JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
Journal homepage: [Link] ISSN: 2722-9203 (media online/daring)
OPTIMASI POLA TANAM DAN EVALUASI SALURAN PADA DAERAH
IRIGASI SARANGAN KABUPATEN MADIUN DENGAN METODE LINEAR
Althaf Aulia1, Agus Suhardono2, Ayisya Cindy Harifa3
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang1 , Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang2 , Dosen Jurusan
Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang3
Email: althafaulia26@gmail.com1, agussuhardono66@gmail.com2 , ayisya_civil@[Link].id3
ABSTRAK
Jaringan Daerah Irigasi Sarangan seluas 1.273 ha mengandalkan ketersediaan air dari Sungai Sarangan yang hulunya berada di
bangunan pelimpah Waduk Dawuhan. Jaringan irigasi ini mengalir ke beberapa areal persawahan di desa-desa di Kecamatan
Wonoasri, Balerejo, dan Madiun. Pada musim kemarau bulan Mei - Oktober Waduk Dawuhan sering mengalami kekurangan
air sehingga menyebabkan kekeringan dan menimbulkan masalah di bidang pertanian. Tujuan dari tugas akhir ini adalah
untuk mencari debit andalan di Daerah Irigasi Sarangan, menentukan kebutuhan air untuk setiap alternatif pola tanam,
membandingkan ketersediaan dan kebutuhan air, mencari luasan optimal, menentukan keuntungan dari optimasi pola tanam,
dan mengevaluasi saluran eksisting. Data yang diperlukan adalah limpasan waduk, curah hujan, klimatologi, rencana tata
tanam global, analisis keuntungan pertanian, skema jaringan irigasi, dan dimensi saluran eksisting. Pemrograman linier yang
digunakan menggunakan Add-in solver pada perangkat lunak Excel dengan fungsi tujuan keuntungan maksimum dan fungsi
kendala adalah ketersediaan air dan ketersediaan area. Dari penilitian ini didapat debit andalan 0 liter/detik debit terkecil pada
bulan September periode I hingga Desember periode I, dan 19,246 liter/detik debit terbesar pada bulan Februari periode II;
kebutuhan air pada pola tanam alternatif 2 dimulai dari tanaman padi periode I bulan November 61,32 liter/detik/ha untuk
padi; 82 liter/detik/ha untuk palawija; 12,80 liter/detik/ha untuk tebu; neraca air pola tanam alternatif 2 menunjukan 15
periode surplus dan 21 periode defisit; luas tanam optimum pola tanam alternatif 2 untuk padi 2.244 ha; palawija 324,47 ha;
tebu 5 ha dengan keuntungan maksimum Rp [Link],97. Berdasarkan hasil analisis, kondisi saluran eksisting masih
layak untuk digunakan.
Kata kunci : irigasi, pola tanam, program linear, saluran
ABSTRACT
1,273-ha Sarangan Irrigation Area (SIA) network relies on the availability of water from Sarangan River with the upstream
river in the dawuhan reservoir spillway building. This irrigation network flows to several rice fields in villages in Wonoasri,
Balerejo, and Madiun Sub-districts. In dry season from May - October Dawuhan Reservoir often experiences water lack
leading to drought and causes problems in agriculture. The purpose of this thesis is to find the mainstay discharge of SIA, to
determine water demand for each alternative cropping pattern, to compare the water supply and demand, to find the optimum
area, to determine the profit of cropping pattern optimization, and to evaluate existing channels. The required data were of
reservoir runoff, rainfall, climatology, global cropping plan, agriculture profit analysis, irrigation network scheme, and
existing channel dimension. Linear programming supported by Add-in solver in Excel software with the objective function of
maximum profit and the constraint function is the water availability and area availability. Here are the findings: 0 liter/sec
the smallest discharge in September period I to December Period I, and 19.246 liter/sec the biggest in February period II;
61.32 liter/sec/ha water demand in alternative cropping pattern 2 starting from November period I rice crop; 4.82 liter/sec/ha
secondary crops; 12.80 liter/sec/ha sugarcane; 15 surplus periods and 21 deficit periods; 2,244ha cropping area of rice;
324.47ha secondary crops; 5ha sugarcane crop with a maximum profit of Rp 64,178,778,133.97. According to the analysis,
the condition of the existing channel is still feasible to use.
Keywords : irrigation, cropping pattern, linear programming, Channels
190
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
1. PENDAHULUAN 2009). Debit minimum sungai yang kemungkinan terpenuhi
Kabupaten Madiun merupakan sebuah kabupaten di yang dapat dipakai untuk irigasi ditetapkan 80% yang
Provinsi Jawa Timur, dengan ibu kota kabupaten di Kota artinya kesempatan kemungkinan debit sungai lebih rendah
Caruban. Memiliki 744.350 jiwa jumlah penduduk menurut dari debit andalan adalah 20% (Standar Perencanaan Irigasi
BRS SP2020 dengan mata pencaharian salah satunya KP-01 2013). Debit andalan 80% dapat diketahui salah
bertani. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1010.86 km2. satunya dengan Metode Tahun Dasar Perencanaan, dengan
Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten pengurutan data terkecil hingga terbesar dan dapat dilihat di
Bojonegoro di utara, Kabupaten Nganjuk di timur, urutan ke berapa melalui rumus perhitungan sebagai
Kabupaten Ponorogo di selatan, dan Kabupaten Ngawi serta berikut:
Kabupaten Magetan di barat. (1)
Sektor pertanian di Indonesia merupakan salah satu Keterangan :
sektor yang penting bagi ekenomi dan kebutuhan pangan Q80 = Debit andalan 80%
bagi penduduknya, dikarenakan Indonesia memiliki iklim n = Jumlah tahun pengamatan
tropis, yakni musim hujan dan musim kemarau. Dua musim 5 = Didapat dari (100/((100-80))) yang mana 80
tersebut mempengaruhi pemberian air irigasi. Seperti di adalah angka penetapan debit andalan yang
Kabupaten Madiun yang memiliki potensi pertanian pada kemungkinan terpenuhi untuk irigasi.
tumbuhan padi, palawija, dan tebu dengan daerah irigasi
yang tersebar di Kabupaten Madiun. Curah Hujan Andalan
Salah satunya di Daerah Irigasi Sarangan, memiliki luas Curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul
baku sawah sebesar 1273 ha. Jaringan irigasi ini dalam penakar hujan pada tempat datar, tidak menyerap,
mengandalkan ketersediaan air dari Kali Sarangan dengan tidak meresap dan tidak mengalir. Unsur hujan 1 milimeter
hulu sungai di bangunan spillway waduk dawuhan. Jaringan artinya dalam luasaan satu meter persegi pada tempat yang
irigasi ini mengalirkan ke beberapa petak sawah di desa datar tertamping air hujan setinggi satu millimeter atau
yang ada pada Kecamatan Wonoasri, Balerejo, dan Madiun tertampung air hujan sebanyak satu liter
dengan panjang saluran induk sepanjang 4.41 km dan ([Link]).
saluran pembawa sepanjang 19.16 km (e-PAKSI).
Saat musim kemarau datang di sekitar bulan mei hingga Evaporasi dan Transpirasi
oktober Waduk Dawuhan sering mengalami penyusutan air Evaporasi diartikan dengan perubahan air menjadi uap
hingga kekeringan, sehingga berimbas kepada hasil panen dan berpindahnya dari permukaan tanah serta permukaan air
yang kurang maksimal di Daerah Irigasi Sarangan ke udara, sedangkan transpirasi adalah menguapnya air ke
dikarenakan kekurangan air di lahan pertanian. Untuk udara yang telah dihisap tanaman dari dalam tanah, bila
meminimalisir kerugian akibat kurangnya pemberian irigasi, evaporasi dan transpirasi terjadi bersamaan, maka disebut
maka di lakukan pengoptimasiaan pola tanam dengan evapotranspirasi (Oktaviansyah dkk,. 2021). Ada banyak
beberapa alternatif pola tanam dan luasan optimal per jenis metode perhitungan untuk mendapatkan evapotranspirasi,
tanaman yang akan ditanami, yang diharapkan nantinya salah satunya menggunakan metode Penman modifikasi
dapat memaksimalkan mendapat dari hasil panen pertanian. FAO yang membutuhkan data klimatologi meliputi rata-rata
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jumlah presentase harian jam saing hari tahunan, dan suhu rata-rata,
debit andalan, kebutuhan air untuk setiap pola tanam dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
eksisting dan alternative, menganalisa perbandingan ( ) ( )( ) (2)
ketersediaan air dan kebutuhan air, mengetahui luas lahan Keterangan :
optimal yang ditanami, mengetahui nominal keuntungan ETo = Evapotranspirasi potensial
optimal dari optimasi tanam, mengevaluasi saluran eksisting C = Angka faktor koreksi Metode Penman yang
apakah dapat menunjang optimasi pola tanam serta diakibatkan pergantian siang dan malam
merencanakan solusi saluran untuk optimasi pola tanam bila W = Faktor yang berpengaruh terhadap penyinaran
diperlukan. matahari
f(u) = fungsi pengaruh kecepatan angin pada ketinggian
2. METODE 2 meter pada evapotranspirasi potensial
Debit Andalan ea = tekanan uap air jenuh
Debit andalan adalah debit tersedia sepanjang tahun ed = tekanan uap air nyata
dengan besarnya risiko kegagalan tertentu (Montarcih, L.
191
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
Tabel 1. Faktor koreksi Metode Penman Keterangan :
Bulan C Bulan C IR = Kebutuhan air irigasi di tingkat sawah
Januari 1.10 Juli 1.00 M = Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air
Februari 1.10 Agustus 1.00 akibat evapotranspirasi
Maret 1.00 September 1.10 E = Nilai eksponensial (2,71828)
April 1.00 Oktober 1.10 k = M x T/S
Mei 0.9 November 1.10 S = Kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah
Juni 0.90 Desember 1.10 dengan lapisa air 50 mm
Sumber: Suhardjono : 1994)
Pengganti Lapisan Genangan Air
Kebutuhan Air Konsumtif Dalam penggantian lapisan air, dianjurkan untuk
Kebutuhan air konsumtif atau bisa disebut menjadwalkan dalam mengganti lapisan air sesuai
evapotranspirasi corp adalah banyaknya air yang digunakan kebutuhan. Apabila tidak ada penjadwalan maka dilakukan
untuk penguapan dari permukaan air atau tanah dan yang pergantian sebanyak 2 kali sebesar 50mm atau (3.3 mm/hari
digunakan tanaman untuk menjalankan proses-proses selama 0.5 bulan) dalam sebulan dan dua bulan setelah
biologisnya seperti fotosintesi, transpirasi, dan pembentukan transplantasi (Standar Perencanaan Irigasi KP-01 2013).
buah atau proses pembangunan jaringan tumbuhan lainya
(Blaney, H.F. & Criddle, W.D., 1962). jumlah kebutuhan air Curah Hujan Efektif
konsumtif dapaat diketahui melalui rumus sebagai berikut : Perhitungan curah hujan efektif diperuntukan untuk
(3) menghitung berapa jumlah air dari huja yang dapat
Keterangan : dimanfaatkan seperti diterima langsung oleh tanaman dalam
ETc = Evapotranspirasi crop memenuhi kebutuhan air (Standar Perencanaan Irigasi KP-1
Kc = Koefisien tanaman 2013). Curah hujan efektif dapat diketahui melalui
Eto = Evapotranspirasi potensial perhitungan berikut :
(5)
Perkolasi
(6)
Perkolasi dapat diartikan dengan mengalirnya air dalam
tanah secara vertical akibat grafitasi. Perkolasi terjadi ketika (7)
kapasitas lapang sudah terlampau. Beberapa faktor yang Keterangan :
mempengaruhi proses perkolasi antara lain sifat fisik, Repadi = Curah hujan efektif untuk tanaman padi
kedalaman muka air tanah, lengas tanah, kapasitas lapang Repalawija = Curah hujan efektif untuk tanaman palawija
tanah, kapasitas tanah (Yendri dkk,. 2019). Retebu = Curah hujan efektif untuk tanaman tebu
Tabel 2. Nilai Perkolasi R80 = Curah hujan andalan 80%
Jenis Tanah Nilai Perkolasi
Sandy Loam 3 – 6 mm/hari Kebutuhan Air di Sawah
Loam 2 – 3 mm/hari Kebutuhan air irigasi merupakan junlah total air yang
Clay Loam 1 – 2 mm/hari dibutuhkan untuk menutupi kebutuhan evapotranspirasi,
Sumber: KP-01:2013 kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan
memperhitungkan jumlah air yang bersumber dari hujan
Penyiapan Lahan maupun air tanah.
Menurut Standart Perencanaan Irigasi KP-01 2013 ada (8)
beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya kebutuhan air Keterangan :
dalam penyiapan lahan, yakni : NFR = Kebutuhan air bersih di sawah
1. Lama waktu untuk penyiapan lahan. ETc = Kebutuhan air konsumtif
2. Jumlah air yang dibutuhkan dalam penyiapan P = Perkolasi
lahan. Pd = Kebutuhan air untuk penyiapan lahan
Besarnya kebutuhan air dapat diperhitukan WLR = Pengganti lapisan genangan air
menggunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Re = Curah hujan efektif
Goor dan zijlstra (1968) dengan rumus sebagai berikut:
( ) (4) Efisiensi Irigasi
192
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
Menurut Standart Perencanaan Irigasi KP 03 tahun (13)
2013, kehilangan air yang terjadi umumnya 12.5 – 20% di Keterangan :
petak tersier, dan 5-10% di saluran primer dan sekunder. Ca = Kebutuhan air irigasi padi (ltr/dtk/ha)
(9) Cb =Kebutuhan air irigasi tanaman palawija
(ltr/dtk/ha)
Keterangan :
Cc = Kebutuhan air irigasi tanaman tebu (ltr/dtk/ha)
Q = Kebutuhan air di saluran pembawa
V = Ketersediaan Air
NFR = Kebutuhan air di sawah
X = Luas lahan irigasi (ha)
etotal = effisiensi saluran total
Xa = luas lahan yang ditanami padi (ha)
et = efisiensi di petak tersier
Xb = luas lahan yang ditanami Palawija (ha)
es = efisiensi saluran di saluran sekunder
Xc = luas lahan yang ditanami Tebu (ha)
ep = efisiensi saluran di saluran primer
m = variable musim
Tabel 3. Harga efisiensi saluran
t = total
Saluran Efisensi
l = batasan
Petak Tersier 80 – 87.5%
Saluran Sekunder 80 – 87.5%
Saluran Irigasi
Saluran Primer 90 – 95%
Menurut Standart Perencanaan Irigasi KP-03 2013
Total Efisiesnsi 65 – 79 %
dalam merencanakan ruas, digunakan rumus manning untuk
Sumber: KP-03:2013
mengetahui kecepatan aliran dan debit saluran dengan
rumus sebagai berikut :
Optimasi Pola Tanam
Optimasi bisa diartikan sebagai proses pengoptimalan (14)
pemanfaatan potensi dari sebuah asset, dimana dapat
Keterangan :
menghasilkan manfaat yang lebih atau juga mendatangkan
Q = Debit air saluran
pendapatan (Ula, M. 2014)
V = Kecepatan aliran saluran
Dalam pengoptimasian dapat menggunakan cara salah
A = Luas penampang basah saluran
satunya dengan Program Linear yang memiliki 2 fungsi
n = koefisien kekasaran manning
yakni :
R = Jari – jari hidrolis
1. Fungsi objektif
I = Kemiringan dasar saluran
Fungsi objektif atau fungsi tujuan disini merupakan
Untuk Froude, perhitungan bilangan ini penting apabila
persamaan fungsi linear dari variable tujuan, seperti
dipertimbangkan pemakaian kecepatan aliran dan
pendapatan, keuntungan, atau biaya (Susdarwono, E.T.
kemiringan yang tinggi. Untuk aliran yang stabil Froude
2020). Fungsi objektif bisa saja bertujuan untuk mencari
harus kurang dari 0,55 untuk aliran sub kritis atau lebih dari
hasil maksimum atau minimum. Bila diterapkan kedalam
1,40 untuk aliran superkritis. (Standar Perencanaan Irigasi
penelitian ini maka menjadi sebagai berikut :
KP-0 2013).
(10)
Keterangan : ( ) (15)
Z = Fungsi Objektif (keuntungan maksimum hasil Keterangan :
pertaninan) (Rp) Fr = Bilangan Froude
Zn = Keuntungan bersih lahan (Rp/ha) V = Kecepatan Aliran Saluran (m/dtk)
Xn = Luas lahan irigasi (ha) G = Percepatan Gravitasi (9.81 m/dtk)
2. Fungsi Kendala A = Luas Penampang Basah
Fungsi kendala atau fungsi batasan digambarkan sebagai T = Lebar Atas Muka Air
batasan yang dihadapi dalam mencapai fungsi objektif,
terdiri dari beberapa persamaan yang masing – masing
berkorelasi dengan sumber daya yang tersedia (Susdarwono,
E.T. 2020). Bila diterapkan kedalam penelitian ini maka
akan menjadi persamaan sebagai berikut :
(11)
(12)
193
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
Gambar 3. Kebutuhan Air Di Saluran Pembawa Tanaman
Palawija (l/dtk/ha)
Sumber: Perhitungan.
Gambar 1. Flowchart.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kebutuhan Air di Saluran Pembawa
Pada umumnya terjadi kehilangan air di saluran jaringan
irigasi evaporasi maupun perembesan sesuai dengan kondisi
fisik saluran, untuk itu diperlukan pembagian kebutuhan air Gambar 4. Kebutuhan Air Di Saluran Pembawa Tanaman
bersih disawah dengan efisiensi saluran untuk memenuhi Tebu (l/dtk/ha)
kebutuhan air akibat kehilang air di saluran pembawa Sumber: Perhitungan.
Optimasi Pola Tanam Linear Programing
Melihat dari total ketersediaan air melalui debit andalan
setiap musim tanam, dalam pengoptimasian pola tanam
penelitian ini menggunakan beberapa alternatif pola tanam
yang mengacu pada rencana tata tanam global eksisting,
dengan pola tanam padi-padi-palawija tebu tetapi merubah
jadwal awal tanamnya, yaitu :
1. Pola tanam alternatif 1 dengan awal tanam bulan
Oktober periode 2
2. Pola tanam alternatif 2 dengan awal tanam bulan
November periode 1
Gambar 2. Kebutuhan Air Di Saluran Pembawa Tanaman Dengan luas tanam total 1127 ha menurut data UPT PU
Padi (l/dtk/ha) Sumberdaya Air Korwil madiun, untuk palawija hanya
Sumber: Perhitungan.
ditanam pada musim tanam 3 dengan batasan tanam 607 ha,
serta tanaman tebu di tanam di sepanjang tahun dengan
batasan tanam 5 ha.
Tabel 4. Biaya Produktifitas Tanaman Padi Per Hektar
Uraian Volume Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
Biaya Produksi per Ha Rp 15.736.000
194
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
Bibit 40 Kg Rp 12.500 Rp 500.000
Pupuk organic 300 Kg Rp 500 Rp 150.000
(ha) (ha)
Urea (Subsidi) 150 Kg Rp 2.300 Rp 345.000 Eksisting 1262.01 607.00 5.00
Urea (Non subsidi) 50 Kg Rp 10.000 Rp 500.000
NPK (Subsidi) 100 Kg Rp 2.300 Rp 230.000 Alternatif 1 1344.36 607.00 5.00
NPK (Non subsidi) 100 Kg Rp 8.000 Rp 800.000
ZA 75 Kg/lt Rp 4.500 Rp 337.500
Alternatif 2 2244.00 324.47 5.00
Pestisida 5.2 Kg/lt Rp 230.000 Rp 1.196.000 Sumber: Perhitungan.
Herbisida 25 Oh Rp 27.500 Rp 687.500
Pemopok galeng 14 Ha Rp 80.000 Rp 1.120.000 Pada pola tanam alternatif 1 setelah di optimasi terdapat
Traktor 1 Oh Rp 1.200.000 Rp 1.200.000 peningkatan luas lahan sebesar 82.35 ha tanaman padi lebih
Pembibitan 15 Oh Rp 80.000 Rp 1.200.000
Penanaman 25 Oh Rp 60.000 Rp 1.500.000 besar dari pola tanam eksisting, sedangkan pola tanam
Penyulaman 4 Oh Rp 60.000 Rp 240.000
Pemupukan 8 Oh Rp 60.000 Rp 480.000 alternatif 2 terjadi peningkatan sebesar 981.99 ha tanaman
Penyiangan 15 Oh Rp 80.000 Rp 1.200.000 padi dan penurunan 282.53 tanaman palawija.
Penyemprotan 20 Oh Rp 80.000 Rp 1.600.000
Pemanen 1 Ha Rp 2.450.000 Rp 2.450.000 Tabel 7. Rekap Total Keuntungan Tiap Pola Tanam
Hasil Produksi per Ha Rp 42.000.000
Panen 7000 Kg Rp 6.000 Rp 42.000.000
Pola Tanam Total Keuntungan
Keuntungan Rp 26.264.000 Eksisting Rp [Link],41
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Alternatif 1 Rp [Link],89
Tabel 5. Keuntungan Hasil Usaha Tani
Alternatif 2 Rp [Link],97
Tanaman Keuntungan per Hektar
Sumber: Perhitungan.
Padi Rp 26.264.000,00
Maka didapatkan pola tanam alternatif 2 yang memiliki
Jagung Rp 15.209.000,00
keuntungan yang paling maksimal adalah sebesar Rp
Tebu Rp 61.500.000,00
[Link],97 dengan selisih Rp [Link],55
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Madiun dari pola tanam eksisting yang hanya memiliki keuntungan
Dengan contoh model matematika optimasi linear Rp [Link],41.
programing pada pola tanam eksisting sebagai berikut :
a. Fungsi Tujuan
Evaluasi Saluran
Zmax = Z1 + Z2 + Z3
Evaluasi saluran dalam penelitian ini ditujukan untuk
Z1 = (Rp26.264.000*Xa) + (Rp15.209.000*Xb)
memastikan kondisi saluran eksisting dapat melayani
+(Rp61.500.000*Xc) (11)
beberapa optimasi pola tanam, seperti debit kapasitas
Z2 = (Rp26.264.000*Xa) + (Rp15.209.000*Xb)
tampung, kecepatan saluran, serta angka Froude dari
+(Rp61.500.000*Xc) (11)
saluran.
Z3 = (Rp26.264.000*Xa) + (Rp15.209.000*Xb)
Pada penelitian ini perhitungan evaluasi saluran
+(Rp61.500.000*Xc) (11)
menggunakan tinggi jagaan yang lebih besar dari tinggi
Fungsi Kendala
jagaan minimum Standar Perencanaan Irigasi Kp – 03 2013,
Ketersediaan air
sehingga berdampak menurunnya muka air saluran agar
Musim Tanam I
kecepatan aliran memenuhi kriteria, maka didapatkan hasil
(Ca1* Xa)+(Cb1* Xb)+(Cc1* Xc) 1450 (12)
evaluasi saluran eksisting masih memenuhi untuk di
Musim Tanam II
gunakan dalam menunjang optimasi pola tanam.
(Ca2* Xa)+(Cb2* Xb)+(Cc2* Xc) 54392 (12)
Musim Tanam III 4. KESIMPULAN
(Ca2* Xa)+(Cb2* Xb)+(Cc2* Xc) 4080 (12) Berdasarkan pengolahan data, analisa perhitungan dan
Ketersediaan Luas optimasi pola tanam di Daerah Irigasi Sarangan pada
Xa+Xb+Xc 275 (13) penelitian ini, didapatkan beberapa kesimpulan antara lain:
Xa+Xb+Xc 141 (13) 1. Debit andalan yang ada di Daerah Irigasi Sarangan
Xa+Xb+Xc 153 (13) memiliki debit paling terkecil 0 l/dtk pada bulan
Xa+Xb+Xc 198 (13) September periode I hingga Desember Periode I, dan
Xa+Xb+Xc 201 (13) yang terbesar 19246 l/dtk pada bulan Februari
Xa+Xb+Xc 47 (13) Periode II
Xa+Xb+Xc 112 (13) 2. Kebutuhan air dari setiap tanaman per pola tanam
Perhitungan diatas diselesaikan menggunakan bantuan dalam total seluruh musim sebagai berikut :
Add-in Solver yang ada pada software Microsoft Excel. a. Pola tanam eksisting dengan awal tanam bulan
Tabel 6. Rekap Luas Tanam Optimal Tiap Pola Tanam September periode III = padi 61.20 l/dtk/ha,
Pola Tanam Padi (ha) Palawija Tebu Palawija 3.95 l/dtk/ha, tebu 13.05 l/dtk/ha
195
JOS - MRK Volume 5, Nomor 1, Maret 2024, Page 190-196
b. Pola tanam alternatif 1 dengan awal tanam bulan [5] Oktaviansyah, T., Asta, A., & Handayani, R. (2021).
Oktober periode II = padi 61.18 l/dtk/ha, Palawija Estimasi Analisis Hidrologi Pada Sistem Jaringan
4.34 l/dtk/ha, tebu 12.80 l/dtk/ha Irigasi Daerah Sajau Hilir Ujung Kecamatan Tanjung
Palas Timur Kabupaten Bulungan. RANCANG
c. Pola tanam alternatif 2 dengan awal tanam bulan
BANGUN TEKNIK SIPIL, 7(1), 9.
November Periode I = padi 61.32 l/dtk/ha, [6] Suhardjono. (1994). Kebutuhan Air Tanaman.
Palawija 4.82 l/dtk/ha, tebu 12.80 l/dtk/ha Malang: Institut Teknologi Nasional.
3. Hasil dari analisa perbandingan ketersediaan air [7] Blaney, H. F., & Criddle, W. D. (1962). Determining
terhadap kebutuhan air didapatkan sebagai berikut : consumptive use and irrigation water requirements
a. Pola tanam eksisting = terdapat 18 periode (No. 1275). US Department of Agriculture.
dengan keadaan surplus dan 18 periode dengan [8] Ula, M. (2014). Implementasi Logika Fuzzy Dalam
Optimasi Jumlah Pengadaan Barang Menggunakan
keadaan defisit air
Metode Tsukamoto (Studi Kasus: Toko Kain My
b. Pola tanam alternatif 1 = terdapat 16 periode Text). Jurnal Ecotipe (Electronic, Control,
dengan keadaan surplus dan 20 periode dengan Telecommunication, Information, and Power
keadaan defisit air Engineering), 1(2), 36-46.
c. Pola tanam alternatif 2 = terdapat 15 periode [9] Susdarwono, E. T. (2020). Pemrograman Linier
dengan keadaan surplus dan 21 periode dengan Permasalahan Ekonomi Pertahanan: Metode Grafik
keadaan defisit air. Dan Metode Simpleks. Teorema: Teori dan Riset
Matematika, 5(1), 89-104.
4. Luas lahan yang didapatkan dari optimasi linear
program dari setiap alternatif per tanamansebagai
berikut :
a. Pola tanam eksisting = padi 1186.60 ha,
Palawija 607 ha, tebu 5 ha
b. Pola tanam alternatif 1 = padi 1344.36 ha,
Palawija 607 ha, tebu 5 ha
c. Pola tanam alternatif 2 = padi 2244 ha,
Palawija 324.47 ha, tebu 5 ha
5. Dari hasil optimasi didapatkan beberapa keuntungan
setiap pola tanamnya dalam satu tahun, antara lain :
a. Pola tanam eksisting = Rp [Link],41
b. Pola tanam alternatif 1 = Rp [Link],89
c. Pola tanam alternatif 2 = Rp [Link],97
6. Pada evaluasi saluran didapatkan hasil dimensi
saluran dalam Q tampung, Kecepatan dasar saluran
dan bilangan Froude masih memenuhi untuk
menunjang optimasi pola tanam dan masih layak
untuk digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Standart Perencanaan Irigasi. (2013). Kriteria
Perencanaan Jaringan Irigasi (KP-01). Jakarta:
Departemen Pekerjaan Umum.
[2] Standart Perencanaan Irigasi. (2013). Kriteria
Perencanaan Jaringan Irigasi (KP-03). Jakarta:
Departemen Pekerjaan Umum.
[3] Montarcih, L. (2009). Hidrologi Teknik Sumberdaya
Air 2. Malang: CV. Asrori.
[4] BMKG Wilayah III Denpasar. (2017). Daftar Istilah
Klimatologi.
[Link]
musim . Diakses tanggal 07 Maret 2023.
196