1
Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Volume 10, Nomor 2, Tahun 2024, ISSN: 2579-9282
[Link]
Penerapan Model Problem Based Learning pada Materi Ekosistem untuk
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa
Vifty Octanarlia Narsan
Institut Agama Islam Negeri Metro
Jalan Ki Hajar Dewantara 15A, Iringmulyo, Kota Metro
viftyoctanarlianarsan@[Link]
Idir Sudirman
Sekolah Dasar Negeri 1 Purajaya
Jalan Raya Bungin, Purajaya, Kabupaten Lampung Barat
sudirman.idir70@[Link]
Received: 16/09/2024 Accepted: 25/12/2024
Revised: 14/10/2024 Publication: 28/12/2024
Abstrak
Keterampilan pada abad 21 yang perlu dikuasai oleh peserta didik antara lain
adalah keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kerja sama.
Keterampilan abad 21 ini menjadi penting karena dunia kerja menuntut adanya
perubahan kompetensi, dimana berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan
abad ke-21 yang penting untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa di kelas V Sekolah Dasar Negeri
1 Purwajaya, Lampung Barat dengan menggunakan model problem based learning.
Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. subjek penelitian yang
digunakan adalah siswa V Sekolah Dasar Negeri 1 Purwajaya, Lampung Barat
sebanyak 30 siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ekosistem.
Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data ialah lembar observasi, tes
tertulis dan dokumentsi. Hasil tes pada siklus I diperoleh persentase kriteria
berpikir kritis siswa sebesar 60% dan memperoleh peningkatan hasil belajar
sebesar 36,67% dibandingkan dengan prasiklus, 23,33% dan pada akhir siklus II
meningkat menjadi 86,66% yang di kategorikan sangat tinggi. S e h i n g g a d a p a t
d i s i m p u l k a n b a h w a penerapan model pembelajaran problem based learning
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
2
(PBL) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
Kata Kunci: Keterampilan Berpikir Kritis
A. Pendahuluan
Proses pembelajaran merupakan hal yang penting dalam dunia pendidikan
karena dengan pembelajaran manusia dapat menambah dan memperbarui ilmu
yang berguna bagi masa depannya (Huljanah dalam Maisaroh, Virani, & Vifty,
2023). Pada abad-21 saat ini, seorang guru dalam melakukan proses belajar
mengajar atau pembelajaran diharapkan mampu melakukan inovasi pembelajaran,
memiliki keterampilan mengajar yang mampu menyeimbangkan dengan kondisi
saat ini, mampu mendesain pembelajaran yang menarik, menyenangkan serta
bermakna dan lain-lain (Inayati, 2022). Pembelajaran pada abad 21 berbeda dengan
abad-abad sebelumnya karena tidak lagi dilakukan secara konvensional namun
secara modern dan berkembang. Dimana berpusatnya kegiatan pembelajaran pada
siswa (student centered) dan penekanan pada proses belajar yang bermakna adalah
poin utama dari proses pembelajaran pada abad-21. Peserta didik belajar secara
aktif dan mandiri dengan menguasai teknologi sebagai sarana belajar.
Memasuki kehidupan abad 21 terdapat beberapa keterampilan yang perlu di
kuasai oleh peserta didik. Menurut Narsan (2021) keterampilan yang perlu di
kuasai oleh peserta didik antara lain adalah keterampilan berpikir kritis,
memecahkan masalah, dan kerja sama. Keterampilan abad 21 ini menjadi penting
karena dunia kerja menuntut adanya perubahan kompetensi, dimana berpikir kritis
merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang sangat penting untuk
dikembangkan. Sedangkan menurut Maulidi dkk (2023) kegiatan mental seperti
memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi
dan melakukan penelitian ilmiah adalah proses dari berpikir kritis yang terarah dan
jelas. Selain sebagai cara menentukan solusi, keterampilan berpikir kritis juga
melatih peserta didik untuk menentukan alur alternatif solusi terhadap suatu
masalah tertentu (Suriati, Sundaygara, & Kurniawati., 2021) melalui berbagai
bagian. Facione (2020) menulis enam kategori keterampilan berpikir kritis, yaitu
interpretasi, analisis, evaluasi, pengambilan keputusan, penjelasan, dan pengaturan
diri. Selain berpikir kritis, peserta didik perlu mengetahui cara mengambil
keputusan yang tepat ketika menghadapi tantangan dan masalah..
Berdasarkan data dokumentasi prestasi belajar siswa kelas V pada SDN 1
Purajaya Lampung Barat, mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) menjadi
satu-satunya mata pelajaran yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimum
mata pelajaran. Hal tersebut dibuktikan dengan dokumentasi prestasi belajar
bahwa ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 26,08 % dari total populasi kelas.
Persentase tersebut dibandingkan dengan rata-rata nilai mata pelajaran yaitu
sebesar 54. Selain itu, berdasarkan observasi pembelajaran dan wawancara dengan
guru kelas, banyak faktor yang mempengaruhi hasil tersebut, antara lain: 1) fokus
pengajaran pada mata pelajaran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, 2)
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
3
kerangka pengajaran dalam RPP belum sesuai dengan konteks kebutuhan
pendidikan siswa, 3) evaluasi pembelajaran yang dilakukan menggunakan tipe soal
lower order thingking skills (LOTS).
Sehubungan dengan situasi ini, model dan perspektif pendidikan harus
berubah. Keterampilan belajar abad 21 dan kebutuhan belajar siswa sesuai konteks
menjadi aspek yang diejawantahkan oleh guru dan siswa. terlebih lagi, aspek
berpikir kritis menjadi hal penting untuk menganalisis konteks belajar yang sudah
dibawa oleh siswa. Menurut Isma dkk (2022) bahwa keterampilan berpikir kritis
dapat ditingkatkan dengan menyelesaikan soal-soal bertipe high order thingking
skills (HOTS) dengan mengaitkan kepada permasalahan yang open-minded sehingga
memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan analisis terbaiknya
Sulistyorini & Napfiah (2019).
Solusi dari urgensi permasalah di atas adalah dengan menggunakan model
problem based learning dalam pembelajaran IPA. Model problem based learning
menjadi faktor yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan
keterampilan abad 21. Hal ini sejalan dengan pendapat Ratnawati, dkk. (2020)
Model PBL sangat bermanfaat dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran
ilmu pengetahuan alam (IPA), karena dapat merangsang berpikir siswa untuk
memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata siswa, tidak hanya di dalam
kelas saja. Selain itu pendapat yang mendukung penggunaan model PBL dalam
pembelajaran IPA juga disampaikan dalam penelitian yang dilakukan Aji &
Mediatati (2021) yang menulis bahwa model pembelajaran berbasis masalah
mampu menciptakan kerangka berpikir kritis berdasarkan permasalahan
kontekstual yang dihadapi siswa.
Berdasarkan pemaparan masalah dan urgensi masalah di atas maka peneliti
memiliki asumsi bahwa model problem based learning diharapkan dapat
meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas V pada materi ekosistem.
B. Metode Penelitian
.Jenis penelitian pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Menurut Tampubolon (2014) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian
kolaboratif/partisipatif yang dilakukan oleh guru/pengajar di kelas masing-
masing untuk meningkatkan praktik guru terkait mutu proses pendidikan dan
meningkatkan hasil belajar siswa dari sudut pandang non-akademik melalui
praktik reflektif dalam bentuk siklus. Adapun subjek penelitian yang digunakan
adalah siswa V SD Negeri 1 Purajaya, Lampung Barat. Selanjutnya subjek
sebanyak 30 siswa, dan pada mata pelajaran IPA materi Ekosistem. Instrumen
yang dipakai untuk mengumpulkan data ialah lembar angket keterlaksaan model
pembelajaran, tes tertulis dan dokumentsi. Lalu hasil penelitian diolah memakai
analisis tes, análisis aktivitas guru dan siswa. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
4
1 Purajaya, Lampung Barat. Berikut ini rancangan penelitian yang dilakukan
peneliti.
Gambar 1. Bagan Rancangan Penelitoan Tindakan Kelas (Nurdin, 2016).
Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik tes dengan bentuk
soal uraian dengan jumlah 20 soal dan berlevel high order thinking skills (HOTS). Tes
tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu siklus I dan siklus II yang digunaka
saat post test. Hal tersebut untuk memperoleh hasil belajar yang mengarah pada
keterampilan berpikir kritis setelah siswa. Instrumen dan kategori tes
menggunakan kriteria kata kerja operasional level high order thinking skills (C4 dan
C5) sehingga diperoleh data yang merepresentasikan kemampuan siswa.
Berdasarkan data yang diperoleh dari jawaban post test tersebut, lalu data
tersebut dianalisi menggunakan statistik deskriptif kuantitatif untuk mencari
rata- rata nilai dan ketuntasan belajar. Hasil tersebut dikonversi berdasarkan
kriteria penilaian acuan patokan yang terdapat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Penilaian Acuan Patokan
Nomor Tingkat Penguasaan Kategori
1 85-100 Sangat Tinggi
2 70-84 Tinggi
3 55-69 Cukup
4 40-54 Rendah
5 0-39 Sangat Rendah
Sumber: (Narsan, 2022)
Model problem based learning (PBL) dapat dilakukan dengan langkah-
langkah, yaitu mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa
untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok,
mengembangkan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
5
pemecahan masalah. Salah satu upaya agar model PBL dapat berjalan dengan baik
adalah dengan menerapkan kebiasaan berpikir tingkat tinggi (HOTS) pada siswa
sejak SD. Keterampilan berpikir siswa berdasarkan HOTS (higher order thingking
skill) merupakan cara berpikir yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan
dengan menghafal atau mengutip orang lain. Dalam hal ini sekolah sebagai
lembaga pendidikan harus menghasilkan peserta didik yang memiliki
keterampilan berpikir kreatif, berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi (Syadiah
& Hamdu, 2020).
Teknik analisis data yang digunakan pada keterlaksanaan sintas model pembelajaran
problem based learning diukur menggunakan angket keterlasanaan sintaks problem based
learning dengan cara menghitug presentase sintaks-sintaks yang terlaksana selama
proses pembelajaran. Untuk menghitung prsentase dari tiap indikator, rumus yang
digunaan adalah:
Prsesentase yang serta didapatkan ini lewat konversi sejalan dari PAP jadi
empat golongan yang ditentukan pada penelitian sesuai atur tentang dan kategori
bisa diketahui dari tabel 2.
Tabel 2. Rentang dan Kategori Presentase Keterlaksanaan Sintaks Problem Based
Learning
Rentang Kategori
X ≥ 75% Sepenuhnya Terlaksana
50% ≤ X ˂ 75% Terlaksana
25% ≤ X ˂ 50% Sebagian Kecil Terlaksana
X ˂ 25% Belum Terlaksana
Sumber: (Agustinus, 2023)
C. Hasil dan Diskusi
Penelitian yang sudah dilakukan dari ke 30 siswa kelas V dengan rincian 7
siswa berjenis kelamin laki-laki dan 23 berjenis kelamin perempuan. Pengaruh
penerapan model problem based learning pada pembelajaran IPA materi Ekosistem
mendapatkan hasil kajian berupa data keterampilan berpikir kritis dan
keterlaksanaan model pembelajaran problem based learning diukur menggunakan
angket keterlaksanaan sintaks model pembelajaran problem based learning diisi oleh
3 orang responden..
Keterampilan berpikir kritis siswa yang diperoleh sebelum penelitian
hingga setelah penelitian dapat dilihat pada tabel 3.
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
6
Tabel 3. Rekapitulasi Keterampilan berpikir kritis, Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II
No Aspek Prasiklus Siklus I Siklus II
1 Jumlah Siswa 30 30 30
2 Jumlah Nilai 1230 1800 2490
3 KKM 75 75 75
4 Nilai Rata-rata 41 70 83
5 Nilai Tertinggi 78 86 91
6 Nilai Terendah 13 56 68
7 Jumlah Siswa Tuntas 7 18 26
8 Jumlah Siswa Tidak Tuntas 23 12 4
9 Persentase Ketuntasan 23,33 60 86,66
Belajar
1. Hasil Tindakan Siklus I
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada siklus I yaitu berupa tahap
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Setelah pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dilakukan pada siklus I, selanjutnya yaitu pemberian tes evaluasi
sebanyak 20 soal uraian yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan berpikir
kritis siswa. Berdasarkan hasil tes pada siklus I diperoleh data bahwa dari 30 siswa
di kelas V sebanyak 18 siswa memperoleh kategori nilai tuntas dan 12 siswa
memperoleh nilai tidak tuntas. Dengan nilai rata-rata siswa sebesar 70 dengan
persentase kriteria berpikir kritis siswa sebesar 60 %. Berdasarkan hasil tersebut,
diperoleh peningkatan hasil belajar sebesar 36,67% dibandingkan dengan prasiklus.
Adapun permasalahan yang dihadapi pada siklus I, yaitu: 1) Adanya
perbedaan tingkat kesukaran soal, yang semula C1-C3 diubah menjadi C4-C5, 2)
kepercayaan diri siswa belum maksimal untuk melatih keterampilan berpikir
kritis dalam menyelesaikan permasalahan yang disajikan melalui soal.
Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan solusi berupa: 1) kontekstualisasi
masalah yang disajikan pada soal perlu disajikan secara lebih konkret, dan 2) Perlu
pemberian motivasi dan semangat kepada siswa agar lebih percaya diri dalam
berpikir kritis menyelesaikan soal. Selanjutnya, perbaikan tersebut diterapkan
pada siklus II untuk melihat progress ketuntasan belajar siswa (Devi, Wibawa, I.
M. C., & Sudiandikal, 2021).
2. Hasil Tindakan Siklus II
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada siklus II yaitu berupa tahap
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Setelah pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dilakukan pada siklus II, selanjutnya yaitu pemberian tes evaluasi
yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan berpikir kritis siswa didapat hasil
bahwa dari 30 siswa di kelas V jumlah siswa yang memperoleh ketuntasan yaitu
sebanyak 26 siswa dan 4 siswa memperoleh nilai tidak tuntas. Dengan nilai rata-
rata siswa sebesar 83 dengan presentase kriteria berpikir kritis siswa sebesar
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
7
86,66% yang di kategorikan sangat tinggi. Telah mencapai kriteria ketuntasan
minimal yang telah ditentukan pada indikator pencapaian. Oleh karena itu peneliti
memutuskan untuk mengakhiri penelitian sampai pada siklus II.
Berdasarkan hasil tes evaluasi keterampilan berpikir kritis di atas terlihat
bahwa pada saat pratindakan yang didapat dari hasil ketuntasan belajar siswa yaitu
23,33% yang termasuk dalam kategori berpikir kritis siswa masih sangat rendah.
Kemudian setelah pemberian tindakan siklus I keterampilan berpikir kritis siswa
meningkat sebesar 60 % yang berkategori cukup dan pada siklus II meningkat
menjadi 86,66% yang memiliki kategori sangat tinggi. Berdasarkan hal ini
menunjukan adanya peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa di SD Negeri 1
Purajaya Lampung Barat yaitu sebesar 26,66% pada siklus II. Peningkatan hasil
belajar siswa kelas V tersebut menunjukkan bahwa melalui penggunaan model
problem based learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal
ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: 1) penerapan model pembelajaran
berbasis masalah dapat mengoptimalkan kinerja dan berpikir kritis siswa
(Maqbullah, Sumiati, & Muqodas, 2018) dengan memberikan umpan balik dari
teman sejawatnya (Oh, 2019) untuk memberikan pengalaman langsung dalam
memecahkan masalah dan pembelajaran (Andersen & Watkins, 2018). Selain itu
penerapan metode teman sebaya membantu mengurangi kecemasan dan stres
siswa dalam belajar (Devi, Wibawa, I. M. C., & Sudiandikal. 2021).
Kedua, model pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan dan
pengalaman otentik kepada peserta didik untuk memecahkan masalah dalam
urutan yang logis. Dengan menggunakan model ini, peserta didik dapat
mempertanggungjawabkan jawaban yang digunakan sebagai solusi dari
permasalahan yang disajikan (Wahyuni, Wibawa, & Renda, 2018). solusi dari
permasalahan yang disajikan tujuannya adalah agar peserta didik dapat lebih
memahami permasalahan yang diberikan.
Ketiga, keberhasilan belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah dipengaruhi oleh penggunaan model tergantung
pada langkah-langkah prosedur dalam modelnya, yaitu 1) memfokuskan contoh
pada masalah, 2) mengorganisasikan pembelajaran siswa, 3) mengembangkan
siswa ' pengalaman belajar. 4) menyiapkan presentasi hasil karya siswa dan 5)
menganalisis dan mengevaluasi solusi yang disampaikan siswa (Elizabeth &
Sigahitong, 2018). Dengan menggunakan sintaks model problem based learning yang
sesuai maka hasil output learning dari model problem based learning dapat
dimaksimalkan.
Keterlaksanaan model pembelajaran problem based learning diukur
menggunakan angket keterlaksanaan sintaks model pembelajaran problem based
learning diisi oleh 3 orang responden. Rerata presentase keterlaksanaan model
pembelajaran problem based learning dapat dilihat pada tabel 4.
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
8
Tabel 4. Keterlaksanaan Sintaks Problem Based Learning
Sintaks PBL Responden Rata-Rata
No
1 2 3 4
1. Orientasi Masalah 80% 70% 70% 85% 76,25%
2. Organisir peserta didik belajar 75% 75% 75% 80% 76,25%
3. Penyelidikan kelompok 90% 85% 90% 100% 91,25%
4. Mengembangkan dan menyajikan 100% 100% 100% 100% 100%
hasil karya
5. Menganalisis dan mengevaluasi 100% 100% 100% 100% 100%
penyelesaian masalah
Rerata Keterlaksanaan 90% 80% 85% 95% 88,75%
Berdasarkan tabel 4, keterlaksanaan sintaks model pembelajaran problem
based learning termasuk dalam kategori sepenuhnya terlaksana dengan nilai rata-
rata presentase sebesar 88,75%. Pada tahap satu dengan nilai rata-rata presentase
sebesar 76,25% masuk dalam kategori sepenuhnya terlaksana, tahap dua dengan
nilai rata-rata presentase sebesar 76,25% masuk dalam kategori sepenuhnya
terlaksana, tahap tiga dengan nilai rata-rata presentase sebesar 91,25% masuk
dalam kategori sepenuhnya terlaksana, tahap empat dengan nilai rata-rata
presentase sebesar 100% masuk dalam kategori sepenuhnya terlaksana, tahap
lima dengan nilai rata-rata presentase sebesar 100% masuk dalam kategori
sepenuhnya terlaksana.
D. Simpulan
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kerjasama siswa melalui
permasalahan nyata yang disajikan guru dengan orientasi masalah yang bersifat
kontekstual. Permasalahan yang berkaitan dengan kontekstual dapat merangsang
rasa ingin tahu siswa, menstimulus keterampilan berpikir kritis dan kerja sama
siswa. Untuk penelitian selanjutnya baik dilakukan pada materi lain, seperti
pencemaran lingkungan dan keanekaragaman hayati.
E. Ucapan Terima Kasih
Penulis ucapkan terimakasih kepada keluarga besar SDN 1 Purawajay yang
telah memberi kesempatan dan bantuan dalam proses perizinan dan kegiatan
penelitian ini, khususnya pada wali kelas dan tim guru kelas V SDN 1 Purwajaya
Lampung Barat. Selain itu penulis ucapkan terimakasih kepada rekan dosen yang
bersedia menjadi validator media dan materi dalam membuat dan memvalidasi
instrument penelitian.
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
9
F. Pernyataan Kontribusi Penulis
Penelitian ini dilakukan oleh VON selaku penulis utama dibantu oleh IS
selaku penulis kedua. Penelitian ini tidak dapat diselesaikan tanpa kerjasama dari
berbagai pihak, sehingga kontribusi peneliti sangat penting dalam penelitian ini.
G. Referensi
Aji, S. B., & Mediatati, N. (2021). Penerapan Problem Base Learning Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu
Pendidikan, 3(5), 2734–2740. [Link]
Agustinus, M. D., Yusuf, M., & Subagya. (2023). Model Pembelajaran PBL Berbasis
PT-LS terhadap Penguasaan Konsep dan Keterampilan Proses Sains. Journal of
Education Action Research, 7(2), 291.
Andersen T., & Watkins K. (2018). The Value of Peer Mentorship as an Educational
Strategy in Nursing. J Nurs Educ. 57(4): 217-224.
[Link]
Devi, K. S. T., Wibawa, I. M. C., & Sudiandika, I. K. A. (2021). Penerapan Model
Pembelajaran Group Investigation untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas V. Mimbar Ilmu, 26(2), 233.
[Link]
Elizabeth, A., & Sigahitong, M. M. (2018). Pengaruh Model Problem Based Learning
terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik SMA. Prisma Sains :
Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram,
6(2), 66. [Link]
Facione, P. A., & Llc, M. R. (2020). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts.
Critical Thinking. University of Alabama at Birmingham.
Inayati, U. 2022. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran
Abad-21 di SD/MI. International Conference on Islamic Education. 2. 293-304.
[Link]
Isma, T. W., Putra, R., Wicaksana, T. I., Tasrif, E., & Huda, A. (2022). Peningkatan
Hasil Belajar Siswa melalui Problem Based Learning (PBL). Jurnal Imiah
Pendidikan dan Pembelajaran, 6(1), 155.
[Link]
Maisaroh. D, Virani. R. K, & Vifty. O. N. 2023. Pengaruh Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learningterhadap Keterampilan Kerjasama
Dan Hasil Belajar Peserta Didikpada Mata Kuliah Genetika. Al-Jahiz: Journal
of Biology Education Research. 4 (2). [Link]
jahiz.v4i2.7596.
Maulidia. L, Tia. N, Ahmad. R, Monry F. N, & Eva. M. S. 2023. Analisis
Keterampilan Abad Ke 21 melalui Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar
di SMA Negeri 2 Bajarsari. Seminar Nasional (PROSPEK II).
[Link]
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license
10
Maqbullah, S., Sumiati, T., & Muqodas, I. (2018). Penerapan Model Problem Based
Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Metodik Didaktik, 13(2), 106 112.
[Link]
Narsan, V. O. (2021). Penerapan Metode Field Trip Berbasis Cooperative Learning
Terhadap Keterampilan Kerjasama Siswa. Al-Jahiz: Journal of Biology
Education Research. 2 (2). 172-183. [Link]
jahiz.v2i2.4262
Narsan, V. O. (2022). Pengaruh Model Problem Based Learning (Pbl) Terhadap
Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Kerjasama Peserta Didik Pada Mata
Kuliah Telaah Biologi. Journal of Biology Education Research. 3 (2). 118-132.
[Link]
Nurdin, Syafruddin. (2016). Guru Profesional dan Pebelitia Tindakan Kelas. Jurnal
Educative: Journal of education Studies, 1(1), 1-
[Link]://[Link]/[Link]/educative/article/vie
w/118.
Oh, E. (2019). Research on the Effective of Peer Instruction and Students’
Involvement. Asia-Pacific of Multimedia Services Convergent with Art
Humanities, and Sociology, 9, 199–208. [Link]
Ratnawati, Dewi, Isnaini Handayani, dan Winda Hadi. (2020). Pengaruh Model
Pembelajaran PBL Berbantuan Question Card terhadao Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP. Edumatica: Jurnal Pendidikan
Matematika, 10(1), 44-51. [Link]
Suriati, A., Sundaygara, C., & Kurniawati, M. (2021). Analisis Kemampuan Berpikir
Kritis Pada Siswa Kelas X SMA Islam Kepanjen. Rainstek Jurnal Terapan Sains
dan Teknologi, 3(3), 176–185. [Link]
Sulistyorini, Y., & Napfiah, S. (2019). Analisis Kemampuan Berpikir Kritis
Mahasiswa Dalam Memecahkan Masalah Kalkulus. Aksioma: Jurnal Program
Studi Pendidikan Matematika, 8(2), 279.
[Link]
Syadiah, A. N., & Hamdu, G. (2020). Analisis Rasch untuk Soal Tes Berpikir Kritis
pada Pembelajaran STEM di Sekolah Dasar. Jurnal Premier Educandum: Jurnal
Pendidikan Dasar dan Pembelajaran, 10(2), 138-148.
[Link]
Tampubolon, M Saur. 2014. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi
Pendidik dan keilmuan. Jakarta: Erlangga.
Wahyuni, N. L. P. W., Wibawa, I. M. C., & Renda, N. T. (2018). Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Berbantuan Asesmen
Kinerja terhadap Keterampilan Proses Sains. International Journal of
Elementary Education, 2(3), 202. [Link]
Copyright Ó 2024, Author/s
This is an open acces article under the CC-BY-SA license