0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan2 halaman

Sarapan Pertama di Alomond

Diunggah oleh

nurwinda marifah s
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan2 halaman

Sarapan Pertama di Alomond

Diunggah oleh

nurwinda marifah s
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Alomond

Pagi telah kembali. Karena cahaya terang mulai masuk ke semua sudut cabin. Sepiring
besar roti isi lengkap dengan keju, sayur, tomat, dan telur goreng dibawa masuk
Obey ke ruang makan cabin.
“Terimakasih Obey.” Kata Lawrent. “–Oh selamat pagi Eden.”
Eden baru saja turun dari kamarnya.
“Dimana Sam?” Tanya Lawrent.
Eden hanya mengengkat bahunya, tak tahu.
“Aku di sini.” Kata Sam, baru saja bergabung ke ruang makan.
“Oh ayo anak-anak. Kalian harus sarapan.” Kata Lawrent, ia meletakkan roti isi di
masing-masing piring, termasuk untuk Vincent.
“Obey!” Panggil Vincent, ia adalah yang terakhir bergabung ke meja makan. “Ambilkan
Daybird hari ini.”
Obey yang berukuran kecil keluar dari dapur, pergi keruangan depan cabin dan
kembali denga sebuah kertas tebal kecil berukuran seperti telapak tangan anak-anak
dan berbentuk persegi. Eden yang duduk di sebelah Vincent baru menyadari tulisan
yang terdapat pada kertas tersebut. Tulisan tanggal dan nomor edisi serta tulisan
besar yang bertuliskan ‘Daybird’ di depannya.
Vincent melakukan gerakan jari yang membuka dari posisi kuncup pada permukaan
kertas tersebut. Sebuah layar bening muncul, digenggam Vincent di kedua tangannya
seperti memegang benda yang transparant dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar
yang melayang di udara kosong, tertata rapih.
“Sebuah surat kabar luar angkasa. Hebat.” Kata Eden, menduganya ukuran layar
tersebut. Seperti ukuran surat kabar pada umumnya.
“Apakah kau mau segelas susu Eden?” Tanya Lawrent.
“Trimakasih.”
“Kau Sam?”
“Ya, terima kasih.”
“Dan ngomong-ngomong, ada kabar apa hari ini, Vincent?” Tanya Eden, tertarik dengan
surat kabar tersebut.
“Apa?” Tanya Vincent bingung, sepertinya tidak memperhatikan. “Kabarnya… hmmmm….
Apa kau mengharapkan kedatangan bangsa Orion? Sepertinya tak ada berita seperti itu
di edisi ini.”
“Bus sekolah akan datang 5 menit lagi.” Kata Obey, mengintip di pintu dapur.
“Terima kasih Obey, kau telah mengingatkan kami.” Balas Lawrent. “Ayo anak-anak.
Ini hari pertama sekolah, aku tak ingin kalian terlambat. Oh, dan pakai ini.” Kata
Lawrent, memberikan dua buah tas kecil kepada Eden dan Sam. “Semua yang kalian
butuhkan sudah kuletakkan di dalam.”
Sam memperhatikan tas kecilnya tersebut. “Bisakah kau memberikanku yang ada
diamondnya sebagai hiasan?” Katanya, kemudian mengenakan tas tersebut di
pinggangnya.
Lawrent hanya tersenyum. “Ayo anak-anak, kalian bisa ketinggalan bus.”
Eden dan Sam dibawa ke ruang depan cabin. Lawrent membukakan pintu untuk mereka.
Pot-pot berwarna putih berjejer di atas lantai teras cabin, dengan daun-daun hijau
berukuran besar tumbuh didalamnya. Membuat teras tersebut terlihat lebih asri. Di
beberapa pot tanamannya sudah mulai berbuah.
Beberapa detik kemudian, sebuah bus berukuran panjang berhenti tak jauh dari tempat
mereka berdiri. Bus itu berwarna putih dengan jendela-jendela yang berjumlah
banyak. Di dalamnya, kursi-kursi yang hanya sederet berbaris kebelakang, sangat
panjang terasa seperti berada di dalam sebuah tabung cairan kimia. Bus mulai melaju
dengan kencang saat Eden dan Sam sudah masuk dan mendapatkan tempat duduk masing-
masing. Sekilas terlihat Vincent tersenyum berdiri bersama Lawrent yang melambai.
Bus melaju kearah cahaya terang yang jaraknya agak jauh. Sam bisa melihat melalui
kaca jendela bus, cabin-cabin dengan dekorasi-dekorasi unik berjejer rapih dengan
jarak sekitar tiga meter masing-masingnya.
Ia baru tersadar dengan kedatangan seorang wanita yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Identifikasi?” Suara melengking wanita itu terdengar kental di telinganya.
“Apa?” Sam sedikit bingung.
Wanita itu mendekatkan alat pendeteksi yang dipegangnya ke punggung tangan kanan
Sam.
“Sam Halley.” Kata wanita itu. Kemudian pergi kepada anak lainnya yang duduk di
bangku belakang Sam.
Sam memperhatikan titik kecil bercahaya yang baru saja hilang di punggung tangan
kanannya.

Sebuah pesawat tempur luar angkasa mencoba menembakkan peluru kearah musuh-musuh di
sekitarnya. “You Win” Seru wanita dari layar pinneaphone Eden dalam sebuah game
tempur yang dimainkannya.
“Thankyou guys!” Seru Eden, berlagak seperti seorang pemenang di bangku busnya.
“Identifikasi? Kata wanita pengecek identitas saat datang di deret Eden.
“Identifikasi? Oh aku Eden, Eden Heymund. Kau bisa mengeceknya di daftarmu.”
Wanita itu mendekatkan alat pendeteksi ke punggung tangan kanan Eden. “Eden
Heymund.” Kata wanita itu.
“Sudah ku bilang kan?” Kata Eden, kemudian melanjutkan game tempurnya.
Tak lama, cahaya yang masuk ke dalam bus mulai meremang gelap. Bus mulai memasuki
area terowongan. Perlahan, kemudian cahaya muncul kembali. Sebuah tempat, sangat
luas dengan bus-bus yang berlalu lalang di area baru ini. Di beberapa tempat orang-
orang mulai turun dari bus. Tempat itu memiliki lantai berwarna abu-abu tua
kecokelatan, dengan bagian atas yang terbuka membuat ruangan itu terlihat sangat
terang.
Tak lama bus yang mereka naiki berhenti di sebuah pemberhentian. Sam melepas
sabuknya dan kemudian berjalan ke depan untuk menemukan pintu keluar bersama dengan
anak-anak lain yang mulai berdesakkan dalam bus berusaha untuk keluar. Ia menengok
ke sana-sini, mencari tanda-tanda Eden. Namun sepertinya terlalu banyak anak
berdesakkan dalam bus.
“Sam!” Seru gadis venus yang di temuinya saat di pemerintahan. Gadis itu berdiri
tak jauh dari tempat bus lainnya berhenti.
“Hai—” Balas Sam berseru. Ia berusaha mengingat nama gadis itu.
“Aku Fanning. Kau ingat?”
“Oh benar. Tentu aku ingat.”
“Dimana Eden?”
“Entahlah. Aku baru akan mencarinya.”
“Ngomong-ngomong, kenalkan ini partnerku.” Kata Fanning, mengenalkan pria berbadan
tegap yang berdiri di sampingnya. Pria itu berambut cokelat sama seperti Fanning.
Namun lebih tinggi dari pada Fanning.
“Igle Genush.” Kata pria itu.
“Sam Halley.” Kata Sam, menjabatnya.
“Kurasa sudah waktunya berkumpul di Alomond aula.” Kata Fanning. “Apakah kau sudah
menemukan partnermu?”
“Akan ku urus itu nanti.”
“Baiklah. Ayo.”

“Selamat pagi semua.” Kata Amanda, wa

Anda mungkin juga menyukai