0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Faktor Penyebab Dismenorea Remaja Putri

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Faktor Penyebab Dismenorea Remaja Putri

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung


Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Original Papers/Review

Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Disminorea pada Remaja Putri di SMA


Negeri 10 Semarang
ABSTRACT
Latar belakang: Dismenorea merupakan masalah ginekologis dengan angka kejadian yang
masih sangat besar, di sebagian besar Negara Eropa dan ASIA rata-rata prevalensi dismenore
73,6%. Di Indonesia sendiri dari beberapa penelitian diketahui bahwa kejadian dismenore
lebih dari 60%. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara usia menarche,status gizi dan
konsumsi junk food terhadap dismenorea. Metode: penelitian ini menggunakan metode
deskritif kuantitatif dengan pendekanan cross sectional study, menggunakan teknik sampling
yaitu Stratified Random samping, sampel pada penelitian ini adalah 58 responden sesuai
dengan kriteria inklusi, dan Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data yang
diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Chi square. Hasil : Hasil analisis univariat
mayoritas responden mengalami dismenore sedang (37,9%), Usia Menarhe Normal 12-14
tahun (41,4%). Status Gizi kurang (36,2%) frekuensi konsumsi junk food sering (39,7%).
Hasil analisis bivariat didapatkan p-value 0,002 untuk usia menarche, 0,000 untuk Status Gizi
dan 0,000 untuk konsumsi junk food terhadap tingkat nyeri dismenore. Ada hubungan yang
signifikan antara usia menarche, status gizi dan konsumsi junk food terhadap dismenorea.
Kata kunci: Dismenorea, Konsumsi Junk food, Status Gizi, Usia Menarche,

Analysis of Factors Affecting Dysminorea in Adolescent Girls at SMA Negeri 10 Semarang

Abstract
Background: Dysmenorrhea is a gynecological problem with a very large incidence rate, in
most European countries and Asia the average prevalence of dysmenorrhea is 73.6%. In
Indonesia itself, several studies have shown that the incidence of dysmenorrhea is more than
60%. Objective: To find out the relationship between menarche age, nutritional status and
junk food consumption on dysmenorrhea. Methods: This study uses a quantitative descriptive
method with the short cross sectional study, using a sampling technique, namely Stratified
Random side, the sample in this study is 58 respondents according to the inclusion criteria,
and the data collection instrument uses a questionnaire. The data obtained was then analyzed
using Chi square. Results: The results of the univariate analysis showed that the majority of
respondents experienced moderate dysmenorrhea (37.9%), Normal Menarhe Age 12-14 years
(41.4%). Nutritional status is poor (36.2%), frequency of frequent consumption of junk food
(39.7%). The results of the bivariate analysis obtained a p-value of 0.002 for menarche age,
0.000 for Nutritional Status and 0.000 for junk food consumption on the level of
dysmenorrhea pain. There is a significant relationship between menarche age, nutritional
status and junk food consumption on dysmenorrhea
Keywords: Dysmenorrhea, Junk Food, Menarche Age, Nutritional Status
2
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

INTRODUCTION
Dismenorea merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesteron
dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang terjadi saat haid dan
menyebabkan kram di bagian bawah perut, nyeri selangkangan, nyeri pungggung, nyeri
pinggang dan nyeri paha yang terjadi sesaat sebelum dan/atau selama periode menstruasi
(Budi Prayitno, 2016). Prevalensi dismenorea di dunia dengan kejadian sebesar 1.769.425
jiwa (90%) wanita yang mengalami dismenorea, 10-15% diantaranya mengalami dismenorea
berat (Nurwana et al., 2017). Prevalensi dismenore di Indonesia sebesar 107.673 jiwa
(64,25%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami dismenore primer dan 9.496
jiwa (9,36%) mengalami dismenore sekunder (Nuriya Sari, 2023), dijawa tengah 1.465.876
jiwa (Elsera et al., 2022). Hasil penelitain yang pernah di lakukan teridentifikasi dismenore
terjadi pada 73,7% pada siswi MTs Medan (Mouliza, 2020) 87,6% siswi SMA Makasar
(Pratiwi, 2017) dan 61,7% pada mahasiswi farmasi (Pundati, Tia Martha, Colti Sistiarani,
2016).
Penyebab terjadinya dismenore adalah ketidakseimbangan hormon dalam tubuh, salah satunya
prostaglandin. Kadar prostaglandin yang meningkat akan merangsang peningkatan frekuensi
serta amplitudo kontraksi otot polos uterus, yang kemudian menyebabkan timbulnya nyeri
haid (dismenore) (Husaidah, 2021). Selain ketidaksimbangan hormon, dari beberapa studi
menyebutkan terdapat faktor risiko lain yang menyebabkan timbulnya dismenorea, antara lain
faktor yang memengaruhi terjadinya dismenore yakni faktor psikis, Indeks massa tubuh
(IMT), riwayat keluarga, olahraga, usia menarche, siklus menstruasi, mengkonsumsi alkohol,
dan pengaruh hormon prostaglandin yang dapat dilihat dengan kadar malondialdehide dalam
tubuh (Irianti, 2018). Perokok dan penggunaan alkohol juga berhubungan dengan terjadinya
dismenorea, cemas, stres, depresi (Gunawati and Nisman, 2021), aktivitas fisik, durasi
menstruasi (Putri et al., 2024), konsumsi makanan berlemak dan konsumsi kafein (Mesele et
al., 2022), konsumsi gula berlebih dan volume darah saat menstruasi (Muluneh et al., 2018),
stress (Jeon et al., 2014). Nulipara (belum pernah melahirkan anak), kegemukan, dan
penderita darah rendah atau anemia (Sari, 2023).
Dampak Dismenorea sejumlah besar remaja perempuan diantaranya pada aspek sosial,
akademik, dan bahkan psikologis kehidupan, rasa nyaman terganggu, aktifitas menurun, pola
tidur terganggu, selera makan terganggu, hubungan interpersonal terganggu, kesulitan
berkonsentrasi pada pekerjaan dan dapat memicu depresi (Putri et al., 2023). Kegagalan
dalam mengatasi permasalahan dismenore ini dapat menyebabkan beban sosial dan keuangan
bagi keluarga, tetangga, masyarakat, dan dunia pada umumnya (Molla et al., 2022). Selain itu
remaja putri yang mengalami dismenorhea saat menstruasi dapat menimbulkan gangguan
aktivitas seperti tingginya tingkat absen dari sekolah, keterbatasan kehidupan sosial, performa
akademik, serta aktivitas olahraganya dan bahkan secara psikologi penderita dismenorhea
sering mengalami mudah marah, cepat tersinggung, tidak dapat konsentrasi, sulit tidur, lelah,
dan merasa depresi, di sekolah juga mengalami perubahan emosi dengan terjadinya sifat
sensitif terhadap perkataan guru maupun teman (Silaban et al., 2021)
Penelitian (Ameade et al., 2018) dismenorea saat menstruasi ini memengaruhi aktivitas
sehari- hari hingga 61,2% dari responden. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
(Söderman et al., 2019) terhadap 1580 wanita yang mengalami kelelahan 83%, sakit kepala
82%, dyschezia 37% dan disuria sebesar 35%. Dalam penelitiannya juga dilaporkan bahwa
59% menahan diri dari aktivitas sosial karena dismenore, serta ketidakhadiran di sekolah
terjadi 14% setiap bulan dan 45% terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Disminorea atau
nyeri haid merupakan kondisi yang wajar, akan tetapi kadang rasa nyeri yang ditimbulkan
bisa sangat menganggu. Oleh karena itu diperlukan perawatan untuk membantu
meredakannya, upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah beristirahat, menghindari
makanan yang mengandung garam dan kafein, menghindari
3
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

tembakau dan alkohol, melakukan pijat pada perut dan punggung bagian bawah,
mengonsumsi suplemen makanan, mengendalikan stres, melakukan akupunktur atau
akupresur. Berolahraga secara rutin juga dinilai mampu untuk mengurangi nyeri haid. Apabila
langkah-langkah diatas tidak cukup membantu maka dianjurkan untuk menemui dokter
(Kementerian Kesehatan Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan 2022).
Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya dismenorea menjadi penting sebagai salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dismenore termasuk perubahan gaya
hidup, seperti pola makan yang sehat dan olahraga teratur, penggunaan obat-obatan yang
diresepkan oleh profesional kesehatan, serta metode alternatif seperti terapi fisik atau terapi
panas dingin. (Yanti et al., 2024), memberikan kegiatan penyuluhan tentang pengetahuan dan
pemahaman yang ilmiah, akurat dan dapat dipercaya akan dapat membantu remaja putri untuk
mengerti dan paham dismenore serta tata cara mengatasinya dismenore (Rahmawati, 2023)
dan memberikan edukasi tentang dismenorea pada remaja sehingga dapat mengidentifikasi
masalah kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan dismenorea dan mengatasi keluhan
dismenorea dengan tepat sehingga dapat mengurangi ketidaknyamanan selama menstruasi
(Putri et al., 2023).

Material and Methods

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan
cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58
responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data
dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat
dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari
Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan
cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58
responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data
dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat
dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari
Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024.

Results
A. Analisis Univariat
1. Disminorea
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Disminorea

Variable Pengetahuan Frekuensi (n) Presentase (%)


Disminorea Ringan 16 27,6%
Disminorea Sedang 22 37,9%
Disminorea Berat 20 34,5%
Total 58 100.0%
Sumber : Teheran et al 2018
Berdasarkan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Disminorea menunjukkan bahwa dari 58 responden
37,9% mengalami dismenorea sedang dan 27,6% responden mengalami dismenorea ringan
4
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

2. Sikap
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Usia Menarche

Variable Sikap Frekuensi (n) Presentase (%)


Dini < 8 tahun 19 32,8%
Normal 8-14 tahun 24 41,4%
Lambat >15 tahun 15 25,9%
5
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Total 58 100,0 %
Sumber : W H 0 2 0 2 2
Berdasarkan Tabel 2. Distribusi frekuensi usia menarche menunjukkan bahwa dari 58
responden 41,4% dengan usia menarche normal dan 25,9% dengan usia menarche Lambat.

3. Status Gizi
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Gizi

Variable Tindakan Frekuensi (n) Presentase (%)


Gizi Kurang 21 36,2%
Gizi Normal 20 34,5%
Gizi Lebih 17 29,3%
Total 58 100.0%
Sumber :Kementerian Kesehatan 2020

Berdasarkan Tabel 3. Distribusi frekuensi status gizi menunjukkan bahwa 58 responden


36,2% dengan status gizi kurang dan 29,3% status gizi lebih.

4. Konsumsi Junk food

Tabel 4. Distribusi Frekuensi konsumsi junk food

Variable Tindakan Frekuensi (n) Presentase (%)


Sangat sering 20 34,5 %
Sering 23 39,7 %
Jarang 15 25,9%
Total 58 100.0%
Sumber : Bohara 2021

Berdasarkan Tabel 4. Distribusi frekuensi konsumsi junk food menunjukan bahwa dari 58
responden kategori mengkonsumsi junk food yang sering sebesar 39,7% dan yang jarang
mengkonsumsi junk food sebesalr 25,9%.

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan Usia menarche dengan Disminorea

Tabel 5. Hubungan Usia Menarche dengan Disminorea

Usial Dismenorea P vallue


Menalrc Dismenore Dismenore Dismenore
he al al al
ringaln Sedalng Beralt
Dini 3 9 7
(5,1%) (15,5%) (12,0%)
Normall 3 10 11 0.002
(5,1%) (17,2%) (18,9%)
6
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Lalmbalt 10 3 2
(17,2%) (5,1%) (3,4%)

Berdasarkan Tabel 5. diketahui 18,9% usia menarche normal mengalami Dismonorea berat.
Hasil analisis diperoleh p-value 0,002 (< 0,05) sehinggal Hal diterima dan H0 ditolak yang
bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan dismenorea.

2. Hubungan dengan Disminorea dengan Status Gizi

Tabel 6. Hubungan Usia Menarche dengan Disminorea

Staltus Dismonorea P vallue


Gizi
Dismonorea Dismonorea Dismonorea
Ringan Sedang Berat
Gizi 3 4 14
Kurang (5,1%) (6,8%) (24,1%)
Gizi 2 13 5 0.000
Normal (3,4%) (22,4%) (8,6%)
Gizi Lebih 11 5 1
(18,9%) (8,6%) (1,7%)

Berdasarkan Tabel 6. diketalhui 24,1% usia status gizi kurang mengalami dismenorea berat.
Hasil analisis diperoleh p vallue 0,000 (< 0,05) sehingga Ha diterima dan H0 ditolak yang
bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan dismenorea.

3. Hubungan Disminorea dengan Konsumsi Junk food

Tabel 7. Hubungan konsumsi junk food dengan Disminorea

Konsumsi junk Dismonore P


food a

Dismonore Dismonore Dismonore 0.000


a a a Beralt
Ringaln Sedalng
Salngalt Sering 1 3 16
(1,7%) (5,1%) (27,5%)
Sering 3 17 3
(5,1%) (29,3%) (5,1%)
Jalralng 12 2 1
(20,6%) (3,4%) (1,7%)

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui 29,3 % konsumsi junk food yang sering mengalami
Dismonorea sedang. Hasil analisis diperoleh p vallue 0,000 (< 0,05) sehinggal Ha diterima
dan H0 ditolak yang bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsumsi junk
food dengan dismenorea

Discussion
7
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Berdasarkan Tabel 1, hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 10 Semarang


menunjukkan bahwa sebanyak 37,9% responden mengalami dismenore dengan kategori
sedang. Dismenorea didefinisikan sebagali rasa sakit yang berhubungan dengan menstruasi
yang mungkin terjldi sebelum atau selama menstruasi (Rao, 2020). Dismenorea di
klasifikasikan menjadi 2 yaitu Dismenore primer disebabkan oleh kontraksi yang sangat
kuat dari otot-otot rahim untuk melepaskan lapisan dinding rahim yang tidak diperlukan.
Dismenorea primer juga disebabkan oleh prostagandin. Dismenore sekunder disebabkan oleh
kelainan atau gangguan pada sistem reproduksi, seperti fibroid, radang panggul,
endometriosis, atau kehamilan ektopik. Banyak faktor yang berhubungan dengan terjadinya
dismenore. Penelitian terdahulu menurut (Sri et al., 2024) menyebutkan bahwa terdapat
75,8% responden mengalami dismenorea sedang.
Berdasarkan Tabel 2, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki usia
menarche dalam kategori normal, yaitu sebesar 60,3%. Menurut (Kosim et al., 2021)
mengatakan bahwa menarche menandakan terdapat mekanisme reproduksi pada anak
perempuan telah berfungsi matang. Remaja dengan usia menarche dini yaitu < 8 tahun remaja
berada pada masa pubertas dimana kematangan organ-organ reproduksi belum sempurna dan
masih terjadi penyempitan pada leher rahim, maka akan timbul rasa sakit saat menstruasi. Hal
ini dikarenakan organ reproduksi wanita masih belum berfungsi secara maksimal.
Pematangan organ reproduksi yaitu aksis hipotalamus, hipofisis, dan ovarium. Dari kelenjar
hipofisis mengeluarkan hormon LH daln FSH dan dipengaruhi oleh releasing hormon (RH).
RH merespon produksi gonadotropin yang mengandung estrogen dan progesteron. Kedua
hormon tersebut dapat memengaruhi endometrium yang tumbuh. Tidak adanya pembuahan
menyebabkan terjadinya regresi pada korpus luteum, penurunan hormon progesteron dan
peningkatan prostaglandin yang merangsang myometrium sehingga terjadi iskemik dan
penurunan aliran darah ke uterus menyebabkan rasa nyeri. Selain itu faktor kesiapan diri
remaja usia < 8 tahun untuk menghadapi menstruasi pertama kali mungkin berpengaruhi pada
interpretasi ambang nyeri remaja tersebut. Menurut (Kosim, 2019) bahwa sebagian besar
responden mengalami menarche pada usia normal (12-14 tahun) sebanyak 76%. Menurut
(Septiana, 2021) Usial menarche mahasiswi tingkat I di Akademi Kebidanan Mambal’ul
Ulum Surakarta tahun 2021 mayoritas mengalami menarche pada rentang usia normal (11 –
15 tahun) yaitu sebanyak 48 (92,31%).
Berdasarkan Tabel 3. hasil penelitian mayoritals status gizi pada responden adalah gizi kurang
36,2%. Status gizi merupakan salah satu indikator pemenuhan gizi pada individu yang dapat
diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi dapat menyebabkan terjadinya
dismenore, meskipun masih banyak faktor lain yang turut berpengaruh, seperti usia menarche,
riwayat keluarga dengan dismenore, usia, stres, dan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga.
Status gizi kurang (underweight) disebabkan oleh rendahnya asupan makanan, yang
berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan zat gizi dalam tubuh. Kekurangan zat besi,
misalnya, dapat menyebabkan anemia. Anemia merupakan salah satu faktor yang menurunkan
ketahanan tubuh terhadap nyeri, sehingga dapat memicu terjadinya dismenorea (Ginting,
A.K., 2021).
Hal ini juga terjadi pada kondisi tubuh kekurangan zat kalsium. Apabila kadar kalsium rendah
maka dapat terjadi kram atau nyeri saat menstruasi sebab kalsium berperan untuk mengurangi
dismenorea, yakni sebagai zat yang diperlukan untuk kontraksi otot. Pada saat otot
berkontraksi, kalsium berperan dalam interaksi protein di dalam otot yalitu aktin dan miosin.
Bila otot kekurangan kalsium, maka otot tidak dapat mengendur setelah kontraksi, sehingga
dapat mengakibatkan otot menjadi kram (Kosim et al., 2021)
Berdasarkan Tabel 4, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki
frekuensi konsumsi junk food yang tinggi, dengan persentase sebesar 39,7%. Junk food sendiri
adalah makanan yalng rendah gizi dan penuh dengan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Zat-
zat yang kurang dibutuhkan dan terkandung dalam junk food diantaranya adalah kalori yang
berlebih atau sangat rendah, kandungan lemak jenuh dan natrium atau garam tinggi, bahan
8
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

perasa yang terlalu kuat, serta pengawet tertentu yalng dapat membayakan kesehatan karena
memberikan dampak yang buruk jika dikonsumsi terlalu sering. Paul Thompson, profesor
neurologi di University of Los ALngeles (2021 )mengatakan bahwa makanan berlemak
seperti junk food dapat menyumbat arteri sehingga merugikan jantung. Selain itu, kondisi ini
mirip dengan apa yang terjaldi pada pembuluh darah di otak. Dalam penelitian yalng
dilakukan Thompson, ditemukan bahwa setiap tahunnya rata-rata orang akan kehilangan 0,5%
dari bagian otak. Namun, oralng gemuk akaln mengalami penuaan otak lebih cepat karena
merekal kehilalngaln 4 persen otaknya (Nurwana et al., 2017). Penelitian terdahulu ini
menurut (Primalova and Stefani, 2024) menunjukkan bahwa 94,3 % siswi yang mengalami
Dismonorea dan sering mengkonsumsi junk food.
Berdasarkan Tabel 5., hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara usia menarche dengan dismenorea dengan hasil p-value 0,002 (< 0,05). Menurut
(Kosim et al., 2021) mengatakan bahwa menarche menandakan bahwa mekanisme reproduksi
pada anak perempuan telah berfungsi matang. Sehingga apabila usia menarche seorang remaja
terjadi lebih cepat (dini) maka kematangan organ reproduksinya masih belum matang
sempurna. Hal ini dikarenakan organ reproduksi wanita masih belum berfungsi secara
maksimal. Pematangan organ reproduksi yaitu aksis hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
Penelitian menurut (Sakinah, 2016) menjelaskan bahwa usia menarche dapat berhubungan
dengan dismenorea karena usia menarche dapat mempengaruhi perubahan hormonal yang
sering dialami oleh remaja. Hal ini dapat terjadi karena usia menarche bukan satu-satunya
faktor yang menyebabkan kejadian dismenore, terdapat faktor - faktor lain yang berpengaruh
terhadap kejadian dismenore antara lain faktor fisik dan psikis. Faktor fisik berpengaruh
terhadap kejadian dismenore salah satunya karena faktor hormonal. Hormon yang berbeda-
beda pada setiap individu menimbulkan efek bagin tubuh yang berbeda pula (Silvana, 2012).
Menurut (Silvana, 2012) psikis dapat memperparah dismenorea antara lain stress psikis atau
stress sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia menarche tidak berhubungan dengan nyeri haid
pada mahasiswi Akademi Kebidanan Prima Husada dengan p-value 0,426 dan Odds Ratio
(OR) sebesar 0,659 yang artinya mahasiswa dengan usia < 12 tahun memiliki peluang 0,659
kali lebih besar terhadap kejadian dismenore dibandingkan mahasiswi dengan usia > 12 tahun
(Munir et al., 2024). Penelitian yang diakukan oleh (Silaban et al., 2021) uji menggunakan
aplikasi SPSS versi 17 p-valuediperoleh hasil [Link] 0,001< α = 0,05. Hal ini berarti ada
hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan kejadian nyeri haid pada remaja. Hal
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rika, 2017) yang dimana ditemukan bahwa
hubungan dengan kejadian nyeri haid (dismenorhea) pada siswi Madrasah Aliyah Negeri
Pasir Pengarain adalah menarche normal dengan pvalue = 1.000, artnya tidak ada hubungan
usia menarche dengan dismenorhea.
Berdasarkan Tabel 6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara status gizi dengan dismenorea hasil p vallue 0,000 (< 0,05). Status gizi merupakan
keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi,
penyerapan (absorbsi), dan penggunaan (utilization) zat gizi makanan. Prostaglandin yang
meningkat akan menimbulkan penyempitan pada pembuluh darah arteriol uterin sehingga
terjadi iskemia dan kram perut yang mengakibatkan timbul rasa nyeri (Ginting, A.K., 2021).
Asupan gizi yang kurang akan menyebabkan kecukupan gizi tidak baik sehingga dapat
menjadikan gangguan menstruasi seperti dismenorea (Kosim et al., 2021). Status Gizi yang
normal dihasilkan ketika tubuh menerima kecukupan asupan zat gizi dalam tubuh yang yang
dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
9
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

kemampuan kerja dan kesehatan secara keseluruhan. Status gizi lebih (overweight) juga bisa
menyebabkan dismenorea karena adanya penumpukan lemak pada pembuluh darah sehingga
terjadi hiperplasi (penyumbatan darah) dan timbul rasa nyeri. Hasil penelitian terdahulu
(Kosim, 2019) menunjukkan bahwa terdapat hubungan status gizi dengan kejadian
dismenorea didapatkan signifikan sebesar p = 0,023 (p<0,005) sehingga terdapat hubungan
yang signifikan antara status gizi dengan kejadian dismenorea pada remaja putri. Penelitian
ini juga sejalan dengan penelitian (Retno and Amalia, 2023) berdasarkan hasil uji statistik
diperoleh p-value= 0,003 yang berarti p>α = 0,05 (Ha diterima dan Ho ditolak), maka dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan status gizi dengan terjadinya dismenore pada siswi kelas
VIII SMP Negeri 17 Kota Bandar Lampung Tahun 2021.
Berdasarkan Tabel 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara konsumsi junk food dengan dismenoreal halsil p vallue 0,000 (< 0,05). Junk food
adalah makanan cepat saji atau siap saji yang penuh dengan bahan-bahan yang tidak sehat dan
mungkin tidak memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, serta sedikit atau tidak ada serat
makanan atau buah-sayuran (Anthony, 2015). Makanan cepat saji yang mengandung lemak
tinggi, terutama lemak jenuh dan lemak trans, seperti pizza, ayam goreng (biasanya dengan
kulitnya), kentang goreng bermentega (juga disebut french fries), keripik kentang berkeju
(juga disebut potato chips), biskuit manis dan gurih, dan bahkan minuman manis bersoda
yang sangat disukai semua orang (Budi Prayitno, 2016). Junk food sebaiknya dihindari karena
mengandung banyak sodium, saturated fat, kolesterol, dan gula yang tinggi dan dapat
menyebabkan banyak penyakit (Budi Prayitno, 2016). Penelitian oleh (Aulya et al., 2021)
juga menyebutkan bahwa konsumsi junk food terkait dengan dismenore. Dismenore primer
dipengaruhi oleh intensitas makanan cepat saji. Jika konsumsi makanan cepat saji yang
memiliki kandungan negatif sudah melebihi batas normal, maka makanan tersebut akan
memerlukan waktu yang lama untuk diserap oleh tubuh. Ini akan mengganggu berbagai
fungsi organ tubuh manusia, salah satunya mempengaruhi alat reproduksi, terutama pada
wanita, yang menyebabkan dismenore primer. Penelitian oleh (Tariandini, 2018)
menunjukkan bahwa antara dismenore dan kebiasaan makan junk food tidak ada korelasi yang
signifikan. Konsumsi junk food pada penelitian tersebut diukur menggunakan FFQ (Food
Frequency Quistionnare) yang meliputi jenis, jumlah dan frekuensi, sedangkan dalam
penelitian ini konsumsi junk food diukur melalui frekuensinya sajaHasil penelitian oleh
(Aulya et al., 2021) juga menunjukkan hal yang sama, yakni konsumsi makanan cepat saji
berpengaruh dengan kejadian dismenore dimana p-value yang diperoleh adalah 0,032. Selain
itu, Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh juga menemukan hubungan yang signifikan (p-
value= 0,022) antara konsumsi makanan cepat saji dan kasus dismenore.
10
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Conclusions
Berdasarkan Berlandasan riset yang berjudul “Analisis faktor-faktor yang memengaruhi
disminorea pada remaja putri di SMA Negeri 10 Semarang Kecamatan Genuk, Kota
Semarang, Provinsi Jawa Tengah” bisa diambil kesimpulan:

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul "Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi


Dismenore pada Remaja Putri di SMA Negeri 10 Semarang, Kecamatan Genuk, Kota
Semarang, Provinsi Jawa Tengah," dapat disimpulkan bahwa dismenore paling banyak
ditemukan dalam kategori sedang (37,9%). Mayoritas responden memiliki usia menarche
dalam kategori normal, yaitu 12–14 tahun (41,4%), dengan status gizi terbanyak berada pada
kategori gizi kurang (36,2%). Selain itu, frekuensi konsumsi junk food tertinggi ditemukan
pada kategori sering (≥4 kali per minggu), yaitu sebesar 39,7%. Analisis bivariat menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia menarche, status gizi, dan frekuensi
konsumsi junk food dengan tingkat dismenore pada remaja putri. Temuan ini mengindikasikan
bahwa faktor-faktor biologis dan pola konsumsi makanan berperan penting dalam kejadian
dismenore, sehingga perlu menjadi perhatian dalam upaya promotif dan preventif kesehatan
reproduksi remaja.

Acknowledgements
Kami berterimakasih kepada pihak responden dan Fakultas Farmasi Prodi Sarjana Dan Profesi
Bidan Universitas Islam Sultan Agung yang telah memberikan dukungan terhadap penelitian
ini.

Authors’ contributions
AFS melakukan penelitian, pengolahan data, dan membuat pembahasan, melakukan koreksi
terkait penelitian serta memandu penelitian, dan melakukan koreksi terkait penelitian.
11
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

References

Ameade, E.P.K. et al. (2018) ‘Prevalence of dysmenorrhea among University students in


Northern Ghana; its impact and management strategies’’, BMC Women’s Health, 18(1), pp.
1–
9. Available at: [Link]
Anthony, J. (2015) Junk Food Christianity The Decline of the Usa, the End Times, and
Biblical Prophecy. WestBow Press.
Aulya, Y. et al. (2021) ‘Hubungan Usia Menarche dan Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan
Kejadian Dismenore Primer pada Siswi di Jakarta Tahun 2021’, Jurnal Menara Medika, 4(1),
pp. 10–21.
Bohara (2021) ‘Determinants of Junk food Consumption Among Adolescents in Pokhara
Valley, Nepal.’, Frontiers in Nutrition, 8(1–9). Available at:
[Link]
Budi Prayitno (2016) Rahasia Resep Sehat dari Jepang dan Tiongkok. Edited by Hiro.
Yogyakarta.
Elsera, C. et al. (2022) ‘Pengetahuan Penatalaksanaan Dismenore Remaja Putri’, INVOLUSI:
Jurnal Ilmu Kebidanan, 12(2), pp. 48–54. Available at:
[Link]
Ginting, A.K., dkk. (2021) ‘Hubungan status gizi dengan kejadian dismenore pada remaja
putri di SMA Negeri 1 Tambun Utara Kabupaten Bekasi tahun 2018.’, Jurnal Kesehatan
"Bhakti Husada”, 7(2), pp. 1–8. Available at:
[Link] [Link]
Gunawati, A. and Nisman, W.A. (2021) ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat
Dismenorea di SMP Negeri di Yogyakarta’, Jurnal Kesehatan Reproduksi, 8(1), p. 8.
Available at: [Link]
Husaidah, S. (2021) ‘Pengaruh Terapi Akupresur Terhadap Intensitas Nyeri Hhaid
(Dismenore) Pada Mahasiswa Kebidanan Institut Kesehatan Mitra Bunda 2020’, Jurnal Sehat
Mandiri, 16(1), pp. 72–81. Available at: [Link]
Irianti, B. (2018) ‘Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore pada Remaja’,
Menara Ilmu, 7(10), pp. 8–13.
Jeon, G.E. et al. (2014) ‘Factors influencing the dysmenorrhea among Korean adolescents in
middle school’, Journal of Physical Therapy Science, 26(9), pp. 1337–1343. Available at:
[Link]
Kementrian Kesehatan (2020) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2 Tahun
2020 Tentang Standar Antropometri Anak. J. Jakarta.: Kemenkes RI.
Kosim, R. et al. (2021) ‘Status Gizi Dan Usia Menarche Sebagai Faktor Risiko Dismenorea
Pada Remaja Putri Sman 19 Surabaya’, Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal,
3(3), pp. 204–212. Available at: [Link]
Kosim, R. dkk (2019) ‘Status gizi dan usia menarche sebagai faktor risiko dismenore pada
remaja putri SMAN 19 Surabaya’, Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, 3(3),
pp. 204–212.
Mesele, T.T. et al. (2022) ‘Prevalence of Dysmenorrhea and Associated Factors Among
12
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Haramaya University Students, Eastern Ethiopia’, International Journal of Women’s Health,


14(March), pp. 517–527. Available at: [Link]
Molla, A. et al. (2022) ‘Prevalence of dysmenorrhea and associated factors among students in
Ethiopia: A systematic review and meta-analysis’, Women’s Health, 18. Available at:
[Link]
Mouliza, N. (2020) ‘Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dismenore Pada Remaja
Putri di MTS Negeri 3 Medan Tahun 2019’, Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi,
20(2), p.
545. Available at: [Link]
Muluneh, A.A. et al. (2018) ‘Prevalence and associated factors of dysmenorrhea among
secondary and preparatory school students in Debremarkos town, North-West Ethiopia’, BMC
Women’s Health, 18(1), pp. 1–8. Available at: [Link]
Munir, R.. et al. (2024) ‘Analisa Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Haid (Dismenorhea)
PadaMahasiswa Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor’, Jurnal Inovasi Riset Ilmu
Kesehatan, 2(01), pp. 63–69.
Nuriya Sari, F. (2023) ‘Hubungan Usia Menarche dan Status gizi dengan Kejadian Dismenore
pada Remaja Putri di SMA YP UNILA’, Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKPI), 4(1),
pp. 2746–2579.
Nurwana et al. (2017) ‘Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Disminorea
Pada Remaja Putri Di Sma Negeri 8 Kendari Tahun 2016’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Kesehatan Masyarakat Unsyiah, 2(6), p. 185630.
Primalova, A. and Stefani, M. (2024) ‘The Relationship between Nutritional Status, Junk food
Consumption, and Exercise Habits of Adolescent Girls in Jakarta with the Incidence of
Primary Dysmenorrhea’, Amerta Nutrition, 8(1), pp. 104–115. Available at:
[Link]
Pundati, Tia Martha, Colti Sistiarani, dan B.H. (2016) ‘“Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Dismenore Pada Mahasiswa Semester VIII Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto’, Jurnal Kesmas Indonesia, 8(1), pp. 40–48.
Putri, N.P.O. et al. (2024) ‘Faktor risiko yang mempengaruhi dismenore pada remaja’, Jurnal
Inovasi Kesehatan Terkini, 6(2), pp. 62–71.
Putri, N.R. et al. (2023) ‘Edukasi Dismenorea Pada Remaja Sebagai Upaya Mengurangi
Ketidaknyamanan Selama Menstruasi’, JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(1), p. 350.
Available at: [Link]
Rahmawati, E. (2023) ‘Penyuluhan Dismenore serta Upaya Penanganan kepada Remaja Putri
Dukuh Dukuhan Desa Sambirejo’, Journal of Midwifery in Community, 1(1), pp. 17–21.
Rao, V. (2020) Gynecological Emergencies, Jaype Brothers Medical Publisher Pvt. Edited by
A. Vohra. Limited.
Retno, S.N. and Amalia, R. (2023) ‘Hubungan Status Gizi dengan Terjadinya Dismenore
Primer pada Siswi Kelas VIII SMP Negeri 17 Kota Bandar Lampung Tahun 2021’, Jurnal
Bidan Mandira Cendikia, 2(1), pp. 12–18.
Rika, H. (2017) ‘Factors Influencing The Incidence Of Menstrual Pain Of Dysmenorrhea On
Students Madrasah Aliyah Negeri Pasir Pengaraian.’, Universitas Pasir Pengairan [Preprint].
Sakinah (2016) ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dismenorea Primer pada
13
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung
Volume XX, Issue XX, 2021
ISSN XXXX-XXXX

Remaja’, Scientific Repository, 5(01), pp. 182–191. Available at:


[Link]
Sari, N.P.M.P. (no date) ‘“Hubungan Perilaku Mengonsumsi Makanan Siap Saji (Fast Food)
dengan Kejadian Dismenore pada Remaja Putri di SMA Saraswati 1 Denpasar.”’, 2021
[Preprint].
Septiana, A.R. (2021) ‘Hubungan Antara Usia Menarche Ibu Dengan Usia Menarche Anak
Pada Mahasiswi Tingkat I Di Akademik Kebidanan Mamba’ul ’Ulum Surakarta Tahun 2015’,
Jurnal Kebidanan Indonesia, 6(2), pp. 164–175.
Silaban, T.D. et al. (2021) ‘Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Menstruasi’, 8(1), pp. 1–8.
Silvana, P.D. (2012) ‘Hubungan antara karakteristik individu, aktivitas fisik, dan konsumsi
produk susu dengan dismenore primer pada mahasiswi FIK dan FKM UI’, pp. 95–96.
Söderman, L. et al. (2019) ‘Prevalence and impact of dysmenorrhea in Swedish adolescents’,
Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica, 98(2), pp. 215–221. Available at:
[Link]
Sri, A. et al. (2024) ‘Mahasiswi Di Majene’, 19, pp. 22–28.
Tariandini, N.M.E. (2018) ‘“Hubungan Pola Konsumsi Junk food dan Kebiasaan Olahraga
Dengan Kejadian Dismenore Pada Remaja Di SMA Dwijendra Denpasar Provinsi Bali.”’,
Gender and [Preprint].
Teherán, A.A. et al. (2018) ‘WaLIDD score, a new tool to diagnose dysmenorrhea and predict
medical leave in University students’, International Journal of Women’s Health, 10, pp. 35–
45. Available at: [Link]
WHO (2022) ‘Early or delayed puberty’. Available at: [Link]
or- delayed-puberty/.
Yanti, M.D. et al. (2024) ‘Penyuluhan Dan KIE Mengenai Dismenorea Serta Upaya
Penurunan Nyeri Desminore Di SMA N 1 Delitua’, Jurnal Pengabdian Masyarakat Putri
Hijau, 4(2), pp. 73–78. Available at: [Link]

Anda mungkin juga menyukai