Instrumen Penilaian Afektif Biologi SMA
Instrumen Penilaian Afektif Biologi SMA
(AJPP)
Website: [Link]
Email: [Link]@[Link]
Abstrak
This type of research is development research. The process of developing the instrument
using the development steps proposed by Djaali and Muljono. This study aimed to develop
an instrument for assessing the affective domain, especially the respiratory system material,
in terms of validity and consistency/reliability. The desired product in this study is a valid
and reliable effective domain assessment instrument. The product consists of 2 components:
a self-assessment sheet (self-assessment) in the form of a Likert scale questionnaire and an
effective assessment sheet. The results obtained at the trial stage are valid and reliable
affective domain assessment instruments. This type of research is development research.
The process of developing the instrument using the development steps proposed by Djaali
and Muljono. The product consists of 2 components: a self-assessment sheet (self-
assessment) in the form of a Likert scale questionnaire and an effective assessment sheet.
The results obtained at the trial stage are valid and reliable affective domain assessment
instruments. This is evidenced based on the results of the analysis both theoretically by
experts (expert judgment) and based on the analysis of test results using SPSS version 16
software. The results of the theoretical validity analysis by experts (expert judgment) are in
the overall valid category, and the results of the analysis are reliable. theoretically with a
percentage of agreement value of 87.5%. Furthermore, the data analysis of the test results
obtained the overall validity value of each aspect > 0.3, and the consistency/reliability value
was also > 0.7. Based on the results obtained from this study, it is hoped that biology
teachers and other prospective researchers can develop affective and psychomotor
assessment instruments on other materials so that assessments can be carried out more
thoroughly.
A. Pendahuluan
B. Metodologi
Instrumen penelitian yang digunakan yaitu (1) format validasi ahli terhadap instrumen
penilaian ranah ranah afektif, yang berguna untuk menghimpun data kevalidan instrumen oleh
ahli dan praktisi; dan (2)) lembar penilaian/pengamatan ranah afektif, yang berguna untuk
menghimpun data ranah afektif siswa pada saat praktikum sistem pernapasan.
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif untuk mendeskripsikan
data kuantitatif dan memberikan makna terhadap deskripsi data tentang isi. Data yang
dianalisis adalah data hasil validasi instrumen penilaian afektif oleh ahli dan praktisi, dan data
hasil ujicoba penilaian afektif.
Hasil yang telah diperoleh pada setiap langkah pengembangan instrumen penilaian akan
diuraikan sebagai berikut.
1. Tahap Analisis : pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan, yaitu mengkaji bagaimana
penilaian yang dilakukan guru selama ini pada ranah afektif. Berdasarkan hasil wawancara
dengan guru diperoleh analisis bahwa guru belum melakukan penilaian pada ranah afektif
dengan tepat. Karena guru belum memiliki rubric penilaian yaing jelas untuk aspek afektif.
Selain itu guru juga tidak memiliki kriteria untuk menetapkan kategori penilaian yang tepat.
Adanya masalah tersebut, perlu diupayakan suatu teknik penilaian yang mampu menilai
38 AJPP/1.2; 34-42; 2022
hasil belajar dengan baik. Analisis selanjutnya yaitu mengenai materi yaitu mengidentifikasi,
merinci, dan menyusun konsep secara sistematis untuk pengorganisasian materi, indikator,
tujuan, sesuai dengan kompetensi dasar yang dipersyaratkan. Kegiatan ini bertujuan untuk
menetapkan masalah yang akan menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penilaian
ranah afektif, termasuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi melalui teori yang relevan.
Jadi, terkait dengan penelitian yang akan dilakukan, materi yang dipilih yaitu sistem
pernapasan.
2. Tahap Perancangan : Tahap ini berisi kegiatan perancangan pembelajaran dengan
mempertimbangkan hasil pendefinisian masalah yang dapat diartikan sebagai
mendefinisikan atau membatasi istilah-istilah penting yang digunakan dalam uji coba ini.
Merancang penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan menyusun kegiatan-kegiatan yang
akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Hasil-hasil
pengembangan pada tahap ini berupa rancangan awal mencakup kisi-kisi instrumen
penilaian ranah afektif, rubrik penilaian ranah afektif, serta lembar penilaian ranah afektif.
Untuk memperoleh data tentang proses dan hasil pengembangan istrumen penilaian
yang valid dan reliabel, dibutuhkan instrumen yang mendukung tujuan tersebut. Instruemen
kevalidan yang dihasilkan pada tahap ini adalah:
a). Format penilaian validasi terhadap kuesioner self assesment bagi siswa.
b). Format penilaian validasi terhadap lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Sedangkan untuk instrumen keandalan dihasilkan :
a). Kuesioner self assesment siswa.
b). Lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Setelah perancangan terhadap instrumen-instrumen tersebut selesai, maka selanjutnya
dilakukan yaitu validasi instrumen oleh para ahli dan praktisi (expart judgement) untuk
mengetahui apakah instrumen yang telah dibuat layak untuk digunakan dilapangan untuk
memperoleh data yang diharapkan.
a. Uji Validitas secara Teoritis
Uji validitas secara teoritis didapatkan melalui validasi ahli dan praktisi. Adapun hasil
penilaian validator terhadap instrumen dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Hasil Penilaian Validator terhadap Instrumen Penilaian Ranah Afektif untuk Self Assesment
Siswa.
Hasil analisis yang dilakukan terhadap instrumen penilaian ranah afektif khususnya
untuk kuesioner self assesment bagi siswa, berdasarkan hasil validasi oleh validator diperoleh
data dari tiga aspek yang dinilai (isi, petunjuk, dan bahasa) menunjukkan bahwa semua aspek
masuk pada kategori valid. Rata-rata penilaian total juga masuk pada kategori valid. Hasil
analisis instrumen penilaian ranah afektif untuk kuesioner self assesment dirangkum pada Tabel
4.1
Berdasarkan tabel 4.1 Hasil Penilaian Validator terhadap kuesioner self assesment ranah
afektif dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek isi
adalah ̅ = 4,55 dinyatakan dalam kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(b). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek
petunjuk adalah ̅ = 4,00 dinyatakan dalam kategori ”valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(c). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek bahasa
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(d). Berdasarkan uraian hasil analisis diatas, nilai rata-rata total kevalidan kuesioner self
assesment ranah afektif adalah ̅ = 4,40 dari skor ideal 5 sesuai kriteria kevalidan. nilai ini
masuk pada kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5). Jadi ditinjau keseluruhan aspek, maka kuesioner
self assesment ranah afektif dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
AJPP/1.2; 34-42; 2022 39
2). Hasil Penilaian Validator terhadap Instrumen Penilaian Ranah Afektif untuk Lembar
Penilaian pada Saat Praktikum.
Instrumen yang kedua untuk ranah afektif adalah lembar penilaian pada saat praktikum
dilakukan. Setelah divalidasi oleh validator, maka didapatkan hasil bahwa instrumen tersebut
termasuk dalam kategori valid. Sama dengan kuesioner yang telah divalidasi sebelumnya, juga
pada lembar penilaian ini ada tiga aspek utama yang dinilai oleh validator yaitu petunjuk, isi
dan bahasa. Ketiga aspek tersebut juga masuk pada kategori valid. Rangkuman hasil validasi
ahli terhadap lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum ditunjukkan pada Tabel 4.2
Data pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa secara umum penilaian hasil validasi ahli berada
pada kategori “valid” dan “sangat valid”. Secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
(a). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah afektif untuk aspek petunjuk
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(b). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah afektif untuk aspek isi
adalah ̅ = 4,33 dinyatakan dalam kategori ” valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(c). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah Afektif untuk aspek bahasa
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “ sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(d). Berdasarkan uraian hasil analisis diatas, nilai rata-rata total kevalidan lembar
penilaian ranah afektif adalah ̅ = 4,55 dari skor ideal 5 sesuai kriteria kevalidan. nilai
ini masuk pada kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5). Jadi ditinjau keseluruhan aspek, maka
lembar penilaian ranah afektif dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b. Uji Reliabilitas secara Teoritis
Selain melakukan uji validasi oleh ahli dan praktisi (expert judgement) dilakukan juga uji
reliabilitas secara teoritis. Uji reliabilitas diperoleh dari hasil penilaian yang diberikan oleh
ketiga validator. Untuk instrumen penilaian ranah afektif dari hasil penilaian tersebut diketahui
bahwa jumlah agreement (A) = 7 dan jumlah disagreement (D) = 1 sehingga dapat dihitung
tingkat reliabilitasnya berdasarkan rumus percentage of agreements sebagai berikut:
( )
( ) ( )
( )
Jadi dapat dikatakan bahwa koefisien (derajat) reliabilitas instrumen penilaian ranah
afektif yang diperoleh yaitu 0,875 atau R = 87,5%. Nilai tersebut mengandung arti bahwa
kesepakatan ketiga pakar memiliki kesamaan sebesar 87,5% terhadap reliabilitas instrumen.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dapat diperoleh bahwa besarnya koefisien (derajat)
reliabilitas atau , dengan demikian instrumen yang dibuat telah memenuhi
indikator reliabel.
c. Ujicoba Terbatas
Ujicoba terbatas bertujuan untuk memperoleh masukan langsung dari lapangan (empirik)
terhadap instrumen penilaian yang dikembangkan. Pada tahap ini diamati keandalan
(kevalidan) dan kekonsistenan (reliabilitas) instrumen yang telah dikembangkan.
1. Uji Keandalan/Kevalidan Instrumen
a). Uji keandalan/kevalidan instrumen penilaian ranah afektif.
(1). Uji Keandalan/kevalidan instrumen kuesioner self assesment siswa.
Instrumen penilaian ranah afektif untuk kuesioner self assesment yang dikembangkan
sebanyak 53 butir pernyataan. Hasil validasi oleh ahli maka dilakukan revisi dan hanya 49 butir
pernyataan yang valid setelah dilakukan perbaikan. Setelah ujicoba, dilakukan analisis terhadap
instrumen ini berupa validitas butir dari 49 butir pernyataan aspek afektif yang dikembangkan.
Hasil analisis dengan menggunakan bantuan SPSS versi 16, didapatkan hasil secara keseluruhan
40 AJPP/1.2; 34-42; 2022
butir instrumen yang dikembangkan berada pada kategori valid dimana harga kritik untuk
kriteria kevalidan adalah 0,3 sehingga tidak ada butir pernyataan yang harus dibuang. Artinya
semua butir pernyataan dalam instrumen memenuhi kriteria sebagai instrumen penilaian yang
baik atau valid secara empiris. Hal ini pula memenuhi syarat instrumen ranah afektif yang baik.
(2). Uji keandalan/kevalidan instrumen lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Hasil analisis menggunakan bantuan software SPSS versi 16 untuk lima (5) aspek yang
diamati masing-masing memiliki nilai validasi untuk aspek pertama 0.542; aspek kedua 0.923;
aspek ketiga 0.667; aspek keempat 0.923; dan aspek kelima 0.923. Menurut kriteria Cronbach
standar minimal koefisien korelasi sebagai acuan validitas adalah 0,30 maka seluruh nilai
korelasi untuk aspek pertama, kedua, ketiga , keempat dan kelima adalah valid.
Demikian juga jika digunakan acuan signifikansi 0,05 yang digunakan, diperoleh bahwa
nilai untuk aspek pertama 0.002, aspek kedua 0.000, aspek ketiga 0.000, aspek keempat 0.000,
dan aspek kelima 0.000 semuanya lebih kecil dari 0,05. Secara keseluruhan nilai signifikansi
setiap aspek lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa penilaian afektif valid
keseluruhan secara empiris.
a). Kevalidan.
Berdasarkan hasil penilaian validator maupun hasil uji kevalidan setelah ujicoba seperti
yang dikemukakan sebelumnya instrumen penilaian ranah afektif , untuk hasil penilaian
validator instrumen yang dikembangkan secara keseluruhan berada pada kategori valid,
meskipun telah dilakukan beberapa revisi kecil sesuai saran yang diberikan validator.
Selanjutnya untuk hasil validasi setelah ujicoba secara keseluruhan telah memenuhi kriteria
kevalidan. Hal ini dibuktikan koefisien korelasi dari instrumen yang dikembangkan, afektif
maupun psikomotorik lebih besar dari 0, 30 dimana Eko (2012), mengemukakan bahwa
koofisien berkisar antara 0,30 telah dapat memberikan konstribusi yang baik, sehingga
instrumen yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan.
b). Reliabilitas
Mencermati data hasil perhitungan reliabel secara teoritis, diperoleh nilai 0,875 atau
sebesar 87,5% menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada kategori tinggi. Maka sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan instrumen yang dibuat telah memenuhi syarat reliabel secara
teori. Demikian pula untuk hasil uji reliabilitas secara empirik dengan menggunakan rumus
Alpha Cronbach diperoleh nilai koefisien korelasi instrumen penilaian ranah afektif dan
instrumen penilaian ranah psikomotorik secara keseluruhan lebih besar dari 0,70. Jadi dapat
disimpulkan bahwa instrumen penilaian ranah afektif secara keseluruhan telah memenuhi
kriteria reliabel. Hal ini dibahas berdasarkan teori yang dikemukakan Eko (2012) bahwa suatu
instrumen dikatakan reliabel jika mempunyai nilai koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7.
c). Kendala-kendala dan keterbatasan yang ditemukan saat penelitian.
Saat penelitian dilakukan, banyaknya subjek ujicoba adalah 31 orang dengan observer
hanya tiga orang, maka penelitian dirasakan kurang efektif untuk menilai dengan cermat dan
42 AJPP/1.2; 34-42; 2022
tepat semua subjek ujicoba tersebut. Sehingga sangat beralasan jika selama ini guru hanya
menggunakan patokan baik, cukup, dan kurang pada penilaian afektif siswa. Kebiasaan guru
yang jarang menggunakan pedoman penilaian juga menyebabkan guru kurang aktif dalam
menggunakan instrumen yang dikembangkan.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, serta hubungannya
dengan rumusan masalah yang diangkat, maka dapat disimpulkan beberapa hal pokok yang
berkaitan dengan pengembangan instrumen penilaian ranah afektif sebagai berikut :
1. Instrumen yang dibuat telah memenuhi kriteria valid baik secara teoritis maupun secara
empiris. Hal ini dibuktikan secara teoritis instrumen yang dibuat berada pada kategori valid.
Secara empiris hal ini dibuktikan dengan adanya koefisien korelasi dari instrumen yang
dibuat keseluruhannya adalah ≥ 0,3.
2. Instrumen yang dibuat telah memenuhi kriteria reliabel baik secara teoritis maupun secara
empiris. Hal ini dibuktikan secara teoritis percentage of agreement sebesar 87,5 % berada
pada kategori tinggi. Dan secara empiris hal ini dibuktikan dengan nilai dari koefisien
korelasi dari instrumen yang dibuat keseluruhannya adalah ≥ 0,7.
E. Referensi
Ali, S., & Khaeruddin. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Makassar. Badan penerbit UNM.
Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Asyhar. (2012). Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif. Makassar:
[Link] [Link]. diakses
tanggal 22 Desember 2012.
Azwar, S. (2011). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bloom, B. S., MA DAUS, G. F., & Hastings, J. T. (2006). Evaluasi Pada Perbaikan Pembelajaran ;
UNV. OF CHICAGO.
Chen, Y. (2012). Pedoman Pengembangan Instrumen Dan Penilaian Ranah Afektif. Makassar:
[Link]
diakses tanggal 22 Desember 2012.
Depdiknas. (2008). Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian Afektif di SMA. Jakarta: Direktorat
pembinaan SMA.
Djaali dan Muljono. (2008). Pengukuran dalam bidang pendidikan. Jakarta: Grasindo (Gramedia
Widiasarana).
Eko. P. W. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hamid, H. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mansyur, R. H. & Suratno. (2009). Asesmen Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Multi
Pressindo.
Mardapi, D. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Yogyakarta: Mitra Cendekia
Press.
Rea, P., & Germine, K. (2006). Evaluasi (Bahasa Pengajaran). oxford university press.
Slameto. (1999). Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.
Sudjana, D. (2006). Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, N. (2008). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, S. (2005). Pengembangan alat ukur psikologis. Yogyakarta: Andi.
Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktifistik. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher.
Uno, H., & Koni, S. (2012). Assesment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.