BAB IV
PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN
Perencanaan pembelajaran merupakan bagian penting dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, desain perencanaan pembelajaran
diuraikan untuk membangun interpretasi yang sama pada pendidik supaya
memiliki gerak, langkah dan motivasi yang sama dalam mengembangkan
pembelajaran sesuai dengan kurikulum merdeka ini. Untuk mendasari pemahaman
dalam Menyusun perencanaan pembelajaran, maka perlu memahami prinsip
pembelajaran, yaitu:
1. Interaktif, dirancang untuk memfasilitasi interaksi yang sistematis dan
produktif antara pendidik dengan peserta didik, sesama peserta didik, dan
antara peserta didik dengan materi belajar. Pendidik berperan sebagai fasilitator
proses pembelajaran dan tidak menjadi satu satunya sumber pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajar yang interaktif, dilakukan
dengan cara:
a. Berinteraksi secara dialogis antara pendidik dengan peserta didik, serta
sesama peserta didik;
b. Berinteraksi secara aktif dengan lingkungan belajar;
c. Berkolaborasi untuk menumbuhkan jiwa gotong royong.
2. Inspiratif, memberi keteladanan dan menjadi sumber inspirasi positif bagi
peserta didik dengan cara:
a. Menciptakan suasana belajar yang dapat memantik ide, mendorong daya
imajinasi, dan mengeksplorasi hal baru
b. Memfasilitasi peserta didik dengan berbagai sumber belajar untuk
memperkaya wawasan dan pengalaman belajar
3. Menyenangkan, agar peserta didik mengalami proses belajar sebagai
pengalaman yang menimbulkan emosi positif, dilakukan dengan:
a. Menciptakan suasana belajar yang gembira, menarik, aman, dan bebas dari
perundungan
b. Menggunakan berbagai variasi metode dengan mempertimbangkan
aspirasi dari peserta didik, serta tidak terbatas hanya di dalam kelas
c. Mengakomodasi keberagaman gender, budaya, bahasa daerah setempat,
agama atau kepercayaan, karakteristik, dan kebutuhan setiap peserta didik
4. Menantang, untuk mendorong pesert a didik terus meningkatkan
kompetensinya melalui tugas dan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang tepat.
Hal ini dilakukan dengan:
a. Menggunakan materi dan kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan dan
tahapan perkembangan peserta didik
b. Memfasilitasi peserta didik untuk percaya potensi yang dimilikinya dapat
ditingkatkan.
5. Memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dengan cara:
a. Membangun suasana belajar yang memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk berani mengemukakan pendapat dan bereksperimen
b. Melibatkan peserta didik dalam menyusun rencana belajar, menetapkan
target individu dan/atau kelompok, dan turut memonitor pencapaian hasil
belajar.
6. Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai
dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik,
dengan:
a. Memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan dan
mengkomunikasikan gagasan baru
b. Membiasakan peserta didik untuk mampu mengatur dirinya dalam proses
belajar
c. Menciptakan suasana pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi
peserta didik untuk mengaktualisasikan diri
d. Mengapresiasi bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta
didik.
Berangkat dari pemahaman terhadap 8 Dimensi Profil Lulusan, mendasari
disusunnya Standar Kompetensi Lulusan, kemudian disusun Standar Isi berupa
Capaian Pembelajaaran (CP). CP ini merupakan satu-satunya konten kurikulum
yang disiapkan oleh pemerintah, yang harus dijabarkan menjadi bagian-bagian
yang lebih operasional sehingga dapat dicapai dalam proses pembelajaran di
kelas. Dalam perencanaan pembelajaran meliputi dua ruang lingkup, yaitu ruang
lingkup sekolah dan ruang lingkup kelas.
Oleh kareena itu, SDN Jatimulya 02 merencanakan pembelajaran ke dalam
bentuk yang meliputi:
A. Perencanaan Pembelajaran
1. Ruang Lingkup Sekolah
Sekolah menyiapkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) atau
silabus guna mengarahkan sekolah dalam merencanakan,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi pembelajaran secara
menyeluruh sehingga kualitas pembelajaran diperoleh secara sistematis,
konsisten dan terukur. ATP ini disusun bersama melalui komunitas
belajar sekolah, KKG sekolah, maupun KKG Gugus sekolah.
Penyusunan ATP atau Silabus dimulai dengan memahami Capaian
Pembelajaran, kemudian menguraikan menjadi dua bagian, yaitu
kompetensi dan konten. Kompetensi dan konten kemudian disusun atau
dirumuskan menjadi tujuan pembelajaran (TP) dengan menggunakan
kata kerja operasional sesuai dengan tingkatan kognitif menurut
Bunyamin Bloom atau perubahan oleh Anderson dkk. Tujuan
pembelajaran disusun dengan menganut sistem sekuensial, yakni di
susun berdasarkan tingkat perkembangan anak, dari konkret menuju
abstrak, dari mudah menuju sukar, dari sederhana menjuru ke yang lebih
rumit.
Komponen yang harus ada dalam ATP antara lain: CP, TP, Jumlah
JP, Kata kunci, Topik atau konten inti, Penjelasan singkat, Dimensi
Profil Lulusan dan glosarium.
Tabel 2 Komponen ATP
Komponen ATP Keterangan
Capaian Pembelajaran (CP) Tuliskan CP sesuai Fase
Tujuan Pembelajaran (TP) Tuliskan semua TP sesuai materi
kelas
Jumlah Jam Pelajarn (JP) Tuliskan perkiraan jumlah JP utk
Komponen ATP Keterangan
mencapai TP yang dirumuskan
1. Kata Kunci 1. Tuliskan semua kata penting dari
2. Topik atau Konten Inti TP
3. Penjelasan Singkat 2. Pilih satu yang harus diajarkan
[Link] tentang fokus
pembelajarannya
Dimensi Profil Lulusan (DPL) Tuliskan dimensi DPL yang terkait
dengan pembelajaran
Glosarium Kata-kata sulit/baru di beri arti atau
penjelasan
2. Ruang Lingkup Kelas
Perencanaan pembelajaran dalam ruang lingkup kelas merupakan
tugas dan tanggung jawab guru kelas. Pada konteks ini, pendidik sesuai
kelas yang menjadi tanggung jawabnya memiliki kewajiban menyiapkan
berbagai perencanaan. Perencanaan utama adalah Modul Ajar, termasuk
perencanaan penunjang lainnya yang menjadi kelengkapan kelas.
Pendidik menyiapkan Modul Ajar (MA). Proses penyiapan atau
penyusunan Modul ajar dilakukan oleh guru sendiri.
Sekolah juga memberi kesempatan kepada guru untuk
mengeksplorasi diri menyusun sendiri Modul Ajar untuk kelasnya
masing-masing, atau sekolah juga memfasilitasi untuk proses
penyusunan secara kelompok melalui komunitas belajar sekolah dan
gugus sekolah. Komponen Modul Ajar terdiri dari 3 bagian yaitu: 1)
Informasi umum, 2) Komponen Inti, dan 3) Lampiran.
Informasi umum memuat: 1) identitas Modul Ajar: Mata Pelajaran,
Sekolah, Penyusun/tahun, kelas dan fase, Elemen/Topik, Alokasi Waktu,
dan Capaian Pembelajaran. 2) Dimensi Profil Lulusan, 3) Pendekatan,
model dan metode pembelajaran, 4) Mitra Pembelajaran, 5) Lingkungan
Pembelajaran, 6) Pemanfaatan Digital, 7) Sarana dan Prasarana.
Komponen Inti memuat: 1) Tujuan Pembelajaran, 2) Pertanyaan
pemantik, 3) Materi Esensial, 4) Langkah-langkah Pembelajaran, 5)
Kegiatan Penutup, 6. Penilaian/Asesmen, 7) Refleksi, 8) Pengayaan dan
Remidial.
Lampiran memuat: 1) Instrumen Tes Diagnostik Non Kognitif
(bila ada), 2) Soal Tes tertulis dan atau tes perbuatan, 3) Rubrik
Pengamatan Kinerja, 4) Rubrik Pengematan Produk, 5) Rubrik Dimensi
Profil Lulusan, 6) Lembar Kerja, 7) Daftar Pustaka.
Modul Ajar dapat disusun setiap pertemuan, boleh juga satu Modul
Ajar untuk beberapa kali pertemuan, tergantung durasi waktu yang
diperlukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan analisis waktu.
Ada beberapa alasan utama kenapa modul ajar ini menjadi
instrumen krusial dalam proses belajar-mengajar:
1. Memfasilitasi Pembelajaran Terdiferensiasi
Di era kurikulum yang berfokus pada kebutuhan siswa, seperti
Kurikulum Merdeka, setiap siswa itu unik. Mereka punya kecepatan
belajar, gaya belajar, dan minat yang berbeda-beda. Nah, modul ajar
ini memungkinkan guru untuk:Menyediakan materi beragam:
Misalnya, ada materi dasar untuk semua, tapi ada juga materi
pengayaan atau remedial sesuai kebutuhan siswa, Menawarkan pilihan
aktivitas: Siswa bisa memilih cara belajar yang paling nyaman buat
mereka, apakah itu melalui diskusi, proyek, atau praktik
langsung,Menyesuaikan kecepatan belajar: Siswa yang cepat bisa
melanjutkan , sementara yang butuh waktu lebih bisa fokus pada
pemahaman konsep. Dengan begitu, pembelajaran jadi lebih personal
dan relevan untuk setiap siswa.
2. Panduan Jelas bagi Guru
Meskipun guru punya kebebasan dalam mengajar, mereka tetap
butuh pegangan. Modul ajar itu ibarat "peta jalan" yang membantu
guru dalam:Merencanakan pembelajaran: Guru jadi tahu tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, materi apa yang harus disampaikan,
dan bagaimana cara menyampaikannya, Memilih strategi mengajar:
Modul ajar seringkali berisi rekomendasi metode atau pendekatan
pembelajaran yang efektif, Menyusun asesmen: Ada panduan
bagaimana menilai pemahaman siswa agar sesuai dengan tujuan
pembelajaran, Efisiensi waktu: Guru tidak perlu menyusun rencana
dari awal setiap kali mengajar, sehingga bisa lebih fokus pada
interaksi langsung dengan siswa.
3. Mengoptimalkan Proses Belajar Siswa
Modul ajar dirancang agar siswa bisa belajar secara lebih
mandiri dan aktif. Dengan modul, siswa bisa:Memahami alur belajar:
Mereka tahu apa yang akan dipelajari, kenapa itu penting, dan
bagaimana mereka akan dinilai, Mengakses materi terstruktur:
Informasi disajikan secara sistematis, membuat siswa lebih mudah
mencerna dan memahami, Melakukan refleksi: Beberapa modul
dilengkapi pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir ulang
tentang apa yang sudah mereka [Link] membantu siswa menjadi
pembelajar yang lebih bertanggung jawab dan proaktif.
4. Menjamin Kualitas dan Konsistensi Pembelajaran
Dengan adanya modul ajar, standar kualitas pembelajaran bisa
terjaga, terutama jika ada beberapa guru mengajar mata pelajaran yang
sama. Modul ajar memastikan:Keselarasan materi: Semua guru
mengacu pada materi dan tujuan yang sama, menghindari tumpang
tindih atau kekosongan materi, Kesesuaian dengan kurikulum: Modul
disusun berdasarkan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan
pemerintah, Peningkatan mutu berkelanjutan: Modul ajar bisa
dievaluasi dan diperbaiki secara berkala berdasarkan hasil belajar
siswa dan masukan dari guru.
5. Fleksibilitas dalam Menyesuaikan Konteks Lokal
Kurikulum Merdeka mendorong sekolah untuk menyesuaikan
pembelajaran dengan kondisi dan karakteristik daerah masing-masing.
Modul ajar yang disusun sendiri oleh guru di sekolah
memungkinkan:Integrasi kearifan lokal: Guru bisa memasukkan
contoh-contoh atau studi kasus yang relevan dengan budaya atau
lingkungan sekitar siswa, Responsif terhadap isu terkini: Modul bisa
diperbarui untuk mencakup isu-isu aktual yang sedang terjadi dan
relevan dengan kehidupan siswa.
Penyusunan modul ajar di satuan pendidikan sekolah dasar adalah
upaya kolaboratif dan multilevel, dengan guru kelas sebagai ujung
tombak utama yang didukung penuh oleh kepala sekolah, komunitas
belajar, serta kerangka kebijakan dan sumber daya dari Dinas Pendidikan
dan Kemendikbudristek. Ini memastikan pembelajaran di SD menjadi
lebih bermakna, relevan, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Ada beberapa tahapan dan momen kunci di mana penyusunan ini
sangat ditekankan dan dilakukan:
1. Awal Tahun Ajaran Baru (Fase Perencanaan)
Ini adalah waktu krusial di mana penyusunan modul ajar secara
intensif dilakukan. Pada fase ini, guru dan satuan pendidikan akan:
Menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan
Pembelajaran (ATP): Guru mulai menerjemahkan CP yang ditetapkan
Kemendikbud menjadi ATP yang lebih operasional untuk setiap fase
dan kelas. Ini menjadi dasar penyusunan modul, Menyusun
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KSP): Modul ajar adalah
bagian integral dari KSP. Sebelum menyusun modul ajar, satuan
pendidikan perlu memahami KSP mereka, termasuk visi, misi, dan
kalender Pendidikan,
Memetakan Kebutuhan Peserta Didik: Guru melakukan asesmen
diagnostik di awal tahun ajaran untuk mengetahui kesiapan, minat,
dan gaya belajar peserta didik. Hasil asesmen ini menjadi dasar
penting dalam mendesain modul ajar yang berdiferensiasi,
Merencanakan Alur Pembelajaran Setahun: Guru akan membuat
rencana besar (prota dan promes) yang kemudian dipecah menjadi
modul-modul ajar per unit pembelajaran atau per topik,
Mengadaptasi atau Menyusun Modul Ajar Awal: Guru akan
mulai memilih, memodifikasi, atau menyusun draf awal modul ajar
untuk unit-unit pembelajaran pertama yang akan diajarkan.
2. Sepanjang Tahun Ajaran (Fase Implementasi dan Refleksi
Berkelanjutan)
Penyusunan modul ajar bukanlah kegiatan yang berhenti setelah
awal tahun ajaran. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru
akan terus melakukan penyempurnaan dan penyesuaian,
Sebelum Memulai Unit Pembelajaran Baru: Guru akan meninjau
dan jika perlu, menyempurnakan modul ajar untuk unit pembelajaran
berikutnya. Ini memungkinkan mereka untuk memasukkan hasil
asesmen formatif dari unit sebelumnya atau isu-isu aktual yang
muncul,
Berdasarkan Hasil Asesmen Formatif: Saat guru mengajar dan
melakukan asesmen formatif, mereka mungkin menemukan bahwa
sebagian besar peserta didik belum memahami suatu konsep. Ini
menjadi pemicu untuk merevisi atau membuat modul ajar tambahan
(misalnya, modul remedial atau pengayaan) untuk topik tersebut,
Merespons Kondisi Kelas/Peserta Didik
Jika ada perubahan dinamika kelas, muncul minat baru pada
peserta didik, atau ada peristiwa penting di lingkungan sekitar, guru
dapat menyesuaikan atau bahkan menyusun modul ajar baru yang
lebih relevan, Refleksi Setelah Pembelajaran: Setelah selesai mengajar
satu modul, guru akan merefleksikan efektivitasnya. Apa yang
berjalan baik? Apa yang perlu diperbaiki? Hasil refleksi ini akan
menjadi dasar untuk penyempurnaan modul ajar yang sama di tahun
ajaran berikutnya atau saat mengulang materi yang serupa.
3. Akhir Tahun Ajaran (Fase Evaluasi dan Persiapan)
Meskipun fokusnya bukan pada penyusunan modul ajar baru,
akhir tahun ajaran menjadi momen penting untuk evaluasi
komprehensif: : Evaluasi Menyeluruh Modul Ajar yang Telah
Digunakan: Guru akan meninjau kembali seluruh modul ajar yang
telah digunakan selama setahun, mencatat kekuatan dan kelemahan
masing-masing modul, Pengumpulan Data dan Umpan Balik:
Mengumpulkan data hasil belajar peserta didik, serta umpan balik dari
rekan guru atau kepala sekolah, untuk dijadikan bahan perbaikan,
Perencanaan Awal untuk Tahun Ajaran Berikutnya: Hasil evaluasi ini
akan menjadi masukan berharga untuk penyempurnaan modul ajar di
tahun ajaran yang akan datang. Guru dapat mulai mengidentifikasi
area yang perlu perbaikan signifikan.
Ada beberapa tahapan utama yang bisa diikuti guru dalam
menyusun modul ajar:
1. Analisis Kebutuhan dan Konteks
Ini adalah langkah awal yang sangat penting untuk memastikan
modul ajar relevan dan efektif.: Menganalisis Capaian Pembelajaran
(CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Guru perlu memahami CP
untuk fase yang diajar dan menguraikannya menjadi Alur Tujuan
Pembelajaran (ATP) yang lebih spesifik dan berjenjang. Ini adalah
fondasi dari semua materi dan aktivitas dalam modul, Menganalisis
Karakteristik Peserta Didik: Lakukan asesmen diagnostik (baik
kognitif maupun non-kognitif) untuk mengetahui kesiapan belajar,
minat, profil belajar (visual, auditori, kinestetik), dan kebutuhan
spesifik masing-masing peserta didik. Informasi ini krusial untuk
diferensiasi, Menganalisis Konteks Lingkungan Belajar:
Pertimbangkan kondisi sekolah, fasilitas yang tersedia, serta
lingkungan sosial dan budaya di sekitar peserta didik. Bagaimana
materi bisa dikaitkan dengan kearifan lokal atau isu-isu aktual yang
relevan?
2. Penentuan Tujuan Pembelajaran
Setelah analisis, guru merumuskan tujuan pembelajaran yang
akan menjadi sasaran utama modul ajar. Merumuskan Tujuan
Pembelajaran (TP): Berdasarkan ATP yang telah disusun, tentukan TP
spesifik untuk unit atau topik modul ajar. Tujuan ini harus jelas,
terukur, dan mencerminkan apa yang diharapkan peserta didik dapat
lakukan setelah mempelajari modul. Gunakan kata kerja operasional
(misalnya, mengidentifikasi, menganalisis, menciptakan,
menjelaskan), Mempertimbangkan Indikator Keberhasilan: Apa bukti
bahwa peserta didik telah mencapai tujuan tersebut? Indikator ini akan
memandu guru dalam merancang asesmen.
3. Pemilihan Materi Ajar dan Sumber Belajar
Tahap ini berfokus pada konten yang akan disampaikan :
Memilih Materi Ajar Esensial: Pilih materi yang paling relevan dan
esensial untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hindari informasi yang
terlalu banyak atau tidak relevan, Mengorganisasi Materi: Susun
materi secara logis dan sistematis, mulai dari konsep dasar hingga
yang lebih kompleks. Gunakan heading, sub-heading, poin-poin, dan
paragraf pendek untuk memudahkan pemahaman, Menentukan
Sumber Belajar: Tentukan referensi, buku teks, video, artikel, atau
media lain yang akan digunakan oleh peserta didik atau guru. Pastikan
sumber-sumber ini sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman peserta
didik, dapat diintegrasikan dalam materi, contoh, atau konteks
pembelajaran.
4. Perancangan Aktivitas Pembelajaran
Ini adalah inti dari bagaimana peserta didik akan belajar dan
berinteraksi dengan materi: Merancang Strategi dan Metode
Pembelajaran: Tentukan pendekatan pembelajaran (misalnya, berbasis
proyek, inkuiri, diskusi) dan metode spesifik yang akan digunakan
(misalnya, diskusi kelompok, simulasi, eksperimen, studi kasus),
Menyusun Urutan Kegiatan Pembelajaran: Rencanakan langkah-
langkah kegiatan secara terperinci dari pembukaan, inti, hingga
penutup. Pastikan alurnya logis dan mendukung pencapaian tujuan
pembelajaran, Mempertimbangkan Diferensiasi: Rancangkan aktivitas
yang bervariasi untuk mengakomodasi perbedaan kesiapan, minat, dan
profil belajar peserta didik. Misalnya, memberikan tugas pilihan,
tingkat kesulitan yang berbeda, atau beragam cara untuk menunjukkan
pemahaman, Menggunakan Media dan Alat Pembelajaran: Tentukan
media (gambar, video, audio) dan alat (lembar kerja, alat peraga) yang
akan digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran.
5. Penentuan Asesmen
Asesmen adalah bagian tak terpisahkan untuk mengukur
pemahaman dan memberikan umpan balik. Merancang Asesmen
Diagnostik (jika diperlukan kembali): Untuk mengidentifikasi
kesiapan awal peserta didik pada topik spesifik di modul, Merancang
Asesmen Formatif: Tentukan bagaimana guru akan memantau
pemahaman peserta didik sepanjang proses pembelajaran (misalnya,
observasi, kuis singkat, diskusi, refleksi). Asesmen ini bertujuan untuk
memberikan umpan balik dan memandu perbaikan, Merancang
Asesmen Sumatif (jika ada di akhir unit/modul): Tentukan bagaimana
pemahaman akhir peserta didik akan diukur (misalnya, proyek, tes
tertulis, presentasi)., Menyusun Rubrik Penilaian: Kembangkan rubrik
atau panduan penskoran yang jelas untuk setiap jenis asesmen, agar
penilaian objektif dan transparan.
6. Perancangan Komponen Pendukung dan Desain Visual
Setelah substansi utama selesai, perhatikan aspek teknis dan
estetika :Menuliskan Informasi Umum Modul: Cantumkan identitas
modul (nama guru, sekolah, kelas, mata pelajaran, fase, alokasi
waktu), kompetensi awal, Profil Pelajar Pancasila yang dituju, sarana
prasarana, serta target peserta didik, Menyusun Pertanyaan Pemantik:
Buat pertanyaan yang dapat memancing rasa ingin tahu peserta didik
di awal pembelajaran, Menyiapkan Refleksi Guru dan Peserta Didik:
Sediakan bagian untuk guru dan peserta didik merefleksikan proses
belajar-mengajar, Menyusun Glosarium dan Daftar Pustaka:
Cantumkan istilah penting dan sumber-sumber referensi yang
digunakan, Desain Visual dan Tata Letak: Perhatikan keterbacaan
(ukuran font, spasi), penggunaan gambar/ilustrasi yang relevan, dan
konsistensi desain agar modul menarik dan mudah digunakan.
7. Validasi, Uji Coba, dan Refleksi
Proses ini memastikan modul ajar berkualitas dan efektif.:
Validasi Internal/Eksternal: Guru dapat meminta rekan sejawat, kepala
sekolah, atau pengawas untuk meninjau dan memberikan masukan
terhadap modul ajar yang telah disusun, Uji Coba (jika
memungkinkan): Jika waktu dan sumber daya memungkinkan, uji
coba modul ajar dengan kelompok kecil peserta didik untuk melihat
efektivitasnya, Refleksi Setelah Penggunaan: Setelah modul ajar
digunakan dalam pembelajaran nyata, guru wajib melakukan refleksi:
o Apakah tujuan pembelajaran tercapai?
o Apa kekuatan dan kelemahan modul ajar ini?
o Bagaimana respons peserta didik?
o Apa yang perlu diperbaiki untuk penggunaan berikutnya?
Revisi dan Perbaikan: Berdasarkan hasil validasi, uji coba, dan
refleksi, lakukan revisi dan perbaikan pada modul ajar. Proses ini
bersifat siklus dan berkelanjutan.
Pembelajaran mendalam menekankan bahwa pembelajaran
bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penciptaan suasana yang
memuliakan peserta didik. Filosofi ini berlandaskan pandangan
pendidikan holistic yang mengedepankan keseimbangan antara aspek
intelektual, emosional,spiritual, dan fisik. Melalui pembelajaran
berkesadaran, peserta didik diajak untuk hadir secara penuh dalam
setiap aktivitas belajar.
Pendekatan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi antara
pikiran, perasaan, dan tindakan, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar
Dewantara melalui sistem among yang berbasis nilai asah, asih, dan
asuh. Dengan kesadaran penuh, peserta didik diajak memahami bahwa
belajar adalah proses refleksi mendalam yang melibatkan penerimaan
terhadap keragaman perspektif dan komitmen untuk terus
berkembang.
Pembelajaran bermakna dalam pembelajaran mendalam
memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan
nyata peserta didik. Dengan menghubungkan pembelajaran pada
konteks budaya,sosial, dan tantangan sehari-hari, pembelajaran
mendalam memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, dan
sintesis dalam memecahkan masalah kompleks. Pendekatan ini sejalan
dengan pandangan K.H. Ahmad Dahlan yang memandang pendidikan
sebagai alat perubahan sosial yang membangkitkan kesadaran
kolektif. Dengan pembelajaran bermakna, peserta didik tidak hanya
mendapatkan pengetahuan praktis, tetapi juga membangun wawasan
untuk berkontribusi secara positif terhadap masyarakat.
B. Asesmen
Asesmen pembelajaran adalah proses sistematis untuk mengumpulkan,
menganalisis, dan menginterprestasi informasi guna memahami capaian
belajar peserta didik dan meningkatkan proses pembelajaran.
Prinsip Pembelajaran Mendalam dan prinsipm Asesmen
Asesmen pembelajaran penting untuk:
1. Mengetahui Kemampuan Awal Siswa
Asesmen membantu guru memahami apa yang sudah diketahui dan
belum diketahui oleh siswa sebelum pembelajaran dimulai. Ini penting
agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa Contoh: Guru
memberikan asesmen diagnostik sebelum memulai topik baru.
2. Memantau Perkembangan Belajar
Melalui asesmen formatif, guru dapat memantau kemajuan siswa
secara berkala lalu menyesuaikan metode atau materi pembelajaran agar
lebih efektif. Contoh: Kuis mingguan atau refleksi harian dari siswa
3. Menentukan Tingkat Pencapaian Kompetensi
Asesmen sumatif di akhir pembelajaran berfungsi untuk menilai
apakah siswa telah mencapai tujuan pembelajaran sesuai yang
direncanakan. Contoh: Ujian Akhir, penilaian proyk, atau presentasi
4. Memberikan Umpan Balik yang Bermakna
Asesmen memberikan informasi penting bagi siswa dan guru untuk
perbaikan diri. Umpan balik akan membantu siswa mengetahui kelebihan
dan kekurangannya. Contoh: Guru memberikan komentar membangun
pada tugas tertulis siswa
5. Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan
Asesmen membantu guru, orang tua, dan sekolah dalam mengambil
keputusan terkait:
• Perbaikan Pembelajaran
• Pemberian intervensi
• Kenaikan kelas
• Pemilihan Pendekatan belajar yang tepat
6. Mendukung Pembelajaran yang Diferensiatif
Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen sangat penting untuk
mengenali karakteristik siswa secara individual, sehingga guru bisa
menyusun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-
masing siswa.
Pertimbangan dalam penyusunan Perencanaan Asesmen Pembelajaran
1. Tujuan Pembelajaran
• Asesmen harus disusun berdasarkan CP (Capaian Pembelajaran) atau
TP (Tujuan Pembelajaran) yang ingin dicapai.
• Pertanyaan penting:”Apa yang ingin diketahui dari hasil belajar siswa
2. Karakteristik Peserta Didik
• Pertimbangkan latar belakang, gaya belajar, kemampuan awal dan
kebutuhan khusus siswa.
• Gunakan pendekatan diferensiasi dalam penyusunan instrumen
asesmen
3. Materi Pembelajaran
• Asesmen harus mencerminkan cakupan dan kedalamam materi yang
telah atau akan diajarkan.
• Hindari menilai hal-hal yang belum diajarkan.
4. Waktu dan Ketersediaan Sumber Daya
• Tentukan kapan asesmen dilakukan dan berapa lama waktu yang
dibutuhkan.
• Pertimbangkan juga alat bantu dan sarana prasarana yang tersedia.
5. Jenis dan Teknik Asesmen yang sesuai
• Pilih teknik asesmen (tertulis, lisan, praktik, portofolio, proyek) yang
paling relevan dengan kompetensi yang dinilai.
• Gunakan berbagai bentuk asesmen untuk mendapatkan gambaran
menyeluruh tentang capaian siswa.
6. Kriteria dan Rubrik Penilaian
• Tentukan sejak awal indikator keberhasilan dan rubrik penilaian yang
akan digunakan.
• Hal penting agar penilaian bersifat objektif, tranparan, dan adil.
7. Rencana Tindak Lanjut
• Rancang asesmen agar hasilnya bisa digunakan untuk menyusun
intervensi atau perbaikan pembelajaran.
• Termasuk rencana pengayaan untuk siswa yang sudah mencapai
tujuan dan remedi untuk yang belum.
8. Kesesuaian dengan Prinsip Asesmen
Pastikan perencanaan asesmen mengikuti prinsip:
• Valid (mengukur apa yang seharusnya diukur)
• Reliabel (konsisten)
• Adil,
• Berorientasi pada pertumbuhan belajar,
• Mendorong refleksi diri siswa.
Adapun analisis yang dibutuhkan dalam penyusunan asesmen adalah:
1. Analisis Kebutuhan Peserta Didik
a) Hasil Observasi dan Asesmen
• Banyak peserta didik belum mencapai kompetensi dasar pada
mata pelajaran inti.
• Keterampilam literasi dan numerasi masih rendah
• Siswa kurang aktif dalam proses belajar dan minim keterlibatan
dalam diskusi atau proyek.
b) Kebutuhan Prioritas
• Penguatan literasi dan numerasi seajak awal tahun.
• Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi agar sesuai dengan gaya
belajar dan kemampuan siswa.
• Pengembangan karakter dan keterampilan sosial melalui kegiatan
kolaboratif dan proyek.
2. Analisis Kebutuhan GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)
a) Temuan
• Masih banyak guru yang belum optimal dalam menerapkan
pembelajaran aktif dan berbasis proyek.
• Perlu peningkatan pemehaman guru terhadap Kurikulum Merdeka
asesmen formatif, dan penggunaan data rapor pendidikan.
b) Kebutuhan Prioritas
• Pelatihan dan pendampingan rutin tentang implementasi
Kurikulum Merdeka, dan asesmen otentik.
• Komunitas Belajar (KKG/MGMP) yang aktif an terstruktur.
3. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana (Sarpras)
a) Temuan
• Keterbatasan alat peraga, buku bacaan bermutu, dan akses TIK.
• Ruang kelas masih kurang mendukung pembelajaran kolaboratif.
b) Kebutuhan Prioritas
• Pengadaan alat bantu pembelajaran seperti poster literasi, alat
praktik IPA, alat musik, dll.
• Pemanfaatan ruang perpustakaan sebagai pusat literasi dan
numerasi.
• Penyediaan perangkat TIK yang mendukung pembelajaran digital
dan interaktif.
4. Analisis Rapor Pendidikan Sekolah
a) Temuan (berdasarkan indikator prioritas nasional)
• Skor literasi dan numerasi rendah
• Iklim keamanan dan kebhinekaan perlu penguatan.
• Partisipasi guru dalam pengembangan profesional masih rendah.
b) Kebutuhan Prioritas
• Program penguatan literasi-numerasi sekolah berbasis komunitas.
• Pelatihan guru berbasis data rapor pendidikan,
• Pembentuk tim kerja untuk tindak lanjut hasil rapor pendidikan
secara kolaboratif.
SD Negeri Jatimulya 02 merencanakan asesmen pembelajaran ke dalam
beberapa bentuk yang meliputi :
1. Asesmen Intrakurikuler
Asesmen intrakurikuler adalah proses penilaian yang dilakukan oleh
guru atau sekolah untuk mengetahui kemampuan dan kemajuan siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
Asesmen ini dilakukan dalam konteks pembelajaran sehari-hari di kelas dan
bertujuan untuk memantau kemajuan siswa, mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan mereka, serta memberikan umpan balik yang konstruktif untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kurikulum Merdeka memiliki beberapa karakteristik yang relevan dengan
pelaksanaan asesmen intrakurikuler, antara lain:
a. Fleksibilitas
Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dan sekolah untuk
mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik siswa. Asesmen intrakurikuler dapat disesuaikan dengan
kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
b. Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Kurikulum Merdeka berfokus pada pengembangan kompetensi siswa,
bukan hanya pada pengetahuan. Asesmen intrakurikuler dapat digunakan
untuk menilai kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam situasi nyata.
c. Pembelajaran Aktif dan Interaktif
Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran aktif dan interaktif, yang
memerlukan asesmen yang lebih fleksibel dan dinamis. Asesmen
intrakurikuler dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam
berpikir kritis, bekerja sama, dan berkomunikasi efektif.
d. Pengembangan Karakter
Kurikulum Merdeka juga berfokus pada pengembangan karakter siswa,
seperti sikap, nilai, dan perilaku. Asesmen intrakurikuler dapat digunakan
untuk menilai kemampuan siswa dalam mengembangkan karakter yang
positif.
Berdasarkan karakteristik tersebut adapun beberapa relevansi
karakteristik kurikulum merdeka dengan pelaksanaan asesmen intrakurikuler,
antara lain :
a. Asesmen intrakurikuler dapat membantu guru untuk mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan siswa, sehingga dapat memberikan bantuan
yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa.
b. Asesmen intrakurikuler dapat digunakan untuk menilai kemampuan
siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi
nyata, sehingga dapat meningkatkan relevansi pembelajaran dengan
kebutuhan dunia nyata.
Dengan demikian, asesmen intrakurikuler dapat digunakan untuk
menilai kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan dalam Kurikulum Merdeka, serta untuk memantau kemajuan siswa
dan memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran. Selain asesmen intrakurikuler dapat menjadi bagian integral
dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka, dan dapat membantu meningkatkan
kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran.
Asesmen intrakurikuler dilaksanakan dengan tujuan :
a. Asesmen intrakurikuler digunakan untuk memantau kemajuan siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
b. Asesmen intrakurikuler membantu guru untuk mengidentifikasi kekuatan
dan kelemahan siswa, sehingga dapat memberikan bantuan yang tepat
untuk meningkatkan kemampuan siswa.
c. Asesmen intrakurikuler memberikan umpan balik yang konstruktif kepada
siswa tentang kemampuan dan kemajuan mereka, sehingga dapat
meningkatkan motivasi dan percaya diri siswa.
d. Asesmen intrakurikuler dapat membantu guru untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran dengan mengetahui apa yang siswa butuhkan dan
bagaimana cara terbaik untuk mengajarkan mereka.
e. Asesmen intrakurikuler digu nakan untuk menentukan tingkat pencapaian
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, sehingga dapat membantu guru
untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran.
f. Asesmen intrakurikuler dapat membantu guru untuk mengembangkan
kemampuan siswa dalam berpikir kritis, bekerja sama, dan berkomunikasi
efektif.
g. Asesmen intrakurikuler dapat membantu guru dan sekolah untuk
meningkatkan akuntabilitas dalam mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.
Pada Kurikulum Merdeka, asesmen intrakurikuler dibagi menjadi dua
jenis utama, yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif. Keduanya
memiliki tujuan dan waktu pelaksanaan yang berbeda, namun saling
melengkapi untuk memantau dan mengevaluasi pembelajaran peserta didik
secara holistik.
1) Asesmen Formatif
Asesmen formatif adalah proses penilaian yang dilakukan selama proses
pembelajaran berlangsung. Tujuannya adalah untuk memantau
perkembangan peserta didik, memberikan umpan balik, dan memperbaiki
proses pembelajaran agar lebih efektif. Asesmen formatif membantu guru
memahami kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan oleh siswa, serta
memberikan informasi untuk menyesuaikan strategi pembelajaran. Dilihat
dari tujuannya, asesmen formatif dapat diaksanakan pada :
a) Di awal pembelajaran (Asesmen Diagnostik)
Dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik, memetakan
kemampuan dasar, kondisi awal (kognitif dan non-kognitif seperti gaya
belajar, minat, dan kondisi emosi), serta mengidentifikasi kebutuhan
belajar mereka. Informasi ini menjadi dasar bagi guru untuk
merancang pembelajaran berdiferensiasi.
b) Selama proses pembelajaran
Dilakukan di sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah pembelajaran,
dan bahkan bisa di akhir setiap sesi pembelajaran. Tujuannya untuk
memantau perkembangan belajar peserta didik secara terus-menerus
dan memberikan umpan balik yang cepat.
Penyusunan asesmen formatif melibatkan beberapa pihak, yaitu guru,
peserta didik, dan terkadang juga orang tua atau wali siswa. Guru berperan
penting dalam merencanakan, melaksanakan, dan menganalisis asesmen
formatif, sementara peserta didik terlibat aktif dalam proses asesmen, seperti
memberikan umpan balik dan merefleksikan pembelajaran mereka. Orang tua
atau wali juga dapat dilibatkan untuk memberikan dukungan dan informasi
tambahan terkait perkembangan peserta didik.
Prosedur pelaksanaan asesmen formatif melibatkan pengumpulan
informasi, pengolahan dan interpretasi data, serta pengambilan tindakan
berdasarkan hasil interpretasi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memantau,
mengevaluasi, dan memperbaiki proses pembelajaran.
a) Pengumpulan Informasi (Elisitasi)
Elisitasi bertujuan untuk mengumpulkan bukti mengenai penguasaan
kompetensi siswa, baik dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun
keterampilan. Beragam teknik dapat digunakan, seperti observasi,
wawancara, tugas-tugas proyek, kuis, diskusi, dan penilaian
diri. Pemilihan teknik disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan
karakteristik siswa. Contoh, Guru dapat mengamati siswa saat berdiskusi,
memberikan pertanyaan lisan atau tertulis, meminta siswa melakukan
presentasi, atau meminta siswa melakukan refleksi diri.
b) Pengolahan dan Interpretasi Informasi
Pengolahan dan interpretasi informasi bertujuan menganalisis data yang
terkumpul untuk memahami pemahaman siswa, mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan, serta mengetahui penyebab kesulitan yang
dihadapi siswa. Beberapa langkah-langkah pengolahan dan interpretasi
informasi antara lain, menganalisis hasil asesmen untuk melihat
pemahaman siswa, mengidentifikasi kesenjangan antara pemahaman
siswa dengan tujuan pembelajaran dan menganalisis penyebab kesulitan
yang dihadapi siswa. Contoh, Guru dapat membuat catatan
perkembangan siswa, menganalisis jawaban siswa pada tugas, atau
mencatat hasil diskusi untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan
perhatian lebih.
c) Pengambilan Tindakan Berdasarkan Hasil Interpretasi (Umpan Balik)
Pengambilan tindakan berdasarkan hasil interpretasi bertujuan
memberikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa dan
menyesuaikan kegiatan pembelajaran agar lebih efektif. Contoh, Guru
dapat memberikan contoh perbaikan pada tugas siswa, memberikan
bimbingan tambahan untuk materi yang belum dikuasai, atau
memberikan tugas yang lebih menantang bagi siswa yang sudah
menguasai materi.
Contoh Bentuk Asesmen Formatif:
Diskusi kelas, mengamati partisipasi siswa, kemampuan
mengemukakan pendapat, dan berpikir kritis.
Kuis singkat/pertanyaan lisan, untuk mengonfirmasi pemahaman siswa
terhadap materi yang baru saja diajarkan.
Jurnal refleksi, siswa menuliskan pemahaman, kesulitan, dan apa yang
mereka pelajari dari suatu sesi atau topik.
Observasi, guru mengamati perilaku, interaksi, dan partisipasi siswa
selama kegiatan belajar (misalnya saat praktik, kerja kelompok).
Penugasan (tidak dinilai secara sumatif), tugas-tugas kecil yang
diberikan untuk melatih keterampilan atau mengaplikasikan konsep.
Asesmen diri (self-assessment) dan asesmen antarteman (peer-
assessment), siswa menilai pekerjaan mereka sendiri atau teman sebaya
berdasarkan kriteria tertentu.
2) Asesmen Sumatif
Asesmen sumatif adalah penilaian yang dilakukan di akhir proses
pembelajaran untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran siswa
secara keseluruhan. Ini adalah evaluasi akhir yang dilakukan untuk
menentukan pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari dalam
suatu periode tertentu, seperti satu semester atau satu tahun ajaran. Hasil
dari asesmen sumatif digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan
siswa terhadap materi dan dapat menjadi dasar untuk menentukan
kenaikan kelas atau kelulusan.
Berdasarkan tujuan asesmen sumatif, maka asesman sumatif dapa
dilaksanakan pada waktu :
Di akhir lingkup materi/bab, misalnya setelah seluruh materi selesai
diajarkan.
Akhir semester/akhir fase (Ujian Akhir Semester/Tahun), untuk
mengukur keseluruhan pemahaman dan kompetensi siswa setelah
periode pembelajaran yang panjang.
Dalam asesmen sumatif, pihak yang terlibat adalah siswa, guru, dan
sekolah atau pihak yang berwenang. Asesmen sumatif dilakukan untuk
mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran pada akhir suatu periode,
seperti akhir semester atau akhir program.
Asesmen sumatif dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal
berikut :
a. Sumatif dilakukan pada akhir lingkup materi untuk mengukur
kompetensi yang dikehendaki dalam tujuan pembelajaran dan pada
akhir semester.
b. Pendidik dapat menggunakan berbagai teknik seperti portofolio,
performa (kinerja, produk, projek, portofolio), maupun tes.
c. Hasil sumatif dapat ditindaklanjuti dengan memberikan umpan balik
atau melakukan intervensi kepada peserta didik maupun proses
pembelajaran yang telah dilakukan.
d. Pengolahan hasil asesmen dilakukan dengan menganalisis secara
kuantitatif dan/atau kualitatif terhadap hasil asesmen. Hasil asesmen
untuk setiap Tujuan Pembelajaran diperoleh melalui data kualitatif
(hasil amatan atau rubrik) maupun data kuantitatif (berupa angka).
Data-data ini diperoleh dengan membandingkan pencapaian hasil
belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan
pembelajaran, baik pada capaian pembelajaran di akhir fase, maupun
tujuan-tujuan pembelajaran turunannya.
e. Asesmen sumatif dilaksanakan secara periodik setiap selesai satu
atau lebih tujuan pembelajaran. Hasil asesmen perlu diolah menjadi
capaian dari tujuan pembelajaran setiap peserta didik. Pendidik dapat
menggunakan data kualitatif sebagai hasil asesmen tujuan
pemeblajaran peserta didik. Namun, dapat juga menggunakan data
kuantitaif dan mendsikripsikannya secara kualitatif. Pendidik diberi
keleluasaan untuk mengolah data kuantitatif, baik secara rerata
maupun proporsional.
f. Capaian tujuan pembelajaran peserta didik menjadi bahan yang
diolah menjadi nilai akhir mata pelajaran dalam kurun waktu
pelaporan (biasanya satu semester). Untuk mendapatkan nilai
akhir mata pelajaran tersebut, data kuantitatif langsung diolah,
sedangkan untuk deskripsi, pendidik dapat memberikan penjelasan
mengenai kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik, mana
kompetensi yang belum dikuasai, dan dapat ditambahkan tindak
lanjut secara ringkas bila ada.
g. Pengolahan hasil asesmen untuk Rapor dilakukan dengan
memanfaatkan hasil formatif dan sumatif. Terdapat 2 jenis data, yaitu
data hasil asesmen yang berupa angka (kuantitatif) serta data hasil
asesmen yang berupa narasi (kualitatif). Pengolahan hasil asesmen
dalam bentuk angka (kuantitatif) didasarkan hanya pada hasil
asesmen sumatif, sementara asesmen formatif sebagaimana
diuraikan sebelumnya, berupa data atau informasi yang bersifat
kualitatif, digunakan sebagai umpan balik untuk perbaikan
pembelajaran sekaligus sebagai bahan pertimbangan menyusun
deskripsi capaian kompetensi.
h. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan kriteria
kenaikan kelas dan kriteria kelulusan. Penentuan kenaikan kelas dan
kelulusan dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan
belajar yang mencerminkan pencapaian peserta didik pada semua
mata pelajaran dan ekstrakurikuler serta prestasi lain selama 1 (satu)
tahun ajaran. Untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik
sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dapat berdasarkan penilaian
sumatif. Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik untuk
kenaikan kelas dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil
belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan
pembelajaran.
Pembelajaran terdiferensiasi sesuai tahap capaian peserta didik
menjadi salah satu praktik yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka.
Penggunaan fase dalam Capaian Pembelajaran adalah salah satu alasan
mengapa peserta didik dapat terus naik kelas bersama teman- teman
sebayanya meskipun ia dinilai belum sepenuhnya mencapai kompetensi
yang ditetapkan dalam Capaian Pembelajaran di fase sebelumnya atau
tujuan pembelajaran yang ditargetkan untuk dicapai pada kelas tersebut.
Penetapan Satuan Pendidikan Pelaksana TKA ada dalam
Kepmendikdasmen No.95 Tahun 2025 Tentang TKA,antara lain:
1. Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal,
nonformal, dan informal yang terdaftar pada Data Pokok Pendidikan
(Dapodik) atau Education Management Information System (EMIS) yang
memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dapat melaksanakan
TKA.
2. Pelaksana TKA merupakan satuan pendidikan terakreditasi yang
ditetapkan oleh Kementerian dengan mempertimbangkan aspekaspek lain
untuk penetapan satuan pendidikan pelaksana TKA.
3. Penggabungan satuan pendidikan yang belum/tidak terakreditasi pada
satuan pendidikan yang terakreditasi, dituangkan dalam surat keputusan
yang diterbitkan oleh penyelenggara tingkat daerah dan mengirimkannya
ke satuan pendidikan pelaksana TKA.
4. Satuan pendidikan sebagai pelaksana TKA dapat ditetapkan menjadi
lokasi pelaksanaan TKA dengan kriteria:
a. memiliki infrastruktur yang memadai (listrik, komputer, dan jaringan
internet); dan
b. memiliki proktor dan teknisi yang berpengalaman dalam
melaksanakan asesmen terstandar.
2. Asesmen Kokurikuler
Asesmen kokurikuler adalah penilaian komprehensif terhadap kegiatan
di luar kelas yang mendukung pembelajaran intrakurikuler, dengan fokus
pada penguatan pemahaman, pengembangan karakter, dan keterampilan
siswa.
Assessment kokurikuler relevan dengan Kurikulum Merdeka karena
dapat:
1. Mengukur kemampuan siswa secara holistik
2. Menilai kemampuan siswa dalam mengintegrasikan pengetahuan dan
keterampilan
3. Memberikan gambaran tentang perkembangan siswa secara menyeluruh
Kegiatan kokurikuler dalam asesmen kokurikuler dapat meliputi:
1. Pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan pembiasaan lainnya.
2. Proyek kolaboratif: Siswa bekerja sama dalam proyek yang memadukan
pengetahuan dan keterampilan dari berbagai mata pelajaran.
3. Kegiatan komunitas: Siswa terlibat dalam kegiatan sosial atau komunitas
yang mengembangkan keterampilan dan karakter.
4. Kompetisi: Siswa berpartisipasi dalam kompetisi yang mengembangkan
keterampilan dan kemampuan.
5. Kegiatan kepemimpinan: Siswa mengambil peran kepemimpinan dalam
kegiatan sekolah atau komunitas.
Tujuan asesmen kokurikuler adalah:
1. Mengukur kemampuan siswa secara holistik, tidak hanya akademis.
2. Menilai keterampilan dan karakter siswa, seperti kepemimpinan, kerja
sama, dan komunikasi.
3. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa dalam berbagai aspek.
4. Memberikan gambaran tentang perkembangan siswa secara menyeluruh.
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan siswa.
Dengan demikian, asesmen kokurikuler dapat membantu guru dan
sekolah memahami kemampuan siswa secara lebih komprehensif dan
memberikan dukungan yang tepat untuk pengembangan mereka.
Pentingnya pelaksanaan asesmen kokurikuler:
1. Mengukur kemampuan holistik: Asesmen kokurikuler dapat mengukur
kemampuan siswa secara menyeluruh, tidak hanya akademis.
2. Mengembangkan karakter: Asesmen kokurikuler dapat membantu
mengembangkan karakter siswa, seperti kepemimpinan, kerja sama, dan
komunikasi.
3. Meningkatkan kualitas pembelajaran: Asesmen kokurikuler dapat
membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memberikan
gambaran tentang perkembangan siswa.
4. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan: Asesmen kokurikuler dapat
membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa, sehingga
dapat diberikan dukungan yang tepat.
5. Mempersiapkan siswa untuk masa depan: Asesmen kokurikuler dapat
membantu mempersiapkan siswa untuk masa depan dengan
mengembangkan keterampilan dan karakter yang dibutuhkan.
Dengan demikian, pelaksanaan asesmen kokurikuler sangat penting
untuk membantu siswa berkembang secara menyeluruh dan menjadi
individu yang kompeten dan berkarakter.
Jenis asesmen kokurikuler:
1. Observasi: Guru mengamati siswa selama kegiatan kokurikuler untuk
menilai kemampuan dan karakter mereka.
2. Portofolio: Siswa mengumpulkan hasil karya dan pengalaman mereka
dalam kegiatan kokurikuler untuk dinilai.
3. Penilaian diri: Siswa menilai sendiri kemampuan dan karakter mereka
dalam kegiatan kokurikuler.
4. Penilaian teman: Siswa menilai kemampuan dan karakter teman mereka
dalam kegiatan kokurikuler.
5. Proyek: Siswa mengerjakan proyek yang memadukan pengetahuan dan
keterampilan dari berbagai mata pelajaran.
6. Presentasi: Siswa mempresentasikan hasil karya atau proyek mereka
dalam kegiatan kokurikuler.
Pelaksanaan asesmen kokurikuler dapat dilakukan pada:
1. Awal kegiatan: Untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan
menetapkan tujuan.
2. Selama kegiatan: Untuk memantau perkembangan siswa dan
memberikan umpan balik.
3. Akhir kegiatan: Untuk mengevaluasi hasil dan dampak kegiatan
kokurikuler.
Pelaksanaan asesmen kokurikuler melibatkan:
1. Guru: Guru yang mengampu kegiatan kokurikuler dan melakukan
asesmen.
2. Siswa: Siswa yang menjadi objek asesmen dan juga dapat melakukan
penilaian diri dan teman.
3. Pembimbing: Pembimbing kegiatan kokurikuler yang membantu guru
dalam melakukan asesmen.
4. Kepala sekolah: Kepala sekolah yang memantau dan mengevaluasi
pelaksanaan asesmen kokurikuler.
5. Wali kelas: Wali kelas yang dapat membantu memantau perkembangan
siswa dan memberikan informasi kepada guru.
Prosedur pelaksanaan asesmen kokurikuler:
1. Perencanaan: Guru dan kepala sekolah merencanakan asesmen
kokurikuler, termasuk tujuan, metode, dan kriteria penilaian.
2. Pengumpulan data: Guru mengumpulkan data tentang kemampuan dan
karakter siswa melalui observasi, portofolio, penilaian diri, dan
penilaian teman.
3. Analisis data: Guru menganalisis data yang telah dikumpulkan untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa.
4. Penilaian: Guru melakukan penilaian berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan dan memberikan umpan balik kepada siswa.
5. Pelaporan: Guru melaporkan hasil asesmen kepada kepala sekolah,
orang tua, dan siswa.
6. Refleksi: Guru dan siswa melakukan refleksi tentang hasil asesmen
untuk meningkatkan kualitas kegiatan kokurikuler.
3. Asesmen Ekstrakurikuler
Asesmen ekstrakurikuler adalah proses sistematis untuk
mengevaluasi dan memahami partisipasi, kemajuan, serta dampak dari
kegiatan di luar kurikulum formal sekolah terhadap siswa. Asesmen ini bukan
sekadar memberikan nilai, melainkan berfokus pada pengembangan holistik
dan menyeluruh siswa. Metode yang digunakan dalam asesmen ini bisa
bervariasi, termasuk observasi langsung, wawancara, peninjauan portofolio
karya siswa, jurnal reflektif, atau kuesioner. Hasil asesmen ini kemudian
dapat digunakan untuk memberikan pengakuan atas pencapaian siswa,
membantu mereka dalam memilih kegiatan yang paling sesuai dengan minat
dan bakatnya, atau bahkan menyesuaikan program ekstrakurikuler agar lebih
efektif dan berdampak positif.
Adapun relevansi karakteristik kurikulum Merdeka dengan
asesmen ekstra kurikuler diantaranya:
1. Berkaitan dengan karakteristik kurikulum merdeka yang bersifat fleksibel
dan berpusat pada siswa, asesmen ekstrakurikuler harus adaptif dan
beragam, mencerminkan keberagaman jenis kegiatan dan minat siswa. Ini
mendorong penggunaan metode asesmen yang lebih personal dan
kualitatif, seperti observasi langsung, jurnal reflektif siswa, portofolio, dan
umpan balik dari pembina/pelatih, daripada sekadar penilaian kuantitatif.
Tujuannya adalah mendukung pengembangan individu, bukan hanya
mengukur pencapaian standar seragam.
2. Berkaitan dengan karakteristik kurikulum merdeka yang menekankan
pembelajaran kontekstual dan berbasis pengalaman, kegiatan
ekstrakurikuler seringkali merupakan arena paling autentik untuk
pembelajaran berbasis pengalaman. Asesmen di sini akan fokus pada
bagaimana siswa menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi
nyata, mengatasi tantangan, dan berinteraksi dengan lingkungan. Penilaian
kinerja dalam sebuah pertunjukan, proyek sosial, atau pertandingan
olahraga menjadi lebih relevan daripada tes tertulis.
3. Berkaitan dengan karakteristik kurikulum merdeka yang menekankan
pentingnya kolaborasi dan kemitraan, asesmen ekstrakurikuler dapat
melibatkan berbagai pihak, termasuk pembina/pelatih (bahkan dari luar
sekolah), orang tua, dan rekan siswa. Ini menciptakan gambaran yang
lebih komprehensif tentang perkembangan siswa di luar kelas.
Berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di SD Negeri
Jatimulya 02 diantaranya pramuka, karate, tenis meja, dan hadroh (seni kesenian
musik Islami). Tujuan diadakanya asesmen ekstrakurikuler adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan mengembangkan potensi, bakat, dan minat siswa;
2. Mengukur perkembangan keterampilan non-akademik;
3. Membentuk dan menguatkan karakter siswa;
4. Memberikan umpan balik konstruktif bagi siswa;
5. Menjadi dasar perencanaan dan perbaikan program ekstrakurikuler;
6. Mendukung pengambilan keputusan dan penempatan siswa, serta
7. Meningkatkan keterlibatan dan apresiasi orang tua.
Beberapa alasan utama mengapa asesmen ekstrakurikuler penting untuk
dilaksanakan yaitu pengembangan potensi optimal siswa, pembentukan karakter
dan keterampilan abad 21, umpan balik yang membangun untuk siswa, dasar
pengambilan keputusan program yang lebih baik: pengakuan atas prestasi non-
akademik, dan juga keterlibatan orang tua yang lebih bermakna.
Jenis asesmen ekstra kurikuler yang diterapkan di SD Negeri Jatimulya 02
berupa asesmen formatif dan asesmen sumatif. Asesmen formatif meliputi
observasi langsung, Jurnal Refleksi, dan Portofolio. Sedangkan asesmen sumatif
terdiri dari presentasi, penilaian produk, serta tes tertulis dan lisan. Asesmen
formatif dilakukan selama proses kegiatan berlangsung dengan tujuan untuk
memantau perkembangan siswa dan memberikan umpan balik segera. Ini
membantu siswa memahami di mana mereka perlu meningkatkan diri dan
membantu pembimbing atau pelatih menyesuaikan metode pengajaran.
Sedangkan asesmen sumatif dilakukan pada akhir periode tertentu (misalnya,
akhir semester, akhir program) untuk mengevaluasi hasil akhir dari partisipasi
siswa dalam ekstrakurikuler.
Asesmen ekstrakurikuler melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran
penting dalam memastikan penilaian yang komprehensif, relevan, dan mendukung
perkembangan siswa. Kami melibatkan siswa, pelatih ekstrakurikuler, . guru
kelas, dan orang tua. Siswa menempati peran utama sebagai objek dan subjek
asesmen, melakukan asesmen diri (self-assessment), melakukan asesmen sejawat
(peer assessment), serta berperan dalam proses refleksi.
Pelatih ekstrakurikuler memiliki peran utama sebagai penilai langsung dan
fasilitator. Pembimbing adalah orang yang paling dekat dengan siswa selama
kegiatan berlangsung. Adapun peran pelatih ekstrakurikuler mengembangkan
kriteria asesmen, melakukan observasi, memberikan umpan balik formatif ,
melakukan penilaian sumatif , serta mendokumentasikan perkembangan siswa.
Sementara itu, guru kelas memiliki peran utama sebagai sosok yang memiliki
gambaran menyeluruh tentang siswa dan dapat melihat bagaimana ekstrakurikuler
mempengaruhi kinerja akademik dan perilaku siswa di kelas, menyediakan
informasi kontekstual, serta menerima laporan asesmen. Sementara itu, orang tua
berperan memberikan dukungan, memotivasi, dan berpartisipasi dalam proses
perkembangan anak.
Asesmen ekstrakurikuler bertujuan untuk mengukur perkembangan dan
pencapaian siswa dalam kegiatan non-akademik. Prosedurnya perlu dirancang
dengan cermat agar objektif, komprehensif, dan memberikan umpan balik yang
bermanfaat. Prosedur pelaksanaan asesmen ekstrakurikuler terdiri dari 4 tahap,
yaitu perencanaan asesmen, pelaksanaan asesmen, pengolahan dan analisis hasil
asesmen, serta pelaporan dan tindak lanjut.
Perencanaan Asesmen merupakan tahap awal ini krusial untuk memastikan
asesmen berjalan efektif. Apa yang ingin diukur? Apakah untuk mengetahui
tingkat partisipasi, penguasaan keterampilan, pengembangan karakter, atau
kombinasi dari semuanya? merupakan pertanyaan awal sebagai bagian dari
perencanaan asesmen. Memilih jenis asesmen merupakan bagian dari perencanaan
asesmen. Pilihan bisa beragam, seperti observasi, penilaian diri (self-assessment),
penilaian sejawat (peer-assessment), portofolio, wawancara, dan tes
keterampilan/unjuk kerja. menyusun indikator dan rubrik penilaian, menentukan
waktu dan frekuensi asesmen, serta menyiapkan instrumen asesmen, masih
merupakan bagian dari perencanaan asesmen.
Pelaksanaan Asesmen dilakukan sesuai rencana yang telah ditetapkan,
menginformasikan kepada siswa, melakukan pengumpulan data, serta
mendokumentasikan hasil asesmen. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya
adalah mengolah dan menganalisisnya. Caranya dengan mengumpulkan dan
mengorganisir data dan menganalisis data. Jika menggunakan rubrik dengan skor,
hitung skor total atau rata-rata, jika menggunakan penilaian kualitatif (observasi,
wawancara), identifikasi pola, kekuatan, dan area yang perlu ditingkatkan.
Kemudian dlanjutkan dengan menyimpulkan hasil asesmen.
Pelaporan dan tindak lanjut dilakukan dengan menyampaikan umpan
balikkepada siswa, kepada orang tua/wali dan kepada kepada pihak sekolah.
Tindak lanjut dapat berupa menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk
meningkatkan kualitas program ekstrakurikuler atau memberikan dukungan
individual kepada siswa. Ini bisa berupa penyesuaian materi, metode pelatihan,
atau memberikan kesempatan lebih bagi siswa untuk mengembangkan potensi
mereka. Sementara itu, Evaluasi program dilaksanakan dengan menggunakan
hasil asesmen untuk mengevaluasi efektivitas program ekstrakurikuler secara
keseluruhan. Apakah tujuan tercapai? Apa yang bisa diperbaiki di masa depan?
Dengan mengikuti prosedur yang terstruktur ini, asesmen ekstrakurikuler
tidak hanya menjadi formalitas, tetapi juga alat yang kuat untuk mendukung
perkembangan holistik siswa dan meningkatkan kualitas program ekstrakurikuler
di sekolah.