0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan19 halaman

Pemahaman Pemerintahan Daerah Indonesia

Diunggah oleh

singates2025
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan19 halaman

Pemahaman Pemerintahan Daerah Indonesia

Diunggah oleh

singates2025
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

17

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pemerintah Daerah
Setiap negara menganut sistem pemerintahan yang
sesuai dengan falsafah negara dan Undang-Undang dasar
yang dimilikinya. Indonesia memiliki falsafah negara, yaitu
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945. Dalam pasal 18 UUD 1945 diatur
tentang Pemerintahan Daerah, yaitu mengenai pembagian
daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk
susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-
undang, dengan memandang dan mengingat dasar
pemusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan
hak-hak asal-usul dalam daerahdaerah yang bersifat
istimewa. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta
perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif
Daerah12. Sedangkan Pemerintahan Daerah adalah
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Otonom oleh
Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) menurut asas Desentralisasi13.
Pengertian pemerintahan daerah menurut Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Susunan dan tata cara

12 Pasal 1 huruf c PP Nomor 39 tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan


Dekonsentrasi
13 Pasal 1 huruf b PP Nomor 39 tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan

Dekonsentrasi
17
18

penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam pasal 18


ayat (7) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Penyelenggaraan pemerintah daerah diarahkan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran
serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia14.
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
daerah-daerah
provinsi. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah
kabupaten dan daerah kota. Setiap daerah provinsi, daerah
kabupaten dan daerah kota mempunyai pemerintahan daerah
yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah daerah
provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota mengatur
sendiri urusan pemerintahannya. Pemerintah dearah
menjalankan otonomi yang seluas-luasnya kecuali urusan
pemerintah yang oleh undang-undang ditentukan sebagai
urusan pemerintah pusat15.
Menurut W.S Sayre (1960) pemerintah dalam definisi
terbaiknya adalah sebagai organisasi dari negara yang
memperlihatkan dan menjalankan kekuasaannya. Selanjutnya
menurut David Apter (1977), pemerintah adalah satuan
anggota yang paling umum yang memiliki tanggung jawab
tertentu untuk mempertahankan sistem yang mecangkupnya
dan monopoli praktis yang menyangkut kekuasaan
paksaannya.16

14Ani Sri Rahayu, Pengantar Pemerintahan Daerah Kajian Teori, Hukum,


dan Aplikasinya, (Sinar Grafika: Malang, 2017), H.1.
15 Ani Sri Rahayu, Pengantar Pemerintahan Daera..., h.1.
16 Inu Kencana Syafiie, Pengantar ilmu pemerintahan, (Jakarta: Refika

Aditama, 2010), h. 11.


19

Selanjutnya, Daerah adalah lingkungan pemerintah :


wilayah, daerah diartikan sebagai bagian permukaan bumi;
lingkungan kerja pemerintah, wilayah; selingkup tempat yang
dipakai untuk tujuan khusus, wilayah; tempat-tempat
sekeliling atau yang dimaksud dalam lingkungan suatu kota;
tempat yang terkena peristiwa sama; bagian permukaan
tubuh.17
Lain hal nya dengan C.F Strong yang menyebutkan
bahwa pemerintahan daerah adalah organisasi dimana
diletakkan hak untuk melaksanakan kekuasaan berdaulat
atau tertinggi. Pemerintahan dalam arti luas merupakan
sesatu yang lebih besar daripada suatu badan atau
kelompok.18
Daerah Otonom merupakan kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu dan memiliki
hak, wewenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus
mah tanggangnya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku19.

B. Teori Kewenangan
1. Pengertian Kewenangan
Kewenangan berasal dari kata dasar wewenang
yang diartikan sebagai hal berwenang, hak dan
kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu.
Kewenangan adalah apa yang disebut kekuasaan formal,
kekuasaan berasal dari kekuasaan legislate (diberi oleh
undangundang) atau dari kekuasaan eksekutif

17 G. Setya Nugraha, R. Maulina f, Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Surabaya, h.145.
18 Fahmi Amrusi dalam Ni’matull Huda, Hukum Pemerintah Daerah,

(Nusamedia:Bandung, 2012), h. 28.


19 Juanda Nawawi, Desentralisasi dan Kinerja Pelayanan Publik,

(Makassar : Menara Intan, 2012), h. 36


20

administrative. Kewenangan yang biasanya terdiri dari


beberapa wewenang adalah kekuasaan terhadap
segolongan orang tertentu atau kekuasaan terhadap suatu
bidang pemerintahan20.
Teori kewenangan digunakan sebagai dasar atau
landasan dalam teoritik pada penulisan tesis ini, karena
kurator dalam pelaksanaan tugasnya tidak bisa
dilepaskan dari teori kewenangan yang di dalamnya
memuat ajaran tentang jenis dan sumber kewenangan.
Jenis kewenangan meliputi kewenangan terikat dan
kewenangan bebas. Sedangkan sumber-sumber
kewenangan, antara lain; atribusi, delegasi dan
mandate21.
Dalam literature ilmu politik, ilmu pemerintahan,
dan ilmu hokum sering ditemukan istilah kekuasaan,
kewenangan, dan wewenang. Kekuasaan sering
disamakan begitu saja dengan kewenangan dan
kekuasaan sering dipertukarkan dengan istilah
kewenangan, demikian pula sebaliknya. Bahkan
kewenangan sering disamakan juga dengan wewenang.
Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan dalam arti
bahwa “ada satu pihak yang memerintah dan pihak lain
yang diperintah” (the rule and the ruled)22.
2. Sumber Kewenangan
Di dalam negara hukum dikenal atas legalitas yang
menjadi pilar utamanya dan merupakan salah satu
prinsip utama yang dijadikan dasar dalam setiap
penyelenggaraan pemerintahan dan keneharaan di setiap

20Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Jakarta,


Ghalia Indonesia, h. 78
21 Prajudi Admosuridjo, Hukum Administrasi… h. 76.
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, 1998, Jakarta,
22

Gramedia Pustaka Utama, h. 35-36


21

negara hukum terutama bagi negara-negara hukum dan


system konstitunental. Philipus M. hadjon
mengemukanan bahwa kewenangan diperoleh melalui
tiga sumber yaitu ; atribusi, delegasi, mandate.
Kewenangan atribusi lazimnya digariskan melalui
pembagian kekuasaan negara oleh Undang-undang
Dasar, kewenangan delegasi dan mandate adalah
kewenangan yang berasal dari pelimpahan23.
a. Atribusi, yaitu pemberian kewenangan oleh pembuat
undang-undang sendiri kepada suatu organ
pemerintahan, baik yang sudah ada maupun yang baru
sama sekali.24 Artinya kewenangan itu bersifat melekat
terhadap organ pemerintahan tersebut yang dituju atas
jabatan dan kewenangan yang diberikan kepada organ
pemerintahan tersebut.
b. Delegasi adalah penyerahan wewenang yang dipunyai
oleh organ pemerintahan kepada organ yang lain.25
Dalam delegasi mengandung suatu penyerahan, yaitu
apa yang semula kewenangan orang pertama, untuk
selanjutnya menjadi kewenangan orang kedua.
Kewenangan yang telah diberikan oleh pemberi
delegasi selanjutnya menjadi tanggung jawab penerima
wewenang.
c. Mandat diartikan suatu pelimpahan wewenang kepada
bawahan. Pelimpahan itu bermaksud memberi
wewenang
kepada bawahan untuk membuat keputusan a/n (atas

23 Philipus m. Hadjon, Wewenang, Makalah, Universitas Airlangga,


Surabaya, h. 112
24 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara...,h. 104.
25 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara...,h. 105.
22

nama)
pejabat Tata Usaha Negara yang memberi mandat.26
Pada kewenangan delegasi, harus ditegaskan suatu
pelimpahan wewenang kepada organ pemerintahan yang
lain. Pada mandat tidak terjadi pelimpahan apapun dalam
arti pemberian wewenang, akan tetapi, yang diberi
mandat bertindak atas nama pemberi mandat. Dalam
pemberian mandat, pejabat yang diberi mandat menunjuk
pejabat lain untuk bertindak atas nama mandator (pemberi
mandat).
J.G. Brouwer berpendapat bahwa atribusi
merupakan kewenangan yang diberikan kepada suatu
organ (institusi) pemerintahan atau lembaga negara oleh
suatu badan legislatif yang independen. Kewenangan ini
adalah asli, yang tidak diambil dari kewenangan yang ada
sebelumnya. Badan legislatif menciptakan kewenangan
mandiri dan bukan perluasan kewenangan sebelumnya
dan memberikan kepada organ yang berkompeten.
Delegasi adalah kewenangan yang dialihkan dari
kewenangan atribusi dari suatu organ (institusi)
pemerintahan kepada organ lainnya sehingga delegator
(organ yang telah memberi kewenangan) dapat menguji
kewenangan tersebut atas namanya, sedangkan pada
Mandat, tidak terdapat suatu pemindahan kewenangan
tetapi pemberi mandat (mandator) memberikan
kewenangan kepada organ lain (mandataris) untuk
membuat keputusan atau mengambil suatu tindakan atas
namanya.
Ada perbedaan mendasar antara kewenangan
atribusi dan delegasi. Pada atribusi, kewenangan yang ada
siap dilimpahkan, tetapi tidak demikian pada delegasi.

26 Philipus [Link], “Tentang Wewenang”, Jurnal Pro Justisia ,


Yuridika , No .5 dan 6 tahun XII, ( September – Desember, 1997), h. 5.
23

Berkaitan dengan asas legalitas, kewenangan tidak dapat


didelegasikan secara besar-besaran, tetapi hanya mungkin
dibawah kondisi bahwa peraturan hukum menentukan
menganai kemungkinan delegasi tersebut.
Delegasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
a. delegasi harus definitif, artinya delegasn tidak dapat
lagi menggunakan sendiri wewenang yang
didelegasikan itu.
b. delegasi harus berdasarkan ketentuan perundang-
undangan, artinya
delegasi hanya dimungkinkan jika ada ketentuan yang
memungkinkan untuk itu dalam peraturan perundang-
undangan;
c. delegasi tidak kepada bawahan, artinya dalam hierarki
kepagawaian tidak diperkenankan adanya delegasi;
wenang yang telah dilimpahkan itu.27
3. Teori Desentralisasi
a. Pengertian Desentraslisasi
Desentralisasi merupakan suatu istilah yang
secara etimologis merupakan bahasa Latin yang terdiri
dari kata de berarti lepas, dan centrum berarti pusat,
sehingga bila diartikan, desentralisasi berarti
melepaskan diri dari pusat28. Desentralisasi berarti
adanya kekuasaan bertindak merdeka (vrije beweging)
yang diberikan kepada satuan-satuan kenegaraan yang
memerintah sendiri daerahnya itu, yaitu kekuasaan
yang berdasarkan inisiatif sendiri yang disebut

27 Philipus [Link], “Tentang Wewenang”, Jurnal Pro Justisia ,


Yuridika , No .5 dan 6 tahun XII, ( September – Desember, 1997), h. 5.
28Koesoemahatmadja, Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan
Daerah di Indonesia, (Bandung: Bina Cipta,1979), h. 14.
24

otonomi, yang oleh Van Vollenhoven dinamakan


eigenmeesterschap29.
Menurut pandangan Joeniarto, desentralisasi
dimaksudkan untuk memberikan wewenang dari
pemerintah negara (pusat) kepada pemerintah local
untuk mengatur dan mengurus urusan tertentu sebagai
urusan rumah tangganya sendiri. Lain halnya dengan
Irawan Sujito14, menyebutkan bahwa desentralisasi
adalah pelimpahan kewenangan Pemerintah kepada
pihak lain untuk dilaksanakan. Sedangkan Amrah
Muslimin mengatakan bahwa desentralisasi
merupakan pelimpahan kewenangan-kewenangan
oleh pemerintah pusat pada badan-badan otonom
(swatantra) yang berada di daerah-daerah30.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004, desentralisasi adalah penyerahan wewenang
pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus pemerintahan dalam
sistem negara Kesatuan Republik Indonesia31.
C. Fiqh Siyasah

Secara etimologi (bahasa) fiqh adalah pemahaman.


Sedangkan fiqh secara terminologi (istilah) adalah
pengetahuan tentang hukum syar'i mengenai amal perbuatan
(praktis) yang diperoleh dari dalil tafshili (terinci), yakni

29E. Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, (Jakarta:


Ichtiar,1966), h. 47.
30Reynold Simandjuntak . “de Jure, Jurnal Syariah dan Hukum”.
Sistem Desentralisasi Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Perspektif
Yuridis Konstitusional. Universitas Negeri Menado, Volume 7 Nomor 1, Juni 2015,
hlm. 57-67
[Link]://[Link]/read/2022/02/04/02000091/
perbedaan-desentralisasi-dan-dekonsentrasi. Online. Diakses tangaal 17 januari
2023
25

hukum-hukum khusus yang diambil dari al-Qur'an dan as-


Sunnah. Jadi fiqh adalah pengetahuan mengenai hukum islam
yang bersumber dari al-Qur'an dan asSunnah yang disusun
oleh mujtahid melalui jalan penalaran dan ijtihad.
Kata siyasah berasal dari kata sasa. Kata ini dalam
kamus Lisan al-Arab berarti mengatur, mengurus dan
memerintah. Jadi siyasah menurut bahasa mengandung
beberapa arti, yaitu mengatur, mengurus, memerintah,
memimpin, membuat kebijaksanan, pemerintahan dan
politik. Secara terminologis dalam kitab Lisan al-Arab, yang
dimaksud dengan kata siyasah adalah mengatur atau
memimpin sesuatu dengan cara yang membawa kepada
kemaslahatan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fiqh
siyasah ialah ilmu yang mempelajari hal-ihwal urusan umat
dan negara dengan segala bentuk hukum, pengaturan, dan
kebijaksanaan yang dibuat oleh pemegang kekuasan yang
sejalan dengan dasar-dasar ajaran syariat untuk mewujudkan
kemaslahatan umat.
Secara sederhana fiqh siyasah diartikan sebagai
ketentuan kebijaksanaan pengurusan masalah kenegaraan
yang berdasarkan syari’at. Abdul Wahhab Khalaf
mengemukakan sebagaimana dikutip dalam buku
Muhammad Iqbal, siyasah syar’iyyah adalaah pengelolaan
masalah-masalah umum bagi pemerintahan Islam yang
menjamin terciptanya kemaslahatan dan terhindarnya
kemudharatan dari masyarakat Islam, dengan tidak
bertentangan dengan ketentuan syariat Islam dan prinsip-
prinsip umumnya, meskipun tidak sejalan dengan pendapat
ulama mujtahid.32

32 Muhammad Iqbal, Fiqih Siyasah Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam,


(Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 5.
26

Menurut Ahmad Fathi, siyasah syar’iyyah adalah


Pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan
ketentuan syara. Sedangkan Menurut Ibnu' Aqil, mengutip
pendapat Ibnu al-Qoyyim, bahwa fiqh siyasah adalah
Perbuatan yang membawa manusia lebih dekat pada
kemaslahatan (kesejahteraan) dan lebih jauh menghindari
mafsadah (keburukan kemerosotan), meskipun Rasul tidak
menetapkannya dan wahyu tidak membimbingnya.33
Dari definisi siyasah yang dikemukakan Ibnu' Aqil di
atas mengandung beberapa pengertian. Pertama, bahwa
tindakan atau kebijakan siyasah itu untuk kepentingan orang
banyak. Ini menunjukan bahwa siyasah itu dilakukan dalam
konteks masyarakat dan pembuat kebijakannya pastilah
orang yang punya otoritas dalam mengarahkan publik.
Kedua, kebijakan yang diambil dan diikuti oleh publik itu
bersifat alternatif dari beberapa pilihan yang
pertimbangannya adalah mencari yang lebih dekat kepada
kemaslahatan bersama dan mencegah adanya keburukan. Hal
seperti itu memang salah satu sifat khas dari siyasah yang
penuh cabang dan pilihan. Ketiga, siyasah itu dalam wilayah
ijtihadi, Yaitu dalam urusan-urusan publik yang tidak ada
dalil qath'i dari al-Qur'an dan Sunnah melainkan dalam
wilayah kewenangan imam kaum muslimin. Sebagai wilayah
ijtihadi maka dalam siyasah yang sering digunakan adalah
pendekatan qiyas dan maslahat mursalah. Oleh sebab itu,
dasar utama dari adanya siyasah Syar’iyyah adalah
keyakinan bahwa syariat Islam diturunkan untuk
kemaslahatan umat manusia di dunia dan akhirat dengan
menegakkan hukum yang seadil-adilnya meskipun cara yang

33 Syarial Dedi, dkk, Fiqh Siyasah, (LP2 IAIN Curup: Curup Rejang
Lebong, 2019), h, 9.
27

ditempuhnya tidak terdapat dalam alQur'an dan Sunnah


secara eksplisit.34
Menurut Ibnu 'Abidin yang dikutip oleh Ahmad Fathi
adalah Kesejahteraan manusia dengan cara menunjukkan
jalan yang benar (selamat) baik di dalam urusan dunia
maupun akhirat. Dasar-dasar siyasah berasal dari
Muhammad saw, baik tampil secara khusus maupun secara
umum, datang secara lahir maupun batin.35
Fiqh siyasah adalah suatu ilmu yang otonom sekalipun
bagian dari ilmu fikih. Bahasan ilmu fikih mencakup
individu, masyarakat, dan negara; meliputi bidang-bidang
ibadah, muamalah, kekeluargaan, perikatan, kekayaan,
warisan, criminal, peradilan, acara pembuktian, kenegaraan
dan hukum-hukum internasional, seperti perang, damai dan
traktat.44 Fikih siyasah mengkhususkan diri pada bidang-
bidang mu`amalah dengan spesialisasi segala hal ikhwal dan
seluk beluk tata pengaturan negara dan pemerintahan.36
Menurut Abdul Wahab Khalaf berpendapat fiqh
siyasah adalah membuat peraturan perundang-undangan
yang dibutuhkan untuk mengurusi Negara sesuai dengan
pokok-pokok ajaran agama. Realisasinya untuk tujuan
kemaslahatan manusia dan untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Abdul Wahhab khaliaf membagi fiqh siyasah dalam 3
bidang kajian saja, yaitu:
1. Qadhaiyyah
2. Siyasah Dauliyyah
3. Siyasah Maliyah Sementara

34 Syarial Dedi, dkk, Fiqh Siyasah..., h, 9.


35 Syarial, Fiqh Siyasah..., h, 9.
36 Agustina Nurhayati, Konsep Kekuasaan Kepala Negara Dalam Fiqh

Siyasah, (Bandar Lampung: Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M IAIN


Lampung, 2014), h.38.
28

Imam Ibn Taimiyyah dalam kitabnya yang berjudul


alsiyasahal-shar‟iyyah, ruang lingkup fiqh siyasah adalah
sebagai berikut:
1. Siyasah Qadhaiyyah
2. Siyasah Idariyyah
3. Siyasah Maliyyah
4. Siyasah Dauliyyah/Siyasah Kharijiyyah.37
Menurut Imam al-Mawardi, seperti yang dituangkan di
dalam karangan fiqh siyasah-nya yaitu al-Ahkam al-
Sulthaniyyah, maka dapat diambil kesimpulan ruang lingkup
fiqh siyasah adalah sebagai berikut:

1. Siyasah Dusturiyyah
2. Siyasah Maliyyah
3. Siyasah Qadla‟iyyah
4. Siyasah Harbiyyah
5. Siyasah 'Idariyyah
Siyasah Dusturiyah yaitu yang berhubungan dengan
undang-undang dasar yang menjelaskan bentuk
pemerintahan, membatasi kekuasaaan penguasa dan
penyelenggara negara lainnya dan meletakan cara yang
ditempuh dalam menerapkannya serta menetapkan hak-hak
perorangan dan lembaga.

Siyasah dusturiyah merupakan bagian fiqh siyasah yang


membahas masalah perundang-undangan negara. Dalam
bagian ini dibahas antara lain konsep-konsep konstitusi
(undang-undang dasar negara dan sejarah lahirnya
perundang-undangan dalam suatu negara), legislasi
(bagaimana cara perumusan undang-undang), lembaga

37 Muhammad Iqbal, Fiqih Siyasah Kontekstualisasi.., h.14


29

demokrasi dan syura yang merupakan pilar penting dalam


perundang-undangan tersebut.38

Al-Qur'an merupakan pedoman utama umat Islam


dalam segala urusannya. Al-Qur'an tidak hanya sebagai
penunjuk jalan bagi seorang muslim guna merengkuh
kebahagiaan di dunia dan akhirat, namun juga sebagai obat
yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit Di
dalamnya terkandung banyak hukum yang sengaja didesain
oleh Tuhan demi kemaslahatan umatnya. Mulai dari akhlak,
hukum, sosial budaya, tatanegara hingga masalah politik.
Secara implisit di dalam alQur'an memang tidak terdapat kata
politik, namun hal-hal yang terkait dengannya terdapat banyak
ayat yang mengupasnya, terutama yang terkait dengan
Khilafah, Imamah, Wilayah dan lain sebagainya. Hal itu tak
lain dimaksudkan demi terciptanya keadilan dan tegaknya
undang-undang yang mengarah kepada kemaslahatan sesuai
dengan kehendak Allah swt.39

Di antara sekian ayat yang menyinggung permasalahan


siyasah di antaranya, surah Yunus: 14, yaitu:

          

Artinya: "Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-


pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka,
supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

Dalam ayat ini, Allah SWT. Menjelaskan bahwa manusia


memang dijadikan sebagai seorang kholifah dimuka bumi ini.
Dimana seorang kholifah pasti membutuhkan skill khusus

38Muhammad Iqbal, Fiqih Siyasah Kontekstualisasi.., h. 177


39Wahyu Abdul Jafar, Fiqh Siyasah Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan
Al-Hadist, AL-IMARAH: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam, 18 Vol. 3, No. 1,
2018, h.5.
30

untuk menopang tugas yang di embanya ini. Skill ini lah yang
kemudian kita kenal dengan istilas siyasah. Namun dalam ayat
ini Allah SWT. Belum menjalaskan nilai-nilai terkait siyasah
yang seharusnya diterapkan oleh seorang kholifah. Nilai nilai
ini diterangkan pada Ayat lain, yakni pada surat an-Nisa ayat
59.

            

              

  

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah


dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.

Dalam ayat ini Allah SWT. Menjelaskan kepada kita


semua bahwa seluruh kebijakan yang dibuat oleh manusia
dimuka bumi ini sebagai seorang kholifah harus berorientasi
kepada nilai nilai ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dan
Rosulnya. Jika terdapat suatu aturan yang sesuai dengan
aturan Allah dan Rosulnya maka wajib ditaati dan dipatuhi
namun sebaliknya jika aturan atau kebijakn tersebut tidak
sesuai dengan Allah dan rosulnya maka tidak perlu ditaati dan
dipatuhi. Bahkan dalam ayat ini juga Allah memberikan
ketegasan kepada kaum muslimin jika benar benar mengaku
beriman maka apabila ada perdebatan terhadap persoalan
tertentu maka penyelesainnya harus dikembalikan kepada
Allah dan Rosulnya. Hal ini penting sekali dilakukan, karena
31

setiap kebijakan yang berorientasi pada nilai nilai ketaatan dan


ketakwaan kepada Allah akan menjadikan kebijakan tersebut
membawa kebaikan dan keberkahan kepada masyarakat secara
luas, hal ini sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah
dalam firmanya surat al A’rof ayat 96:

           

      

Artinya: Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri


beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu,
Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Dalam ayat ini Allah SWT. memberikan janji


kemakmuran dan keberkahan bagi penduduk suatu negeri asal
penduduk tersebut beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap kebijakan dan aturan
yang dibuat harus berorientasi pada nilai nilai keimanan dan
ketakwaan, agar janji yang telah diberikan oleh Allah bisa
terealisir. Nilai nilai selanjutnya yang harus ada dalam fiqh
siyasah adalah nilai amanah dan keadilan. Setiap kebijakan
atau aturan yang dibuat harus bernafaskan dengan nilai nilai
keadilan dan dilaksanakan dengan penuh amanah. Hal ini
sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat an-Nisa ayat 58:

             

              

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu


menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
32

menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu


menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha
melihat.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan kepada kita bahwa


fiqh siyasah yang harus diterapkan oleh seorang kholifah Allah
dimuka bumi ini adalah sistem siyasah yang dibangun dengan
nilai nilai amanah dan keadilan. Seorang pemimpin atau
kholifah harus menjadikan nilai amanah dan keadilan dalam
setiap kebijakan yang dibuat oleh nya. Setiap tugas yang
dibebankan kepadanya harus diselesaikan dengan penuh rasa
tangung jawab tanpa membeda bedakan orang atau golongan
tertentu yang berkaitan dengan kebijakan yang ia buat.
Kebijakan yang dibangun tanpa dilandasi dengan keadilan dan
responbility (amanah) akan sia sia tidak akan bisa membawa
kemakmuran dan kesuksesan sebagus apapun kebijakan
tersebut dibuat.40

Berikut ini beberapa hadits yang menyinggung


permasalahan siyasah, antara lain:
“Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad
Al Marwazi berkata, telah mengabarkan kepada kami
'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami
Yunus dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan
kepada kami Salim bin 'Abdullah dari Ibnu 'Umar
radliallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kalian adalah
pemimpin." Al Laits menambahkan; Yunus berkata;
Ruzaiq bin Hukaim menulis surat kepada Ibnu Syihab,
dan pada saat itu aku bersamanya di Wadi Qura
(pinggiran kota), "Apa pendapatmu jika aku
mengumpulkan orang untuk shalat Jum'at?" -Saat itu

40 Wahyu Abdul Jafar, Fiqh Siyasah Dalam Perspektif Al-Qur’an..., h.


23.
33

Ruzaiq bertugas di suatu tempat dimana banyak jama'ah


dari negeri Sudan dan yang lainnya, yaitu di negeri
Ailah- . Maka Ibnu Syihab membalasnya dan aku
mendengar dia memerintahkan (Ruzaiq) untuk
mendirikan shalat Jum'at. Lalu mengabarkan bahwa
Salim telah menceritakan kepadanya, bahwa 'Abdullah
bin 'Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kalian
adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam
adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung
jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah
pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas
keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam
urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai
pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga
tersebut”. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam
urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung
jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." Aku
menduga Ibnu 'Umar menyebutkan: "Dan seorang laki-
laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan
dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian
adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya41."
Dalam hadist ini, Rosulloh menjelaskan kepada kita
bahwa pada hakikatnya setiap insan manusia adalah seorang
pemimpin dalam setiap kapasitasnya masing masing. Nilai
siyasah yang ditekankan oleh Rosulloh SAW. dalam hadis ini
adalah nilai responbility (tangung jawab). Kepemimpinan dalam
bentuk apapun baik dalam sekala yang tinggi maupun dalam
sekala yang rendah akan dimintai pertangung jawabannya.
Sehinga amanah yang dibebankan harus dilakukan dengan
sangat hati hati dan penuh tanggung jawab.

41 Wahyu Abdul Jafar, FIQH SIYASAH DALAM PERSPEKTIF AL-


QUR’AN DAN AL-HADIST, AL-IMARAH:Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam,
Vol.3, No. 1, 2018, h. 18
34

Nilai nilai selanjutnya yang harus ada dalam fiqh siyasah


adalah nilai nilai kejujuran. Seorang pemimpin harus berlaku
jujur dan tidak boleh menipu rakyat atau orang yang
dipimpinya. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim:

َ َ ِِ‫َّللاِ بْيُ ِسٌَا ٍد َه ْْع‬ َّ ‫س ِي قَا َل عَا َد ُعبَ ٍْ ُد‬ َ ‫ب عَيْ ا ْل َح‬ ِ ‫ش َه‬ ْ َ‫وخ َح َّدثٌََا أَبُى ْاْل‬ َ ‫ش ٍْبَاىُ بْيُ فَ ُّز‬ َ ‫" َح َّدثٌََا‬.
‫ىل‬
ِ ‫س‬ ُ ‫س ِو ْْعتُهُ ِهيْ َر‬ ً ُ َ
َ ‫ض ِه الَّ ِذي َهاثَ فٍِ ِه قا َل َه ْْعِِ ٌ َ إًًِِّ ُه َح ِّدث َك َح ِدٌثا‬ ِ ‫سا ٍر ا ْل ُوشًِ ًَّ فًِ َه َز‬ َ ٌَ َ‫بْي‬
َُّ ‫صلَّى‬
‫َّللا‬ َّ
‫َّللا‬
َ ِ َ ُ َ ‫ل‬‫ى‬ ‫س‬ ‫ر‬ ُ‫ْج‬‫ْع‬‫و‬ ‫س‬
َِ ً ِّ ًِ ‫إ‬ ‫ك‬
َ ُ ‫ت‬ ْ
‫ث‬ ‫د‬
َّ ‫ح‬ ‫ا‬‫ه‬ ً
َ َ ََ ِ‫ة‬‫ا‬ٍ ‫ح‬ ً ‫ل‬ َّ‫ى‬َ ‫أ‬ ُ‫ج‬ ‫و‬ ‫ل‬‫ع‬َ ‫ى‬ َ ‫ل‬
ِْ ْ َ َ َ ِ ْ ُ‫ن‬ َّ ‫ل‬‫س‬ ‫و‬ ‫ه‬ ٍَ ‫ل‬‫ع‬َ َّ
‫َّللا‬ ‫ى‬َّ ‫ل‬ ‫ص‬ َّ
َ ِ‫َّللا‬
‫اش لِ َز ِعٍَّتِ ِه إِ ََّّل‬ َ ً َّ
ٌّ ‫ست َْز ِعٍ ِه َّللاُ َر ِعٍَّت ٌَ ُوىثُ ٌَ ْى َم ٌَ ُوىثُ َوهُ َى غ‬ ْ ٌَ ‫سل َن ٌَُِى ُل َها ِهيْ َع ْب ٍد‬ َّ َ ‫َعلَ ٍْ ِه َو‬
َ‫َّللاُ َعلَ ٍْ ِه ا ْل َجٌَّت‬ َّ ‫َح َّز َم‬

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin


Farrukh telah menceritakan kepada kami Abu al-Asyhab
dari al-Hasan dia berkata, "Ubaidullah bin Ziyad
mengunjungi Ma'qil bin Yasar al-Muzani yang sedang
sakit dan menyebabkan kematiannya. Ma'qil lalu
berkata, 'Sungguh, aku ingin menceritakan kepadamu
sebuah hadits yang aku pernah mendengarnya dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sekiranya aku
mengetahui bahwa aku (masih) memiliki kehidupan,
niscaya aku tidak akan menceritakannya. Sesunguhnya
aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: 'Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk
memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu
rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya.

Dalam hadis ini, Rosulloh SAW. menjelaskan kepada


kita bahwa seorang pemimpin harus berlaku jujur dalam
menjalankan setiap kebijakan dan aturan yang telah dibuat.
Perbuatan tidak jujur, menipu dan lain sebagainya akan
dipertangung jawabkan kelak di akhirat, bahkan secara tegas
Rosulloh SAW., mengancam syurga haram bagi seorang
pemimpin yang menipu rakyatnya. Nilai nilai fiqh siyasah
yang selanjutnya adalah keadilan. seorang pemimpin harus
bisa berlaku adil dalam kepemimpinannya. Kebijakan atau
aturan yang dibuat harus bisa mengcover seluruh
35

kepentingan dari rakyat yang dipimpinnya walaupun tetap


mengacu pada secala prioritas mana yang lebih maslahah.
Rosulloh SAW., sendiri memberikan jaminan kepada
pemimpin yang bisa berlaku adil dalam kepemimpinanya, ia
akan mendapatkan naungan langsung dari Allah SWT., pada
hari qiyamat kelak.

Anda mungkin juga menyukai