Deplearning
1. Meaningful Learning
menjelaskan proses pembelajaran dimana guru membantu siswa untuk mengaitkan
konsep baru yang akan diajarkan dengan konsep-konsep yang sebelumnya
sudah mereka pahami. Proses belajar Meaningful Learning ini bertujuan agar
pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa.
Misalnya, untuk memperkenalkan penjumlahan pecahan, kita bisa mulai dengan
penjumlahan benda-benda yang lebih konkret terlebih dahulu.
1 ayam + 2 ayam = 3 ayam
1 bola + 2 bola = 3 bola
1 perlima + 2 perlima = 3 perlima → ⅕ + ⅖ = ⅗
Atau
1 ayam + 2 bebek = 1 unggas + 2 unggas = 3 unggas
1 lusin + 2 kodi = 12 buah + 40 buah = 52 buah
1 perdua + 2 pertiga = 3 perenam + 4 perenam = 7 perenam
2. Mindful Learning
Mindful Learning seringkali dikenal sebagai metakognisi dalam teori pendidikan.
Dalam Mindful Learning, siswa diajak untuk senantiasa sadar akan proses
pembelajaran yang sedang ia jalani. Kesadaran ini terdiri dari beberapa aspek:
1. Kesadaran akan hal-hal yang sudah ia pahami atau kuasai sebelumnya,
2. Kesadaran akan hal-hal yang belum ia pahami atau kuasai,
3. Kesadaran akan pentingnya pemahaman atau penguasaan kompetensi dari apa yang ia
sedang pelajari,
4. Kesadaran akan alur proses pembelajaran yang sedang ia jalani demi tercapainya
pemahaman atau kompetensi yang ingin ia capai,
5. Kesadaran akan kemajuan pemahaman atau kompetensi setelah merefleksikan proses
pembelajaran yang telah ia lewati,
6. Kesadaran akan hal-hal yang masih dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam proses
pembelajaran berikutnya.
Dengan demikian, siswa dituntun untuk menjadi agen aktif yang bertanggung jawab
atas proses pembelajarannya sendiri.
kesadaran ini bukanlah sesuatu yang dapat timbul secara otomatis dalam diri anak-
anak, sehingga guru harus terus-menerus menghidupkan kesadaran ini dari awal
sampai akhir proses pembelajaran. Berbeda dengan orang dewasa,
Misalnya, guru bisa membiasakan siswa untuk selalu membuat kesimpulan
pembelajaran sendiri di akhir sesi ajar dan merefleksikan perkembangan pemahaman
atau kompetensinya. Melalui proses refleksi ini, siswa dapat memahami kekuatan dan
kelemahan mereka masing-masing, serta memiliki target yang lebih jelas untuk
pembelajaran berikutnya.
3. Joyful Learning
Joyful Learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif
agar siswa dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran.
Contohnya, pendekatan pembelajaran melalui permainan (game) atau aktivitas
interaktif dapat membuat siswa lebih antusias dalam belajar,ice breking
Pembelajaran mendalam
1 Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME
Dimensi profil lulusan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME menunjukkan individu
yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual
dalam kehidupan sehari-hari. Nilai keimanan ini tercermin dalam perilaku yang berakhlak mulia,
penuh kasih, serta bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Dengan
demikian, profil ini menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan, moralitas, dan
hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya.
2 Kewargaan
Dimensi profil lulusan kewargaan menunjukan individu yang memiliki rasa cinta tanah air,
menaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian,
tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait
keberlanjutan manusia dan lingkungan. Fokus kewargaan yaitu kesadaran peserta didik untuk
berkontribusi terhadap kebaikan bersama sebagai warga negara dan warga dunia. Profil lulusan
ini tidak terlepas dari nilai-nilai Pancasila yang mencerminkan individu yang memiliki karakter,
sikap, dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila.
Peserta didik yang selalu menjunjung moral dan nilai spiritual, bersikap adil dan menghormati
hak orang lain, mencintai negara, budaya, dan keberagaman Indonesia, berperan aktif dalam
proses demokrasi dengan musyawarah, serta berupaya menciptakan kesejahteraan bersama.
3 Penalaran Kritis
Dimensi profil lulusan penalaran kritis menunjukkan individu yang mampu berpikir secara logis,
analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi. Peserta didik
memiliki keterampilan untuk menganalisis masalah, mengevaluasi argumen, menghubungkan
gagasan yang relevan, dan merefleksikan proses berpikir dalam pengambilan keputusan. Peserta
didik yang memiliki kemampuan penalaran kritis cenderung mampu memecahkan masalah
secara sistematis, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan menghasilkan solusi yang
rasional serta berbasis bukti. Kemampuan ini membentuk pribadi yang cermat, tanggap, dan
mampu menghadapi tantangan dengan pemikiran yang mendalam dan terstruktur.
4 Kreativitas
Dimensi profil lulusan kreativitas adalah individu yang mampu berpikir secara inovatif,
fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik
dan bermanfaat. Mereka dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang, menghasilkan
banyak gagasan, serta menemukan dan mengembangkan alternatif solusi yang efektif. Peserta
didik yang memiliki kreativitas cenderung berpikir di luar kebiasaan, mengembangkan ideide
secara mendalam, serta memodifikasi atau menciptakan sesuatu yang orisinal, bermakna, dan
memiliki dampak positif bagi lingkungan sekitar.
5 Kolaborasi
Dimensi profil lulusan kolaborasi adalah individu yang mampu bekerja sama secara efektif
dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian 29
Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam peran dan tanggung jawab. Mereka menjalin hubungan
yang kuat, menghargai kontribusi setiap anggota tim, serta menunjukkan sikap saling
menghormati meskipun terdapat perbedaan pendapat atau latar belakang. Peserta didik dengan
kemampuan kolaborasi mampu berkontribusi secara aktif, menggunakan pemecahan masalah
bersama, dan menciptakan suasana yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama.
6 Kemandirian
Dimensi profil kemandirian artinya peserta didik mampu bertanggung jawab atas proses dan
hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi
hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain. Mereka
memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan, menguasai dirinya, serta gigih dalam berusaha
untuk mencapai tujuan. Peserta didik yang mandiri mampu mengelola waktu, sumber daya, dan
tindakan mereka secara efektif untuk mencapai hasil yang optimal. Profil dimensi kemandirian
ini menunjukkan peserta didik sebagai manusia pembelajar, yaitu individu yang secara terus-
menerus mencari ilmu, mengembangkan diri, dan beradaptasi dengan perubahan (pembelajar
sepanjang hayat).
7 Kesehatan
Dimensi profil kesehatan menggambarkan peserta didik yang sehat jasmani sebagai individu
yang menjalankan kebiasaan hidup sehat, memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu
menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan
batin (well-being). Profil ini menggambarkan peserta didik yang mampu menjalani kehidupan
produktif dengan kualitas kesehatan fisik dan mental yang optimal dan berkontribusi secara
positif dalam lingkungan sosialnya.
8 Komunikasi
Peserta didik memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan ide, gagasan,
dan informasi dengan jelas serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi. Profil ini
memungkinkan peserta didik mampu berinteraksi dengan orang lain, berbagi serta
mempertahankan pendapat, menyampaikan sudut pandang yang beragam, dan aktif terlibat
dalam kegiatan yang membutuhkan interaksi dua arah. Dengan demikian diharapkan lulusan
yang memiliki kemampuan komunikasi dengan baik dapat membangun hubungan yang positif,
menjembatani perbedaan pendapat, dan menciptakan pemahaman bersama dalam lingkungan
sosial maupun profesional.
Prinsip Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan dalam PM
1. Berkesadaran
Berkesadaran merupakan pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka
memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri.
Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar,
serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Ketika peserta didik
memiliki kesadaran belajar, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan
sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Pembelajaran tidak hanya melibatkan pemahaman informasi, tetapi juga bagaimana
individu terlibat sepenuhnya secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran, membuka
diri terhadap pengalaman baru, dan berpikir dengan cara yang lebih terbuka dan fleksibel.
2. Bermakna
Pembelajaran bermakna terjadi ketika peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya
secara kontekstual. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/
penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan.
Kemampuan ini mendukung retensi jangka panjang. Pembelajaran terkoneksi dengan
lingkungan peserta didik membuat mereka memahami siapa dirinya, bagaimana
menempatkan diri, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi kembali. Konsep
pembelajaran yang bermakna melibatkan peserta didik dengan isu nyata dalam konteks
personal/ lokal/ nasional/ global. Pembelajaran harus melibatkan orang tua, masyarakat, atau
komunitas sebagai sumber pengetahuan praktis, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab
dan kepedulian sosial.
Pembelajaran bermakna akan lebih efektif jika informasi baru yang dipelajari dapat
dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman yang sebelumnya sudah dimiliki oleh siswa.
Pembelajaran Mendalam memiliki prinsip pembelajaran bermakna karena mengutamakan
pemahaman materi secara menyeluruh, tidak sekedar menghafal.
3. Menggembirakan
Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang,
menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik
terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan
pengetahuan. Ketika peserta didik menikmati proses belajar, motivasi intrinsik mereka akan
tumbuh, mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan keterlibatan aktif. Dengan demikian,
pembelajaran membangun pengalaman belajar yang berkesan. Bergembira dalam belajar
juga diwujudkan ketika setiap peserta didik merasa nyaman, peserta didik terpenuhi
kebutuhannya seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan
kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri.
menekankan bahwa pembelajaran relevan dengan kehidupan nyata individu dan
mengutamakan pembelajaran yang aktif serta pengalaman langsung baik secara emosional
maupun intelektual. Pembelajaran yang menggembirakan fokus pada emosi yang positif
yang berhubungan dengan proses pembelajaran termasuk rasa ingin tahu, semangat, dan
motivasi.
Ketiga prinsip pembelajaran tersebut di atas dilaksanakan melalui olah pikir, olah hati, olah
rasa dan olah raga.
Pengalaman Belajar
[Link]
Mengetahui dalam pendekatan PM adalah fase awal pembelajaran yang bertujuan membangun
kesadaran peserta didik terhadap tujuan pembelajaran, mendorong peserta didik untuk aktif
mengkonstruksi pengetahuan agar peserta didik dapat memahami secara mendalam konsep atau
materi dari berbagai sumber dan konteks
[Link]
Mengaplikasi merupakan pengalaman belajar yang menunjukkan aktivitas peserta didik
mengaplikasikan pengetahuan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik
pada tahapan memahami diaplikasikan sebagai proses perluasan pengetahuan. Tahapan ini
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan baik secara
individu maupun kolaboratif.
[Link]
Merefleksi merupakan proses saat peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil
dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Refleksi ini bertujuan untuk
memahami sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai, serta mengeksplorasi kekuatan, tantangan,
dan area yang perlu diperbaiki.
Kerangka pembelajaran
1. Praktik Pedagogis Praktik pedagogis merujuk pada strategi mengajar yang dipilih guru
untuk mencapai tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan. Untuk
mewujudkan PM guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik,
mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan
kolaborasi. Strategi yang dapat digunakan seperti Pembelajaran Berbasis Proyek
2. Kemitraan pembelajaran Kemitraan pembelajaran membentuk hubungan yang dinamis
antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan mitra profesional.
3. Lingkungan Pembelajaran Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi antara ruang
fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk mendukung PM. Ruang fisik dan virtual
dirancang fleksibel sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi, dan
berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik dengan
optimal
4. 4 Pemanfaatan Teknologi Digital Pemanfaatan teknologi digital juga memegang peran
penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif,
kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang
menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik