0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan27 halaman

Tanda dan Komplikasi Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan dan persalinan, termasuk pengertian, tanda-tanda, komplikasi, dan asuhan antenatal. Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester dan memiliki tanda-tanda pasti serta tidak pasti, sementara persalinan melibatkan proses pembukaan serviks dan penurunan janin. Asuhan antenatal bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

idaningsihs.keb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan27 halaman

Tanda dan Komplikasi Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan dan persalinan, termasuk pengertian, tanda-tanda, komplikasi, dan asuhan antenatal. Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester dan memiliki tanda-tanda pasti serta tidak pasti, sementara persalinan melibatkan proses pembukaan serviks dan penurunan janin. Asuhan antenatal bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

idaningsihs.keb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KEHAMILAN
1. Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahir janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari
hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 trimester yaitu
trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai 12 minggu, trimester kedua
dari 13 minggu sampai 28 minggu, trimester ketiga dari 29 sampai 40
minggu.5
Kehamilan adalah lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai
partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43
minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan).
Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur.
Kehamilan antara 28 minggu disebut kehamilan premature.5
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang saling berkaitan, dan
terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigot, nidasi atau implantasi pada uterus, pembentukan plasenta
dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.5
2. Tanda – Tanda Kehamilan
a. Tanda Pasti
1) Terlihat embrio atau kantung kehamilan melauli USG pada 4-6
minggu sesudah pembuahan
2) Denyut jantung janin ketika usia kehamilan 10-20 minggu. Di dengar
dengan stetoscop leanec, alat kardiotokografi, alat dopler, atau di lihat
dengan ultrasonografi.

5
6

3) Terasa gerak janin dalam rahim. Pada primigravida bisa dirasakan


ketika kehamilan berusia 18 minggu, sedangkan pada multigravida di
usia 16 minggu. Terlihat atau teraba gerakan janin dan bagian-bagian
janin.
4) Pada pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin
b. Tanda tidak pasti
1) Amenore (tidak adanya mentruasi). Konsepsi dan nidasi menyebabkan
tidak terjadinya pembentukan folikel de graaf dan ovulasi
2) Mual di pagi hari (tanpa muntah) terjadi pada 2-8 minggu setelah
pembuahan. Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan
pengeluaran asam lambung yang berlebihan.
3) Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu)
4) Sering buang air kecil karena adanya desakan rahim ke depan,
kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi
5) Pingsan. Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)
menyebabkan adanya iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan
syncope atau pingsan
6) Mammae menjadi tegang dan membesar. Keadaan ini disebabkan oleh
pengaruh hormone estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli
dan alveoli pada mamma Glandula montgomeri. Ujung saraf tertekan
sehingga menyebabkan rasa sakit, terutama pada hamil pertama
7) Anoreksia
8) Konstipasi dan obstipasi
9) Pigmen kulit terjadi pada kehamilan usia 12 minggu ke atas. Ada
beberapa bagian di mana pigmentasi terlihat jelas yaitu:
a) Sekitar pipi: Cloasma gravidarum
b) Dinding perut
c) Sekitar payudara
7

10) Epulsi. Suatu hipertrofi papilla ginggivae/hipetrofi gusi. Sering terjadi


pada trimester I.
11) Varises. Karena pengaruh dari estrogen dan progesteron terjadi
penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang
mempunyai bakat
c. Tanda kemungkinan
1) Rahim membesar sesuai dengan tuanya kehamilan
2) Pada pemeriksaan dijumpai:
a) Tanda hegar
b) Tanda Piscaseck
c) Tanda Chadwicks
d) Kontraksi Braxton hicks
e) Teraba ballottment
3) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif sebagai kemungkinan
positif palsu.6
3. Komplikasi Kehamilan
a. Kelainan dan tenggang waktu umur kehamilan yaitu abortus, partus
prematurus, dan partus imaturus (persalinan kurang bulan) dan kehamilan
serotinus (kehamilan lewat waktu).
b. Kelainan tempat kehamilan Ektopik (KE)
c. Kelainan telur misalnya mola hidatidosa
d. Penyakit dan kelainan plasenta
1) Penyakit-penyakit pada plasenta yaitu infark plasenta, klasifikasi
plasenta dan disfungsi plasenta.
2) Kelainan bentuk plasenta yaitu plasenta suksentaria, plasenta spuria,
plasenta membranase dan plasenta sirkumpalata
3) Kelainan implantasi plasenta yaitu implantasi dibagian bawah
sehingga menimbulkan berbagai bentuk plasenta previa dan implantasi
plasenta terlalu dalam
8

e. Kelainan tali pusat seperti kelainan insersi, simpul tali pusat dan lilitan
tali pusat
f. Kelainan air ketuban diantaranya polihidramnion/hidramnion,
oligohidramnion dan ketuban pecah dini.
g. Kelainan janin
h. Gestasi berupa hiperemesis gravidarum, preeklampsi dan eklampsi
[Link] antepartum yaitu plasenta previa dan solusio plasenta.6
4. Asuhan Antenatal
a. Tujuan
Tujuan asuhan kebidanan dalam kehamilan pada prinsipnya adalah
memberikan layanan atau bantuan untuk meningkatkan kesehatan ibu
hamil dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga. Kegiatan yang
dilakukan di dalam pelayanan kebidanan dapat berupa upaya peningkatan,
pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan.
Tujuan utama asuhan antenatal adalah sebagai berikut:
1) Untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun
bayinya dengan cara membina hubungan saling percaya dengan ibu.
2) Mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa
3) Mempersiapkan kelahiran
4) Memberikan pendidikan.
b. Kebijakan Program
Untuk menerima manfaat yang maksimum dari kunjungan-
kunjungan antenatal ini, maka sebaiknya ibu tersebut memperoleh
sedikitnya 4 kali kunjungan selama kehamilan, yaitu sebagai berikut.
1) 1 kali pada trimester I
2) 1 kali pada trimester II
3) 2 kali pada trimester III
9

Pelayanan ANC minimal 5 T, meningkat menjadi 7 T, dan sekarang


menjadi 12 T, sedangkan untuk daerah gondok dan endemik malaria
menjadi 14 T, yaitu:
5 T:
1) Ukur tinggi badan atau berat badan
2) Ukur tekanan darah
3) Ukut tinggi fundus uteri
4) Pemberian imunisasi TT
5) Pemberian tablet zat besi (minimal 90 tablet) selama kehamilan.
9 T:
6) Tes terhadap penyakit menular seksual/VDLR
7) Temu wicara/konseling
8) Tes/pemeriksaan Hb
9) Tes/pemeriksaan urin protein
10) Tes reduksi urin
11) Perawatan payudara (tekan pijat payudara)
12) Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil)
13) Terapi yodium kapsul (khusus daerah endemik gondok)
14) Terapi obat malaria.7
5. Iminusasi
Imunisasi TT perlu diberikan pada ibu hamil guna memberikan
kekebalan pada janin terhadap infeksi tetanus (Tetanus Neonatorum) pada
saat persalinan, maupun postnatal. Menurut WHO, jika seorang ibu belum
pernah mendapatkan imunisasi TT selama hidupnya, maka ibu tersebut
minimal mendapatkan paling sedikit 2 kali injeksi selama kehamilan
(pertama saat kunjungan antenatal pertama dan kedua, empat minggu setelah
kunjungan pertama). 8

6. Pemberian Tablet Zat Besi


10

Selama kehamilan seorang ibu hamil minimal harus mendapatkan 90


tablet tambah darah(Fe), karena sulit untuk mendapatkan zat besi dengan
jumlah yang cukup dari makanan. Untuk mencegah anemia seorang wanita
sebaiknya mengonsumsi sedikitnya 60 mg zat besi (mengandung FeSO4
320mg) dan 1 mg asam folat setiap hari. Akan tetapi, jika ibu tersebut sudah
menderita anemia, maka sebaiknya mengonsumsi 2 tablet besi dan 1 asam
folat per hari.8
B. PERSALINAN
1. Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin
turun ke dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu),
lahir spontan dengan presentasi belakang kepala, tanpa komplikasi baik ibu
maupun janin.1
2. Tanda- Tanda Persalinan
Sebelum terjadi persalinan, beberapa minggu sebelumnya wanita
memasuki kala pendahuluan (preparatory stage of labour) dengan tanda-tanda
sebagai berikut:
a. Perasaan distensi berkurang (lightening)
b. Terjadi his permulaan (His palsu)
c. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun
d. Perasaan sering atau susah buang air kecil
e. Serviks menjadi lembek
Adapun tanda dan gejala inpartu adalah sebagai berikut:
a. His yang lebih kuat, sering, dan teratur
b. Keluar lendir bercampur darah (bloody show)
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya
d. Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada
11

e. Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada seviks (frekuensi


minimal 2 kali dalam 10 menit)
3. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya persalinan
1. Tenaga/Kekuatan (Power)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah His,
kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi ligamen.
Kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah his, sedangkan
sebagai kekuatan sekundernya adalah tenaga meneran ibu.
2. Janin dan plasenta(passengger)
3. Jalan lahir (passege)
1) Jalan lahir keras, yaitu tulang-tulang panggul.
2) Jalan lahir lunak terdiri atas uterus, otot dasar panggul, dan perineum
4. Psikologi ibu bersalin
Faktor psikologis meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Melibatkan psikologis ibu, emosi, dan persiapan intelektual
b) Pengalaman melahirkan bayi sebelumnya
c) Kebiasaan adat
d) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu
5. Penolong (provider)
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan
menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin, dalam
hal ini tergantung dari kemampuan dan kesiapan penolong dalam
menghadapi proses persalinan.8
4. Tahapan Persalinan
Tahap – tahap persalinan terdiri dari 4 kala :
1. Kala I (kala pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir campur darah (blood
show), karena serviks mulai membuka dan mendatar.
12

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan


pembukaan serviks, hingga mencapai pembukaan lengkap (10cm)
Kala I dibagi 2 fase :
i) Fase laten
Berlangsung lambat, pembukaan sampai 3 cm, berlangsung 7 – 8 jam.
ii) Fase aktif (pembukaan 4-10cm)
Berlangsung 6 jam. Dibagi 3 sub fase:
a) Akselerasi : berlangsung 2 jam pembukaan, jadi 4 cm
b) Dilatasi maksimal : berlangsung 2 jam, pembukaan cepat menjadi 9
cm.
c) Deselarasi : berlangsung 2 jam, pembukaan lambat, 10 cm dalam
waktu 2 jam.
Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan pada
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan pada multigravida 2 cm/jam.
Tabel 2.1 Observasi selama Kala I
Parameter Fase Laten Fase Aktif
Tekanan darah Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Suhu badan Setiap 4 jam Setiap 2 jam
Nadi Setiap 30-60 menit Setiap 30-60 menit
DJJ Setiap 1 jam Setiap 30 menit
Kontraksi Setiap 1 jam Setiap 30 menit
Pembukaan serviks Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Penurunan Setiap 4 jam Setiap 4 jam
*dinilai pada setiap pemeriksaan dalam8

C. KALA I FASE AKTIF MEMANJANG


13

Persalinan fase aktif (atau persalinan aktif) biasanya mengacu pada


pembukaan serviks lebih dari 3 cm disertai kontraksi yang mengalami kemajuan,
yakni kontraksi yang menjadi semakin lama, kuat dan sering. Perlu diketahui
bahwa pada multipara terkadang pembukaan mencapai 3, 4 atau bahkan 5 cm
tanpa kontraksi yang mengalami kemajuan.3
Istilah persalinan aktif memanjang mengacu pada laju pembukaan yang
tidak adekuat setelah persalinan aktif didiagnosis. Diagnosis laju pembukaan tidak
adekuat bervariasi: kurang dari 1 cm setiap jam selama sekurang-kurangnya 2 jam
setelah kemajuan persalinan, kurang dari 1,2 cm per jam pada primigravida dan
kurang dari 1,5 cm per jam pada multipara, lebih dari 12 jam sejak pembukaan 4
cm sampai pembukaan lengkap (rata-rata 0,5 cm per jam).3
Faktor-faktor penyebab:
1. Diproporsi sepalopelvik
2. Partus macet
3. Inersia uteri
Karakteristik Fase Aktif Memanjang
1. Kontraksi melemah, sehingga menjadi kurang kuat, dan kontraksi lebih singkat
2. Kualitas kontraksi tetap sama seperti semula, tidak mengalami kemajuan
3. Pada pemeriksaan vaginal, pembukaan serviks tidak mengalami perubahan.
4. Pembukaan servik melewati kanan garis waspada partograf .3
Penatalaksanaan
1. Penanganan umum
a. Nilai dengan segera keadaan umum ibu hamil dan janin
b. Kaji kembali partograf, nilai frekuensi dan lamanya his
c. Perbaiki keadaan umum dengan dukungan emosional, perubahan posisi
(sesuai dengan penanganan persalinan normal).
d. Lakukan pemeriksaan vagina untuk menentukan kemajuan persalinan

2. Penanganan khusus
14

Penanganan khusus berdasarkan penyebabnya


a. Disproporsi Sepalovelvik
- Disproporsi sepalovelvik terjadi karena janin terlalu besar atau
panggul ibu kecil. Penilaian ukuran panggul yang baik adalah dengan
partus percobaan (trial labour)
- Jika terjadi disproporsi maka lakukan sectio cesarea
- Jika terjadi IUFD lakukan kraniotomi/embriotomi, jika keduanya
tidak memungkinkan maka lakukan sectio cesarea
b. Partus Macet
- Apabila janin masih hidup dan pembukaan serviks lengkap dan
penurunan kepala 1/5 lakukan ekstraksi vakum
- Apabila janin masih hidup dan pembukaan serviks belum lengkap
atau kepala bayi terlalu tinggi untuk vakum maka lakukan sectio
cesarea.
c. Inersia uteri
1) Pengertian
Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat
untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar.
Kekuatan his yang lemah dan frekuensinya jarang. Inersia uteri sering
dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti
anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion,
kehamilan kembar, makrosomia, grandemultipara atau primipara,
serta para penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi
pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif.
2) Inersia uteri dibagi menjadi dua yaitu :
a) Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten, sejak awal telah terjadi his
yang tidak adekuat sehingga sering sulit untuk memastikan apakah
penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.
15

b) Inersia uteri sekunder


Timbul setelah berlangsung his kuat untuk waktu yang lama dan
terjadi pada kala I fase aktif. His pernah cukup kuat tetapi
kemudian melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi
pada pembukaan.
3) Etiologi
Penyebab inersia uteri yaitu :
a) Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya
primigravida tua.
b) Inersia uteri sering dijumpai pada multigravida.
c) Faktor herediter
d) Faktor emosi dan ketakutan
e) Salah pimpinan persalinan
f) Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen
bawah uterus, seperti pada kelainan letak janin atau pada
disproporsi sefalopelvik
g) Kelainan uterus, seperti uterus bikornis unikolis
h) Salah pemberian obat-obatan, oksitosin dan obat penenang
i) Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau
hidramnion
j) Kehamilan postmatur
4) Komplikasi yang mungkin terjadi
Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama
yang akan mengakibatkan infeksi pada ibu dan janin serta kehabisan
tenaga dan dehidrasi.

5) Penanganan
a) Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunnya
bagian terbawah janin dan keadaan janin.
16

b) Apabila kepala sudah masuk PAP, anjurkan pasien untuk jalan-


jalan.
c) Buat rencana untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan
misalnya pada letak kepala :
- Berikan oksitosin drips 5-10 IU dalam 500 cc dextrose 5% atau
NaCl 0,9 % atau Ringer Laktat, dimulai dengan 12 tetes
permenit, dinaikkan 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit.
Tujuan pemberian oksitosin agar serviks dapat membuka.
- Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus. Bila tidak
memperkuat his setelah pemberian oksitosin beberapa lama
hentikan dulu dan anjurkan ibu untuk istirahat. Pada malam hari
berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya
diulang lagi pemberian oksitosin drip.
- Bila inersia uteri diserati disproporsi sefalopelvis maka
sebaiknya dilakukan seksio sesaria.
- Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri
sekunder, dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada
primi dan 18 jam pada multi tidak ada gunanya memberikan
oksitosin drips. Sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai
dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetrik lainnya (Ekstrasi
vakum, forcep dan seksio sesaria).9

Tabel 2.2 Diagnosa Partus Lama


Tanda dan Gejala Klinis
17

Pembukaan serviks tidak membuka Belum inpartu, fase labor


(kurang dari 3 cm) tidak didapatkan
kontraksi uterus
Pembukaan serviks tidak melewati 3 cm Fase laten memanjang
sesudah 8 jam inpartu
Pembukaan serviks melewati garis Fase aktif memanjang
waspada
Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang Inersia uteri
dari 3 kontraksi per 10 menit dan kurang
dari 40 detik
Kelainan presentasi (selain vertex) Malpresentasi
Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin Kala II Memanjang
mengedan, tetapi tidak ada kemajuan

3. Kala II (Pengeluaran Janin)


Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap
(10cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II persalinan ditandai
dengan adanya:
a. His semakin kuat
b. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
c. Tekanan pada rectum dan/atau vagina
d. Perineum terlihat menonjol
e. Vulva-vulva dan sfingter ani terlihat membuka
f. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah8

4. Kala III (Pengeluaran Uri)


18

Kala III dalam persalinan adalah periode waktu yang dimulai


setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput
ketuban.
Pada persalinan kala III, otot uterus (myometrium) berkontraksi
mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba – tiba setelah
lahirnya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini menyebabkan
berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat
melekatnya plasenta menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta
tidak berubah, maka plasenta akan menebal kemudian lepas dari dinding
uterus, setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau ke
dalam vagina.8
Tanda – tanda pelepasan plasenta :
1) Semburan darah tiba-tiba
2) Tali pusat memanjang
3) Uterus menjadi globular dan terjadi perubahan pada tinggi
fundus
Managemen aktif kala III terdiri dari tiga langkah utama:
1) Pemberian suntik oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi
lahir
2) Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)
3) Massase fundus uteri.

5. Kala IV
Dimulai dari setelah plasenta lahir sampai 2 jam postpartum.
Pemantauan lanjut pada kala IV meliputi tanda vital ibu, kontraksi uterus,
pengeluaran lochea, kandung kemih, juga perineum terutama
kebersihannya.
19

Pelaksanaan pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu


jam pertama pasca persalinan dan dilanjutkan dengan setiap 30 menit
setelah jam kedua pasca persalinan.8

D. MASA NIFAS
1. Pengertian
Masa nifas (peurperium) adalah masa ibu setelah melahirkan yaitu
dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama kira-kira 6
minggu.10
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun mental.
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan diri, nutrisi, menyusui, keluarga
berencana, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
d. Memberikan pelayanan Keluarga Berencana.10
3. Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas
Selama masa nifas terjadi berbagai perubahan pada ibu post partum
antara lain involusi rahim, pengeluaran lochea, perubahan pada serviks dan
vagina, laktasi serta perubahan pada sistem tubuh lainnya dan perubahan
serviks.10
a. Involusi Rahim
Kembalinya rahim ke bentuk semula, pada waktu hamil dapat terjadi
perubahan besar pada otot rahim, karena pembesaran selnya dan
pembesaran ukuran karena pertambahan jumlah selnya. Berat rahim
menjadi sekitar 1 kg, yang semula hanya 30 gram. Setelah persalinan
terjadi proses sebaliknya yang di sebut involusi.
20

Tabel 2.3 Tinggi Fundus Uteri Dan Berat Uterus Menurut


Masa Involusi

Involusi TFU Berat Uterus


Bayi lahir Sepusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat sympisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di bawah simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

b. Lochea
Cairan secret berasal dari vagina dan kavum uteri dan vagina dalam
masa nifas :
1) Lochea Rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, selama 2 hari pasca
persalinan.
2) Lochea Sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, pada hari ke-3 sampai
7 hari paska persalinan.
3) Lochea Serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke-7 sampai 14
hari pasca persalinan.
4) Lochea Alba
Cairan putih setelah 2 minggu pasca persalinan.
21

4. Kebijakan Progaram Nasional


Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali. Kunjungan
ini bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk
mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi.
Tabel 2.4 Jadwal kunjungan nifas dan tujuannya

Kunjungan Waktu Tujuan

1 6-8 Jam a. Mencegah terjadinya perdarahan.


b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan
berlanjut.
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas
karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermia.
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus
tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam
pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam
keadaan stabil.

2 6 hari a. Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus


setelah berkontraksi, fundus di bawah umbilikus tidak ada
persalinan perdarahan abnormal, dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan
pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan
istirahat.
22

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada


tanda-tanda penyulit.
e. Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada
bayi, cara merawat tali pusat dan bagaimana menjaga bayi
agar tetap hangat.
3 2 minggu
setelah
Tujuan sama dengan kunjungan 6 hari.
persalinan

4 6 minggu Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia alami


setelah atau bayi alami.
persalinan Memberikan konseling untuk KB secara dini.

5. Asuhan Masa Nifas


Asuhan masa nifas pada ibu bersalin dilakukan dalam bentuk
pengawasan sebagai berikut :
a. Mobilisasi
Mobilisasi dini/aktifitas segera pada masa nifas dapat mengurangi
kandungan lochea dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar
alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin keadaan semula.
b. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup teori / mengkonsumsi
tambahan 500 kalori setiap hari. Menu seimbang minimal sedikitnya 3
liter air setiap hari. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi
setidaknya 40 hari pasca persalinan.
c. Miksi
Hendaknya buang air kecil ( BAK) dapat dilakukan sendiri secepat
mungkin, bila tidak bisa dilakukan kateterisasi.
d. Defekasi
23

Buang air besar (BAB) harus dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan.


e. Menyusui
ASI mengandung semua bahan yang di perlukan bayi, mudah di cerna,
memberi perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk
di minum. Bayi harus di beri ASI setiap kali ia merasa lapar ( atau
setidaknya 10 – 12 kali dalam 24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan.
Tanda ASI cukup yaitu bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan
warnanya jernih sampai kuning muda, BAB berwarna kekuningan berbiji,
payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui, bayi
bertambah berat badannya.10
Ada beberapa masalah dalam pemberian ASI seperti:
i) Putting susu lecet
Penyebab putting susu lecet adalah sebagai berikut teknik
menyusui yang tidak benar, putting susu terpapar sabun, krim,
alcohol, ataupun zat iritan lain saat ibu membersihkan puting susu,
moniliasis pada mulut bayi yang menular pada putting susu ibu.
Penanganannya adalah dengan mengolesi putting susu ibu
dengan ASI akhir, menyusui lebih sering, posisi menyusui yang
benar, penggunaan bra yang menyangga.
ii) Payudara Bengkak
Penyebab terjadinya payudara bengkak adalah karena
menyusui yang tidak kontinu sehingga sisa ASI terkumpul pada
daerah duktus.
Beberapa tindakan untuk mengatasi payudara bengkak adalah
melakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak, untuk
mengurangi rasa sakit dapat diberi kompres hangat dan dingin.
iii)Abses payudara
24

Penyebab terjadinya karena kurangnya ASI dihisap/


[Link] tindakan yang dapat dilakukan adalah kompres
hangat/panas dan pemijatan, pemberian antibiotik
f. Senggama
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah
merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau dua jarinya kedalam
vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasa
nyeri, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja
ibu mau.10
6. Tanda Bahaya Nifas
a. Perdarahan hebat atau peningkatan perdarahan secara tiba-tiba
b. Cairan vaginal dengan bau busuk yang keras
c. Rasa nyeri di bagian perut bagian bawah atau punggung
d. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastrik atau masalah
penglihatan
e. Pembengkakan pada wajah dan tangan
f. Demam, muntah, rasa sakit sewaktu BAK atau merasa tidak enak badan
g. Payudara yang memerah, panas atau sakit
h. Kehilangan selera makan
i. Rasa sakit, warna merah, atau pembengkakan pada kaki
j. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengurus diri sendiri atau bayi
k. Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah
7. Komplikasi Masa Nifas
a) Infeksi nifas
Infeksi pada masa nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat
genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan
meningkatnya suhu badan melebihi 38°C tanpa menghitung hari pertama
dan berturut-turut selama 2 hari
25

b) Masalah dalam laktasi


Kelainan bentuk putting, putting lecet, payudara bengkak, abses
payudara, sindrom ASI kurang, bayi bingung putting.

E. BAYI BARU LAHIR


1. Pengertian
Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang
sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat
melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan
ekstrauterin.11
Bayi normal adalah bayi yang mampu hidup diluar kandungan berat badan
normal yaitu 2500 – 4000 gram dengan ciri – ciri sebagai berikut:
a. Bayi menangis kuat segera setelah bayi lahir
b. Kulit tampak kemerahan
c. Bayi dengan gerakan ekstremitas secara aktif
d. Nadi denyutnya teraba lebih dari 100 kali / menit
e. Tonus baik dan Refleks hisap baik (sucking).
2. Kebutuhan Dasar Bayi Baru Lahir
Kebutuhan dasar bayi baru lahir, diantaranya:
a. Penilaian
1) Apakah bayi cukup bulan
2) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium
3) Apakah bayi menangis atau bernafas
4) Apakah tonus otot baik
b. Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir.
c. Memotong tali pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu
menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang
26

bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong
untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Setelah
plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil, maka lakukan pengikatan
tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat.
d. Menjaga kehangatan
Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada bayi baru lahir, belum
berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya
pencegahan kehilangan panas tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami
hipotermia.
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara- cara
berikut:
1) Evaporasi.
2) Konduksi.
3) Konveksi,
4) Radiasi,
e. Kontak dini dengan ibu
1) Berikan bayi kepada ibu secepat mungkin. Kontak dini antara ibu dan
bayi penting untuk kehangatan dan mempertahankan panas yang sesuai
pada bayi baru lahir, ikatan batin dan pemberian ASI.
2) Dorongan ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah “siap”
(dengan menunjukkan refleks rooting)
f. Memberi Vitamin K
Kejadian perdarahan karena difesiensi vitamin K pada bayi baru lahir
dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25 - 0,5%. Untuk mencegah terjadinya
perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu
diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama tiga hari, sedangkan bayi risiko
tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 mg IM.
g. Memberi obat tetes mata atau salep mata
27

Dibeberapa negara perawatan mata bayi baru lahir secara hukum


diharuskan untuk mencegah terjadinya Oftalmia neonatrum. Di daerah
dimana gonorea tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata
sesudah 5 jam bayi lahir. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau
tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena (penyakit
menular seksual).
3. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda – tanda kegawatan atau
kelainan menunjukan suatu penyakit. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila
mempunyai salah satu atau beberapa tanda – tanda berikut:
a. Sesak nafas.
b. Frekuensi pernapasan < 40 kali/menit atau >60 kali/menit.
c. Gerakan retraksi di dada.
d. Malas minum.
e. Panas atau suhu badan bayi rendah.
f. Gerakan Kurang aktif.
g. Berat badan lahir rendah (1500-2500 gram).
h. Tanda – tanda bayi sakit berat.
i. Sulit minum.
j. Sianosis sentral (lidah biru).
k. Perut kembung.
l. Periode apneu.
m. Kejang / periode kejang- kejang kecil.
n. Merintih.
o. Perdarahan tali pusat.
p. Sangat kuning.
q. Berat badan Lahir < 1500 gram.
28

4. Imunisasi Yang Diberikan Usia 0-9 bulan


Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal
terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi.
1) Jadwal Imunisasi Departemen Kesehatan RI
Tabel 2.5 Jadwal Imunisasi Nasional bagi Bayi yang Lahir

di Rumah

Umur Vaksin Tempat

0-7 hari HB 0 Rumah

1 bulan BCG, Polio 1 Posyandu

2 bulan DPT/HB 1, Polio 2 Posyandu

3 bulan DPT/HB 2, Polio 3 Posyandu

4 bulan DPT/HB 3, Polio 4 Posyandu

9 bulan Campak Posyandu

11

Tabel 2.6 Jadwal Imunisasi Nasional bagi Bayi yang Lahir Di


Rumah Sakit atau Rumah Bersalin

Umur Vaksin Tempat

0 bulan HB0, BCG, Polio 1 RS/RB/Bidan

2 bulan DPT/HB 1, Polio 2 RS/RB/Bidan

3 bulan DPT/HB 2, Polio 3 RS/RB/Bidan


29

4 bulan DPT/HB 3, Polio 4 RS/RB/Bidan

9 bulan Campak RS/RB/Bidan

11

F. MANAJEMEN KEBIDANAN
1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak
secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar
menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.
2. Langkah dalam Manajemen Kebidanan
a. Tahap Pengumpulan Data (Langkah I)
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat
dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
1) Anamnesis
2) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-
tanda vital
b. Interpretasi Data Dasar (Langkah II)
Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga
dapat dirumuskan diagnosis dan masalah spesifik. Baik rumusan diagnosis
maupun masalah, keduanya harus ditangani.
Diagnosis kebidanan merupakan diagnosis yang ditegakan bidan dalam
lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis
kebidanan.
c. Identifikasi Diagnosis/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya
(Langkah III)
30

Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau


diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah
diidentifikasi.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi
masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan
terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau
diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang
rasional/logis.
d. Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan Tenaga
Kesehatan Lain (Langkah IV)
Menetapkan kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi,
dengan tenaga kesehatan lain, serta rujukan berdasarkan klien.
e. Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh (Langkah V)
Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional
berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
f. Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)
Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman.
g. Evaluasi (Langkah VII)
Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang
kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

VII I II
31

VI III

V IV

Bagan 2.1 Kerangka konsep proses manajemen kebidanan12

Anda mungkin juga menyukai