Faktor Penyebab Dismenorea Remaja Putri
Faktor Penyebab Dismenorea Remaja Putri
Original Papers/Review
Abstract
Background: Dysmenorrhea is a gynecological problem with a very large incidence rate, in
most European countries and Asia the average prevalence of dysmenorrhea is 73.6%. In
Indonesia itself, several studies have shown that the incidence of dysmenorrhea is more than
60%. Objective: To find out the relationship between menarche age, nutritional status and
junk food consumption on dysmenorrhea. Methods: This study uses a quantitative descriptive
method with the short cross sectional study, using a sampling technique, namely Stratified
Random side, the sample in this study is 58 respondents according to the inclusion criteria,
and the data collection instrument uses a questionnaire. The data obtained was then analyzed
using Chi square. Results: The results of the univariate analysis showed that the majority of
respondents experienced moderate dysmenorrhea (37.9%), Normal Menarhe Age 12-14 years
(41.4%). Nutritional status is poor (36.2%), frequency of frequent consumption of junk food
(39.7%). The results of the bivariate analysis obtained a p-value of 0.002 for menarche age,
0.000 for Nutritional Status and 0.000 for junk food consumption on the level of
dysmenorrhea pain. There is a significant relationship between menarche age, nutritional
status and junk food consumption on dysmenorrhea
Keywords: Dysmenorrhea, Junk Food, Menarche Age, Nutritional Status
2
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
INTRODUCTION
Dismenorea merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesteron
dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang terjadi saat haid dan
menyebabkan kram di bagian bawah perut, nyeri selangkangan, nyeri pungggung, nyeri
pinggang dan nyeri paha yang terjadi sesaat sebelum dan/atau selama periode menstruasi
(Budi Prayitno, 2016). Prevalensi dismenorea di dunia dengan kejadian sebesar 1.769.425
jiwa (90%) wanita yang mengalami dismenorea, 10-15% diantaranya mengalami dismenorea
berat (Nurwana et al., 2017). Prevalensi dismenore di Indonesia sebesar 107.673 jiwa
(64,25%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami dismenore primer dan 9.496
jiwa (9,36%) mengalami dismenore sekunder (Nuriya Sari, 2023), dijawa tengah 1.465.876
jiwa (Elsera et al., 2022). Hasil penelitain yang pernah di lakukan teridentifikasi dismenore
terjadi pada 73,7% pada siswi MTs Medan (Mouliza, 2020) 87,6% siswi SMA Makasar
(Pratiwi, 2017) dan 61,7% pada mahasiswi farmasi (Pundati, Tia Martha, Colti Sistiarani,
2016).
Penyebab terjadinya dismenore adalah ketidakseimbangan hormon dalam tubuh, salah satunya
prostaglandin. Kadar prostaglandin yang meningkat akan merangsang peningkatan frekuensi
serta amplitudo kontraksi otot polos uterus, yang kemudian menyebabkan timbulnya nyeri
haid (dismenore) (Husaidah, 2021). Selain ketidaksimbangan hormon, dari beberapa studi
menyebutkan terdapat faktor risiko lain yang menyebabkan timbulnya dismenorea, antara lain
faktor yang memengaruhi terjadinya dismenore yakni faktor psikis, Indeks massa tubuh
(IMT), riwayat keluarga, olahraga, usia menarche, siklus menstruasi, mengkonsumsi alkohol,
dan pengaruh hormon prostaglandin yang dapat dilihat dengan kadar malondialdehide dalam
tubuh (Irianti, 2018). Perokok dan penggunaan alkohol juga berhubungan dengan terjadinya
dismenorea, cemas, stres, depresi (Gunawati and Nisman, 2021), aktivitas fisik, durasi
menstruasi (Putri et al., 2024), konsumsi makanan berlemak dan konsumsi kafein (Mesele et
al., 2022), konsumsi gula berlebih dan volume darah saat menstruasi (Muluneh et al., 2018),
stress (Jeon et al., 2014). Nulipara (belum pernah melahirkan anak), kegemukan, dan
penderita darah rendah atau anemia (Sari, 2023).
Dampak Dismenorea sejumlah besar remaja perempuan diantaranya pada aspek sosial,
akademik, dan bahkan psikologis kehidupan, rasa nyaman terganggu, aktifitas menurun, pola
tidur terganggu, selera makan terganggu, hubungan interpersonal terganggu, kesulitan
berkonsentrasi pada pekerjaan dan dapat memicu depresi (Putri et al., 2023). Kegagalan
dalam mengatasi permasalahan dismenore ini dapat menyebabkan beban sosial dan keuangan
bagi keluarga, tetangga, masyarakat, dan dunia pada umumnya (Molla et al., 2022). Selain itu
remaja putri yang mengalami dismenorhea saat menstruasi dapat menimbulkan gangguan
aktivitas seperti tingginya tingkat absen dari sekolah, keterbatasan kehidupan sosial, performa
akademik, serta aktivitas olahraganya dan bahkan secara psikologi penderita dismenorhea
sering mengalami mudah marah, cepat tersinggung, tidak dapat konsentrasi, sulit tidur, lelah,
dan merasa depresi, di sekolah juga mengalami perubahan emosi dengan terjadinya sifat
sensitif terhadap perkataan guru maupun teman (Silaban et al., 2021)
Penelitian (Ameade et al., 2018) dismenorea saat menstruasi ini memengaruhi aktivitas
sehari- hari hingga 61,2% dari responden. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
(Söderman et al., 2019) terhadap 1580 wanita yang mengalami kelelahan 83%, sakit kepala
82%, dyschezia 37% dan disuria sebesar 35%. Dalam penelitiannya juga dilaporkan bahwa
59% menahan diri dari aktivitas sosial karena dismenore, serta ketidakhadiran di sekolah
terjadi 14% setiap bulan dan 45% terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Disminorea atau
nyeri haid merupakan kondisi yang wajar, akan tetapi kadang rasa nyeri yang ditimbulkan
bisa sangat menganggu. Oleh karena itu diperlukan perawatan untuk membantu
meredakannya, upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah beristirahat, menghindari
makanan yang mengandung garam dan kafein, menghindari
3
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
tembakau dan alkohol, melakukan pijat pada perut dan punggung bagian bawah,
mengonsumsi suplemen makanan, mengendalikan stres, melakukan akupunktur atau
akupresur. Berolahraga secara rutin juga dinilai mampu untuk mengurangi nyeri haid. Apabila
langkah-langkah diatas tidak cukup membantu maka dianjurkan untuk menemui dokter
(Kementerian Kesehatan Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan 2022).
Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya dismenorea menjadi penting sebagai salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dismenore termasuk perubahan gaya
hidup, seperti pola makan yang sehat dan olahraga teratur, penggunaan obat-obatan yang
diresepkan oleh profesional kesehatan, serta metode alternatif seperti terapi fisik atau terapi
panas dingin. (Yanti et al., 2024), memberikan kegiatan penyuluhan tentang pengetahuan dan
pemahaman yang ilmiah, akurat dan dapat dipercaya akan dapat membantu remaja putri untuk
mengerti dan paham dismenore serta tata cara mengatasinya dismenore (Rahmawati, 2023)
dan memberikan edukasi tentang dismenorea pada remaja sehingga dapat mengidentifikasi
masalah kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan dismenorea dan mengatasi keluhan
dismenorea dengan tepat sehingga dapat mengurangi ketidaknyamanan selama menstruasi
(Putri et al., 2023).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan
cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58
responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data
dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat
dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari
Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan
cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58
responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data
dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat
dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari
Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024.
Results
A. Analisis Univariat
1. Disminorea
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Disminorea
2. Sikap
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Usia Menarche
Total 58 100,0 %
Sumber : W H 0 2 0 2 2
Berdasarkan Tabel 2. Distribusi frekuensi usia menarche menunjukkan bahwa dari 58
responden 41,4% dengan usia menarche normal dan 25,9% dengan usia menarche Lambat.
3. Status Gizi
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Gizi
Berdasarkan Tabel 4. Distribusi frekuensi konsumsi junk food menunjukan bahwa dari 58
responden kategori mengkonsumsi junk food yang sering sebesar 39,7% dan yang jarang
mengkonsumsi junk food sebesalr 25,9%.
B. Analisis Bivariat
Lalmbalt 10 3 2
(17,2%) (5,1%) (3,4%)
Berdasarkan Tabel 5. diketahui 18,9% usia menarche normal mengalami Dismonorea berat.
Hasil analisis diperoleh p-value 0,002 (< 0,05) sehinggal Hal diterima dan H0 ditolak yang
bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan dismenorea.
Berdasarkan Tabel 6. diketalhui 24,1% usia status gizi kurang mengalami dismenorea berat.
Hasil analisis diperoleh p vallue 0,000 (< 0,05) sehingga Ha diterima dan H0 ditolak yang
bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan dismenorea.
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui 29,3 % konsumsi junk food yang sering mengalami
Dismonorea sedang. Hasil analisis diperoleh p vallue 0,000 (< 0,05) sehinggal Ha diterima
dan H0 ditolak yang bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsumsi junk
food dengan dismenorea
Discussion
7
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
perasa yang terlalu kuat, serta pengawet tertentu yalng dapat membayakan kesehatan karena
memberikan dampak yang buruk jika dikonsumsi terlalu sering. Paul Thompson, profesor
neurologi di University of Los ALngeles (2021 )mengatakan bahwa makanan berlemak
seperti junk food dapat menyumbat arteri sehingga merugikan jantung. Selain itu, kondisi ini
mirip dengan apa yang terjaldi pada pembuluh darah di otak. Dalam penelitian yalng
dilakukan Thompson, ditemukan bahwa setiap tahunnya rata-rata orang akan kehilangan 0,5%
dari bagian otak. Namun, oralng gemuk akaln mengalami penuaan otak lebih cepat karena
merekal kehilalngaln 4 persen otaknya (Nurwana et al., 2017). Penelitian terdahulu ini
menurut (Primalova and Stefani, 2024) menunjukkan bahwa 94,3 % siswi yang mengalami
Dismonorea dan sering mengkonsumsi junk food.
Berdasarkan Tabel 5., hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara usia menarche dengan dismenorea dengan hasil p-value 0,002 (< 0,05). Menurut
(Kosim et al., 2021) mengatakan bahwa menarche menandakan bahwa mekanisme reproduksi
pada anak perempuan telah berfungsi matang. Sehingga apabila usia menarche seorang remaja
terjadi lebih cepat (dini) maka kematangan organ reproduksinya masih belum matang
sempurna. Hal ini dikarenakan organ reproduksi wanita masih belum berfungsi secara
maksimal. Pematangan organ reproduksi yaitu aksis hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
Penelitian menurut (Sakinah, 2016) menjelaskan bahwa usia menarche dapat berhubungan
dengan dismenorea karena usia menarche dapat mempengaruhi perubahan hormonal yang
sering dialami oleh remaja. Hal ini dapat terjadi karena usia menarche bukan satu-satunya
faktor yang menyebabkan kejadian dismenore, terdapat faktor - faktor lain yang berpengaruh
terhadap kejadian dismenore antara lain faktor fisik dan psikis. Faktor fisik berpengaruh
terhadap kejadian dismenore salah satunya karena faktor hormonal. Hormon yang berbeda-
beda pada setiap individu menimbulkan efek bagin tubuh yang berbeda pula (Silvana, 2012).
Menurut (Silvana, 2012) psikis dapat memperparah dismenorea antara lain stress psikis atau
stress sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia menarche tidak berhubungan dengan nyeri haid
pada mahasiswi Akademi Kebidanan Prima Husada dengan p-value 0,426 dan Odds Ratio
(OR) sebesar 0,659 yang artinya mahasiswa dengan usia < 12 tahun memiliki peluang 0,659
kali lebih besar terhadap kejadian dismenore dibandingkan mahasiswi dengan usia > 12 tahun
(Munir et al., 2024). Penelitian yang diakukan oleh (Silaban et al., 2021) uji menggunakan
aplikasi SPSS versi 17 p-valuediperoleh hasil [Link] 0,001< α = 0,05. Hal ini berarti ada
hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan kejadian nyeri haid pada remaja. Hal
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rika, 2017) yang dimana ditemukan bahwa
hubungan dengan kejadian nyeri haid (dismenorhea) pada siswi Madrasah Aliyah Negeri
Pasir Pengarain adalah menarche normal dengan pvalue = 1.000, artnya tidak ada hubungan
usia menarche dengan dismenorhea.
Berdasarkan Tabel 6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara status gizi dengan dismenorea hasil p vallue 0,000 (< 0,05). Status gizi merupakan
keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi,
penyerapan (absorbsi), dan penggunaan (utilization) zat gizi makanan. Prostaglandin yang
meningkat akan menimbulkan penyempitan pada pembuluh darah arteriol uterin sehingga
terjadi iskemia dan kram perut yang mengakibatkan timbul rasa nyeri (Ginting, A.K., 2021).
Asupan gizi yang kurang akan menyebabkan kecukupan gizi tidak baik sehingga dapat
menjadikan gangguan menstruasi seperti dismenorea (Kosim et al., 2021). Status Gizi yang
normal dihasilkan ketika tubuh menerima kecukupan asupan zat gizi dalam tubuh yang yang
dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
9
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
kemampuan kerja dan kesehatan secara keseluruhan. Status gizi lebih (overweight) juga bisa
menyebabkan dismenorea karena adanya penumpukan lemak pada pembuluh darah sehingga
terjadi hiperplasi (penyumbatan darah) dan timbul rasa nyeri. Hasil penelitian terdahulu
(Kosim, 2019) menunjukkan bahwa terdapat hubungan status gizi dengan kejadian
dismenorea didapatkan signifikan sebesar p = 0,023 (p<0,005) sehingga terdapat hubungan
yang signifikan antara status gizi dengan kejadian dismenorea pada remaja putri. Penelitian
ini juga sejalan dengan penelitian (Retno and Amalia, 2023) berdasarkan hasil uji statistik
diperoleh p-value= 0,003 yang berarti p>α = 0,05 (Ha diterima dan Ho ditolak), maka dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan status gizi dengan terjadinya dismenore pada siswi kelas
VIII SMP Negeri 17 Kota Bandar Lampung Tahun 2021.
Berdasarkan Tabel 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara konsumsi junk food dengan dismenoreal halsil p vallue 0,000 (< 0,05). Junk food
adalah makanan cepat saji atau siap saji yang penuh dengan bahan-bahan yang tidak sehat dan
mungkin tidak memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, serta sedikit atau tidak ada serat
makanan atau buah-sayuran (Anthony, 2015). Makanan cepat saji yang mengandung lemak
tinggi, terutama lemak jenuh dan lemak trans, seperti pizza, ayam goreng (biasanya dengan
kulitnya), kentang goreng bermentega (juga disebut french fries), keripik kentang berkeju
(juga disebut potato chips), biskuit manis dan gurih, dan bahkan minuman manis bersoda
yang sangat disukai semua orang (Budi Prayitno, 2016). Junk food sebaiknya dihindari karena
mengandung banyak sodium, saturated fat, kolesterol, dan gula yang tinggi dan dapat
menyebabkan banyak penyakit (Budi Prayitno, 2016). Penelitian oleh (Aulya et al., 2021)
juga menyebutkan bahwa konsumsi junk food terkait dengan dismenore. Dismenore primer
dipengaruhi oleh intensitas makanan cepat saji. Jika konsumsi makanan cepat saji yang
memiliki kandungan negatif sudah melebihi batas normal, maka makanan tersebut akan
memerlukan waktu yang lama untuk diserap oleh tubuh. Ini akan mengganggu berbagai
fungsi organ tubuh manusia, salah satunya mempengaruhi alat reproduksi, terutama pada
wanita, yang menyebabkan dismenore primer. Penelitian oleh (Tariandini, 2018)
menunjukkan bahwa antara dismenore dan kebiasaan makan junk food tidak ada korelasi yang
signifikan. Konsumsi junk food pada penelitian tersebut diukur menggunakan FFQ (Food
Frequency Quistionnare) yang meliputi jenis, jumlah dan frekuensi, sedangkan dalam
penelitian ini konsumsi junk food diukur melalui frekuensinya sajaHasil penelitian oleh
(Aulya et al., 2021) juga menunjukkan hal yang sama, yakni konsumsi makanan cepat saji
berpengaruh dengan kejadian dismenore dimana p-value yang diperoleh adalah 0,032. Selain
itu, Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh juga menemukan hubungan yang signifikan (p-
value= 0,022) antara konsumsi makanan cepat saji dan kasus dismenore.
10
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
Conclusions
Berdasarkan Berlandasan riset yang berjudul “Analisis faktor-faktor yang memengaruhi
disminorea pada remaja putri di SMA Negeri 10 Semarang Kecamatan Genuk, Kota
Semarang, Provinsi Jawa Tengah” bisa diambil kesimpulan:
Acknowledgements
Kami berterimakasih kepada pihak responden dan Fakultas Farmasi Prodi Sarjana Dan Profesi
Bidan Universitas Islam Sultan Agung yang telah memberikan dukungan terhadap penelitian
ini.
Authors’ contributions
AFS melakukan penelitian, pengolahan data, dan membuat pembahasan, melakukan koreksi
terkait penelitian serta memandu penelitian, dan melakukan koreksi terkait penelitian.
11
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX
References