0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan10 halaman

Aspek Penting Deep Learning dalam Pendidikan

Deep learning dalam pendidikan menekankan pemahaman konsep yang mendalam, pembelajaran kontekstual, dan keterlibatan aktif siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan melalui pembelajaran yang bermakna, penuh kesadaran, dan menyenangkan. Implementasi deep learning memerlukan strategi yang tepat, termasuk kesiapan guru dan akses terhadap teknologi, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Diunggah oleh

Mira hidayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan10 halaman

Aspek Penting Deep Learning dalam Pendidikan

Deep learning dalam pendidikan menekankan pemahaman konsep yang mendalam, pembelajaran kontekstual, dan keterlibatan aktif siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan melalui pembelajaran yang bermakna, penuh kesadaran, dan menyenangkan. Implementasi deep learning memerlukan strategi yang tepat, termasuk kesiapan guru dan akses terhadap teknologi, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Diunggah oleh

Mira hidayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Deep learning dalam pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang bertujuan

untuk meningkatkan pemahaman siswa secara mendalam dan bermakna melalui pengalaman
belajar yang lebih aktif dan kontekstual. Pendekatan ini menekankan pada pemahaman konsep
yang kuat, penerapan dalam berbagai konteks, dan pengembangan keterampilan berpikir kritis.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait deep learning dalam pembelajaran:
1. Pemahaman Konsep yang Mendalam:
 Deep learning tidak hanya mengharuskan siswa menghafal fakta, tetapi juga memahami konsep
secara mendalam, termasuk alasan dan cara kerja konsep tersebut.
 Contohnya, dalam matematika, siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami
prinsip di baliknya sehingga dapat menerapkannya dalam berbagai situasi.
2. Pembelajaran Kontekstual:
 Deep learning menekankan pada pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata,
sehingga siswa dapat melihat manfaat dan penerapan materi yang dipelajari.
 Contohnya, kunjungan ke hutan mangrove dapat menjadi pembelajaran kontekstual tentang
ekosistem, pentingnya menjaga kelestarian alam, dan dampaknya terhadap kehidupan
manusia.
3. Keterlibatan Aktif Siswa:
 Deep learning mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, baik secara
individu maupun kelompok.
 Siswa dilibatkan dalam diskusi, pemecahan masalah, dan kegiatan belajar lainnya yang
membutuhkan pemikiran kritis dan kreatif.
4. Pengembangan Keterampilan:
 Deep learning membantu mengembangkan berbagai keterampilan, seperti pemahaman konsep,
pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan belajar seumur hidup (lifelong
learning).
 Selain itu, pendekatan ini juga mendorong siswa untuk menjadi lebih percaya diri, bertanggung
jawab, dan beradaptasi dengan perubahan.
5. Pentingnya Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning:
 Deep learning menekankan pada pembelajaran yang penuh kesadaran (mindful), bermakna
(meaningful), dan menyenangkan (joyful).
 Pembelajaran mindful melibatkan siswa dalam proses belajar dengan fokus dan kesadaran
penuh.
 Pembelajaran meaningful membantu siswa menemukan makna dan relevansi dari apa yang
mereka pelajari.
 Pembelajaran joyful menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan antusias.
6. Penerapan dalam Kurikulum dan Pembelajaran:
 Deep learning dapat diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan pembelajaran.
 Penerapan deep learning membutuhkan strategi yang tepat, termasuk kesiapan guru, kurikulum
yang fleksibel, akses terhadap teknologi, dan evaluasi pembelajaran yang relevan.
7. Tantangan dan Peluang:
 Tantangan dalam implementasi deep learning meliputi kesiapan guru, ketersediaan
infrastruktur, dan perubahan paradigma dalam pembelajaran.
 Peluangnya adalah terciptanya generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan,
dengan pemahaman yang mendalam, keterampilan yang relevan, dan kemampuan belajar
sepanjang hayat.
Dengan menerapkan pendekatan deep learning, diharapkan pembelajaran di sekolah dapat
menjadi lebih bermakna, relevan, dan menyenangkan bagi siswa, serta mempersiapkan mereka
untuk menghadapi tantangan masa depan.
Konsep dan Implementasi Deep Learning Oleh Robert Randall
Bogor, Maret 2025 – Dalam rangkaian acara penyusunan Modul Pembelajaran Mendalam
(PM) dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang diselenggarakan oleh Direktorat Guru Pendidikan
Dasar, Rob Randall, seorang pakar pendidikan dari Australia, hadir sebagai narasumber utama
untuk membahas konsep Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dan implementasinya
dalam sistem pendidikan.
Dalam pemaparannya, Rob Randall menekankan bahwa Deep Learning bukanlah konsep baru,
tetapi merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman yang lebih
mendalam dan bermakna. Ia membedakan antara pembelajaran permukaan (surface learning)
dan pembelajaran mendalam (deep learning).
 Surface Learning: Siswa hanya menghafal fakta dan informasi tanpa memahami hubungan
antar konsep.
 Deep Learning: Siswa memahami suatu konsep secara menyeluruh, mampu
menghubungkannya dengan pengetahuan lain, serta menerapkannya dalam berbagai situasi
kehidupan nyata.
Menurut Randall, sistem pendidikan modern harus berfokus pada Deep Learning untuk
menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan memiliki keterampilan
memecahkan masalah.
“Dalam sistem pendidikan modern, banyak sekolah masih terjebak dalam pola Pembelajaran
Permukaan (Surface Learning) yang berfokus pada hafalan dan pemahaman dasar.” jelasnya.
Menurut Rob, “Deep Learning bertujuan untuk membawa siswa ke tingkat pemahaman yang
lebih dalam, di mana mereka tidak hanya memahami suatu konsep, tetapi juga mampu
mentransfer dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi kehidupan nyata.”
Terdapat beberapa aspek penting dalam penerapan Deep Learning, seperti yang disampaikan
dalam paparan, antara lain: pemahaman konseptual yang kuat; penerapan dalam berbagai
konteks; peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif; kolaborasi dan pembelajaran
berbasis proyek; pemanfaatan teknologi dan ai dalam pembelajaran; dan pentingnya
pembelajaran seumur hidup (lifelong learning).
Rob menyoroti bahwa implementasi Deep Learning di Indonesia membutuhkan strategi yang
tepat, terutama dalam hal kesiapan guru, kurikulum yang lebih fleksibel, akses terhadap
teknologi, serta evaluasi pembelajaran yang relevan.
Menurut Rob, terdapat beberapa aspek penting dalam penerapan Deep Learning, antara lain:
1. Pemahaman Konseptual yang Kuat
o Siswa tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana
suatu konsep bekerja.
o Contoh: Dalam matematika, siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami
prinsip di baliknya sehingga dapat menerapkannya dalam berbagai konteks.
2. Penerapan dalam Berbagai Konteks
o Deep Learning mengajarkan siswa untuk berpikir kritis dan menerapkan konsep dalam
situasi yang berbeda.
o Misalnya, pemahaman tentang statistika tidak hanya digunakan dalam pelajaran
matematika, tetapi juga dalam analisis data sosial, ekonomi, dan sains.
3. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif
o Siswa diajak untuk mengeksplorasi, mengajukan pertanyaan, dan mencari solusi sendiri
daripada sekadar menerima jawaban dari guru.
o Misalnya, dalam pelajaran sains, siswa diberikan eksperimen terbuka untuk menemukan
solusi terhadap suatu permasalahan, bukan hanya mengikuti prosedur yang sudah ada.
4. Kolaborasi dan Pembelajaran Berbasis Proyek
o Pembelajaran mendalam lebih efektif dilakukan melalui proyek kolaboratif yang
memungkinkan siswa untuk bekerja sama, berbagi wawasan, dan menemukan solusi
inovatif.
o Contoh: Siswa dalam kelompok mendesain solusi energi terbarukan berdasarkan
penelitian dan data yang telah mereka kumpulkan.
5. Pemanfaatan Teknologi dan AI dalam Pembelajaran
o Randall juga menyoroti pentingnya teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan koding dalam
mendukung pembelajaran mendalam.
o Penggunaan AI dalam pembelajaran memungkinkan personalisasi pendidikan, di mana
siswa mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kecepatan
mereka masing-masing.
6. Pentingnya Pembelajaran Seumur Hidup (Lifelong Learning)
o Deep Learning bukan hanya untuk siswa di sekolah, tetapi juga mempersiapkan mereka
untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
o Sistem pendidikan harus menanamkan kemampuan berpikir adaptif agar siswa siap
menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut Rob juga menyampaikan bahwa implementasi Deep Learning di
Indonesia membutuhkan strategi yang tepat. Beberapa tantangan utama yang perlu diatasi
adalah:
 Kesiapan Guru → Guru perlu dilatih agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang
berbasis eksplorasi dan pemecahan masalah.
 Kurikulum yang Terlalu Padat → Perlu adanya penyederhanaan agar siswa memiliki waktu
lebih banyak untuk mendalami suatu konsep sebelum beralih ke materi berikutnya.
 Akses Teknologi → Infrastruktur teknologi harus ditingkatkan agar siswa dan guru dapat
memanfaatkan sumber belajar digital secara optimal.
 Evaluasi Pembelajaran yang Relevan → Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir,
tetapi juga pada proses berpikir dan pemecahan masalah siswa.
Randall menutup sesi dengan menekankan bahwa Deep Learning bukan hanya tentang
menghafal materi, tetapi tentang bagaimana membangun pola pikir yang kritis, adaptif, dan siap
menghadapi tantangan dunia nyata.
“Jika kita ingin menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan, kita harus
memastikan bahwa pembelajaran di sekolah bukan hanya tentang mengingat informasi, tetapi
tentang bagaimana memahami, menerapkan, dan berinovasi." – Rob Randall
Diharapkan dengan penerapan konsep ini, Indonesia dapat mencetak generasi yang lebih
inovatif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan di era digital.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,


pendidikan di Indonesia harus mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
Pasal 3 undang-undang ini menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
Sejalan dengan itu, Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional
Pendidikan menggarisbawahi pentingnya pendekatan pembelajaran yang mengutamakan
keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.
Pembelajaran Mendalam berperan dalam mewujudkan standar tersebut dengan memberikan
ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep secara lebih mendalam dan menemukan
keterkaitan antar-materi secara lebih kontekstual.
Selain itu, Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah mengamanatkan bahwa proses pembelajaran harus bersifat interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis dan mandiri.

Apa itu Deep Learning?

Istilah Deep Learning yang dipakai oleh Mendikdasmen tidak sama dengan istilah Deep
Learning yang lazim digunakan dalam ranah Artificial Intelligence (AI). Dalam konteks
pendidikan, Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan
pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan
materi yang lebih sempit.

Dalam Deep Learning, siswa didorong untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
dan menyelami topik yang sedang dipelajari, sehingga ia dapat menjelajah lebih dalam dan
menikmati keindahan panorama dari topik tersebut.

Pendekatan pembelajaran Deep Learning (belajar secara mendalam) adalah kontras dari
pendekatan pembelajaran Surface Learning (belajar di permukaan) yang berusaha membahas
banyak materi secara luas dengan mengorbankan proses pemahaman dan peningkatan
kompetensi dari para peserta didik. Siswa akhirnya hanya terpaksa menghapal banyak hal
tanpa dapat memaknai, memiliki, dan menikmati proses pembelajarannya.

3 Elemen Utama dalam Deep Learning

Menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti, pendekatan pembelajaran Deep Learning dapat tercapai
melalui 3 elemen utama, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful
Learning.

Melalui proses Meaningful Learning, siswa dapat memaknai hal-hal yang sedang ia pelajari.
Kemudian, melalui proses Mindful Learning, siswa dapat menjadi agen aktif yang secara sadar
berniat untuk mengembangkan pemahaman dan kompetensinya. Proses Joyful
Learning membuat siswa menjadi termotivasi dalam menjalani proses pembelajarannya.

1. Meaningful Learning

Teori Meaningful Learning yang dicetuskan oleh David Ausubel menjelaskan proses
pembelajaran dimana guru membantu siswa untuk mengaitkan konsep baru yang akan
diajarkan dengan konsep-konsep yang sebelumnya sudah mereka pahami. Proses
belajar Meaningful Learning ini bertujuan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi
siswa.

Misalnya, untuk memperkenalkan penjumlahan pecahan, kita bisa mulai dengan penjumlahan
benda-benda yang lebih konkret terlebih dahulu.
1 ayam + 2 ayam = 3 ayam
1 bola + 2 bola = 3 bola
1 perlima + 2 perlima = 3 perlima → ⅕ + ⅖ = ⅗

Atau

1 ayam + 2 bebek = 1 unggas + 2 unggas = 3 unggas


1 lusin + 2 kodi = 12 buah + 40 buah = 52 buah
1 perdua + 2 pertiga = 3 perenam + 4 perenam = 7 perenam

2. Mindful Learning

Mindful Learning seringkali dikenal sebagai metakognisi dalam teori pendidikan. Dalam Mindful
Learning, siswa diajak untuk senantiasa sadar akan proses pembelajaran yang sedang ia
jalani. Kesadaran ini terdiri dari beberapa aspek:

1. Kesadaran akan hal-hal yang sudah ia pahami atau kuasai sebelumnya,


2. Kesadaran akan hal-hal yang belum ia pahami atau kuasai,
3. Kesadaran akan pentingnya pemahaman atau penguasaan kompetensi dari apa yang ia
sedang pelajari,
4. Kesadaran akan alur proses pembelajaran yang sedang ia jalani demi tercapainya
pemahaman atau kompetensi yang ingin ia capai,
5. Kesadaran akan kemajuan pemahaman atau kompetensi setelah merefleksikan proses
pembelajaran yang telah ia lewati,
6. Kesadaran akan hal-hal yang masih dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam proses
pembelajaran berikutnya.

Dengan demikian, siswa dituntun untuk menjadi agen aktif yang bertanggung jawab atas
proses pembelajarannya sendiri.

Berbeda dengan orang dewasa, kesadaran ini bukanlah sesuatu yang dapat timbul secara
otomatis dalam diri anak-anak, sehingga guru harus terus-menerus menghidupkan kesadaran
ini dari awal sampai akhir proses pembelajaran.

Misalnya, guru bisa membiasakan siswa untuk selalu membuat kesimpulan pembelajaran
sendiri di akhir sesi ajar dan merefleksikan perkembangan pemahaman atau kompetensinya.
Melalui proses refleksi ini, siswa dapat memahami kekuatan dan kelemahan mereka masing-
masing, serta memiliki target yang lebih jelas untuk pembelajaran berikutnya.

3. Joyful Learning

Joyful Learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar
siswa dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran.

Contohnya, pendekatan pembelajaran melalui permainan (game) atau aktivitas interaktif dapat
membuat siswa lebih antusias dalam belajar.

Hal ini penting untuk mendorong anak-anak agar lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran
dan menikmati pengalaman belajarnya. Terlebih lagi jika dipadukan dengan
aspek meaningful dan mindful learning, kita berharap siswa dapat memiliki motivasi intrinsik
dalam belajar dan akhirnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Benarkah Deep Learning akan Menggantikan Kurikulum Merdeka?

Pendekatan Deep Learning yang diusulkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti ini tidak dimaksudkan
sebagai pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan sebagai pendekatan pembelajaran baru
yang bisa saja diterapkan di dalam kurikulum yang ada.

Artinya, Deep Learning bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang
menitikberatkan pada pemahaman konsep dan eksplorasi secara mendalam.

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa pendekatan ini di masa depan akan mempengaruhi
penyusunan kurikulum di Indonesia, tergantung bagaimana implementasinya berjalan dan
dampaknya terhadap peningkatan kualitas belajar siswa.

Saat ini, keputusan untuk mengganti Kurikulum Merdeka masih dalam pertimbangan dan Deep
Learning tetap diposisikan hanya sebagai pendekatan pembelajaran yang diutamakan. Terlebih
lagi, kita juga ingat bahwa Kurikulum Merdeka sendiri juga sudah mengurangi cakupan topik
dan mengedepankan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran dan penguatan kompetensi
siswa.

Manfaat Penerapan Deep Learning dalam Pendidikan di Indonesia

Penerapan Deep Learning dalam pendidikan di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan
untuk beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21.

Melansir World Economic Forum, salah satu alasan kuat mengapa pendekatan ini diperlukan
adalah karena relevansinya dengan kompetensi abad 21 atau 21st Century Skills, yang
terbagi menjadi tiga poin besar, yaitu Foundational Literacies, Competencies, dan Character
Qualities.

1. Foundational Literacies (Literasi Dasar)

Keterampilan literasi dasar merupakan skill yang dapat membantu siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan inti pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan Deep
Learning dalam pembelajaran siswa dapat membangun fondasi yang kuat dalam keterampilan
ini, sehingga siswa mampu menggunakan kemampuan dasarnya dalam situasi nyata.
Kemampuan ini mencakup beberapa poin sebagai berikut:

 Literacy (Literasi) → Dengan pendekatan Deep Learning, literasi siswa tidak hanya dibatasi
pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami makna di balik informasi
yang diserap.
 Numeracy (Kemampuan Numerik) → Daripada hanya menghafal rumus, dengan Deep
Learning, siswa didorong untuk memahami konsep dasar matematika, sehingga mereka
dapat menerapkannya dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
 Scientific Literacy (Literasi Sains) → Deep Learning dapat membantu siswa untuk
mengaitkan konsep sains dengan kehidupan nyata dan menyelami proses penemuan ilmiah
secara lebih mendalam.
 ICT Literacy (Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi) → Dengan Deep Learning,
siswa dapat mempelajari cara mengelola informasi digital dengan lebih bijak, memahami etika
penggunaan teknologi, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
 Financial Literacy (Literasi Keuangan) → Melalui pendekatan Deep Learning, siswa dapat
memahami konsep dasar ekonomi, cara mengelola uang, dan memahami dampak dari setiap
keputusan finansial yang mereka lakukan.
 Cultural & Civic Literacy (Literasi Budaya dan Kewarganegaraan) → Penerapan Deep
Learning memungkinkan siswa memahami nilai budaya dan kewarganegaraan secara lebih
mendalam, menghargai perbedaan budaya, serta memahami peran mereka sebagai warga
negara yang aktif dan bertanggung jawab.

2. Competencies (Kompetensi)

Kompetensi mencakup cara siswa menghadapi tantangan kompleks, yang meliputi


keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Adanya Deep
Learning mampu mendorong siswa untuk memiliki pendekatan yang lebih mendalam dan
analitis terhadap tantangan yang akan mereka hadapi di masa kini maupun masa mendatang.
Kompetensi mencakup beberapa poin sebagai berikut:

 Critical Thinking / Problem Solving (Berpikir Kritis / Pemecahan Masalah) → Deep


Learning mengajarkan siswa untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan
mencari solusi yang inovatif.
 Creativity (Kreativitas) → Dalam pendekatan Deep Learning, siswa didorong untuk
bereksperimen, menghubungkan ide-ide, dan menghasilkan pemikiran yang original.
 Communication (Komunikasi) → Deep Learning memungkinkan siswa untuk berkomunikasi
secara lebih efektif dengan membiasakan mereka berbicara, mendengar, dan memberikan
umpan balik dalam proses pembelajaran.
 Collaboration (Kolaborasi) → Deep Learning akan mendorong siswa untuk belajar bekerja
sama dalam tim, menghargai kontribusi rekan satu tim, dan mengembangkan empati.

3. Character Qualities (Kualitas Karakter)

Deep Learning juga membantu siswa untuk membentuk kualitas karakter yang diperlukan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah. Kualitas karakter ini mencakup
beberapa poin sebagai berikut:

 Curiosity (Rasa Ingin Tahu) → Deep Learning akan membiasakan siswa untuk
menumbuhkan rasa ingin tahu dengan cara mengajak mereka menggali informasi dan
bertanya secara lebih mendalam terkait suatu topik.
 Initiative (Inisiatif) → Dengan pendekatan Deep Learning, siswa akan dilatih untuk proaktif
dan inisiatif dalam mencari jawaban dan solusi.
 Persistence / Grit (Ketekunan) → Deep Learning membiasakan siswa untuk bekerja keras,
terus mencoba, tidak mudah menyerah, dan mampu memecahkan masalah hingga tuntas,
sehingga dapat mengembangkan ketekunan dalam mencapai tujuan.
 Adaptability (Kemampuan Beradaptasi) → Deep Learning mampu mendorong siswa untuk
terbiasa dengan adanya perubahan, baik dalam proses belajar maupun dalam kehidupan
mereka, sehingga mereka lebih fleksibel dalam menghadapi situasi baru.
 Leadership (Kepemimpinan) → Pembelajaran berbasis kelompok dalam Deep
Learning dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk memimpin dan mengambil
tanggung jawab.
 Social and Cultural Awareness (Kesadaran Sosial dan Budaya) → Deep Learning dapat
memfasilitasi siswa untuk membangun kesadaran sosial dan budaya yang kuat, serta
menghargai keragaman dan perbedaan sebagai sesuatu yang bisa memperkaya pengalaman
belajar mereka.

Dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning dalam pendidikan di Indonesia, diharapkan


siswa dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam,
dan mampu berpikir reflektif.
Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah program pendidikan yang bertujuan untuk
memperkenalkan dan melatih siswa dalam bidang pemrograman (koding) dan kecerdasan
buatan (AI). Program ini bertujuan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan digital
yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini dan masa depan, serta mendorong
pemikiran kritis dan kreatif.
Koding
Koding atau pemrograman adalah proses menulis instruksi yang dapat dipahami oleh komputer
untuk menjalankan tugas tertentu. Keterampilan koding memungkinkan seseorang untuk
membuat program, aplikasi, situs web, dan bahkan mengembangkan sistem AI.
Kecerdasan Artifisial (AI)
AI adalah cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem yang dapat meniru
kecerdasan manusia. Sistem AI dirancang untuk melakukan tugas-tugas seperti pengenalan
suara dan gambar, pemrosesan bahasa alami, pengambilan keputusan, dan banyak lagi.
KKA dalam Pendidikan
Program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) diperkenalkan sebagai mata pelajaran pilihan
di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Tujuannya adalah untuk:

Meningkatkan literasi digital:

Mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam era digital yang semakin kompleks.


Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif:

Siswa belajar untuk memecahkan masalah, berpikir sistematis, dan berinovasi melalui
pemikiran komputasional.


Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi:

Siswa belajar bekerja sama dalam tim untuk menyelesaikan proyek-proyek terkait koding dan
AI.


Mempersiapkan siswa untuk masa depan:

Keterampilan koding dan AI sangat dicari di berbagai industri, sehingga siswa memiliki
keunggulan kompetitif di pasar kerja.

Manfaat KKA

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah:

Koding dan AI mengajarkan siswa untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang
efektif.


Pengembangan kreativitas:

Siswa dapat mengekspresikan ide-ide kreatif mereka melalui pembuatan aplikasi dan program.


Peningkatan literasi digital:

Siswa menjadi lebih melek teknologi dan mampu menggunakan berbagai alat digital dengan
bijak.


Peluang karir yang lebih luas:

Keterampilan koding dan AI membuka pintu bagi berbagai karir di bidang teknologi dan industri
lainnya.

Tantangan KKA

Keterbatasan sumber daya:

Beberapa sekolah mungkin mengalami kesulitan dalam menyediakan fasilitas dan pelatihan
yang memadai untuk program KKA.


Kesiapan guru:

Guru perlu dilatih dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk
mengajar koding dan AI.


Kesenjangan digital:

Ada potensi kesenjangan antara sekolah-sekolah yang memiliki akses ke teknologi dan sumber
daya dengan yang tidak.

Kesimpulan
Program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah langkah penting dalam mempersiapkan
generasi muda untuk menghadapi tantangan dan peluang di era digital. Dengan memberikan
siswa keterampilan koding dan AI, kita membekali mereka dengan alat yang kuat untuk berpikir
kritis, berinovasi, dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat yang semakin terhubung dengan
teknologi.
Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024
tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang
Pendidikan Menengah.
Tentang Isi Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025
Mengutip informasi resmi Kemendikdasmen, berikut sejumlah poin penting dalam peraturan
tersebut:
 Tidak ada perubahan kurikulum: Satuan pendidikan tetap menggunakan
Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka yang telah diterapkan sebelumnya.
 Penyederhanaan struktur kokurikuler: Perubahan mencakup efisiensi
pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan penyesuaian alokasi waktu pada
beberapa jenjang kelas.
 Penguatan proses pembelajaran: Ditekankan melalui pendekatan
pembelajaran mendalam untuk meningkatkan pemahaman siswa.
 Penambahan mata pelajaran baru: Mata pelajaran koding dan kecerdasan
artifisial (AI) mulai diajarkan secara bertahap di kelas 5 SD, kelas 7 SMP, dan
kelas 10 SMA/SMK mulai tahun ajaran 2025/2026.
 Perubahan istilah Profil Pelajar Pancasila: Diubah menjadi profil lulusan untuk
menyesuaikan dengan perubahan standar kompetensi lulusan.
 Kegiatan ekstrakurikuler wajib: Satuan pendidikan wajib menyediakan paling
sedikit satu kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan atau kepanduan lainnya.
Perubahan ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk
mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan
peserta didik.

Anda mungkin juga menyukai