0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan25 halaman

Teknik Dasar Generator dan Genset

Dokumen ini membahas tentang teknik dasar generator, termasuk komponen genset, engine diesel, dan prinsip kerja generator arus bolak-balik. Terdapat penjelasan mengenai karakteristik beban, konstruksi generator, serta sistem eksitasi yang digunakan untuk menjaga tegangan generator. Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem eksitasi dengan sikat dan tanpa sikat, serta keuntungan dari masing-masing sistem.

Diunggah oleh

andikanugroho1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan25 halaman

Teknik Dasar Generator dan Genset

Dokumen ini membahas tentang teknik dasar generator, termasuk komponen genset, engine diesel, dan prinsip kerja generator arus bolak-balik. Terdapat penjelasan mengenai karakteristik beban, konstruksi generator, serta sistem eksitasi yang digunakan untuk menjaga tegangan generator. Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem eksitasi dengan sikat dan tanpa sikat, serta keuntungan dari masing-masing sistem.

Diunggah oleh

andikanugroho1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

TEKNIK DASAR GENERATOR

A. Genset
Genset atau yang kita kenal generator set terdiri dari banyak komponen. Termasuk engine sebagai
sumber energi mekanis (horse power) melalui putaran sebuah poros, AC Generator yang
mengkonversikan energi mekanis menjadi energi listrik (kilowatts), control system sebagai pengontrol
kecepatan engine (frekuensi) dan respon, tegangan generator, dan system proteksi.

Gambar 1 Genset

B. Engine Diesel
Engine diesel atau motor diesel adalah sejenis motor bakar pembakaran dalam (internal combustion
engine), yang dimana pembakaran dalam yang dimaksud adalah bahan bakar dan udara, terbakar di
dalam ruang bakar, di dalam silinder, yaitu ruangan yang dibatasi oleh dinding silinder, piston dan kepala
silinder.

Pada Engine diesel dipakai bahan bakar minyak solar atau minyak diesel. Bahan bakar dan udara
dimasukkan berturut-turut ke dalam silinder. Mula-mula udara bersih, terlebih dulu dimasukkan ke
dalam katub isap, kemudian udara tersebut di komplimer (dimampatkan) oleh piston ke atas, hingga
tekanan udara naik (35-40 kg/cm2) akibatnya suhu menjadi tinggi, lebih tinggi dari pada suhu nyala
bahan bakar. Kemudian bahan bakar dimasukkan ke dalam silinder dan bahan bakar mengalami proses
pengkabutan dan berbentuk gas, gas tersebut bersentuhan dan bercampur dengan udara panas yang
ada dalam silinder dan terjadilah pembakaran dengan suhu sekitar 1200 – 16000 C.

TRAINING CENTER 1
Gambar 2 Penampang tengah ruang bakar mesin diesel
Pada prinsipnya siklus diesel secara ideal mirip siklus otto akan tetapi proses pemasukan kalornya
dilakukan dengan tekanan konstan.

C. Pengertian Generator Arus Bolak-balik

Generator arus bolak-balik berfungsi mengubah tenaga mekanis menjadi tenaga listrik arus bolak-balik.
Generator Arus Bolak-balik sering disebut juga se bagai alternator, generator AC (alternating current),
atau generator sinkron. Dikatakan generator sinkron karena jumlah putaran rotornya sama dengan
jumlah putaran medan magnet pada stator 1500 rpm untuk menghasilkan frekuensi 50 Hz (genset high
speed). Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub-kutub magnet yang
berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan putar pada stator. Mesin ini tidak dapat
dijalankan sendiri karena kutub-kutub rotor tidak dapat tiba-tiba mengikuti kecepatan medan putar pada
waktu sakelar terhubung dengan jala-jala. Generator arus bolak-balik dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Generator arus bolak-balik 1 fasa
b. Generator arus bolak-balik 3 fasa

D. Karakteristik Beban dan Faktor Pusat Listrik

Mengingat bahwa tenaga listrik tidak dapat disimpan, maka perlu jaminan agar daya yang dibangkitkan
oleh generator sama dengan kebutuhan (beban). Pada umumnya beban selalu berubah sehingga daya
yang dihasilkan oleh generator selalu disesuaikan dengan beban yang berubah-ubah tersebut. Demand
factor adalah perbandingan antara beban puncak dengan beban terpasang pada suatu beban listrik.
Besar demand factor dapat diketahui dari persamaan dibawah ini:

TRAINING CENTER 2
Load factor adalah perbandingan antara daya rata-rata dalam jangka waktu tertentu dan jumlah
kapasitas terpasang pada suatu pusat listrik. Besar load factor dapat diketahui dari persamaan dibawah
ini:

Faktor pusat listrik menunjukkan bagaimana peralatan listrik telah dimanfaatkan, factor ini dipakai
sebagai standar dalam membuat penilaian ekonomis dari pusat listrik. Faktor ini dapat juga dipakai
untuk menunjukkan dan menentukan ketepatan kapasitas dari peralatan. Beban pada suatu sistem
tenaga terjadi karena adanya permintaan tenaga yang sifatnya berbeda-beda. Dalam suatu sistem
tenaga kebutuhan listrik untuk penerangan besar, variasi beban dalam satu hari juga besar, dengan
puncaknya pada waktu siang – malam hari.

E . Konstruksi Generator Arus Bolak-balik

Konstruksi generator arus bolak-balik ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu : (1) stator, yakni
bagian diam yang mengeluarkan tegangan bolak balik, dan (2) rotor, yakni bagian bergerak yang
menghasilkan medan magnit yang menginduksikan ke stator. Stator terdiri dari badan generator yang
terbuat dari baja yang berfungsi melindungi bagian dalam generator, kotak terminal dan name plate
pada generator. Inti stator yang terbuat dari bahan ferromagnetik yang berlapis-lapis dan terdapat alur-
alur tempat meletakkan lilitan stator. Lilitan stator yang merupakan tempat untuk menghasilkan
tegangan. Sedangkan, rotor berbentuk kutub sepatu (salient) atau kutub dengan celah udara sama rata
(rotor silinder). Konstruksi dari generator sinkron ini dapat dilihat pada Gambar 2

Gambar 3 Konstruksi Generator Singkron

TRAINING CENTER 3
F. Prinsip Kerja Generator Arus Bolak-balik

Prinsip dasar generator arus bolak-balik menggunakan hukum Faraday yang menyatakan jika
sebatang penghantar berada pada medan magnet yang berubah-ubah, maka pada penghantar tersebut
akan terbentuk gaya gerak listrik.

Gambar 4 Prinsip Generator AC

Besar tegangan generator bergantung pada :


1. Kecepatan putaran (V)
2. Jumlah kawat pada kumparan yang memotong fluk (L)
3. Banyaknya fluk magnet yang dibangkitkan oleh medan magnet (B)

Prinsip kerja generator arus bolak-balik tiga fasa (alternator) pada dasarnya sama dengan generator arus
bolak-balik satu fasa, akan tetapi pada generator tiga fasa memiliki tiga lilitan yang sama dan tiga
tegangan outputnya berbeda fasa 1200 pada masing-masing fasa seperti ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 5 Skema Lilitan Stator Generator Tiga Fasa

Generator tiga phasa lebih handal karena konduktor dalam sistem tiga phasa hanya
membutuhkan ¾ tembaga dari sistem satu phasa untuk menyalurkan daya yang sama. Effisiensi
transmisi tiga phasa juga lebih baik dibanding sistem dua phasa. Selanjutnya, sistem tiga phasa
digunakan pada stator (armatur) generator karena lebih efektif dan ukurannya lebih kecil jika
dibandingkan sistem satu atau dua phasa dengan daya yang sama. Sistem tiga phasa juga lebih ekonomis
dan efisien.
TRAINING CENTER 4
Gambar 6 Gelombang 3 phasa

G. Jumlah Kutub
Jumlah kutub generator arus bolak-balik tergantung dari kecepatan rotor dan frekuensi dari ggl
yang dibangkitkan. Hubungan tersebut dapat ditentukan dengan persamaan :

Dimana : f = frekuensi tegangan (Hz)


p = jumlah kutub pada rotor
n = kecepatan rotor (rpm)

Gambar 7 Kutub pada Main Rotor


Bentuk, output engine (sharf) dihubungkan langsung dalam satu poros dengan alternator (1:1 rasio
kecepatan). Dengan desain yang seperti itu maka perubahan kecepatan secara langsung akan
mempengaruhi perubahan frekuensi.

TRAINING CENTER 5
H. Komponen generator
Gambar dibawah menunjukan beberapa komponen alternator yang dapat membantu memudahkan
dalam mempelajari proses eksitasi dan power yang dihasilkan oleh alternator.

Gambar 8 Kontruksi komponen alternator


1. Exciter Stator
Inti besi pada exciter stator menyimpan sedikit kemagnetan dari sisa hasil proses pengoprasian
genset. Kemagnetan yang disimpan pada exciter stator disebut dengan residu magnet, residu magnet
digunakan sebagai initial startup selama alternator beroprasi.

Gambar 9 Exciter Stator


Exciter stator menggunakan gulungan 1 fasa yang menerima arus DC dari AVR untuk membangkitkan
medan magnet dan selanjutnya diinduksikan kedalam gulungan exciter rotor, tujuan exciter stator
digunakan sebagai sumber induksi magnet pada system eksitasi.
2. Exciter Rotor
Merupakan Gulungan 3 fasa yang terhubung secara star , berfungsi untuk menerima tegangan
induksi AC dari exciter stator dan diteruskan ke gulungan main rotor melalui penyearah (rectifier-
dioda set)

TRAINING CENTER 6
Gambar 10 Exciter Stator
3. Rectifier
Merupakan jembatan penyearah 3 fasa gelombang penuh yang terdiri atas 6 buah dioda (3 forward
dan 3 reverse) dan surge suppressor/varistor Dioda set berfungsi menyearahkan arus AC dari exciter
rotor menjadi aruc DC dan dialirkan ke main rotor.

Rectifi
er
-
08-05
PS

05
Z500
D
PD

SHAFT
Dioda
05-
0PS

05
09-
Z50
D
PD

Rever
Varis
se Rectifie
tor Gambar 11rRectifier
Dioda
Forwar
d
4. Permanen Magnet Generator
Permanen magnet generator terdiri dari PMG rotor yang merupakan magnet permanen dan
berfungsi menginduksikan medan magnet kedalam gulungan PMG Stator.
PMG stator merupakan gulungan 3 fasa yang berfungsi untuk mengeluarkan tegangan AC untuk
mencatu AVR. Dengan menggunakan sumber langsung dari PMG memungkinkan pemakaian sumber
tagangan yang lebih stabil untuk mencatu AVR serta tidak membutuhkan teknik flashing lagi untuk
membangkitkan residu magnet pada exciter stator.

Gambar 12 Permanen Magnet Generator


TRAINING CENTER 7
5. AVR (Automatic Voltage Regulator)
AVR (Automatic Voltage Regulator) merupakan peralatan yang digunkan untuk menjaga tegangan
generator agar tetap konstan pada saat terjadi perubahan beban. Seperti yang telah kita ketahui
bahwa perubahan beban dapat mempengaruhi nilai tegangan pada generator. Cara kerja dari AVR
adalah mengatur nilai eksitasi atau penguatan medan pada generator. Apabila tegangan generator
turun maka AVR akan menaikkan nilai eksitasi sedangkan apabila tegangan generator naik maka AVR
akan menurunkan nilai eksitasi.

Gambar 13 SX4602 phase sensing

6. AVR Pengendalian dan Operasi


AVR dapat dianggap sebagai saklar kontrol elektronik, memberikan pulsa arus DC ke dalam exciter
stator. DC output terhubung ke exciter stator dari F1 dan F2 (sebelumnya X dan XX), ingat
polaritasnya jangan sampai terbalik. Listrik AC yang ditimbulkan dari main stator antara 170-240 V
(tegangan setengah line) atau, daya dapat dipasok dari Permanent Magnet Generator. Entah dua
fase atau tiga fase yang digunakan untuk AVR sebagai umpan balik dari main stator.

Gambar 14 AVR dalam alternator

TRAINING CENTER 8
Gambar 15 Rangkain AVR Tipe SX450

I. Sistem Eksitasi (Penguatan generator)


1. Sistem Eksitasi
Sistem eksitasi adalah sistem pasokan listrik DC sebagai penguatan pada generator listrik atau sebagai
pembangkit medan magnet, sehingga suatu generator dapat menghasilkan energi listrik dengan besar
tegangan keluaran generator bergantung pada besarnya arus eksitasinya. Sistem ini merupakan sistem
yang vital pada proses pembangkitan listrik dan pada perkembangannya, sistem Eksitasi pada
generator listrik ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Sistem Eksitasi dengan menggunakan sikat (brush excitation)
2. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation).

2. Sistem Eksitasi dengan sikat


Pada sistem eksitasi menggunakan sikat, sumber tenaga listriknya berasal dari control system. Jika
menggunakan sumber listrik listrik yang berasal dari generator AC atau menggunakan Permanent
Magnet Generator (PMG) medan magnetnya adalah magnet permanent. Dalam control system,
tegangan listrik arus bolak balik dari main stator diubah atau disearahkan menjadi tegangan arus
searah untuk mengontrol kumparan medan eksiter utama (main rotor). Untuk mengalirkan arus
eksitasi ke main rotor generator menggunakan slip ring dan sikat arang.

TRAINING CENTER 9
Gambar 16 Sistem Eksitasi dengan sikat

SLIPRINGS - Prinsip kerja generator dengan menggunakan brush adalah dengan cara mengalirkan arus
eksitasi melalui cincin brush dari control system untuk membangkitkan medan elektromagnetik pada
main rotor sehingga membentuk polaritas magnet, ketika sharf berputar, fluks magnet ini akan
terinduksi dengan main stator (gulungan kawat 3 phasa) sehingga pada gulungan main stator akan
terbangkit tegangan AC Bolak balik, tegangan yang dihasilkan selain digunakan sebagai supply untuk
control system juga digunakan untuk signal sebagai referensi dan mengontrol agar generator selalu
mengeluarkan tegangan yang stabil. Pada generator yang mempunyai kapasitas kecil system ini masih
banyak digunakan.

3. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation)


Penggunaan sikat atau slip ring untuk menyalurkan arus excitasi ke rotor generator mempunyai
kelemahan karena besarnya arus yang mampu dialirkan pada sikat arang relatif kecil. Untuk mengatasi
keterbatasan sikat arang, digunakan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation.
Keuntungan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation), antara lain adalah:
a. Energi yang diperlukan untuk Eksitasi diperoleh dari poros utama (main shaft), sehingga
keandalannya tinggi
b. Biaya perawatan berkurang karena pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation) tidak
terdapat sikat, komutator dan slip ring.
c. Pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation) tidak terjadi kerusakan isolasi karena
melekatnya debu karbon pada farnish akibat sikat arang.
d. Mengurangi kerusakan ( trouble) akibat udara buruk (bad atmosfere) sebab semua peralatan
ditempatkan pada ruang tertutup
e. Selama operasi tidak diperlukan pengganti sikat, sehingga meningkatkan keandalan operasi
dapat berlangsung terus pada waktu yang lama.
f. Pemutus medan generator (Generator field breaker), field generator dan bus exciter atau kabel
tidak diperlukan lagi

TRAINING CENTER 10
Gambar 17 Sistem Eksitasi tanpa sikat
Prinsip kerja generator tanpa sikat dengan cara mengganti sikat dengan generator kecil, ini disebut
dengan exciter yang terdiri dari exciter stator (gulungan kawat 1 phasa) dan exciter rotor (gulungan
kawat 3 phasa). generator penguat kedua disebut main generator (penguat utama) yang terdiri dari
main rotor (gulungan 1 phasa) dan main stator (gulungan 3 phasa). Arus eksitasi berasal dari AVR
(Automatic Voltage Generator) yang sialirkan ke exciter stator, karena exciter stator merupakan
gulungan kawat maka ketika dialirkan arus listrik akan membentuk medan electromagnet. Kemudian
fluks magnet itu diinduksikan ke exciter rotor sehingga exciter Rotor menghasilkan arus AC bolak-balik
yang disearahkan dengan dioda yang berputar pada poros main stator (satu poros dengan generator
utama). Arus searah yang dihasilkan oleh dioda kemudian dialirkan ke main rotor sehingga main rotor
juga berubah menjadi magnet dan menginduksi fluks magnet ke main stator sehingga pada gulungan
main stator akan terbangkit tegangan AC Bolak balik, tegangan yang dihasilkan selain digunakan sebagai
supply untuk control system juga digunakan untuk signal sebagai referensi dan mengontrol agar
generator selalu mengeluarkan tegangan yang stabil. Pada generator yang mempunyai kapasitas besar
system ini masih banyak digunakan. Generator yang menggunakan system ini disebut juga generator self
excited.
4. Sistem Permanen Magnet Generator (PMG).

Gambar 18 Separately Excited (PMG)

TRAINING CENTER 11
Self exiced menggunakan tegangan dari main stator sebagai power supply untuk AVR (Automatic
Voltage Generator). Generator tipe ini memerlukan tegangan ekstrnal untuk membentuk kemagnetan
pada main stator saat generator baru mulai star-up/ generator kehilangan residu magnet.
Separatelly Exsited
Separately eksited hamper sama dengan self exsited, hanya saja untuk power supply ke AVR terpisah
sekarang menggunakan PMG (Permanen Magnet Generator). PMG menyediakan power untuk semuanya
diantaranya untuk power AVR dan juga untuk control system. AVR mendapatkan power yang tetap dari
PMG sehingga keadaannya lebih stabil, selain itu tegangan ramping juga lebih cepat serta tidak
memerlukan teganngan eksternal (battery) saat generator kehilangan residual magnetnya.

5. Pengaturan Tegangan pada masing-masing gulungan didalam alternator


Dari setiap komponen didalam alternator sebagian besar terbuat dari gulungan yang dililitkan pada inti
besi. Gambar dibawah menjelaskan tiap bagian yang dialiri arus listrik, baik itu tegangan AC dan
Tegangan DC

Gambar 19 Pengaturan Tegangan pada alternator

TRAINING CENTER 12
J. Paralel Generator
Paralelisasi adalah operasi sinkron dari dua atau lebih generator set yang terhubung bersama pada satu
bus untuk menyediakan energi listrik ke beban (lihat gambar di atas). paralel membuat dua atau lebih
generator set berfungsi seolah-olah mereka membuat satu genset yang besar. Sambil mempertahankan
frekuensi dan tegangan pada saluran BUS nya.

Gambar 20 Parallel Generator


Untuk melayani beban yang meningkat, ada kondisi dimana kita harus memparalel 2 atau lebih
generator dengan maksud menambah kapasitas daya dan dibutuhkan untuk menjaga kontinuitas
pelayanan apabila ada generator yang harus dimatikan misalnya untuk maintenance atau standby.
Adapun syarat parallel generator adalah:
• Tegangan (GGL) sesaat harus sama.
• Frekwensi harus sama
• Urutan fasa harus sama
• Fasa harus sama

Gambar 21 Sinkronisasi Manual

TRAINING CENTER 13
R, S, dan T adalah urutan fasa tegangan jala–jala. U, V, dan W adalah urutan fasa tegangan generator.
Saat memparalelkan, lampu L1 mati sedangkan L2 dan L3 nyala sama terangnya, dan keadaan ini
berlangsung agak lama. Posisi semua fasa sistem tegangan jala-jala berhimpit dengan semua fasa sistem
tegangan generator.

Gambar 22 Kondisi belum sinkron (kiri) dan telah sinkron (kanan)

Sehingga jika kita lihat dari bentuk gelombangnya seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 23 Bentuk Gelombang sinusoida saat proses paralell


Ada kontroler yang digunakan pada aplikasi generator guna mencocokan kecepatan dan phasa tegangan
sebelum memparalel dengan generator yang lain atau bus bar yang sedang online.

TRAINING CENTER 14
Gambar 24 Synchronizer
Selain proses sinkron dilakukan secara manual/automatis menggunakan modul, ada cara lain yang bisa
dilakukan yaitu dengan menggunakan droop kit. Seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 25 system parallel menggunakan droop kit

CT droop untuk kebutuhan sharing Kvarnya. CT droop dipasang disebagian lilitan phase. Hal ini
dimaksudkan pada saat parallel dengan genset lain. Pembagian daya Kvarnya sama pada daya Kw yang
sama. Hal ini dapat dilihat dari penunjukan cosphi yang relative sama. CT droop ini mengeluarkan arus
yang akan diperbandingkan dengan besaran tegangan sehingga terbaca sudut cos phi. Melalui proses
elektronik didalam AVR inilah antar kedua genset atau lebih Cosphinya akan diatur sama / seimbang

Gambar 26 droop kit

TRAINING CENTER 15
Droop kit digunakan sebagai penyeimbang tegangan antara dua generator yang ingin diparalelkan,
droop kit dipasang pada masing-masing generator pada salah satu phasanya dan dihubungkan pada
terminal s1 dan s2 pada terminal AVR pada masing-masing generator seperti gambar 27. Dengan sistem
yang seperti ini dimungkinkan tegangan antara kedua genetaror relative sama karena pada tiap
alternator dipasangkan AVR yang dihubungkan dengan exciter stator yang mana inputan dari Droop kit
(s1 & s2) digunakan sebagai referensi untuk mengatur system excitasi.

K. Pengaturan Tegangan

Pengaturan tegangan dari generator didefenisikan sebagai perubahan tegangan dari beban nol ke beban
penuh dengan menjaga eksitasi tetap dan putaran tetap. Pengaturan tegangan dinyatakan dalam persen
(%) dari tegangan nominal, dirumuskan sebagai berikut :

Karakteristik tegangan dari generator sinkron dapat dilihat pada gambar

Gambar 27 Karakteristik Tegangan


Untuk beban dengan faktor daya leading (kapasitif), maka tegangan saat dibebani akan naik, sehingga
diperoleh regulasi negatif. Untuk beban dengan faktor daya lagging, tegangan saat dibebani akan turun,
sehingga diperoleh regulasi positif.

L. Faktor Daya
Faktor daya atau disebut juga cosinus sudut (cos α) adalah perbandingan antara daya aktif dengan daya
semu. Adanya dan besarnya faktor daya pada sistem tegangan AC disebabkan oleh ada beban dan
besarnya tergantung dari karakteristiknya.

TRAINING CENTER 16
Gambar 28 Segitiga daya

Daya reaktif yang tinggi akan meningkatkan sudut ini dan sebagai hasilnya faktor daya akan menjadi
lebih rendah. Faktor daya (pf) selalu lebih kecil atau sama dengan satu. Secara teori, jika seluruh beban
daya memiliki pf = 1, maka daya maksimum yang ditransfer setara dengan kapasitas sistim
pendistribusian. Jika faktor daya sangat rendah maka kapasitas jaringan distribusi listrik menjadi
tertekan. Jadi, daya reaktif (VAR) harus serendah mungkin untuk keluaran daya aktif (W) yang sama
dalam rangka meminimalkan kebutuhan daya semu (VA). Faktor daya yang rendah merugikan karena
mengakibatkan arus beban tinggi. Pada sistem arus bolak-balik, daya listrik tidak sesederhana pada
sistem arus searah. Pada arus bolak-balik terdapat tiga jenis daya, yaitu daya semu, daya aktif, dan daya
reaktif.

Daya Semu (Apparent Power)


Atau disebut juga daya total yaitu penjumlahan daya aktif dan daya reaktif. Jadi daya inilah yang
dijadikan kapasitas daya maksimal suatu generator/daya yang dikeluarkan oleh generator. S = V.I (VA)
atau S = P2 + Q2

Daya Aktif (Real Power)


Adanya daya aktif (faktor P) disebabkan beban yang digunakan bersifat resistif seperti lampu pijar,
rheostat, load bank, pemanas, motor induksi berbeban berat, dan trafo berbeban tinggi, dll. Beban
resistif membuat phasa antara tegangan dan arus selalu sama (inphase) sehingga membuat pf = 1.
Adapun perhitungan daya aktif sebagai berikut:
1 phasa P = V x I x cos α (W) dimana Z = R
3 phasa P = 3 x VL-L x I L x cos α (W)

Gambar 29 Karakteristik phasa dan vektor pada beban resitif murni

TRAINING CENTER 17
Daya Reaktif (Reactive Power)
Pada dasarnya daya reaktif ini (faktor Q) disebabkan oleh 2 karakteristik beban yaitu beban induktif dan
kapasitif. Adanya beban induktif membuat perbedaan phase antara tegangan dan arus dimana arus
tertinggal terhadap tegangan atau disebut dengan pf lagging (positif pf). Sehingga membuat pf rendah
(pf < 1), atau induktif murni ia memiliki pf = 0 maka hanya ada daya reaktif saja. Contoh beban induktif
seperti motor induksi tanpa beban atau berbeban rendah, trafo berbeban rendah, ballast, dll.

Gambar 30 Karakteristik phasa dan vektor pada beban induktif murni


Sedangkan adanya beban kapasitiftif juga membuat perbedaan phase antara tegangan dan arus dimana
arus mendahului terhadap tegangan atau disebut dengan pf leading (negatif pf). Sehingga juga membuat
pf rendah (pf < 1), atau kapasitif murni ia memiliki pf = 0 maka hanya ada daya reaktif saja. Contoh
beban kapasitif seperti penghantar daya yang terlalu panjang, filter kapasitor, motor sinkron yang
kelebihan eksitasi, dll. Adapun perhitungan daya reaktif sebagai berikut:
1 phasa Q = V x I x sin α (VAR) Dimana jika lagging Z = jXL
3 phasa Q = 3 x VL-L x I L x sin α (VAR) leading Z = -jXC

Gambar 31 Karakteristik phasa dan vektor pada beban kapasitif murni

M. Generator Tipe Permanent Magnet (PMG)


Generator jenis ini disebut juga PMG generator cara kerjanya memanfaatkan pembangkitan awal
dari permanent magnet yang berada pada rotor yang mana medannya akan menginduksikan PMG
stator yang akan menghasilkan tegangan AC 3 phasa sebagai sinyal ke voltage regulator bahwa
generator telah diputar. Kemudian ia memberikan arus ke field exciter berupa tegangan DC untuk

TRAINING CENTER 18
membuat magnet yang medannya diterima oleh exciter stator. Karena ia terinduksi maka akan
menghasilkan tegangan AC 3 phasa yang akan disearahkan oleh Rotating Diode menjadi tegangan DC
yang disalurkan ke Main Rotor melalui rongga di sepanjang inti shaft. Akibatnya, Main Field membuat
inti magnet yang medannya menginduksikan Main stator sehingga menghasilkan tegangan AC 3 phasa.
Output tegangannya akan dirasakan oleh voltage regulator. Jika tegangan output-nya masih di bawah
nilai set point nya maka ia akan menaikan arus DC menuju Field Exciter dan sebaliknya jika melebihi
maka ia akan menurunkan arus.

Gambar 32 Konstruksi generator tipe PMG

N. Generator Tipe Self Excited (SE)


Generator jenis ini disebut juga double generator cara kerjanya memanfaatkan pembangkitan awal dari
magnet residual yang tersimpan pada inti Main Rotor yang akan menginduksikan Main Armature dan
output tegangannya sebagai sinyal ke voltage regulator bahwa generator telah diputar. Kemudian cara
kerjanya sama seperti PMPE dalam membangkitkan tegangan dan fungsi voltage regulator sebagai
peregulasi tegangan. Bedanya unit pembangkit jenis ini bisa hilang kemagnetan residualnya jika tidak
dioperasikan dalam jangka waktu yang lama. Jika hilang maka harus di-flashing kemagnetannya. Oleh
karena itu perlu secara berkala dioperasikan guna perawatan.

TRAINING CENTER 19
Gambar 33 Konstruksi generator tipe self excited
O. Pengendali Kecepatan Prime mover
Kontroler mendapatkan input kecepatan aktual prime mover dari speed sensor (Magnetic Pick Up
(MPU) yang berada pada flywheel gear dengan sinyal input berupa frekwensi. Di dalam kontroler
terdapat konverter yang mengkonversikan sinyal tegangan AC frekwensi menjadi tegangan DC analog
dengan besarnya frekwensi yang diterima berbanding lurus dengan kecepatannya. Nilai input sinyal
kecepatan dibandingkan dengan tegangan referensinya di sum point. Jika tegangan sinyal kecepatan
lebih rendah atau lebih tinggi daripada tegangan referensi maka sinyal akan dikirimkan ke amplifier
untuk menaikan ataupun menurunkan kecepatan. Aktuator merespon sinyal dari amplifier dengan
memposisikan kembali fuel rack atau throttle valve, merubahan kecepatan prime mover hingga tegangan
sinyal kecepatan dan tegangan referensi bernilai sama.

Gambar 34 Blok diagram kerja speed control

P. Sinkronisasi Generator
Kontroler membandingkan kedua sinyal dan menentukan adanya perbedaan antara phasa
generator (off-line) dan bus (on-line). Ketika ada perbedaan, kontroler mengirimkan sinyal perbaikan

TRAINING CENTER 20
phasa untuk menaikan dan menurunkan kecepatan engine berdasarkan seberapa besar generator
tersebut tertinggal atau mendahului terhadap bus. Penguat sinyal koreksi secara proporsional
berbanding lurus terhadap nilai ketinggalan atau mendahului (perbedaan phasanya). Kontroler juga
membandingkan tegangan generator yang off line dan tegangan pada bus bar yang on-line. Jika ada
perbedaan, kontroler memberikan perintah ke voltage regulator untuk menaikan atau menurunkan
tegangan output generator melalui kontak relay. Jika tidak ada 2 bagian yang dibandingkan maka
synchronizer tidak akan pernah memerintahkan CB untuk menutup hubungan generator ke bus. Dia
mendapat sensing tegangan dari Potential Transformer (PT).

Gambar 35 Blok diagram kerja synchronizer


Q. Genset Control
Genset control terhubung dengan sebuah system mikroprosesor (digital) control yang memungkinkan
genset dapat mentransfer beban dengan fungsi yang sangat canggih, dapat mengakses data-data
penting, memonitoring parameter engine dan alternator, serta dapat berkomunikasi dan bertukar
informasi dalam sebuah system managemen gedung.

Digital control digunakan sebagai sebuah perangkat komputer cerdas yang membolehkan komponen
genset dapat berintraksi dengan yang lainnya. Control digital menyediakan system kombinasi
pengontrolan yang lebih baik untuk mengatur engine, alternator dan juga system transfer switch.

Gambar 36 Control Generator Set

TRAINING CENTER 21
Keuntungan dari penggunaan system control
1. Dapat dipercaya (Realibility)
Control yang digunakan berbasis mikroprosesor dengan tampilan yang lebih baru dari komponen
yang sebelumnya (tradisional design) yang masih banyak menggunakan system wiring.
2. Flexibelity
Featur dapat dikembangkan dengan menggunakan berbagai macam model yang bervariasi dengan
menggunakan system menu yang ada pada display
3. Bentuk secara fisik
Penggabungan system control dapat memungkinkan ukuran control menjadi lebih simple
4. Data Logging
Berhubungan dengan pemeliharaan digital control, peringatan operasi, dan lainnya, me-record
semua kejadian yang pernah terjadi.

Gambar 37 Contoh dari bentuk system control yang digunakan oleh genset Cummins.

R. Engine Maintenance
Cummins merekomendasikan bahwa mesin dipelihara sesuai dengan jadual pemeliharaan. Jika engine
beroperasi pada temperature ambient dibawah-18°C[0 °F] atau di atas 38°C[100 °F], lakukan
pemeliharaan pada interval yang lebih pendek.
Interval perawatanyang lebih pendek juga diperlukan jika engine dioperasikan di lingkungan berdebu.

1. Maintenance schedule
Cummins engine menjadualkan perawatan menjadi 4 yaitu :

Perawatan A
Perawatan ini dilakukan setiap awal engine akan dinyalakan, dapat dilakukan
setiap hari atau dalam waktu satu minggu
Adapun perawatan yang dilakukan adalah:
 Oil engine level (batas permukaan oli mesin)
 Coolant level (batas permukaan air radiator)
 Kebocoran-kebocoran
 Kemungkinan / kerusakan fisik
 Ketegangan tali kipas

TRAINING CENTER 22
 Kelainan pada suara engine (mesin)
 Kondisi baterai
 Bahan bakar
 Air filter (filter udara)
 Air cleaner restriction (indikator hambatan udara)

Perawatan B
Perawatan ini dilakukan setiap 250 jam, perawatan ini bermacam macam, cummins memberi batasan
bulan untuk perawatan ini, untuk engine midrange perawatan dilakukan dengan batasan 3 bulan,
sedangkan untuk heavy duty dan HHP sampai 6 bulan. Adapun perawatan yang dilakukan selain
perawatan A meliputi :
 Penggantian Engine oil (oli mesin)
 Penggantian Oil filter (filter oli)
 Penggantian Fuel filter (filter solar)
 Penggantian Water filter (filter air radiator)
 Pemeriksaan kandungan DCA
 Bersihkan crankcase breather

Perawatan C
Perawatan ini dilakukan pada 1500 jam, perawatan ini dilakukan sebagai perawatan tahunan, adapun
pada saat perawatan ini selain melakukan perawatan A dan B, juga dilakukan:
 Adjusting Valve dan injector
 Pengecekan idler tensioner

Perawatan D
Perawatan D cek dilakukan pada 4500-6000 jam, ini adalah perawatan dua tahun, selain pelaksanaan A,
B, dan C cek yang dilakukan, pada perawatan ini dilakukan :
 Bersihkan dan kalibrasi
 Injector
 PT Pump (pompa bahan bakar)
 STC Tappets (di injector) dan STC Oil control Valve
 Periksa / perbaiki / ganti
 Turbocharger
 Fan Hub
 Vibration Damper
 Fan Idler Pulley Assembly

TRAINING CENTER 23
S. Cummins Recommendation
1. Bahan bakar
Bahan bakar diesel melakukan tiga fungsi utama yaitu :
 Sebagai sumber energy untuk engine.
 Mendinginkan dan melumasi bagian-bagian presisi dari pompa bahan bakar engine dan injektor.
 Memungkinkan emisi engine untuk memenuhi tingkat emisi yang diatur.
 Bahan bakar yang memenuhi spesifikasi nasional dan internasional dapat digunakan jika sesuai
dengan spesifikasiyang tercantum dalam rekomendasi bahan bakar dari Cummins. Spesifikasi
bahan bakar yang direkomendasikan oleh cummins yaitu:
o Viscosity( 1.3 – 1.4 Centistokes pada suhu 400C )
o Cetane Number (Minimum 42 diatas 0oC, Minimum 45 dibawah 00C)
o Sulfur content (tidak melebihi dari 5000 ppm)
o Active sulfure ( cooper strip corrosion tidak melebihi 3 setelah 3 jam pada temperature 50oC)
o Water Sediment (tidak melebihi 0.05 % Volume)
o Carbon residu (tidak melebihi 0.35% berat ditiap 10% volume residu)
o Density (0.816 sampai 0.876 g/cc di temperature 15oC)

2. Coolant
Engine merubah energi kimia menjadi energi kinetik untuk menghasilkan kerja. Energi dihasilkan dari
pembakaran bahan bakar (Petroleum Product).Tidak semua energi yang diproduksi diubah menjadi
kerja. Meskipun engine modern mempunyai effisiensi sebanyak 45% dalam merubah bahan bakar
menjadi kerja, tetapi meninggalkan lebih dari 55% energy panas yang diproduksi sebagai energi limbah.
Energi limbah harus dibuang untuk melindungi engine dari kerusakan. ½ dari energi limbah dibuang
melalui exhaust system.
Limbah panas yang lainnya harus dibuang dengan cara lain. Cooling System menggunakan coolant
sebagai media pemindah panas untuk membuang limbah panas. Limbah panas ditransfer ke coolant dari
Cylinder Head, Liner, Oil Cooler, Turbo aftercooler dan EGR Cooler. Limbah panas tersebut, kemudian
terpancar ke udara oleh radiator. Dalam Temperatur dingin coolant membantu menjaga suhu operasi
engine melalui penggunaan thermostat.
Cummins merekomendasikan penggunaan coolant dengan additive sesuai dengan ASTM D-6210 dimana
coolant mengandung:
 Buffering
 Corrotion protection
 Foam control
 Silicate limit
 Scale/Deposit control

Kebanyakan pabrik Heavy Duty Engine merekomendasikan penggunaan coolant. EMA (Engine
Manufacturers Association) tidak merekomendasikan penggunaan air saja sebagai pendingin.
TRAINING CENTER 24
3. Oil
Panas dapat ditimbulkan akibat adanya gesekan (friction) bahan-bahan atau material keras antara dua
permukaan yang bergerak relatif berlawanan satu sama lain, akibatnya terjadi pengikisan atau abrasi
pada sisi permukaan yang lebih lunak. Ketika engine berkerja banyak sekali komponenyang saling
bergesekan. Sehingga, pelumasan di antara dua permukaan material keras yang bergesekan, dibutuhkan
untuk mengurangi efek gesekan dan mencegah abrasi. Cummins menginforasikan menggunakan CES
(Cummins Engine Standart) 20081 untuk off-Road engine, dimana kandungan sulfur bahan bakar lebih
dari 350 ppm, akan membahayakan engine jika rekomendasi dan interval penggantian olinya dilakukan
secara asal-asalan.

Oleh karena itu cummins membuat klasifikasi oli berdasarkan CES dan EMA (Engine Manufacture
Association) dimana hal ini nanti akan berkaitan dengan interval penggantian dan rekomendasi
poenggunaanya.

Dari tebel diatas cummins mengklasifikasikan untuk Heavy duty engine (L, M, N, ISX, dan Signature) dan
High horsepower engine (QSK dan QST) dapat menggunakan CES20075 atau meiliki API CF-4. Namun
untuk interval penggantiannya hanya sampai 250 jam. Sedangkan midrange engine bisa
menggunakannya, hanya saja Interval penggantian olinya dikurangi jadi setengahnya. Cummins tidak
mengijinkan penggunaan API service CD, CE, dan CG-4/SH digunakan pada engine cummins, karena
dapat menimbulkan kerusakan pada engine. Cummins merekomendasikan penggunaan multigrade oil
viscosity untuk semua engine. Untuk wilayah Indonesia dengan suhu temperature diatas -15 C
menggunakan SAE 15W-40.

TRAINING CENTER 25

Anda mungkin juga menyukai