0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Judul : Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkat Hasil
Belajar Siswa Matematika Peserta Didik Kelas VIII SMP Islam As-Shofa, Pekanbaru

B. Latar Belakang Masalah

Matematika berperan dalam segala aspek kehidupan, terutama dalam meningkatkan


daya piker manusia. Siswa mempelajari matematika mulai dari sekolah dasar dengan tujuan
siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta
kemampuan bekerja sama. Siswa memerlukan kompetensi tersebut agar dapat memiliki
kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan yang
dinamis dan kompetitif (Kamarullah, 2017:29).

Sarana dan prasarana yang mendukung, model pembelajaran yang tepat, dan siswa
yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dapat membuat siswa belajar dengan baik dan
siswa tidak merasa jenuh atau bosan ketika mengikuti kegiatan pembelajaran (Kristin,
2016:91). Gunawan dkk. (2018:14) menjelaskan bahwa model pembelajaran konvensional
membosankan bagi siswa, sehingga perlu adanya perubahan model pembelajaran agar siswa
dapat tertarik pada materi yang diajarkan. Guru dapat melakukan pembelajaran yang efektif
dan bermakna, apabila guru mampu memilih dan menggunakan model pembelajaran yang
tepat dan sesuai denga tujuan yang telah ditetapkan (Rahmayani, dkk., 2019:247).

Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 menyatakan beberapa tujuan pembelajaran


matematika, yakni (1) siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan menggunakan konsep maupun algoritma secara
luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) siswa mampu menalar pola
sifat dari matematika, mengembangkan dan memanipulasi matematika dalam menyusun
argumen, merumuskan bukti, atau mendeskripsikan argumen dan pernyataan matematika, (3)
memecahkan masalah matematika yang meliputi kemampuan memahami masalah,
menyusun model penyelesaian matematika, menyelesaikan model matematika, dan
memberikan solusi yang tepat, dan (4) mengomunikasikan argument atau gagasan dengan
diagram, tabel, symbol, dan media lainnya agar dapat memperjelas permasalahan atau
keadaan.

Ketercapaia tujuan pembelajaran matematika tersebut dapat dilihat dari ketuntasan


hasil belajar matematika yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran
matematika. Kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dinamakan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016). KKM dapat
dijadikan indikator baik atau tidaknya hasil belajar matematika serta patokan keberhasilan
proses pembelajaran (Nurhasanah & Sobandi, 2016:129).

Peneliti memperoleh data nilai ulangan harian matematika untuk mengetahui


ketercapaian KKM hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam As-Shofa
Pekanbaru. KKM yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu 78. Berdasarkan data yang
diperoleh, nilai ulangan harian matematika materi pola bilangan pada semester genap tahun
ajaran 2024/2025 menunjukkan bahwa persentase ketercapaian KKM siswa hanya mencapai
39,02%. Hal ini menunjukkan rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII SMP Islam As-Shofa
Pekanbaru. Lebih dari 50% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang
ditetapkan.

Hasil belajar matematika rendah menunjukkan indikasi ketidakefektifan proses


belajar matematika (Supardi, 2012:244). Menurut Nabillah dan Abadi (2019:662) rendahnya
hasil belajar siswa disebabkan oleh siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran, siswa
kurang aktif dalam proses pembelajaran, guru kurang terampil dalam memberikan materi
pembelajaran, ketidaktepatan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta
anggapan siswa bahwa matematika adalah pembelajaran yang sulit dan menakutkan.
Oktaviani, dkk. (2020:5) juga menjelaskan faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar
matematika siswa yaitu (1) faktor internal, diantaranya siswa tidak tertarik dengan
matematika, kemampuan berhitung siswa lemah, rendahnya pemahaman konsep, tidak
mngerti simbol matematika, kurang disiplin dan motivasi belajar rendah, serta (2)faktor
eksternal, diantaranya ruang kelas panas dan guru yang kurang menarik siswa dalam
penyampaian materi.

Penelitian berusaha mencari faktor-faktor penyebab rendahnya hasil belajar dengan


melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran matematika siswa di kelas VIII SMP
Islam As-Shofa Pekanbaru. Umumnya, kegiatan pendahuluan guru menyiapkan siswa secara
psikis dan fisik. Guru memberikan apersepsi atau mengingatkan kembali materi prasyarat
yaitu mengenai jenis-jenis bilangan dengan melakukan tanya jawab kepada siswa, akan
tetapi guru tidak memberikan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru belum
mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan permasalahan pada kehidupan sehari-hari.
Sehingga belum terlihat manfaat dari materi yang akan dipelajari. Guru tidak menyampaikan
tujuan pembelajaran, sehingga siswa tidak mengetahui apa yang akan dicapai setelah
mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Pada permendikbud No. 22 Tahun 2016
tentang Standar Proses dijelaskan bahwa guru wajib memberi motivasi pembelajaran secara
kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Guru juga wajib menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai
selama proses pembelajaran.

Pada kegiatan inti guru memberi penjelasan mengenai materi pola bilangan sub
materi menentukan persamaan dari suatu konfigurasi objek, namun pembelajaran kurang
efektif karena siswa tidak memperhatikan penjelasan dari guru karena tidak focus dan
berbicara dengan teman sebangku. Setelah guru selesai menyampaikan materi, guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya terkait materi yang telah dijelaskan,
akan tetapi hanya satu orang saja yang bertanya. Guru bertanya kembali apakah siswa sudah
mengerti terkait materi yang telah dijelaskan guru. Guru memberikan waktu kepada siswa
untuk mencatat materi yang telah dijelaskan. Setelah siswa selesai mencatat, guru
memberikan dua soal mengenai pola bilangan ganjil dan pola bilangan segitiga. Pada saat
mengerjakan soal, siswa merasa kesulitan karena tidak memahami soal. Siswa merasa
kesulitan untuk menentukan model matematika dari soal yang diberikan guru. Guru
memberikan kepada siswa yang telah menyelesaikan soal untuk menuliskan jawaban di
papan tulisan dan membahas penyelesaian soal secara bersama-sama. Siswa yang tidak bisa
menyelesaikan soal hanya menyalin jawaban yang telah dibahas.

Guru masih mendominasi dalam proses pembelajaran (teacher centered).siswa


cenderung pasif, kurangnya respon siswa terhadap pertanyaan guru, dan belum berani
bertanya apabila ada hal yang tidak dimengerti. Guru dapat meningkatkan minat belajar dan
partisipasi siswa melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat 2mencapai
tujuan pembelajaran. Pada Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses
dijelaskan bahwa guru menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media
pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik siswa. Berdasarkan
pengamatan peneliti, guru masih menggunkana model konvensional. Model pembelajaran
konvensional yaitu guru hanya menerangkan materi pembelajaran saja artinya hanya
berpusat pada guru yang mengakibatkan siswa mengantuk pada proses pembelajaran,
berbicara dan melakukan aktivitas lain elama proses pembelajaran (Iswari, dkk., 2017:3).
Pembelajaran yang dilakukan hanya satu arah mengakibatkan minimnya respon dari siswa.
Guru seharusnya memberikan kesempatan dan mengarahkan siswa untuk menentukan sendiri
konsep matematika yang dipelajari.

Pada kegiatan penutup, guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, memberikan
pekerjaan rumah (PR), dan menginformasikan materi untuk pertemuan selanjutnya, yakni
mengenai pola bilangan persegi panjang, cross, dan belah ketupat, kemudian guru menutup
pembelajaran dengan mengucapkan salam. Berdasarkan Permendikbud No.22 Tahun 2016
tentang Standar Proses dijelaskan bahwa guru bersama siswa seharusnya melakukan refleksi
untuk mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran secara bersama dan
menentukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah
dilaksanakan.

Dari gambaran proses pembelajaran yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa
kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru
sudah terlaksanakan meskipun masih terdapat kekurangan. Dalam kegiatan pembelajaran
guru telah berupaya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar matematika siswa kelas VIII
SMP Islam As-Shofa Pekanbaru seperti guru menyampaikan materi dengan bahasa yang
jelas, menegur siswa apabila tidak focus mengikuti kegiatan pembelajaran, memberikan
contoh soal agar siswa mahir dalam mengerjakan soal-soal. Upaya yang telah dilakukan guru
masih belum membuahkan hasil yang maksimal untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru.

Dalam rangka menggali permasalahan yang dialami oleh siswa selama kegiatan
pembelajaran matematika di kelas, peneliti melakukan wawancara terhadap tiga siswa kelas
VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru. Berdasarkan hasil wawancara peneliti memperoleh
informasi, yaitu matematika adalah mata pelajaran yan menakutkan dan membosankan
sehingga siswa tidak memiliki minat belajar, siswa merasa sulit untuk memahami soal
khususnya pada soal kontekstual,siswa merasa takut bertanya kepada guru tentang materi
yang tidak dipahami, siswa merasa kegiatan pembelajaran monoton dan hanya menggunakan
metode ceramah atau konvensional, dan hasil belajar siswa rendah.

Peneliti juga melakukan wawancara terhadap guru matematika. Berdasarkan hasil


wawancara peneliti memperoleh informasi, yaitu siswa kurang aktif dalam kegiatan
pembelajaran dan kurang memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru, siswa
kesulitan untuk memahami soal yang diberikan, pada saat mengerjakan latihan siswa hanya
menyalin jawaban teman sehingga siswa tidak sepenuhnya memahami konsep yang
dipelajari. Dalam menyampaikan materi pembelajaran, guru langsung menjelaskan
keseluruhan materi dan siswa hanya mencatat materi yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh guru dan siswa, perlu adanya
perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran matematika di kelas. Kegiatan pembelajaran yang
diharapkan adalah kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran artinya pembelejaran berpusat pada siswa, memuahkan siswa
memahami konsep pembelajaran dan menyelesaikan masalah kontekstual pada kehidupan
sehari-hari. Pembelajaran matematika yang efektif dapat membantu siswa mencapai tujuan
pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar matematika.

Dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran, guru dapat menerapkan suatu model
pembelajaran yang tepat sebagi salah satu solusi (Kuswadi, dkk., 2022:600). Model
pembelajaran merupakan pola desain pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah
pembelajaran untuk membantu siswa mengkonstruksi informasi dan membuat pembelajaran
menjadi terarah sampai pada evaluasi akhir sehingga dapat melihat ketercapaian kegiatan
pembelajaran (Isrokatun & Rosmala, 2018:27). Riswati, dkk. (dalam Fauziah, 2018:41)
berpendapat bahwa salah satu cara yang dapat membuat siswa aktif adalah dengan
menerapkan model dalam proses pembelajaran. Hasil belajar yang baik dapat dicapai jika
guru mampu menggunakan model yang sesuai dalam menyampaikan materi kepada siswa
(Fauziah, 2018:42).

Model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru matematika kelas VIII SMP
Islam As-Shofa Pekanbaru adalah model pembelajaran yang dapat memperbaiki proses
pembelajaran sesuai dengan permasalahan siswa, dapat menciptakan kegiatan pembelajaran
yang berpusat pada siswa, dan memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan
kehidupan sehari-hari. Widayanti & Nuraini (2020:14) menjelaskan bahwa pembelajaran
yang berpusat pada siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Anindyta & Suwarjo
(2014:212) menyatakan bahwa model pembelajaran yang inovatif dan menekan pada
kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan masalah dalam kehidupan sehari-
hari sebagai acuan dalam proses pembelajarannya adalah model pembelajaran berbasis
masalah atau model Problem Based Learning (PBL).

Model PBL adalah suatu model pembelaaran yang menyajikan masalah pada
kehidupan sehari-hari sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berfikir kritis, keterampilan
pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep dasar dari materi
pembelajaran (Maryati, 2019:64). Pada Permendikbud No. 103 Tahun 2014, model PBL
adalah salah satu model pembelajaran yang disarankan dalam Kurikulum Merdeka. PBL
dilaksanakan untuk mengembangkan keterampilan berfikir kritis siswa dan siswa dilibatkan
secara aktif dalam menyelesaikan masalah, lebih focus dalam penyelidikan, diskusi dan lain
sebagainya pda saat pembelaaran (Husnidar & Hayati, 2021:68).

Dalam model PBL, siswa memperoleh pengetahuan dalam konteks dimana


pengetahuan itu digunakan (Kristiyanto, 2019:88). Komponen konteks meliputi personal,
sosial budaya, dan saintifik (Rohim et al., 2021:60). Konteks personal yang berfokus pada
aktivitas seseorang, keluarganya, atau kelompoknya. Konteks sosial budaya yang berkaitan
dengan masalah komunitas atau masyarakat, baik itu lokal atau daerah, nasional, maupun
global. Konteks saintifik yait berkaitan dengan aplikasi matematika di alam semesta dan isu
serta topik yang berkaitan dengan sains dan teknologi (Novianti, 2021:88).

Model pembelajaran PBL dapat dimodifikasi dengan memasukkan konteks lokal


dalam kegiatan pembelajarannya (Hikmawati, dk., 2022:436). Integrasi konteks lokal dalam
pembelajaran merupakan wujud pembelajaran berbasis kontekstual, yakni siswa dapat
menghubungkan materi yang dipelajari dengan berbagai fenomena matematika dari
perspektif pengalaman hidup mereka sendiri (Charmila, dkk., 2016:199). Pembelajaran
dengan konteks lokal akan menciptkan pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga
mendukung siswa untuk memecahkan masalah dengan mengintegrasikan pengetahuan dan
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari (Suprapto, dkk., 2021:75).

Pembelajaran dengan konteks lokal juga membuat siswa menjadi lebih mengenal
budaya lokal atau tradisi yang bersifat turun-temurun yang dapat dilestarikan agar tidak
tergerus perkembangan zaman (Hikmawati & Suastra, 2021:196). Ide-ide matematika
diterapkan dalam konteks sosial budaya yang unik mengacu pada penggunaan konsep-
konsep matematika dan prosedur yang diperoleh di luar sekolah (Wulandari & Puspadewi,
2016:32). Pembelajaran matematika berbasis budaya akan menjadi alternatif pembelajaran
yang menarik, menyenangkan, dan inovatif karena memungkinkan terjadi pemaknaan secara
kontekstual berdasarkan pada pengalaman siswa sebagai anggota suatu masyarakat budaya
(Surat, 2918:146). Menurut Massarwe, dkk. (dalam Wulandari & Puspadewi, 2016:35),
siswa yang diajar dengan budaya menunjukkan hal yang sama, yaitu mereka menganggap
pembelajaran lebih bermakna dengan menyenangkan. Umbara, dkk (dalam Rezky, dkk,
2022:1550) menjelaskan bahwa melalui masalah konteks sosial budaya dapat memberikan
makna baik kepada pendidik maupun pembelajar bahwa juga berasal dari sekumpulan tradisi
dan budaya masyarakat tertentu.

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, objek pemajuan


budaya meliputi : (1) tradisi lisan, (2) manuskrip, (3) adat istiadat, (4) ritus, (5) pengetahuan
tradisional, (6) teknologi tradisional, (7) seni, (8) bahasa, (9) permainan rakyat, (10) olahraga
tradisional. Peneliti menggunakan konteks lokal sosial budaya Provinsi Riau karena
menyesuaikan dengan lokasi penelitian. Konteks lokal sosial budaya Riau memiliki potensi
yang beraneka ragam yang dapat dijadikan sumber referensi dalam pembelajaran matematika
di sekolah, diantaranya kuliner, kerajinan, permainan tradisional, dan objek wisata. Kuliner
khas Riau ada berbagai macam, misalnya bolu kemojo, bolu dam, roti jala dan asidah.
Kerajinan khas Riau diantaranya ada kain tenun dan kain batik. Permainan tradisional Riau
diantaranya laying-layang, gasing, dan adu buah para. Objek wisata Provinsi Riau
diantaranya Rumah Singgah Tuan Kadi, Ulu Kasok, Pulau Cinta Teluk Jering. Semua objek
tersebut dapat dijadikan konteks dalam pembelajaran matematika.

Pada kelas VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru, siswa belum pernah mengikuti
pembelajaran berbasis konteks lokal sosial budaya Riau. Pada penelitian ini peneliti
melakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan PBL serta mengaitkan materi
pembelajaran dengan konteks lokal sosial budaya Riau. Pembelajaran dengan konteks lokal
sosial budaya Riau diharapkan mampu mengaitkan wawasan siswa terhadap warisan budaya
Provinsi Riau, khususnya tentang kuliner, kerajinan, permainan tradisional dan objek wisata.
Pembelajaran dengan konteks lokal Provinsi Riau juga diharapkan menumbuhkan rasa cinta
siswa terhadap budaya lokal.

Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik materi ajar dan


karakteristik siswa melalui pemanfaatan lingkungan belajar yang terdapat di sekolah
(Isrokatun & Rosmala, 2018:26). Pada penerapan model PBL dengan konteks lokal sosial
budaya Riau, peneliti memilih materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV).
SPLDV merupakan salah satu materi matematika yang menyajikan masalah sesuai situasi
yang ada, yaitu permasalahan sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
(Achir, dkk., 2017:79). Guru diharapkan mampu menunjukkan secara nyata kepada siswa
kebermaknaan materi SPLDV.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan menerapkan


model Problem Based Learning (PBL) dengan konteks lokal sosial budaya Riau untuk
memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas
VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru tahun ajaran 2025/2026 pada materi Sistem Persamaan
Linier Dua Variabel (SPLDV).

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah pada
penelitian ini yaitu : Bagaimana penerapan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) dengan konteks lokal sosial budaya Riau dapat memperbaiki proses pembelajaran dan
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru
pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV) semester ganjil tahun ajaran
2025/2026?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan


hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam As-Shofa Pekanbaru pada materi
Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV) semester ganjil tahun ajaran 2025/2026
melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) dengan konteks lokal sosial
budaya Riau.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya:

1.

Anda mungkin juga menyukai