PROLOG
Aku memandang ke luar, melihat pemandangan yang
berubah bersama hembusan angin kencang. Suara
musik di dalam mobil terdengar pelan, lagu yang sudah
akrab di telinga karena yang memutar adalah orang
yang sama, dan dia suka mendengarkan lagu yang sama
berulang kali. Aku menundukkan kepala, merasa
kelelahan yang menumpuk selama beberapa hari dan
baru saja tidur beberapa jam yang lalu. Pengemudi yang
duduk di sebelahku melirik sedikit sebelum bertanya.
"Semalam tidur larut lagi?"
"Uh-huh."
"Sudah begini dan kau masih kerja?"
"Uh-huh."
"Jangan tidur dulu, beri tahu arah dulu."
"Nanti belok kanan di persimpangan depan, sudah
sampai. Kondominium yang besar itu." Aku menjawab
singkat sebelum tertidur lelap di atas mobil bak yang
penuh sesak dengan barang-barang. Namun, baru
beberapa menit tidur, seseorang menggoyangkan
lenganku dengan lembut. Aku membuka mata dengan
susah payah.
"Sudah sampai, Daotok."
"Oke." Aku menurunkan kaki dari mobil yang tinggi,
melihat barang-barang yang memenuhi bak mobil. Itu
semua barang-barangku sendiri. Hari ini adalah hari aku
pindah ke kondominium baru. Karena harus
memindahkan
banyak barang, aku terpaksa meminta bantuan dari
ketiga temanku. Memang hanya ada mereka.
"Wow, mewah sekali." North, mahasiswa jurusan Teknik
Elektro yang menjadi pengemudi mobil bak besar dan
pemilik daftar putar lagu yang sama, mendongak
melihat kondominium yang baru saja kusewa minggu
lalu. "Kau benar-benar orang kaya, ya."
"Tidak. Mereka memberikan diskon
besar untuk kamar ini." "Benarkah?
Berapa diskonnya?"
"Yah... hampir tujuh puluh persen."
"Serius, banyak sekali. Ada promosi apa?" Typhoon,
yang dipanggil Mew karena wajahnya mirip kucing dan
belajar fotografi, berkata. Tampaknya hanya aku yang
masih memanggilnya Mew sampai sekarang.
"Seperti tambahan hantu gratis." North menyahut,
membuat Easter, calon dokter hewan, menepuk
bahunya dengan pelan.
"Mulutmu itu, ya!!"
"Eh, kau tidak curiga sedikit pun? Diskon sebanyak itu,
tinggal sedikit lagi kau bisa tinggal gratis sekalian."
"Tidak." Aku menjawab dengan tenang seperti biasa.
"Dan aku juga tidak peduli. Ayo angkat barang-barang."
Aku mulai membawa barang-barang yang memenuhi
bak mobil itu ke kamar baruku. Aku mengangkat kotak
berisi barang dan masuk ke dalam lift yang sudah
ditunggu oleh yang lain. Setelah menekan nomor lantai,
kami menunggu lift bergerak perlahan ke lantai tujuh.
Aku berjalan menuju
pintu kamarku. Aku sudah melihatnya sekali ketika
pemilik kondominium mengajakku melihat-lihat.
Sebenarnya, hanya karena kesepakatan untuk
memberikan diskon besar, aku hampir tidak bisa
menolak. Diskonnya berlaku jika aku menyetujui
kontrak untuk tinggal selama satu tahun. Aku
menempelkan kartu kunci ke pintu kamar 702 dan
membuka pintu.
Kamar ini adalah kamar kedua dari ujung lorong. Kamar
di sebelah kiri yang berada di ujung lorong memiliki
jendela dan sedikit lebih luas. Sebenarnya agak
membuat iri, karena aku juga ingin punya jendela
sendiri. Tapi, kamar di sebelah kiri sudah ada
penghuninya.
Kamar di sebelah kanan kosong. Kamar di seberangnya
kosong. Kamar di sebelah kanan lagi juga kosong.
Singkatnya, di seluruh lantai tujuh, tidak ada penghuni
sama sekali.
Kecuali kamar 701 yang ada di sisi kiri, dan aku yang
baru saja pindah. Kau sudah bisa menebak kenapa,
kan?
Begitu aku membuka pintu dan meraih saklar lampu di
sebelahnya, aku melangkah masuk, meletakkan barang
di tengah ruangan, lalu berbalik dan melihat bahwa
ketiga temanku hanya berdiri dengan wajah kaku di
depan pintu tanpa mengikuti masuk.
"Ada apa?"
"Uh, tidak apa-apa. Hanya saja... rasanya agak aneh,"
kata Mew dengan senyum kaku, sambil melirik ke arah
North dengan wajah cemas. Mereka semua akhirnya
masuk ke kamar dan meletakkan barang-barang. "Iya,
maaf ya, Dao, tapi kami, eh..."
"Aku bisa mengangkatnya sendiri, tidak masalah."
"Tidak, maksudnya bukan tidak mau membantu, tapi,
eh..." Mew mengerutkan alisnya sambil melihat North
yang wajahnya mulai pucat. "North, kau kenapa?"
"Ada... ada apa?!"
"Kenapa suaramu keras begitu?"
"Sial, tanganku dingin, merinding juga. Kenapa ya?
Perasaan ini buruk sekali, aneh."
"Uh-huh, kamar ini membuatku merasa tidak enak,"
tambah Ter. Aku tidak menjawab karena sudah
mengerti, lalu berjalan membuka tirai, berpikir udara
yang segar mungkin akan membuat perasaan lebih
baik.
"Tidak ada apa-apa kok, aku janji."
"..."
"Kamar ini hanya terlalu lama tidak dihuni saja."
"Uh-huh, ayo lanjutkan angkat barang," kata Mew. Kami
turun lagi dan mulai mengangkut barang satu per satu,
bolak-balik antara mobil dan kamar sampai akhirnya
semua barang berhasil dipindahkan. Rasanya semua
orang sudah lupa tentang perasaan tidak enak di awal
saat masuk ke kamar karena kelelahan. Mereka duduk
terengah-engah.
"Barangmu banyak sekali," keluh North sambil
berbaring di tempat tidur yang bahkan aku sendiri
belum pernah tiduri.
"Ngomong-ngomong, North," kataku, "itu mobil
milikmu?"
"Bukan. Aku bilang pada Phi Jo kalau aku akan
membantu teman pindah tapi tidak punya kendaraan.
Keesokan harinya, Phi Joe memberikan kunci mobil ini."
Phi Joe atau Phi Johan yang kita bicarakan adalah pacar
North.
"Oh," aku mengangguk kecil. "Terima kasih, sudah mau
bantu. Maaf merepotkan, pasti kalian lelah."
"Tidak apa-apa. Sejujurnya, ini pertama kalinya kau
meminta sesuatu dari kami," kata Ter sambil tersenyum
lebar. "Senang sekali bisa membantu."
"Kau sudah tanya aku belum? Aduh!"
"Kau juga ikhlas membantu, North."
"Iya, ikhlas, tapi kalau bisa makan bareng sedikit sih
enak. Aduh, kenapa kau pukul aku lagi?" North
menatap Ter dengan wajah kesal.
"Aku gemas padamu."
"Jangan gigit aku, muka anjing."
"Kau yang anjing."
"Jangan berkelahi," Mew menegur. "Ngomong-
ngomong, Dao, lantai ini sepi sekali ya, atau hanya
perasaanku saja?"
"Uh-huh, memang, lantai ini hanya dihuni aku dan
kamar sebelah."
"Sialan, kenapa? Apa harga sewanya mahal sekali?"
North mengerutkan alisnya, padahal jelas dia sudah
ketakutan setengah mati, terlihat dari caranya
menggenggam lengan Ter dan wajahnya yang panik.
"Begini saja, bagaimana kalau kita ke kafe di bawah?"
Ter menyela tiba tiba, mungkin ingin menghindari
suasana yang mulai terasa aneh. Bukan suasana di
antara kami, tapi suasana di dalam kamar.
"Oke," semua setuju dan kami pergi ke kafe di bawah
kondominium untuk bersantai.
"Ceritakan, ceritakan!" North mulai memaksa setelah
kami keluar dari kamar. North memang takut hantu,
tapi juga suka mendengar dan menonton hal-hal yang
berhubungan dengan hantu. Karena tadi takut, dia tidak
bertanya, tapi sekarang setelah di luar, dia mulai
bertanya.
"Uh-huh, kamarku punya sejarah banyak orang mati.
Ada desas-desus bahwa ini adalah kamar terkutuk." Aku
mulai bercerita tentang sejarah yang kutemukan terkait
kamar baruku. Semua mendengarkan dengan seksama.
"Awalnya sekitar lima tahun lalu, ada mahasiswi
kedokteran tingkat empat yang bunuh diri. Dia
melompat dari balkon, mungkin karena stres dengan
kuliah dan masalah dengan pacarnya."
"..."
"Setelah itu, dua tahun kemudian, atau tiga tahun yang
lalu, seorang wanita pekerja dibunuh oleh pacarnya di
kamar mandi. Alasannya karena mereka bertengkar
saat mabuk, pacarnya mencekiknya tepat di atas bak
mandi."
"...Sial, sudah dua korban,"
"North, jangan potong dulu."
"Maaf, maaf."
"Terakhir, beberapa bulan lalu, ada mahasiswa fakultas
ilmu politik yang ditikam oleh pacarnya saat tidur.
Mungkin dia mati tanpa sempat menyadari."
"Beberapa bulan lalu?" Ter mengangkat alisnya,
matanya melebar karena kaget. "Oh iya, iya, ingat,
berita itu ramai sekali dibicarakan di kampus."
"Oh, aku juga ingat," kata North sambil mengangguk
cepat. "Seram sekali. Tapi pacarnya sudah dipenjara,
kan?"
"Iya, sudah ditangkap."
"Jadi, sudah tiga orang yang meninggal di kamar itu?"
tanya Mew dengan cemas. "Wah, Dao, ini tidak aman.
Kok bisa kau mau tinggal di sini, padahal tahu
sejarahnya?"
"Karena tahu itulah," aku tersenyum kecil sambil
meneguk es kapucino di tanganku. "Seluruh penghuni
di lantai tujuh sudah pindah keluar. Katanya, mereka
tidak tahan karena sering diganggu."
"Jadi, penghuni di sebelah kamarmu ini pasti kuat sekali
ya, bisa tinggal sendirian," kata North. Aku mengangguk
tanda setuju. "Kamu tinggal di sini karena murah, ya?
Tidak takut?"
"Tidak. Meskipun mereka memberiku harga murah
begini, tetap saja mereka untung. Mereka ingin aku
tinggal selama satu tahun supaya rumor buruk tentang
kondominium ini bisa hilang."
"Oh, maksudnya, kalau ada orang yang tinggal di sini
dan tidak apa-apa, rumor itu akan berhenti?" tanya Ter.
Aku mengangguk sebagai jawaban. "Iya, aku paham.
Aku juga mengerti kalau kau tidak takut. Tapi... sial, dari
awal buka pintu sudah merasa tidak enak. Kau yakin
bisa tinggal di sini? Coba pikirkan lagi."
"Bisa. Aku yakin kok."
"Aduh, aku pasti mati kalau jadi kau, serius," kata North
sambil mengusap lengannya yang merinding. "Kalau
memang sudah angker, tolong minta nomor lotre kalau
ketemu, ya."
"Bisa, kalau mereka mau kasih."
"Wah, kau bukan cuma tidak takut hantu, tapi baik hati
pula. Cocok sekali jadi peramal," aku tersenyum kecil
mendengar komentar North.
"Ada hubungannya?"
"Eh, coba ramal aku, bisa tidak, hari ini?"
"Bisa," aku mengangguk kecil sebelum merogoh tas dan
mengeluarkan kartu tarot. Aku harus membawa alat
ramal setiap hari, karena North sering tiba-tiba minta
diramal gratis kapan saja.
Aku bukan peramal palsu atau bohong-bohongan.
Nenekku yang mengajarkan ini semua. Nenekku sangat
ahli dalam hal-hal semacam ini.
Aku menyuruh North memilih kartu sesuai langkah-
langkah untuk ramalan hari ini.
"Hmm... belakangan ini, mungkin akan ada perubahan
kecil dalam hidupmu, North."
"Hah?"
"Perubahan kecil, maksudnya sesuatu yang bisa
mengubahmu, tapi tidak sampai mengubah hidupmu
sepenuhnya. Tidak tahu apakah baik atau buruk, tapi
akan berdampak cukup besar."
"...Tidak tahu baik atau buruk? Tidak bisa kau
memberitahuku sekalian apakah baik atau tidak?"
"Ya, aku memang tidak tahu. Cukup siapkan diri saja,
sebentar lagi akan terjadi."
"Aku jadi stres," North mengusap dahinya. "Coba kalian
juga. Ter, kau lihat juga."
"Oke, oke, coba baca milikky," kata Ter. Aku pun mulai
meramal Ter.
"Hidupmu mulus sekali. Semua baik-baik saja. Selamat,
Ter," aku tersenyum senang karena hasil ramalan Ter
sangat baik. "Mew, kau mau coba?"
"Tidak."
"Kamu selalu menghindar, Phoon."
"Yah, kalau hasilnya sepertimu, bisa-bisa aku stres,"
jawab Mew sambil menghindar. "Dao, apa kau bisa
meramal diri sendiri?" Pertanyaan Mew membuatku
menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Sayang sekali. Kalau aku bisa meramal diri sendiri,
sudah kulakukan setiap hari," North berkata dengan
nada kecewa sambil merebut minuman cokelat Ter,
yang langsung membuatnya dipukul lagi. Mereka
berdua memang suka bercanda begitu. "Kau bisa bicara
dengan hantu, kan?"
"?"
"Bisa ngobrol dengan hantu tidak?"
"Kenapa kau bertanya, kenapa kita harus bisa bicara
dengan hantu?" aku balik bertanya.
"Lho, kan kau bilang punya kemampuan itu."
"Memang iya... tapi untuk apa coba bicara dengan
mereka? Tidak ada yang menarik dari pembicaraan
itu."
"Iya juga, sih. Siapa sih yang mau bicara dengan hantu?"
Ter bertanya dengan nada ingin tahu. "Tapi kenapa kau
pikir hantu bisa kasih nomor lotre? Waktu masih hidup
saja belum tentu pernah menang."
"Yang kau bilang masuk akal juga," North mulai
mengusap dagunya. "Benar juga, kenapa ya?"
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Dipikirkan juga tidak akan
ada gunanya," Mew menimpali. "Eh, ini sudah jam
empat. Waktu cepat sekali."
"Benar juga. Kapan pacar kalian selesai kuliah?"
tanyaku, karena pacar teman-temanku semuanya saling
kenal. Jadi, mereka punya pasangan yang semuanya
satu geng, dan semuanya belajar kedokteran.
"Jam empat juga."
"Kalau begitu, kalian bisa pulang sekarang," aku
tersenyum. "Aku akan traktir kopi sebagai tanda terima
kasih karena sudah membantu angkat barang."
"Lho, mana janji babi panggangnya?" North bertanya.
"Kau niru Ter, ya," aku menggoda, membuat Ter terlihat
kaget.
"Dao tidak mungkin berkata seperti itu padaku, kan?
Dao itu baik sekali," Ter menoleh ke Mew, dan Mew
hanya menggeleng pelan. Entah dia tidak tahu atau
tidak mau terlibat.
"Babi panggang nanti saja, oke?"
"Oke," mereka semua berdiri bersamaan. Aku berjalan
ke kasir untuk membayar. Saat sedang menunggu
kembalian, aku mendengar North berteriak dari luar.
"Phi Thit!"
"..."
North memanggil seseorang yang sedang berjalan
melewati kafe. Orang yang dipanggil menoleh dengan
ekspresi sedikit kesal. Sosok tinggi berkulit gelap itu
memakai seragam mahasiswa, tapi kelihatannya tidak
terlalu rapi.
Phi Thit...?
Oh.
Oh... itu Phi Arthit, teman dari pacar-pacar mereka.
Orang yang waktu itu mengambil makanan yang dibawa
Mew, padahal Mew berniat memberikan makanan itu
kepada Phi Tonfah sebagai cara untuk menarik
perhatiannya. Itu adalah pertama kalinya Mew
berusaha, tapi kesan pertama malah dirusak begitu
saja.
"Lho, apa yang kau lakukan di sini?"
"Membantu teman pindah. Kalau Phi, tinggal di sini?"
"Ya."
"Serius? Phi tinggal di mana?"
"701, kenapa?"
701?
Itu kamar di sebelah kiriku.
Chapter 1: Friend
~ARTHIT~
"Wow, keren sekali!"
"Biasa saja."
"Loh, kenapa ruangannya gelap, Phi? Kenapa kau tidak
membuka jendelanya." Istri Joe berjalan mengelilingi
kamar karena dia bilang ingin melihat kamar ku. Ya
sudah, kalau mau lihat, lihat saja. Dia langsung
membuka tirai kamar tanpa izin.
"Phi baru saja pulang."
"Kenapa apek sekali? Apa ada binatang yang mati?"
"Apek apanya, biasa saja. Aku juga tinggal di
sini dengan normal." "Benarkah? Oh ya,
biasanya dia makan apa?"
"Aku belikan daging, ayam atau semacam itu." Aku
menjawab, merujuk pada ular yang aku pelihara.
Seekor ular jenis ball python berwarna kuning muda
yang aku simpan di dalam akuarium kaca.
"Berapa harganya, Phi?"
"Dua atau tiga ratus ribu baht, mungkin.
Motif ini sulit didapat." "Kalau dia merayap
lalu jatuh dari gedung, bagaimana?"
"Ya, hancur lah."
"Benarkah Phi tinggal sendiri di seluruh lantai ini?"
"Ya, kenapa? Tapi temanmu sudah tinggal di sini, kan?"
"Ya, berarti kalian tinggal berdua di seluruh lantai ini.
Tolong jaga teman ku baik-baik, ya."
"Untuk apa?"
"Aduh, Phi tahu tidak soal kamar sebelah? Katanya
angker, kan. Apa Phi pernah melihat sesuatu?"
"Ya." Aku menghela napas panjang dengan rasa kesal
saat memikirkan kamar sebelah. "Setiap malam aku
mendengar suara itu, benar-benar mengganggu. Tolong
bilang ke temanmu, suruh berhenti menyeret meja dan
kursi. Aku tidak bisa tidur."
"..." North terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang
untuk menenangkan diri. "Tunggu sebentar, Phi. Setiap
malam? Kalau begitu, teman ku bisa mati ketakutan,
kan?"
"Kalau dia takut, kenapa pindah ke sini?"
"Tapi dia bilang tidak takut, sih."
"Bagus kalau begitu. Tapi kenapa dia pindah? Kupikir
aku bisa tinggal sendirian di sini sampai lulus." Aku
berkata, karena sejak hantu itu mulai muncul setiap
hari, semua orang di lantai ini pindah kecuali aku. Aku
malas untuk memindahkan barang-barang. Lagipula,
Phi Pe, pemilik kondominium, memberi potongan harga
hingga lima puluh persen.
"Pemilik kondominium memberi potongan harga
sampai tujuh puluh persen, jadi teman ku langsung
setuju untuk pindah ke sini."
"Tujuh puluh? Kenapa dia mendapat potongan lebih
banyak dari aku?"
"Karena kamar Phi ada di sebelahnya, kan? Kalau mau
potongan lebih banyak, pindah saja ke kamar itu."
"Aku malas memindahkan barang. Sudahlah, keluar
sana. Aku mau tidur." "Phi, kenapa mau tidur
sekarang? Masih sore."
"Aku mau tidur. Keluar, dan tutup pintunya."
"Iya, iya. Malam ini main game, kan?"
"Iya, nanti setelah aku bangun."
"Baik, Phi." Suara North terdengar sebelum dia keluar
dari kamarku, tak lupa menutup pintu dengan rapi.
Semoga teman North yang baru pindah tidak berisik.
Karena suara tawa, tangisan, dan gesekan kursi dari
kamar sebelah setiap malam sudah cukup
menyebalkan.
Kalau ditanya kenapa aku tidak pindah, jawabannya
adalah, aku malas memindahkan barang-barang.
Barang-barangku banyak sekali, jadi kenapa aku yang
harus pindah? Seharusnya mereka yang pindah, mereka
kan sudah mati, kenapa masih mengganggu?
Karena kelelahan setelah belajar seharian, aku
pun akhirnya tertidur. ..
..
~DAOTOK~
Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Setelah
beres-beres selama beberapa jam, aku merasa sangat
lelah. Aku memandang sekeliling kamar. Kamarnya
cukup bagus. Pemilik kondominium mengganti semua
perabotan baru, mulai dari sofa, kasur, hingga peralatan
di kamar mandi. Kamarnya juga cukup luas, jadi aku
bisa menyimpan banyak barang. Aku segera
mengeluarkan ponsel dan menelepon.
(Hei, sudah pindah ke kamar baru?)
"Ya, Pho. Kapan bisa mengantar Jon ke sini?"
(Pho sibuk sekali, minggu depan boleh?)
"Baik."
(Kau tidak pindah ke kamar yang aneh, kan? Soalnya
harganya murah, Pho khawatir.)
"Jangan khawatir. Bisakah aku bicara
dengan Dad sebentar." (Hei, anakmu
mau bicara.)
(Kapan kau pulang?) Suara berat dengan aksen Inggris
yang sudah sangat aku kenal terdengar dari ujung
telepon. Aku menjawab dalam bahasa Inggris, "Aku
baru pulang, Dad. Bisakah kirim foto Jon?"
(Tentu. Bagaimana kamar barumu?)
"Sangat luas, nyaman sekali."
(Baguslah. Nanti, kalau ada waktu, kami
akan menjengukmu.) "Oke, aku tutup
telepon dulu."
(Oke.)
Aku pun menutup telepon. Yang tadi aku ajak bicara
adalah Pho dan Dad. Aku punya dua ayah. Pho adalah
ayah kandungku, sedangkan Dad adalah suami Pho.
Dad orang Inggris, dan mereka menikah di sana. Setelah
itu,
Dad pindah ke Thailand bersama Pho, dan kami bertiga
hidup bahagia. Sementara itu, ibuku sudah menikah
lagi.
Ah, aku malas menceritakan soal keluarga. Sudahlah,
lupakan dulu.
Alasan aku pindah ke kamar yang lebih luas adalah
karena Jon. Jon adalah kucing hitam yang buta di salah
satu matanya. Aku menemukannya di dekat asrama
lamaku dan memutuskan untuk memeliharanya. Sejak
hari itu, hidupku jadi lebih bermakna, seperti
menemukan separuh hatiku yang hilang. Aku bekerja
keras agar bisa pindah kamar dan membawa Jon tinggal
bersamaku.
Aku melihat jam dan ternyata sudah lewat pukul tujuh
malam. Aku duduk di meja kerja, menyalakan lampu
meja, membuka tablet dengan pena digital, dan mulai
bekerja lagi.
Waktu berlalu hingga hampir pukul sepuluh malam. Aku
bangkit dan meregangkan tubuh, berniat untuk mandi.
Aku memandang gelang yang ada di tanganku dengan
sedikit ragu. Aku memiliki sesuatu yang berbeda dari
orang lain, tapi aku tidak tahu harus menyebutnya apa.
Aku bisa merasakan energi asing yang orang biasa tidak
bisa rasakan. Sesuatu yang cukup mengganggu seperti
perasaan orang lain juga. Misalnya, kalau hari ini
seseorang sedang sedih atau marah, aku akan bisa
merasakannya. Seolah perasaan mereka meluap dan
menghantamku. Jika mereka sedih, aku pun akan ikut
merasakan kesedihan itu. Ini cukup mengganggu.
Tapi hal-hal detail seperti perasaan orang lain itu
membutuhkan konsentrasi. Jadi aku tidak terlalu
terganggu karena aku tidak perlu berkonsentrasi untuk
merasakan perasaan siapapun, kecuali dengan
beberapa teman yang benar-benar aku pedulikan.
Seperti ketika aku bisa merasakan perasaan kucing,
misalnya.
Gelang yang diberikan nenekku membantuku menekan
kemampuan ini, agar aku tidak melihat atau merasakan
energi asing tersebut. Aku tidak takut, tapi merasakan
atau melihat hal-hal seperti itu tidak membuatku
merasa nyaman. Meskipun aku tidak sepenuhnya bisa
melihat segalanya, tetap saja rasanya tidak enak.
Aku memutuskan untuk melepas gelang itu, dan segera
energi aneh itu mulai terasa. Energi itu langsung
menghantamku begitu aku melepas gelangnya.
"Baiklah, mari kita bicara." Aku berkata, di tengah-
tengah ruangan yang tampak kosong, meskipun dalam
perasaanku, ruangan ini jauh dari kosong. Aku belum
bisa melihat mereka, entah kenapa, tapi aku juga tidak
ingin melihatnya.
"Aku membayar untuk menyewa kamar ini, jadi aku
pemiliknya. Kalian bisa cek kontraknya jika mau. Jadi
kalian tidak punya hak apa pun di sini. Kalau bisa, aku
minta kalian pergi."
Tentu saja, tidak ada suara yang menjawab. Tapi
perasaan yang aku rasakan menjadi semakin kuat.
Rasanya seperti mereka mulai marah.
Kenapa harus marah? Aku hanya
mengatakan yang sebenarnya. Inilah yang
membuatku merasa kesal.
Aku melepas pakaianku untuk bersiap mandi. Saat
melangkah ke kamar mandi, aku merasa heran karena
lantainya sudah basah. Bagaimana bisa lantainya
basah? Sejak tadi aku belum masuk ke kamar mandi.
"Jangan memboroskan air, lain kali tolong ambil air dari
tempat lain." Aku hanya berkata begitu dan langsung
menyalakan shower. Suara air yang mengalir dan
sensasi air hangat yang menyentuh kulitku membuatku
merasa sedikit lebih tenang. Tapi tak lama kemudian,
lampu di kamar mandi mulai berkedip-kedip. Aku
menghela napas lagi, mencoba untuk tidak
memikirkannya, dan melanjutkan mandi.
Akhirnya, lampu di kamar mandi benar-benar padam.
Aku mengeringkan tubuhku dan keluar dari kamar
mandi.
Tapi pintu kamar mandi terkunci dari luar.
Pertanyaan pertama... Kenapa mereka mengunciku di
dalam kamar mandi?
Pertanyaan kedua... Bagaimana aku bisa keluar?
Rambutku masih basah. Kalau aku kena flu, akan sangat
merepotkan.
"Buka pintunya."
"Tolong, jangan ganggu aku."
"Dengarkan aku dengan jelas, aku tidak akan melakukan
apapun kalau tidak ada alasan yang jelas." Aku berkata
dengan nada agak kesal, "Bahkan aku sendiri masih
dibebani oleh banyak kesalahan."
"...Hiks... hiks... Huhuhu..." Suara tangisan terdengar
samar-samar.
Suara tangisan itu semakin jelas, seakan-akan berasal
dari sudut ruangan yang gelap. Aku berdiri diam
sejenak, mencoba menenangkan pikiranku. Ini bukan
pertama kalinya aku mengalami hal semacam ini, tapi
tetap saja, rasanya tidak nyaman.
Aku mendengar suara tangisan yang keras dari
belakang. Ketika menoleh, aku tidak melihat apa-apa
karena gelap. Aku ingat ada seorang wanita yang
dibunuh di bathtub. Akupun menatap ke arah bathtub.
Setelah beberapa saat, mata ku terbiasa dengan
kegelapan, dan aku bisa melihat bayangan samar.
"Apa kau ada di sini?"
"Hik, uuhuhuh."
"Jika kau juga ada di sini, wanita dan pria seharusnya
tidak berada di kamar mandi bersama-sama. Aku akan
menutup mata." Aku perlahan-lahan menutup mata,
seperti yang ku katakan, dan membungkus diri dengan
handuk lebih erat agar yakin wanita itu tidak bisa
melihat ku.
"Apa kau yang mengurungku?"
"Hik, hik, uuhuhuh."
"Bicara denganku. Aku sudah kedinginan. Apa aku harus
membawa komputer ke dalam kamar mandi untuk
bekerja?"
"Hik, huuhu." Suara tangisan semakin keras. Aku
mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang
sebenarnya dia inginkan. Jika dia tidak ingin diajak
bicara, kenapa dia mengurungku di kamar mandi?
Sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, aku mendengar
suara kunci pintu kamar mandi dibuka.
"Apa aku sudah boleh pergi? Jadi, kau ingin teman
untuk berbicara, bukan?"
"Hik, uuhuh. Hik."
"Baiklah, kau bisa mencuci muka sekarang. Aku
mengizinkanmu menggunakan wastafel. Hati-hati,
jangan sampai matamu bengkak." Aku berkata sebelum
membuka pintu. Tapi, mengapa pintu kamar mandi
terkunci dari luar? Apa dia bisa menembus dinding
untuk mengunci lalu kembali ke dalam?
Lupakan saja.
Aku cepat-cepat mengenakan pakaian dan
mengeringkan rambut, lalu kembali mengenakan
gelang dan melanjutkan pekerjaan. Gelang itu bagus
karena membuat ku memiliki indera seperti orang biasa.
Itu berarti aku dapat merasakan hal-hal yang terlalu
kuat untuk dirasakan oleh orang normal. Saat
mengenakan gelang, aku juga merasakan hal yang
sama.
Aku terus bekerja hingga lupa melihat waktu, seperti
biasa. Karena masih belum saatnya masuk kuliah, aku
terus bekerja hingga larut malam. Setelah pekerjaan
selesai, aku segera mengirimkannya kepada klien untuk
diperiksa. Dia mengirimkannya kembali dan memberi
tahu bagian mana yang harus diperbaiki, dan aku
berusaha untuk memperbaikinya.
"Ah, sial. Harusnya lebih kecil dari ini."
"Lebih kecil!"
"Jangan bilang lebih kecil dari ini, nanti jadi tidak bisa
terlihat."
"Bagaimana? Jika diubah lagi, itu tidak akan terlihat
mencolok. Dan apakah ingin menambahkan bayangan?
Hmm, ini sore hari, bisakah menambah bayangan lagi?
Jika ingin banyak bayangan, kenapa tidak memberi tahu
bahwa ini siang hari? Di sore hari, tidak ada cahaya."
Aku berkata pelan pada diri sendiri. Ya, aku memang
memiliki kebiasaan berbicara pada diri sendiri sejak
kecil karena bukan orang yang banyak teman, jadi harus
berbicara dengan diri sendiri hingga menjadi kebiasaan.
Jika tidak berbicara, tidak bisa fokus.
Dan yang lebih penting adalah,
"Apa yang harus dilakukan?"
"Coba atur posisinya."
"Ah, itu ide yang bagus." Aku mengatakannya sambil
menoleh ke samping, melihat sosok yang baru muncul.
Seorang gadis sebayang, dengan rambut pendek
keriting berwarna coklat, mata berwarna hazel, dan
mengenakan gaun putih dengan pola bunga. Di tangan
kirinya, dia memegang boneka beruang tua. Tersenyum
ramah.
Emma...
Kau pikir Emma adalah roh?
Tidak, Emma adalah teman imajiner saat masih kecil.
Orang-orang suka menciptakan teman imajiner untuk
bermain saat masih kecil, bukan? Tapi tidak tahu
kenapa Emma tidak menghilang saat sudah besar.
Mungkin karena ketika tumbuh dewasa, tidak banyak
teman. Tapi, itu tidak buruk, bisa berbicara dan tidak
merasa kesepian. Emma tidak membocorkan rahasia
tentang diriku kepada siapa pun.
"Michael..."
"Apa?"
"Emma suka dengan kamar baru ini. Aku merasa sangat
nyaman."
"Benarkah? Temanku juga bilang seperti itu."
"Hari ini, North mengenakan baju hitam, dia sangat
menarik."
Emma adalah penggemar North, tapi tidak mungkin aku
memberitahu dia. Oh iya, Emma memanggilku Michael
karena sering diejek dengan nama bintang jatuh yang
dianggap seperti nama perempuan. Sering sekali, aku
diejek sebagai gay sejak taman kanak-kanak. Dengan
rasa jengkel, saat memasuki sekolah dasar, aku bilang
kepada semua teman bahwa namaku Michael.
Namun, saat sudah di sekolah menengah, sadar bahwa
itu adalah nama yang diberikan oleh Pho, aku tidak
mempermasalahkannya lagi. Nama ya nama. Tidak ada
masalah. Orang lain juga seharusnya tidak punya
masalah, kecuali North, karena namanya North, jadi
bisa memaklumi saat ada masalah dengan namaku.
Jadi, jika tidak suka dengan nama bintang jatuh, bisa
memanggilku Michael.
"North dekat dengan orang di sebelah kamar? Kenapa
dia tinggal di sana begitu lama?"
"Tidak tahu. Dia teman pacar North."
"Pacar North tampan, cocok satu sama lain."
"Emma, tolong diam sebentar. Aku sedang memikirkan
pekerjaan." "Okay. Harus bilang kepada Donut untuk
berhenti menatap Michael juga."
"Mm." Aku menjawab dengan acuh. Apa yang dilihat
Emma adalah hal yang terlihat. Donut adalah nama
seorang pria dari fakultas ilmu politik
yang ditikam pacarnya sampai mati saat masih tidur.
Katanya, dia sudah menatapku lama saat bekerja.
Meskipun tidak jelas, tapi aku masih bisa
melihat bayangannya. "Emma."
"Apa? Michael menyuruh untuk diam, tapi Michael juga
memanggil. Apa yang harus dilakukan?"
"Apa aku seharusnya mengambil jimat untuk
digantung di leher?" "Itu mungkin ide yang baik
jika bisa mengusir Donut."
"Okay." Aku mengatakannya sambil berdiri dari meja,
mencari jimat dalam saku dan memakainya. Tidak tahu
seberapa banyak itu bisa membantu, tapi tetap lebih
baik.
Kenapa dia belum pergi juga?
Aku tidak ingin berbicara dengannya sama sekali.
Bisa dibilang, aku merasa marah.
Meeeh... ada apa dengannya? Sangat tidak sopan.
Ah... bisakah dia pergi?
Donut berjalan menjauh dari meja kerjaku dan duduk di
tempat tidur, yang mungkin adalah tempat dia mati.
Aku kembali fokus pada pekerjaan. Sekilas melihat dia
mondar-mandir di dalam ruangan, dan itu sangat
mengganggu.
Srreeeetttt.....
Aku terkejut sedikit saat mendengar suara yang
menyakitkan telinga. Ternyata Donut sedang mencakar
dinding, berdiri menatap dinding dan menggerakkan
kuku di dinding naik turun.
Untuk apa dia melakukan itu?
Sial... aku mengambil headphone dan memasangnya,
lalu memutar suara hujan untuk mengabaikannya. Aku
tidak ingin berbicara atau berurusan dengannya dan
ingin fokus pada pekerjaan di depan meskipun masih
ada orang...
Maksudku, hantu yang membuat suara sangat
mengganggu tidak jauh dari sini.
Ketika harus berkonsentrasi di tempat yang berisik, suka
memutar suara hujan seperti ini, karena menyukai
suara hujan. Selain itu, jika suara musik, semakin sulit
untuk berkonsentrasi.
Hampir satu jam berlalu, mendengar
suara ketukan di pintu. Tengah malam?
Di lantai ini hanya ada aku dan teman pacarnya North.
Pasti tidak mungkin dia mengetuk pintu ini, kan? Aku
memperbesar suara di headphone untuk mengabaikan
ketukan... Tapi aku harus bangkit dari kursi ketika tidak
tahan dengan ketukan yang semakin keras.
Aku tidak ada ide untuk pekerjaan dan klien mendesak
agar bisa cepat selesai. Sungguh menyebalkan!!
"Berhenti mengetuk!" Aku mengatakan dengan suara
pelan ke arah pintu, berharap siapa pun yang mengetuk
dapat mendengarnya.
"Buka!"
"Tidak mau. Berhenti mengetuk dulu."
"Buka, bodoh!!" Terkejut saat orang di seberang
memukul pintu dengan keras.
"Jangan bersikap kasar. Apa? kau merasa kesepian?"
"Kesepian sih, itu mah jelas. Tapi bukan itu masalahnya
sialan, cepat buka!" "Kenapa harus berbicara kasar
seperti itu?"
"Ah, sial! Hei, aku manusia, oke!! Aku orang dari kamar
sebelah. Sekarang, buka pintunya!" Kalimat dari pihak
lain membuat terkejut. Oh, ternyata dia orang sebelah
kamar. Aku bergerak sedikit, mengedarkan pandangan,
dan menemukan bahwa itu benar-benar Phi teman
pacarnya North. Awalnya, aku tidak ingin melihat
karena mengira itu hantu, jadi tidak mau melihat. Lalu,
aku perlahan membuka pintu.
"Ada apa?"
"Bisakah kau berhenti untuk menggeser kursi? Sial, aku
tidak bisa tidur!"
"Donut... menggeser kursi?" Aku sedikit bingung. Jika
yang dimaksud adalah Donut, dia tidak menggeser
kursi. Dia hanya mencakar dinding saja. Melihat ke arah
Donut yang masih ada di tempatnya, dengan kuku-
kukunya yang sudah mengelupas dan darah menetes di
dinding dan lantai, rasanya tidak mungkin dia ada di
dua tempat disaat yang sama. Selain itu, semoga saja
noda darah nya tidak terlalu kotor, karena aku tidak
ingin membersihkannya. "Tidak ada yang menggeser
kursi."
"Tidak? Sudah jelas itu karena orang di dalam kamar ini.
Berhentilah membuat suara aneh."
"Baik, akan ku sampaikan."
"Bagus! Aku sangat terganggu dan tidak bisa tidur,
sialan!" Dia mengumpat dengan wajah kesal,
menggaruk kepalanya sebelum berbalik kembali ke
kamarnya. Menutup pintu perlahan dan melihat ke
dalam kamar dengan kebingungan.
Siapa yang menggeser kursi?
Kenapa tidak mendengar suara itu?
Aku melepas gelang untuk mencari tahu siapa yang
menggeser kursi tengah malam, bagus. Siapa lagi ini?
Setelah mencari tahu, aku ingat jika disini ada tiga
hantu. Tapi... wanita yang sedang menggantung dirinya
sekarang itu siapa? Dia mengenakan pakaian
mahasiswa yang usang dan kusut, lalu menggeser kursi
ke balkon untuk menggantung diri, karena di dalam
kamar tidak ada yang bisa diikat dengan tali, dan tidak
ada kipas langit-langit seperti di asrama, tapi... ada tali
jemuran di balkon. Dia menggeser kursi ke sana, sambil
menangis terisak-isak, lalu mengikat tali, memasukkan
wajahnya ke dalam lingkaran itu, dan menjatuhkan
kursi. Memang benar bahwa orang yang bunuh diri
pasti arwahnya akan melakukan hal yang sama
berulang-ulang.
Hmm... bagaimana cara menghadapi situasi ini?
...
Oke, lebih baik pergi membeli kopi terlebih dulu.
Aku melangkah keluar dari kamar diikuti Emma, turun
ke Seven eleven untuk membeli kopi dan sedikit
camilan agar bisa bekerja sampai pagi. Setelah itu,
kembali ke kamar sambil berpikir tentang bagaimana
menangani suara geseran kursi.
Ah... aku tahu. Jika ada tempat berdiri di situ, dia tidak
perlu menggeser ketika masuk kamar. Lalu, aku
mengatur barang yang tidak terpakai untuk diletakkan
di dekat railing balkon. Aku ingin membiarkan kursi
tetap di situ, tapi sayangnya hanya ada satu kursi di
seluruh kamar yang digunakan.
Lalu, aku mengenakan headphone dan melanjutkan
pekerjaan. Tidak tahu apakah suara geseran kursi masih
ada atau tidak, karena tidak aku memperhatikan. Tapi,
Donut yang berdiri mencakar dinding sudah pergi
kembali ke tempat tidurnya seperti sebelumnya.
Namun, tiba-tiba aku terkejut lagi ketika mendengar
suara sesuatu jatuh dari balkon dan mengenai lantai
dengan keras. Aku segera melepas headphone dan
bangkit untuk melihat ketika merasakan angin bertiup
dan sesuatu jatuh.
Aku melihat ke balkon untuk memeriksa apakah ada
yang rusak, tapi sepertinya tidak ada, dan wanita yang
menggantung diri juga sudah menghilang. Namun, saat
melihat ke bawah balkon, tampak seseorang terbaring
dengan darah yang menggenang.
Jatuh dari balkon lantai 7.
Oh, dari berita yang kubaca, ada wanita dari fakultas
kedokteran yang bunuh diri dengan melompat dari
balkon. Begitu mengetahui itu, jadi aku berpikir
mungkin dia akan melompat lagi. Dan sesuai dugaan,
tiba-tiba seorang wanita entah dari mana berdiri di
samping. Dia bahkan tidak
menatap. Wanita itu mengenakan piyama berlumuran
darah, wajahnya penuh air mata, lalu terjun tepat di
depan mataku.
Melihat sekali lagi, posisi mayat tergeletak persis sama.
Oke... jika harus mati, aku tidak mau bunuh diri. Harus
menggantung diri atau melompat dari gedung setiap
hari, sangat membosankan.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan melanjutkan
pekerjaan, membiarkan orang yang berwenang
melakukan tugasnya. Sekitar pukul tiga pagi, suara itu
berhenti.
"Orang di kamar mandi masih belum berhenti
menangis," kata Emma yang duduk di samping.
"Ya, mungkin kalau sudah lelah, dia akan berhenti."
"Pergi hibur dia."
"Tidak mau. Pekerjaanku belum selesai."
"Michael sangat kejam."
"Memang."
"Baiklah."
Aku melanjutkan pekerjaan sampai merasa tubuh sudah
tidak sanggup lagi, lalu berdiri, meregangkan badan
sedikit, dan bersiap untuk tidur. Begitu berbaring, aku
langsung merasa tidak nyaman. Mungkin ada yang tidak
mau aku berada di tempat ini.
Kalau begitu, berpindah ke sisi lain saja.
Aku membalik tubuh untuk tidur di sisi lain, tapi harus
kembali karena tidak bisa tidur juga. Meskipun aku
berguling ke kiri dan ke kanan, aku tetap tidak
merasa nyaman. Dengan rasa kantuk, akhirnya aku
terlelap dengan mudah. Dalam kondisi setengah tidur,
aku bermimpi melihat Donut sedang duduk
memandang di sisi kosong, mengatakan bahwa sangat
lapar, meminta makanan. Tapi, aku membalas jika aku
tidak ada uang....
Chapter 2: Hanged up
Aku terbangun dengan kesal karena suara ponsel. Aku
mencari ponsel yang berbunyi nyaring di seluruh
tempat tidur. Setelah menemukannya, aku melihat
bahwa itu adalah telepon dari Tonfah.
Sudah setengah enam?
Sial, aku sudah telat.
Aku segera bangkit dan menjawab panggilan dari Fah.
"Aku baru bangun"
(Cepat kesini.)
"Oke." Aku menutup telepon dan cepat-cepat mandi
serta berganti pakaian. Meskipun fakultas lain belum
libur, kami sudah harus mengambil residen. Begitu
memasuki tahun keempat, kami harus mulai magang,
dan itu sangat merepotkan. Biasanya, aku sudah
terbiasa dengan suara dari kamar sebelah, tapi
sepertinya malam tadi lebih mengganggu dibandingkan
malam-malam sebelumnya. Mungkin ada orang baru
yang pindah, jadi mereka mengadakan pesta. Setelah
berpikir, suara gesekan kursi itu pasti ulat Donut,
karena aku hanya mengenal Don. Apapun suara aneh
yang muncul, aku pasti menyalahkan dia.
Saat masih hidup, Don selalu merepotkan. Sekarang
setelah jadi hantu, dia masih saja mengganggu. Sudah
ditusuk oleh pacarnya sampai mati, tapi masih tidak
mau pergi dari sini. Dia hanya tetap di kamar, terus-
menerus
datang dalam mimpiku meminta makanan dan menagih
hutang yang pernah aku pinjam sebelum dia mati.
Padahal, aku kembalikan kepada ibunya saat
pemakamannya. Kenapa dia masih menagih? Saat
pemakamannya, aku juga sudah menyiapkan mobil
untuk membantunya. Apalagi yang dia mau dariku?
Aku mengeluh karena semalam aku bermimpi tentang
dia, yang mengatakan lapar lagi. Hah, dia lapar terus-
menerus. Sementara, aku harus belajar dan magang
juga harus dilakukan, selain itu... catatan kerja juga
harus dibuat. Dari mana aku bisa mencari makanan
dengan menyalakan dupa untuknya? Jadi hantu itu
enak, ya. Cukup datang dalam mimpi dan dia sudah
merasa puas. Sepertinya dia terlalu egois.
Karena dia memilih untuk datang dalam mimpiku, aku
jadi tidak bisa tidur nyenyak. Sekarang aku bangun
terlambat. Jika dosenku marah, apa Don mau
bertanggung jawab?
Aku segera menaiki motor menuju rumah sakit. Saat
berhenti, aku menemukan Jai. Kami parkir
berdampingan. Keterlambatan kami sama, lalu kami
berdua berlari naik bersama. Pagi ada jadwal kunjungan
bangsal, siang ada praktek, dan ada lagi kunjungan
bangsal sampai jam delapan malam. Setelah semuanya
beres, kami kembali ke kamar.
Aku terjatuh di tempat tidur dengan lelah dan bosan.
Belajar kedokteran itu melelahkan. Memang ada
alasannya, tapi aku malas menceritakannya, dan jika
bisa, aku tidak ingin membagikannya.
Aku yang hampir tertidur kembali terbangun
karena suara ponsel lagi. "Direk?"
"..."
"Apa kabar?"
(Bicara baik-baik dengan ayahmu.)
"Direk..."
(Hei, kau pikir aku teman mainmu?)
"Jangan bercanda. Direk itu ayah, bukan teman."
(Huh, kau selalu saja membuatku kesal. Aku dengar, kau
tidak ke arena balap lagi. Apa itu benar?)
"Tidak ada waktu, harus kunjungan bangsal pagi dan
sore. Bosan, Direk. Aku ingin keluar dari sini. Dukung
aku sedikit."
(Hey, selama ini aku sudah mendukung mu, kan? Tidak
pergi ke arena balap itu lebih baik. Tapi kalau kau tidak
pergi, suasananya jadi sepi. Orang-orang juga
mencarimu.)
"Eh, jadi bagaimana? Aku boleh pergi atau tidak? Waktu
aku pergi, kau marah sampai memblokir LINE-ku."
(Sekarang tidak memblokir lagi. Untung ada Johan yang
bisa diajak bicara.)
"Aahh... jadi begitu, dengan Johan saja, kau senang,
anak sendiri tidak mau diajak bicara."
(Johan itu orang yang bisa diajak bicara, ok!? Lalu
kenapa aku memblokir LINE? Karena aku terganggu
kau minta uang terus.)
"Ayolah, kau kan kaya!"
(Oh, ya?)
"Oh, bilang saja kalau kau tidak kaya. Kalau begitu, nanti
aku pinjam uang sama Johan saja."
(Aku memang kaya, tapi tidak seharusnya kau minta
uang setiap saat, sialan!)
"Ya, ya. Jadi, ada apa telpon?"
(Tadi malam rasanya tidak enak.)
"Apa perlu menenangkan? Jangan terlalu dipikirkan.
Mimpi buruk bisa jadi baik."
(Ini salahku.)
"Eh, kenapa malah menyalahkan diri sendiri?
Lalu, mimpi apa?" (Mimpi tentang ibumu.)
"...Serius?"
(Tidak, hanya bercanda!)
"Ayolah, jangan marah. Jadi, kata ibu?"
(Tidak bilang apa-apa, sama seperti biasanya.)
"Kau mungkin terlalu keras, istirahatlah."
(Ya, mungkin begitu. Lalu, bagaimana dengan
magangmu? Jangan sampai ada yang mati, nanti kau
dituntut dan hancur semua.)
"Ya biasa saja, semoga tidak ada yang sampai mati."
(Kamar berhantu itu masih sama?)
"Kamar sebelah? kemarin ada orang baru yang pindah.
Malam tadi seperti ada reuni, sangat ribut."
\(Siapayang pindah? Mereka bisa tinggal di sana? Kau
juga begitu, sudah bertahun-tahun tinggal dengan
hantu, apa kau tidak gila?)
"Aku malas pindah barang. Lagipula, jika pindah, itu
seperti menyerah, kan? Tidak mau."
(Dasar kau ini. Kau masih mau berusaha
mengalahkan hantu?) "Kalau pindah, Don
jadi kesepian."
(Apa tidak mau berdoa untuknya?)
"Seumur hidup belum pernah ke kuil."
(Karena kau tidak menganut agama Buddha, sialan!
Sudahlah, selama kau bisa tinggal, tinggal saja di situ.
Kau bisa hemat tinggal disana..)
"Eh, Direk, aku mau ganti velk, biar bisa
balapan minggu depan." (Velk apa?)
"Sudah pesan, kau tinggal bayar."
(Darah bocah sialan, kau pintar sekali memesan dan
minta aku yang bayar.)
"Hehe. Sudah dulu, kita ketemu di rumah."
(Oke.)
Aku menutup telepon. Direk adalah ayahku, benar-
benar ayah kandungku. Kami sudah biasa berbicara dan
bercanda seperti ini sejak kecil. Ini sudah menjadi
kebiasaan. Direk pernah bilang dia ingin lebih menjadi
teman daripada ayah, supaya bisa membahas segala
hal, merasa muda meski usianya sudah lebih dari
empat puluh tahun.
Tidak heran jika sikapku jadi seperti ini, karena aku
sangat mirip dengan Direk. Dia bilang aku adalah Direk
di masa mudanya, bedanya dia tidak kuliah
kedokteran.
Direk memiliki perusahaan yang mengimpor semua
jenis suku cadang mobil, bukan hanya mengimpor, tapi
juga memproduksi. Dia sudah memperluas usahanya
dengan memiliki bengkel besar yang cabangnya
tersebar di seluruh negara. Saat ini, perusahaan ini
sudah go international. Tidak lagi berencana, tapi sudah
berjalan selama beberapa tahun ini. Bisa dibilang Direk
sekarang hidup dalam kemewahan, dan karena ayahku
kaya, tentu saja dia perlu bantuan untuk menghabiskan
uang, seperti aku yang sering meminta uang hingga
LINE ku diblokir .
Karena berkecimpung dengan dunia mobil sejak kecil,
aku sangat menyukai mobil. Jika ada yang bertanya
mengapa aku ingin belajar menjadi dokter, aku akan
menjawab, "Pilih saja."
Tapi belum saatnya bercerita lebih banyak, takut nanti
malah membuat semua orang menangis.
Belum sempat bangun untuk melakukan apa-apa, sudah
ada telepon masuk lagi. Kenapa sih ini orang terus
telepon? Kuambil ponsel dan lihat layar, ternyata istri
Jo yang menelepon.
"Ya?."
(Phi, kenapa tidak bales LINE?)
"Ada apa?"
(Ayo main game.)
"Kau ngajak main game terus."
(Lalu, mau main atau tidak?)
"Ok, tunggu sebentar."
Aku menutup telepon. Istri Jo memang suka mengajak
bermain game. Aku juga suka bermain, apalagi
permainan ini. Tapi sekarang jadi lebih sering bermain
karena istri Jo suka mengajak. Awalnya, aku terkejut
juga karena tidak menyangka Jo suka tipe seperti ini.
Ternyata, sudah hampir setahun mereka berpacaran.
Satu-satunya masalah adalah Jo tidak punya waktu
untuk nongkrong denganku lagi, dan selalu tidur di
samping istrinya.
Sekarang semua orang sudah punya pasangan, kecuali
aku. Meskipun kadang membuatku jengkel, tapi
kebahagiaan mereka membuatku merasa baik-baik
saja.
Aku masuk ke game, belum sampai satu menit, North
langsung masuk bermain.
(Phi, main apa?) Suara North terdengar dari dalam
game, karena saat bermain, kami membuka mikrofon
untuk berbicara. Dia hanya membuka mikrofon untuk
teman yang diajak bermain.
"Apapun, kau mainkan apa?"
(Main carry saja, Phi masuk hutan.)
"Siapa yang jadi tank?"
(Teman ku.)
"Ok." Aku baru saja perhatikan ada satu orang lagi di
dalam game, tapi dia tidak membuka mikrofon.
"Siapa temanmu?" tanyaku melihat namanya tidak
familiar. Biasanya teman yang diundang North untuk
bermain adalah Nao, Chai, Foam, dan Tiger, tapi kali ini
tidak ada yang dikenal.
(Pemain baru, tetangga Phi.)
"Oh, ya, dia bisa main? Kok bisa jadi tank?"
(Dia hebat Phi.)
"Eh, seriusan??"
(Jangan kaget dengan permainan tank teman ku.)
"Ngomong apa kau?"
(Phi sudah pilih hero, kan?)
"Aku hormati penguasa." Ucapku, tidak terlalu serius
dengan ucapan itu karena kami sudah akrab. Aku
memilih karakter assassin untuk farming di hutan.
North main carry, dan orang yang bermain tank juga
memilih tank yang cocok untuk farming.
Sepertinya dia tidak hanya bisa bermain, tapi juga
sangat mahir. Baru kali ini aku bertemu orang yang bisa
bermain tank sebaik ini.
"Wow, kenapa tim kita sangat lemah? Tidak bisa
bertahan dengan tiga lawan satu?"
(Aku sudah bilang teman ku hebat, tapi Phi juga harus
bantu. Dia hampir mati.)
"Lihat darahku, aku tidak akan membantu. Kau
mendengar, kan?" (Dia mendengar. Pemain
baru, bagaimana? Bicaralah.)
(Ayo kembali ke hutan, darah sudah sedikit. Jangan
ambil risiko. Kalau kembali, kita semua mati dan kau
harus lari.)
(Dao, dia adalah Phi tetanggamu. Hei, kalian adalah
tetangga, tidak bisakah kalian main bersama agar lebih
mudah mengobrol?)
"Aku rasa bisa, darahku sedikit lagi."
(Mau masuk lagi?)
"Bisa, ambil tiga."
(OK, ini ultimatum, sudah dibuka.)
(Serius? Hanya tanpa bantuan darah tidak ada? hanya
semangat dari kalian?) North sedikit mengeluh.
"Buka saja." kataku, sebelum tank masuk untuk
membuka map. Aku mengikuti masuk meski darahku
sedikit, dia hampir mati tapi bisa menghabisi tiga
orang, meskipun harus mengorbankan diri.
(Tank, kau mati.)
(Tidak menjadi masalah, tank bertukar dengan mage
dan carry tetap menguntungkan) Suara datar yang
terdengar dari dalam permainan membuatku
penasaran kenapa ada yang terlihat seolah-olah tidak
bersemangat seperti itu. Namun, North tetap
bersemangat berteriak
teriak tentang permainan. Ia memilih momen yang
tepat untuk menyerang dengan sangat baik, benar-
benar tank yang sangat kuat.
Kami bermain terus-menerus tanpa kalah, hingga teman
North keluar dari permainan. North bilang dia harus
pergi melakukan hal lain, jadi tersisa kami berdua
bermain.
("Eh, bagaimana semalam? Ada hantu mengganggu?")
"Semalam lebih berisik dari biasanya, kenapa?"
("Aku tanya karena Dao bilang bertemu empat hantu,
padahal awalnya cuma tiga, entah bagaimana bisa ada
wanita yang menggantung di sana.")
"Eh, dia menggantung? Oh, wanita itu dulu tinggal di
kamarku." Aku teringat saat pertama kali tinggal di
kamar ini. Kamarku memang memiliki sejarah tentang
wanita yang menggantung diri di balkon. Tapi sekarang
sudah tidak ada lagi. "Makanya aku bingung kenapa ada
suara kursi geser ke kamar itu. Ternyata itu hantu yang
menggantung?"
("Iya, dia menggantung di balkon. Temanku dia
menggantung sekitar tengah malam.")
"Jadi karena dia pernah tinggal di kamarku, makanya
suara menggeser kursi terdengar dengan jelas."
("Iya, Aku penasaran kenapa dia masih menggantung,
padahal kau bilang sempat menghilang, kan?")
"Sebenarnya, karena ada suara kursi geser terdengar di
malam hari. Aku sudah tidak bisa sabar lagi, jadi pas
tengah malam, aku geser kursi itu ke kamar mandi."
("Kenapa masuk ke kamar mandi?")
"Untuk...,"
("Untuk apa?")
"Ya, untuk bersantai."
("Hah, jadi Phi bersantai di depan hantu?")
"Ya, jika dia mau menggeser kursi, aku pasti melihatnya.
Jadi aku membuka pintu kamar mandi."
("Huh, itu gila. Dia perempuan, kan?") Suara North
terdengar sangat menggelikan. Tawa North seakan
menular padaku. Betapa bodohnya aku saat itu.
"Ya, Aku bersantai di kamarku. Apa salahnya?"
("Aku rasa itu tidak salah, tapi wow... situasi
yang aneh.") "Dia tiba-tiba menghilang,
mungkin pindah kamar sejak saat itu."
("Ya, wajar saja. Kalau aku, pasti juga sudah pasti pergi.
Siapa yang mau tinggal dengan orang aneh?")
"Bukan orang aneh. Itu hal yang wajar, kan? Apa kau
berani berkata bahwa kau tidak pernah melakukan hal
seperti itu?"
("Ya, itu hal yang alami, tapi... ahahahaha, aku sampai
sakit perut. Kau sudah melampaui batas!") Suara
Northe tidak bisa berhenti tertawa.
"Kau mengerti berapa kali aku marah pada diriku sendiri
saat itu?"
("Ya, itu luar biasa. Aku tidak tahu berapa banyak orang
yang melakukannya di depan hantu. Kau luar biasa.")
Aku merasa bangga pada diriku sendiri, walaupun
situasinya sangat konyol.
"Lalu, bagaimana dengan temanmu yang hantu itu?"
("Oh, itu... dia bilang lapar.")
(Lalu Phi menjawab apa?)
"Apa kau mau aku mematahkan kakimu?"
(Duh, itu kan teman, Phi. Meskipun dia hantu.) North
mengeluarkan suara panik, ini pasti akan menjadi
masalah yang serius. (Kenapa tidak menyalakan dupa?
Jika Phi memberi makan sekali atau dua kali, mungkin
dia akan berhenti mengganggu.)
"Jangan sampai dia jadi berani. Kenapa tidak suruh
temanmu memberikannya?"
(Teman ku tidak punya uang, Phi. Uangnya sudah
digunakan untuk membeli makanan kucing.)
"Kalau gitu, biarkan saja. Aku mau tidur. Besok ada
tugas pagi-pagi lagi." (Phi sudah mau tidur? Apa Phi
sangat lelah?)
"Ya, aku lelah. Kenapa kau bertanya tanpa
berpikir? Aku pergi ya." (OK)
Aku keluar dari game, pergi mandi dan mengganti
pakaian. Sekarang sudah lewat jam sepuluh malam.
Sudah cukup lama ternyata aku bermain game. Setelah
selesai mengganti pakaian, aku bersiap untuk tidur. Aku
tidak ingin tidur cepat seperti ini, tapi aku merasa
sangat lelah.
...
...
Aku masih duduk bekerja seperti malam sebelumnya.
Sekarang sudah lewat jam sepuluh malam. Emma
duduk menemaniku tidak jauh. Hari ini aku belum
mengalami hal aneh atau mendengar suara yang
mengganggu, tapi aku berpikir setelah tengah malam
pasti akan berisik.
Malam itu aku bermain game dengan North. North
adalah orang yang sangat suka bermain game. Aku juga
sama, anak yang kecanduan game. Aku suka bermain
posisi tank atau support, dan hanya bisa bermain di
posisi itu.
Orang yang diundang North untuk bermain tampaknya
adalah tetangga sebelah. Dia bermain dengan baik.
North juga jago bermain. Jadi, bermain bersama terasa
lebih nyaman. Kalau bertemu orang lain yang tidak
pandai bermain, tidak masalah, tapi kalau sikapnya
buruk, North bisa sangat marah. North adalah orang
yang cepat marah saat bermain game.
Begitu jam menunjukkan tengah malam, aku berpikir
bahwa setelah tengah malam mereka akan lebih
berenergi. Aku merasakan sentuhan dari mereka
menjadi lebih berat. Aku mengenakan headphone dan
mengabaikan suara yang menggaruk dinding.
Ketika tidak bisa berpikir, aku perlu istirahat. Aku
memutuskan untuk berendam. Air hangat membuatku
merasa paling rileks. Namun, di dalam bak mandi ada
seseorang yang bersikap seolah-olah dia pemiliknya.
"...Aku mau berendam." Aku berkata sebelumnya.
Bukan meminta izin, hanya memberi tahu. "Jangan
sampai airnya berubah jadi darah seperti di film.
Ngomong-ngomong, bagaimana bisa berubah? Darah
perempuan biasanya hanya ada empat atau lima liter.
Bagaimana cukup untuk seluruh bak mandi?"
Aku membuka air hangat sampai bak terisi dan
melangkah masuk. Duduk untuk berendam. Suhu yang
pas membuatku merasa sangat rileks. Namun, aku
merasa geli di bagian belakang leher.
Tangan... tangan ramping itu sedang membelai leherku,
menggunakan ujung kuku yang menekan semakin kuat
di permukaan kulit.
Sakit...
"Sakit."
"Aku akan marah, jika kau menyakiti." Aku berkata
dengan sedikit kesal, mengangkat satu tangan dan
memukul lembut leherku sendiri, berharap tangan itu
berhenti sebagai hukuman. "kalau kau berani, ku pukul
kau!"
Dan, tidak ada sentuhan apapun lagi. Aku terus
berendam, tanpa sadar menutup mata. Merasa bahwa
tanganku menyentuh sesuatu yang mirip dengan
kepala seseorang. Aku perlahan-lahan membuka mata.
Shiaaa, baru kali ini aku melihatnya...
Di depanku ada rambut hitam legam basah terurai. Dia
perlahan mengangkat wajahnya dari air untuk
menatapku. Aku terkejut, tanganku yang sedang
menyentuh kepalanya langsung menarik kembali.
Wajahnya pucat tanpa ekspresi, dengan bibirnya
tersenyum lebar sebelum berubah menjadi cemberut,
dan suara tangisnya menggema di seluruh kamar
mandi.
Darah merah mengalir dari bibir yang sobek itu. Air
mata mengalir tanpa henti dan tubuh telanjang wanita
di hadapanku semakin jelas. Ada bekas sayatan di
leher, goresan di bahu, dan aku tidak berani melihat
lebih jauh. Dia duduk memeluk lutut di bak di depanku
dan terus menangis keras.
"Hik... Huu... Hii..."
"Hik... Hii... Sakit... sakit. Jangan sakiti aku. Tolong
jangan sakiti aku." Dia merintih. Mungkin dia merujuk
kepada pacarnya yang membunuhnya dengan sayatan
di leher di bak mandi.
"Aku tidak akan melakukannya."
"Hik... Sakit."
"Sakit ya? Ayo, tenangkan dirimu."
"Huu... Sakit. Sakit. Ini sangat menyiksa... Aku... tidak
bisa bernapas."
"Kalau lehermu sudah dipotong, bagaimana bisa
bernapas? Ngomong ngomong, bagaimana kau bisa
berbicara?"
"Huu... Hik."
"Kau tidak... hei, tenanglah!" Aku memutuskan untuk
memanggilnya, mengulurkan tangan berniat
mengguncangnya agar sadar. Semoga dia mau
mendengarku, tapi ketika tanganku menyentuh kulitnya
yang dingin, dia langsung berhenti menangis. Suara
tangisnya perlahan mereda. Matanya perlahan
menatapku.
"AAAAAAhhh!!!"
Dia berteriak padaku. Aku terkejut sedikit, sebelum
sosok wanita itu menghilang. Dia berteriak untuk
membuatku takut atau terkejut karena ada orang di
sini, atau dia memang terkejut melihatku.
Biarlah.
Aku berendam sedikit lagi, dan setelah merasa cukup,
aku bangkit dari bak. Mencabut sumbat bak mandi dan
ketika airnya menyusut hingga satu tingkat, aku melihat
rambut yang tersangkut di saluran pembuangan.
Rambut?
Panjang pula!
Tentu saja bukan rambutku.
"Hei, jangan sampai rambutmu rontok. Ini jadi lembab.
Aku tidak ingin terus-menerus mencabutnya. Lain kali,
ikat rambutmu." Aku menggerutu tidak suka. Lagian,
kenapa aku harus membersihkan rambut orang lain?
Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Saat mandi, aku
tidak mengenakan gelang, sehingga bisa melihat wanita
di bak tadi. Sekarang aku melihat wanita yang
tergantung lehernya berjalan melewatiku. Aku pikir dia
akan lewat begitu saja, tapi dia berhenti dan perlahan
menatapku. Aku menatapnya dengan bingung.
"Eh... Ada apa?"
"Tidak ada."
Ah... Dia menjawab dengan suara pelan
dan bergema aneh. "Syukurlah... Pintu
sudah ditutup."
*****
Chapter 3: Prisoner
Di tengah ruangan yang hanya diterangi sedikit cahaya,
terdengar suara jarum jam yang bergerak tiap menit,
suara AC, dan tetesan air yang jatuh. Mataku menyapu
seluruh ruangan; cahaya dari luar menerobos masuk
melalui balkon, membentuk bayangan seseorang yang
berdiri di ujung tempat tidur.
Perasaan tidak nyaman mulai mencekik, membuatku
mual. Suhu di ruangan terasa jauh lebih dingin dari
yang biasa. Aku perlahan menutup mata lagi, tak peduli
apa aku sedang tidur atau terjaga. Beberapa saat
kemudian, selimut di kakiku tertarik. Mudah ditebak
siapa pelakunya; aku menggunakan kaki untuk
menyingkirkan selimut kembali ke tempatnya.
Lalu bayangan di ujung tempat tidur itu mendekat dan
menarik pergelangan kakiku dengan kuat. Karena
terkejut, aku segera bangun dan duduk.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku kesal. Tak ada yang
lebih menggangguku selain diganggu saat tidur,
terutama saat sedang sangat mengantuk. Dia tidak
menjawab, hanya mengangkat tangan kanannya dan
menunjuk ke arahku.
"Apa?"
Aku mengikuti arah yang ditunjuknya.
Kalung?
"Kalung? Kau mau aku melepaskannya?"
"Tidak, aku tidak mau bicara denganmu. Aku mau tidur,"
kataku sambil kembali berbaring. Kali ini, gangguannya
lebih kuat. Dia menarik kakiku dengan keras,
membuatku meluncur mengikuti tarikan itu. Aku
meraih pinggir tempat tidur dan menahan diriku agar
tidak jatuh, menengadah dengan bingung.
"Oke," jawabku, sebelum duduk kembali di tengah
tempat tidur dan melepas kalungku.
"Menarik kakiku dengan keras seperti itu, sangat tidak
sopan. Cepatlah, katakan apa yang ingin kau
sampaikan," kataku dengan nada jengkel. Ini sudah
jelas sebuah pelecehan. Kalau dia menarikku lebih keras
dan aku tak sempat memegang tempat tidur, aku pasti
akan terluka.
Bayangan itu mulai menunjukkan wajahnya
dengan lebih jelas. Phi Donut?
Dia terlihat dalam keadaan seperti orang biasa,
memakai kaos putih dan celana panjang, tanpa bercak
darah, hanya sedikit pucat. Dia perlahan duduk di ujung
tempat tidur.
"Kau..."
"?"
"Namamu Dao, bukan?"
"Iya. Ada apa, Phi? Aku tidak akan bergeser. Aku akan
tidur di sisi kanan tempat tidur. Kalau tidak, aku tidak
bisa tidur."
"Hm, bukan itu. Aku... aku minta sesuatu darimu."
"Apa?"
"Aku ingin makan nasi goreng kemangi Bibi Juum."
"...."
"Tolonglah, aku ingin sekali."
"...Jadi kau menarik kakiku hanya untuk itu?"
"Tidak, ada lagi."
"Tolong cari tahu siapa yang membunuhku."
"...Bukannya pacarmu yang melakukannya seperti
yang diberitakan?" "Aku tidak percaya pacarku yang
melakukannya. Tolonglah, bantu aku." "Tidak mau,
aku malas."
Phi Donut menatapku dengan raut kecewa, lalu
menghela napas pelan.
"Kenapa kau tak punya belas kasihan? Dari luar, kau
terlihat seperti orang baik."
"..."
"Tidak bisakah membantuku sedikit saja? Kalau tidak,
aku akan mengganggumu setiap malam seperti ini."
"..."
"Kau tahu, tempat yang kau tiduri itu... adalah tempat
aku mati. Aku bisa melakukan apa saja padamu."
Sepertinya, aku baru saja diancam oleh hantu...
"Jadi, kau mau aku bantu bagaimana?"
"Entahlah."
"Apa?"
"Coba tanyakan pada dokter di sebelah kamarmu, dia
kenal pacarku juga." Dan dengan cepat, Phi Donut
menghilang begitu saja sebelum percakapan sempat
berlangsung jelas. Aku kembali berbaring dan menutup
mata, masih enggan memikirkan semua ini. Lebih baik
tidur dulu karena aku sangat mengantuk.
*****
Aku bersandar pada sandaran sofa di tengah keramaian
bar, diiringi musik live dan suara pengunjung, aroma
minuman keras memenuhi udara. Kuangkat gelas
whisky, membiarkan rasanya mengalir pelan di
tenggorokan hingga gelas itu kosong. Saat akan
mengambil botol di samping, ternyata isinya sudah
habis.
"Sudah habis?" tanyaku.
"Ya, pesan lagi saja," sahut seorang teman.
Baru saja aku kembali dari balapan setelah lama tidak
ikut, dengan velg baru yang dibiayai oleh Direk. Begitu
mengganti velg, aku langsung turun ke arena. Sangat
menyenangkan, dan aku menang besar! Sekarang, aku
di sini merayakan bersama teman-teman sesama
pembalap.
"Kau tidak perlu ke bangsal, kan?"
"Besok aku kosong, kau sudah pesan belum?"
"Oke, biar aku ambil sendiri," seorang teman berdiri dari
meja.
Aku sudah minum dengan teman-teman hampir dua jam
sekarang, dan mulai mabuk karena sudah lama tidak
minum. Merasa haus, aku langsung
menenggak minuman lagi. Setelah beberapa botol
tambahan, aku hampir kehilangan kesadaran.
"Pulanglah, Tit. Biar aku antar. Mobilmu tinggalkan di
sini saja."
"Ya, ya," jawabku, mataku nyaris tak bisa dibuka.
Seseorang membantuku berdiri dan membawaku
keluar. Dia berkata sesuatu, tapi aku tak
menangkapnya. Sebelum aku sadar, aku sudah berada
di dalam mobil, lalu tak sadarkan diri. Saat sadar
kembali, dia menarikku keluar dari mobil.
"Terima kasih, siapa kau?"
"Aku Mai. Sudahlah, masuk saja. Cepat ke kamarmu."
"Aku bisa masuk sendiri. Pergilah."
"Yakin?"
"Ya, terima kasih. Hati-hati berkendara."
Dengan tubuh yang sempoyongan, aku berjalan
memasuki area bawah apartemen, menekan tombol
lift, dan menunggu sebentar. Setelah masuk lift,
kutekan tombol lantai tujuh. Kepalaku pusing sekali,
perut terasa mual. Biasanya aku cukup kuat minum,
tapi malam ini memang minum terlalu banyak.
Saat lift berhenti, meski pandanganku agak kabur,
kurasa ini lantai tujuh. Aku berjalan ke ujung lorong,
berhenti di depan kamarku, lalu bersandar di dinding
dan mencoba mencari kartu kunci di kantong.
Suara elektronik terdengar...
Mana kartu ku? Sial, kenapa malah hilang sekarang?
Kepalaku semakin pusing. Dengan putus asa, aku
mengetuk pintu kamar sebelah. Tak lama, pemilik
kamar membuka pintu sedikit.
"Kartu kunci ku hilang. Boleh aku tidur di sini?"
Dia tidak menjawab, malah langsung menutup pintu.
"Hei!"
Aku mengetuk lagi dengan kesal.
"Ada apa lagi?"
"Di sofa juga boleh. Kartu kunciku hilang, aku mabuk."
"Tidak."
Dia hanya menjawab singkat dan kembali menutup
pintu. Saat kuketuk lagi, dia tak muncul. Dasar, apa-
apaan sikapnya itu? Padahal hanya ada aku dan dia di
lantai ini.
Aduh, kepalaku sakit sekali.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan segera
menelepon North, berharap dia mau menjawab.
Setelah beberapa saat, akhirnya panggilan diterima.
"Kenapa temanmu tidak membantuku masuk?"
(Tidak ada urusannya denganku) terdengar suara Jo.
"Hei, aku ingin bicara dengan istrimu."
(Apa urusanmu dengan istriku)
"Sialan, ini bukan waktunya cemburu! Aku tidak bisa
masuk ke kamar."
(Itu urusanmu)
"Jo, tolong. Cepatlah, teman istrimu tidak membuka
pintu. Aku mabuk, dan kartu akses ku hilang."
(Baiklah)
Jawab Jo, terdengar agak kesal. Mungkin dia baru saja
tidur. Tak lama kemudian, terdengar suara North yang
mengantuk di telepon.
(Ada apa, Phi?)
"Katakan pada temanmu untuk
membukakan pintu untukku." (Apa
maksudmu?)
"Aku mabuk, parah sekali. Aku sudah tidak bisa berdiri
lagi. Kartu aksesku hilang, dan temanmu sama sekali
tidak membantuku. Padahal dia tetanggaku di sini."
(Lalu, kau mau apa? Ingin tidur di kamar temanku?)
"Tidur di sofanya sudah cukup, atau lantai juga bisa. Aku
pernah tidur di luar dan disini banyak nyamuk."
Kenanganku kembali pada satu malam di mana aku
pernah mabuk dan kehilangan kartu akses, sama seperti
sekarang. Namun, saat itu, seluruh lantai kosong, dan
aku terlalu mabuk untuk bergerak. Tidak mungkin pergi
ke lantai lain atau turun ke bawah, jadi aku tidur di luar
pintu kamarku. Ketika terbangun, aku hampir mengira
akan terkena demam berdarah.
(Baiklah, akan ku coba)
"Terima kasih." Aku menjawab singkat, lalu merebahkan
diri di lantai. Saat ini, aku mabuk berat, seolah tubuh
tak berdaya melekat pada lantai.
Beberapa saat kemudian, pintu sebelah pun terbuka,
dan orang itu memberiku obat anti-nyamuk.
"Tunggu sebentar..."
"Tidak perlu dikembalikan."
Dia meletakkan botol kecil obat anti-nyamuk di
sebelahku, kemudian menutup pintu lagi.
Hah...??? Apa ini?
Oke, terima kasih atas perhatianmu. Khawatir aku digigit
nyamuk saat tidur di luar, jadi kau memberiku obat
anti-nyamuk. Tidak perlu dikembalikan? Sungguh
kemurahan hati yang luar biasa.
Sial!
Aku menghubungi North lagi.
(Apa lagi sekarang?)
"Apa yang kau katakan pada temanmu?"
(Aku bilang jangan biarkan Phi tidur di luar, takut
diganggu nyamuk. Bagaimana, sudah bisa masuk?)
"Dia memberiku obat anti-nyamuk."
Mendengar perkataanku, North tertawa keras.
"Sungguh? Apa itu lucu? Temanmu benar-benar tidak
punya empati."
(Dia mungkin bukan tidak berempati, tapi mungkin
hanya tidak menyukaimu)
"Ya, katakan padanya sekali lagi, kalau dia tidak
membukakan pintu, aku akan muntah di depan
pintunya."
(Jangan berlebihan)
"Kalau begitu, bilang saja, aku hanya ingin meminjam
kamar mandi sebentar. Rasanya tidak enak sekali."
(Baiklah, tunggu)
North menutup panggilan sekali lagi, dan tidak lama
kemudian, pemilik kamar sebelah membuka pintu. Kali
ini, ia menatapku dengan wajah lelah, namun aku tidak
peduli. Aku masuk ke kamarnya dan langsung menuju
kamar mandi.
Entah apa yang teman-temanku racik untukku, hingga
aku minum sampai sebegitu banyak. Aku melihat wajah
Direk seolah melayang, dan merasa sekarat. Aku
melampiaskan semua yang ada dalam perutku, dan saat
itu, suara tangisan perempuan terdengar. Biasanya aku
mendengarnya di kamarku, namun kali ini terdengar
lebih jelas, seakan berada di dekatku, seperti sedang
menangis di telingaku.
"Hik... hiks... sakit..."
"...huueek." Rasanya seakan isi perut teraduk-aduk. Aku
menunduk dan muntah lagi.
"Sakit... jangan... tolong..."
"...Diamlah!!" Aku berbicara lirih dengan nada rendah
karena sudah tidak berdaya lagi. Muntah berkali-kali
seakan mati saja rasanya.
"Hu...hu...hu..." Tangisan itu menggema di seluruh
kamar mandi, semakin keras. Aku yang sudah merasa
kesal, jadi semakin jengkel.
"Aku bilang diam, atau aku akan mempermalukanmu
sekarang juga!"
Aku berteriak dengan suara yang keras, tak tahan lagi.
Tangisan itu segera hilang, dan aku kembali pada diriku
sendiri. Kepalaku serasa mau pecah. Tidak bisakah dia
pilih-pilih tempat untuk menangis? kenapa harus di
dekat telingaku? Berani menangis lagi, kau akan
berhadapan denganku.
****
Aku mengamati pria mabuk yang sedang memeluk toilet
di kamar mandiku, tanpa tahu harus melakukan apa.
Awalnya, dia bilang hanya ingin menumpang tidur, tapi
aku tidak mau mengizinkannya. Aku berniat
membiarkannya di luar saja, namun North menelepon,
memintaku untuk membantunya, jadi aku pun
meninggalkan obat nyamuk untuknya. Akhirnya, aku
terpaksa meminjamkan kamar mandi karena tidak ingin
dia muntah di depan pintuku.
Aku juga minum alkohol sesekali, tapi tidak pernah
mabuk sampai parah seperti ini. Melihat kondisinya, dia
pasti sudah minum terlalu banyak. Tadi, aku bahkan
sempat mendengar dia memaki wanita yang menangis
di kamar mandi. Selain menghina, dia juga mengancam.
Entah bagaimana, suara tangis dari wanita itu tiba-tiba
hilang. Apa dia pergi karena ancaman pria ini?
Sudahlah, tapi sekarang aku harus bagaimana dengan
pria yang mabuk dan tertidur di lantai kamar mandiku
ini? Aku tidak akan menyeret atau mengangkatnya
keluar, karena itu akan terlalu melelahkan, dan aku juga
tidak akan membersihkannya atau merawatnya.
Mungkin, aku bisa mencoba membangunkannya.
Aku berjalan mendekat dan mengguncang bahunya
perlahan. Ketika dia tidak menunjukkan tanda-tanda
bangun, aku berpikir untuk memanggil petugas
keamanan. Setelah mempertimbangkan hal itu, aku
mengambil telepon dan menghubungi nomor layanan
keamanan kondominium, meminta bantuan karena ada
orang mabuk di sini. Tidak lama kemudian, dua petugas
keamanan datang dan mengetuk pintu.
"Dia ada di kamar mandi," kataku sambil memandu
kedua petugas pria itu masuk ke kamar mandi. Mereka
saling bertukar pandang, tampak enggan memasuki
kamar itu. "Dia tinggal di kamar sebelah, katanya kartu
aksesnya hilang."
"Ah, sayang sekali. Saat ini, bagian administrasi sudah
tutup. Kami hanya bisa membantu membawanya
keluar, tapi jika kartu aksesnya hilang, kami terpaksa
meninggalkannya di luar. Apa anda bisa membiarkannya
tinggal di sini semalam?" Salah satu dari mereka
berbicara dengan sopan sambil tersenyum kaku. Aku
mengangguk ringan sebagai tanda setuju.
"Kalau begitu, bisa kalian baringkan saja dia
di luar... bisakah?" Permintaanku membuat
mereka saling berpandangan lagi.
"Uh... maaf, kami juga khawatir akan keselamatan pria
ini. Lebih baik dia tetap berada di sini. Apa ada
ketidaknyamanan bagi anda?"
Aku terdiam sebentar, menghela napas kecil. "Baik,
maaf mengganggu di tengah malam. Aku akan
mengurusnya sendiri."
"Baik, panggil kami kapan saja jika Anda butuh
bantuan," kata salah satu petugas sebelum mereka
berdua pergi. Aku memandang pria ini dengan
rasa jengkel. Tidak ada yang suka ketika orang asing
berada di kamar mereka, apalagi dalam keadaan
mabuk. Aku memutuskan untuk mengunci pintu kamar
mandi dan membiarkannya di sana sampai pagi. Nanti
saja kubuka pintu ketika dia sudah sadar.
"Kenapa tidak kau bawa dia keluar saja?" Suara Emma
terdengar dari tempat tidur.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Hanya akan merepotkan kita. Kenapa kita harus
membantunya?"
"Jangan terlalu tidak berbaik hati, kita kan tetangga.
Siapa tahu nanti Michael mungkin butuh bantuan
darinya juga," kata Emma, membuatku menghela napas
panjang. "North juga meminta agar kau mau
membantunya."
"..."
Emma tertawa kecil.
"Kenapa tertawa?"
"Setiap kali bicara tentang North, Ter, atau Phoon,
Michael selalu melunak, tapi hanya kepada mereka
bertiga saja."
"Mereka kan temanku."
"Menolong orang lain tidak buruk, Michael. Bersikap
baik hati kepada orang lain bukanlah hal yang buruk."
"Aku tidak mau berbaik hati lagi."
"Aku tahu. Tapi tidak semua orang di dunia ini sejahat
orang-orang itu. Teman-teman yang kau miliki sekarang
telah membuktikannya."
"..."
"Sulit sekali, ya, mengubah sifat dingin?"
"Aku tidak ingin mengubahnya dan tidak merasa perlu,"
jawabku singkat, sebelum sudut mataku menangkap Phi
Donut yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi
yang terkunci. Aku berbalik menatap layar komputer
seperti biasa, sengaja mengabaikan Emma yang terus
mencoba meyakinkan agar aku mau membantunya,
hingga Emma akhirnya berhenti berbicara sendiri.
Saat kusadari, cahaya matahari sudah mulai menyinari
balkon. Aku telah bekerja semalaman, dan kini aku
melangkah untuk membuka pintu kamar mandi dan
mengguncang pelan tubuh orang yang tertidur di sana.
Perlahan, dia membuka mata.
"Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang," ujarku
dengan nada datar seperti biasa. Dia bangkit, duduk,
lalu memandang sekeliling.
"Ini kamar mandi?"
"..."
"Tadi malam aku tidur di sini, ya?"
"Iya."
"Baiklah, terima kasih sudah memberi tempat tidur
sementara. Sekarang pukul berapa?"
"Enam."
"Baik," jawabnya singkat, lalu bangkit dan berjalan
keluar dari kamarku. Awalnya, kupikir dia akan marah
atau protes karena aku membiarkannya tidur di kamar
mandi, tapi ternyata tidak. Aku menyapu pandangan ke
seluruh kamar mandi dan mendapati tidak ada yang
berantakan atau kotor. Kamarku memang selalu bersih,
jadi tidur di kamar mandi bukan masalah besar.
*****
Aku mengisi air hangat di bak mandi dan berendam
sebentar untuk menghilangkan rasa lelah setelah
bekerja semalaman, lalu berbaring di ranjang.
Lelah sekali...
Aku tidak yakin apa tidur di luar ruangan atau di kamar
mandi lebih baik, tapi setidaknya tidak ada muntahan
yang berceceran dan tak ada gigitan nyamuk yang
berisiko menyebabkan demam berdarah. Meskipun
tidur di kamar mandi, bukan berarti itu buruk. Lagipula,
kamarnya bersih, jadi tidur di mana pun bukan masalah
besar bagiku.
Aku turun ke bagian administrasi kondominium,
beruntung sudah buka sejak pagi, dan mendapatkan
kartu akses cadangan sebelum kembali ke kamarku.
Setelah mandi, aku langsung berbaring di ranjang, dan
masih setengah pusing akibat alkohol, aku pun tertidur
dengan mudah.
"Kau lagi..."
Aku tidak yakin apa aku sedang sadar atau bermimpi,
tapi mungkin ini mimpi, karena ruangan sangat gelap,
dan aku melihat si Don itu duduk di sampingku.
"Aku ingin tidur."
"Bicara sebentar denganku."
"Aku masih belum sepenuhnya pulih."
"Tadi malam aku ingin membantumu, tapi mereka tidak
mengizinkanku masuk."
"Di kamar mandi?"
"Iya."
"Siapa yang tidak membiarkanmu masuk?" tanyaku.
Anehnya, kepalaku tidak terasa pusing seperti biasanya.
Mungkin karena ini hanya mimpi. Don datang dengan
penampilan seperti sebelum mati, mengenakan kaus
dan celana panjang yang biasa dipakainya untuk tidur,
tanpa darah, tapi wajahnya tampak pucat.
"Phi Cream, yang dipotong lehernya di wastafel, dia
memang galak, tapi kau sudah menakut-nakutinya,"
kata Don sebelum tertawa. "Dulu kau juga pernah
memperdaya Phi Aeng, dan sekarang kau masih mau
menakut nakutinya lagi. Kau benar-benar jahat."
"Benarkah? Mungkin aku terlalu mabuk, jadi tidak ingat
apa-apa."
"Iya, tapi ketika kau menakut-nakuti, Phi Cream benar-
benar terdiam. Dia tidak berani menangis lagi." Kata-
kata Don membuatku tertawa.
"Lalu, kau kesini mau apa?"
"Jujur, aku butuh banyak energi untuk bisa masuk ke
dalam mimpimu atau melintas ke ruangan ini, jadi ini
penting." Wajahnya tiba-tiba serius.
"Apa itu?"
"Aku ingin makan nasi goreng basil buatan bibi Jum."
"Bisa kau beli dan bakar dupa untukku? Aku sudah
meminta Nong Dao, tapi sepertinya dia lupa."
"Bibi Jum sudah kabur dengan pacar mudanya ke Surat
Thani," kataku. Bibi Jum adalah pemilik warung makan
yang dulu dekat kondominium, tapi terakhir kali aku
mau makan, dia sudah tutup karena kabur dengan
pacar mudanya. Padahal sudah lebih dari empat puluh,
tapi kehidupan ini memang penuh hal-hal aneh.
"Oh, sial! Beritahu ibuku bahwa aku ingin makan nasi
goreng basil, jangan kasih aku telur dadar lagi. Aku
bosan dengan telur dadar."
"Kenapa tidak akan pergi ke dalam mimpi
ibumu sendiri." "Aku tidak bisa, sepertinya
ada belenggu. Aku merasa terikat." "Apa kau
sudah berbicara dengan polisi tentang Min?"
tanyanya.
"Dia sudah dituduh membunuhmu, tapi kau masih
berpihak padanya? Apa kau tidak bisa menutup mata
dan telinga."
"Tidak, aku tahu betapa Min mencintaiku. Min tidak
akan membunuhku."
"Kau terlalu percaya diri," balasku. "Kau masih bisa
bilang kalau Min mencintaimu, padahal dia sudah
membunuhmu. Apa kau benar-benar tidak mau
mengakui? Kau selingkuh darinya, kan? Aku dengar
kalian bertengkar setiap hari. Jadi, tidak heran Min
membunuh orang sepertimu."
"Hei, jangan begitu. Kenapa kau tidak berpihak padaku?
Apa aku terlihat sangat jahat sampai selingkuh dari
Min?"
"Memang," jawabku.
"Sialan! Aku tidak selingkuh! Itu salah paham. Memang
Min itu perempuan yang keras, sifatnya buruk, dan
mulutnya kasar berbeda dengan perempuan lainnya.
Dia tidak pernah lembut, mood-nya jelek, dan selalu
marah padaku. Akhir-akhir ini, kami berdebat karena dia
mengira aku selingkuh. Malam itu, dia juga mabuk, tapi
dia tidak seharusnya membunuhku, kan?"
"Benarkah?" tanyaku, mengernyit. Dari cerita yang dia
sampaikan, tidak ada yang bertentangan, jadi
tampaknya Min membunuhnya.
"Sebenarnya, aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak ingat
apa-apa. Sampai akhirnya menyadari aku sudah mati,
itu sudah tiga atau empat hari berlalu. Setidaknya, kau
bantu aku mencari kebenarannya. Agar aku bisa pergi."
"Pergi ke mana?"
"Ke surga, bodoh! Kenapa kau bertanya? Meskipun di
sini ada banyak hantu cantik, aku tidak ingin tinggal di
sini."
"Kenapa tidak?"
"Karena di sini, aku satu-satunya lelaki. Selalu saja jadi
korban intimidasi. Energi perempuan, sangat kuat. Kau
juga tahu, aku tinggal di sini karena Min tidak takut. Aku
pernah lihat Phi Aeng gantung diri, Phi Praw loncat dari
gedung, dan Phi Cream tergeletak berlumuran darah di
bak mandi. Perasaanku ini cukup lembut. Kadang-
kadang aku masih terkejut. Mereka terus
menggangguku." Kata-kata Don membuatku merasa
kasihan padanya. Kenapa ada orang yang sudah mati
tetapi masih dibully?
"Baiklah, aku akan mencoba bangun dari mabuk
dan menemui Min." "Oke."
Kemudian, aku merasa seolah terlelap kembali. Ketika
terbangun, sudah siang. Rasanya aku jauh lebih baik
sekarang. Aku mandi, berpakaian, mencari sesuatu
untuk dimakan, dan pergi menjenguk Min di penjara.
Aku duduk menunggu di depan kaca. Tak lama
kemudian, Min muncul dengan seragam tahanan
berwarna kusam dan duduk di kursi seberang.
Wajahnya sedikit terkejut melihatku.
"Hey, sudah lama kita tidak bertemu," sapa Min dengan
nada biasa. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang
pernah bertemu dengan perempuan seperti Min. Dia
adalah perempuan liar dengan mulut yang kasar,
seperti yang Don katakan, dan dia juga penuh dengan
tato. Tapi, aku punya banyak teman perempuan yang
mirip seperti dia.
"Eh, kau baik-baik saja?"
"Menarik, kan? Apa yang kau tanya kan? Aku terkurung
di penjara," jawab Min dengan nada kesal. "Lalu, kau
sudah mulai residenmu?"
"Sudah. Aku datang untuk menjenguk. Kemarin malam
aku ngobrol dengan Don."
"Eh, sudah berapa banyak yang kau hisap?" *(merujuk
pada narkoba atau semacamnya)
"Aku tidak menghisapnya. Dia sering masuk ke mimpiku.
Sejak dia mati, dia terus mencariku," balasku.
"Sebentar," Min menghentikanku. "Kau masih di
kamar yang sama?" "Ya, kenapa?"
"Tidak pindah?"
"Aku malas pindah. Lagipula, kamar lamamu sudah ada
orang yang menempati."
"Serius?" Wajahnya tampak tidak percaya. "Orang
seperti apa yang mau tinggal di kamar berhantu itu?
Mana penuh dengan nyamuk."
"Kan kau pernah tinggal di situ?"
"Iya, karena harga sewanya murah. Aku tidak takut
hantu. Aku hampir akrab dengan hantu itu. Tapi Don
sangat takut. Apa yang dia katakan padamu? Jadi hantu
juga tidak takut sama hantu?"
"Dia bilang masih terkejut. DAn kena bully hantu
perempuan di kamar. Aku kasihan padanya."
Min tertawa terbahak-bahak.
"Hah, kalau tidak ada aku, tidak ada yang melindungi
dia, kan?" Min berkata sambil menggelengkan kepala,
namun matanya menunjukkan kesedihan.
"Kembali ke pokoknya, Don bilang kau tidak membunuh
dia, benarkah?" Ucapku membuat wajah Min berkerut,
terlihat gelisah. "Kau tidak membunuhnya, kan?"
"Serius, aku tidak tahu."
"Eh?"
"Waktu itu, kami berdebat hebat. Aku menemukan dia
berselingkuh. Aku sangat marah. Dia mengira aku
bodoh. Kadang-kadang, aku berpikir ingin
membunuhnya. Dan malam itu, aku mabuk. Sangat
mabuk. Aku ingat meminum arak."
"Kenapa kau tidak mengajak aku? Aku juga ingin minum
arak."
"Maaf, aku lupa. Aku berdebat dengan Don, jadi aku
keluar untuk minum. Malam itu, aku mabuk parah,
tidak ingat apa-apa. Bangun pagi-pagi, aku melihat Don
tergeletak berlumuran darah di sampingku. Tanganku
memegang pisau. Apa yang bisa aku pikirkan? Saat itu
aku seperti, 'Sialan, sudah berakhir, Min!'" Min
menceritakan sambil mengelus wajahnya,
membayangkan situasi di pagi itu.
"Jadi, kau berpikir kau membunuhnya?"
"Kalau bukan aku, siapa lagi? Sampai sejauh ini, meski
aku tidak ingat, aku pasti menggunakan pisau dapur
yang paling nyaman di tanganku."
"Tapi, tidak ada bukti, kan? Karena kau juga tidak
ingat."
"Yah, begitulah. Tapi aku harus menelepon polisi. Kalau
dibiarkan lama, atau kalau aku melakukan sesuatu, itu
akan semakin buruk. Saat polisi datang, mereka
bertanya-tanya, dan aku hanya bisa mendengus.
Akhirnya, aku ditangkap." Aku memegang kepalaku
mendengar apa yang Min ceritakan. "Aku tidak bisa
menyangkal dengan baik, karena aku tidak ingat.
Akhirnya, ya sudah, aku terima saja."
Benarkah...
"Dan polisi tidak mencari bukti lain?"
"Tidak. Kau mengerti maksudnya, kan? Mereka sudah
mengaitkan aku dari semua sisi."
"Ya, tapi Don bilang padaku bahwa kau tidak
membunuhnya."
"Coba bilang padanya, bodoh. Jangan berpikir
berlebihan. Kalau bukan aku, siapa lagi?"
"Sepertinya kau tidak ingin terhindar dari kesalahan."
"Tidak, seandainya bisa, aku tidak ingin terkurung. Tapi
kau mengerti, kan? Tidak ada yang bisa dilakukan.
Bahkan diriku sendiri pun tidak yakin. Jadi aku mencoba
untuk menerima kenyataan dan beradaptasi di sini."
Min menghela napas panjang. Tanpa perlu dikatakan,
aku tahu dia juga pasti sangat kesulitan. "Aku pernah
berpikir ingin membunuhnya. Tapi saat itu, semua
karena kemarahan. Setelah berpikir, aku tidak ingin dia
mati, kan? Aku sangat mencintainya, meski dia jahat."
"Ini terlalu drama, aku jadi tidak tahu harus berbuat
apa."
"Bukan drama, bodoh. Siapa yang mau menangis? Aku
adalah seorang Min, heh." Min menyumpah pelan dan
menyeka air matanya dengan kasar, tersenyum sinis
pada dirinya sendiri. "Aku bahkan belum sempat
menghadiri pemakamannya. Kami sudah bersama
selama empat atau lima tahun, dan aku tidak bisa
melihat wajah suamiku."
"Ya, selama dia meninggal, kondominium kita
sedang direnovasi." "Kenapa?"
"Karena mereka mencopot sistem CCTV. Itu berarti,
siapa pun bisa datang dan membunuh Don." Saat aku
mengatakannya, Min menatapku dengan wajah seolah
baru ingat.
"Ya, tapi siapa yang mau membunuh dia? Sejauh yang
aku tahu, dia tidak punya musuh. Atau dia diam-diam
bertaruh tanpa memberitahuku?"
"Kalau orang lain membunuhnya, bagaimana mereka
bisa masuk ke kamar kalian? Siapa yang punya kunci
atau kartu akses cadangan?"
"Tunggu, aku memberikan banyak kunci cadangan.
Semua temanku, saudariku, orang tuaku juga. Aku
memberikannya supaya jika aku mabuk dan tidak bisa
kembali ke kamar, mereka bisa membantu. Don juga
memberi orang tuanya, kan?" kata Min.
"Kau mencurigai orang-orang di sekitarmu?"
"Ya, mungkin. Tapi kenapa aku harus jadi detektif
Conan?" Aku menghela napas sedikit, merasa jenuh.
"Mari kita coba dulu."
"Kau akan menyelidiki kasus ini untuk kami? Wah, aku
terharu! Kalau bisa, aku sangat menghargainya. Jika aku
tidak bersalah, aku tidak ingin berada di sini. Begitu
keluar, aku akan mentraktirmu minum selama tiga
bulan."
"Serius?"
"Berbicara tentang minuman, aku sangat
menginginkannya. Hei, Min, kau tidak tahu bagaimana
sulitnya di sini. Lagipula, aku tidak bisa merokok, tidak
bisa minum, aku benar-benar ingin mati!" Min
mengumpat dengan kesal. "Lalu, orang yang pindah ke
kamar baru itu bagaimana?"
"Bagaimana maksudmu?"
"Apa yang dia temukan? Pernahkah kalian ngobrol?"
"Kami tidak ngobrol, tapi semalam aku mabuk dan tidur
di kamarnya."
"Kalian tidak ngobrol? Tapi langsung tidur di
kamarnya?" Min mengangkat alisnya bertanya.
"Aku mabuk. Kartu aksesnya hilang."
"Lagi? Aku ingat kau sudah beberapa kali seperti ini. Kau
minta tidur di sofa kamarku saat kau mabuk, dan selalu
saja hilang kartu aksesmu. Ikatkan kartu di lehermu,
hati-hati. Seluruh lantai tidak ada orang lain, kan?"
"Kau cerewet seperti seorang istri."
"Eh, kalau kau mau aku jadi istri, kenapa tidak bilang?"
Min menjawab sambil tersenyum nakal, membuatku
merasa kesal. Ya, Min memang begini.
"Lebih baik aku menikah dengan anjing betina."
"Kenapa? Aku juga ingin punya suami dokter sekali
seumur hidup. Kau bisa tidur dengan tenang."
"Don pasti akan menangis."
"Begitukah? Bukankah kau terlalu baik?"
"..."
"Canda." Min menjawab sambil sedikit menggerakkan
kakinya. "Jadi, bagaimana? Dia membiarkanmu tidur di
kamarnya?"
"Dia sangat bodoh. Dia membiarkanku tidur sambil
memeluk toilet semalaman." Kata-kataku membuat
Min tertawa senang. "Rasanya aku bahkan terbangun
sekali, berniat pergi, tapi dia mengunciku di kamar
mandi. Jadi, ya sudah, aku tidur di situ. Tapi bangun-
bangun, aku bertanya tanya, 'Sial, apa aku benar-benar
tidur di kamar mandi?' Kupikir itu hanya mimpi, tapi
ternyata beneran."
"Anak ini benar-benar aneh, seru juga. Apa dia
seangkatan denganku?" "Dia junior, teman Nong-
ku."
"Oh, apa dia pernah mengalami hal aneh di kamar? Kau
pernah bertanya? Apa dia bertemu Don?"
"Ya, mereka sudah bertemu. Dia bilang Don masih
mencakar kukunya ke dinding."
"Begitu keluar dari penjara, aku akan memukul
kepalanya. Bagaimana kalau sampai kuku tidak ada lagi,
bodoh. Kalau tidak aku tegur, dia tidak akan berhenti
mengganggumu setiap hari?"
"Ya, itu sangat mengganggu. Terakhir kali dia bilang,
'Kau mungkin tidak dapat menemui ibunya.'" Kataku.
"Eh, Min, Nong-ku bilang bahwa temannya di kamar
sebelahku bisa berkomunikasi dengan arwah."
"Serius?" Min tampak tidak percaya. "Eh, itu bagus!
Tanyakan pada hantu di kamar apa dia melihat sesuatu
saat Don dibunuh."
"Suruh dia bertanya langsung?"
"Tanyakan saja! Saksi ada di depan mata, melayang-
layang di dalam kamar. Akhirnya, ini juga berguna,
kan?"
"Apa orang benar-benar bisa berbicara?" kataku, tidak
begitu percaya. Jujur saja, aku bahkan tidak percaya
bahwa hantu itu ada. Meskipun aku mendengar suara
atau bermimpi melihatnya, aku tetap tidak ingin
percaya. Terlebih lagi, jika itu adalah hal-hal
supranatural seperti berbicara dengan orang yang
sudah mati atau memiliki indra keenam, semakin aku
tidak percaya.
"Kau coba saja, tidak ada salahnya."
"Kalau dia berbohong, bagaimana? orang gila mana
yang bisa berbicara dengan hantu? Aku percaya pada
ilmu pengetahuan."
"Wah, dokter sialan, aku ingin petugas di luar sana
memukul kepalamu sekali," kata Min dengan kesal.
Kenapa dia bisa seaneh ini? Jangan biarkan dia keluar
dari penjara sekalian kalau dia kejam seperti ini. "Masih
sempat bilang tidak percaya, tapi kau sudah mengutuk
hantu di kamarku setiap hari."
"Aku tidak bisa menjelaskan. Tapi orang bisa saja
berbohong." "Lalu, saat kau berbicara dengan
Don, apa kau berbohong padaku?" "Bohong
untuk apa?"
"Lihat, kau bertanya siapa yang bisa berbicara dengan
hantu, padahal kau sendiri juga berbicara. Apa kau
masih mabuk? Bicara yang tidak konsisten, aku akan
pukul kau!"
"Ya, kau benar juga."
Aku mengangkat tangan menggaruk kepala sedikit,
sepertinya masih belum sepenuhnya sadar. Rasanya
tidak bisa bilang tidak percaya, sementara aku sendiri
bisa berbicara dengan Don.
"Kalau dia memang bisa berbicara dengan hantu, aku
harus memintanya untuk membantu, kan?"
"Ya, tentu! Pergi dan bicara dengan dia baik-baik, jangan
berbuat bodoh padanya. Nanti Don akan malas untuk
muncul, kan? Semalam juga kau sudah bikin masalah
baginya."
"Min, kau banyak mengeluh."
"Biarkan aku mengeluh. Ini nasib hidupku! Kau
menciptakan harapan agar aku ingin keluar dari
penjara, padahal aku sudah berusaha merelakannya.
Kau harus bertanggung jawab. Pergi berbicara baik-baik
dan minta maaf. Jika bisa, bawa dia untuk berbicara
denganku juga. Mengerti, dokter?"
"Eh, ya, ya. Jangan lupa minumanku selama tiga bulan,
ya."
"Ya, pergi sekarang. Lain kali, bawa sesuatu saat
menjengukku. Jangan datang dengan tangan kosong.
Aku lapar."
"Banyak mau! Sedang di penjara, apa yang bisa kau
inginkan?"
"Lihat saja, begitu aku keluar dari penjara, aku pasti
akan menjadikanmu suami!"
"Sial, benar-benar aku takut sekarang!!!"
Chapter 4: Pisces
Aku mengalihkan pandangan dari film horor yang
sedang kutonton ke arah pintu setelah mendengar
suara ketukan. Kubiarkan film berhenti sementara, lalu
berjalan untuk melihat melalui lubang intip.
Lagi...?
Aku perlahan membuka pintu, memandang pada orang
mabuk dari kamar sebelah.
"Aku mau minta tolong sedikit."
"Tidak," aku langsung menjawab sambil menutup pintu
sebelum dia bisa berkata lebih jauh, yang membuatnya
tampak terkejut.
Aku kembali duduk untuk melanjutkan menonton film.
Saat terdengar ketukan lagi, aku pun memasang
earphone untuk meredam suara itu. Belakangan ini, aku
sibuk bekerja sehingga hari ini adalah hari liburku, yang
kuharapkan bebas dari gangguan.
'Biasanya juga memang tidak suka diganggu juga kan?'
suara Emma bergema di benakku. Aku tak menoleh
untuk melihat apa yang dia lakukan, dan tak berkata
apa-apa karena fokus pada film.
Aku suka sekali menonton film horor, thriller detektif,
misteri, atau film dengan plot unik dan menarik. Itu
membuatku mendapat ide-ide baru. Tapi, aku tidak
terlalu suka film yang menyiksa orang atau film
romantis yang membosankan; aksi kadang masih bisa
diterima.
Sekarang aku sedang menonton film hantu. Aku dan
North sering bertukar film horor atau film seram,
karena North juga suka meski dia sangat takut. Jika ada
yang bertanya, caraku menghilangkan rasa takut saat
menonton film horor adalah dengan melihat
pembuatan adegannya, daftar pemain, dan makeup
efeknya. Sudah kuberitahu North, tapi dia merasa itu
membuatnya kurang terasa nyata.
Cara mengatasi takut hantu bagi diriku adalah terbiasa
bertemu mereka sampai tidak lagi menakutkan. Tapi
nenekku pernah berkata bahwa orang biasanya takut
karena khawatir mereka akan mencelakai kita atau
membawa kita pergi bersama mereka. Kalau misalnya
mereka ingin membawaku, caranya sederhana—tidak
perlu jadi orang baik, jadilah orang jahat. Siapa yang
mau bersama orang jahat, bukan?
Tapi kalau untuk menyakiti, aku tidak tahu pasti. Karena
beberapa malam yang lalu, aku hampir jatuh dari
tempat tidur saat kakiku ditarik oleh hantu Donut, dan
ada hantu di kamar mandi yang mencakar bagian
belakang leherku. Meski begitu, rasanya hanya sedikit
sakit. Kalau sangat sakit, mungkin akan kubicarakan
dengan Puan Pothong, yang tak lain adalah nenekku
sendiri.
Aku memperhatikan hantu dalam film dengan saksama.
Terlihat menakutkan di film, tapi kalau melihat yang
aslinya, rasanya tidak semenakutkan itu. Atau mungkin
karena hantu yang ada di kamar denganku ini tidak ada
yang benar-benar menakutkan? Hantu di kamar mandi
mungkin yang paling menyeramkan karena ia tewas
dalam kondisi tragis. Hantu Donut juga tewas dengan
cara yang mengenaskan, tapi ia hanya terus mengeluh
tentang kelaparan.
Ah, ngomong-ngomong soal Donut, aku lupa
membelikannya nasi kemangi seperti janjiku. Sudah
hampir seminggu lebih, kurasa. Mungkin dia sudah
tidak mau lagi. Saat itu, ponsel di sampingku memberi
tanda pesan dari Line. Aku meraihnya dan melihat
pesan dari North.
North: 555555555555555
North: Kau benar-benar luar biasa.
Pasti soal orang itu lagi, kan?
North: Kudengar kau mengunci Donut di kamar mandi,
dan hari ini malah menutup pintu di depannya.
SS: Apa yang membuatmu tertawa sampai begitu?
North: 55555555555555
SS: Kau mendengar cerita ini dari dia?
North: Tidak sepenuhnya. Dia hanya mengeluh saat
kami main game bersama.
North: 55555555. Dingin sekali kau ini. Aku kasihan
padanya.
North: Kau sama sekali tidak mendengarkannya soal hal
yang ingin dia minta tolong darimu.
North: Sebenarnya menarik juga, apa kau tahu? Donut
sepertinya tidak dibunuh oleh pacarnya. Dia ingin kau
bicara dengan hantu di kamar, karena kalau pacarnya
tidak bersalah tapi masuk penjara, kasihan juga kan?
SS: ??
SS: Jadi dia menyuruhmu bicara denganku, ya?
SS: Seperti malam sebelumnya.
North: Iya, 555555555
North: Aku tertarik juga makanya aku menyampaikan
hal ini.
North: Ayolah, bantu dia sedikit. Siapa tahu kau bisa
membantu orang tidak bersalah agar tidak dipenjara.
SS: Dia tidak memberiku detailnya.
SS: Kalau ada orang tidak bersalah dipenjara.
SS: Aku pasti sudah membantu.
North: Itu karena kau menutup pintu di depannya.
North: Dengarkan dia sebentar saja.
SS: Iya, baiklah.
North: Aku ingin melihatmu bicara dengan hantu.
North: Boleh aku ikut?
SS: Tengah malam nanti.
SS: Aku akan coba tanya hantu yang
tergantung lehernya. North: Tengah
malam? Tidak mungkin, kan?
North: Phi Jo sepertinya tidak akan izinkan.
SS: Mereka pasti keluar saat tengah malam.
North: *mengirim stiker*
North: Main game tidak?
North: Tim sedang butuh tank (seperti dirimu).
SS: Aku sedang menonton film.
SS: *mengirim foto*
SS: Seru, tahu.
SS: Tokoh utamanya bisa melihat hantu,
menyelidiki kasus dari hantu.
North: Plotnya mirip dengan apa yang sedang kau
lakukan.
SS: Iya, terdengar menarik.
SS: Ya, benar sekali, menarik.
SS: Kuharap kasus ini akan jadi kasus besar.
SS: Selidiki, dan temukan bahwa pengedar narkoba
Hong Kong adalah dalang di balik semua ini.
SS: Atau mungkin membunuh Donut demi keuntungan
bisnis atau keluarga tertentu.
SS: North
SS: Aku awalnya benar-benar tertarik.
SS: Tapi bersemangat sekarang.
North: ...
North: Bagus, 555555555
North: Bagaimana hasilnya, ceritakan nanti.
SS: Ok!
Aku meletakkan ponsel, merasa sedikit bersemangat.
Sebabnya, aku memang sangat tertarik pada hal-hal
aneh yang jarang dialami orang lain.
Seperti kasus kecil yang harus kutangani kali ini, aku
belum pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya.
Meskipun aku terlihat acuh tak acuh, aku sebenarnya
penasaran pada semua yang bisa memberi ide baru
untuk pekerjaanku.
Dan ide-ide baru biasanya muncul saat kita keluar dari
kebiasaan sehari hari. Aku tidak mungkin terus menerus
bekerja di kamar tanpa inspirasi. Ketika aku buntu, aku
akan melakukan sesuatu yang berbeda. Meski mungkin
terdengar aneh, aku suka berwisata sendirian. Jika
punya waktu dan uang, aku akan pergi cukup jauh.
Aku suka gunung dan hutan. Tidak suka pantai karena
lengket. Aku bisa minum alkohol dan suka minum bir
sendirian. Pernah mencoba merokok, tapi tidak suka
rasanya. Aku punya tato bambu dan bintang di
lenganku, karena bibiku bernama Bai. Aku juga
merencanakan tato elang putih, yang merupakan arti
dari nama ayahku, Gavin, dan mungkin bunga kupu-
kupu untuk nama ibuku. Ah, mungkin juga bunga
mawar untuk nenekku. Jika semua tato itu terpasang,
lengan atasku pasti penuh.
Setelah mengenal satu sama lain, North bilang tidak bisa
menilai orang hanya dari penampilan luar. Itu memang
benar. Tidak peduli bagaimana orang melihatku, aku
tetap melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku
memikirkan, siapa tahu di kehidupan berikutnya aku
terlahir sebagai bakteri, tidak bisa melakukan apa-apa.
Jadi, kuputuskan untuk mencoba semuanya sekarang.
Aku kuliah di fakultas sains meski bekerja sebagai
ilustrator, editor, dan desainer freelance. Aku suka
belajar sains. Bukan karena ibuku tidak mendukung
hobiku menggambar, tapi beliau bilang pekerjaan itu
tidak
cukup stabil, dan menyarankan aku mempelajari
keterampilan lain. Menggambar bisa dipelajari di luar
kelas, tapi untuk belajar sains perlu di kampus. Karena
aku suka biologi, akhirnya aku ambil jurusan biologi,
dan ternyata cukup menyenangkan.
Aku mencoba melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak
kusuka. Misalnya, aku dulu benci olahraga, tapi musim
liburan kemarin aku baru saja belajar taekwondo, dan
ternyata tidak seburuk yang aku pikir. Aku perlu bisa
membela diri kalau terjadi sesuatu yang tak terduga.
Aku tidak suka pantai, tapi sudah mengunjungi
beberapa pantai yang indah, meskipun tetap tidak
menyukainya. Aku tidak suka rempah-rempah, tapi
sudah sebulan menjadi pelanggan tetap restoran India.
Hasilnya? Tetap saja tidak suka, entah kenapa aku tetap
pergi. Bahkan si penjual sudah mengenaliku dan merasa
kami dekat.
Kalau soal hal yang tidak disukai, aku mencoba
menonton genre film yang kurang diminati, seperti film
romantis. Sungguh membosankan, duduk diam selama
berjam-jam tanpa mendapatkan apa-apa kecuali
kebosanan. Tapi tetap saja aku menonton, dan jika ada
yang baru, aku tetap duduk di bioskop lagi.
Entahlah, aku juga tidak begitu memahami diriku
sendiri.
Aku terus menonton sampai menyadari sudah lewat
tengah malam. Aku melepas gelang tanganku, dan
seperti biasanya, perasaan canggung muncul saat
gelang itu dilepas. Tetapi kali ini, tidak ada tanda-tanda
dari orang yang biasanya tergantung di balkon setiap
malam. Aku melirik Donut yang sedang duduk di
tempat tidur.
'Dao, jangan pergi ke kamar mandi, ya.'
'Phi Cream sedang kalap.'
"..." Aku tidak mendengarkan peringatannya dan
berjalan ke kamar mandi. Phi Cream, yang disebut
Donut, adalah hantu di dekat bak mandi. Dia satu
satunya di kamar ini yang aku juga merasa kurang
nyaman dengannya. Mungkin karena cara kematiannya
yang tragis, dengan dendam yang kuat.
Aku melangkah masuk ke kamar mandi, pintu tertutup
dan lampu berkedip-kedip. Bayangan seseorang muncul
di bak mandi sebelum lampu berubah redup, seperti
lampu tua yang tidak menyala sepenuhnya. Rambutnya
panjang, basah, dan ia membelakangiku sambil
menyanyikan lagu dengan suara lambat.
Aku heran, meski lehernya terpotong, kenapa masih
bisa bicara? Bahkan sekarang ia menyanyi. Atau, lebih
tepatnya suara itu terdengar bergema dalam pikiranku.
"Liriknya salah, loh."
"..."
"Liriknya harusnya, kenapa kau harus.." Aku belum
selesai bicara ketika sosok itu perlahan berbalik
menatapku. Wajahnya pucat, dan lehernya penuh
sayatan dengan darah terus mengalir. Dia menyeringai,
dan sudut mulutnya yang terluka membuat senyum itu
terlihat semakin lebar.
Dia senang sekali sepertinya, sampai
senyumnya selebar itu... "...Kau Tidak
takut ...?"
"Tidak."
"Mau... bersamaku?"
"Tidak."
"...Kenapa... hiks, hiks, kenapa kau tidak mau bersama
ku? Kenapa harus ada orang lain? Kenapa aku harus
ditinggalkan? Aargh!" Suara jeritannya tajam hingga
terasa melengking di telinga, seperti suara yang bisa
memecahkan gelas.
"Telingaku sakit!!"
"Arrggghhhh!"
"Hoooiiiii, Telingaku sakit sekali." kataku sambil
menutup telinga karena tidak tahan dengan frekuensi
suaranya. Aku sudah pernah menonton konser artis
Korea beberapa kali, dan jeritannya sama seperti di
sana. Sebelum meninggal, dia pasti fans berat artis
Korea.
'Bagaimana kau tahu?'
"Apa?"
'Kau juga suka, ya?'
"..."
"Apa kau juga suka? Idol grup mana yang kau suka?"
"...Aku tidak terlalu mengidolakan, tapi aku mengikuti.
Kau suka grup apa?"
Aku mengobrol dengan Phi Cream di kamar mandi
tentang grup idola Korea. Terus terang, apa-apaan ini?
Aku bahkan bertanya-tanya pada diriku sendiri, ini apa
sebenarnya? Dia hantu yang dipenuhi dendam, tapi jadi
tenang setelah membicarakan grup idol Korea. Dia
bilang menyukai satu grup tertentu, tapi karena sudah
meninggal, dia tidak bisa mengikuti kabar
mereka. Aku jadi harus mencari informasi tentang grup
itu untuk menceritakannya pada Phi Cream.
Aku keluar dari kamar mandi dan duduk
di samping Donut. 'Sudah tenang?'
"Iya."
"Bagaimana bisa kau membuatnya tenang? Phi Cream
itu sangat menyeramkan, tahu?"
"Setiap orang pasti punya pengecualian masing-
masing." Aku menghela napas kecil. Terpikir bahwa aku
harus berbicara dengan hantu yang gantung diri, maka
aku melangkah ke balkon lagi. Tapi dia tidak ada di
sana. "Phi Cream, kau tahu ke mana hantu yang
gantung diri pergi?"
'Entahlah. Aku tidak melihatnya.'
"Oh begitu. Kalau begitu, Phi Cream, kau tahu sesuatu
tentang malam ketika Donut dibunuh?"
'Si kecil Don, dia entah pergi ke mana. Diusili sedikit saja
sudah ngambek.'
'Kau membuat kepalaku hampir putus.' Donut tiba-tiba
muncul di sampingku, entah sejak kapan.
'Seperti ini, kan?' Phi Cream menarik kepalanya, yang
awalnya tidak putus, tapi karena sudah ada bekas
sayatan, dia menarik hingga putus dengan sedikit
tenaga.
'Aaargh!' Donut buru-buru menutup mata. Aneh sekali
dia ini—menjadi hantu, tapi takut pada hantu lain.
'Mana istriku? Aku ketakutan. Istriku, tolong aku.'
'Cinta sekali kau pada istrimu, ya? Sampai kami para
hantu pun merasa iri.' 'Jangan menggoda begitu, Phi
Cream.'
"...." Aku yang melihat mereka saling menggoda merasa
harus menyelanya di tengah pembicaraan.
"Phi Cream, kau tahu sesuatu tentang malam ketika
Donut dibunuh?"
"Aku ada di kamar mandi, bagaimana bisa tahu? Coba
tanyakan pada Phruea."
"Baik," kataku sambil mengangguk kecil, kemudian
kembali duduk di meja kerjaku. Menghela napas, aku
teringat semua yang terjadi hari ini. Rasanya terlalu
biasa, sampai aku bisa berbicara dengan mereka seperti
ini. Sepertinya Phruea yang dia maksud adalah hantu
yang melompat dari gedung sekitar jam dua pagi.
Sedangkan hantu yang gantung diri tadi, masih belum
kembali.
Aku menunggu hingga pukul dua pagi lalu pergi ke
balkon untuk menunggu Phruea. Pada pukul dua lewat
tiga belas menit, pintu balkon terbuka, dan sosok
wanita yang pernah kulihat muncul di sana, dengan
kondisi yang sama seperti pertama kali aku melihatnya.
Dia menangis dan berhenti di depan balkon. Aku
menghalangi jalannya.
"Tu... Tunggu, aku ingin bertanya sesuatu."
Dia tidak menjawab, perlahan menatapku. Kami saling
berpandangan untuk pertama kalinya, dan dia sedikit
terkejut.
"Malam saat Donut dibunuh, kau melihat sesuatu?"
Dia tidak menjawab.
"Kau melihat orang lain masuk kamar?"
Dia mengangguk pelan, membuatku merasa
semakin bersemangat. "Orang lain yang
membunuh Donut, kan?"
Dia kembali mengangguk.
"Siapa?"
'Tidak tahu.'
Tentu saja, mana mungkin dia tahu.
"Bisa jelaskan sedikit ciri-cirinya?"
'Wanita, berambut pendek, memakai baju hitam... Aku
pergi dulu.'
"Oh, oke. Oke, aku akan kembali bertanya nanti.
Silakan," ujarku sambil sedikit membungkuk. Dia
mengangguk lagi sebelum melompat dari balkon. Aku
berjalan masuk ke kamar, sekarang sudah punya
informasi bahwa yang membunuh Donut adalah orang
lain. Donut terlihat sangat senang saat mengetahui hal
itu.
'Nanti aku akan menemui Thit dalam mimpinya. Aku
punya informasi baru. Atau kau mau memberitahunya
sendiri?'
"Tidak, aku serahkan padamu."
'Baiklah.' Donut mengangguk kecil.
******
Aku merasa seperti setengah sadar karena merasakan
ada seseorang yang duduk di sampingku. Lagi-lagi
diganggu saat tidur, pikirku. Aku membalikkan badan
untuk sengaja mengabaikannya, karena aku sangat
mengantuk. Tapi Donut tiba-tiba menarik lenganku agar
aku membalikkan badan.
'Bahkan dalam mimpi kau masih mengabaikanku.'
"Kau masuk mimpiku lagi. Apa lagi sekarang?"
"Bukan istriku yang membunuhku. Hantu di
kamar memberitahuku." "Kau juga hantu di
kamar."
'Ya, benar juga. Dao sudah bertanya pada mereka.'
"Aku heran, kenapa kau tidak bertanya sendiri?"
'Aku takut, teman.'
"Dasar pengecut."
"Sampaikan pada istriku, saksi bilang pelakunya
seorang wanita berambut pendek, memakai baju
hitam."
"Haah... iya, iya. Sekarang lepaskan aku, biarkan aku
tidur."
"Sampaikan pada istriku bahwa aku sangat
merindukannya. Setiap hari aku memanggilnya. Dan
aku tidak bisa tidur karena tidak bisa memeluknya."
"Aku hampir muntah. Iya, iya."
'Hei, Thit. Hantu di kamar mandi yang
kau usir waktu itu.' "Iya, kenapa?"
'Dia menitipkan pesan: kalau berani, datang saja, dia
selalu menunggu di kamar mandi.'
"...sial."
Aku mengendarai mobil dan berhenti di parkiran
penjara, teringat kejadian tadi malam saat Donut
muncul dalam mimpiku. Dia bilang hantu di kamar
mengungkapkan bahwa Min bukan pembunuhnya.
Bahkan Donut menitipkan pesan dari hantu di kamar
mandi untukku.
Sial, hanya itu yang bisa kuucapkan. Hidupku benar-
benar sial, sampai sampai harus berurusan dengan
wanita seperti Min. Bukan wanita biasa pula, terakhir
aku harus berurusan dengan hantu wanita juga.
Min datang dan duduk di depanku dengan wajah yang
sedikit memar, bibir dan alisnya terluka. Aku langsung
menaikkan alisku memandangnya.
"Kenapa kau?"
"Tidak ada apa-apa."
"Apa maksudnya tidak ada apa-apa?"
"Tadi malam berurusan dengan ratu penjara."
"Hah?"
"Itu hal biasa di sini. Aku bahkan sudah berusaha
sendiri, tidak ikut kelompok mana pun. Tapi justru
karena itu aku diusik."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah mengirim
dia ke rumah sakit." "Serius, kau benar-
benar melakukan itu?"
"Iya, siapa yang berani mencari masalah denganku?
Kupukul sampai silikon di tubuhnya terlepas. Aku
adalah juara menampar terbanyak di sekolahku."
"Kau menampar orang?"
"Bola voli, bodoh. Timku selalu jadi juara setiap tahun."
"Lalu kau tidak apa-apa setelah membuat orang kuat di
sini masuk rumah sakit?"
"Sepertinya aku aman kali ini, jadi tidak dihukum. Tapi
aku punya rencana untuk membangun kekuatanku di
sini."
"Bagaimana?"
"Aku akan jadi ratu yang menguasai penjara.
Menurutmu bagus, kan? Enak, tidak akan diganggu
lagi."
"..." Aku sudah tidak tahu harus berkata apa. "Bagus,
sesuai dengan gayamu. Aku ingin memberi kabar
bahwa sudah ada informasi baru."
"Benarkah? Cepat juga. Kau benar-benar detektifku."
"Ya, aku cuma minta bantuan tetangga untuk bertanya
pada hantu. Dia bilang hantu di kamar menyatakan kau
bukan pelakunya."
"Nah, benar kan?" Min memukul meja sampai petugas
penjara menatap ke arahnya. Min tersenyum kikuk
pada petugas itu. "Tidak apa-apa, aku cuma senang."
"Hantu di kamar bilang ada wanita berambut pendek
masuk kamarmu malam itu, memakai baju hitam."
"Siapa, ya? Siapa yang tega mencuri suamiku, lalu
menjerumuskanku ke penjara? Aku kesal. Kau harus
cari tahu, Thit. Berambut pendek, seberapa pendek
rambutnya?"
"Tidak tahu. Tidak begitu detail."
"Coba, apakah sampai bahu atau setelinga?
Bagaimana?"
"Apa kau punya seseorang dalam pikiranmu?"
"Berambut pendek, mungkin Ming, O Lin, atau mungkin
kakakku. Yang lainnya panjang semua. Ibuku juga
panjang, begitu pula ibunya Donut."
"Tiga orang, ya?"
"Benar," Min mengangguk.
"Tapi malam itu, Min, kau sedang mabuk dan
kembali ke kamar, kan?" "Iya, kenapa?"
"Kau ingat mengunci pintu atau tidak?"
"...astaga." Wajah Min berubah sedikit pucat. "Tidak
tahu. Mungkin aku lupa mengunci."
"Itu dia. Aku menggunakan otak Sherlock Holmes-ku
yang cerdas ini untuk berpikir, kau mungkin lupa
menguncinya."
"Kau pikirkan sendiri?"
"Aku tanya Fah."
"Dasar bodoh. Lalu bagaimana?"
"Fah bertanya apakah kau mengunci pintumu. Karena
kalau tidak, orang yang tidak punya kunci cadangan pun
bisa masuk."
"Entahlah. Aku mabuk, jadi tidak ingat."
"Dan tentang rambut pendek, bisa saja memakai wig,
kan? Atau mengikat rambut."
"Kau pintar sekali."
"Itu juga kata Fah."
"Nah itu juga maksudku," Min menghela napas panjang.
"Kau ini tidak bisa diandalkan. Kau bisa panggil Tonfah
kemari? Kau, pergi sana, tidak berguna."
"Kalau begitu aku tidak akan membantumu. Kau akan
jadi ratu penjara selamanya."
"Haha, bercanda, Thit. Jangan serius begitu. Nanti
kupelintir milikmu." "Aku tidak pernah dipelintir,
tapi pasti sakit."
"Suamiku bilang itu sakit." Aku tertawa kecil mendengar
kata-kata Min.
"Kata suamimu, dia merindukanmu, tidak bisa tidur,
terus memanggil istrinya."
"Benarkah? Benar dia begitu. Manja sekali. Dia tetap
tinggal di kamar, padahal aku sudah menduga, tanpa
aku, bagaimana dia bisa bertahan?" Min kembali
menghela napas panjang. "Katakan padanya agar
bertahan sebentar, aku akan kembali dan
memeluknya."
"Menjijikkan. Aku malah jadi perantara cinta sekarang."
"Ya, kau satu-satunya yang bisa menghubungkan kami."
"Bagaimana bisa memeluknya, dia sudah meninggal."
"Thit, kau ini membuat suasana jadi rusak."
"Kalau kau keluar, apa yang akan kau lakukan? Ini tidak
mudah. Kau sudah lama bersama Donut."
"Tidak tahu. Rasanya aku tidak bisa membayangkan
bersama orang lain. Kau tahu, sejak kecil aku sudah
memikirkan pernikahan dengannya, memakai gaun
pengantin, merawat anak bersama. Kenapa kau tanya
hal
seperti ini?" Tiba-tiba Min menangis. Aku terkejut
melihatnya menangis di depanku, dan meski ia
mengusap air matanya, tangisnya tetap mengalir.
"Menangislah. Tidak apa-apa, aku tidak akan
mengejek."
"Untuk apa aku menangis? Sial. Dasar Donut bodoh,
kenapa harus meninggalkanku? Pergi bersama orang
lain pun tidak separah ini, dia malah pergi meninggal.
Dia yang mengajakku pacaran duluan. Sekarang,
bagaimana aku bisa hidup tanpamh
"Si bodohmu itu... memang tidak mengerti apa-apa, tapi
tetap menyakitkan."
"Iya, pergilah kau. Pergi bersama Donut. Kau
membuatku menangis. Luka bekas pukulan ini sakit,
silikon di dadaku juga sakit. Sial."
"... Min, kau ini..."
"Betapa menyedihkan hidupku. Ah, sudahlah. Tidak ada
yang bisa dilakukan."
"Aku akan coba bantu semampuku."
"Jadi orang baik sekali, ya?" Min berkata sambil tertawa
kecil di sela-sela usapannya pada air mata.
"Mau aku lihat lukamu?"
"Hati-hati kau tersedot ke dalam."
"Lubang hitam, ya?" kataku sambil duduk, berbincang
lama dengan Min sampai dia terlihat lebih baik.
Biasanya dia tidak terlalu peduli pada apapun, tapi
setelah dekat, Min sebenarnya adalah wanita yang
tampak kuat tapi sangat rapuh. Di luar, dia terlihat
kasar, tetapi di dalam, ada
banyak bagian lembut. Kuat? Ya, tapi tidak bisa selalu
kuat dalam semua hal.
Aku tidak tahu.
Tapi saat memandangnya, aku seperti melihat diriku
sendiri.
Aku hanya tidak pernah menangis sekalipun, meskipun
hanya mengingatnya sudah sangat menyakitkan,
sampai ingin mati rasanya.
"Aku pergi dulu, kalau ada perkembangan,
aku akan beri tahu." "Ya."
"Jangan sering berkelahi, nanti silikonmu miring, dan
kau harus memperbaikinya lagi."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pakai silikon palsu untuk
menghajar mereka." "Aku akan menangkapnya
dengan wajahku, kalau begitu." "Brengsek!!!"
"Thit, serius, apa hidungku miring?"
"..."
"Kukira silikon hidungku miring, sakitnya minta ampun.
Aku buat ini mahal, tahu," kata Min dengan wajah kesal
sambil memegang hidungnya pelan pelan. "Sial, rasanya
dadaku juga sakit. Apa aku harus melepasnya?"
"Silikon di dadamu?"
"Iya."
"Kalau kau lepas, apa yang tersisa darimu, Min? Selain
dadamu yang besar, kau tidak punya kelebihan lain."
"Brengsek! Eh, Thit, bagaimana kau bisa tahu kalau aku
tidak punya kelebihan lain selain dadaku? Memangnya
kau pernah coba?"
"Mungkin sepertinya harus dicoba."
"Kau sendiri yang bilang, ya. Kalau aku datang, jangan
kabur."
"Kenapa aku sebagai pria malah jadi korban
pelecehan?" Aku mengerutkan kening sambil menghela
napas. Ya, kami memang sering bercanda seperti ini,
tapi aku nggak pernah menang lawan Min. "Kalau
begitu, aku pergi dulu."
...
Aku berdiri di tengah tempat yang belum pernah kutuju
sebelumnya. Aku menyebut nama Phi Min dalam hati
sekali lagi sebelum memberitahukan kepada petugas di
depan. Dia memintaku untuk duduk menunggu di
depan kaca. Setelah mendapatkan informasi dari Phi
Preaw pada hari itu, Phi pemabuk di sebelah kamarku
memberi tahu nama tiga orang yang dicurigai. Aku
mendapatkan informasi tambahan dari menanyakan
kepada Phi-Phi di kamar dan menyelidiki sendiri. Aku
tidak tahu apakah Phi pemabuk itu akan melakukan
sesuatu atau tidak, karena sudah beberapa hari dia
tidak kembali ke kamarnya, jadi aku memutuskan untuk
menemui Phi Min sendiri.
Karena aku merasa sudah tahu siapa pelakunya.
"Oh," kata seorang perempuan yang mengenakan
seragam tahanan berwarna suram. Wajahnya cantik
seperti orang Eropa dengan mata tajam, tidak
mengenakan make up tapi tetap terlihat sangat menarik
meskipun tato menghiasi lengan penuh. "Aku pikir Thit.
Siapa kau?"
"Eh, namaku Daotok."
"Hah?"
"Aku Dao," melihatnya bingung, aku pun menjelaskan.
Orang di depanku mengangguk sedikit seolah
mengerti.
"Ya, ada keperluan apa? Kau datang mengunjungi orang
yang tepat, kan? Aku rasa aku tidak mengenalmu."
"Aku adalah orang yang tinggal di kamar lama Phi."
"Oh, sebelah kamarnya Thit, ya?"
"Krap," aku mengangguk.
"Kau Nong yang berbicara dengan hantu, ya?"
"Ya."
"Wah, ada apa? Thit menghilang begitu saja tanpa jejak.
Ada di ujung dunia mana dia sekarang?"
"Entahlah, tapi aku rasa aku sudah
tahu siapa pelakunya." "Siapa?"
"Phi Olin, teman Phi."
"Olin? Kenapa kau pikir dia pelakunya? Dia
terlihat pendiam." "Sebenarnya, dia
menyukai Phi Donut."
"Hah?"
"Ya, Phi Donut tidak menceritakan hal ini padamu
karena takut terjadi pertengkaran. Dan Phi Donut tidak
pernah berpikir bahwa pelakunya adalah orang yang
dikenalnya. Tapi setelah aku memberi tahu Phi Donut
bahwa pelakunya berambut pendek, dan Phi Olin juga
berambut pendek, Phi Donut akhirnya menceritakan ini
kepadaku. Tapi, Phi Donut tidak ingat kejadian malam
saat dia meninggal."
"Apa maksudmu? Dia suka Donut?"
"Iya. Dia mengatakan bahwa Phi Olin pernah
mengungkapkan perasaan, tapi Phi Donut menolaknya.
Mereka sering mengobrol, tapi Phi Donut tidak
tertarik."
"Wow, berani sekali dia mendekati suamiku. Lalu apa
yang terjadi selanjutnya?"
"... Aku pergi melihat rekaman kamera CCTV di gedung
terdekat dan mendapatkan gambar. Itu memang Phi
Olin. Sepertinya dia tidak terlalu merencanakan ini,
mungkin hanya karena emosi sesaat."
"..."
"Karena saat aku... ah, mengikuti dia, dia terlihat tidak
tenang setiap saat." "..."
"Eh, mungkin ini terdengar berlebihan, ya?"
"Ceritakan saja."
"Aku bisa merasakan perasaan orang lain. Aku diam-
diam membaca pikirannya. Di dalam hatinya hanya ada
perasaan bersalah, kesedihan, kekecewaan terhadap
diri sendiri, dan ketakutan."
"Uh, aku mengerti. Lalu bagaimana? Aku percaya
padamu, tapi bagaimana caranya agar aku bisa keluar
dari penjara ini?"
"Aku rasa Phi Olin nanti akan datang untuk mengaku
sendiri."
"Hah? Benarkah?"
"Iya. Karena rasa bersalah dan tanggung jawabnya
sedang menghantui dirinya, mungkin dia tidak akan
bisa bertahan lama. Jika kita sedikit memicu, dia pasti
akan sangat ketakutan."
....
"Kenapa kau membunuh Phi Don?"
"Hik...Thit, hiks, jangan teriak padaku."
"Aku tanya kenapa kau membunuh temanku!!" Aku
berteriak lebih keras kepada perempuan di depanku
dengan marah. Aku tidak marah karena dia membunuh
Don, tapi karena aku sudah tidak tidur beberapa hari
dan mataku terlihat lelah. Untuk mencari waktu kosong
guna menyelidiki informasi untuk Min, aku harus pergi
tidur di sofa kamar Fah karena kehilangan kartu akses.
Don bilang cadangan sudah habis dan aku tidak bisa
masuk ke kamarku sendiri. Sungguh menjengkelkan.
Punggungku sakit karena tidur di sofa selama beberapa
hari.
"Hiks, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud... hiks, hiks,
maafkan aku."
"Pergilah minta maaf kepada Min. Dia terkurung
menggantikanmu. Di penjara, dia dipukuli hingga
payudaranya tertekan semua!"
"Hiks."
"Jangan hanya menangis saja!"
"Hiks...hiks..Thit, aku... aku...""
"Ah, sudahlah. Ayo pergi ke kantor polisi bersamaku!"
Aku menarik lengan perempuan berambut pendek di
depanku. Sepertinya dia terlihat seperti
pria jika ada yang melihat kami saat ini. Aku telah
menghabiskan waktu setelah giliranku untuk piketku di
rumah sakit untuk mencari Olin, teman Min selama dua
atau tiga hari. Setelah yakin bahwa dia adalah
pelakunya berdasarkan bukti dari rekaman kamera
CCTV di gedung sebelah. Olin sepertinya tidak
bermaksud ke mana-mana. Sepertinya dia hanya
berniat menemui Min, tapi entah apa yang terjadi,
mungkin dia secara tidak sengaja membunuh.
Dan polisi tidak mencari bukti lebih lanjut mungkin
karena semua petunjuk mengarah kepada Phi Min,
seperti yang dia katakan sebelumnya. Bodohnya, Min b
tidak membantah polisi. Tapi meskipun polisi mencari
bukti dari CCTV di gedung sebelah, mereka hanya
melihat perempuan berambut pendek naik ke gedung.
Tapi kita tahu apa yang dilakukannya, karena telah
berbicara dengan para hantu. Dan aku tidak berniat
mencari bukti lebih lanjut. Itu akan merepotkan. Lebih
baik, aku bawa saja dia untuk mengaku karena Olin
sendiri sepertinya sangat merasa bersalah.
"Hiks... maaf, aku akan pergi untuk minta maaf... minta
maaf kepada Min. Aku benar-benar merasa bersalah,
aku tidak bermaksud."
"Ayo, cepatlah. Jangan ditunda-tunda."
"Aku... aku sakit, hiks."
"Hei, Min lebih sakit daripada mu! Ayo masuk!" Aku
menyeret perempuan kecil itu untuk ikut dan
memasukkannya ke dalam mobil, lalu membawanya ke
penjara untuk meminta maaf kepada Min. Saat kami
masuk dan memarkir mobil, aku melihat Nong di
sebelah kamar sedang berdiri mengenakan helm tidak
jauh dari situ.
Dia datang untuk apa?
Setelah mengenakan helm, dia mengendarai motor
keluar. Aku kembali fokus pada Olin yang duduk di
sampingku, masih menangis.
"Bagaimana? Kau baik-baik saja?" tanyaku setelah Olin
selesai berbicara dengan Min. Orang di depanku masih
terlihat sangat marah.
"Wanita sialan! Kalau tidak ada kaca ini, Olin pasti sudah
mati. Saat dia datang dan menangis meminta maaf, aku
hampir saja melahap kepalanya."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang sudah menyukai Don lama sekali. Tapi Don
itu pacarku. Malam itu dia mampir untuk meminjam
barangku, dan dia membuka pintu dengan kartu
cadangan yang aku berikan. Dia melihat kami berdua
tidur. Karena dia suka Don, dia pun duduk dan
memperhatikan Don yang sedang tidur."
"Lalu..."
"Lalu dia mencium Don. Don mungkin mengira itu aku,
jadi dia membalas ciumannya. Olin jadi terangsang, jadi
mereka bercumbu hampir saja berhubungan. Ketika
Don terbangun dan melihat Olin, dia kaget dan
mendorongnya."
"Ah."
"Olin sudah melepas bajunya. Don duduk di tempat
tidur dan tidak siap. Olin bilang saat itu dia sedikit
mabuk. Karena marah dan entah kenapa, dia langsung
menusuknya."
"Saat dalam keadaan telanjang?"
"Ya, dan itu bukan masalahnya, kan?"
"Jangan khawatir, setidaknya dia bisa melihat payudara
sebelum mati."
"Arthit, kau benar-benar sialan! Ya, karena dia
telanjang, bajunya tidak memiliki noda darah. Dia
hanya mengelap dan mengenakan baju yang sama lagi.
Dia memasukkan kain yang digunakan untuk
menghapus darah ke dalam tas dan membawanya
untuk dibuang, lalu mengatur agar seolah
olah aku yang membunuh. Begitulah, ternyata mudah
membunuh seseorang dan menyalahkan orang lain.
Untungnya aku juga sedang mabuk. Hah, sialnya polisi
menangkapku dengan mudah."
"Ya, aku mengerti. Lalu dia akan mengaku kepada polisi,
kan?"
"Dia bilang dia tidak bisa tidur setelah membunuh
orang. Jadi, dia akan menerima kesalahan yang dia
buat. Tapi untuk mengaku, mungkin butuh beberapa
bulan. Aku hampir menjadi ratu penjara."
"Ya, baguslah kalau dia bisa berpikir seperti itu."
"Lalu bagaimana kau tahu itu dia? Tadi anak di sebelah
kamarmu baru saja memberitahuku. Dia bilang kau
tidak kembali ke kamar selama beberapa hari dan tidak
tahu bagaimana memberitahukan ini padamu. Jadi dia
datang mencariku."
"Aku kehilangan kartu akses. Don bilang cadangan
sudah habis. Bodoh, aku menghilangkannya, jadi aku
harus pergi tidur di tempat lain."
"Kau menghilangkannya atau ada yang mencurinya?"
"Entahlah, tapi itulah sebabnya aku tidur di sofa kamar
Fah selama beberapa hari."
"Kasihan. Tapi tunggu, setelah beberapa hari ini, kau
dan anak di sebelah kamar tidak menyelidiki
bersama?"
"Tidak. Menyelidiki bersama? Apa dia menyelidiki juga?"
"Baru saja aku bilang, anak itu baru memberitahuku
bahwa Olin adalah pelakunya. Dan kau membawa Olin
ke sini. Maksudku, kalian berdua menyelidiki terpisah
tapi menemukan pelakunya. Apa kalian tidak bertemu
sedikitpun saat menyelidiki?"
"Tidak, aku mengikuti Olin."
"Bagaimana bisa mengikuti orang yang sama
dan tidak bertemu?" "Sudahlah, lalu
bagaimana?"
"Kau bawa Olin ke polisi. Jangan biarkan dia kabur."
"Dia tidak bisa kabur. Aku sudah merekam suara
saat dia mengaku." "Cerdas juga. Bertindak
seperti seorang dokter, hah!"
"Itu perintah dari Fah."
"Dasar bodoh. Rugi kali aku memujimu. Ya sudah, bawa
dia ke kantor polisi. Nanti polisi yang akan
menanganinya. Jika tidak ada masalah besar. Mungkin
aku bisa segera keluar."
"Bagus. Aku sudah ingin minum alkohol."
"Ya, nanti aku traktir kau dan Nong Dao. Nong itu sudah
repot-repot datang membantu." kata Phi Min.
"Selamat, akhirnya kau bisa keluar. Yang bersalah
benar-benar akan mendapat balasan."
"Ya, Olin, nanti dia akan menerima perlakuan dari
teman-teman baruku. Aku sudah perintahkan anak
buahku di penjara untuk memberinya pelajaran.
Membunuh suamiku seolah tidak cukup, sekarang juga
mau menyalahkan ku, dasar jalang!"
"Olin tidak sepertimu, mungkin dia tidak bisa
beradaptasi."
"Siapa yang bisa beradaptasi sepertiku? Oh, Thit, apa
masih ada kamar kosong di lantai yang sama di
kondominium kita, kan?"
"Ada. Semua lantai kosong!"
"Nanti aku akan pindah kembali. Kamar lamaku sudah
ditempati Nong Dao, kan? Jadi, aku ambil kamar di
seberang saja. Aku akan kembali tinggal dengan
suamiku."
"Ya, selamat datang kembali!"
Chapter 5: Cigarette - Beer
Setelah kasus Phi Min dan Phi Donut selesai dengan
mudah, aku harus mengakui bahwa aku sangat kecewa.
Aku begitu antusias berpikir kalau aku akan menangani
kasus perdagangan narkoba lintas negara, perebutan
harta dalam keluarga, atau kejadian kotor di balik
organisasi tertentu, atau mungkin tipu muslihat seperti
dalam serial drama.
Aku bahkan sudah memberitahu Pho kalau aku harus
terlibat dalam kasus besar dan mempertaruhkan
hidupku, aku tak akan biarkan mereka menyeret Pho-
ku. Phi dan Dad harus aman, juga Nenek Puangthong.
Dan aku menulis permintaan terakhirku agar
menggunakan setiap tabunganku untuk merawat Nong
Jon, jangan sampai dia kekurangan.
Ketika kuceritakan pada Pho, dia hanya berkata sudah
terbiasa. "Kau selalu berpikir berlebihan seperti itu,
kan?" Begitulah. Aku seharusnya tidak berharap terlalu
banyak sejak awal. "Hah...."
"Dao, maaf kan aku..." Phi Donut berkata
sambil meminta maaf. "Untuk apa kau minta
maaf?"
"Maaf karena aku dibunuh begitu saja. Maaf karena
aku tidak terlibat dalam perdagangan narkoba
internasional. Maaf karena kasusku tidak menarik!"
"Hah..."
"Jangan tatap aku seperti itu!"
"Phi Donut..." kataku dengan suara lirih, sedikit heran
karena semua sudah selesai tapi dia belum pergi juga.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, gelombang roh kita
tampaknya cocok satu sama lain lebih dari yang kukira.
Maksudku, aku bisa melihatnya berjalan-jalan di kamar
tanpa melepas gelangku dan bisa ngobrol dengan
mudah.
"Apa?"
"Bisakah kau diam?"
"... Baik."
Phi Donut tampak lesu dan duduk diam di tempat tidur
lagi. Aku tidak ingin bicara dengannya sekarang,
mungkin nanti saat aku merasa lebih baik. Aku terus
mengikuti kasus itu untuk sementara hingga tahu kalau
Phi Olin menyerahkan diri dan mengakui semua. Phi
Min pun menuntut ganti rugi untuk menuntut keadilan.
Setelah hampir seminggu, aku tidak lagi mengikuti
perkembangan kasusnya.
"Dao."
"Apa, Phi?"
"Aku takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut aku akan menghilang. Bagaimanapun juga,
aku sudah menjadi hantu. Bagaimana mungkin hantu
dan manusia bisa saling mencintai, kan?"
"Kau benar."
"Hibur aku sedikit saja."
"..."
"Ada seseorang yang datang."
"Apa?"
"Astaga, astaga!" Phi Donut tampak panik sebelum
menghilang. Aku memandang sekeliling dengan
bingung, berusaha mencari tapi tidak melihat apa-apa.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu
kamarku.
Aku mengintip melalui lubang intip, dan terkejut melihat
siapa yang berdiri di luar. Phi Min?
"Halo."
"Halo, Phi."
"Donut masih ada di sini?" Itulah pertanyaan pertama
yang dia tanyakan. Phi Min tampak berbeda dari
terakhir kali aku melihatnya beberapa hari lalu. Dari
wajah yang tampak lusuh saat berada di penjara,
sekarang dia berdandan cukup mencolok dengan
rambut pirang bergelombang, mengenakan baju crop
top dan celana jeans, dan ada tato di perutnya.
Kukunya yang tampak seperti kuku palsu hampir
menusuk mataku saat dia mengangkat tangannya untuk
menyisir rambut.
Wow, keren sekali...
"Err..." Aku tergagap sedikit, melihat ke dalam kamar.
Melihat Phi Donut bersembunyi di belakang lemari es,
memandang Phi Min dengan wajah seperti ingin
menangis, menggelengkan kepala pelan seakan
memintaku
untuk tidak memberitahunya. Aku mengernyit sedikit
tapi memutuskan untuk mengikuti keinginannya. "Tidak
ada, Phi."
"Hah?"
"..."
"Dia sudah tenang sekarang?"
"Tidak juga, tapi sekarang tidak ada di sini."
"Pembohong! Dao, aku bukan mengatakannya padamu,
tapi padanya." Phi Min berkata sambil berjalan masuk
dan memandang sekeliling kamar. Aku tidak yakin Apa
dia bisa melihat atau tidak karena sekarang Phi Donut
sudah menangis. "Aku baru saja pergi berdoa, dan biksu
mengatakan bahwa kau masih di sini. Tunjukkan dirimu
sedikit."
"...Hiks."
"Ayo cepat."
"...Hiks."
"Aku rindu."
Phi Donut menangis keras sebelum berjalan mendekat
dan memeluk Phi Min, tapi Phi Min tampaknya tidak
merasakannya. Aku menduga Phi Min tidak memiliki
indra untuk melihat atau merasakan keberadaan hantu.
"Aku juga rindu... hiks, rindu."
"Apa ini, rasanya sangat sesak sekali. Apa dia
memelukku?" Phi Min berbalik menatapku, dan aku
mengangguk pelan sebagai jawaban. Phi Min
mengulurkan tangan untuk memeluk balik, tapi hanya
menyentuh udara kosong. "Seperti ini bisa?"
"Parfum apa yang kau pakai, Min? Sangat menyengat."
"Apa yang dia katakan?"
"Err... bilang parfumnya menyengat."
"Sialan, itu adalah kata pertama yang kau ucapkan
padaku? Bukan parfum, itu pengawet mayat."
"Jahat, Apa kau tidak mencintaiku lagi?"
"Dia bilang kau jahat, Apa kau tidak mencintainya lagi?"
"Aku sangat mencintai dan sangat merindukan. Aku
sudah memasukkan Lin ke penjara. Hampir saja aku
memukulnya di depan pengadilan. Dia pasti akan babak
belur di penjara. Anak-anak ku di penjara sekarang
banyak."
"Kau baru sebentar di sana sudah menguasai penjara?"
"Phi Donut bertanya, apa kau sudah menguasai penjara
padahal baru sebentar di sana?"
"Saat keluar, aku bahkan janjian untuk minum dengan
penjaga penjara." Phi Min berkata sambil tertawa. "Kau
tahu, ketika aku berdoa, aku kecewa. Kau mati begitu
saja, tubuhmu tidak lagi hangat."
"..."
"Apa yang dia katakan?"
"Tidak berkata apa-apa, tapi tidak memeluk lagi."
kataku, karena ucapan Phi Min membuat Phi Donut
melepaskan pelukan dan diam.
"Peluk aku lagi. Di mana lagi kau akan menemukan
orang yang bisa menyuntikkan pengawet mayat
sepertiku?"
"Aku tidak mau memelukmu lagi."
"Dia bilang tidak mau memeluk lagi." kataku. Phi Min
tertawa tetapi juga menghapus air matanya.
"Aku bercanda, peluk aku. Aku ingin memelukmu." Phi
Donut memeluk Phi Min lagi, kali ini tampaknya lebih
erat dari sebelumnya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Ingat saat kau
masih kutu buku dan mengejar-ngejar aku?"
"Iya, ingat."
"Dia bilang ingat."
"Sangat lucu sekali. Kau tidak tahu diri. Aku adalah
bintang di tahun ketiga, dan kau hanya nerd biasa tapi
memilih untuk mengejarku. Gilanya, aku menyetujui
hubungan denganmu. Ketika kau dibully, aku yang pergi
menghajar mereka untukmu."
"Jangan ungkit lagi, itu memalukan."
"Dia bilang jangan ungkit lagi, itu memalukan." Phi Min
mulai menangis tetapi juga tertawa di saat yang sama.
Aku ingin keluar dari sini dan membiarkan mereka
berdua bersama, tapi aku harus tetap di sini untuk
menyampaikan.
"Err... Maaf, aku interupsi sebentar." kataku saat
teringat sesuatu. Keduanya menoleh menatapku.
"Sebentar ya." Aku mengambil ponsel dan menelepon
Khun Puangthong, berjalan keluar ke balkon untuk
berbicara.
"Halo, nenek."
"Ya luk..."
"Apa ada cara untuk orang yang tidak memiliki indra
bisa berbicara dengan hantu?"
"Kenapa harus berbicara? Itu melanggar hukum alam."
"...Nenek, aku sudah melakukannya, berkali-kali, dan
hampir terbiasa."
"Oh, ya ampun. Cara agar bisa berbicara? Nenek tidak
tahu. Coba cari di Google. Ada sesuatu, sepertinya."
"...Mencari di Google? Apa berhasil?"
"Nenek tidak tahu. Coba saja."
"Krap." Aku berbicara sedikit lagi dengan nenek dan
menutup telepon. Akhirnya aku mencari di Google.
Banyak cara untuk bisa melihat hantu. Aku mencoba
membicarakan ini dengan Phi Min.
Sekarang sudah malam, dan tampaknya berhasil. Phi
Min bisa melihat Phi Donut dan menangis lebih keras
dari sebelumnya. Aku membereskan barang-barang dan
keluar dari kamar, meninggalkan mereka berdua. Aku
pergi bekerja di kafe.
Hampir tiga jam kemudian aku kembali ke kamar,
menemukan Phi Min masih berbicara dengan Phi
Donut. Ketika aku membuka pintu, keduanya menoleh
padaku.
"Maaf, keasyikan. Aku akan pulang sekarang."
"Kau akan pulang?"
"Jangan cengeng. Dua atau tiga hari lagi
aku akan pindah." "Baiklah."
"Kenapa merajuk?" Phi Min mengomel sedikit, masih
memegang payung. Di internet ada cara yang
mengatakan jika membuka payung di dalam ruangan
akan bisa melihat hantu, dan tampaknya berhasil.
Setelah berpamitan sebentar, Phi Min keluar dari
kamar, meninggalkan Phi Donut yang duduk dengan
wajah muram.
"Dao."
"Apa, Phi?"
"Aku takut."
"Apa?"
"Aku takut akan menghilang."
"Hm."
"Awalnya kupikir aku masih ada karena masih punya
urusan, tapi sekarang urusanku selesai. Kapan aku akan
menghilang?"
"Kau tidak akan menghilang." kataku dengan suara
lembut seperti biasa, meletakkan tas dan mengambil
barang-barang dari dalamnya.
"Phi Donut masih ada bukan hanya karena urusan yang
belum selesai, tetapi juga karena usia hidupmu."
"Benarkah?"
"Iya, kau tidak bunuh diri jadi tidak perlu mengulang
sesuatu seperti Phi Preaw dan Phi Aeng, yang dibunuh.
Kau seperti Phi Cream. Phi Cream juga belum pergi
karena usia hidupnya belum habis."
"Oh... Benarkah? Tapi... Apa keberadaanku ini baik?"
"Kenapa, Phi?"
"Manusia dan hantu, Dao. Min sangat senang sampai
ingin pindah kembali bersamaku. Apa itu baik? Aku
tidak punya tubuh. Haruskah aku membiarkan Min
pergi dan menemukan seseorang yang nyata untuk
menjaganya?" Phi Donut tampak sangat bingung. Aku
menduga ini alasan dia tidak berani menemui Phi Min
pada awalnya.
"Tidak tahu." jawabku, kembali merapikan barang-
barang. "Apa Min tipe orang yang membutuhkan
seseorang untuk menjaga dia?"
"Tidak. Bersama pun, dia yang menjaga ku."
"Phi Min juga masih ingin menjagamu, bukan?"
"..."
"Phi Min sudah memutuskan."
"Kau benar. Terima kasih, Dao. Aku merasa lebih baik."
"Iya." Aku mengangguk sedikit.
Dari orang-orang di sekitarku yang pernah aku temui,
baik Phi Min maupun teman-teman lainnya,
membuatku melihat cinta dengan lebih positif.
Sebenarnya memang begitulah adanya, ada baik dan
buruk. Jika menemukan cinta yang baik, maka bagus.
Tapi kita tidak pernah tahu Apa cinta yang kita temukan
itu baik atau tidak. Menyadari hal itu, kita tidak bisa
kembali.
"Michael merindukannya."
"Jangan mengatakannya." kataku segera saat Emma
muncul berdiri di samping Phi Donut, tampak bingung
mendengar aku berbicara.
"Dao, kau bicara dengan siapa?"
"Michael masih sakit?"
"Tidak sakit lagi."
"Dao, kau bicara dengan siapa? hantu lain? Kenapa aku
tidak bisa melihat siapa pun?"
"Kenapa Donut banyak bicara begitu ya," Emma
berkata, tapi Phi Donut tidak bisa melihatnya. Tentu
saja, Phi Donut adalah hantu, sedangkan Emma
hanyalah teman dalam pikiranku.
"Aku merasa tidak nyaman."
"Kenapa?"
"Dao bicara dengan siapa, aku takut!" Phi
Donut mulai panik. "Dia baru saja
menghubungi," kata Emma.
"Lupakan saja. Aku sudah memblokirnya."
"Ya, jangan kembali padanya."
"Ya."
"Janji?"
"Janji." Aku berjanji pada Emma, sementara Phi Donut
menatapku bingung dari jarak tak jauh.
"Janji apa? Sebenarnya, Dao bicara dengan siapa?"
....
....
Aku melirik ke arah Min yang sedang menari tak jauh
dariku. Rasanya dia benar-benar total malam ini. Lihat
saja bajunya, lihat bagaimana dia
menari. Semua orang di sekitarnya terpukau, mata
mereka terpaku. Dan jika kau bertanya Apa aku
menatapnya juga? Ya, aku menatap. Kenapa dia bisa
menari sebaik itu? Aku iri padamu, Donut. Setelah Min
lelah menari, dia kembali ke meja, menuangkan
minuman ke gelasnya, lalu menenggaknya.
"Min."
"Ada apa? Suaramu parau, apa kau ingin aku?"
"Serius, jangan bercanda. Bagaimana kalau aku
benar-benar tergoda?" "Kenapa tidak? Aku akan
punya pacar seorang dokter."
"Lalu, kau punya pasangan dari penjara?"
"Hei, aku sudah keluar." Min tampak bosan dan
bersandar pada sofa. "Kau sudah bicara dengan
Donut? bagaimana?"
"Tidak ada yang istimewa. Aku akan kembali tinggal di
kamar sebelahmu. Sudah bicara dengan pemiliknya."
"Sudah dipikirkan matang-matang?"
"Iya, sudah dipikirkan." Dia menghela napas dan
menenggak minuman lagi. Kami berdua minum seperti
pasangan suami istri, meski dia bilang tak ingin banyak
orang datang dan membuat keramaian. Aku
mengundang tetangga sebelah, tapi dia tak datang.
"Dao bilang dia masih ada karena usia hidupnya belum
habis. Aku akan tetap bersamanya sampai usia
hidupnya benar-benar habis."
"Bagaimana kalau usianya habis bulan depan?"
"Itu akan gila." Min tertawa kecil. "Tapi tak apa, aku
tidak akan menyesal. Sudah kuputuskan. Meski akan
sedih, rasanya seperti dia benar-benar ada. Kami bisa
bicara, saling menyentuh juga."
"Saling menyentuh?"
"Iya, seperti saat hantu mendatangimu, kau tahu, kan?
Pernah merasa tertindih?"
"Ya." Aku mengangguk sedikit dan
menenggak minuman lagi. "Kau
melampiaskan padanya?"
"Donut cerita?"
"Ya." Min menutup mulutnya, menahan tawa. "Astaga,
gila kau, Tit. Tapi serius, kalau aku jadi dia, aku pasti
langsung menyerang."
"Bisa saling menyentuh?"
"Gila." Aku tertawa lepas. "Begitu, ya?
Kau tampak lapar." "Ya, kau tahu, aku
merasa terikat dengannya."
"Iya, tapi kau tidak selalu bisa menyentuh setiap kali.
Kau harus sering sering membuat pahala untuknya."
"Kalau bisa menyentuh, aku tak akan keberatan.
Selamat datang di acara Live with the ghost."
"Tidak, ini malah hantu yang mendapatkan manusia."
"Ya, apapun itu. Tapi manusia dan hantu bisa begitu,
ya? Dunia ini memang aneh." Aku menggeleng pelan,
membayangkan. Hidupku penuh kejadian aneh, dan
bertemu orang yang terikat dengan hantu tidak lagi
mengejutkan. "Selama usianya belum habis, dia masih
ada, kan?"
Diterjemahkan oleh Wint3r_Solstice
Untuk kalangan terbatas. Tidak untuk diperjual belikan.
WEST: THE SUN FROM ANOTHER STAR a Novel by Howl_Sairy
"Iya, kenapa?"
"Tak ada." Aku menjawab singkat, sebelum percakapan
kami terganggu oleh seorang pria yang datang
menghampiri Min.
"Min, sudah lama tidak bertemu."
"Ya, aku baru keluar dari penjara."
Pria itu tampak terkejut mendengar candaan sarkastik
Min. "Maaf, soal Donut..."
"Terima kasih."
"Min, Apa kita masih ada kesempatan?"
"Tidak, punyamu kecil."
"..."
Aku menahan tawa, dan pria itu tampak malu. Lalu dia
berbalik pergi. "Min, jahat sekali kau. Menyebut ukuran,
itu mungkin penghinaan terbesar untuk seorang pria."
"Kenapa? Memang kecil."
"bagaimana kau bisa tahu?"
"Dia teman dari temanku, pernah minum bersama. Dia
bilang suka padaku, aku tolak, tapi dia mencoba
memperkosaku."
"Astaga, serius? Apa yang terjadi?"
"Aku pukul kepalanya hingga berdarah. Sekarang malah
tanya kesempatan. Sudah kecil, masih nekat." Min
tertawa terbahak-bahak.
"Orang memang aneh, ya. Ada yang merendahkan
orang karena ukuran penisnya."
"Kau mengatakan ini karena kau kecil, ya? Aku bisa
menebaknya." Min mengejekku.
Aku mengernyit. "Mau coba? Aku pastikan kau
tidak bisa bergerak." "Oh, kau menantang."
"Min, aku serius."
"Bersabarlah, teman. Mudah sekali kau tergoda,
sepertinya kurang perhatian, ya?"
"Ya, bahkan waktu untuk minum saja hampir tidak
ada."
"Tidak ada yang membuatmu tertarik?"
"Tidak, lebih mudah membayar untuk
mendapatkannya." Jawabku dan Min langsung
tertawa.
Kami terus tertawa dan berbincang hingga waktu pulang
tiba. Min yang tidak terlalu mabuk mengantarku pulang
karena aku sudah mabuk berat malam itu.
Aku naik ke kamar, mencari kartu akses, lalu membuka
pintu. Beruntung sekali hari ini...
Chapter 6: Father-Son
Aku mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen di
depanku dan memperhatikan ponsel ketika ada
panggilan masuk.
[Anak Bandel]
"Ada apa?"
(Direk, petugas keamanan, tidak mengizinkan ku
masuk ke perusahaan.) "Kenapa?"
(Tidak tahu, dia orang baru atau apa, dia bilang
tidak mengenalku.) "Mungkin. Biar ku urus."
Aku menutup panggilan itu dan segera menelpon
sekretaris.
(Ya, Pak?) "Anakku berada di depan perusahaan,
petugas keamanan tidak mengizinkannya masuk.
Tolong bantu."
(Maaf, Pak, petugasnya keamanan baru. Aku pikir
mereka mungkin tidak mengenal Tuan Arthit. Aku akan
mengurusnya.)
"Hmm, tolong beritahu mereka juga."
(Baik, aku akan memperingatkan mereka. Perlukah aku
potong gaji mereka?)
"Tidak perlu. Aku yakin anakku sudah memarahi
mereka cukup banyak." (Dimengerti, Pak.)
Tak lama kemudian, anakku masuk ke ruang kerjaku dan
duduk. Melihat dari penampilannya, tidak heran jika
petugas keamanan melarangnya masuk. Lihat saja
pakaiannya—kaos tanpa lengan warna hitam, celana
pendek sebatas lutut, sandal jepit, rambut acak-acakan,
tato di lengan dan kaki, bahkan kumisnya tidak dicukur.
Mirip seperti penjahat.
"Pakaian macam apa ini?" tanyaku.
"Kenapa memang? Direk, kau kan pemilik perusahaan.
Kenapa memangnya? Dan ada apa dengan mereka? aku
sudah bilang kalau aku anak pemilik perusahaan, tapi
mereka tidak percaya."
"Kalau aku jadi petugas keamanan, aku juga pasti tidak
akan membiarkanmu masuk," jawabku. Aku kembali
menyelesaikan dokumen sebelum mengajaknya keluar
dari ruangan dan melirik ke arah sekretaris yang duduk,
sementara dia segera berdiri. "Kau sudah memesan
restoran yang kubilang, kan?"
"Sudah, Pak."
"Aku mungkin baru kembali ke perusahaan sore nanti."
"Baik, selamat menikmati makan siang anda, Pak."
Dia membungkuk sopan. Aku dan Arthit berjalan keluar
dari perusahaan, dan di sepanjang jalan aku
memperhatikannya. Ya ampun, bisakah dia berpakaian
lebih rapi sedikit? Dia adalah anak satu-satunya pemilik
perusahaan!
"Kita naik mobil siapa?"
"Mobilmu."
"Direk kau akan menyetir mobilku?"
"Kau mau menyetir untukku?"
"Wah, kukira aku akan mendapatkan tumpangan dari
pemilik perusahaan," katanya sambil menghela napas.
Arthit berjalan mengitari mobil, membuka pintu dan
mempersilahkanku masuk. Aku duduk di kursi
penumpang, sementara dia di kursi pengemudi. Mobil
ini hampir seharga tiga puluh juta, tapi lihat saja cara
berpakaiannya.
"Lain kali kalau mau datang, berpakaianlah lebih baik."
"Kenapa?"
"Lihat saja aku dan kau," ujarku, sambil melirik
pakaianku yang rapi dengan setelan jas.
"Kau tertarik ganti baju seperti bajuku? Kenapa aku
harus mengikuti gaya bajumu?
"Setidaknya, jagalah citraku juga. Bagaimanapun aku
pemilik perusahaan, meski aku ayahmu."
"Kita makan di mana?"
"Restoran yang kita kunjungi sebelumnya."
"Baik, Pak CEO," jawab Arthit sambas menyalakan mobil
dan mulai mengemudi.
Mobil mendadak melaju cepat, membuatku terdorong
ke belakang. Aku spontan menjulurkan tangan untuk
menepuk kepalanya.
"Aduh! Direk, kenapa memukul kepalaku?"
"Mengemudilah dengan baik."
"Ya, ya... baiklah."
"Arthit, ini jalan raya, bukan arena balap."
"Kraaaaap," jawabnya dengan nada panjang seolah
mengejek, tapi akhirnya dia mengurangi kecepatan
mobil.
Karena keluarga kami sudah lama berbisnis otomotif,
Arthit sudah akrab dengan dunia mobil sejak kecil. Dia
sangat menyukai segala hal tentang mobil dan cukup
mahir dalam mengemudi. Mungkin aku terlalu
membanggakan anak sendiri, tapi jika dia ikut balapan,
dia pasti tidak akan kalah. Aku pernah melihatnya kalah
hanya sekali, yaitu ketika melawan temannya yang
bernama Johan. Tapi, di putaran berikutnya dia
menang, saling bergantian menang sekali. Setelah itu,
mereka tidak pernah bertanding lagi.
Semalam dia meneleponku larut malam, sepertinya dia
mabuk. Tidak mengejutkan sama sekali. Setiap kali
mabuk, dia pasti meneleponku, seolah-olah aku ini
mantan pacarnya. Ya, begitulah dia. Awalnya aku
adalah ayahnya, lama-kelamaan jadi temannya,
sekarang aku sudah seperti mantan pacarnya.
Aku adalah Direk, ayah dari Arthit. Entah bagaimana
caranya aku membesarkan anak ini hingga memiliki
sifat seperti sekarang, tapi satu hal yang pasti: dia
adalah aku waktu muda. Kau pasti tahu, "buah jatuh
tidak akan jauh dari pohonnya"—Ya, itu benar, tapi
masalahnya buahku ini bahkan enggan jatuh dariku. Dia
tetap menempel terus dan bergantung padaku.
Ayahku juga membesarkanku seperti seorang teman.
Ayahku adalah kakeknya, jadi aku membesarkan Arthit
layaknya teman sejak kecil. Aku
ingin dia merasa bisa bicara tentang apa saja padaku,
menceritakan segalanya tanpa perlu menyembunyikan
sesuatu. Aku selalu bisa menerima apapun tentang dia,
karena dari awal aku tidak menaruh harapan apa-apa
padanya.
Aku memberi Arthit banyak kebebasan. Lihat saja, dia
minum, merokok, dan bahkan bisa meneleponku sambil
bilang dia sedang bersama perempuan. Aku hanya
bilang, "Ya sudah, telepon lagi nanti." Aku juga
dibesarkan seperti itu. Tapi bukan berarti aku
mengabaikan dia hingga menjadi rusak; karena dia tahu
batasan dan bisa menjaga diri.
Arthit tumbuh dengan pemahaman bahwa hidup adalah
pilihannya. Tugas utamaku hanyalah menyediakan
segala keperluan dan menyiapkan sayap untuknya
terbang. Jika nanti dia sudah siap, aku hanya ingin dia
hidup tanpa membebani orang lain. Ketika aku
meninggal, dia akan memiliki warisan. Tapi jika dia tidak
mencari uang lagi dan uang itu habis, itu tanggung
jawabnya.
Aku pernah bilang padanya bahwa jika aku tua nanti dan
dia tidak ingin mengurusku, cukup beri aku uang
secukupnya, dan aku bisa mengurus diri sendiri. Aku
percaya, jika kita membesarkan anak dengan baik, dia
tidak akan meninggalkan kita.
Arthit sering meneleponku saat mabuk, mengeluh,
meminta bantuan, bahkan terkadang memanggilku
dengan panggilan 'Direk' dengan nada akrab. Semalam
dia menelepon, bukan sekadar mabuk biasa, tapi ada
yang mengganjal di pikirannya. Dia bercerita tentang
seorang teman yang dibunuh tapi belum meninggal
karena 'usianya belum habis,' yang membuatku sadar
dia mungkin merasa bahwa ibunya masih ada.
Hanya ada dua hal yang akan mematahkan hatinya:
ketika ibunya meninggal, dan kemungkinan nanti saat
aku pergi. Meskipun tampak keras, Arthit sangat sensitif
soal orang tuanya. Seumur hidup, dia hanya benar benar
mencintai aku dan ibunya. Soal teman, ya, dia peduli,
tapi tidak sedalam itu. Ketika ibunya meninggal, itu
pukulan yang sangat berat baginya, dan hingga kini luka
itu belum sepenuhnya sembuh.
Tentang ibunya, kami berdua seolah memiliki perjanjian
tidak tertulis untuk tidak membicarakan seberapa
sakitnya kehilangan itu. Saat dia meninggal, kami
menangis masing-masing, tanpa satu pun dari kami
benar-benar mengungkapkan betapa pedihnya rasa
kehilangan itu.
Arthit hanya menangis saat pemakaman ibunya, setetes
air mata, lalu menghapusnya. Setelah itu, dia tidak
pernah menangis lagi. Karena itulah, luka di hatinya
tidak pernah terobati. Bukan karena dia lemah; justru
dia sangat kuat, tapi hanya untuk urusan ini, dia tidak
bisa melaluinya.
Kami berdua akhirnya tiba di restoran yang sudah
kupesan. Arthit bertanya, "Kenapa sepi, Direk, kau sewa
satu restoran lagi ya?"
"Ya," jawabku sambil keluar dari mobil.
"Untuk apa?"
"Ya, karena aku kaya."
"Wah, ternyata kau sangat kaya. Ini tidak bisa
dibiarkan." katanya, lalu berlanjut, "Jadi, boleh pinjam
empat ratus ribu? Aku ingin modif mobil baru."
"Mobil yang mana?"
"Lexus."
"LC?"
"Ya."
"Lalu uang hasil balapanmu kemarin kemana?"
"Tentu saja aku simpan."
"Bukannya pakai uang sendiri, malah pakai uangku. Ya
sudah, bayar kalau kau menang balapan lagi."
"Tenang saja, nanti aku kembalikan."
Kami memesan makanan di tengah suasana restoran
yang tenang. Aku menanyakan kabarnya. Kulihat dia
sering kesal karena pasien banyak tingkah.
"Jangan membentak pasien, kau itu dokter,"
ucapku mengingatkan. "Tapi mereka
menyebalkan, Direk."
"Apa kau akan lanjut spesialis?"
"Tidak, malas. Menurutmu, aku cocoknya di bidang
apa?" tanyanya sambil menyantap steak.
"Psikiatri sepertinya cocok untukmu."
"Kenapa?"
"Pasien yang memiliki masalah kejiwaan yang datang
kepadamu pasti akan merasa nyaman, karena
dokternya malah lebih parah dari mereka."
Arthit tertawa mendengar itu, hingga hampir tersedak.
Momen-momen ini, walau jarang, sangat berarti. Kami
sudah jarang bisa makan bersama karena dia kuliah
kedokteran dan sangat sibuk.
"Itu sudah pasti, hahaha. Tapi apa yang akan kau
berikan jika aku bisa melakukannya?"
"Wow, itu pertanyaan paling berani," aku berkata
sambil mengambil sesuap nasi dan menggeleng pelan
dengan sedikit kesal. "Selesaikan dulu saja kuliahmu.
Melihat nilai semester terakhir, membuatku putus asa.
Kau harus mendapatkan A, mendapatkan B saja belum
bisa membuatku senang."
"Karena itulah, aku akan berusaha demi ayah."
"Karena kau bukan orang baik, jadi setidaknya punya lah
nilai bagus," kataku sambil menghela napas lagi. Setiap
kali nilai keluar, dia selalu bilang begitu. Tapi sejujurnya
aku hanya mengomel saja, mencoba peran seorang
ayah yang mengeluhkan nilai anaknya. Walaupun
sebenarnya aku tidak pernah serius soal itu. Aku sendiri
sering mendapat nilai F sebelum akhirnya lulus.
Setelah selesai makan, kami bersiap untuk pergi, dan
aku akan lanjut bekerja.
"Direk, aku mau tambah tato lagi."
"Tato apa?"
"Belum tahu, nanti minta referensi di tempat tatonya."
"Mau tato dimana lagi?" tanyaku, karena dia sudah
banyak memiliki tato, meskipun masih tersembunyi di
balik pakaian. Saat pertama kali dia tato, aku yang
mengantar. Tato pertama di dadanya bertuliskan
'Direk's son'. Ya sudahlah, terserah dia saja. Apapun
yang membuatnya senang.
"Anak Direk," ujarku dalam hati, tidak tahu harus
tertawa atau kesal. Memarahi anak ini juga percuma,
karena pada dasarnya dia mencela dirinya sendiri.
"Mungkin di bahu kanan. Tato apa yang cocok
menurutmu, Direk?" "Apapun, asal jangan
wajahku saja."
"Kenapa? Banyak kok yang tato wajah ayah mereka."
"Tolong, jangan sampai aku melihatmu melakukannya."
"Kau sangat pelit, begitu saja tidak boleh."
"Huh." Aku menghela napas karena keisengannya.
Sekarang aku paham perasaan Dilok saat aku
menggodanya dulu. Dilok adalah ayahku, jadi kau
mungkin sudah tahu seluruh keluarga kami sekarang.
Setelah makan, kami kembali ke kantor dengan mobil.
"Dengan kemacetan seperti ini, aku bisa sampai kantor
sebelum sore tidak, ya?"
"Sepertinya tidak. Kenapa macet begini, sih?"
"Ya, itu juga yang kupikir." Aku memandang jalan yang
padat di depan, tanpa tanda-tanda akan bergerak.
"Memang harus sampai sore?"
"Iya."
"Coba telepon sekretaris dulu, bilang akan terlambat."
"Kau benar." Aku pun menelepon sekretaris,
mengabarkan bahwa aku akan terlambat karena macet.
Namun, sekretaris mengatakan bahwa sebenarnya
tidak ada banyak pekerjaan sore ini, jadi aku bisa
menghabiskan waktu dengan anakku dulu karena kami
jarang bertemu. Dia akan menunda pekerjaan untuk
besok, jadi aku setuju.
"Tampaknya sore ini tidak terlalu sibuk. Mau jalan-
jalan?"
"Mengajakku jalan-jalan? Wah, apa kau mengajakku
kencan? Apa kau tidak malu mengajak pria muda
sepertiku berkencan, Direk?"
"Baiklah, putar balik mobilnya. Kita kembali ke kantor!"
"Bercanda. Jadi, kau mau ke mana?"
"Tidak tahu. Biasanya, kau kemana saat liburan?"
"Kalau liburan seperti ini, palingan hanya jalan-jalan dan
berkeliling tanpa tujuan. Apalagi hujan mau turun."
"Baiklah."
Dia membelokkan mobil, keluar dari jalan yang macet
menuju jalan lain, menyusuri jalan sambil
mendengarkan lagu-lagu lama dan mengobrol.
"Direk."
"Apa?"
"Saat berusia empat puluh tujuh, gimana kau
melihat hidup sekarang?" "Kenapa kau bertanya?"
"Tidak tahu, hanya kepikiran. Aku tidak mau jadi tua."
"Kalau aku sih, pasti ingin menua sampai mati." Aku
menjawab dengan agak kesal. "Tidak ada yang berubah.
Tapi mungkin lebih banyak berpasrah saja pada hidup.
Kau sendiri, di usia dua puluhan, bagaimana? Merasa
sudah dewasa?"
"Tidak sama sekali. Aku masih kekanak-kanakan, tidak
jauh beda dengan dulu. Tapi, mungkin sedikit dewasa,
tapi tidak tahu juga." Dia mengangkat bahu,
pandangannya lurus ke jalan. Ketika jalan sudah kosong,
dia mengemudi lebih cepat.
"Apa?"
"It feels so scary, getting old," katanya.
"Itu wajar. Kau sedang mengalami masa
transisi, mungkin." "Direk, bisakah kau
abadi?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Entahlah. Direk, apa kau akan mati duluan dariku?
Atau, bisakah kau tunggu sampai aku mati dulu?"
"Mana mungkin. Aku yang harus mati
dulu. Aku sudah tua." "Tidak selalu
begitu."
"Kau melantur, Thit. Kau masih belum sadar, ya? Atau
gara-gara hujan mau turun?"
"Ya..." Dia menghela napas, suaranya pelan. "Sebaiknya
aku ganti lagunya." katanya, karena sekarang lagunya
beralih ke lagu 'Father & Son'. Aku menggantinya ke
lagu lain karena sepertinya dia tidak kuat mendengar
lagu itu. Sepertinya masalah teman bernama Donut itu
berpengaruh lebih besar dari yang aku kira.
Aku tidak mau dia membicarakan ibunya, jadi dia
memilih untuk diam. Aku yakin dia memikirkannya, tapi
berusaha menyangkal kenyataan bahwa ibunya sudah
tiada.
Dia ingin percaya bahwa ibunya masih ada di dekatnya,
tapi dia tahu bahwa itu tidak mungkin.
"Menurutku lagunya bagus, kok. 'It's not time to make a
change, just relax, take it easy, you're still young.'"
"Iya, aku tahu. Tapi aku tidak suka rasanya."
"Aku tidak akan mati."
"Benarkah?"
"Ya, kau pasti mati duluan dariku. Atau kalau aku mau
mati, aku akan kirim orang untuk membawa mu lebih
dulu. Setuju?"
"Baguslah kalau begitu." Thit berkata. Entah kenapa,
aku tersenyum kecil. Aku tidak benar-benar serius, tapi
dia menginginkannya begitu. Dia tidak siap untuk
hancur lagi. "Cukup sudah, semua gara-gara si Donut itu.
Kenapa dia masih ada, sih? Menyebalkan. Tidak bisakah
dia di bunuh lagi?"
Dia mengeluh dengan penuh amarah. Seperti itulah dia
kalau ada yang mengganggu pikirannya. Tapi, sebentar
saja. Setelah beberapa hari, dia akan kembali normal.
Biar saja, dia tidak sering seperti ini.
Kalau ditanya selain aku ada siapa lagi, seperti yang aku
bilang, dia punya teman. Tapi kalau soal pasangan,
sepertinya sulit. Sebagian karena kepribadiannya yang
bebas dan tidak suka terikat. Juga mungkin karena dia
tidak mau terluka lagi, jadi dia tidak mau membuka hati
pada siapa pun. Dia tidak percaya pada cinta, tidak
tertarik dengan memiliki seseorang.
Hemmh, sayang, anak kita tidak percaya pada cinta.
Mungkin karena kau, karena saat kau pergi, aku juga
hampir mati. Itu mungkin yang membuat dia tidak ingin
merasakan cinta seperti itu.
Beberapa saat kemudian, hujan turun. Thit suka
mengemudi saat merasa gelisah atau bosan. Dia akan
mengemudi sampai merasa lebih baik. Pernah juga dia
sampai ke pantai, bayangkan betapa jauhnya itu.
Mendengar cerita tentang temannya, Donut, aku tahu
bahwa dia berpikiran tentang ibunya. Ibunya tidak
meninggal karena kecelakaan atau pembunuhan, tapi
karena kanker saat Thit berusia lima belas tahun. Waktu
itu, aku mendatangi gereja, kuil, mencari pendeta,
biksu, dukun, siapa saja yang mungkin bisa
menghubungkan dengan arwahnya. Tapi semuanya
bilang hal yang sama: ibunya sudah pergi, waktunya
sudah habis.
Aku sudah memberi tahu Thit tentang itu, dan kami
berdua paham. Walaupun temannya masih ada, karena
belum waktunya, tapi ibunya sudah tenang. Hanya
tinggal kami yang harus melanjutkan hidup.
Kalau ditanya apa ini menyedihkan, ini masih belum
cukup sedih sebenarnya. Ada lebih banyak lagi di balik
semua ini.
Tidak banyak yang tahu bahwa Arthit adalah anak
campuran. Ibunya orang California. Kami tinggal di
California sampai ibunya meninggal. Kami berdua
pindah kembali ke Thailand karena sepakat tidak ingin
tinggal di tempat yang penuh dengan kenangan ibunya.
Arthit pindah ke Thailand untuk belajar kedokteran pada
usia enam belas tahun. Aku sudah berbicara bahasa
Thai dengannya sejak kecil, jadi dia bisa berbicara. Tidak
lama kemudian, dia sudah lancar berbicara, bahkan
terlalu lancar, dan kasar seperti orang Thai asli.
Dia belajar kedokteran karena ibunya. Ibunya sakit sejak
dia kecil, dan sebagai anak kecil, dia berjanji pada
ibunya bahwa dia akan menjadi dokter
dan merawat ibunya. Yang menyedihkan adalah ibunya
meninggal sebelum dia sempat menjadi dokter.
Memikirkan itu, aku merasa sedih.
Dia adalah orang yang penuh luka.
Saat akhir tahun, kami akan kembali ke California untuk
merayakan Natal karena itu adalah kenangan terakhir.
Kami merayakan Natal bersama bertiga, sebelum
tanggal tiga Januari, tanggal ibunya meninggal. Karena
akhir tahun adalah waktu ulang tahun kematian ibunya.
Kami tinggal bersama sampai tahun baru selesai, baru
kembali. Jadi, baik aku maupun Arthit, tidak boleh ada
yang menghubungi kami saat itu.
Teman-teman Arthit tahu. Mereka punya kesepakatan
bahwa kalau Arthit tidak kembali ke Thailand dan baru
setelah tanggal sepuluh Januari, baru bisa menghubungi
kami.
Ini adalah cerita lengkap tentang orang yang bernama
Arthit, mahasiswa kedokteran tahun keempat. Tapi aku
pastikan sekali lagi bahwa dia bukan orang yang suka
berlarut-larut dalam kesedihan. Pahami bahwa dia
punya luka, semua orang pasti punya cerita sedihnya.
Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Arthit punya
caranya sendiri. Tapi kalau dia bersikap kasar, itu bukan
untuk menutupi sesuatu, hanya saja karena dia adalah
orang kasar yang memiliki luka.
Selain itu, dia tidak suka disayangi dan tidak suka orang
mengasihani dia. Dia sangat benci kalau ada yang
menganggapnya lemah. Jadi, jangan coba coba
melakukan itu. Dia hanyalah orang biasa yang kuat,
dengan beberapa kelemahan. Biarkan saja, nanti dia
akan baik-baik saja. Jangan dimanjakan, nanti bisa-bisa
malah dipukul matamu.
Aku biarkan dia mengemudi mengikuti jalan, waktu
berlalu hampir tiga puluh menit, dan sepertinya dia
mulai merasa lebih baik. Aku sudah bilang, dia akan
baik-baik saja, beri saja waktu, dia bisa mengatur dirinya
sendiri. Aku mulai mengajaknya bicara.
"Arthit."
"Apa?"
"Kau akan menikah, tidak?"
"Eh, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Anak perempuan presiden NTY Group, dia suka
padamu." Kataku. "Direk akan memaksaku
menikah?"
"Ya, semua bisa dipaksakan."
"Lalu apa?" Arthit tanya sambil tertawa, begitu juga aku.
"Apa dadanya besar?"
"Kenapa harus berdada besar? Bisakah kau bertanya
soal penampilan, sifat, dan lainnya?"
"Kalau besar, bisa menggantikan semua."
"Ah, benar juga."
"Berikan aku kontak Line-nya. Aku akan coba
menghubunginya." "Kau serius?"
"Tidak, hanya ingin iseng saja."
"Sialan." Aku geleng kepala sambil tertawa. "Kau mau
iseng dengan ke anak perempuan presiden
perusahaan? Menikahlah. Dia kaya, loh."
"Sekaya apa?"
"Johan."
"Serius? Ya, sudah, kalau uangnya banyak seperti itu,
bisa dipikirkan."
"Tidak ada drama orang tua yang memaksa nikah
karena ingin menjadi bagian bisnis orang lain, kan?"
Kataku. Tapi ngomong-ngomong soal kaya seperti
Johan, itu cuma bercanda. Dia memang kaya, tapi tidak
sekaya itu. Aku hanya membual saja.
"Drama kenapa? Kalau dapat uang ya bagus, tapi apa
harus menikah? Kenapa tidak bisa hanya hidup
bersama tanpa menikah?"
"Kau ini, apa hanya itu yang ada di kepalamu?"
"Ya, di kepalaku hanya ada uang saja."
"Aku kasihan pada gadis itu. Sebaiknya aku nanti bilang
ada temanku, kalau anak laki-laki ku tidak cukup baik
untuk anak perempuannya. Bagaimana kalau begitu?"
"Kau yakin? Apa aku akan kelihatan buruk?"
"Kau tidak akan kelihatan lebih buruk dari itu." Kataku.
Arthit tertawa lagi. Sebenarnya aku cuma bercanda.
Anak perempuan temanku sepertinya benar-benar
menyukai Arthit, tapi aku tidak akan memaksanya
menikah. Selain berbohong padanya tiap hari, dia tidak
akan serius dengan siapa pun. Kalau suatu saat dia
benar-benar punya pasangan, aku akan datang dan
memberikan uang dan hantaran, supaya bisa menerima
anak laki-lakiku menjadi menantunya. Begitu dia sampai
pada tahap itu, aku akan datang dengan penuh rasa
syukur.
Aku hanya bercanda. Tidak sampai seperti itu juga,
cukup di hati saja. "Teman-temanmu semuanya
sudah punya pacar, kan?" Tanyaku.
"Teman-teman dokter? Iya, mereka semua sudah punya
istri. Tidak bisa lagi berteman dekat, sudah terlalu
sibuk."
"Kau tidak merasa apa-apa jadi satu-satunya yang
jomblo?"
"Tidak. Hanya kadang merasa cemburu sedikit. Johan,
dia tidak bisa pergi bareng kami lebih sering seperti
dulu. Saat ini di otaknya hanya penuh dengan mengejar
North. Aku benar-benar jenuh."
"Orang seperti Johan yang suka main-main, ternyata
bisa berhenti juga ya. Aku tidak percaya."
"Mungkin itu karena cinta pertama."
"Romantis sekali. Seperti cerita dalam novel."
"Benar, terlalu romantis, malah geli."
"Kau bisa jadi tokoh utama dalam novel juga, kan?
Seperti cinta yang manis, mendalam."
"Aku lebih suka jadi tokoh dalam film porno."
"Iya, tapi aku tidak akan nonton kalau itu."
"Kenapa? Aku jago dalam itu, loh."
"Apa kau ingin aku nonton film porno yang dibintangi
anakku? Ayah macam apa aku?"
"Direk, jangan berpikir terlalu sempit." Arthit
menghindar dengan acuh tidak acuh. "Eh, Direk, kau
pernah berpikir ingin punya istri baru, tidak?
Sepertinya, kau sering ngintip payudara sekretaris mu."
"Tunggu, aku tidak ngintip."
"Jangan bohong. Aku lihat. Kau cuma kelihatan diam,
tapi sebenarnya ngintip."
"Jangan fitnah aku. Aku sudah punya yang baru, apa kau
bisa menerimanya?"
"Tidak, aku tidak mau lihat itu. Kalau kau mau lihat aku
gila, silahkan saja."
"Kau cemburu padaku, Arthit." Kataku bercanda. Dia
menatap dan mengeluh, mungkin dia kesal, tapi karena
dia jarang menunjukkan ekspresi seperti itu, jadi aku
jadi suka bercanda dengan dia. "Kasihan kau, tidak ada
yang cocok denganmu. Teman-temanmu yang ingin
berteman denganmu, bahkan belum tahu jawabannya
kenapa mereka bisa tahan bersamamu."
"Aku juga tidak mau berteman dengan mereka."
"Jangan bicara seperti itu. Kau harus berterima kasih
pada Tonfa dan Hill, kalau sudah lulus, bawa mawar
dan sujud pada mereka."
"Apa perlu sampai sebegitunya?"
"Lalu, bagaimana dengan pacar-pacar mereka? Aku
cuma kenal North. Kau belum pernah cerita soal pacar
Hill dan Tonfa."
"Entahlah, aku tidak begitu dekat, karena mereka tidak
seperti North. Makanya aku tidak begitu tertarik
ngobrol. Takut bawa sial." Arthit berkata. Aku tidak bisa
menahan tawa mendengar ceritanya. Anak laki-lakiku
tidak
ingin bicara dengan pacar temannya karena takut
menyebarkan sial. "Nong yang lainnya terlihat seperti...
Ah, seperti orang dari dunia lain, jadi aku tidak mau ikut
campur. Kalau berbicara dengan pacar dua orang itu,
yang lain malah menyuruhku memanggil mereka 'Phi'.
Yah, kurasa karena mereka terlihat lebih dewasa
dariku."
"Benarkah?"
"Ya, para suami sialan mereka yang mengatakannya."
Kami berbicara banyak hal sampai waktu sore, lalu kami
memutuskan untuk pulang. Dia mengantarku pulang ke
rumah, meskipun aku tidak tahu bagaimana ceritanya,
tapi aku merasa jauh lebih tenang, karena dia sendiri
terlihat baik-baik saja sekarang. Masalah tentang arwah
teman yang bernama Donut juga sudah selesai karena
Tith tidak akan merasa sakit seperti sebelumnya,
misalnya malam kemarin dia terlalu banyak berpikir
karena Donut masih ada. Tapi kalau dia sudah lebih baik,
dia tidak akan terlalu memikirkan Donut lagi. Aku
berharap tidak ada hal lain yang mengganggu dia lagi.
Meskipun dia butuh waktu untuk menyembuhkan
dirinya, tidak ada ayah yang ingin melihat anaknya
menderita.
"Berkendara hati-hati, jalanan bukan tempat balapan,"
"Aku tahu, kau terlalu sering mengatakannya."
"Ya sudah." Aku menutup pintu mobil, dan mobilnya
mulai melaju. Tapi anehnya, dia malah nge-drift di
belokan jalan keluar rumah, seperti sedang
mengejekku. Padahal baru saja aku bilang hati-hati saat
berkendara.
Haaah, anak ini benar-benar....!!!!
...
...
...
Aku kembali ke kamar setelah sepanjang sore pergi
dengan Direk. Jujur, aku merasa jauh lebih baik. Aku
sudah move on dari masalah Donut. Aku sudah move
on dari berpikir bahwa ibuku mungkin masih ada. Ya
sudah lah, bagaimana bisa dia ada, toh Direk juga sudah
mencarinya. Jadi aku harus membuang pikiran itu dari
kepala.
Tapi sebentar, aku harus marah dulu pada Donut dan
Min karena masih kesal.
Sudah lewat beberapa hari, Min akhirnya pindah ke
kondominium, dan teman-teman yang lain sudah mulai
kuliah lagi. Aku sibuk dengan tugas di rumah sakit
seperti biasa, dan tidak sempat minum alkohol atau
balapan. Aku hanya belajar, pulang dengan badan yang
lelah, main game, atau tidur. Suara dari kamar sebelah
masih terdengar, tapi sudah jauh lebih pelan. Mungkin
karena anak itu sekarang lebih sering berbicara dengan
para hantu.
Aku merasa lebih tenang.
Ternyata, ada gunanya juga anak itu.
Donut pasti sudah puas makan nasi goreng dan Min
tampaknya tidak ada masalah. Dia kembali kuliah
seperti biasa. Terkadang kami bertemu di kampus, atau
di kondo, karena kamarnya tepat di depan kamarku.
Tidak ada yang spesial. Hidup berjalan membosankan
seperti biasa.
Hari ini hujan, karena memang musim hujan. Aku tidak
merasa terganggu dengan hujan, karena bagiku tidak
ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kehujanan juga
tidak apa-apa.
Sepertinya hari ini anginnya juga kencang. Aku keluar ke
balkon untuk merokok seperti biasa. Dan seperti
beberapa hari lalu, aku melihat anak itu lagi di balkon.
Sering kali aku keluar merokok, tapi tidak pernah keluar
untuk minum bir seperti dulu. Baru kali ini aku lihat lagi.
Dia menoleh ke arahku dan mengeluarkan dompetnya.
"Berapa rokoknya?" tanyanya.
"Seratus per batang."
Dia tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan seratus
baht kepadaku. Aku memberikan sebatang rokok dan
menawarkan korek api.
"Aku tidak mengambil keuntungan ko. Rokok luar
memang mahal," kataku. "Korek apinya bagus."
"Ya."
"Berapa?"
"Kenapa? Kau mau beli?"
"Iya, berapa?"
"Dua ribu."
"Berikan aku nomor rekening. Uang
tunai ku tidak cukup." "Ya sudah, bisa
pakai Prompt Pay?"
"Berapa nomornya?" katanya. Aku memberikan nomor
untuk dia transfer uang lewat nomor ponsel, karena
aku tidak ingat nomor rekeningku. Siapa yang bisa
mengingat nomor rekening sendiri? Setelah beberapa
saat, dua ribu baht masuk ke rekeningku. Aku
menyerahkan korek api yang baru saja dia beli itu. Aku
beli dengan harga dua ribu dua ratus, tapi karena sudah
dipakai sedikit, aku kasih diskon jadi dua ribu.
"Memang kau serius merokok?" tanyaku, karena
melihat dia tidak memiliki korek api, aku pikir dia
sepertinya tidak banyak merokok.
"Tidak juga."
"Korek api 7-Eleven murah, lho."
"Yang ini desainnya keren."
"Dua ribu tidak masalah?"
"Ya, aku suka."
"Ya sudah."
Kami berhenti bicara dan melanjutkan merokok di
balkon. Di depan kami, hujan turun deras. Dulu, karena
banyak yang dipikirkan, aku tidak curiga. Tapi sekarang,
setelah dipikir-pikir, orang yang berdiri merokok di sana
kelihatan aneh juga. Kemarin, dia juga kehujanan, kan?
Tapi ya sudah, bukan urusanku.
Aku merokok sampai habis, lalu berniat kembali ke
kamar. Namun, suara anak itu membuatku berhenti
sejenak.
"Maaf."
Apa dia bicara padaku?
Aku menoleh kebingungungan, tapi dia
tidak menatapku. "Aku tidak berpikir
seperti itu."
Apa maksudnya?
"Sebenarnya, aku hanya merasa lega saja, karena tidak
ada yang mengganggu."
Dia sedang bicara dengan siapa?
Apa hantu? Oh iya, anak ini memang bisa lihat hantu,
kan? Mungkin dia sedang bicara dengan seseorang di
kamarnya.
"Emma, jangan banyak bicara."
Emma?
"Emma, kenapa kau suka mengeluh dari dulu, ya?"
katanya.
Aku kembali ke kamar dan menutup pintu balkon.
Hatiku mulai berdebar kencang, aku duduk di tempat
tidur dan memegang kepala, tanpa sadar
mengernyitkan dahi.
Emma...
Tanganku mulai dingin dan gemetar. Rasanya perutku
mual, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.
Aku langsung menelpon Direk.
(Ada apa?)
"Direk, Direk, Direk!!!!"
(Ada apa kenapa kau berteriak?)
"Direk, Emma!!!"
(...Ada apa denganmu, Tith?)
"Anak di sebelah kamar itu berbicara dengan hantu. Dia
menyebut nama Emma. Aku dengar dia nyebut nama
itu."
(...)
"Aku tidak bercanda, Direk. Emma masih
ada. Ibu masih ada." (...)
Chapter 7: Tear
Aku mulai lebih tenang setelah berbicara dengan Direk.
Setidaknya, aku berhasil menarik kembali kesadaranku.
Aku mencoba untuk tidak terlalu yakin seratus persen
bahwa orang yang anak itu ajak bicara adalah ibu.
Nama "Emma" bukan satu-satunya nama di dunia ini.
Lagipula, jika ibuku masih ada, kenapa dia tidak
mencariku atau Direk? Selain itu, anak itu berbicara
dengan "Emma" dalam bahasa Thai, sedangkan ibuku
sama sekali tidak bisa berbahasa Thai.
Tapi karena kasus Donut dan anak itu terjadi hampir
bersamaan, aku sempat terguncang cukup lama
sebelum bisa kembali normal. Aku tidak bertanya, tidak
ingin terlibat dengan anak itu, dan akhirnya melupakan
soal "Emma."
Aku kembali menjalani hidup membosankan seperti
biasanya.
Direk mungkin sedikit lebih baik dariku karena dia sudah
menerima kematian ibu. Dia hampir seratus persen
yakin bahwa ibu sudah tiada. Tapi aku? Aku hanya
percaya setengahnya. Entahlah, mungkin alasanku
masih mudah rapuh soal ini adalah karena aku tidak
percaya begitu saja pada ucapan orang asing yang
mengatakan bahwa ibuku sudah meninggal. Jujur saja,
para peramal yang Direk datangi itu, seberapa bisa
mereka dipercaya? Kenapa aku harus menerima begitu
saja ucapan mereka bahwa ibu sudah tiada?
Hatiku masih ingin percaya bahwa dia ada. Meski aku
tahu di lubuk hati, itu tidak mungkin. Aku hanya ingin
bertemu, ingin berbicara, tapi karena itu
mustahil, aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku
berusaha melupakan dan terus mengingatkan diri
sendiri bahwa itu tak mungkin lagi. Tapi terkadang,
harapan kecil itu muncul kembali. Benar-benar
kontradiktif dan menyebalkan.
Aku masih seperti orang yang belum bisa menerima
kenyataan. Jika aku sudah bisa menerimanya, mungkin
semuanya akan lebih mudah, kan?
Tapi, ini diperparah lagi karena aku malah bisa bertemu
dengan hantu. Itu membuatku sadar bahwa masih ada
kemungkinan orang yang sudah meninggal tetap ada.
Aku tahu ibu sudah melewati batas usianya, tapi aku
tetap tidak ingin percaya. Dan terakhir, aku malah
berharap bahwa "Emma" yang anak itu ajak bicara
adalah ibuku.
Kenyataan seolah sudah jelas di depan mataku, tapi aku
terus saja membohongi diri sendiri. Setiap kali aku
bermimpi tentang ibu, aku selalu berpikir bahwa dia
masih hidup, padahal itu hanya mimpi, dan mimpi
hanyalah bagian dari pikiran kita.
Aku menghilang selama tiga hari karena pergi menjahit
luka hatiku di Bali. Aku baru saja kembali menginjakkan
kaki di Thailand. Aku yakin akan dimarahi habis-
habisan. Tapi sudahlah, setidaknya aku merasa jauh
lebih baik sekarang.
Tapi, siapa sebenarnya "Emma" yang dia ajak bicara?
Biar kutegaskan, nama itu ada jutaan di luar sana, tapi
kenapa harus sama dengan nama ibuku? Ibu yang dulu
merokok sampai kanker memakan setengah paru
parunya. Butuh waktu lama bagiku untuk melupakan
kejadian itu.
Aku menyeret tubuh lelahku kembali ke kondominium
setelah perjalanan panjang dari Bali. Setelah
menyimpan barang-barang, aku keluar dan mengetuk
pintu kamar sebelah. Tak lama, pemilik kamar membuka
pintu.
“Siapa Emma?”
“...” Dia tidak menjawab, hanya tampak bingung.
“Ah, sudahlah. Tapi, kalau kau ingin bicara dengannya,
panggil dia dengan nama lain.”
“Kenapa?”
“Entahlah, pilih saja nama lain. Jangan
panggil dia Emma.” “... Kau
mendengarnya?”
“Ya.”
“Kapan?”
“Beberapa hari yang lalu.”
“Ah, kau kelewatan.”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat sebelum menutup
pintu. Tapi aku segera menahan pintu dengan
tanganku. Dia tampak bingung dan kembali
menatapku.
“Aku tidak bisa mengganti namanya. Emma ya tetap
Emma. Sudah kupanggil begitu sejak lama.”
“Lama? Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
“Seberapa lama? Berapa tahun?”
“Sejak aku masih kecil.”
Ya, sudah kuduga itu bukan ibuku. Syukurlah aku
berhasil menarik kesadaranku kembali. Kalau aku sudah
yakin itu ibuku lalu ternyata salah, pasti rasanya akan
sangat menyakitkan.
“Lalu, Emma itu siapa? Hantu yang berkeliaran?”
“Teman.”
“Teman atau hantu?”
“Teman.”
“Teman? Teman dalam imajinasimu?”
“Ya.”
“Apa?”
“Ya, itu… teman imajiner.”
“Sial, apa kau serius?”
“Ya.”
Astaga, apa-apaan ini? Dari wajahnya, dia sama sekali
tidak menunjukkan dia sedang bercanda atau
berbohong. Ekspresinya serius sekali. Teman imajiner
mungkin tidak aneh kalau ditemukan pada anak-anak,
tapi ini, dia sudah dewasa!
“Kau benar-benar melihatnya?”
“Aneh, ya?”
“Ya, jelas aneh. Untung kau sadar diri.”
“Aku sadar. Jadi, ada apa?”
“Tolong bantu aku sebentar.”
“Tidak mau.”
“Akan kubelikan minuman keras untukmu.”
“Tidak perlu, aku bisa beli sendiri.”
“Sialan!” aku memakinya tanpa berpikir. Lihat dia!
Sikapnya begitu tenang, lamban, dengan ekspresi wajah
seperti ikan mati. Tatapannya kosong sekali, manusia
macam apa dia ini? “Tolong aku.”
“Aku sibuk.”
“Aku tidak peduli. Ayolah, bantu aku seperti waktu soal
Min dulu. Apa kau tidak punya hati?”
“Ya, memang.”
“Gila, aku mulai kesal. Aku meminta dengan baik-baik
saja tidak mempan.” Aku mengumpat, frustrasi. Bisakah
aku memukul dia sekali saja? Dia hendak menutup
pintu lagi, tapi aku menarik pintunya dan masuk ke
dalam kamar. Tentu saja, dia tidak sekuat aku.
Ekspresinya berubah menjadi tidak nyaman ketika aku
sudah berada di dalam kamarnya.
“Kau mau pakai kekerasan?” tanyanya. “Memukulku
juga tidak ada gunanya.”
“Kau pikir aku seperti itu?”
“Ya.”
“Sial, kenapa sedikit-sedikit menutup pintu. Apa
masalahmu?”
“...”
“Kau mau bantu atau tidak? Kalau tidak, aku akan suruh
North bicara denganmu!”
“…”
“Bagaimana?”
“Dasar licik,” katanya sambil mengernyitkan alis.
“Jadi, gimana?”
“Apa yang kau inginkan?”
“Kau bisa bicara dengan hantu, kan?” tanyaku. Dia
mengangguk sebagai jawaban. “Seberapa kuat indera
mu?”
“Entahlah... Kau ingin aku bicara dengan siapa?”
“Ibuku.”
“Bicara dengan ibumu?”
“Iya, coba bicara dengannya.”
“... Dia masih ada?” tanyanya.
“Tidak tahu.”
“Hah?”
“Makanya, aku butuh bantuanmu.”
“Bagaimana kalau dia sudah tidak ada?”
“Setidaknya aku bisa benar-benar mengikhlaskannya.”
Dia terdiam sejenak tanpa memberikan jawaban. Jarang
sekali aku meminta bantuan orang lain, tapi kali ini aku
sudah memikirkannya masak masak. Selama tiga hari di
Bali, aku sudah memutuskan untuk mencari tahu
tentang ibu dengan caraku sendiri. Jika dia masih ada,
itu bagus. Tapi kalau tidak, saatnya aku menerima
kenyataan dan melepaskannya.
Pergi ke paranormal atau peramal yang pernah Direk
datangi pun, aku tidak yakin bisa sepenuhnya percaya.
Dari cerita Direk, apa yang mereka katakan juga tidak
selalu konsisten.
“Sore nanti bisa?” tanyanya.
“Kenapa tidak sekarang?”
“Ada pekerjaan mendesak.”
“Baiklah.”
“Oke.” Dia menjawab singkat, lalu aku kembali ke
kamarku sendiri. Sambil menunggu waktu, aku hanya
bisa mencoba menerima keputusan yang sudah kubuat.
Aku duduk, berusaha menerima kemungkinan hasil
yang akan terjadi. Tapi harus kuakui, harapanku lebih
condong ke jawaban bahwa ibu masih ada.
Aku menekan nomor North di ponselku
ketika teringat sesuatu. (Ada apa, Phi?)
“North, temanmu bisa dipercaya, kan?”
(Siapa maksudnya? Temanku kan tidak cuma satu.)
“Yang tinggal di sebelah kamarku.”
(Percaya soal apa? Apa yang kau bicarakan?)
“Soal dia bisa melihat hantu, soal indera keenamnya.”
(Oh, iya, bisa kok. Dia bukan tipe orang yang suka
bohong. Saat bantu kasus Phi Min dulu juga, kan, kau
lihat sendiri. Dia bisa bicara dengan hantu di kamar itu.
Ciri-ciri pelaku yang dia bilang, seperti baju hitam dan
rambut pendek, semuanya benar.)
“Dia tidak akan bohong padaku, kan?”
(Apa sih, tentu saja tidak. Aku baru saja bilang, dia
bukan orang yang suka bohong.)
“Seberapa kuat indranya? Dia bisa melihat semua roh?”
(Itu aku tidak tahu. Tapi dia pernah bilang kalau
indranya tidak sekuat itu.) “Lho? Jadi, bisa diandalkan
atau tidak?”
(Mau diandalkan buat apa?)
“Tentangku.”
(Eh, apa sih? Aku bahkan tidak tahu ini soal apa.)
“Tapi, dia benar-benar tidak akan bohong, kan?”
(Iya, tidak akan bohong. Oh, dia jago meramal, lho. Phi
mau memperkuat keberuntunganmu, ya?)
“Bukan, sialan. Bicara dengan mu benar-benar
tidak ada gunanya.” (Eh, apa sih?)
Aku menutup telepon dari North. Setidaknya, aku bisa
percaya bahwa dia tidak akan membohongiku...
mungkin. Kalau dia tidak bisa melihat, aku
harus mencari cara lain. Bagaimanapun juga, aku sudah
memutuskan dengan matang bahwa aku ingin mencoba
mencarinya lagi sendiri.
…
…
Soal janji yang baru saja kubuat untuk membantu pria
penjual rokok itu, sebenarnya cukup membuatku
cemas. Meski aku tidak ingin terlibat, sepertinya aku
tidak punya pilihan. Jika dia meminta North untuk
bicara denganku, bagaimanapun aku pasti tidak bisa
menolaknya.
Bicara dengan ibu...
‘Kau tidak pernah merasakan kehadiran siapa pun saat
bicara dengannya, kan?’
Suara Emma terdengar. Aku menoleh ke arah gadis itu
yang sedang duduk di tempat tidur. Dia memandangku
yang sedang membereskan barang barang, bersiap
untuk pergi bekerja di kafe karena ingin suasana baru.
“Iya, tapi aku tidak melepas gelang ini,” jawabku.
‘Bagaimana kalau kau tidak menemukan ibunya?’
“Aku akan memberitahu dia apa adanya.”
‘Bisa saja ibunya ada di tempat lain, di suatu tempat di
dunia ini.’
“Iya, karena itu.” Aku menyampirkan ransel di pundak
dan keluar dari kamar, mengendarai motor menuju
kafe langgananku. Saat kulihat jam, sudah jam dua
siang. Aku mulai bekerja, dan seperti biasa, kehilangan
jejak waktu. Ketika sadar, notifikasi ponselku berbunyi.
Aku mengambilnya dan melihat sekarang sudah jam
tujuh malam.
Seseorang menambahkan aku sebagai teman di LINE
dan mengirim banyak pesan:
: Hei.
: Sore yang kau maksud itu jam berapa?
: Sudah jam enam, tahu.
: Eh, sekarang sudah jam setengah tujuh.
: Jam tujuh, itu sore atau bukan sih?
: Hei, aku sudah ketuk pintu, tapi kau tidak buka.
: Kau menghindariku, ya?
Meskipun foto profilnya tidak menunjukkan wajah, dari
nama LINE-nya, itu pasti pria penjual rokok itu.
ss : Kau dapat LINE-ku dari mana?
: Dari North.
sa : Jadi bagaimana?
: Sudah selesai?
ss : Kerjaanku belum selesai.
: Oh, ya sudah.
: Masih lama?
ss : Mungkin...
sa : Bisa kita tunda?
: Tidak.
: Di mana?
ss : Di mana apanha?
: Kau ada di mana?
sa : Starbucks.
: Yang di belakang kampus?
ss : Bukan.
ss: Cabang * (nama lokasi).
: Jauh sekali, sialan.
: Apa pekerjaanmu
masih banyak? ss :
Tidak juga.
: Kau tidak bisa
langsung lihat saja?
ss : Sulit dijelaskan.
ss : Perlu informasi juga.
ss : Aku bahkan belum
melihat wajah ibumu. :
Oh.
: Tunggu, aku akan datang.
: Kau mau ke sini?
ss :
Aku meletakkan ponselku. Tak butuh waktu lama
sebelum pria penjual rokok itu datang dan duduk di
depanku. Dia tampak sedikit basah, jadi aku melirik ke
luar dan mendapati hujan deras sedang turun. Dia
mengusap rambutnya yang basah dengan kasar,
wajahnya terlihat berantakan saat menatapku.
"Bagaimana? Bisa mulai bicara sekarang?"
"Ya, bisa," jawabku sambil tetap fokus pada layar
laptopku, menggunakan pena di tablet untuk
menyelesaikan gambar. Selama aku tidak harus berpikir
keras, aku masih bisa mengobrol.
"North bilang kau pernah melihat seorang
wanita di belakangku." "Kapan?"
"Di acara saat kita kumpul-kumpul, katanya kalian
sedang video call."
"... North pernah bertanya, tapi aku bilang waktu itu aku
hanya bercanda," jawabku dengan jujur. Waktu itu aku
hanya iseng menakuti North. Tidak kusangka hal itu
akan diungkit dua kali seperti ini.
"Kau bercanda, atau sebenarnya kau tidak
mau memberi tahu?" "Bercanda."
"Serius?"
"Aku tidak punya alasan untuk berbohong."
"Mungkin ibuku tidak ingin kau memberi tahu, atau kau
berusaha menjaga perasaanku?"
"Apa aku harus menjaga perasaanmu juga?" jawabku
dengan suara tenang tanpa mengalihkan pandangan
darinya.
"Tidak usah. Itu menyebalkan.”
"Oke," aku mengangguk kecil. "Coba ceritakan
rinciannya sedikit." "Rinciannya apa?"
"Kenapa ibumu meninggal?"
"Kanker."
"Kapan?"
"Tujuh tahun yang lalu."
Aku terdiam sejenak, merenung. Sudah tujuh tahun
berlalu. Waktu sudah berjalan begitu lama.
"Pernah bertanya ke orang lain? Misalnya
paranormal?"
"Ya, katanya usia hidupnya sudah habis, atau
mengatakan mereka tidak bisa menemukannya."
"Tidak bisa ditemukan?"
"Iya, kenapa?"
"Kenapa tidak bisa ditemukan?"
"Mana aku tahu?"
"Kalau mereka bilang usianya sudah habis, kenapa
kau tidak percaya?" "Aku tetap tidak percaya."
"Tapi kau percaya padaku?"
"Setidaknya, North bilang kau bisa dipercaya. Tapi orang
lain yang pernah aku tanyai itu, aku tidak tahu apakah
mereka bisa dipercaya." Dia
menjawab sambil mengangkat cangkir kopinya dan
meminumnya. "Seberapa kuat inderamu? North bilang
inderamu tidak terlalu kuat."
"Ya," aku mengangguk pelan. Aku memang pernah
bilang begitu kepada semua orang. Tapi itu berlaku
selama aku masih memakai gelang ini. Gelang itu
berfungsi menekan inderaku agar aku tidak merasakan
atau melihat energi seperti itu, karena aku malas
menghadapi semuanya. Hanya roh yang gelombangnya
cocok denganku yang bisa kulihat meskipun aku masih
memakai gelang, seperti Phi Donut yang sering terlihat.
Tapi untuk Phi Aeng, Phi Praw, Phi Cream, atau roh lain
di kamar, aku harus melepas gelangnya dulu.
"Jadi kau tidak memberitahu North, bukan?"
"Memang tidak."
"Sebenarnya inderamu cukup kuat, kan?"
"Iya... cukup kuat," jawabku lirih. Khun Puangthong
pernah bilang bahwa aku memiliki indera yang sangat
tajam, bahkan bisa membaca perasaan orang lain.
"Min bilang kau bisa membaca perasaan orang juga."
"Ya," aku mengangguk.
"Bagaimana? Seperti membaca pikiran?"
"Tidak, hanya perasaan saja, yang biasanya hal yang
tidak diperlihatkan."
"Oh." Dia mengangguk kecil. "Jangan coba-coba
membaca perasaanku, ya."
"Tidak akan." Aku menjawab, karena memang aku tidak
suka membaca perasaan orang lain. Itu melelahkan dan
mengganggu. Selain itu, tidak semudah itu dilakukan.
Aku harus berkonsentrasi penuh dan benar-benar fokus
pada orang tersebut. Hal lain yang menjengkelkan
adalah aku juga ikut merasakan apa yang mereka
rasakan. Terakhir kali, saat aku membaca perasaan O-
Lin, pelaku yang membunuh Phi Donut. Aku ikut merasa
buruk selama sehari penuh. Waktu itu, aku bisa
merasakan betapa rasa bersalah menggerogoti hatinya,
dan itu sangat menyiksa. Padahal, sebenarnya aku tidak
sensitif soal itu, tapi karena O-Lin begitu sensitif, aku
pun ikut terbawa.
"Jadi, bisa kau lihat sekarang? Apa ada seseorang
bersamaku?" Dia langsung ke intinya. Aku sebenarnya
ingin segera memeriksa, tapi masih enggan berhenti
bekerja. Jika aku berhenti, akan sulit untuk kembali
menyesuaikan suasana hati.
"Aku selesaikan pekerjaanku dulu."
"Baiklah," jawabnya dengan nada sedikit kesal. Aku
tidak peduli dan kembali fokus pada pekerjaanku.
Hampir setengah jam kemudian, aku akhirnya merasa
sudah cukup istirahat. Setelah menyelesaikan gambar,
aku memutuskan untuk lanjut mewarnainya besok.
"Sudah selesai?"
"Ya," aku mengangguk. Lalu, aku melepas gelang yang
ada di tangan kiriku. Perasaan sesak langsung
menghantamku. Roh-roh yang berkeliaran di luar,
orang yang menangis di sisi lain jalan, tiga roh yang
berebut persembahan di dekat toko... Di pusat kota
seperti ini, jumlah mereka sangat banyak.
"Bagaimana?" Dia mengernyit, penasaran.
"Bagaimana ciri-ciri ibumu?" tanyaku. Saat ini, ada dua
wanita di toko ini yang berjalan mondar-mandir.
Bahkan di lantai bawah, aku sudah bisa merasakan
kehadiran mereka. Inilah alasan aku tidak suka melepas
gelangku.
Dia tidak langsung menjawab, hanya memberikan foto.
Aku menatap foto itu beberapa saat. Wanita di foto itu
tampak seperti orang asing.
"Tidak ada."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada... ibumu." Aku menjawab jujur, lalu menarik
napas panjang sebelum segera mengenakan gelangku
kembali. Aku merasa lega. Karena kemampuan
inderaku terlalu kuat, aku selalu merasa tertekan setiap
kali menangkap keberadaan mereka.
"Kau yakin?"
"Ya, aku sudah memeriksanya," jawabku. Tapi tiba-tiba
aku teringat sesuatu. Barusan aku hanya sekadar
menyapu pandangan di sekitar, tanpa fokus
sepenuhnya. Tapi bagaimana kalau ibunya memang
sengaja tidak ingin terlihat?
Aku melepas gelang lagi dan menutup mata. Aku tidak
sering melakukan ini karena sangat melelahkan, dan
tidak pernah ada keperluan mendesak untuk sengaja
mencari roh. Tapi karena sudah berjanji untuk
membantu, aku tidak bisa melakukannya setengah-
setengah.
Saat aku benar-benar berkonsentrasi mencari,
gelombang energi roh di sekitar mulai bergejolak, dan
mereka mulai menyadari kehadiranku. Beberapa
mencoba mendekat, tapi aku mengabaikannya. Aku
bisa
merasakan kehadiran beberapa roh lagi, tapi tetap saja
tidak ada yang cocok dengan deskripsi ibunya.
Aku membuka mata, mengenakan gelangku kembali,
lalu menarik napas panjang untuk mengembalikan
ketenangan. Sedikit terengah, aku menggelengkan
kepala.
"Kau pucat sekali, apa yang kau lakukan tadi?" Dia
bertanya sambil mengangkat alis, bingung.
"Tidak ada. Sungguh, tidak ada siapa-siapa
yang mengikutimu." "Benarkah?" Dia
menghela napas panjang.
"Ya," aku menjawab sambil mengangguk. Aku meraih
gelas minumanku dan meneguknya. Rasanya sedikit
lelah setelah semua itu.
"Kalau dia tidak mengikutiku, bagaimana?"
"Mungkin dia mengikuti ayahmu, atau ada di tempat
lain. Dia bisa berada di mana saja, kan?"
"Kalau begitu, aku harus mencari di semua tempat yang
memungkinkan dia pergi. Tapi sebenarnya, dia tidak
mungkin pergi terlalu jauh. Biasanya, hanya dengan
orang atau tempat yang punya hubungan erat
dengannya."
Aku menjawab sambil mengingat apa yang pernah
dikatakan Khun Puangthong. Orang yang sudah
meninggal biasanya tetap berada di dekat seseorang,
tempat, atau sesuatu yang sangat berhubungan dengan
mereka saat masih hidup. Dan kemungkinan terbesar
adalah di tempat di mana mereka meninggal.
"Tempat yang punya hubungan? Seperti tempat
favoritnya?"
"Tidak, lebih seperti rumah, atau tempat yang
pernah dia tinggali." "Rumah?"
"Ya."
"Oh," dia terlihat berpikir sejenak sebelum menghela
napas. Aku menebak dia mungkin tidak benar-benar
ingin aku pergi ke rumahnya. Jujur saja, aku juga tidak
terlalu ingin pergi.
"Ok tapi kalau sudah sejauh ini, bisakah kau
bantu aku sedikit lagi?" “…”
"Kenapa kau diam saja?"
"Sebenarnya, hmm... Kalau aku jawab tidak bisa, boleh
tidak?"
"Tidak bisa," jawabnya tegas. Aku menghela napas
panjang. Sudah kuduga. Aku pun mengangguk sebagai
tanda setuju.
"Besok kau ada waktu?" dia bertanya.
"Tidak."
"Hari Jumat?"
"Kuliah."
"Sabtu?"
"Mungkin bisa."
"Oke, Sabtu depan, aku akan membawamu ke
rumahku."
"Oh... baiklah." Aku menjawab sambil bangkit dari meja
untuk kembali ke asrama. Namun, begitu keluar, aku
mendapati hujan masih turun dengan deras dan tidak
menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
"Kau datang naik apa?" Penjual rokok itu ikut keluar dan
berhenti di sebelahku.
"Motor."
"Kau mau pulang sambil hujan-hujanan?"
"Ya."
"Ikut denganku saja."
"..."
"Sebagai imbalan karena kau membantuku."
"Lalu bagaimana dengan motorku?"
"Biarkan saja di sini. Tidak akan hilang."
“…”
"Terserah kau saja."
"Tidak, aku akan menunggu sampai hujan reda."
"Oke," dia mengangkat bahu tanpa peduli, lalu berjalan
meninggalkan area kafe.
Aku masuk kembali ke dalam, memesan segelas
minuman lagi, dan membuka laptop untuk melanjutkan
pekerjaanku. Ketika sadar, sudah hampir tengah
malam. Untungnya, kafe ini buka 24 jam. Suasana di
dalam dan di sekitar kafe begitu sunyi. Aku duduk di
lantai dua dan memandang jalan di luar.
Karena hujan sudah berhenti, aku memutuskan untuk
pulang. Aku turun parkiran dan menuju motor,
menghidupkannya, lalu melaju pelan dengan
kecepatan sekitar 40 kilometer per jam. North sering
mengomel bahwa aku mengendarai motor terlalu
lambat, dan dia benar. Tapi aku tidak peduli. Kalau
buru-buru, aku hanya perlu keluar lebih awal dari
biasanya.
North, di sisi lain, adalah pengendara motor yang sangat
cepat. Dia pernah bercanda bahwa dia adalah mantan
anak jalanan, dan meskipun dia mengatakannya sambil
bercanda, itu terdengar cukup meyakinkan. Dia bahkan
pernah mengangkat roda depan motorku,
Patcharamon, hanya untuk pamer. Patcharamon adalah
nama motor Scoopy-i hitamku. Nama itu adalah nama
keberuntungan untuk orang yang lahir di hari Senin.
Aku membelinya hari Senin, dan hingga kini cicilannya
belum lunas. Aku hanya membayar sedikit setiap bulan
karena uangku lebih banyak dihabiskan untuk
mendukung Khun Jon dan membeli koleksi barang-
barang.
Berbicara tentang Khun Jon, aku jadi rindu. Ayah masih
belum punya waktu untuk membawanya menemuiku.
"Ayo, Patch," kataku sambil mengusap lembut
dashboard motorku, lalu menyalakannya dan melaju
pelan. Angin malam di Chiang Mai benar-benar
menyegarkan.
Sebenarnya, aku bukan orang Chiang Mai. Aku berasal
dari Tak. Jangan tanya apa itu Tak, dan tolong jangan
bercanda seperti North. Itu menyebalkan.
Perjalananku ke asrama cukup lama. Setibanya di
kamar, aku melepas ransel, membereskan barang-
barang, lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap
istirahat. Phi Cream yang tinggal di kamar mandi
sekarang jauh lebih tenang setelah kami sering
berbicara tentang artis-artis Korea.
Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik dengan dunia itu
pada awalnya. Tapi karena ingin mengikuti
pembicaraan dengan Phi Cream, aku mulai mengikuti
informasi. Akhir-akhir ini, aku bahkan dipaksa untuk
menghafal fan chant. Tapi, ya sudahlah, itu cukup
menyenangkan.
Tahun depan ada konser. Kalau aku berhasil
mendapatkan tiket, aku pasti akan pergi. Aku pernah ke
beberapa konser sebelumnya, bukan hanya konser artis
Korea. Menurutku, mendengarkan musik langsung dari
artis adalah pengalaman terbaik, meskipun terkadang
harus menanggung risiko pendengaran terganggu.
Setelah tiba di asrama, aku menata barang-barang,
mandi, dan bersiap tidur. Namun, saat aku berbaring,
notifikasi LINE muncul. Ada pesan baru lagi.
: Dua bulan lagi
: Aku akan kembali ke Thailand.
: Jangan blokir aku.
: Kau blokir pun, aku akan buat akun baru lagi.
Tidak ada foto profil, tapi dari nama LINE-nya, aku tahu
siapa dia. Pesan itu membuat hatiku langsung jatuh.
Apa maksudnya, dia akan kembali dalam dua bulan?
Aku tidak membalas. Sebaliknya, aku memblokirnya lagi.
Mau buat akun baru berapa kali pun, aku akan tetap
memblokirnya. Coba pikir, mana yang lebih mudah,
membuat akun baru atau menekan tombol blokir?
‘Michael, kau baik-baik saja?’
"Baik."
‘Aku tahu kau tidak baik. Ini akun ketiga dia, kan?’
"Iya."
‘Kenapa dia begini? Kenapa dia kembali? Kenapa dia
berusaha menghubungimu lagi?’
"Aku tidak tahu."
‘Kau mau merokok lagi? Jangan sampai kembali
kecanduan.’
"Aku tidak akan kecanduan lagi. Aku sudah bilang, aku
tidak suka bau rokok."
‘Tapi Michael pernah bilang bau rokok ini enak.’
"Iya, baunya enak... tidak tahu kenapa. Mungkin karena
rokok import dan mahal juga." Aku tersenyum sinis saat
menjawab.
"Michael..."
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Hanya
memikirkan wajah dan suaranya sudah membuat
jantungku berdegup kencang. Aku telah mencoba
mengingatkan diriku jutaan kali untuk melupakan dia,
tapi aku tidak bisa. Emma tahu itu, tapi dia tidak
mengungkitnya karena aku sudah berjanji padanya
untuk tidak kembali. Janji pada Emma itu sama saja
dengan janji pada diriku sendiri, karena Emma adalah
bagian dari pikiranku.
Aku pikir aku sudah lebih baik.
Tapi begitu dia kembali, semuanya hancur lagi.
Aku menyalakan rokok setelah sekian lama berhenti.
Aku tidak ingin kecanduan lagi, dan selama ini aku pikir
berhenti merokok adalah tanda kemajuan. Tapi
sekarang, aku kembali ke kebiasaan itu. Bahkan kali ini,
aku memakai rokok impor yang mahal.
Aku keluar ke balkon, menatap bulan. Aku
menghembuskan asap abu-abu, mencoba menutupi
sinar lembut bulan itu. Aku memalingkan wajah dan
melihat ke arah lain. Aku benci bulan. Aku pernah
menyebut dia sebagai "bulan."
Dia dulu hangat seperti sinar matahari pagi.
Melodi suaranya seperti lagu R&B saat hujan. Aromanya
manis seperti caramel macchiato.
Lucu sekali... aku pernah mencintainya sedalam itu.
Cinta, sampai tidak melihat apapun lagi.
Aku menghela napas bersamaan dengan asap rokok.
Menghirup aroma manisnya sekali lagi hingga rokok itu
habis. Aku khawatir akan kecanduan lagi, karena
sekarang aku sudah mulai menikmatinya. Aku benci ini.
Baik bir maupun rokok, keduanya adalah bukti bahwa
aku masih memikirkannya, bahwa aku masih
menggantungkan diri pada kenangan itu.
Aku mematikan puntung rokokku, memandang
kegelapan di depan. Syukurlah hujan sudah berhenti.
Kalau tidak, mungkin suasana hatiku akan semakin
buruk.
"Sebaiknya aku tidur saja."
Aku mengatakan itu pada diriku sendiri sebelum
berbaring di tempat tidur. Tapi meskipun sudah
mencoba, aku tidak bisa tidur. Akhirnya aku bangkit dan
bekerja hingga pagi.
Pagi itu, aku hanya tidur sebentar setelah bekerja
semalaman. Begitu siang tiba, aku keluar untuk
menyelesaikan beberapa hal. Salah satunya, aku
akhirnya menambah tato baru setelah
merencanakannya cukup lama. Tato itu adalah gambar
elang putih, melambangkan ayahku.
Prosesnya memakan waktu cukup lama, tapi selesai
dalam satu sesi. Sekarang bagian atas lenganku sudah
penuh dengan tato. Saat ditanya apakah aku suka,
tentu saja aku menjawab iya. Bahkan aku ingin
menambah tato lagi.
Aku pergi dari tempat tato dengan motorku,
Patcharamon, tanpa tujuan. Akhirnya, aku berhenti di
mal untuk menonton film. Meski tidak terlalu suka, aku
tetap duduk selama lebih dari 90 menit. Hampir
tertidur beberapa kali, tapi aku bertahan hingga akhir.
Ketika melewati salon, aku memutuskan untuk
mewarnai rambutku. Aku memilih warna yang jarang
orang pilih. Setelah cukup lama, rambutku berubah
menjadi biru. Melihat diriku di cermin, rasanya agak
aneh, tapi tidak buruk.
Aku kembali ke asrama dan disambut oleh suara Emma.
‘Kenapa kau memilih warna ini?’ tanya Emma. ‘Setiap
kali kau goyah, kau selalu begini.’
"Begini bagaimana?"
‘Michael selalu melakukan hal aneh saat tidak bisa
berpikir atau merasa tidak stabil. Kadang juga hanya
karena iseng. Tapi mungkin sekarang, hal seperti ini
tidak aneh bagimu.’
"Mungkin aku sudah terlalu sering aneh sampai tidak
terasa aneh lagi. Apa kau pikir aku aneh?"
‘Aneh. Orang normal tidak tidur di dalam lemari.’
"Kenapa? Lemari itu nyaman, tahu." jawabku. Pagi tadi,
aku memang tidur di dalam lemari karena sinar
matahari masuk melalui jendela. Tidak ada penutup
mata, dan selimut terlalu panas. Kalau memakai kain
lain, sedikit bergerak saja kainnya akan lepas. Jadi aku
memutuskan untuk tidur di lemari. Aku suka lemari.
Entahlah, aku suka saja.
"Tidak panas?"
"Panas sedikit tapi tidak membuat sulit
bernapas hingga mati." ….
Hari ini adalah hari yang dijadwalkan Phi penjual rokok
untuk pergi ke rumahnya. Dia menyapaku tentang
warna rambut ku sedikit, tapi aku tidak memberi
komentar, hanya menjawab mungkin memang
mencolok seperti yang Emma bilang. Saat di kampus,
memang banyak yang melihat, dan aku juga tidak
mengerti kenapa mereka melihat, padahal ini hanya
warna rambut yang siapa saja bisa melakukannya,
hanya membutuhkan uang dan kesehatan kulit kepala
serta rambut yang baik.
Dia membuka pintu mobil sport merah di sisi
pengemudi. Aku sedikit bingung sebelum membuka
pintu di sisi pengemudi dan masuk. Aku
meraih sabuk pengaman dan mengenakannya, tidak
lama kemudian mobil melaju cepat.
"Kenapa kau hanya diam?" Dia bertanya.
"Kenapa?"
"Biasanya orang lain mengeluh kalau aku
menyetir dengan cepat." "Ya, kau memang
cepay."
"Kau tidak takut?"
"Tidak," jawabku sambil menatap pemandangan di luar
yang berubah dengan cepat.
Dia adalah pengemudi tercepat yang pernah aku
tumpangi. Dulu aku pikir Ted mengemudi dengan cepat,
tapi Phi penjual rokok... bagaimana ya bilangnya?
Waktu aku naik motor, aku pernah membenci mobil-
mobil yang mengganggu jalanku dan Phi penjual rokok
mungkin salah satu orang yang pengendara mobil
buruk, yang pernah aku benci itu.
Aku tidak takut karena kemungkinan aku dan Phi itu
sendiri mati, sama saja. Kalau dia berani mengemudi
seperti ini, berarti dia percaya dengan kemampuannya.
Kalau begitu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Atau bisa
juga dia tidak takut mati, yang mana aku juga sama.
Hanya butuh sebentar, mobil akhirnya berhenti di
halaman rumah besar. Aku turun begitu mobil berhenti
dan mengikuti masuk ke dalam rumah bergaya modern
yang mewah. Aku suka desain rumah seperti ini, aku
ingin juga belajar desain rumah. Mungkin aku harus
mencari waktu untuk ikut kelas, ya?
"Derek, aku sudah datang!" Orang yang berjalan di
depanku berteriak. Tidak lama kemudian, seorang pria
tinggi, seumuran dengan ayahku sekitar usia empat
puluh tahunan, mengenakan pakaian santai, yang aku
tahu namanya Derek, tapi aku tidak yakin apakah dia
ayahnya atau siapa. Dia berjalan mendekat dan
memandangku. Aku tersenyum pelan dan mengangkat
tangan untuk memberi salam, dia membalas senyumku.
"Kau yakin akan melakukan ini?"
"Yakin."
"Ya sudah, lakukan saja." Derek menjawab seperti itu.
"Oke, ayo lakukan." Phi penjual rokok berkata.
Aku mengangguk sedikit sebelum menarik napas dalam-
dalam dan melepas gelang tanganku. Aku melakukan
apa yang biasa kulakukan, yaitu menatap orang yang
bernama Derek, tapi tidak ada tanda-tanda siapa pun
mengikuti. Aku menggelengkan kepala pelan.
“Di sekitar Derek juga tidak ada, ya?"
“Anak sialan, panggil aku dengan baik di depan orang
lain.” Dia mengeluh kesal.
Aku menggelengkan kepala lagi sebagai jawaban. Tidak
ada yang mengikuti Phi yang bernama Derek.
"Suami macam apa yang tidak diikuti istrinya?"
"Kau ini!!!" Phi penjual rokok dibentak oleh Derek. Dia
lalu menoleh padaku dengan wajah kesal.
"Bagaimana?"
"Bolehkah aku melihat-lihat sekitar?” Kataku sebelum
melangkah keluar untuk melihat sekeliling.
Selama itu, aku berusaha keras, tapi tidak menemukan
siapapun yang kira kira mirip menjadi ibu. Yang kutemui
hanya orang lain. Phi penjual rokok mengikutiku diam-
diam.
"Ibumu sering ke sini?"
"Sering."
"Dimana kamarnya?"
"Di lantai dua." Dia menjawab sebelum membawaku ke
kamar tidur ibunya. Di dalamnya didekorasi dengan
sederhana dan rapi, seolah-olah masih ada orang
tinggal di sana, tapi aku tetap tidak menemukan siapa
pun. "Tidak ada?"
"Tidak."
"Shit!!" Dia mengumpat kesal.
"Biarkan aku periksa seluruh rumah dulu." Kataku.
Dia membawaku berjalan mengelilingi rumah, tapi tidak
ada tanda-tanda ibunya sama sekali. Dari kejauhan, aku
hanya melihat roh-roh berkeliaran yang berdiri
menatap dari sisi lain pagar, karena mereka tidak bisa
masuk. Saat kami bertemu pandang, mereka terkejut,
mungkin heran ada orang yang bisa merasakannya. Dia
mencoba melompati pagar untuk mendekatiku, tapi
gagal.
"Tidak ada sama sekali? Ibu ku padahal sangat menyukai
tempat ini. Dulu dia sering sekali ke sini."
"Tidak ada." Aku jawab.
"Hemmhh…."
"Ini rumah tempat kalian tinggal bersama, kan?"
"Bukan, biasanya kami tinggal di California. Ini rumah
ayah, tapi kami sering datang ke sini."
"Oh, dia meninggal di California?"
"Ya."
"Kalau begitu, mungkin dia ada di sana."
"..." Dia diam sejenak, lalu wajahnya berubah tegang.
"Cari di sini dulu." "Uh-huh." Aku jawab.
Dia membawaku untuk memeriksa tempat lain, mulai
dari ruang tamu, teras, atap, dan semua kamar di
rumah. Akhirnya kami sampai di taman belakang
rumah.
"..."
"Ada apa? Kenapa?"
"...." Aku terdiam ketika berusaha memusatkan seluruh
indra untuk mencari dengan sepenuh hati. Percayalah,
kalau masih ada, apapun bentuk gelombang atau energi
roh, betapa lemah pun itu, aku pasti bisa
menemukannya. Aku terus berusaha sampai sekarang,
aku benar-benar kelelahan.
Aku duduk di bangku taman, di depan ada kolam dan
taman bunga. Aku menutup mata dan berusaha untuk
berkonsentrasi sepenuhnya, tapi aku
tidak menemukan siapa pun. Hanya ada sisa-sisa
perasaan yang terasa disini, rasanya sulit untuk
dijelaskan, tapi begitu hangat di hati.
"Dia suka tempat ini."
"Hah?"
"Iya, kan? Ibu Phi."
"Iya. Kau tahu dari mana?"
"Entahlah, mungkin perasaan. Kehangatan itu masih
ada." Aku berkata dengan suara lelah. Sekarang aku
benar-benar kelelahan, hampir tertidur. "Dulu kalian
sering main di sini kan?"
"Dao, kau lumayan tahu banyak, ya," dia berkata
dengan nada yang tidak terlalu senang, bersandar pada
pohon di dekatnya. "Hanya tinggal perasaan saja, tapi
ibu sudah tidak ada?"
"Ya, dia tidak ada di sini."
"Terus bagaimana? Aku harus cari ibu kemana lagi?"
"Tempat dia meninggal, masih ada kemungkinan."
"Apa aku membawamu ke kampung halaman ku?"
"Kalau mau aku bantu, sepertinya harus seperti itu."
Aku jawab sebelum miringkan tubuh bersandar pada
sandaran bangku. Kelopak mataku terasa sangat berat,
tenggorokanku juga kering. Aku rasa sekarang wajah
dan mulutku pasti sudah kering.
"Kau sepertinya memakai banyak tenaga."
"Sepertinya begitu. Bisa istirahat sebentar?”
"Ya sudah. Mau minum?"
"Kalau ada, boleh." Aku menjawab sebelum menutup
mata. Karena kelelahan dan belum bisa mengontrol
indra sepenuhnya, aku tanpa sengaja menembus
perasaan orang yang baru saja lewat di depanku.
Perasaan sakit yang begitu dalam di hatinya, apa itu?
Aku mengangkat tangan dan memegang dadaku ketika
merasakan jantungku seolah-olah akan pecah. Kenapa...
dia bisa sesedih itu?
Dari luar, dia tampak biasa saja, tapi di dalam, dia begitu
terluka sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-
kata.
Dan di taman yang sepi ini, aku menangis karena
merasakan sakit itu, merasa terpecah bersamanya.
"Hiks...hiks..." Aku mulai tersedu sedikit sebelum
mengusap air mata dengan kasar, tapi air mata itu terus
keluar. Aku tidak bisa berhenti menangis, dan karena
itulah aku tidak mau membaca perasaan orang lain.
Aku akan merasa seperti apa yang mereka rasakan juga.
Aku menutupi wajah dengan tangan dan menangis
sejadi-jadinya. Apakah dia pernah menangis
sebelumnya?
Rasanya seperti luka yang ditekan begitu lama. Mungkin
dia tidak pernah menangis, tidak pernah menceritakan
luka itu pada siapa pun, sehingga luka itu semakin
dalam.
Aku bukan tipe orang yang gampang menangis. Sama
sekali bukan. Aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak
bisa berhenti menangis, padahal ini bukan masalahku.
‘Orang yang tidak pernah menangis, adalah orang yang
lukanya tidak pernah disembuhkan. Kasihan.’ Suara
Emma terdengar di kepalaku.
"Ugh... Hiks..."
Sial, rasanya aneh sekali harus menangis hanya karena
ikut merasakan kesedihan orang lain.
….
Aku menuangkan air putih ke dalam gelas, berniat
memberikannya kepada anak yang sudah susah payah
membantu mencari ibuku. Entah kenapa, dia terlihat
sangat pucat, sampai aku khawatir dia bisa pingsan.
Pasti tidak mudah mencoba merasakan energi roh
orang lain, ya.
"Kau percaya pada orang ini?" Diredak bertanya sambil
bersandar di meja dapur.
"Percaya. Dia adalah orang yang
membantu kasusnya Donut." "Kalau kali ini
tidak ketemu gimana?"
"Ya, harus ikhlas."
"Serius?"
"Ya, mau bagaimana lagi."
"Harus membawanya ke California, ya?" Diredak
bertanya lagi.
"Sepertinya begitu. Sebenarnya, itu kemungkinan
terbesar, kan? Ibu pasti ada di sana." Aku menjawab,
meskipun rumah di California itu milikku dan
sebenarnya aku tidak ingin membawa anak itu ke sana,
tapi tidak ada pilihan lain.
"Ya sudah, apa yang bisa membuatmu tenang, lakukan
saja." Direk menghela napas, lalu matanya melirik
keluar jendela belakang. "Dia menangis, ya?"
"Hah?" Aku mengangkat alis, heran, lalu menoleh.
Ternyata, anak itu duduk di bangku, mengusap mata,
dan tampaknya sedang menangis. Itu semakin
membuatku bingung, kenapa tiba-tiba dia menangis?
"Apa yang kau lakukan sampai membuat dia
menangis?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawabku, sambil
memegang gelas air dan berjalan menghampirinya.
Anak itu menggosok matanya dengan kuat, lalu
menatap ke atas. "Kau menangis?"
"Uhm." Dia menjawab sambil menerima gelas itu.
"Kenapa tiba-tiba nangis?"
"Karena Phi."
"Hah?"
"Karena Phi, semua gara-gara Phi."
"Apa maksudmu?"
"Maaf."
"Apa yang kau maksud?"
"Maaf, aku tidak sengaja membaca perasaan Phi."
"..." Aku diam sejenak, kemudian teringat bahwa dia
pernah bilang bisa membaca perasaan orang yang tidak
tampak.
Itu membuatku kesal, karena aku tidak suka kalau orang
tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Bukankah aku
sudah bilang supaya dia tidak membaca perasaanku?
"Siapa yang menyuruhmu membaca perasaan ku?"
"Aku tidak sengaja."
"..." Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri.
Sebenarnya, dia sudah berusaha membantu, jadi aku
tidak boleh terlalu marah. "Lalu, kenapa kamu
menangis?"
"Karena aku ikut merasakannya." Dia menjawab pelan.
"Kenapa kau bisa sesedih itu?”
“…”
"Apa perasaanku sesedih itu, sampai membuatmu
menangis?” "Ya. Aku jarang sekali nangis, ini
pertama kali setelah beberapa tahun." "Dan kau
menangis karena orang lain? Kau sangat bodoh."
“…”
"Ya, salah siapa kau merasakan apa yang ada dihatiku!”
jawabnya, melihatku dengan tatapan aneh.
“Siapa juga yang mau. Berhenti menatapku seperti itu!”
Chapter 8: Adviser
Aku duduk bersandar sambil menopang dagu,
memandang ke depan, melihat seorang dosen yang
wajahnya tidak ramah terhadap mahasiswa. Saat ini
sedang ada kuliah.
Sial, dosen ini sedang mengajar atau nge-rap? Kenapa
seperti terburu buru. Apa dia pikir semua orang bisa
mengikuti seperti Fah atau Hill? Kasihanilah mahasiswa
bodoh sepertiku ini.
“Bagian ini kita lewati, silahkan baca sendiri.”
“Sial, dilewati lagi,” gumamku sambil menggeser layar
tablet ke slide berikutnya. Aku melirik Fah yang duduk
di sebelahku. Dia sibuk mencatat dengan cepat,
sementara aku? Mendengarkan saja belum selesai.
Ah, sudahlah. Tidak usah didengarkan. Nanti Fah saja
yang mengajariku. Aku tinggal pinjam catatannya.
“Tolong ya, Fah,” kataku sebelum menunduk dan tidur
di meja. Suara rap dari dosen itu menjadi pengantar
tidurku. Tidak butuh waktu lama hingga aku benar-
benar tertidur lelap. Saat tersadar, seseorang
membangunkanku dengan mengguncang tubuhku.
“Kelas sudah selesai, Thit.”
“Hah?” Aku bersandar di kursi, melihat semua orang
sedang membereskan barang mereka. “Slide-nya
selesai semua hari ini?”
“Sudah selesai.”
“Hebat, dosen ini memang rajin sekali.”
“Besok ada kelas juga.”
“Kelas lagi?” keluhku sambil menghela napas panjang.
“Dosen itu gajinya berapa, ya? Kenapa rajin sekali
sampai segitunya.”
“Kau juga rajin mengeluh,” kata Fah, sebelum kami
berjalan keluar ruangan. Sekarang sudah hampir jam
enam sore. Biasanya setelah kelas selesai, kami
langsung pulang. Kadang-kadang kami makan bersama.
Kalau makan bersama, biasanya ada aku, mereka, dan
pacar-pacar mereka. Total tujuh orang. Kalau kau tanya
siapa yang selalu duduk sendirian atau di ujung meja?
Aku, tentu saja.
Saat turun, aku melihat pacar mereka sudah menunggu
di depan. Sejak pertama kali melihat North
mengenakan jas laboratorium, aku pernah bilang
bahwa itu sama sekali tidak cocok untuknya. Dia
membalas dengan mengatakan bahwa aku juga tidak
cocok mengenakan jas dokter. Aku hanya bisa
mengangguk setuju. Memang benar. Kenapa aku tidak
memikirkan hal ini sejak awal sebelum masuk?
Aku menyapa North singkat, dan dia langsung
mengajakku bermain game seperti biasa. Aku mampir
makan sebentar di sekitar kampus sebelum kembali ke
kamar. Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku
mulai bermain game. Tidak lama kemudian, North
mengajakku bermain bersama.
(Phi, aku dengar kau membuat temanku
menangis, ya?) tanyanya. “Hah?” jawabku
bingung.
(Ya kan? apa yang kau lakukan? Kau pasti sudah
melakukan sesuatu yang membuat dia sangat kecewa.)
“Aku tidak melakukan apa pun.”
(Kalau begitu, itu lebih buruk lagi. Temanku terlihat
pendiam, tapi dia sangat kuat. Kalau sampai menangis,
pasti kau melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan.
Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan?) desaknya.
“Tanya langsung padanya,” jawabku dengan nada kesal.
(Dia tidak mau cerita. Katanya kau hanya diam, tapi dia
terlihat sangat marah padamu. Apa yang sebenarnya
terjadi?)
“Mana aku tahu. Aku bahkan tidak tahu apa yang
membuatnya marah.”
(Katanya kau membuat dia kecewa. Dia bilang sudah
bertahun-tahun dia tidak menangis, tapi karena kau, dia
menangis. Dia pasti merasa kesal.”
“Sial, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Dia
yang kecewa sendiri, bukan salahku.”
(Lalu, apa yang sebenarnya kau lakukan?)
“Aku sudah bilang aku tidak melakukan apa-apa.”
(Kau benar-benar tidak mau mengaku, ya?) kata Nong
North sambil tertawa kecil.
“…”
(Temanku itu tubuhnya kecil, tapi kau tetap saja
membuatnya menangis. Kau itu punya hati seperti apa
sampai bisa melukai dia? Dia hanya sibuk bekerja setiap
hari, bahkan tidak pernah mengganggu siapa pun. Selain
itu, dia juga punya tanggungan, seperti merawat kucing
dan membayar cicilan
motor. Dari luar, dia mungkin terlihat santai, tapi
sebenarnya dia sangat kuat. Kau pasti sudah melakukan
sesuatu yang sangat buruk sampai dia menangis seperti
itu. Jujur saja, aku mulai menyesal menganggapmu
sebagai kakakku, Phi Thit.)
“North, kau ini seperti menyimpan dendam padaku dan
hanya menunggu waktu untuk mengomeliku.”
(Hanya bercanda, Phi,) jawab North sambil tertawa.
“Sialan.”
(Jadi, kenapa dia menangis sebenarnya?) tanya North.
“Rahasia,” jawabku singkat.
(Apa? Rahasia lagi? Sama seperti waktu kau minta
nomor teleponnya tapi tidak pernah menjelaskan
alasannya.)
“Kenapa kau ingin tahu banyak sekali?” tanyaku kesal.
(Apakah kau mau mendekati temanku?)
tanya North tiba-tiba. “…”
(Kalau kau benar-benar berniat mendekatinya, aku akan
jadi orang pertama yang menghalangi,) tambahnya
sambil tertawa kecil.
“Sialan,” balasku sambil menghela napas. “Dan kau
masih di lane bawah, sedang apa di sana? Cepat naik ke
lane atas, bantu aku! Aku sedang diserang musuh di
sini!”
(Tunggu sebentar, aku sedang menjaga turret di sini)
jawab North santai.
“Itu bukan tugasmu! Kau itu mage, seharusnya
membantuku, bukan menjaga turret,” seruku dengan
nada kesal.
(Astaga, aku lupa. Kupikir aku sedang memainkan carry.
Tidak sempat lagi, ya sudahlah.$ jawab North sambil
tertawa kecil.
“Sat, menyebalkan. Tank-nya juga tidak berguna,
sialan,” kataku dengan nada marah. “Lihat itu, lihat dia,
hanya jalan-jalan di lane. Bukannya maju membantu,
malah berdiri saja seperti patung.”
(Temanku tidak akan bermain denganmu lagi. Dia juga
malas melihat wajahmu.) kata North sambil tertawa.
“Kenapa? Apa salahku?” tanyaku bingung.
(Jadi, bagaimana ceritanya, Phi? Beri tahu aku. Aku ini
bukan orang yang suka pilih-pilih, tapi aku adalah orang
yang penasaran.) katanya.
“Sudahlah, tidak ada gunanya kau tahu,” balasku.
“Jadi, apakah kau mau mendekati temanku atau
tidak?” tanya North lagi. “Sudah kubilang tidak,”
jawabku dengan nada tinggi.
)Lalu, kenapa kau minta nomor teleponnya? Kau ini
benar-benar pria keras kepala.) kata North sambil
tertawa terbahak-bahak.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa mendengar
kata-kata North. “Apa-apaan itu? Pria keras kepala? Kau
benar-benar aneh,” kataku sambil tertawa kecil.
(Ayo, ceritakan padaku. Aku akan berhenti bertanya
kalau kau menjawab.) balas North.
“Apa?” tanyaku, masih bingung dengan keanehan
obrolan ini.
“Cepat cerita.”
“Baiklah, dasar sialan,” aku menghela napas pelan.
Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu ingin
membicarakan hal ini, North adalah Nong yang paling
dekat denganku. “Kau tahu, kan?”
“Tahu apa, Phi?”
“Soal ibuku.”
“Oh, iya, aku pernah dengar kalau beliau
sudah meninggal.” “Benar, itu dia. Aku
hanya ingin berbicara dengan ibu.”
“Oh, jadi kau pakai ‘teman imajiner’ nya untuk bicara
dengan ibumu?” tanyanya.
“Kurang lebih seperti itu.”
“Sudah? itu saja? Kenapa harus banyak pertimbangan
dan drama, sih?”
“Kenapa kau tahu aku penuh pertimbangan dan
drama?” tanyaku sambil tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu, tapi rasanya aneh saja,” jawab North
sebelum kami kembali melanjutkan permainan. Dia
memang bukan tipe orang yang suka membesar-
besarkan hal kecil, tapi North tahu kapan harus
bertanya dan kapan harus berhenti. “Oke, sepuluh
detik lagi naga akan muncul. Aku akan berjaga di sana.
Kalau tidak ada siapa-siapa, langsung masuk saja,”
katanya.
“Oke,” jawabku singkat.
Hampir satu jam berlalu, kami terus bermain hingga
lupa waktu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan
memutuskan untuk bertanya kepada North.
“North,” panggilku.
“Ada apa, Phi?”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Tentu, apa itu?”
“Kau yakin aku bisa bertanya?”
“Tentu saja. Aku ini konselor semua orang, tahu? Apa
pun masalahnya, semua orang selalu datang padaku.
Aku pikir aku harus mulai memungut biaya, bukan?
Sepuluh baht per pertanyaan, bagaimana?”
“Suamimu kaya, kau sendiri juga terlihat cukup baik-baik
saja. Kenapa begitu perhitungan!?”
“Lalu kenapa? Apa masalahnya? Jadi, apa yang ingin kau
bicarakan, Phi? Kau tampak serius sekali. Apa kau
sedang jatuh cinta? Tidak mungkin, kan? Kau, jatuh
cinta?” jawab North dengan nada bercanda.
“Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu kalau ada
seseorang yang menangis untukmu?”
“Apa maksudmu? Apa ini soal temanku?”
“Bukan, ini soal temanku,” jawabku.
“Oh, temanmu yang mana, Phi?”
“Red, namanya Red,” kataku.
“Nama samaran yang konyol. Lalu, kenapa ada yang
menangis untuk Red? Kenapa dia tidak menangis
sendiri?”
“Aku juga tidak tahu. Aku kan bukan Red,” jawabku.
“Aku tebak, Red itu bukan tipe orang yang suka
menangis, kan? Dia lebih suka menyimpan semuanya
sendiri. Ada masalah apa pun, dia tidak pernah cerita ke
siapapun. Selalu bertingkah seolah memikul semua
beban dunia sendirian. ‘Hei, kalau ada masalah, tinggal
bilang saja, kan? Ada banyak orang yang mau
mendengarkan. Kenapa harus memilih menyimpannya
sendiri? Kau pikir itu keren? Pada akhirnya, yang terluka
itu dirimu sendiri, dasar bodoh. Menunjukkan sisi
lemahmu ke orang lain itu tidak akan membuatmu
mati, tahu? Hentikan berpura-pura kuat terus.” Suara
Johan terdengar dari sisi sana.
“Entah kenapa aku ikut merasa sakit hati untuk Red. Kau
ada dendam padanya, ya? Jujur saja,” kataku.
“Dia pasti senang kalau tahu kau bilang begitu.”
“Hah, aku sudah duga. Sialan, Johan!! Kau memang suka
cari masalah. Bilang padanya aku tidak
memberitahumu. Dasar bodoh!!” kataku.
“Jadi, ini sebenarnya cerita tentang Red atau siapa?”
“Katakan padanya Red menitipkan pesan.”
“(Phi Jo, Phi Thit bilang l, ‘Aku tidak akan
memberitahumu, dasar bodoh. Red yang menitipkan
pesan ini,’ )” seru North dengan suara keras. Tapi
tunggu dulu, masa kata seperti itu tidak dia disensor
sedikitpun? Kau benar-benar mengatakan “bodoh”
pada pasanganmu?
(Sampaikan juga kalau dia tidak akan mati dengan baik,
dasar sialan,) balas Jo dengan nada marah.
“Si Red maksudnya?”
(Maksudnya Red?) tanya North dengan suara keras.
(Maksudnya kau, Thit.)
“Oh, aku merinding sekarang,” kataku sambil tertawa.
Pasangan ini memang selalu menghiburku.
(Lalu, apa yang Red rasakan soal ini, Phi?)” tanya North.
“Agak aneh, mungkin,” jawabku.
(Dia tidak pernah menangis karena luka ini, kan?
Maksudku, bahkan dirinya sendiri tidak pernah
menangis.)
“Iya, benar, seperti itu.”
(Tapi itu tidak buruk, kan? Setidaknya, rasa sakit itu
sudah keluar. Meskipun bukan air matanya sendiri, tapi
melalui orang lain. Itu cukup baik, menurutku,) kata
North sambil terdiam sejenak sebelum melanjutkan,
(Ngomong-ngomong, kau ini anak blasteran, ya?)
“Iya, kenapa? Dan kenapa kau tiba-tiba mengganti
topik begini?” (Tidak ada. Ngomong-ngomong,
nama Phi itu ‘Arthit’ dari awal, kan?)”
“Tidak, bodoh. Aku lahir hari Minggu, jadi ayahku
memberi nama ini saat kami pindah ke Thailand.”
(Lalu, nama asli Phi apa?)
“Nama ku Dylan.”
(Nama yang keren banget, D-Y-L-A-N?)
“Iya, benar.”
(Kalau aku panggil kau Dylan, boleh tidak?)
“Tidak boleh, dasar sialan.”
“(Phi, aku mau minta tolong sesuatu.)”
“Katakan.”
“(Kalau Phi mau minta bantuan temanku, tolong
perhatikan dia juga, ya. Sepertinya kalau dia harus
‘berurusan’ dengan roh-roh itu, dia menghabiskan
banyak energi. Terakhir kali aku lihat, wajahnya sangat
pucat sampai aku pikir dia itu hantu. Dia juga jarang
makan, Phi. Tolong pastikan dia makan. Kalau terjadi
sesuatu padanya, tidak akan ada yang bisa membantu
Phi, tahu.)”
“Baik, aku hanya cukup pastikan dia makan, kan?”
(Dan jangan biarkan dia minum kopi terlalu banyak
juga, Phi.) “Banyak sekali aturannya. Kopi itu tinggal
minum saja, tidak perlu repot.”
(Dia hanya minum satu cangkir sehari sekarang, Phi. Kau
ketinggalan berita.)
“Serius? Wah, akhirnya dia berhenti kecanduan kafein.
Hebat juga, kau North. Tapi ngomong-ngomong, teman
imajinernya itu—”
(Apa? Teman imajiner? Kenapa dengan dia?)”
“Dia punya teman imajiner yang bernama Emma.
Namanya sama seperti nama ibuku.”
“(Oh, begitu? Emma, Emma, Emma!)”
“Sialan, umur berapa kau sekarang, bagaimana bisa kau
masih mengejek nama ibuku?”
(Hei, itu nama ibuku juga!) kata North sambil tertawa
terbahak-bahak. (Serius? Phi pernah lihat dia
mengobrol?)”
“Iya, aku pernah lihat. Dia berbicara seperti itu benar-
benar nyata.”
(Itu berbahaya tidak, Phi? Haruskah dia pergi ke
dokter?) tanya North dengan nada cemas.
“Aku juga tidak tahu apakah itu berbahaya atau tidak,”
jawabku. “Tapi aku pernah lihat dia berbicara dengan
teman imajinernya. Awalnya, aku tidak peduli. Tapi
setelah kupikir-pikir, itu memang tidak normal. Aku ini
calon dokter, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu. Kalau
itu membahayakan dirinya atau orang lain—termasuk
aku yang tinggal di kamar sebelah—apa yang harus
kulakukan kalau suatu hari temannya menyuruhnya
mengambil pisau dan mengejarku?”
(Apa aku harus membawanya ke psikiater?)
“Terserah kau. Coba tanya dia dulu. Tapi kurasa dia
sebenarnya sadar kalau itu hanya teman imajinernya.
Dia sendiri yang bilang padaku. Dia tahu kalau dia
menciptakan teman itu sendiri. Tapi yang tidak dia tahu
adalah seperti apa sifat ‘temannya’ itu. Kalau ternyata
teman itu berbahaya, kita akan dalam masalah besar.”
(Kenapa kau tidak tanyakan langsung saja? Bukankah
kau dokter?)
“Aku akan mengirim Fah saja. Go Fah!! Aku memilihmu
untuk menemuinya!!”
“M(Apa-apaan itu!) kata North sambil tertawa terbahak-
bahak. (Tapi Phi, jangan anggap temanku gila. Dia
mungkin hanya sedikit aneh. Oke, bukan sedikit, dia
memang sangat aneh. Tapi aku tidak ingin orang lain
menganggap dia gila. Kalau pun ada masalah, cukup
bilang dia sedang sakit. Itu masih bisa diterima.)
“Aku tidak pernah bilang dia gila. Aku juga tidak suka
kata itu,” jawabku.
(Baiklah, aku akan coba bicara dengannya. Kalau
ternyata dia tidak membahayakan siapa pun dan dia
memang tidak mau pergi ke dokter, aku tidak akan
memaksanya.)
☆☆☆
“Ya, begitulah. Setiap orang punya kepuasan yang
berbeda,” kataku sambil berjalan menuju pintu setelah
mendengar suara ketukan. Lima belas menit
sebelumnya, North menelepon mengatakan akan
datang. Ketika dia tiba, dia meletakkan kantong berisi
camilan di atas meja. Meskipun aku belum bertanya
kenapa dia tiba-tiba datang, aku bisa menebaknya—
paling tidak pasti ada hubungannya dengan seseorang.
Kemungkinan besar, ini soal si penjual rokok itu.
“Ada apa?”
“Maaf aku langsung ke intinya. Ini soal Emma.”
“…”
“Phi Thit bilang padaku, tapi dia tidak punya niat buruk,
hanya saja aku merasa perlu berbicara denganmu. Aku
juga khawatir padamu, tahu.”
“North.”
“Apa?”
“Kau tidak takut?”
“Kenapa?”
“Aku… tidak menakutkan?”
“Maksudmu?” tanyanya bingung.
“Kau tahu, aku punya teman imajiner. Aku berbicara
dengannya seperti dia benar-benar nyata. Dia mungkin
saja menyuruhku menyerangmu sekarang. Kau tidak
takut?” tanyaku dengan nada datar sambil sedikit
memiringkan kepala, mataku menatap langsung ke
arahnya yang baru saja duduk di kursi.
“Tidak, tidak perlu menakut-nakuti aku seperti itu,”
jawab North, tahu bahwa aku hanya bercanda. Aku
terkekeh pelan. “Kalau aku takut, aku tidak akan datang
sendirian.”
“…”
“Emma tidak akan menyuruhmu melakukan itu, kan?”
kata North dengan nada tegas, meskipun sikapnya
terlihat santai sambil mengambil camilan dan
memakannya.
“Emma, kau tidak akan menyuruhku melakukan hal
seperti itu, kan?” kataku sambil menoleh ke arah
Emma, yang terlihat cemberut menatap North.
‘North jahat sekali. Kenapa berpikir aku akan
menyuruhmu menyerang North?’
“North memang jahat, bukan?” lanjutku.
“Apa maksudmu?” North mengangkat alis, bingung.
“Emma bilang kau jahat. Kenapa berpikir dia akan
menyuruhku menyerangmu?”
“Itu cuma perumpamaan. Tunggu, kau sedang berbicara
dengannya?”
“Iya, dia sedang berdiri di sampingmu.”
“Astaga, aku merinding. Tunggu, kamar ini… ah, aku
lupa. Kita keluar saja dan bicara di luar,” kata North
dengan nada gugup sambil segera berdiri dan keluar
dari kamar. Aku tidak bisa menahan tawa kecil. Takut,
tapi malah lupa. Aku memakai sepatu dan
mengikutinya ke kafe di dekat kondominium.
“Jadi, kau datang karena ini?” tanyaku sambil
menyeruput cappuccino panas. Hari ini cukup
menyenangkan karena hujan ringan turun sepanjang
hari. “Kau datang sendirian?”
“Iya. Phi Jo ada kelas.”
“Oh, begitu. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?”
“Kau benar-benar melihatnya?”
“Iya, seperti orang sungguhan.”
“Luar biasa sekali,” kata North sambil menyeruput teh
hijaunya. “Tapi kenapa harus Emma? Namanya sama
seperti nama ibunya Phi Thit.”
“Dulu aku suka nonton Harry Potter. Aku
suka Emma Watson.” “Oh, begitu. Jadi,
Emma ini sudah bersamamu sejak kecil?”
“Iya, dia satu-satunya teman bermainku. Emma pertama
kali muncul di taman bermain. Waktu itu aku sedang
duduk sendirian dan merasa kesepian, mungkin. Tiba-
tiba Emma muncul dan mengajakku bermain. Awalnya
aku pikir dia hantu, tapi nenekku bilang dia bukan
hantu. Akhirnya aku tahu kalau Emma adalah teman
yang aku ciptakan sendiri sejak kecil,”
jelasku sambil bercerita pada North. Aku pikir dia akan
tertarik dan ingin tahu lebih banyak soal ini.
“Dia tidak menghilang setelah kau tumbuh dewasa?”
tanya North.
“Tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala pelan.
“Sebenarnya itu bagus. Bagaimana ya, Emma itu
seseorang yang bisa diajak bicara dan curhat tentang
apa saja.”
“Kau juga bisa bicara apa saja denganku, tahu,” kata
North.
“Aku tidak bermaksud menyuruhmu menggantikan
Emma atau apa, tapi…,” aku terdiam sejenak.
“Ya, aku tahu ini tidak normal. Tapi North… jangan
minta aku pergi ke dokter, ya. Aku baik-baik saja seperti
ini. Aku tidak ingin Emma pergi. Aku benar-benar suka
dengan keadaan ini.”
“Baiklah, aku mengerti. Aku memang tidak
menyuruhmu pergi ke dokter sejak awal,” jawab North
dengan nada santai. “Ngomong-ngomong, Emma itu
seperti apa?”
“Dia orang yang baik. Selalu peduli pada orang lain.”
“Apakah dia sisi lain dari dirimu? Karena Emma
sebenarnya kau juga, kan?” kata North sambil berpikir
sejenak. “Tunggu, jangan-jangan kau sedang memuji
diri sendiri bahwa kau juga punya sisi yang baik?”
“Tidak juga. Aku tidak pernah memikirkan Emma seperti
itu,” jawabku jujur.
“Ya, kupikir juga begitu. Jarang sekali melihat kau baik
pada orang lain, kecuali pada kami,” katanya sambil
tersenyum kecil.
“Jadi, sekarang kau sudah lebih tenang, North?”
“Apa maksudmu?” tanya North.
“Kau khawatir, kan? Kalau tidak, kau tidak akan
menyetir sejauh ini untuk bertemu denganku.”
“Kau tahu saja,” jawab North sambil mengetuk pelan
dahiku. “Aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya
tidak berbahaya.”
“Aku tahu apa yang aku lakukan dan siapa
diriku. Jangan khawatir.” “Baguslah. Oh ya, aku
mau tanya soal Phi Arthit,” katanya tiba-tiba.
“Hari itu dia membuatku menangis. Aku tahu dia tidak
salah. Aku yang membaca perasaannya, dan itu
membuatku menangis. Tapi tetap saja, aku merasa
kesal. Aku sudah bertahun-tahun tidak menangis, dan
sekarang aku menangis karena seseorang seperti dia.
Rasanya sangat buruk.”
“Kau baik-baik saja?”
“Ya, jangan bahas dia lagi,” jawabku sambil menghela
napas mendengar namanya.
“Aku sudah memarahinya, jadi jangan terlalu
membencinya. Sudah banyak yang tidak suka
padanya.”
“Kau sudah memarahinya untukku?”
“Ya,” jawab North sambil tertawa kecil. “Kalau pada
akhirnya ibunya tidak ditemukan, bagaimana
menurutmu?”
“Itu kenyataan yang harus diterima seseorang. Tugasku
hanya mencari, meskipun aku tidak tahu apa yang akan
aku temukan,” jawabku pelan.
“Tujuh tahun sudah berlalu, tapi waktu tidak selalu
menyembuhkan segalanya,” katanya sambil menghela
napas. “Aku tidak tahu detailnya, tapi jika sampai
membuatmu menangis, itu pasti sangat menyedihkan.”
“Bagaimana kau tahu aku menangis karena
membaca perasaannya?” “Itu tidak sulit ditebak,
kan?”
“Dia tidak suka dikasihani, menurutku.”
“Ya, dia juga bilang jangan mengasihaninya. Dia tidak
suka itu,” kata North. “Ngomong-ngomong, kau akan
pergi ke California dengannya? Kapan?”
“Tidak tahu. Tidak ada waktu luang. Mungkin nanti saat
libur semester,” jawabku, mengingat percakapan
terakhirku dengan si penjual rokok yang ingin
mengajakku ke kampung halamannya di California. Tapi
masalahnya, aku tidak punya waktu dan tidak yakin
tabunganku cukup.
“Dia seharusnya membayar tiketmu.”
“Ya, setidaknya tiket pesawat.”
“Kalau dia tidak membayarnya, itu keterlaluan. Kau
sudah membantu dia, padahal ini bukan tugasmu.”
“…”
“Ngomong-ngomong, kenapa harus ke California? Apa
itu benar-benar tempat yang paling mungkin? Masih
ada tempat lain, seperti rumah kerabat, rumah sakit
tempat dia pernah dirawat, atau orang lain yang
mungkin ada hubungannya, kan?”
“Benar, aku juga berpikir seperti itu. Aku berencana
memberitahu si penjual rokok itu, tapi aku masih
merasa tidak enak. Mungkin nanti, setelah aku merasa
lebih baik.”
“Penjual rokok?”
“Ya, kenapa?”
“Dia menjual rokok padamu?”
“Iya.”
“Dasar dokter gila ilegal. Jangan terlalu banyak
berurusan dengannya, dia bisa membuatmu rusak,”
kata North sambil mengernyit serius. Aku tidak bisa
menahan tawa.
“Apa yang lucu? Jangan-jangan kau sudah merokok?”
“Ya, sudah.”
“Apa? Aku tidak pernah tahu.”
“Aku baru mulai lagi. Tapi cuma sedikit.”
“Jangan banyak-banyak. Nanti kena kanker,” kata North
dengan nada mengingatkan.
“North.”
“Ada apa?”
“Menurutmu, bagaimana jika ada orang yang
membuatmu kembali merokok?”
“Hah? Kau mau mulai sesi konsultasi kehidupan lagi
denganku, ya? Aku harus mulai memungut biaya
konsultasi, nih. Kali ini soal Red lagi, ya?”
“Red?”
“Itu nama samaran. Kalau kau tidak mau menyebut
nama aslinya, jadi kita panggil saja dia Red.”
“Bodoh!”
“Aw, kata-kata itu sebenarnya tidak menyakitkan, tapi
karena kau yang mengatakannya, itu jadi terasa sakit,”
kata North sambil tertawa terbahak bahak. “Jadi,
bagaimana? Orang yang membuatmu kembali
merokok?”
“Tentu saja dia tidak baik. Merokok saja
sudah tidak baik.” “Iya, benar. Dia tidak
baik,” jawabku.
“North.”
“Apa?”
“Bisakah kau balas dia untukku?”
“Dasar. Kau pikir aku ini preman!?”
“Please... Buat dia masuk rumah sakit sekalian.”
“Apa yang aku dapat?”
“Tiga puluh ribu.”
“Serius? Ini sampai di titik di mana aku harus mengurus
mantanmu untuk uang tiga puluh ribu?” katanya sambil
tertawa. “Baiklah, kalau aku kembali nanti, aku akan
bawa anak-anak teknik untuk mengeroyoknya.”
“Serius?”
“Kau terlihat sangat serius sekarang.”
“Memang serius.”
“Sialan, aku sampai kaget mendengarnya.”
Chapter 9: Kram
ss: Rumah sakit tempat dia dirawat.
ss: Rumah keluarga, rumah liburan, tempat yang
memiliki kenangan atau keterikatan emosional.
ss: Orang dekat, benda pribadi, atau hewan peliharaan.
ss: Makam.
: ??
ss: Mungkin lokasi tempat ibumu berada.
ss: Bukan hanya rumah.
ss: Bisa berupa tempat, orang, atau apa pun yang
memiliki hubungan mendalam.
ss: Coba pikirkan lebih jauh.
: Kenapa?
ss: Kalau dalam kondisi terburuk, mungkin
arwahnya tersesat. ss: Tapi sepertinya
tidak.
ss: Kita sudah pernah melakukan ritual pemanggilan di
gereja sebelumnya. Tapi aku yang mungkin mati.
: Apa maksudmu?
: Kau mau mati begitu saja?
ss: Tidak, sialan!
ss: Aku hanya bercanda.
ss: Begini…
ss: Aku sudah banyak membantu.
ss: Sangat melelahkan.
ss: Masih harus pergi ke banyak tempat lagi.
: Lalu?
: Mau berhenti? Jangan sampai kau mengatakannya.
:Katakan saja apa yang kau butuhkan.
ss: Ada sesuatu yang ingin ku minta.
: Apa itu?
ss: Nanti saja aku beri tahu.
: Baiklah.
“North, aku benar-benar hanya bercanda,” kataku lagi
kepada orang di depanku. Maksud bercanda adalah
soal sebelumnya, saat aku berkata akan menyewa
orang untuk mencelakai seseorang. North tahu aku
bercanda, tapi dia malah memunculkan ide aneh.
Lagipula, aku sudah membantu si penjual rokok
mencari ibunya, dan sampai sekarang dia belum
memberikan balasan apapun padaku. Tapi kalau ditanya
apa balasannya, aku sendiri tidak tahu mau meminta
apa, karena aku tidak merasa butuh apapun darinya.
“Sudahlah, apa kau mau membantunya secara cuma-
cuma?”
“Aku tidak masalah. Nanti aku bisa memintanya
mentraktir makan atau kopi saja.”
“Itu terlalu sedikit. Minta saja dia bantu menyelesaikan
urusan soal mantanmu. Itu pasti lebih sepadan.”
“Aku tahu kau tidak ingin ini sampai melukai siapapun.
Tapi, siapa namanya?”
“Aku tidak mau mengatakannya.”
“Kenapa? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya.”
“Kram.”
“Apa?”
“Namanya Kram.”
“Nama macam apa itu? Kan?”
“Kram, bukan Kam,” kataku sambil menghela napas.
“Bisakah kita tidak sering menyebut namanya?”
“Kalau begitu kita panggil saja Kam.”
“…Baiklah.”
“Tapi ngomong-ngomong, saat kalian pacaran, kalian
pasti pasangan yang sangat tenang.”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Karma yang damai.”
“…” Aku menatap lurus ke arah North sambil menghela
napas dengan lelah. Tapi anehnya, North malah
tertawa. Dia tertawa cukup lama sampai akhirnya
berhenti. “Sudah selesai?”
“Apa? Tidak lucu, ya? Aku sedang
tertawa, tahu,” jawabnya. “North, kau
sangat mudah tertawa,” sahutku.
“Kau benar, tapi kalau tidak lucu sekalipun, setidaknya
berikan senyum tipis, dong.”
“Hahaha,” aku tertawa kering dengan paksa.
“Terdengar dipaksakan, tapi ya sudah, terima kasih,”
kata North sambil tertawa kecil. Dia memang tipe orang
yang ceria, mungkin karena mudah sekali merasa lucu.
Hal-hal kecil pun bisa membuatnya tertawa. Kadang
kadang aku juga ingin menjadi orang yang ceria seperti
North. Apapun yang receh saja bisa membuat dia
tertawa. “Jadi, sudah berapa kali dia buat akun Line
baru?”
“Sepertinya… sudah tujuh kali, mungkin.”
“Dan dia belum menunjukkan tanda-tanda berhenti,
kan? Kalau dia kembali, bukankah itu malah membuat
segalanya lebih buruk?” North mencoba menjelaskan
untuk meyakinkanku, dan aku mendengarkan dengan
serius. “Oke, mungkin dia tidak akan melakukan hal
buruk padamu. Mungkin dia cuma akan terus
mendesak. Tapi apa kau mau kembali padanya?”
Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Lalu, sekuat apa hatimu?”
“…” Aku terdiam dan kembali menghela napas.
Sejujurnya, aku tidak yakin apa yang akan terjadi kalau
aku bertemu dengannya. Bahkan hanya pesan Line
darinya saja sudah membuatku goyah. Hanya melihat
nama Line-nya dengan simbol awan seperti dulu saja
sudah cukup untuk membuatku merokok banyak,
padahal tidak ada foto dirinya di profil itu. Ditambah
dengan bir, aku sempat kehilangan fokus bekerja,
sampai-sampai pekerjaanku tertunda. Untungnya, aku
masih bisa menyelesaikannya tepat waktu. Jadi, kalau
dia kembali, pasti akan ada dampak besar.
“Lihat, kan? Bahkan kau sendiri tidak
bisa menjawabnya.” “North.”
“Apa?”
“Aku tidak mengerti. Rasanya semua ini sangat
kontradiktif,” akhirnya aku berkata. Aku sudah pernah
menceritakan garis besar ceritaku ke semua orang, tapi
tidak pernah sampai ke detailnya karena kupikir itu tidak
perlu. Aku hanya bilang kalau dia pernah berselingkuh
dengan sahabatku. “Aku merasa membencinya,
sungguh, sampai aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi
disisi lain, kadang aku merasa bahagia dengan kenangan
masa lalu.”
“Jadi, kau masih mencintainya?” tanya North.
“Sejujurnya… aku tidak tahu,” jawabku dengan nada
ragu. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku
tidak mencintainya lagi. Aku tidak boleh mencintainya,
aku harus membencinya. Tapi pada akhirnya, aku tidak
bisa memberikan jawaban yang pasti. Kalau aku benar-
benar yakin, Emma tidak mungkin memintaku berjanji
untuk tidak kembali padanya. Rasanya seperti aku
berjanji pada diriku sendiri.
Kalau benar-benar yakin, kenapa aku masih perlu
membuat janji untuk mengingatkannya?
“Lalu, apakah kau masih ingin mencintainya?”
“Tidak. Itu benar-benar tidak. Aku tidak ingin lagi.”
“Kau sedang dalam fase melepaskan, itu saja,” kata
North dengan santai. Aku mengangguk pelan, setuju.
Mungkin memang begitu.
“Masih menangis?” tanyanya.
“Tidak lagi.”
“Seberapa sakit rasanya?”
“Tidak sakit. Hanya kadang goyah. Kalau ditanya apakah
aku akan kembali, jawabannya tidak.”
“Apa yang dia lakukan sampai
segitunya? Aku ingin tahu.” “Aku
sudah cerita sebelumnya, kan?”
“Ya, dan itu cerita yang sangat ringkas sekali, kau tahu,”
kata North sambil bercanda.
“Ya, kira-kira begitu. Intinya, aku tahu dia tidur dengan
temanku, dan itu jadi titik puncaknya. Sebelumnya, ada
banyak hal kecil seperti dia berbohong padaku, diam-
diam mengobrol, pergi tidur dengan orang lain,
meminjam uang dengan alasan butuh, padahal uang itu
dia berikan ke orang lain. Dia juga membicarakan hal
buruk tentangku di belakangku, bahkan sempat
menjual hasil karya asliku. Itu saja sudah cukup, kan?”
“Dia benar-benar tidur dengan orang lain?”
“Ya. Dia menyalahkanku, katanya karena aku tidak siap,
jadi dia harus melakukannya dengan orang lain.”
“Astaga, itu benar-benar keterlaluan. Kalian
pacaran berapa lama?” “Dua tahun.”
“Pasti dua tahun yang sangat menyedihkan, ya.”
“Ya… tidak menyenangkan, memang. Tapi kalau ditanya
apakah ada kebahagiaan, ya ada. Tapi itu kebahagiaan
palsu,” kataku sambil mengambil cappuccino dinginku
untuk diminum.
“Padahal kau punya kemampuan itu, kan? Kenapa kau
tidak tahu kalau dia menipumu? Setidaknya kau pasti
bisa merasakan sesuatu saat dia berbohong, seperti
hatinya pasti sedikit goyah, kan?”
“Tidak seperti itu,” aku menggeleng pelan. “Seperti yang
pernah kubilang, membaca perasaan seseorang itu
butuh fokus tinggi. Lagipula, aku tidak pernah mencoba
membaca perasaannya. Aku selalu bilang pada diriku
sendiri, pasangan itu tidak perlu melakukan hal seperti
itu. Aku pikir aku sudah cukup mengerti dia. Aku
percaya padanya.”
“Oh.”
“Tapi sebenarnya, di dalam hati kecilku,
aku merasa takut.” “Takut tahu
kebenarannya bahwa dia berbohong.”
“Hem…”
“Ah.”
“Lucu, ya?” aku menggeleng pelan sambil menggigit
bibir sedikit.
“Itu tidak aneh. Banyak orang seperti itu, tahu. Mereka
takut mengetahui pacarnya berbohong, jadi mereka
tidak mencari tahu, tidak menyelidiki, tidak mau repot.
Tapi di hati kecil mereka, mereka sudah tahu. Hanya
saja mereka berpura-pura tidak melihat,” kata North.
“Aku yakin kau pasti sangat mencintainya. Kalau tidak,
kau tidak akan begitu terpukul.”
“Mungkin begitu.”
“Makanya, kau harus mulai move on.”
“Bagaimana?”
“Apa kau tidak berpikir untuk membuka hati kepada
orang lain?”
“Tidak,” aku menggeleng pelan. “Kau menanyakan ini
lagi. Kenapa kau begitu ingin aku punya pacar?”
tanyaku sambil mengernyit, sedikit bingung. Kenapa
semua orang seperti mendukungku untuk membuka
hati, ya?
“Banyak yang menyukaimu, tahu.”
“Benarkah?”
“Ya. Setidaknya beberapa teman jurusan teknikku sudah
menanyakan kontakmu.”
“Lalu kau memberikannya?”
“Ya. Mereka sudah menambahmu
sebagai teman, belum?” “Ah, aku sudah
memblokir semuanya.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin bicara. Kontak Line-ku saja sudah cukup
kacau dengan para pelanggan. Aku sudah bilang ke
semuanya, aku tidak tertarik pada hal semacam itu.”
“Mereka hanya peduli padamu, itu saja. Tidak ada
maksud lain. Mereka tahu kau suka sendiri, tapi mereka
hanya berharap ada seseorang yang bisa menjagamu.
Jangan bilang kau bisa menjaga dirimu sendiri, ya. Orang
yang masuk rumah sakit sebulan sekali tidak punya hak
bicara soal itu.”
“Bulan ini aku belum masuk rumah sakit. Dan aku tidak
akan masuk lagi, rumah sakit itu sangat
membosankan.”
“Baguslah. Tapi meskipun kau tidak mau membuka hati,
tidak apa-apa. Tapi kau harus tahu, tidak semua orang
akan seburuk mantanmu.”
“Dan tidak semua orang akan sebaik pasanganmu.”
“Kok malah membalikkan ke aku, sih?”
“Memang benar, semua orang beruntung karena
memiliki pasangan yang baik, kan? Tapi tidak semua
orang di dunia ini akan seberuntung itu. Aku tidak ingin
mengambil risiko. Lagi pula, aku merasa hidupku sudah
baik seperti ini.”
“…Sial,” North mengumpat lalu tertawa lepas. “Dasar!
Kenapa tidak mau punya pacar? Kau pasti akan
menjawab : ‘Oh, karena hidupku sudah baik’.
Menyebalkan sekali. Ada kalimat lain, tidak?” North
mengejek sambil terus tertawa.
“Ya… aku nyaman hidup seperti ini.”
“Yah, seperti dugaanku.” North mengelus kepalanya
sendiri sambil menggeleng.
“Kenapa aku tidak boleh bilang begitu?”
“Kurasa itu terlalu arogan. Lebih baik
jawab dengan hal lain.” “Terserahlah.”
“Kembali ke soal Kam, lebih baik biarkan P’Thit
membantu. Toh, dia punya hutang budi padamu.
Anggap saja dia seperti bidak bodoh dalam permainan
ini,” kata North, kembali ke topik awal. “Tidak perlu
sampai memukul atau apa pun. Cukup cegah dia agar
tidak mengganggumu. Kalau perlu, berikan ancaman
padanya.”
“Begitukah?”
“Ya, itu solusi terbaik.”
“…” Aku menggigit bibir sambil berpikir. Apa yang North
sarankan sebenarnya tidak buruk, tapi memohon
bantuan dari seseorang, itu bukan gayaku. “Kita bahkan
tidak kenal dekat. Tiba-tiba meminta bantuannya,
bukankah itu aneh?”
“Tidak kenal dekat? Kurasa kalian cukup
kenal satu sama lain.” “Benarkah?”
“Lalu, apa dia bagimu? Hanya tetangga sebelah?”
“Penjual rokok.”
“Baiklah, biarkan dia tetap menjadi penjual rokok. Jadi,
kita gunakan bantuannya, oke?”
“Kurasa tidak perlu. Tidak apa-apa.”
“Kenapa kau keras kepala sekali?”
“Kau sendiri yang keras kepala, North.”
“Astaga,” North menghela napas kecil sambil terlihat
kesal. “Aku hanya berpikir, dia punya hutang budi
padamu. Kau seharusnya memanfaatkannya. Pikirkan
baik-baik. Selain ini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan
untuk membalas budimu. P’Thit itu hanya punya sedikit
kegunaan, salah satunya ya jadi tameng.”
“…Baiklah.”
“Bagus.”
“Apa?”
“Aku senang karena kau mulai ragu. Rasanya seperti
berhasil menyelesaikan sesuatu dalam hidup,” kata
North dengan penuh semangat.
Aku tersenyum kecil melihat reaksinya. “Mungkin itu ide
yang bagus,” gumamku, sambil memikirkan hal itu.
Memang tidak ada yang benar-benar bisa dilakukan
oleh P’Thit untuk membalas budi. Traktir makan,
minuman keras, atau kopi itu tidak terlalu penting.
Lagipula, dia sudah membuatku cukup sibuk.
“Ya, itu juga akan membuat semuanya lebih jelas.”
“Kenapa begitu?”
“Jujur saja, aku tidak ingin kau kembali dengan si Kam
itu. Dia benar-benar buruk. Tapi kalau terlalu campur
tangan, itu akan terlihat tidak baik. Kalau suatu hari kau
berubah pikiran dan ingin kembali dengannya, aku
hanya akan terlihat seperti anjing bodoh. Rasanya
seperti melindungi teman mati-matian dari mantan,
tapi akhirnya dia kembali juga. Aku tidak mau berteriak-
teriak. Lebih baik biarkan P’Thit yang melakukannya.”
Aku bercanda dengan North sebentar sebelum dia
berpamitan lebih dulu. Aku kembali ke kamar dan
merebahkan diri dengan kepala yang dipenuhi berbagai
pikiran. Sebagian diriku ingin melupakan semua ini dan
fokus kembali bekerja. Tapi ada bagian lain yang
bertanya-tanya, kalau setelah dua bulan dia benar-
benar kembali, apa yang harus kulakukan?
Aku tertidur dalam keadaan seperti itu. Saat terbangun,
tubuhku basah oleh keringat karena lupa menyalakan
AC sebelum tidur. Aku mandi untuk membersihkan diri,
lalu bersiap-siap pergi ke kedai kopi seperti biasa untuk
bekerja. Saat sedang mengemasi barang-barang, tiba-
tiba ponselku memberikan notifikasi.
: Di Thailand sudah ada hujan?
: Aku berencana mampir beli cappuccino dulu.
: Kau masih minum cappuccino, kan?
: Aku minum cappuccino sambil teringat padamu.
: Setelah menyelesaikan beberapa urusan, aku siap
kembali ke Thailand. : Aku ingin segera bertemu
denganmu.
Aku mengerutkan dahi, menatap layar ponsel beberapa
saat sebelum memblokir akun Line itu seperti biasanya.
Kenapa dia begitu berusaha untuk kembali? Aku
membereskan barang-barangku ke dalam tas sebelum
keluar kamar. Saat sedang menunggu lift, notifikasi Line
muncul lagi.
: Bisa bicara sebentar.
ss: Aku sedang keluar
: Di mana?
ss: Di depan lift
: Aku sedang menuju ke sana.”
…..
Setelah anak sebelah kamar mengirim pesan Line tadi
siang untuk meminta informasi soal ibu, aku langsung
menelepon Direk untuk menanyakan detailnya. Begitu
mendapatkan informasi, aku langsung menghubungi
anak itu lagi. Saat dia bilang akan keluar, aku yang tidak
ingin menunggu lama memutuskan untuk ikut
bersamanya.
Dia menungguku di depan lift, dan kami
turun ke lobi bersama. “Ke mana kita?”
tanyaku.
“Starbucks yang biasa,” jawabnya.
“Baiklah, kita pergi bersama. Langit di luar sudah mulai
mendung,” kataku sambil melihat ke arah langit yang
gelap. Dia mengangguk kecil lalu berjalan mengikutiku.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kedai kopi yang
biasa kami datangi.
“Sudah dapat informasinya?” tanyanya. Aku mulai
menceritakan detail yang kudapatkan dari Direk. Dia
bilang, aku harus mencari tahu siapa atau di mana saja
tempat yang memiliki keterikatan dengan ibunya. Ibu
tidak memiliki saudara atau teman dekat. Kemungkinan
dia bersama orang lain pun kecil. Kami memang
memiliki villa, tapi aku sama sekali lupa soal itu karena
setelah ibu sakit, kami tidak pernah pergi ke sana lagi.
Direk bilang rumah itu hampir terbengkalai. Jika kami
ingin pergi, dia akan meminta orang untuk
mempersiapkan rumah terlebih dahulu.
Kalau soal benda, ibu sangat menyayangi barang-barang
peninggalan kakek dan nenek. Barang-barang itu ada di
rumah Direk. Soal hewan peliharaan, aku tidak yakin.
Rasanya aneh jika ada orang yang begitu terikat dengan
hewan peliharaan hingga saat meninggal, arwahnya
masih bersamanya. Ibu pernah memelihara seekor
anjing, tapi setelah ibu sakit, dokter menyarankan agar
anjing itu diberikan kepada orang lain untuk
menghindari alergi yang bisa memperparah kondisi ibu.
Setelah ibu meninggal, Direk mencari anjing itu, tapi
ternyata sudah dipelihara oleh keluarga lain.
“Soal rumah sakit, ibu hanya pernah dirawat di LA,”
kataku. “Rumah liburan ada dua, satu di Phuket dan
satu lagi di Hawaii.”
“Ah… Baiklah.”
“Soal hewan peliharaan, ada orang yang begitu terikat
dengan hewan hingga meninggal dan tetap
bersamanya?”
“Aku salah satunya.”
“…” Aku mengernyit, menatapnya dengan bingung.
“Baiklah, nanti ayahku akan mencari tahu siapa yang
memelihara anjing itu.”
“Ya.”
“Apa ada hal lain lagi yang perlu kita cari tahu?”
“Kurasa itu sudah cukup. Ini saja sudah banyak.”
“Jadi aku harus mengajakmu ke semua tempat itu, ya?”
“Kurasa begitu.”
“Astaga, aku jadi merasa sedikit tidak enak,” kataku.
Meski biasanya aku tidak terlalu peduli, kali ini rasanya
aku merepotkan anak ini terlalu banyak. “Lalu apa yang
kau inginkan sebagai balasan?”
“Hah?”
“Katakan saja sekarang, supaya aku tidak merasa kau
akan meninggalkanku begitu saja.”
“…” Dia terdiam, meletakkan pena yang sedang
dipakainya untuk menulis, lalu mulai berpikir serius.
“Apa?” tanyaku.
“Pergi dan hajar mantan pacarku.”
“…Hah?” Aku menatapnya, tidak percaya dengan apa
yang baru saja kudengar. Tunggu, pertukaran macam
apa? “Tunggu, apa maksudmu barusan?”
“Maaf, aku salah bicara,” katanya. “Bukan
menghajarnya, tapi… ya, halangi dia saja.”
“…” Aku masih mengernyit, bingung, menunggunya
untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, tapi dia
tidak melanjutkan. “Apa maksudmu? Jelaskan lebih
lanjut.”
“Itu, dalam dua bulan, mantan pacarku akan kembali.
Bantu aku, tolong.” “Bantu apa? Halangi?”
“Ya, supaya dia tidak mendekatiku.”
“Sial. Kenapa? Apa dia benar-benar mengganggumu?”
Dia mengangguk pelan. “Dengar, kalau tidak terpaksa,
aku tidak akan meminta.”
“Baiklah, aku paham.” Aku mengusap dahiku sambil
mendesah. “Apa ya sebutannya? Sesuatu seperti…”
“Tameng,” jawabnya.
“Ya, itu. Tapi kalau pada akhirnya kau balikan
dengannya, yang jadi tameng malah aku, kan?”
“Benar. Tapi, North yang menyarankan ini, karena dia
sendiri tidak ingin jadi tameng.”
“Sial,” aku mengumpat pelan dengan nada tidak senang.
Sebenarnya, ini bukan masalah besar, tapi coba
bayangkan kalau aku melindunginya mati matian dari
mantannya, lalu akhirnya dia malah balikan. Aku pasti
merasa bodoh. “Oke, aku butuh detail lebih jelas.”
“Detail soal mantanku?”
“ Tentu saja. Bagaimana kau bisa memintaku
melindungimu dari seseorang tanpa memberiku
informasi apa pun?”
“Namanya Kram. Sekarang dia sepertinya
berumur 23 tahun.” “Pria?”
“Ya.”
“Oke. Lalu, kenapa harus dua bulan lagi?”
“Saat ini dia sedang belajar di luar negeri, dan
sebentar lagi akan lulus.” “Ah, baiklah. Ada
fotonya?”
“Tidak ada.”
“Ya sudah, dua bulan lagi masih lama. Jadi, bagaimana
kau mau aku melindungimu?”
“Ancam saja dia, atau apapun yang diperlukan.”
“Baik, baik. Hah… sangat merepotkan. Kenapa tidak
balikan saja kalau memang begitu? Selesaikan saja
semuanya,” kataku. Tapi dia tidak menjawab, malah
kembali menulis dengan pena di tabletnya, seolah tidak
peduli dengan komentarku. “Jadi, kapan kau akan pergi?
Aku sedang sibuk akhir-akhir ini.”
“Aku akan pergi sendiri. Ke rumahmu di Phuket.”
“Hah?”
“Rumah liburan mu di Phuket. Tempatnya dekat, aku
bisa pergi sendiri. Tapi kau yang bayar, ya.”
“Baiklah. Tapi jangan mencuri barang-
barang di rumahku.” “Tidak akan.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
“Tunggu,” dia memanggilku sebelum aku sempat pergi.
“Lalu, aku akan pulang bagaimana?”
Ah, sial. Aku lupa kalau dia datang bersamaku. Aku sama
sekali tidak memikirkan bagaimana dia akan pulang.
“Jadi aku harus menunggumu?”
“Kan kau yang mengajakku ke sini.”
“Ya, benar juga.”
“Sudah selesai?”
“Belum.”
“Sial.” Aku menghela napas panjang sebelum
menjatuhkan diri di sofa. Aku memainkan ponsel
dengan rasa bosan. Seharusnya aku tidak mengajaknya
tadi. C
Tadinya, aku coba-coba jadi orang baik karena kupikir
hujan akan turun dan aku lupa sama sekali bahwa dia
harus bekerja, dan aku harus menunggunya sampai
selesai. Saat bosan tanpa sesuatu untuk dilakukan, aku
pergi ke mobil untuk mengambil iPad dan membaca
buku sambil menunggunya.
Meninggalkannya dan pulang sendirian, itu keterlaluan,
kan?
Sudah meminta bantuannya, masa aku berbuat jahat
padanya juga. Kalau North tahu, dia pasti akan
mengomel tanpa henti.
…
…
Setelah mendapatkan informasi bahwa P’Tit punya
rumah liburan di Phuket dan mungkin ibunya ada di
sana, aku memutuskan untuk pergi sendiri karena
lokasinya tidak terlalu jauh. Setelah turun dari pesawat,
aku langsung naik mobil menuju rumah tersebut,
menggunakan lokasi yang P’Tit kirim lewat GPS.
Saat sampai di rumah yang kupikir adalah tempatnya,
aku memotret dan mengirimkan fotonya untuk
memastikan. Ketika dia mengonfirmasi bahwa itu
benar, aku menggunakan kunci yang dia berikan untuk
membuka pintu.
Rumah itu seperti rumah liburan pada umumnya—
cukup luas dan bersih. Sepertinya dia sudah menyuruh
orang untuk membersihkannya sebelumnya.
Aku melakukan hal yang biasa kulakukan, memeriksa
setiap sudut rumah, setiap ruangan. Hasilnya tetap
sama: aku tidak menemukan apa pun. Aku mengirim
pesan ke P’Tit melalui Line, memberi tahu bahwa aku
tidak menemukan apa-apa, lalu keluar dan mengunci
pintu seperti semula. Masih ada sedikit waktu sebelum
jadwalku kembali, jadi aku memutuskan untuk berjalan-
jalan sebentar.
Tidak lama kemudian, ponselku memberikan notifikasi
pesan baru. Saat melihat layar, aku otomatis
mengernyit lagi.
Dia lagi…
ss.: Kirim daftar kontak.
ss.: Mantan pacarku.
ss.: Hari ini aku sudah memeriksa rumah
di Phuket untukmu. ss.: Sekarang, bantu
aku.
: Baik, baik.
….
[ : Kamu telah menambah teman.]
: Siapa ini?
: Ada apa denganmu, dasar sialan.
Chapter 10: Khun Jhon
: Kau Pacar baru Dao?
: Bukan.
: Lalu siapa?
: Kenapa kau marah?
: Ada hubungan apa kau dengannya?
: Atau apa kau punya dendam?
: Tidak ada dendam apa pun.
: Tapi ini tugasku.
: Apa maksudmu?
: Jangan campuri urusanku dengan pacarku!
: Dasar bodoh.
: Oh, Dao menyuruhmu?
: Ya
: Menyuruhku berbohong padaku dan mengatakan kau
pacar barunya?
: Tidak.
: Aku juga malas berpura-pura.
: Sudahlah, jangan mencampuri urusannya lagi.
: Aku sangat malas dan tidak punya waktu untuk
berurusan denganmu.
: Dasar sialan.
: Kau sangat malas, dasar anjing pemalas. 55555
: Kenapa Dao malah menggunakanmu?
: Ya, benar juga.
: Ada jutaan orang diluar sana.
: Tapi percuma juga aku mengeluh. Aku
membutuhkannya. : Eh, Apa hubunganmu
dengan Dao?
: Tidak penting. Sudah, harus berkeliling
bangsal sekarang.
: Jangan hubungi dia lagi.
: Aku malas bertengkar, apa kau mengerti?
: Kau dokter?
: Ya.
: Dokter macam apa kau ini?
: Jadi, dokter punya waktu untuk
mengurusku juga, ya?
: Kan aku sudah bilang tidak ada waktu,
sialan.
: Kalau begitu, bagaimana caranya kau bisa
mengurusku? 55555
: Jadi sebaiknya kau yang jangan ikut campur
urusanku.
: Kau tahu sendiri dokter itu sibuk, dasar sialan.
: Apa aku harus menunggu kau senggang dulu baru
bisa bertengkar? : Sudah, berhenti ikut campur,
selesai kan?
: Cari yang baru saja, bro.
: Banyak yang lebih baik dari anak itu, percaya deh.
: Jangan terlalu terikat.
: Kalau kau stres mencari cara untuk melepaskan, aku
bisa memberi saran kalau kau mau.
: Dasar sialan. 55555555
: Orang seperti apa kau ini?
: Sudah, aku pergi, meung.
: Eh, tunggu dulu.
: Katakan dulu. Bagaimana keadaan Dao?
: Dia baik-baik saja?
Aku meletakkan ponsel dengan perasaan kesal karena
tiba-tiba anak sebelah kamar, si kepala biru, mengirim
pesan LINE, meminta ku untuk menangani mantan
pacarnya. Dalam keadaan sudah jengkel, aku
menambahkannya sebagai teman untuk melampiaskan
emosi. Waktu tidur saja hampir tidak ada, masih
disuruh melakukan hal yang tidak jelas pula.
Aku tidak bisa banyak mengeluh karena ini adalah
bagian dari kesepakatan; dan aku telah merepotkannya
sebelumnya. Seperti hari ini, dia harus pergi ke Phuket
untuk mencari ibu di vila ku. Ketika dia mengatakan
tidak
menemukan apa-apa, aku tidak merasa kecewa atau
terkejut karena sudah menduga bahwa kemungkinan
besar tidak ada di sana; hanya ada kemungkinan kecil
saja.
Aku mematikan suara ponsel dan melakukan
pengecekan bangsal hingga lewat pukul delapan
malam. Ketika kembali ke kamar, aku melihat banyak
pesan dari si brengsek itu, penuh dengan stiker yang
dikirim berulang kali.
: Apa maumu sebenarnya?
: Kenapa kau tidak membalas pesanku.
: Sudah kubilang sedang berkeliling bangsal.
: Kau pacarku atau apa, kenapa kau mengirim
pesan bertubi-tubi. : Muka jelek.
: Dao tidak membalas LINE-ku TT
: Aku akan memblokirmu juga.
: Sudah diblokir, tidak bisa.
: Sialan.
: Namamu siapa?
: Kram.
: Kriminal?
: Dasar bodoh.
: Kau sendiri?
: Arthit.
: Kau kerbau bule.
: Orang macam apa namanya Kam.
: Kram
: Sialan!
: Kenapa kau masih mengganggunya? Apa kau tidak
lelah atau apa?
: Telepon saja, malas mengetik.
: Sudah sampai tahap kau harus meneleponku?
: Iya, angkat.
Tak lama kemudian, si brengsek Kram benar-benar
menelepon melalui LINE. Dengan sedikit bingung, aku
memutuskan untuk menjawab.
“Kenapa aku harus menerima panggilanmu?”
(Ayolah, kau satu-satunya yang dekat dengan Dao yang
bisa kuhubungi. Bagaimana kabar Dao?)
“Normal, lengkap dengan dua kaki, tidak ada kaki
tambahan.”
(Sialan, kenapa dia harus menyuruh orang lain
mengurusku? Apa dia sangat membenciku?)
“Kalau kau sedikit pintar, seharusnya tidak perlu
bertanya.”
(Sial, mulutmu kasar sekali. Dokter macam apa yang
menambahkan LINE orang asing lalu memaki-nya? Aku
serius bertanya.) Dia tertawa. (Aku benar-benar ingin
kembali. Aku menyesal, aku ingin kesempatan darinya.)
“Itu urusanmu.”
(Apa-apaan kau, apa tidak ada rasa simpati sedikit
pun?)
“Tugasku adalah menjauhkanmu darinya,” kataku
dengan nada bosan sambil menggaruk kepala ringan.
“Kau di mana?”
(Amerika.)
“Di mananya, sialan?”
(Chicago)
“Jadi, kenapa kau masih disana.”
(Uangku habis, sialan. Aku juga ingin kembali dan
menemui pacarku.) Dia berkata, (Kamu ini sangat aneh.
Orang lain tidak akan berbicara seperti ini dan mau
menjadi penghalang untuk orang lain. Atau kau
menyukai pacarku?)
“Suka? Tidak mungkin. Aku hanya punya
kesepakatan dengannya.”
(Kau tidak punya dendam padaku, kan? Jadi jangan
terlalu ikut campur.)
“Aku tidak ingin melakukannya, tapi sebaiknya kau
berhenti.”
(Atau, apa yang akan kau lakukan?)
“Menendangmu sampai jatuh, dasar bodoh. Jangan
sampai aku harus menyuruh orang untuk
menyingkirkanmu.”
(Kenapa?)
“Aku malas.” Aku berkata sambil menghela napas. Aku
tidak punya dendam padanya. Tidak ada alasan untuk
menyuruh seseorang menyingkirkannya atau
membencinya. Aku bahkan tidak mengenalnya. Tugasku
hanya memastikan dia tidak mengganggu si anak
berambut biru, kan?
(Kamu benar-benar penghalang yang malas, sialan.
Apakah kau benar benar bisa menyingkirkanku?)
“Bisa, tapi itu mahal.”
(Tidak mau berinvestasi?)
“Lupakan saja. Jika dia sampai menyuruhku sejauh ini,
berarti hubungan kalian tidak berakhir baik, kan?
Biarkan aku menebak, kau berbuat buruk padanya,
kan?”
(Ya, aku akui, saat itu aku sangat buruk. Tapi aku sudah
menyesal dan memperbaiki diri. Aku ingin kesempatan.
Kenapa orang yang sudah berubah tidak diberi
kesempatan?)
“Kenapa kau malah berkonsultasi denganku?”
(Mungkin aku kesepian. Tolonglah.)
“Bagaimana aku tahu? Jangan berkonsultasi denganku.”
(Aku tidak bisa berkonsultasi dengan siapa pun, sialan.
Aku sangat stres.)
“Aku akan mengirimkan kontak konselor. Semoga dia
bisa membantumu menyadari sesuatu.”
(Apa maksudmu?)
“Aku tutup teleponnya. Aku sangat lelah.”
Aku menutup telepon dengan perasaan lelah, lalu
berjalan untuk berendam air panas guna
menghilangkan kelelahan yang menumpuk sepanjang
hari. Setelah mandi, aku duduk di meja kerja. Bukan
karena
ingin, tapi aku harus membaca. Kalau tidak, aku akan
gagal. Dan jangan mengejek aku. Apa yang aneh dari
seorang dokter yang membaca buku? Jangan sampai
aku akan meninjumu sampai pingsan!
: Mengirim daftar kontak
: Itu nomor konselor pribadiku
: Tanyakan apa saja padanya.
: Setiap pertanyaan seratus bath!
: Transfer ke e-Money-ku.
: O6x-xxx-xxXX
——
: Halo, Arthit merekomendasikan ku untuk
menghubungimu.
Tonfah: Ya?
Setelah memutuskan untuk memberikan kontak Tonfah
kepada Kram, aku sudah siap menerima keluhannya.
Peran sebagai konselor memang lebih cocok untuk
Tonfah. Tugasku hanya memastikan Kram tidak
mengganggu si anak berambut biru. Kemampuan
konselingku sendiri sangat minim; aku bahkan kesulitan
mengurus diriku sendiri, apalagi memberi nasihat
kepada orang lain. Aku yakin, jika Kram berbicara
dengan Tonfah, dia akan mendapatkan pencerahan.
Seperti yang kuduga, keesokan harinya Tonfah
menegurku sedikit, mengatakan bahwa seharusnya aku
tidak memberikan kontak siapapun kepada orang asing
tanpa izin. Selain dianggap tidak sopan, hal itu juga
menyangkut masalah keamanan. Setidaknya, aku
seharusnya meminta izin terlebih dahulu.
Aku mengakui kesalahanku dan berjanji akan
meminta izin di lain waktu. “Lalu, bagaimana
hasilnya?” tanyaku.
“Awalnya, aku tidak ingin terlibat, tapi dia bilang dia
mantan pacar Dao, teman Phoon. Jadi, Phoon ingin
membantu,” jawab Tonfah.
“Oh, begitu.”
“Dia berkonsultasi dan mengatakan ingin kesempatan
kedua dengan mantan pacarnya. Setelah dia
menceritakan kesalahan yang pernah dia lakukan, aku
berpikir, mungkin sebaiknya dia tidak kembali. Tapi,
yang memutuskan bukan aku, kan? Keputusan ada di
tangan mantan pacarnya, yaitu Dao. Jika Dao
memintamu untuk menjauhkan dia darinya, itu sudah
jelas bahwa Dao tidak ingin berurusan dengannya,” jelas
Tonfah.
Aku mengangguk, meskipun sebenarnya tidak
sepenuhnya memahami.
“Aku mencoba menjelaskan, dan dia mengerti. Dia
bilang dulu dia masih muda dan melakukan kesalahan,
tapi seiring waktu, dia dewasa dan menyadari bahwa
dia tidak seharusnya memperlakukan seseorang yang
mencintainya dengan buruk.”
“…”
“Aku bertanya apakah dia masih mencintai Dao atau
hanya merasa bersalah. Dia tidak bisa menjawab.”
“Oh.”
“Sebenarnya, apakah itu bisa disebut cinta? Jika kita
benar-benar mencintai seseorang, kita tidak akan
menyakiti mereka sedemikian rupa, kan? Aku pikir dia
hanya merasa bersalah. Kau tahu, perasaan seseorang
yang telah berubah dan ingin memperbaiki
kesalahannya. Itu adalah rasa bersalah dan keinginan
untuk menebusnya.”
“Hmm,” aku mengangguk lagi, mencoba memahami.
“Lalu bagaimana?”
“Dia bilang akan merenungkan dirinya sendiri. Jika
memungkinkan, dia ingin berbicara dengan Dao
setidaknya sekali, untuk meminta maaf.”
“Itu bertentangan dengan tugasku.”
“Coba tanyakan pada Dao dulu apa yang dia inginkan.
Kadang-kadang, menghadapi masalah secara langsung
bukanlah hal buruk. Mungkin Dao tidak lagi
mencintainya, tapi masih merasa sakit hati. Jika dia bisa
berbicara dan menerima permintaan maaf, mungkin
perasaannya akan membaik.”
“Jadi, aku harus menyarankan ini?”
“Ya.”
“Kenapa harus aku?”
“Menjauhkan seseorang dari hidup kita itu mudah,
Arthit. Tapi, aku menyarankan cara yang baik untuk
kedua belah pihak. Jika Dao masih memiliki perasaan
terhadapnya, bahkan jika dia meninggal, perasaan itu
akan tetap ada, kan? Coba tanyakan padanya dulu. Jika
dia tidak ingin berbicara, kau bisa mengambil tindakan
lain.”
“Apa yang kau katakan masuk akal, Fah.”
Tonfah menghela napas kecil, tampak sedikit kesal.
“Jangan berikan kontakku kepada siapapun lagi,
mengerti?”
“Ya, aku mengerti.”
“Ada apa?” tanya Johan yang baru saja duduk di
seberangku. Hari ini, kami berencana belajar bersama
di kafe. Saat aku tiba, Hill dan Tonfah sudah menunggu.
Hill sedang tidur dengan kepala di pangkuan istrinya.
Aku melihat North duduk bersama teman-temannya di
sisi lain ruangan.
Lantai tiga kafe ini telah menjadi tempat favorit kami
karena selalu sepi. Johan, pemilik kafe, dia membelinya
saat ingin istrinya berhenti bekerja. Pasangan yang
aneh; karena tidak ingin istrinya bekerja, jadi membeli
kafe dan memintanya berhenti. Saat aku mendengar ini,
aku hanya bisa berpikir, “Apa-apaan dia?”
“Arthit memberikan kontakku kepada seseorang yang
tidak kukenal,” kata Tonfah, membuat Johan langsung
menatapku.
“Kau memberikannya kepada siapa? Untuk apa? Apakah
orang itu bisa dipercaya? Bagaimana jika seperti
kejadian sebelumnya?” tanya Johan dengan nada tegas.
Dia merujuk pada penguntit yang pernah mengikuti
Tonfah. Jika ditanya bagaimana kejadiannya, aku hanya
bisa mengatakan bahwa orang itu hampir dihajar oleh
Johan.
Meskipun terlihat seperti ini, Johan sangat peduli pada
teman-temannya, meskipun sering
menyembunyikannya. Seperti saat aku berbicara
dengan North dan menyebut nama Day, Johan
menyarankan agar aku berbicara langsung dengannya.
Semua orang tahu bahwa aku hanya menggunakan
nama Day sebagai alasan.
Mereka siap mendengarkan, tapi aku belum siap
bercerita.
Kemudian, aku menceritakan secara singkat tentang
peranku sebagai penghalang bagi Kram.
“Dao bilang, istrimu yang menyarankan,”
kataku kepada Johan. “Benarkah?”
“Ya, jadi kau marahi saja North. Dia yang memulai
semua ini.”
“Sebenarnya, North sedikit salah,” kata Johan sambil
menghela napas. “Salah karena berpikir orang seperti
kau bisa berguna.”
“Sial,” aku mengumpat pelan. Orang ini benar-benar
tajam lidahnya. “Tapi sekarang sudah selesai, kan? Aku
hanya perlu memberitahunya, bukan?” tanyaku pada
Tonfah.
“Ya, coba saja.”
“Apa tidak apa-apa kau berbicara dengan orang lain?”
tanya Johan kepada Tonfah.
“Maksudmu?”
“Phoon.”
“Tidak masalah. Aku sudah meminta izin. Phoon
mengerti dan merasa kasihan padanya. Dia mungkin
hanya butuh seseorang untuk mendengarkan.”
“Anak baik,” kataku. Mereka benar-benar pasangan
yang sempurna. Meskipun Tonfah pernah mengatakan
bahwa dia bukan orang baik, sebenarnya dia jauh lebih
baik dariku. Dunia masih utuh karena ada orang seperti
dia. Mengetahui bahwa Tonfah berbicara dengan Kram
dengan
baik, aku membuka obrolan dan melihat Kram mengirim
banyak pesan lagi. Apakah di Chicago tidak ada yang
mau berteman dengannya? Untungnya, aku telah
mematikan notifikasinya. Setelah semua ini selesai,
semoga dia berhenti menggangguku.
: Arthit T^T
: Aku sangat berterima kasih. Temanmu sangat baik.
: Tonfah benar-benar luar biasa.
: Kenapa orang sebaik itu mau berteman denganmu?
: Dia bahkan menolak uangku, sementara kau
memberiku nomor rekeningmu.
: Kau sangat rendah hati memberikan nomor
rekeningmu untuk berkonsultasi dengan temanmu,
dasar sialan!
: Kau yang sialan!
: Apa-apaan ini, seharusnya kau
mentransfer uang padaku
: Aku yang memberimu kontak, kan?!
: Sudah ditransfer, brengaek!
: Aku sudah memikirkannya.
: Aku tidak akan mengganggunya lagi.
: Aku ingin Dao bertemu dengan orang yang lebih baik.
Aku benar-benar merasa bersalah. Aku harus
melepaskannya, bukan?
: Seperti yang Tonfah katakan
: Biarkan dia bertemu dengan seseorang yang lebih
baik. Aku tidak seharusnya meminta kesempatan kedua
atau apa pun
: Ya, bagus kalau kau sudah menyadarinya
: Tapi aku ingin meminta sesuatu
: Aku ingin bertemu dengan Dao
: Ketika aku mengatakan aku merindukannya, aku
benar-benar merindukannya
:Sudah lama tidak bertemu
: Aku ingin meminta maaf
: Hanya ingin meminta maaf. Sejak kami putus, aku
belum pernah meminta maaf.
: Tunggu
: Kau benar-benar sudah menyadarinya, kan?
: Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?
: Aku tidak mempermainkanmu. Aku sudah
tercerahkan oleh Tonfah tadi malam.
: Dia seperti dokter yang memberikan nasihat
yang sangat baik : Tidak seperti kau, sialan!!
: Dokter palsu. Kau menyontek saat ujian, ya?
: Sialan!!!
: Baiklah, aku akan mencoba bertanya padanya apakah
dia ingin bertemu denganmu
: Jika dia tidak ingin bertemu, kau harus berhenti
: Berhentilah keras kepala. Aku lelah!!
: Lelah apa?
: Kau tidak melakukan apa-apa!
: Kau seperti penghalang yang tidak berguna, sialan!
: Dao seharusnya tidak membantumu
: Aku akan memberitahu Dao untuk
berhenti membantumu
: Hei, sialan!!!
: Tidak, kau yang sialan!
: Kalau begitu, aku akan benar-benar
menghalangimu!
: Bersiaplah untuk mati, brengsek!
: Kau di Chicago, kan?
: Aku bercanda, sialan
: Beritahu Dao untuk membuka blokirku
: Ingin bicara sebentar, lalu aku tidak akan
mengganggu lagi
: Baiklah
: Aku akan mencoba bertanya
: Terima kasih TT
….
[Klub (Tidak) Melukis (Sialan) (4)]
ss: Semua…
ss: Sedang apa?
Easter: Dao 5555555, Sepertinya kau
sedang bahagia sekali
Easter: Mengirim foto
Easter: Kita kafe, mau datang? Typhoon
dan North juga di sini
ss: Bersama pasangan, ya?
Easter: Wah, banyak emotikon, kau
pasti sangat bahagia
Easter: Ada apa?
ss: Ter…
ss: Khun John akan datang menemuimu
ss: Khun Johnnn
Typhoon: Benarkah?
Typhoon: Aku ingin bermain juga
Typhoon: Sudah datang?
ss: Belum, besok baru datang
Typhoon: 5555555 Ikut senang untukmu
North: Apa ini?
North: Mereka menyuruhku melihat
ponsel, ada apa sih?
ss: North…
ss: Aku sangat bahagia
ss: Semua!!!
ss: Aku sangat bahagia
ss: Seperti meluap
North: 55555555555
North: Apa sih, ada apa dengan si budak kucing ini? Kau
seperti kerasukan!
North: Apa kau sedang luang?
ss: Ya
ss: Pekerjaanku selesai
North: Ayo sini
North: Mengirim lokasi
ss: Oki Doki
Typhoon: Yay… 5555555
Typhoon: Dao lucu sekali
ss: Oke
ss: Aku salah ketik
ss: Akan segera ke sana
North: Pelan-pelan, pembalap
North: 30 km/jam sudah cepat sekali
ss: Sekarang 40 km/jam
ss: Kalau 30 km/jam bisa jatuh
Easter: Hahaha, aku gemas dengan Dao dalam mode ini,
huhu 55555555
Aku meletakkan ponsel dengan perasaan senang.
Rasanya hatiku tidak pernah sebahagia ini sejak
berpisah dengan Khun John. Barusan, Phi menelepon
dan memberitahu bahwa Dad akan datang menemuiku
besok. Dia punya urusan di Chiang Mai, jadi akan
sekalian membawa John. Bahkan dia mengirimkan
empat foto Khun John padaku. Saat melihat foto-foto
itu, aku langsung tahu bahwa John sedikit gemukan. Itu
artinya makanan yang kubelikan sesuai dengan
seleranya.
Sepertinya, meskipun Patramon menjatuhkanku, aku
tidak akan merasa sakit lagi. Tidak ada yang bisa
menghalangi kebahagiaanku sekarang.
Ngomong-ngomong, aku sempat berbincang sedikit
dengan Pho soal Kram. Pho tahu betul bagaimana
semua ini bermula. Dulu, Pho dan Dad juga tahu apa
yang terjadi, tapi saat Kram kembali, aku tidak pernah
menceritakan apapun kepada mereka karena kupikir
tidak ada gunanya. Aku toh sudah tidak merasakan apa-
apa lagi.
Tapi sebenarnya itu tidak benar. Aku masih merasakan
sesuatu, sungguh. Bukti nyatanya adalah rokok dan bir
itu. Bahkan hanya sekadar sebuah pesan, bukan
suaranya sekalipun, sudah cukup mengganggu
pikiranku.
Aku tidak merindukannya atau ingin kembali padanya,
tapi ada rasa sakit. Pho berkata bahwa ini bukan karena
aku masih mencintainya, tapi luka itu sudah terlanjur
membekas dalam di hati. Yang membuatku terkejut
adalah saran Pho untuk mencoba bicara dengannya jika
memungkinkan. Bicarakan saja kenapa dia melakukan
itu, apa alasannya, atau apa pun yang masih
mengganjal. Dengan begitu, semuanya bisa selesai. Lari
tidak akan menyelesaikan apa-apa. Aku sudah
menghindar selama bertahun-tahun, tapi tidak ada
yang berubah. Lebih baik membuka hati dan bicara
langsung.
Tapi jika ingin bicara, harus dengan syarat dia mau
bicara baik-baik. Kalau bisa, saat berbicara aku
sebaiknya mengajak Pho atau Dad, atau siapa saja.
Karena Pho jelas tidak akan tenang jika aku menemui
orang seperti dia sendirian.
Aku bilang pada Pho akan kupikirkan dulu. Aku tidak
tahu apa Kram bisa diajak bicara baik-baik. Yang aku
maksud dengan bicara adalah saling memahami bahwa
kami berdua tidak bisa kembali lagi. Aku tidak ingin
berdamai, hanya ingin berbicara supaya aku dan dia bisa
benar-benar move on dan tidak terus-menerus terjebak
di tempat yang sama.
Aku berjalan menuju kedai kopi sesuai rencana. Dalam
hati terasa sedikit lega. Perjalanannya memakan waktu
cukup lama meskipun jaraknya tidak terlalu jauh.
Setelah sampai, aku mampir membeli segelas susu segar
sebelum naik ke atas.
Aku membuka pintu di lantai tiga dengan perlahan dan
masuk ke dalam. Ini pertama kalinya aku datang ke sini.
Pandanganku menyapu ruangan, melihat beberapa
pasangan duduk di meja. Dan ada penjual rokok di salah
satu sudut, sementara sisanya tampak bermain kartu di
meja tatami. Sepertinya mereka sedang bermain kartu
UNO.
“Aku datang,” ucapku sambil duduk. Semua orang
tampaknya sedang asyik bermain.
“Wajahmu sangat bersinar,” ejek North. Aku yang masih
tersenyum langsung memandangnya dengan bingung.
“Bersinar kenapa?” tanyaku.
“Seperti orang yang penuh kebahagiaan. Wajahmu
terlihat sangat bahagia, sampai-sampai tidak bisa
disimpan sendiri,” jawabnya.
“Hei, boleh ikut main?” tanyaku. Semua orang langsung
meletakkan kartu mereka dan mengocok ulang agar aku
bisa ikut bermain. Suasananya cukup tenang, mungkin
karena mereka tidak boleh ribut di sini, soalnya ada
beberapa orang yang sedang belajar.
“Astaga, aku menang lagi,” ucapku sambil tertawa kecil.
“Kenapa kau sangat hebat sih, Dao?” tanya Ter sambil
mengocok ulang kartu.
“Mungkin aku bawa keberuntungan,” jawabku. “Mau
main yang lain?”
“Kau bisa pilih sendiri. Di sini ada banyak pilihan,” jawab
Phoon sebelum berjalan menuju rak kaca penuh
dengan board game. Kami akhirnya bermain game lain
bersama-sama hingga tiba waktu istirahat para dokter.
Semua orang pergi menemui pasangan mereka,
sementara aku membereskan kartu.
“Hei, kau sudah sampai,” tiba-tiba seseorang
menyapaku. Aku menoleh dan melihat penjual rokok
itu. Dia masih duduk di tempat yang sama dan
tampaknya menyapaku.
“Sudah cukup lama,” jawabku.
“Oh, kemarilah. Aku ingin bicara sebentar,” katanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Sini, aku serius,” jawabnya. Aku akhirnya berjalan dan
duduk di depannya. Di dekatnya, ada Phoon dan
P’Tonfah yang duduk di samping. Aku memandangnya
dengan sedikit bingung.
“Kau yakin?” tanyanya pada P’Tonfah. Orang yang
ditanya mengangguk pelan.
“Baiklah, jadi soal yang kau minta aku lakukan…”
“Ya?”
“Kenapa wajahmu sangat datar?!”
“Temanku sedang senang hari ini, loh Phi,” North
berkata sambil bercanda sedikit. Orang di depanku
memandang dengan bingung.
“Seperti ini sedang senang? Oke, jadi soal yang kau
suruh aku jadi ‘tameng’ itu, aku sudah
menyelesaikannya,” kata si penjual rokok sambil mulai
bercerita. Aku mengangkat gelas susu milikku,
meminumnya sambil mendengarkan. “Aku bicara
dengannya. Dia bilang dia ingin mendekatimu lagi tapi
aku sudah bilang padanya untuk tidak mengganggumu
lagi. Kalau dia masih melakukannya, aku akan
membuatnya berhenti. Aku hanya melakukan tugasku
agar dia tidak mengganggumu lagi. Jadi, jangan
tinggalkan aku begitu saja.”
“Ya,” jawabku singkat.
“Karena itu, aku lempar urusannya kepada Fah. Kupikir
mungkin kalau Fah yang bicara, dia akan sadar.”
“Begitu, ya.”
“Dan akhirnya dia sadar, pikirannya terbuka.”
“Benarkah?” tanyaku sambil menaikkan alis. “Apa yang
dia katakan?”
“Dia bilang dia ingin minta maaf. Dia sadar bahwa yang
dia lakukan itu salah. Ini, lihat saja pesan-pesannya,”
katanya sambil menyerahkan ponselnya padaku. Aku
menunduk untuk melihat pesan-pesan itu. “Tapi kalau
kau ingin aku membuatnya berhenti sepenuhnya, aku
bisa saja melakukannya.”
Aku tersenyum kecil.
“Itu bagus, bukan?”
“Kau mau bicara dengannya?” tanyanya lagi.
“Ah, tidak perlu,” jawabku santai.
“…”
“Dengan adanya John, aku tidak takut apa pun lagi.”
“…Apa maksudmu?”
Orang di depanku memandang dengan bingung,
matanya sedikit menyipit. Aku diam dan tidak
menjawab apa pun, lalu berdiri dan kembali ke tempat
dudukku. Bukan apa-apa, hanya saja seperti yang
kubilang sebelumnya, aku sudah berkonsultasi dengan
Pho. Kalau aku tidak ingin merasakan apapun
terhadapnya lagi, satu-satunya cara adalah melangkah
maju. Dengan saran dari Pho, ditambah pesan yang
kulihat tadi, aku merasa lebih mudah untuk mengambil
keputusan.
Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Aku perlu
mempersiapkan diriku lebih dulu sebelum bertemu
dengannya. Setelah itu, aku bisa benar-benar move on
bersama John.
Aku berjalan mendekati Phoon dan P’Tonfah saat aku
teringat sesuatu. Keduanya menatapku dengan sedikit
bingung.
“Terima kasih,” ucapku.
“Untuk apa?”
“Untuk bicara dengannya. Terima kasih banyak.”
“Oh, tidak apa-apa. Kau sudah baik-baik saja, kan?”
“Sudah, aku baik-baik saja.”
“Bagus. Kalau kau bisa bicara dengannya, itu lebih baik.
Cobalah untuk membuka hati. Dia juga sudah sadar,
jadi kalian berdua bisa melangkah maju. Kalau kau
menerima permintaan maafnya, aku rasa itu akan
membuatmu merasa lebih baik,” kata P’Tonfah.
“Benar, aku juga setuju. Kemarin saat P’Tonfah bicara
dengannya, dia terlihat benar-benar menyesal,”
tambah Phoon. Aku mengangguk sambil tersenyum
kecil.
“Ya, terima kasih. Nanti aku traktir kopi
untuk kalian berdua.”
“Oh, tidak perlu, tidak apa-apa,” jawab
P’Tonfah.
“Tidak apa-apa. Kita saling membantu. Sebenarnya,
kalau ada apa pun yang membuatmu tidak nyaman, kau
bisa cerita kepada kami.”
“Aku sudah cerita ke North,” kataku.
“Kalau begitu kenapa North tidak melakukan apa-apa,
malah menyuruh Phi Arthit?” Phoon bertanya sambil
menoleh ke arah North. Orang yang ditegur itu terlihat
sedikit bingung sebelum akhirnya berseru.
“Aku tidak mau jadi ‘tameng’. Kupikir Phi Arthit akan
berguna,” kata North sambil pura-pura kesal, meskipun
dia masih tertawa. “Salahku sendiri sih, aku pikir dia
bisa diandalkan. Tapi ternyata dia cuma bidak bodoh
dalam permainan ini!”
“Hei, kenapa malah menyalahkanku?” si penjual rokok
berseru. “Bagaimana ceritanya ini malah sampai ke
aku?”
“Kau mau menyalahkan orang yang percaya padamu?
Tidak tahu malu,” ejek Phoon sambil terkikik.
“Kau berharap apa dari orang sepertiku?” si penjual
rokok membalas. “Kalau begitu, kau traktir aku makan.
Aku lapar!”
“Kalau begitu kau akan makan tendanganku nanti!”
jawab North sambil tertawa.
“Kau pikir aku takut?” si penjual rokok menantang, tapi
matanya melirik sedikit ke arah North.
“Takut, lah!” North berkata sambil tertawa, yang diikuti
oleh tawa semua orang di ruangan itu.
Aku memutuskan untuk turun membeli dua minuman
sebagai tanda terima kasih untuk Phoon dan
pasangannya. Kupilih latte dan teh herbal.
“Hei, lalu punyaku mana?” si penjual rokok bertanya
saat melihatku menyerahkan kopi kepada P’Tonfah.
“Aku juga membantu, lho!”
“Kau sudah mendapat gantinya, kan?” jawabku santai.
“Oh, iya juga.”
“Tapi, saat nanti aku bicara dengannya…”
“Kenapa?”
“Kau ikut, ya? Kalau tidak, kau tidak akan mau
melakukannya,” kataku dengan nada setengah
bercanda.
Sebenarnya aku tidak ingin dia ikut. Tapi seperti yang
Pho bilang, aku harus membawa seseorang. Aku tidak
ingin mengganggu orang lain, dan jika dia tidak ikut,
bantuannya akan terasa tidak sepadan, seperti yang
North pernah katakan.
“Baik, baik, aku ikut,” jawabnya.
Chapter 11: Old Song
☆☆☆
Saat aku masih duduk santai bersama semua orang, aku
menoleh keluar ketika mendengar suara hujan. Tak
lama kemudian, hujan pun turun semakin deras seperti
ada badai. Phoon yang duduk di sebelahku bergerak
mendekat, membuatku menoleh padanya. Sepertinya
dia bahkan tidak sadar bahwa tubuhnya sudah
menempel padaku. Ini karena dia biasanya takut petir
dan gelap. Dua hal ini sering terjadi bersamaan saat
hujan turun. Ketika hujan deras, petir menyambar, dan
listrik biasanya padam.
Duaar!
Petir menyambar, dan itu membuat Phoon langsung
melompat memelukku erat. Kedua tangannya gemetar
hebat. Saat itu juga, Phi Fah - pacarnya- bangkit dan
memeluknya untuk menenangkan. Aku memperhatikan
pemandangan hangat itu sejenak sebelum akhirnya
mengalihkan pandangan, merasa itu tidak sopan.
“Shia, Dao!”
“Apa?”
“Apa punya sesuatu yang kau takuti?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Aku penasaran. Kau terlihat begitu tenang terhadap
semua hal di dunia ini.”
“Tidak akan aku beri tahu,” jawabku.
“…”
“Aku yakin kalau aku memberitahu, kau pasti akan
menggunakannya untuk mengusikku nanti.”
“Kenapa kau harus berpikiran buruk begitu?” North,
teman ku, berujar dengan sedikit kesal. “Padahal kau
sendiri sering mengusik kami dengan cerita-cerita
serammu.”
“Kurasa kau suka mendengarkan cerita-cerita itu,
bukan?” kataku. “Kau tahu tidak, aku sampai harus
mendengarkan banyak program cerita horor hanya
untuk memilih cerita yang seram agar bisa kuceritakan
padamu.”
Aku mengatakan ini dengan serius. Ada masa ketika
North sangat terobsesi dengan cerita horor, hingga
mendengarkan program-program tentang itu setiap
hari. Tapi kemudian dia mengeluh karena merasa tidak
ada cerita yang cukup menyeramkan. Jadi, aku ikut
membantu mendengarkannya.
“Jadi itu sebabnya,” jawab North sambil mendengus.
“Oh, ngomong-ngomong, kau ingat waktu kau tiba-tiba
memanggilku ‘Khun’ dan berhenti menggunakan kata
ganti kasar?”
“Apa kau ingin aku kembali menggunakan kata itu?”
“Tidak juga. Tapi ada saatnya kau berubah jadi lebih
sopan dan aku merasa tidak terbiasa dengan itu,” kata
Nong sambil mengeluh. Aku tidak bisa menahan
senyum kecil melihat tingkahnya yang menggemaskan.
“Benarkah begitu, Khun North?” Aku sengaja
menggoda. Hal ini membuat North makin kesal dan
memasang wajah masam.
“Cukup panggil aku North saja,” katanya, kesal.
“Dao, kau sebaiknya tidak perlu mengubah cara
bicaramu,” ujar Ter sambil menoleh padaku.
Aku menatapnya. “Karena sejak awal kau bukan orang
yang suka bicara kasar. Jadi, saat mencoba berbicara
seperti itu, rasanya agak aneh. Sebenarnya, aku tidak
terbiasa dengan itu.”
“Kenapa kau tidak bicara begitu sejak awal?” tanya
North. “Apa di rumahmu cukup ketat soal ini?”
“Bukan begitu,” jawabku sambil menggeleng pelan.
“Aku hanya tidak terbiasa bicara seperti itu. Tapi
sebenarnya aku bisa kok.”
“Coba buktikan.”
“Ai, Shia North!!!”
“Tidak cocok,” North menggeleng sambil tertawa.
“Tidak cocok sama sekali. Saat kau bicara seperti itu,
suaramu terdengar lambat dan lembut. Rasanya seperti
dilempar bunga ke wajahku daripada dihantam
pukulan. Harus lebih garang, tahu?”
“Benarkah? Sayang sekali. Mungkin aku perlu
mencobanya lebih sering supaya terlihat cocok.”
“Tidak perlu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Tidak
usah mencoba bicara kasar seperti North,” kata Ter
sambil mendesah. “Oh, ngomong-ngomong, soal
mantanmu, apa kau sudah baik-baik saja?”
“Sudah,” aku mengangguk. “Dengan adanya Khun John,
aku merasa lebih kuat untuk menghadapi hari-hari ke
depan.”
“Sehebat itu, ya?” North menggoda. “Tapi, aku ingin
mengingatkan satu hal.”
“Apa itu?”
“Ini adalah kata-kata yang temanku gunakan untuk
mengingatkanku waktu aku akan bertemu dengan
mantanku. Jangan lupakan apa yang dia pernah lakukan
padamu. Jangan lupakan betapa kau pernah merasa
terluka.”
“Aku tidak yakin apakah aku bisa memaafkannya,” aku
mendesah pelan sambil mencoba mengingat berbagai
kejadian. “Aku sangat marah dengan apa yang dia
lakukan, bukan hanya dia, tapi juga teman yang
mengkhianatiku. Mereka meminta maaf sekarang, tapi
apa mereka sadar betapa buruknya perasaanku saat
itu?”
“…”
“Waktu itu aku sangat sedih, sangat terpuruk. Karena
itu, sekarang aku memilih untuk lebih santai.”
“…Omong kosong apa ini?” North tertawa terbahak-
bahak bersama Ter, membuatku juga ikut tertawa
tanpa sadar.
“Apa-apaan ini? Aku sudah serius mendengarkan,
kupikir akan jadi cerita yang bermakna.”
“Bagaimana dengan bagian tadi?” tanyaku.
“Bagus, kau memang muridku yang hebat,” North
menepuk pundakku keras-keras.
“Tidak, Dao, kau tidak boleh bercanda seperti itu,” Ter
menggelengkan kepala sambil tertawa.
“Satu North saja sudah cukup. Dia selalu merusak
suasana dengan caranya sendiri.”
“Berhenti tertawa, North. Aku tidak bercanda seburuk
itu,” kataku sambil melihat North yang tertawa sampai
terbaring.
“Aku ini mudah tertawa, beri aku waktu,” katanya
sambil mengusap air mata karena tertawa terlalu keras.
“Itu sangat lucu karena caramu melakukannya.
Wajahmu datar sekali.”
“Kenapa kau mudah sangat receh, North?”
“Tidak tahu. Itu terjadi begitu saja. Hal kecil pun bisa
membuatku tertawa. Aku pernah duduk melihat burung
selama satu jam dan tertawa terus.”
Kata-kata North membuatku mengerutkan kening,
bingung dengan tingkahnya. “Burung itu lucu, kau tahu?
Mereka adalah makhluk dengan tingkah yang sangat
lucu. Coba kau perhatikan.”
“Suatu saat nanti, aku akan mencoba memperhatikan
burung,” kataku.
“Jangan, Dao. Menurutku itu buang-buang waktu.
Jangan terlalu percaya pada kata-katanya,” kata Ter.
“Kau selalu membantahku,” North memandang Ter
dengan tidak puas. …
….
Pada malam yang penuh hujan deras, sekitar jam tiga
dini hari, di kafe yang biasa kami kunjungi, aku merasa
seperti sudah menyerah pada nasib di usiaku yang baru
dua puluh dua tahun. Aku tewas secara tragis di atas
tumpukan catatan kuliah yang sudah kubaca dua kali
dan harus kubaca ulang agar tidak gagal di ujian.
Rasanya seperti aku harus mempertaruhkan hidupku
demi nilai.
Aku ingat saat masih di tahun pertama kuliah, teman-
temanku, Fah dan Hill, mendapatkan nilai tinggi tanpa
harus belajar mati-matian seperti sekarang. Tapi
sekarang, meskipun belajar hingga lelah, hasilnya masih
belum cukup memuaskan. Terlalu sulit. Kesulitan seperti
ini tidak pantas diajarkan pada manusia.
Kenapa saat di tahun pertama aku tidak sadar lebih
awal? Kalau aku sadar waktu itu, aku mungkin bisa
memilih jurusan yang lebih ringan. Sekarang, di tahun
keempat, aku sudah tidak bisa mundur lagi. Awalnya aku
memilih jurusan kedokteran karena janji yang pernah
kubuat pada ibu waktu kecil. Tapi sekarang, aku yakin
ibuku akan mengerti.
Kalau aku mendengarkan peringatan Derek dari awal,
aku pasti tidak akan berada dalam situasi ini. Dia sudah
memberitahuku kalau kedokteran itu berat, tapi aku
keras kepala. Aku pikir aku pasti bisa melewatinya. Tapi
sekarang, rasanya aku hampir menyerah.
“Fah, dimana Fah?” Aku mendongak mencari Fah, tapi
dia tidak ada di mejanya.
“Dia bersama Phoon,” jawab Joe. Aku melihat Fah di
sudut ruangan, membaca buku sambil memeluk
istrinya. Dunia ini hanya milik mereka berdua. Betapa
manisnya.
“Hill,” panggilku. “Bisa bantu aku sebentar?”
Aku lalu duduk di sebelah Hill. Kami punya cara belajar
yang unik. Fah mengajariku, sedangkan Hill mengajari
Joe. Alasannya, aku lebih mudah memahami penjelasan
Fah, sementara Joe lebih cocok dengan cara Hill
menjelaskan.
Setengah jam kemudian, kami semua mulai kelelahan.
Tidak hanya karena kurang tidur, tapi juga karena otak
kami dipaksa bekerja terlalu keras. Kami sangat lelah,
dan besok kami harus ke bangsal lagi.
Aku memandang keluar, melihat bahwa hujan masih
belum berhenti, bahkan tidak ada tanda-tanda akan
reda. Rasanya hujan ini akan terus turun sampai tahun
depan. Kami mulai berkemas untuk pulang.
“Phi Thit,” panggil istri Joe, mendekat ke arahku.
“Tolong antar temanku pulang, ya?”
“Hah?”
“Dia tinggal di apartemen yang sama dengan Phi. Dia
bawa motor, tapi hujan.”
“Baik, baik,” jawabku tanpa berpikir panjang, lalu
mengikuti mereka turun ke lantai bawah menuju
tempat parkir. Anak berambut biru dari kamar sebelah
berjalan di belakangku dengan tenang tanpa banyak
bicara.
“Kau bisa mengendarai mobil, kan?” tanyaku.
Dia mengangguk. “Bisa.”
“Kalau begitu, kau yang menyetir. Aku terlalu lelah,”
kataku sambil menyerahkan kunci. Dia menerimanya
dengan raut wajah sedikit bingung, tapi aku tidak
memberi kesempatan baginya untuk menolak. Aku
langsung masuk ke kursi penumpang dan
menyandarkan diri, mencoba tidur sebisa mungkin.
“Kendarai dengan hati-hati. Mobilku tidak murah,”
kataku. Aku memang sangat menyukai mobil ini,
meskipun aku tidak terlalu pelit soal orang lain
menyentuhnya. Hanya saja, aku tidak ingin mobilku
menjadi penyebab masalah.
“Ya,” jawabnya singkat.
☆☆☆
Aku menatap pemilik mobil sport hitam itu dengan
bingung. Dia tampaknya langsung tertidur di kursi
penumpang. Aku memandang kunci di tanganku lagi,
lalu naik ke kursi pengemudi. Saat aku sedang
memeriksa kaca spion dan mengatur posisi kursi, North
datang mengetuk kaca. Aku menurunkan kaca dan
melihat ke arahnya.
“Kenapa kau yang menyetir?”
“Dia bilang dia mengantuk.”
“Oh, baiklah. Kau yakin bisa menyetir, kan?”
“Kurasa bisa.”
“Hati-hati, ya. Mobilnya sangat kencang. Sentuh gas
pelan-pelan saja.” “Ya.”
“Ini sudah larut malam dan hujan deras. Berkendaralah
dengan baik,” North memperingatkan lagi sebelum
kembali ke mobil Phi-nya. Aku menyesuaikan posisi,
mengenakan sabuk pengaman, dan memulai
perjalanan.
Sebelum memulai, aku menyambungkan ponselku ke
monil untuk memutar lagu favoritku. Aku memilih salah
satu dari daftar putar, lalu mulai berkendara dengan
kecepatan pelan, sekitar 30-40 km/jam, karena kondisi
jalan yang gelap dan licin.
Walaupun aku sedikit bingung, menyetir mobil di
jalanan yang sepi dengan hujan deras sambil
mendengarkan musik ternyata cukup menyenangkan.
Tidak, bukan hanya menyenangkan, aku sangat
menyukainya.
“Kau memutar lagu apa ini?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Dia yang baru saja
bangun tampak tidak puas. Mungkin dia tidak suka
dengan musik yang kumainkan.
“Mau kuganti lagunya?” tanyaku. Bagaimanapun
juga, ini mobilnya. “Tidak perlu.”
“Baiklah.”
“Hanya saja aku terkejut. Ini lagu lama. Tidak
menyangka masih ada yang mendengarkannya.”
“Kau tahu lagu ini?”
“Ya,” jawabnya, sebelum membalikkan badan sedikit
dan kembali tertidur. Aku juga merasa terkejut. Lagu ini
sangat lama, dan jarang sekali aku menemukan orang
yang mengenalnya. Aku melanjutkan perjalanan dengan
pelan sambil membiarkan musik dan suara hujan
mengisi kesunyian.
Awalnya aku mengira tikungan berikutnya akan
membawa kami ke apartemen, tapi ternyata aku salah
jalan. Aku menyadari ini setelah kami muncul di tempat
yang asing. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan
untuk membuka ponsel dan mencari rute kembali.
“Sudah sampai?” Dia terbangun dan bertanya sambil
melihat sekeliling. Setelah menyadari tempat itu bukan
apartemen, dia terlihat bingung.
“Tidak, aku tersesat.”
“Bagaimana bisa?”
“Apa kau tahu jalan kembali?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia menegakkan kursi
dan menggosok wajahnya dengan kedua tangan, seolah
mencoba membangunkan dirinya.
“Ayo kita coba belok di depan,” katanya.
“Baiklah,” jawabku, lalu menutup ponsel dan
melanjutkan perjalanan.
“Jangan tidur dulu. Beritahu aku jalan,” kataku, karena
aku benar-benar tidak tahu arah. Jika tidak ada yang
memberitahu, kami bisa tersesat lebih jauh.
“Kau mengendarai mobil pelan sekali,” dia mengeluh.
“Tiga puluh atau empat puluh kilometer per jam? Aku
belum pernah mengendarai mobil sepelan itu seumur
hidupku.”
“Ya.”
“Biar aku saja yang mengemudi. Kalau tidak, kita tidak
akan sampai hari ini.”
“Tidak,” jawabku.
“Kenapa?”
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Alasanku tidak
membiarkan dia menyetir adalah karena menurutku itu
terlalu berisiko. Dia suka menyetir cepat, dan aku
merasa itu bisa berbahaya dalam kondisi ini. Aku juga
ingat, aku tidak bisa mati sekarang. Aku masih punya
Khun John.
Aku sampai di sebuah titik putar balik dan memutar
mobil kembali ke jalur yang benar.
“Setelah melewati dua lampu merah, belok kiri,”
katanya, sebelum kembali tertidur.
Akhirnya, kami tiba di apartemen setelah menempuh
perjalanan panjang. Meski begitu, hujan masih belum
berhenti. Aku memarkir mobil, lalu
membangunkannya.
“Kita sudah sampai,” kataku. Dia perlahan membuka
mata, keluar dari mobil, dan berjalan menuju lift
bersamaku. Kami naik ke lantai tujuh dan masuk ke
kamar masing-masing. Aku langsung mandi dan bersiap
tidur, mengingat aku harus bertemu Khun John
beberapa jam lagi.
Aku bangun pagi-pagi dengan penuh semangat karena
menantikan kedatangan Khun John. Aku bahkan
membersihkan kamarku untuk menyambutnya. Dad
menelepon dan mengatakan bahwa mereka akan
segera tiba, yang membuatku semakin bersemangat.
Tidak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu. Aku
segera membukanya.
“Halo,” kata seseorang sambil tersenyum padaku. Aku
menatapnya, lalu tersenyum kembali dan memeluknya
dengan penuh rasa rindu. Kemudian, aku mengambil
kotak di tangannya dan membawanya masuk.
“Khun John~”
Aku menatap Khun John yang berada di dalam kotak.
Aku membawa kotaknya masuk ke dalam kamar,
membukanya, dan membantu Khun John keluar. Aku
tidak terlalu memperhatikan Dad yang sudah duduk di
lantai, ikut memperhatikanku.
“Khun John, kau lelah sekali ya selama perjalanan?”
tanyaku dengan suara lembut, memandang Khun John
yang perlahan keluar dari kotak dan melihat-lihat
kamarku. “Ini kamar baruku. Aku membelinya agar kita
bisa tinggal bersama.”
“Kau melupakan Dad, ya,” Ayahku berkomentar. Aku
menoleh padanya. Aku biasa berbicara dengan Dad
dalam bahasa Inggris karena dia tidak terlalu lancar
berbahasa Thai.
“Khun. John tambah berat, kan?”
“Apa itu Dad, atau itu ulah Pho?” tanyaku.
“Bukan Dad. Aku tidak punya waktu untuk itu,”
jawabnya. Dad selalu memanggil ayahku dengan nama
saja, begitu juga sebaliknya. Itu mungkin karena mereka
pasangan, jadi itu biasa.
“Berapa lama Dad akan tinggal di Chiang Mai?”
“Dua atau tiga hari. Ada restoran yang kau
rekomendasikan? Aku ingin mencoba makanan lokal.”
“Aku jarang makan di luar. Dad bisa cari di internet.”
“Kau tidak makan lagi, ya?” Dad mulai mengomel.
“Sama seperti Pho-mu, kenapa kalian tidak mau
mendengarku?” katanya, sambil mulai bangkit dan
melihat-lihat kamar baruku. Aku kembali memusatkan
perhatian pada Khun John. Dia begitu lembut dan
menggemaskan.
“Kamar ini luas dan tinggi,” Dad berkomentar sambil
menyentuh bagian atas pintu kamar mandi. “Biasanya
kepalaku hampir menyentuh pintu.”
“Kau selalu punya masalah dengan tinggi badan,”
kataku. Dad memang sangat tinggi. Bahkan, meskipun
Pho juga tinggi, jika dibandingkan dengan Dad, dia
terlihat kecil.
Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, Dad adalah
orang Inggris. Kalau ditanya soal penampilan atau
kepribadian, Dad adalah seseorang yang sangat
menarik. Dia juga rajin pergi ke gym untuk berolahraga.
Pekerjaannya adalah sebagai kepala tim yang
bertanggung jawab dalam merancang sistem perangkat
lunak di sebuah perusahaan besar yang memiliki
cabang di Thailand. Sedangkan, Pho adalah konsultan
hukum yang mengurus masalah bisnis dan transaksi
keuangan.
Aku sudah menceritakan hal ini kepada teman-temanku.
Fakta bahwa Pho memiliki pasangan pria tidak pernah
menjadi masalah bagiku. Aku juga tidak peduli
bagaimana orang lain memandang keluarga kami.
Namun, aku sangat berterima kasih jika mereka tidak
menganggap ini aneh, karena Pho cukup sensitif soal
itu.
Kalau soal Mae, dia juga sudah menikah lagi, dengan
pria yang baik. Mae dan Pho bercerai karena merasa
cinta mereka tidak bisa dilanjutkan lagi. Tapi, mereka
tetap menjalankan peran sebagai orang tua yang baik,
meskipun keduanya sudah memulai hidup baru dengan
pasangan masing
masing. Mereka masih saling berkomunikasi untuk
membahas tentangku.
Aku memilih tinggal dengan Pho saat mereka bercerai,
karena aku ingin tinggal dengan Nenek. Aku juga
berpikir bahwa jika aku ikut Mae ke keluarga barunya,
itu akan menjadi beban. Aku tinggal dengan Pho
cukup lama, hanya kami berdua, sampai akhirnya Dad
hadir dalam hidup kami. Aku bisa merasakan
bagaimana Pho merasa khawatir kalau aku tidak bisa
menerima kenyataan bahwa dia memiliki pasangan
pria.
Namun, setelah kami bicara dari hati ke hati, semuanya
menjadi lebih baik. Aku menghormati cinta mereka dan
membuka hati untuk menerima Dad sebagai bagian dari
keluarga kami. Dad adalah sosok ayah yang sangat baik.
Dia lembut dan mencintaiku seperti anak kandungnya
sendiri.
Dad bercerita bahwa pertama kali bertemu Pho di
sebuah kafe di tengah kota London. Kebetulan mereka
duduk di meja yang berdekatan, dan Dad tahu bahwa ia
hanya memiliki beberapa menit untuk mengajak Pho
berbicara sebelum kesempatan itu hilang. Awalnya, Pho
menolak karena sudah memiliki anak, tapi Dad tetap
gigih mendekati Pho selama satu tahun penuh sampai
akhirnya Pho luluh.
Ini adalah kisah yang cukup romantis, tentang cinta
pada pandangan pertama yang terjadi di sebuah kafe
London pada pagi hari yang ramai. Mengapa harus Pho,
padahal ada banyak orang di kafe itu? Mengapa Dad
merasa terhubung dengan Pho sejak pertama kali
mereka saling pandang? Padahal, setiap hari di kota
besar ini, ada begitu banyak orang yang saling bertatap
mata.
“Michael,” panggil Dad. Dia selalu memanggilku Michael
karena aku mengatakan bahwa itu namaku. Selain itu,
nama itu memang lebih mudah dipanggil.
“Ya?”
“Pho bilang bahwa Kram akan kembali. Itu benar, ya?”
“Ya, benar. Ada apa?”
“Dad tidak percaya padanya.”
“…Ya.”
“Pho sudah mengatakan, kalau kau akan bertemu
dengannya, jangan pergi sendirian.”
“Ya.”
“Kau akan membawa teman, kan?”
“Bukan teman… tapi Phi dari kamar sebelah. Kami
punya sedikit kesepakatan.” Jawabanku membuat Dad
mengerutkan kening.
“…”
“Eh, Dad.”
“Ada apa?”
“Aku akan pergi ke California, kalau ada waktu. Mungkin
sekitar bulan depan saat libur semester.”
“Liburan?”
“Bukan, ini bagian dari kesepakatan dengan senior itu.
Aku akan membantunya.” Aku mencoba menjelaskan.
“Dad tahu, kan, aku bisa merasakan arwah? Seperti…
arwah orang yang sudah meninggal.”
“Ya, aku tahu.”
“Aku akan membantunya mencari ibunya yang sudah
tiada.”
“Hmm… Kau yakin dia bisa dipercaya?” Dad tampak
khawatir. Tidak aneh, karena dia tidak percaya pada
hal-hal seperti arwah atau roh. “Kenapa harus
California?”
“Itu tempat asalnya.”
“Di mana tepatnya? Los Angeles? San Francisco?”
“Aku tidak tahu. Aku belum bertanya.”
“Tanyakan nanti, ya? Dad tahu kau bisa menjaga dirimu,
tapi Pho pasti khawatir. Kau tahu itu, kan?”
“Ya,” aku mengangguk. “Aku akan memberitahu Pho
nanti.”
Aku bermain dengan Khun John dan berbincang santai
dengan Dad, menikmati momen reuni kami setelah
sekian lama tidak bertemu. Dad tetap berada di
kamarku, menungguku untuk pergi makan malam
bersama.
….
….
Aku terbangun dengan susah payah mendengar suara
alarm. Rasanya seperti baru saja tertidur sebentar, tapi
tubuhku sudah mulai terbiasa bangun di pagi hari. Aku
bangkit dari tempat tidur, mandi, dan berpakaian. Saat
aku hendak keluar kamar, aku baru sadar bahwa kunci
mobil yang kupakai tadi malam hilang.
Ke mana kuncinya?
Ah, aku ingat sekarang. Tadi malam—atau lebih
tepatnya dini hari—aku meminjamkan mobil kepada
anak dari kamar sebelah untuk mengantarku pulang.
Dia yang menyetir karena aku terlalu lelah.
Aku berjalan menuju kamarnya dan mengetuk pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka, tapi yang
membukanya bukan dia. Orang yang berdiri di depanku
adalah pria asing yang tidak kukenal, dengan tinggi
badan hampir sama denganku, jelas bukan orang
Thailand.
“Apa yang kau perlukan?” tanya pria itu dalam bahasa
Inggris dengan aksen British yang kental. Sebelum aku
sempat menjawab, terdengar suara dari dalam kamar.
“Siapa itu, Dad?” Dan si anak dari kamar sebelah keluar
sambil menggendong seekor kucing. Dia melihatku
berdiri di depan pintu. “Ah, kau ingin mengambil
kuncimu, ya?”
“Ya.”
“Maaf, aku lupa mengembalikannya. Aku ngantuk tadi
malam,” katanya, lalu berjalan mengambil kunci mobil
dan menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya dan
pergi tanpa berkata apa-apa.
Dad?
Ditambah lagi dia adalah orang Inggris.
Dia ini campuran, ya?
Atau, kalau bukan… dia pasti ‘Daddy’, kan?
Kau tahu, bukan Daddy dalam arti ayah!
Hei, ini mulai menarik. Anak ini sepertinya bukan orang
biasa.
Setelah kembali ke kamar, aku mencoba tidak terlalu
memikirkan siapa pria asing tadi. Aku mempersiapkan
barang-barangku untuk kegiatan hari ini di bangsal. Tapi
tetap saja, pikiranku sesekali kembali pada pertemuan
tadi pagi.
Anak ini… Dia memang sudah menarik perhatianku sejak
awal. Bukan hanya karena kepribadiannya yang tenang,
tapi juga bagaimana dia bisa begitu berbeda dari orang-
orang lain yang pernah kutemui. Dan sekarang, aku
menemukan fakta baru tentang dia yang semakin
membuatku penasaran.
Tapi, aku segera menyingkirkan pikiran itu. Aku harus
fokus pada hariku yang panjang di bangsal.
Ketika aku sampai di bangsal, teman-temanku sudah
berkumpul. Kami memulai aktivitas kami dengan diskusi
kasus. Meski aku masih merasa sedikit lelah karena
kurang tidur tadi malam, aku berusaha untuk tetap
mengikuti diskusi dengan baik.
Hari berlalu seperti biasa, dengan berbagai tugas yang
harus diselesaikan. Tapi di tengah-tengah rutinitas itu,
bayangan tentang apa yang kulihat pagi tadi terus
muncul dalam benakku.
Setelah seharian di bangsal, aku kembali ke apartemen
dalam kondisi lelah. Hujan masih turun seperti biasa,
menambah suasana dingin yang membuatku semakin
ingin segera beristirahat.
Sesampainya di kamar, aku duduk sebentar di sofa
sambil memikirkan hal hal yang terjadi hari ini. Namun,
pikiranku kembali melayang ke kejadian pagi tadi. Aku
mencoba mengingat-ingat detailnya, mulai dari pria
asing itu hingga percakapan singkat dengan anak dari
kamar sebelah.
Sikapnya, caranya bicara, dan bagaimana dia terlihat
sangat nyaman dengan pria yang jelas-jelas bukan
orang Thailand itu, membuatku semakin yakin bahwa
ada sesuatu yang menarik tentang kehidupannya. Tapi
aku tahu, ini bukan urusanku.
Malam itu, aku mencoba untuk mengalihkan pikiranku
dengan menonton acara TV dan menyelesaikan
beberapa tugas yang tertunda. Namun, rasa penasaran
itu tetap ada, seperti bisikan kecil yang terus-menerus
menggangguku.
Malam itu aku memutuskan untuk tidur lebih awal,
berharap rasa lelahku akan hilang dan aku bisa bangun
dengan tubuh yang segar. Namun, tidurnya tidak terlalu
nyenyak karena suara hujan yang terus mengguyur
sepanjang malam.
Keesokan paginya, aku kembali ke rutinitas. Kuncinya
tetap sama: bangun pagi, pergi ke bangsal,
menyelesaikan tugas, dan kembali ke apartemen di
malam hari. Hari-hari berlalu dengan cepat, meskipun
suasananya tetap monoton.
Anak dari kamar sebelah sesekali kutemui, biasanya
ketika kami saling berpapasan di lorong atau lift. Tidak
banyak yang berubah, dia tetap pendiam, dengan
tatapan tenang yang sulit ditebak. Pria asing yang
kupikir adalah ayahnya sudah tidak terlihat lagi.
Suatu malam, aku sedang duduk di balkon kecil
apartemenku, menikmati udara malam sambil memutar
musik di ponselku. Tiba-tiba, suara ketukan pelan di
pintu balkon mengejutkanku. Ketika aku menoleh, anak
itu berdiri di balkon kamarnya, melambaikan tangan
pelan ke arahku.
“Kau punya waktu?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Ada apa?”
“Boleh aku masuk?”
Aku sedikit terkejut, tapi aku mengangguk lagi dan
membukakan pintu untuknya. Dia membawa sebuah
buku catatan kecil bersamanya.
“Aku hanya ingin bicara sebentar,” katanya, sambil
duduk di kursi yang biasanya kugunakan. “Aku rasa aku
butuh seseorang untuk mendengarkan.”
“Kenapa aku?” tanyaku, penasaran.
Dia mengangkat bahu. “Karena kau berbeda. Kau tidak
menghakimi. Kau hanya… mendengarkan.”
Malam itu, dia bercerita panjang lebar. Tentang
keluarganya, tentang kehidupannya, tentang segala hal
yang selama ini dia simpan sendiri. Aku mendengarkan
tanpa menyela, dan untuk pertama kalinya, aku merasa
bahwa ada lebih banyak hal dalam dirinya daripada
yang terlihat di permukaan.
Ketika dia selesai bercerita, dia menatapku dengan
senyum tipis. “Terima kasih,” katanya.
Aku hanya mengangguk, merasa bahwa mungkin malam
ini, aku telah menjadi teman yang dia butuhkan.
Chapter 12: What’s part is part
Aku bahkan tidak sadar waktu telah berlalu sejauh ini.
Masa ujian seperti perjalanan melintasi waktu. Aku
hanya membaca buku, ujian, membaca lagi, dan ujian
lagi. Terus berputar seperti ini sampai aku hampir tidak
memperhatikan waktu. Yang kutahu hanya apa yang
harus kubaca hari ini dan apa yang harus kuhadapi di
ujian esok lusa. Jujur saja, aku bahkan tidak begitu tahu.
Semua ini karena Fah yang selalu menyusun jadwal, lalu
memberitahuku kapan harus pergi ujian, dan aku hanya
mengikuti saja.
Ujian, pulang ke asrama, membaca lagi, lalu ujian.
Begitu terus sampai seperti siklus yang sangat
membosankan.
Siapa bilang jadi dokter itu tidak bisa tidur? Aku bahkan
bisa tidur sampai tiga jam! Siapa yang bisa tidur lebih
lama dariku?
Ah, ada sesuatu yang mengganggu disini...
"Jangan ganggu dia, Thit," kata Fah memperingatiku
saat aku sedang menggoda George, anjing fakultas
kami. Kenapa dia jadi anjing tapi masih bisa tidur lebih
lama dariku? Sebentar lagi, akan kubalas dia.
Kalau soal menendang anjing dan mengolok-olok orang,
aku ahlinya!
"Aku akan menaruh racun nanti," ancamku sambil terus
mengganggu George, mencubit telinga, pipi, dan
kakinya. Dia hanya membuka matanya sebentar, lalu
tidur lagi seolah tidak peduli. Mungkin dia sudah bosan
denganku. Aku sering menggoda dia sejak pertama
masuk fakultas ini. Kadang kalau dia melihatku, dia
bahkan memilih jalan lain untuk menghindar. Dasar
anjing! Lihat saja, akan kutarik telinganya!
"Mengabaikanku? Berani sekali, anjing itu!"
"Teman kita sepertinya mulai bicara dengan anjing
sekarang," kata Joe sambil menghela napas saat
mereka menungguku selesai menggoda George. "Ayo
pergi, aku lapar."
"Baiklah," jawabku sambil berdiri. Aku tidak bisa
menahan diri untuk tidak menyentuh perut George
yang gemuk itu dengan kakiku. Anjing sialan, hidupnya
enak sekali, makan tidur sampai gemuk begitu. Aku
benar-benar iri padanya. Sial, bagaimana aku bisa
sampai iri pada anjing?
Kami akhirnya pergi makan siang bersama sambil
menunggu ujian sore. Setelah ujian selesai, aku kembali
ke asrama untuk tidur lagi. Sekitar pukul delapan
malam, aku bangun dari "kematian" dengan perasaan
segar, lalu keluar untuk merokok di balkon. Sejujurnya,
kalau ada waktu, aku mungkin sudah menonton film
dewasa untuk menghilangkan stres, tapi aku tidak
punya waktu. Sepuluh menit lagi aku harus pergi ke kafe
itu lagi.
Kafe itu, bagiku, seolah neraka. Otakku sudah terlalu
lelah dengan tempat itu. Kalau pergi ke sana, berarti
harus belajar. Bahkan hanya lewat saja pun aku tidak
mau, apalagi kalau tidak ada ujian.
Aku melihat anak berambut pirang di balkon sebelah
sedang menggendong kucingnya. Aku sudah melihat
kucing itu sebelumnya. Kucing hitam, dengan satu mata
buta, dan wajahnya terlihat sangat menyebalkan.
Melihatnya saja membuatku ingin mencubit telinganya.
Tunggu, kenapa aku jadi seperti ini? Setiap melihat
anjing atau kucing, aku selalu ingin mencubit
telinganya!
"Hei, bulu telinga kucing itu memang lembut sekali,
tahu," pikirku sambil tertawa kecil pada diri sendiri.
Aku berdiri di sana beberapa saat sebelum suara anak
itu memanggilku. "Hei."
"Apa?"
"Liburan hampir tiba."
"Oh, ya." Aku mengangguk pelan, mengerti maksudnya.
Percakapan terakhir kami adalah tentang rencana
kembali ke kampung halamanku setelah ujian selesai.
Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkannya karena
fokus pada ujian yang terus menumpuk. "Aku masih ada
ujian tiga hari lagi."
"Oke. Beri tahu aku nanti."
"Iya." Setelah itu, aku menghisap rokokku satu linting
lagi sebelum kembali ke kamar untuk mempersiapkan
diri belajar.
Hidup ini melelahkan. Aku benar-benar
tidak ingin belajar lagi! ———
Aku membuka aplikasi Line setelah ada notifikasi masuk.
Ada grup Line berisi empat orang, termasuk aku. Grup
itu jarang digunakan karena kami tidak tahu apa yang
harus dibicarakan. Aku mematikan notifikasi semua
obrolan grup karena menurutku itu mengganggu.
Tetapi, sepertinya seseorang telah menandai aku di
grup.
Fah: @Johan @Hill.
Fah: "Nilai ujian kemarin."
Johan: "Nilainya buruk sekali, sial!"
Hill: "Berapa nilainya?"
Johan: "Aku akan menangis untuk Thit."
Fah: "Kau sudah lihat nilaimu?"
Johan: "Belum."
Fah: "Kalaupun tidak lihat, nilainya tidak
akan buruk, kan?"
Hill: "12/50."
Arthit: "Aku juga dapat segitu, sialan!”
Johan: "Kau akan keluar dari kelas?"
Arthit: "Tidak."
Fah: "Yakin?"
Arthit: "Aku tetap akan melanjutkan
meskipun dapat nilai 0."
Fah: "Kau pasti sangat percaya diri."
Johan: "Aku juga tidak akan keluar."
Johan: "Siapa tahu di ujian akhir
dapat nilai penuh."
Hill: "Berharap pada
keberuntungan, hah?"
Johan: "Ya, harapan terakhir."
Fah: "Thit, kau sudah berangkat?"
Arthit: "Sebentar lagi."
Johan: "Beli gorengan di ujung jalan, ya."
Arthit: "Jangan pesan padaku, kita sudah tidak
ada hubungan lagi."
Johan: "Ada apa denganmu?"
Arthit "Aku tidak bercanda. Aku tidak akan beli."
Johan: "Ayolah, serius, sialan!"
Johan: "Kau tahu aku hanya setia pada Hill."
Hill: "Oh, aku jadi malu."
Hill: "Malu pada ayahmu, maksudnya!!"
Johan: "Lelucon ini tidak lucu sama sekali."
---
Aku menutup aplikasi Line setelah melihat pesan-pesan
mereka. Grup itu dulunya bernama "Med," singkatan
dari Medicine, sesuai jurusan kami. Tapi beberapa
waktu lalu, Joe mengganti nama grup menjadi sesuatu
yang menunjukkan kebosanan kami pada hidup
mahasiswa kedokteran.
Saat aku hampir menutup ponsel, aku melihat pesan
dari Kram, seseorang yang sudah lama tidak kulihat
pesannya karena aku mematikan notifikasinya. Ada
puluhan pesan yang belum kubaca.
Aku mulai membaca pesan-pesan Kram yang
terabaikan itu satu per satu.
: "Hei."
: "Thit."
: “Aku akan naik pesawat sekarang."
: "Kenapa kau belum menjawabku?"
: “Untuk apa kau memberitahuku?"
: "Baca pesan sebelumnya."
: “Baiklah, aku ulang. Aku akan kembali ke Thailand."
: "Beritahu Dao, ya."
: "Tolonglah, Dao mungkin belum membuka
blokirku."
: "Kenapa masih diblokir? Bukankah dia
bilang ingin bicara."
: "Kenapa cepat sekali? Bukannya kau bilang
dua bulan lagi?"
: "Ini sudah dua bulan, kan?"
: "Oh, begitu."
Aku hanya mendengus kecil. "Jadi
mantanmu akan pulang, ya." "Secepat itu?"
Pesan terus berlanjut. Aku membaca sambil berjalan-
jalan kecil di kamar, mencoba menenangkan pikiranku
yang sudah lelah oleh ujian. Kram, dengan segala
dramanya, mencoba membuatku ikut campur dalam
urusannya.
Namun, aku tetap fokus pada tujuanku—
mempersiapkan diriku untuk ujian berikutnya.
Beberapa hari setelahnya, aku mendapati diriku duduk
di kafe fakultas. Ujian selesai, dan ini adalah satu-
satunya waktu aku bisa sedikit bernapas. Di luar
jendela, aku melihat orang-orang berlalu-lalang.
Aku tidak punya teman dekat di fakultas ini. Biasanya,
aku bekerja sendiri, bahkan sejak awal masuk
universitas. Aku juga tidak mengikuti kegiatan orientasi
mahasiswa baru. Karena itu, beberapa teman
seangkatan tidak terlalu menyukaiku, terutama ketua
angkatan. Tiap kali bertemu, dia selalu memandangku
dengan pandangan merendahkan.
Aku dan North seperti dua kutub yang berbeda. North
adalah orang yang ramah dan mudah bergaul. Dia
punya banyak teman, mungkin bahkan mengenal
semua orang di kampus. Kadang aku penasaran,
bagaimana rasanya menjadi seseorang seperti North,
selalu tersenyum dan membawa kebahagiaan bagi
orang lain. Tapi aku tahu, aku tidak bisa seperti itu.
---
Aku kembali ke kamar dan mencoba menenangkan
pikiranku. Ujian telah selesai, tapi entah kenapa aku
merasa energiku sudah habis. Bahkan untuk berpikir
pun terasa melelahkan.
Beberapa hari berlalu, aku mencoba fokus pada hal-hal
kecil seperti menggambar atau membaca manga untuk
mengalihkan perhatian. Aku bukan tipe orang yang
sering aktif di media sosial. Akun Facebook hampir tidak
pernah kubuka, hanya sesekali mengunggah karya seni
di halaman khusus. Instagramku pun hanya diisi dengan
gambar-gambar serupa.
Ketika aku tengah membaca manga, sebuah pesan dari
Phi di kamar sebelah muncul di ponselku:
"Kram sudah kembali. Kau sudah
berbicara dengannya?" Aku
menjawab singkat, "Belum."
"Apa kau akan menemui dia?"
"Entahlah," jawabku.
Namun, aku tahu bahwa pertemuan itu tidak bisa
dihindari. Kram, dengan segala kesalahannya di masa
lalu, adalah bagian dari cerita yang ingin kututup untuk
selamanya.
---
Hari pertemuan itu tiba. Aku mengendarai motor
menuju lokasi yang telah disepakati, sebuah kafe kecil
di sudut kota. Aku tiba lebih awal, memesan minuman,
dan duduk menunggu. Beberapa menit kemudian, Kram
masuk, wajahnya sedikit gugup.
Dia terlihat berbeda dari terakhir kali kami bertemu tiga
tahun lalu. Penampilannya lebih dewasa, dan dia
memakai kemeja yang dulu sangat dia benci. Aku
hampir tidak mengenalinya.
"Halo," katanya sambil tersenyum kecil.
Aku membalas dengan anggukan pelan. "Apa kabar?"
"Baik, meskipun tidak sepenuhnya," jawabnya dengan
mengangkat bahu.
Aku mengamati dia dengan saksama. Aku tidak tahu
harus berkata apa. Kenangan masa lalu tiba-tiba muncul
kembali, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang.
Kami duduk saling berhadapan. Dia memulai
percakapan dengan basa basi, tapi aku memotongnya.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanyaku.
Kram menghela napas panjang sebelum mulai berbicara.
Dia mengakui semua kesalahan yang pernah dia
lakukan padaku—memanfaatkan kepercayaanku,
mengambil uangku, dan bahkan mengkhianatiku. Dia
meminta maaf dengan tulus, tapi aku hanya
menatapnya dengan tenang.
"Kram, aku tidak bisa memaafkanmu," kataku dengan
suara pelan tapi tegas. "Semua yang kau lakukan terlalu
menyakitkan."
Aku menjelaskan padanya bahwa aku telah kehilangan
banyak hal karena perbuatannya. Kepercayaanku, rasa
hormatku pada cinta, bahkan sebagian dari diriku
sendiri. Dia mendengarkan dengan wajah penuh
penyesalan, tapi aku tahu bahwa penyesalan itu tidak
akan mengubah apa pun.
Setelah mengungkapkan semua yang kupendam selama
ini, aku berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Kau bisa menyesal seumur hidup, tapi aku tidak akan
pernah memaafkanmu," kataku.
Dia tampak terkejut, tetapi tidak membantah.
Aku bangkit dari kursiku dan menatapnya untuk terakhir
kalinya. "Aku berharap yang terbaik untukmu, tapi
tolong jangan pernah menghubungiku lagi."
Aku meninggalkan kafe dengan hati yang terasa lebih
ringan. Akhirnya, aku bisa melepaskan semua rasa sakit
yang selama ini kupendam.
Aku meninggalkan kafe dengan perasaan lega, tetapi
tidak sepenuhnya puas. Dalam perjalanan pulang, aku
mendapat panggilan dari Ter, salah satu teman yang
dekat denganku belakangan ini.
"Bagaimana? Sudah selesai bicara dengan dia?"
tanyanya dengan nada penuh perhatian.
"Sudah," jawabku singkat.
"Kau memarahinya, ya?"
"Ya, aku meluapkan semua yang selama ini kupendam."
"Baguslah," katanya. "North pasti juga akan mengatakan
hal yang sama. Kau memang harus melakukan itu."
Aku tersenyum kecil. "Aku merasa lebih lega setelah
melakukannya. Rasanya seperti akhirnya aku bisa
mengambil kembali sebagian dari diriku."
"Baiklah, jaga dirimu. Kalau ada apa-
apa, beri tahu aku." "Ya, terima
kasih."
…
Malam itu, aku menghabiskan waktu sendirian di kamar.
Kucingku, Khun John, tidur dengan damai di sofa. Aku
mengamatinya, merasa bersyukur memiliki dia di sisiku.
Dia adalah satu-satunya yang selalu ada untukku tanpa
syarat.
Aku memikirkan pertemuan tadi di kafe. Meskipun
berat, aku tahu itu adalah langkah yang benar. Aku
tidak akan pernah bisa memaafkan Kram atas apa yang
dia lakukan, tetapi setidaknya aku telah mengatakan
semua yang perlu kukatakan.
---
Beberapa hari kemudian, aku mendapati diriku kembali
tenggelam dalam rutinitas. Ujian selesai, dan aku mulai
fokus pada proyek seni yang telah lama kutunda. Aku
menggambar di meja kerjaku, sementara Khun John
duduk di dekatku, matanya yang setengah tertutup
mengawasi setiap gerakanku.
Hidupku mungkin tidak sempurna, tetapi setidaknya
sekarang aku merasa lebih damai.
Aku mulai belajar menerima kenyataan bahwa tidak
semua hubungan berakhir bahagia, dan itu tidak apa-
apa. Yang penting adalah bagaimana kita melanjutkan
hidup, mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil yang ada
di sekitar kita.
Meskipun masih ada bekas luka dari masa lalu, aku tahu
bahwa waktu akan menyembuhkannya.
Hari-hariku kini diisi dengan fokus pada hobiku
menggambar, menyelesaikan proyek seni, dan
menghabiskan waktu bersama John. Aku sering duduk
di meja kerjaku, memandangi goresan-goresan pensil
yang perlahan membentuk sesuatu yang bermakna.
Kadang, John melompat ke pangkuanku, memintaku
untuk berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Beberapa hari kemudian, Phi kamar sebelah
kembali mengirim pesan. "Kram sudah pergi?"
"Sudah," jawabku.
"Apa kalian sudah menyelesaikan semuanya?"
"Iya, aku sudah mengatakan semua yang perlu
dikatakan."
"Bagus. Kalau kau butuh teman bicara, jangan ragu
untuk mengetuk pintuku," balasnya.
Aku tersenyum membaca pesan itu. Phi selalu menjadi
sosok yang mendukung, meskipun kami tidak terlalu
sering berbicara.
---
Malam itu, aku duduk di balkon, menikmati angin
malam. Aku melihat bintang-bintang di langit, berpikir
tentang perjalanan hidupku hingga saat ini. Banyak hal
yang telah berubah, dan aku tahu masih banyak hal
yang akan datang.
Aku memutuskan untuk terus melangkah maju,
meninggalkan beban masa lalu di belakangku. Karena
bagaimanapun, hidup terus berjalan, dan aku harus ikut
berjalan bersamanya.
---
Chapter 13: Thanks
Sinar matahari pagi langsung masuk begitu tirai
berwarna gelap dibuka. Aku melangkah keluar ke
balkon, memegang secangkir kopi panas di tanganku.
Meski begitu, aku tidak merasa cerah seperti sinar
matahari yang hangat dan suasana pagi yang
menyenangkan.
Aku memang harus bangun pagi-pagi karena hari ini
adalah hari keberangkatanku ke kampung halaman Phi
dari kamar sebelah. Aku sudah menyiapkan semua
dokumen sejak lama, dan tadi malam aku
memeriksanya untuk terakhir kali agar tidak ada yang
tertinggal sebelum tidur. Saat aku hampir terlelap, ada
notifikasi chat yang lupa aku matikan.
Pesan itu berupa foto seseorang yang tergeletak di
lantai. Dari sudut pengambilan gambar, terlihat roda
mobil, yang membuatku menebak itu adalah tempat
parkir. Sepertinya itu tempat parkir sebuah bar. Tidak
salah lagi, tempat itu pasti bar. Phi dari kamar sebelah
mengirimkan foto itu bersama pesan pendek seperti,
“Sudah kuurus.”
Saat itu aku hanya membalas “terima kasih” tanpa
berpikir apa-apa karena aku mengantuk. Tapi sekarang,
setelah kupikirkan lagi, aku rasa dia tidak mengurus
orang itu demi aku. Mungkin mereka bertengkar atau
ada masalah saat minum bersama, karena tidak ada
alasan baginya untuk repot-repot memukuli orang itu
untukku. Tapi bagaimanapun juga, aku tetap berterima
kasih. Jujur saja, aku cukup puas dengan apa yang
kulihat di foto itu.
Akhirnya selesai... Akhirnya, cerita antara aku dan orang
itu benar-benar selesai.
Tadi malam, sebelum tidur, aku menghabiskan hampir
satu jam menelepon teman-teman dan menceritakan
semua detailnya. Mereka sedikit khawatir karena aku
akan pergi ke luar negeri hanya berdua dengan Phi dari
kamar sebelah. Awalnya, semua temanku menawarkan
diri untuk ikut. Tapi setelah mereka berkonsultasi
dengan para Phi dokter, jawabannya adalah tidak
boleh.
Ternyata, Phi dari kamar sebelah sangat tidak suka jika
ada orang yang ikut campur atau tahu tentang hal ini.
Bahkan para Phi dokter pun tidak pernah bertanya apa
pun. Sama seperti yang sudah kuduga. Bahkan
sekarang, meskipun dia harus membawaku pergi, dia
tampak tidak terlalu suka aku ikut. Tapi ini memang
keharusan.
Menurutku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena
aku cukup bisa menjaga diri. Tapi sepertinya orang-
orang di sekitarku tidak berpikir begitu. Selain teman-
temanku yang khawatir, ada juga ayahku yang terus-
menerus mengingatkan untuk tidak pergi kemanapun
sendirian dan jangan pernah menjauh dari orang yang
pergi bersamaku.
Dengan kebiasaanku yang suka bertindak sesuka hati,
aku sering melanggar rencana setiap kali bepergian.
Awalnya aku berpikir, setelah urusanku dengan Phi dari
kamar sebelah selesai, aku akan diam-diam pergi jalan
jalan sendiri selama dua atau tiga hari. Tapi ayahku
sudah membaca pikiranku dan melarangku terlebih
dahulu. Kalau sudah begini, ya, tidak ada yang bisa
kulakukan.
Aku akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan
Meow Phoon menjaga Khun John. Phoon langsung
setuju tanpa pikir panjang. Dia bahkan menyuruhku
membawa Khun John pagi-pagi agar kami bisa sarapan
bersama, jadi aku tidak perlu terburu-buru ke bandara.
Menurutku, itu ide yang bagus, karena aku memang
suka mempersiapkan segalanya lebih awal. Jika
semuanya terlalu mendadak, aku akan merasa gelisah
sepanjang waktu.
Aku melihat jam tangan, jarum pendeknya menunjukkan
pukul tujuh. Aku menghabiskan kopi panas di cangkirku
lalu kembali masuk ke dalam kamar. Aku tidak lupa
menutup tirai dan mengunci pintu balkon. Semalam,
aku sudah mengemasi semua barang milik Khun John
ke dalam tas besar.
Aku mengirim pesan ke Phi dari kamar sebelah untuk
memberitahu bahwa aku sudah siap berangkat, tapi dia
tidak merespons. Bahkan pesanku belum dibaca. Aku
tidak tahu pukul berapa dia berencana pergi, karena
penerbangan kami adalah siang nanti. Tapi aku harus
pergi sekarang, karena aku sudah berjanji dengan
Phoon. Akhirnya, aku keluar kamar dan mengetuk
pintunya.
Aku mengetuk cukup lama dan keras sampai akhirnya
dia membuka pintu dengan wajah kesal. Rambutnya
berantakan, dan aroma alkohol samar tercium. Dia
tidak memakai baju, tapi aku tidak mempermasalahkan
itu.
“Ada apa?” tanyanya dengan suara serak.
“Kita harus pergi sekarang.”
“Jam berapa penerbangan kita?”
“Siang.”
“Kau mau pergi sekarang?”
“Ya.”
“Lucu sekali,” katanya sebelum mencoba menutup
pintu, tapi aku langsung berbicara.
“Aku sudah janji dengan Meow.”
“Meow?”
“Pacar Phi Tonfah. Aku mau ke tempatnya.”
“Kau mau menemui Tonfah? Untuk apa?”
“Untuk menitipkan Khun John dan sarapan bersama.”
“John? Kau mau menitipkan apa?” Dia mengerutkan
kening, tampak lebih bingung, mungkin karena dia
belum sepenuhnya sadar.
“Aku mau menitipkan Khun John di kamar Phi Tonfah.”
“Oh, kau sudah membuat janji?”
“Ya.”
“Baiklah, sepuluh menit lagi.” Dia berkata begitu lalu
menutup pintu. Aku kembali ke kamarku dan
menunggu sampai mendengar suara ketukan pintu.
Awalnya, kupikir jika dia tidak mau pergi, aku akan pergi
sendiri dan menunggunya di bandara. Tapi jika bisa
pergi bersama, itu lebih nyaman karena tiket ada
padanya.
Aku membawa kotak, dua tas—ransel dan koper—dan
berjalan keluar kamar.
“Kau bawa John untuk apa?” tanyanya sambil
mengerutkan kening.
“Aku kan bilang, aku akan menitipkan Khun John.”
“Oh, di tempat Tonfa, ya?”
“Iya. Namanya Khun John.”
Dia menaikkan alis, tampak sedikit bingung.
“Namanya John? Nama orang?”
“Ya, nama orang,” jawabku.
Kami berjalan menuju tempat parkir. Aku memasukkan
barang-barangku ke bagasi mobil dan meletakkan Khun
John di kursi depan. Tidak lama kemudian, kami tiba di
sebuah kondominium mewah. Sejujurnya, ini pertama
kalinya aku datang ke tempat Meow. Phi dari kamar
sebelah sepertinya sudah tahu jalan, jadi aku hanya
mengikutinya. Kami naik lift dan berhenti di depan
sebuah pintu.
“Masuk saja,” kata Meow sambil tersenyum dan
mempersilakan kami masuk. Aku melepas sepatu dan
mengeluarkan Khun John.
“Johnnn,” panggil Nong Mae sambil menyentuh
tubuhnya dengan lembut. John tampak bingung karena
belum mengenal Meow.
“Siang,” terdengar suara dari sofa. Itu
adalah pasangan Meow. “Penerbangan
kalian siang, kan?”
“Iya. Tapi kenapa datang pagi sekali? Mau ke mana
dulu?”
“Tidak ke mana-mana. Hanya mengantarkan Khun
John,” jawabku sambil duduk di sofa. Aku melihat Khun
John tampaknya tidak keberatan dengan Meow. Dia
tidak menunjukkan tanda-tanda takut atau menolak.
Sepertinya, kalau dia tinggal bersama Meow cukup
lama, mereka akan akrab.
“Barang-barangnya bagaimana?” tanya Meow.
“Sudah kubawa,” jawabku sambil menunjuk tas besar
yang kubawa. Meow memeriksa isinya—tempat tidur,
pasir, mainan, dan makanan John.
“Kalau makanannya habis, harus beli yang seperti ini,
ya?” Meow memastikan, dan aku mengangguk.
“Mau makan dulu?” tanyanya.
“Tentu,” jawabku.
Kami berjalan ke meja makan. Ruangan ini luas dan
sangat bersih. Kami berempat duduk bersama di meja
makan. Aku duduk di sebelah Phi dari kamar sebelah,
sementara Meow duduk di depanku. Setelah mencuci
tangan, Meow mulai mengambilkan makanan.
“Phi Fah ikut membantu membuatnya,” kata Meow
Phoon sambil tersenyum.
“Meow, kau yang memasak semuanya?” tanyaku.
“Tidak juga, sih. Kebanyakan, pacarku yang memasak,”
jawab Phi Fah. Aku melihat deretan makanan di meja.
Aku tidak tahu persis itu semua apa, tapi semuanya
tampak menggugah selera.
Saat mencobanya, aku merasa makanan ini enak sekali.
“Bagaimana rasanya?” tanya Meow.
“Enak sekali,” jawabku sambil tersenyum tipis. Meow
tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
“Kalau begitu, makan yang banyak. Kau ini punya sakit
maag, kan?”
“Kraaap,” jawabku sambil mengangguk kecil dan
kembali makan. Sejujurnya, aku tidak ingin orang lain
tahu kalau aku sakit. Aku juga tidak pernah
memberitahu siapapun tentang penyakit maagku. Tapi
karena aku harus dirawat di rumah sakit waktu itu,
rahasia ini jadi terbongkar. Sejak saat itu, aku dipaksa
untuk makan dengan teratur.
"Sudah kenyang?" tanya Nong Mae.
"Terima kasih untuk sarapannya, enak sekali," jawabku.
"Senang kalau makanannya enak," kata Nong Mae
dengan senyum, sebelum mengambil piringku.
….
….
Aku duduk di sofa menunggu waktu untuk pergi ke
bandara. Aku harus pergi pagi-pagi karena Nong di
sebelah kamar memberi tahu kalau dia ingin makan
bersama di kamar Phi Tonfa dan juga menitipkan
kucingnya. Tidak buruk, dapat sarapan gratis meski agak
menyusahkan juga.
"Kalian mau pergi kemana saja?" tanya Fah yang duduk
di sofa sebelah.
"Hawaii, LA, San Francisco," jawabku. "Hawaii itu rumah
liburan, LA itu rumah sakit tempat ibu dirawat dulu,
dan San Francisco itu rumahku."
"Berapa lama?" tanyanya.
"Sekitar lima hari, kalau tidak sempat, mungkin harus
ditunda, tapi sepertinya bisa sih. Dari Thailand ke
Hawaii kan sehari, dari Hawaii ke LA
enam jam, LA ke San Francisco sekitar dua jam. Kita
tidak kemana-mana juga, hanya memeriksanya, terus
pulang."
"Baiklah, tapi jangan lupa jaga Nong-mu," kata Phi.
"Nong-ku?" jawabku.
"Tidak, maksudku, Nong yang kau minta bantuannya."
Fah berkata dengan serius. "Aku dengar, apa yang
dilakukannya memberikan dampak buruk pada dirinya.
Katanya saat dia menghubungi roh atau semacam itu,
akan sangat menguras energinya."
“…”
“Kau tahu, sebenarnya Nong itu tidak harus
membantumu. Tapi lihat, dia masih mau membantu
sampai rela pergi ke sisi dunia lain. Dan apa dia pernah
komplain atau menunjukan ketidakpuasan?
"Sebenarnya tidak pernah, atau mungkin dia cuma
ngeluh dalam hati aja. Dia tidak pernah kelihatan
marah, karena dia selalu diam saja. Kadang kadang aku
merasa seperti ngobrol dengan robot."
“Lalu, mengenai kesepakatan tentang menerima ini, apa
dia ada meminta imbalan berupa barang, uang, atau
semacamnya sebagai balasan? Tidak bukan? Ini
menunjukkan kalau dia tidak mempermasalahkan apa
yang dia lakukan untuk membantumu.” Fah berkata
dengan tegas.
"Ya, ya, aku tahu," jawabku, tapi tidak bisa menahan
untuk menarik napas panjang.
Sebenarnya, apa yang dibilang Fah itu benar. Entah
karena dia orang baik atau alasan lainnya, yang jelas dia
membantu tanpa banyak meminta.
Dalam hati, aku sangat menghargai bantuannya.
"Biasanya, apa yang kau lakukan dikamarmh saat
liburan?" tanyaku, mencoba mengajak bicara Fah yang
sedang menonton TV.
"Jangan bilang baca buku," tambahku.
"Ya memang baca buku," jawab Fah.
"Shia, apa tidak ada kegiatan lain apa?" tanyaku lagi.
"Paling hanya nonton film sambil tidur di
tempat tidur," jawab Fah. “…”
"Lalu, dimana ularmu?" tanyanya penasaran.
"Sudah kutitipkan.”
"Oh, bagus. Siapa?" jawabnya sambil menghela napas
berat.
"Kau tidak kenal dia," jawabku, karena dia adalah teman
yang kukenal dari fakultas lain yang sepertinya Fah
tidak akan kenal. "Awalnya aku berniat untuk
menitipkan kepada Jo, karena North bilang ingin
bermain dengan ular, tapi setelah dipikir-pikir, aku
khawatir Jo malah akan memakan ularku, benarkan?"
"Kenapa pakai kata itu? Kau tahu artinya kata itu?" Fah
mengangkat alis dan bertanya. Sebab, aku jarang
menggunakan kata-kata dalam bahasa Thailand yang
terdengar aneh. Tidak perlu ditanya kenapa, aku kan
setengah asing, dan dulu sering gagal di kelas bahasa
Thailand, jadi banyak kata yang sulit dimengerti.
Pokoknya, yang aku pahami ya itu, cukup kalau bisa
berbicara dan memahami sedikit.
"Keren, kan?" jawabku sambil mengangkat alis ke Fah.
"Kenapa kau berpikir Jo akan memakan ular itu?"
"Tidak tahu, orang seperti Jo, apa saja bisa terjadi, dia
itu aneh," jawabku sambil menggeleng pelan. "Yang
paling aku khawatirkan adalah kalau ularku menggigit
North, karena baunya yang asing baginya. Ular itu tidak
berbisa, tapi jika tidak sengaja menggigit North, bisa jadi
masalah. Ular itu akan mati, dan Johan mungkin akan
marah sampai akhirnya dia balas dendam. Setelah itu,
dia hanya akan mentransfer uang untuk membeli ular
baru."
"Jadi, kenapa tidak menitipkan kepada Hill?" tanya Phi
lagi.
"Tidak, dia hanya ingin aku menitipkan kucing saja, ular
tidak cocok, dia tidak suka, mungkin Ter juga tidak
suka," kata Phi. "Dan Hill, seperti yang kau tahu, dia
tidak suka ada hal asing di kamarnya."
“Kau benar.”
"Makanya, aku menitipkan kepada orang lain,"
jawabku.
"Lalu, bagaimana dengan percakapanmu dengan
mantannya Nong?"
"Oh, baik-baik saja, dia terlihat biasa saja, hanya ada
sedikit rasa sakit," jawabku. Kata-kataku membuat Fah
sedikit terkejut. "Tetapi orang itu benar-benar
keterlaluan. Apakah dia menceritakan kepadamu apa
yang dia lakukan?"
"Iya, dia menceritakan. Aku hanya memberinya saran
supaya tidak kembali lagi, dan itu saja yang aku
katakan."
"Oh, kau tidak mencoba berbicara lebih keras?" Fa
bertanya dengan heran.
"Kau juga ikut nongkrong bersama mereka, kan?" Fah
bertanya sambil menggeleng pelan.
"Yah, begitu. Tetapi ketika mau pulang, dia malah
kencing di roda mobilku, jadi aku tendang dia," jawabku
dengan suara sedikit keras, membuat orang di sekitar
kami sedikit terkejut.
"Menendangnya? Serius?" Fah bertanya.
"Ya, sekarang dia ada di rumah sakit. Aku sudah telepon
Derek supaya mengirim orang untuk mengambil mobil.
Mereka membantu membawa dia ke rumah sakit juga.
Aku tidak tahu dia sudah membaik atau belum, tapi aku
hampir tidak bisa menahan tanganku juga."
"Kalau begitu, pasti kondisinya parah. Mau kasihan juga
rasanya tidak enak, apalagi dia kencing di mobilmu."
"Tidak, usah merasa kasihan, dia benar-benar
keterlaluan. Dia mabuk dan ceroboh sekali," aku
mengeluh. Semakin dipikirkan, aku semakin kesal.
Akhirnya Fah harus memberi aku tempat di sofa.
Sejujurnya, sofa di kamar Fah itu sudah hampir menjadi
tempat tidurku yang lain. Aku sudah terbiasa tidur di
sana, sampai akhirnya tertidur dan terbangun karena
suara seseorang yang membangunkanku dan
menggoyangkan tubuhku perlahan.
"Tìt, waktunya sudah tiba."
"Waktu apa?" aku tanya, masih setengah sadar.
"Ke bandara," kata Fah. Aku membuka mata dengan
malas, lalu menegakkan tubuh dan melihat Fah berdiri
di belakang sofa. Aku melihat
Nong yang sedang menunggu di depan. Aku bangkit dari
sofa dan berjalan menuju pintu kamar. "Semoga
selamat sampai tujuan."
"Iya," jawabku, menunggu sementara Fah berbicara
dengan istrinya sebentar, lalu kami berjalan keluar
menuju mobil. Di perjalanan ke bandara, hanya ada
suara musik yang diputar dengan pelan di mobil. Aku
tidak banyak berbicara dengannya seperti saat
perjalanan sebelumnya.
“Khun….”
Dia tidak menjawab, hanya menatap keluar jendela
mobil.
"Namamu siapa?" tanyaku karena aku tidak ingat.
Sepertinya aku sudah pernah bertanya ke North
sebelumnya. Tidak mungkin terus memanggilnya si
anak dengan rambut biru atau si anak sebelah kamar,
kan? Aku akan tinggal bersama mereka beberapa hari
lagi.
"DaoTok."
"Hah?" aku sedikit mengerutkan kening. Mungkin
karena namanya yang aneh, jadi aku tidak bisa
mengingatnya. "Nama yang aneh."
“…”
"Terima kasih, Dao" jawabku akhirnya. "Terima kasih
sudah membantu."
Aku mengatakannya sambil tetap menatap jalanan di
depan. Aku bukan orang yang tidak tahu berterima
kasih, terutama pada orang yang sudah membantu,
apalagi mereka harus meluangkan waktu dan tenaga
untuk membantuku. Lagi pula, kedatangan kali ini juga
bukan sesuatu yang pasti akan berhasil. Sebenarnya,
kepergiam ini juga seperti mencoba keberuntungan.
Pada akhirnya, bisa jadi sia-sia baik untukku maupun
untuk mereka.
"Tidak masalah," jawabnya dengan suara datar seperti
biasa. Aku tidak menoleh untuk melihat ekspresinya,
tapi sepertinya tetap sama, seperti biasa, wajahnya
datar dan tidak ekspresif.
Sejujurnya, sekarang aku mulai merasa cemas ketika
memikirkan kembali apakah aku akan berhasil
menemukan ibuku di rumah atau di tempat tempat
yang mungkin aku ingat. Rasanya seperti, kalau tidak
ketemu, harus bagaimana? Tapi, kalau ketemu, harus
bagaimana?
Dulu aku berpikir, kalau tidak menemukannya, ya harus
menerima kenyataan, tapi sekarang aku mulai merasa
takut dengan kenyataan itu. Sepertinya aku mulai takut
dengan kenyataan yang sebenarnya. Kalau kita muter
balik sekarang, apakah itu keputusan yang lebih baik?
Ketika mobil berhenti di lampu merah, dari sudut
mataku aku melihat seseorang di sampingku yang
menatapku, lalu aku menatap balik. "Apa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa, hanya... kurangi kecepatan sedikit."
"Kau yakin?"
Aku diam tidak menjawab apa-apa. Dia berbalik
sebelum lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, lalu
aku menekan pedal gas. Aku tidak sadar kalau aku
mengemudi lebih pelan, karena aku terlalu asyik dengan
pikiranku yang terus melayang.
Setibanya di bandara, kami naik pesawat. Aku sudah
menyiapkan dua kursi di kelas satu yang bersebelahan.
Aku berjalan ke tempat duduk dan duduk
sejenak. Orang yang berjalan di belakangku kemudian
duduk di sebelahku. Dia mengambil novel dan mulai
membacanya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah
lain. Biasanya, saat di pesawat, aku lebih memilih tidur
karena tidak tahu harus melakukan apa, tapi kali ini
rasanya aku tidak akan mudah tidur.
Bagaimana bisa tidur, sementara kepala penuh dengan
pikiran yang entah apa-apa.
Setelah pesawat terbang hampir setengah jam, orang
yang duduk di sebelahku terus membaca novel dan
mendengarkan musik, tidak peduli dengan apa pun.
Sepertinya dia sedang membaca novel detektif. Aku
yang tidak ada kerjaan pun kadang melirik ke arah
bukunya.
"Hei…" tanyaku.
“…”
"Ada buku lain tidak? Boleh pinjam?"
"Buku?" jawabnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Iya." Dia mengambil novel lain dan memberikannya
padaku lalu kembali melanjutkan bacaannya. Aku
memandang buku novel detektif yang ada di tanganku.
Biasanya, aku tidak suka membaca novel. Cukup buku
pelajaran saja, belum lagi harus membaca buku lain.
Tapi, karena tidak ada yang bisa dilakukan, kalau ada
sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian dan
mengurangi pikiranku, mungkin itu akan membantu.
"Ada headphone lain tidak?" tanyaku.
"Tidak ada."
"Boleh pinjam satu sisi?"
"Tidak mau."
"Bagilah sedikit."
"Tidak mau."
"Pelit sekali." aku mengeluh pelan. Awalnya aku berniat
untuk mendengarkan musik, tapi lupa membawa
headphone. Aku ingin meminjam dari dia, tapi ternyata
dia tidak mau berbagi. Beberapa saat kemudian, dia
menghela napas dan melepas satu earphone lalu
memberikannya padaku. Aku terima dan memasangnya.
Musiknya entah apa, tapi tidak masalah. Kalau aku
minta dia ganti lagu, mungkin itu terlalu berlebihan.
Aku mendengarkan musik dengan satu earphone dan
membaca novel detektif untuk menghabiskan waktu.
"Kenapa musiknya bisa begitu mengubah suasana?"
tanyaku, karena lagu yang tadinya santai tiba-tiba
berubah menjadi lagu rock.
"Ganti playlist-nya."
"Jadi kau juga mendengarkan musik seperti ini?"
"Aku mendengar segala jenis musik."
"Serius? Ada juga orang yang mendengarjan
semua jenis musik?" "Kalau enak didengar, ya
dengarkan."
“…”
"Kecuali lagu Cina."
Aku tanpa sadar mengerutkan kening ketika musik yang
sedang diputar, yang sebelumnya rock indie, tiba-tiba
berubah menjadi lagu Cina. Suasana hatiku hampir
berubah drastis. Jujur saja, aku tidak pernah berpikir
untuk mendengarkan lagu seperti itu, tapi lama-lama
aku malah suka juga.
"Bagus juga, playlist-mu."
"Iya, terima kasih."
"Share dong."
"Mau yang mana?"
"Semua."
"Oke, nanti aku share."
"Sip."
Sudah hampir dua jam, dia akhirnya meletakkan novel
yang dibacanya sepertinya sudah selesai. Dia meraih
buku gambar dan pensil untuk mulai menggambar. Aku
yang juga sudah selesai membaca novel itu, mengambil
novel yang tadi dibaca olehnya dan melanjutkan
membaca. Dari sudut mataku, aku melihat dia
menggambar dengan pensil ke sana kemari. Karena
penasaran, aku sesekali melirik.
"Adegan di novel tadi..."
"Adegan apa?"
"Oh, adegan di ladang jagung itu."
"Sama seperti yang aku pikirkan." Aku berkata, karena
baru saja aku membaca adegan di ladang jagung dalam
novel tadi. Dan gambar yang dia buat sesuai dengan
apa yang aku bayangkan dalam pikiran setelah
membaca novel itu. Seperti dia menggambar
berdasarkan deskripsi dalam buku. "Coba gambar
adegan di belakang gua, saat tokoh utama kabur dari
sana. Aku tidak bisa membayangkannya."
"Oke." Dia membuka buku dan mulai menggambar
kasar. Aku memperhatikan dengan tertarik, kenapa bisa
ada orang yang bisa menggambar dengan cepat dan
bagus seperti itu.
"Bisa disewa, lho."
"Gambarannya sangat bagus."
"Hei, jangan jualan."
"Sedikit tidak apa-apa, kali."
"Kau menerima pesanan gambar?"
"Aku bisa gambar apa saja."
"Kau tidak pilih-pilih pekerjaan?" Aku bercanda sedikit.
Sebenarnya, aku merasa mudah berkomunikasi dengan
orang lain, termasuk dengan North. Kami cepat akrab
meskipun sifatnya agak aneh, tapi dia punya banyak
teman. Dan teman-temannya juga mirip-mirip, mudah
bergaul. Seperti waktu pertama kali bertemu, dia
mengajak aku minum dan aku ikut saja.
Selain tampan, sifatnya juga menyenangkan. Orang
seperti apa ini?
Aku rasa, aku punya sifat yang mirip dengan Jo. Tidak
perlu orang lain memuji penampilannya, karena dia
pasti sudah sadar. Aku sendiri juga merasa cukup puas
dengan penampilanku.
Aku mulai merasa sedikit lebih baik setelah banyak
berpikir ketika sampai di bandara.
Beginilah, jika merasa tidak terlalu baik, cukup biarkan
saja. Lama-lama aku akan merasa lebih baik. Kalau bisa
minum alkohol dan merokok, mungkin aku akan merasa
lebih baik lebih cepat. Sayang, di pesawat tidak
diperbolehkan.
“Khun
"Iya, kenapa?"
"Apa kau pernah membedah mayat?"
"Seperti ini?" dia bertanya sambil menyerahkan gambar
yang dia buat untuk ku lihat. Aku mengangkat alis
sedikit dan memperhatikannya. "Kenapa tidak mencari
gambar sendiri?"
"Ya, kata orang yang pernah bedah mayat sungguhan."
“….”
"Kalau waktu sedang bedah, bolehkah aku ikut lihat?"
"Coba tanya dosennya." jawabku sebelum kembali fokus
pada novel yang ada di hadapanku. Aku tidak percaya
juga kalau aku yang biasanya tidak tertarik membaca
novel sekarang jadi menikmatinya. Mungkin karena aku
belum pernah mencoba sebelumnya, tapi setelah
mencoba, ternyata seru juga. Tokoh utamanya keren
banget, sampai-sampai aku jadi ingin mencoba jadi
agen FBI. "Ada lanjutannya tidak?"
"Ini seri."
"Lanjutan dari tokoh utama ini?"
"Iya."
"Serius? Wah, keren juga. Ada berapa buku?"
"Terjemahan bahasa Thai sudah tiga."
"Yang lainnya?"
"Masih belum."
"Aku ingin baca lagi m."
"Di Thailand sudah tidak ada."
"Tapi di toko di LA pasti ada."
"Serius?"
"Pasti ada."
"Kalau begitu bisa tidak ke sana?"
"Kalau ada waktu, aku juga ingin
membaca lagi." jawabku. "Iya."
Bab 14
Lukisan
Di tengah cahaya redup di dalam pesawat, orang di
sampingku tertidur lelap. Aku melirik gambar di buku
sketsa anak ini yang ada di tangannya. Aku meminjam
untuk melihatnya karena gambarnya terlihat sangat
bagus.
Hampir tidak ada halaman kosong di buku itu dan
setiap halaman yang dia gambar hampir tidak
menyisakan ruang putih di kertasnya.
Aku membolak-balik halaman, dengan pikiran yang
terus mengingat sesuatu. Kenangan mulai kembali.
Sebelumnya, aku tidak berpikir apa-apa, tetapi ketika
melihatnya duduk dengan fokus pada menggambar
dengan pensil di buku ini, tiba-tiba ada bayangan yang
muncul dan aku hampir tidak bisa berhenti
memikirkannya.
Ibu juga suka menggambar seperti ini.
Menggambar mungkin adalah sesuatu yang disukai
banyak orang, termasuk ibuku.
Ibu sering membawa buku sketsa kecil dan pensil
kemana mana. Jika bosan dan tidak ada yang bisa
dilakukan, dia akan mengambilnya dan mulai
menggambar. Dia bilang hanya menggambar untuk
bersenang-senang, tapi kelihatannya dia sangat serius.
Karena itu, ketika melihat seseorang sedang
menggambar dan hasil gambarnya bagus, aku sering
berhenti untuk melihat. Saat pertama kali melihat anak
ini menggambar dengan cepat dan bagus, aku tertarik.
Aku melihatnya saat menggambar dan memintanya
untuk menggambar adegan-adegan dalam novel.
Setelah melihat semua gambar hingga halaman terakhir,
aku menutup buku itu dan meletakkannya di pangkuan
orang di sampingku untuk mengembalikannya. Tiba-
tiba, lagu yang aku dengar dari satu sisi earphone
berhenti. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena
baterainya habis, jadi aku mengambil ponselku dan
menyambungkan earphone itu ke ponselku.
Aku memutar lagu dari playlist milikku. Setelah
mendengarkan lagu dari playlistnya selama beberapa
jam, sekarang giliran playlist milikku.
Tidak lama kemudian, orang yang tidur terbangun,
mengerutkan kening sedikit dan menatapku.
“Kau tidak suka laguku?”
“Bukan begitu. Lagunya terlalu rock, aku tidak bisa
tidur.”
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan
ponselnya. Ternyata baterainya memang habis. Dia lalu
mengambil power bank untuk mengisi daya ponselnya
dan berbaring lagi.
Aku mengganti lagu dengan genre lain yang bukan rock.
Seperti yang kukatakan, aku hanya mendengarkan lagu-
lagu lama dan rock. Kali ini, aku memutar lagu lama
dengan melodi yang tidak terlalu cepat. Aku melirik
keluar jendela yang hanya terlihat hitam pekat,
pikiranku dipenuhi berbagai hal. Dari sudut mataku, aku
melihat sesuatu bergerak, jadi aku menoleh.
Orang yang sedang memejamkan mata itu, satu
tangannya bergerak mengikuti irama lagu.
“Kau sedang apa?” Aku bertanya. Orang itu perlahan
membuka mata dan melihat tangannya.
“Oh, maaf, aku lupa diri.”
“Kau bisa main piano juga?”
“Hmm…”
“Benarkah?” Aku mengangkat alis terkejut, tidak
menyangka dia bisa bermain piano.
“Kau bisa banyak hal ya.” Aku berkata, dia jago
menggambar dan bisa main piano juga. “Apa lagi yang
bisa kau lakukan?”
“...Pertanyaanmu terlalu luas.”
“Kalau begitu, alat musik apa lagi yang bisa kau
mainkan?” “Gitar.”
“Menyanyi?”
“Tidak, suaraku fals.”
“Apa lagi?” Aku bergumam pada diri sendiri sambil
berpikir. “Olahraga?”
“Taekwondo termasuk olahraga?”
“Ya, tentu. Sabuk apa?”
“Cokelat.”
“Sial, aku benar-benar tidak menyangkanya,” ucapku
sambil mengangkat alis dengan gaya yang
menyebalkan. Dia tetap menunjukkan ekspresi datar
seperti biasanya.
“Kalau dilihat, dengan tubuh pendek mu, kau tidak
terlihat seperti seseorang yang berlatih taekwondo.”
“Tapi North ahli bela diri, kan? Orang pendek juga bisa
melakukan banyak hal,” sahutku.
Dia mengerutkan kening dengan ekspresi bingung, lalu
menoleh padaku.
“Kenapa kau memasang wajah seperti itu?”
“Tidak pernah ada yang memanggilku begitu
sebelumnya, meskipun aku memang pendek,”
jawabnya.
“Kalau begitu, biar aku saja yang memanggilmu begitu,”
balasku.
“…”
“Kenapa kau terlihat santai sekali? Kalau North, dia
pasti sudah ribut habis-habisan,” ujarku sambil tertawa
kecil. Karena memang, North tidak tahan jika diejek soal
tinggi badan, meskipun sedikit saja.
“Aku bukan North,” jawabnya singkat.
“Apa maksudmu?” tanyaku sambil memandangnya
dengan kesal.
Sebenarnya, aku penasaran ingin melihat reaksi orang
yang biasanya memasang wajah datar seperti dia jika
suatu saat dia benar-benar kehilangan kendali. Bahkan
saat Kram menggodanya, dia tetap tidak menunjukkan
emosi apa pun.
Dia tidak berkata apa-apa lagi, hanya menutup matanya
kembali. Sementara aku mengalihkan pandangan keluar
jendela, membiarkan diriku tenggelam dalam lagu
favorit dan pikiranku sendiri.
…
Pesawat mendarat di Honolulu, Hawaii. Aku turun
bersama si pendek berambut pirang yang mengikutiku
dari belakang. Bukan karena aku tidak ingat namanya
seperti sebelumnya, tapi aku merasa aneh harus
memanggil seorang pria dengan nama Dao. Meskipun
aku pernah memanggilnya begitu sekali, aku mulai
samar-samar ingat North pernah mengatakan untuk
tidak usil dengan nama orang lain. Jadi, aku tidak akan
memanggilnya dengan nama itu lagi. Lebih baik tetap
memanggilnya si pendek. Dia juga tidak terlihat
keberatan atau menunjukkan tanda tidak suka.
Sebelum menuju rumah, kami singgah untuk makan
karena aku lapar. Si pendek ini tampaknya bukan tipe
orang yang doyan makan. Dia hanya makan sedikit.
Setelah selesai, kami keluar dan melanjutkan
perjalanan.
Karena tidak ingin repot, aku menolak tawaran Direk
untuk menyediakan sopir atau pelayan. Aku hanya akan
tinggal sebentar, jadi aku bilang padanya untuk
menunggu di tempat itu sementara aku mencari mobil
sewaan. Setelah mendapatkan mobil, aku
menjemputnya untuk menuju rumah peristirahatanku.
Dalam perjalanan, dia tertidur di kursi sebelah. Aku
tidak terlalu memperhatikannya sampai kami tiba di
rumah yang cukup familiar meskipun sudah lama aku
tidak ke sini. Aku mematikan mesin mobil dan
memanggilnya untuk membangunkannya. Dia
membuka mata dengan kantuk dan terlihat lelah.
“Jet lag?” tanyaku dengan alis terangkat. Sepertinya
memang begitu. Dia mengangguk pelan. Aku turun
untuk mengambil barang-barang dari bagasi, lalu
melihat dia turun dengan membawa tasnya sendiri.
“Biar aku yang bawa,” ujarku.
“…”
“Lihat dirimu dulu,” balasku sambil menyerahkan kunci
rumah padanya. “Pergi dan buka pintunya.”
Dia tetap membawa tasnya dan mengikutiku yang
membawa barang-barang lain. Setelah dia membuka
pintu, aku memberitahunya, “Kamar tamu ada di
sebelah kiri.”
Dia masuk ke kamar tamu itu. Aku meletakkan barang
barangku di ruang utama, lalu membantu membawa
barang barangnya ke kamar tamu. Ketika aku masuk, dia
sudah berbaring di tempat tidur. Sebelum menutup
pintu, aku memutuskan untuk menyalakan AC
untuknya, lalu keluar.
Aku membantu membawa barang-barangnya dan
bahkan menyalakan AC untuknya. Wah, aku ini benar-
benar baik
sekali, ya. Kalau begitu, Fah tidak bisa lagi mengeluh
bahwa aku tidak menjaganya dengan baik.
Awalnya, aku ingin segera memintanya membantu
mencari ibu. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin lebih
baik seperti ini. Aku jadi punya waktu untuk
mempersiapkan diri. Aku mengedarkan pandangan ke
seluruh rumah dan melihat tidak ada yang berubah
sejak terakhir aku ke sini. Barang-barang masih berada
di tempat yang sama, tidak ada yang berpindah.
Direk mungkin telah menyuruh seseorang untuk
membersihkan rumah dan menyiapkan beberapa hal.
Ketika aku membuka kulkas, aku melihat ada beberapa
makanan, dan tentu saja tidak ketinggalan sekotak bir
kaleng. Aku mengambil sekotak bir itu dan berjalan ke
taman belakang rumah.
Taman ini memiliki pemandangan yang cukup indah,
tempat favorit ibu. Aku tanpa sadar menghela napas
panjang. Aku berjalan ke tempat tidur lipat di taman,
lalu merebahkan diri. Tempat tidur ini mungkin sudah
disiapkan sebelumnya, masih ada dua tempat tidur
yang diletakkan berdampingan. Aku menaruh sekotak
bir itu di lantai, mengambil sebatang rokok,
menyalakannya, dan menghirup asapnya perlahan.
Rasa dingin menyebar ke tenggorokan.
Aku tidak tahu berapa lama aku berbaring di sana
sampai akhirnya aku tertidur. Ketika aku terbangun,
langit sudah mulai gelap. Lampu otomatis di taman
belakang menyala. Langit mulai berubah warna menjadi
merah, tanda matahari akan segera tenggelam.
Aku mendengar langkah kaki mendekat. Si pendek
berjalan ke arahku dan duduk di kursi lipat di
sebelahku.
“Mau?” tanyaku sambil menawarkan rokok yang baru
saja aku ambil. Dia menggeleng pelan.
“Ini rokok bagus, tahu,” godaku.
“Aku sudah berhenti.”
“Berhenti merokok?” tanyaku sambil
mengangkat alis. “Bir,” jawabnya singkat.
Aku menawarkan bir padanya. Aku pernah melihatnya
merokok dan minum bir sebelumnya, jadi aku
penasaran. Dia tampak ragu beberapa saat sebelum
akhirnya menerima kaleng bir dariku. Dia membuka dan
mencicipinya.
“Bagaimana rasanya?” tanyaku.
“Enak, enak sekali,” katanya. Aku mengangkat bahu
kecil. Hal yang bagus memang seperti ini.
“Mau mulai sekarang?” tanyanya, mungkin maksudnya
soal mencari arwah ibuku.
“Sebentar lagi, kasih aku satu batang lagi.” Aku
menjawab sambil mengisyaratkan untuk menghabiskan
rokok ini dulu. Orang di sebelahku tidak berkata apa-
apa, hanya menghabiskan birnya sampai tuntas
sebelum bangkit dan pergi. Tak lama kemudian, ia
kembali dengan membawa buku sketsa yang sudah
penuh terisi. Aku tidak bertanya apa-apa, tapi sesekali
melirik dia yang tampak serius menggambar
pemandangan di depan kami.
Pemandangan Hawaii saat matahari hampir
tenggelam. “Ada pewarna?” dia bertanya tiba-
tiba.
“…”
“Pensil warna? Cat air?”
“Ada,” jawabku sambil mengingat bahwa di kamar
ibuku mungkin masih ada alat-alat menggambar.
“Sebentar, aku ambil.”
Dia menyerahkan buku sketsa itu padaku. Aku
menerimanya dan tanpa sadar mengerutkan kening
saat melihat gambar yang dia buat. Aku
memandanginya cukup lama sebelum
mengembalikannya. Gambar itu terasa akrab.
Karena ini adalah pemandangan favorit ibu, tak heran
kalau ibu pernah menggambar sudut ini. Ketika
menyadari kesamaannya, aku jadi tak sengaja
memperhatikan gambar itu terlalu lama.
“Ayo,” kataku akhirnya setelah rokok di tanganku
hampir habis. Aku mematikan rokok itu di asbak yang
sudah penuh dengan puntung rokok—bukti bahwa hari
ini aku merokok terlalu banyak. Aku berdiri dan dia
mengikutinya. Dia melepas gelang dan menyelipkan ke
dalam kantong celananya. Sepertinya gelang itu
semacam jimat atau alat untuk menyegel sesuatu.
Dia memejamkan mata seperti sedang berkonsentrasi,
berdiri diam selama beberapa waktu sebelum
membuka mata dan
menggeleng pelan. Aku pun membawanya berkeliling
rumah, masuk ke setiap ruangan satu per satu.
Selama itu, aku terus memperhatikannya dengan hati-
hati. Meski aku tahu peluang menemukan ibu di sini
sangat kecil, tetap saja aku berharap jawabannya
berbeda. Tapi yang aku dapatkan hanyalah gelengan
kepala.
Kami berhenti di depan kamar ibu, ruangan terakhir
yang belum diperiksa. Aku tak bisa menghitung sudah
berapa kali aku menarik napas panjang hari ini. Aku
membuka pintu, menunggu dia berdiri diam di tempat
selama hampir lima menit.
Dan jawabannya tetap sama.
Wajahnya tampak pucat, seperti sebelumnya, saat
mencoba mencari arwah ibu. Dia berjalan lemas lalu
menjatuhkan diri di kursi meja kerja ibu, mungkin
karena itu yang paling dekat. Biasanya, aku pasti sudah
memarahi orang yang berani duduk di meja kerja ibu.
Tapi melihat keadaannya, aku menahan diri untuk tidak
berkata apa-apa.
Kalau aku marah sekarang, rasanya terlalu kejam. Dia
hampir seperti akan pingsan setelah mencoba
membantu mencari arwah ibu.
“Mau air?” tanyaku. Dia mengangguk pelan. Aku pun
keluar mengambil segelas air dan kembali,
meletakkannya di atas meja di depannya sebelum aku
duduk di atas tempat tidur.
“Lalu, bagaimana?” tanyaku lagi.
“Maksudmu?”
“Kau bilang sebelumnya, kau masih merasakan sedikit
kehangatan di rumah ayahku. Lalu di sini?”
Dia terdiam sejenak setelah menyesap airnya. Dengan
suara pelan dan serak, dia menjawab, “Aku merasakan
kehangatan juga... di sini.”
“Di meja itu? Kenapa?”
“Mungkin dia menyukai tempat ini.”
“Hmm.”
“Boleh aku istirahat?” tanyanya singkat sebelum
mencoba berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Aku
tetap di tempat, duduk di atas tempat tidur, lalu
membaringkan diri dengan mata terpejam.
Ibu tidak ada di sini.
Atau mungkin tidak ada di mana pun.
Jujur saja, lebih dari separuh perasaanku sudah yakin
bahwa ibu tidak lagi ada di dunia ini. Sama seperti
keyakinan yang aku dan Direk pegang selama ini. Tapi
mau bagaimana lagi? Aku memutuskan untuk
mencarinya kali ini agar setidaknya aku bisa menerima
kenyataan ini dengan lebih baik.
Aku butuh hampir dua puluh menit untuk merasa sedikit
lebih baik. Semua orang tahu aku bisa melupakan hal-
hal seperti ini, asalkan diberi waktu. Sekarang aku mulai
bisa menerima kenyataan bahwa ibu tidak ada di sini.
Aku pun bangkit, berjalan ke meja kerja ibu.
Ibu suka tempat ini, ya?
Aku membuka laci dan menemukan peralatan
menggambar ibu tersusun rapi. Di sampingnya, ada
tumpukan kertas gambar yang pernah digunakan. Aku
sudah menduga kalau alat-alat ini masih ada. Karena
kecuali barang-barang yang
benar-benar penting seperti perhiasan ibu, aku dan
Direk hampir tidak pernah menyentuhnya.
Lebih baik dibiarkan tetap di tempatnya.
Aku mengambil satu demi satu lukisan milik ibu, ada
yang hanya berupa sketsa pensil, ada juga yang sudah
diberi warna. Beberapa sudah diwarnai tetapi belum
selesai. Semua lukisan itu menggunakan cat air, karena
ibu sangat menyukainya. Tanganku berhenti pada
sebuah lukisan pemandangan belakang rumah. Aku
langsung mengambilnya untuk melihat lebih dekat.
Ini persis seperti lukisan yang si pendek itu buat...
Inilah lukisan yang terasa familiar bagiku. Wajar saja,
sudut pandangnya sama persis. Jadi, hasilnya pasti
mirip. Kebetulan sekali ibu juga melukisnya saat
matahari terbenam. Di pojok kertas terdapat tanda
coretan warna yang belum selesai. Ini adalah salah satu
lukisan yang belum rampung.
Belum selesai diwarnai?
Si pendek itu sempat bertanya soal cat warna. Jadi, dia
pasti ingin mewarnai lukisannya. Kalau begitu, mungkin
aku bisa memintanya untuk membantu menyelesaikan
lukisan ibu ini.
…
Aku tersentak bangun lagi untuk kedua kalinya hari itu.
Kali pertama karena jet lag akibat perubahan zona
waktu. Kali kedua karena kelelahan setelah membantu
mencari arwah ibu si pria penjual rokok. Aku sadar
sudah tertidur hampir dua jam. Saat keluar kamar,
kulihat dia sedang duduk di sofa.
“Kau sudah bangun?” tanyanya. Aku menjatuhkan diri
ke sofa kecil di dekatnya dengan lelah. “Baru tidur
sebentar, ya?”
“Ada makanan?” tanyaku. Rasa lelah sudah jauh
berkurang, sekarang gantinya adalah rasa lapar. Aku
memang tidak punya masalah untuk melewatkan waktu
makan, tapi penyakit maag membuatku tak bisa
mengabaikan kebutuhan tubuh ini.
“Kau bisa masak sendiri?”
“Kupikir kau bisa melakukan segalanya,” candanya.
“Memasak bukan salah satunya,” jawabku. Seperti yang
kau tahu, aku senang mencoba banyak hal. Masak juga
salah satunya. Aku pernah meminta nenek untuk
mengajariku, tapi gagal. Belajar dari Pho, tetap juga
gagal. Mencoba sendiri? Sama saja. Entah kenapa,
setiap kali aku masak, hasilnya selalu buruk. Lebih baik
makan di luar, itu jauh lebih aman bagi kesehatan fisik
dan mental.
“Kalau begitu, malam ini kita tidak akan makan apa-
apa,” katanya. Aku bangkit dan membuka kulkas,
menemukan beberapa bahan makanan segar di
dalamnya.
“Kenapa kau tidak masak saja?”
“Kalau aku masak, rumah ini pasti terbakar.”
“Aku bisa masak, tapi tidak enak.”
“Setidaknya itu lebih baik daripada dapur meledak.
Masak saja,” katanya seperti menyerahkan tugas itu
padaku. Tidak ada pilihan lain. Aku tidak mungkin
memesan makanan. Jadi aku berdiri di depan kulkas
cukup lama, mencoba memutuskan akan membuat apa.
Pilihan paling sederhana adalah telur goreng. Karena
tidak ada nasi, aku memutuskan
memanggang roti sebagai penggantinya. Meskipun lebih
mirip sarapan, kurasa tak masalah.
Aku meletakkan wajan di atas kompor, menyalakan api
dengan hati-hati, dan mulai memanggang roti.
Sementara itu, aku memecahkan telur ke dalam
mangkuk dan mengocoknya. Setelah itu, aku
menuangkannya ke wajan.
Sepertinya aku melupakan sesuatu.
Oh, ya... minyak.
Asap mulai mengepul disertai aroma gosong. Aku panik,
segera menuangkan minyak, tapi sudah terlambat. Saat
aku sedang kebingungan dengan telur gosong di wajan,
bunyi dari pemanggang roti menyadarkanku. Aku
hendak meninggalkan wajan untuk memeriksa roti,
tetapi bau gosong dari wajan semakin menyengat. Aku
bergegas mengangkat telur itu agar tidak menempel di
wajan. Ketika sadar, rotinya sudah gosong juga.
…
Di meja, ada telur yang gosong sebagian, tapi mentah di
beberapa bagian, dan berminyak. Di sebelahnya, ada
roti panggang gosong.
“Hmm, sekarang aku percaya kalau kau memang tidak
bisa masak,” katanya.
“Kita beli saja,” jawabku singkat sambil mengangguk.
Aku mengambil ponsel, memotret hasil masakanku,
dan mengirimkannya ke North. Aku seharusnya
bertanya pada North sejak awal. Jawaban North adalah
deretan angka lima yang panjang, diikuti pesan tentang
kesalahan apa saja yang kulakukan. Singkatnya, aku
sudah salah sejak menuangkan minyak setelah telurnya
gosong.
….
"Jadi, aku yang harus menyelesaikan pewarnaan ini?"
tanyaku sambil mengernyit. Rasanya aneh mewarnai
lukisan yang dibuat oleh ibunya.
"Ya. Kupikir, kalau ada yang membantu menyelesaikan
lukisan ini dengan indah, ibu pasti akan senang,"
jawabnya dengan anggukan kecil sambil terus makan
roti panggang dengan
selai. Aku membersihkan tanganku, memastikan tidak
ada kotoran yang menempel sebelum menyentuh
kertas itu.
Kupandangi lukisan itu dengan saksama.
Jika lukisan ini bisa diselesaikan dengan sempurna,
tentu hasilnya akan sangat indah, bukan?
"Berapa bayaranmu?" tanyaku sambil
memandangnya. "Aku akan memberitahumu
setelah selesai," jawabnya. "Baiklah," balasnya.
"Sebenarnya, masih banyak lukisan lain yang belum
selesai diwarnai."
"Lalu kenapa kau hanya memintaku mewarnai yang ini
saja?"
"Apakah kau bisa menyelesaikan mewarnai semua
gambar dalam satu malam?" tanyaku. "Besok pagi kan
harus pergi ke Ase."
"Ya sudah simpan saja, itu bisa dikerjakan nanti,"
jawabnya. Dia yang sedang sibuk mengoleskan cokelat
ke roti lainnya, menoleh dan tampak agak terkejut.
"Itu akan merpotkanmu," jawabnya.
"Tidak kok, kalau hanya gambar ini yang diwarnai, yang
lain pasti merasa iri," kataku, mengikuti pemikiran
dalam kepalaku. Karena jika menyangkut gambar, aku
tidak pernah menganggap remeh dan selalu serius.
Kalau sudah mewarnai gambar ini, rasanya tidak adil
kalau gambar lainnya tidak diselesaikan juga.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan keluarkan semuanya.
Aku bayar nanti," jawabnya.
Aku menghabiskan hampir satu jam mengamati gambar
ibu dari kamar sebelah dengan teliti, mencoba
memahami bagaimana dia mewarnai sebelumnya.
Karena pekerjaan kali ini adalah menyelesaikan gambar
dengan sempurna, ini adalah kesempatan yang tidak
akan datang lagi bagi orang yang menggambar. Jika
memungkinkan, aku ingin menggunakan warna dan
teknik yang sama dengannya, agar seluruh gambar
terlihat serasi, tanpa ada gambar atau bagian yang
menonjol atau berbeda dari yang lainnya.
"Kalau begitu, aku minta izin. Aku akan berusaha
membuat gambar-gambar ini sempurna sesuai dengan
gaya ibumu, agar
gambar-gambar ini selesai dengan indah seperti
seharusnya sejak awal."
…
Aku terbangun tengah malam karena ingin ke kamar
mandi. Sambil terbangun setengah sadar, aku keluar
dari kamar tidur menuju kamar mandi. Setelah selesai,
aku hendak kembali ke kamar, namun mataku melihat
cahaya yang keluar dari bawah pintu kamar tamu.
"Gila, si pendek itu belum tidur juga?" pikirku. Mungkin
karena dia sudah tidur sepanjang hari, atau mungkin dia
memang membuka lampu saat tidur.
Aku memutar badan dan kembali ke kamar tanpa
memperdulikan itu.
…
Pagi berikutnya, saat aku bersiap untuk pergi ke Ase,
aku membawa tas dan keluar dari kamar. Aku melihat si
pendek sudah duduk menunggu di sofa. Dia menoleh
dan langsung mengulurkan kertas besar untuk ku lihat.
Aku menerima kertas itu dengan bingung, melihat
gambar yang diberikan. Itu adalah gambar ibu yang
sudah selesai diwarnai olehnya. Aku sudah menduga
dia pasti mewarnai dengan baik karena gambarnya
sangat bagus, tapi setelah melihatnya, aku sadar itu
lebih indah dari yang kubayangkan.
"Shia, ini sangat bagus," kataku. Dia bangkit dari sofa
dan memberikan gambar lainnya.
"Jadi kau mewarnai dua gambar?" tanyaku, meski
belum melihat gambar yang baru saja dia beri.
"Bukan, ini gambar yang sudah diwarnai sebelumnya,"
jawabnya. Aku melihat gambar itu dan ternyata itu
adalah gambar yang sudah diwarnai oleh ibu.
"Kenapa kau menunjukkan ini?" tanyaku.
"Mirip tidak?"
“…”
"Menurutmu mirip tidak, gambar yang aku warnai
dengan yang ibu kamu warnai?" tanyanya.
Aku terdiam dan tidak menjawab. Aku memandang
kedua gambar itu bergantian, dan tanpa sengaja aku
terkesiap sedikit
karena ternyata kedua gambar itu sangat mirip. Warna
yang digunakan ibu dan yang digunakan si pendek ini
benar-benar tidak ada bedanya.
Chapter 15: I am Home
☆☆☆
Kami sampai di rumah sakit sekitar pukul dua siang.
Begitu tiba di LA, Phi penjual rokok langsung
membawaku ke rumah sakit. Saat mobil berhenti, aku
memandang sekeliling. Rumah sakit ini sangat besar.
Setelah turun dari mobil, dia membawaku berjalan-
jalan mengelilingi rumah sakit.
Biasanya, hanya dengan merasakan lingkungan di
sekitar rumah saja aku sudah merasa kewalahan,
apalagi sekarang harus berjalan mengelilingi rumah
sakit, membuatku harus berhenti untuk duduk beberapa
kali. Jika tidak, aku mungkin akan pingsan sebelum
sempat menjelajahi seluruh tempat ini. Kami
menghabiskan waktu berjam-jam di sini.
Namun, di mana pun kami mencari, kami tidak
menemukan ibu Phi. Baik itu di kamar yang pernah dia
tempati untuk perawatan, meskipun aku tidak bisa
masuk, aku tetap mencoba memfokuskan pikiranku
untuk melihat ke dalam, tetapi tidak ada siapa pun.
Begitu juga di area yang katanya sering dikunjungi
ibunya, tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Phi tetangga duduk di bangku sebelahku setelah
membelikanku air. Dia membelikan air tanpa bertanya,
sepertinya dia tahu bahwa aku pasti haus. Ini sudah
kedua kalinya, dia pasti ingat. Aku meminum air itu
hampir habis dalam sekali teguk karena sangat haus.
Saat ini, jantungku berdebar cepat dan pikiranku kacau
karena merasa terganggu. Tentu saja, di rumah sakit
pasti banyak roh. Ditambah lagi, aku berada di tempat
yang asing dan belum pernah menggunakan inderaku di
negara lain seperti ini. Gelombang roh atau energi di sini
terasa sangat berbeda dari yang pernah aku temui.
Ini bukan pertama kalinya aku diganggu oleh roh. Aku
sudah mengalami berbagai macam gangguan sejak
kecil. Hal ini membuatku terbiasa dan tahu bahwa
mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba
menakut-nakuti kita. Aku tidak peduli dengan roh-roh
itu lagi.
Namun, kadang-kadang aku bertemu dengan banyak
roh sekaligus dan mereka cukup kuat, itu membuatku
merasa sedikit kacau. Terutama jika aku membuka
indera seperti ini, rasanya seperti aku membuka diri
untuk mereka mendekat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Phi di sebelahku. Aku
mengangguk pelan, meskipun belum membuka mata.
Gambar terakhir yang kulihat adalah roh wanita dalam
pakaian pasien rumah sakit berdiri di depanku,
menatap tajam. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan.
Ada banyak alasan mengapa roh mencoba mendekati
kita, entah meminta bantuan, mengikuti kita, atau
mungkin hanya ingin menakut-nakuti kita.
"Kau kedinginan?" dia bertanya lagi, mungkin karena
melihatku gemetar. "Tidak."
"Lalu kenapa gemetar?"
"Itu... karena sesak. Ada banyak roh."
"Oh, pernahkah kau bertemu roh yang agresif?"
tanyanya.
"Pernah," jawabku dengan suara serak.
"Seperti di film?"
"Menyakiti tubuh," kataku. Sebenarnya, Phi Donut juga
salah satu dari mereka, karena dia pernah menarik
kakiku sampai hampir jatuh dari tempat tidur.
"Parah?"
"Ada yang menyakitkan."
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku marah."
"Hanya itu?"
"Aku peringatkan mereka dulu. Jika tidak
mendengarkan, aku akan membalas."
"Mereka mendengarkan?"
"Sebagian besar tidak. Seperti di kamarku, aku teriak
dan marah, tetap saja berisik."
"Tapi sekarang sudah tidak berisik lagi."
"Ya, sejak kau datang, suara tangisan sudah berkurang."
"Phi Cream juga lebih bahagia sekarang," setelah
kembali menjadi penggemar K-pop. Aku mengancam
jika berisik, aku tidak akan memutar lagu K-pop atau
bercerita tentang idolanya lagi.
"Donut yang suka berisik menggangguku juga sudah
hilang. Apa dia ada di tempatmu?"
"Mungkin."
"Benarkah manusia dan roh bisa hidup berdampingan?"
"Seharusnya tidak," Nenek pernah memperingatkan
bahwa tidak benar bagi yang hidup dan yang mati untuk
terus berhubungan dengan alasan apapun. Sebenarnya,
aku ingin memperingatkan Phi Min mengenai hal ini,
tapi melihat dia bahagia bersama Donut, aku tidak tega.
"Ayo pergi."
"Ke San Francisco?" tanyaku saat melihat dia bangkit.
"Pesawatnya nanti malam, kita makan dulu. Kau
sudah baik-baik saja?" "Ya," aku bangkit, merasa
sedikit lebih baik.
Saat ini cuaca agak dingin karena mendekati musim
dingin. Bagiku, cuaca seperti ini disebut cuaca bagus
karena tidak terlalu panas atau dingin.
Kami kembali ke mobil dan pergi ke restoran tidak jauh
dari rumah sakit, restoran ayam goreng besar berwarna
merah. Aku melihat ke dalam, tidak terlalu banyak
orang. Kami masuk dan memesan ayam goreng.
"Heh," dia berseru dengan ekspresi kaget, mengernyit
melihat tanganku. "Apa yang kau lakukan?"
"Mengupas kulit."
“...” Aku tidak menanggapi reaksinya yang tampak
seperti melihat sesuatu paling aneh di dunia. Kedua
tanganku terus mengupas kulit ayam goreng sampai
habis sebelum memakan bagian daging yang tersisa.
“Kenapa kau... Tunggu, kau serius tidak memakan
kulitnya?”
“Ya.”
“Serius? Kenapa?” Suaranya masih terdengar heran
seperti sebelumnya. “Itu keras. Menusuk gusi.”
“...” Dia mengernyit lebih dalam lalu menggelengkan
kepala perlahan. “Tidak bisa diterima. Kau seperti
merendahkan ayam goreng. Mereka sudah berusaha
keras menggoreng kulitnya agar garing.”
“Menurutku tidak cocok.”
“Aku tidak terima. Ini seperti menghancurkan
martabat ayam goreng.” “Lalu?”
“Kenapa tidak memesan ayam yang lembut saja?”
“Daging ayam crispy lebih enak.”
“Kau ini keterlaluan,” umpatnya. “Ini dosa. Memisahkan
kulit ayam goreng itu adalah dosa besar.”
“…”
“Lalu kau tidak mencelupkan ke saus?”
“Aku tidak suka saus.”
“Apa makan ayam tanpa saus enak?”
“Enak,” jawabku. “Ayamnya sudah memiliki rasa
sendiri.”
“Benarkah? Menurutku rasanya pasti seperti makan
tisu.” Dia menggelengkan kepala perlahan dengan
wajah tampak kesal. “Mengupas kulit ayam goreng itu
dosa besar. Sama seperti merusak altar persembahan.”
“Sebesar itu?”
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku menghadapi
reaksi seperti ini karena tidak makan kulit ayam goreng.
North juga pernah seperti itu. Dia protes keras, bahkan
lebih kaget saat tahu aku tidak mencelupkan ayam ke
saus. Aku hanya makan daging ayam polos saja.
Aku memang tidak memakan kulit hewan apapun
karena tidak suka. Kulit ayam goreng terasa keras dan
menusuk gusiku, membuatku tidak nyaman saat harus
mengunyahnya. Selain itu, aku tidak suka hampir semua
jenis saus. Karena itu, cara makanku adalah hanya
memakan daging ayam polos seperti ini.
“Sebagai seseorang yang tumbuh bersama ayam
goreng, hatiku hancur,” katanya sambil menggelengkan
kepala lagi. “Kalau itu sayap Wingz Zabb, kau akan
bagaimana?”
“Ya, tetap mengupas kulitnya.”
“Mengupas kulit Wingz Zabb! Aku tidak bisa menerima
ini. Aku sangat kecewa,” ucapnya dengan alis berkerut
seperti menahan pusing. “Sungguh menyakitkan. Orang
membeli Wingz Zabb tapi malah mengupas kulitnya.”
“North pernah memaksaku makan kulitnya, jadi
sekarang aku bisa memakannya.”
“Syukurlah North sudah bertindak benar,” katanya
sambil menghela napas panjang. Tampaknya cara
makanku telah melukai hati pencinta ayam goreng
lainnya. North dulu juga bilang kalau dia hampir patah
hati karena hal ini. “Kalau begitu, berikan kulitnya
padaku. Aku akan memakannya.”
“Ya,” jawabku. Dia segera meraih kulit ayam yang baru
saja kupisahkan dan memakannya, lalu memberikan
daging ayam yang sudah dianpisahkan kulitnya
kepadaku.
“Ini, kau makan dagingnya saja.”
“Kau tidak mau memakannya?”
“Orang biasanya menyukai ayam goreng karena
kulitnya, bukan?” katanya. Aku pun mengambil
potongan daging ayam yang baru saja dia berikan.
Setelah makan beberapa potong lagi, aku merasa
kenyang. Aku hanya duduk menunggu dia
menghabiskan makanannya, yang ternyata masih cukup
banyak.
Dulu, aku pernah terkejut melihat betapa banyaknya
makanan yang Ter bisa makan. Tapi aku lebih terkejut
sekarang saat melihat orang di depanku ini makan.
Setelah selesai makan, kami kembali ke mobil dan
berdiskusi tentang ke mana akan pergi selanjutnya.
Masih ada banyak waktu tersisa.
“Novel,” kataku sambil teringat bahwa kami pernah
sepakat untuk pergi membeli novel. Dia mengangguk
kecil sebelum menyalakan mobil dan membawaku ke
toko buku. Aku memandang keluar jendela, menatap
kota yang asing di mataku. Aku pernah ke Los Angeles
sekali bersama Pho dan Dad, tapi bukan di daerah ini.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah toko buku besar.
Desain bangunan toko itu membuatku terpaku, sampai
Phi yang berada di sebelahku harus memanggilku dan
bertanya kenapa aku melamun. Aku mengeluarkan
ponsel untuk memotret bangunan itu sebelum
mengikutinya masuk ke
dalam. Begitu masuk, aku terpana melihat bagian dalam
toko yang sangat luas dengan rak-rak buku yang berisi
banyak sekali buku.
Kami berjalan ke bagian novel misteri, dan aku
menemukan buku yang ingin kubeli. Aku pun terus
berjalan melihat-lihat sambil membawa beberapa buku
yang menarik perhatianku.
“Pernah membaca ini?” tanyanya sambil menunjukkan
sebuah buku. Aku mendekat untuk melihatnya. Kadang,
sampul edisi asli dan terjemahan tidak sama, jadi aku
memastikan dulu. Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Sepertinya menarik,” katanya, tapi dia meletakkan
buku itu kembali ke rak.
“Kenapa tidak membelinya?”
“Tidak, ini saja juga sudah tidak ada waktu untuk
membaca.”
Aku meraih buku itu dan memasukkannya ke dalam
keranjang. Buku ini terlihat menarik. Sebenarnya, dia
tidak punya waktu untuk membaca, tapi aku masih
punya waktu.
“Mau ambil itu?”
“Iya.”
“Kalau begitu, baca dan rangkumkan buat ku juga, ya?”
“Iya.”
Setelah selesai memilih, kami keluar dari toko. Kami
tidak membeli banyak, hanya yang bisa ditahan karena
sudah ada barang lain yang harus dibawa, dan kami
harus pergi ke tempat lain lagi. Dia menaruh kantong
buku di bagasi mobil sebelum akhirnya kami kembali ke
bandara.
Kami tiba di bandara jauh lebih awal dari yang
direncanakan. Cukup waktu untuk check-in dan duduk
santai menunggu. Aku mengambil novel yang baru
dibeli dan membacanya sambil menunggu
penerbangan.
Tidak sering aku membaca novel dalam bahasa Inggris.
Aku bisa sedikit berbicara karena sering ngobrol dengan
ayah, tapi aku tidak cukup mahir untuk membaca novel
utuh tanpa hambatan. Jadi, aku harus membuka ponsel
untuk menerjemahkan kata-kata beberapa kali.
Berbeda dengan dia yang terus membaca tanpa
kesulitan.
Ketika saatnya tiba, kami naik pesawat menuju San
Francisco, tempat terakhir dalam perjalanan ini. Tidak
butuh waktu lama dari LA untuk sampai di San
Francisco, kami tiba hampir pukul 10 malam. Begitu
turun dari pesawat, aku merasa sangat lelah, mungkin
karena kelelahan yang terakumulasi sejak di rumah
sakit dan harus melanjutkan perjalanan.
Namun, aku berhasil menguatkan diri untuk naik ke
mobil. Begitu naik, aku langsung tertidur, sama seperti
saat di Hawaii. Ketika aku sadar, Phi di kamar sebelah
sudah membangunkanku. Aku membuka mata dengan
kesulitan. Sekelilingku gelap, hanya ada cahaya lampu
yang masuk. Aku melihat sekeliling dan menyadari kami
sudah sampai di halaman rumah. Aku melihat rumah
besar dan indah, tidak jauh dari tempat parkir.
…
…
Aku melihat si pendek yang hanya berdiri termenung di
depan rumah. Tidak tahu kenapa, tapi aku berpikir
mungkin karena rumahku yang indah sehingga
membuatnya terkesima. Sebenarnya, aku sangat tidak
nyaman
membawa orang lain ke sini, karena ini adalah tempat
penuh kenangan bagiku. Aku sudah lama sekali
berusaha untuk bisa kembali, walaupun sebenarnya itu
sangat berat.
Sekarang sudah hampir jam 11 malam, si pendek itu
tertidur sepanjang perjalanan, tapi kelihatannya belum
membaik. Mungkin dia perlu beristirahat lebih dulu.
Aku berhenti di depan rumah, dengan kunci di tangan.
Biasanya, aku merasa ragu untuk masuk, butuh waktu
untuk menenangkan diri. Nong yang berdiri di samping
pun tidak mengajukan komentar meskipun terlihat
kelelahan.
Setelah menenangkan diri dan membuka kunci, aku
menyalakan lampu di dekat pintu. Setelah melepas
sepatu, aku berkata seperti biasa.
“Ma, aku sudah pulang.”
Dan seperti biasa, tidak ada jawaban yang datang,
sudah bertahun-tahun seperti itu.
Ketika lampu utama rumah menyala, pemandangan
yang sudah lama akrab terlihat kembali. Aku tumbuh di
sini, setiap bagian rumah ini sudah sangat familiar
bagiku. Tidak ada yang dipindahkan atau berubah
sedikit pun. Semuanya tetap terjaga, karena Direk
selalu memastikan ada orang yang merawatnya. Taman
belakang juga masih dirawat oleh orang yang sama.
Aku membawa si pendek ke kamar tamu. Dia berjalan ke
tempat tidur dan langsung tidur. Tugasku adalah
membawa barang dan menyalakan AC seperti
sebelumnya, menutup pintu kamar, lalu menuju
kamarku sendiri.
Waktu yang tersisa di sini hanya dua hari lagi. Hari
pertama kami meninggalkan Thailand dan tiba di Hawaii
di sore hari. Hari kedua, pagi hari kami menuju LA, dan
malamnya menuju San Francisco. Akhirnya kami sampai
di sini sudah cukup larut. Perjalanan ini memang benar-
benar hanya perjalanan.
---
Aku turun ke bawah untuk berjalan-jalan. Tidak mungkin
tidur di tempat seperti ini. Aku mencoba untuk tidak
memikirkan masa lalu, kenangan tentang tempat-
tempat yang pernah dilalui ibuku.
Aku berjalan ke taman belakang yang hanya diterangi
cahaya lampu luar yang temaram. Aku mengeluarkan
rokok dari kantong celana dan mulai merokok.
Aku membiarkan asap rokok berterbangan terbawa
angin yang berhembus. Tidak lupa dengan bir yang tadi
aku ambil. Aku membuka kaleng dan meminumnya.
Syukurlah si pendek itu sangat lelah hingga harus
beristirahat, jadi aku bisa mempersiapkan sedikit lebih
banyak. Karena tempat ini adalah tempat terakhir yang
mungkin ibu tinggali. Jika jawabannya tidak, maka
saatnya aku harus melepaskan, seperti yang sudah lama
aku pikirkan.
Jika ibu benar ada di sini, apakah dia akan merasa
kesepian? Biasanya kami hanya datang ke sini saat akhir
tahun, sekarang ibu akan melihat atau tidak? Kalau ibu
tahu aku sedang merokok, apakah dia akan marah?
Jika berani, keluarlah dan marahlah...
Ah, sungguh, aku jadi kebanyakan pikiran.
Aku menekan tombol telepon untuk menghubungi
Direk. Tidak lama kemudian, dia mengangkat.
(Kau tahu di Thailand jam berapa, hah?)
“Aku tidak tahu. Apa kau ada waktu?”
(Ya, aku ada waktu sedikit.)
"Kalau begitu kenapa mengeluh?"
(Aku hanya mengeluh saja. Jadi, bagaimana kabarmu?)
"Aku tidak menemukannya sama sekali, di
Hawaii maupun LA." (Sekarang kau di San
Francisco?)
“Hmm.”
(Itu tempat terakhir?)
"Hmm."
(Di sana hampir tengah malam, kan? Berapa banyak bir
dan rokok yang sudah habis?)
"Aku baru saja mulai merokok, baru sampai juga."
(Oh begitu.)
"Direk."
(Apa?)
"Direk…."
(Apa????)
"Kalau aku tidak menemukannya, bagaimana ini?"
(…)
"Aku benar-benar keras kepala, ya? Aku sudah datang
sejauh ini, tapi tetap saja tidak menemukannya." Aku
berkata dengan suara yang sedikit melemah,
meletakkan tangan yang memegang rokok di atas meja,
lalu menundukkan kepala hingga keningku menyentuh
pergelangan tanganku. "Direk…"
(Kau sadar tidak, kalau kau suka memanggil namaku
berulang-ulang saat kau tidak tahu harus berbuat apa?)
"Oh ya? Mungkin begitu." Aku berkata. "Jadi,
bagaimana ini?"
(Tidak ada yang bisa dilakukan, kau tahu itu. Kau datang
jauh-jauh kesana karena ingin memastikan dan
akhirnya bisa melepaskannya, bukan?)
"Direk, kau sudah melepaskannya?" Aku bertanya
meskipun aku tahu jawabannya. Direk sudah lama
menerima kenyataan bahwa ibu tidak ada lagi. Hanya
aku yang belum bisa menerima, makanya aku masih
seperti ini.
(Aku sudah menerimanya.)
"Kenapa kau bisa melepaskannya, Direk? Aku masih
belum bisa menerima kenyataan. Aku ini benar-benar
bodoh,."
(Aku masih memilikimu, kan.)
"Tiba-tiba terasa menyentuh sekali."
(Aku mencoba menyentuh hatimu, tapi kau malah
selalu bercanda.) "Baiklah, katakan saja. Buat aku
terharu sampai menangis, boleh, kan?"
(Kau ini menyebalkan. Aku tidak mau bicara lagi, dasar
bajingan.) Aku mendengar suara Direk menghela napas
berat dari ujung telepon. (Kalau kau masih bisa
bercanda, berarti kau baik-baik saja.)
"Sedikit, mungkin." Aku mengangkat bahu kecil. "Kalau
sudah tahu hasil akhirnya, aku akan menelepon lagi
nanti."
(Oke.)
"Semangat bekerja dan cari uang, Direk."
(Dasar bajingan. Cari uang agar kau bisa minum alkohol
dan bir lagi, hah?!) Direk mengomel sebelum menutup
telepon.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, membuang rokok
di tangan dan menyalakan sebatang lagi. Menatap
langit kota kelahiranku dengan tatapan kosong, hatiku
terasa hampa. Aku terus merokok sebatang demi
sebatang, berharap perasaanku membaik.
Pada malam yang begitu biasa di San Francisco itu, aku
tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aroma bir
bercampur dengan bau rokok, rasa pahit itu beradu
dengan sedikit manis yang samar.
Dan sepanjang malam itu... aku tidak bisa mengeluarkan
diriku dari pusaran pikiranku.
Aku terbangun karena sinar matahari menembus
mataku. Semalam aku ingat mabuk dan malas untuk
pergi ke mana-mana, jadi aku tidur di tempat itu saja.
Untungnya aku tidak apa-apa, hanya sakit punggung dan
leher sedikit. Melihat kaleng bir kosong berserakan, aku
jadi bertanya-tanya kenapa aku bisa minum sebanyak
itu. Ditambah rokok-rokok ini, aku pikir saat pulang ke
Thailand nanti aku harus berhenti sejenak.
Kurasa si pendek itu masih belum bangun. Sekarang
sudah lewat pukul delapan dan aku mulai lapar. Aku
tidak berniat menyuruh si pendek itu memasak lagi.
Aku memutuskan untuk makan di luar. Aku mencoba
mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tapi tidak ada
jawaban. Aku akhirnya membuka pintu dengan kunci
cadangan dan melihat dia masih tertidur pulas di atas
tempat tidur.
"Hei…," panggilku, tapi dia tidak bangun. Aku mencoba
menggoyangkan tubuhnya dan menyadari kalau
tubuhnya panas.
"Astaga, kau sakit?"
"Hm?" Dia menjawab dengan suara lemah dari
tenggorokannya, lalu perlahan mendorong dirinya
untuk duduk di tempat tidur.
"Kau demam?"
"Mungkin."
"Astaga, lalu bagaimana ini?"
"Tidak apa-apa. Sekarang jam berapa?"
"Delapan."
"Hmm." Dia hanya menjawab begitu sebelum bangun
dari tempat tidur dan menyuruhku keluar karena dia
ingin mandi dan bersiap-siap. Karena dia bilang begitu,
aku pun keluar dari kamarnya untuk mandi dan bersiap
juga. Setelah selesai, aku menunggu di sofa tengah
rumah. Kuharap dia tidak akan terpeleset dan
membentur kepala di kamar mandiku.
Tidak lama setelah aku mengutuknya dalam hati, dia
keluar dari kamarnya dengan kondisi yang tidak terlihat
baik. Kemarin wajahnya pucat, sekarang malah merah
seperti udang rebus. Dia memakai jaket dan juga topi.
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Beristirahat sebentar juga tidak apa-apa, mungkin. Biar
aku saja yang pergi membeli makanan di luar," kataku,
karena aku khawatir jika dia sakit parah, kemampuan
sensing-nya bisa terganggu.
"Tidak apa-apa," jawabnya pelan, seperti merasa dirinya
baik-baik saja. Aku menaikkan alis, heran. Dari luar saja
sudah jelas dia tidak baik-baik saja. Orang lain pasti
memilih beristirahat di kamar daripada memaksakan
diri. Dia ini tipe orang yang suka memaksakan diri, ya?
Karena dia sendiri yang bilang begitu, aku biarkan saja.
Aku membawanya keluar rumah untuk makan di luar.
Selama perjalanan, dia seperti melamun. Saat aku
membangunkannya, dia hanya bangkit perlahan dan
berjalan lemah mengikutiku masuk ke restoran.
Setelah makanan dipesan, dia hanya makan sedikit, lalu
meletakkan sendok dan garpunya. Mungkin karena
sedang sakit, jadi nafsu makannya juga menurun.
Biasanya dia makan banyak, seperti tidak pernah
kenyang.
Sejujurnya, aku tidak heran jika dia akhirnya jatuh sakit.
Jadwal perjalanannya terlalu padat. Apalagi dari awal
dia memang sudah terlihat kelelahan.
"Meski sakit begini, kau benar-benar tidak
apa-apa?" tanyaku. "Maksudmu?"
"Soal mencari ibuku."
"Tidak masalah. Bahkan sebenarnya, kemampuanku
malah lebih tajam." "Kenapa begitu?"
"Karena kondisi mental jadi lebih lemah," jawabnya.
Aku mengangguk kecil. Rasanya aku pernah mendengar
hal serupa— katanya orang yang sakit lebih mudah
mengalami hal mistis.
Setelah selesai makan, kami naik mobil lagi. Tujuan
berikutnya adalah tempat yang memang sudah aku
rencanakan, yaitu pemakaman tempat ibu
dimakamkan.
Dia tidak mungkin melupakan tempat ini.
Aku membawanya ke depan batu nisan dengan nama
ibu tertera di sana. Dia berdiri diam sejenak sebelum
melepas gelang dari tangannya lagi dan memejamkan
mata. Aku memperhatikannya sambil menunggu, tapi
tiba tiba saja dia pingsan dan jatuh ke tanah.
"Sial!" Aku spontan berteriak. Untung refleksku cepat,
berhasil menangkapnya sebelum dia jatuh ke tanah.
Kalau tidak, dia pasti sudah mencium tanah sekarang.
Aku menatap tubuh panasnya yang sekarang berada di
pelukanku.
Gawat. Apa dia pingsan karena sakit, atau ini akibat
pengaruh roh halus di sini? Waktu di rumah sakit
sebelumnya, dia juga bilang merasa kacau karena
sesuatu.
Jangan sampai aku malah membawa orang untuk mati!
Tidak, aku ini dokter. Mana mungkin membiarkan orang
mati di tanganku begitu saja.
Aku mengangkat tubuhnya, membawanya ke mobil, lalu
menidurkannya di kursi penumpang. Aku memutuskan
untuk membawanya ke rumah sakit terdekat demi
memastikan kondisinya. Dokter bilang dia hanya
kelelahan dan sedikit demam. Mereka memberinya
cairan infus dan menyarankan istirahat total hingga
kondisinya membaik.
Aku menatap dia yang kini terbaring di ranjang rumah
sakit dengan tangan diinfus. Sudah kubilang, kan, lebih
baik dia istirahat saja. Sekarang malah merepotkan dan
aku harus membawanya ke rumah sakit. Nanti juga
pasti ada biaya perawatan. Ah, sudahlah, itu tidak
terlalu penting. Tapi kenapa sih dia harus memaksakan
diri seperti itu?
Kalau aku, pasti aku memilih istirahat saja di rumah.
Tidak akan memaksakan diri keluar seperti dia.
Sejujurnya, kalau hanya pingsan karena kelelahan,
masih lumayan. Tinggal istirahat dan infus, pasti
membaik. Tapi kalau ini gara-gara ada roh halus di
pemakaman yang mengganggunya, seperti di film-film,
aku bisa mati berdiri.
Membawanya ke sini sudah merepotkan, sekarang
malah membuatku merasa bersalah. Sialan!
Karena tidak ada yang bisa aku lakukan selain
menunggunya sadar, aku memutuskan untuk
menelepon North dan memberi tahu soal keadaan
temannya. Kalau nanti dia kembali ke Thailand dan
North mendengar ini dari orang lain, dia pasti akan
marah kenapa aku tidak memberi tahu sejak awal.
(Halo, Phi!) North menjawab telepon dengan suara
penuh semangat seperti biasa. North ini selalu terlihat
penuh energi. Berbeda sekali dengan orang yang kini
terbaring lemah di ranjang rumah sakit ini. Temannya
ini seperti robot dengan baterai yang hampir habis.
"Temanmu sakit," kataku langsung.
(Oh, ya?)
"Kenapa kau terdengar tidak peduli?"
(Dia memang sering sakit. Biasalah, orang lemah.)
"Apa? Dia pingsan, tahu. Sekarang
sedang di rumah sakit." (Dia makan
tidak?)
“Makan, tapi hanya sedikit.”
(Begitu, ya. Dia sering pingsan dan masuk rumah sakit
karena kelelahan. Dia tidak suka makan, ya?)
"Tapi aku lihat dia makan, kok."
)Itu karena terpaksa. Dia punya penyakit maag,) kata
North. (Apa kata dokter? Cuma sakit biasa, kan?)
"Kelelahan juga."
(Ya, sudah kuduga. Karena dia terlalu banyak
menggunakan kemampuannya. Biasanya sudah
melelahkan, apalagi setelah menemanimu ke banyak
tempat dan terus menggunakannya. Wajar kalau
akhirnya tubuhnya tidak kuat.)
"Jadi aku merasa bersalah."
(Phi, kau bisa merasa bersalah juga, ya?)
"Tentu saja! Aku ini orang baik, tahu."
(Butuh keberanian besar untuk mengakui diri sendiri
sebagai orang baik,$ North tertawa kecil. (Dia sakit tapi
tidak mau istirahat, ya?)
"Bagaimana kau tahu? Apa dia memang selalu begitu?"
(Ya, si 'roh pengelana' itu memang begitu. Dia tidak
pernah peduli atau memperhatikan dirinya sendiri. Dia
pikir, 'Ah, tidak apa-apa,' dan terus saja memaksakan
diri. Aku yakin kalau dia kena tusuk pisau sampai hampir
mati pun, dia akan bilang tidak apa-apa dan lanjut
bekerja.)
“Kau serius?”
(Lalu, apa dia hanya kelelahan saja, kan,
sampai pingsan begitu?) “Dari yang dokter
bilang, hanya itu. Tapi...”
(Tapi apa, Phi?)
“Kemarin dia bilang saat memakai indera keenamnya,
dia diganggu hantu. Lalu, tadi aku membawa dia ke
kuburan, dan kuburan kan memang banyak hantunya,
bukan? Aku pikir, mungkin...”
(Astaga... sial!)
“Iya, aku juga sedikit khawatir. Jangan-jangan nanti saat
dia bangun, dia akan langsung loncat dan mencekikku.”
(Ah, tidak mungkin, Phi. Kalau sampai hantu bisa loncat
begitu, dia pasti punya mental kuat, kan?)
“Tapi dia bilang kalau sedang sakit, mentalnya jadi
lemah.”
(Iya juga, ya. Sial!)
Aku mengobrol santai dengan North sebentar sebelum
menutup telepon. Intinya, ini sudah biasa buat si
pendek itu, yang sering memaksakan dirinya sendiri.
Aku tidak terlalu paham kenapa ada orang yang suka
memaksakan diri seperti itu. Soalnya, aku ini sangat
manja. Bahkan meski hanya susah buang air saja, aku
tidak akan kuat untuk pergi kuliah.
Aku berbaring santai sampai akhirnya tertidur. Ketika
sadar, rasanya sudah sore. Si pendek itu duduk di
tempat tidur pasien sambil menoleh ke arahku dengan
wajah lesu seperti biasa. Tapi, wajahnya terlihat sedikit
lebih segar sekarang.
"Kau... baik-baik saja?"
"Ya."
"Kenapa kau pingsan? Karena kelelahan?"
"Tidak." Suaranya terdengar serak saat menjawab. Aku
bangkit, menuangkan air ke gelas, lalu menyerahkannya
padanya. Apakah aku sekarang jadi pelayan air? "Di
kuburan tadi banyak sekali roh, dan karena aku sedang
sakit, semuanya jadi kacau."
"Jadi karena itu kau pingsan?"
"Ada satu roh yang mendekat dengan cepat, lalu..."
"Membuatmu terkejut, ya?"
"Kurang lebih seperti itu."
"Lalu kau tidak kesurupan atau semacamnya, kan?"
"Tidak. Dia hanya punya niat buruk saja, tapi sepertinya
aku tidak apa apa." Dia menjawab tanpa menunjukkan
kekhawatiran apa pun. Sebagai seseorang yang punya
kemampuan melihat roh, dia pasti tahu keadaannya
sendiri dengan baik.
"Dia tidak bisa melakukan lebih dari hanya mendekat
begitu saja, kan?" tanyaku sambil mengambil gelas yang
tadi untuk meletakkannya kembali. Dia mengangguk
sebagai jawaban.
"Kenapa begitu? Aku pikir seperti di film, orang bisa
langsung kesurupan atau terkena sesuatu. Tapi ini,
hanya terkejut satu kali lalu selesai begitu saja?"
"Mereka hanya bisa sejauh itu. Karena aku sedang sakit,
jadi kekuatanku sedikit menurun, tapi tidak sampai
terlalu lemah."
"Ah, begitu. Kau pernah mengalami hal seperti ini
sebelumnya?" "Pernah, tapi aku belum pernah
pingsan gara-gara roh sebelumnya." "Karena kau
sering bertemu banyak roh, ya?"
"Itu salah satu alasannya. Ditambah karena aku sedang
sakit, jadi tubuhku lebih lemah. Lagi pula, seperti yang
kukatakan, roh itu memang berniat buruk."
"Tunggu sebentar." Aku mengerutkan kening sambil
mencoba merangkai kata-kata. "Jadi kau bilang ini
pertama kalinya kau pingsan gara-gara roh? Sampai
benar-benar hilang kesadaran?"
"Kurang lebih seperti itu." jawabnya dengan wajah tetap
tenang seperti biasanya.
“Jadi, tidak ada hal lain yang terjadi? Maksudku, tidak
ada yang lebih dari sekadar diserang, diseret, atau hal-
hal seperti di film-film?” tanyaku sambil meletakkan
gelas air yang tadi kuberikan padanya.
“Sebatas itu saja. Dia tidak punya cukup kekuatan untuk
melakukan lebih dari itu. Lagipula, aku masih cukup
sadar untuk melawan,” jawabnya dengan nada ringan,
seolah kejadian tadi bukan sesuatu yang perlu
dikhawatirkan.
“Hanya bisa melompat-lompat untuk menakut-nakuti,
begitu?” Aku mengernyit, masih mencoba memahami.
“Tidak ada yang lebih ekstrem dari itu?”
“Dia tidak punya cukup energi untuk itu, dan tubuhku
juga tidak selemah itu walaupun sedang sakit. Kalau
aku bilang aku baik-baik saja, kau tidak perlu
khawatir.”
“Lalu, apakah kau pernah mengalami hal seperti ini
sebelumnya?” tanyaku, ingin mengetahui lebih banyak.
“Pernah, tapi tidak sampai pingsan karena roh seperti
itu. Biasanya aku hanya merasa pusing atau sedikit lelah
saja,” jawabnya sambil menyandarkan punggung ke
bantal, mencoba untuk rileks.
Aku terdiam sejenak, merasa sedikit khawatir meskipun
dia mengatakan tidak ada yang serius. Bagaimana pun
juga, aku tahu dia tidak akan mengakuinya kalau benar-
benar dalam bahaya. Tapi sepertinya aku harus lebih
berhati-hati dengan kondisinya ke depan.
“Aku berharap kau bisa lebih menjaga diri, jangan
sampai terlalu memaksakan diri,” kataku, sedikit
khawatir.
“Aku akan berusaha. Terima kasih sudah peduli,”
jawabnya dengan senyuman tipis.
"Apa ada jaminan bahwa kau akan selalu aman? Karena
meskipun mentalmu kuat, itu bukan berarti kau akan
selalu selamat. Mungkin saja ada roh yang benar-benar
bisa melukaimu."
"Kalau roh di kuburan tadi benar-benar bisa
menyerangmu, apa yang akan terjadi?"
"Mungkin aku bisa mati."
"Sia..." Aku terdiam mendengar perkataannya. Nada
suaranya tetap tenang, berbeda dengan aku yang
bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Jika tadi benar-
benar terjadi, roh itu mungkin saja membunuhnya,
kan?
Shiaaa...
"Maaf."
"Kenapa kau tidak bilang kalau ini berbahaya? Kalau kau
sedang tidak sehat dan mentalmu selemah itu, kau
seharusnya tinggal di rumah saja."
"Kebetulan aku sedang tidak sehat, jadi
sebaiknya aku keluar juga." "Kenapa?"
"Kalau mental sedang lemah, indera menjadi lebih peka.
Jadi lebih mudah merasakan keberadaan roh. Itu
sebabnya aku bisa menemukannya dengan cepat."
Dia terdiam, tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku
menatapnya dengan kening berkerut, mencoba
memahami. Apa dia tidak memikirkan hal ini? Dia
menjadi lebih peka terhadap keberadaan roh karena
mentalnya lemah.
Itu sebabnya mereka dapat dengan mudah melukainya.
Kenapa kau tidak memikirkan ini? Ini bisa saja berujung
pada kematiannya. Apa yang Phi North katakan
memang benar, dia suka memaksakan diri. Tapi aku
tidak mengira sampai sejauh ini.
Apa dia menganggap semua hal penting
kecuali dirinya sendiri? Orang seperti ini
benar-benar ada?
Dan dia tetap bersikap tenang seolah tidak menyadari
apa-apa, sementara aku merasa sangat kesal. Kalau dia
mati tadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku pasti
akan merasa sangat bersalah. Aku yang meminta
bantuannya, aku juga yang membawanya ke sini.
Aku membawanya ke kuburan itu karena dia bilang
tidak apa-apa. Tapi ternyata, hampir saja dia mati.
"Aku tidak mengerti."
"Apa?"
"Kenapa kau harus sampai melakukan ini? Kalau kau
beristirahat dua atau tiga jam lagi sampai kondisimu
membaik, apa salahnya? Aku tidak sedang marah atau
ingin memarahimu."
"Aku sering merasa tidak sehat, jadi aku tidak
terlalu memikirkannya." "Lalu..."
"Apa?"
"Aku hanya berpikir untuk membantu sebaik mungkin."
Aku keluar dari ruang pasien, meninggalkannya
sendirian di sana. ‘Hanya berpikir untuk membantu
sebaik mungkin’ katanya?
Sungguh bodoh!
Baiklah, dia ingin membantu dengan sepenuh hati tanpa
peduli apa-apa. Dia rela menemani ku sejauh ini hingga
ke belahan dunia lain.
Tubuhnya begitu lemah, tapi dia tetap memaksakan diri
untuk membantuku. Wajah pucatnya sudah hampir
pingsan berkali-kali. Dia menghabiskan semalaman
mewarnai lukisan ibuku tanpa tidur, lalu masih juga
membantuku meskipun sedang sakit. Dia bilang tidak
apa-apa, tapi sebenarnya dia hampir mati.
Baiklah, terserah kau saja mau melakukan apa!
North bilang kau memang seperti ini, kan?
Jadi, mau terus memaksakan diri atau jadi orang baik,
lakukan sesukamu! Sementara siapa aku ini? Sial,
kenapa aku jadi merasa sangat kesal?!!
Chapter 16: Happier
Pada sore hari di San Francisco, aku menatap keluar
melalui jendela kamar pasien di rumah sakit. Tirai
berwarna krem melambai tertiup angin yang masuk.
Aku merasa jauh lebih baik dibandingkan pagi tadi, saat
kepalaku terasa pusing dan tubuhku menggigil hingga
tak ada tenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Aku
menoleh ke tangan yang masih terpasang infus.
Biasanya, aku sering sekali keluar-masuk rumah sakit,
jadi berada dalam kondisi seperti ini bukanlah hal yang
asing bagiku. Kalau tanganku bisa bicara, mungkin ia
sudah mengeluh, "Cukup, dong, ini sudah penuh luka."
Phi yang berada di kamar sebelah baru saja pergi
dengan ekspresi tak puas setelah mengajukan banyak
pertanyaan kepadaku tanpa henti. Aku baru saja
berbicara dengan North, yang mengeluh bahwa aku
terlalu ceroboh. North juga bilang kalau Phi di kamar
sebelah sebenarnya merasa bersalah. Mungkin
memang begitu, karena dia sudah meminta maaf
kepadaku. Tapi ini bukan salahnya. Dia tidak
memaksaku untuk melakukan apapun, kan?
Aku memang punya kebiasaan melakukan sesuatu
dengan sepenuh hati, sampai sering lupa memikirkan
diri sendiri. Dampak buruk seperti ini kerap terjadi.
Ketika bekerja, aku selalu melakukannya dengan
totalitas, sampai jatuh sakit entah berapa kali. Tapi
meskipun sakit, aku tetap ingin bekerja. Itu adalah hal
yang selalu dikeluhkan oleh orang-orang di sekitarku.
Aku sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku
selalu merasa baik-baik saja dan yakin bisa
melakukannya.
Aku berbaring santai selama setengah jam hingga dokter
datang memeriksa dan mengatakan bahwa aku sudah
boleh pulang karena kondisiku membaik. Setelah
dokter keluar, aku berganti pakaian dan keluar dari
kamar dan melihat Phi dari kamar sebelah sudah
menungguku di luar.
Aku mengikutinya keluar rumah sakit setelah dia
membantu membayar biaya perawatan dan mengambil
obat. Langit mulai gelap. Saat sedang berkendara, dia
tiba-tiba bertanya,
“Lalu, kau menemukannya tidak? Di pemakaman itu?”
“Tidak.”
Dia tidak berkata apa-apa lagi, matanya tetap fokus
pada jalan di depannya. Aku pun kembali menikmati
pemandangan di luar jendela mobil. Tapi aku merasa
aneh ketika melihat banyak arwah berjalan hilir mudik di
jalanan. Saat itu aku baru ingat kalau aku lupa memakai
gelang yang seharusnya. Aku mencoba mencarinya di
saku celana.
Tapi, aku tidak menemukannya. Aku ingat tadi pagi di
pemakaman aku melepasnya dan memasukkannya ke
dalam saku. Apa mungkin gelang itu jatuh saat aku
pingsan atau ketika mengganti pakaian di rumah sakit?
…
Malam hari, aku melihat Phi kamar sebelah mengisap
rokok yang diapit bibirnya sambil memetik gitar di
tangannya.
Mungkin dia mendengar langkah kakiku, karena dia
menoleh padaku. “Kenapa tidak tidur?”
“Aku sudah bangun.”
“Sudah sembuh?”
“Kupikir begitu,” jawabku sambil memandangi
tumpukan puntung rokok di asbak. Selain itu, beberapa
kaleng bir kosong berserakan di sekitar, jumlahnya
terlalu banyak untuk diminum atau dihisap oleh satu
orang dalam waktu singkat.
“Kau sudah bisa mencari?” tanyanya lagi.
“Sekarang?”
“Ya.”
“Sudah.”
“Kau yakin?”
Aku mengangguk pelan, “Ya.” Saat ini, aku merasa
tubuhku sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa
lelah atau pusing. Mendengar jawabanku, dia
meletakkan gitarnya dan bangkit berdiri. Wajahnya
terlihat kelelahan, penuh kekhawatiran dan
kebingungan yang hampir tak bisa ia sembunyikan.
Mungkin karena ini adalah tempat terakhir yang tersisa,
jawaban sepertinya sudah begitu dekat, hingga sulit
baginya untuk tetap tenang.
“Kalau begitu, ayo kita cari sekarang.”
Dia membawa ku ke luar.
Saat itu tengah malam. Sekitar kami hanya diterangi
lampu jalan. Aku melepas gelang -cadangan- di
pergelangan tanganku dan mulai fokus memperhatikan
sekitarku. Malam hari selalu menjadi waktu yang lebih
mudah untuk melihat mereka. Dia membimbingku
berkeliling rumah, seperti yang biasa dilakukan
sebelumnya.
Namun, kami tidak menemukan apa pun di halaman
belakang, kamar kamar di dalam rumah, ruang tamu,
kamar tidur, kamar mandi, ruang latihan musik, atau
balkon. Tidak ada jejak keberadaan ibunya di sana.
Satu tempat yang sengaja dia hindari adalah ruang
keluarga di bagian belakang rumah. Sebuah ruang
santai dengan perapian. Di depannya terdapat sofa, dan
di samping sofa ada kursi goyang.
Kursi goyang...
“Kursi itu,” katanya pelan.
“Ibu meninggal di sana.”
Aku tidak berkata apa-apa, hanya memandang kursi
goyang putih itu. Aku menarik napas dalam-dalam dan
mencoba memusatkan perhatian. Tapi meskipun
begitu, aku tetap tidak menemukan siapa pun di
ruangan itu. Aku menggeleng perlahan sebagai
jawaban.
“Boleh aku duduk?” tanyaku, merasa ada sesuatu pada
kursi itu. Mungkin, jika aku duduk di sana, aku bisa
merasakannya.
Dia mengangguk, memberi izin. Aku mendekati kursi
goyang itu dan duduk perlahan. Setelah beberapa saat,
jantungku mulai berdegup kencang. Ada kehangatan
aneh yang mengalir di dadaku. Aku mengayunkan kursi
itu perlahan agar lebih nyaman, dan tiba-tiba, air mata
mengalir deras dari mataku tanpa bisa kuhentikan.
“Di sini... tempat beliau menghembuskan napas
terakhirnya,” ucapku pelan, dengan suara bergetar.
“Pada Natal... kan?” tanyanya.
“Ya.”
“Pohon Natal diletakkan di sana,” aku melanjutkan.
Gambaran samar dari ingatan terakhir ibunya sebelum
meninggal muncul di benakku. “Phi dan ayah Phi duduk
di sofa itu, menghangatkan diri di depan perapian
bersama.”
“…”
“Ibumu... dia sangat bahagia,” aku berkata, suaraku
gemetar tak terkendali. Air mata terus mengalir, tapi
hatiku terasa hangat, penuh oleh sesuatu yang tak bisa
kujelaskan.
Yang aneh, aku menangis bukan karena rasa sakit atau
kesedihan. Bukan itu.
“Dia tidak merasakan sakit,” kataku lagi.
“Apa maksudmu? Lalu, kenapa kau menangis?” Dia
bertanya dengan nada bingung, ekspresinya penuh rasa
sakit dan kebingungan.
“Dia pasti sudah mempersiapkan diri untuk
kematiannya... Tapi, dia merasa kehilangan karena
tidak bisa melihat Phi tumbuh dewasa lagi.”
Aku merasa lelah, tapi tetap berusaha mengatakan apa
yang kurasakan. Itu adalah campuran antara pikiran
dan perasaan ibunya sebelum ia pergi.
“Dia merasa sedih, tapi...”
“Tapi apa?”
“Dia tidak ada lagi.”
“…”
“Ibu... dia tidak berada di sini lagi. Baik di sini maupun di
tempat lain. Yang tersisa hanyalah cinta. Aku bisa
merasakan kehangatan itu. Tidak ada rasa sakit atau
kesedihan.”
“…”
“Ibu Phi... dia sudah pergi dengan damai.”
…
…
Aku memandangi perapian yang sudah padam di
depanku dengan perasaan tak menentu. Jantungku
berdegup kencang, tanganku terasa mati rasa hingga
sulit untuk digerakkan.
Ibu... tidak ada lagi.
Jawaban ini adalah sesuatu yang sudah kusiapkan sejak
lama. Tapi saat hal itu benar-benar terjadi, persiapan
hati terasa tak ada artinya. Begitu aku melangkah
masuk ke ruangan ini, salah satu kakiku mundur secara
refleks. Aku tidak sanggup melihat kursi putih itu,
tempat ibu mengembuskan napas terakhirnya.
Penyakit itu telah membuat ibu berjuang selama
bertahun-tahun, hingga akhirnya tidak ada lagi
pengobatan yang bisa dilakukan. Ibu adalah salah satu
dari sekian banyak pasien yang memutuskan untuk
kembali ke rumah, setidaknya agar bisa menghabiskan
waktu terakhirnya di tengah orang orang tercinta dan
tempat yang ia kenal.
Kami duduk bersama di depan perapian pada malam
Natal. Tak lama setelah itu, ibu pergi dengan tenang di
kursi itu, seolah-olah hanya tertidur seperti biasa.
Bedanya, kali ini ibu tidak akan pernah bangun lagi.
Sebanyak apa pun aku mencoba membangunkannya,
ibu tetap tidak merespons.
Aku tidak tahu apa yang ibu rasakan di saat-saat
terakhirnya, ketika ia hanya bisa melihat kegelapan
yang abadi. Apakah ibu merasa takut? Sedih? Atau
mungkin kesakitan?
Namun, seperti yang dikatakan Nong tadi, setidaknya
ibu tidak merasa sakit, tidak sedih, dan tidak takut.
Ibu telah pergi... dengan damai, benar-benar damai.
Saat menjelang akhir hidupnya, ibu mengatakan banyak
hal, tapi aku tidak benar-benar mendengarkan. Aku
terlalu sibuk menolak kenyataan, terus meyakinkan
diriku sendiri bahwa ibu akan baik-baik saja, bahwa ia
masih memiliki banyak waktu, bahwa keajaiban akan
terjadi seperti yang terjadi pada pasien lain. Aku merasa
ibu tidak perlu berkata seolah-olah itu pesan
terakhirnya.
Namun, pada hari di mana panggilanku tidak
mendapatkan jawaban, aku masih terus meyakinkan
diriku sendiri bahwa ibu tetap ada di dekatku,
meskipun aku tidak bisa melihatnya. Tapi kenyataan
selalu mengingatkanku bahwa itu tidak mungkin. Pada
akhirnya, aku hanyalah pria yang tidak bisa menerima
kenyataan bahwa ibunya telah tiada.
Ibu tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya. Aku tidak
tahu apakah senyuman ibu waktu itu benar-benar tulus
atau hanya untuk menenangkan aku dan Direk. Ibu
bilang dia sudah ikhlas untuk pergi, tapi aku tidak yakin
apakah itu benar-benar yang ia rasakan.
Tapi jika itu yang ibu katakan... mungkin
memang begitu adanya. Yang tersisa sekarang
hanyalah cinta yang masih terasa.
“Kalau dia khawatir, kenapa dia tidak tetap tinggal?”
tanyaku, menatap kursi putih itu.
“Dia percaya.”
“Percaya bahwa kalian berdua akan kuat dan terus
melangkah.”
Ucapan itu membuatku menghela napas panjang. Aku
bersandar ke sofa, menatap langit-langit. Perasaan
yang begitu banyak bergejolak dalam hati, hingga sulit
untuk kuungkapkan dengan kata-kata.
Percaya bahwa aku dan Direk bisa terus melangkah?
Aku membiarkan diriku terdiam di sofa untuk waktu
yang lama, sampai akhirnya aku mengumpulkan tenaga
untuk bangkit. Aku baru sadar bahwa Nong yang duduk
di sofa sudah tertidur. Setelah memastikan suhu
tubuhnya, aku tahu dia tidak demam, hanya kelelahan
seperti biasanya.
Aku keluar ke taman belakang dan menelepon Direk.
Tak lama, dia mengangkat panggilanku dengan nada
yang khas, disertai keluhan seperti biasa.
“Direk, ibu tidak ada...”
“...”
“Tidak ada di sini, atau di mana pun.”
(Nong bilang apa?)
“Dia bilang ibu tidak merasakan sakit atau sedih
menjelang akhir hidupnya. Dia bilang ibu hanya merasa
khawatir dan sedih karena tidak bisa terus bersama
kita.”
“...”
“Tapi dia percaya bahwa kita berdua bisa
melangkah maju.” (Dan kau menangis?)
“Lucu, ya?”
(Aku bisa dengar kau tersedu.)
“Tidak!” bantahku, berusaha tertawa kecil sambil
menyeka air mata yang entah sejak kapan mulai
mengalir. Aku mencoba berhenti menangis, tapi air
mataku tetap saja tidak mau berhenti.
(Menangislah, aku tidak akan mengejek.)
“Direk si tukang olok pasti akan mengejekku nanti. Sial,
kenapa air mataku terus keluar?” Aku akhirnya benar-
benar tersedu, seperti yang Direk katakan. Meski sudah
berusaha menahannya, tangisku pecah juga.
(Apa kau percaya dengan apa yang Nong katakan?)
“Yah... bagaimana lagi? Aku percaya. Anehnya, Direk,
meski sakit rasanya tahu ibu sudah tiada, ada perasaan
lega mengetahui bahwa ibu telah pergi dengan
tenang.”
(Dia tidak merasa sakit atau sedih di akhir hidupnya,
kan?)
“Benar...”
Selama ini, hanya aku dan Direk yang menyaksikan
perjuangan ibu. Kami melihatnya melawan penyakit itu,
menjalani terapi yang menyakitkan, dan menanggung
penderitaan fisik serta mental selama bertahun-tahun.
Setidaknya, sekarang kami tahu bahwa ibu tidak merasa
sakit saat akhirnya pergi.
“Kenapa aku menangis, Direk? Sialan, tidak bisa
berhenti!” aku terisak.
(Untukmu, mungkin ibu baru benar-benar pergi
sekarang, karena kau baru bisa menerima kenyataan
ini.) jawab Direk.
“Ya, mungkin begitu. Saat ibu meninggal, aku merasa
seperti ibu hanya tertidur. Tapi sekarang aku harus
menerima kenyataan itu.”
(Bagus. Akhirnya kau benar-benar bisa menerimanya.)
“Semoga.” Aku menyeka air mataku lagi, kali ini lebih
keras. “Direk, kau masih merasa sakit saat mengingat
ibu?”
(Kadang, tapi sekarang rasanya lebih
banyak bahagianya.) “Benarkah?”
(Kalau kau bisa menerima, segalanya akan lebih baik.)
“Ya, semoga.”
Aku terus berbicara dengan Direk tentang ibu—hal-hal
yang sebelumnya tabu untuk kami bahas karena terlalu
menyakitkan. Tapi sekarang, rasanya aku lebih
merindukan ibu daripada merasa sakit. Aku merindukan
makanan yang ia masak, lagu yang ia nyanyikan, dan
gambar-gambar yang ia buat. Aku merindukan
segalanya tentang ibu.
(Kau sudah berhenti menangis?) tanya Direk.
“Siapa yang menangis? Dasar lemah,” aku bercanda
sambil menghapus air mata terakhir yang masih
menempel di sudut mataku.
(Kapan kau akan pulang?)
“Lusa.”
(Baiklah.)
“Direk...”
(Apa?)
“Rasanya aneh, tapi aku sayang padamu, Direk. Aku
benar-benar sayang padamu.”
(Ya, aku juga sayang padamu.)
“Eh, kenapa kau bilang begitu? Sial, rasanya canggung!”
(Brengsek, kau sendiri yang mulai!)
“Sudahlah, aku tutup dulu, ya.”
(Oke.)
Aku menutup telepon dengan senyum kecil di bibirku.
Aku dan Direk memang bukan tipe orang yang suka
menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata, apalagi
mengatakan “aku sayang padamu.” Entah kenapa aku
bisa mengatakan hal itu tadi, tapi biarlah.
Aku menyalakan rokok baru dan mengambil gitar tua
untuk kumainkan. Aku berharap ini bisa menenangkan
perasaan yang membuncah di dadaku—hangat, sedih,
lega, tapi juga sedikit kecewa. Aku mencoba menerima
kenyataan, meskipun kenyataan itu menyakitkan.
Dan sialnya, air mataku kembali mengalir. Kali ini, aku
tidak mencoba menghentikannya. Aku membiarkannya
jatuh sambil memetik melodi lagu favorit ibu.
Setidaknya, aku bisa memainkan lagu yang
ibu suka sekarang... Meski aku memainkan
gitar sambil menangis.
Setelah hampir setengah jam, aku merasa sedikit lebih
baik. Air mataku berhenti mengalir. Malam ini adalah
pertama kalinya aku menangis dengan begitu keras.
Aku masuk ke kamar mandi, mencuci muka, dan
melihat bayanganku di cermin. Wajahku terlihat kacau,
tapi tetap saja, aku masih tampan.
Aku mengambil gitar lagi, berniat untuk bermain di atap
rumah. Duduk di taman belakang tadi, aku malah digigit
oleh sesuatu yang tidak kuketahui. Jika dipikir-pikir,
keadaanku tadi memang menyedihkan—merokok,
bermain gitar, air mata jatuh sampai ke kaki, sambil
dikerubungi serangga.
Aku terkejut saat sampai di balkon atap dan melihat
seseorang berdiri di sana—tubuhnya kecil. Apa itu
Nong? Sejak kapan dia bangun dan berdiri di sana?
“Kau sedang apa di sini?” tanyaku.
“...” Dia tidak menjawab, hanya perlahan-lahan
berbalik dan menatapku. “Kenapa menatapku seperti
itu?” aku mengernyit heran.
"Awalnya aku berniat duduk santai di taman belakang,
tapi aku melihat mu sedang menangis."
"Kau melihat ku menangis?"
“Hmm.”
"Astaga, kau lihat?"
Sial, kenapa si pendek ini harus melihat ku menangis…
Aku memasang wajah kesal sambil menatapnya sebelum
akhirnya menghela napas. Aku berpikir, sudahlah, lalu
berjalan menuju sofa kecil. Balkon di atap ini cukup
luas, cocok untuk duduk santai sambil melihat bintang.
Si pendek itu berdiri bersandar di pagar balkon.
"Kau tidak membaca perasaanku lagi, kan?" tanyaku,
mengingat kejadian sebelumnya di mana dia pernah
membaca perasaanku. Sejak itu, aku selalu waspada.
"Tidak. Membaca perasaan ibu saja sudah cukup
melelahkan," jawabnya. "Itu sebabnya kau menutup
mata waktu itu, ya?"
"Hmm."
"Kenapa kau tahu ibu tidak berada di tempat lain?"
"Perasaan," katanya sambil memandang jauh ke luar,
membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa dirinya.
"Rasanya seperti dia benar-benar telah pergi ke tempat
yang baik."
"Ya, bagus kalau begitu," kataku sambil memetik senar
gitar dan mulai memainkannya lagi. Sambil bermain
gitar, aku melanjutkan pertanyaan yang sejak tadi ingin
kutanyakan, tapi dia keburu tertidur. "Kenapa kau tahu
soal Natal?"
"Aku melihatnya."
"Dari ingatan ibu?"
"Mungkin."
"Kau bisa merasakan hal sebesar itu?"
"Entahlah. Mungkin karena tempat itu adalah lokasi ibu
meninggal dan itu ingatan yang paling membahagiakan
sebelum kematiannya. Dia mungkin ingin
menyimpannya, jadi kenangan itu tetap ada."
"Ah, begitu ya," gumamku sambil mengangguk kecil.
Kalau ibu bahagia dengan Natal, itu bagus. Fakta bahwa
aku dan Direk selalu pulang untuk merayakan Natal
bersama setiap tahun sejak saat itu, mungkin seperti
penghormatan untuk ibu juga.
"Hei, jangan ceritakan pada siapa pun kalau aku
menangis, terutama pada North," kataku kemudian.
"Kenapa harus diceritakan?"
"Siapa tahu kau ingin mengolok-olokku."
"Mengolok-olok? Itu tidak lucu, kan."
"Apa juga yang menurutmu menyenangkan?" Aku
mendengus kesal. Tetap saja, dia seperti robot dengan
baterai lemah. "Bagaimanapun, terima kasih, ya.
Beberapa hari terakhir benar-benar melelahkan."
“Hmm.”
"Lukisan ibu, kau akan menyelesaikan
pewarnaannya, kan?"
"Ya, aku sudah bilang akan
melakukannya."
Dia hanya menjawab singkat. Tanganku masih terus
bermain gitar. Dari balkon, aku bisa melihat langit
malam yang gelap. Angin berhembus pelan sesekali.
Kami tidak berbicara apa-apa lagi, hanya ada suara
gitarku yang terdengar.
Entah dia merasa terganggu atau tidak karena tiba-tiba
aku muncul dan bermain gitar, sementara dia sedang
menikmati pemandangan dengan tenang. Tapi, siapa
peduli? Ini rumahku.
Dalam keheningan itu, pikiranku melayang ke mana-
mana. Aku jadi penasaran tentang hal-hal yang bisa dia
rasakan, lalu bertanya lagi.
"Kau bilang ibu percaya kalau aku akan terus melangkah
maju. Kau tahu itu dari mana?"
"Perasaan," jawabnya.
"Perasaan lagi? Jelaskan lebih banyak."
"Sepertinya dia tidak terlalu khawatir dengan kenyataan
bahwa dia harus meninggal. Ada kepercayaan di
dalamnya."
"Detail sekali," gumamku sendiri. Kalau aku belum tahu
sebelumnya, mungkin aku akan terkejut. Tapi,
kemampuan si pendek ini memang luar biasa. Walau
ada konsekuensi negatif dan risiko yang menyertainya.
"Lalu, kau bilang dia sudah pergi ke tempat yang
baik. Ke mana itu?" "Tidak tahu," jawabnya
pelan.
"Lho?"
“Aku hanya tahu dia telah pergi ke tempat yang baik,
tapi setelah itu aku tidak tahu.”
“Tapi kau bilang dia pergi ke tempat yang baik. Itu
artinya dia baik-baik saja, kan?” Aku berkata pelan,
menegaskan apa yang kupikirkan, seolah berusaha
meyakinkan diriku sendiri bahwa ibuku sedang bahagia
di suatu tempat.
“...” Aku menatap orang di depanku yang entah sejak
kapan berjalan mendekat dan memberiku tisu. Aku
menerimanya dengan bingung sebelum menyadari
mataku kembali basah. Aku menghela napas panjang,
merasa kesal pada diriku sendiri. Air mata sialan ini,
kenapa terus keluar? Cukup untuk malam ini saja.
Setelah ini, jangan keluar lagi, ya.
“Kau sedang berpikir apakah ibumu bahagia di
sana... begitu, ya?” “Iya. Menurutmu begitu,
kan?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa?” Aku mengusap air mataku dengan tisu,
menghapusnya dengan kasar.
“Aku hanya tahu dia telah pergi ke tempat yang baik,
tapi setelah itu aku tidak tahu. Bukankah orang
biasanya mengatakan sesuatu seperti, ‘pasti dia
bahagia di sana,’ begitu?”
“…”
“Aku benar-benar tidak tahu apakah ibumu sekarang
bahagia atau tidak. Tapi...”
“Tapi?”
“Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa itu?”
“Ibumu ingin kau bahagia.”
“Karena bagaimanapun, dia sudah pergi. Orang yang
masih hidup, seperti kau, seharusnya yang lebih pantas
untuk bahagia. Jika kau terus bersedih, bagaimana
ibumu bisa merasa bahagia?”
“Jadi, mulai sekarang jangan bersedih lagi.
Berbahagialah sebanyak mungkin.”
“Tidak pernah ada yang mengatakan itu padaku, kau
tahu?”
“Mungkin karena kau tidak pernah menunjukkan
kesedihanmu pada siapa pun.”
“Lalu, bagaimana kau tahu?”
“Aku pernah membaca perasaan, kan?” Dia berdiri di
depanku, berbicara dengan suara pelan seperti
biasanya.
“Benar juga.” Aku berkata sambil menghela napas
panjang.
Karena sepanjang hidupku, tidak pernah ada yang
mengatakan hal itu padaku. Baik kata-kata yang
meminta untuk tidak bersedih, karena aku tidak pernah
menunjukkan kesedihanku, maupun ucapan bahwa aku
harus berbahagia. Tidak ada yang pernah
mengatakannya padaku.
“...Apa?” Dia bertanya dengan bingung ketika aku terus
menatapnya dengan ekspresi heran.
“Tidak ada.” Aku mengalihkan pandanganku darinya,
menatap ke arah lain. Dia berbalik dan kembali
bersandar di balkon tempatnya semula.
Beberapa saat kemudian, dia pamit untuk tidur,
meninggalkanku sendirian duduk di sofa, menatap
langit malam sambil menikmati angin dingin. Kepalaku
dipenuhi pikiran-pikiran yang tak ada habisnya.
Kalau dipikir-pikir, dia satu-satunya orang yang
memahami perasaanku. Meski itu karena kemampuan
khususnya, tetap saja...
“Orang yang masih hidup sepertimu, seharusnya yang
lebih pantas untuk bahagia. Jika kau terus bersedih,
bagaimana ibumu bisa merasa bahagia?”
“Jadi, mulai sekarang jangan bersedih lagi.
Berbahagialah sebanyak mungkin.”
Anak itu tidak hanya membantuku mencari ibuku...
Tapi dia juga menyelamatkan diriku yang telah lama
tenggelam dalam luka. Kata-kata itu sangat berarti
bagiku. Terima kasih banyak...