0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Instrumen Penilaian Afektif Biologi SMA

Diunggah oleh

yasmine41123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Instrumen Penilaian Afektif Biologi SMA

Diunggah oleh

yasmine41123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan

(AJPP)
Website: [Link]
Email: [Link]@[Link]

Pengembangan Instrumen Penilaian Ranah Afektif Biologi SMA


Kelas XI IPA

INFO PENULIS INFO ARTIKEL

Ruth Megawati ISSN: xxxx-xxxx


Universitas Cenderawasih Vol. 1, No. 2, Juni 2022
ruthmegawati@[Link] [Link]

© 2022 Arden Jaya Publisher All rights reserved

Saran Penilisan Referensi:


Megawati, R. (2022). Pengembangan Instrumen Penilaian Ranah Afektif Biologi SMA Kelas XI IPA. Arus
Jurnal Pendidikan, 1 (2), 34-42.

Abstrak

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Proses pengembangan instrumen


dengan menggunakan langkah-langkah pengembangan yang dikemukakan oleh Djaali dan
Muljono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen penilaian ranah
afektif khususnya materi sistem pernapasan ditinjau dari segi kevalidan dan
kekonsistenan/reliabel. Produk yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah instrumen
penilaian ranah afektif yang valid dan reliabel. Produk tersebut terdiri dari 2 komponen
yaitu lembar penilaian self assesment (penilaian diri) berupa kuesioner skala Likert dan
lembar penilaian afektif. Hasil yang diperoleh pada tahap ujicoba tersebut adalah instrumen
penilaian ranah afektif yang valid dan reliabel. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis
baik secara teoritis oleh ahli (expart judgment) maupun berdasarkan analisis hasil ujicoba
dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 16. Hasil analisis kevalidan secara
teoritis oleh ahli (expart judgment) berada pada kategori valid secara keseluruhan, dan hasil
analisis reliabel secara teoritis dengan nilai percentage of agreement sebesar 87,5%.
Selanjutnya analisis data hasil ujicoba didapatkan nilai kevalidan setiap aspek secara
keseluruhan , dan nilai kekonsistenan/reliabilitas juga . Berdasarkan hasil yang
diperoleh dari penelitian ini, diharapkan kepada guru biologi dan calon peneliti lainnya agar
dapat mengembangkan instrumen penilaian afektif dan psikomotorik pada materi-materi
lain sehingga penilaian dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Kata Kunci : Pengembangan, Instrumen Penilaian, Ranah Afektif.


AJPP/1.2; 34-42; 2022 35
Abstract

This type of research is development research. The process of developing the instrument
using the development steps proposed by Djaali and Muljono. This study aimed to develop
an instrument for assessing the affective domain, especially the respiratory system material,
in terms of validity and consistency/reliability. The desired product in this study is a valid
and reliable effective domain assessment instrument. The product consists of 2 components:
a self-assessment sheet (self-assessment) in the form of a Likert scale questionnaire and an
effective assessment sheet. The results obtained at the trial stage are valid and reliable
affective domain assessment instruments. This type of research is development research.
The process of developing the instrument using the development steps proposed by Djaali
and Muljono. The product consists of 2 components: a self-assessment sheet (self-
assessment) in the form of a Likert scale questionnaire and an effective assessment sheet.
The results obtained at the trial stage are valid and reliable affective domain assessment
instruments. This is evidenced based on the results of the analysis both theoretically by
experts (expert judgment) and based on the analysis of test results using SPSS version 16
software. The results of the theoretical validity analysis by experts (expert judgment) are in
the overall valid category, and the results of the analysis are reliable. theoretically with a
percentage of agreement value of 87.5%. Furthermore, the data analysis of the test results
obtained the overall validity value of each aspect > 0.3, and the consistency/reliability value
was also > 0.7. Based on the results obtained from this study, it is hoped that biology
teachers and other prospective researchers can develop affective and psychomotor
assessment instruments on other materials so that assessments can be carried out more
thoroughly.

Keywords: Research of Development, Assessment Instruments, Affective domain.

A. Pendahuluan

Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tuntutan penerapan


kurikulum mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan afektif. Setiap peserta didik memiliki
potensi pada ketiga ranah tersebut, namun tingkatannya satu sama lain berbeda. Secara
psikologis ada peserta didik yang memiliki kemampuan berfikir tinggi dan perilaku amat baik,
akan tetapi penguasaan keterampilannya agak rendah. Demikian sebaliknya, ada peserta didik
yang memiliki kemampuan berpikir rendah, namun memiliki keterampilan yang tinggi dan
perilaku amat baik. Ada pula peserta didik yang kemampuan berfikir dan keterampilannya
sedang atau biasa, tetapi memiliki perilaku yang baik. Jarang sekali peserta didik yang
kemampun berpikirnya rendah, keterampilan rendah, dan perilaku kurang baik. Peserta didik
seperti itu akan mengalami kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat, karena tidak memiliki
potensi untuk hidup di masyarakat.
Merujuk pada hal di atas, kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai evaluator adalah
mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Standar proses dan
standar penilaian merupakan tugas dan tanggung jawab guru untuk mengembangkannya. Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal,
serta pada jenjang pendidikan dasar dan menengah termasuk penilaian anak usia dini.
Pengevaluasian merupakan bagian dari kegiatan kehidupan manusia sehari-hari. Disadari
atau tidak, orang sering melakukan evaluasi baik terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan
sosialnya atau lingkungan fisiknya. Demikian pula halnya dengan peristiwa pendidikan sebagai
usaha yang disengaja untuk menmungkinkan seseorang (siswa) memahami perkembangan
melalui proses belajar mengajar. Program pengajaran dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan
tertentu. Tujuan ini ialah agar siswa mengalami perubahan yang positif. Penilaian berarti usaha
untuk mengetahui sejauh mana perubahan itu terjadi melalui kegiatan belajar mengajar. Dari
uraian ini, maka ciri utama evaluasi adalah mengukur perubahan. Jika hal ini dihubungkan
dengan tujuan pembelajaran, maka perubahan yang diinginkan oleh program pengajaran ialah
peningkatan kemampuan, baik kemampuan kognitif intelektual, sosio-emosional, maupun
kemampuan keterampilan motorik. Tujuan pengajaran ialah penguasaan perangkat
kemampuan yang direncanakan (Slameto, 1999).
36 AJPP/1.2; 34-42; 2022
Pendidikan di seluruh dunia sepanjang abad menekankan pada fungsi selektif. Sebagian
besar energi para guru dan pengurus diabdikan bagi para siswa untuk dicurahkan pada tiap-
tiap langkah utama program pendidikan. Tugas utama pendidik diasumsikan sebagai
identifikasi dari harapan agar diijinkan masuk dan menyelesaikan program akademik sekolah
menengah dan kemudian melanjutkan pada sekolah yang lebih tinggi. Efek dari proses
pemilihan ini, membangkinkan perbedaan dari asas keturunan yang berstatus sosial. Hal ini
semakin jelas perbedaan melalui pengembangan standar bahasa, motivasi yang menjamin
sebanyak mungkin pendidikan. Dilain pihak ada pendidikan yang memilih pandangan bahwa
pendidikan memiliki fungsi utama yaitu pengembangan dari individu . Asumsi dasar adalah
bakat itu dapat dikembangkan oleh alat–alat bidang pendidikan dan sumber daya utama dari
sekolah harus dapat meningkatkan efektifitas individu, dalam meramalkan dan memilih bakat,
yang dapat diketahui setelah diadakan evaluasi ( Bloom, 2006).
Arikunto (2007) mengemukakan bahwa penilaian adalah pengambilan suatu keputusan
terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian ini bersifat kualitatif. Senada dengan hal
tersebut di atas, Ali dan Khaeruddin (2012) juga menambahkan bahwa (1) Penilaian terhadap
peserta didik harus dilaksanakan menyeluruh, utuh, dan tuntas, yang menyangkut ranah
kognitif, afektif, dan afektif; (2) penilaian harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ditetapkan. Oleh karena itu, instrumen yang digunakan berbeda-beda
seperti tes, fortopolio, ataupun lembar observasi; (3) Penilaian harus mempunyai makna untuk
peserta didik maupun guru untuk intropeksi kinerja peserta didik dan guru dalam mencapai
tujuan atau kompetensi yang diharapkan; (4) Penilaian harus bersifat mendidik bagi semua
pihak, termasuk peserta didik, guru, orangtua peserta didik dalam upaya meningkatkan hasil
belajar peserta didik. Oleh karena itu penilaian harus dapat berfungsi sebagai alat motivasi bagi
peserta didik yang berhasil dan sebagai pemicu semangat bagi yang kurang berhasil dalam
meningktkan hasil belajar.
Dalam kontek tujuan penilaian tampak bahwa penilaian memegang peranan penting
dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu sebelum melaksanakan
penilaian seyogianya harus dipahami terlebih dahulu tujuannya. Hal tersebut berkaitan dengan
ketepatan. Dalam artian bahwa tujuan dengan objek yang dinilai harus memiliki benang merah
yang jelas, sehingga data yang diperoleh akurat. Hal-hal yang perlu diperhatikan misalnya
kesesuaian dengan muatan materi pembelajaran, waktu, praktis, dapat dilaksanakan, dan
memberikan informasi yang sesuai untuk digunakan dalam menigkatkan kualitas belajar siswa.
Penelitian ini difokuskan pada pengembangan instrumen penilaian ranah afektifk. Hal ini
dimaksudkan untuk menjawab tantangan tendahnya kualitas pelaksanaan penilaian hasil
belajar aspek afektif di sekolah selama ini. Penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan
produk yaitu instrumen penilaian ranah afektif yang valid dan reliabel sehingga nantinya
diharapkan pula instrumen ini dapat memberikan sumbangsih kepada para pendidik dalam hal
penilaian.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mengembangkan instrumen
penilaian ranah afektif pada materi sistem pernapasan yang memenuhi kritera valid dan
reliabel secara teoritis dan empiris.

B. Metodologi

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, yaitu mengembangkan instrumen


penilaian ranah afektif dengan alur sesuai langkah-langkah pengembangan instrumen dari
beberapa ahli (Djaali dan Mulyono, 2008) dan beberapa sumber bagian evaluasi yang telah
dimodifikasi. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang variabel yang akan diteliti, serta
untuk menghindari salah pengertian maka berikut dijelaskan batasan istilah yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1. Pengembangan instrumen penilaian afektif dalam penelitian ini merupakan suatu proses
perancangan dan perakitan yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan langkah-
langkah secara sistematis, untuk memperoleh penilaian ranah afektif yang memenuhi
kriteria valid dan reliabel.
2. Instrumen penilaian afektif adalah alat penilaian berupa lembar penilaian / observasi yang
dapat digunakan untuk menghimpun data kemampuan unjuk kerja siswa dalam mengikuti
praktikum sistem pernapasan mulai dari tahap persiapan hingga tahap akhir.
3. Instumen penilaian yang dibuat dikatakan valid yaitu berdasarkan pertimbangan ahli
(judgement expert) dan secara empirik. Jika penilaian ahli menunjukkan bahwa
AJPP/1.2; 34-42; 2022 37
pengembangan instrumen penilaian tersebut dilandasi oleh teori yang kuat dan memiliki
konsitensi internal, yaitu keterkaitan antar komponen. Kriteria yang digunakan dalam
menerapkan bahwa instrumen penilaian memiliki derajat validitas yang memadai adalah
nilai ̅ untuk keseluruhan aspek minimal berada dalam kategori cukup valid dan nilai ̅̅̅
untuk setiap aspek minimal berada dalam kategori valid. Secara empirik hasil ujicoba
memiliki nilai ≥ 0,3 (harga kritik).
4. Instrumen penilaian dikatakan reliabel, jika instrumen yang dibuat menunjukkan tingkat
keajengan, atau kehandalan sehingga hasilnya dapat dipercaya,baik secara teoritis maupun
secara empirik. Kriteria yang digunakan untuk reliabel secara teori R (koefisien reliabilitas)
berada pada kategori tinggi R≥75%. Demikian pula secara empirik data hasil ujicoba
memiliki nilai ≥ 0,7 (harga kritik). Dengan kriteria pengujian semakin tinggi koefisien
reliabilitas, maka instrumen tersebut dapat dikatakan reliabel.

Rancangan penelitian ini mengikuti langkah-langkah pengembangan instrumen penilaian


berdasarkan teori beberapa ahli (Djaali dan Muljono,2008) yang telah dimodifikasi dengan teori
beberapa rujukan. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap Analisis: kegiatan ini bertujuan untuk menetapkan masalah yang akan menjadi dasar
dalam pengembangan instrumen penilaian ranah afektif, termasuk jalan keluar dari masalah
yang dihadapi melalui teori yang relevan. Pada tahap ini juga dilakukan analisis terhadap
kondisi siswa, analisis kurikulum Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, SKL, analisis
materi (menyusun konsep secara sistematis untuk pengorganisasian materi, indikator,
tujuan, sesuai dengan kompetensi dasar yang dipersyaratkan, serta sarana laboratorium.
2. Tahap Perancangan, bertujuan menentukan format/instrumen penilaian ranah afektif. Pada
tahap ini dibuat kisi-kisi dan rubrik penilaian. Selanjutnya penulisan instrumen yang
merupakan langkah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang memiliki
karakteristik sesuai dengan kisi-kisi instrumen yang telah dibuat. Selanjutnya pada tahap ini
juga dilakukan validasi instrumen oleh validator ahli dan praktisi diikuti dengan revisi.
Telaah instrumen dilakukan ahli/validator kemudian melakukan revisi atau tidak
berdasarkan hasil validator ahli dan praktisi sehingga menghasilkan prototype 1.
3. Tahap Ujicoba dan analisis, setelah tahap perancangan, maka prototype 1 diujicobakan
kepada subjek ujicoba. Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen penilaian ranah
afektif yang valid dan reliabel yang telah direvisi berdasarkan masukan para ahli. Setelah
ujicoba, maka dilakukan analisis terjadap hasil ujicoba untuk melihat kevalidan dan
reliabilitas instrumen setelah ujicoba. Adapun langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Melakukan penerapan instrumen hasil validasi secara nyata pada subjek uji coba.
b. Melakukan analisis terhadap data hasil penerapan/ujicoba instrumen.
c. Melakukan revisi berdasarkan hasil analisis data hasil dari uji coba.
4. Tahap perakitan butir-butir instrumen yang valid untuk dijadikan instrumen final. Pada tahap
ini butir-butir instrumen yang sudah dianalisis dan berada pada kategori valid dan reliabel,
disusun/dirakit menjadi instrumen final pada penilaian ranah afektif.

Instrumen penelitian yang digunakan yaitu (1) format validasi ahli terhadap instrumen
penilaian ranah ranah afektif, yang berguna untuk menghimpun data kevalidan instrumen oleh
ahli dan praktisi; dan (2)) lembar penilaian/pengamatan ranah afektif, yang berguna untuk
menghimpun data ranah afektif siswa pada saat praktikum sistem pernapasan.
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif untuk mendeskripsikan
data kuantitatif dan memberikan makna terhadap deskripsi data tentang isi. Data yang
dianalisis adalah data hasil validasi instrumen penilaian afektif oleh ahli dan praktisi, dan data
hasil ujicoba penilaian afektif.

C. Hasil dan Pembahasan

Hasil yang telah diperoleh pada setiap langkah pengembangan instrumen penilaian akan
diuraikan sebagai berikut.
1. Tahap Analisis : pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan, yaitu mengkaji bagaimana
penilaian yang dilakukan guru selama ini pada ranah afektif. Berdasarkan hasil wawancara
dengan guru diperoleh analisis bahwa guru belum melakukan penilaian pada ranah afektif
dengan tepat. Karena guru belum memiliki rubric penilaian yaing jelas untuk aspek afektif.
Selain itu guru juga tidak memiliki kriteria untuk menetapkan kategori penilaian yang tepat.
Adanya masalah tersebut, perlu diupayakan suatu teknik penilaian yang mampu menilai
38 AJPP/1.2; 34-42; 2022
hasil belajar dengan baik. Analisis selanjutnya yaitu mengenai materi yaitu mengidentifikasi,
merinci, dan menyusun konsep secara sistematis untuk pengorganisasian materi, indikator,
tujuan, sesuai dengan kompetensi dasar yang dipersyaratkan. Kegiatan ini bertujuan untuk
menetapkan masalah yang akan menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penilaian
ranah afektif, termasuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi melalui teori yang relevan.
Jadi, terkait dengan penelitian yang akan dilakukan, materi yang dipilih yaitu sistem
pernapasan.
2. Tahap Perancangan : Tahap ini berisi kegiatan perancangan pembelajaran dengan
mempertimbangkan hasil pendefinisian masalah yang dapat diartikan sebagai
mendefinisikan atau membatasi istilah-istilah penting yang digunakan dalam uji coba ini.
Merancang penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan menyusun kegiatan-kegiatan yang
akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Hasil-hasil
pengembangan pada tahap ini berupa rancangan awal mencakup kisi-kisi instrumen
penilaian ranah afektif, rubrik penilaian ranah afektif, serta lembar penilaian ranah afektif.
Untuk memperoleh data tentang proses dan hasil pengembangan istrumen penilaian
yang valid dan reliabel, dibutuhkan instrumen yang mendukung tujuan tersebut. Instruemen
kevalidan yang dihasilkan pada tahap ini adalah:
a). Format penilaian validasi terhadap kuesioner self assesment bagi siswa.
b). Format penilaian validasi terhadap lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Sedangkan untuk instrumen keandalan dihasilkan :
a). Kuesioner self assesment siswa.
b). Lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Setelah perancangan terhadap instrumen-instrumen tersebut selesai, maka selanjutnya
dilakukan yaitu validasi instrumen oleh para ahli dan praktisi (expart judgement) untuk
mengetahui apakah instrumen yang telah dibuat layak untuk digunakan dilapangan untuk
memperoleh data yang diharapkan.
a. Uji Validitas secara Teoritis
Uji validitas secara teoritis didapatkan melalui validasi ahli dan praktisi. Adapun hasil
penilaian validator terhadap instrumen dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Hasil Penilaian Validator terhadap Instrumen Penilaian Ranah Afektif untuk Self Assesment
Siswa.
Hasil analisis yang dilakukan terhadap instrumen penilaian ranah afektif khususnya
untuk kuesioner self assesment bagi siswa, berdasarkan hasil validasi oleh validator diperoleh
data dari tiga aspek yang dinilai (isi, petunjuk, dan bahasa) menunjukkan bahwa semua aspek
masuk pada kategori valid. Rata-rata penilaian total juga masuk pada kategori valid. Hasil
analisis instrumen penilaian ranah afektif untuk kuesioner self assesment dirangkum pada Tabel
4.1

Berdasarkan tabel 4.1 Hasil Penilaian Validator terhadap kuesioner self assesment ranah
afektif dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek isi
adalah ̅ = 4,55 dinyatakan dalam kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(b). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek
petunjuk adalah ̅ = 4,00 dinyatakan dalam kategori ”valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(c). Nilai rata-rata kevalidan terhadap kuesioner self assesment ranah afektif untuk aspek bahasa
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(d). Berdasarkan uraian hasil analisis diatas, nilai rata-rata total kevalidan kuesioner self
assesment ranah afektif adalah ̅ = 4,40 dari skor ideal 5 sesuai kriteria kevalidan. nilai ini
masuk pada kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5). Jadi ditinjau keseluruhan aspek, maka kuesioner
self assesment ranah afektif dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
AJPP/1.2; 34-42; 2022 39
2). Hasil Penilaian Validator terhadap Instrumen Penilaian Ranah Afektif untuk Lembar
Penilaian pada Saat Praktikum.
Instrumen yang kedua untuk ranah afektif adalah lembar penilaian pada saat praktikum
dilakukan. Setelah divalidasi oleh validator, maka didapatkan hasil bahwa instrumen tersebut
termasuk dalam kategori valid. Sama dengan kuesioner yang telah divalidasi sebelumnya, juga
pada lembar penilaian ini ada tiga aspek utama yang dinilai oleh validator yaitu petunjuk, isi
dan bahasa. Ketiga aspek tersebut juga masuk pada kategori valid. Rangkuman hasil validasi
ahli terhadap lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum ditunjukkan pada Tabel 4.2

Data pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa secara umum penilaian hasil validasi ahli berada
pada kategori “valid” dan “sangat valid”. Secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
(a). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah afektif untuk aspek petunjuk
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(b). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah afektif untuk aspek isi
adalah ̅ = 4,33 dinyatakan dalam kategori ” valid” (3,5 < ̅ < 4,5).
(c). Nilai rata-rata kevalidan terhadap lembar penilaian ranah Afektif untuk aspek bahasa
adalah ̅ = 4,66 dinyatakan dalam kategori “ sangat valid” (4,5 < ̅ < 5,0).
(d). Berdasarkan uraian hasil analisis diatas, nilai rata-rata total kevalidan lembar
penilaian ranah afektif adalah ̅ = 4,55 dari skor ideal 5 sesuai kriteria kevalidan. nilai
ini masuk pada kategori “valid” (3,5 < ̅ < 4,5). Jadi ditinjau keseluruhan aspek, maka
lembar penilaian ranah afektif dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b. Uji Reliabilitas secara Teoritis
Selain melakukan uji validasi oleh ahli dan praktisi (expert judgement) dilakukan juga uji
reliabilitas secara teoritis. Uji reliabilitas diperoleh dari hasil penilaian yang diberikan oleh
ketiga validator. Untuk instrumen penilaian ranah afektif dari hasil penilaian tersebut diketahui
bahwa jumlah agreement (A) = 7 dan jumlah disagreement (D) = 1 sehingga dapat dihitung
tingkat reliabilitasnya berdasarkan rumus percentage of agreements sebagai berikut:
( )
( ) ( )
( )
Jadi dapat dikatakan bahwa koefisien (derajat) reliabilitas instrumen penilaian ranah
afektif yang diperoleh yaitu 0,875 atau R = 87,5%. Nilai tersebut mengandung arti bahwa
kesepakatan ketiga pakar memiliki kesamaan sebesar 87,5% terhadap reliabilitas instrumen.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dapat diperoleh bahwa besarnya koefisien (derajat)
reliabilitas atau , dengan demikian instrumen yang dibuat telah memenuhi
indikator reliabel.
c. Ujicoba Terbatas
Ujicoba terbatas bertujuan untuk memperoleh masukan langsung dari lapangan (empirik)
terhadap instrumen penilaian yang dikembangkan. Pada tahap ini diamati keandalan
(kevalidan) dan kekonsistenan (reliabilitas) instrumen yang telah dikembangkan.
1. Uji Keandalan/Kevalidan Instrumen
a). Uji keandalan/kevalidan instrumen penilaian ranah afektif.
(1). Uji Keandalan/kevalidan instrumen kuesioner self assesment siswa.
Instrumen penilaian ranah afektif untuk kuesioner self assesment yang dikembangkan
sebanyak 53 butir pernyataan. Hasil validasi oleh ahli maka dilakukan revisi dan hanya 49 butir
pernyataan yang valid setelah dilakukan perbaikan. Setelah ujicoba, dilakukan analisis terhadap
instrumen ini berupa validitas butir dari 49 butir pernyataan aspek afektif yang dikembangkan.
Hasil analisis dengan menggunakan bantuan SPSS versi 16, didapatkan hasil secara keseluruhan
40 AJPP/1.2; 34-42; 2022
butir instrumen yang dikembangkan berada pada kategori valid dimana harga kritik untuk
kriteria kevalidan adalah 0,3 sehingga tidak ada butir pernyataan yang harus dibuang. Artinya
semua butir pernyataan dalam instrumen memenuhi kriteria sebagai instrumen penilaian yang
baik atau valid secara empiris. Hal ini pula memenuhi syarat instrumen ranah afektif yang baik.
(2). Uji keandalan/kevalidan instrumen lembar penilaian ranah afektif pada saat praktikum.
Hasil analisis menggunakan bantuan software SPSS versi 16 untuk lima (5) aspek yang
diamati masing-masing memiliki nilai validasi untuk aspek pertama 0.542; aspek kedua 0.923;
aspek ketiga 0.667; aspek keempat 0.923; dan aspek kelima 0.923. Menurut kriteria Cronbach
standar minimal koefisien korelasi sebagai acuan validitas adalah 0,30 maka seluruh nilai
korelasi untuk aspek pertama, kedua, ketiga , keempat dan kelima adalah valid.
Demikian juga jika digunakan acuan signifikansi 0,05 yang digunakan, diperoleh bahwa
nilai untuk aspek pertama 0.002, aspek kedua 0.000, aspek ketiga 0.000, aspek keempat 0.000,
dan aspek kelima 0.000 semuanya lebih kecil dari 0,05. Secara keseluruhan nilai signifikansi
setiap aspek lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa penilaian afektif valid
keseluruhan secara empiris.

2. Uji kekonsistenan/reliabilitas instrumen


Reliabilitas instrumen penilaian ranah afektif yang diukur adalah reliabilitas internal yang
diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengumpulan data. Berdasarkan sistem
pemberian skor. Metode yang digunakan adalah pengukuran reliabilitas untuk instrumen non
diskrit yaitu pengukuran yang dalam sistem skoringnya bersifat gradual. Hal ini biasa terdapat
pada instrumen non tes dengan skala Likert harga kritik untuk indeks reliabilitas instrumen
adalah 0,7 (Eko, 2012) artinya suatu instrumen dikatakan reliabel jika mempunyai nilai
koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7.
a). Uji kekonsistenan/reliabilitas instrumen penilaian ranah afektif
(1). Uji kekonsistenan/reliabilitas instrumen kuesioner self assesment siswa
Untuk mendapatkan reliabilitas instrumen kuesioner self assesment, dilakukan analisis
terhadap data hasil ujicoba dengan menggunakan SPSS versi 16. Melihat hasil dari analisis,
diperoleh nilai pengujian Alpha Cronbach pada instrumen kuesioner ini sebesar 0,754.
Berdasarkan hasil tersebut maka sesuai acuan yang diberikan dengan harga kritik 0,7 maka
instrumen penilaian ranah afektif untuk kuesioner self assesment telah memenuhi kriteria
reliabel secara empiris.
(2). Uji kekonsistenan/reliabilitas instrumen penilaian ranah afektif.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan bantuan software SPSS 16, maka
diperoleh hasil analisis untuk pengujian koefisien Alpha Cronbach pada penilaian afektif sebesar
0,853. Menurut Eko (2012), suatu instrumen dikatakan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi
apabila koefisien reliabilitasnya sama dengan atau lebih besar dari 0,70. Dari hasil SPSS
koefisien korelasi penilaian afektif sebesar 0,853 lebih besar dari 0,70, maka dapat dikatakan
bahwa instrumen penilaian afektif adalah reliabel secara empiris.
3. Tahap Perakitan instrumen final: Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan baik analisis
secara teoritis maupun analisis secara empirik, maka dapat diketahui bahwa instrumen
penilaian ranah afektif dan instrumen penilaian ranah psikomotorik yang dikembangkan
menunjukkan bahwa instrumen ini telah memenuhi kriteria valid dan reliabel. Maka
instrumen yang telah valid tersebut dirakit menjadi istrumen final. Sehingga instrumen ini
sudah bisa digunakan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas, guna
menilai ranah afektif siswa Alur pengembangan yang dilakukan pada penelitian ini dapat
dilihat sebagai berikut :
AJPP/1.2; 34-42; 2022 41

Ketercapaian tujuan penelitian

a). Kevalidan.
Berdasarkan hasil penilaian validator maupun hasil uji kevalidan setelah ujicoba seperti
yang dikemukakan sebelumnya instrumen penilaian ranah afektif , untuk hasil penilaian
validator instrumen yang dikembangkan secara keseluruhan berada pada kategori valid,
meskipun telah dilakukan beberapa revisi kecil sesuai saran yang diberikan validator.
Selanjutnya untuk hasil validasi setelah ujicoba secara keseluruhan telah memenuhi kriteria
kevalidan. Hal ini dibuktikan koefisien korelasi dari instrumen yang dikembangkan, afektif
maupun psikomotorik lebih besar dari 0, 30 dimana Eko (2012), mengemukakan bahwa
koofisien berkisar antara 0,30 telah dapat memberikan konstribusi yang baik, sehingga
instrumen yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan.
b). Reliabilitas
Mencermati data hasil perhitungan reliabel secara teoritis, diperoleh nilai 0,875 atau
sebesar 87,5% menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada kategori tinggi. Maka sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan instrumen yang dibuat telah memenuhi syarat reliabel secara
teori. Demikian pula untuk hasil uji reliabilitas secara empirik dengan menggunakan rumus
Alpha Cronbach diperoleh nilai koefisien korelasi instrumen penilaian ranah afektif dan
instrumen penilaian ranah psikomotorik secara keseluruhan lebih besar dari 0,70. Jadi dapat
disimpulkan bahwa instrumen penilaian ranah afektif secara keseluruhan telah memenuhi
kriteria reliabel. Hal ini dibahas berdasarkan teori yang dikemukakan Eko (2012) bahwa suatu
instrumen dikatakan reliabel jika mempunyai nilai koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7.
c). Kendala-kendala dan keterbatasan yang ditemukan saat penelitian.
Saat penelitian dilakukan, banyaknya subjek ujicoba adalah 31 orang dengan observer
hanya tiga orang, maka penelitian dirasakan kurang efektif untuk menilai dengan cermat dan
42 AJPP/1.2; 34-42; 2022
tepat semua subjek ujicoba tersebut. Sehingga sangat beralasan jika selama ini guru hanya
menggunakan patokan baik, cukup, dan kurang pada penilaian afektif siswa. Kebiasaan guru
yang jarang menggunakan pedoman penilaian juga menyebabkan guru kurang aktif dalam
menggunakan instrumen yang dikembangkan.

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, serta hubungannya
dengan rumusan masalah yang diangkat, maka dapat disimpulkan beberapa hal pokok yang
berkaitan dengan pengembangan instrumen penilaian ranah afektif sebagai berikut :
1. Instrumen yang dibuat telah memenuhi kriteria valid baik secara teoritis maupun secara
empiris. Hal ini dibuktikan secara teoritis instrumen yang dibuat berada pada kategori valid.
Secara empiris hal ini dibuktikan dengan adanya koefisien korelasi dari instrumen yang
dibuat keseluruhannya adalah ≥ 0,3.
2. Instrumen yang dibuat telah memenuhi kriteria reliabel baik secara teoritis maupun secara
empiris. Hal ini dibuktikan secara teoritis percentage of agreement sebesar 87,5 % berada
pada kategori tinggi. Dan secara empiris hal ini dibuktikan dengan nilai dari koefisien
korelasi dari instrumen yang dibuat keseluruhannya adalah ≥ 0,7.

E. Referensi

Ali, S., & Khaeruddin. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Makassar. Badan penerbit UNM.
Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Asyhar. (2012). Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif. Makassar:
[Link] [Link]. diakses
tanggal 22 Desember 2012.
Azwar, S. (2011). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bloom, B. S., MA DAUS, G. F., & Hastings, J. T. (2006). Evaluasi Pada Perbaikan Pembelajaran ;
UNV. OF CHICAGO.
Chen, Y. (2012). Pedoman Pengembangan Instrumen Dan Penilaian Ranah Afektif. Makassar:
[Link]
diakses tanggal 22 Desember 2012.
Depdiknas. (2008). Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian Afektif di SMA. Jakarta: Direktorat
pembinaan SMA.
Djaali dan Muljono. (2008). Pengukuran dalam bidang pendidikan. Jakarta: Grasindo (Gramedia
Widiasarana).
Eko. P. W. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hamid, H. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mansyur, R. H. & Suratno. (2009). Asesmen Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Multi
Pressindo.
Mardapi, D. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Yogyakarta: Mitra Cendekia
Press.
Rea, P., & Germine, K. (2006). Evaluasi (Bahasa Pengajaran). oxford university press.
Slameto. (1999). Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.
Sudjana, D. (2006). Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, N. (2008). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, S. (2005). Pengembangan alat ukur psikologis. Yogyakarta: Andi.
Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktifistik. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher.
Uno, H., & Koni, S. (2012). Assesment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Anda mungkin juga menyukai