Cara Merumuskan Hipotesis Penelitian [Panduan]
Melakukan penilitian, harus ada terlebih dahulu hipotesis yang dibawakan. Berikut panduan cara
merumuskan hipotesis yang benar. Perhatikan dan juga baca baik-baik supaya tidak ada kesalahan
dalam menentukan hipotesis. Sebab, ketika salah menentukan hal pertama ini, maka penelitian yang
Kita lakukan bisa saja salah total.
Artikel ini sangat disarankan untuk Kamu yang sedang menjalankan penelitian untuk memastikan lagi
apakah hipotesis yang diajukan sudah benar atau belum, atau pun untuk Kamu yang sedang ingin
memulai penelitian misalnya seperti skripsi dan tesis.
Dalam penentuan dan perumumsan hipotesis, diperlukan kehati-hatian dan juga kepekaan dalam
menilai suatu permasalaha. Bisa jadi, masalah yang diangkat ternyata bukan masalah utama dan lain
sebagainya. Hipotesis penelitian menjadi hal paling penting yang mempengaruhi seluruh proses
selama penelitian nantinya.
Berikut panduan cara merumuskan hipotesis untuk penelitian
Daftar Isi
1. Observasi Topik Masalah
2. Membuat Daftar Permasalahan
3. Memulai Menulis Hipotesis
4. Memastikan Hipotesis Bisa di Uji
1. Observasi Topik Masalah
Langkah pertama dan harus dilakukan adalah melakukan observasi topik permasalahan yang akan
diangkat menjadi topik penelitian utama Kita. Ada beberapa cara dalam melakukan observasi, bisa
dengan studi literatur, studi lapangan dan wawancara.
paling mudah dan paling enak, yaitu dengan observasi masalah menggunakan cara studi literatur.
Kita bisa membaca hasil penemuan atau pun penelitian-penelitian sebelumnya dari jurnal, buku-
buku di perpustakaan atau web berita yang terbaru (pastikan kredibel).
Dengan melakukan banyak membaca dan membandingkan, Kita akan tau kelebihan dan kekurangan
masing-masing sehingga bisa menentukan permasalahan atau hipotesis awal apa yang cocok untuk
melengkapi atau memperbaiki penelitan sebelumnya.
Kedua bisa dengan kunjungan lapangan. Kunjungan lapangan ini bisa dengan membawa alat ukur
yang jelas untuk mengukur masalah yang ada di tempat rencana penelitian. Ya, seperti penelitian
pendahuluan lah ya. Misalnya, seperti pengecekan BOD dan COD pada sungai X. Dengan data yang
akurat dan terbaru, kita bisa memulai memikirkan hipotesis apa yang cocok dan pas.
Terakhir, melakukan wawancara. Kadang, permasalahan tidak harus selalu saintis dan ada terlihat
tetapi juga harus digali dari sisi sosial. Dengan wawancara, pengalian informasi masalah dan
observasi bisa semakin lebih dalam lagi serta mengetahui sejarah yang ada.
2. Membuat Daftar Permasalahan
Setelah melakukan observasi yang cukup banyak, lengkap dan komprhensif, selanjutnya adalah
menyusun semua masalah yang muncul selama observasi. Tulisalah permasalahan yang muncul
dalam sebuah kertas atau aplikasi seperti microsoft word supaya lebih mudah dibaca dan dicetak.
Nah, permasalahan yang telah ditulis secara lengkap dengan bentuk “daftar”, silakan cari dan
pikirkan solusi atau jawaban yang tepat dari masing-masing masalah tersebut bisa diselesaikan atau
minimal bisa dikurangi dengan minimal data dahulu.
Jika sudah, baca ulang dan pilih masalah yang akan bisa dieksplorasi lebih banyak lagi untuk
dilakukan penelitian.
3. Memulai Menulis Hipotesis
Nah, untuk memulai menulis hipotesis. Kenali dahulu menganai apa itu H0 dan H1 dalam membuat
hipotesis yang baik dan benar. Sebelumnya, sudah dijelaskan lengkap dalam dua artikel penting
berikut ini. Silakan baca lengkap sebelum lanjut ke pembahasan poin 4.
Apa itu Hipotesis dan Jenisnya
Cara Membuat Hipotesis yang Benar dan Menarik
Jika sudah membaca keduanya, lanjut untuk pembahasan poin 4.
4. Memastikan Hipotesis Bisa di Uji
Langkah terakhir dalam tahapan cara merumuskan hipotesis, yaitu memastikan bahwa hipotesis yang
kita pilih bisa diuji. Jika hipotesis tidak bisa diuji artinya hipotesis tersebut tidak bisa digunakan lagi
dan kurang tepat untuk diteliti lebih lanjut. Baik tidaknya sebuah hipotesis untuk dilanjutkan menjadi
sebuah penelitian bisa dengan menjawab 3 pertanyaan penting ini.
Apakah hipotesis yang dibuat sudah berfokus pada topik memang bisa diuji secara ilmiah?
Apakah hipotesis yang dibuat sudah memuat variabel independen (bebas) dan dependen
(terikat)?
Apakah hipotesis yang dibuat sudah memuat prediksi akan hasil penelitian atau belum?
Apabila ketiga pertanyaan di atas terjawab dengan positif, maka penelitian bisa dilanjutkan dengan
hipotesis yang dipakai. Itu merupakan langkah-langkah merumuskan hipotesis yang sederhana tetapi
tetap fundamental yang harus dipahami dan dipraktikkan.
Menentukan variable venelitian
Variabel penelitian – Saat menyusun penelitian, kamu tidak akan bisa lepas dari masalah yang akan
diteliti secara ilmiah. Untuk melakukannya, Grameds perlu menentukan variabel penelitian agar
penelitian tetap sesuai dengan tujuan dan sasarannya.
Variabel, secara singkat merupakan sesuatu yang menjadi fokus pengkajian dan untuk
merumuskannya dibutuhkan teori, konsep, atau proposisi yang jelas. Sebab jika tidak, kamu mungkin
akan kesulitan untuk memformulasikan masalah penelitian dan mengumpulkan data-data yang
diperlukan untuk suatu penelitian.
Dengan kata lain, variabel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang ingin dicari
melalui penelitian ini?”, “Apa yang harus ditetapkan lebih dulu oleh peneliti agar tujuan
penelitiannya tercapai?”, dan “Apa dasar penetapannya?”.
Sayangnya, masih banyak orang yang belum bisa memahami variabel penelitian dengan baik.
Akibatnya, butuh waktu lama untuk menyelesaikan penelitian yang sedang dilakukan atau bahkan
mengulang proses penulisannya dari awal.
Oleh karena itu, dalam artikel ini kita akan membahas tentang pengertian variabel penelitian, jenis-
jenisnya, dan bagaimana cara merumuskannya. Simak baik-baik, ya!
Daftar Isi
Pengertian Variabel Penelitian
Jenis-jenis Variabel Penelitian
o Jenis Variabel Berdasarkan Posisi
Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel Kontrol
o Jenis Variabel Berdasarkan Sifat
Variabel Dinamis
Variabel Statis
o Jenis Variabel Berdasarkan Urgensi
Variabel Konseptual
Variabel Faktual
o Jenis Variabel Berdasarkan Tipe Skala Pengukur
Variabel Nominal
o Variabel Kontinu
o Jenis Variabel Berdasarkan Penampilan Pada Saat Pengukuran
Variabel Maksimalis
Variabel Tipikalis
Berapa Banyak Variabel yang Bisa Kamu Gunakan dalam Penelitian?
Tips untuk Merumuskan Variabel Penelitian
o 1. Tentukan Masalah Utamanya
o 2. Temukan Faktor
o 3. Siapkan Teori Penelitian
o 4. Siapkan Kebutuhan Penelitian
Contoh-contoh Variabel Penelitian
o Variabel Kualitatif
o Variabel Kuantitatif
Buku Terkait Sejarah Indonesia
Materi Terkait Sejarah Indonesia
Pengertian Variabel Penelitian
Pada umumnya, variabel merupakan objek atau konsep yang akan diteliti yang bentuknya bisa
abstrak maupun real. Dalam proses penulisan penelitian, perumusan variabel harus dilakukan secara
sistematis dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Dengan begitu, kebenaran hasil observasi dalam
penelitian dapat dipertanggungjawabkan.
S. Margono (1997) menyatakan bahwa variabel adalah sebuah konsep yang memiliki variasi nilai.
Artinya, variabel ini sudah pasti punya sifat yang beragam dan merujuk pada karakteristik yang
berbeda antara satu variabel dengan yang lainnya.
isalnya, katakanlah kamu akan melakukan penelitian penelitian dengan judul “Dampak
Ekstrakurikuler Terhadap Prestasi Belajar Siswa/i SMA Negeri 1 Bandung”. Dalam penelitian ini,
variabelnya adalah Ekstrakurikuler dan Prestasi Belajar Siswa. Jenis-jenis ekstrakurikuler dan prestasi
belajar siswa pasti akan bervariasi antar-siswa.
Selain bervariasi, sebuah variabel juga harus bisa diukur. Terlebih untuk penelitian kuantitatif yang
mengharuskan hasil penelitian yang objektif, terukur, serta terbuka untuk diuji kembali. Unsur atau
istilah “variabel penelitian” sendiri lebih banyak digunakan dalam jenis penelitian ini.
Asroi Dkk menjelaskan lebih lengkap lagi tentang apa itu variabel dan instrumen penelitian dalam
buku Memahami Variabel Dan Instrumen Penelitian. Pastikan Grameds menjadikan buku ini sebagai
referensi saat menulis penelitian, ya
Jenis-jenis Variabel Penelitian
Setelah mengetahui pengertian dari variabel penelitian, kamu sudah bisa masuk ke dalam tahap
pemilihan variabelnya. Di tahap ini, Grameds harus tahu jenis-jenis variabel yang bisa digunakan
dalam penelitian.
Tujuan mengetahui jenis variabel adalah supaya kamu tidak terlalu sulit menentukan variabel yang
tepat dan sesuai dengan tujuan penelitiannya. Oleh sebab itu, jenis variabel itu sendiri dibagi ke
dalam beberapa kelompok, sehingga kamu akan lebih mudah dalam membuat variabel penelitian
yang akan digunakan. Pertama berdasarkan posisi dan fungsi; berdasarkan sifat; berdasarkan urgensi;
berdasarkan tipe skala pengukuran; dan berdasarkan penampilan saat pengukuran.
Jenis Variabel Berdasarkan Posisi
Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang dapat memengaruhi perubahan pada variabel lainnya. Dengan
kata lain, jika terjadi perubahan pada suatu variabel, perubahan tersebut disebabkan oleh variabel
bebas ini.
Misalnya begini, katakanlah Grameds saat ini sedang menyusun penelitian dengan judul “Dampak
Ekstrakurikuler Terhadap Prestasi Belajar Siswa/i SMA Negeri 1 Bandung”. Nah, dalam penelitian ini,
yang menjadi variabel bebasnya adalah “ekstrakurikuler” karena dia bisa berdiri sendiri dan bisa
mempengaruhi perubahan pada “prestasi belajar siswa” yang merupakan variabel lainnya.
Variabel Terikat (Dependent Variable)
Berbanding terbalik dengan variabel bebas, variabel terikat adalah variabel yang bisa dipengaruhi
oleh variabel yang lainnya. Oleh karena itu, keberadaannya dianggap sebagai akibat dari kehadiran
variabel bebas.
Contohnya, dalam penelitian yang disebutkan tadi, variabel terikatnya adalah “prestasi belajar
siswa”, karena dia bisa dipengaruhi oleh ekstrakurikuler yang diambil oleh siswa.
Pada dasarnya, penelitian yang kamu lakukan adalah sebuah usaha untuk mencari hubungan antara
berbagai variabel. Nah, hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat menjadi hubungan
paling dasar yang mesti kamu pahami.
Adapun untuk jenis hubungan antara dua variabel tersebut, Machfoedz (2007) menyebutkan ada tiga
jenis hubungan yang bisa digunakan, yaitu hubungan simetri, timbal balik, dan asimetris.
Hubungan simetris adalah hubungan dimana suatu variabel tidak dipengaruhi atau tidak
mempengaruhi variabel lainnya.
Hubungan timbal balik artinya sebuah variabel bisa jadi sebab dan akibat untuk variabel lainnya.
Misalnya variabel “kualitas pendidikan” dengan “tingkat ekonomi generasi milenial”. Masing-masing
variabel ini bisa saling mempengaruhi satu sama lain.
Maksudnya begini, anggaplah kamu merupakan generasi milenial dengan tingkat ekonomi yang
tinggi. Nah karena hal ini, kamu lebih mudah untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang tinggi
juga.
Sebaliknya, kalau kamu datang dari keluarga dengan pendidikan yang tinggi, kamu bisa memiliki
tingkat ekonomi yang tinggi juga.
Hubungan asimetris merupakan kebalikan dari hubungan simetris, yang artinya sebuah variabel bisa
mempengaruhi variabel lainnya.
Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang bisa kamu kendalikan dengan tujuan supaya pengaruh variabel
bebas pada variabel terikat tidak diganggu oleh faktor-faktor lain yang tidak kamu teliti.
Contohnya,
Katakanlah kamu memiliki sebuah hipotesis bahwa seseorang yang berasal dari kelas menengah ke
atas lebih bisa mentoleransi kawin campuran daripada orang dari kelas menengah ke bawah.
Nah, untuk mengetahui kebenaran hipotesis tersebut, kamu bisa menggunakan “pendidikan” atau
“pendapatan” maupun keduanya sebagai variabel kontrol. Artinya, responden dari penelitian yang
kamu lakukan akan diambil dari kelas sosial yang berbeda namun memiliki pendidikan dan
pendapatan yang sama.
Dengan metode seperti ini, kamu bisa terhindari dari hasil perhitungan atau kesimpulan yang bias.
Menetapkan prosedur kerja
1. Identifikasi masalah
2. Merumuskan masalah
3. Merumuskan hipotesis
4. Menentukan variable
5. Menetapkan prosedur kerja
6. Mengumpulkan data
7. Mengolah dan menganalisis data
8. Membuat Kesimpulan
9. Mengkomunikasikan hasil penelitian
Beberapa metode pengumpulan data antara lain:
1. Wawancara. Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap
muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. ...
2. Observasi. ...
3. Angket (kuesioner) ...
4. Studi Dokumen.
Langkah pengumpulan data akan dimulai dari menentukan informasi yang ingin dikumpulkan,
menetapkan jangka waktu, menentukan metode pengumpulan data, melakukan pengumpulan
data, dan diakhiri dengan analisis data.
Mengolah serta menganalisis data
Grafik dan tabel adalah alat yang bermanfaat dalam menyusun hingga menganalisis data.
Grafik dan tabel akan menampilkan seperti apa variabel terikat berubah menjadi respon
terhadap perubahan dari variabel bebas. Selain itu, analisis data juga bisa dilakukan dengan
program komputer.
Membuat kesimpulan
Dalam menyusun kesimpulan, detikers perlu memutuskan data yang dikumpulkan memang
mendukung hipotesis atau sebaliknya.
Mengkomunikasikan hasil penelitian
Pastinya sosialisasi hasil penelitian sangat penting dilakukan supaya hasil penelitian detikers
bisa diketahui oleh pihak lain.