Optimal Feeding Rate for Pangasius Growth
Optimal Feeding Rate for Pangasius Growth
Optimal Feeding Rate for Growth and Survival Rate of Pangasius djambal Fingerlings
ABSTRACT
The aim of this research was to know optimal feeding rate for growth, survival rate,
food convertion, protein efficiency ratio, protein retention and lipid retention of Pangasius
djambal fingerlings (weight 3.5-4.0 g). This experiment was done from Maret until May
2007, at Jambi Freshwater Aquaculture Development Center. This experiment used four
treatments at feeding rate 2.50%, 5.00%, 7.50% and 10.00% of fish body weight. The result
of research showed that the feeding rate 10.0% of fish body weight gave the highest value
for daily growth rate 4.11%. the feeding rate 5.0% of body weight wasn’t different in daily
growth rate until 7.50% of fish body weight significantly and gave food cenvertion
efficiently until 1.35. The feeding rate 2.50% of fish body weight had the highest value for
protein efficiency ratio (2.49), protein retention (153.70%) and lipid retention (175.31%).
The optimum feeding rate for daily heavy growth rate were feeding rate 8.88% of fish body
weight. The survival rate of P. djambal in this research showed the high percentage that was
100%
Keywords: Growth, survival rate, P. djambal, feeding rate
PENDAHULUAN
Ikan patin jambal (Pangasius dengan bobot 20 kg. Ikan patin jambal
djambal) merupakan jenis ikan kelompok mempunyai nilai ekonomis tinggi pada
catfish yang sekarang mulai popular ukuran benih sampai ukuran dewasa, ikan
dibudidayakan di Indonesia. Potensi ini juga merupakan salah satu spesies yang
ikan patin jambal sebagai ikan budidaya paling diminati konsumen Sumatera dan
cukup besar, karena memiliki beberapa daerah lainnya di Indonesia (Legendre et
keunggulan yaitu mudah berkembangbiak, al., 2000; Anonim, 2005 dan Slembrouck
mempunyai daya adaptasi terhadap et al., 2005). Kebutuhan pasar ikan patin
perubahan kualitas air dan pertumbuhan jambal yang tinggi menjadikannya sangat
relatif cepat. Pertumbuhan ikan patin penting untuk dibudidayakan, akan tetapi
jambal di alam mencapai panjang 90 cm ikan ini merupakan ikan asli perairan
175
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
176
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
177
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
dari bobot total ikan. Pakan diberikan 3 Kelangsungan Hidup/Survival Rate (SR)
kali sehari yaitu jam 07.00, 12.00 dan Rumus yang digunakan untuk
17.00 WIB. menghitung kelangsungan hidup menurut
Effendie (1979) adalah :
Pengamatan Parameter
Nt
SR = x 100 %
Pengamatan parameter dilakukan No
selama 6 minggu dengan cara pengambilan Keterangan :
biomassa setiap minggu yaitu dengan SR = Kelangsungan hidup (%)
menghitung dan menimbang ikan yang ada Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir
pada masing-masing wadah akuarium. pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan yang hidup pada awal
Parameter yang di amati
pemeliharaan (ekor)
Selama penelitian dilakukan
berbagai pengamatn untuk mengetahui Konversi Pakan
tingkat keberhasilan penelitian. Parameter Rumus yang digunakan untuk
yang diukur selama penelitian adalah menghitung konversi pakan menurut
sebagai berikut : National Research Council (1977) adalah :
F
Pertumbuhan FCR
(Wt D) Wo
Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Keterangan :
(LPBH)
FCR = Konversi pakan
Rumus yang digunakan untuk
Wt = Berat ikan total akhir pada
menghitung laju pertumbuhan berat harian
pemeliharaan
menurut Halver (1989) adalah :
Wo = Berat ikan total pada awal
LnWt LnWo
Gw x100% penelitian (g)
t
D = Total berat ikan yang mati selama
Keterangan :
penelitian (g)
SGR = Laju pertumbuhan berat harian
Wt = Berat ikan akhir pemeliharaan
Rasio Efisiensi Protein (PER)
Wo = Berat ikan awal pemeliharaan
Rumus yang digunakan untuk
∆t = Lama waktu pemeliharaan (hari)
menghitung rasio efisiensi protein menurut
Watanabe (1988) adalah :
178
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
179
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
jenis ini merupakan ikan yang biasa hidup Keterangan : angka yang diikuti huruf
di dasar perairan (Slembrouck et al., yang sama menunjukkan tidak berbeda
2005). Daya tahan pakan buatan di dalam nyata (P>0,05).
air dapat digunakan untuk menentukan Hasil analisa sidik ragam
kualitas pakan. Pengujian water stability menunjukkan hasil tingkat pemberian
menunjukkan bahwa pakan yang dibuat pakan berpengaruh nyata (P<0,05)
mampu bertahan di dalam air selama 45 terhadap laju pertumbuhan bobot harian,
menit. Menutur Afrianto dan Liviawaty hal ini dapat dibuktikan secara statistik
(2005) pakan butan untuk ikan air tawar dari nilai F hitung yang lebih besar
mempunyai water stability selama 10 daripada F tabel pada taraf uji 5%. Hasil
menit, sedangkan untuk udang daya tahan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) ternyata
pakan buatan di dalam air yaitu berkisar memberikan hasil laju pertumbuhan bobot
antara 10-24 jam. Pakan buatan yang harian pada P3 (3,38%) berbeda nyata
terlalu lama bertahan di dalam biasanya dengan P1 (2,22%), namun berbeda tidak
sulit dicerna, sedangkan pakan yang nyata dengan hasil P2 (3,58%) dan P4
mudah hancur akan segera larut sehingga (4,05%). Pemberian pakan dengan tingkat
sulit ditemukan oleh ikan. pemberian 10% dari bobot total ikan
memberikan hasil laju pertumbuhan bobot
Pertumbuhan
harian yang tertinggi yaitu 4,11%. Hal ini
Pertumbuhan bobot tubuh benih
menunjukkan bahwa pakan yang tersedia
ikan patin jambal selama penelitian 6
sudah mencukupi untuk pertumbuhan ikan.
minggu menunjukkan adanya peningkatan
Menurut Kasprijo et al. (1994) semakin
dari setiap perlakuan. Data laju
besar tingkat pemberian pakan yang
pertumbuhan bobot harian dapat dilihat
diberikan semakin banyak pakan yang
pada Tabel 3.
dikonsumsi sehingga mengakibatkan
Tabel 3. Laju pertumbuhan bobot harian
pertumbuhan ikan lebih cepat.
(%) benih ikan patin jambal
([Link]) Pakan dengan tingkat pemberian
Laju pertumbuhan pakan 2,5% memberikan hasil laju
Perlakuan
bobot harian (%)
P1 2,22 a pertumbuhan bobot harian terendah yaitu
P2 3,58 b 2,22%, hal ini diduga disebabkan oleh
P3 3,88 bc
P4 4,11 c sedikitnya jumlah pakan yang dikonsumsi.
Menurut (NRC,1977) apabila jumlah
180
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
pakan yang diberikan terlalu sedikit dapat daripada perlakuan lainnya yaitu hanya
menyebabkan lambatnya pertumbuhan, sebesar 1598,75 kkal.
karena energi yang diperoleh benih lebih Hubungan regresi antara
kecil daripada yang dipergunakan untuk perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
pemeliharaan tubuh. Pada P1 energi yang dengan laju pertumbuhan bobot harian (y)
terkandung dalam pakan lebih rendah dapat dilihar pada Gambar 2.
Laju pertumbuhan bobot harian sebesar 1,15. Nilai konversi pakan setiap
yang dihasilkan meningkat dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.
bertambahnya tingkat pemberian pakan Tabel 4. Nilai konversi pakan benih ikan
patin jambal ([Link])
yang ditunjukkan oleh persamaan regresi y
Perlakuan Konversi pakan
= -0,0452 x2 + 0.803 x + 0.5463 dengan
P1 1,15 a
koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9276. P2 1,39 a
P3 1,89 b
Berdasarkan persamaan ini diperoleh
P4 2,37 c
tingkat pemberian pakan optimal yang Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata
menghasilkan laju pertumbuhan bobot (P>0,05).
harian maksimal (4,11%) adalah 8,88%.
Berdasarkan hasil analisa sidik
diperoleh tertinggi terdapat pada P4 yaitu memberikan pengaruh yang nyata terhadap
2,37 dan nilai terendah pada P1 yaitu konversi pakan selama penelitian. Hasil
uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan
181
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
karena jumlah pakan yang diberikan dapat pemberian pakan yang ditunjukkan oleh
bobot harian yang dihasilkan sebesar sebesar 0,8856. Konversi pakan terendah
4,05% dengan konversi pakan yang lebih pada perlakuan dengan tingkat pemberian
tinggi yaitu 2,37. Pakan yang diberikan pakan 2,5% dari bobot total ikan.
182
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
Analisa sidik ragam menunjukkan pada perlakuan ini total energi pakan yang
bahwa optimasi tingkat pemberian pakan tersimpan dalam pakan juga tinggi yaitu
berpengaruh nyata terhadap rasio efisiensi sebesar 11345,36 kkal.
protein. Hasil uji Beda Nyata Terkecil Hubungan regresi antara
(BNT) memberikan hasil rasio efisiensi perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
protein berbeda nyata pada setiap tingkat dengan rasio efisiensi protein (PER) (y)
pemberian pakan. Nilai rasio efisiensi dapat dilihat pada Gambar 3.
protein yang dihasilkan pada perlakuan
dengan tingkat pemberian pakan 2,5%
mengasilkan rasio efisiensi protein
tertinggi yaitu 2,49, tingginya nilai rasio
efisiensi protein yang dihasilkan tidak
dapat memberikan pertumbuhan yang
optimal bagi ikan. Hal ini disebabkan
karena ikan kurang mampu dalam
Gambar 3. Grafik regresi rasio efisiensi
memenfaatkan kandungan protein yang protein benih ikan patin jambal
tersedia sebagai energi, sehingga
Rasio efisiensi protein yang
kandungan energi total pakan yang
dihasilkan menurun dengan bertambahnya
dihasilkan pada perlakuan ini lebih rendah
tingkat pemberian pakan yang ditunjukkan
dari pada perlakuan lainnya yaitu hanya
oleh persamaan regresi y =42.372x2 -
sebesar 1598,75 kkal.
22.713x + 3.0521 dengan koefisien
Rendahnya nilai rasio efisiensi
determinasi (R2) sebesar 0.9159. Rasio
protein pada P4 yaitu 1,23 diduga karena
efisiensi protein tertinggi pada perlakuan
pada perlakuan ini pakan yang diberikan
dengan tingkat pemberian pakan 2,5%.
dalam jumlah yang banyak, sehingga
pakan tidak dimanfaatkan secara efisien Retensi Protein (RP)
oleh ikan dan menyebabkan kandungan
Retensi protein yang diperoleh
protein yang dapat diserap oleh ikan
tertinggi terdapat pada P1 yaitu 157,7%
menjadi rendah. Nilai rasio efisiensi
dan nilai terendah pada P4 yaitu sebesar
protein yang rendah ini mampu
47,25%. Nilai retensi protein dari setiap
memberikan pertumbuhan yang maksimal
perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.
bagi benih patin, hal ini disebabkan karena
183
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
Tabel 6. Retensi protein benih ikan patin kelebihan energi pakan dapat menurunkan
jambal ([Link])
pertumbuhan ikan. Hal ini dapat
Perlakuan Retensi Protein (%)
dibuktikan dengan rendahnya kandungan
P1 153,7 d
P2 94,84 c energi pada P1. Pada P1 kandungan lemak
P3 60,21 ab
banyak disimpan dalam tubuh sehingga
P4 47,75 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama energi yang berasal dari protein digunakan
menunjukkan tidak berbeda nyata
(P>0,05). oleh ikan untuk memenuhi kekurangan
energi dalam lemak dan karbohidrat.
Hasil analisa sidik ragam
Hubungan regresi antara
menunjukkan hasil tingkat pemberian
perlakuan tingkat pemberian pakan (x)
pakan berpengaruh nyata (P<0,05)
dengan retensi protein (y) dapat dilihat
terhadap retensi protein, hal ini dapat
pada Gambar 4.
dibuktikan secara statistik dari nilai F
hitung yang lebih besar daripada F tabel
pada taraf uji 5%. Tingginya retensi
protein pada P1 disebabkan karena kadar
protein yang terkandung di dalam pakan
yang diberikan dapat dimanfaatkan secara
baik oleh ikan. Tingginya nilai ini tidak Gambar 3. Grafik regresi retensi protein
dapat memberikan pertumbuhan yang
Retensi protein yang dihasilkan
optimal bagi ikan, meskipun nilai retensi
menurun dengan bertambahnya tingkat
protein yang dihasilkan tinggi. Hal ini
pemberian pakan yang ditunjukkan oleh
dapat disebabkan oleh rendahnya
persamaan regresi y = 1,8559 x2 – 37,299 x
kandungan energi total pada P1, sehingga
+ 235,25 dengan koefisien determinasi
ikan kurang mampu dalam memanfaatkan
(R2) sebesar 0.9686. Retensi protein
protein sebagai bahan penyusun
tertinggi pada perlakuan dengan tingkat
pertumbuhan dan energi untuk
pemberian pakan 2,5%.
meningkatkan pertumbuhannya. Menurut
Mokoginta et al. (1995) menyatakan Retensi Lemak (RL)
bahwa pertumbuhan ikan paling besar
Tabel 7 menggambarkan bahwa
dipengaruhi oleh keseimbangan protein
retensi lemak benih ikan patin jambal
dan energi dalam pakan, kekurangan dan
tertinggi terdapat pada perlakuan dengan
184
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
tingkat pemberian pakan 2,5% (175,31%) patin jambal. Hal ini disebabkan karena
dan yang terendah pada perlakuan dengan retensi lemak yang tinggi, ikan akan
tingkat pemberian pakan 10% (144,22%). cenderung menyimpan lemak di dalam
Tabel 7. Retensi lemak benih ikan patin tubuh sehingga menyebabkan rendahnya
jambal ([Link])
pertumbuhan. Menurut Huisman (1987)
Perlakuan Retensi lemak (%)
dalam Suhenda et al. (2003) menyatakan
P1 175,31 b
P2 161,86 ab bahwa kadar lemak yang tinggi akan
P3 159,40 ab
menyebabkan penyimpanan lemak pada
P4 144,22 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama tubuh, penurunan konsumsi pakan dan
menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).
pertumbuhan serta degradasi hati. Selain
Hubungan regresi antara itu, pada P1 kurangnya keseimbangan
perlakuan tingkat pemberian pakan (x) antara energi total pakan dengan bahan
dengan retensi lemak (y) dapat dilihat pada penyusun pertumbuhan seperti protein dan
Gambar 5 lemak. Benih ikan patin jambal pada P1
memiliki bahan penyusun pertumbuhan
yang kurang meskipun potensi dari lemak
banyak, lemak yang tersimpan dalam
tubuh tanpa dimanfaatkan sebagai energi
dapat menyebabkan pertumbuhan yang
dihasilkan rendah.
Gambar 5. Grafik regresi retensi lemak Kelangsungan Hidup dan Kualitas air
Kelangsungan hidup diperoleh
Retensi lemak yang dihasilkan
selama penelitian yaitu 100% untuk semua
menurun dengan bertambahnya tingkat
ikan uji yang diberi perlakuan berbeda.
pemberian pakan yang ditunjukkan oleh
Tingginya kelangsungan hidup ikan uji
persamaan regresi y = -0,0694 x2 – 2.9621
disebabkan karena kualitas air yang
x + 181,97 dengan koefisien determinasi
digunakan masih dalam batas teloransi
(R2) sebesar 0.4215. Retensi lemak
sehingga mendukung untuk pemeliharaan
teringgi pada perlakuan dengan tingkat
ikan. Pengukuran parameter kualitas air
pemberian pakan 2,5%. Tingginya retensi
dan kelangsungan hidup ikan selama
lemak pada P1 tidak memberikan hasil
penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
pertumbuhan yang optimal bagi benih ikan
185
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
186
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Handayani, et al. (2008)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Budidaya Ikan Patin a new candidate species for fish
Jambal. Departemen Kelautan dan culture in Indonesia. Indonesia and
Perikanan. Jakarta. Journal 22 (1): 1-14.
Afrianto, E dan E. Liviawaty. 2005. National Research Council (NRC). 1979.
Pakan Ikan. Kanisius. Nutrition Requitment of Warm
Yogyakarta. Water Fishes. National Academy
Day, D., E. Rahayuni., M. Bahnan., dan of Science. Washington D.C.
Maskur. 2000. Pembenihan Patin National Research Council (NRC). 1993.
Jambal (Pangasius djambal) di Nutrition Requitment of Warm
BBAT Jambi. Balai Budidaya Air Water Fishes. National Academy
Tawar Jambi. Jambi. of Science. Washington D.C.
Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Silva, S. S.D dan T. Anderson. 1995. Fish
Perikanan. Yayasan Dewi Sri Nutrition in Aquaculture. Chapman
Bogor. Bogor. & Hall. London.
Halver, J. E. 1989. Fish Nutrition. Suhenda, N., L. Setijaningsih., dan Y.
Academic prees. School of Suryanti. 2003. Penentu rasio
Fisheries University of Washington antara kadar karbohidrat dan lemek
Seattle. Washington. pada pakan benih ikan patin
jambal. Jurnal Penelitian
Littel, R.C., R.J. Freund, P.C. Spector.
Perikanan Indonesia. 9(1) : 21-28.
1993. SAS (system for lenear
models. 3rd . Cary, NC, USA : Suhenda, N., L. Setijaningsih., dan Y.
SAS Institut Inc. 329 p. Suryanti. 2005. Pertumbuhan
benih ikan patin jambal yang diberi
Legendre, M., L. Pouyaud., J.
pakan dengan kadar protein
Slembrouck., R. Gustiano., A. H.
berbeda. Berita Biologi Jurnal
Kristanto., J. Subagja., O.
Ilmiah Nasional. 7(4) : 191-197.
Komarudin., Sudarto., dan
Maskur.2000. Pangasius djambal :
187