Peran Metabolit Sekunder dalam Farmasi
Peran Metabolit Sekunder dalam Farmasi
ALAM FARMASI
OLEH : apt. VERAWATI, [Link].
Materi 1-7 (Sebelum UTS)
KIMIA BAHAN
MEMPELAJARI BIOSINTESA,
KLASIFIKASI, METODE ISOLASI,
STRUKTUR, SIFAT, AKTIVITAS
BIOLOGIS METABOLIT
SEKUNDER
ALAM
METABOLIT SEKUNDER SEBAGAI
OBAT DAN MARKER COMPOUND
Contoh Fungsi
Pati dihidrolisismenjadi unit D-glukosayang digunakandalamsintesisATPolehrespirasi
aerobiksebagai
energi dalammenumbuhkansel tanaman.
Glukosa monomer untukmensintesisselulosa, suatupolimeryang menjadi
komponenutamadari dindingsel tumbuhan
Lipid struktur utamadari membranplasma danorganel sel. Lipid
jugaberperansebagai cadanganenergy bagi tumbuhan
Protein Komponenutama dari enzim-enzimyang terlibat dalamberbagai reaksi biokimia
dan biosintetik
DNA Materi genetikyang tersusundari nukleobasa(basanitrogen seperti adenine, guanine,
sitosindantimin)
Metabolit Sekunder
Fungsi Metabolit Sekunder bagi
Chincona succirubra ● 2. Zat warna tanaman juga dapat berperan untuk melindungi
● Kafein diperoleh dari tanaman dari pengaruh radiasi UV matahari.
Coffea arabica
● 3. Beberapa metabolit sekunder seperti golongan alkaloid
● Theophyllin diperoleh memiliki rasa yang pahit dan bersifat toksik sehingga
dari Theobroma cacao dapat berperan untuk melindungi tanaman dari herbivora
● Katekin diperoleh dari ataupun hewan predator lain yang akan memakan atau
merusaknya.
Uncaria gambir
● Atropin diperoleh dari ● 4. Melapisi dan melindungi bagian tanaman yang
mengalami perlukaan, disebut juga sifat fitoaleksin,
Atropa belladona
contohnya zat resin pada pohon pinus.
● Ditimbang 5 mg ekstrak
dilarutkan menggunakan 3 mL kloroform Reaksi Wagner
ammonia 1%, kemudian hasil pencampuran
tersebut disaring. Selanjutnya 2 mL larutan
HCl 2M atau H2SO4 2N ditambahkan pada
filtrat dan dikocok. Hasil yang didapatkan
dimasukkan dalam 4 tabung reaksi masing-
masing 5 tetes. Tabung 1 berisi larutan Reaksi Dragendorff
blangko, sedangkan tabung 2, 3, dan 4 akan
dicampur dengan 1 tetes pereaksi Mayer,
Wagner, Dragendorff pada setiap tabung.
Hasil positif pada pengujian ini ditunjukkan
dengan masing-masing larutan secara
berurutan terdapat endapan putih, coklat Endapan terbentuk dari komplek Kalium-alkaloid,
dimana kalium terikat dengan pasangan elektron
atau jingga. bebas dr atom Nitrogen alkaloid
Uji Flavonoid
(SIANIDIN TEST ATAU SHINODA TEST)
● Sejumlah 1 mg ekstrak
ditempatkan pada plat tetes, lalu
dimasukkan 10 tetes metanol,
diaduk menggunakan spatula
sampai larut. Selanjutnya
ditambahkan 6 potongan pita Mg
dan HCl pekat 4 tetes ke dalam Reduksi Flavonoid oleh Mg dan HCl sehingga
membentuk kompleks [Mg(OAr)6] 4- yang berwarna
campuran. Timbulnya warna jingga.
kuning, jingga maupun merah
menunjukkan
hasil positif.
Uji Fenolik
● Sejumlah 1 mg sampel
padat diletakkan dalam plat
tetes, kemudian menambahkan
10 tetes metanol, lalu diaduk
menggunakan spatula sampai
larut. Selanjutnya ditambahkan 6
tetes larutan FeCl3 5%. Warna
biru, hijau, ungu, atau kemerahan
kemerahan menandakan hasil
positif pada
kompleks antara ion ferri dan ion fenoksida yaitu
pengujian.
[Fe(OAr)6]3-.
Uji saponin
MATERI 2
Jalur biosintesa MS senyawa-senyawa asam
lemak (baik jenuh
• jalur asam asetat (Acetic maupun tidak jenuh),
prostaglandin, makrolid,
1 pathway) poliketid aromatik
Senyawa-senyawa
• jalur asam shikimat asam amino
aromatik, flavonoid,
2 (Shikimate pathway) terpenoid, lignan,
lignin, flavonolignan
• jalur asam mevalonat kelompok terpen (seperti
monoterpen,
3 (Mevalonate pathway), seskuiterpen,
diterpen, triterpen, dan
tetraterpen), steroid,
Fenil alanin dan tirosin digunakan sebagai prekursor pembentukan fenolik, sedangkan
asam amino triptofan sebagai prekursor alkaloid
JALUR ASAM MEVALONAT ATAU JALUR ASETAT – MEVALONAT
Jalur ini menghasilkan golongan
metabolit sekunder dari kelompok
terpenoid dan steroid. Asam
mevalonat terbentuk dari tiga molekul
asetil Ko-A, namun jalur ini
membentuk serangkaian senyawa
yang berbeda dengan produk jalur
asetat.
Asam mevalonat mengalami
fosforilase dengan mediator ATP
sehingga menghasilkan asam
mevalonat difosfat dan selanjutnya
mengalami dekarboksilasi sehingga
menghasilkan senyawa isoprene yaitu
isopentenil pirofosfat (IPP). IPP
menggalami isomerisasi membentuk
Dimetil allil pirofosfat (DMAPP). Jalur
Asetat- mevalonat ini bekerja melalui
reaksi prekursor IPP dan DMAPP
dengan produk antara senyawa
squalene sehingga menghasilkan
berbagai kerangka struktur senyawa
dari golongan terpenoid dan steroid.
Beberapa senyawa glikosida dan
alkaloid juga terbentuk melalui jalur ini
KLASIFIKASI METABOLIT SEKUNDER
2. Fenolik
Fenolik terdiri dari beberapa subkelas seperti asam fenolik, kumarin, lignan,
stilbene, flavonoid, tanin dan lignin.
Metabolit sekunder yang umum ditemukan pada tanaman antara lain alkaloid,
flavonoid, steroid, saponin, terpenoid dan tannin.
TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM MENELAAH
JALUR BIOSINTESA MS
1 TRACER TECHNIQUE
3 GRAFTING METHOD
4 ENZYMATIC STUDIES
TRACER TECHNIQUE
1. PENYIAPAN SENYAWA BERLABEL
2. PENYERAPAN SENYAWA
BERLABEL OLEH
TUMBUHAN
3. PEMISAHAN DAN
ISOLASI SENYAWA
BERLABEL
4. KARAKTERISASI/
PENENTUAN METABOLIT
REQUIREMENT FOR TRACER TECHNIQUE
CH314COOH + Mg(OH)Br
2. Introduction of labelled compounds
Precautions:
• The precursor should react at necessary site of synthesis in
plant.
• Plant at the experiment time should synthesize the compound
under investigation
• The dose given is for short period.
Root feeding: The plant in which roots are the biosynthetic sites e.g.,
Tobacco. The plants are hydroponically cultivated to avoid microbial
contamination.
Stem feeding: Substrate can be administered through cut ends of stem
immersed in solution. For latex containing plant this method is not
suitable.
Direct injection: Suitable for plant with hollow stem e.g., umbelliferous and
opium.
Infiltration: Suitable for plant rooted in soil or other support without
disturbing the roots (Wick feeding).
Spray technique: Compound has been absorbed after being sprayed on
leaves in aqueous solution e.g., Steroids
3. Separation of compounds
• High sensitivity.
• Kinetic effect
• Chemical effect
• Radiation effect
• Radiochemical purity
MENGISOLASI DAN
MEMPELAJARI ENZIM UNTUK
MENGETAHUI JALUR
BIOSINTESA
Berikut ini adalah skema isolasi senyawa aktif dari bahan alam :
2
Tahapan isolasi senyawa kimia dari bahan alam dapat dirinci sebagai berikut :
1. Ekstraksi
2. Fraksinasi
3. Pemisahan
4. Pemurnian
5. Karakterisasi Senyawa Murni
I. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari
jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan pelarut/ penyari tertentu.
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan cara mengekstraksi zat aktif
dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian, hingga
memenuhi baku yang ditetapkan.
Marc merupakan residu padatan sisa hasil ekstraksi
Menstruum merupakan pelarut yang digunakan untuk proses ekstraksi
Mekanisme Ekstraksi :
Komponen kimia dari tanaman biasanya terkandung di dalam sel. Oleh karena itu
pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi harus bisa berdifusi ke dalam untuk
melarutkan komponen kimia yang ada di dalam sel.
Pelarut berpenetrasi ke dalam sel tanaman dan mengembangkan sel tersebut
Pelarut akan melarutkan komponen kimia dalam sel dan menarik keluar melewati
dinding sel dan bercampur dengan pelarut lain disekitarnya di luar sel.
3
Terjadi kesetimbangan antara konsentrasi solute (zat kimia) dalam sel dengan solute
yang terlarut dalam pelarut di sekitar jaringan tanaman.
Pada sel tanaman yang telah rusak atau hancur, senyawa kimia terkandung langsung
terlarut tanpa proses pengembangan sel dan difusi.
Karakter Pelarut ideal yang digunakan untuk mengekstraksi komponen kimia dari
bahan alam adalah :
a. Selektif atau mampu menarik senyawa yang diinginkan
b. Bersifat inert (tidak bereaksi kimia dengan komponen yang diekstraksi
c. Harganya murah dan mudah diperoleh
d. Aman baik bagi manusia maupun lingkungan
e. Mudah diuapkan
f. Sebaiknya tidak berampur dengan air
g. Sebaiknya memiliki densitas yang berbeda dari air
4
Metode-metode Ekstraksi antara lain :
a. Metode Dingin
Maserasi
Perkolasi
b. Metode Panas
Sokletasi
Digesti
Infusa
Dekokta
Refluks
c. Metode lainnya
Supercritical Fluid Extraction (SFE)
Microwave Assisted Extraction
Ultrasonication Assisted Extraction
MASERASI
Maserasi adalah metode ekstraksi sederhana
dengan perendaman sampel menggunakan pelarut
organik pada temperatur kamar.
Lama proses perendaman sampel dapat dilakukan 3-7 hari. Setelah perendaman,
campuran disaring, dan filtratnya dipisahkan. Ampas sisa maserasi dapat direndam kembali
dengan pelarut yang sama. Pengulangan maserasi ini dapat diulang beberapa kali.
Pengulangan maserasi ini disebut dengan remaserasi. Filtrat yang diperoleh, digabungkan
kemudian diuapkan pelarutnya hingga dihasilkan ekstrak kental.
5
PERKOLASI
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang
terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah.
Proses perkolasi terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
a. Tahap pengembangan bahan, dapat dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia
dengan pelarut penyari selama 3 jam dalam wadah seperti Erlenmeyer atau beaker glass
b. Tahap maserasi antara. Rendaman serbuk simplisia pada tahap pengembangan dipindahkan
ke wadah (percolator) kemudian dibiarkan selama lebih kurang 24 jam.
c. Tahap perkolasi; yaitu melakukan proses perkolasi dengan mengalirkan pelarut tetes demi
tetes ke wadah penampung.
Gambar 4. Perkolator
SOKLETASI
6
Proses ekstraksi pada metode sokletasi terjadi dengan tahapan berikut ini :
Pelarut yang ada di dalam labu destilasi akan menguap karena pemanasan
Uap pelarut naik melalui lengan besar alat soklet (side tube) dan terus menuju
kondensor, hingga kemudian uap pelarut tersebut mengalami kondensasi dan
berubah menjadi tetesan pelarut
Tetesan pelarut dari kondensor akan jatuh membasahi sampel/simplisia yang
terbungkus di dalam selongsong soklet, sekaligus mengekstraksi komponen-
komponen kimia yang ada dalam sampel.
Tetesan pelarut yang telah melewati sampel/simplisia akan berkumpul pada pipa
kapiler disamping selonsong soklet (syphon tube), hingga pipa ini penuh, dan pelarut
yang mengandung komponen kimia terekstraksi tersebut akan turun ke dalam labu
destilasi
Siklus ekstraksi ini kembali berulang dengan penguapan terus menerus dari pelarut
yang ada dalam labu destilasi.
DIGESTI
Adalah maserasi kinetic (dengan pengadukan kontinu) pada temperature yang lebih tinggi
dari temperature ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC
INFUSA
DEKOKTA
7
SUPER CRITICAL FLUID EXTRACTION (EKSTRAKSI SUPER KRITIS)
Ekstraksi superkiritis merupakan salah satu metode operasi ekstraksi dengan
menggunakan solven berupa fluida superkritis, yaitu fluida yang kondisinya berada di atas
temperatur dan tekanan kritis. Temperatur kritis adalah suhu tertinggi yang dapat
mengubah fase gas suatu zat menjadi fase cair dengan cara menaikkan tekanan. Sedangkan
tekanan kritis adalah tekanan tertinggi yang dapat mengubah fase cair suatu zat menjadi
fase gas dengan cara menaikkan temperatur. Pada kondisi ini fluida memiliki sifat di antara
cairan dan gas.
Metode ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain
1. Kekuatan solven dapat diatur sesuai keperluan dengan mengatur kondisi operasinya.
2. Daya larut solven tinggi karena bersifat seperti cairan.
3. Viskositas solven rendah karena bersifat seperti gas, sehingga koefisien perpindahan
massanya tinggi.
4. Pemisahan kembali solven dari ekstrak cukup cepat dan sempurna karena pada
keadaan normal solven tersebut berupa gas, sehingga dengan penurunan tekanan
solven otomatis akan keluar sebagai gas.
5. Dapat menggunakan solven berupa fluida yang tidak merusak lingkungan dan tidak
mudah terbakar.
6. Difusi dalam padatan dapat berlangsung cepat.
7. Temperatur operasi bisa rendah sekalipun tekanannya tinggi.
Salah satu fluida yang sering dipakai sebagai solven dalam ekstraksi superkritis
adalah gas CO2, yang memiliki temperatur kritis 31,3oC dan tekanan kritis 74 atm. Dengan
menggunakan CO2 sebagai solven, ekstraksi superkritis dapat dijalankan pada suhu rendah
dan tekanan yang tidak terlalu tinggi. Keuntungan lain adalah kita tidak perlu membuat
CO2 melainkan cukup menyaringnya dari udara sekitar.
8
ULTRASONICATION ASSISTED EXTRACTION (EKSTRAKSI ULTRASONIK)
Getaran ultrasonik (> 20.000 Hz) memberikan efek pada proses ekstraksi dengan
meningkatkan permeabilitas dinidng sel, menimbulkan gelembung spontan (cavitation)
sebagai stress dinamik serta menimbulkan fraksi interfase. Hasil ekstraksi bergantung pada
frekuensi getaran, kapasitas alat dan lama proses ultrasonikasi.
Ekstrak cair yang diperoleh dari proses ekstraksi dipekatkan dengan rotary
evaporator untuk menguapkan pelarutnya, sehingga diperoleh ekstrak kental. Dalam rangka
proses isolasi senyawa aktif dari simplisia ini, maka ekstrak yang diperoleh harus diuji
bioaktivitasnya baik secara in vitro ataupun invivo. Terhadap ekstrak juga dilakukan
karakterisasi seperti :
Sifat organoleptis
% rendemen
% susut pengeringan
% kadar abu
Skrining fitokimia
Profil KLT (kromatografi lapis tipis)
9
a) Ekstraksi I
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70% sebanyak 500 ml. Magnetik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm. Setelah itu disaring, maserat yang
diperoleh di uapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak
kental E1.
b) Ekstraksi II
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70% sebanyak 500 ml. Magnetik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
diatas hotplate dengan suhu 40°C selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Setelah itu disaring, maserat yang diperoleh di uapkan dengan rotary evaporator pada suhu
40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E2.
c) Ekstraksi III
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70 % sebanyak 500 ml. Magneik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
selama 1,5 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm kemudian dilanjutkan ultrasonikasi
selama 30 menit dengan frekuensi 40 kHz. Setelah itu disaring, maserat yang di peroleh
diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E3.
d) Ekstraksi IV
Sampel daun kelor sebanyak 50 g serbuk kering dimasukkan ke dalam beaker glass
kemudian tambahkan pelarut etanol 70 % sebanyak 500 ml. Magneik stirer dimasukkan ke
dalam beaker glass kemudian ditutup dengan aluminium foil. Proses ekstraksi dilakukan
diatas hotplate dengan suhu 40°C selama 1,5 jam dengan kecepatan pengadukan 500 rpm
kemudian dilanjutkan ultrasonikasi pada suhu 40°C selama 30 menit dengan frekuensi 40
kHz. Setelah itu disaring, maserat yang di peroleh diuapkan dengan rotary evaporator pada
suhu 40°C sehingga didapatkan ekstrak kental E4.
Hasil :
10
Tabel 1. Pengaruh perbedaan ekstraksi terhadap profil ekstrak dan aktivitas
antioksidan daun kelor
Dosen Pengampu
12
METODE ISOLASI
METABOLIT
SEKUNDER
[Link]
DEFINISI ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM.
[Link]
TujuAn isoLAsi senyAWA BAHAn ALAM
[Link]
TANTANGAN DALAM DRUG DISCOVERY
Membutuhka Dibutuhkan
n waktu yang prosedur isolasi
lama (10 -15 yang dipandu
tahun Keberhasilan dengan pengujian
Membutuhka proses sangat bioaktivitas untuk
n rendah : 1 : 5000 memperoleh
biaya yang senyawa lolos senyawa bioaktif
besar untuk uji klinis (bioassay guided
±800 juta isolation)
USD
[Link]
METODE PENEMUAN SENYAWA BIOAKTIF DENGAN PENDEKATAN
SKRINING BIOAKTIVITAS
1. CARA MODEREN : HIGH THROUGHPUT SCREENING
Merupakan metode yang digunakan untuk menyeleksi (skrining) ribuan senyawa secara
bersamaan dengan menggunakan perangkat yang terdiri atas mesin berbasis robot
(otomatisasi),
detektor yang sangat sensitif, dan perangkat lunak. Jenis pengujian berbasis
enzimatis/biokimia dan
TAHAPAN PENEMUAN SENYAWA PADA METODE HTS :
[Link]
SKEMA ISOLASI KONVENSIONAL
EKSTRAKSI KARAKTERISASI /
FRAKSINASI PEMISAHAN PEMURNIAN
IDENTIFIKASI
1. EKSTRAKSI
Ekstraksi merupakan
Marc merupakan residu
suatu proses
padatan sisa hasil
pemisahan
ekstraksi
kandungan
Ekstrak adalah sediaan Menstruum merupakan
senyawa kimia dari
pekat yang pelarut yang
jaringan tumbuhan
diperoleh dari proses digunakan untuk
ataupun hewan
ekstraksi setelah proses ekstraksi
dengan
menguapkan
menggunakan
seluruh pelarut
pelarut/ penyari pengekstraksi
tertentu.
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi
proses Ekstraksi :
Cair (liquidum) : kandungan air > Sifat
30% sampel
ekstrak
Kental (spissum) : kandungan air 5-
30% Ukuran
Suhu sampel
Tipe
Kering (siccum): kandungan air
<5%
Jenis
pH
pelarut
Pemilihan pelarut :
a. Selektif
b. Bersifat inert
c. Harganya murah dan mudah diperoleh
d. Aman (manusia dan lingkungan
e. Mudah diuapkan
f. Sebaiknya tidak bercampur dengan air
g. Sebaiknya densitas berbeda dari air
[Link]
MEKANISME EKSTRAKSI
Penetrasi dan Pelarutan
Difusi pegembangan komponen Kesetimbangan
sel kimia
[Link]
METODE EKSTRAKSI
METODE DINGIN METODE PANAS METODE LAIN (BARU)
PERKOLASI REFLUKS
UAS MAS
PROSEDUR EKSTRAKSI MEMPENGARUHI PROFIL KOMPONEN KIMIA
DAN BIOAKTIVITAS EKSTRAK
PEMISAHAN SENYAWA MURNI
DARI BAHAN ALAM
KBA F : MATERI IV
PEMURNIA KARAKTERISASI /
EKSTRAKSI FRAKSINASI PEMISAHAN
N IDENTIFIKASI
Pemisahan senyawa kimia tunggal dari campurannya dalam fraksi dapat dilakukan
dengan menggunakan metode kromatografi. Teknik kromatografi dan jenis fasa diam
yang dapat dipakai bermacam-macam, sesuai dengan kuantitas fraksi yang digunakan,
sifat molekul yang akan diisolasi (polaritas dan berat molekul) dan kompleksitas
campuran senyawa dalam fraksi ataupun subfraksi.
BENTUK, BAU,
ORGANOLEPTIS WARNA DAN
RASA
REAKSI DENGAN
KARAKERISASI KIMIA REAGEN KIMIA
SPESIFIK
Senyawafenolikmerupakangolonganmetabolit
sekunderyang memiliki
cincinaromatisyangmengikat lebihdari satugugus
hidroksil
BIOSINTESA
Fenolikdibiosintesispadakloroplasdandisi
mpandalam vakuolasel
danlapisansubepidermal
padajaringantanaman.
Kelompoksenyawaini diproduksi sebagai
bentukrespon
terhadaptekananlingkunganmaupunse
ranganpatogen.
Kadar fenolikpadatanamanbervariasi
dipengaruhi oleh musim,
tahappertumbuhansertafaktor eksternal
seperti trauma, perlukaan,
kekeringandanseranganpatogen.
TERDAPAT 3 (TIGA) JALUR BIOSINTESA FENOLIK,
YAITU :
Senyawa fenolik juga ada yang terkonjugasi dengan satu atau lebih gugus
gula. Gula
dapat terikat pada gugus hidroksil ataupun pada atom C non aromatik.
Tumbuhan tutup bumi (Elephantopus mollis K.) merupakan salah satu anggota
asteraceae yang banyak dijumpai sebagai gulma di Indonesia dan khususnya
Sumatera Barat
Aktivitas antioksidan dari ekstrak daun dan akar E. mollis memiliki nilai IC50
berdekatan dengan kategori kuat, sedangkan pada kemampuan tabir surya
menunjukkan hasil dengan nilai
SPF dalam kategori kekuatan yang berbeda (sedang dan ekstra). Kemungkinan hal ini
dikarenakan kelompok senyawa yang memberikan aktivitas juga tidak sama. Nilai SPF
terutama diberikan oleh komponen kromofor yang menyerap sinar UV pada 290 –
320 nm, seperti golongan fenolik dan flavonoid
ALKALOID
HISTORY OF ALKALOIDS
The French apothecary Derosne probably isolated the alkaloid afterwards known as
narcotine in 1803 and the Hanoverian apothecary Sertürner further investigated
opium and isolated morphine (1806, 1816).
Coniine was the first alkaloid to have its structure established (Schiff, 1870) and to
be synthesized (Ladenburg, 1889), but for others, such as colchicine, it was well over
a century before the structures were finally elucidated.
In the second half of the twentieth century alkaloids featured strongly in the
search for plant drugs with anticancer activity. A notable success was the
introduction of Catharanthus alkaloids and paclitaxel into medicine and there is
much current interest in
other alkaloids having anticancer properties as well as those exhibiting antiaging and
antiviral possibilities.
Definition
The alkaloids are organic nitrogenous bases found mainly in plants and have
biological activity
Classification
Chemical Heterocyclic
structure Non heterocyclic
Hegnauer
True, proto,
/biochemical
pseudo
pathway
alkaloid
Solanaceae,
Taxonomy
Papaveraceae
Antidepressant,
Pharmacology
Anti-
activity
hypertensives
Functions of alkaloids Nomenclature of
in plants Alkaloids
1. They may act as protective against insects
Alkaloids are named in various ways .By
agreement, chemical rules stated that their
trivial names should end by ''ine'‘
These names may refer to:
and 1. The genus of the plant in which they
occur (generic name ), such as Atropine
from Atropa belladonna.
herbivores due to their bitterness and 2. The plant species (specific name (, such
toxicity. as Cocaine from Erythroxylon coca.
2. They are, in certain cases, the final products 3. The common name of the drug, such as
of detoxification in metabolic reactions, Ergotamine from ergot.
therefore considered as waste products of 4. The name of the discoverer, such as
metabolism. Pellerierine that was discovered
3. They may provide nitrogen to the plant Pelletier.
orange in case of nitrogen deficiency 5. The physiological action they produce,
(source of nitrogen. such as Emetine that acts as emetic.
4. They, sometimes, act as growth regulators 6. A prominent physical character they
have, such as Hygrine that is
hygroscopic.
Extraction, purification and separation OF ALKALOIDS
Procedures
liberation and
preparation of purification and
extraction of isolation of
the plant fractionation of the
the free individual alkaloids
sample crude extract
alkaloidal bases
Serbuk sampel
b. Ekstraksi dg Air
(alkohol) asam Fraksi air asam
(Garam alkaloid)
Ekstrak cair asam
+ kloroform
Fraksi kloroform
(Pengotor)
B.2. LIBERASI ALKALOID
LARUTAN BASA ENCER PELARUT ORGANIK
SARING
• FREE ALKALOID • AMBIL
• + REAGEN • + REAGEN ENDAPAN
PENGENDAPAN PENDEKOMPO-
SISI
ENDAPAN ALKALOID
1 • PRESIPITASI FRAKSIONAL/KRISTALISASI
• (Derivatisasi menjadi garam dengan oksalat/tartrat/pikrat)
2
• EKSTRAKSI DENGAN pH GRADIEN
• (pemisahan alkaloid basa lemah/sedang/kuat)
• (pH ditingkatkan sampai 9 diikuti ekstraksi dengan pelarut organik)
3 • TEKNIK KROMATOGRAFI
• (Untuk campuran yang kompleks)
BIOGENESIS DAN BIOSINTESA
ALKALOID
The precursors of true alkaloids and protoalkaloids are amino acids (both
their precursors and postcursors), while transamination reactions precede
pseudoalkaloids
Both true and proto alkaloids are synthesized mainly from the aromatic amino acids,
phenylalanine, tyrosine (isoquinoline alkaloids) and tryptophan (indole alkaloids).
Lysine is the precursor for piperidine and quinolizidine alkaloid, and ornithine for
pyrrolidine, pyrrolizidine and tropane alkaloids.
Pseudoalkaloids are synthesized from other compounds, for example acetate in the case
of piperidine alkaloids (coniine or piridine).
Alkaloids are derived from the amino acid in l-configuration (protein aminoacids) and
from non-protein amino acids such as ornithine.
alkaloid pathway precursors
1. shikimic pathway
a source for aromatic amino acids such as
phenylalanine, tyrosine and tryptophan generate :
quinoline, acridine alkaloids
2. acetate pathways
piperidine alkaloids
steroid alkaloids
Pembentukan Reaksi
Basa Schiff Mannich
Reaksi rangkap
oksidatif fenol
REAKSI KONDENSASI MANNICH
Example : In 1917 Robinson R.J. synthesized tropine alkaloid with a Mannich reaction
using succinaldehyde, methylamine, and acetone
REAKSI RANGKAP OKSIDATIF FENOL
Pembentukan Basa Schiff
Schiff bases can be obtained by reacting amines with ketones or aldehydes. These
reactions are a common method of producing C=N bonds
In the biosynthesis of alkaloids, such reactions may take place within a molecule, such as
in the synthesis of piperidine
ENZIM YANG TERLIBAT DALAM
PEMBENTUKAN ALKALOID
Methyl transferases
Tirosin-fenilalanin Fenetilisoquinolin
Histidin Imidazol
ornitin pirolizidin
No Golongan umum Prekursor Tipe alkaloid