0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan27 halaman

Rencana Keselamatan Konstruksi RKK

rkk

Diunggah oleh

muhammadagus000
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan27 halaman

Rencana Keselamatan Konstruksi RKK

rkk

Diunggah oleh

muhammadagus000
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK) KONSULTANSI

KONSTRUKSI PENGAWASAN/MANAJEMEN
PENYELENGGARAAN KONSTRUKSI

Pekerjaan :

Paket 2 Konsultansi Pengawasan Pekerjaan Rekonstruksi


Jalan

Ruas Jalan Ugut – Layuh (051).

Lokasi Pekerjaan : Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Nomor Kontrak : 620/02-2/PK/PPK-SRKJL/DPUPR/2024

Waktu Pelaksanaan : 120 Hari Kalender

DISUSUN OLEH:

CV. AFAPASTA CONSULTANT

1
Lembar Pengesahan

RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Paket 2 Konsultansi Pengawasan Pekerjaan Rekonstruksi


Jalan

Ruas Jalan Ugut – Layuh (051).

02 Agustus 2024 – 29 November 2024

Pihak Penyedia Jasa Pihak Pengguna Jasa

Dibuat Oleh: Disetujui Oleh:

Direktur Pejabat Penandatanganan Kontrak

Faisal, ST Muhammad Tedy Hidayat, ST


Direktur NIP . 19860727 200903 1 003

2
DAFTAR ISI HAL

Lembar Pengesahan 1
Daftar Isi 3
1 Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan 5
Konstruksi
2 Perencanaan Keselamatan Konstruksi 7
3 Dukungan Keselamatan Konstruksi 11
4 Prosedur Keselamatan Konstruksi 19
5 Operasi Keselamatan Konstruksi 19
6 Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi 27

3
KOMITMEN RENCANA AKSI KESELAMATAN KONSTRUKSI

CV. AFAPASTA CONSULTANT

CV. AFAPASTA CONSULTANT sebagai Badan Usaha Jasa Konstruksi berkomitmen


melaksanakan pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi berkeselamatan pada
pelaksanaan Paket 2 Konsultansi Pengawasan Rekonstruksi Jalan, dengan memastikan:
1. Pemenuhan ketentuan Keselamatan Konstruksi telah sesuai dengan Dokumen RKK;
2. Pengawasan mengacu kepada Kerangka Acuan Kerja (KAK);
3. Pengawasan pelaksanaan berdasarkan kesesuaian standar dan desain;
4. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP);
dan
5. Menggunakan tenaga kerja yang berkompeten dan bersertifikat.

Barabai, 06 September 2024

Site Engineer Pengguna Jasa

ttd ttd

IDRA SUHARSO, ST MUHAMMAD TEDY HIDAYAT, ST

4
1. KEPEMIMPINAN DAN PARTISIPASI PEKERJA DALAM KESELAMATAN
KONSTRUKSI
1.1 Kepedulian pimpinan terhadap Isu ekternal dan internal

CV. AFAPASTA CONSULTANT yang bergerak di bidang Jasa Pengawasan Konstruksi


berkomitmen dan peduli terhadap Keselamatan Konstruksi khusus dalam pencapaian
penanganan isu keselamatan konstruksi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Peduli dalam mempromosikan pemahaman akan kebutuhan keselamatan konstruksi dan
membudayakan keselamatan konstruksi dalam seluruh kegiatan pelaksanaan konstruksi.
2. Peduli dalam melakukan sosialisasi tentang keselamatan konstruksi terhadap seluruh tenaga
kerja maupun masyarakat didalam lingkungan kerja konstruksi.
3. Peduli dalam melaksanakan implementasi sesuai rencana keselamatan konstruksi
bedasarkan perundang-undangan yang berlaku dalam keselamatan konstruksi nasional.
4. Mencegah kecelakaan, kebakaran, sakit akibat kerja, keamanan dan pencemaran
lingkungan.
5. Memantau dan mengevaluasi terhadap kinerja keselamatan konstruksi serta melakukan
perbaikan secara berkelanjutan

1.2 Komitmen Keselamatan Konstruksi


Pakta Komitmen Keselamatan terlampir sebagai berikut:

5
PAKTA KOMITMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Faisal,ST
Jabatan : Direktur
Bertindak untuk : CV. AFAPASTA CONSULTANT
dan atas nama

Dalam rangka pengadaan Paket Pekerjaan Paket 2 Konsultansi Pengawasan Rekontruksi Jalan pada
Pokja Pemilihan Pengadaan Barang/Jasa berkomitmen melaksanakan konstruksi
berkeselamatan demi terciptanya Zero Accident, dengan memastikan bahwa seluruh
pelaksanaan konstruksi:
1. Memenuhi ketentuan Keselamatan Konstruksi;
2. Menggunakan tenaga kerja kompeten bersertifikat;
3. Menggunakan peralatan yang memenuhi standar kelaikan;
4. Menggunakan material yang memenuhi standar mutu;
5. Menggunakan teknologi yang memenuhi standar kelaikan;
6. Melaksanakan Standar Operasi dan Prosedur (SOP); dan
7. Memenuhi 9 (sembilan) komponen biaya penerapan SMKK

Barabai, 06 September 2024

CV. AFAPASTA CONSULTANT

Faisal,ST
Direktur

6
2. PERENCANAAN KESELAMATAN KONSTRUKSI
2.1 Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko
Memuat tabel identifikasi bahaya dan pengendalian risiko terhadap aktivitas
perencanaan sesuai tahapan pekerjaan yang dibuat oleh Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.

Tabel 1 Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

Identifikasi Dampak / Pengendalian


No Uraian Kegiatan
Bahaya Risiko Risiko
1. Survey Pengukuran Topografi (1) Kecelakaan Lalu (1) Luka Berat (1) Memakai APD
Lintas (2) Luka Ringan (2) Memakai Rambu-
(2) Tertusuk benda (3) Gangguan Saraf rambu terkait
tajam pekerjaan
(3) Dehidrasi (3) Membawa air minum
secukupnya.

2. Survey Sosial Ekonomi (1) Kecelakaan Lalu (1) Luka Berat (4) Memakai APD
Lintas (2) Luka Ringan (5) Memakai Rambu-
(2) Tertusuk benda (3) Gangguan Saraf rambu terkait
tajam. pekerjaan
(3) Dehidrasi (6) Membawa air minum
secukupnya.

3. Survey Rencana Pengadaan (1) Kecelakaan Lalu (1) Luka Berat (1) Memakai APD
Tanah Lintas (2) Luka Ringan (2) Memakai Rambu-
(2) Tertusuk benda (3) Gangguan Saraf rambu terkait
tajam. pekerjaan
(3) Dehidrasi (3) Membawa air minum
secukupnya.

Disetujui Oleh, Dibuat Oleh,


Site Engineer Health, Safety, and
Environment (HSE)

IDRA SUHARSO, ST PRASADJA, ST

7
Tabel 2 Penjelasan Tabel Identifikasi Bahaya dan
Pengendalian Risiko

Uraian Kegiatan : Survey Pengukuran Topografi

Identifikasi Bahaya : (1) Kecelakaan Lalu Lintas


(2) Tertusuk benda tajam
(3) Dehidrasi

Dampak / Risiko : (1) Luka Berat


(2) Luka Ringan
(3) Gangguan Saraf

Pengendalian Risiko : (1) Memakai APD


(2) Memakai Rambu-rambu terkait pekerjaan
(3) Membawa air minum secukupnya.

Uraian Kegiatan : Survey Sosial Ekonomi

Identifikasi Bahaya : (1) Kecelakaan Lalu Lintas


(2) Tertusuk benda tajam
(3) Dehidrasi

Dampak / Risiko : (1) Luka Berat


(2) Luka Ringan
(3) Gangguan Saraf

Pengendalian Risiko : (1) Memakai APD


(2) Memakai Rambu-rambu terkait pekerjaan
(3) Membawa air minum secukupnya.

Uraian Kegiatan : Survey Rencana Pengadaan Tanah

Identifikasi Bahaya : (1) Kecelakaan Lalu Lintas


(2) Tertusuk benda tajam
(3) Dehidrasi

Dampak / Risiko : (1) Luka Berat


(2) Luka Ringan
(3) Gangguan Saraf

Pengendalian Risiko : (1) Memakai APD


(2) Memakai Rambu-rambu terkait
pekerjaan
(3) Membawa air minum secukupnya.

8
2.2 Peraturan Perundang-undangan dan Standar
Identifikasi peraturan perundangan dan persyaratan lainnya diuraikan menurut
identifikasi bahaya dan pengendalian risiko terhadap aktivitas perencanaan pelaksanaan
konstruksi sesuai tahapan pekerjaan konstruksi.

Tabel 3 Peraturan Perundang-undangan dan Standar

Nomor Peraturan Perundang – Undangan


Dokumen
1 Undang-Undang Dasar 1945
2 UU No. 1/1970 Tentang Keselamatan Kerja
3 UU No. 23/1992 Tentang Kesehatan
4 UU No. 3/1992 Tentang J aminan Sosisal Tenaga Kerja
5 Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang J asa Konstruksi
6 Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan SMK3
Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
7
Konstruksi Bidang
Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. : Ins/11/M/BW/1997 Tentang
8 Pengawasan Khusus K3 Penanggulan Penanggulangan Kebakaran
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I No. : Kep-186/Men/1999 : Kep-
9 186/Men/1999 Tentang Unit Penanggulang Kebakaran di Tempat Kerja

Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. : Ins/11/M/BW/1997 Tentang


10
Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran

9
Tabel 4 Peraturan Perundang-undangan dan Standar

PERATURAN / KETENTUAN PERATURAN / KETENTUAN


Peraturan Menteri Tenaga Kerja K3 Pada Konstruksi Bangunan
No.01/Men/1980
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kualifikasi J uru Las
No.02/Men/1982
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Tata Cara Pelaporan Dan
No.03/Men/1998 Pemeriksaan Kecelakaan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Syarat-Syarat Pemasangan Dan
No.04/Men/1980 Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Panitia Pembina Keselamatan Dan
[Link] 04/Men/1987 Kesehatan Kerja Serta Tata Cara
Penunjukkan Ahli Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Pesawat Angkat Dan Angkut
No.: Perm05/Men/1985
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Unit Penanggulangan Kebakaran
[Link]-186/Men/1999 Di Tempat Kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja
Transmigrasi No. [Link]/Men/1981
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Kualifikasi Dan Syarat-Syarat
Transmigrasi No. [Link]/Men/1989 Operator Keran Angkat
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja
Transmigrasi No. Per.O2/Men/L980 Dalam
Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri Perburuhan Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta
No. 7 tahun 1964 Penerangan Dalam Tempat Kerja
[Link] No. Kep. 51/Men/1999 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
Di Tempat KerjaKerja
Surat Edaran No. Seso1/Men/1997 Nilai Ambang Batas Faktor Kimika
Di Tempat KerjaKerja
Surat Edaran Dirjen Binawas
Penggunaan Alat Pelindung Diri
No 05/Bw/1997

2.3 Sasaran dan Program Pengawasan


Memuat tabel sasaran dan program berdasarkan identifikasi bahaya dan pengendalian
risiko terhadap aktivitas perencanaan pelaksanaan konstruksi sesuai tahapan pekerjaan
konstruksi.

10
Tabel 4 Sasaran dan Program Perencanaan

No Uraian Kegiatan Sasaran Program Perencanaan


1. Survey Pengukuran Pengukuran Topografi Menghasilkan Data Primer
Topografi
2 Survey Sosial Ekonomi Pengukuran Topografi Menghasilkan Data Primer
3 Survey Rencana Pengukuran Topografi Menghasilkan Data Primer
Pengadaan Tanah

3. DUKUNGAN KESELAMATAN KONSTRUKSI


3.1 Kompetensi
CV. AFAPASTA CONSULTANT berkomitmen dalam penerapan pelaksanaan
keselamatan kontruksi di lingkungan kerja dengan mentaati ketentuan dan perundangan K3
termasuk memberikan program pelatihan dan peningkatan kinerja karyawan melalui uji
kompetensi terhadap seluruh tenaga kerja sesuai dengan keahlian bidang masing - masing.

3.2 Daftar Personel


Tabel 5 Personel Perencanaan Pelaksana Pekerjaan Konstruksi

Jumlah
No Jabatan Nama Personel
Personel
1 Health, Safety, and Environment (HSE) 1 Prasadja, ST

3.3 Struktur Organisasi Perencanaan Pekerjaan Konstruksi


Struktur organisasi perencanaan sebagai mana terlampir :

11
Gambar 1 Struktur Organisasi Perencanaan Pekerjaan Konstruksi

CV. AFAPASTA
CONSULTANT

Penyusun Paket 2Konsultansi Pengawasan


Rekonstruksi Jalan

12
Tabel 6 Tugas dan Tanggung Jawab Terhadap Keselamatan Konstruksi

No Jabatan Tugas Dan Tanggung Jawab


1 Health, Safety, Melakukan evaluasi risiko di tempat kerja dan memberikan
and Environment rekomendasi untuk mengurangi risiko tersebut.
(HSE) Merancang prosedur dan petunjuk kerja yang sesuai dengan
implementasi ketentuan K3.
Melaksanakan sosialisasi, pratik, dan melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan semua rencana program, cara kerja, dan
petunjuk kerja K3.
Melakukan penilaian atau evaluasi sekaligus mempersiapkan
laporan pelaksanaan SMK3 serta acuan teknis di bidang K3
konstruksi.
Melaksanakan penanggulangan kecelakaan kerja sekaligus
penyakit yang muncul akibat kerja dan kondisi darurat

3.4 Kepedulian
Kepedulian merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan membuat rencana dan
program kerja sebagai tindakan pencegahan terhadap risiko kecelakaan kerja, sakit akibat
pekerjaan dan pemulihan lingkungan yang tercemar akibat pekerjaan konstruksi.
Program kepedulian keselamatan konstruksi sebagai berikut:
1. Seluruh pekerjaan terukur dan terpantau dalam pelaksanaan pemenuhan standar K3 konstruksi
2. Program pemeriksaan dan pengawasan secara periodik dalam mengindetifikasi bahaya
kecelakaan dan sakit akibat kerja
3. Melaksanakan Sosialisasi terhadap lingkungan masyarakat sekitar area pekerjaan yang
berpeluang terhadap potensi bahaya di lokasi kerja
4. Melakukan rapat rutin manajemen proyek sebagai bahan evaluasi dalam setiap risiko bahaya
yang muncul di tempat kerja

3.5 Komunikasi dan Informasi Terdokumentasi


1. TUJUAN
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan informasi- infomasi
lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja kepada pihak internal dan eksternal
perusahaan secara efektif.

2. RUANG LINGKUP

Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi CV. AFAPASTA CONSULTANT dan
semua pihak yang bekerja di area tersebut. Hal-hal yang diatur dalam prosedur ini adalah cara
untuk menyebarluaskan informasi-informasi terkait dengan lingkungan, keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) dan kepada pihak internal maupun eksternal Perusahaan.
13
3.6 DEFINISI

3.6.1. Informasi K3, yaitu informasi tentang lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja yang
meliputi:
1. Peraturan perundangan K3 Nasional dan Internasional
2. Standar Nasional dan Internasional
3 . Kebijakan terpadu dan EHS Management System Manual CV. AFAPASTA
CONSULTANT
4. Kondisi bahaya, laporan inspeksi dan laporan & hasil investigasi kecelakaan kerja
5. Laporan internal/eksternal audit dan hasil rapat tinjauan ulang manajemen
6. Prosedur dan instruksi kerja K3
7. Risalah rapat bulanan / khusus P2K3, pelatihan-pelatihan K3
8. Tanda-tanda, peringatan bahaya dan tanda / peringatan K3 lainnya
9. Dan informasi-informasi lainnya yang terkait dengan K3

3.6.2. Internal Perusahaan, yaitu semua karyawan (karyawan bulanan, harian tetap, harian
borongan maupun harian musiman) yang terkait dengan kegiatan operasi CV. AFAPASTA
CONSULTANT.
3.6.3. Eksternal Perusahaan, yaitu semua pihak-pihak yang terkait baik langsung maupun
tidak langsung dengan operasi CV. AFAPASTA CONSULTANT, seperti dalam penyediaan
pasokan barang/ material maupun jasa ( supplier / pemasok barang, kontraktor / sub
kontraktor, dll.), termasuk tamu-tamu yang akan berkunjung ke lingkungan operasi CV.
AFAPASTA CONSULTANT maupun penyediaan informasi K3 kepada-kepada instansi-
instansi pemerintah yang terkait dan berwenang.

3.6.4. Konsultasi K3, adalah usaha atau kegiatan untuk mendapatkan solusi dari masalah yang
dihadapai dan peluang untuk perbaikan penerapan, pengembangan dan pemeliharaan sistem
manajemen K3.

4. PROSEDUR
4.1. Tanggung Jawab

1. EHS Department bertanggung jawab untuk senantiasa berkoordinasi baik secara


internal maupun eksternal perusahaan (Kementerian Lingkungan Hidup, Depnaker
Propinsi / Kab. / Kodya., Bapedalda Propinsi / Kabupaten / Kotamadya, Depkes,
14
Pemda dan instansi / institusi lain terkait berkaitan dengan aspek K3) yang bertujuan
untuk memastikan bahwa peraturan dan perundangan, standar, dan informasi K3
lainnya senantiasa up to date / terbaru dan dikomunikasikan / diinformasikan pada
departemen terkait di dalam lingkungan operasi CV. AFAPASTA CONSULTANT.
2. Procurement Department bertanggung jawab untuk menginformasikan ketentuan-
ketentuan K3 (Nama perusahaan). Kepada supplier / pemasok
3. dan kontraktor / sub kontraktor yang akan memasok barang atau jasa / bekerja
dilingkungan operasi CV. AFAPASTA CONSULTANT
4. Kepala Departemen / Safety Management Representatif / Environment Management
Representatif Dept. bertanggung jawab untuk menyediakaan sarana-sarana dan
penyebarluasan informasi-informasi K3 kepada seluruh karyawan yang ada di
Departemennya.

4.2. Komunikasi
4.2.1. Komunikasi Internal

1. Karyawan CV. AFAPASTA CONSULTANT diberikan atau mendapat informasi mengenai


pedoman dan prosedur Sistem Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3) serta pelaksanaannya di lingkungan CV. AFAPASTA CONSULTANT, melalui
kegiatan pelatihan dan pelaksanaannya dikoordinir oleh Technical Training Department.
2. Karyawan CV. AFAPASTA CONSULTANT mendapatkan informasi mengenai kebijakan
terpadu (kualitas, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja), manual SMK3, hasil rapat-
rapat P2K3, artikel-artikel K3, perubahan – perubahan pada prosedur / instruksi kerja,
penyelesaian masalah / keluhan K3, program-program dan kinerja K3 CV. AFAPASTA
CONSULTANT. Informasi ini diberikan melalui pelatihan, penjelasan/briefing K3
harian/mingguan atau melalui papan pengumuman dan bulletin K3 (melalui media cetak atau
elektronik internal perusahaan).
3. Informasi mengenai peraturan perundangan K3 akan disediakan oleh EHS Manager
kepada tiap Kepala Departemen / SMR-Safety Management Representatif / EMR-
Environment Management Representatif / SR-Safety Representatif / ER-Environment
Representatif Departemen.
4. Laporan hasil kegiatan inspeksi K3, pemantauan lingkungan dan lingkungan kerja dan
penyelidikan kecelakaan disiapkan oleh EHS Department sebagai salah satu bahan yang akan
dibahas dalam rapat
5. Bulanan / rapat khusus P2K3, dan dibuatkan risalah rapat P2K3 dan disebarluaskan kepada
15
tiap Kepala Departemen / Safety Management Representatif / Environment Management
Representatif dan Safety / Environment Representatif serta seluruh anggota P2K3.
6. Hasil laporan audit internal / eksternal SMK3 disiapkan oleh personil EHS Department
berdasarkan laporan tim auditor internal / eksternal dan didistribusikan kepada pihak internal
( Dewan Direksi, Ketua P2K3, Kepala Divisi, Kepala Departemen / Safety Management
Representatif / Environment Management Representatif, Safety Representatif, Environment
Representatif ) dan pihak eksternal jika diperlukan ( misal Auditor Eksternal ).
7. Tanda-tanda peringatan K3 (poster, sign, label, dll) disediakan oleh EHS Department
dengan terlebih dahulu masing-masing Kepala Departemen melampirkan hasil identifikasi
bahaya dan penilaian resiko di departemennya disertai dengan formulir pengajuan
permintaan tanda-tanda peringatan K3.
8. Untuk memudahkan penyebaran informasi yang berkaitan dengan K3 dalam lingkup (Nama
perusahaan), maka dibuat daftar penyebarluasan informasi K3.

4.2.2. Komunikasi Eksternal


Personil EHS Department menghubungi instansi-instansi terkait (misal: Kanwil Depnaker / Dinas
Depnaker Kabupaten / Kotamadya, Bapedal, Depkes dan sebagainya) untuk mendapatkan
informasi terkini mengenai peraturan perundangan berkaitan dengan K3.
1. Setiap 3 bulan sekali (Nama perusahaan), melaporkan hasil kegiatan P2K3 kepada Dinas
Tenaga Kerja Setempat, dimana laporannya disiapkan oleh sekretaris P2K3 dan
ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris P2K3.
2. Laporan kecelakaan kerja dan hasil penyelidikannya disiapkan oleh EHS Manager dan
disampaikan kepada Kepala Operasi, Ketua P2K3 tembusannya kepada pihak Kanwil
Depnaker setempat.
3. Pihak pemasok dan kontraktor / sub kontraktor yang terikat kontrak dengan (Nama
perusahaan), untuk menyediakan barang atau jasa diinformasikan tentang kebijakan dan
ketentuan K3 CV. AFAPASTA CONSULTANT. Informasi diberikan oleh Procurement
Manager dan bila diperlukan CV. AFAPASTA CONSULTANT dapat memberikan
pelatihan awal atau penjelasan / briefing K3 kepada kontraktor yang akan bekerja di
lingkungan CV. AFAPASTA CONSULTANT.
4. Pihak Satuan Pengaman / Security di Pos Komando Keamanan perusahaan berkewajiban
memberikan informasi kepada setiap tamu yang akan memasuki area pabrik / plant di
lingkungan operasi CV. AFAPASTA CONSULTANT tentang Kebijakan Terpadu
(Kualitas, Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan-peraturan umum K3
16
dan prosedur menghadapi keadaan darurat.
5. Pihak Satuan Pengaman / Security yang ada di Pos Ronda setiap Gedung / Area Produksi
atau Kepala Departemen / Personil Departemen yang ditunjuk berkewajiban memberikan
informasi-informasi K3 dan prosedur tanggap darurat yang berlaku di area tersebut
kepada setiap tamu yang akan masuk ke gedung / area departemen / plant tersebut.
6. Informasi-informasi yang berkaitan dengan kondisi darurat / emergency yang
terjadi di perusahaan diatur dan mengikuti prosedur komunikasi tanggap gawat darurat.
4.2.3. Alat dan Media Komunikasi
Alat dan Media komunikasi yang digunakan dapat berupa dan tidak terbatas hanya pada alat dan
media sebagai berikut :
1. Electronic mail (e-mail)
2. Meeting (townhall, P2K3, dsb.)
3. Briefing
4. One to one personal contact
5. Papan pengumuman
6. Pelatihan atau kursus
7. Banner, poster (Promosi)
8. Distribusi dokumen (Manual,standard procedure, supporting doc, record )
9. Telepon

4.3. Konsultasi K3
1. Konsultasi ini bisa dilakukan di internal CV. AFAPASTA CONSULTANT untuk
melibatkan karyawan maupun dengan pihak eksternal, seperti Perguruan Tinggi, Instansi
Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya masyarakat perusahaan asuransi, konsultan K3, dsb.
2. Beberapa contoh konsultasi K3 adalah :
- Konsultasi dengan wakil karyawan dalam pembuatan kebijakan K3
- Konsultasi dengan karyawan yang ahli maupun dengan pihak eksternal untuk
pemenuhan terhadap peraturan perundangan dan persyaratan lainnya
- Konsultasi dengan Perguruan Tinggi atau lembaga penelitian dalam usaha
pencegahan pencemaran lingkungan dan pemanfaatan limbah
- Konsultasi dengan pihak konsultan eksternal untuk usaha-usaha peningkatan perilaku dan
kinerja karyawan terkait dengan K3

4.4. Motivasi dan Kesadaran


Komunikasi dan konsultasi K3 tersebut akan meningkatkan motivasi dan kesadaran semua
17
orang baik karyawan maupun pihak ketiga yang berada di area operasi CV. AFAPASTA
CONSULTANT untuk menerapkan, mengembangkan dan memelihara sistem manajemen K3 untuk
memperbaiki kinerja K3 secara menyeluruh.

4.5. Informasi Terdokumentasi


1. SMKK termasuk informasi terdokumentasi dan informasi penting lainnya;
2. Informasi terdokumentasi berisi:
- Identifikasi dan deskripsi yang terdiri dari judul, tanggal, penulis, nomor referensi, dan
informasi lain yang dibutuhkan;
- Format (bahasa, versi perangkat lunak, grafik) dan media (kertas, elektronik, atau media
lainnya);
- Tinjauan ulang dan persetujuan untuk kesesuaian dan kecukupan.
3. Informasi terdokumentasi harus dikendalikan untuk memastikan:
- Ketersediaan dan kesesuaian untuk digunakan pada saat dibutuhkan;
- Dilindungi secara memadai terhadap kehilangan, kerahasiaan, penggunaan yang tidak
benar atau penyalahgunaan.
4. Informasi terdokumentasi dikendalikan dengan cara menentukan:
- Distribusi, akses, pengambilan dan penggunaan;
- Penyimpanan dan pemeliharaan, termasuk pemeliharaan untuk tetap terbaca;
- Pengendalian terhadap perubahan (misalnya pengendalian pada versi penerbitan);
- Penyimpanan dan disposisi.

5. OPERASI KESELAMATAN KONSTRUKSI


5.1 Perencanaan Operasi
Perencanaan operasional berupa prosedur kerja / petunjuk kerja, yang harus mencakup
seluruh upaya pengendalian, diantaranya :
1. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
2. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi Penganggung
3. Jawab Kegiatan SMK3
4. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
5. Rencana prosedur / petunjuk kerja yang perlu di siapkan
6. Rencana program pelatihan / soisalisasi sesuai pengendalian resiko
7. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
8. Persyaratan Operator Alat Angkat
18
 Operator Alat Angkat harus memenuhi kompetensi
 Setiap Operator alat angkat harus memiliki SIO (Surat Izin Operasi)
atau bersertifikat yang di keluarkan oleh Badan yang berwenang
9. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
 Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus dipasang sesuai
dengan kondisi di tempat kerja
 Rambu peringatan/larangan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat dibaca
10. Alat Pelindung Diri
 Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risiko
 Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan
11. Tamu/pengunjung dan pihak luar
 Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat kerja
 Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri)
 Induksi K3
 Prosedur dan Persyaratan tanggap darurat

5.2 Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat


1. Kesiapan Terhadap Kondisi Darurat
Kesiapan terhadap kondisi darurat meliputi:
a. Menetapkan rencana untuk menanggapi keadaan darurat, yang
sekurangkurangnya mencakup;
1) Penyediaan tim tanggap darurat yang memadai, kompeten, dengan
pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas, dan selalu siaga;
2) Penyediaan sarana dan prasarana keadaan darurat yang memadai dan
selalu siap digunakan;
3) Penyediaan ruang pusat kendali darurat yang dilengkapi dengan peta,
papan tulis, jam, daftar nama dan nomor kontak anggota tim, nomor
pihak lain yang terkait, serta peralatan komunikasi dua arah;
4) Penyediaan akses bantuan dari pihak luar apabila diperlukan dalam
penanganan keadaan darurat;
5) Penyelidikan kejadian keadaan darurat termasuk perkiraan kerugian dan
pelaporan;

19
6) Pemulihan pasca penanganan keadaan darurat yang sekurang-kurangnya
mencakup penyediaan tim pemulihan, pembersihan lokasi, operasi
pemulihan, dan laporan pemulihan pasca penanganan keadaan darurat;
7) Penyediaan dan penyiapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K),
sekurang-kurangnya terdiri atas:
a) Penyediaan petugas P3K yang kompeten;
b) Penyediaan peralatan P3K yang memenuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
c) Pencatatan penggunaan peralatan P3K.
b. Memberikan pelatihan tanggap darurat yang telah direncanakan;
c. Menguji dan melatih kemampuan tanggap darurat yang direncanakan secara
berkala;
d. Mengomunikasikan informasi yang terkait kepada semua pekerja tentang tugas
dan tanggung jawabnya;
e. Mengomunikasikan informasi yang terkait kepada sub penyedia jasa dan
pemasok, pengunjung, pihak terkait layanan tanggap darurat, pihak berwenang,
dan masyarakat sekitar;
2. Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat
Tanggapan terhadap kondisi darurat meliputi:
a. Mengambil tindakan untuk mengendalikan dan memperbaiki kondisi darurat;
b. Memperhitungkan konsekuensi dari kondisi darurat tersebut;
c. Mengevaluasi, dengan melibatkan partisipasi pekerja dan keterlibatan pihak
berkepentingan yang terkait lainnya;
d. Perlu melakukan tindakan korektif untuk menghilangkan penyebab kondisi
darurat dengan:
1) Menyelidiki kejadian atau meninjau ketidaksesuaian;
2) Menentukan penyebab kejadian atau ketidaksesuaian; dan
3) Memperhitungkan kejadian dan ketidaksesuaian yang pernah terjadi,
jika ada.
e. Menentukan dan mengimplementasikan tindakan yang diperlukan, termasuk
tindakan korektif, sesuai dengan tingkat pengendalian dan manajemen
perubahan;
f. Menilai risiko keselamatan konstruksi yang terkait dengan bahaya baru atau
yang berubah, sebelum mengambil tindakan;

20
g. Meninjau keefektifan tindakan-tindakan yang pernah diambil, termasuk
tindakan korektif;
3. Penyelidikan Kejadian Kondisi Darurat
a. Penyelidikan kejadian kondisi darurat meliputi:
1) Pelaporan awal;
2) Pengamanan lokasi dan barang bukti di tempat kejadian;
3) Pembentukan tim penyelidik;
4) Melakukan penyelidikan yang terdiri atas:
a) Pengumpulan data dan informasi;
b) Evaluasi dan analisis;
c) Penyusunan kesimpulan dan rekomendasi;
5) Tindak lanjut hasil penyelidikan;
6) Pelaporan dan dokumentasi hasil penyelidikan;
7) Komunikasi hasil penyelidikan.

Penyedia Jasa harus melaporkan kecelakaan berat, kasus kematian, dan kejadian
berbahaya kepada Komite Keselamatan Konstruksi dalam waktu 2 x 24 jam untuk
dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

21
5.3 Jadwal Program Komunikasi

No Jenis Komunikasi PIC Waktu Pelaksanaan


1 Induksi Keselamatan Konstruksi Ahli K3 Minggu pertama sebelum
(safety Induction) Konstruksi pekerjaan dilaksanakan dan
waktu tertentu untuk pekerja
baru atau tamu
2 Pertemuan Pagi Hari Ahli K3 1 kali dalam setiap hari
(safety Morning) Konstruksi selama masa pekerjaan
3 Pertemuan Kelompok Kerja Ahli K3 1 kali dalam setiap minggu
(toolbox meeting) Konstruksi selama masa pekerjaan
4 Rapat Keselamatan Konstruksi Ahli K3 1 kali dalam setiap minggu
(construction safety meeting) Konstruksi selama masa pekerjaan

5.4 Sumber Daya

Penanggung
Jawab K3

Petugas Petugas
Petugas
Emerge Paramed
P3K
ncy is
Tugas, tanggung jawab dan wewenang Tenaga Keselamatan Kontruksi

1. Penanggung Jawab K3
Tugas dan Tanggung Jawab :
1.1. Menerapkan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
1.2. Menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang dan terkait K3
Konstruksi
1.3. Mengkaji dokumen kontrak dan metode kerja pelaksanaan konstruksi
1.4. Merencanakan dan menyusun program K3
1.5. Membuat prosedur kerja dan instruksi kerja penerapan ketentuan K3
1.6. Melakukan sosialisasi, penerapan dan pengawasan pelaksanaan program,
prosedur kerja dan instruksi kerja K3
1.7. Melakukan evaluasi dan membuat laporan penerapan SMK3 dan pedoman teknis
22
K3 konstruksi
1.8. Mengusulkan perbaikan metode kerja pelaksanaan konstruksi berbasis K3,
jika diperlukan
1.9. Melakukan penanganan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
serta keadaan darurat.

2. Petugas Emergency/Kedaruratan
Tugas dan tanggung jawab :
2.1. Menerapkan program emergency/kedaruratan
2.2. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pelatihan keadaan darurat secara
keseluruhan
2.3. Mendata seluruh personil dan menugaskan Tim P3K dalam pencarian orang yang
hilang
2.4. Mengkoordinir pelaksanaan penanganan kondisi darurat, evakuasi dan evaluasi
kondisi darurat secara keseluruhan
2.5. Melakukan pemantauan dan pengendalian dalam setiap kondisi keadaan darurat
termasuk melakukan mitigasi apabila terjadi kecelakaan kerja
2.6. Memastikan kesiapan tim dan peralatan keadaan darurat tersedia sesuai kondisi
lapangan.

3. Petugas P3K
Tugas dan tanggung jawab :
3.1. Menerapkan program P3K.
3.2. Melaksanakan tindakan P3K di tempat kerja.
3.3. Merawat fasilitas P3K di tempat kerja, meliputi:
3.3.1. Ruang P3K.
3.3.2. Kotak P3K dan isinya.
3.3.3. Alat evakuasi dan transportasi.
3.3.4. Fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri (APD) dan/atau
peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya
yang bersifat khusus.
3.4. Mencatat setiap kegiatan P3K dalam buku kegiatan.
3.5. Membuat laporan kegiatan P3K secara periodik.

23
4. Petugas Paramedis
Tugas dan tanggung jawab :
4.1. Pemeriksaan kesehatan, baik awal mulai bekerja, berkala, maupun secara khusus
4.2. Pembinaan dan pengawasan penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja
4.3. Pembinaan dan pengawasan lingkungan kerja
4.4. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan saniter
4.5. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja
4.6. Pencegahan dan pengobatan penyakit umum dan penyakit akibat kerja
4.7. Pertolongan pertama pada kecelakaan
4.8. Pendidikan kesehatan untuk tenaga kerja dan pelatihan P3K
4.9. Pemberian nasehat tentang tempat kerja, alat pelindung diri, gizi, dan
penyelenggaraan makanan ditempat kerja
4.10. Membantu rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja
4.11. Pembinaan dan pengawasan tenaga kerja yang mempunyai kelainan tertentu
4.12. Pelaporan secara berkala

24
Flowchart Penanganan Dan Pelaporan Apabila Terjadi Keadaan Darurat

KEADAAN DARURAT

Ditangani langsung oleh


Tidak Ahli K3 Konstruksi atau
Besar
personil setempat lain
Ya nya

Pemberitahuan kondisi Ahli K3 Konstruksi atau


darurat dengan personil setempat
menghidupkan alarm membuat laporan
peringatan

Mengevakuasi para
pekerja menuju tempat
yang aman

Menghubungi pihak
terkait untuk membantu
proses penanganan

Ahli K3 Konstruksi atau


personil setempat
membuat laporan

25
6. EVALUASI KINERJA KESELAMATAN KONSTRUKSI
Pemantauan dan evaluasi
Pengendalian pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada kegiatan yang
dilaksanakan pada bagian D (Operasi keselamatan konstruksi) berdasarkan upaya pengendalian
pada bagian B (Perencanaan keselamatan konstruksi) dan C (Dukungan keselamatan konstuksi).
Hal-hal yang harus dilaporkan dalam laporan evaluasi dan kinerja K3 adalah :
1. Rekapitulasi kecelakaan kerja dengan mengacu pada pelaporan dan penyelidikan
kecelakaan yang sudah dibuat.
2. Occupational Injury/Illness (Cidera/Sakit Akibat Kerja)
3. Fatality (Meninggal Dunia)
4. Loss Work Day / Loss Time Injury (Hilang Hari Kerja)
5. Restricted Work Day (Kerja Terbatas)
6. Medical Treatment (Perawatan Kesehatan)
7. First Aid (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
8. Fire Accident (Kebakaran)
9. Traffic Accident (Kecelakaan lalu lintas)
10. Environmental Accident (Kecelakaan Lingkungan)
11. Property Damage Accident (Kecelakaan peralatan atau mesin)
12. Near miss (Hampir celaka)
13. Man Hour (Jam kerja)
14. Km Driven (Kilometer mengemudi – untuk kendaraan perusahaan)

6.1. Tinjauan manajemen

Hasil pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 pada bagian E. Diklasifikasikan dengan kategori
sesuai dan tidak sesuai Tolak ukur sebagaimana dalam Perencananaan Keselamatan Konstruksi.
Hal-hal yang tidak sesuai, termasuk bilamana terjadi kecelakaan kerja dilakukan peningjauan
ulang untuk di ambil tindakan perbaikan.

6.2. Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi


Hasil pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 pada bagian E. Diklasifikasikan dengan kategori
sesuai dan tidak sesuai Tolak ukur sebagaimana dalam Perencananaan Keselamatan Konstruksi.
Hal-hal yang tidak sesuai, termasuk bilamana terjadi kecelakaan kerja dilakukan peningjauan
ulang untuk di ambil tindakan perbaikan.
Demikian Penyusunan Rencana Keselamatan Konstruksi Pekerjaan Paket 2 Konsultansi
26
Pengawasan Teknis Rekonstruksi Jalan, disusun sebagai petunjuk dalam pelaksanaan Paket
Pekerjaan Ruas Ugut – Layuh (051).
Manajemen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) akan terus diperbarui demi efektivitas
pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi secara berkesinambungan.

JADWAL INSPEKSI DAN AUDIT


Masa Pelaksanaan
No Kegiatan PIC B-1 B-2 B-3 B-4
1. Inspeksi Keselamatan Konstruksi HSE
2. Patroli Keselamatan Konstruksi HSE
3. Audit Internal HSE

Barabai, 30 Juli 2024

CV. AFAPASTA CONSULTANT

Faisal, ST
Direktur

27

Anda mungkin juga menyukai