0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan145 halaman

Peran Metabolit Sekunder dalam Farmasi

Diunggah oleh

Sintia Ayuningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan145 halaman

Peran Metabolit Sekunder dalam Farmasi

Diunggah oleh

Sintia Ayuningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KIMIA BAHAN

ALAM FARMASI
OLEH : apt. VERAWATI, [Link].
Materi 1-7 (Sebelum UTS)

01. Tinjauan Metabolit Sekunder (MS)


02. Jalur biosintesis dan Klasifikasi MS
03 – 04. Metode Isolasi MS
05. Senyawa Marker dan Standarisasi Obat bahan
Alam
06. Alkaloid
07. Fenolik

Penilaian : Teori : 15% kehadiran + 20 % tugas + 65 % ujian


Praktikum : 20 % kehadiran + 30 % Laporan + 50% ujian
Penilaian akhir : 60% Teori + 40% Praktikum
Materi 1 : Tinjauan Metabolit
Sekunder
1
Ruang lingkup dan sejarah Kimia
Bahan Alam Farmasi

Perbedaan Metabolit Primer dan 2


Metabolit Sekunder

Definisi dan Fungsi Metabolit


Sekunder
3

Peranan metabolit sekunder dalam


obat
penemuan senyawa 4
/ identifikasi MS_________________________________________
Skrining 5
A. Ruang lingkup dan sejarah
Kimia Bahan Alam Farmasi
CABANG KIMIA ORGANIK 
SUMBERTUMBUHAN,
HEWAN, MIKROORGANISME

KIMIA BAHAN
MEMPELAJARI BIOSINTESA,
KLASIFIKASI, METODE ISOLASI,
STRUKTUR, SIFAT, AKTIVITAS
BIOLOGIS METABOLIT
SEKUNDER

ALAM
METABOLIT SEKUNDER SEBAGAI
OBAT DAN MARKER COMPOUND

SENYAWA FITOKIMIA (MS


KIMIA DARI METABOLIT
DARI
BAHAN ALAMI SEKUNDER
TUMBUHAN)
Sejarah Penemuan Metabolit Sekunder
Manusia telah
memanfaatkan tanaman
sejak 4000 tahun yang lalu
untuk mengobati penyakit
dan memelihara kesehatan
Bahan alam digunakan
dalam bentuk ramuan
galenika.
Disebut “natural product”

Pada awal tahun 1800-


an telah berhasil
diisolasi berbagai
senyawa kimia murni
oleh apoteker dan
ilmuwan. Contohnya
Srturner mengisolasi
morfin, Pelletier dan
Caventou dari Fakultas
Farmasi di Paris
berhasil mengisolasi
strikhnin, koniin,
emetin, kafein , dll
Istilah metabolit sekunder pertama kali diperkenalkan
oleh Albrecht Kossel pada tahun 1910.

Senyawa metabolit sekunder memiliki karakteristik yaitu


molekul kecil dengan kurang dari BM 1500, diproduksi
oleh organisme dengan tujuan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup organisme penghasil tersebut.
Perbedaan Metabolit Primer dan
Metabolit Sekunder

Metabolit Primer Metabolit Sekunder


● merupakan molekul organik yang memiliki
fungsi intrinsik dan essensial (penting) ● Metabolit sekunder adalah molekul
bagi kelangsungan hidup organisme yang organik yang memiliki fungsi ekstrinsik
memproduksinya. Hal ini berarti, yang dapat mempengaruhi lingkungan
organisme tersebut akan mati jika luar di sekitar organisme penghasilnya.
metabolit primer tidak ada. ● Metabolit sekunder tidak mempengaruhi
● Metabolit primer adalah kelompok kelangsungan hidup tanaman/organisme
senyawa makromolekul seperti DNA, RNA, penghasil namun sangat berperan dalam
protein, karbohidrat dan lipid. meningkatkan ketahanan dan kompetisi
● Struktur awal pembangun (building dengan organisme lain di sekitar
blocks) dari metabolit primer lingkungan habitatnya.
antara lain nukleobasa, asam amino, gula dan ● molekul kecil dengan kurang dari BM 1500
asam lemak
Perbedaan antara metabolit primer dan metabolit sekunder
terkadang masih membingungkan karena banyak ditemukan
intermediet dari metabolisme primer yang tumpang tindih dengan
intermediet dalam metabolisme sekunder.

Sebagai contoh, asam amino yang merupakan metabolit primer


penyusun protein, ternyata juga ditemukan sebagai prekursor
untuk membentuk metabolit sekunder golongan alkaloid.

Dalam keadaan tertentu, metabolit sekunder dapat berperan


sebagai zat penyangga contohnya sebagai sumber karbon
ataupun nitrogen ketika dibutuhkan.

Metabolit sekunder dapat masuk ke dalam jalur metabolisme


primer untuk dipecah kembali menjadi bentuk yang diinginkan.

Artinya terdapat suatu kesetimbangan yang dinamis antara


aktivitas metabolisme primer dan sekunder yang dipengaruhi
oleh pertumbuhan, perkembangan sel dan diferensiasi jaringan
serta tekanan eksternal/lingkungan
Contoh dan Fungsi Metabolit
Primer bagi Tumbuhan
Metabolit primer merupakan komponen dasar dalam jalur metabolisme
kehidupan. Metabolit ini sangat terkait erat dengan fungsi penting seluler
seperti asimilasi nutrisi, produksi energy, pertumbuhan,perkembangan makhluk
hidup.

Contoh Fungsi
Pati dihidrolisismenjadi unit D-glukosayang digunakandalamsintesisATPolehrespirasi
aerobiksebagai
energi dalammenumbuhkansel tanaman.
Glukosa monomer untukmensintesisselulosa, suatupolimeryang menjadi
komponenutamadari dindingsel tumbuhan
Lipid struktur utamadari membranplasma danorganel sel. Lipid
jugaberperansebagai cadanganenergy bagi tumbuhan
Protein Komponenutama dari enzim-enzimyang terlibat dalamberbagai reaksi biokimia
dan biosintetik
DNA Materi genetikyang tersusundari nukleobasa(basanitrogen seperti adenine, guanine,
sitosindantimin)
Metabolit Sekunder
Fungsi Metabolit Sekunder bagi

Contoh tanaman penghasilnya


Metabolit 1. Sebagai zat warna tumbuhan yang dapat menarik burung
Sekunder dan serangga untuk melakukan penyerbukan dan
menyebarkan biji/benih tumbuhan. Contohnya adalah
● Kinin diperoleh dari antosianin.

Chincona succirubra ● 2. Zat warna tanaman juga dapat berperan untuk melindungi
● Kafein diperoleh dari tanaman dari pengaruh radiasi UV matahari.
Coffea arabica
● 3. Beberapa metabolit sekunder seperti golongan alkaloid
● Theophyllin diperoleh memiliki rasa yang pahit dan bersifat toksik sehingga
dari Theobroma cacao dapat berperan untuk melindungi tanaman dari herbivora
● Katekin diperoleh dari ataupun hewan predator lain yang akan memakan atau
merusaknya.
Uncaria gambir
● Atropin diperoleh dari ● 4. Melapisi dan melindungi bagian tanaman yang
mengalami perlukaan, disebut juga sifat fitoaleksin,
Atropa belladona
contohnya zat resin pada pohon pinus.

● 5. Mengatur atau menekan pertumbuhan tanaman tertentu di


sekitarnya, disebut juga
dengan sifat allelopati.
Manfaat Metabolit Sekunder Bagi
Manusia

1. sebagai pewarna makanan dan kosmetik (contoh:


kurkuminoid, indigo)
2. sebagai penyedap makanan (contoh :vanillin,
kapsaisin, minyak mustard),
3. sebagai pengharum (minyak mawar, lavender, jasmin)
4. memberikan efek stimulan (kaffein, nikotin, efedrin)
5. bersifat halusinogen (skopolamin, kokain, morfin)
6. sebagai insektisid (nikotin, piretrin, piperin)
7. sebagai obat, contohnya : vinkristin
(antikanker), kodein (antitusif), dan kinin
(antimalarial)
Drug discovery and natural products
natural products play an important role at the early stage of ‘lead’ discovery, i.e. discovery of the active (determined
by various bioassays) natural molecule, which itself or its structural analogues could be an ideal drug candidate

1 natural products : vinkristin


• natural product derivatives : morfin menghasilkan


2 kodein, diosgenin menjadi progesteron
• synthetic compounds with natural-product-
3 derived pharmacophores : tramadol
• synthetic compounds as a natural product mimic :
4 kafein, asam askorbat
SKRINING FITOKIMIA

analisis kualitatif terhadap golongan senyawa metabolit sekunder


yang terdapat dalam suatu tanaman. Metode ini dirancang dengan
sederhana dan cepat memberikan hasil yang cepat dan akurat.

Skrining fitokimia menggunakan reagen-reagen tertentu yang spesifik


terhadap golongan metabolit sekunder seperti alkaloid, fenolik, flavonoid,
terpenoid dan steroid. Metode yang umum digunakan adalah metode dari
Culvenor & Fitzgerald (1963) dan Simes.
Prosedur skrining fitokimia dapat dilakukan pada tanaman segar kering maupun pada
bentuk ekstraknya.
Reaksi Mayer :

UJI ALKALOID Reaksi Mayer


:

● Ditimbang 5 mg ekstrak
dilarutkan menggunakan 3 mL kloroform Reaksi Wagner
ammonia 1%, kemudian hasil pencampuran
tersebut disaring. Selanjutnya 2 mL larutan
HCl 2M atau H2SO4 2N ditambahkan pada
filtrat dan dikocok. Hasil yang didapatkan
dimasukkan dalam 4 tabung reaksi masing-
masing 5 tetes. Tabung 1 berisi larutan Reaksi Dragendorff
blangko, sedangkan tabung 2, 3, dan 4 akan
dicampur dengan 1 tetes pereaksi Mayer,
Wagner, Dragendorff pada setiap tabung.
Hasil positif pada pengujian ini ditunjukkan
dengan masing-masing larutan secara
berurutan terdapat endapan putih, coklat Endapan terbentuk dari komplek Kalium-alkaloid,
dimana kalium terikat dengan pasangan elektron
atau jingga. bebas dr atom Nitrogen alkaloid
Uji Flavonoid
(SIANIDIN TEST ATAU SHINODA TEST)

● Sejumlah 1 mg ekstrak
ditempatkan pada plat tetes, lalu
dimasukkan 10 tetes metanol,
diaduk menggunakan spatula
sampai larut. Selanjutnya
ditambahkan 6 potongan pita Mg
dan HCl pekat 4 tetes ke dalam Reduksi Flavonoid oleh Mg dan HCl sehingga
membentuk kompleks [Mg(OAr)6] 4- yang berwarna
campuran. Timbulnya warna jingga.
kuning, jingga maupun merah
menunjukkan
hasil positif.
Uji Fenolik

● Sejumlah 1 mg sampel
padat diletakkan dalam plat
tetes, kemudian menambahkan
10 tetes metanol, lalu diaduk
menggunakan spatula sampai
larut. Selanjutnya ditambahkan 6
tetes larutan FeCl3 5%. Warna
biru, hijau, ungu, atau kemerahan
kemerahan menandakan hasil
positif pada
kompleks antara ion ferri dan ion fenoksida yaitu
pengujian.
[Fe(OAr)6]3-.
Uji saponin

● Sebanyak 5 mg ekstrak etanol


padat diletakkan pada tabung reaksi,
lalu menambahkan 5 mL aquades dan
digoyang selama 1 menit. Jika
terbentuk buih stabil dalam waktu ±10
menit menandakan terdapat senyawa
saponin
dalam sampel.

Glikosida dapat menimbulkan buih pada air


dan kemudian terhidrolisis menjadi gula dan
senyawa lain
Uji Steroid dan Triterpenoid
● Sejumlah 1 mg ekstrak steroid.
diletakkan pada plat tetes,
ditambahkan 6 tetes asam
asetat anhidrat, kemudian
diaduk menggunakan
spatula sampai
larut. Selanjutnya
ditambahkan satu tetes H2SO4
pekat. Jika terbentuk warna
jingga hingga
merah dalam
larutan menunjukkan terdapat
senyawa triterpenoid,
sedangkan jika berwarna biru
atau hijau menunjukkan
terdapat senyawa
golongan steroid/terpenoid mengalami
oksidasi yang akan membentuk ikatan
rangkap terkonjugasi

(REAGEN LIEBERMANN BURCHARD)


JALUR BIOSINTESA METABOLIT
SEKUNDER,
KLASIFIKASI METABOLIT
SEKUNDER
DAN TEKNIKTEKNIK
BIOSINTESA

MATERI 2
Jalur biosintesa MS senyawa-senyawa asam
lemak (baik jenuh
• jalur asam asetat (Acetic maupun tidak jenuh),
prostaglandin, makrolid,
1 pathway) poliketid aromatik
Senyawa-senyawa
• jalur asam shikimat asam amino
aromatik, flavonoid,
2 (Shikimate pathway) terpenoid, lignan,
lignin, flavonolignan
• jalur asam mevalonat kelompok terpen (seperti
monoterpen,
3 (Mevalonate pathway), seskuiterpen,
diterpen, triterpen, dan
tetraterpen), steroid,

Alkaloid masuk ke dalam jalur biosintesa dengan prekursor


asam amino (baik protein ataupun nonprotein)
JALUR ASAM ASETAT ATAU ASETAT – MALONAT

Jalur ini memiliki prekursor asetil


koenzim A untuk menghasilkan
senyawa- senyawa asam lemak (baik
jenuh maupun tidak jenuh),
prostaglandin, makrolida, dan poliketida
aromatik.
Asetil koA dihasilkan dari reaksi
dekarboksilasi oksidatif melalui jalur
glikolisi produk asam piruvat. Selain itu
asetil koA juga berasal dari proses beta-
oksidasi asam lemak, namun sebaliknya
asam lemak itu sendiri juga dihasilkan
oleh asetil koA.
JALUR ASAM SIKIMAT

Jalur sikimat pada tanaman terjadi di


kloroplas. Jalur ini menggunakan asam
sikimat sebagai prekursor dan
menghasilkan golongan metabolit
sekunder seperti polifenol, flavonoid,
lignan, lignin, tanin dan alkaloid aromatik.
Tekanan biotik dan abiotik dapat
mempengaruhi produksi dari senyawa
fenolik pada tanaman. Tekanan biotik
contohnya herbivora dan berbagai
patogen, sedangkan tekanan abiotik
seperti temperatur, pH, CO2, O2, logam
berat, kadar garam, paparan UVA dan
UVB.

Reaksi antara fosfoenol piruvat dengan eritrose


4 fosfat menghasilkan asam sikimat. Melalui
beberapa tahapan reaksi asam sikimat menjadi
prekursor pembentukan asam amino aromatis
seperti fenil alanin, tirosin , dan triptofan.

Fenil alanin dan tirosin digunakan sebagai prekursor pembentukan fenolik, sedangkan
asam amino triptofan sebagai prekursor alkaloid
JALUR ASAM MEVALONAT ATAU JALUR ASETAT – MEVALONAT
Jalur ini menghasilkan golongan
metabolit sekunder dari kelompok
terpenoid dan steroid. Asam
mevalonat terbentuk dari tiga molekul
asetil Ko-A, namun jalur ini
membentuk serangkaian senyawa
yang berbeda dengan produk jalur
asetat.
Asam mevalonat mengalami
fosforilase dengan mediator ATP
sehingga menghasilkan asam
mevalonat difosfat dan selanjutnya
mengalami dekarboksilasi sehingga
menghasilkan senyawa isoprene yaitu
isopentenil pirofosfat (IPP). IPP
menggalami isomerisasi membentuk
Dimetil allil pirofosfat (DMAPP). Jalur
Asetat- mevalonat ini bekerja melalui
reaksi prekursor IPP dan DMAPP
dengan produk antara senyawa
squalene sehingga menghasilkan
berbagai kerangka struktur senyawa
dari golongan terpenoid dan steroid.
Beberapa senyawa glikosida dan
alkaloid juga terbentuk melalui jalur ini
KLASIFIKASI METABOLIT SEKUNDER

Secara sederhana, metabolit sekunder dibagi atas 3 kelompok besar yaitu :


1. Terpen
Kelompok terpen terdiri dari beberapa jenis substansi volatil seperti
monoterpen dan seskuiterpen, substansi semivolatil seperti diterpen dan
substansi non volatil seperti triterpen, sterol, kardiak glikosida, dan karotenoid.

2. Fenolik
Fenolik terdiri dari beberapa subkelas seperti asam fenolik, kumarin, lignan,
stilbene, flavonoid, tanin dan lignin.

3. Komponen mengandung atom Nitrogen


Kelompok senyawa ini antara lain alkaloid dan glukosinolat.

Metabolit sekunder yang umum ditemukan pada tanaman antara lain alkaloid,
flavonoid, steroid, saponin, terpenoid dan tannin.
TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM MENELAAH
JALUR BIOSINTESA MS

1 TRACER TECHNIQUE

2 USE OF ISOLATED ORGANS OR


TISSUES

3 GRAFTING METHOD

4 ENZYMATIC STUDIES
TRACER TECHNIQUE
1. PENYIAPAN SENYAWA BERLABEL
2. PENYERAPAN SENYAWA
BERLABEL OLEH
TUMBUHAN
3. PEMISAHAN DAN
ISOLASI SENYAWA
BERLABEL
4. KARAKTERISASI/
PENENTUAN METABOLIT
REQUIREMENT FOR TRACER TECHNIQUE

1. Preparation of labelled compound

• By the use of organic synthesis

CH3MgBr + 14CO2 CH3 14COOHMgBr + H2O

CH314COOH + Mg(OH)Br
2. Introduction of labelled compounds
Precautions:
• The precursor should react at necessary site of synthesis in
plant.
• Plant at the experiment time should synthesize the compound
under investigation
• The dose given is for short period.
Root feeding: The plant in which roots are the biosynthetic sites e.g.,
Tobacco. The plants are hydroponically cultivated to avoid microbial
contamination.
Stem feeding: Substrate can be administered through cut ends of stem
immersed in solution. For latex containing plant this method is not
suitable.
Direct injection: Suitable for plant with hollow stem e.g., umbelliferous and
opium.
Infiltration: Suitable for plant rooted in soil or other support without
disturbing the roots (Wick feeding).
Spray technique: Compound has been absorbed after being sprayed on
leaves in aqueous solution e.g., Steroids
3. Separation of compounds

• Soft & fresh tissue: Maceration, infusion

• Hard tissue: Decoction, hot percolation

• Unorganized drug: Maceration with adjustment

Choice of solvent for extraction

• Fat & oil: Non-polar solvents

• Alkaloids, glycosides, flavonoids: Slightly polar solvents

• Phenols: Polar solvents


ADVANTAGES

• High sensitivity.

• Applicable o all living organism.

• Wide ranges of isotopes are available.

• More reliable, easily administration & isolation procedure.

• Gives accurate result, if proper metabolic time &


technique applied.
LIMITATIONS

• Kinetic effect

• Chemical effect

• Radiation effect

• Radiochemical purity

• High concentration distorting the result,


expensive, short half life, hazardous
ISOLATED ORGANS OR TISSUES

KULTUR SEL, JARINGAN


ATAU ORGAN PADA MEDIA
ASEPTIS YANG SESUAI DAN
DIBERI SENYAWA BERLABEL
GRAFTING METHOD

UNTUK MENENTUKAN TEMPAT


PEMBENTUKAN METABOLIT
SEKUNDER

1. CABE YANG SEDANG BERKEMBANG (CAPSAICIN)


2. BAGIAN ATAS TUMBUHAN CANNABIS (RESIN)
3. AKAR NICOTIANA TOBACUM (NIKOTIN)
ENZYMATIC STUDIES

MENGISOLASI DAN
MEMPELAJARI ENZIM UNTUK
MENGETAHUI JALUR
BIOSINTESA

ENZIM CHORISMATE MUTASE


TELAH DIISOLASI DARI KAPSUL
OPIUM
MODUL PERTEMUAN 3 :
ISOLASI SENYAWA KIMIA (METABOLIT SEKUNDER ) DARI BAHAN ALAM

Isolasi senyawa metabolit sekunder dari alam khususnya tanaman dalam


kefarmasian ditujukan untuk meperoleh suatu senyawa bioaktif sebagai obat dan
kosmetika. Selain digunakan sebagai bahan obat, senyawa aktif yang berasal dari bahan
alam juga dapat digunakan sebagai prekursor obat, prototipe untuk modifikasi senyawa
sintetik, penanda farmakologi. Senyawa aktif sebagai prekursor obat dapat diubah menjadi
senyawa yang diinginkan melalui proses modifikasi kimia atau metode fermentasi.
Proses penemuan obat membutuhkan waktu kira-kira lebih dari 10 tahun dan biaya
lebih dari 800 juta dollar US. Banyak senyawa calon obat dianggap gagal setelah menyita
waktu dan biaya. Fakta membuktikan, bahwa hanya satu dari 5000 senyawa calon
obatyang akan masuk uji klinis dan diterima sebagai obat. Langkah-langkah tersebut
meliputi identifikasi, optimasi, pengembangan senyawa calon obat dan selanjutnya akan
memasuki tahap uji [Link] mengetahui aktivitas senyawa hasil isolasi maka perlu
dilakukan metode isolasi yang dipandu dengan pengujian aktivitas ekstrak dan senyawa
isolasi dari tanaman tersebut.
Berdesarkan pendekatan skrining bioaktivitas nya, maka metode isolasi senyawa aktif
berkhasiat obat dari bahan alam terdiri dari dua cara atau pendekatan, yaitu :
a. Cara modern
Dengan metode modern, ekstrak dari tanaman dapat diskrining secara cepat dan
otomatis menggunakan metode HTS (High Throughput Screening). Metode merupakan
metode yang digunakan untuk menyeleksi (skrining) ribuan senyawa secara bersamaan
dengan menggunakan perangkat yang terdiri atas mesin berbasis robot (otomatisasi),
detektor yang sangat sensitif, dan perangkat lunak. Teknik HTS ini akan memadukan ekstrak
dengan protein target tertentu (misalnya : protein kanker), bila ada hit (serangan) yang
menghancurkan proteintarget maka dapat dikatakan bahwa dalam ekstrak tersebut
terkandung senyawa aktif yang berinteraksi dengan molekul target tersebut. Bila molekul
target tersebut merupakan suatu penyakit atau patogen tertentu maka senyawa aktif dalam
ekstrak tersebut merupakan obat atau bahan obat terhadap penyakit /patogen tersebut.
Dengan teknik HTS, industri farmasi dapat memangkas biaya dan waktu untuk isolasi
senyawa bahan alam aktif. Melalui teknik ini, pencarian obat dilakukan secara reverse drug
discovery yaitu proses penemuan obat yang dimulai dari zat aktif. Senyawa aktif yang telah
ada ataupun ekstrak dan fraksi terpurifikasi diuji dengan metode HTS untuk mengetahui
aktivitasnya terhadap protein target penyebab suatu penyakit. bila ada hit (serangan) yang
menghancurkan protein target maka dapat dikatakan bahwa dalam ekstrak tersebut
terkandung senyawa aktif yang berinteraksi dengan molekul target tersebut.
Teknik HTS ini telah didukung oleh beberapa instrument diantaranya:
a. microplate titter sebagai pelat pengujian/ tempat untuk melakukan reaksi
biokimiawi antara cairan sampel yang dianalisis dengan pereaksi kimia dan buffer,
b. software pengolah data dan perangkat kontrol otomatis,
c. microplate reader yang dilengkapi dengan detektor yang sensitif terhadap reaksi
biokimiawi yang terjadi (reaksi perubahan warna maupun kekeruhan).
Microplates titer yang digunakan untuk analisis HTS umumnya mempunyai jumlah
sumur/ lubang sebanyak 384, 1536 maupun 3456. Jumlah lubang tersebut adalah kelipatan
dari 96, yang mencerminkan 96 sumur asli microplate titer dengan ukuran tiap-tiap lubang 8
x 129 mm.
Prinsip penapisan mikroba dengan metode HTS ini secara umum hampir serupa
dengan teknik analisis turbidimetri, spektrofotometri UV/Vis maupun fluorescence yaitu
terjadinya kekeruhan, perubahan warna, timbulnya fluoresensi yang terjadi setelah sampel
yang dianalisis direaksikan. Terjadinya perubahan warna oleh microplate reader dengan
bantuan software pengolah data diinterpretasikan sebagai nilai absorbansi. Nilai absorbansi
adalah nilai yang menunjukkan jumlah partikel sinar UV/Visable maupun florescence yang
dilepaskan oleh sumber cahaya microplate reader dan mampu diserap oleh partikel warna
dari suatu sampel. Semakin tajam/ pekat intensitas perubahan warna maupun fluoresensi
yang timbul, semakin tingginya kekeruhan yang terjadi ditunjukkan dengan nilai absorbansi
yang tinggi. Hal tersebut dapat menginterpretasikan bahwa semakin tinggi potensi dari
suatu ekstrak, fraksi/senyawa murni dalam menghasilkan suatu senyawa bioaktif yang dapat
berperan sebagai antivirus, antibakteri, antifungi, antikanker, antioksidan maupun antibodi
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat bagi manusia. Secara umum aplikasi metode
HTS ini pada dunia riset banyak digunakan untuk proses skrining (penapisan) awal dari
1
ribuan bahkan jutaan isolat senyawa yang diambil dari alam. Setelah melalui proses
penapisan (skrining) awal dengan metode HTS, selanjutnya senyawa unggulan yang terpilih
dioptimasi dan dianalisis secara lebih lanjut dengan menggunakan metode
spektrofotometri, analisis HPLC (High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas
Chromatography) maupun analisis molecular.
b. Cara tradisional/ konvensional
Isolasi senyawa aktif dari bahan alam dengan cara konvensional melibatkan penyarian
zat organik menggunakan pelarut yang cocok melalui serangkaian tahapan berupa ekstraksi,
frakinasi, pemisahan dan pemurnian. Beberapa permasalahan yang ditemui dalam isolasi
bahan aktif melalui metode konvensional antara lain :
a. Membutuhkan pelarut yang banyak
b. Rendemen senyawa hasil isolasi yang rendah
c. Ativitas senyawa murni yang rendah
d. Cemaran pelarut
e. Proses pemisahan yang lama

Berikut ini adalah skema isolasi senyawa aktif dari bahan alam :

Gambar 1. Skema isolasi senyawa aktif dari tumbuhan

2
Tahapan isolasi senyawa kimia dari bahan alam dapat dirinci sebagai berikut :
1. Ekstraksi
2. Fraksinasi
3. Pemisahan
4. Pemurnian
5. Karakterisasi Senyawa Murni

I. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari
jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan pelarut/ penyari tertentu.
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan cara mengekstraksi zat aktif
dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian, hingga
memenuhi baku yang ditetapkan.
Marc merupakan residu padatan sisa hasil ekstraksi
Menstruum merupakan pelarut yang digunakan untuk proses ekstraksi

Berdasarkan Konsistensinya, maka ekstrak dibagi atas 3 macam :


a. Ekstrak cair jika hasil ekstraksi masih bisa dituang, biasanya kadar air lebih dari
30%.
b. Ekstrak kental jika memiliki kadar air antara 5-30%.
c. Ekstrak kering jika mengandung kadar air kurang dari 5%

Mekanisme Ekstraksi :
 Komponen kimia dari tanaman biasanya terkandung di dalam sel. Oleh karena itu
pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi harus bisa berdifusi ke dalam untuk
melarutkan komponen kimia yang ada di dalam sel.
 Pelarut berpenetrasi ke dalam sel tanaman dan mengembangkan sel tersebut
 Pelarut akan melarutkan komponen kimia dalam sel dan menarik keluar melewati
dinding sel dan bercampur dengan pelarut lain disekitarnya di luar sel.
3
 Terjadi kesetimbangan antara konsentrasi solute (zat kimia) dalam sel dengan solute
yang terlarut dalam pelarut di sekitar jaringan tanaman.
 Pada sel tanaman yang telah rusak atau hancur, senyawa kimia terkandung langsung
terlarut tanpa proses pengembangan sel dan difusi.

Gambar 2. Mekanisme penetrasi pelarut penyari ke dalam simplisia

Faktor-Faktor Yang mempengaruhi proses Ekstraksi :


a. Sifat atau jenis sumber bahan alam
b. Jenis pelarut
c. Suhu
d. pH
e. Ukuran partikel bahan alam

Karakter Pelarut ideal yang digunakan untuk mengekstraksi komponen kimia dari
bahan alam adalah :
a. Selektif atau mampu menarik senyawa yang diinginkan
b. Bersifat inert (tidak bereaksi kimia dengan komponen yang diekstraksi
c. Harganya murah dan mudah diperoleh
d. Aman baik bagi manusia maupun lingkungan
e. Mudah diuapkan
f. Sebaiknya tidak berampur dengan air
g. Sebaiknya memiliki densitas yang berbeda dari air
4
Metode-metode Ekstraksi antara lain :
a. Metode Dingin
 Maserasi
 Perkolasi
b. Metode Panas
 Sokletasi
 Digesti
 Infusa
 Dekokta
 Refluks
c. Metode lainnya
 Supercritical Fluid Extraction (SFE)
 Microwave Assisted Extraction
 Ultrasonication Assisted Extraction

MASERASI
Maserasi adalah metode ekstraksi sederhana
dengan perendaman sampel menggunakan pelarut
organik pada temperatur kamar.

Untuk mempercepat proses difusi pelarut organik


ke dalam sel, maka perendaman tersebut dapat
dibarengi dengan pengadukan. Gambar 3. Contoh maserasi

Lama proses perendaman sampel dapat dilakukan 3-7 hari. Setelah perendaman,
campuran disaring, dan filtratnya dipisahkan. Ampas sisa maserasi dapat direndam kembali
dengan pelarut yang sama. Pengulangan maserasi ini dapat diulang beberapa kali.
Pengulangan maserasi ini disebut dengan remaserasi. Filtrat yang diperoleh, digabungkan
kemudian diuapkan pelarutnya hingga dihasilkan ekstrak kental.

5
PERKOLASI
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang
terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah.
Proses perkolasi terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
a. Tahap pengembangan bahan, dapat dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia
dengan pelarut penyari selama 3 jam dalam wadah seperti Erlenmeyer atau beaker glass
b. Tahap maserasi antara. Rendaman serbuk simplisia pada tahap pengembangan dipindahkan
ke wadah (percolator) kemudian dibiarkan selama lebih kurang 24 jam.
c. Tahap perkolasi; yaitu melakukan proses perkolasi dengan mengalirkan pelarut tetes demi
tetes ke wadah penampung.

Gambar 4. Perkolator

SOKLETASI

Sokletasi adalah metode ekstraksi dengan


proses penyarian berulang atau kontinu
menggunakan alat khusus dilengkapi
pendingin balik dengan jumlah pelarut
relative konstan.

Gambar 5. Alat soklet

6
Proses ekstraksi pada metode sokletasi terjadi dengan tahapan berikut ini :
 Pelarut yang ada di dalam labu destilasi akan menguap karena pemanasan
 Uap pelarut naik melalui lengan besar alat soklet (side tube) dan terus menuju
kondensor, hingga kemudian uap pelarut tersebut mengalami kondensasi dan
berubah menjadi tetesan pelarut
 Tetesan pelarut dari kondensor akan jatuh membasahi sampel/simplisia yang
terbungkus di dalam selongsong soklet, sekaligus mengekstraksi komponen-
komponen kimia yang ada dalam sampel.
 Tetesan pelarut yang telah melewati sampel/simplisia akan berkumpul pada pipa
kapiler disamping selonsong soklet (syphon tube), hingga pipa ini penuh, dan pelarut
yang mengandung komponen kimia terekstraksi tersebut akan turun ke dalam labu
destilasi
 Siklus ekstraksi ini kembali berulang dengan penguapan terus menerus dari pelarut
yang ada dalam labu destilasi.

DIGESTI
Adalah maserasi kinetic (dengan pengadukan kontinu) pada temperature yang lebih tinggi
dari temperature ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC

INFUSA

Adalah metode ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur


pengangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air
mendidih, temperature terukur 90oC) selama waktu tertentu
(15 menit)

DEKOKTA

Adalah metode ekstraksi seperti infus namun pada waktu


yang lebih lama yaitu 30 menit dan temperatur 90oC sampai Gambar 6. Infusa/dekokta
titik didih air.

7
SUPER CRITICAL FLUID EXTRACTION (EKSTRAKSI SUPER KRITIS)
Ekstraksi superkiritis merupakan salah satu metode operasi ekstraksi dengan
menggunakan solven berupa fluida superkritis, yaitu fluida yang kondisinya berada di atas
temperatur dan tekanan kritis. Temperatur kritis adalah suhu tertinggi yang dapat
mengubah fase gas suatu zat menjadi fase cair dengan cara menaikkan tekanan. Sedangkan
tekanan kritis adalah tekanan tertinggi yang dapat mengubah fase cair suatu zat menjadi
fase gas dengan cara menaikkan temperatur. Pada kondisi ini fluida memiliki sifat di antara
cairan dan gas.
Metode ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain
1. Kekuatan solven dapat diatur sesuai keperluan dengan mengatur kondisi operasinya.
2. Daya larut solven tinggi karena bersifat seperti cairan.
3. Viskositas solven rendah karena bersifat seperti gas, sehingga koefisien perpindahan
massanya tinggi.
4. Pemisahan kembali solven dari ekstrak cukup cepat dan sempurna karena pada
keadaan normal solven tersebut berupa gas, sehingga dengan penurunan tekanan
solven otomatis akan keluar sebagai gas.
5. Dapat menggunakan solven berupa fluida yang tidak merusak lingkungan dan tidak
mudah terbakar.
6. Difusi dalam padatan dapat berlangsung cepat.
7. Temperatur operasi bisa rendah sekalipun tekanannya tinggi.
Salah satu fluida yang sering dipakai sebagai solven dalam ekstraksi superkritis
adalah gas CO2, yang memiliki temperatur kritis 31,3oC dan tekanan kritis 74 atm. Dengan
menggunakan CO2 sebagai solven, ekstraksi superkritis dapat dijalankan pada suhu rendah
dan tekanan yang tidak terlalu tinggi. Keuntungan lain adalah kita tidak perlu membuat
CO2 melainkan cukup menyaringnya dari udara sekitar.

MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (EKSTRAKSI DENGAN GELOMBANG MIKRO)


Merupakan metode ekstraksi dengan bantuan eneergi gelombang mikro, biasanya
menggunakan microwave dengan menggunakan pelarut yang sesuai baik pelarut organik
ataupun air.

8
ULTRASONICATION ASSISTED EXTRACTION (EKSTRAKSI ULTRASONIK)
Getaran ultrasonik (> 20.000 Hz) memberikan efek pada proses ekstraksi dengan
meningkatkan permeabilitas dinidng sel, menimbulkan gelembung spontan (cavitation)
sebagai stress dinamik serta menimbulkan fraksi interfase. Hasil ekstraksi bergantung pada
frekuensi getaran, kapasitas alat dan lama proses ultrasonikasi.
Ekstrak cair yang diperoleh dari proses ekstraksi dipekatkan dengan rotary
evaporator untuk menguapkan pelarutnya, sehingga diperoleh ekstrak kental. Dalam rangka
proses isolasi senyawa aktif dari simplisia ini, maka ekstrak yang diperoleh harus diuji
bioaktivitasnya baik secara in vitro ataupun invivo. Terhadap ekstrak juga dilakukan
karakterisasi seperti :
 Sifat organoleptis
 % rendemen
 % susut pengeringan
 % kadar abu
 Skrining fitokimia
 Profil KLT (kromatografi lapis tipis)

Tahapan ekstraksi akan mempengaruhi kandungan senyawa kimia (metabolit sekunder)


yang tersari pada ekstrak. Bioaktivitas ekstrak ditentukan oleh komponen kimia yang
terdapat di dalamnya. Untuk memperoleh ekstrak dengan bioaktivitas tertinggi maka perlu
dilakukan penelitian terhadap metode ekstraksi yang tepat. Berikut contoh pengaruh
metode ekstraksi yang berbeda terhadap bioaktivitas ekstrak dan profil komponen
kimianya..
A. PENGARUH PROSEDUR EKSTRAKSI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN
KELOR (Moringa oleifera Lam)
Penyiapan Sampel
Sampel segar dibersihkan, dicuci kemudian dikering anginkan. Setelah kering
kemudian diserbukkan. Timbang 4 x 50 gram serbuk yang masing-masing digunakan untuk
ekstraksi dengan metoda maserasi yang berbeda yaitu:

9
a) Ekstraksi I
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70% sebanyak 500 ml. Magnetik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm. Setelah itu disaring, maserat yang
diperoleh di uapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak
kental E1.
b) Ekstraksi II
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70% sebanyak 500 ml. Magnetik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
diatas hotplate dengan suhu 40°C selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Setelah itu disaring, maserat yang diperoleh di uapkan dengan rotary evaporator pada suhu
40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E2.
c) Ekstraksi III
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70 % sebanyak 500 ml. Magneik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
selama 1,5 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm kemudian dilanjutkan ultrasonikasi
selama 30 menit dengan frekuensi 40 kHz. Setelah itu disaring, maserat yang di peroleh
diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E3.
d) Ekstraksi IV
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70 % sebanyak 500 ml. Magneik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
diatas hotplate dengan suhu 40°C selama 1,5 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm
kemudian dilanjutkan ultrasonikasi pada suhu 40°C selama 30 menit dengan frekuensi 40
kHz. Setelah itu disaring, maserat yang di peroleh diuapkan dengan rotary evaporator pada
suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E4.
Hasil :

10
Tabel 1. Pengaruh perbedaan ekstraksi terhadap profil ekstrak dan aktivitas
antioksidan daun kelor

No Ekstrak % % Susut Skrining IC50 (µg/ml)


Rendemen Pengeringan Fitokimia
1 E1 14,91 13,64 Alkaloid, Fenolat, 61,54
flavonoid, steroid
2 E2 16,70 12,37 72,33

3 E3 17,41 13,20 67,37

4 E4 17,59 12,24 85,71

B. PENGARUH MODIFIKASI METODE MASERASI TERHADAP KADAR FENOLAT TOTAL


EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus L. Merr.)
Penyiapan Sampel
Pucuk daun katuk di lepaskan dari rantingnya, lalu pucuk daun katuk segar
dibersihkan, dicuci kemudian dikeringanginkan. Setelah kering kemudian diserbukkan.
Timbang 4 X 50 gram yang masing-masingnya digunakan untuk ekstraksi dengan metode
maserasi yang dimodifikasi yaitu dengan :
a. Modifikasi I
50 gram serbuk daun katuk dimasukan dalam beker glass dan diberi pelarut etanol 70%
sebanyak 500 ml (1 : 10 ). Beker glass ditutup dengan aluminium foil, lalu di aduk dengan
magnetik stirer selama 2 jam dengan kecepatan 500 rpm. Larutan yang sudah selesai
diekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring, lalu dimasukkan ke dalam
erlenmeyer. Filtrat yang diperoleh diuap vakumkan dengan rotary evaporator sehingga
didapatkan ekstrak kental. Kemudian ekstrak yang didapat ditimbang.
b. Modifikasi II
50 gram serbuk daun katuk dimasukan dalam beker glass dan diberi pelarut etanol 70%
sebanyak 500 ml (1 : 10 ). Beker glass ditutup dengan aluminium foil, lalu di aduk dengan
magnetik stirer dengan suhu 40 ºC selama 2 jam dengan kecepatan 500 rpm. Larutan yang
sudah selesai diekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring, lalu dimasukkan ke
dalam erlenmeyer. Filtrat yang diperoleh diuap vakumkan dengan rotary evaporator
sehingga didapatkan ekstrak kental. Kemudian ekstrak yang didapat ditimbang.
c. Modifikasi III
11
50 gram serbuk daun katuk dimasukan dalam beker glass dan diberi pelarut etanol 70%
sebanyak 500 ml (1 : 10 ). Beker glass ditutup dengan aluminium foil, lalu di aduk dengan
magnetik stirer selama 1,5 jam dengan kecepatan 500 rpm setelah itu dilanjutkan dengan
ultrasonikasi (40 khz) selama 30 menit. Larutan yang sudah selesai diekstraksi disaring
dengan menggunakan kertas saring, lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Filtrat yang
diperoleh diuap vakumkan dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental.
Kemudian ekstrak yang didapat ditimbang.
d. Modifikasi IV
50 gram serbuk daun katuk dimasukan dalam beker glass dan diberi pelarut etanol 70%
sebanyak 500 ml (1 : 10 ). Beker glass ditutup dengan aluminium foil, lalu di aduk dengan
magnetik stirer selama 1,5 jam dengan suhu 40ºC pada kecepatan 500 rpm setelah itu
dilanjutkan dengan ultrasonikasi (40 khz) selama 30 menit dengan suhu 40ºC. Larutan yang
sudah selesai diekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring, lalu dimasukkan ke
dalam erlenmeyer. Filtrat yang diperoleh diuap vakumkan dengan rotary evaporator
sehingga didapatkan ekstrak kental. Kemudian ekstrak yang didapat ditimbang.
Hasil :
Tabel 2. Pengaruh perbedaan ekstraksi terhadap profil ekstrak dan kadar fenolat total
daun katuk
No Ekstrak % % Susut Skrining Kadar Fenolat
Rendemen Pengeringan Fitokimia dalam ekstrak (%)
1 M1 10,98% 11,39% 3,14

2 M2 22,34% 10,30 % 2,07


Alkaloid, Fenolat,
3 M3 21,84% flavonoid, steroid 2,23
11,26%
4 M4 25,78% 10,10% 2,27

Dosen Pengampu

(apt. Verawati, [Link])

12
METODE ISOLASI
METABOLIT
SEKUNDER
[Link]
DEFINISI ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM.

Isolasi senyawa bahan alam adalah


suatu proses untuk memisahkan
atau mengambil suatu komponen
kimia dari campurannya dalam
matriks bahan alam dengan
menggunakan pelarut dan metode
yang sesuai sehingga diperoleh
suatu senyawa tunggal murni

[Link]
TujuAn isoLAsi senyAWA BAHAn ALAM

1. Memperoleh senyawa bioaktif yang dapat


digunakan sebagai obat ataupun kosmetika
2. Memperoleh prekursor senyawa obat
3. Memperoleh prototype untuk modifikasi
senyawa sintetik
4. Memperoleh senyawa penanda (marker
compound) untuk standarisasi kualitas produk
obat bahan alam

[Link]
TANTANGAN DALAM DRUG DISCOVERY

 Membutuhka Dibutuhkan
n waktu yang prosedur isolasi
lama (10 -15 yang dipandu
tahun Keberhasilan dengan pengujian
 Membutuhka proses sangat bioaktivitas untuk
n rendah : 1 : 5000 memperoleh
biaya yang senyawa lolos senyawa bioaktif
besar untuk uji klinis (bioassay guided
±800 juta isolation)
USD

[Link]
METODE PENEMUAN SENYAWA BIOAKTIF DENGAN PENDEKATAN
SKRINING BIOAKTIVITAS
1. CARA MODEREN : HIGH THROUGHPUT SCREENING
Merupakan metode yang digunakan untuk menyeleksi (skrining) ribuan senyawa secara
bersamaan dengan menggunakan perangkat yang terdiri atas mesin berbasis robot
(otomatisasi),
detektor yang sangat sensitif, dan perangkat lunak. Jenis pengujian berbasis
enzimatis/biokimia dan
TAHAPAN PENEMUAN SENYAWA PADA METODE HTS :

SENYAWA OBAT BARU DRUG /


PILL
Lead
SENYAWA YANG BERINTERAKSI DENGAN PROTEIN compoun
TARGET DAN MEMILIKI KARAKTERISTIK DAN d
AKTIVITAS BIOLOGIS/FARMAKOLOGIS SESUAI
DENGAN YANG DIHARAPKAN Hit
SENYAWA YANG BERINTERAKSI DENGAN
molecul
MOLEKUL TARGET PADA UJI SKRINING TAHAP 1
e
2. CARA TRADISONAL / KONVENSIONAL
Isolasi senyawa aktif dari bahan alam dengan cara
konvensional melibatkan penyarian zat organik menggunakan
pelarut yang cocok melalui serangkaian tahapan berupa
ekstraksi, frakinasi, pemisahan dan pemurnian.
MEMBUTUHKAN PELARUT YANG BANYAK

RENDEMEN SENYAWA ISOLASI RENDAH

AKTIVITAS SENYAWA TIDAK MAKSIMAL

RESIKO CEMARAN PELARUT

PROSES PEMISAHAN LAMA

[Link]
SKEMA ISOLASI KONVENSIONAL

EKSTRAKSI KARAKTERISASI /
FRAKSINASI PEMISAHAN PEMURNIAN
IDENTIFIKASI
1. EKSTRAKSI

Ekstraksi merupakan
Marc merupakan residu
suatu proses
padatan sisa hasil
pemisahan
ekstraksi
kandungan
Ekstrak adalah sediaan Menstruum merupakan
senyawa kimia dari
pekat yang pelarut yang
jaringan tumbuhan
diperoleh dari proses digunakan untuk
ataupun hewan
ekstraksi setelah proses ekstraksi
dengan
menguapkan
menggunakan
seluruh pelarut
pelarut/ penyari pengekstraksi
tertentu.
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi
proses Ekstraksi :
Cair (liquidum) : kandungan air > Sifat
30% sampel

ekstrak
Kental (spissum) : kandungan air 5-
30% Ukuran
Suhu sampel
Tipe
Kering (siccum): kandungan air
<5%

Jenis
pH
pelarut

Pemilihan pelarut :
a. Selektif
b. Bersifat inert
c. Harganya murah dan mudah diperoleh
d. Aman (manusia dan lingkungan
e. Mudah diuapkan
f. Sebaiknya tidak bercampur dengan air
g. Sebaiknya densitas berbeda dari air
[Link]
MEKANISME EKSTRAKSI
Penetrasi dan Pelarutan
Difusi pegembangan komponen Kesetimbangan
sel kimia

[Link]
METODE EKSTRAKSI
METODE DINGIN METODE PANAS METODE LAIN (BARU)

MASERAS SOKLETASI SUPERCRITICAL


FLUI
I EXTRACTION
D
DIGESTI (SF
PERKOLA E)
MICROWAFE
INFUSA ASSIST
EXTRACTION
ED
DEKOKTA ULTRASONICAT
I ON
REFLUKS ASSISTED
EXTRACTION
MASERASI

PERKOLASI REFLUKS

INFUSA / DEKOKTA SOKLETASI


SFE

UAS MAS
PROSEDUR EKSTRAKSI MEMPENGARUHI PROFIL KOMPONEN KIMIA
DAN BIOAKTIVITAS EKSTRAK
PEMISAHAN SENYAWA MURNI
DARI BAHAN ALAM
KBA F : MATERI IV
PEMURNIA KARAKTERISASI /
EKSTRAKSI FRAKSINASI PEMISAHAN
N IDENTIFIKASI

Fraksinasi adalah proses pemisahan sekelompok senyawa


menjadi kelompokkelompok yang lebih kecil berdasarkan
sifat kepolarannya

A. FRAKSINASI CAIR-CAIR MENGGUNAKAN PELARUT


ORGANIK YANG TIDAK BERCAMPUR DENGAN AIR
B. FRAKSINASI CAIR-CAIR MENGGUNAKAN ALAT
CORONG PISAH
C. FRAKSINASI BERTINGKAT DAPAT
MEMISAHKAN KELOMPOK SENYAWA
BERDASARKAN TINGKAT KEPOLARAN YANG
BERBEDA.
PEMURNIA KARAKTERISASI
EKSTRAKSI FRAKSINASI /
PEMISAHAN
N IDENTIFIKASI

Pemisahan senyawa kimia tunggal dari campurannya dalam fraksi dapat dilakukan
dengan menggunakan metode kromatografi. Teknik kromatografi dan jenis fasa diam
yang dapat dipakai bermacam-macam, sesuai dengan kuantitas fraksi yang digunakan,
sifat molekul yang akan diisolasi (polaritas dan berat molekul) dan kompleksitas
campuran senyawa dalam fraksi ataupun subfraksi.

 Kromatografi lapis tipis


 Kromatografi kolom
 Kromatografi radial
 Kromatografi preparatif
PEMURNIA KARAKTERISASI /
EKSTRAKSI FRAKSINASI PEMISAHAN
N IDENTIFIKASI

 Senyawa tunggal yang telah diisolasi dengan metode kromatografi


diperoleh dalam bentuk cairan filtrat yang dibiarkan mongering
pada suhu kamar dan masih mengandung pengotor.
 Untuk memperoleh bentuk kristal murni dari senyawa hasil
isolasi perlu dilakukan tahapan rekristalisasi.
 Prinsip pemurnian ini adalah dengan memanfaatkan perbedaan
kelarutan antara senyawa fitokimia dengan pengotornya.
 Cuplikan senyawa dilarutkan dalam pelarut yang dapat
melarutkan senyawa yang dituju tetapi tidak melarutkan
pengotornyo, atau sebaliknya, dan kemudian dipisahkan dengan
cara penyaringan.
PEMURNIA
EKSTRAKSI FRAKSINASI PEMISAHAN KARAKTERISASI /
N IDENTIFIKASI

BENTUK, BAU,
ORGANOLEPTIS WARNA DAN
RASA

TITIK LELEH DAN


FISIKA
KELARUTAN

REAKSI DENGAN
KARAKERISASI KIMIA REAGEN KIMIA
SPESIFIK

KROMATOGRAFI NILAI Rf ATAU


Rt

FISKOKIMIA UV, IR, MS, NMR


FENOLIK
DEFINISI
Senyawafenolikmerupakangolonganmetabol
iksekunder dengan karakterstrukturmemiliki
satuataulebihcincinfenol, yaitugugus hidroksi
yang terikat cincinaromatik.

Senyawafenolikmerupakangolonganmetabolit
sekunderyang memiliki
cincinaromatisyangmengikat lebihdari satugugus
hidroksil
BIOSINTESA
 Fenolikdibiosintesispadakloroplasdandisi
mpandalam vakuolasel
danlapisansubepidermal
padajaringantanaman.
 Kelompoksenyawaini diproduksi sebagai
bentukrespon
terhadaptekananlingkunganmaupunse
ranganpatogen.
 Kadar fenolikpadatanamanbervariasi
dipengaruhi oleh musim,
tahappertumbuhansertafaktor eksternal
seperti trauma, perlukaan,
kekeringandanseranganpatogen.
TERDAPAT 3 (TIGA) JALUR BIOSINTESA FENOLIK,
YAITU :

1. Jalursikimat / khorismat atausuksinil benzoat;


yangmemproduksi turunan
fenolikdengankeranakstrukturfenilpropanoid(C6 -
C3)
2. Jalurasetat/malonaataujalurpoliketida;
yangmemproduksi rantai sampingdari
kelompokfenilpropanoid. Kelompokini
contohnyaadalahflavonoid (C6–C3 –C6) dankuinon
3. Jalurasetat/mevalonat yangmemproduksi
terpenoidaromatis, umumnyaadalah dari
golonganmonoterpenmelalui reaksi dehidrogenasi.
 Umumnya jalur biosintesa tersebut menghasilkan komponen dengan
lebih dari satu gugus fungsi fenol dan tidak mengandung atom
nitrogen.

 Proses biosintesa ini dapat menghasilkan berbagai macam bentuk


fenolik, mulai dari struktur yang sederhana hingga bentuk kompleks
yang berasal dari polimerisasi senyawa fenolik tersebut.

 Senyawa fenolik juga ada yang terkonjugasi dengan satu atau lebih gugus
gula. Gula
dapat terikat pada gugus hidroksil ataupun pada atom C non aromatik.

 Jenis gula yang terikat bisa berupa monosakarida, disakarida atau


oligosakarida.

 Fenol juga dapat mengikat gugus lainnya seperti karboksilat, asam


organik, amina dan lipid
FUNGSI FENOLIK BAGI TANAMAN PENGHASILNYA YAITU :

 Memberi warna dan rasa tanaman


 Menarik ataupun menolak organisme tertentu dalam rangka
pertahanan diri
 Bersifat alelopati untuk mengatur pertumbuhan tanaman di sekitarnya
 Bersifat fitoaleksin yaitu untuk penyembuhan luka pada tanaman
dan mencegah infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
patogen
 Pelindung bagi tanaman terhadap radiasi sinar UV matahari
Hingga saat ini telah lebih dari 8000 senyawa fenolik ditemukan dari tanaman baik dari
kelompok asam fenolat, flavonoid, stilbene, kumarin, lignin dan tannin.
BIOAKTIVITAS FENOLIK
[Link]
[Link]
[Link]-inflamasi
[Link]
[Link]

 Bioaktivitas fenolik sebagai antioksidan banyak diteliti saat ini.


 Bagian struktur yang berperan sebagai antioksidan adalah
gugus hidroksil yang terikat pada cincin aromatis.
 Fenolik berperan sebagai antioksidan dengan
menyumbangkan atom hidrogen dari gugus hidroksil kepada
radikal bebas untuk menghentikan reaksi berantai selama
proses oksidasi.
 Senyawa fenolik yang telah kehilangan atom hidrogen akan
melakukan stabilisasi elektron melalui resonansi cincin aromatis.
 Fenolik dengan dua gugus hidroksi pada posisi orto memiliki
aktivitas antioksidan yang kuat.
CONTOH PEMANFAATAN EKSTRAK MENGANDUNG
FENOLIK DALAM BIDANG KESEHATAN/FARMASI
Penelitian oleh Verawati : Potensi Antioksidan Dan Tabir Surya Dari Daun Dan Akar
Tumbuhan Tutup Bumi (Elephantopus mollis Kunth)

Famili Asteraceae umumnya berasal dari tumbuhan berbunga yang mengandung


berbagai komponen aromatis dan polifenol serta memiliki bioaktivitas sebagai
antioksidan.

Tumbuhan tutup bumi (Elephantopus mollis K.) merupakan salah satu anggota
asteraceae yang banyak dijumpai sebagai gulma di Indonesia dan khususnya
Sumatera Barat
Aktivitas antioksidan dari ekstrak daun dan akar E. mollis memiliki nilai IC50
berdekatan dengan kategori kuat, sedangkan pada kemampuan tabir surya
menunjukkan hasil dengan nilai

SPF dalam kategori kekuatan yang berbeda (sedang dan ekstra). Kemungkinan hal ini
dikarenakan kelompok senyawa yang memberikan aktivitas juga tidak sama. Nilai SPF
terutama diberikan oleh komponen kromofor yang menyerap sinar UV pada 290 –
320 nm, seperti golongan fenolik dan flavonoid
ALKALOID
HISTORY OF ALKALOIDS
The French apothecary Derosne probably isolated the alkaloid afterwards known as
narcotine in 1803 and the Hanoverian apothecary Sertürner further investigated
opium and isolated morphine (1806, 1816).

Isolation of other alkaloids, particularly by Pelletier and Caventou, rapidly followed;


strychnine (1817), emetine (1817), brucine (1819), piperine (1819), caffeine (1819),
quinine (1820), colchicine (1820) and coniine (1826).

Coniine was the first alkaloid to have its structure established (Schiff, 1870) and to
be synthesized (Ladenburg, 1889), but for others, such as colchicine, it was well over
a century before the structures were finally elucidated.

In the second half of the twentieth century alkaloids featured strongly in the
search for plant drugs with anticancer activity. A notable success was the
introduction of Catharanthus alkaloids and paclitaxel into medicine and there is
much current interest in
other alkaloids having anticancer properties as well as those exhibiting antiaging and
antiviral possibilities.
Definition
The alkaloids are organic nitrogenous bases found mainly in plants and have
biological activity

Classification
Chemical Heterocyclic
structure Non heterocyclic

Hegnauer
True, proto,
/biochemical
pseudo
pathway
alkaloid
Solanaceae,
Taxonomy
Papaveraceae

Antidepressant,
Pharmacology
Anti-
activity
hypertensives
Functions of alkaloids Nomenclature of
in plants Alkaloids
1. They may act as protective against insects
Alkaloids are named in various ways .By
agreement, chemical rules stated that their
trivial names should end by ''ine'‘
These names may refer to:
and 1. The genus of the plant in which they
occur (generic name ), such as Atropine
from Atropa belladonna.
herbivores due to their bitterness and 2. The plant species (specific name (, such
toxicity. as Cocaine from Erythroxylon coca.
2. They are, in certain cases, the final products 3. The common name of the drug, such as
of detoxification in metabolic reactions, Ergotamine from ergot.
therefore considered as waste products of 4. The name of the discoverer, such as
metabolism. Pellerierine that was discovered
3. They may provide nitrogen to the plant Pelletier.
orange in case of nitrogen deficiency 5. The physiological action they produce,
(source of nitrogen. such as Emetine that acts as emetic.
4. They, sometimes, act as growth regulators 6. A prominent physical character they
have, such as Hygrine that is
hygroscopic.
Extraction, purification and separation OF ALKALOIDS
Procedures
liberation and
preparation of purification and
extraction of isolation of
the plant fractionation of the
the free individual alkaloids
sample crude extract
alkaloidal bases

1. PENYIAPAN SAMPEL TUMBUHAN 2. EKSTRAKSI


Ekstrak
• Serbuk organik • + larutan air
KERINGKAN
a. sampel • Ekstrak asam
• + air kapur alkali
• + kloroform Garam
PENGURANGAN Free alkaloids
alkaloid
UKURAN DEFATTED
PARTIKEL

Serbuk sampel
b. Ekstraksi dg Air
(alkohol) asam Fraksi air asam
(Garam alkaloid)
Ekstrak cair asam
+ kloroform
Fraksi kloroform
(Pengotor)
B.2. LIBERASI ALKALOID
LARUTAN BASA ENCER PELARUT ORGANIK

FRAKSI FREE ALKALOIDS


AIR-
ASAM/
garam
alkaloid
(I/II)
C. PURIFIKASI ALKALOID KASAR

SARING
• FREE ALKALOID • AMBIL
• + REAGEN • + REAGEN ENDAPAN
PENGENDAPAN PENDEKOMPO-
SISI

ENDAPAN ALKALOID

the tannic acid complex is decomposed by treatment with


lead hydroxide or lead carbonate, Mayer's complex by
hydrogen sulphide, Dragendroff's complex by sodium and
picric acid complex by ammonia
C. PEMISAHAN ALKALOID MURNI

1 • PRESIPITASI FRAKSIONAL/KRISTALISASI
• (Derivatisasi menjadi garam dengan oksalat/tartrat/pikrat)

2
• EKSTRAKSI DENGAN pH GRADIEN
• (pemisahan alkaloid basa lemah/sedang/kuat)
• (pH ditingkatkan sampai 9 diikuti ekstraksi dengan pelarut organik)

3 • TEKNIK KROMATOGRAFI
• (Untuk campuran yang kompleks)
BIOGENESIS DAN BIOSINTESA
ALKALOID
The precursors of true alkaloids and protoalkaloids are amino acids (both
their precursors and postcursors), while transamination reactions precede
pseudoalkaloids

Both true and proto alkaloids are synthesized mainly from the aromatic amino acids,
phenylalanine, tyrosine (isoquinoline alkaloids) and tryptophan (indole alkaloids).
Lysine is the precursor for piperidine and quinolizidine alkaloid, and ornithine for
pyrrolidine, pyrrolizidine and tropane alkaloids.
Pseudoalkaloids are synthesized from other compounds, for example acetate in the case
of piperidine alkaloids (coniine or piridine).

Alkaloids are derived from the amino acid in l-configuration (protein aminoacids) and
from non-protein amino acids such as ornithine.
alkaloid pathway precursors
1. shikimic pathway
a source for aromatic amino acids such as
phenylalanine, tyrosine and tryptophan generate :
quinoline, acridine alkaloids
2. acetate pathways
piperidine alkaloids

3. Mevalonate and deoxyxylulose phosphate pathways

steroid alkaloids

different alkaloids may derive from different secondary metabolism blocks


and pathways
Skeletons nucleus of the alkaloid can change their form
during the synthesis
In the case of the izidine alkaloids the position of the nitrogen atom is the
same, but the number of C atoms should be different. The difference lies in the
rings of these alkaloids. Rings display structural similarities but diversity in
both their origin and, what is very important, bioimpact. Even small
differences in nucleus can effect huge changes in the alkaloid activity
REAKSI BIOSINTESA ALKALOID

Pembentukan Reaksi
Basa Schiff Mannich

Reaksi rangkap
oksidatif fenol
REAKSI KONDENSASI MANNICH

Merupakan reaksi yang digunakan untuk memasukkan gugus


dialkilaminometil pada tipe-tipe senyawa enolat yang mempunyai
atom hidrogen aktif

Reaksi Mannich terjadi melalui kondensasi senyawa karbonil yng dapat


dienolisasi dengan ion iminium, yang diperoleh dari reaksi formaldehid
dengan amina untuk membentuk basa Mannich
The Mannich reaction can proceed both intermolecularly and intramolecularly

Example : In 1917 Robinson R.J. synthesized tropine alkaloid with a Mannich reaction
using succinaldehyde, methylamine, and acetone
REAKSI RANGKAP OKSIDATIF FENOL
Pembentukan Basa Schiff

Schiff bases can be obtained by reacting amines with ketones or aldehydes. These
reactions are a common method of producing C=N bonds

In the biosynthesis of alkaloids, such reactions may take place within a molecule, such as
in the synthesis of piperidine
ENZIM YANG TERLIBAT DALAM
PEMBENTUKAN ALKALOID

• Katalisis reaksi • Konversi amina • Penambahan • Untuk pemutusan


Mixed function oxygenases (MFO)

Methyl transferases

Amino acid decarboxylases and transaminases


Enzim Thiokinase

asetilasi dengan menjadi N-oksida gugus metil / pelepasan


menggunakan • Substitusi atom terutama gugus karboksilat
thioester koenzim hidrogen yang pada atom O ataupun amina
A (contoh : asetil terikat pada dan N
koenzim A) yang karbon alifatis
merupakan dengan gugus
intermediet hidroksil
penting dari • Konversi gugus
metabolisme ikatan rangkap
asam karboksilat. terisolasi
Asetil koenzim A menjadi berbagai
merupakan macam gugus
bentuk yang lebih lain seperti
reaktif epoksida, keton
dibandingan dan diol
gugus karboksil
biasa
Golongan/ Tipe alkaloid
NO Golongan Prekursor Tipe alkalod
Umum
1 True alkaloid ornitin Tropan, Pirolidin, Pirolizidin
lisin Piperidin, Quinolizidin, Indolizidin,

tirosin Feniletilamino, Tetrahidroisoquinolin

Tirosin-fenilalanin Fenetilisoquinolin

Triptofan Indol, quinolin, Pirolindol, Ergot

Histidin Imidazol

Arginin Alkaloid Marine

Asam antranilat Quinazoline, quinolin

Asam nikotinat piridin


No Golongan umum Prekursor Tipe alkaloid

2 Proto alkaloid tirosin Feniletilamino

triptofan Indol terpenoid

ornitin pirolizidin
No Golongan umum Prekursor Tipe alkaloid

3 Pseudo alkaloid asetat Piperidin, sesquiterpen

Asam piruvat Alkaloid efedra

Asam ferulat Alkaloid aromatis

geraniol Alkaloid terpenoid

saponin Alkaloid steroid

Adenin/guanin Alkaloid purin


ALKALOIDS DERIVED FROM ORNITHINE
 L-Ornithine is a non-protein amino acid
 ornithine supplies a C4N building block to
the alkaloid
 principally as a pyrrolidine ring system, but also
as part of the tropane alkaloids.
Common pyrrolidine nucleus alkaloids include hygrine,
hyoscyamine, cocaine, cuscohygrine and so on. The best-
known plants alkaloids with pyrrolidine nuclei are
 henbane (Hyoscyamus niger)
 Deadly nightshade (Atropa belladonna)
 Jamestown weed (Datura stramonium)
Structure of Tropane Alkaloids
Tropane alkaloids are esters of tropane alcohols and of acids of various structures,
either aliphatic or aromatic.
The acids may be aliphatic (Tiglic & Angelic acid )or aromatic (Tropic acid.)

The most representative structures are atropine, hyoscyamine,


scopolamine, cocaine, apoatropine.
Official Solanaceae Containing
Tropane Alkaloids
Atropa belladonna
The medicinal parts are the leaves and roots
Phytochemicals
Tropan alkaloids :chief alkaloid : (-)hyoscyamine, which during drying
transforms to some extent into atropine

EFFECTS :BELLADONNA LEAF AND ROOT


anti-cholinergic-parasympatholytic
Spasmolytic

Anda mungkin juga menyukai