0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Riko: Anak Penuh Pertanyaan Hidup

Diunggah oleh

indryhanifa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Riko: Anak Penuh Pertanyaan Hidup

Diunggah oleh

indryhanifa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“Kecilku penuh dengan pertanyaan”

“Kenapa? Mengapa harus begini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku”

(Riko)

Gambar. [Link].
Di suatu senja yang kelam, ketika langit memeluk bumi dalam kesunyian yang getir,
seorang anak kecil duduk di tepian sawah, matanya menatap jauh ke hamparan padi yang
bergoyang ditiup angin. Tangannya yang masih mungil menggenggam segumpal tanah, diremas-
remasnya pelan, seolah ia berusaha memahami sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
"Kenapa? Mengapa harus begini?" Pertanyaan itu berdentang dalam benaknya, bergema di ruang
hampa yang tak pernah terjawab. Dunia kecilnya penuh dengan paradoks. Di satu sisi, ada sepiring
nasi yang selalu hadir di meja makan, hangat dan mengenyangkan. Di sisi lain, ada tanah yang
melekat di kakinya, lengket seperti nasib yang tak bisa ia lepas. Tanah itu adalah warisan, beban,
sekaligus pertanyaan. Mengapa hidup harus diukur dari seberapa keras kau mencangkul bumi?
Mengapa langit tak pernah menjawab ketika kau berteriak tentang mimpi-mimpi yang tak bisa
tumbuh di ladang yang gersang?
Anak itu tidak tahu bahwa pertanyaannya adalah benih dari sebuah pemberontakan diam-diam—
sebuah perlawanan terhadap takdir yang dituliskan sebelum ia bisa membaca. Setiap butir tanah
yang ia genggam adalah fragmen dari sebuah kisah yang lebih besar: tentang kelaparan yang tak
hanya menjarah perut, tetapi juga jiwa; tentang kemiskinan yang bukan sekadar angka, melainkan
sebuah sistem yang membelenggu. Di sini, di antara gemerisik padi dan debu yang beterbangan,
filsafat hidup tersaji dalam bentuk yang paling mentah. Seperti kata Camus,

"Di tengah musim dingin, akhirnya aku menemukan bahwa ada musim panas yang tak
terkalahkan dalam diriku."

Tapi di mana musim panas itu ketika kau lahir di tanah yang hanya mengenal hujan dan
kemarau panjang? Di mana kebebasan ketika langit-langit rumahmu terbuat dari atap yang bocor
dan harapan yang rapuh? ini adalah sebuah perjalanan mencari jawaban—atau mungkin, belajar
untuk hidup dengan pertanyaan. Karena terkadang, kebijaksanaan bukanlah tentang menemukan
solusi, melainkan tentang keberanian untuk terus bertanya di tengah dunia yang diam. Dan anak
kecil itu, dengan tanah di tangannya dan api di matanya, baru saja memulai perjalanannya. Ia
bukan pahlawan. Bukan pula korban. Riko Saputra—atau cukup dipanggil Riko—adalah suara
sumbang di tengah paduan orkestra nasib yang sudah ditentukan. Sejak kecil, langkahnya selalu
tertatih di antara dua dunia: antara tanah yang menghidupinya dan langit yang memanggilnya
pergi.
Wajahnya biasa saja, kecuali matanya. Oh, matanya! Dua titik hitam yang menyala-nyala, seperti
bara dalam kegelapan. Di sana tersimpan kegelisahan yang tak pernah padam, pertanyaan-
pertanyaan yang tak pernah terjawab. "Kenapa aku harus lahir di sini? Mengapa hidup harus
seberat ini?" Riko kecil sering duduk di ujung bedeng sawah, kaki tergantung di atas parit keruh,
sementara pikirannya melayang jauh melampaui batas desa.
Ia anak petani biasa, tapi jiwanya adalah perpustakaan yang terbakar—penuh dengan ide-ide liar
yang tak bisa dijinakkan. Di sekolah, gurunya bilang ia terlalu banyak bertanya. Di rumah,
ayahnya hanya menghela napas, "Nak, terima saja. Ini takdir kita." Tapi Riko bukan tipe yang bisa
menerima. Setiap kali tangannya menggenggam tanah, ia merasakan sesuatu yang lebih besar:
sebuah kemarahan, sebuah kerinduan.
Ada sesuatu yang tragis tentang Riko. Ia terlalu cerdas untuk bahagia, terlalu sadar untuk pasrah.
Di usianya yang masih labil, ia sudah memahami bahwa kemiskinan bukan sekadar tidak punya
uang—melainkan sebuah siklus yang menjerat, sebuah narasi yang dipaksakan. Dan ia? Ia adalah
sang pembangkang diam-diam, si anak yang menolak untuk menjadi sekadar angka dalam deretan
statistik kemiskinan.
Tapi siapa sebenarnya Riko Saputra?
Apakah ia anak petani yang memberontak? Ataukah filsuf kecil yang terdampar di dunia yang
salah? Mungkin ia hanya anak lelaki dengan terlalu banyak mimpi dan terlalu sedikit jalan. Satu
hal yang pasti: di balik namanya yang sederhana, tersembunyi sebuah kisah yang akan
membuatmu mempertanyakan segalanya.
Karena terkadang, pemberontakan terbesar tidak dimulai dengan teriakan—melainkan dengan
sebuah pertanyaan yang menggantung di udara, tak terjawab.
Dan Riko? Ia adalah pertanyaan yang berjalan.

"Kecilku penuh dengan pertanyaan..."

Bagian pertama ini adalah pintu masuk ke labirin pemikiran yang gelap namun mempesona.
Sebuah undangan untuk menyelami dunia di mana setiap butir nasi punya cerita, dan setiap
genggam tanah menyimpan rahasia. Bersiaplah, karena kisah ini bukan hanya tentang hidup—
tapi tentang bagaimana tetap manusia di tengah reruntuhan mimpi. Di usia enam tahun, dunia
adalah sebuah teka-teki yang setiap hari diacak ulang. Mata anak itu—masih jernih, belum
terkotori oleh jawaban-jawaban pragmatis—memandang sekelilingnya dengan rasa haus yang
tak terpuaskan. Setiap gerak, setiap bisik, setiap asap yang mengepul dari dapur di pagi buta,
adalah huruf-huruf dalam sebuah bahasa yang belum bisa ia baca, tapi ia tahu, di sanalah
kebenaran tersembunyi.

“Aku masih ingat betul masa-masa itu”


(Riko Saputra)
- - -

Saat aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Saat mana, memakai
seragam pun masih dibantu Mamah dengan segala kesibukannya. Yah, karena orangtuaku dulu
buka warung di pinggir jalan, dan Bapak juga bertani nan berjualan bensin eceran. Jaraknya tak
terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar sepuluh meter. Namun, persiapan untuk berjualan selalu
dimulai sejak dini hari. Mamah harus menyiapkan segala kebutuhan di pagi hari—gorengan
pisang, nasi, lauk pauk, dan lain sebagainya. Aku sering terbangun oleh suara gemerisik di
dapur, melihat Mamah sudah sibuk menanak nasi sejak jam setengah empat pagi, lalu
melanjutkannya dengan menggoreng pisang atau memasak sayur sebelum akhirnya sholat
Subuh.

Di usiaku yang masih sangat belia, semua itu membuatku penasaran. "Kenapa? Mengapa harus
begini?"Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, kadang membuatku gelisah.
Sesekali, aku memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada orangtuaku, tapi seringkali
jawaban mereka hanya sekadar untuk membuatku diam, atau justru memicu lebih banyak tanda
tanya di benakku.

Suatu pagi, aku mengamati Nenek yang sudah bangun bahkan sebelum azan Subuh
berkumandang. Beliau dengan sabar mencuci beras di ember kecil, lalu menyalakan kayu bakar
di pawon yang sudah kusam. Aku mendekat, rasa kantuk masih membelenggu mataku, tapi rasa
penasaranku lebih kuat.

"Nek, masih gelap begini, kenapa nggak nanti saja kalau sudah pagi?" tanyaku dengan suara
lirih, sambil menggosok-gosok mata.

Nenek hanya tersenyum, tangannya tetap sibuk mengaduk beras di dalam Baskom anyaman
bambu. "Nanti rizkinya dipatuk ayam," jawabnya singkat, seperti itu sudah menjadi hukum alam
yang tak bisa diganggu gugat.

Aku mengerutkan kening. "Maksudnya gimana, Nek? Kok bisa dipatuk ayam?"

Nenek tertawa kecil, lalu menatapku dengan mata berbinar. "Kalau kita terlambat, rezeki bisa
diambil orang lain. Ayam saja kalau dapat makanan duluan, pasti langsung dipatuk sampai habis.
Manusia juga begitu, Nak. Kalau malas, rizkinya lari."

Aku terdiam, mencerna penjelasan Nenek yang terdengar seperti perumpamaan, tapi entah
mengapa membuatku semakin penasaran. "Jadi, kalau kita bangun lebih awal, rezekinya lebih
banyak?"

Nenek mengangguk. "Betul. Tapi bukan cuma soal bangun pagi. Harus ikhtiar, harus bersyukur,
dan jangan lupa berdoa."

Pagi itu, aku duduk di samping Nenek, memperhatikan setiap gerakannya yang penuh ketelitian.
Asap kayu bakar mengepul, baunya menusuk hidung tapi juga memberi rasa hangat. Aku mulai
berpikir, mungkin hidup ini memang penuh dengan hal-hal yang harus dikerjakan dengan cepat,
sebelum "ayam" mematuk rezeki kita. Tapi, di balik semua kerja keras itu, ada satu pertanyaan
lagi yang mengusikku: "Kalau orang lain lebih kaya, apakah berarti mereka bangun lebih pagi
dari kita?" Nenek berhenti sejenak, lalu menarik napas. "Tidak selalu begitu, Sayang. Hidup ini
bukan hanya soal siapa yang lebih bangun pagi. Ada yang dapat rezeki banyak, ada yang sedikit.
Tapi yang penting, kita selalu berusaha dan bersabar." Aku mengangguk pelan, meski belum
sepenuhnya paham. Tapi satu hal yang kusadari: dunia ini penuh dengan misteri, dan setiap
jawaban justru membawa pertanyaan baru. Dan di usiaku yang masih sangat kecil itu, aku sudah
belajar satu hal—hidup tidak pernah berhenti membuatku bertanya.

Kebiasaan bangun pagi dan mengamati kesibukan orangtuaku menjadi rutinitas yang tak pernah
bosan kusaksikan. Namun, semakin besar, pertanyaanku pun semakin dalam.

Suatu siang, sepulang dari TK, aku melihat seorang anak lelaki sebayaanku membeli permen di
warung Mamah. Aku memperhatikan betapa dia dengan mudahnya mengeluarkan uang dari
sakunya, sementara aku hanya bisa menelan ludah.

"Mamah, kenapa aku nggak boleh jajan?" tanyaku saat anak itu sudah pergi.

Mamah sedang membersihkan meja, tangannya berhenti sejenak. "Kita kan punya warung, Nak.
Kalau mau makan permen, ambil saja di rak. Tapi jangan banyak-banyak, nanti gigimu rusak."

"Tapi anak tadi pakai uang, Mamah. Aku juga mau punya uang," bantahku.

Mamah memandangku dengan ekspresi yang sulit kubaca. "Uang itu harus dicari, Sayang. Bapak
dan Mamah kerja keras setiap hari supaya kita bisa makan. Kamu masih kecil, nanti kalau sudah
besar, baru bisa cari uang sendiri."

Aku menghela napas. "Tapi kapan aku bisa besar?"

Mamah tersenyum, lalu mengusap kepalaku. "Sabar, Nak. Waktunya pasti tiba."

Malam itu, sebelum tidur, aku memandang langit-langit kamar, berpikir tentang uang, tentang
rezeki, tentang ayam yang mematuk rezeki orang malas, dan tentang bagaimana caranya agar
aku bisa "cepat besar".

Dan sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengisi malamku...

Hari-hari terus bergulir, dan rasa penasaranku tak pernah benar-benar padam. Tapi seiring
dengan itu, sifat nakal yang kusembunyikan pun mulai muncul. Aku bukan anak yang suka
berbuat onar, tapi ada saja ulah iseng yang kulakukan—terutama ketika rasa penasaran dan
keinginanku untuk mencoba sesuatu tak terbendung lagi. Suatu sore sepulang TK, saat warung
sedang sepi, mataku tertuju pada stoples kaca berisi permen warna-warni yang selalu dipajang di
etalase. Mamah melarangku makan terlalu banyak, tapi hari itu, godaan terlalu kuat. Aku
menunggu sampai Mamah pergi ke belakang mengambil stok barang. Dengan hati berdebar,
kuambil sebuah permen biru—warna favoritku—dan kusimpan cepat di saku celana.

"Akh, cuma satu, nggak apa-apa kan?" batinku mencoba membenarkan diri.

Tapi ternyata, Nenek melihat dari balik pintu. "Riko... apa yang kamu sembunyi di saku?"
suaranya datar, tapi matanya tajam.

Aku membeku. "N-ngga, Nek!"


Nenek mendekat, lalu mengulurkan tangannya. "Kalau nggak dikasih, nanti aku bilang ke
Mamah."

Dengan muka memelas, kuberikan permen itu. Nenek tak marah, tapi ekspresinya membuatku
merasa bersalah. "Kamu tahu mencuri itu dosa? Kalau mau permen, minta saja. Jangan
mengambil diam-diam."

Aku mengangguk, malu. "Maaf, Nek..."

Tapi di dalam hati, aku masih penasaran: "Kenapa sih, kalau cuma ambil satu aja dilarang? Kan
kita punya warung sendiri?"

"Kenapa Nggak Boleh Ambil Satu?" –

Aku memendam rasa penasaran itu sampai suatu sore, ketika Mamah sedang sibuk menghitung
uang di warung. Aku memberanikan diri bertanya:

"Mamah, kenapa kemarin aku dimarahin waktu ambil permen satu biji? Kan kita yang punya
warung?"

Mamah berhenti menghitung, lalu menatapku dengan serius. "Kamu pikir itu cuma soal satu
permen?"

Aku mengangguk polos.

"Coba lihat ini," Mamah mengeluarkan buku catatan kecil berisi daftar barang dagangan. "Setiap
permen, setiap bungkus mie, bahkan setiap butir gula yang kita jual, semuanya dicatat. Kalau
kamu ambil sembarangan, nanti hitungannya jadi nggak pas. Uangnya bisa kurang, kita malah
rugi."

"Tapi kan cuma satu, Mamah..."

"Kalau hari ini kamu ambil satu, besok kamu ambil lagi, lusa tambah lagi... Lama-lama warung
kita bisa bangkrut, Nak."

Aku terdiam. Aku tak pernah membayangkan bahwa sebutir permen biru bisa berakibat sebesar
itu. Karena penasaran, diam-diam aku melakukan percobaan. Selama tiga hari, aku mencatat
berapa banyak permen dalam stoples sebelum dan setelah warung buka.

- Hari 1: Permen berkurang 12 biji (karena dijual).

- Hari 2: Berkurang 9 biji.

- Hari 3: Aku mengambil 1 biji diam-diam — ternyata hitungan Mamah benar-benar kurang 1!
Saat Mamah memeriksa, dia mengernyitkan kening. "Kok bisa ya kurang satu? Padahal yang beli
cuma anak tadi..."

Aku merasa bersalah. "Mamah... itu aku yang ambil."

Mamah terkejut, lalu menarik napas. "Nah, kamu sekarang ngerti kan kenapa nggak boleh asal
ambil?"

Aku menunduk. "Iya... Aku nggak akan ulangi lagi."

Karena kejujuranku, Mamah memberiku hukuman sekaligus hadiah:

- Hukuman: Aku harus membantu membersihkan warung seminggu penuh.

- Hadiah: Setiap selesai membantu, aku boleh memilih 1 permen—dengan izin.

"Ini namanya kejujuran dibayar, Nak," kata Mamah sambil menyelipkan permen berbungkus
biru ke tanganku.

Aku tersenyum. "Jadi lebih enak dapatnya kalau nggak sembunyi-sembunyi ya, Mah?"

Mamah mengusap kepalaku. "Betul. Yang halal itu lebih manis."

Malam itu, Nenek mendatangiku saat aku sedang menikmati permen "resmi"-ku.

"Sudah dapat jawaban, Riko?" tanyanya.

Aku menganggum. "Iya, Nek. Ternyata bukan cuma soal permennya... Tapi soal tanggung
jawab."

Nenek tersenyum puas. "Pintar kamu. Nah, sekarang kamu tahu kenapa dulu Nenek bilang
rizkinya bisa dipatuk ayam?"

Aku berpikir sejenak, lalu tersenyak. "Kalau kita nggak jujur, rezeki yang harusnya jadi berkah
malah 'dipatuk' sama keserakahan kita sendiri!"

Nenek tertawa riang. "Tepat sekali! Besok-besok kalau mau sesuatu, ingat: yang halal lebih enak
daripada yang haram."

Tapi... di balik pelajaran itu, ada hal baru yang membuatku berpikir:

"Kalau permen aja harus dicatat, berarti uang itu sangat berharga ya? Kenapa ada orang yang
kayanya punya uang banyak banget, tapi kita harus kerja keras cuma untuk jualan dan sekedar
hidup layak?"

Malam itu, setelah permen biru terakhir meleleh di lidahnya, Riko berbaring di atas tikar
anyaman yang sudah lusu, memandang langit-langit kamar yang retak-retak seperti peta
hidupnya yang belum ia pahami. Ada sesuatu yang mengganjal—bukan hanya rasa manis yang
tersisa di mulutnya, tapi sebuah kesadaran baru yang tumbuh di benaknya: Uang bukan sekadar
kertas. Ia adalah ukuran keringat, waktu, dan hitungan-hitungan rahasia yang menentukan siapa
yang boleh tertawa lepas dan siapa yang harus menahan napas di antara dua tarikan nasi.
Tapi pertanyaannya kini lebih besar dari sekadar permen.
Ia teringat wajah anak lelaki yang dengan mudahnya mengeluarkan uang dari saku. Teringat
betapa berbeda rasanya memakan sesuatu yang "dibeli" dengan sesuatu yang "diambil". Teringat
buku catatan Mamah yang rapih, di mana setiap biji gula punya ceritanya sendiri.
Kalau permen saja harus dicatat, bagaimana dengan nasib?
Di sudut kamarnya, lampu berkedip-kedip, melemparkan bayangan Nenek yang sedang duduk
bersila, sambal menikmati secangkir teh . "Nek," bisik Riko tiba-tiba, "kenapa ada orang yang
uangnya bisa beli sepeda baru, tapi kita harus hitung-hitung permen?"
Nenek berhenti memilin. Matanya yang keriput menyipit, menatap jauh melewati dinding kayu
yang reyot. "Ada dua macam rezeki, Nak," suaranya parau tapi jernih. "Yang jatuh dari langit,
dan yang harus dicari sampai ke akar-akarnya. Kita dapat yang kedua."
Riko mengerutkan kening. "Tapi kenapa tidak boleh dapat yang pertama?"
Asap lampu listrik menari di antara mereka. "Karena tanah kita bukan tanah yang subur untuk
mimpi," jawab Nenek pelan. "Tapi tanah yang kuat untuk bertahan."
Di luar, angin malam berbisik melalui celah-celah bambu, membawa suara Bapak yang baru
pulang dari sawah—batuk kecilnya yang khas, gemeretak ember timba saat ia mencuci kaki.
Riko tiba-tiba memahami sesuatu: bahwa di rumah ini, setiap orang adalah penjaga buku catatan
tak terlihat. Bapak dengan cangkulnya, Mamah dengan warungnya, Nenek dengan kayu
bakarnya—semua adalah tinta yang menulis angka-angka tak terucap.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa namanya tercatat di sana.
Tapi satu pertanyaan masih menggantung: Kalau kejujuran bisa membayar permen, apa yang
harus dibayar untuk mengubah nasib?
Esok pagi, ketika fajar belum lagi menguapkan embun di daun pisang, Riko sudah berdiri di
depan warung, matanya menatap stoples permen yang sekarang ia lihat dengan cara baru. Bukan
sebagai harta yang harus dicuri, tapi sebagai pelajaran yang belum selesai.
Di balik etalase kaca yang berdebu itu, ada dunia yang lebih besar menunggu—dunia di mana
sepiring nasi dan segenggam tanah bukan akhir cerita, tapi awal dari sebuah pertanyaan yang
mungkin tak akan pernah berhenti berputar di kepalanya.
Dan Riko kecil, dengan saku celana yang kini kosong tapi pikiran yang mulai penuh, siap
mencatat setiap biji jawaban yang ia temukan. Aku menyimpan pertanyaan itu untuk nanti.
Karena aku tahu, semakin besar nanti, jawabannya akan kudapatkan—sambil terus membuat
petualangan baru tiada lain tiada bukan yaitu Kabur dari Ngaji.
Sejak TK, aku sudah diwajibkan mengikuti ngaji sore di mushola dekat rumah. Tapi suatu hari,
aku benar-benar bosan. Teman-temanku di luar sedang asyik bermain Bola, sementara aku harus
duduk lesehan membaca huruf hijaiyah.

"Aku mau main, nggak mau ngaji!" gerutuku dalam hati.


Jadi, saat ustaz sedang mengetes bacaan anak-anak , aku pura-pura minta izin ke kamar kecil
(WC)—lalu malah kabur lewat pintu samping!

Aku berlari bergabung dengan teman-teman, merasa seperti pahlawan yang berhasil melarikan
diri dari penjara. Tapi betapa kagetnya ketika, sepulang main, Mamah sudah berdiri di depan
rumah dengan wajah super galak.

"KEMANA AJA KAMU?! TEMEN NGAJIMU BILANG KAMU KABUR!"

Aku langsung ketakutan. "Aku... aku cuma mau main Bola sebentar..."

Mamah menarik telingaku. "Ngaji itu penting! Kalau nggak bisa baca Al-Qur'an, nanti di akhirat
kamu dihukum!"

Aku merengek. "Tapi aku nggak ngerti, Mamah! Ngajinya susah!"

Mamah menghela napas. "Ya memang harus belajar dulu. Nggak ada yang instan!"

Malam itu, aku dihukum tidak boleh menonton TV. Tapi yang bikin penasaran adalah: "Kenapa
orang dewasa selalu bilang sesuatu itu 'penting' padahal kita nggak ngerti kenapa?"

Kenakalan-kenakalanku mungkin kecil, tapi selalu berakhir dengan pelajaran. Kadang


aku berpikir, mungkin orang dewasa dulu juga pernah nakal seperti aku, tapi mereka lupa
bagaimana rasanya punya segudang pertanyaan di kepala.

Ada semacam ironi yang pahit dalam ingatan itu—seorang anak kecil berlari melewati pintu
samping surau, jantung berdebar bukan karena takut pada Tuhan, tapi karena gembira telah
mencuri waktu dari-Nya.
Aku masih merasakan debu yang mengepul di antara jari kakiku saat itu,
ketika langit sore berwarna jingga memihak pada anak-anak yang bebas, sementara huruf-huruf
hijaiyah di buku Iqro'ku terasa seperti jeruji besi. Di mushola itu, waktu berjalan dengan cara
yang aneh: lima menit terasa seperti satu jam, sementara satu jam bermain bola terasa seperti
lima menit. Kenapa? Mengapa yang menyenangkan selalu berlalu lebih cepat?
Ketika Mamah menarik telingaku, bukan sakit fisik yang paling menggangguku. Tapi kalimat
itu: "Nanti di akhirat kamu dihukum!"
Aku, yang bahkan belum paham apa itu "minggu depan", bagaimana mungkin bisa
membayangkan kekekalan? Bagi anak enam tahun, ancaman akhirat sama abstraknya dengan
aljabar. Yang kumengerti hanyalah bahwa hari ini, saat ini, ada tawa teman-teman yang
terlewatkan. Ada gol yang tidak tercetak. Ada kebebasan yang dirampas atas nama sesuatu yang
belum kupahami.
Malam itu, sambil menatap kosong ke televisi yang dimatikan, aku merenungkan sesuatu yang
lebih dalam dari sekadar hukuman: Kenapa semua yang "baik" itu harus terasa seperti obat
pahit? Kenapa mengaji harus lesehan di lantai yang membuat pantat pegal? Kenapa tidak boleh
ada cara yang lebih menyenangkan untuk mencintai Tuhan?
Nenekku sering berkata bahwa hidup ini ujian. Tapi di usia enam tahun, yang kurasakan justru
bahwa hidup ini adalah serangkaian "harus" dan "jangan" yang disampaikan dengan suara keras,
bukan dengan penjelasan.
Aku ingat betul wajah Ustaz saat mengajar—wajah yang sama letihnya dengan para petani
sepulang dari sawah. Apakah beliau juga dulu kabur dari mengaji? Apakah Mamah pernah
membolos dari belajar Al-Qur'an? Ataukah mereka semua telah melupakan betapa beratnya
menjadi anak kecil yang dipaksa memahami beratnya dosa sebelum memahami manisnya iman?
Di balik setiap kenakalanku, selalu ada pertanyaan yang tak terjawab. Ketika aku mencuri
permen, yang kucari bukanlah gula, tapi jawaban mengapa harus ada larangan. Ketika aku kabur
dari mengaji, yang kukejar bukan sekadar bola, tapi sedikit kendali atas waktuku sendiri.
Dan mungkin inilah salah satu tragedi terbesar masa kecil saya: orang dewasa mengajari kita apa
yang harus dilakukan, tapi jarang menjelaskan mengapa—seolah-olah kepatuhan buta adalah
bentuk kesalehan yang lebih tinggi daripada pemahaman.

Apakah nanti ketika aku duduk di sebuah kota besar dengan Al-Qur'an digital di gawai, aku baru
mengerti: yang sebenarnya kurindukan saat kabur dari mushola bukanlah kebebasan dari agama,
tapi kebebasan untuk menemukan-Nya dengan caraku sendiri.
Tapi sayang, seperti nasi yang sudah dingin, penyesalan selalu datang terlambat. Hingga suatu
malam, saat aku berbaring di kasur, Nenek datang dan duduk di sampingku.

"Riko, kamu anak yang pintar," katanya lembut. "Tapi kadang, kamu harus belajar
mendengarkan dulu sebelum bertindak. Nanti kalau sudah besar, kamu akan mengerti semua
jawabannya."

Aku memandangnya. "Nek, dulu waktu kecil, Nenek juga suka iseng nggak sih?" Nenek tertawa.
"Wah, kalau diceritakan, nggak akan habis sampai pagi!" matanya berbinar, seolah kembali ke
masa lalu—masa di mana tanah kelahirannya masih dijajah Belanda, dan masa kecilnya diwarnai
oleh keberanian, kelucuan, dan sedikit kenakalan yang tak terlupakan.
Nenekku lahir di sebuah desa kecil di Jawa Barat, di tengah sawah yang menghijau dan. Saat itu,
tahun 1930-an, Belanda masih berkuasa. "Kami hidup sederhana," katanya. "Tapi justru karena
itu, kami belajar bahagia dengan hal-hal kecil."
Ayah Nenek, Mbah Kakung, adalah seorang petani sekaligus pengrajin anyaman bambu.
Sedangkan Mbah Putri, ibunya, hanya dirumah mengurus anak-anak nya"Setiap pagi, aku dan
adik-adikku dibangunkan oleh suara lesung—tumbuk padi yang dipakai ibu-ibu desa," kenang
Nenek. "Kadang kami ikut menumbuk, tapi lebih sering malah mencuri jatah gabah buat main
kelereng!". Meski hidup di bawah tekanan penjajah, anak-anak desa tetap menemukan cara
untuk bersenang-senang. "Kami nggak boleh sekolah seperti sekarang," ujar Nenek. "Tapi kami
punya seribu satu cara untuk belajar sambil main."
Salah satu kenakalan favorit Nenek adalah mencuri tebu dari kebun Belanda. "Kebun tebu itu
dijaga ketat sama mandor Belanda. Tapi kami sudah hapal jam-jam dia lengah," ceritanya sambil
tersenyum licik. "Aku dan teman-teman merayap lewat parit, mematahkan tebu, lalu kabur
sebelum si mandor sadar. Kalau ketahuan? Lari sekencang-kencangnya sampai ke kuburan
belakang desa—di situ mereka nggak berani kejar!"
Tapi bukan berarti selalu berhasil. Suatu hari, Nenek hampir tertangkap. "Aku terjebak di tengah
kebun karena adikku nangis minta gendong. Tiba-tiba si mandor datang! Untung ada Mbah
Dullah, kakek tua yang pura-pura marahin kami sambil bilang ke mandor itu, 'Ini cucuku nakal,
Pak! Akan saya hukum!' Padahal, dia malah menyelamatkan kami."
Meski tak bisa sekolah formal, Nenek dan anak-anak desa lain belajar secara diam-diam. "Guru
ngaji kami, Kyai Hasan, juga mengajari kami menulis pakai arang di daun pisang kering,"
kenangnya. "Katanya, 'Ilmu itu senjata. Suatu hari, kalian akan membutuhkannya.'"
Suatu malam, Belanda melakukan razia mendadak. "Mereka mencari orang-orang yang dicurigai
ikut pergerakan. Rumah Kyai Hasan digeledah karena ada yang melaporkan dia mengumpulkan
anak-anak. Kami semua disembunyikan di kolong rumah, nggak boleh bersuara sedikit pun."
Nenek menghela napas. "Saat itulah aku sadar, kami memang dijajah, tapi semangat kami nggak
pernah bisa mereka jajah." Nenepun minum air lantas melanjutkan ceritanya "Kalau kamu lihat
sekarang, tebu itu manis, tapi waktu itu pahitnya lebih terasa daripada gulanya," canda Nenek
getir. Pabrik gula itu menguasai tanah-tanah subur, sementara rakyat hanya jadi kuli kontrak
dengan upah tak seberapa. "Bapak Nenek pernah bilang, ‘Kita kerja untuk membuat tuan
Belanda kaya, tapi anak-anak kita tetap makan gaplek.’"

Ketika Jepang mengambil alih Indonesia di tahun 1942, kehidupan berubah drastis. "Dulu kami
pikir Jepang akan membebaskan kita dari Belanda, ternyata lebih kejam," Nenek menggeleng.
Sistem romusha (kerja paksa) diterapkan. Pemerintah Jepang memaksa pemuda desa—termasuk
kakak laki-laki Nenek—untuk membangun jalan dan benteng pertahanan. "Kakakku pernah
dipaksa memikul batu besar dari lereng gunung sampai kakinya berdarah. Kalau lambat, dia
dipukul dengan bambu."
Kelaparan merajalela karena hasil panen dirampas Jepang untuk logistik perang. "Kami makan
gaplek (singkong busuk) atau nasi aking (nasi sisa yang dikeringkan). Daging? Hanya mimpi,"
kenangnya. Nenek dan anak-anak lain sering menyelinap ke kebun untuk mengambil ubi atau
pisang yang tersisa, meski risiko jika ketahuan adalah cambukan.
Tapi anak-anak tetap anak-anak. Di balik ketakutan, mereka menemukan cara untuk bertahan
dan tetap tertawa.
"Aku dan teman-teman suka curi-curi waktu saat kerja bakti paksa. Kami pura-puat
membersihkan sungai, tapi sebenarnya main gundu di balik semak," Nenek tersenyum nakal.
Suatu hari, mereka pernah mencuri ikan asin dari gudang logistik Jepang. "Kami bagi-bagi di
belakang rumah. Rasanya seperti dapat harta karun! Tapi sempat ketakutan setengah mati ketika
tentara Jepang patroli."
Ketika 17 Agustus 1945, kabar kemerdekaan sampai ke desa mereka. "Orang-orang berteriak
‘Merdeka!’ di jalan. Aku nggak terlalu paham artinya, tapi lihat ayahku menangis, aku tahu ini
sesuatu yang besar."
Namun, perjuangan belum usai. Belanda mencoba kembali dengan agresi militernya. "Kami
harus bersembunyi di hutan saat Belanda menyerbu. Tapi sekarang, kami punya semangat
baru—kita nggak mau dijajah lagi."
Nenek mengusap kepalaku pelan. "Zaman sekarang, ‘iseng’ kalian paling kabur dari kelas.
Zaman dulu, ‘iseng’ kami berarti melawan penjajah dengan cara kecil-kecilan. Tapi satu hal
yang sama: selama masih bisa tertawa, berarti masih ada harapan."
Aku terdiam. Cerita Nenek bukan sekadar kenangan, tapi potret sejarah nyata yang harus diingat.
"Jadi, masih mau dengar cerita Nenek yang lain?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk antusias. Malam ini, aku memilih untuk menjadi pendengar yang baik—
karena di balik tawa Nenek, tersimpan ribuan kisah yang membuatku mengerti: kemerdekaan
bukanlah hadiah, tapi hasil perjuangan yang harus dijaga. Nenek mengisyaratkan agar aku
mendekat, lalu berbisik dengan nada setengah bercanda setengah serius, "Dulu, selain kerja peras
keringat melawan penjajah, orangtuaku juga mewariskan sesuatu yang lebih halus... ilmu
jenjewokan."
Aku mengernyit. "Jenjewokan?Apa itu nek?

“jampi-jampi, Nak" nene memenjawab dengan lirih.

“wahh..jampi-jampi ,Nek? Cakapku penuh penasaran


Nenek mengangguk, matanya berbinar seperti menyimpan seribu rahasia. "Betul. Ini bukan ilmu
sembarangan. Bukan untuk jahat, tapi untuk menolong. Dulu, saat obat-obatan langka, orang-
orang datang ke rumah kami minta tolong—dari sakit perut sampai patah hati."
Jadi asal muasalnya ilmu ini diwariskan turun-temurun dari leluhur Nenek yang merupakan
pandita (orang bijak) di kampungnya. "Ayahku belajar dari kakekmu, dan aku diajari sedikit-
sedikit. Tapi zaman Jepang, ilmu seperti ini sering dilarang. Mereka bilang itu tahayul," ujar
Nenek sambil tertawa kecil.
"Tapi kami tetap mengamalkannya diam-diam. Jepang bisa rampas beras kami, tapi tidak bisa
rampas pengetahuan leluhur."
Suatu malam, Nenek bercerita tentang seorang pejuang kemerdekaan yang terluka parah di kaki
akibat tembakan Belanda. "Dia dibawa ke rumah kami, darahnya mengucur deras. Obat tidak
ada, dokter jauh. Ibuku mengambil kunyit, daun sirih, dan sedikit madu hutan, lalu membaca
mantra singkat sebelum membalutnya."
Aku terkesima. "Lalu sembuh, Nek?"
"Tidak langsung. Tapi lukanya tidak membusuk, dan tiga hari kemudian dia sudah bisa berjalan
pelan-pelan. Tentara itu bilang, ‘Ini lebih manjur daripada obat Belanda!’"
Nenek juga punya "jampi pengasihan" ala kadarnya—bukan untuk memikat orang, tapi agar
rezeki lancer. Katanya sambil terkekeh.
Tapi ilmu ini punya aturan ketat:
Tidak boleh digunakan untuk kejahatan.
Tidak boleh sombong.
Harus ikhlas membantu.
"Kalau dilanggar, ilmunya bisa berbalik ke kita," Nenek memperingatkan dengan serius.
Nenek juga pernah diminta mengobati anak yang [Link] "Aku cuma baca Bismillah dan
kasih air yang sudah didoakan. Tapi yang paling penting, kita harus berani hadapi dengan hati
bersih. Roh jahat takut pada ketulusan."
Aku merinding. "Nenek nggak takut?"
"Takut, dong! Tapi kalau sudah demi menolong, kita harus berani."
Kini, ilmu jenjewokan sudah jarang dipraktikkan. "Zaman sekarang, orang lebih percaya dokter.
Itu bagus! Tapi jangan lupa, nenek moyang kita juga punya cara sendiri yang bisa dipadukan
dengan ilmu modern."
Nenek mengeluarkan sebuah buku kecil berisi catatan mantra dan ramuan turun-temurun. "Suatu
hari, mungkin akan aku wariskan ke kamu. Tapi janji dulu: harus digunakan dengan bijak."
Aku mengangguk khidmat. Di balik senyum Nenek, tersimpan kearifan yang tak ternilai—
sebuah warisan bukan hanya berupa kata-kata, tapi juga keyakinan bahwa setiap ilmu, jika
diniatkan baik, akan membawa berkah.
"Nek, besok ajarin aku jampi biar nggak dimarahin Bu Guru, dong!"
Nenek menepuk pundakku sambil tertawa. "Dasar cucuku! Itu mah bukan pake jampi, tapi pake
belajar rajin!"
Dan di tengah tawa kami, aku sadar: ilmu tertinggi yang Nenek wariskan bukanlah mantra, tapi
kebijaksanaan hidup yang tak ternilai. Aku tersenyum. Mungkin, menjadi nakal itu bagian dari
tumbuh besar. Tapi yang jelas, di balik setiap kenakalan dan pertanyaanku, ada satu hal yang
pasti: Aku masih punya banyak cerita untuk dijalani.

Anda mungkin juga menyukai