0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan36 halaman

Analisis Teknikal untuk Trader Saham

Diunggah oleh

ib3laryaduta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan36 halaman

Analisis Teknikal untuk Trader Saham

Diunggah oleh

ib3laryaduta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Technical Analysis

Selamat! Kamu akan segera memulai petualanganmu menjadi trader handal. Di modul ini kamu
akan mengenali cara menganalisis pergerakan saham sebagai dasar keputusan investasi. Modul
kali ini berupaya untuk menyiapkan kamu untuk langsung tahu faktor-faktor penting yang perlu
diperhatikan ketika menjadi trader, dari menganalisis harga saham, mengenal chart pattern serta
bagaimana menjaga resiko dari setiap transaksi yang kamu lakukan.

Mengenal Technical Analysis

Gimana caranya trader bisa memprediksi harga saham hanya dengan melihat riwayat pergerakan
harganya? Cari tahu jawabannya di chapter ini, yuk!

Technical Analysis atau analisis teknikal adalah analisis yang mempelajari data pasar, termasuk
pergerakan harga saham dan volume perdagangan saham tersebut. Kalau orang yang
menggunakan analisis fundamental disebut investor, orang yang menggunakan analisis teknikal
biasanya disebut sebagai trader.

Trader menggunakan analisis teknikal untuk mempelajari performa pergerakan saham masa lalu
dan digunakan untuk memprediksi pergerakan harga di masa depan. Berbeda dari investor yang
cenderung berinvestasi jangka panjang selama bertahun-tahun, umumnya trader berinvestasi
dengan jangka waktu yang lebih pendek, seperti bulanan, mingguan, atau bahkan harian.

Prinsip Dasar Analisis Teknikal

Terdapat beberapa alasan mengapa trader dapat memprediksi harga saham di masa depan hanya
dengan memperhatikan pergerakan historisnya. Salah satunya karena prinsip dasar analisis
teknikal. Berikut adalah beberapa prinsipnya:

1. Kejadian masa lampau cenderung akan terulang kembali.

Mayoritas trader percaya bahwa pola pergerakan harga saham akan mengulang pola yang sama
yang telah terjadi sebelumnya.

Asumsi ini terbentuk karena psikologi pasar yang cenderung dapat diprediksi, karena
mayoritas trader merespons hal yang sama terhadap pergerakan harga emiten.

Sebagai contoh, ketika pasar sedang dalam kondisi naik atau uptrend, trader cenderung menjadi
percaya diri dalam membeli saham walaupun harganya sudah sangat tinggi. Ini menyebabkan
harganya semakin tinggi lagi. Sebaliknya, ketika market sedang mengalami penurunan tren
atau downtrend, trader berlomba-lomba menjual saham mereka untuk meminimalisasi
kerugiannya walaupun harganya sudah relatif rendah. Reaksi yang berulang ini mendukung pola
harga masa lampau akan terulang kembali di masa depan.

2. Aksi berulang trader membentuk pola harga

Trader memiliki kecenderungan untuk melakukan aksi yang sama dalam melakukan trading,
sehingga membuat harga saham membentuk pola atau pattern yang serupa. Trader percaya
bahwa ketika pattern tertentu terbentuk, maka pergerakan harga ke depan akan
mengikuti pattern yang sebelumnya.

Tokoh dalam Analisis Teknikal

Analisis teknikal adalah salah satu teknik investasi saham yang cukup populer. Tidak sedikit orang
yang sukses berinvestasi dengan menerapkan teknik ini. Salah satu tokoh yang terkenal
mengaplikasikan analisis teknikal dalam perjalanan investasinya adalah Jesse Livermore.

Jesse dikenal sebagai salah satu pelopor trading harian dan termasuk dalam trader tersukses
sepanjang masa dengan julukan The Great Bear of Wall Street. Julukan ini diberikan kepada Jesse
setelah ia menghasilkan keuntungan 3 juta dolar AS saat market crash di AS pada 1907. Bahkan,
pada era Great Depression tahun 1928, Jesse kembali meraup keuntungan di dunia pasar modal
hingga 100 juta dolar AS.

Jenis-jenis Chart Saham

Ada 3 jenis chart harga yang berguna buat analisis teknikal. Apa saja?
Cara Membaca OHLC pada Saham
Setiap hari, harga suatu saham cenderung mengalami kenaikan dan penurunan sejak market
buka hingga tutup. Harga bisa naik ketika market buka, dan turun ke harga yang lebih rendah
dibanding harga pembukaan saat market tutup. Begitu pun sebaliknya, harga bisa mengalami
penurunan saat market buka, lalu merangkak naik ke harga yang lebih tinggi dari harga
pembukaan.

Ada empat poin penting yang perlu kita perhatikan dalam mengamati pergerakan harian ini, yaitu
Open, High, Low dan Close (OHLC):

[Link]: Harga ketika market buka, disebut juga harga pembukaan

[Link]: Harga tertinggi yang terjadi di hari tersebut

[Link]: Harga terendah yang terjadi di hari tersebut

[Link]: Harga ketika market tutup, disebut juga harga penutupan

Harga OHLC bisa berbeda, bisa juga sama. Maksudnya, harga Open bisa sama juga dengan harga
Close. Harga Close bisa sama dengan harga High maupun Low.

Macam-macam Price Chart

Setelah mengetahui tentang OHLC, sekarang saatnya kita mempelajari cara mengidentifikasi
pergerakan harga dalam bentuk chart. Kamu bisa memilih chart penyajian data harga yang
tersedia pada fitur Chartbit di Stockbit dalam tiga jenis:

1. Line chart atau grafik garis

2. Bar chart atau grafik bar

3. Candlestick chart atau grafik batang lilin


Line Chart
Line chart atau grafik garis adalah jenis chart yang paling sederhana dan paling mudah
dibaca. Chart ini hanya menunjukkan harga Close atau penutupan setiap harinya, tanpa
menyertakan harga Open, High dan Low. Jadi, tidak banyak informasi yang yang disajikan dalam
jenis grafik ini.

Oleh karena itu, line chart sebenarnya sangat jarang dipakai oleh pengguna analisis teknikal.
Kamu bisa menggunakan line chart jika ingin melihat gambaran dari arah trend suatu saham.

Berikut contoh line chart pada suatu saham:


Bar Chart

Bar chart atau grafik batang adalah jenis chart yang menyajikan informasi
pergerakan harga suatu saham dalam satu hari. Dalam chart ini, sudah
terdapat semua informasi OHLC.

Berbeda dari line chart yang setiap harinya hanya mewakili satu harga,
bar chart memiliki bentuk seperti lidi dengan dua tonjolan di sebelah kiri
dan kanannya. Tonjolan kecil inilah yang membuat bar chart dapat memuat
informasi OHLC

Tonjolan di sebelah kiri menunjukkan harga Open, sementara tonjolan di


sebelah kanan menunjukkan harga Close. Selain itu, di bagian atas dan
bawah lidi tersebut menunjukkan harga Low dan High.

Supaya lebih paham, simak contoh berikut:

- Open: 95

- Low: 90

- High: 105

- Close: 100
Dari data tersebut, akan terbentuk bentuk bar chart seperti di bawah
ini.

Pada grafik yang menyerupai batang lidi tersebut, terdapat dua garis kecil
di sebelah kiri dan kanan yang sejajar.

Perhatikan garis kecil berwarna hijau di sebelah kiri yang sejajar dengan
angka 95. Garis ini menunjukkan harga Open atau pembukaan.

Pada gambar bar chart di sebelahnya, tinggi batang lidi yang diwarnai
hijau menunjukkan range harga 90 hingga 105. Tinggi batang menunjukkan
harga High dan Low yang dicapai saham tersebut dalam satu hari.

Terakhir, perhatikan garis kecil yang menonjol di sebelah kanan yang


sejajar dengan angka 100. Garis kecil ini menandakan harga Close. Karena
harga Close (100) lebih tinggi dibanding harga Open (95), batang lidi
diberi warna hijau.

Begitulah cara membaca bar chart. Dengan jenis chart ini, kamu sudah bisa
mendapatkan informasi perjalanan harga suatu saham dalam satu hari.

Umumnya, untuk memudahkan secara visual, bar chart diwarnai sesuai


dengan pergerakan harga di hari itu, yaitu hijau jika harga naik atau
penutupan lebih tinggi dibanding pembukaan, dan merah jika harga turun
atau penutupan di bawah harga pembukaan. Berdasarkan contoh bar
chart tadi, akan terlihat seperti ini karena harga Close di atas harga
Open.

Dengan menggunakan contoh data saham yang sama, bar chart memuat
informasi pergerakan harga saham yang lebih banyak dibandingkan
dengan line chart.

Grafik candlestick ditemukan oleh seorang pengusaha beras Jepang


bernama Munehisa Homma, pada dekade 1700-an. Chart yang satu ini adalah
jenis chart yang paling paling banyak digunakan baik oleh investor
maupun trader di seluruh dunia.

Candlestick chart atau grafik batang lilin adalah jenis chart yang juga
memberikan informasi lengkap tentang OHLC, seperti bar chart.
Bedanya, candlestick chart memiliki bentuk lebih gemuk karena memiliki
badan (body) dan sumbu (wick) seperti
lilin.

Sama seperti pada bar chart, sumbu dan badan candlestick memberikan
informasi mengenai OHLC. Sumbu di bagian atas dan bawah menunjukan harga
High dan Low. sementara batas atas dan bawah lilin menunjukkan harga Open
dan
Close.
Supaya lebih jelas tentang cara membaca candlestick, simak contoh
berikut.

Misalnya, pergerakan suatu harga saham dalam satu hari ialah sebagai
berikut:

- Open: 95

- Low: 90

- High: 105

- Close: 100

Dengan data yang sama seperti pada contoh bar chart, candlestick
chart akan berbentuk seperti berikut.

Sama seperti bar chart, body lilin memperlihatkan harga Open (95) dan
Low (100), sementara sumbu lilin memperlihatkan harga High (105) dan Low
(90) yang sempat disentuh oleh saham tersebut dalam satu hari. Karena
harga Open lebih tinggi dibanding harga Close, maka badan lilin menjadi
berwarna hijau. Sementara kalau harga Close lebih tinggi dibanding harga
Open, badan lilin akan diwarnai merah.

Berikut adalah contoh gambar Candlestick Chart dalam pergerakan harga


saham.
Timeframe pada Chart

Itulah jenis-jenis grafik saham dan cara membacanya.


Setiap trader biasanya memiliki preferensi
tipe chart masing-masing. Candlestick chart biasanya menjadi tipe
grafik yang paling disukai oleh trader karena memberikan informasi
yang lengkap dan visual yang lebih jernih. Namun, ada juga yang lebih
menyukai bar chart karena lebih sederhana. Sementara line
chart bisa digunakan jika kamu hanya membutuhkan rangkuman informasi
pergerakan harga suatu saham dalam periode tertentu.

Apapun jenis grafiknya, yang paling penting untuk diperhatikan


adalah timeframe yang ditampilkan. Di fitur Chartbit pada Stockbit,
kamu bisa mengubah periode yang ingin ditampilkan dalam chart seperti
Daily, Weekly atau Monthly.

Apabila timeframe yang ditampilkan adalah Daily, artinya


satu chart menunjukkan pergerakan harga selama satu hari. Sementara
jika yang ditampilkan adalah Weekly, artinya satu chart menggambarkan
pergerakan harga dari Senin hingga Jumat. Begitu pula dengan Monthly, data
yang digambarkan dalam satu batang chart adalah pergerakan harga
selama satu bulan.
Apa itu Support dan Resistance?

Kapan sih waktu yang tepat buat jual dan beli saham? Kenalan dulu sama
area support dan resistance.

Pengertian Support dan Resistance

Dalam analisis teknikal, terdapat dua atribut penting yang menjadi


fondasi analisis trader, yaitu support dan resistance. Fungsi
dari support dan resistance diyakini sebagai “penghalang” yang
bisa membantu kita memprediksi kemungkinan pergerakan harga ke depannya.

Support adalah batas bawah yang diyakini bisa menghalangi harga saham
agar tidak terus turun. Area support biasanya menjadi indikasi adanya
permintaan (demand) yang lebih besar dibanding penawaran (supply).

Sementara resistance adalah batas atas yang diyakini berfungsi untuk


menahan kenaikan harga agar tidak bergerak lebih tinggi lagi. Area ini
menggambarkan adanya supply yang lebih besar demand. Nah, sesuai
dengan hukum ekonomi, ketika demand lebih besar daripada supply,
harga akan naik dan juga sebaliknya.

Jenis Support dan Resistance

Umumnya, support dan resistance bisa dibentuk ke dalam dua jenis


garis, yaitu horizontal line dan trendline. Di chapter ini, kita
akan fokus untuk membahas tentang penggunaan horizontal line terlebih
dahulu, ya!

Support dan resistance dalam horizontal line digambarkan sebagai


garis lurus pada Charbit. Kita bisa
menggambar support dan resistance dengan menghubungkan minimal dua
titik yang berada di level harga yang serupa pada kurun waktu tertentu.

Supaya lebih jelas, simak contoh di card selanjutnya!


Contoh Support dan Resistance
Sebagai contoh, kita akan menentukan garis
horizontal support dan resistance pada saham
$BRIS:

Pada titik yang dilingkari warna merah, kita bisa lihat bahwa saham $BRIS
menolak untuk turun lebih rendah ke level di bawah harga Rp2.040. Setiap
kali harga menyentuh level tersebut, ia akan memantul ke arah atas.
Sementara itu, pada titik yang dilingkari warna biru, bisa terlihat bahwa
harga menolak untuk naik ke level lebih tinggi dari harga Rp2.200-an.
Setiap kali harga mulai menyentuh level tersebut, ia akan kembali merosot.
Dengan data pergerakan harga tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa level
Rp2.040 adalah area support (lingkaran merah). Sementara level
Rp2.200-an, bisa kita simpulkan sebagai area resistance (lingkaran
biru).

Perlu diingat, semakin banyak titik pantulan, maka semakin kuat area
tersebut untuk dijadikan support atau resistance. Namun, ketika
harga berhasil menembus area support (breakdown)
atau resistance (breakout), harga saham cenderung akan melanjutkan
pergerakannya.

Breakdown dan Breakout

Setelah mengetahui tentang support dan resistance, sekarang kita


akan mempelajari keadaan ketika harga berhasil menembus kedua
“penghalang” tersebut. Jika harga saham berhasil menembus support,
kondisi tersebut disebut dengan istilah breakdown. Sementara kondisi
ketika harga menembus batas resistance, disebut sebagai breakout.

Sebagai contoh, ketika harga saham $BRIS berhasil menembus ke


bawah support-nya:
Dapat dilihat pada contoh gambar, harga saham $BRIS berhasil menembus
batas support di level Rp2.025. Setelah harga $BRIS menerobos support,
harganya terus menurun.

Sama halnya ketika terjadi harga menembus resistance. Dapat dilihat pada
contoh gambar, harga saham $BMRI berhasil menembus
batas resistance dan mengalami kenaikan yang terus berlanjut.

Mengidentifikasi Trend Harga Saham

Jangan asal beli saham yang harganya lagi turun. Cek dulu 3 jenis tren
ini di chart.
Trend

Trend bisa diartikan sebagai pergerakan suatu saham ke arah tertentu


dalam kurun waktu tertentu. Secara teori, pergerakan harga saham akan
mengikuti tren yang telah terjadi di masa lampau daripada bergerak secara
acak.
Pernah dengar kalimat “Trend is our friend”? Kalimat tersebut punya arti
jika trader dapat menganalisis dan menilai tren, dia bisa mengambil
posisi atau melakukan transaksi yang bersahabat bagi portofolionya.
Pada analisis teknikal, kita mengenal ada tiga jenis trend:
1. Uptrend atau disebut bullish
2. Downtrend atau disebut bearish
3. Sideways atau disebut menyamping

Mari kita bahas satu persatu, mulai dari cara mengenali tren, menganalisis
tren, hingga cara menarik garis trendline.

Uptrend

Uptrend berarti harga sedang mengalami trend naik. Biasa juga disebut
dengan bullish, dimana nama ini diambil dari patung banteng yang berada
di Wall Street, Amerika Serikat. Filosofi dari pengambilan
nama bullish adalah banteng yang ketika menyerang, akan menanduk ke
arah atas, sehingga tren naik dinamakan bullish.

Harga yang sedang mengalami tren naik atau uptrend akan membentuk garis
seperti di bawah ini. Gambar a adalah contoh kenaikan harga yang bergerak
lurus ke atas. Namun, dalam pergerakan saham uptrend, biasanya kenaikan
harga juga akan disertai dengan koreksi, sehingga seringkali bentuknya
seperti pada gambar dibawah.
Mengidentifikasi Uptrend

Uptrend bisa diidentifikasi dengan adanya pengulangan pola Higher High


dan Higher Low. Higher High terbentuk ketika harga berhasil menyentuh
harga yang lebih tinggi dari harga tertinggi sebelumnya.

Sementara itu, Higher Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh
posisi harga rendah, tetapi lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya.
Berikut adalah ilustrasi Higher High dan Higher Low:
Downtrend

Sekarang kita lanjut ke trend ke dua, yaitu downtrend. Sesuai


namanya, downtrend berarti tren penurunan harga atau biasa dikenal
sebagai bearish.

Istilah bearish terinspirasi dari posisi tubuh beruang ketika hendak


menyerang, di mana ia akan mencakar ke arah bawah. Hal tersebut
menggambarkan chart harga saham saat mengalami tren penurunan,
sehingga dinamakan bearish.

Sama seperti uptrend, harga yang sedang mengalami penurunan tren


atau downtrend tidak selalu bergerak lurus ke bawah seperti gambar a,
tapi juga akan disertai dengan kenaikan yang membuat bentuk penurunan
umumnya seperti gambar dibawah
Mengidentifikasi Downtrend

Downtrend dapat diidentifikasi dengan adanya pengulangan pola Lower


High dan Lower Low yang terbentuk beberapa kali. Lower High terbentuk
ketika harga suatu emiten menyentuh posisi harga tinggi, tapi lebih rendah
dari harga tertinggi sebelumnya.

Sementara itu, Lower Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh
posisi harga yang lebih rendah dari harga terendah sebelumnya. Berikut
adalah ilustrasi Lower High dan Lower
Low:
Sideways

Tren sideways biasa dikenal dengan area konsolidasi. Selain tren naik
atau turun, tren harga saham juga dapat menunjukan ketidakpastian yang
ditandai dengan terbentuknya tren sideways. Intinya,
tren sideways adalah tren yang bukan uptrend ataupun downtrend.

Tren sideways merupakan pergerakan harga bolak-balik. Ia tidak


membentuk New Low seperti pada downtrend maupun New High seperti
pada uptrend ataupun downtrend. Berikut adalah ilustrasi dari
tren sideways:

Jadi, bisa kita lihat bahwa harga memantul beberapa kali di sebuah area
dan membentuk pola cenderung mendatar. Area inilah yang biasa disebut area
konsolidasi atau sideways.

Tren sideways biasanya dianggap sebagai ‘fase istirahat’ sebuah


saham. Sideways juga bisa menjadi tanda perubahan tren harga, dari
fase bullish ke bearish atau sebaliknya.

Misalnya, sebuah uptrend yang sudah berlangsung relatif panjang atau


lama, kemudian arah trend berubah berubah menjadi sideways. Ini
menandakan bahwa uptrend yang sebelumnya terjadi sudah mulai
kehilangan ‘power’ sehingga harga saham memasuki tren sideways dan
membentuk area konsolidasi.
Selesainya tren sideways ini akan jadi penentu
apakah uptrend atau downtrend yang sebelumnya terjadi akan
berlanjut atau berubah ke arah sebaliknya. Tren sideways akan berakhir
ketika harga berhasil keluar dari area konsolidasi, di mana harga bisa
turun ke bawah dan menembus garis support, atau harga bisa naik ke atas
dan menembus garis resistance.

Jika harga turun ke bawah area support, biasanya tren


harga sideways akan berubah menjadi downtrend. Begitupun sebaliknya,
jika dari harga berhasil menembus area resistance dari tren sideways,
biasanya tren harga saham berubah menjadi uptrend.

Trendline dan Channel sebagai Support dan


Resistance

Trendline berguna sebagai penanda atau penunjuk mengenai tren yang yang
sedang terjadi. Trendline dapat berguna
sebagai support maupun resistance, tergantung apakah posisinya
berada di atas atau di bawah harga. Sedangkan channel adalah garis yang
secara paralel ditarik dari trendline. Channel digunakan sebagai
penanda tren yang sedang terjadi yang dapat juga berfungsi
sebagai resistance dan support pada trend tersebut.

Cara Menggambar Trendline sebagai Support &


Resistance

Cara menggambar
garis trendline sebagai support untuk uptrend adalah dengan
menarik garis lurus dari minimum 2 lembah atau Higher Low yang terbentuk
ketika uptrend sedang berlangsung.

Pertama-tama, tentukan titik-titik terendah pada uptrend atau Higher


Low untuk menggambar garis support. Pada gambar, Higher Low ditandai
dengan lingkaran warna merah.
Kemudian tarik garis untuk menyambungkan titik-titik Higher Low tersebut.

Setelah itu, tentukan puncak titik-titik tertinggi pada uptrend atau


Higher High untuk menggambar garis resistance. Pada gambar, Higher High
ditandai dengan lingkaran warna hijau . Lalu, tarik garis untuk
menyambungkan titik-titik Higher High tersebut.

Pada fitur Chartbit, garis trendline bisa ditemukan pada Trend Line
Tools yang tersedia pada kolom sebelah kiri fitur Chartbit.
Menggambar Channel Line pada Uptrend

Selain menggunakan trendline, kamu juga bisa menggunakan channel


line atau garis kanal untuk menentukan trend. Ketika
menggunakan channel line pada uptrend, kamu hanya perlu menentukan
salah satu dari garis support atau resistance terlebih dahulu.
Pada uptrend, hal yang perlu dilakukan di awal adalah menentukan
titik-titik Higher Low untuk menentukan support.

Untuk membuat channel line, klik Trend Line Tools yang ada di menu
bar di sisi kiri Charbit, lalu pilih Channel Parallel. Setelah itu,
hubungkan minimal dua titik pada titik Higher Low yang telah ditentukan
sebelumnya. Setelah terbentuk garis, akan muncul garis baru untuk
membentuk terowongan atau kanal. Tutupi pola uptrend dengan menaruh
garis pada resistance yang sudah kita tentukan sebelumnya.
Cara Menggambar Trendline sebagai Resistance

Trendline juga dapat berfungsi untuk


mengidentifikasi resistance pada downtrend. Cara menggambar
garis trendline yang berfungsi sebagai resistance pada saham yang
lagi downtrend adalah dengan cara menarik garis lurus dari minimum dua
puncak atau Lower High.

Pertama-tama, identifikasi Lower High atau titik-titik tertinggi


pada downtrend. Dalam gambar, Lower High ditandai dengan lingkaran
berwarna hijau.

Nah, cara menggambar trendline-nya adalah dengan menarik garis dari


puncak yang terbentuk, sehingga trendline akan terbentuk seperti warna
ungu berikut.
Menggambar Channel pada Downtrend

Setelah mengetahui cara menggambar channel pada uptrend, berikut


cara menggambar channel ketika trader menemukan downtrend pada
sebuah saham:

Untuk menggambar lantai atau support dari downtrend, kita bisa


menggambar garis dengan menghubungkan minimal dua titik dari Lower Low.
Jika dilihat dari gambar, kita bisa mengidentifikasi tiga Lower Low yang
dilingkari warna merah. Lalu, garis support kita tarik dengan warna
oranye.
Selain secara manual, kamu juga bisa menggambar channel line dengan
lebih mudah dengan fitur Channel Parallel di Chartbit. Kamu cukup menarik
garis resistance dan menyejajarkannya dengan titik-titik Lower Low.

Menggambar Channel pada Downtrend

Setelah mengetahui cara menggambar trendline uptrend dan downtrend,


mari kita pelajari hal yang sama pada sideways. Berikut adalah
ilustrasinya:

Cara menggambar garis trendline untuk sideways adalah dengan cara


menarik garis lurus atau horizontal dari minimum dua puncak dan
lembah yang terbentuk di saat sideways. Contohnya adalah seperti
berikut.

Hal Penting Saat Menggambar Trendline

Menggambar garis tren bukanlah hal yang rumit. Namun, ada beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan saat menggambar garis tren, yaitu:

Sebuah garis tren harus dibentuk oleh minimum dua lembah atau puncak.
Semakin curam garisnya, semakin mudah untuk ditembus dan berubah arah.
Semakin sering harga memantul dan
menguji support atau resistance yang dibentuk oleh garis tren, maka
garis tren semakin kuat.

- Jangan pernah memaksakan sebuah garis untuk pas.


Subjektivitas Menentukan Trend

Pada praktiknya, tiap trader bisa melihat tren harga saham yang sama
secara berbeda. Misalnya, di suatu saham, ada trader A yang bilang
bahwa saham tersebut sedang uptrend, tetapi ada trader B yang bilang
bahwa saham tersebut sedang downtrend.

Perbedaan tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan time frame yang


dipakai oleh trader, sehingga tren yang dilihat bisa berbeda.

Major dan Secondary Trend

Karena tingkat subjektivitas dalam menentukan arah trend cukup tinggi,


kamu bisa menggunakan major dan secondary trend untuk lebih
objektif dalam menentukan arah tren. Major trend atau tren utama adalah
tren yang dibentuk dari pergerakan harga dengan jangka waktu panjang,
biasanya lebih dari 1 tahun. Major trendline memiliki kekuatan tren
yang paling kuat karena sudah terbentuk lama.

Sementara secondary trend adalah tren-tren kecil yang terbentuk di


dalam tren utama dengan jangka waktu lebih pendek. Tren ini memiliki
kekuatan yang lebih lemah dibandingkan kekuatan dari major trend.
Contoh Major dan Secondary Trend

Misalnya, pada chart contoh tadi, kita bisa melihat bahwa chart ini
memiliki major trend naik atau uptrend. Dalam chart tersebut,
terdapat tren yang lebih kecil atau secondary trend yang
berbentuk downtrend yang ditunjukkan dengan kata kata berwarna kuning.

Secondary trend tidak selalu berupa tren yang kebalikan dengan major
trend. Major trend dan secondary trend juga sering kali berbentuk
tren yang sama. Misalnya, dalam major trend
uptrend terdapat secondary trend uptrend. Dalam kasus seperti ini,
secondary trend_ menunjukan akselerasi atau percepatan, yaitu tren-tren
kecil dengan tingkat kecuraman atau kenaikan yang lebih tajam
dibandingkan dengan major trendline.
Pada contoh ini, dapat kita lihat major trend-nya adalah uptrend,
yang ditandai dengan trendline berwarna ungu. Di dalamnya,
terdapat secondary trend yang ditandai dengan trendline oranye.
Dalam contoh ini, secondary trend-nya juga uptrend, di mana kenaikan
harga saham lebih curam dibandingkan major trend-nya.
Fan Principle: Trend Reversal

Fan Principle jadi salah satu rahasia trader pro bisa tau saham yang akan
bullish. Begini cara identifikasinya.

Apa itu Fan Principle?

Jika sebelumnya kita telah belajar tentang bagaimana cara menarik garis
tren, di chapter ini kita akan belajar tentang Fan Principle untuk
mengidentifikasi reversal trend.

Reversal trend adalah kondisi perubahan tren harga saham, misalnya dari
yang awalnya uptrend berubah menjadi sideways ataupun downtrend.
Bagi trader, kemampuan memprediksi perubahan tren harga dapat membantu
mereka dalam mengambil keputusan apakah harus menjual atau membeli saham
terkait.

Untuk mengidentifikasi perubahan harga saham, trader perlu


menarik trendline sebanyak tiga kali di beberapa titik pantulan harga
saham. Tujuan dari menarik tiga trendline tersebut adalah untuk
mendapatkan konfirmasi yang kuat bahwa perubahan harga benar-benar
terjadi. Sekilas, ketiga trendline ini menyerupai bentuk kipas,
sehingga teknik ini disebut sebagai Fan Principle.

Bullish Reversal

Penggunaan Fan Principle pertama yang akan dibahas adalah bullish


reversal. Bullish reversal merupakan perubahan arah tren
dari sideways maupun downtrend menuju uptrend atau bullish.
Contoh gambar di atas ini menunjukan Fan Principle untuk bullish
reversal. Aturan untuk menggunakan Fan Principle adalah dengan menggambar
3 trendline. Jika harga berhasil menembus 3 trendline tersebut,
menandakan konfirmasi bahwa tren telah berubah
dari downtrend menjadi uptrend.
Cara Menggambar Bullish Reversal

Untuk menggambar Fan Principle pada downtrend, pertama-tama


identifikasi saham yang awalnya mengalami downtrend. Setelah itu,
gambar trendline pertamanya, seperti pada gambar di atas.
Kemudian, harga saham cenderung akan mulai rebound dan berhasil
menembus trendline pertama. Namun, biasanya saham nggak
langsung bullish atau naik ke atas, tapi masih dalam
tren sideways atau konsolidasi untuk reversal ke uptrend.

Setelah melihat harga yang berhasil menembus trendline pertama tadi,


kamu bisa menarik garis trendline ke-2.

Ketika harga berhasil menembus bearish trendline yang ke-2,


gambar trendline ketiga. Setelah itu, kamu hanya perlu menunggu harga
berhasil tembus trendline ke-3 untuk mendapatkan
konfirmasi reversal dari downtrend menjadi uptrend.
Ketika harga saham telah berhasil break trendline ke-3, kita
mendapat konfirmasi bahwa tren telah berubah
dari downtrend menjadi uptrend. Dengan konfirmasi ini, artinya kamu
bisa mengambil posisi buy.

Contoh Bearish Reversal pada Trading

Berikut ini adalah contoh pengaplikasian Fan Principle pada saham yang
awalnya downtrend menjadi uptrend.
Dalam contoh tersebut, saham yang sebelumnya downtrend,
mengalami reversal dengan menembus tiga kali bearish trendline.
Ketika reversal sudah terkonfirmasi terjadi (yang ditunjukan pada
garis hijau reversal), kita bisa mengambil posisi buy.

Cara Menggambar Bearish Reversal

Fan Principle juga dapat digunakan untuk memprediksi perubahan harga


saham yang sedang bullish menjadi bearish. Perubahan tren
dari bullish ke bearish ini disebut bearish reversal. Aturan awal
menggunakan Fan Principle untuk bullish reversal adalah dengan
menggambar 3 trendline support. Jika harga berhasil
menembus trendline ketiga tersebut, berarti perubahan harga telah
terkonfirmasi dari uptrend menjadi downtrend atau sideways.

Untuk menggunakan Fan Principle bearish


reversal ini, trader mula-mula perlu
menggambarkan trendline pertama seperti pada gambar di bawah.
Setelah itu, ketika harga mulai menembus
batas support di trendline pertama, kamu dapat menarik
garis trendline kedua. Meski harga suatu saham yang
sedang bullish berhasil menembus garis support-nya, biasanya saham
itu tidak langsung berubah arah menjadi bearish. Harga saham umumnya
masih di area sideways atau konsolidasi
untuk reversal ke downtrend.
Ketika harga saham telah berhasil
menembus trendline ke-3, trader mendapatkan konfirmasi bahwa t
rend telah berubah dari uptrend menjadi downtrend. Dengan ini, kita
bisa mengambil posisi sell karena tren telah berubah
menjadi downtrend.

Berikut ini adalah contoh pengaplikasian Fan Principle pada saham yang
awalnya uptrend menjadi downtrend. Dalam contoh tersebut, saham yang
sebelumnya uptrend telah mengalami reversal dengan menembus 3x
bullish trendline. Ketika reversal dikonfirmasi terjadi, kita bisa
mengambil posisi sell.

Anda mungkin juga menyukai