Mimpi Buruk Sam dan Hadiah Rey
Mimpi Buruk Sam dan Hadiah Rey
Bumi
Bumi adalah planet ketiga dari Matahari yang merupakan planet terpadat dan terbesar
kelima dari delapan planet dalam Tata Surya. Bumi juga merupakan planet terbesar
dari empat planet kebumian Tata Surya.
Kilau cahaya diantara kain-kain lembut menyipitkan pandangan yang melihatnya. Namun
tidak bagi Sam dan para gadis lain. Kilau cahaya itu malah membuat pupil matanya
melebar kagum. Manikin-manikin yang berdiri tegak nan anggun bak sekelompok dayang
kerajaan. Bau pamfex seakan-akan wangi surga yang sering ia temui setiap kali
kakinya dipijakkan ke lantai kerajaan pakaiannya tersebut.
“Terima kasih. Datang lagi ke butik kami.” Seru wanita jangkung yang berdiri di
belakang mesin kasir sambil menyodorkan tiga kantung kardus bermerek.
“Aku pulang!” Seru Sam saat tiba dirumahnya. Langkah kakinya membawanya masuk ke
dalam kamar. Tiga kantung kardus bermerek segera dibuka olehnya dengan gairah suka
cita. Sungguh, betapa kagetnya Sam melihat isi kantung kardus tersebut. Seluruh
pakaian yang baru dibelinya berganti menjadi pakaian berkain karet, berwarna hitam
dengan warna hijau zamrud dibeberpa sisinya, seperti baju selam.
“Apa?!” Teriaknya bingung. “Si wanita jangkung itu ingin menipuku?” Desah
panjangnya membaringkannya sejenak di sofa kamarnya. Ia kemudian bangkit dan
membuka lemari pakaiannya. Lagi-lagi betapa kagetnya Sam melihat seluruh isi
lemarinya berubah menjadi seperti baju selam tadi.
Sam segera membuka matanya dan bangkit dari baringannya. Tak ada perubahan pada
kamarnya. Ia mendesah panjang sembari berbaring kembali.
“Mimpi buruk.” Katanya. Namun tiba-tiba ia teringat dan segera bergegas menghampiri
lemari pakaiannya. Desah leganya setelah melihat isi lemari pakaiannya tidak
berubah seperti yang ada dalam mimpinya. Sepasang kemeja dan rok diambilnya dari
lemari pakaian tersebut.
Sam turun dari kamarnya menghampiri pria paruh baya yang sedang duduk di meja makan
bersama pria kecil.
“Sam!” Seru Albus, pria kecil nan tampan tersebut.
“Ayah, hari ini aku pulang agak telat.” Kata Sam, sambil melahap roti bakarnya.
“Baiklah.” Balas Mr. Halley. “Albus, hari ini Sintia akan menemanimu hingga kakakmu
pulang.”
“Oke. Pulanglah cepat, Sam.” Kata Albus.
Sam tersenyum dan mengangguk. “Aku akan pulang sebelum jam makan malam.”
Keluarga kecil itu mulai melahap menu sarapan pagi mereka.
“Selamat pagi Albus.” Sapa seorang wanita yang datang tiba-tiba.
“Sintia!” Seru Albus. “Aku pergi dulu. Dah Ayah… dah Sam…”
Albus menghampiri Sintia, wanita muda dengan karakter lembut itu menganakan pakaian
yang terlihat sangat sopan. Sintia adalah pengasuh Albus. Ia selalu dating
menjemput Albus untuk pergi ke sekolah dan mengantarkan Albus kembali ketika
sekolah usai. Terkadang ia harus bermalam jika Mr. Halley dan Sam belum pulang
untuk menjaga dan menemni Albus.
“Kami pergi dulu Mr. Halley, Sam.” Kata Sintia, berpamitan.
Sam biasa diantar ayahnya untuk ke kampus. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak
duduk di bangku sekolah. Walaupun Sam bukanlah anak satu-satunya, tapi Mr. Halley
selalu memanjakan semua anak-anaknya. Tak terkecuali Sam.
“Rey menanyakanmu.” Kata Dina, teman baiknya, memecahkan keheningan saat mereka
sedang duduk bersantai di kampus.
“Pria itu—Oh! Apa maksudmu?” Kata Sam, bersemangat. “Apa dia tidak lagi marah
padaku?”
“Kelihatannya seperti itu.”
“Oh aku tak ingin membayangkan atau melihatnya merah marah lagi seperti dua hari
yang lalu.”
“Sepertinya kali ini hatinya berubah menjadi pink. Bahkan dia menanyakan rencanamu
seminggu kedepan.”
“Apa kau bercanda?”
“Kau tak ingin aku membohongimu untuk hal semacam ini, bukan?”
“Oh terima kasih Tuhan.”
“Kau berbicara padaku?”
“Apa kau merasa namamu Tuhan?”
Kedua gadis itu tertawa.
“Oh itu dia!” Seru Dina, menunjuk ke arah Rey yang sedang bersama dengan teman-
temannya yang berada agak jauh dari tempat mereka duduk.
Sepertinya Rey juga mendapati mereka yang duduk di salah satu balkon taman kampus.
“Cepat kesana—temui dia.”
“Baiklah.” Kata Sam, pergi menghampiri pria itu.
Rey sepertinya juga berjalan untuk menghampiri Sam, meninggalkan teman-temannya
yang sedang asik bercerita. Dari kejauhan Rey sudah bisa melihat wajah Sam yang
tersenyum menghampiri dirinya. Ia berhenti di depan sebuah tangga beton setinggi
orang dewasa yang mengarah ke bawah. Namun Rey tak melewati tangga tersebut. Ia
malah membiarkan dirinya meluncur di lantai yang terlihat agak curam yang mengarah
ke bawah dekat tangga tersebut.
Sam yang semakin dekat, tiba-tiba dengan reflex berlari ke arah Rey, tampak panik.
Rey meluncur dengan cepat dan sampai di bawah pas tepat saat Sam tiba, memegang
tangannya dan kemudian mencium Sam.
Dari kejauhan, para pria yang sepertinya adalah teman-teman Rey berseru-seru dan
bersiul melihat pemandangan canggung ini.
“Astaga—apa yang kau lakukan?” Kata Sam, saat ia melepas ciuman.
“Maaf—“
“Apa kau mau mati?—kau bisa saja jatuh dari lantai sialan itu!”
Rey hanya tertawa. Ia berpikir Sam marah karena ia menciumnya tiba-tiba. Namun
kelihatannya bukan itu yang membuat Sam berkoar seperti itu. Rey memang sengaja
meluncur di lantai curam tersebut, sengaja membuat Sam panik. Rey tahu betul apa
yang membuat Sam takut dan menjadi khawatir setengah mati.
“Baiklah. Maafkan aku.” Kata Rey, seraya memberikan sebuah bungkusan kecil. “Kau
mau memaafkanku?”
“Apa?” Sam bingung melihat bungkusan tersebut.
“Apa kau mau memaafkan aku?”
“Ya, tak apa. Tapi apa maksudnya ini?”
“Ini? Maksudnya—“
Rey mendongkak menatap Sam yang berdiri di tangga, lebih tinggi darinya. Ia
memandangnya lekat-lekat dan kemudian mencium Sam, lembut. Sam membalas ciuman itu,
kali ini lebih lama.
“Ini untukmu.” Kata Rey.
“Tapi aku tak berulang tahun, Rey. Ulang tahunku sudah lewat.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin memberikannya untukmu.”
“Kau memaksa?”
Rey mengangguk sedikit tertawa. Sam memang orang yang seperti itu.
“Termakasih, Rey.”
“Oh. Kau tak perlu membukanya sekarang.”
“Baiklah.”
Hari mulai beranjak senja. Rey mengantarkan Sam untuk pulang ke rumah.
“Sampai ketemu besok—“ Kata Rey, berpamitan dan kemudian pergi.
“Albus?” Kata Sam, melihat Albus yang berada di seberang jalan dekat rumahnya.
“Albus!”
Albus yang sedang memeluk seeekor kucing berbulu kuning, tersenyum saat melhat
Samantha. “Sam!” Seru Albus, melambai kepada Sam.
Saat Albus baru akan berlari menyebrangi jalanan, “Jangan!” Seru Sam, lagi-lagi
dengan gerakan reflexnya, ia langsung berlari menyebrang jalan ke arah Albus, tak
memperdulikan sekitarnya. Membuat dua buah mobil dan seorang pengendara sepeda
terpaksa berhenti mendadak.
Bahkan Albus yang baru akan berlari menghampiri Sam, juga berhenti tiba-tiba karena
melihat Sam.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Sam pada adik kecilnya itu.
Albus mengangguk dengan tatapan sedikit bingung melihat Sam.
“Kau tak apa, gadis muda?” Tanya si pengendara sepeda.
“Ya, maafkan aku”
“Gadis gila!” Seru seorang pengemudi mobil.
“Oh—syukurlah” Kata Sam, memeluk Albus. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku pergi mencarimu.”
“Apa yang kau katakan?”
“Aku tadi melihatmu, di sini.”
“Oh aku baru saja pulang, Albus.”
“Tidak Sam, kau tadi baru saja pergi. Kau pergi ke dalam lampu terang itu.”
“Mungkin kau salah orang. Itu bukan aku—ayo kita masuk ke dalam.”
“Bisakah dia ikut bersama kita?”
Samantha melihat kucing kecil yang agak berdebu itu. “Apa kau menyukainya?”
Albus mengangguk semangat. “Namanya Billy.”
“Ayo kita bawa Billy masuk untuk dibersihkan.”
“Yes! Apa kau membawakanku sesuatu? ”
“Tidak, maafkan aku—Oh, kemana perginya Sintia?”
Sam berbaring di kamarnya dengan diterangi lampu tidur yang bercahaya remang. Ia
merasa lelah setelah seharian ini.
Suara Albus yang asik bercanda dengan ayahnya di bawah terdengar samar. Selama
makan malam tadi Albus tidak mau diam. Ia terus bercerita tentang hal-hal yang
ditemuinya di sekolah hingga pulang tadi. Albus juga sempat melakukan pembisuan
kepada Sam, karena tak membawakannya sesuatu saat ia pulang.
Namun kembalinya Rey dari marahnya adalah salah satu hal yang menarik pikirannya.
“Hadiah.” Kata Sam, teringat sesuatu yang diberikan Rey pagi tadi.
Tiba-tiba suara meongan kucing terdengar pelan. Billy duduk di lantai dekat tas
Samantha.
“Hei kucing kecil.” Samantha kemudian merogoh tasnya mengambil sebuah kotak kecil
berwarna biru dongker dengan bis melintang berwarna hitam pada bagian tengahnya. Ia
membuka kotak tersebut, perlahan. Sebuah kalung perak dengan buah berbentuk ranting
yang menyerupai huruf V terbalik berkilau pada tempatnya seperti memanggil-manggil
untuk digunakan. Ia lalu mengalungkannya sendiri ke lehernya.
Setelah pas, kembali berbaring mematikan lampu tidur di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, sebuah cahaya terang berwarna perak kebiruan terlihat samar
saat Sam membuka matanya pelan. Cahaya itu datang dari kotak kecil yang dihadiahi
Rey kepadanya.
Sam mengecek kalung. Masih ada, tergantung di lehernya, berkilau lemah tak seperti
cahaya yang baru saja muncul.
“Apa ada hadiah lagi?” Kata Sam pelan, masih mengantuk.
Sam mengangkat tangannya perlahan, sangat perlahan dan kemudian menyentuhkan ujung
jarinya ke dalam cahaya kecil pada kotak yang ada di meja dekat tempat tidurnya.
Cahaya itu mulai membesar, sangat terang— dan – semuanya kembali menjadi gelap dan
lenyap.
******
“Apa semua orang disini akan pergi menyelam?” Kata Sam. Ia sudah mengenakan pakaian
tersebut.
Baju itu seperti terbuat dari kain yang sangat elastic dan tebal, berlengan panjang
serta celana panjang ketat dengan kain yang sama, terkesan seperti menegenakan
legging. Namun sebuah rok yang panjangnya diatas lutut membuat lekukkan paha dan
bokong bisa tertutupi.
Sam menguncir tinggi rambutnya tanpa poni.
“Sam!” Panggil Lawrent, mengetuk dari luar. “Kau sudah selesai?”
“Ya.”
Ia kemudian membuka pintu kamarnya.
Lawrent tersenyum dan terlihat kagum melihat Sam. “Kau benar-benar mirip.”
“Apa?”
“Kau terlihat hebat – Oh ini sepatumu. Aku lupa memberikannya padamu.”
“Sepatu untukku?” Kata Sam, tersenyum bergairah.
“Kau tidak akan keluar dengan kaki telanjang bukan?”
“Oh tentu saja.”
Ia kemudian membuka bungkusan tersebut.
“Oh terima kasih. Kau tahu betul seleraku.”
“Seleramu? Oh aku tidak tahu jika pakaian untuk sekolah ini sesuai dengan seleramu—
Tapi, syukurlah kalau kau menyukainya.”
“Seharusnya aku membeli sepatu saja di dalam mimpiku kemarin.” Katanya pelan.
“Ada apa?”
“Oh tidak.”
“Oh lihat siapa kucing manis ini?”
“Billy?! Kau di sini.” Samantha mengangkat Billy ke pelukannya.
Sam kemudian mengenakan sepatunya.
“Pas sekali. Kamu siap Sam?”
“Bahkan aku tidak tahu jika aku siap berada di dunia lain ini.”
“Kau bisa meninggalkan Billy di sini sebentar. Oh kita harus menemuinya terlebih
dahulu.”
“Siapa?”
“Partnermu.”
“Apa ku?”
Lorong dengan ukuran pendek itu terlihat terang oleh cahaya terang yang datang dari
luar. Mereka berhenti tepat di bagian ujungnya, sebuah kaca bening yang berukuran
besar serta di beberapa bagiannya terlihat sedikit kabur mulai bergeser cepat ke
samping, seperti pintu yang ujungnya masuk ke dalam dinding ruangan.
“Sam!” Seru seorang pria yang tiba-tiba menghambur memeluk Sam yang baru saja masuk
ke dalam ruangan berukuran sedang itu.
“Jangan terburu-buru seperti itu Vincent. Ia baru akan beradaptasi dengan
lingkungan barunya.” Kata Lawrent.
“Oh maafkan aku.” Kata pria itu, melepas pelukannya. Kini Sam dapat melihat dengan
jelas pria itu. Wajahnya berusia sekitar 30an jika diterka Sam. Ia bebih jangkung
dari Sam. Tubuhnya kurus dan rambutnya sedikit acak-acakkan.
“Hello.” Kata Sam, sedikit canggung.
“Apakah gadis ini baru saja menyapaku?”
“Aku Sam, Sam Halley.”
“Aku tahu itu. Aku Vincent—Ayolah Sam. Jangan terlalu kaku seperti itu, aku bukan
alien yang akan memakan bola matamu.”
Sam mengedipkan matanya, sekali..dua kali. Sepertinya mengecek apakah bola matanya
masih ada. “Oke. Apakah kau adalah partnerku?” Tanya Sam.
“Oh bukan.. bukan. Aku parinxh-mu. Bukan partnermu.”
“Oh, ada dua parinxh rupanya—Wow—Jadi, siapa partnerku?”
“Sial!! Dari mana datangnya makhluk kecil ini?” Kata seorang pria yang baru saja
masuk bersama makhluk kecil setinggi lutut orang dewasa, berusaha melemparkan biji-
bijian kepada pria itu.
“Obey— hentikan itu!” Seru Vincent kepada makhluk kecil itu.
“Maafkan aku Vincent.” Kata Obey, si makhluk kecil.
“Oh dia bisa bicara!” Seru Sam, kaget.
Obey hanya memandangnya kesal. “Maafkan aku Vincent. Pria ini mengacaukan dapurku.”
“Apa?“ Kata pria itu.
“Dapur jadi berantakan gara-gara kau.”
“Oh maafkan aku kalau begitu. Aku hanya ingin mencari sesuatu untuk dimakan.”
“Oh simpan saja kata-kata penyesalanmu itu, anak muda. Tapi aku tidak akan tertarik
untuk memaafkanmu, sekalipun wajah tampanmu itu mengiba-iba kepadaku. Aku pria dan
aku tidak tertarik pada pria.” Jelas Obey dengan bertingkah percaya diri.
Lawrent tertawa. “Sudahlah Obey. Dia sudah meminta maaf padamu.”
Dengan tampang cetus, Obey kemudian memasuki dapur tanpa berkata apapun, hanya
menundukan kepalanya sekilas kepada Lawrent.
“Oh makhluk itu selalu membuatku tertawa. Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati,
mereka memang makhluk yang sensitive.— Oh Sam, ini adalah partnermu—Eden Heymund.
Eden, ini partnermu—Samantha Halley”
Hening sejenak.
“Kurasa sudah cukup pertemuan singkat keluarga kecil kita yang menyenangkan ini.”
Kata Lawrent, dengan sedikit tawa bahagia.
Tiba-tiba terdengar deringan bel pintu masuk cabin.
“Oh itu pasti mereka.” Kata Lawrent, bersemangat. Ia kemudian pergi mengecek ke
depan.
Terlihat dari layar yang ada di sebelah pintu masuk, seorang pria tua berparas
oriental dengan rambut dalam jumlah yang sedikit serta menggunakan kaca mata dua
lensa pada matanya yang sedikit sipit, berdiri menunggu untuk dibukakan pintu. Pria
itu bersama sepasang asisten dengan dandanan agak nyentrik yang terlihat jauh lebih
muda dari dirinya.
******
“Bagaimana tadi?” Tanya Lawrent ketika mereka duduk berempat untuk makan malam.
“Bagaimana—apa?” Jawab Eden.
“Oh ayolah. Apa semua prosesnya berjalan dengan lancar?”
“Ya. Kurasa.”
“Biasakah kalian menjelaskan padaku, kenapa aku ada di sini?” Kata Sam, tba-tiba
membuat suasana santai makan malam berubah menjadi mulai tak menyenangkan.
“Oh Sam … Kau …”
“Kau berhutang penjelasan padaku, kumohon.”
“Saam—Oh—baiklah.” Kata Lawrent. “Karna kau adalah yang terpilih. Terpilih untuk
bisa sekolah di tempat ini.”
“Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak ikut tes masuk dan bahkan mendaftar ke sekolah
aneh ini. Bahkan untuk berniat pun tak pernah.”
“Tak ada pendaftaran atau tes. Kau—dan Eden adalah yang terpilih, dari sekian
banyak makhluk di bumi.”
“Oke. Dan kapan aku bisa pulang dari sekolah ini?”
“Kau sudah pulang, sayang. Ini cabinmu. Semacam rumahmu di sini.”
“Oh bukan. Maksudku kapan aku bisa selesai dan kembali ke bumi meninggalkan dunia
lain ini?”
“Jika kau lulus, kau mungkin akan bisa pergi dari tempat ini.” Sela Eden.
“Aku tak berbicara denganmu.”
“Tenanglah.” Kata Lawrent, meredakan suasana tak menyenangkan tersebut.
“Oh, aku minta maaf.” Kata Eden, tenang. Ia mengangkat kedua tangannya. “Tapi
bukankah kata wanita ini, ini adalah sekolah? Bahkan nenek-nenek juga tahu kau
harus lulus terlebih dahulu untuk bisa menyelesikan sekolahmu.”
“Dan kau tampak seperti seseorang yang bisa menyelesaikan sekolahmu bertahun-tahun
lebih lama.” Kata Sam kesal, memandang penampilan agak acakan partnernya itu.
“Ya. Kuharap nenek-nenek juga bisa menyelesaikan bertahun-tahun lebih cepat sebelum
mereka mati karena naik darah.”
“Apa katamu—?”
“Baiklah, itu sudah cukup.” Kata Lawrent lagi.
“Kalian tenanglah.” Kata Vincent.
“Ya, tenanglah.” Kata Eden, sedikit mengejek.
“Kau—“ Kata Sam, kesal.
“Kau bisa kembali setelah semester usai, sayang.” Sela Lawrent, berusaha kembali ke
pembicaraan mereka.
“Berapa lama?” Tanya Sam.
“Empat bulan.”
“Apa? Lalu bagaimana dengan tempat tinggalku di bumi?” Kata Sam, sedikit panik.
“Tempat tinggalmu baik-baik saja, sayang.”
“Bagaimana dengan ayahku—dan Albus—“
“Kuyakin ayahmu sudah mengetahui hal ini. Dan mereka akan baik-baik saja.”
“Apa maksud kalian?”
“Tenanglah sayang. Semuanya baik-baik saja di sana. Kau tak perlu khawatir.”
“Apa yang kau—“
“Kalian akan bersekolah seperti biasa nantinya di sini. Jadi tak perlu
dikhawatirkan apa yang akan dipikirkan orangtuamu. Mereka tahu itu. Hanya saja apa
yang kalian pelajari tak seperti yang kalian dapatkan di bumi.”
Sam terdiam. Ia tak memiliki ide lebih untuk membantah lagi.
“Baiklah. Itu bukanlah pertanyaan yang penting.” Kata Eden. “Yang harusnya
ditanyakan, bisakah kalian jelaskan padaku mengenai Orion? Orang-orang di
pemerintahan terus menyebutkan nama itu.”
Pertanyaan Eden kali ini membuat Lawrent dan Vincent saling pandang serius beberapa
saat.
“Apakah sebuah pertanyaan yang menyentuh?”
“Dengar, mereka adalah bangsanya para alien. Tak begitu menyenangkan, dan—kurasa
orang-orang di pemerintahan membahas mereka karena itu memang sudah tugas mereka—
untuk melenyapkan mereka.” Jelas Vincent.
“Monster.” Kata Sam.
“Jangan terlalu mengkhawatirkan soal itu. Kalian di sini hanya fokus untuk
belajar.” Kata Lawrent.
“Ya, itu bahkan membuatku semakin ingn pergi dari dunia lain ini. Apakah kalian
dulunya seperti kami? Kalian juga berasal dari bumi, bukan?”
Lawrent tersenyum. “Bisa dikatakan seperti itu. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kami bertemu seseorang dari planet lain.” Kata Eden.
“Ia tampak aneh dengan bicaranya yang menggunakan bahasa planet yang aneh. Aku tak
bisa mengerti apa yang dikatakannya.” Kata Sam tak senang.
“Tapi aku mengerti. Dan ia tidak kelihatan aneh. Bahkan mata hijaunya sangat
indah.”
“Gaya bicaranya benar-benar mengerikan.”
“Tidak buruk. Oh—tunggu sebentar—apa kau jeleous?” Kata Eden, menggoda.
“Dengan perempuan itu? tentu saja tidak.”
Vincent ikut tertawa kecil dengan Eden.
“Jadi kalian manusia? Seperti kami.” lanjut Eden.
“Oh kita semua manusia, Eden. Mereka yang dari planet lain juga adalah manusia.
Sama sepertimu. Terkecuali alien. Mereka monsternya. Seperti yang dikatakan Sam.”
Kata Vincent.
“Bagaimana dengan Obey? Bukankah dia—”
“Obey? Oh dia sudah bertahun-tahun dengan kami, dia sudah terbiasa. Oleh sebab itu
ia bisa mengerti dan berbicara seperti layaknya makhluk bumi. Dan kita tidak
membutuhkan benda itu untuk bisa berbicara dengannya.”
“Aku punya satu pertanyaan lagi—“ Kata Sam. “Apakah setelah empat bulan, semuanya
akan kembali seperti semula?”
“Apa maksudmu, sayang?” Tanya Lawrent, bingung.
“Maksudku, kami akan kembali ke bumi dan hidup normal lagi.”
“Ya. Tapi aku tak bisa menjamin untuk seterusnya. Karena seperti sekolah lainnya,
di Alomond, kalian juga harus menyelesaikan sekolah hingga tingkat senior.” Lawrent
tersenyum kepada keduanya.
“Sungguh? Oh—jika aku telah kembali…” Mulai Sam. “Aku tak akan menyentuh cahaya
sialan itu lagi.”
Lawrent dan Vincent tertawa kecil.
“Oh ini pinneaphone kalian.” Kata Lawrent, meletakkan dua buah benda bening
berukuran seperti ponsel genggam di meja makan. “Aku hampir lupa memberikannya
kepada kalian.”
“Apa ini?” tanya Sam.
“Apa ini sebuah handphone?” Sambung Eden.
“Oh baguslah. Aku bahkan hampir melupakan hal penting semacam itu. Apakah ini bisa
digunakan untuk facebook, twitter atau semacamnya?”
“Twitter? Apa itu?” Tanya Vincent yang kelihatan bingung sembari melihat Lawrent
yang juga bingung menggelengkan kepala.
Sam hanya melontarkan reaksi terkejutnya karena jawaban parinxhnya itu.
“Kami sudah lama tinggal di sini, sayang. Jadi kami tak tahu hal-hal baru semacam
itu yang sedang popular di bumi.” Kata Lawrent.
“Oh itu tidaklah penting.” Sela Eden. “Jadi, bagaimana cara menggunakan benda ini?”
“Oh itu. Kau hanya perlu satu sentuhan untuk menghidupkannya.”
Eden mengikuti petunjuk yang dikatakan Lawrent. “Lalu?”
“Selanjutnya ikuti saja apa yang ditampilkan di layar pinneaphonemu. Seperti
menggunakan ponsel genggam—Oh ya, aku juga sudah memasukkan kontak punyaku dan
Vincent di masing-masing pinneaphone kalian. Begitu juga punya kau dan Sam.”
Eden terus mengutak-atik benda tersebut. Tiba-tiba deringan pelan terdengar dari
saku Vincent.
Vincent merogoh sakunya. “Eden?” Kata Vincent, heran saat melihat layar
pinneaphonenya. Ia tersenyum dan mengangkat panggilan dari Eden tersebut.
Betapa kagetnya Eden melihat sosok kecil Vincent muncul di atas layar bening
tersebut, melambai kearahnya.
“Woww. Ini keren.” Kata Eden, kemudian melihat kearah Vincent yang sedang melambai
di depan pinneaphonenya.
Sam juga terlihat kagum melihat kecanggihan benda tersebut.
“Kurasa ini lebih menarik dari pada facebook ataupun twitty.” Kata Vincent,
tersenyum melihat Sam.
“Kurasa.” Kata Sam, kembali ke rautnya yang datar. “Jadi kalian ini apa?”
“Apa maksudmu Sam?”
“Di dunia lain ini. Kalian sebagai apa?”
“Sudah kubilang. Kami adalah parinxh-mu.”
“Apakah seperti orang tua?” Terka Eden. “Ayah…Ibu?”
“Bisa jadi.” Kata Lawrent. “Tapi kami lebih senang dengan sebutan Lawrent dan
Vincent.”
Hari semakin larut, namun Sam masih terjaga di dalam ruangannya, memikirkan apa
yang baru saja dibincangkan saat makan malam. Ia masih tak mengerti apa yang
dikatakan Lawrent mengenai ayahnya, bagaimana ayahnya bisa tau mengenai semua hal
aneh yang terjadi padanya seharian ini. Apakah ayahnya mengetahui sesuatu yang
tidak diketahui olehnya selama ini. Semuanya terasa sulit untuk menemukan jawaban
yang tepat.
Dinginnya udara yang masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka terasa sejuk.
Langit malam yang gelap di luar terlihat sangat indah dengan bintang-bintang yang
entah merupakan salah satu planet di tata surya ini, menghiasi langit di Space.
******
Alomond
Pagi telah kembali. Karena cahaya terang mulai masuk ke semua sudut cabin. Sepiring
besar roti isi lengkap dengan keju, sayur, tomat, dan telur goreng dibawa masuk
Obey ke ruang makan cabin.
“Terimakasih Obey.” Kata Lawrent. “–Oh selamat pagi Eden.”
Eden baru saja turun dari kamarnya.
“Dimana Sam?” Tanya Lawrent.
Eden hanya mengengkat bahunya, tak tahu.
“Aku di sini.” Kata Sam, baru saja bergabung ke ruang makan.
“Oh ayo anak-anak. Kalian harus sarapan.” Kata Lawrent, ia meletakkan roti isi di
masing-masing piring, termasuk untuk Vincent.
“Obey!” Panggil Vincent, ia adalah yang terakhir bergabung ke meja makan. “Ambilkan
Daybird hari ini.”
Obey yang berukuran kecil keluar dari dapur, pergi keruangan depan cabin dan
kembali denga sebuah kertas tebal kecil berukuran seperti telapak tangan anak-anak
dan berbentuk persegi. Eden yang duduk di sebelah Vincent baru menyadari tulisan
yang terdapat pada kertas tersebut. Tulisan tanggal dan nomor edisi serta tulisan
besar yang bertuliskan ‘Daybird’ di depannya.
Vincent melakukan gerakan jari yang membuka dari posisi kuncup pada permukaan
kertas tersebut. Sebuah layar bening muncul, digenggam Vincent di kedua tangannya
seperti memegang benda yang transparant dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar
yang melayang di udara kosong, tertata rapih.
“Sebuah surat kabar luar angkasa. Hebat.” Kata Eden, menduganya ukuran layar
tersebut. Seperti ukuran surat kabar pada umumnya.
“Apakah kau mau segelas susu Eden?” Tanya Lawrent.
“Trimakasih.”
“Kau Sam?”
“Ya, terima kasih.”
“Dan ngomong-ngomong, ada kabar apa hari ini, Vincent?” Tanya Eden, tertarik dengan
surat kabar tersebut.
“Apa?” Tanya Vincent bingung, sepertinya tidak memperhatikan. “Kabarnya… hmmmm….
Apa kau mengharapkan kedatangan bangsa Orion? Sepertinya tak ada berita seperti itu
di edisi ini.”
“Bus sekolah akan datang 5 menit lagi.” Kata Obey, mengintip di pintu dapur.
“Terima kasih Obey, kau telah mengingatkan kami.” Balas Lawrent. “Ayo anak-anak.
Ini hari pertama sekolah, aku tak ingin kalian terlambat. Oh, dan pakai ini.” Kata
Lawrent, memberikan dua buah tas kecil kepada Eden dan Sam. “Semua yang kalian
butuhkan sudah kuletakkan di dalam.”
Sam memperhatikan tas kecilnya tersebut. “Bisakah kau memberikanku yang ada
diamondnya sebagai hiasan?” Katanya, kemudian mengenakan tas tersebut di
pinggangnya.
Lawrent hanya tersenyum. “Ayo anak-anak, kalian bisa ketinggalan bus.”
Eden dan Sam dibawa ke ruang depan cabin. Lawrent membukakan pintu untuk mereka.
Pot-pot berwarna putih berjejer di atas lantai teras cabin, dengan daun-daun hijau
berukuran besar tumbuh didalamnya. Membuat teras tersebut terlihat lebih asri. Di
beberapa pot tanamannya sudah mulai berbuah.
Beberapa detik kemudian, sebuah bus berukuran panjang berhenti tak jauh dari tempat
mereka berdiri. Bus itu berwarna putih dengan jendela-jendela yang berjumlah
banyak. Di dalamnya, kursi-kursi yang hanya sederet berbaris kebelakang, sangat
panjang terasa seperti berada di dalam sebuah tabung cairan kimia. Bus mulai melaju
dengan kencang saat Eden dan Sam sudah masuk dan mendapatkan tempat duduk masing-
masing. Sekilas terlihat Vincent tersenyum berdiri bersama Lawrent yang melambai.
Bus melaju kearah cahaya terang yang jaraknya agak jauh. Sam bisa melihat melalui
kaca jendela bus, cabin-cabin dengan dekorasi-dekorasi unik berjejer rapih dengan
jarak sekitar tiga meter masing-masingnya.
Ia baru tersadar dengan kedatangan seorang wanita yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Identifikasi?” Suara melengking wanita itu terdengar kental di telinganya.
“Apa?” Sam sedikit bingung.
Wanita itu mendekatkan alat pendeteksi yang dipegangnya ke punggung tangan kanan
Sam.
“Sam Halley.” Kata wanita itu. Kemudian pergi kepada anak lainnya yang duduk di
bangku belakang Sam.
Sam memperhatikan titik kecil bercahaya yang baru saja hilang di punggung tangan
kanannya.
Sebuah pesawat tempur luar angkasa mencoba menembakkan peluru kearah musuh-musuh di
sekitarnya. “You Win” Seru wanita dari layar pinneaphone Eden dalam sebuah game
tempur yang dimainkannya.
“Thankyou guys!” Seru Eden, berlagak seperti seorang pemenang di bangku busnya.
“Identifikasi? Kata wanita pengecek identitas saat datang di deret Eden.
“Identifikasi? Oh aku Eden, Eden Heymund. Kau bisa mengeceknya di daftarmu.”
Wanita itu mendekatkan alat pendeteksi ke punggung tangan kanan Eden. “Eden
Heymund.” Kata wanita itu.
“Sudah ku bilang kan?” Kata Eden, kemudian melanjutkan game tempurnya.
Tak lama, cahaya yang masuk ke dalam bus mulai meremang gelap. Bus mulai memasuki
area terowongan. Perlahan, kemudian cahaya muncul kembali. Sebuah tempat, sangat
luas dengan bus-bus yang berlalu lalang di area baru ini. Di beberapa tempat orang-
orang mulai turun dari bus. Tempat itu memiliki lantai berwarna abu-abu tua
kecokelatan, dengan bagian atas yang terbuka membuat ruangan itu terlihat sangat
terang.
Tak lama bus yang mereka naiki berhenti di sebuah pemberhentian. Sam melepas
sabuknya dan kemudian berjalan ke depan untuk menemukan pintu keluar bersama dengan
anak-anak lain yang mulai berdesakkan dalam bus berusaha untuk keluar. Ia menengok
ke sana-sini, mencari tanda-tanda Eden. Namun sepertinya terlalu banyak anak
berdesakkan dalam bus.
“Sam!” Seru gadis venus yang di temuinya saat di pemerintahan. Gadis itu berdiri
tak jauh dari tempat bus lainnya berhenti.
“Hai—” Balas Sam berseru. Ia berusaha mengingat nama gadis itu.
“Aku Fanning. Kau ingat?”
“Oh benar. Tentu aku ingat.”
“Dimana Eden?”
“Entahlah. Aku baru akan mencarinya.”
“Ngomong-ngomong, kenalkan ini partnerku.” Kata Fanning, mengenalkan pria berbadan
tegap yang berdiri di sampingnya. Pria itu berambut cokelat sama seperti Fanning.
Namun lebih tinggi dari pada Fanning.
“Igle Genush.” Kata pria itu.
“Sam Halley.” Kata Sam, menjabatnya.
“Kurasa sudah waktunya berkumpul di Alomond aula.” Kata Fanning. “Apakah kau sudah
menemukan partnermu?”
“Akan ku urus itu nanti.”
“Baiklah. Ayo.”
“Selamat pagi semua.” Kata Amanda, wanita paruh baya dengan rambut blonde yang
disasak rapih, serta mengenakan pakaian rapih berwarna puti keperakan. Suaranya
dikeraskan keseluruh dinding-dinding Alomond aula yang dipenuhi siswa-siswa.
“Sangat senang rasanya, akhirnya aku bisa bertemu kalian semua disini. Sebelumnya,
mari kita dengarkan sambutan dari kepala sekolah kita, Professor Arthur Silvester.”
Sebuah monitor dengan ukuran layar yang sangat besar, muncul di hadapan mereka
dengan tampilan seorang pria tua yang tampak berumur lebih dari 60 tahun dengan
rambut yang berwarna putih, sepertinya bukan karena keturunan, namun factor
usianya. Namun ia terlihat sehat, segar, tegap dan berwibawa.
“Selamat pagi semuanya.” Kata Professor Silvester. “Saya ucapkan selamat datang di
sekolah luar angkasa Alomond bagi para siswa junior. Sangat menyenangkan bisa
melihat kalian, tak banyak yang dapat disampaikan, namun kuharap kalian bisa
menikmati hari-hari kalian di sini. Dan untuk semua, aku menaruh tanggung jawab
besar yang harus dijaga kepada kalian para terpilih. Jangan kecewakan itu. Pesanku
untuk kalian lagi, agar tetap berada di area gravitasi aman sekolah. Semoga
menyenangkan.”
Applause ramai menggema di ruangan tersebut. Pria itu kemudian tersenyum dan layar
monitor lenyap, dinding besar yang kosong kini terpampang kembali di belakangnya.
“Baiklah siswa. Untuk para junior, berkumpulah di depan sini— Wakil seniormu akan
mengantarkan kalian ke kelas.”
“Apakah tidak ada upacara pagi?” Kata Eden, tiba-tiba sudah berdiri di samping Sam.
“Oh!” Kata Sam, kaget. “Sial kau mengagetkanku.”
“Ikut aku, junior.” Kata seorang gadis senior.
Eden, Sam dan para junior lain mengikuti gadis itu.
“Belok di sini.” Katanya masih sambil berjalan bersama seorang pria yang sepertinya
adalah partnernya.
Mereka berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu besar yang masih tertutup.
“Akan kutinggalkan kalian di sini. Kalian akan bertemu Mr. Peer untuk kelas pertama
kalian.” Kata senior pria, kemudian pergi bersama partnernya.
Beberapa detik kemudian pintu besar itu bergerak membuka, menampilkan sebuah
ruangan besar di dalamnya.
“Hello kawan-kawan!” Seru pria paruh baya dengan potongan rambut klasik dan mata
biru tua serta senyum lebarnya yang membuatnya terlihat ramah. “Ayo, kemari. Ambil
tempat duduk untuk kalian. Buatlah dirimu nyaman.”
Pintu besar kembali menutup perlahan di belakang pria yang kini berdiri menghadap
para siswa yang sudah duduk manis.
“Selamat datang di kelas gravitasiku. Pakailah sabuk kalian.”
Semuanya mengaitkan sabuk mereka. Salah satu anak di samping Eden sepertinya
mengalami kesulitan.
“Oh bukan begitu caranya, nak.” Kata Mr. Peer, membetulkan sabuk pengaman pria
berkulit cokelat tersebut. “Baiklah. Untuk memulai kelas ini, perkenalkan namaku
Grocery Peer. Kita langsung saja—Bersiaplah. Kita akan berada di ruangan hampa
gravitasi.”
Selanjutnya ia menekan tombol merah di dekat pintu baja. Seketika udara di ruangan
itu berubah menjadi elastic. Mr. peer mulai melayang di udara berusaha mengatur
posisinya sembari berpegangan pada salah satu tempat duduk. Tangan-tangan para
siswa mulai mengambang di udara kosong.
“Kalian hanya akan bertahan tiap 10 menit dengan udaranya—Oh maafkan aku Mr.
Pluto.” Kata Mr. Peer, tak sengaja kakinya yang melayang mengenai kepala seorang
anak. “Lepaskan sabukmu.”
“Apa?” Si pria Pluto itu kebingungan.
“Ayo. Ini akan menyenangkan.”
Ia kemudian melepas sabuknya perlahan. Tubuhnya mulai mengapung di udara. Perlahan,
dan sangat perlahan. Namun belum beberapa detik ia mulai panik dan segera saja
tubuhnya berputar-putar tak tentu arah, kehilangan keseimbangan di udara.
“Woow.. woowww.!” Serunya, panik.
“Tenangkan dirimu Mr. Pluto.”
“Aku tak bisa!” Teriaknya.
Eden tertawa lepas melihat kekacauan tersebut, tak bisa ditahan. Banyak anak yang
ikut tertawa memandang paniknya si pria pluto. Disisi lain ada pula anak yang
memunculkan ekspresi panik tak karuan.
Sam ikut tertawa. Namun pandangannya yang terarah ke pria kulit coklat yang sedang
panik di udara, berpindah menangkap pandangan seorang gadis dari deretan depan yang
ternyata dari tadi sedang menatapnya. Gadis itu kemudian memalingkan pandangannya.
Suara gedebuk kencang terdengar diikuti tawa yang semakin ramai dari anak-anak. Si
pria Pluto terjatuh kelantai saat Mr. Peer menghidupkan gravitasi kembali.
“Kau tak apa, [Link]?” Tanya Mr. Peer, sudah kembali berdiri tegak dan juga
berusaha membantu pria malang itu berdiri.
“Aku oke, pak.”
“Baiklah. Perkenalkan dirimu pada teman-temanmu. Agar mereka bisa tahu siapa pria
yang baru saja melayang ini.”
“Hello. Aku Julio Dunskey.” Katanya memperkenalkan diri.
“Oke silahkan duduk kembali, Mr. Pluto— Ada lagi yang ingin mencoba?” Tanya Mr.
Peer, kembali menekan tombol mematikan gravitasi sehingga membuat dirinya melayang
kembali. “Mr. Bumi?”
“Aku?” Eden meyakinkan.
“Ya, Mr. Bumi. Ayo. Lepaskan sabukmu.”
Tanpa berpikir panjang, Eden melepas sabuknya secara perlahan. Dirinya mulai
melayang di udara. Sepertinya kali ini Eden mengapung dengan mulus di udara.
Tubuhnya mulai bergerak ke posisi melintang, seperti posisi Mr. Peer. Eden
tersenyum puas, namun agak waspada.
“Awal yang bagus, Mr. Bumi— Buat dirimu nyaman, nak.”
Perlahan tubuh Eden terus bergerak, sepertinya mulai tak bisa dikontrol olehnya.
Tubuhnya bergerak semakin melintang ke posisi kepala terbalik ke bawah dan kaki
mengarah ke atas.
“Whoaaaa…” Seru Eden.