat (Aslamsyah, 2009).

2.2 Pakan
Pakan merupakan faktor terpenting dalam menentukan pertumbuhan ikan,
pertumbuhan akan terjadi apabila kebutuhan protein terpenuhi sehingga dapat
digunakan tubuh untuk tumbuh (Adelina et al., 2000). Pakan yang efektif adalah
yang memiliki kadar protein lebih tinggi daripada karbohidrat, karena protein
berfungsi sebagai sumber utama energi bagi ikan. Protein adalah molekul besar
yang terdiri dari asam amino yang mengandung nitrogen, karbon, dan oksigen.
Komposisi ideal pakan untuk ikan gurami adalah sekitar 30-32% protein dan 20-
30% karbohidrat. Dalam komposisi ini, protein jelas mendominasi jumlahnya
dibandingkan dengan karbohidrat. Protein ini merupakan jenis protein hewani yang
berasal dari ikan, sehingga dapat dengan mudah diserap oleh tubuh ikan (Halver
and Hardy, 2002; Wabster, 2002).
Makanan yang disediakan pada tahap awal pertumbuhan benih belum dapat
digunakan sepenuhnya karena sistem pencernaan pada tahap tersebut belum
berkembang sepenuhnya. Ini mengakibatkan produksi enzim alami yang relatif
rendah, yang pada gilirannya mempengaruhi proses pemecahan protein yang tidak
optimal dan penyerapan nutrisi menjadi kurang efisien. Akibatnya, pertumbuhan
dan tingkat kelangsungan hidup benih terpengaruh secara negatif (Nurhayati et al.,
2014).

Pemberian enzim bromelain pada pakan dapat meningkatkan efisiensi


penyerapan protein pada pangan dengan cara memecah molekul protein menjadi
bentuk yang lebih sederhana. Fungsi enzim bromelain adalah memecah ikatan
peptida pada protein makanan menjadi asam amino sehingga memudahkan tubuh
dalam mencernanya (Purwaningsih, 2017)
7

2.3 Enzim Bromelin


Bromelain termasuk dalam kelompok sufrihidrida yang mengandung enzim
proteolitik. Selain itu juga mengandung peroksida, asam fosfat, beberapa protease
inhibitor, dan bahan organik yang mengikat kalsium. Enzim bromelain
menghidrolisis protein yang mengandung ikatan peptida menjadi asam amino yang
lebih sederhana. Dalam hal ini sistein endopeptidase secara khusus memotong
ikatan peptida pada gugus karbonil seperti yang terdapat pada ariginin atau asam
amino aromatik yaitu fenilalanin atau tirosin (Gautam et al., 2010).
Menurut Winastia (2011), bromelain dapat membantu melarutkan
pembentukan lendir di usus dan juga mempercepat pembuangan lemak melalui
ginjal. Bromelin juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting dan diperlukan
untuk meningkatkan proses pembuangan lemak dan mangan, serta merupakan
komponen penting dari enzim tertentu yang diperlukan dalam metabolisme protein.
Enzim bromelain dapat menghidrolisis ikatan peptida pada kandungan protein
menjadi asam amino sehingga mudah dicerna oleh tubuh (Purwaningsih, 2017).
Ikan membutuhkan asam amino untuk pembentukan protein baru dalam
proses pertumbuhannya (Halver, 1989). Asam amino terbagi menjadi dua golongan
yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam amino esensial
adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh hewan atau tumbuhan untuk
memicu pertumbuhan maksimal dan asam amino non-esensial adalah asam amino
yang dapat dibuat di dalam tubuh (Lovell, 1998). Enzim bromelin memiliki sifat
yang mirip dengan enzim proteolitik, yang memiliki kemampuan untuk
menghidrolisis protein, hidrolisis yang terjadi dengan enzim proteolitik adalah
putusnya ikatan peptida dari ikatan substrat, yang berfungsi sebagai katalisator
didalam sel (Putri, 2012).

2.4 Kualitas Air


Suhu merupakan salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi
organisme dan lingkungannya serta kelarutan gas dalam perairan (Zonneveld et al.,
1991). Suhu ideal untuk pertumbuhan ikan gurami adalah 24-28°C. Perbedaan suhu
siang dan malam yang terlalu besar dapat menyebabkan kandungan oksigen dalam
kolam menurun di bawah ideal sehingga mengganggu pertumbuhan ikan gurami.
Suhu yang rendah juga menimbulkan risiko tinggi terjadinya serangan penyakit
8

ikan dan mengakibatkan gagal panen. Untuk menghindari perbedaan suhu yang
terlalu besar, biasanya ditanam pohon peneduh di pinggir kolam agar suhu kolam
tetap optimal. Suhu di bawah 28°C akan berdampak pada penurunan konsumsi
pakan ikan gurami. Konsumsi pakan ikan gurami akan berdampak pada penurunan
daya tahan tubuh ikan, laju pertumbuhan ikan dan penurunan kualitas telur yang
dihasilkan induk ikan (Sarjito et al., 2013).
Kualitas air yang buruk akan berdampak pada penurunan tingkat konsumsi
pakan dan menyebabkan kadar hematokrit ikan menurun. Suhu air sangat
mempengaruhi metabolisme organisme yang hidup di air, termasuk ikan. Ikan
merupakan salah satu jenis hewan berdarah dingin (poikilotermal) sehingga
metabolismenya di dalam tubuh bergantung pada suhu lingkungannya, termasuk
imunitas tubuhnya. Fluktuasi suhu akan mempengaruhi sistem metabolisme ikan
seperti konsumsi oksigen dan fisiologi tubuh yang akan rusak dan menyebabkan
kematian pada ikan gurami (Royan dan Haditomo, 2014).
Menurut Khairuman (2008), pH ideal yang baik untuk budidaya ikan Gurami
adalah 6,5-7,5. Selanjutnya jika pH terlalu tinggi lebih dari 8, menyebabkan
amoniak (NH3) meningkat, sehingga menimbulkan racun dan menyebabkan
kematian ikan. Oleh sebab itu, menjaga pH untuk kestabilan perairan perlu
diperhatikan (Forteath et al., 1993).
9

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Penelitian dilakukan di Putra Farm yang beralamatkan di Jalan Anggrek No.
59 Kota Administrasi Kebun Jeruk Jakarta Barat. Adapun lama waktu yang
dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu mulai dari tahap persiapan sampai dengan
penulisan laporan diperkirakan dari bulan September sampai bulan Desember 2023.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian


(Sumber : Google Maps 2023)
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Berbagai alat yang akan di gunakan untuk mendukung penelitian dapat tersaji
pada Tabel 1
Tabel 1. Alat
Jumlah/
No. Nama Alat Kegunaan
Satuan
1. Akuarium/Bak 12 / cm Wadah pemeliharaan
2. Penggaris 1 / cm Mengukur pertumbuhan/panjang ikan
3. Timbangan digital 1/g Menimbang berat ikan
4. Aerasi 1 / mg/l Penyuplai oksigen
5. Botol semprot 1 / mg/l Untuk mencampur enzim ke pakan
6. Saringan 1 / cm Mengambil ikan saat pengukuran
7. Nampan 1 Meletakkan ikan yang akan di ukur
10

Jumlah/
No. Nama Alat Kegunaan
Satuan
8. Suntikan 1 / mg/l Pengambilan dosis enzim bromelain
9. pH meter 1 Mengukur salinitas air
10. Termometer 1 / C° Mengukur suhu air

3.2.2 Bahan
Berbagai bahan yang akan di gunakan untuk mendukung penelitian dapat
tersaji pada Tabel 2
Tabel 2. Bahan
No Bahan Kegunaan
1. Enzim bromelin Sebagai bahan uji
2. Benih ikan gurami Sebagai media uji
3. Pakan/Pelet Sebagai pakan pemeliharaan
4. Air Sebagai media pemeliharaan

3.3 Metode Penelitian


Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dan
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang tediri dari 4 perlakuan dan 3
kali ulangan. Menurut hasil penelitian Adri dkk tahun 2021 yaitu penambahan
enzim bromelain pada pakan komersil, dimana perlakuan pakan P1 dengan
penambahan enzim bromelain 3%/kg pakan, perlakuan P2 3,5%/kg pakan, dan
perlakuan P3 4% kg/pakan.
Hasil penelitian menunjukan penggunaan pakan komersil dengan
penambahan enzim bromelin sebanyak 3% memperoleh nilai tertinggi pada
pertumbuhan spesifik. Mengacu pada modifikasi dosis kadar protein enzim
bromelain untuk pertumbuhan dan sintasan pada benih gurami dapat di lihat pada
susunan sebagai berikut:
Perlakuan dosis yang terdiri dari:
1. Perlakuan A0: Pakan tanpa enzim bromelin
2. Perlakuan B1: Pakan ditambah enzim bromelin dengan dosis 3%/kg
3. Perlakuan C2: Pakan ditambah enzim bromelin dengan dosis 3,5%/kg
11

4. Perlakuan D3: Pakan ditambah enzim bromelin dengan dosis 4%/kg


Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Adapun letak
susunannya seperti tersaji pada Tabel 3
Tabel 3. Perlakuan A0,B1,C2 dan D3

Ulangan Perlakuan
1 2 3 4
A.0 B.1 C.2 D.3
1 A.0 B.1 D.3 C.2
2 B.1 C.2 C.2 B.1
3 A.0 D.3 A.0 D.3

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Persiapan Wadah


Wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium berukuran
sedang dengan Panjang: 25 cm, Lebar 15 cm, Tinggi 15 cm yang di dapat dari beli
dari toko online. Wadah dicuci hingga bersih kemudian di keringkan di bawah sinar
matahari, setelah itu di isi dengan air sebanyak 5 liter. Masing-masing wadah di isi
ikan sebanyak 5 ekor benih gurami.

3.4.2 Persiapan Bahan


Benih ikan yang digunakan berukuran 1-2 cm dengan total sebanyak 60 ekor
benih yang di dapat dari dari Lab Akuakultur Universitas Satya Negara Indonesia
Jl Arteri Pondok Indah No.11 Kebayoran Lama RT.4/RW.2 Kebayoran Lama
Utara, Kota Jakarta Selatan 12240. Adapun pakan dan enzim bromelin di dapat dari
membeli dari di toko online.

3.4.3 Penebaran Benih


Benih ikan yang ditebar berukuran 1-2 cm dengan padat tebar 5 ekor setiap
wadah. Ikan diaklimatisasi dengan lingkungan terlebih dahulu selama 15 menit
sebelum kemudia di masukan ke media pemeliharaan.
12

3.4.4 Pemberian Pakan


Pakan yang digunakan untuk benih ikan selama penelitian adalah pakan pelet
berukuran FL0 yang telah dicampur dengan enzim bromelain dengan dosis berbeda.
Enzim bromelain ditambahkan pada pakan dengan cara disemprotkan secara merata
dengan menambahkan 2% putih telur yang berfungsi sebagai perekat kemudian
didiamkan selama 3-5 menit agar larutan enzim meresap ke dalam pakan. Frekuensi
pemberian pakan 2 kali sehari dengan metode Ad Satiation (sebanyak mungkin).

3.4.5 Kualitas Air


Pengukuran kualitas air dilakukan untuk melihat kondisi air selama penelitian
dengan mengukur DO, pH dan suhu. Pengukuran dilakukan setiap 20 hari sekali
pada saat pengambilan sampel dilakukan. Kualitas air merupakan salah satu faktor
pendukung yang dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan laju
pertumbuhan organisme perairan yang dibudidayakan (Badare, 2001).

3.5 Parameter Penelitian


Data yang dikumpulkan selama penelitian merupakan data yang mutlak,
pertumbuhan berat, dan perkembangan panjang, laju pertumbuhan harian, tingkat
kelangsungan hidup dan konversi pakan. Penelitian ini dilakukan selama 80 hari
dengan pengambilan data dilakukan 5 kali selama penelitian yaitu sampling awal
sebelum tebar lalu dilanjut per 20 hari sekali hingga selesai, melalui pengambilan
sempel sebanyak 100% dari masing masing perlakuan.
Adapun time line penelitian dapat tersaji pada Gambar 3.

Gambar 3. Time line penelitian


Pengambilan data dilakukan sebelum pemberian pakan. Ikan di ambil
menggunakan saringan secara perlahan kemudian di masukan kedalam nampan
menggunakan penggaris ikan satu persatu di ukur panjang terlebih dahulu lanjut di
13

timbang untuk pengukuran berat ikan. Pengamatan jumlah ikan dilakukan setiap
hari sehingga dapat mengetahui ikan yang mati maupun yang masih hidup.
Pengambilan data mutlak keseluruhan dilakukan 20 hari sekali meliputi
pertumbuhan berat, pertumbuhan panjang, laju pertumbuhan harian, tingkat
kelangsungan hidup dan uji retensi protein.

3.5.1 Specifik Grow Rate (SGR)


Pengukuran laju pertumbuhan bobot dan panjang harian dilakukan setiap 20
hari sekali. Laju pertumbuhan spesifik dapat dihitung berdasarkan rumus
(Verdegem dan Eding, 2010).

Keterangan:
SGR : Specifik growth rate (%)
Wt : Bobot rata-rata ikan di akhir pemeliharaan (ekor)
W0 : Bobot rata-rata ikan di awal pemeliharaan (ekor)
t : Lama waktu pemeliharaan (hari)

Pertumbuhan panjang harian dihitung dengan menggunakan rumus menurut


Busacker et al. (1990) Sebagai berikut :

𝑃ℎ = [(𝑙𝑛 𝐿𝑡 – 𝑙𝑛 𝐿0)/𝑡] 𝑥 100%


Keterangan:
Ph : Pertumbuhan panjang harian (%)
Lt : Panjang rata-rata akhir (cm)
L0 : Panjang rata-rata awal (cm)
t : Lama pemeliharaan (hari)

3.5.2 Laju Pertumbuhan Mutlak


Pertumbuhan bobot mutlak merupakan gambaran pertambahan bobot ikan
uji selama pemeliharaan. Pertumbuhan bobot dihitung berdasarkan persamaan
Effendi, (1997).

PB = Bt - B0
14

Keterangan:
PB : Pertumbuhan bobot (g ekor-1)
Bt : Bobot rata-rata hari ke-t (g)
B0 : Bobot rata-rata awal penelitian (g)

Pertumbuhan panjang mutlak merupakan gambaran pertambahan panjang


total ikan uji selama pemeliharaan. Pertumbuhan panjang total dihitung
berdasarkan persamaan Effendi, (1997).

PP = Pt - P0

Keterangan:
PP : Pertumbuhan panjang total (cm)
Pt : Panjang rata-rata hari ke-t (cm)
P0 : Panjang rata-rata awal penelitian (cm)

3.5.3 Survival Rate


Menurut Effendi (1997), tingkat kelangsungan hidup merupakan presentase
dari jumlah ikan yang hidup pada awal dan akhir pemeliharaan. Rumus dari tingkat
kelangsungan hidup adalah sebagai berikut :

𝑁𝑡
𝑆𝑅 = × 100
𝑁𝑜
Keterangan:
SR: Survival rate (%)
Nt: Jumlah ikan pada akhir penelitian (ekor)
No: Jumlah ikan pada awal penelitian (ekor)

3.5.4 Konversi Pakan (FCR) dan (EPP)


Menurut Effendi (1997), rasio konversi pakan/Food Convertion Rate (FCR)
dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:
𝑭
FCR = (𝑾𝒕+𝑫)−𝑾𝑶

Keterangan:
FCR = Feed Convertion Ratio
F = Berat pakan yang di beri (g)
15

Wt = Bobot rata-rata ikan di akhir penelitian (ekor)


Wo = Bobot rata-rata ikan di awal penelitian (ekor)
D = Bobot Ikan mati
Menurut Tacon (1987), nilai Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP) dapat di
hitung dengan rumus sebagai berikut:
𝑾𝒕−𝑾𝒐
EPP = ( ) x 100%
𝑭
Keterangan:
EPP = Efisiensi Pemanfaatan Pakan (%)
Wo = Bobot biomassa ikan pada awal penelitian (g)
Wt = Bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan (g)
F = Jumlah Pakan ikan

3.6 Analisis Data


Data yang diperoleh kemudian diolah secara kuantitatif dan kualitatif. Data
diolah menggunakan perangkat lunak Ms. Exel dan SPSS. Parameter pertumbuhan
berat, pertumbuhan panjang, laju pertumbuhan spesifik (LPS), FCR, EPP dan SR
dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan menggunakan selang
kepercayaan 95%. Apabila ada perlakuan yang berbeda nyata akan di uji lanjut
dengan menggunakan uji Duncan. Data kualitas air dan uji retensi perotein
dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel.

3.7 Hipotesis
H0 : Diduga pemberian enzim bromelin yang berbeda pada pakan komersil
tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih
gurami.
H1 : Diduga pemberian enzim bromelin yang berbeda pada pakan komersil
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih gurami.
16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Nutrisi Pakan


Hasil analisis nutrisi pakan setiap perlakuan yaitu perlakuan A0, B1, C2, dan
D3 dapat dilihat pada Tabel 4 dan Lampiran 2.
Tabel 4. Hasil Uji Proksimat
Hasil Analisis Nutrisi Pakan Dalam Bobot Kering (%)

Perlakuan Abu Lemak Protein Karbohidrat

A0 13 7 41 30

B1 13,8 14,2 39,33 32,66

C2 13,57 12,12 41,91 32,41

D3 13,98 16,45 43,57 26

Sumber: Laboratorium Kimia, Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta (2023)


Berdasarkan hasil uji proksimat didapatkan hasil pada perlakuan A0
mendapatkan abu 13 %, lemak 7 %, protein 41 %, karbohidrat 30 % kemudian pada
perlakuan B1 mendapatkan abu 13,8%, lemak 14,2%, protein 39,33%, karbohidrat
32,66%. Pada perlakuan C2 mendapatkan abu 13,57%, lemak 12,12%, protein
41,91%, karbohidrat 32,41% dan pada perlakuan D3 mendapatkan abu 13,98%,
lemak 16,45%, protein 43,57% dan karbohidrat 26%. Beberapa komponen nutrisi
yang penting bagi pertumbuhan ikan adalah lemak, protein dan karbohidrat.

Pakan memiliki fungsi utama sebagai penyedia energi bagi aktivitas sel-sel
tubuh. Sumber energi bagi ikan adalah protrin, lemak dan karbohidrat namun
kabohidrat digunakan dalam jumlah yang sedikit dibandingkan lemak dan protrin
(Lovell,1998). Kurangnya kadar protein dalam pakan dapat mengakibatkan
terhambatnya pertumbuhan ikan yang kita pelihara. Kandungan protein yang
dibutuhkan ikan berkisar antara 20-60% dari berat total, namun total kebutuhan
makanan optimalnya hanya 30-36% (Afrianto dan Liviawaty, 2005). Pada pakan
ikan, lemak direkomendasikan tidak terlalu tinggi kandungannya berkisar antara 3-
8%. Kelebihan lemak pada ikan diketahui dapat menyebabkan kerusakan hati,
menyebebkan timbulnya penyakit dan menimbulkan kematian dini (Ria dan jogi,
17

2021). Penggunaan karbohidrat pada ikan gurami berukuran ± 30 g mampu


mencerna dan menyerap karbohidrat (karbohidrat larut) hingga kadar 35,59% dan
menghasilkan retensi, laju pertumbuhan, dan efisiensi pakan tertinggi pada
karbohidrat 20,81% (Hadad, 2009). Abu diartikan sebagai residu yang dihasilkan
selama proses pembakaran bahan organik, berupa senyawa organik berupa oksida,
garam dan juga mineral. Kadar abu pada pakan mewakili kandungan mineral pakan.
Kadar yang sesuai adalah 3-7% (Winarno, 1997).

4.2 Pertumbuhan Harian


Rata-rata laju pertumbuhan ikan Gurami harian dari H0 – H80 berdasarkan dari
penelitian pemberian pakan tambahan berupa enzim bromelin dengan dosis yang
berbeda dapat dilihat dalam Tabel 5 dan Lampiran 1.
Tabel 5. Pertumbuhan Harian

Laju Pertumbuhan Laju Pertumbuhan


Perlakuan
Bobot Harian (g) Panjang Harian (cm)

A0 0,01 ± 0a 0,2 ± 0a

B1 0,01 ± 0a 0,2 ± 0a

C2 0,01 ± 0a 0,2 ± 0a

D3 0,01 ± 0a 0,2 ± 0a

Keterangan : Huruf superscript yang sama pada kolom menunjukkan hasil tidak berbeda
nyata (P<0,05)

Berdasarkan hasil uji (Tabel 5) menyatakan bahwa laju pertumbuhan bobot


harian menyatakan bahwa tiap perlakuan tidak berbeda nyata. Sedangkan untuk laju
pertumbuhan panjang harian menyatakan bahwa tiap perlakuan tidak berbeda
nyata. Menurut Hardiany (2013), enzim bromelain merupakan salah satu kelompok
enzim protease. Enzim protease merupakan enzim yang mempunyai fungsi
memecah protein dengan cara menghidrolisis ikatan peptida pada asam amino.
Enzim bromelain mampu menghidrolisis protein dan memecah protein dalam
pakan menjadi lebih sederhana sehingga memudahkan pencernaan dan penyerapan
protein dalam tubuh ikan.
18

4.3 Pertumbuhan Mutlak


Rata-rata Laju Pertumbuhan Mutlak ikan Gurami berdasarkan dari hasil
pemelitian dapat dilihat pada Gambar 4 dan Lampiran 1.

BERAT MUTLAK
2
1.8
1.6
1.4 A = Perlakuan
Kontrol
1.2
Berat (g)

1 B = Pakan + Enzim
Bromelin 3%
0.8
0.6 C = Pakan + Enzim
0.4 Bromelin 3,5%
0.2 D = Pakan + Enzim
0 Bromelin 4%
H0 H20 H40 H60 H80
Hari ke-

Gambar 4. Bobot Mutlak

Gambar 4 menunjukan hasil laju pertumbuhan bobot mutlak selama 80 hari,


berat rata-rata ikan Gurami meningkat dari waktu ke waktu, yakni dari 0,19 g/ekor
menjadi 0,79 – 1,76 g/ekor. Pertumbuhan bobot tertinggi terdapat pada perlakuan
D3 sebesar 1,57 g/ekor disusul dengan perlakuan C2 sebesar 0,95 g/ekor, perlakuan
B1 sebesar 0,92 g/ ekor dan yang terakhir yaitu perlakuan A0 sebesar 0,6 g/ekor.
Hasil uji lanjut pertumbuhan bobot ikan Gurami disajikan dalam bentuk Tabel 6.
Perlakuan D dengan dosis 4% memberikan hasil yang terbaik dibandingkan
dengan A,B,C hal ini disebabkan dosis 4% merupakan dosis yang optimal untuk
dapan memaksimalkan pencernaan dan pemanfaatan pakan lebih efesien sehingga
memacu pertumbuhan bobot mutlak ikan gurami.
Menurut Nurhidayah dkk. (2013) menyatakan bahwa enzim bromelain yang
ditambahkan pada pakan akan menghasilkan lebih banyak protein yang dihidrolisis
menjadi asam amino sehingga meningkatkan pertumbuhan pada ikan. Didukung
oleh Ovie dan Eze (2013), jika pakan mengandung asam amino esensial yang tepat
dibutuhkan ikan, maka protein ideal ikan terpenuhi sehingga tidak terjadi
kekurangan atau kelebihan asam amino.
19

Menurut Irawati dkk. (2015), konsentrasi enzim merupakan salah satu


faktor yang mempengaruhi proses pemecahan protein sehingga akan meningkatkan
daya cerna pakan oleh ikan, namun jika protein yang dihidrolisis terlalu banyak
maka akan menghasilkan terlalu banyak asam amino sehingga akan menghambat
pertumbuhan ikan.
Selain itu, enzim bromelain juga mengandung vitamin C. Vitamin C diduga
dapat meningkatkan pertumbuhan. Sesuai dengan pendapat Jusadi dkk. (2006)
dalam Sarining dkk (2014) menyatakan bahwa vitamin C dibutuhkan ikan untuk
proses metabolisme dalam tubuh untuk pertumbuhan. Pertumbuhan berkaitan
dengan energi yang masuk ke dalam tubuh ikan.

PANJANG MUTLAK
4.5
4
3.5
A = Perlakuan
PANJANG (CM)

3 Kontrol
2.5 B = Pakan + Enzim
2 Bromelin 3%
1.5 C = Pakan + Enzim
1 Bromelin 3,5%
0.5 D = Pakan + Enzim
Bromelin 4%
0
H0 H20 H40 H60 H80
HARI KE-

Gambar 5. Panjang mutlak


Gambar 5 menunjukan hasil laju pertumbuhan panjang mutlak selama 80
hari, panjang rata-rata ikan Gurami meningkat dari waktu ke waktu, yakni dari 1,7
cm/ekor menjadi 3,15 – 3,9 cm/ekor. Pertumbuhan panjang tertinggi terdapat pada
perlakuan D sebanyak 2,2 cm/ekor disusul dengan perlakuan C sebanyak 1,93
cm/ekor, perlakuan B sebanyak 1,57 cm/ ekor dan yang terakhir yaitu perlakuan A
sebanyak 1,45 cm/ekor. Hasil uji lanjut pertumbuhan bobot ikan Gurami disajikan
dalam bentuk Tabel 6.
Menurut Andini, F., dan Widayati, R. (2020), penambahan dosis enzim
bromelain yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap
pertumbuhan panjang absolut. Enzim bromelain mengandung kolagen yang mampu
membentuk jaringan tulang rawa sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan
20

panjang ikan. Kolagen merupakan protein utama penyusun struktur jaringan ikat
pada hewan vertebrata dengan proporsi sekitar 30% dari total protein tubuh.
Kolagen juga terdapat pada jaringan interstisial hampir seluruh organ parenkim
dengan fungsi menstabilkan dan mempertahankan bentuk organ (Chai et al. 2010).
Hal ini sependapat dengan Novita, V dkk (2017) bahwa enzim bromelain
mengandung kolagen untuk membentuk tulang rawa pada ikan, sehingga
menyebabkan peningkatan laju pertumbuhan panjang ikan, sejalan dengan Putri
(2012) yang menyatakan bahwa enzim bromelain akan lebih aktif pada kolagen dan
juga dapat mengubah kolagen menjadi gelatin, kemudian bromelain akan
menghidrolisis molekul gelatin.
Tabel 6. Pertumbuhan Mutlak

Perlakuan Laju pertumbuhan bobot Laju Pertumbuhan Panjang


mutlak (g) Mutlak (cm)

A 0,6 ± 0a 1,43 ± 0a

B 0,92 ± 0b 1,57 ± 0b

C 0,95 ± 0c 1,92 ± 0c

D 1,57 ± 0d 2,2 ± 0d

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil
yang berbeda nyata (P<0,05)

Berdasarkan hasil uji (Tabel 6 dan Lampiran 1) menyatakan bahwa laju


pertumbuhan bobot mutlak perlakuan antar perlakuan berbeda nyata. Sedangkan
untuk laju pertumbuhan panjang mutlak antar perlakuan berbeda nyata.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan
dosis tepung bromelain pada setiap perlakuan. Pada perlakuan D lebih besar
dibandingkan perlakuan lainnya. Menurut Dani (2005), pertumbuhan dipengaruhi
oleh ukuran ikan, kualitas dan kuantitas protein. Menurut Handajani dan Widodo
(2010) pertumbuhan dipengaruhi oleh baik baiknya kualitas protein yang terdapat
pada pakan.
21

4.4 Kelangsungan Hidup (SR)


Kelangsungan hidup ikan sampai hari ke 80 dapat dilihat pada Tabel 7 dan
Lampiran 1.
Tabel 7. Kelangsungan Hidup
No Perlakuan Tingkat Kelangsungan Hidup (%)
1. A 93,33 ± 11,54a

2. B 93,33 ± 11,54a

3. C 93,33 ± 11,54a

4. D 100 ± 0a
Keterangan : Huruf superscript yang sama pada kolom menunjukkan hasil yang berbeda
nyata (P<0,05)

Berdasarkan hasil analisis ragam dengan selang kepercayaan 95 % (α 0,05)


menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ikan Gurami tidak berbeda nyata antar
perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup selama penelitian berkisar antara 93,33 -
100%, kelangsungan hidup dianggap baik. Simanulang (2017) menyatakan bahwa
kelangsungan hidup ikan > 50% tergolong baik, kelangsungan hidup 30-50%
tergolong sedang dan kelangsungan hidup < 30% tidak baik untuk kegiatan
budidaya. Simanulang (2017) menyatakan bahwa kelangsungan hidup ikan > 50%
tergolong kelangsungan hidup yang baik 30-50% tergolong sedang dan
kelangsungan hidup < 30% tergolong kurang baik untuk kegiatan budidaya.
Tingkat kelangsungan hidup suatu organisme dapat dipengaruhi oleh faktor
biotik dan abiotik. Faktor biotik meliputi kepadatan penduduk, umur dan
kemampuan organisme dalam berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan faktor
abiotik meliputi suhu, oksigen terlarut, pH dan amonia (Yurisman dan Heltonika,
2010). Simanulang (2017) menyatakan kelangsungan hidup ikan > 50% tergolong
baik, kelangsungan hidup 30-50% tergolong sedang dan kelangsungan hidup < 30%
tergolong kurang baik untuk kegiatan budidaya.
Sawintri (2018), menyatakan bahwa tingginya tingkat kelangsungan hidup dan
tidak adanya perbedaan nyata antar perlakuan dapat disebabkan oleh kualitas air
media pemeliharaan ikan yang sesuai dengan kondisi dan padat tebar yang
dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan optimal. Tingkat kelangsungan hidup dapat
22

dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik, faktor biotik terdiri dari umur dan
kemampuan ikan beradaptasi dengan lingkungannya, sedangkan faktor abiotik
terdiri dari ketersediaan makanan dan kualitas air. Peningkatan kepadatan yang
berlebihan akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan kelangsungan
hidup. Menurut Hepher dan Pruginin (1981), peningkatan kepadatan akan diikuti
penurunan pertumbuhan dan pada kepadatan tertentu pertumbuhan akan terhenti.

4.5 Rasio Konversi Pakan (FCR)


Jumlah rasio konversi pakan ikan uji dari hari pertama sampai hari ke 80 dapat
dilihat pada Tabel 8 dan Lampiran 1.

Tabel 8. Rasio Konfersi Pakan


Perlakuan FCR

A 2,76 ± 0d

B 1,94 ± 0,01b

C 2,05 ± 0c

D 1,6 ± 0a

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata (P<0,05)

Berdasarkan hasil uji (Tabel 8 dan Lampiran 1) menyatakan bahwa FCR antar
perlakuan berbeda nyata. Setelah di uji lanjut menyatakan bahwa perlakuan D
menghasilkan nilai FCR terbaik sebesar 1,6 ± 0a.
Menurut Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan (2009) dalam
Ihsanudin et al., (2014), nilai ukuran ikan air tawar berukuran 3-12 cm mempunyai
standar FCR sebesar 1,2 ± 1,38. Berdasarkan hasil penelitian, nilai FCR berada pada
kisaran 1,6 – 2,76.
Menurut Mudjiman (1989) dalam Akbar dkk (2011), nilai konversi pakan
ikan berkisar 1,5-8 tergantung jenis pakan yang diberikan, pakan dari sumber
nabati. umumnya memiliki nilai konversi yang lebih besar dibandingkan pakan dari
sumber hewani. Kisaran nilai konversi pakan 1,5-2 merupakan nilai konversi baik,
sedangkan nilai konversi pakan 3-5 tergolong buruk dan nilai konversi pakan 5-8
23

merupakan nilai konversi pakan buruk. Hal ini didukung oleh pernyataan Lovell
(1989) dalam Uly dkk. (2017) faktor yang mempengaruhi jumlah pakan yang
dimakan adalah ukuran ikan, suhu, frekuensi pemberian pakan, jumlah pakan yang
diberikan. Tinggi rendahnya nilai FCR ditentukan oleh percepatan pertumbuhan
ikan uji yang dipelihara pada setiap perlakuan.

4.6 Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP)


Jumlah Efisiensi Pemanfaatan Pakan ikan uji dari hari pertama sampai hari ke-
80 (delapan puluh) dapat dilihat pada Tabel 9 dan Lampiran 1.
Tabel 9. Efisiensi Pakan
Perlakuan EPP (%)

A 0,36 ± 0a

B 0,51 ± 0c

C 0,49 ± 0b

D 0,63 ± 0d

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada kolom menunjukkan hasil yang berbeda
nyata (P<0,05)

Berdasarkan hasil uji (Tabel 9 dan Lampiran 1) menyatakan bahwa EPP antar
perlakuan berbeda nyata. Perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan B, C, D,
kemudian B berbeda nyata dengan perlakuan A, C, D, perlakuan C, berbeda nyata
dengan perlakuan A, B, D dan perlakuan D berbeda nyata dengan A, B, C.
Hasan (2010) menjelaskan bahwa semakin banyak enzim bromelain yang
ditambahkan pada pakan maka akan semakin banyak pula protein yang dihasilkan
yang dihidrolisis menjadi asam amino sehingga meningkatkan pertumbuhan ikan
dan kecernaan pakan. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan menunjukkan efisiennya
penggunaan pakan oleh ikan sehingga protein yang terkandung dalam pakan tidak
banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam proses metabolisme,
osmoregulasi dan reproduksi, namun lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan.
Pertumbuhan akan terjadi apabila terdapat kelebihan energi dari makanan yang
dikonsumsi setelah kebutuhan energi minimum (kebutuhan dasar hidup telah
terpenuhi seperti pernapasan, aktivitas gerak, proses metabolisme dan
24

pemeliharaan). Nilai efisiensi pemanfaatan pakan yang rendah menunjukkan bahwa


ikan memerlukan pakan dalam jumlah yang cukup untuk meningkatkan bobotnya
karena hanya sebagian kecil energi dari pakan yang diberikan digunakan ikan untuk
pertumbuhan. Selain itu kepadatan ikan dan kandungan protein dalam pakan juga
dapat mempengaruhi efisiensi pemanfaatan pakan (Simanulang, 2017).
Menurut Winastia (2011), bromelain dapat membantu melarutkan
pembentukan lendir di usus dan juga mempercepat pembuangan lemak melalui
ginjal. Bromelain juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting untuk
meningkatkan proses pembuangan lemak dan mangan, serta merupakan komponen
penting enzim tertentu yang dibutuhkan dalam metabolisme protein.
Beberapa studi sebelumnya mengenai penggunaan enzim bromelin dalam
pakan telah dilakukan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Masniar et al. (2016)
menunjukkan bahwa penambahan ekstrak batang nanas dalam pakan ikan betok
(Anabas testudineus) sebanyak 5% mengakibatkan peningkatan dalam berat
pertumbuhan antara 0,448 hingga 1,678 g, pertumbuhan spesifik antara 0,039
hingga 0,973% per hari, pertumbuhan harian antara 0,007 hingga 0,028 g, konversi
pakan antara 2,537 hingga 7,829, dan efisiensi pakan antara 12,868 hingga
40,222%. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Adri et al., (2021), menyimpulkan
bahwa dosis terbaik penambahan enzim bromelain dalam pakan komersil untuk
ikan gurami adalah 3%/kg pakan.
4.7 Kualitas Air
Kualitas air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat
kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan organisme perairan yang dibudidayakan
(Badare, 2001).
Kualitas air yang didapat dalam penelitian ini bisa di lihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kualitas Air
Perlakuan A0 B1 C2 D3 Refensi

Suhu 29 oC 28,8 °C 29 °C 30 °C 25 -30 (Usman et al, 2022)

pH 8 7,78 7,8 8 7 – 8 (Wirawan, 2013)

DO 3,30 3,30 3,35 3,25 >3 (Jumaidi et al, 2016)


25

Berdasarkan Tabel 4 hasil dari pengukuran kualitas air penelitian selama 80


hari pada pemeliharaan gurami selama penelitian pada kisaran normal. Nilai suhu
air pada penelitian berkisar antara 28 – 30 °C, kisaran normal untuk pemeliharaan
gurami dan hal ini dibuktikaan dari pernyataan Usman et al, (2022) bahwa suhu
normal ikan air tawar adalah 25 – 30 °C. Nilai pH yang diperoleh selama periode
penelitian adalah 7 – 8, dan nilai pH tersebut termasuk normal untuk memelihara
ikan gurami. Menurut Samsundari dan Wirawan, (2013) pH yang sesuai untuk
hidup dan tumbuh dengan baik pada ikan budidaya berada pada kisaran 7 – 8, nilai
pH tersebut mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap kehidupan organisme
perairan, sehingga digunakanlah air. sebagai komponen yang menentukan baik atau
buruknya suatu perairan. Nilai DO pada masa pemeliharaan adalah 30 – 30,5 mg/L
nilai yang normal untuk pemeliharaan ikan. Menurut Jumaidi et al, (2016)
menyatakan bahwa oksigen terlarut untuk gurami minimal yaitu diangka 3 mg/L.

.
26

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
 Penggunaan enzim bromelin terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup
dengan dosis berbeda pada pakan buatan berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan kelangsungan hidup benih gurami.
 Pada perlakuan D dosis 4% adalah dosis terbaik menghasilkan pertumbuhan
dan kelangsungan hidup pada benih gurami.

5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian mengunakan enzim bromelin dengan dosis yang
berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih gurami untuk
mencari dosis terbaik bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya.
27

DAFTAR PUSTAKA

Adelina. 2000. Pengaruh Pakan Dengan Kadar Protein dan Rasio Energi Protein
yang Berbeda pada Pertumbuhan Benih Ikan Bawal Air Tawar. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Adhitia, R., Sahertian, J., & Swanjaya, D. (2022, August). Rancang Bangun Sistem
Monitoring Kualitas Air Pada Kolam Ikan Gurame. In Prosiding SEMNAS
INOTEK (Seminar Nasional Inovasi Teknologi) (Vol. 6, No. 2, pp. 242-
246)
Adri, F., Niken Ayu Pamungkas., dan Mulyadi. (2021) Pertumbuhan Dan
Kelangsungan Hidup Ikan Gurami (Osphorenemus Gouramy) Dengan
Pemberian Dosis Enzim Bromelin Berbeda Di Dalam Pakan Pada Budidaya
Sistem Resirkulasi Akuaponik. (Jurnal Akuakultur Sebatin) (Vol. 2,
No.1):12
Afrianto dan Liviawaty. (2005). Pakan Ikan dan Perkembangannya. Yogyakarta:
Kanisius.
Andini, F., & Widaryati, R. (2020). Pengaruh enzim bromelin dosis berbeda
tehadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan Nila
(Oreochromis niloticus). Jurnal Ilmu Hewani Tropika ( Journal of Tropical
Animal Sciences ), 9(2), 68-74.
Aslamsyah, S. 2009. Mikroflora Saluran Pencernaan Ikan Gurame (Osphronemus
gouramy Lacepede). Torani. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. Vol
19(1): 66-73.
Badare, A. I. 2001. Pengaruh Pemberian Beberapa Makroalga Terhadap
Pertumbuhan dan Kelulus hidupan Juvenil Abalone (Holiotis sp.p) yang
Dipelihara dalam Kurungan Terapung. Skripsi. Program Studi Budidaya
Perairan .Fakultas Pertanian Universitas Cendana Kupang.
Busacker et al. 1990. Growth Methods For Fish Biology. American Fisheries
Society, Mary land USA. 363-383
Chai, H. Y., Li, J. H., Huang, H. N., Li, T. L., Chan, Y. L., Shiau, C. Y., dan Wu,
C. J. 2010. Effects of Sizes and Conformations of Fish - Scale Collagen
Peptides on Facial Skin Qualities and Transdermal Penetration Efficiency,
Hindawi
Darsono, S. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta:
Kaniasus.
Effendie, M. 1997. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Dewi Sri Bogor.
Forteath, N., L. Wee, and M. Frith. 1993. The Biological Filter-Structure and
Function in P. Hart and D.O Sullivan (Eds). Recirculaion System: Design,
Contruction and Management. University of Tasmania. Launceston. 55-63
halaman.
28

Gautam., et al. 2010. Comparative study of extraction, purification and estimation


of bromelain from stem and fruit of pineapple plant. India: Thai J. Pharm.
Sci. 34.
Gufran, M, dan Khodri H.K. 2010. Membudidayakan Gurami di Kolam Terpal.
Yogyakarta: Lily Publisher.
Hadadi, A. 2009. “Pengaruh Kadar Karbohidrat Pakan yang Berbeda Terhadap
Pertumbuhan dan Efesiensi Pakan Ikan Gurami (Oshronemus gourami
Lacepede)”. (Tesis). Bogor: IPB. Hal 35-36
Handajani, H. dan W. Widodo. 2010. Nutrisi Ikan. UMM Press, Malang, 270 hlm
Hardiany, N.S. 2013. Enzim Pemecah Protein Dalam Sel. Jurnal Kedokteran
Indonesia, 1 (1) : 75 - 8.
Halver. J. E. 1989. Fish Nutrition. Academic Press, inc. London. P 113-147
Hepher & Prugini. 1981. Comercial fish farming, with special reference to fish
culture in israel
Irawati, D., D. Rachmawati, dan Pinandoyo. 2015. Performa Pertumbuhan Benih
Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleek) Melalui Penambahan Enzim
Papain dalam Pakan Buatan. Jurnal of aquaculture Management and
Technology, 4 (1) :1 - 9.
Jumaidi, A., Yulianto, H dan Efensi, E. 2016. Pengaruh Debit Air Terhadap
Perbaikan Kualitas Air Pada Sistem Resirkulasi Dan Hubungannya Dengan
Sintasan dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurame. Vol 5 (1): 587 – 596
Khairuman, H, dan Amri, K. 2003. Pembenihan dan Pembesaran Gurami Secara
Intensif. Depok:Agro Media Pustaka.
Kurnia, B. 1997. Tingkat Karbohidrat Optimum Dalam Pakan Untuk Pertumbuhan
Ikan Gurami Berukuran Rata-Rata 25.0 Gram. Institute Pertanian Bogor.
Bogor.
KKP. 2022, Refleksi Outlook Kementrian Kelautan Perikanan. Jakarta
([Link]
Lovell, T. 1998. Nutrition and Feeding of Fish. Kluwer Academic Publisher
Groups. United States of America.
Masniar M., Muchlisin, Z.A., dan Karina, S., 2016. Pengaruh penambahan ekstrak
batang nanas pada pakan terhadap pertumbuhan dan daya cerna protein
pakan ikan betok (Anabas testudineus).Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan
dan Perikanan, 1(1), 35-45.
Novita virna, Subandiyono, Agung Sudaryono. 2017. Pengaruh Penambahan
Enzim Bromelin Dalam Pakan Terhadap Efesiensi Pemanfaatan Pakan dan
Pertumbuhan Ikan Patin (pangasius hypothalamus) Journal of Aquaculture
Mangement and technology 6 (3) : 86 – 95.
29

Nurhayati, Bambang, N., Utomo, P., & Setiawati, M. (2014). Perkembangan Enzim
Pencernaan dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo, Clarias gariepinus
Burchell 1822, yang diberi Kombinasi Cacing Sutra dan Pakan Buatan.
Jurnal Iktiologi Indonesia; 4(3), 167–178
Nurhidayah, Masriany, dan M. Masri. (2013). Isolasi dan Pengukuran Aktivitas
Enzim Bromelin Dari Ekstrak Kasar Batang Nanas (Ananas comosus)
Berdasarkan Variasi pH. BIOGENESIS. Jurnal Ilmiah Biologi, 1 (2) : 116 -
122.
Ovie S. O., and Eze S. S. 2013. Lysine Requirement And Its Effect On Body
Composition of Oreochromis niloticus Fingerlings. Journal of Fisheries and
Aquatic Science, 8(1):94-100.
Patmawati, H., Sumarsih, E., Wahyuningsih, S., Mansyur, Z. M dan Rahmat. 2020.
Budidaya Ikan Gurami (Osphronemus guouramy) Dalam Kolam Bundar
Pada Kelompok Pemuda Sabilulungan Ciamis. Vol 8 (1): 59-66.
Pio, A., R., Yustiran, Y., Rahmadian, T., Hamka, S., M dan Nafsiyah, I. 2023.
Peforma Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Gurame
(Osphronemus gourami) Yang Di Budidayakan Di Balai Perikanan
Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi. Vol 3 (9):7713-7720.
Putri, S. K. (2012). Penambahan enzim bromelin untuk meningkatkan pemanfaatan
protein pakan dan pertumbuhan benih nila larasati (Oreochromis niloticus
Var.). Journal of Aquaculture Management and Technology, 1(1), 63-76.
Purwaningsih, I. (2017). Potensi Enzim Bromelin Sari Buah Nanas (Ananas
comosus l.) dalam Meningkatkan Kadar Protein Pada Tahu. Jurnal
Teknologi Laboratorium, 6(1), 39.
Ria, D. S. M. dan Jogi, A. (2021). Nutrisi dan Pakan Ikan.
Rosmawati. 2005. Hidrolisis Pakan Buatan oleh Enzim Pepsin dan Pankreatin
untuk Meningkatkan Daya Cerna dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami
(Osphronemus gouramy). [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian
Bogor, Bogor, 80 hlm
Royan, F., Rejeki, S dan Haditomo, A. H. C. (2014). Pengaruh Salinitas yang
Berbeda terhadap Profil Darah Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Journal
of Aquaculture Management and Technology. Vol 3(2): 109-117.
Rukmana, R. 2005. Ikan Gurami Pembenihan dan Pembesaran. Yogyakarta.
Saparinto C. 2011. Panduan Lengkap Guram. Cetakan II. Penebar Swadaya.
[Link]. 71 Hal.
Samsundari, S. dan Wirawan, G.A., 2013. Analisis Penerapan Biofilter Dalam
Sistem Resirkulasi Terhadap Mutu Kualitas Air Budidaya Ikan Sidat
(Anguilla bicolor). Jurnal Gamma 8 (2) : 86 - 97.
Sarjito., S.B. Prayitno. Royan dan A.H.C. Haditomo. 2013. Pengantar Parasit dan
Penyakit Ikan. UPT UNDIP Press, Semarang. Journal Science. Vol
3(2):145-153.
30

Sawitri, 2018. Pengaruh kepadatan yang berbeda terhadap kelulushidupan dan


pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem resirkulasi
dengan filter zeolit. Journal of Aquaculture Management and Technology.
2 (3) : 37-45.
Simanulang [Link] Asimetri dan Abnormalitas Pada Ikan Lele Dumbo
(Clarias sp.) yang berasal dari tiga daerah sentra budidaya di Pulau Jawa.
Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 5 hlm.
Sitanggang, M. 2007. Budidaya Gurami. Jakarta: Penerbit Swadaya. Jurnal Ilmiah.
Vol 14(1).
Soelistiono, E. 2017. Ikan Gurame (Osphronemus goramy): Budidaya dan Teknik
Pembenihan. Yogyakarta
Susanto. 1989. Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Diinfeksi
Jamur Saprolegnia sp. Jurnal Ruaya FPIK UNMUH. Pontianak.
Usman, Z., Kuniaji, A., Saridu, A. S., Anton, Riskayanti. 2022. Produksi Juvenil
Ikan gurami (Osphronemus gourami) Menggunakan Teknologi
Recirculating aquaculture system. Vol 10 (2): 263 –271.
Verdegem, M and E. Edding, 2010. Aquaculture Production System. Lectur Note.
Aquaculture And Fisheries Wagenigem University.
Winarno, F, G. (1997). Keamanan Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Winastia, B. 2011. Analisa Asam Amino pada Enzim Bromelin dalam Buah Nanas
(AnanasComusus) Menggunakan Spektrofotometer. Tugas Akhir. Program
Studi Diploma III Teknik Kimia, Program Diploma, Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro, Semarang.c xv`bnm.
Yandes, Z, Affandi, dan Mokoginta, 2003. Pengaruh Pemberian Solulosa Dalam
Pakan Terhadap Kondisi Biologis Benih Ikan Gurame (Osprhonemus
gouramy). Jurnal Iktiologi Indonesia. 3(1):27-33.
Yurisman dan B. Heltonika. 2010. Pengaruh Kombinasi Pakan Terhadap
Pertumbuhan dan Kelulusan Hidup Larva Ikan Selais (Ompok
hypophthalmus). Berkala Perikanan Terubuk, 38 (2): 80-94
Zonneveld, N. A., E., H. Huisman,. Boon. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan
Diterjemahkan Oleh Tirtajaya. Gramedia. Jakarta. 318 hlm
31

LAMPIRAN
32

Lampiran 1
Foto Kegiatan

Persiapan wadah Enzim Bomelin Pengukuran Suhu Pengukuran pH

Media Pemeliharaan Teskit Panjang Ikan Awal Sampling

Berat Ikan Awal Data Sampling Pencampuran Pakan Pencampuran Pakan


+ Bromelin + Bromelin

Penyemprotan Penjemuran Pakan Panjang Ikan Akhir Berat Ikan Akhir


Pakan
33

Lampiran 2
Bobot Harian

Bobot Mutlak

Panjang Harian
34

Panjang Mutlak

EPP

SR

FCR
35

DUNCAN
Bobot Harian Bobot Mutlak

Panjang Harian

Panjang Mutlak
36

EPP

SR

FCR
37

Lampiran 3
Hasil Uji Proksimat Pakan

Protein Lemak Air Abu Karbo


P1 35,80613 12,92445 8,970514 12,56639 29,73251
basis kering 39,33465 14,1981 13,80474 32,66251
P2 35,94842 10,393 14,22345 11,63754 27,79759
basis kering 41,90938 12,11636 13,56728 32,40698
P3 34,12862 12,88435 21,6767 10,94799 20,36234
basis kering 43,57404 16,45021 13,97795 25,9978

Anda mungkin juga menyukai