LAPORAN PENDAHULUAN
PEMUNUHAN KEBUTUHAN MATERNITAS DAN ANAK
HIPERTERMIA
DI PUSKESMAS BULULAWANG
NAMA : SITI DWI MAMBAUL ULUM
NIM : 2211086
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN
RS [Link]
KESDAM V/BRAWIJAYA
2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Obsevasi Febris (OF) di Pukesmas Bululawang, Oleh :
Nama : Siti Dwi Mambaul Ulum
NIM : 2211086
Prodi : S1 Kperawatan
telah dikonsultasikan dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Mengetahui,
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik
(.................................................................) (.............................................................)
A. Definisi
Demam/Fever/Febris, bila suhu tubuh > 37,70 C. Ada yang menyebutkan demam
sebagai peningkatan suhu tubuh diatas normal (38,0°C – 40,0°C). Hiperpireksia, bila
suhu tubuh > 41,10 C, ada juga yang menyebutkan > 40,0 °C. Subfebris, bila suhu tubuh
diatas normal, tapi lebih rendah dari 37,70°C (Zein, 2012).
Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang masuk ke dalam
tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh normal (>37,5°C). Demam adalah
proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Demam terajadi
pada suhu > 37, 2°C, biasanya disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, jamu atau parasit),
penyakit autoimun, keganasan , ataupun obat – obatan (Hartini, 2015).
Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai akibat
peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Sebagian besar demam pada anak
merupakan akibat dari perubahan pada pusat panas (termoregulasi) di hipotalamus.
Penyakit – penyakit yang ditandai dengan adanya demam dapat menyerang sistem
[Link] itu demam mungkin berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas
spesifik dan non spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi
(Wardiyah, 2016).
B. Etiologi
Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain infeksi juga
dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat,
juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya perdarahan otak, koma). Pada
dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain:
ketelitian pengambilan riwayat penyekit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi
perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium, serta penunjang lain secara
tepat dan holistic (Nurarif, 2015).
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun
penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau zat
toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak
atau dehidrasi (Guyton dalam Thobroni, 2015).
Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam Thobroni
(2015) bahwa etiologi febris,diantaranya :
1. Suhu lingkungan.
2. Adanya infeksi
3. Pneumonia.
4. Malaria.
5. Otitis media.
6. Imunisasi
C. Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2
dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipid dan
permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal, memmbran sel neuron dapat dilalui
dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) serta
elektrolit lainnya kecuali ion kloirda (Cl-). Akibatnya, konsentrasi ion K+ dalam neuron
tinggi dan konsentrasi ion Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron berlaku sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat
perbedaan potensial membran yang disebut sebagai potensial membran dari neuron.
Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini, diperlukan energi dan bantuan
enzim Na-K-ATP-ase ynag terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial
membran ini dapat diubah oleh:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstra seluler
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawia atau aliran
listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran neuron itu sendiri karena penyakit atau
keturunan
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10,0°C akan meningkatkan metabolisme basal 10-
15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun,
sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya
mencapai 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun
ion natrium melalui membran sel yang mengakibatkan lepasnya aliran listrik. Lepasnya
aliran listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh bagian sel
maupun membran sel di sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” sehingga
terjadilah [Link] kejang tiap anak berbeda. Pada anak dengan ambang rendah,
kejang dapat terjadi pada suhu 38,0°C, sedang anak dengan ambang kejang tinggi, kejang
baru terjadi pada suhu 40,0°C atau lebih.
D. Pathway
Agen infeksius
Mediator inflamasi Dehidrasi
Monosit/makrofag Tubuh kehilangan
cairan
Sitokon pirogen Penurunan cairan
intrasel
Mempengaruhi
hipotalamus anterior
Hipertermi
Peningkatan Meningkatnya
suhu tubuh Metabolic Ph berkurang Gelisah
tubuh
Kurangnya
hipertermi anoreksia paparan
kelemahan informasi
Susah tidur Intake
Intoleransi berkurang Ansietas
aktivitas
Gangguan pola Definisi
tidur nutrisi
E. Manifestasi klinis
Menurut Nurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,5⁰C – 39,0⁰C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan demam menurut (Zenin, 2015) adalah sebgai berikut :
1. Pemeriksaan Radiologis
thorax, USG upper dan lower abdomen, bila dibutuhkan juga harus diperiksa CT scan
abdomen, pemeriksaan darah lengkap, termasuk kimia darah, serologi terhadap
beberapa seromarker yang ada, serta pemeriksaan imunologi, seperti ANA test untuk
melihat kemungkinan SLE.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Darah dan urine rutin merupakan pemeriksaan dasar untuk penjajakan demam. Kalau
dari darah dan urine rutin sudah dapat menemukan penyebab demam, maka
pemeriksaan lainnya hanya untuk konfirmasi diagnostik atau untuk melihat
kemungkinan komplikasi.
3. Pemeriksaan feses
merupakan pemeriksaan sederhana secara mikroskopik, dapat menemukan berbagai
mikroorganisme penyebab demam, seperti amuba, shigella, berbagai cacing usus, dan
berbagai jenis jamur. Pemeriksaan feses bisa dilanjutkan dengan kultur dan tes
sensitivitas serta PCR. Bila diperlukan kultur feses sesuai dengan mikroorganiosme
yang dicurigai sebagai penyebab.
4. Malaria smear
Merupakan pemeriksaan dengan sediaan darah tebal dan tipis harus dilakukan pada
pasien demam yang dicurigai malaria. Pemeriksaan darah malaria harus diambil dari
ujung jari (darah tepi, bukan darah vena). Hapusan darah tebal dan tipis dibuat dalam
satu slide, dan untuk darah tebal, tidak difiksasi. Pewarnaan Giemsa untuk sediaan
darah tepi malaria harus susuai dengan standard.
5. Rapid Diagnostic Test (RDT)
Merupakan pemeriksaan dengan stick saat ini banyak digunakan untuk mendeteksi
berbagai infeksi seperti DBD (NS1, IgM, IgG), Malaria (falciparum dan vivax),
Influenza, Demam tifoid (typhidot), Leptospirosis, Infeksi HIV.
6. Kimia Darah
seperti Elektrolit, gula darah, ureum, kreatinin, LFT, dan lain-lain tergantung kondisi
klinis pasien. Pemeriksaan kimia darah ditujukan untuk melihat fungsi organ dan
gangguan metabolik lain akibat penyakit yang mendasari atau akibat komplikasinya,
dan juga untuk menunjang diagnosis penyebab demamnya. Misalnya, tuberkulosis
selalu sebagai komplikasi diabetes, gangguan fungsi ginjal terjadi pada Weil’s
diseases, hiponatremia bisa terjadi pada malaria dan DBD, enzim transaminase selalu
meninggi pada DBD, leptospirosis dan malaria.
G. Komplikasi
Kerugian yang bisa terjadi pada anak yang mengalami demam dan hipertermia
adalah dehidrasi, karena pada keadaan demam terjadi pula peningkatan pengeluaran
cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Pada kejang demam,
juga bisa terjadi tetapi kemungkinannya sangat kecil (Hartini, 2018).
Menurut (Potter &Perry, 2016), Komplikasi yang di akibaktkan hipertemia adalah
sebgai berikut :
1. Dehidrasi : demam meningkat mengakibatkan penguapan cairan tubuh
2. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada
anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan
umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak membahayan
otak
3. Takikardi, Insufisiensi jantung, Insufisiensi pulmonal
H. Penatalaksanaan Medis
Penanganan demam terbagi menjadi dua, yaitu penanganan tanpa obat (terapi
non- farmakologis) dan dengan obat (terapi farma- kologis). Penanganan tanpa obat
dilakukan dengan pemberian perlakuan khusus yang dapat membantu menurunkan suhu
tubuh meliputi pemberian cairan, penggunaan kompres hangat basah, kompres hangat
kering menggunakan buli-buli hangat,kompres dingin basah dengan larutan obat anti
septik. Penanganan dengan obat dilakukan dengan pemberian obat golongan antipiretik
yang dapat menurunkan suhu tubuh dengan berbagai mekanisme (Sudibyo et al., 2020).
Pada keadaan hipepireksia ( demam ≥ 41,0 °C ) jelas diperlukan penggunaan obat
– obatan antipiretik. Ibuprofen mungkin aman bagi anak – anak dengan kemungkinan
penurunan suhu yang lebih besar dan lama kerja yang serupa dengan kerja asetaminofin.
I. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan diawali dengan mencari data dasar yang akurat berupa hasil
pengkajian. Setelah pengkajian maka ditegakkan diagosa keperawatan lalu menyusun
rencana tindakan (intervensi) sebagai panduan dalam melakukan tindakan keperawatan
(implementasi). Proses asuhan keperawatan yang terakhir adalah evaluasi keperawatan
untuk menilai keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilakukan (Dinarti &
Mulyanti, 2017).
1. Identitas klien
Identitas klien Meliputi : nama, tempat/ tanggal lahir, umur, jenis kelamin, nama
orang tua, perkerjaan orang tua, alamat, suku, bangsa, agama.
2. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama Klien yang biasanya menderita febris mengeluh suhu tubuh panas >
37,5 °C, berkeringat, mual/muntah..
3. Riawayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya didapatkan peningktan suhu tubuh diatas 37,5 °C, gejala febris yang
biasanya yang kan timbul menggigil, mual/muntah, berkeringat, nafsu makan
berkurang, gelisah, nyeri otot dan sendi.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan dulu Pengakjian yang ditanyakan apabila klien pernah mengalmi
penyakit sebelumnya.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Penyakit keluarga Penyakit yang pernah di derita oleh keluarga baik itu
penyakit keturunan ataupun penyakit menular, ataupun penyakit yang sama.
6. Pemriksaan Fisik
a) Kesadaran Biasanya kesadran klien dengan febris 15 – 13, berat badan serta tinggi
badan
b) Tanda – tanda vital Biasa klien dengan febris suhunya > 37,5 °C, nadi > 80x
c) Head to toe
1) Kepala dan leher Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak
2) Kulit, rambut, kuku Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.
3) Mata Umumnya mulai terlihat cekung atau tidak.
4) Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut Bentuk, kebersihan, fungsi indranya
adanya gangguan atau tidak, biasanya pada klien dengan febris mukosa bibir
klien akan kering dan pucat.
5) Thorak dan abdomen Biasa pernafasan cepat dan dalam, abdomen biasanya
nyeri dan ada peningkatan bising usus bising usus normal pada bayi 3 – 5 x
6) Sistem respirasi Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam
7) Sistem kardiovaskuler Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya
meningkat
8) Sistem muskuloskeletal Terjadi gangguan apa tidak.
9) Sistem pernafasan Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang tertinggal /
gerakan nafas dan biasanya kesadarannya gelisah, apatis atau koma
7. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau
komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan aktual ataupun
potensial sebagai dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil
tempat perawat bertanggung jawab (Nikmatur,2012). Diagnosa keperawatan adalah
cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik klien secara
respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doengoes, 2014), berikut diagnosa
yang muncul pada observasi febris :
a. Hipertermia berhubungan denga proses penyakit
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
c. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
8. Intervensi Keperwatan
a. Hiperterimia berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam di harapkan
tercapai kriteria hasil :
Menggigil menurun
Suhu tubuh membaik
Suhu kulit membaik
Intervensi SIKI PPNI (2018) Manajemen Hipertermia (I.15506)
Observasi
Identifikasi penyebab hipertermia (mis: dehidrasi, terpapar lingkungan
panas, penggunaan inkubator)
Monitor suhu tubuh
Monitor kadar elektrolit
Monitor haluaran urin
Monitor komplikasi akibat hipertermia
Terapiutik
Sediakan lingkungan yang dingin
Longgarkan atau lepaskan pakaian
Basahi dan kipasi permukaan tubuh
Berikan cairan oral
Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis
(keringat berlebih)
Lakukan pendinginan eksternal (mis: selimut hipotermia atau kompres
dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
Kolaboasi pemberian cairan dan elektrolit intra vena
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
Tujuan Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam di harapkan
tercapai kriteria hasil :
Keluhan sulit tidur menurun
Keluhan sering terjaga menurun
Keluhan istirahat tidka cukup menurun
Intervensi SIKI PPNI (2018) Dukungan Tidur (I.05174)
Observasi
Identifikasi pola aktivitas dan tidur
Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)
Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis: kopi,
teh, alcohol, makan mendekati waktu tidur, minum banyak air sebelum
tidur)
Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Terapiutik
Modifikasi lingkungan (mis: pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan
tempat tidur)
Batasi waktu tidur siang, jika perlu
Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur
Tetapkan jadwal tidur rutin
Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis: pijat,
pengaturan posisi, terapi akupresur)
Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau Tindakan untuk menunjang
siklus tidur-terjaga
Edukasi
Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur
Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresor
terhadap tidur REM
Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur
(mis: psikologis, gaya hidup, sering berubah shift bekerja)
Ajarkan relaksasi otot autogenic atau cara nonfarmakologi lainnya
c. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
Tujuan Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam di harapkan
tercapai kriteria hasil :
Perilaku gelisah menurun
Perilaku tegang menurun
Pola tidur membaik
Intervensi SIKI PPNI (2018) Reduksi Ansietas
Observasi
Identifikasi saat ansietas berubah
Monitor tanda-tanda asnietas
Terapiutik
Ciptakan suasana terapiutik untuk menumbuhkan kepercayaan
Temani pasien untuk mengurangi kecemasan
Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
Edukai
Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketagangan
Latih teknik relaksasi
9. Implementasi Keperawatan
Menurut Potter & Perry (2017) implementasi keperawatan adalah serangkaian
kegiatan yang dilakuakn oleh tenaga keperawatan guna membantu klien dari masalah
kesehatan yang dihadapi menju ke status kesehatan yang lebih baik sehingga
memenuhi kriteria hasil yang diharapkan. Terdapat tiga prinsip pedoman
implementasi keperawatan, yaitu:
a. Memberikan Asuhan Keperawatan yang efektif
Asuhan keperawatan yang efektif adalah asuhan yang diberikan kepada pasien
sesuai dengan keilmuan baik pengetahuan ataupun pengalaman perawat.
b. Mempertahankan keamanan pasien
Keamanan pasien merupakan hal yang utama dalam melakukan tindakan
keperawatan, oleh karena itu, seorang perawat haru memperhatikan segi
keamanan pasien sehingga terhindar dari pelanggaran etika standar keperawatan
profesional.
c. Memberikan asuhan keperawatan se-efisien mungkin
Asuhan keperawatan yang efisien diartikan sebagai tindakan tenaga perawat
dalam memberikan asuhan dapat menggunakan waktu sebaik mungkin sehingga
dapat memenuhi kriteria kesembuhan pasien dengan cepat dan tepat
10. Evaluasi Keperawatan
Dengan pencapaian kriteria hasil, pasien keluar dari siklus proses keperawatan dan
rencana asuhan keperawatan berakhir. Perawat menulis catatan pulang yang
meringkas resolusi dari setiap diagnosa keperawatan. Catatan pulang ini
menunjukkan status pasien saat dipulangkan dari sistem perawatan kesehatan, tanda-
tanda vital, prosedur-prosedur yang dilakukan, obat-obatan, kemampuan merawat
diri, sistem pendukung dan perjanjian untuk kontrol adalah contoh-contoh informasi
yang dimasukkan dalam catatan pulang. Jika kriteria hasil tidak tercapai, pasien
masuk kembali ke siklus proses keperawatan (Ardiansyah, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Baradero. (2017). Klien Gangguan Hati: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Budaya. (2019). A To Z BPH (Benign Prostatic Hyperplasia). Malang: UB Press.
Doenges, M. E. (2014). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Himawan. (2019). Sistem Kelamin Laki-Laki dan Saluran Buku ajar patologi. Jakarta: Elsevier.
Nikmatur. (2012). Proses Keperawatan Teori & Aplikasi. Yogyakarta: AR-Ruz Media.
Nuari. (2017). Gangguan pada Sistem Perkemihan dan Penatalaksanaan Keperawatan.
Yogyakarta: Deepublisher.
Nurarif. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan nanda nic-noc.
Jokjakarta: Mediaction.
Purnomo. (2016). Dasar-dasar Urologi. Edisi ke-3. Malang: Sagung Seto.
Smeltzer, B. d. (2016). uku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta:
EGC.