0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Pengaruh Jarak Tanam pada Sawi Organik

Praktek lapang yang menceritakan tentang t
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Pengaruh Jarak Tanam pada Sawi Organik

Praktek lapang yang menceritakan tentang t
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

JUDUL

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI ORGANIK (BRASSICA JUNCEA L )


DENGAN BERBAGAI JARAK TANAM

B. LATAR BELAKANG

Sayur adalah suatu komoditas pertanian yang memiliki hasil produksi yang tinggi,
karena permintaan yang terus menerus meningkat. Sayur merupakan tanaman Hortikultura
yang dikonsumsi oleh masyarakat sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Kebutuhan sayur yang tinggi dikarenakan sayur mengandung zat gizi mikro, sumber mineral,
sumber vitamin dan serat yang dibutuhkan oleh tubuh (Komarayanti, 2017) baik itu sayuran
daun, sayur bunga maupun tangkai. Masnina (2021) menyatakan bahwa sayuran tangkai
adalah sayuran yang daun dan tangkainya bisa digunakan. Contohnya: kangkung, bayam,
kemangi seledri, sawi dan selada.

Tanaman sawi hijau (Brassica juncea. L) termasuk tanaman sayuran daun dari keluarga
Cruciferae atau tanaman kubiskubisan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena kaya
akan serat, kandungan gizi tinggi, dan juga tanaman ini dipercaya mempunyai khasiat obat.
Daun sawi hijau selain dimanfaatkan sebagai bahan sayuran ternyata juga dapat dimanfaatkan
untuk pengobatan (terapi) berbagai macam penyakit. Mengingat manfaat dan kegunaan dari
tanaman sawi hijau yang begitu besar, budidaya tanaman sawi hijau perlu untuk semakin
dikembangkan (Elsafiana, 2017).

Jumlah penduduk Indonesia yang semakin bertambah, serta meningkatnya kesadaran


akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan sayuran khususnya sawi. Untuk
memenuhi permintaan yang tinggi, ditambah dengan peluang pasar internasional yang cukup
besar bagi komoditas sawi, sawi layak diusahakan. Menurut Badan Pusat Statistik (2015)
produksi sawi selama lima tahun terakhir mengalami fluktuasi yaitu 565,636 ton (2008),
562,838 ton (2009), 583,770 ton (2010), 580,969 ton (2011) dan 594,911 ton (2012)

Kualitas atribut sayur sawi mempengaruhi keputusan konsumen membeli bahan


konsumsi. Aufanada et al. (2017) menyatakan variabel kualitas sayur daun organik seperti
sawi, kangkung, selada sangat mempengaruhi kemauan konsumen membeli barang konsumsi
berlabel organik. Kualitas sayur daun seperti sawi hijau, bayam dan kemangi yang memiliki
total daun banyak, lebar dan tidak berlubang menjadi preferensi utama konsumen sayur
organik (Yasmin et al. 2017, Irsyad et al. 2018,Yurlisa et al. 2018, Ramadhan 2020). Banyak
petani beralih ke pertanian organik agar mendapatkan manfaat diantaranya harga jual tinggi,
biaya produksi rendah dan keamanan harga pasar (Permana dan Widjayanthi 2019).

Peningkatan kualitas fisik produk organik perlu rekayasa kultur teknis pengaturan jarak
tanam selain dengan penambahan input organik (Purnama et al. 2013). Petani sawi jarang
memanfaatkan jarak tanam dan acap kali hanya disebar. Petani sawi hijau masih belum
menerapkan kultur teknis budidaya selaras dengan tolok ukur seperti aplikasi pupuk dengan
sistem tabur, masih terikat erat dengan pupuk anorganik dan benih disebar tanpa jarak tanam
sehingga populasi tanaman menjadi padat (Sangadji 2018). Jarak antar tanaman yang
berdempetan mengakibatkan populasi tanaman yang tinggi dan menghambat laju
pertumbuhan sehingga kualitas fisik tanaman menurun (Yulisma 2011).

Jarak tanam merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanaman,
terutama tanaman sayuran berdaun lebar. Pengaturan jarak tanam perlu di perhatikan agar
produksi tanaman dapat maksimal. Petani pada umumnya tidak menggunakan jarak tanam
yang tetap dan hanya mengira-ngira dalam budidaya tanaman terkhusus tanaman hortikultura.
Pada tanaman sawi perlu dilakukan pola jarak tanam untuk mendapatkan jarak tanam yang
susai untuk membantu mendapatkan poduksi yang maksimal.

Pengaturan jarak tanam dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sehingga kualitas


fisik sayur sawi lebih baik. Sondhiya et al. (2019) menyatakan bahwa tinggi, jumlah batang
maupun daun sawi hijau (Brassica juncea L.) meningkat secara signifikan pada setiap tahap
pertumbuhan karena peningkatan jarak tanam hingga 60x15 cm2 dibandingkan dengan jarak
tanam lebih dekat. Usaha tani dalam pemeliharaan dan pembudidayaan tanaman sawi harus
menyesuaikan dengan preferensi konsumen agar produksi sawi tersebut dapat terserap pasar
dengan baik. Salah satu kultur teknis yang jarang dilakukan oleh petani sayur untuk
mengoptimalkan pertumbuhan sayuran adalah penerapan jarak tanam.

Irmawati (2018) dalam menyatakan pengaruh jarak tanam mempengaruhi pertumbuhan


dn produksi tanaman caisim (Brassica juncea L.) pada jarak tanam 20 cm x 30 cm. Jarak
tanam yang sesuai pada tanaman sawi akan mempengaruhi keseragaman pertumbuhan
tanaman, distribusi unsur hara, efektifitas penggunaan lahan. Selain itu dengan mengetahui
jarak tanam yang seuai untuk tanaman sawi maka akan mempermudah pemeliharaan tanaman
dan aplikasi pemupukan, menekan perkembangan hama dan penyakit serta untuk mengetahui
berapa banyak benih yang dibutuhkan dalam petakan pada saat tanam

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan masalah yang diatas maka penulis merumuskan masalah didalam peraktek
lapang ini sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman
sawi?
2. Manakah jarak tanam yang paling sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman
sawi?

D. TUJUAN PERAKTEK LAPANG


Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mendapatkan basis informasi sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh berbagai jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil
sawi
2. Untuk mengetahui jarak tanam yang paling efektif untuk pertumbuhan dan hasil
sawi
E. MANFAAT PERAKTEK LAPANG
Dengan melakukan penelitian ini maka penelitia ini dapat memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Memberikan pengetahuan bagi mahasiswa atau orang lain yang nantinya melakukan
penelitian yang setupa
2. Hasil penelitian ini diharapkan nantinya dapat memberikan manfaat mengenai jarak
tanam sawi

F. HIPOTESIS
1. Semakin lebar jarak tanam maka akan meningkatkan pertumbuhan sawi
G. METODE PENELITIAN
1. Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Agroteknologi Fakultas pertanian
Universitas Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat pada bulan yang ditentukan.
2. Alat dan Bahan
 Alat
Cangkul, garu, gembor, tali, penggaris, ATK, timbangan analitik dan alat lain
yang di butuhkan untuk penelitian.
 Bahan
Benih sawi, pupuk kandang( kerbau) dan pestisida nabati dari bawang putih
dan bahan lain yang di butuhkan utuk penelitian.

3. Rancangan Peraktek Lapang


Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) Non Faktorial yang
terdiri dari 3 perlakuan yaitu
1. 25cm x 25 cm
2. 30cm x 25 cm
3. 40 cm x 40 cm
Terdapat tiga kombinasi perlakuan, setiap kombinasi diulang sebanyak tiga kali,
sehingga terdapat 9 unit percobaan.
4. Prosedur Peraktek Lapang
1. Pengolahan lahan
Tanaman sawi ditanam pada lahan berupa bedengan. Sebelum membentuk bedengan,
terlebih dahulu dilakukan pengolahan tanah. Adapun mekanisme pengolahan tanah
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
- Bersihkan lahan dari gulma atau semak yang tumbuh dengan menggunakan
cangkul dan parang
- Setelah lahan bersih, buatlah bedengan dengan ukuran panjang 250 cm dan lebar
200 cm. Selanjutnya buatlah drainase antar bedengan selebar 30 cm dan kedalaman
20 cm untuk mencegah terjadinya genangan air
- Taburkan pupuk kandang secara merata dengan membolak-balikkannya pada
bedengan yang telah dibentuk.
2. Persiapan Benih dan Pembibitan
- Benih sawi disemai pada tray (nampan) atau polybag ukuran besar yang berisi
media tanam berupa campuran tanah dengan pupuk kandang, dengan perbandingan
1:1.
- Benih sawi ditabur pada permukaan media semai secara merata, kemudian ditutupi
dengan tanah.
- Benih disiram setiap hari dengan menggunakan handsprayer untuk menjaga
kelembaban media semai.
- Benih dipelihara dan dijaga hingga menjadi bibit sawi berumur 7-14 HSS (hari
setelah semai) untuk kemudian siap dipindah tanam ke bedengan.
3. Penanaman
- Bibit sawi yang telah berumur 7-14 HST atau memiliki 3 - 4 helai daun dipindah
tanam ke bedengan yang telah disiapkan.
- Dengan jarak tanam sesuai dengan perlakuan
- Cara menanam sawi adalah dengan mencabut bibit sawi pada persemaian dan
kemudian menanamnya pada lubang tanam yang telah dipersiapkan. Lakukan
dengan hati-hati.
- Posisi bibit sawi harus tegak dan tidak rebah.
4. Perawatan
- Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. Apabila hujan, maka tidak perlu
dilakukan penyiraman.
- Pemupukan
Pupuk susulan diberikan 2 minggu setelah tanam dengan mengunakan Pupuk
Organik Cair (POC).
- Penyiangan Gulma
Penyiangan gulma dilakukan 3-4 kali selama masa tanaman atau disesuaikan
kehadiran gulma.
- Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit (OPT) yang digunakan berupa Pestisida Nabati
dari Bawang Putih.
5. Pemanenan
- Sawi dapat dipanen pada umur 45 HST. Caranya dengan mencabut tanaman
kemudian membersihkan bagian perakarannya agar terbebas dari tanah yang
menempel.
5. Parameter Pengamatan
Parameter atau peubah pengamatan digunakan untuk mengamati dan menilai
pertumbuhan dan produksi tanaman sawi yang ditanam. Tanaman sampel yang
diamati berjumlah 3 tanaman per plot. Adapun parameter pengamatannya adalah
sebagai berikut:
1. Tinggi Tanaman (cm)Tinggi
tanaman diukur pada umur tanaman 14, 21, dan 28 HST. (hari setelah tanam).
Cara pengamatannya yaitu dengan mengukur tinggi setiap tanaman sampel mulai
dari pangkal batang hingga daun tertinggi.
2. Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun diukur pada umur tanaman 14, 21, dan 28 HST. Cara
pengamatannya yaitu dengan menghitung jumlah daun yang telah terbuka
sempurna pada setiap pengamatan. Daun yang masih kuncup atau telah gugur
tidak dihitung
3. Luas Daun (cm)
Luas daun diukur pada umur tanaman 14, 21, dan 28 HST. Cara pengamatannya
yaitu setiap helai daun tanaman sampel yang telah terbuka sempurna diukur
panjang dan lebar daunnya. Perhitungan luas daun diperoleh dengan perkalian
panjang dengan lebar daun sampel. Daun yang masih kuncup atau telah gugur tidak
diamati.
4. Bobot Berangkasan Basah (g) Bobot berangkasan basah dihitung pada saat panen
dengan cara membersihkan tanaman dari tanah, kemudian ditimbang bobot per
tanaman sampel lengkap dengan akar menggunakan timbangan analitik

DAFTAR PUSTAKA

Aufanada V, Ekowati T, Prastiwi WD. 2017. Kesediaan membayar (Willingness to Pay)


konsumen terhadap produk sayur organik di pasar modern Jakarta Selatan. Agrar J
Agribus Rural Dev Res. 3(2):67–75
Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Sawi Indonesia (Online). Tersedia di [Link]
dengan Perlakuan Jarak Tanam. Journal of Agritech Science, Vol.2 No.1.
Irmawati. 2018. Pengaruh Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Caisim (Brassica juncea L.)
Irsyad EP, Yoesdiarti A, Miftah H. 2018. Analisis persepsi dan preferensi konsumen terhadap
atribut kualitas sayuran komersial di pasar modern. J Agribisains.
Komarayanti, S. 2017. Ensiklopedia Buah-buahan Lokal Berbasis Potensi Alam Jember
Encyclopedia Of Local Fruits Based On Natural Potential Jember. Jurnal Biologi Dan
Pembelajaran Biologi, 2(1), 61– 75.
Masnina, R. 2021. Hubungan Ketersediaan Buah dan Sayur dengan Konsumsi Buah dan
Sayur pada Mahasiswa Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Permana G, Widjayanthi L. 2019. Faktor pendorong anggota PATRA dalam mendukung
pertanian organik di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari Kabupaten
Bondowoso. In: Pembangunan pertanian dan peran pendidikan tinggi agribisnis:
Peluang dan tantangan di era industri 4.0. Jember (ID): Universitas Jember. p511–516.
Purnama RH, Santoso SJ, Hardiatmi S. 2013. Pengaruh dosis pupuk kompos enceng gondok
dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi (Brassica juncea L.).
INNOFARM J Inov Pertan. 12(2):95–107
Ramadhan RL. 2020. Preferensi konsumen terhadap atribut sayuran organik di kota
Palembang. Skripsi. Palembang (ID): Universitas Sriwijaya
Sangadji Z. 2018. Kajian sistem budidaya tanaman sawi (Brassica juncea L.) di petani
Kelurahan Malawele Distrik Aimas Kabupaten Sorong. Median J Ilmu-Ilmu Eksakta.
Sondhiya R, Pandey R, Namdeo KN. 2019. Effect of plant spacings on growth, yield and
quality of mustard(Brassica juncea L.) genotype. Ann Plant Soil Res. 21(2):172–
[Link] R, Pandey R, Namdeo KN. 2019. Effect of
Yasmin TR, Prastiwi WD, Handayani M. 2017. Analisis konjoin preferensi konsumen sayuran
hidroponik agrofarm bandungan Kabupaten Semarang. Agrisocionomics J Sos Ekon
Pertan. 1(1):85–93
Yulisma. 2011. Pertumbuhan dan hasil beberapa varietas jagung pada berbagai jarak
tanam. J Penelit Pertan Tanam Pangan. 30(3):196–203
Yurlisa K, Maghfoer MD, Aini N, Sumiya Dwi Yamika W. 2018. Preferensi konsumen
terhadap atribut kualitas tiga jenis sayuran indigenous di Jawa Timur, Indonesia. J
Hortik Indones. 9(3):158–166.

Anda mungkin juga menyukai