0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan13 halaman

Optimal Feeding Rate for Pangasius Growth

Penelitian ini mengevaluasi tingkat pemberian pakan buatan yang optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin jambal (Pangasius djambal) dengan empat perlakuan pakan berdasarkan persentase bobot ikan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pakan 10% dari bobot ikan menghasilkan laju pertumbuhan tertinggi, sementara 2.5% menunjukkan efisiensi protein dan retensi lipid terbaik. Seluruh perlakuan menunjukkan tingkat kelangsungan hidup 100% pada ikan yang diuji.

Diunggah oleh

Rega Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan13 halaman

Optimal Feeding Rate for Pangasius Growth

Penelitian ini mengevaluasi tingkat pemberian pakan buatan yang optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin jambal (Pangasius djambal) dengan empat perlakuan pakan berdasarkan persentase bobot ikan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pakan 10% dari bobot ikan menghasilkan laju pertumbuhan tertinggi, sementara 2.5% menunjukkan efisiensi protein dan retensi lipid terbaik. Seluruh perlakuan menunjukkan tingkat kelangsungan hidup 100% pada ikan yang diuji.

Diunggah oleh

Rega Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 2(2) :175-187 (2014) ISSN : 2303-2960

OPTIMASI TINGKAT PEMBERIAN PAKAN BUATAN TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP
IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal)

Optimal Feeding Rate for Growth and Survival Rate of Pangasius djambal Fingerlings

Ida Handayani1, Erwin Nofyan1, Marini Wijayanti1*


1
[Link] Fakultas Pertanian UNSRI
Kampus Indralaya Jl. Raya Palembang Prabumulih KM 32 Ogan Ilir Telp. 0711 7728874
*
Korespondensi email : marinibda@[Link]

ABSTRACT

The aim of this research was to know optimal feeding rate for growth, survival rate,
food convertion, protein efficiency ratio, protein retention and lipid retention of Pangasius
djambal fingerlings (weight 3.5-4.0 g). This experiment was done from Maret until May
2007, at Jambi Freshwater Aquaculture Development Center. This experiment used four
treatments at feeding rate 2.50%, 5.00%, 7.50% and 10.00% of fish body weight. The result
of research showed that the feeding rate 10.0% of fish body weight gave the highest value
for daily growth rate 4.11%. the feeding rate 5.0% of body weight wasn’t different in daily
growth rate until 7.50% of fish body weight significantly and gave food cenvertion
efficiently until 1.35. The feeding rate 2.50% of fish body weight had the highest value for
protein efficiency ratio (2.49), protein retention (153.70%) and lipid retention (175.31%).
The optimum feeding rate for daily heavy growth rate were feeding rate 8.88% of fish body
weight. The survival rate of P. djambal in this research showed the high percentage that was
100%
Keywords: Growth, survival rate, P. djambal, feeding rate

PENDAHULUAN

Ikan patin jambal (Pangasius dengan bobot 20 kg. Ikan patin jambal
djambal) merupakan jenis ikan kelompok mempunyai nilai ekonomis tinggi pada
catfish yang sekarang mulai popular ukuran benih sampai ukuran dewasa, ikan
dibudidayakan di Indonesia. Potensi ini juga merupakan salah satu spesies yang
ikan patin jambal sebagai ikan budidaya paling diminati konsumen Sumatera dan
cukup besar, karena memiliki beberapa daerah lainnya di Indonesia (Legendre et
keunggulan yaitu mudah berkembangbiak, al., 2000; Anonim, 2005 dan Slembrouck
mempunyai daya adaptasi terhadap et al., 2005). Kebutuhan pasar ikan patin
perubahan kualitas air dan pertumbuhan jambal yang tinggi menjadikannya sangat
relatif cepat. Pertumbuhan ikan patin penting untuk dibudidayakan, akan tetapi
jambal di alam mencapai panjang 90 cm ikan ini merupakan ikan asli perairan

175
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

umum yang usaha budidayanya belum termometer, spektrofotometer, nampan,


berkembang (Day et al., 2000). Kendala penggiling daging, Kjeldhal line unit,
yang menyebabkan pengembangan Lipid extraction unit, Dry oven, Muffle
budidayanya masih terbatas adalah furnace, desikator, blender, freezer.
informasi mengenai kebutuhan nutrisi ikan Sedangkan bahan yang digunakan yaitu
patin jambal yang belum banyak diketahui. benih ikan patin jambal berukuran 2 inci
Kebutuhan nutrisi merupakan faktor dengan bobot awal 3,5-4 g per ekor yang
penting dalam manajemen pakan budidaya berasal dari pembenihan di Balai Budidaya
ikan patin jambal. Air Tawar Jambi. Bahan baku yang
Salah satu informasi tentang digunakan untuk pembuatan pakan dengan
kebutuhan nutrisi ikan patin jambal yang kandungan protein pakan 35 % dan hasil
belum diketahui adalah laju pemberian analisa proksimat pakan uji dapat dilihat
pakan atau feeding rate. Jumlah pada Tabel 3.
pemberian pakan buatan untuk ikan patin Tabel 2. Bahan baku formulasi dan
analisa proksimat pakan uji
jambal yang selama ini dilakukan masih
Bahan pakan Jumlah (g)
belum optimal dalam menunjang Tepung Ikan 1
571
pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Tepung kedelai 307
Tepung jagung 50
Dedak 48
PELAKSANAAN PENELITIAN Minyak jagung 3
Tempat dan Waktu Minyak ikan 2
Vitamin 10
Penelitian dilaksanakan di Balai Binder (CMC)2 10
Analisa proksimat
Budidaya Air Tawar Jambi Desa Sungai Protein (%) 34.85
Gelam, Kecamatan Kumpeh Ulu, Lipid (%) 10.26
Abu (%) 16.29
Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi. Air (%) 7.74
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret BETN 3(%) 30,89
Keterangan :
sampai dengan bulan Mei 2007. 1
. Asal Propinsi Jambi, dengan bahan baku ikan rucah
(campuran ikan )
2
. Per kilogram: vit. A 200.000 UI; vit D3 1.000.000 UI;
Alat dan Bahan vit E 40,2 UI; vit. C 100 g ; vit. B1 5 g; vit. B2 5 g;
vit. B6 5 g; vit. B12 0,01 g; Ca pantothenate 11 g;
Alat yang digunakan dalam niacin 20 g; biotine 0,06 g; folic acid 1,5 g; choline
230 g.
penelitian yaitu akuarium ukuran
60x50x40 cm3 timbangan analitik, blower
serta perangkatnya, pH meter, DO meter,

176
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

Meteode Penelitian metode ekstraksi ether, kadar abu


Rancangan Percobaan dengan pembakaran sampel dalam
o
Penelitian dilakukan dengan Muffle furnace pada suhu 600 C,
menggunakan rancangan acak lengkap sedangkan kadar air dilakukan dengan
(RAL) yang dilakukan dengan 4 perlakuan pemanasan sampel selama 2 jam pada
dan 4 ulangan, yaitu : suhu 135 0C dalam oven).
P1 = Tingkat pemberian pakan 2,5 % dari 3. Uji biologi meliputi :
bobot total ikan
Pesiapan Wadah Pemeliharaan
P2 = Tingkat pemberian pakan 5 % dari
Wadah pemeliharaan yang
bobot total ikan
digunakan adalah akuarium berukuran
P3 = Tingkat pemberian pakan 7,5 % dari
60x50x40 cm. Sebelum digunakan wadah
bobot total ikan
dicuci dengan larutan kalium permanganat
P4 = Tingkat pemberian pakan 10 % dari
sebanyak 2 g yang dilarutkan dalam air 1
bobot total ikan
liter, dikeringkan dan diisi air yang telah

Cara kerja diendapkan selama 1 hari, sebanyak 60

Persiapan Pakan liter air ke dalam setiap akuarium lalu


diberi aerasi.
Tahap-tahap yang dilakukan
dalam persiapan pakan ikan meliputi Penebaran Benih
formulasi pakan, penepungan dan Penebaran benih dilakukan pada
penimbangan bahan baku, pencampuran pagi hari. Benih yang ditebar berukuran 2
bahan baku, pencetakan dan pengujian inci dengan bobot awal ikan per ekor yaitu
mutu pakan. 3,5-4 g dengan padat tebar 15
ekor/akuarium, sebelum benih ditebar
Pengujian mutu pakan
dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu.
Tahap-tahap yang dilakukan
dalam pengujian mutu pakan meliputi: Pemberian Pakan
1. Uji fisik (daya apung dan water Pakan yang diberikan selama
stability) pemeliharaan adalah pellet dalam bentuk
2. Uji kimia (analisa proksimat pakan crumble yang memiliki kandungan protein
dan ikan uji yaitu protein metode 35 % dengan jumlah pakan yang diberikan
semimicro-Kjedhal, lipid dengan berbeda yaitu 2,5 %, 5 %, 7,5 %, 10 %

177
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

dari bobot total ikan. Pakan diberikan 3 Kelangsungan Hidup/Survival Rate (SR)
kali sehari yaitu jam 07.00, 12.00 dan Rumus yang digunakan untuk
17.00 WIB. menghitung kelangsungan hidup menurut
Effendie (1979) adalah :
Pengamatan Parameter
Nt
SR = x 100 %
Pengamatan parameter dilakukan No
selama 6 minggu dengan cara pengambilan Keterangan :
biomassa setiap minggu yaitu dengan SR = Kelangsungan hidup (%)
menghitung dan menimbang ikan yang ada Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir
pada masing-masing wadah akuarium. pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan yang hidup pada awal
Parameter yang di amati
pemeliharaan (ekor)
Selama penelitian dilakukan
berbagai pengamatn untuk mengetahui Konversi Pakan
tingkat keberhasilan penelitian. Parameter Rumus yang digunakan untuk
yang diukur selama penelitian adalah menghitung konversi pakan menurut
sebagai berikut : National Research Council (1977) adalah :
F
Pertumbuhan FCR 
(Wt  D)  Wo
Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Keterangan :
(LPBH)
FCR = Konversi pakan
Rumus yang digunakan untuk
Wt = Berat ikan total akhir pada
menghitung laju pertumbuhan berat harian
pemeliharaan
menurut Halver (1989) adalah :
Wo = Berat ikan total pada awal
LnWt  LnWo
Gw  x100% penelitian (g)
t
D = Total berat ikan yang mati selama
Keterangan :
penelitian (g)
SGR = Laju pertumbuhan berat harian
Wt = Berat ikan akhir pemeliharaan
Rasio Efisiensi Protein (PER)
Wo = Berat ikan awal pemeliharaan
Rumus yang digunakan untuk
∆t = Lama waktu pemeliharaan (hari)
menghitung rasio efisiensi protein menurut
Watanabe (1988) adalah :

178
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

Pertambahan bobot tubuh ( g ) diperoleh dari studi literatur yang


PER 
Bobot protein yang diberikan ( g ) menunjang (Siagian, 2001).

Retensi Protein Analisa Data


Rumus yang digunakan untuk Data yang diperoleh disajikan
mengetahui retensi protein dapat dihitung dalam bentuk tabel dan grafik. Data
menggunakan rumus Watanabe (1988) pertumbuhan berat, kelanhsungan hidup,
sebagai berikut : konversi pakan, rasio efisiensi protein,
Pertambahan protein tubuh ( g ) retensi protein dan retensi lemak dianalisis
RP  x 100 %
bobot protein yang di makan( g )
sidik ragam (Uji F) dan jika hasilnya
berbeda nyata dianalisis dengan uji lanjut
Retensi Lemak
BNT (Hanafiah, 2003). Data pertumbuhan
Rumus yang digunakan untuk
berat, konversi pakan, rasio efisiensi
menghitung retensi lemak dalam tubuh
protein, retensi protein dan retensi lemak
ikan menurut Watanabe (1988) adalah :
Pertambahan bobot lemak tubuh ( g )
dibuat dalam persamaan regresi polinomial
RL  x100%
Bobot lemak pakan yang diberikan ( g ) untuk mengetahui pertumbuhan berat,
konversi pakan, rasio efisiensi protein,
Pengamatan kualitas air retensi protein dan retensi lemak yang
Pengamatan kualitas air yang optimal (Steel dan Torrie, 1989). Data
dilakukan dalam penelitian meliputi suhu, kualitas air diuraikan secara deskriptif
DO, dan pH yang diukur setiap hari pada sesuai dengan literatur.
waktu pagi dan sore, sedangkan
pengamatan amoniak setiap minggu. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kualitas Fisik Pellet


Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan Pengujian fisik pakan buatan
dalam penelitian ini adalah data primer yang telah dilakukan meliputi daya apung
dan data sekunder. Data primer diperoleh dan daya tahan pakan di dalam air (water
dari kegiatan penelitian meliputi tingkat stability). Hasil pengujian menunjukkan
pertumbuhan berat dan panjang, bahwa pakan perlakuan memiliki daya
kelangsungan hidup, efisiensi pemberian apung selama 3 detik. Ikan jenis catfish
pakan, rasio efisiensi protein, retensi memerlukan pakan buatan yang lebih
protein dan retensi lemak. Data sekunder cepat tenggelam ke dasar, karena ikan

179
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

jenis ini merupakan ikan yang biasa hidup Keterangan : angka yang diikuti huruf
di dasar perairan (Slembrouck et al., yang sama menunjukkan tidak berbeda
2005). Daya tahan pakan buatan di dalam nyata (P>0,05).
air dapat digunakan untuk menentukan Hasil analisa sidik ragam
kualitas pakan. Pengujian water stability menunjukkan hasil tingkat pemberian
menunjukkan bahwa pakan yang dibuat pakan berpengaruh nyata (P<0,05)
mampu bertahan di dalam air selama 45 terhadap laju pertumbuhan bobot harian,
menit. Menutur Afrianto dan Liviawaty hal ini dapat dibuktikan secara statistik
(2005) pakan butan untuk ikan air tawar dari nilai F hitung yang lebih besar
mempunyai water stability selama 10 daripada F tabel pada taraf uji 5%. Hasil
menit, sedangkan untuk udang daya tahan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) ternyata
pakan buatan di dalam air yaitu berkisar memberikan hasil laju pertumbuhan bobot
antara 10-24 jam. Pakan buatan yang harian pada P3 (3,38%) berbeda nyata
terlalu lama bertahan di dalam biasanya dengan P1 (2,22%), namun berbeda tidak
sulit dicerna, sedangkan pakan yang nyata dengan hasil P2 (3,58%) dan P4
mudah hancur akan segera larut sehingga (4,05%). Pemberian pakan dengan tingkat
sulit ditemukan oleh ikan. pemberian 10% dari bobot total ikan
memberikan hasil laju pertumbuhan bobot
Pertumbuhan
harian yang tertinggi yaitu 4,11%. Hal ini
Pertumbuhan bobot tubuh benih
menunjukkan bahwa pakan yang tersedia
ikan patin jambal selama penelitian 6
sudah mencukupi untuk pertumbuhan ikan.
minggu menunjukkan adanya peningkatan
Menurut Kasprijo et al. (1994) semakin
dari setiap perlakuan. Data laju
besar tingkat pemberian pakan yang
pertumbuhan bobot harian dapat dilihat
diberikan semakin banyak pakan yang
pada Tabel 3.
dikonsumsi sehingga mengakibatkan
Tabel 3. Laju pertumbuhan bobot harian
pertumbuhan ikan lebih cepat.
(%) benih ikan patin jambal
([Link]) Pakan dengan tingkat pemberian
Laju pertumbuhan pakan 2,5% memberikan hasil laju
Perlakuan
bobot harian (%)
P1 2,22 a pertumbuhan bobot harian terendah yaitu
P2 3,58 b 2,22%, hal ini diduga disebabkan oleh
P3 3,88 bc
P4 4,11 c sedikitnya jumlah pakan yang dikonsumsi.
Menurut (NRC,1977) apabila jumlah

180
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

pakan yang diberikan terlalu sedikit dapat daripada perlakuan lainnya yaitu hanya
menyebabkan lambatnya pertumbuhan, sebesar 1598,75 kkal.
karena energi yang diperoleh benih lebih Hubungan regresi antara
kecil daripada yang dipergunakan untuk perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
pemeliharaan tubuh. Pada P1 energi yang dengan laju pertumbuhan bobot harian (y)
terkandung dalam pakan lebih rendah dapat dilihar pada Gambar 2.

Gambar 1. Grafik regresi laju petumbuhan bobot harian

Laju pertumbuhan bobot harian sebesar 1,15. Nilai konversi pakan setiap
yang dihasilkan meningkat dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.
bertambahnya tingkat pemberian pakan Tabel 4. Nilai konversi pakan benih ikan
patin jambal ([Link])
yang ditunjukkan oleh persamaan regresi y
Perlakuan Konversi pakan
= -0,0452 x2 + 0.803 x + 0.5463 dengan
P1 1,15 a
koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9276. P2 1,39 a
P3 1,89 b
Berdasarkan persamaan ini diperoleh
P4 2,37 c
tingkat pemberian pakan optimal yang Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata
menghasilkan laju pertumbuhan bobot (P>0,05).
harian maksimal (4,11%) adalah 8,88%.
Berdasarkan hasil analisa sidik

Konversi Pakan (FCR) ragam menunjukkan bahwa optimasi

Nilai konversi pakan yang tingkat pemberian pakan buatan

diperoleh tertinggi terdapat pada P4 yaitu memberikan pengaruh yang nyata terhadap

2,37 dan nilai terendah pada P1 yaitu konversi pakan selama penelitian. Hasil
uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan

181
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

bahwa konversi pakan pada P1 (1,15) tidak


berbeda nyata dengan P2 (1,39), namun
berbeda nyata dengan P3 (1,89) dan P4
(2,37). Konversi pakan menunjukkan nilai
pakan yang dapat diubah menjadi bobot
tubuh ikan sehingga meningkatkan
pertumbuhan. Konversi pakan yang
efisien untuk benih ikan patin jambal Gambar 3. Grafik regresi konversi pakan
benih ikan patin jambal
selama penelitian yaitu pada P2 dengan
nilai konversi pakan sebesar 1,35. Nilai Konversi pakan yang dihasilkan

konversi pakan terbaik ini disebabkan meningkat dengan bertambahnya tingkat

karena jumlah pakan yang diberikan dapat pemberian pakan yang ditunjukkan oleh

dimanfaatkan secara efisien oleh ikan. persamaan regresi y = 0,0125 x2 – 0,02 x +

Pada P4 nilai laju pertumbuhan 1,1497 dengan koefisien determinasi (R2)

bobot harian yang dihasilkan sebesar sebesar 0,8856. Konversi pakan terendah

4,05% dengan konversi pakan yang lebih pada perlakuan dengan tingkat pemberian

tinggi yaitu 2,37. Pakan yang diberikan pakan 2,5% dari bobot total ikan.

pada P4 untuk benih ikan patin jambal


Rasio Efisiensi Protein (PER)
diberikan dalam jumlah yang banyak,
Tabel 5 menggambarkan bahwa
akibatnya ikan mengkonsumsi pakan yang
rasio efisiensi protein benih ikan patin
lebih banyak untuk meningkatkan
jambal tertinggi terdapat pada perlakuan
pertumbuhan, akan tetapi karena jumlah
dengan tingkat pemberian pakan 2,5%
pakan yang diberikan melebihi dari batas
(2,49) dan yang terendah pada perlakuan
kemapunan dari ikan untuk mengkonsumsi
dengan tingkat pemberian pakan 10%
pakan tersebut mengakibatkan sebagian
(1,23).
pakan tidak dimanfaatkan secara efisien
Tabel 5. Rasio efisiensi protein pada
oleh ikan, sehingga nilai konversi pada P4 benih ikan patin jambal
tinggi. Perlakuan Rasio Efisiensi Protein
Hubungan regresi antara P1 2,49 d
P2 2,09 c
perlakuan tingkat pemberian pakan (x) P3 1,52 b
dengan konversi pakan (y) dapat dilihar P4 1,23 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama
pada Gambar 3. menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).

182
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

Analisa sidik ragam menunjukkan pada perlakuan ini total energi pakan yang
bahwa optimasi tingkat pemberian pakan tersimpan dalam pakan juga tinggi yaitu
berpengaruh nyata terhadap rasio efisiensi sebesar 11345,36 kkal.
protein. Hasil uji Beda Nyata Terkecil Hubungan regresi antara
(BNT) memberikan hasil rasio efisiensi perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
protein berbeda nyata pada setiap tingkat dengan rasio efisiensi protein (PER) (y)
pemberian pakan. Nilai rasio efisiensi dapat dilihat pada Gambar 3.
protein yang dihasilkan pada perlakuan
dengan tingkat pemberian pakan 2,5%
mengasilkan rasio efisiensi protein
tertinggi yaitu 2,49, tingginya nilai rasio
efisiensi protein yang dihasilkan tidak
dapat memberikan pertumbuhan yang
optimal bagi ikan. Hal ini disebabkan
karena ikan kurang mampu dalam
Gambar 3. Grafik regresi rasio efisiensi
memenfaatkan kandungan protein yang protein benih ikan patin jambal
tersedia sebagai energi, sehingga
Rasio efisiensi protein yang
kandungan energi total pakan yang
dihasilkan menurun dengan bertambahnya
dihasilkan pada perlakuan ini lebih rendah
tingkat pemberian pakan yang ditunjukkan
dari pada perlakuan lainnya yaitu hanya
oleh persamaan regresi y =42.372x2 -
sebesar 1598,75 kkal.
22.713x + 3.0521 dengan koefisien
Rendahnya nilai rasio efisiensi
determinasi (R2) sebesar 0.9159. Rasio
protein pada P4 yaitu 1,23 diduga karena
efisiensi protein tertinggi pada perlakuan
pada perlakuan ini pakan yang diberikan
dengan tingkat pemberian pakan 2,5%.
dalam jumlah yang banyak, sehingga
pakan tidak dimanfaatkan secara efisien Retensi Protein (RP)
oleh ikan dan menyebabkan kandungan
Retensi protein yang diperoleh
protein yang dapat diserap oleh ikan
tertinggi terdapat pada P1 yaitu 157,7%
menjadi rendah. Nilai rasio efisiensi
dan nilai terendah pada P4 yaitu sebesar
protein yang rendah ini mampu
47,25%. Nilai retensi protein dari setiap
memberikan pertumbuhan yang maksimal
perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.
bagi benih patin, hal ini disebabkan karena

183
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

Tabel 6. Retensi protein benih ikan patin kelebihan energi pakan dapat menurunkan
jambal ([Link])
pertumbuhan ikan. Hal ini dapat
Perlakuan Retensi Protein (%)
dibuktikan dengan rendahnya kandungan
P1 153,7 d
P2 94,84 c energi pada P1. Pada P1 kandungan lemak
P3 60,21 ab
banyak disimpan dalam tubuh sehingga
P4 47,75 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama energi yang berasal dari protein digunakan
menunjukkan tidak berbeda nyata
(P>0,05). oleh ikan untuk memenuhi kekurangan
energi dalam lemak dan karbohidrat.
Hasil analisa sidik ragam
Hubungan regresi antara
menunjukkan hasil tingkat pemberian
perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
pakan berpengaruh nyata (P<0,05)
dengan retensi protein (y) dapat dilihat
terhadap retensi protein, hal ini dapat
pada Gambar 4.
dibuktikan secara statistik dari nilai F
hitung yang lebih besar daripada F tabel
pada taraf uji 5%. Tingginya retensi
protein pada P1 disebabkan karena kadar
protein yang terkandung di dalam pakan
yang diberikan dapat dimanfaatkan secara
baik oleh ikan. Tingginya nilai ini tidak Gambar 3. Grafik regresi retensi protein
dapat memberikan pertumbuhan yang
Retensi protein yang dihasilkan
optimal bagi ikan, meskipun nilai retensi
menurun dengan bertambahnya tingkat
protein yang dihasilkan tinggi. Hal ini
pemberian pakan yang ditunjukkan oleh
dapat disebabkan oleh rendahnya
persamaan regresi y = 1,8559 x2 – 37,299 x
kandungan energi total pada P1, sehingga
+ 235,25 dengan koefisien determinasi
ikan kurang mampu dalam memanfaatkan
(R2) sebesar 0.9686. Retensi protein
protein sebagai bahan penyusun
tertinggi pada perlakuan dengan tingkat
pertumbuhan dan energi untuk
pemberian pakan 2,5%.
meningkatkan pertumbuhannya. Menurut
Mokoginta et al. (1995) menyatakan Retensi Lemak (RL)
bahwa pertumbuhan ikan paling besar
Tabel 7 menggambarkan bahwa
dipengaruhi oleh keseimbangan protein
retensi lemak benih ikan patin jambal
dan energi dalam pakan, kekurangan dan
tertinggi terdapat pada perlakuan dengan

184
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

tingkat pemberian pakan 2,5% (175,31%) patin jambal. Hal ini disebabkan karena
dan yang terendah pada perlakuan dengan retensi lemak yang tinggi, ikan akan
tingkat pemberian pakan 10% (144,22%). cenderung menyimpan lemak di dalam
Tabel 7. Retensi lemak benih ikan patin tubuh sehingga menyebabkan rendahnya
jambal ([Link])
pertumbuhan. Menurut Huisman (1987)
Perlakuan Retensi lemak (%)
dalam Suhenda et al. (2003) menyatakan
P1 175,31 b
P2 161,86 ab bahwa kadar lemak yang tinggi akan
P3 159,40 ab
menyebabkan penyimpanan lemak pada
P4 144,22 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama tubuh, penurunan konsumsi pakan dan
menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).
pertumbuhan serta degradasi hati. Selain
Hubungan regresi antara itu, pada P1 kurangnya keseimbangan
perlakuan tingkat pemberian pakan (x) antara energi total pakan dengan bahan
dengan retensi lemak (y) dapat dilihat pada penyusun pertumbuhan seperti protein dan
Gambar 5 lemak. Benih ikan patin jambal pada P1
memiliki bahan penyusun pertumbuhan
yang kurang meskipun potensi dari lemak
banyak, lemak yang tersimpan dalam
tubuh tanpa dimanfaatkan sebagai energi
dapat menyebabkan pertumbuhan yang
dihasilkan rendah.

Gambar 5. Grafik regresi retensi lemak Kelangsungan Hidup dan Kualitas air
Kelangsungan hidup diperoleh
Retensi lemak yang dihasilkan
selama penelitian yaitu 100% untuk semua
menurun dengan bertambahnya tingkat
ikan uji yang diberi perlakuan berbeda.
pemberian pakan yang ditunjukkan oleh
Tingginya kelangsungan hidup ikan uji
persamaan regresi y = -0,0694 x2 – 2.9621
disebabkan karena kualitas air yang
x + 181,97 dengan koefisien determinasi
digunakan masih dalam batas teloransi
(R2) sebesar 0.4215. Retensi lemak
sehingga mendukung untuk pemeliharaan
teringgi pada perlakuan dengan tingkat
ikan. Pengukuran parameter kualitas air
pemberian pakan 2,5%. Tingginya retensi
dan kelangsungan hidup ikan selama
lemak pada P1 tidak memberikan hasil
penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
pertumbuhan yang optimal bagi benih ikan

185
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

Tabel 8. Hasil pengukuran parameter kualitas air


Parameter
Perlakuan o SR (%)
Suhu ( C) pH DO(mg/l) amoniak(mg/l)
P1 27-28 6,8 - 7,4 6,8 - 7,1 0,11-0,31 100 a
P2 27-28 6,8 - 7,3 5,9 - 6,2 0,28-0,37 100 a
P3 27-28 6,6 - 7,2 5,1 - 5,6 0,30-0,41 100 a
P4 27-28 6,5 - 7,0 5,0 - 5,3 0,33-0,42 100 a
Kisaran 26- 30* 5,0 - 7, 9** > 5** <1***
teloransi
Keterangan : Legendre et al.(2000)*, Badan Standarisasi Indonesia (SNI 01-6483.4-2000) **, Boyd (1979)
dalam Subamia et al. (2003)***

KESIMPULAN pemberian pakan 2,5% yaitu 1,15,


Data hasil penelitian sedangkan untuk nilai konversi pakan
pemeliharaan benih ikan patin jambal yang yang paling efisien pada tingkat
telah dilakukan, maka diperoleh pemberian pakan 5%.
kesimpulan sebagai berikut: 4. Tingkat pemberian pakan 2,5%
1. Perbedaan tingkat pemberian pakan memberikan hasil tertinggi untuk nilai
pada setiap perlakuan berpengaruh rasio efisiensi protein (2,49), retensi
terhadap pertumbuhan tetapi tidak protein (153,7%) dan retensi lemak
terhadap kelangsungan hidup benih (175,31%).
ikan patin jambal. 5. Tingkat pemberian yang optimal untuk
2. Laju pertumbuhan bobot harian dan laju pertumbuhan bobot harian adalah
konversi pakan benih ikan patin jambal tingkat pemberian pakan 8,60% dengan
yang tertinggi pada perlakuan dengan nilai maksimal 4,08%.
tingkat pemberian pakan 10% dari 6. Tingkat pemberian pakan 5% dari bobot
bobot total ikan yaitu 4,05%, sedangkan total ikan memberikan laju
yang terendah pada tingkat pemberian pertumbuhan bobot harian yang tidak
pakan 2,5% yaitu 1,22%. berbeda nyata dengan tingkat
3. Nilai konversi pakan tertinggi pada pemberian pakan 7,5% dan
tingkat pemberian pakan 10% yaitu menghasilkan nilai konversi pakan yang
2,37 dan terendah pada tingkat paling efisien yaitu sebesar 1,39.

186
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Budidaya Ikan Patin a new candidate species for fish
Jambal. Departemen Kelautan dan culture in Indonesia. Indonesia and
Perikanan. Jakarta. Journal 22 (1): 1-14.
Afrianto, E dan E. Liviawaty. 2005. National Research Council (NRC). 1979.
Pakan Ikan. Kanisius. Nutrition Requitment of Warm
Yogyakarta. Water Fishes. National Academy
Day, D., E. Rahayuni., M. Bahnan., dan of Science. Washington D.C.
Maskur. 2000. Pembenihan Patin National Research Council (NRC). 1993.
Jambal (Pangasius djambal) di Nutrition Requitment of Warm
BBAT Jambi. Balai Budidaya Air Water Fishes. National Academy
Tawar Jambi. Jambi. of Science. Washington D.C.
Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Silva, S. S.D dan T. Anderson. 1995. Fish
Perikanan. Yayasan Dewi Sri Nutrition in Aquaculture. Chapman
Bogor. Bogor. & Hall. London.
Halver, J. E. 1989. Fish Nutrition. Suhenda, N., L. Setijaningsih., dan Y.
Academic prees. School of Suryanti. 2003. Penentu rasio
Fisheries University of Washington antara kadar karbohidrat dan lemek
Seattle. Washington. pada pakan benih ikan patin
jambal. Jurnal Penelitian
Littel, R.C., R.J. Freund, P.C. Spector.
Perikanan Indonesia. 9(1) : 21-28.
1993. SAS (system for lenear
models. 3rd . Cary, NC, USA : Suhenda, N., L. Setijaningsih., dan Y.
SAS Institut Inc. 329 p. Suryanti. 2005. Pertumbuhan
benih ikan patin jambal yang diberi
Legendre, M., L. Pouyaud., J.
pakan dengan kadar protein
Slembrouck., R. Gustiano., A. H.
berbeda. Berita Biologi Jurnal
Kristanto., J. Subagja., O.
Ilmiah Nasional. 7(4) : 191-197.
Komarudin., Sudarto., dan
Maskur.2000. Pangasius djambal :

187

Anda mungkin juga menyukai