0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan53 halaman

Latihan Ball Feeling dan Futsal Siswa

Untuk pembelajaran mahasiswa penjas

Diunggah oleh

gandaabdi24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan53 halaman

Latihan Ball Feeling dan Futsal Siswa

Untuk pembelajaran mahasiswa penjas

Diunggah oleh

gandaabdi24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH LATIHAN BALL FEELING TERHADAP KEMAMPUAN

MENGGIRING BOLA FUTSAL PADA SISWA EKSTRAKULIKULER


SMA NEGERI 1 NANGA TAMAN

DESAIN PENELITIAN

Oleh:

Ganda Abdi Utama


NIM: 412110061

Program studi: Pendidikan Jasmani

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN


UPGRI PONTIANAK TAHUN 2025
PENGARUH LATIHAN BALL FEELING TERHADAP KEMAMPUAN
MENGGIRING BOLA FUTSAL PADA SISWA EKSTRAKULIKULER SMA
NEGERI 1 NANGA TAMAN

DESAIN PENELITIAN

Oleh:

GANDA ABDI UTAMA


NIM.412110061

Desain penelitian ini diajukan sebagai syarat untuk menepuh seminar Desain
Penelitian pendidikan pada program studi Pendidikan Jasmani Fakultas
Pendidikan Olahraga Kesehatan UPGRI Pontianak.

Disetujui Oleh:

Pembimbing Utama Pembimbing Pembantu

Anang Qosim, [Link] Dr. Ade Rahmat, [Link]


NPP. NPP.

ii
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karna
atas berkat dan karunia-Nya penulisan desain proposal yang berjudul
“Pengaruh Latihan Ball Feeling Terhadap Kemampuan Menggiring Bola
Futsal Pada Siswa Ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman” ini
terselesaikan dengan baik tanpa ada halangan berarti yang merintangi. Penulis
juga mengucapkan terimakasih sebagai rasa hormat dan penghargaan yang
sebesar-besarnya atas segala bimbingan, saran, maupun motivasi dalam
menyelesaikan desain proposal ini kepada pihak-pihak, sebagai berikut:
1. Anang Qosim, [Link] selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah sabar
memberikan bimbingan, masukan, dan perbaikan dalam penyusuanan desain
ini.
2. Dr. Ade Rahmat, [Link] selaku Dosen Pembimbing Pembantu yang telah
dengan sabar membrikan bimbimgan dan arahan profesional dalam
penyusunan desian ini.
3. Muhamad Firdaus, [Link] selaku Rektor UPGRI Pontianak yang telah
memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelasiakan penyusunan desain
ini.
4. Ilham Surya Fallo, [Link], [Link], AIFO selaku Dekan Fakultas Pendidikan
Olahraga dan Kesehatran di UPGRI Pontianak yang telah berkenan
memberikan fasilitas dan sarana prasarana hingga proses studi dapat berjalan
dengan baik dan lancar.
5. Rajidin, [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani di UPGRI
Pontianak yang telah menyetujui dan mengizinkan pelaksanaan penyususnan
desian ini.
6. Abdillah, [Link] selaku sekrtaris Program Studi Pendidikan Jasmani di UPGRI
Ponianak.
7. Bapak atau Ibu Dosen serta Staf Program Studi Pendidikan Jasmnai yang telah
membantu proses penyusunan desain penelitian ini.
8. Teman-teman Program Studi Pendidikan Jasmani angkatan 2021, khususnya
kelas B Pagi yang senantiasa membantu pembuatan desain penelitian ini.

iii
Semoga Tuhan senatiasa membalas segala kebaikan dan jasa-jasa yang
telah di berikan kepada penulis dengan Rahmat dan berkat-Nya. Penulis juga
mohon maaf pada semua pihak atas segala kesalahan dan kehilafan baik yang
disengaja maupun tidak. Akhirnya penulis berharap desain penelitian ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca dan kemajuan pendidikan khususnya
Pendidikan Jasmani.

Pontianak, April 2025

Penulis

iv
DAFTAR ISI

COVER..................................................................................................................i
PENGESAHAN....................................................................................................ii
KATA PENGANTAR...........................................................................................iii
DAFTAR ISI.........................................................................................................v
DAFTAR TABEL.................................................................................................vi
BAGIAN I RENCANA PENELITIAN.................................................................1
A. Latar Belakang ..................................................................................1
B. Rumusan Masalah .............................................................................3
C. Tujuan Penelitian .............................................................................3
D. Rumusan Hipotesis ............................................................................3
E. Kegunaan Penelitian…………………... ............................................4
F. Ruang Lingkup penelitian...................................................................5
G. Metodologi Penelitian .........................................................................9
a. Metode dan Rancangan Penelitian................................................
b. Variabel Penelitian........................................................................
c. Populasi dan Sampel......................................................................
d. Instrumen Penelitian…………………..........................................
e. Teknik Pengumpulan Data............................................................
f. Teknik Analisis Data ..................................................................
g. Pengujian Hipotesis.......................................................................
BAGIAN II LANDASAN TEORI........................................................................
A. Latihan ………....................................................................................
B. Latihan Ball Feeling............................................................................
C. Kemampuan Menggiring Bola Futsal ................................................

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................
LAMPIRAN .........................................................................................................

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1................................................................................................................
Tebel 1.2................................................................................................................
Tebel 1.3................................................................................................................
Tabel 1.4................................................................................................................
Tabel 1.5 ...............................................................................................................

vi
BAGIAN I
RENCANA PENELITIAN

A. Latar Belakang
Olahraga merupakan bagian dari peradaban manusia, sebab
manusia telah melakukan olahraga sejak zaman primitif, misalnya aktivitas
bercocok tanam, berburu, dan lain-lain, yang secara tidak langsung
menunjukkan bahwa mereka melakukan olahrga dalam kehidupan sehari-
hari.
Fungsi dan kedudukan olahraga itu sendiri bersifat dinamis atau
berubah- ubah. Hal ini disebabkan oleh kondisi-kondisi obyektif dan
subyektif yang ada pada suatu masa dan disebabkan pula oleh pandangan
hidup dan moralitas yang berbeda-beda, baik yang berlaku pada suatu
masa atau yang berlaku pada suatu bangsa, tetapi hakekat dari olahraga itu
sendiri tidak berubah. Beberapa tujuan seseorang giat berolahraga antara
lain ingin berprestasi dalam cabagn olahraga yang digeluti, sebagai bentuk
rekreasi, untuk meningkatkan derajat kebugaran jasmani, maupun sekedar
hobi atau pengisi waktu senggang.
Seiring dengan perkembangan zaman, muncul berbagai cabang
olahraga dalam kehidupan manusia. Cabang-cabang olahraga tersebut
semakin lama semakin mendapat perhatian khusus dalam masyarakat
modern. Salah satu cabang olahraga tersebut adalah permainan futsal.
Futsal merupakan salah satu cabang olahraga yang saat ini sangat populer
dan digemari oleh masyarakat, termasuk masyarakat di Indonesia.
Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang
tiap tim beranggotakan lima pemain. "Tujuan permainan futsal adalah
untuk memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya, dengan
memanipulasi bola denga kaki dan menjaga agar gawang sendiri tidak
dibobol oleh lawan" (Kurniawan, 2011:104).
Futsal adalah olahraga permainan yang sangat cepat dan dinamis,
sehingga pelaksanaannya cukup kompleks. Hal tersebut dikarenakan dari
segi ukuran lapangan relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran
lapangan permainan sepak bola, maka dalam permainan futsal hampir
tidak ada ruang untuk membuat kesalahan, oleh karena itu diperlukan
kerjasama yang baik antar pemain melalui pasing-pasing yang akurat,
bukan sekedar untuk melewati lawan. Pemain harus mampu menguasai
teknik bermain futsal dengan baik.
Salah satu teknik dasar futsal yang harus dikuasai oleh pemain
adalah teknik menggiring bola. Keterampilan menggiring bola
menunjukkan kecapakan seorang pemain dalam memainkan bola
menggunakan kaki atau bagian kakinya untuk tujuan menguasai bola

1
2

tersebut di lapangan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang


dikemukakan oleh Rakasiwi (2013:56) bahwa menggiring bola ialah
"suatu usaha memindahkan bola dari satu daerah ke daerah lain atau
dengan berliku-liku untuk menghindari lawan. Tujuannya adalah untuk
menguasai bola selama mungkin saat berada di lapangan”.
"Menggiring bola adalah menendang bola terputus-putus atau
pelan-pelan. Menggiring bola bertujuan untuk mendekati jarak ke sasaran,
melewati lawan, dan menghambat permainan" (Affrianty, 2013:2-3).
Bagian kaki yang dipergunakan untuk menggiring bola sama dengan kaki
yang digunakan untuk menendang bola, antara lain menggiring bola
menggunakan kaki bagian dalam, menggunakan kaki bagian luar, dan
menggiring bola menggunakan punggung kaki. Ketiga cara menggiring
bola tersebut harus dikuasai dengan baik oleh setiap pemain, dengan
demikian pemain akan mampu menguasai bola selama mungkin.
Penguasaan bola tersebut akan melahirkan peluang bagi timnya untuk
menyusun strategi serangan kepada tim lawan.
Harapan-harapan di atas tampaknya kurang relevan dengan realita
yang peneliti jumpai di lapangan, yaitu pada siswa ekstrakulikuler SMA
Negeri 1 Nanga Taman. Hasil observasi pra penelitian (studi pendahuluan)
yang peneliti lakukan selama bulan Februari 2025 terhadap kegiatan
latihan siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman. menunjukkan
bahwa menggiring bola menjadi problem utama bagi mereka. Peneliti
mengamati bahwa kecepatan dan kelincahan mayoritas pemain dalam
memainkan bola (menggiring bola) pada saat bermain sangat kurang
sehingga bola mudah direbut oleh pemain lawan. Bola yang digiring
sering terlalu mudah direbut pemain lawan, karena kontrol kaki ke kaki
saat menggiring bola kurang baik. Reaksi pemain untuk menghindari
lawan yang ada di depannya atau yang berusaha menghadangnya juga
kurang baik, serta kelincahannya pun belum terlatih dengan baik. Peneliti
juga mewawancarai siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman.,
dari hasil wawancara tersebut para siswa mengakui bahwa sangat sulit
dalam melakukan teknik dasar menggiring bola futsal secara efektif dan
maksimal dengan alasan perkenaan kaki terhadap bola masih terlalu kasar
sehingga bola menjadi liar ketika menggiring bola.
Hasil obeservasi awal di lapangan juga menunjukkan bahwa
selama ini guru olahraga SMA Negeri 1 Nanga Taman hanya memberi
instruksi kepada siswanya untuk bermain futsal tanpa ada arahan pada
pembelajaran spesialisasi teknik, termasuk pembelajaran ball feeling.
Kegiatan latihan lebih ditekankan pada aspek penguasaan taktik bermain,
sedangkan untuk aspek teknik, khususnya teknik dalam menggiring bola
kurang mendapat perhatian, sehingga menyebabkan penguasaan teknik
menggiring bola para pemain kurang maksimal.
3

Menindaklanjuti hasil observasi pra penelitian di atas, peneliti


menganggap perlu untuk memperbaiki program latihan menggiring bola
yang dilakukan oleh siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman..
Peneliti mencoba memberikan solusi dengan menerapkan latihan ball
feeling kepada para siswa tersebut. Ball feeling merupakan teknik yang
paling mendasar dalam bermain bola, termasuk dalam permainan futsal.
"Tujuan ball feeling adalah untuk melatih perasaan terhadap bola sehingga
memudahkan pemain dalam menguasai bola. Ball feeling adalah kehalusan
'perasaan' seluruh bagian tubuh (kecuali tangan) yang mempengaruhi
tingkat penguasaan terhadap bola, terutama kaki dan kepala" (Kadir Dalam
Wijaya, Y, S, 2015: 20)
Ball feeling adalah upaya pemain mengenal lebih dalam mengenai
sentuhan kakinya terhadap bola, bagaimana laju bola jika kaki diayunkan
lebih jauh, atau bagaimana gerak bola jika mengenai ujung kaki (sepatu).
Peneliti memprediksi dengan latihan ball feeling secara sitematis dan
kontinyu, maka pemain akan semakin terampil dalam menggiring bola.
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan
penelitian, yang berjudul: Pengaruh latihan ball feeling terhadap
kemampuan menggiring bola futsal pada siswa ekstrakulikuler SMA
Negeri 1 Nanga Taman.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah latihan ball feeling
berpengaruh terhadap kemampuan menggiring bola futsal pada siswa
ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh latihan ball feeling terhadap kemampuan
menggiring bola futsal pada siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga
Taman.
D. Rumusan Hipotesis
"Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pertanyaan" (Sugiyono, 2012:64). Berdasarkan rumusan
masalah di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah hipotesis alternatif
(Ha), yang berbunyi "metode latihan ball feeling berpengaruh terhadap
4

kemampuan menggiring bola futsal pada siswa ekstrakulikuler SMA


Negeri 1 Nanga Taman.
E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan atau
manfaat,
antara lain:
1. Bagi siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman.
Dapat meningkatkan motivasi atau semangat siswa untuk terus
melatih ball feelingnya, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan
kemampuannya dalam menggiring bola.
2. Bagi guru olahraga
Dapat menjadi bahan pertimbangan dalam hal merancang program
pembinaan yang lebih baik lagi, salah satunya adalah menggunakan
latihan ball feeling dalam upaya mengembangkan kemampuan siswa
dalam menggiring bola.
3. Bagi akademik
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa, khususnya jurusan Pendidikan
Jasmani, untuk memperkaya pengetahuan mereka di bidang olahraga
dan penelitian ilmiah.
4. Bagi peneliti
a. Dapat menjadi wawasan dan pengalaman di bidang penelitian
yang relevan dengan ilmu Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan.
b. Sebagai referensi bagi peneliti lain yang meneliti masalah
serupa.
c. Sebagai salah satu syarat bagi peneliti untuk memperoleh gelar
Sarjana pendidikan Jasmani .
5

F. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini hanya mencakup analisis tentang
pengaruh latihan ball feeling terhadap kemampuan menggiring bola futsal
pada siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman, namun peneliti
menganggap bahwa ruang lingkup tersebut masih cukup luas mengacu
pada keterbatasan-keterbatasan peneliti dalam melaksanakannya, baik dari
segi waktu, tenaga, dan biaya.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti memandang perlunya
diuraikan berbagai keterbatasan dengan tujuan agar tidak memunculkan
harapan yang berlebihan dalam penelitian ini. Batasan-batasan ruang
lingkup penelitian ini, yaitu:
1. Latihan ball feeling diberikan kepada seluruh sampel dalam penelitian
ini selama 12 kali pertemuan, frekuensi pertemuan pada setiap minggunya
sebanyak 3 kali.
2. Kemampuan menggiring bola seluruh sampel dalam penelitian ini
diukur dengan menggunakan tes menggiring bola futsal melewati
rintangan.
3. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji-t, yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh latihan ball feeling terhadap kemampuan menggiring
bola futsal pada siswa ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman.
4. Peneliti tidak menganalisis obyek-obyek lain yang tidak ada
hubungannya dengan analisis tentang latihan ball feeling dan kemampuan
menggiring bola futsal.

G. Definisi Opraasiaonal
Terdapat beberapa istilah kunci (keywords) yang perlu diperjelas makna
atau definisinya agar memudahkan para pembaca dalam memahami makna
atau arti dari istilah-istilah kunci tersebut. Istilah-istilah yang dimaksud,
meliputi:
6

1. Latihan
"Latihan adalah suatu kegiatan yang sistematis dalam waktu yang panjang,
ditingkatkan secara bertahap dan perorangan, bertujuan membentuk
manusia yang berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi
tuntutan tugas" (Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:16).
2. Ball feeling
Ball feeling merupakan teknik yang paling mendasar dalam bermain bola,
termasuk dalam permainan futsal. "Tujuan ball feeling adalah untuk
melatih perasaan terhadap bola sehingga memudahkan pemain dalam
menguasai bola. Ball feeling adalah kehalusan 'perasaan' seluruh bagian
tubuh (kecuali tangan) yang mempengaruhi tingkat penguasaan terhadap
bola, terutama kaki dan kepala" (Lhaksana, 2011).
3. Kemampuan menggiring bola futsal
Menggiring bola (dribbling) adalah salah satu teknik dasar dalam
permainan futsal. "Menggiring bola merupakan suatu usaha memindahkan
bola dari satu daerah ke daerah lain atau dengan berliku-liku untuk
menghindari lawan. Tujuan menggiring bola adalah untuk menguasai bola
selama mungkin saat berada di lapangan" (Rakasiwi, 2013:56).Jadwal
Recana Penelitian

H. Metodologi Penelitian
a. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh latihan ball feeling
terhadap kemampuan menggiring bola futsal pada siswa ekstrakulikuler
SMA Negeri 1 Nanga [Link] pada tujuan tersebut, maka metode
penelitian ini ialah eksperimen. Sugiyono (2012:72) menyatakan
eksperimen yaitu “metode penelitian yang digunakan untuk mencari
pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi
terkendalikan”.
Bentuk eksperimen yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah Pre-
Experimental, sedangkan desain penelitiannya menggunakan One-Group
7

Pretest-Posttest Design. Sugiyono (2012:74) menyatakan bahwa “desain


ini dilakukan dengan tahap yaitu melaksanakan pretest, memberikan
(treatment), dan tahap melaksanakan posttest”.
Penelitian eksperimen yang menggunakan rancangan One-Group Pretest-
Posttest Design memiliki pola, yaitu:

O1 X O2
Keterangan:

O1 = nilai pretest (sebelum diberi latihan)

X = perlakuan atau latihan

O2 = nilai posttest (sesudah diberi latihan)

Sugiyono (2012:74-75) menyatakan bahwa “desain eksperimen ini hasilnya

lebih akurat, karena dapat membandingkan keadaan sebelum diberi latihan dengan

keadaan sesudah diberi latihan. Pengaruh latihan ditunjukkan dengan O 2 – O1”.

Berdasarkan pola penelitian di atas, maka


29 proses penelitian ini tergambar dalam

bagan berikut ini.

Pretest Posttest
Latihan ball feeling

Gambar 3.1 Eksperimen One-Group Pretest-Posttest Design (Sugiyono, 2012:75)

Alur penelitian eksperimen dengan One-Group Pretest-Posttest Design dapat

diuraikan, sebagai berikut:


8

1. Seluruh sampel melaksanakan pretest (tes awal), berupa tes menggiring bola

futsal melewati rintangan. Pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan

awal sampel dalam menggiring bola.

2. Seluruh sampel melakukan latihan ball feeling. Kegiatan latihan dilakukan

selama 12 kali pertemuan, frekuensi latihan per minggu adalah tiga kali

pertemuan.

3. Seluruh sampel melaksanakan posttest (tes akhir), berupa tes menggiring bola

futsal melewati rintangan. Posttest bertujuan untuk mengetahui peningkatan

kemampuan menggiring bola setelah sampel diberi latihan ball feeling.

b. Variabel Penelitian

“Variabel adalah atribut dan sifat atau nilai orang, obyek atau kegiatan yang

memiliki variasi tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari, kemudian ditarik

kesimpulannya” (Sugiyono, 2012:60). Variabel dalam penelitian ini meliputi:

1. Variabel bebas

“Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab”

(Arikunto, 2002:162). Variabel bebas penelitian ini adalah latihan ball feeling.

Hal tersebut dikarenakan latihan ball feeling dalam penelitian ini diterapkan

untuk mempengaruhi peningkatan kemampuan sampel dalam menggiring bola

futsal.

2. Variabel terikat

“Variabel terikat disebut juga variabel akibat atau variabel tidak bebas dari,

variabel tergantung, yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel penyebab”

(Arikunto, 2002:162). Variabel terikat penelitian ini adalah kemampuan


9

menggiring bola dalam permainan futsal. Hal tersebut karena kemampuan

menggiring bola futsal dalam penelitian ini dipengaruhi oleh hasil latihan ball

feeling.

A. Populasi dan Sampel

1. Populasi penelitian

“Populasi ialah wilayah generalisasi obyek/ subyek yang memiliki kualitas

dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan”

(Sugiyono, 2012:80). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang

mengikuti ekstrakulikuler futsal di SMA Negeri 1 Nanga Taman, yang berjumlah

20 orang. Populasi tersebut bersifat homogen, karena memiliki ciri yang sama,

yaitu populasi berjenis kelamin laki-laki, memiliki usia yang setara, dan mendapat

pembinaan dari pelatih yang sama.

2. Sampel dan teknik pengambilan sampel

Sugiyono (2012:81) mendefinisikan sampel adalah “bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Berkaitan dengan teknik pengambilan

sampel, Arikunto (2002:112) menyatakan bahwa:

Untuk sekedar ancer-ancer, maka jika jumlah subyek (populasi) kurang


dari 100, lebih baik diambil semua sebagai sampel sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyek (populasi) penelitian
besar (lebih dari 100), maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%
atau lebih, tergantung sekurang-kurangnya dari kemampuan peneliti untuk
melaksanakan penelitian, dilihat dari segi tenaga, waktu, dan biaya.
10

Berdasarkan pernyataan Arikunto di atas, oleh karena jumlah populasi yang

terdapat dalam penelitian ini kurang dari 100 orang, maka seluruhnya dipilih dan

digunakan sebagai sampel, sehingga teknik pengambilan sampel dalam penelitian

ini menggunakan total sampling. Berdasarkan hal tersebut, maka sampel dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa yang mengikuti ekstrakulikuler futsal di SMA

Negeri 1 Nanga Taman, yang berjumlah 20 orang.

B. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat atau bahan-bahan yang digunakan oleh

peneliti untuk mengumpulkan data-data di lapangan. Instrumen penelitian ini

menggunakan pedoman tes menggiring bola futsal melewati rintangan. Bentuk tes

tersebut diadopsi dari tes menggiring bola bagi pemain sepak bola yang disusun

oleh Nurhasan (2001:160). Peneliti menggunakan bentuk tes tersebut karena

belum ditemukannya bentuk tes menggiring bola khusus untuk pemain futsal.

Prosedur pelaksanaan tes menggiring bola futsal melewati rintangan adalah:

1. Peralatan tes

a. Lapangan tes

b. Bola futsal (1 buah)

c. Cones untuk rintangan (6 buah)

d. Stopwatch (1 buah)

e. Tiang bendera (1 buah)

f. Kapur
11

f. Formulir tes dan alat-alat tulis

2. Petugas tes

Satu stasiun tes ini memerlukan beberapa orang petugas tes, meliputi pencatat

skor (1 orang), pemberi aba-aba (1 orang), dan pengawas tes (2 orang).

3. Pelaksanaan tes

a. Aba-aba “Siap”, testee berdiri di belakang garis start dengan bola dalam

penguasaan kakinya.

b. Aba-aba “Ya!”, testee menggiring bola ke arah kiri melewati rintangan

pertama dan berikutnya sesuai dengan arah panah yang telah ditetapkan

sampai ia melewati garis finish.

c. Bila testee melakukan kesalahan arah/ rute menggiring, maka ia harus

memperbaikinya dari letak kesalahan dilakukan. Bila bola yang digiring

menggelinding jauh, testee harus mengambilnya sendiri dan memulai lagi

menggiring bola dari tempat semula. Selama terjadi kesalahan-kesalahan

itu, stopwatch tetap dijalankan.

d. Testee harus berusaha menggiring bola dengan memanfaatkan kedua

kakinya secara bergantian.

f. Masing-masing testee diberikan kesempatan untuk melakukan tes tersebut

sebanyak tiga (3) kali.

4. Penyekoran tes

Hasil atau skor yang dicatat adalah kecepatan waktu testee dalam menggiring

bola melewati rintangan, yang dihitung menggunakan stopwatch mulai dari


12

aba-aba “Ya” hingga testee menyentuh garis finish. Waktu dicatat sampai

persepuluh detik. Waktu tes tercepat dari 3 kesempatan dijadikan prestasi tes.

Gambar 3.2 Lapangan tes menggiring bola melewati rintangan (Nurhasan,


2001:161)
C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes.

Jenis tes yang digunakan adalah performance test atau tes unjuk kerja di lapangan.

Bentuk tesnya adalah tes menggiring bola futsal melewati rintangan. Bentuk tes

tersebut diadopsi dari tes menggiring bola bagi pemain sepak bola yang disusun

oleh Nurhasan (2001:160). Peneliti menggunakan bentuk tes tersebut karena

belum ditemukannya bentuk tes menggiring bola khusus untuk pemain futsal.

Tes menggiring bola futsal melewati rintangan dalam penelitian ini

dilakukan dengan tujuan untuk melihat atau mengukur kemampuan seluruh

sampel dalam menggiring bola futsal. Tes tersebut dilakukan sebanyak dua kali,
13

yaitu pada tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest). Tes awal menggiring bola

futsal melewati rintangan dilakukan untuk mengamati kemampuan awal seluruh

sampel dalam menggiring bola futsal sebelum diberi latihan ball feeling,

sedangkan tes akhir menggiring bola futsal melewati rintangan dilakukan dengan

tujuan untuk melihat peningkatan kemampuan sampel dalam menggiring bola

futsal setelah sampel diberi latihan ball feeling selama 12 kali pertemuan.

D. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan upaya-upaya untuk menata dan mengolah secara

sistematik catatan hasil penelitian (data) sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan.

Suatu data hasil tes dikelompokkan ke dalam dua jenis analisis, yaitu analisis

statistik dan non-statistik. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa

angka atau skor-skor (data kuantitatif) hasil tes menggiring bola futsal melewati

rintangan, maka data dianalisis secara statistik menggunakan uji-t.

Menurut Arikunto (2002:79) rumus yang digunakan untuk menganalisis hasil

treatment pada desain eksperimen One-Group Pretest-Posttest Design adalah:

Md
t =

√ ∑ xd 2
N (N-1)

Keterangan:

t : nilai ttest

Md : mean dari deviasi (d) antara posttest dan pretest

xd : perbedaan deviasi dengan mean deviasi


14

N : banyaknya sampel

df : atau db (derajat kebebasan) adalah N-1

Taraf signifikansi yang digunakan dalam analisis data ini adalah 5% (α 0,05).

Menggunakan taraf signifikansi 5% berarti tingkat kepercayaan terhadap data

sebesar 95% dan mempercayai tingkat kesalahannya hanya 5%.

E. Pengujian Hipotesis

Kriteria pengujian (penerimaan dan penolakan) hipotesis dalam penelitian ini

adalah:

1. Jika ttes < ttabel maka Ha ditolak (α < 5%), yang berarti latihan ball feeling

berpengaruh terhadap kemampuan menggiring bola futsal pada siswa

ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman.

2. Jika ttes ≥ ttabel maka Ha diterima (α ≥ 5%), yang berarti latihan ball feeling

tidak berpengaruh terhadap kemampuan menggiring bola futsal pada siswa

ekstrakulikuler SMA Negeri 1 Nanga Taman.


BAGIAN II
LANDASAN TEORI
A. Latihan
1. Pengertian Latihan
Seseorang yang melakukan suatu aktivitas secara teratur,
terencana, berulang-ulang dengan kian hari semakin berat beban
kerjanya sering dinyatakan bahwa orang tersebut sedang melakukan
latihan. Hal tersebut berdasarkan definisi latihan menurut Roesdiyanto
dan Budiwanto (2008:16) yang menyatakan bahwa latihan ialah
"kegiatan yang sistematis dalam waktu yang panjang, ditingkatkan
secara bertahap dan perorangan, bertujuan membentuk manusia yang
berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan
tugas".
Uraian di atas menjelaskan bahwa latihan merupakan suatu proses
sistematis dari berlatih yang dilakukan oleh seseorang secara kontinyu,
dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan serta intensitas
latihannya. Maksud dari sistematis yaitu latihan yang dilakukan harus
terencana, menurut jadwal yang telah diprogramkan, dari yang mudah
ke yang sukar dan dari yang sederhana ke yang rumit, serta latihan
tersebut harus dilakukan dengan teratur. Adapun tujuan dari kegiatan
latihan harus dilakukan secara kontinyu adalah agar gerakan-gerakan
dalam latihan yang semula sulit dilakukan menjadi semakin mudah
dan otomatis dalam pelaksanaannya.
"Pelatihan adalah suatu proses pemberian pola atau aturan yang
merupakan salah satu kunci tercapainya prestasi individu" (Syam,
2012). Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa latihan merupakan
salah satu faktor yang dapat menentukan peningkatan prestasi
seseorang.
Latihan juga sangat bermanfaat bagi kesehatan pelakunya, dan
memiliki banyak manfaat positif pada berbagai aspek teknik dan fisik,
di antaranya memiliki manfaat untuk kelancaran peredaran darah,

15
16

kesegaran kardiovaskular, kesehatan tulang, dan kualitas psikologi.


Hal itu sesuai dengan pendapat Sajoto
(1988:114) yang menyatakan bahwa:
Latihan dapat merangsang sistem fisiologi tubuh.
Rangsangan tersebut sering disebut sebagai tekanan (stress), dan
tanggapan terhadap rangsang dianggap sebagai tegangan (strain).
Tekanan yang terus-menerus di dalam sistem tubuh akan
mengakibatkan adaptasi, sehingga akan menghasilkan peningkatan
kapasitas fungsional sistem tersebut. Misalnya, hypertrophy otot
terjadi dari hasil adaptasi tekanan dalam latihan beban atau weight-
training.
Baker (2003:2) menyatakan bahwa latihan merupakan "suatu proses
yang sistematis secara berulang-ulang, dengan selalu memberikan
peningkatan beban latihan". Definisi latihan (training) juga
dikemukakan oleh Bakkareng (2011) bahwa latihan merupakan
"proses kerja sistematis dan dilakukan secara berulang-
ulang dengan beban latihan yang semakin meningkat".
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan latihan adalah
pemberdayaan diri melalui aktivitas yang sistematis, kontinyu, dan
kian hari kian menambah beban tugasnya. Berkaitan dengan penelitian
ini maka latihan yang dimaksud adalah pemberdayaan diri melalui
aktivitas yang dilakukan secara sistematis untuk mempengaruhi
keterampilan menggiring bola futsal seluruh subyek penelitian ini.
2. Manfaat Latihan
Kebutuhan siswa untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam
bidang olahraga harus diimbangi oleh keadaan latihannya. Latihan yang
berkaitan dengan olahraga prestasi meliputi latihan fisik, latihan teknik,
latihan taktik, dan pembentukan
mental bertanding. Khusus berkaitan dengan penelitian ini,
maka latihan yang dimaksud adalah latihan yang diarahkan untuk
pembinaan teknik siswa.
17

"Latihan teknik bertujuan untuk mempermahir penguasaan


keterampilan gerak dalam cabang olahraga, sedangkan latihan fisik
bertujuan meningkatkan kondisi fisik yang mendukung keterampilan
gerak cabang olahraga yang ditekuni oleh atlet" (Roesdiyanto dan
Budiwanto, 2008). Latihan teknik dalam penelitian ini berupa metode
latihan ball feeling yang bertujuan untuk melatih keterampilan pemain
dalam menggiring bola futsal, yang dilakukan secara berkesinambungan
dan makin hari bebannya kian bertambah.
Manfaat lain dari kegiatan latihan fisik adalah untuk melatih
kondisi fisik siswa agar semakin meningkat derajatnya. Berkaitan
dengan manfaat latihan fisik dalam olahraga, maka terdapat unsur-unsur
fisik yang dapat dikembangkan melalui latihan, meliputi:
a. Daya tahan
"Daya tahan merupakan kemampuan organ atlet untuk melawan
kelelahan yang timbul saat melakukan aktivitas olahraga dalam waktu
yang lama" (Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:52). "Ketahanan (daya
tahan) merupakan kemampuan kontraksi otot-otot yang bekerja dalam
waktu dan intensitas yang cukup lama sehingga memenuhi fungsi
peredaran dan perafasan" (Koesnadi, dkk., 1988:57)
b. Kekuatan
"Kekuatan merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang
menyangkut masalah kemampuan seorang atlet pada saat
mempergunakan otot-ototnya, menerima beban dalam waktu kerja
tertentu" (Sajoto, 1988:58). "Kekuatan merupakan kemampuan otot
untuk dapat mengatasi tahanan atau beban,
menahan atau memindahkan beban dalam melakukan aktivitas"
(Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:49).

c. Kecepatan
18

"Kecepatan ialan kemampuan seseorang melakukan gerakan-


gerakan sejenis dengan berhasil dalam waktu tercepat" (Koesnadi, dkk.,
1988:58). "Kecepatan adalah jarak tempuh per satuan waktu yang
diukur dalam menit atau skala kuantitas; kecepatan adalah kemampuan
melakukan gerakan dalam periode waktu yang pendek" (Roesdiyanto
dan Budiwanto, 2008:55).
d. Kelentukan
"Kelentukan adalah suatu kemampuan tendon otot pada sendi
terulur tanpa mengalami suatu hambatan fisik" (Roesdiyanto dan
Budiwanto, 2008:58). "Kelentukan adalah kemampuan seseorang dalam
melakukan bermacam- macam kegiatan fisik yang ditentukan oleh
kelentukan seluruh tubuh atau persendian-persendian tertentu"
(Koesnadi, dkk., 1988:58).
e. Kelincahan
"Kelincahan adalah kemampuan mengubah posisi badan pada
suatu tempat dengan cepat, dan secara tepat tanpa kehilangan
keseimbangan" (Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:57).
f. Keseimbangan
"Keseimbangan adalah kemampuan memelihara gerakan yang
berorientasi pada keadaan stabil dikaitkan dengan lingkungan saat itu"
(Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:60). "Keseimbangan ialah
kemampuan mengendalikan organ-organ syaraf otot selama seseorang
melakukan gerak-gerak yang cepat" (Sajoto, 1988:58).
g. Reaksi
"Reaksi (reaction) merupakan kemampuan seseorang untuk
segera (secepat mungkin) bertindak dalam menanggapi rangsangan-
rangsangan yang datang lewat indera, syaraf atau perasaan lainnya"
(Sajoto, 1988:59).
h. Daya ledak otot
"Daya ledak otot adalah kemampuan mengeluarkan daya/ tenaga
maksimal dalam waktu tercepat" (Koesnadi, dkk., 1988:57). "Daya
19

ledak otot adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan


maksimum, dengan usahanya yang dilakukan dalam waktu yang sangat
pendek" (Sajoto, 1988:58).
i. Koordinasi
"Koordinasi merupakan suatu kerjasama yang selaras antara
sekelompok otot selama bergerak yang dilakukannya dengan indikasi
keterampilan yang sama" (Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:61).
"Koordinasi adalah suatu kemampuan mengintegrasikan berbagai
gerakan menjadi satu pola gerakan yang sempurna. Kebanyakan di
dalam olahraga ketangkasan yang membutuhkan koordinasi diperlukan
kelincahan, keseimbangan, kecepatan" (Koesnadi, dkk., 1988:58).
j. Akurasi
"Akurasi (ketepatan) ialah kemampuan seseorang untuk
mengarahkan suatu gerak ke suatu sasaran sesuai dengan tujuan"
(Roesdiyanto dan Budiwanto, 2008:60). "Akurasi ialah kemampuan
seseorang mengontrol gerakan-gerakan voluntar untuk suatu tujuan"
(Koesnadi, dkk., 1988:58).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat
pelaksanaan latihan teknik adalah untuk mempermahir penguasaan
keterampilan gerak dalam cabang olahraga, sedangkan latihan fisik
bertujuan meningkatkan kondisi fisik yang mendukung keterampilan
gerak cabang olahraga yang ditekuni oleh atlet
Kedua bentuk latihan tersebut (latihan teknik dan latihan fisik)
sangat penting, karena dapat mempengaruhi seorang atlet dalam
mensinergiskan setiap gerakan dalam suatu cabang olahraga sehingga
berdampak pada pencapaian prestasinya secara optimal.

3. Prinsip-prinsip Latihan
20

Prestasi olahraga tidak akan meningkat dengan cukup jika dalam


berlatih tidak berlandaskan prinsip-prinsip latihan. Banyak orang yang
melakukan latihan tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan latihan
dengan benar. Prinsip-prinsip latihan adalah suatu pedoman seseorang
dalam melakukan kegiatan atau latihan olahraga agar tujuan yang
diharapkan dapat tercapai.
Sajoto (1988:115-116) menguraikan prinsip-prinsip suatu
latihan, sebagai
berikut:
a. Prinsip penambahan beban latihan atau overload Latihan yang
berprinsip pada overload, maka kelompok otot-otot akan berkembang
kekuatannya secara efektif. Penggunaan beban secara overload juga
dapat merangsang penyesuaian fisiologis tubuh, yang mendorong
meningkatnya kekuatan otot.
b. Prinsip peningkatan beban terus-menerus
Otot yang menerima beban latihan berlebih atau overload akan
kian bertambah kekuatannya, namun apabila dalam susunan program
latihan selanjutnya tidak ada penambahan beban maka tidak dapat lagi
menambah kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi
sedikit, dan pada saat suatu set dan dalam jumlah repetisi tertentu, otot
belum merasakan lelah. Prinsip penambahan beban seperti ini disebut
sebagai prinsip penerapan penambahan beban secara progresif. .
c. Prinsip urutan pengaturan suatu latihan
Latihan berbeban harus diatur sedemikian rupa sehingga
kelompok otot besar mendapat giliran lebih dulu, sebelum latihan
kelompok otot kecil, agar kelompok otot kecil tidak mengalami
kelelahan lebih dulu sebelum kelompok otot besar mendapat latihan.
Pengaturan latihan hendaknya diprogram dengan baik, sehingga tidak
terjadi dua bagian otot dalam tubuh yang sama, yang mendapat dua
giliran latihan secara berurutan.
d. Prinsip kekhususan program latihan
21

Program latihan dengan beban, dalam beberapa hal hendaknya


bersifat khusus, namun perlu memperhatikan pola gerak yang
dihasilkannya, jadi hendaknya latihan berbeban dikaitkan dengan
latihan peningkatan keterampilan motorik khusus. Latihan beban
menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju
nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Jadi misalnya ingin
melatih kekuatan melempar lembing, maka program latihan harus lebih
banyak melibatkan otot-otot lengan karena kaidah melempar lembing
dilakukan menggunakan lengan terkuat. Sebab, meskipun sama-sama
menggunakan gerakan lengan, kebutuhan kekuatan otot lengan para
atlet lempar lembing dan pemain bola voli berbeda dengan kebutuhan
kekuatan otot lengan para pemain bola basket maupun bulutangkis.
Roesdiyanto dan Budiwanto (2008:17-18) menyatakan bahwa
latihan harus dilakukan dengan berpedoman pada prinsip yang terdiri
dari "prinsip beban bertambah, spesialisaai, perorangan, variasi,
penambahan beban secara progresif, perkembangan multilateral, pulih
asal, reversibilitas, menghindari beban latihan berlebih, partisipasi aktif
dalam latihan, dan prinsip latihan menggunakan model". Prinsip-prinsip
latihan tersebut dapat peneliti uraikan, sebagai berikut:
a. Prinsip beban bertambah (overload)
Pemberian beban latihan harus melebihi kebiasaan sehari-hari
secara teratur. Hal ini bertujuan agar sistem fisiologis dapat
menyesuaikan dengan tuntutan fungsi yang dibutuhkan untuk tingkat
kemampuan tinggi. Latihan yang baik harus mengakibatkan penekanan
fisik dapat ditimbulkan dengan jalan pemberian beban latihan yang
lebih dari batas kemampuan atlet.
b. Prinsip spesialisaai (specialization)
Spesialisasi menunjukkan unsur penting yang diperlukan untuk
mencapai keberhasilan dalam olahraga. Spesialisasi bukan proses
unilateral, tetapi satu yang kompleks yang didasarkan pada suatu
landasan kerja yang solid dari perkembangan multilareral. Prinsip
22

spesialisasi harus disesuaikan pengertian dan penggunaanya yaitu


latihan harus bersifat khusus sesuai dengan olahraga dan pertandingan
yang akan dilakukan.
c. Prinsip perorangan (individualization)
Latihan harus memperlakukan siswa sesuai dengan potensi,
kemampuan, karakteristik dan kekhususan olahraga. Konsep latihan
harus direncanakan sesuai dengan karakteristik fisiologis dan psikologis
siswa, sehingga tujuan latihan dapat ditingkatkan secara wajar.
Individualisasi dalam latihan adalah kebutuhan yang penting dan hal itu
menunjukkan pada pemikiran untuk setiap siswa, mengabaikan prestasi
diperlukan secara individu sesuai kemampuan dan potensinya,
karakteristik belajar dan kekhususan cabang olahraga.
d. Prinsip variasi (variety)
Latihan harus bervariasi dengan tujuan mengatasi sesuatu yang
monoton dan membosankan bagi siswa. Siswa harus memiliki disiplin
latihan, tetapi mungkin lebih penting untuk memelihara motivasi dan
perhatian dengan memvariasi latihan fisik dan latihan secara rutin.
Masa latihan adalah suatu aktivitas yang sangat memerlukan beberapa
jam kerja siswa. Volume dan intensitas latihan secara terus menerus
meningkat dan latihan diulang-ulang banyak sekali.
e. Prinsip penambahan beban secara progresif (progressive
increase of load)
Pemberian beban latihan harus ditingkatkan secara bertahap,
teratur dan terus- menerus sehingga mencapai beban maksimum.
Program latihan harus direncanakan, beban ditingkatkan secara pelan
bertahap, yang akan menjamin memperoleh adaptasi secara benar.

f. Prinsip perkembangan multilateral (multilateral development)


Perkembangan multilateral lambat laun saling bergantung antara
seluruh organ dan sistem manusia, serta antara proses fisiologis dan
psikologis. Kebutuhan perkembangan multilateral muncul untuk
23

diterima sebagai kebutuhan dalam banyak lapangan pendidikan dan


usaha manusia. Prinsip multilateral akan digunakan pada latihan anak-
anak yunior, tetapi perkembangan multilateral secara tidak langsung
siswa akan menghabiskan semua waktu latihannya hanya untuk
program tersebut.
g. Prinsip pulih asal (recovery)
Beban latihan yang telah diberikan telah banyak mengeluarkan
energi tubuh siswa, sehingga diperlukan pemulihan untuk
mengembalikan kondisi tubuh seperti semula. Setelah proses
pemulihan, maka siswa dapat melakukan latihan kembali.
h. Prinsip reversibilitas (reversibility)
Beban latihan yang diberikan kepada siswa harus dikurangi
secara perlahan- lahan, khususnya ketika mendekati masa akhir latihan.
Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kesinambungan latihan, serta
menjaga kondisi fisik dan mental siswa agar tetap bugar.
i. Prinsip menghindari beban latihan berlebih (overtraining)
Program latihan yang dijalani tidak akan mencapai hasil jika
siswa mengalami kelelahan, sehingga harus menghindari kelebihan
beban latihan. Penyebab terjadinya overtraining, antara lain: siswa
diberikan beban latihan overload secara terus-menerus tanpa
memperhatikan interval, siswa diberikan latihan intensif secara
mendadak setelah lama tidak berlatih, proporsi latihan dari ekstensif ke
intensif tidak berjalan cepat, dan beban latihan diberikan dengan beban
melompat (tidak mengikuti prinsip penambahan beban progresif).
j. Prinsip partisipasi aktif dalam latihan
Siswa harus tetap berlatih diluar jam latihan wajib meskipun
tanpa pengawasan pelatih. Kesungguhan dan aktivitas siswa dalam
latihan akan dimaksimalkan jika guru secara periodik mendsiskusikan
kemajuan siswanya dengan siswa itu sendiri. Partisipasi aktif tidak
terbatas pada latihan. Siswa akan melakukan kegiatannya meskipun
tidak dalam pengawasan guru. Selama waktu bebas siswa dapat
24

melakukan pekerjaaan dalam aktivitas sosial yang memberikan


kepuasan dan ketenangan, tetapi dia tentu harus istirahat yang cukup.
k. Prinsip proses latihan menggunakan model
Latihan yang dilakukan harus didesain sedemikian rupa seakan-
akan seperti pada kenyataan yang akan terjadi di pertandingan. Melalui
latihan model, maka guru berusaha memimpin dan mengorganisasi
waktu latihan siswa secara obyektif, serta memperhatikan metode dan
isi yang sama dengan situasi yang akan dihadapi atlet saat mengikuti
pertandingan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip-
prinsip latihan memiliki peranan penting dalam aspek fisiologis dan
psikologis olahragawan, karena akan mendukung kualitas latihan.
Prinsip latihan merupakan hal yang harus ditaati dan dilaksanakan
dengan baik agar tujuan latihan dapat tercapai secara optimal atau
sesuai dengan yang diharapkan.

B. Latihan Ball Feeling


Aktivitas bermain futsal, maka keberadaan unsur teknik lebih
berperan daripada tenaga. Apabila teknik yang dimiliki pemain tidak
memenuhi syarat, maka pemain akan sangat kesulitan dalam melepaskan
diri dari pressing ketat lawan. Kondisi tersebut membuat pemain mau
tidak mau harus meningkatkan keterampilannya, baik dalam hal
25

mengontrol bola, passing, dribbling, maupun shooting, yang seluruhnya


bertujuan agar pemain futsal dapat selama mungkin menguasai bola guna
menciptakan peluang gol.
Permainan futsal identik dengan permainan sepak bola, namun
ruang gerak permainan futsal cukup sempit, yang membuat aliran bola
bergerak cepat di antara kaki pemain, sehingga pemain tidak hanya
dituntut untuk dapat bermain cepat, namun juga harus memiliki
keterampilan yang baik dalam menguasai bola. Salah satu contohnya
adalah saat pemain memperagakan teknik menggiring bola. Menurut
Lhaksana dan Pardosi (2008:61) bahwa "keberhasilan menggiring bola
dalam permainan futsal ditentukan oleh ruang gerak permainan yang
sempit, sehingga menggiring bola dilakukan dengan menggunakan sisi
bawah sepatu".
Kemampuan memperagakan keterampilan dalam mengolah bola
merupakan daya tarik tersendiri dalam sebuah permainan futsal.
Pergerakan yang dinamis dan terciptanya gol-gol indah disertai dengan
kejutan taktik dari sebuah tim juga merupakan hiburan tersendiri bagi para
penonton. Melalui keterampilan yang dimiliki, setiap pemain dituntut
untuk bermain sebaik mungkin dalam setiap pertandingan. Pemain harus
mampu menghadapi tekanan-tekanan yang terjadi selama pertandingan
dalam waktu yang terbatas.
Kecermatan pemain dalam mengambil keputusan di lapangan
harus dilatih dan diuji terus, sebab pemain futsal dituntut untuk memiliki
kepekaan yang tinggi terhadap penguasaan bola di lapangan. Hal ini dapat
dilatih dengan latihan ball feeling dalam setiap program latihan secara
terus-menerus sehingga tercipta pemain yang memiliki naluri terhadap
bola yang akan berdampak pada kemampuan untuk menentukan tindakan
yang cepat dan tepat saat di lapangan, apalagi futsal merupakan olahraga
permainan yang taktis dan dinamis.
"Futsal modern adalah permainan futsal yang para pemainnya
diajarkan bermain dengan sirkulasi bola yang sangat cepat, menyerang dan
26

bertahan, serta sirkulasi pemain tanpa bola atau timing yang tepat"
(Lhaksana, 2011:29), oleh karena itu diperlukan kemampuan ball feeling
dan penguasaan teknik-teknik dasar permainan dengan baik.
Uraian di atas menjelaskan bahwa hal yang pertama harus
diajarkan untuk melatih kemampuan bermain bola futsal adalah ball
feeling (merasakan bola). Ball feeling adalah mengenal lebih dalam
mengenai sentuhan kaki terhadap bola, bagaimana laju bola jika kaki
diayunkan lebih jauh, atau bagaimana gerak bola jika mengenai ujung kaki
(sepatu).
Permainan futsal merupakan permainan dengan kecepatan dan
passing- passing pendek. Kunci pokoknya adalah ball feeling. Ball feeling
ialah upaya pemain untuk menggunakan perasaannya saat menyentuh bola
dengan kakinya. Penggunaan kaki memang harus terampil, dengan begitu
bola dapat dimainkan dengan leluasa.
Ball feeling merupakan teknik yang paling mendasar dalam
bermain bola, termasuk dalam permainan futsal. "Tujuan ball feeling
adalah untuk melatih perasaan terhadap bola sehingga memudahkan
pemain dalam menguasai bola. Ball feeling adalah kehalusan 'perasaan'
seluruh bagian tubuh (kecuali tangan) yang mempengaruhi tingkat
penguasaan terhadap bola, terutama kaki dan kepala" (Lhaksana, 2011).
Segala bentuk latihan ball feeling dalam permainan futsal
merupakan upaya untuk merangsang feeling (perasaan) pemain terhadap
bola, sehingga pemain akan terbiasa dalam menguasai gerak dan laju bola.
Latihan ball feeling dapat dilakukan dengan cara:
1. Latihan menggulirkan bola atau memainkan bola di antara kedua kaki
dengan menggunakan kaki bagian dalam. Tujuan latihan ini lebuh
mengarah ke ketepatan passing seorang pemain, dikarenakan bentuk
latihan ini adalah dengan cara menggulirkan bola di antara dua kaki
dengan sentuhan menggunakan kaki dalam.
27

2. Latihan gerakan menginjak-injak bola. Tujuan latihan ini adalah untuk


membiasakan seorang pemain saat dalam keadaan ditekan lawan agar tetap
dapat memainkan bola, meskipun hanya menggunakan sol sepatu.
3. Latihan timang-timang bola (juggling) dengan menggunakan punggung
kaki. Tujuan latihan ini adalah agar seorang pemain lebih memperbanyak
sentuhan dengan punggung kaki yang nantinya akan berpengaruh pada
sentuhan bola pada saat menggiring bola.
4. Latihan menggulirkan bola ke arah samping dengan menggunakan sol
sepatu (telapak kaki) sambil berjalan. Tujuan latihan ini adalah untuk
membiasakan pemain untuk dapat menggiring bola walaupun dalam
keadaan sulit atau tertekan oleh lawan. Pelaksanaan latihan ini adalah
dengan cara menggulirkan bola ke arah samping dengan bagian bawah
sepatu sambil berjalan.
5. Latihan menarik bola dengan sol sepatu kemudian didorong
menggunakan kaki bagian dalam dan punggung kaki. Tujuanya adalah saat
menggiring bola teknik ini dapat digunakan untuk nenipu lawan.
6. Latihan ball feeling sangat besar manfaatnya, sehingga pemain semakin
terampil dalam menguasai bola dengan berbagai teknik dasar dan bagian-
bagian kakinya. Mempunyai penguasaan ball feeling yang baik, seorang
pemain akan mudah mengendalikan gerak dan arah bola. Kemampuan ball
feeling yang baik akan membuat seorang pemain menyatu dengan bola.

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ball


feeling selain bertujuan untuk menghidupkan perasaan pemain terhadap
bola, latihan tersebut juga akan melatih teknik penguasaan bola, serta
melatih kelenturan dan kelincahan kaki dalam mengolah bola sebagai
upaya untuk meningkatkan rasa percaya diri pemain akan keterampilannya
dalam mengolah bola tanpa harus memfokuskan pandangan pada posisi
bola. Kemampuan ball feeling seyogyanya dilatihkan pada setiap pemain
jauh-jauh hari sebelum masuk ke latihan teknik dasar atau menginjak pada
materi lain dalam suatu program latihan. Dengan memiliki ball feeling
28

yang baik, maka besar kemungkinan pemain akan mudah dalam


memperagakan setiap teknik dasar dengan bola dalam permainan futsal
sehingga keterampilannya dalam mengolah bola juga akan semakin baik.

C. Menggiring Bola Futsal


1. Pengertian permainan futsal
Futsal merupakan cabang olahraga permainan beregu bola besar
yang saat ini digemari oleh masyarakat. Permainan ini mudah
dilaksanakan karena ruang gerak permainan tidak terlalu luas dan sifat
dasar permainannya yang sangat menghibur.
"Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang
tiap tim beranggotakan lima pemain. Tujuan permainan ini adalah
memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya, dengan
memanipulasi bola dengan kaki" (Kurniawan, 2011:104). Permainan futsal
dilakukan dalam dua babak, yang tiap babak berlangsung selama 20 menit.
Permainan futsal dipimpin oleh seorang wasit, yang dibantu oleh seorang
hakim garis. Para pemain menggunakan sepatu bola, serta kostum yang
berbeda dengan lawan, sedangkan penjaga gawang mengenakan kostum
khusus yang berbeda dengan pemain.
"Futsal modern adalah permainan futsal yang para pemainnya
diajarkan bermain dengan sirkulasi bola yang sangat cepat, menyerang dan
bertahan, serta sirkulasi pemain tanpa bola atau timing yang tepat"
(Lhaksana, 2011:29). Hal tersebut didukung oleh pendapat Rakasiwi
(2013:54) yang menyatakan bahwa futsal adalah "olahraga yang
membentuk seorang pemain agar selalu siap menerima dan mengumpan
bola dengan cepat dalam tekanan pemain lawan". Hal tersebut
menjelaskan bahwa permainan futsal dilakukan dengan sirkulasi gerakan
pemain dan gerakan bola yang cepat, sehingga menuntut pemain
menguasai teknik dan taktik permainan dengan baik.
Kurniawan (2011:104) menyebutkan teknik dasar permainan futsal
yaitu "mengontrol bola dan mengumpan bola". Teknik mengontrol bola
29

dilakukan menggunakan kaki dalam, kaki luar, dan telapak kaki depan.
Teknik mengumpan dapat dilakukan dengan beragam sisi kaki, antara lain
kaki dalam, kaki luar, ujung kaki, tumit, atau sisi bawah.
Lhaksana (2011:29) menguraikan lima teknik dasar dalam
permainan futsal, meliputi "teknik mengumpan (passing), menahan bola
(control), mengumpan lambung (chipping), menggiring bola (dribbling),
menembakkan bola (shooting)". Keahlian seorang pemain dalam
memainkan bola di lapangan sangatlah berguna agar permainan futsal
dapat menarik dan berkualitas. Tentu saja hal tersebut juga merupakan
keuntungan tersendiri bagi tim yang dibelanya dalam upaya meraih
kemenangan.

2. Pengertian menggiring bola


Salah satu teknik dasar yang sangat penting dalam permainan
futsal adalah teknik menggiring bola. Menggiring bola merupakan
aktivitas pemain berlari membawa bola dengan kaki dalam suatu
pertandingan futsal. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lhaksana
(2011:33) yang menyatakan bahwa menggiring bola dalam permainan
futsal merupakan "kemampuan pemain dalam menguasai bola sebelum
diberikan kepada temannya untuk menciptakan peluang mencetak gol".
Keterampilan menggiring bola menunjukkan kecapakan seorang
pemain dalam memainkan bola menggunakan kaki atau bagian kakinya
untuk tujuan menguasai bola tersebut di lapangan. Hal tersebut sejalan
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rakasiwi (2013:56) bahwa
menggiring bola ialah "suatu usaha memindahkan bola dari satu daerah ke
daerah lain atau dengan berliku-liku untuk menghindari lawan. Tujuannya
adalah untuk menguasai bola selama mungkin saat berada di lapangan".
Memperagakan teknik menggiring bola dalam permainan futsal
sebenarnya identik dengan gerakan menggiring bola dalam permainan
sepak bola. "Perbedaan di antara keduanya adalah terletak pada luas area
lapangan untuk menggiring bola, lapangan futsal lebih kecil dibandingkan
30

dengan lapangan sepak bola" (Wijayanti, 2014:36). Hal yang harus diingat
oleh pemain yang sedang menggiring bola adalah bahwa aktivitas
menggiring bola tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan
ruang. Hal tersebut dikarenakan setiap pemain yang menggiring bola
memerlukan ruang yang cukup untuk memberikan posisi operan atau
tembakan yang lebih baik, atau memberikan waktu kepada rekan setim
untuk mencari posisi yang lebih baik guna menerima operan setelah bola
digiring.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
menggiring bola merupakan kecakapan seorang pemain futsal untuk
menguasai bola menggunakan kaki atau bagian kakinya. Tujuan pemain
menguasai bola adalah agar ia dapat menciptakan ruang, khususnya dalam
upaya melakukan serangan kepada tim lawan. Pemain dapat menggunakan
berbagai bagian kaki untuk mengontrol bola sambil terus menggiring bola,
antara lain menggunakan bagian inside, outside, instep, dan telapak kaki.

3. Teknik menggiring bola futsal


"Menggiring bola adalah menendang bola terputus-putus atau
pelan-pelan. Menggiring bola bertujuan untuk mendekati jarak ke sasaran,
melewati lawan, dan menghambat permainan" (Affrianty, 2013:2-3).
Bagian kaki yang dipergunakan untuk menggiring bola sama dengan kaki
yang digunakan untuk menendang bola, antara lain menggiring bola
menggunakan kaki bagian dalam, menggunakan kaki bagian luar, dan
menggiring bola menggunakan punggung kaki.
Menguasai teknik menggiring bola sangat penting dalam
permainan futsal. Hal tersebut dikarenakan dengan menggiring bola, maka
bola akan dapat secara terus-menerus dikuasai. Penguasaan bola tersebut
pada akhirnya akan melahirkan peluang-peluang untuk melakukan
serangan, bahkan hingga menciptakan gol ke gawang lawan, namun untuk
dapat menguasai keterampilan menggiring bola dengan baik, maka
diperlukan penguasaan gerakan menggiring bola dengan baik dan benar.
31

Hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan gerakan menggiring bola


adalah:
a. Kuasai bola serta menjaga jarak dengan lawan.
b. Jaga keseimbangan badan pada saat dribbling.
c. Sentuhan bola harus menggunakan telapak kaki secara
berkesinambungan.
d. Fokuskan pandangan setiap kali sentuhan dengan bola (Lhaksana,
2011:33).

Menurut Muhajir (2007:4) bahwa "pada umumnya teknik


menggiring bola atau dribbling dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
menggiring bola dengan kaki bagian dalam, kaki bagian luar, dan dengan
menggunakan punggung kaki".
a. Menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam Teknik menggiring
bola menggunakan sisi kaki bagian dalam memungkinkan seorang pemain
untuk menggunakan sebagian besar permukaan kaki sehingga kemampuan
untuk mengontrol bola akan semakin besar. Cara menggiring bola
menggunakan sisi kaki bagian dalam adalah:
1) Sentuhlan bola dengan sisi kaki bagian dalam dan posisikan kaki agar
tegak lurus dengan bola.
2) Tendanglah bola secara perlahan untuk mempertahankan kontrol bola
dan pusatkan kekuatan tendangan pada bagian tengah bola sehingga arah
bola lebih mudah dikontrol.
3) Usahakan agar bola tetap berdekatan dengan kaki, setidaknya jarak bola
dengan kaki tidak melebihi satu langkah kaki.
4) Pandangan mata tetap terpusat ke lapangan untuk mengamati keadaan
di sekitar dan rasakan sentuhan kaki terhadap bola, sehingga pemain tetap
bisa mengetahui keberadaan bola sambil tetap melihat ke sekelilingnya.
5) Jangan menggiring bola terlalu lama. Segera operkan bola ke rekan jika
lawan mendekat untuk menyerobot bola. Menggiring bola menggunakan
sisi kaki bagian luar
32

b. Teknik menggiring bola dengan menggunakan sisi kaki bagian luar


adalah salah satu cara untuk mengontrol bola. Keterampilan mengontrol
bola ini digunakan saat pemain yang menguasai bola sedang berlari dan
mendorong bola sehingga bisa mempertahankan agar bola tetap berada di
sisi luar kaki. Keterampilan ini digunakan ketika pemain mencoba
mengubah arah atau bersiap untuk mengoper bola ke rekan. Cara
menggiring bola menggunakan sisi kaki bagian luar adalah:
1) Posisi tubuh sangat penting dalam melakukan teknik menggiring bola
ini. Keberhasilan pelaksanaan menggiring bola dengan teknik ini
ditentukan oleh jarak di antara kedua kaki saat menggiring bola dan
kemampuan mempertahankan keseimbangan ketika mendorong bola
menjauhi badan.
2) Gerakan yang baik saat menggiring bola dengan teknik ini adalah
pemain melangkah ke samping, atau bergeser ke samping.
3) Menghadaplah ke depan.
4) Bergeraklah menyamping dengan tetap menjaga keseimbangan tubuh
dan menggerakkan kaki.
5) Jangan menyilangkan kaki saat sedang bergerak menggiring bola, dan
selalu ayunkan lengan untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh.

C. Menggiring bola menggunakan menggunakan kura-kura kaki


Teknik menggiring bola dengan kura-kura kaki memungkinkan pemain
dapat menggiring bola dengan kuat dan kontrol yang baik. Kelebihan dari
kura-kura kaki adalah dapat memberikan permukaan yang datar pada bola
dan juga dapat membuat bola bergerak membelok dan menukik. Cara
menggiring bola menggunakan kura-kura kaki adalah:
1) Gunakan kura-kura kaki atau bagian punggung sepatu sebagai bidang
tendangan untuk menggiring bola jika menginginkan gerakan yang cepat.
2) Saat sedang berlari menggiring bola, usahakan agar ujung jari kaki
menghadap ke depan.
33

3) Ketika kaki bergerak ke depan, turunkan sedikit ujung jari kaki dan
sentuhlah bola menggunakan kura-kura kaki atau bagian dari punggung
sepatu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik
menggiring bola futsal dapat dilakukan dengan cara menggiring bola
dengan kaki bagian dalam, kaki bagian luar, dan dengan menggunakan
punggung kaki. Ketiga cara dalam menggiring bola tersebut harus dikuasai
dengan baik oleh setiap pemain, dengan demikian pemain akan mampu
menguasai bola selama mungkin. Penguasaan bola tersebut akan
melahirkan peluang bagi timnya untuk menyusun strategi serangan kepada
tim lawan. Semakin banyak serangan dilakukan, maka peluang terciptanya
gol akan semakin besar. Semakin banyak gol tercipta, maka peluang tim
unutk memenangkan pertandingan futsal akan semakin besar.
DAFTAR PUSTAKA

Affrianty, Fetty Novi. 2013. Studi Keterampilan Teknik Dasar Menggiring Bola
dengan Kecakapan Bermain Futsal Club Wanita Starlight. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Vol. 1 No. 1, hlm. 1-10.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Edisi


Revisi V. Jakarta: Rineka Cipta.

Baker, Joseph. 2003. Nurturing Sport Expertise: Factors Influencing the


Development of Elite Athlete. Journal of Sport Science and Medicine, Vol. 2
No. 1, hlm. 1-9.

Bakkareng. 2011. Pengaruh Latihan Tendangan Terhadap Kemampuan Shooting


Finalti pada Permainan Sepak Bola. Jurnal Competitor FIK UNM, No. 3
Tahun 3, hlm. 1-19.

Koesnadi, Uray Yohanes, dan Setyo Budiwanto. 1988. Macam-macam Tes dan
Pengukuran Dalam Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Malang:
Laboratorium Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, FIP IKIP Malang.

Kurniawan, Feri. 2011. Buku Pintar Olahraga. Jakarta: Laskar Aksara.

Lhaksana, Justinus. 2011. Taktik dan Strategi Futsal Modern. Depok: Be


Champion (Penebar Swadaya Group).

Lhaksana, Justinus dan Ishak H. Pardosi. 2008. Inspirasi dan Spirit Futsal: Teknik
Dasar dan Strategi Bermain. Depok: Raih Asa Sukses.

Muhajir. 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Penerbit Erlangga.

34
35

Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani: Prinsip-


prinsip dan Penerapanya. Jakarta: Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah,
Direktorat Jenderal Olahraga.

Rakasiwi, Putri Agil. 2013. Developing Futsal Test Digital Media In Jogja FIK
Futsal by Using Macromedia Flash. PELITA UNY, Vol. III No. 1, hlm. 51-
62.

Roesdiyanto dan Budiwanto, Setyo. 2008. Dasar-dasar Kepelatihan Olahraga.


Cetakan I. Malang: Lab. Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang.

Sajoto, Mochamad. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondis Fisik


Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize
Syam, Nadwi. 2012. Pengaruh Latihan Tendangan dengan Menggunakan Kaki
Bagian Dalam dan Latihan Tendangan dengan Menggunakan Kaki Bagian
Luar Terhadap Kemampuan Shooting Finalti pada Permainan Sepak Bola
pada Mahasiswa FIK UNM. Jurnal Competitor FIK UNM, No. 1 Tahun 4,
hlm. 115-126.

Wijayanti, Dian Ika Purba Ratna. 2014. Model Tes Keterampilan Dasar Futsal
Bagi Pemain KU 10-12 Tahun. Jurnal Keolahragaan, Vol. 2 No. 1, hlm.
32-45.
36

LAMPIRAN
37

Lampiran 1
38

Lampiran 2
ANGKET VALIDASI AHLI MATERI
PENGEMBAGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA
INTERAKTIF PADA MATERI KEBUGARAN JASMANI KELAS VIII
SMP NEGERI 5 SINTANG SATU ATAP

Biodata Ahli
Nama :

Tempat , tangal lahir :

Alamat :

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

Pengalaman : 1.

: 2.

Petunjuk pengisian
1. Lembar validasi ini diisi oleh bapak/ibu ahli media sesuai dengan keadaan
sebenarnya
2. Angket ini dimaksudkan untuk mengetahui pendapat bapak/ibu tentang
produk yang dibuat
3. Pendapat, kritik, saran, penilaian dan komentar yang diberikan akan sangat
bermanfaat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk yang
dikembangkan
4. Jawaban dapat diberikan pada kolom yang disediakan dengan memberikan
tanda cek list (√) pada pilihan jawaban yang sesuai
39

5. Jika terdapat kesalahan atau kekurangan dalam produk yang


dikembangkan ini mohon ditulis pada kolom yang disediakan dan mohon
koreksinya untuk keperluan perbaikan
6. Skala penilaian bobot:
5 = Sangat Bagus
4 = Bagus
3 = Sedang
2 = Buruk
1 = Sangat Buruk

Angket Penilaian untuk Validator


Aspek Indikator Skor Penilaian
Penilaian
SB B CB KB TB
5 4 3 2 1
Kelayakan 1. Kesesuaian materi dengan
Penyajian Kompetensi Dasar
Meteri
2. Kesesuaian materi dengan
indikator dan tujuan
pembelajaran
3. Kejelasan isi materi pelajara
4. Kemudahan pemahaman materi
oleh siswa dengan
menggunakan multimedia
interaktif
5. kesesuaian materi multimedia
interaktif yang disajikan dengan
tingkat kebutuhan siswa
6. Pola pengembangan yang
digunakan untuk multimedia
interaktif berpengaruh pada
pemahaman siswa
7. Tingkat efektifan pembelajaran
dengan menggunakan
40

multimedia interaktif
8. Kesesuaian teknik penyajian
materi
9. Kesesuaian urutan penyajian
materi
10. Penggunaan Bahasa dalam
media

Komentar dan saran :


.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
Pontianak, April 2023
Validator

(............................................)
41

Lampiran 3
ANGKET VALIDASI AHLI MEDIA
PENGEMBAGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA
INTERAKTIF PADA MATERI KEBUGARAN JASMANI KELAS VIII
SMP NEGERI 5 SINTANG SATU ATAP

Biodata Ahli
Nama :

Tempat, tangal lahir :

Alamat :

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

Pengalaman : 1.

: 2.

Petunjuk pengisian
1. Lembar validasi ini diisi oleh bapak/ibu ahli media sesuai dengan keadaan
sebenarnya
2. Angket ini dimaksudkan untuk mengetahui pendapat bapak/ibu tentang
produk yang dibuat
3. Pendapat, kritik, saran, penilaian dan komentar yang diberikan akan sangat
bermanfaat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk yang
dikembangkan
4. Jawaban dapat diberikan pada kolom yang disediakan dengan memberikan
tanda cek list (√) pada pilihan jawaban yang sesuai
42

5. Jika terdapat kesalahan atau kekurangan dalam produk yang


dikembangkan ini mohon ditulis pada kolom yang disediakan dan mohon
koreksinya untuk keperluan perbaikan
6. Skala penilaian bobot:
5 = Sangat Bagus
4 = Bagus
3 = Sedang
2 = Buruk
1 = Sangat Buruk

Angket Penilaian validator

Aspek Komponen Indikator Skala penilaian


Penilaian
S B C K T
B B B B
5 4 3 2 1
Tampilan Desain 1. Ketepatan
Layout/ Tata pemilihan
letak background
dengan materi
2. Ketepatan
proporsi layout
Teks/ 3. Ketepatan
tipografi pemilihan font
agar mudah
dibaca
4. Ketepatan
ukuran huruf
agar mudah
dibaca
5. Ketepatan warna
teks agar mudah
dibaca
Gambar 6. Komposisi
gambar
43

7. Ukuran gambar
8. Kualitas
tampilan gambar
Animasi 9. Kesesuaian
animasi dengan
materi
10. Kemenarikan
animasi
Audio 11. Ketepatan
pemilihan
backsound
dengan materi
12 Ketepatan
sound effect
dengan animasi
Vidio 13. Ketepatan
pemiliohan
vidio dengan
materi
14. Kualitas vidio
pemograman Pengunaan 15. Kesesuain
a dengan
pengguna
16. Fleksibelitas
( dapat
digunakan
mandiri dan
terbimbing)
17. Kelengkapan
petunjuk
pengunaan
18. Tampilan
petunjuk
penggunaan
Navigasi dan 19. Ketepatan
interactive penggunan
44

Link tombol navigasi


20. Ketepatan
kinerja
interactive Link
Komentar dan saran :
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Pontianak, April 2023
Validator

(............................................)

Lampiran 4
ANGKET VALIDASI TANGGAPAN GURU
PENGEMBAGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA
INTERAKTIF PADA MATERI KEBUGARAN JASMANI KELAS VIII
SMP NEGERI 5 SINTANG SATU ATAP
Biodata Ahli
45

Nama :

Tempat, tangal lahir :

Alamat :

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

Pengalaman : 1.

: 2.

Petunjuk pengisian
1. Lembar validasi ini diisi oleh bapak/ibu guru sesuai dengan keadaan
sebenarnya
2. Angket ini dimaksudkan untuk mengetahui pendapat bapak/ibu tentang
produk yang dibuat
3. Pendapat, kritik, saran, penilaian dan komentar yang diberikan akan sangat
bermanfaat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk yang
dikembangkan
4. Jawaban dapat diberikan pada kolom yang disediakan dengan memberikan
tanda cek list (√) pada pilihan jawaban yang sesuai
5. Jika terdapat kesalahan atau kekurangan dalam produk yang
dikembangkan ini mohon ditulis pada kolom yang disediakan dan mohon
koreksinya untuk keperluan perbaikan
6. Skala penilaian bobot:
5 = Sangat Bagus
4 = Bagus
3 = Sedang
2 = Buruk
1 = Sangat Buruk

Angket tanggapan guru


Aspek Penilaian Kriteria Penilian Skor Nilai
46

SB B CB KB TB
5 4 3 2 1
Kesesuaian materi 1. Kesesuaian materi dengan
dengan KI, KD, KI
Indikator, dan
2. Kesesuaian materi dengan
tujaun
KD
pembelajaran
3. Kesesuaian materi dengan
Indikator
4. Kesesuaian materi dengan
tujuan pembelajaran
Aspek Kualitas 5. Kualitas media
pembelajaran berbasis
Multimedia Interaktif
Power Point yang
dikembangkan sudah
memenuhi kriteria media
6. Penggunaan media
pembelajaran berbasis
Multimedia Interaktif
Power Point yang
dikembangkan memenuhi
fungsi praktis sebagai
media pembelajaran
7. Desain media pembelajaran
berbasis Multimedia
Interaktif Power Point baik
(kejelasan teks, gambar,
warna, dan background)
Aspek Efektifitas 8. Kesesuaian media yang
dikembangkan dengan
kebutuhan pembelajaran
9. Media dapat melatih
kemandirian belajar peserta
didik
47

Aspek Penyajian 10. Kesesuaian dan ketepatan


gambar, animasi, audio, dan
video dengan materi

Komentar dan saran :


....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Pontianak, April 2023
Validator

(............................................)

Anda mungkin juga menyukai