0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Memahami Heresiology dalam Islam

Diunggah oleh

febriyani22297
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Memahami Heresiology dalam Islam

Diunggah oleh

febriyani22297
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Islamic Online University December 30, 1899

Di sesi sebelumnya, kita membahas tentang Heresiology. Ini adalah Heresiology I yang
kita akan membahas tentang sekte-sekte yang terpecah dari Islam yang mainstream, dan menjadi
sekte tersendiri dengan ideologi mereka dan pengikut tersendiri.
Sedangkan Heresiology II akan melihat sekte-sekte yang filosofis, mereka yang berasal
dari Islam yang umum. Kita akan menganggap mereka sebagai bagian dari Islam yang
mainstream. Namun, mereka mengembangkan pandangan-pandangan lainnya.
Dan dengan dasar dari pandangan-pandangan itulah mereka dianggap telah menyimpang
oleh Lembaga Ulama (Majelis Ulama). Penyimpangan mereka lebih dari sekedar level teologis.
Sebagai lawan dari level spiritual. Dalam hal amal ibadah secara ritual, kita tidak akan melihat
perbedaan di antara mereka dengan umat Muslim secara umum.
Sedangkan jika kita menelaah, misalnya Syiah atau Khawarij, atau sekte reaktif lainnya,
praktik-praktik eksternal mereka, dan praktik-praktik internal mereka yang berkaitan dengan
hak-hak beragama yang berbeda.
Jadi, kami menyatakan, di sesi sebelumnya, kita membahas tentang pentingnya
berpegang teguh pada Sunnah dan Jamaah. Kita pun menelaah isu tentang bid'ah dan Sunnah dan
pentingnya menghindari bid'ah dan sebagainya. Sebenarnya, jika kita menelaah berbagai sekte
yang telah terpecah dari umat Islam yang umum dalam satu cara atau lebih, mereka tidak
berpegang teguh pada Sunnah. Dalam satu cara atau lebih, mereka telah memperkenalkan bid'ah.
Pendahuluan tentang bid'ah ini atau pemikiran yang kurang tentang Sunnah akan
menjewantah dengan sendirinya dalam penafsiran Qur'an menurut mereka. Serta akan mewujud
dengan sendirinya dalam penafsiran Sunnah mereka, baik itu dalam hal penerimaan dan
penolakan mereka terhadap Sunnah.
Jadi, dua dasar hukum yang fundamental yaitu Qur'an dan Sunnah yang harus kita
pegang teguh seperti perintah Rasulullah( ‫)ﷺ‬. Kalian akan mendapati ternyata mereka tidak
pegang teguh. Mereka merendahkan atau menyalah artikan Qur'an dan Sunnah.
Bagaimana kita bisa menentukan apakah mereka menyalartikan Qur'an dan Sunnah atau
tidak? Kita bisa menilainya dengan cara menelaah cara penafsiran mereka dan penafsiran-
penafsiran yang dianut oleh para sahabah dan oleh mereka yang di sekitar Nabi Muhammad( ‫)ﷺ‬:
murid-murid mereka dan generasi setelah mereka. Itulah yang menjadi kriteria kita. Inilah
sumber, tempat asal konsep Salafiyah. Maksudnya inilah letak signifikansi tersebut.
Karena Salafiyah, yang mungkin dianggap oleh sebagian orang menjadi suatu kelompok.
Misalnya ada kelompok Ahli Hadis di India dan Pakistan tempat Ahli Hadis telah menjadi
seperti mazhab yang lain. Meskipun mereka berujar: "kami tidak mengikuti mazhab manapun.”
Namun, faktanya, mereka malah menciptakan mazhab yang lain, dan ia diperlakukan dengan
cara demikian.
Saya pernah melihat buku yang membahas tentang perbedaan pendapat dari berbagai
mazhab dan menempatkan hadis mereka dan menempatkan pendapat mereka dalam mazhab ahli
hadits. Intinya adalah yang kalian dapati adalah pelabelan itu akan sangat buruk, jika orang-
orang melihat mereka secara eksternal. Maskudnya ada orang lain yang mengikuti suatu mazhab,
dan melihat mereka dengan cara demikian.

1
Islamic Online University December 30, 1899

Namun, faktanya mereka juga melihat mereka sendiri seperti itu. Kalian bisa
mendapatinya, digaungkan dalam pernyataan mereka dan dalam tulisan mereka. Pendapat yang
mereka mengarah pada pandangan yang ekstrim. Bisa dikatakan tidak boleh mengkuti suatu
mazhab, karena mengarah pada ujung yang lain. Jadi, mengikuti suatu mazhab adalah
penyimpangan. Mereka mengarah pada pandangan yang ekstrim tersebut.
Namun, pada akhirnya, mereka pun malah mengikuti suatu mazhab. Karena mengambil
posisi seperti itu dan menyerang siapa saja yang menganut posisi itu, maka itulah yang menjadi
mazhab kalian. Jadi, sebenarnya konsep Salafiyah dulu merupakan ahli hadits. Itulah yang
diwakilkan oleh para ahli hadits. Mereka mewakili jalannya Salaf. Itulah istilah yang dulu
digunakan di masa-masa terdahulu sebagai lawan dari ahlu ra'i. Kita akan menelaahnya jika kita
menelaah evolusi fiqih.
Istilah ini merepresentasi dua kecenderungan, yang terpaut pada hadits yang menjadi
wajah mereka ketika muncul dan menafsirkan hadits-hadits dalam nilai besar secara umum.
Mereka yang mengutamakan penalaran melihat berbagai alasan dari balik semua hal untuk
menentukan nilai yang utama. Jadi, ahli hadits mewakili mereka yang terpaut pada Sunnah
dalam manifestasinya yang jelas.
Ketika kita telaah sekte pertama yang terpecah. Kita akan melihat perwujudannya dalam
ajaran mereka, dalam proses yang menjadi cara mereka berpisah dan kepatuhan yang kurang
pada Qur'an dan Sunnah.
Dan ini satu hal yang harus diingat ketika kita menelaah berbagai sekte, yaitu bagaimana
mereka mengabaikan Qur'an dan Sunnah. Padahal mereka mengaku mengikuti Qur'an dan
Sunnah. Bagaimana mereka melakukannya?
Maksud saya, contoh yang klasik yang bisa kami berikan yaitu Ahmadi. Kelompok
Ahmadi atau sekte Qadiyani yang mengklaim diri mereka mengikuti Qur'an dan Sunnah. Dan
dalam kontak saya dengan mereka, mereka menegaskan hal itu. Mereka mengaku mengikuti
Qur'an dan Sunnah.
Mereka pun punya buku yang ditulis oleh Maulana Muhammad Ali. Dia menulis suatu
buku yang merupakan kompilasi hadits yang menjelaskan alasan mengangkat tangan (saat
sholat) ketika sholat. Meskipun mereka datang dari latar belakang mazhab Hanafi. Namun,
mereka mengukuhkan jika mereka megikuti Sunnah, karena dicatat dalam hadits yang otentik,
dan mereka menyuguhkan persoalan ini.
Namun, jika kalian benar-benar melihat dengan seksama pondasi dari ideologi mereka.
Mereka telah salah menafsirkan kata-kata kunci dari Qur'an. Kita akan membahasnya lebih
mendalam, mereka salah menafsirkannya. Padahal interpretasi yang benar dengan jelas dicatat
dalam pernyataan lain dari Rasulullah( ‫)ﷺ‬. Rasulullah( ‫ )ﷺ‬sudah memperjelasnya: 'aku adalah
Nabi terakhir dan tidak ada Nabi setelahku.”
Jadi, apa yang kamu buktikan dengan dalil itu. Itulah yang mereka sangkal. Yang mereka
lakukan adalah mereka memilih pernyataan dari Sunnah yang sekiranya akan sesuai dengan
yang mereka gagas. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka muslim dan mereka benar-benar
mengikuti Sunnah, yang lainnya adalah Hanadi dan tidak benar-benar mengikuti Sunnah.

2
Islamic Online University December 30, 1899

Namun, ketika Sunnah itu bertentangan dengan ajaran mereka, maka mereka hanya
mengabaikan Sunnah tersebut. Jadi, kepatuhan mereka yang kurang, sekarang menjadi jelas
dalam upaya mereka mempermainkan Sunnah. Mereka mengambil dari Sunnah yang bisa
menyenangkan mereka dan menolak dari Sunnah yang tidak mereka sukai.
Jadi, dengan kata lain kita bisa mengatakan, itu bukan mengikuti Sunnah. Namun,
mengikuti keinginanmu. Itulah sebenarnya yang mereka kukuhkan. Ketika Sunnah sesuai dengan
keinginanmu maka akan kamu ikuti, jika tidak sesuai maka tidak kamu ikuti. Jadi, intinya
keinginanmu sebenarnya adalah faktor penentu. Itulah yang menjadi pilar bagi keyakinan kalian.
Jika kita menelaah Khawarij, istilah Khawarij, sebagai kata jamak dari istilah Khariji.
Khariji berasal dari kata Kharij. Kharij artinya apa? Ya, memang kata itu participle (present
participle) atau kata kerja aktif. Kharij artinya dia yang meninggalkan.
Namun, Kharij juga digunakan untuk memaknai "di luar, “Kharij dakhil. Dakhil artinya
di dalam. Kharij artinya di luar. Kharij berasal dari kata kerja kharaja yang artinya
meninggalkan. Jadi, kharij adalah seseorang yang meninggalkan.
Sedangkan Khariji, kata ini menambahkan yang mereka sebut nisbah. Istilah nisbah
artinya mereka yang meninggalkan dan disebut khariji. Mereka disematkan pada orang yang
telah kharij. Dalam bahasa Inggris, mereka menyebut diri mereka "Seceders.”Istilah secede
artinya memisahkan diri atau meninggalkan. Jadi, mereka umumnya mereka menyebut diri
mereka sebagai the Seceders.
Para ulama telah melacak asal mereka ke masa Nabi Muhammad( ‫)ﷺ‬. Meskipun mereka
tampak seperti Pergerakan di masa pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib. Namun, asal mereka bisa
dirunut kembali ke masa Nabi Muhammad( ‫ )ﷺ‬dalam suatu hadits yang terdapat dalam Al-
Bukhori dan Shahih Muslim.
Dalam hadits ini, Ali Ibn Abi Thalib diceritakan telah diberi hadiah berupa emas dan
cemeti yang terbuat dari kulit yang dikeringkan dari Yaman. Ali Ibn Abi Thalib dalam
kesempatan itu menerimanya dari gubernur Yaman. Lalu hadiah itu dikirimkan kembali ke Nabi
Muhammad( ‫ )ﷺ‬untuk dibagi-bagikan, karena beliau memilih untuk membagi-bagikannya.
Jadi, Rasulullah( ‫ )ﷺ‬membagi-bagikannya kepada: Zaid Ibn Khail, Al Akra Ibn Habis,
Yaina Ibn Hasan, dan Al-Alqama Ibn Ulatsa. Inilah keempat sahabah yang mendapatkan bagian.
Apakah ada nama yang belum disebutkan? Al-Akra Ibn Habis, apa ada yang ingat dia terkenal
karena apa?
Ia terkenal karena suatu hadits yang seringkali disebutkan ketika membahas tentang
kelembutan memperlakukan anak-anak. Yaitu ketika Rasulullah( ‫ )ﷺ‬mencuim Hasan dan Husain
dan Al-Akra melihat beliau tengah mencium mereka, menghampiri sahabi lainnya dan berkata:
"aku punya 10 anak di rumah dan aku tidak pernah mencium salah satunya.”
Hal ini ia lakukan untuk menunjukkan kejantanannya. Ia ingin mengukuhkan bahwa dia
adalah pria sejati. Pria sejati tidak mencium anak kecil. Ketika Rasulullah( ‫ )ﷺ‬mendengar hal
itu, maka beliau menghampirinya dan mengatakan kata-kata yang terkenal: "manla yarham la
yurham.”

3
Islamic Online University December 30, 1899

Orang yang tidak menunjukkan kasihnya tidak akan ditunjukkan rahmat-Nya. Yang
artinya rahmat (dikasihi) oleh Allah. “manla yarham la yurham.” Itulah hadits yang terkenal.
Intinya adalah Rasulullah( ‫ )ﷺ‬membagikan emas itu di antara keempat orang tadi.
Salah satu sahabah yang waktu itu hadir mengungkapkan pendapat bahwa mereka
memiliki klaim yang lebih baik terhadap harta itu daripada keempat orang ini. Mungkin karena
mereka lebih membutuhkan atau apapun itu, dia menggerutu. Ketika dia sampai kepada
Rasulullah( ‫)ﷺ‬. Nabi Muhammad berkata: "Akankah engkau percaya padaku yang telah
dipercaya oleh para penghuni langit. Informasi datang padaku dari langit, pagi dan petang.”
Bahwa seorang pria dengan mata yang sendu dan tulang pipi yang menonjol dengan
kening lebar dan jenggot tebal berdiri dan berkata: "Muhammad ittaqillah, takutlah kepada
Allah.” Rasulullah( ‫ )ﷺ‬menoleh padanya dan berkata: "kesengsaraan menimpamu, apakah aku
bukan orang yang paling bertakwa kepada Allah? Maka pria itu pun berlalu.
Khalid Ibn Walid lompat dan berkata: "Ya Rasulullah, bisakah aku memenggal
kepalanya saja?" Rasulullah( ‫ )ﷺ‬menjawab: "Tidak. "Mungkin dia mendirikan sholat mungkin
dia akan mendirikan sholat lima waktu.” Khalid kemudian berkata: "mungkin orang yang
mendirikan sholat, mengucapkan dengan lisan namun tidak dengan hati.”
Rasulullah( ‫ )ﷺ‬tidak akan menanggapi yang itu. "Aku tidak diperintahkan untuk
mengetahui isi hati manusia atau membelah perut mereka untuk melihat ke dalam jiwa mereka.”
Itu bukan perintah bagiku, aku menilai manusia secara eksternal. Karena penilaian itu dari Allah.
Kemudian beliau menoleh pria itu sambil berjalan masuk dan berkata. Ini adalah suatu
perenungan tentang hal-hal yang akan datang. Kemudian beliau berkata: 'akan muncul orang-
orang dari keturunan pria seperti ini yang akan membaca Qur'an. Namun tidak akan melewati
tenggorokan mereka, seperti anak panah yang melesat membidik sasarannya.’
Ketika anak panah melesat membidik sasarannya, apakah ada yang menempel
besertanya? Tidak ada. Jadi, intinya mereka akan meninggalkan agama mereka, mereka hanya
akan melintasi (melewati) agama mereka dan tidak ada yang tersisa, tidak membawa serta
apapun. Namun, mereka akan terkenal karena bacaan Qur'an mereka.
Itulah prediksi mereka tentang apa yang akan terjadi, tentang yang akan dihasilkan dari
pria ini. Nama pria itu adalah Dzul Khuwaisarah At-Tamimi. At-Tamimi artinya berasal dari
Suku Tamim. Jika menelaah para ulama yang khusus pada telaah Aqidah, mereka memandang
pria ini sebagai Kharijite yang pertama yang muncul dalam Islam.
Akar dari penyakit ini, menurut Ibn Al-Jauzi ialah mengunggulkan pendapatnya
dibanding pendapat Nabi Muhammad( ‫)ﷺ‬. Rasulullah( ‫ )ﷺ‬telah membuat keputusan dan dia
mempertanyakan keputusan beliau, menyuruh beliau untuk takut kepada Allah. Mengapa harus
berkata demikian? Apa maksud dari perkataannya. Artinya apa? "Kamu tidak adil, kamu harus
takut kepada Allah atas apa yang kamu lakukan.” Pertanyaannya itu menyiratkan bahwa
Rasulullah( ‫ )ﷺ‬waktu itu melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah.
Itu adalah tuduhan yang berat. Itulah sebabnya Khalid Ibn Walid, sudah bersiap untuk
membunuhnya, di sana juga. Karena semua kata itu sangat berat. Intinya adalah kemudian hari,
sepeninggal khalifah Utsman, Ali Ibn Thalib ditunjuk sebagai khalifah keempat di Madinah.

4
Islamic Online University December 30, 1899

Pasukan Ali terlibat dalam bentrok dengan Aisyah. Sedangkan Talha dan Az-Zubair termasuk
dari sepuluh sahabah yang dijanjikan surga.
Sampai pada akhirnya setelah itu, Imam Ali (radhiallahu anhu) memindahkan
kekhalifahannya dari Madinah ke Kufah di Iraq. Lalu, ia memulai proses mengganti gubernur
yang pada awalnya ditunjuk oleh Utsman. Karena sebagai persoalan yang mengarah pada
pembunuhan Ustman adalah persoalan tentang beberapa gubernurnya yang dilantik secara
nepotisme.
Yang artinya, ia telah memilih anggota keluarganya dan menjadikan mereka sebagai
gubernur, orang-orang dari keluarganya. Namun, yang jelas ini tuduhan yang salah. Namun,
tetap saja orang-orang mengunjingkannya, karena memang sebagian dari anggota keluarganya
terkait.
Kenyataannya memang mereka saling terkait diantara suku Quraisy yang merupakan
suku besar. Yang pada akhirnya, setiap orang dari Quraisy bisa jadi salah satu sepupunya atau
sepupu jauh ataupun kerabat jauh. Tetap ada hubungan keluarga diantara mereka.
Namun, dengan menempuh cara lain untuk menenangkan situasi, menenangkan
pemberontakan yang terjadi kala itu, yang mengarah pada pembunuhan Utsman. Ali telah
berupaya menstabilkan situasi dengan mengganti beberapa gubernur dan sebagainya.
Di Syria, gubernur Syria adalah Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Ketika penggantinya yaitu
Sahal Ibn Hanif yang diutus untuk menggantikan posisinya. Orang-orang yang ada di wilayah itu
mendukung Muawiyah. Muawiyah waktu itu gubernur yang baik, dan dia adalah sepupunya
Ustman. Mereka pun mendukung Muawiyah. Sehingga mereka memberontak, melawan perintah
khalifah Ali.
Lalu, yang dilakukan Muawiyah, ia mengumpulkan pasukan dan disulut untuk membalas
dendam kematian Ustman, yang merupakan sepupunya. Ali menganut posisi bahwa memang
kematian Ustman harus dibalas namun bukan sekarang.
Yang menjadi prioritas sekarang yaitu untuk menstabilkan situasi. Ia telah ditunjuk
sebagai khalifah. Orang-orang telah memilihnya sebagai khalifah. Namun, tidak semua orang
memberikan baiah (sumpah setia) padanya. Sebagian dari sahabah yang utama seperti Usamah
Ibn Zaid, Saad Ibn Waqash, Ibn Umar, Zaid Ibn Tsabit, dan yang lainnya, para sahabah besar
tidak memberikan sumpah setia secara agama kepada Ali.
Jadi, Muawiyah tidak menganggap Ali telah dipilih sepenuhnya ditunjuk sebagai
khalifah. Jadi ada perbedaan dalam hal ini. Namun intinya adalah upaya Muawiyah untuk
mengusung balas dendam pembunuhan Utsman malah berujung pada Muawiyah bentrok dengan
pasukan di belakang pimpinan Ali.
Bentrokan itu terjadi dalam upaya sebelumnya untuk mengusut dan membalas dendam
pembunuhan Utsman, yang telah dipimpin oleh Aisyah yang juga kerabatnya Utsman. Upaya itu
kemudian mengarah pada bentrokan yang kemudian dikenal sebagai Perang Unta. Aisyah
ditangkap, Talha dan Zubair juga syahid dalam perang itu.
Persoalan yang terjadi dan mengapa perang itu terjadi, akan kita bahas lebih lanjut. Untuk
singkatnya bisa dikatakan bahwa bentrokan yang terjadi disulut oleh pasukan di belakang kendali
Muawiyah, dengan pasukan di belakang kendali Ali.

5
Islamic Online University December 30, 1899

Akan tetapi, perang itu tidak terjadi dalam skala penuh. Karena masing-masing pihak
tidak ingin menjadi sebab dari pertumpahan darah yang sebenarnya. Jadi, ada sejenis pergolakan
yang terjadi, meskipun dalam upaya yang kecil. Pada akhirnya, perang itu tidak sepenuhnya
berjalan, mereka tetap berkawan.
Para pengikut Muawiyah yang waktu itu, mereka dipanggil Syiahnya Muwiyah. Dan
mereka yang mengikuti Ali, mereka dipanggil Syiat Ali. Jadi, Syiah dulu merupakan istilah yang
digunakan untuk kedua belah pihak. Syiah artinya para pendukung atau para pemuja dari
seseorang.
Setelah orang-orang yang ada di kampnya Muawiyah mendapatkan pemikiran bahwa
mereka baru saja telah melakukan arbitrasi dan telah menghasilkan kesepakatan di antara mereka
sendiri. Pada akhirnya bentrokan itu diakhiri, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan
darah.
Mereka menempatkan salinan Qur'an. Mereka mengikatkan salinan itu pada tombak
mereka dan mengangkatnya untuk menyerukan arbitrasi. Dengan menggunakan Qur'an dan
Sunnah, Ali Ibn bin Abi Thalib menyetujui usulan itu.
Muawiyah dipilih untuk menjadi juru damai. Sedangkan dari sisi Ali, mereka memilih
Amr Ibnul As, yang dia sendiri ditunjuk di beberapa periode berbeda sebagai gubernur, atau
amir di bawah Muawiyah. Jadi, dia punya keahlian, bisa dikatakan mampu menangani situasi.
Tentunya dia adalah salah satu Wahi yang sholeh.
Kisah yang menyatakan bahwa dia dicurangi. Abu Musa dipilih dari pihak lainnya. Abu
Musa mencurangi dia sebagai orang yang meragukan. Intinya, orang yang dipilih dari pihak Ali
Ibn Abi Thalib adalah Abu Musa Al-Asy'ari. Abu Musa bukanlah orang yang terlibat dalam
konflik. Dia menjauh dari konflik, dia tidak terlibat sama sekali.
Namun, para pengikut Ali memilhnya dengan alasan dia adalah orang yang sepenuhnya
netral. Sedangkan Ali tidak berpihak padanya karena dia lebih memilih Abdullah Ibn Abbas,
dengan alasan dia lebih berpengalaman. Namun, dalam kasus berikutnya kedua belah pihak
bertemu. Keputusan pun diambil yaitu Ali harus lengser sebagai khalifah dan membiarkan
orang-orang memberikan pilihan terbuka untuk memilih khalifah.
Di kemudian hari, keputusan itu dalam hal ini, Ali kemudian mundur. Beliau pindah ke
Kufah. Adapun sebagian dari para pengikutnya. Ketika mereka menerima perdamaian, mereka
mundur dan memisahkan diri. Inilah asal dari pembentukan kelompok Khawarij.
Namun, sebenarnya sebelumnya ada elemen-elemen pemicu. Jika kita merunut kembali
pada khalifah Abu Bakar. Khaifah pertama, sepeninggal Rasulullah( ‫)ﷺ‬, dia adalah orang
pertama yang dipilh sebagai khalifah. Ingatkah bahwa ia harus berjuang dalam memutuskan
perkara Usulul Tafsir tentang pengumpulan mushaf Qur'an dan sebagainya.
Ia harus berjuang melawan pasukan dari nabi perempuan yang palsu, yaitu Sajah. Sajah
berasal dari suku Tamim. Dan keturunan-keturunan Tamim bersatu mengelilingi dia. Ketika
separuh dari pasukan Sajah dikalahkan, dia menggabungkan pasukan dengan Musailamah.
Musailamah pun adalah nabi palsu, yang secara terang-terangan mengaku bahwa dia
telah berkomunikasi dengan Rasulullah( ‫)ﷺ‬, dan membuat kesepakatan dalam membagi Arab
antara dia dan Nabi Muhammad( ‫)ﷺ‬, dan dia telah menandatangi surat (perjanjian itu) dan

6
Islamic Online University December 30, 1899

mengatakan: “dari Nabi Musailamah ke Nabi Muhammad.” Nabi Muhammad( ‫)ﷺ‬


menanggapinya dengan mengatakan dari Nabi Muhammad ke pembohong, Nabi Musailamah.”
Orang-orang yang mendukung Musailamah berasal dari suku Tamim bukan hanya
mereka. Kemudian mereka membentuk jamaah yang besar, para pembentuknya adalah para
pendukung Nabi Sajah dari suku Tamim. Itulah yang merepresentasi pemberontakan di sana.
Jika kalian benar-benar ingin menelusuri pemberontakan mereka, maka kita perlu
menelusurinya ke masa-masa awal. Di masa pemerintahan Ali, maksud saya pembrontakan itu
berada dalam skala yang mengarah pada bahaya yang lebih besar bagi umat Islam, daripada
pemberontakan di masa Abu Bakar.
Maksudnya, memang tetap ada bahaya, banyak muslim yang meregang nyawa di medan
perang dalam melawan mereka. Ketika mereka yang menghafalkan Qur'an, banyak yang tewas di
medan perang memang ada bahaya lebih besar.
Yang bisa kita simpulkan adalah agar lebih akurat. Itulah tanda-tanda pertama dari
perpecahan yaitu terletak pada dukungan mereka pada Sajah. Dan dukungan mereka pada
akhirnya beralih pada mendukung dia (Sajah) dan Musailamah.
Intinya adalah ketika arbitrasi tersebut sedang dilaksanakan, salah satu pengikut Ali yang
kemudian mereka sebut sebagai Urwah Ibn Usainah. Sebenarnya namanya adalah Urwah Ibn
Jarir. Usainah adalah nama ibunya. Mereka menggunakan istilah itu sebagai sejenis penggunaaan
dalam cara yang derokatif.
Urwah Ibn Usainah ini mempertanyakan keputusan awal Ali dalam menerima arbitrasi. Ia
mengutip ayat dari Qur'an, dan bisa ditemukan dalam tiga tempat dalam Qur'an. Yaitu dalam
Surah Al-An'am, di Surah ke 6 ayat 57. Dalam Surah Yusuf yaitu Surah 12 ayat 40, sekaligus
Surah ke 12 ayat 67, surah Al-An'am ayat 57 dan Yusuf ayat 67.
Sedangkan frase yang merupakan bagian dari ayat tersebut yaitu inil hukumu illa lillah
(Pengambilan keputusan hanyalah milik Allah). Yang terjadi setelahnya yaitu ketika perpecahan
utama terjadi. Ketika dia memasuki, maaf, maksudnya ketika Ali Ibn bin Abi Thalib memasuki
Kufah.
Sebagain besar dari pasukannya, dalam beberapa riwayat disebutkan sekitar 12.000, ada
juga yang menyebutkan sekitar 6.000, yang artinya setengahnya memasuki Kufah bersama
dirinya. Namun, mereka pun memutuskan untuk berkemah di suatu kota yang bernama Haurarah
atau Harurah.
Itu sebenarnya julukan yang diberikan kepada Kharijite, yaitu Harurites. Dan mereka pun
mulai menggagungkan seruan dari Urwah Ibn Jarir, yaitu inil hukmu illa lillah. Itu menjadi
seruan untuk rapat umum mereka.
Dan pada poin itulah, ketika mereka berkumpul, mereka menunjuk Suaib Ibn Riba'i. At-
Tamimi sebagai amir (pemimpin) mereka untuk berperang serta Abdullah Ibn Al-Kawwa al-
Yasykari sebagai amir (pemimpin) mereka untuk sholat. Mereka menunjuk dua amir yang
berbeda.
Dan pada titik inilah, ketika mereka memisahkan diri dengan seruan mereka
“Pengambilan keputusan hanya milik Allah.” Mereka adalah para individu yang sangat
bertakwa. Mereka melakukannya untuk posisi yang sholeh (alim).

7
Islamic Online University December 30, 1899

Mereka merasa bahwa arbitrasi manusia tidak sesuai dalam hal ini dan harus diserahkan
kepada Allah. Artinya mari kita berperang dan siapa saja yang menang akan sesuai dengan qadar
Allah. Allah akan memutuskan melalui perang itu, siapa yang benar dan siapa yang salah.
Mereka pun dikenal karena ketwakwaan mereka, dan karena amal ibadah mereka. Yang
datang dan melakukan kontak dengan mereka, pada tahapan awal tersebut telah menyebutkan
bahwa ketika mereka pergi ke kemah mereka, ketika mereka mendekati kemah mereka, mereka
mendengar suara yang terdengar seperti dengungan lebah dalam skala besar. Mereka mendapati
orang- orang Khawarij tengah membaca Qur'an.
Dan banyak dari mereka punya yang kita sebut (tanda sujud). Mereka punya kulit lebih
gelap pada kening mereka. Sebagai hasil dari banyaknya sujud yang telah mereka lakukan. Jadi
mereka sangat khusyuk dalam sholat mereka. Mereka juga dikenal karena amal ibadah mereka
dalam hal itu.
Akan tetapi, kita mendapati perpecahan posisi (pendapat) yang fundamental di sini.
Dalam hal itu, mereka merasa lebih tahu daripada Ali Ibn Abi Thalib. Tentunya, dia tidak
demikian, dia (Ali) tidaklah bebas dari kesalahan. Namun, tetap saja bukannya duduk bersama
dia untuk berdiskusi dan sampai pada pemahaman, mereka malah memilih untuk menolak.
Bahkan Rasulullah( ‫ )ﷺ‬telah bersabda: "ikutilah Sunnahku dan Sunnahnya para
khulafaur rasyidin setelahku.” Beliau memang membuat pernyataan itu dan bahkan beliau pun
dalam beberapa riwayat, memperkirakan berapa lama masa khulfaur rasyidin itu berakhir.
Tentunya, Ali Ibn Abi Thalib adalah bagian dari perkiraan itu, ia juga termasuk dalam keempat
khalifah itu. Maksudnya, dalilnya sudah cukup yang ada di masa itu, jika mereka ingin menuntut
ilmu.
Untuk berpihak pada keputusan Ali bin Abi Thalib, karena dia tentunya seorang khalifah.
Pada awalnya, mereka mengikuti dia, sebagai khalifah. Makanya, jika mereka merasa dia telah
menyimpang, yang harus mereka lakukan ialah duduk bersama dia dan membahas hal itu.
Namun, mereka malah memisahkan diri.
Abdullah Ibn Abbas, dia meminta izin kepada Ali Ibn Abi Thalib untuk pergi dan
berbicara kepada mereka. Pada awalnya Ali menolak. Namun, karena dia takut, jika dia pergi
maka mereka akan membunuhnya. Pada saat itu mereka merumuskan untuk berperang. Namun
resistansi mereka sedang dibangun. Mereka menjadi keras kepala dan memegang teguh pendirian
mereka, menolak untuk bekerjasama dengan Ali.
Ada desas-desus di antara mereka untuk menyerang Ali Ibn Abi Thalib, dan para
pengikutnya ada di sana sedang memulai taktik. Makanya, Abdullah Ibn Abbas meyakinkan
Alibahwa mereka mengenalnya. Banyak di antara mereka yang mengenalnya (Ibn Abbas).
Mungkin mereka sudah pernah menghadiri majelasi ilmu atau pertemuan dan telah mengenal dia
dengan baik. Jadi, dia tidak perlu mengkhawatirkannya.
Akhirnya Ali mengizinkan dia. Karena Abdullah Ibn Abbas dikenal sebagai pribadi yang
akhlaknya baik. Ia pun berpikir dia bisa menjadi juru negosiasi yang baik. Bahkan dia pun orang
yang Ali inginkan untuk bernegosiasi dengan para pengikut Muawiyah.
Pada awalnya, Abdullah Ibn Abbas menjelaskan bahwa dia mengenakan pakaian yang
terbaiknya, dan sendalnya yang terbaik, lalu pergi ke kemah mereka. Ia pun menceritakan, ketika

8
Islamic Online University December 30, 1899

ia pergi ke kemah mereka, ia mendapati orang-orang itu sedang terbenam dalam penghambaan
dan sholat, seperti yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Ia menceritakan bahwa kening mereka berbekas, karena sujud yang terus-menerus dan
lama. Dan telapak tangan mereka telah mengeras seperti lutut unta. Pernahkah kalian lihat lutut
unta? Jika lutut yang sedang duduk, kapalan (mengeras), seperti itulah tangan mereka.
Setelah melihat mereka tenggelam dalam ibadah. Kemudian Ali menyapa mereka, dan
mereka yang mengenalinya, menolehnya dan berkata: "selamat datang Ibn Abbas" maaf, yang
datang itu Ibn Abbas bukan Ali. Mereka bertanya padanya, apa yang membawanya kemari (ke
kemah mereka). Dan dia menjawab: "aku datang atas nama Muhajir dan Anshar dan menantunya
Nabi, yaitu Ali, yang kepada mereka Qur'an diturunkan. Yang lebih tahu akan penafsirannya
daripada kalian sekarang.”
Jadi, Ibn Abbas langsung pada intinya. Pada dasarnya ia menegaskan "kalian telah salah
mengerti.” Bukan berarti yang kalian ucapkan bukan dari Qur'an itu salah. Karena ucapan inil
hukumu illa illah tersebut memang ada dalam Qur'an, dalam tiga tempat seperti kami sebutkan.
Namun, kalian mengambilnya keluar dari konteks: "itulah sebabnya aku datang dari
Muhajir, yang merupakan kaumnya Rasulullah( ‫ )ﷺ‬di Mekah, dan dari Anshar, mereka yang
menyambut kami di Madinah. Yang sebagian besar dari Qur'an diturunkan di sana dalam
keberadaan mereka. Dan dari menantunya Nabi( ‫)ﷺ‬. Sungguh keunggulan yang sangat besar.
Demi merekalah aku datang kesini, dan mereka semua memahami Qur'an lebih baik daripada
kalian.”
Sebagian dari mereka menolak untuk berdiskusi dengannya dengan menyatakan bahwa
dia itu dari suku Quraisy. Dan Allah berfirman tentang suku Quraisy: bal hum kaumun khasimun.
Allah berfirman tentang mereka: “sesungguhnya mereka adalah kaum yang sering protes tidak
ada ujungnya.” Tentunya Allah menyebutkan itu dalam konteks tertentu, yang ada kaitannya
dengan Yesus, beriman kepada Yesus dan sebagainya.
Namun, mereka mengambil itu dan berkata: "kami tidak ingin berdebat dengan pria ini"
karena dia berasal dari kaum yang suka protes. Sementara yang minat berdiskusi, saya pikir
mereka sangat mengenal baik Abdullah Ibn Abbas. Jadi, sebagian dari mereka mempersilakan
dia untuk menjelaskan apa yang dia maksud.
Maka, mereka pun berkata padanya: "Jelaskan apa pemahaman kami yang katanya
bertentangan dengan menantunya Rasul dan bertentangan dengan Muhajir dan Anshar yang
Qur'an diturunkan di antara mereka. Dan mereka tahu penafsiran Qur'an yang lebih baik daripada
kamu, dan tidak ada satupun dari Muhajir atau Anshar yang ada dalam tingkatanmu.”
Inilah prinsip dari mengajak mereka kembali pada Salaf, yaitu pemahaman akan agama
dengan berdasarkan pada generasi tersebut. Jadi, seperti kami katakan tadi. "Tidak ada di antara
kalian yang berasal dari mereka (Muhajir, Anshar, menantu Rasul) dan mereka lebih tahu Qur'an
daripada kalian.”
Apa lagi situasi yang menjadikan kalian dalam kesesatan dan penyimpangan? Mereka
mengatakan tiga persoalan yang bertentangan dengan Ali. Lalu, Ibnu Abbas bertanya "apa saja
itu?" Persoalan pertama yang mereka katakan yaitu Ali menjadikan manusia sebagai pembuat

9
Islamic Online University December 30, 1899

keputusan dalam urusan Allah. Bahkan Allah berfirman: inil hukmu illa lillah. Keputusan hanya
milik Allah. Itulah panji utama yang mereka usung.
Kemudian Ibn Abbas bertanya: "apa lagi.” Apa persoalan yang kedua? Mereka berkata:
"persoalan yang kedua, Ali Ibn Abi Thalib, ketika dia berperang dan membunuh musuh yang
satu ini, dia tidak mengambil tawanan perang, dia juga tidak mengambil harta rampasan perang.”
Ketika ia perang, pada saat bentrok dengan pasukan Muawiyah, ia (Ali bin Abi Thalib) tidak
menawan musuh sebagai tawanan perang dan dia pun tidak mengambil harta mereka sebagai
rampasan perang.
Ada suatu kesepakatan yang disetuji oleh pihak Ali dan Muawiyah yang tidak boleh
mereka lakukan, karena mereka sesama muslim. Prinsip perang itu hanya berlaku, jika kita
berperang dengan non-Muslim. Kalian tidak boleh menawan muslim sebagai tahanan perang,
tidak pula mengambil harta mereka sebagai rampasan perang.
Ibnu Abbas pun bertanya kembali. Dia berkata: "apa lagi yang kalian punya?” Mereka
berkata: "Ali bin Abi Thalib mengusung julukan amirul mukminin. Dan dia menghilangkan
julukan itu dari dirinya sendiri.” Julukan ini diperkenalkan oleh Umar Ibn Khatab. Sebenarnya
Abu Bakar tidak pernah mengambil gelar itu.
Di masa Umar Ibn Khatab, gelar itu diberikan kepada dia dan gelar itu menjadi gelar bagi
para khilafah setelah mereka. Utsman Ibn Affan juga mengambil gelar itu. Namun, Ali tidak
mengambil gelar itu. Jadi, mereka pun berkata: "Jika dia bukan amirul mukminin, maka dia
pastinya adalah amirul kafirin.”
Jika dia bukanlah sang amir, pemimpin para mukmin, maka dia pastinya pemimpin bagi
orang kafir. Karena kita hanya punya pembedaan; orang beriman dan orang kafir. Jika dia bukan
pemimpin bagi orang mukmin, maka dia pastinya pemimpin untuk orang kafir.
Makanya Ibn Abbas pun berkata: "Baiklah, aku akan menanggapi ketiga persoalan yang
kalian miliki, dengan menggunakan dalil Qur'an. Jika aku menghadirkan dalil dari Qur'an pada
kalian, akankah kalian melepaskan pendapat kalian?”
Mereka berkata: "Ya, jika kamu membawa dalil dan membuktikan jika kami salah, maka
kami akan mundur dari pendapat kami.” Karena itulah kelompok pertama, yang berminat untuk
mendengarkan Ibn Abbas. Maksud saya, mereka sendiri adalah orang beriman, mereka bukanlah
orang kafir. Memang mereka keliru dalam pemikiran mereka, namun mereka berniat untuk
dikoreksi.
Satu hal yang harus jadi catatan di sini. Abdulah Ibn Abbas mengizinkan mereka untuk
mengungkapkan semua pendapat mereka untuk pertama kalinya. Ini adalah poin yang sangat
penting dalam hal dakwah. Orang-orang telah mengambil riwayat yang satu ini, dan
menggunakannya sebagai bisa dikatakan garis besar untuk dakwah, dalam berhadapan dengan
musuh.
Pertama, kita harus mengizinkan mereka untuk menungkapkan apa yang mereka miliki.
Itulah salah satu pendapat mereka. Tentunya bagian pertama adalah nasihat. Bagian pertama
adalah menasihati mereka; apakah mereka sudah jelas-jelas salah, dan memaparkan apa yang
menjadi dasar kesalahan mereka, apa yang telah mereka lakukan.

10
Islamic Online University December 30, 1899

Akar masalahnya adalah mereka tidak punya orang-orang dari kalangan Muhajirin atau
dari Anshar di antara mereka. Mereka tidak punya orang dari kalangan para sahabah Rasulullah(
‫ )ﷺ‬di antara mereka. Ini adalah tanda yang jelas. "Lihatlah, tidak ada sahabah yang bersama
kalian, pastinya ada yang salah. Sedangkan ada sahabah di pihak Muawiyah, ada sebagian
sahabah di pihak Muawiyah. Sedangkan mereka berada di pihak Ali.
Namun, dalam kasus Khawarij, kelompok mereka pecah, karena tidak ada sahabah di
antara mereka. Inilah tandanya. Inilah nasihat yang ingin disampaikan pada mereka, "inilah akar
masalah dari kesalahan kalian.” Itu tidak cukup. Mereka tidak bisa memahaminya, mereka terus
mengukuhkan posisi mereka.
Kemudian Abdullah Ibn Abbas, dan ingatkah, dia dipanggil Turjumanul Qur'an, dia
adalah ahli Qur'an. Umar Ibn Khatab, meskipun dia masih remaja, biasa membawa dia, untuk
duduk bersama para sahabah yang lebih tua, karena kebijaksanaan dia, karena doa yang telah
Rasul panjatkan untuk Abbas.
Kemudian dia (Ibn Jauzi) pun berkata, ia memulai dengan poin pertama tentang abitrasi:
"bagaimana manusia mengadili dalam sejumlah persoalan yang berkaitan dengan agama (dhin),
padahal Allah adalah satu-satunya yang Pembuat Keputusan?” Istilahnya inil hukmu illa lillah,
keputusan hanyalah milik Allah.
Sehingga Ibn Abbas menanggapi: "Allah telah memberikan keputusan tersebut kepada
manusia. Terutama tentang persoalan manusia dan Allah, terhadap sesuatu hal yang begitu
sederhana seperti seekor kelinci.”
Kita membahas tentang kehidupan manusia, sekarang ini, tentang suatu keputusan untuk
seekor kelinci, yang nilainya seperti dia katakan, hanya empat dirham di masa itu. Dengan empat
dirham kita bisa membeli kelinci.
Lalu, dia mengutip ayat dari Al-Maidah; 95: “Wahai orang-orang beriman, janganlah
kamu mencari binatang buruan darat, sementara dalam keadaan ihram. Barangsiapa yang sengaja
berburu hewan buruan diantara kalian. Maka dendanya adalah hewan ternak yang mirip
(seimbang) dengan hewan buruan tersebut. Yang memutuskan haruslah dua orang yang adil
diantara kalian.”
Orang yang membunuh kelinci dalam keadaan ihram, setelah berniat untuk ihram. Maka
dia harus mengurbankan seekor binatang, yang setara dengan (binatang yang diburu itu), di
antara binatang yang bisa diterima sebagai binatang kurban di Mekkah. Tidak boleh dilakukan
sepulangnya di rumah.
Dia juga memberikan contoh lainnya tentang seorang wanita di saat perceraian, jika ada
pertengkaran antara suami istri, Allah( ‫ )ﷻ‬berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 35:
Jika kamu khawatir terjadi pertengkaran antara keduanya, maka
tunjuklah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru
damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu)
bermaksud mengadakan perdamaian, niscaya Allah memberi taufik
kepada suami istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui serta
Mahateliti.

11
Islamic Online University December 30, 1899

Kemudian dia bertanya kepada mereka apakah penialian manusia untuk mendamaikan
pertengkaran di antara mereka sendiri, dan mencegah pertumpahan darah lebih mulia daripada
keputusa manusia terhadap seekor kelinci? Atau terhadap seorang wanita akan hak dan
kewajiban dia? Keputusan mana yang lebih besar? Mana yang lebih mendesak, mana yang lebih
serius.
Karena Allah mengizinkan pengambilan keputusan atas seekor kelinci dan dalam
persoalan keluarga istri. Maka tentunya, pengambilan keputusan bisa diperbolehkan terhadap isu
pertumpahan darah yang jauh lebih serius dan mendesak. Makanya mereka sepakat bahwa
aritrasi untuk mencegah pertumpahan darah jauh lebih penting. Dan dia meminta mereka untuk
menarik keberatan mereka, dan setuju dengan keputusan Ali, akhirnya mereka pun setuju.
Yang kedua, kemudian dia melanjutkan atas keputusan Ali yang berperang melawan
pasukan Muawiyah, namun tidak menawan tahanan perang. Makanya, dia pun memberikan
contoh lainnya. Jika, kamu terlibat dalam peperangan seperti yang mereka alami sebelumnya
dengan Aisyah, ibunya orang-orang mukmin. Apakah kalian akan menawan dia sebagai tahanan
perang?
Selain itu, dalam melaksanakannya, apakah kalian akan membiarkan diri kalian sendiri
untuk berhubungan dengan dia (Aisyah). Jika kalian menjawab, ya. Maka kalian telah
meninggalkan Islam. Jika kalian menyangkal, bahwa dia adalah ibunya orang-orang mukmin,
artinya kalian pun telah meninggalkan Islam.
Jika kalian menyamakan dia (Aisyah) dengan wanita-wanita lainnya dengan berujar:
"tidak dia bukan ibu orang-orang mukmin.” Itu artinya kalian sudah meninggalkan Islam, karena
Allah telah menyatakannya dalam Qur'an (Al-Ahzab:6).
‫ُأ‬ ‫َأ‬ ‫َأ‬ ‫َأ‬
‫الَّنِبُّي ْوَلى ِباْلُمْؤِمِنيَن ِمْن نُفِس ِهْم َو ْز َواُج ُه َّمَهاُتُهْم‬
Nabi itu (hendaklah) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada
mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.
Jadi, kalian terjebak dalam, seperti kami katakan, dalam situasi yang sulit, itulah sebabnya
keberatan mereka ditolak.
Poin yang ketiga yaitu mempermasalahkan penghapusan gelar (amirul mukminin), dia
berkata: “Ketika Rasulullah( ‫ )ﷺ‬sedang membuat perjanjian Hudaibiah dengan kaum musyrikin.
Beliau menyuruh Ali Ibn bin Abi Thalib untuk menuliskan perjanjian.
Ali memulai penulisan Perjanjian itu dengan mengucapkan: "Inilah ketentuan-ketentuan
perdaiaman yang disetujui oleh Muhammad Rasulullah (utusan Allah).” Ketika dia
mengucapkannya. Abu Sufyan berkata:"Tunggu sebentar, coba ulangi, jika kami percaya engkau
adalah utusan Allah, maka kami tidak akan terlibat dalam semua ini, sekarang? Kami sudah
menerima, engkaulah utusan Allah.”
Jadi, mereka tidak menerima, karena Ali menuliskan frase Utusan Allah. Sebagian
sahabah bersikukuh dalam mencantumkan frase itu, misalnya saja Umar Ibn Khatab, tetap
menginginkannya: "Tuliskan saja jadikan kesepakatan.” Namun, Rasulullah berkata demikian.
Ali pun menuliskannya: "Inilah ketentuan-ketentuan perdamaian yang disetujui oleh
Muhammad, hamba Allah.”

12
Islamic Online University December 30, 1899

Sehingga Ali Ibn Abi Thalib, kemudian mempertanyakan mereka dengan mengucapkan:
"Jika Muhammad( ‫)ﷺ‬, bisakah kalian menghapus gelar itu dari dirinya sendiri? Bukankah
tindakan itu jauh lebih besar daripada tindakan Ali yang melepaskan gelar amirul mukminin?"
Mereka pun menyerah. Separuh dari mereka, dan bergabung kembali dengan Ali Ibn Abi
Thalib. Namun, separuhnya lagi, mereka yang berpendapat Abbas itu dari kaum Quraisy yang
suka berargumentasi. Mereka tetap bertahan. Mereka enggan mendengarnya (penjelasan
Abdullah Ibn Abbas). Itulah posisi yang mereka anut, dan mereka tetap di jalan mereka.
Pada poin itulah, mereka mulai suatu proses pembantaian muslim. Para ulama
menegaskan bahwa sebenarnya pembantaian yang mereka lakukan jauh lebih buruk daripada
pembantaian setelahnya, yang di kalangan muslim. Tentunya tindakan Gengis Khan melebihi
mereka. Namun, jika di kalangan muslim, maka pembantaian merekalah yang terburuk.
Selain itu, salah satu sahabah Rasulullah( ‫)ﷺ‬, Abdullah Ibn Khabab ditangkap oleh
mereka,
serta diceritakan dalam kisah-kisah dalam Sirah. Apakah ada yang ingat peranan apa yang dia
mainkan? Seharusnya dia adalah orang yang berada di rumah saudaranya, Umar Ibn Khatab,
yang mengajarkan Umar, Qur'an. Namun kisah itu sebenarnya tidak otentik. Meskipun kisah itu
ditemukan dalam sebagian besar kitab hadits, dan seringkali dikutip. Tapi sebenarnya, riwayat
itu tidak otentik. Jadi, Umar sebenarnya tidak pindah agama dengan cara demikian.
Intinya adalah dia (Abdullah Ibn Khabab), pembaca Qur'an (qari) yang terkenal. Ketika
dia ditangkap oleh Khawarij, mereka memintanya untuk mengisahkan apa yang dia dengar dari
Rasulullah( ‫)ﷺ‬, dia meriwayatkan hadits yang Rasulullah( ‫ )ﷺ‬bersabda bahwa suatu masa
kemunduran akan dating. Yaitu suatu masa yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Orang
yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik daripada
orang yang berlari. Jika kalian hidup di masa tersebut, maka jadilah hamba Allah yang telah
terbunuh daripada mereka yang telah membunuh.”
Mereka pun bertanya apakah dia benar-benar mendengar riwayat itu? Dia menjawab: ya.
Mereka pun membawanya ke tepian sungai dan memenggal kepalanya dan darahnya mengalir ke
sungai itu. Mereka pun mengambil istrinya yang sedang hamil, membelah perutnya,
mengeluarkan bayinya, dan memotong-motongnya (memutilasinya).
Di kemudian hari, diriwayatkan bahwa ketika mereka berkemah di bawah naungan
kumpulan pohon kurma di wilayah yang dikenal Nahrawan, yaitu tempat Ali Ibn Abi Thalib,
pasukannya menangkap mereka. Ketika sebagian dari mereka ada di kebun kurma itu, kurma
yang matang pun jatuh.
Salah satu dari mereka memungutnya, dan memakannya dan mulai mengunyahnya.
Sementara yang lainnya berteriak: "Tidak boleh dimakan itu haram, kamu tidak berhak
memakannya. Pohon kurma itu bukanlah milik kita, kamu pun belum membayarnya.” Maka,
mereka yang melihatnya tengah memakannya, menyuruhnya: "ludahkan kurma itu.”
Mereka sangat perhatian untuk tidak mendurhakai Allah dan enggan mengambil barang
orang lain, setelah baru saja membunuh Abdullah Ibn Khabab. Maksud saya, ini sejenis
kontradiksi yang harus jadi catatan.

13
Islamic Online University December 30, 1899

Mereka akan sangat bersikap lembut dengan Nasrani, melindungi hak mereka. Dalam
suatu kesempatan seperti yang disebutkan jika salah satu dari mereka sedang mengasah pedang.
Dan dia ingin mencoba ketajamannya. Lalu, ia mengambil babi dan mencincangnya untuk
mencoba pedangnya. Mereka pun berkata: "Itukan barangnya Nasrani, kamu telah membunuh
babi itu.”
Makanya mereka kembali dan mencari pemilik babi itu, meminta maaf dan membayar
untuk babi itu. Mereka masih orang yang sama yang memenggal sahabah Rasulullah( ‫)ﷺ‬.
Ketika Ali Ibn Abi Thalib mendengar kabar pembunuhan Abdullah Ibn Khabab. Ia mengirim
seorang utusan untuk memberitahunya siapa pembunuh sahabah itu untuk dihukum. Namun,
mereka menolak dan berujar: "kami semua membunuhnya,” mereka bersikukuh.
Makanya Ali bin Abi Thalib, kemudian bertemu dengan mereka di perang tersebut, yang
dikenal sebagai Perang Nahrawan. Di tempat yang sama waktu itu, ia mampu mengalahkan
mereka sepenuhnya. Ia bisa menumpas mereka, hampir dikatakan semuanya, hanya beberapa
yang lolos.
Akan tetapi, beberapa yang lolos pun berkumpul, dan membentuk kelompok lainnya. Dan
mereka bersumpah untuk membalas dendam. Tiga diantara mereka telah dijadikan sasaran;
mereka memutuskan akan membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan juru damai dia, yaitu
Amr Ibn As. Mereka berunding untuk ketiga orang itu.
Mereka pun mampu membunuh ketiga orang itu, mereka bisa menangkap Ali Ibn Abi
Thalib,’ di perjalanan akan sholat shubuh, dan menusuk dia di kepalanya, dengan pisau yang
beracun, dia pun meninggal. Mereka menangkapnya. Dan orang yang membunuhnya adalah
Abdurrahman Ibnul Muljab.
Dan ketika puterinya Ali, Ummi Kultsum telah meneriaki mereka: "Wahai musuh Allah,
kalian membunuh amirul mukminin secara zalim.” Namun, Ali hanya memintanya:
"menangislah dengan keras.”
Ketika mereka menghukumnya, mereka menyiksanya, memotong kaki, paha, tangan dan
kakinya. Orang yang mengambil senjata dan melawan umat muslim. Ini adalah yang mereka
sebut haddul harabah atau hirabah. Kejatahan menyerang muslim hukumannya adalah potong
tangan kanan dan kaki kiri, menyalib mereka. Begitulah hukumannya, bisa salah satunya.
Intinya adalah ketika mereka melakukan kekejaman itu pada Ali. Mereka pun
menambahkannya dengan pemahaman yang salah, membakar lidahnya atas perkataannya. Ketika
mereka memotong kaki dan tangannya, dia tidak menggubris. Mereka tidak bisa melihat
penderitaannya, dia sama sekali tidak menjerit, tidak menyebut Allah dan sebagainya.
Ketika mereka memotong lidahnya, kemudian dia (pembunuh) itu berteriak kepada
Allah. Dan mereka bertanya kepadanya: "mengapa?" Dia menjawab karena dia tidak ingin
menginggalkan dunia ini tanpa mengingat Allah dengan lisannya, setelah membunuh Ali bin Abi
Thalib. Sebenarnya itulah gejala psikologis, wataknya kelompok Khawarij.
Bisa kita lihat, meskipun mereka dikalahkan setelahnya mereka membunuh Ali Ibn Abi
Thalib. Lalu mereka muncul dan memberontak di masa Bani Ummayah. Pemerintahan Bani
Ummayah dimulai sekitar 100 tahun setelah kejadian itu, dari masa Muawiyah.

14
Islamic Online University December 30, 1899

Bahkan di awal masa Abbasiyah, mereka juga memberontak. Ada serangkaian bentrokan,
perang dan mereka pun membantai lebih banyak muslim. Pada akhirnya mereka pun hancur di
era Abbasiyyah. Untuk sementara mereka dikalahkan oleh Hajaj Ibn Yusuf di masa Ummayah.
Intinya adalah semua kelompok yang sesat yang akan kita bahas, mereka tercerai-berai.
Pemikiran mereka yang beragam dan banyak berselisih dan akhirnya terpecah, lalu membentuk
banyak anak kelompok.
Yang akan kita bahas di sesi berikutnya adalah konsep utama yang merupakan
berkelanjutan sampai hari ini. Mengapa sangat penting untuk menelaah mereka, karena adanya
fakta pada masa sekarang, mereka memang punya perwakilan, seperti disebutkan sebelumnya,
yaitu Ibadiyah, sekte penguasa di Oman.
Insya Allah kita akan berhenti di sini, kita akan menjawab beberapa pertanyaan.
Pertanyaan dari ikhwan tentang kejahilan mereka atas larangan tidak boleh memberontak kepada
pemimpin. Itu bukan suatu persoalan, tentunya mereka sudah diberi tahu. Ada yang menjelaskan
pada mereka.
Intinya adalah mereka menganut pendapat bahwa pemberontakan adalah wajib bagi
mereka. Itulah sebabnya kita menelaah prinsip-prinsip mereka. Pemberontakan itu wajib untuk
melawan pemerintah, jika pemerintah itu melakukan dosa. Jika pemerintah secara terang-
terangan mendurhakai Allah.
Jadi, dalam pikiran mereka, ketika Ali memutuskan untuk mengambil juru damai
manusia, secara fakta ia menjadi kafir. Menurut mereka itu dianggap dosa besar, pelaku dosa
besar menjadi kafir. Maka membunuhnya diperbolehkan dan halal.
Alasan mereka untuk menyerang sahabah lainnya, membantai dan membunuh mereka,
termasuk keluarga mereka, yaitu pada dasarnya siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka,
maka bertentangan dengan mereka. Itulah pendapat mendasar yang mereka anut. Jika kalian
tidak patuh pada keyakinan mereka.
Dan Ali pada faktanya menjadi kafir (menurut mereka), begitu pula dengan Muawiyah,
maka kamu sendiri pun adalah kafir. Karena jika mengikuti prinsip, yaitu jika kalian tidak
percaya bahwa seorang kafir adalah kafir, maka kamu menjadi kafir. Itu tidak masalah dalam
Qur'an. Jika kamu tidak percaya bahwa Firaun adalah kafir. Maka kamu menjadi kafir.
Orang yang secara terang-terangan yang Allah nyatakan kafir dan yang telah dinyatakan
kafir oleh Rasul, namun kamu menolak, "tidak mereka tidak kafir.” Maka penolakan kamu
menjadikan kamu kafir. Namun, ini tidak bisa digunakan sebagai dukungan kamu untuk
menyatakan muslim lain sebagai kafir, terhadap persoalan yang telah kamu ciptakan. Bukan
terhadap persoalan yang secara jelas dinyatakan dalam Qur'an dan Sunnah.
Inilah yang kami temukan di banyak kelompok modern yang telah terpecah. Mereka
terlibat dalam pembantaian terutama di Mesir, kalian akan mendengar alur penalaran yang sama.
Misalnya Jamaah Islamiyah di Mesir yaitu massa yang membantai Sadath dan turis, dan
pemimpin spiritual mereka, Abdurrahman, syaikh yang buta. Inilah alur penalaran mereka.
Mereka yang terjebak di Al-Haram, Mekah, yang mengepung Haram, mereka juga
menggunakan alur penalaran yang sama. Kalian dalam keadaan kafir dan siapa saja yang bekerja

15
Islamic Online University December 30, 1899

di pemerintahan, maka mereka masuk dalam kategori kafir, dan darah kalian menjadi halal.
Inilah prinsip yang mereka sebut takfir.
Pertanyaan dari ikhwan tentang signifikansi dari orang yang membunuh Ali bin Abi
Thalib. Pembunuh itu telah dianggap kafir, dan berteriak dan memohon agar lidahnya tidak
dibakar karena akan menghentikannya dari mengingat Allah, sebelum dia mati.
Pernyataan dia itu, yang takut tidak mengingat Allah tidak bernilai apapun. Kita tidak
meganggapnya, sebagai ungakapan keimanan. Itu justru ungkapan keimanan yang rusak, sudah
rusak karena imannya cacat, dan bisa kalian temukan hal serupa. Kalian tahu seperti halnya
seseorang yang seorang muslim, yang tidak sholat, tidak puasa dan makan babi. Namun, jika
kamu memberitahu dia bahwa dia telah kafir, dia bukanlah muslim, dia malah ingin
membunuhmu.
Bisa dikatakan ini adalah keimanan yang rusak. Yang artinya dalam sistem keyakinan
mereka; menjadi muslim berarti muslim dan tidak ada yang menjadikanmu tidak muslim. Setelah
kamu terlahir menjadi muslim, di keluarga muslim, dengan nama yang muslim. Maka itu sudah
cukup.
Siapa saja yang menyatakan kamu bukan muslim, karena kelakukan kamu. Itu masalah
serius. Bisa dikatakan ini adalah keimanan yang rusak. Karena faktanya menjadi iman yang
kurang, karena ilmu yang kurang. Maksud saya, dia disiksa. Itu terjadi, di saat emosi bergejolak.
Sehingga manusia akan melewati batas. Jika kita akan membenarkannya, dia sudah lewat batas,
dalam prosesnya. Ya, dia membunuh Ali Ibn Abi Thalib, maka hukumannya sudah cukup
dihukum mati. Namun, mereka ingin dia menderita.
Namun, kalian tahukah? Yang namanya hati manusia. Memang siksaan di kubur jauh
lebih berat. Namun, siksa kubur tidak bisa kita persepsi. Mereka ingin melihat seseorang:
"lihatlah apa yang dia lakukan pada Ali, seorang amirul mukminin.”

16

Anda mungkin juga menyukai