Analisis Teknikal untuk Trader Saham
Analisis Teknikal untuk Trader Saham
Selamat! Kamu akan segera memulai petualanganmu menjadi trader handal. Di modul ini kamu
akan mengenali cara menganalisis pergerakan saham sebagai dasar keputusan investasi. Modul
kali ini berupaya untuk menyiapkan kamu untuk langsung tahu faktor-faktor penting yang perlu
diperhatikan ketika menjadi trader, dari menganalisis harga saham, mengenal chart pattern serta
bagaimana menjaga resiko dari setiap transaksi yang kamu lakukan.
Gimana caranya trader bisa memprediksi harga saham hanya dengan melihat riwayat pergerakan
harganya? Cari tahu jawabannya di chapter ini, yuk!
Technical Analysis atau analisis teknikal adalah analisis yang mempelajari data pasar, termasuk
pergerakan harga saham dan volume perdagangan saham tersebut. Kalau orang yang
menggunakan analisis fundamental disebut investor, orang yang menggunakan analisis teknikal
biasanya disebut sebagai trader.
Trader menggunakan analisis teknikal untuk mempelajari performa pergerakan saham masa lalu
dan digunakan untuk memprediksi pergerakan harga di masa depan. Berbeda dari investor yang
cenderung berinvestasi jangka panjang selama bertahun-tahun, umumnya trader berinvestasi
dengan jangka waktu yang lebih pendek, seperti bulanan, mingguan, atau bahkan harian.
Terdapat beberapa alasan mengapa trader dapat memprediksi harga saham di masa depan hanya
dengan memperhatikan pergerakan historisnya. Salah satunya karena prinsip dasar analisis
teknikal. Berikut adalah beberapa prinsipnya:
Mayoritas trader percaya bahwa pola pergerakan harga saham akan mengulang pola yang sama
yang telah terjadi sebelumnya.
Asumsi ini terbentuk karena psikologi pasar yang cenderung dapat diprediksi, karena
mayoritas trader merespons hal yang sama terhadap pergerakan harga emiten.
Sebagai contoh, ketika pasar sedang dalam kondisi naik atau uptrend, trader cenderung menjadi
percaya diri dalam membeli saham walaupun harganya sudah sangat tinggi. Ini menyebabkan
harganya semakin tinggi lagi. Sebaliknya, ketika market sedang mengalami penurunan tren
atau downtrend, trader berlomba-lomba menjual saham mereka untuk meminimalisasi
kerugiannya walaupun harganya sudah relatif rendah. Reaksi yang berulang ini mendukung pola
harga masa lampau akan terulang kembali di masa depan.
Trader memiliki kecenderungan untuk melakukan aksi yang sama dalam melakukan trading,
sehingga membuat harga saham membentuk pola atau pattern yang serupa. Trader percaya
bahwa ketika pattern tertentu terbentuk, maka pergerakan harga ke depan akan
mengikuti pattern yang sebelumnya.
Analisis teknikal adalah salah satu teknik investasi saham yang cukup populer. Tidak sedikit orang
yang sukses berinvestasi dengan menerapkan teknik ini. Salah satu tokoh yang terkenal
mengaplikasikan analisis teknikal dalam perjalanan investasinya adalah Jesse Livermore.
Jesse dikenal sebagai salah satu pelopor trading harian dan termasuk dalam trader tersukses
sepanjang masa dengan julukan The Great Bear of Wall Street. Julukan ini diberikan kepada Jesse
setelah ia menghasilkan keuntungan 3 juta dolar AS saat market crash di AS pada 1907. Bahkan,
pada era Great Depression tahun 1928, Jesse kembali meraup keuntungan di dunia pasar modal
hingga 100 juta dolar AS.
Ada 3 jenis chart harga yang berguna buat analisis teknikal. Apa saja?
Cara Membaca OHLC pada Saham
Setiap hari, harga suatu saham cenderung mengalami kenaikan dan penurunan sejak market
buka hingga tutup. Harga bisa naik ketika market buka, dan turun ke harga yang lebih rendah
dibanding harga pembukaan saat market tutup. Begitu pun sebaliknya, harga bisa mengalami
penurunan saat market buka, lalu merangkak naik ke harga yang lebih tinggi dari harga
pembukaan.
Ada empat poin penting yang perlu kita perhatikan dalam mengamati pergerakan harian ini, yaitu
Open, High, Low dan Close (OHLC):
Harga OHLC bisa berbeda, bisa juga sama. Maksudnya, harga Open bisa sama juga dengan harga
Close. Harga Close bisa sama dengan harga High maupun Low.
Setelah mengetahui tentang OHLC, sekarang saatnya kita mempelajari cara mengidentifikasi
pergerakan harga dalam bentuk chart. Kamu bisa memilih chart penyajian data harga yang
tersedia pada fitur Chartbit di Stockbit dalam tiga jenis:
Oleh karena itu, line chart sebenarnya sangat jarang dipakai oleh pengguna analisis teknikal.
Kamu bisa menggunakan line chart jika ingin melihat gambaran dari arah trend suatu saham.
Bar chart atau grafik batang adalah jenis chart yang menyajikan informasi
pergerakan harga suatu saham dalam satu hari. Dalam chart ini, sudah
terdapat semua informasi OHLC.
Berbeda dari line chart yang setiap harinya hanya mewakili satu harga,
bar chart memiliki bentuk seperti lidi dengan dua tonjolan di sebelah kiri
dan kanannya. Tonjolan kecil inilah yang membuat bar chart dapat memuat
informasi OHLC
- Open: 95
- Low: 90
- High: 105
- Close: 100
Dari data tersebut, akan terbentuk bentuk bar chart seperti di bawah
ini.
Pada grafik yang menyerupai batang lidi tersebut, terdapat dua garis kecil
di sebelah kiri dan kanan yang sejajar.
Perhatikan garis kecil berwarna hijau di sebelah kiri yang sejajar dengan
angka 95. Garis ini menunjukkan harga Open atau pembukaan.
Pada gambar bar chart di sebelahnya, tinggi batang lidi yang diwarnai
hijau menunjukkan range harga 90 hingga 105. Tinggi batang menunjukkan
harga High dan Low yang dicapai saham tersebut dalam satu hari.
Begitulah cara membaca bar chart. Dengan jenis chart ini, kamu sudah bisa
mendapatkan informasi perjalanan harga suatu saham dalam satu hari.
Dengan menggunakan contoh data saham yang sama, bar chart memuat
informasi pergerakan harga saham yang lebih banyak dibandingkan
dengan line chart.
Candlestick chart atau grafik batang lilin adalah jenis chart yang juga
memberikan informasi lengkap tentang OHLC, seperti bar chart.
Bedanya, candlestick chart memiliki bentuk lebih gemuk karena memiliki
badan (body) dan sumbu (wick) seperti
lilin.
Sama seperti pada bar chart, sumbu dan badan candlestick memberikan
informasi mengenai OHLC. Sumbu di bagian atas dan bawah menunjukan harga
High dan Low. sementara batas atas dan bawah lilin menunjukkan harga Open
dan
Close.
Supaya lebih jelas tentang cara membaca candlestick, simak contoh
berikut.
Misalnya, pergerakan suatu harga saham dalam satu hari ialah sebagai
berikut:
- Open: 95
- Low: 90
- High: 105
- Close: 100
Dengan data yang sama seperti pada contoh bar chart, candlestick
chart akan berbentuk seperti berikut.
Sama seperti bar chart, body lilin memperlihatkan harga Open (95) dan
Low (100), sementara sumbu lilin memperlihatkan harga High (105) dan Low
(90) yang sempat disentuh oleh saham tersebut dalam satu hari. Karena
harga Open lebih tinggi dibanding harga Close, maka badan lilin menjadi
berwarna hijau. Sementara kalau harga Close lebih tinggi dibanding harga
Open, badan lilin akan diwarnai merah.
Kapan sih waktu yang tepat buat jual dan beli saham? Kenalan dulu sama
area support dan resistance.
Support adalah batas bawah yang diyakini bisa menghalangi harga saham
agar tidak terus turun. Area support biasanya menjadi indikasi adanya
permintaan (demand) yang lebih besar dibanding penawaran (supply).
Pada titik yang dilingkari warna merah, kita bisa lihat bahwa saham $BRIS
menolak untuk turun lebih rendah ke level di bawah harga Rp2.040. Setiap
kali harga menyentuh level tersebut, ia akan memantul ke arah atas.
Sementara itu, pada titik yang dilingkari warna biru, bisa terlihat bahwa
harga menolak untuk naik ke level lebih tinggi dari harga Rp2.200-an.
Setiap kali harga mulai menyentuh level tersebut, ia akan kembali merosot.
Dengan data pergerakan harga tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa level
Rp2.040 adalah area support (lingkaran merah). Sementara level
Rp2.200-an, bisa kita simpulkan sebagai area resistance (lingkaran
biru).
Perlu diingat, semakin banyak titik pantulan, maka semakin kuat area
tersebut untuk dijadikan support atau resistance. Namun, ketika
harga berhasil menembus area support (breakdown)
atau resistance (breakout), harga saham cenderung akan melanjutkan
pergerakannya.
Sama halnya ketika terjadi harga menembus resistance. Dapat dilihat pada
contoh gambar, harga saham $BMRI berhasil menembus
batas resistance dan mengalami kenaikan yang terus berlanjut.
Jangan asal beli saham yang harganya lagi turun. Cek dulu 3 jenis tren
ini di chart.
Trend
Mari kita bahas satu persatu, mulai dari cara mengenali tren, menganalisis
tren, hingga cara menarik garis trendline.
Uptrend
Uptrend berarti harga sedang mengalami trend naik. Biasa juga disebut
dengan bullish, dimana nama ini diambil dari patung banteng yang berada
di Wall Street, Amerika Serikat. Filosofi dari pengambilan
nama bullish adalah banteng yang ketika menyerang, akan menanduk ke
arah atas, sehingga tren naik dinamakan bullish.
Harga yang sedang mengalami tren naik atau uptrend akan membentuk garis
seperti di bawah ini. Gambar a adalah contoh kenaikan harga yang bergerak
lurus ke atas. Namun, dalam pergerakan saham uptrend, biasanya kenaikan
harga juga akan disertai dengan koreksi, sehingga seringkali bentuknya
seperti pada gambar dibawah.
Mengidentifikasi Uptrend
Sementara itu, Higher Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh
posisi harga rendah, tetapi lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya.
Berikut adalah ilustrasi Higher High dan Higher Low:
Downtrend
Sementara itu, Lower Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh
posisi harga yang lebih rendah dari harga terendah sebelumnya. Berikut
adalah ilustrasi Lower High dan Lower
Low:
Sideways
Tren sideways biasa dikenal dengan area konsolidasi. Selain tren naik
atau turun, tren harga saham juga dapat menunjukan ketidakpastian yang
ditandai dengan terbentuknya tren sideways. Intinya,
tren sideways adalah tren yang bukan uptrend ataupun downtrend.
Jadi, bisa kita lihat bahwa harga memantul beberapa kali di sebuah area
dan membentuk pola cenderung mendatar. Area inilah yang biasa disebut area
konsolidasi atau sideways.
Trendline berguna sebagai penanda atau penunjuk mengenai tren yang yang
sedang terjadi. Trendline dapat berguna
sebagai support maupun resistance, tergantung apakah posisinya
berada di atas atau di bawah harga. Sedangkan channel adalah garis yang
secara paralel ditarik dari trendline. Channel digunakan sebagai
penanda tren yang sedang terjadi yang dapat juga berfungsi
sebagai resistance dan support pada trend tersebut.
Cara menggambar
garis trendline sebagai support untuk uptrend adalah dengan
menarik garis lurus dari minimum 2 lembah atau Higher Low yang terbentuk
ketika uptrend sedang berlangsung.
Pada fitur Chartbit, garis trendline bisa ditemukan pada Trend Line
Tools yang tersedia pada kolom sebelah kiri fitur Chartbit.
Menggambar Channel Line pada Uptrend
Untuk membuat channel line, klik Trend Line Tools yang ada di menu
bar di sisi kiri Charbit, lalu pilih Channel Parallel. Setelah itu,
hubungkan minimal dua titik pada titik Higher Low yang telah ditentukan
sebelumnya. Setelah terbentuk garis, akan muncul garis baru untuk
membentuk terowongan atau kanal. Tutupi pola uptrend dengan menaruh
garis pada resistance yang sudah kita tentukan sebelumnya.
Cara Menggambar Trendline sebagai Resistance
Menggambar garis tren bukanlah hal yang rumit. Namun, ada beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan saat menggambar garis tren, yaitu:
Sebuah garis tren harus dibentuk oleh minimum dua lembah atau puncak.
Semakin curam garisnya, semakin mudah untuk ditembus dan berubah arah.
Semakin sering harga memantul dan
menguji support atau resistance yang dibentuk oleh garis tren, maka
garis tren semakin kuat.
Pada praktiknya, tiap trader bisa melihat tren harga saham yang sama
secara berbeda. Misalnya, di suatu saham, ada trader A yang bilang
bahwa saham tersebut sedang uptrend, tetapi ada trader B yang bilang
bahwa saham tersebut sedang downtrend.
Misalnya, pada chart contoh tadi, kita bisa melihat bahwa chart ini
memiliki major trend naik atau uptrend. Dalam chart tersebut,
terdapat tren yang lebih kecil atau secondary trend yang
berbentuk downtrend yang ditunjukkan dengan kata kata berwarna kuning.
Secondary trend tidak selalu berupa tren yang kebalikan dengan major
trend. Major trend dan secondary trend juga sering kali berbentuk
tren yang sama. Misalnya, dalam major trend
uptrend terdapat secondary trend uptrend. Dalam kasus seperti ini,
secondary trend_ menunjukan akselerasi atau percepatan, yaitu tren-tren
kecil dengan tingkat kecuraman atau kenaikan yang lebih tajam
dibandingkan dengan major trendline.
Pada contoh ini, dapat kita lihat major trend-nya adalah uptrend,
yang ditandai dengan trendline berwarna ungu. Di dalamnya,
terdapat secondary trend yang ditandai dengan trendline oranye.
Dalam contoh ini, secondary trend-nya juga uptrend, di mana kenaikan
harga saham lebih curam dibandingkan major trend-nya.
Fan Principle: Trend Reversal
Fan Principle jadi salah satu rahasia trader pro bisa tau saham yang akan
bullish. Begini cara identifikasinya.
Jika sebelumnya kita telah belajar tentang bagaimana cara menarik garis
tren, di chapter ini kita akan belajar tentang Fan Principle untuk
mengidentifikasi reversal trend.
Reversal trend adalah kondisi perubahan tren harga saham, misalnya dari
yang awalnya uptrend berubah menjadi sideways ataupun downtrend.
Bagi trader, kemampuan memprediksi perubahan tren harga dapat membantu
mereka dalam mengambil keputusan apakah harus menjual atau membeli saham
terkait.
Bullish Reversal
Berikut ini adalah contoh pengaplikasian Fan Principle pada saham yang
awalnya downtrend menjadi uptrend.
Dalam contoh tersebut, saham yang sebelumnya downtrend,
mengalami reversal dengan menembus tiga kali bearish trendline.
Ketika reversal sudah terkonfirmasi terjadi (yang ditunjukan pada
garis hijau reversal), kita bisa mengambil posisi buy.
Berikut ini adalah contoh pengaplikasian Fan Principle pada saham yang
awalnya uptrend menjadi downtrend. Dalam contoh tersebut, saham yang
sebelumnya uptrend telah mengalami reversal dengan menembus 3x
bullish trendline. Ketika reversal dikonfirmasi terjadi, kita bisa
mengambil posisi sell.