0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan92 halaman

Tujuan Pembelajaran Pendidikan Pancasila

Dokumen ini menjelaskan alur dan tujuan pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk kelas X, yang mencakup analisis nilai-nilai Pancasila, hak dan kewajiban warga negara, serta pentingnya keberagaman. Capaian pembelajaran dirancang untuk membentuk siswa menjadi warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab, dengan penekanan pada praktik baik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Diunggah oleh

Ambar Rahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan92 halaman

Tujuan Pembelajaran Pendidikan Pancasila

Dokumen ini menjelaskan alur dan tujuan pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk kelas X, yang mencakup analisis nilai-nilai Pancasila, hak dan kewajiban warga negara, serta pentingnya keberagaman. Capaian pembelajaran dirancang untuk membentuk siswa menjadi warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab, dengan penekanan pada praktik baik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Diunggah oleh

Ambar Rahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA

A. IDENTITAS
Nama
:
Dokumen Alur dan Tujuan Pembelajaran
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase : E
Kelas : X / Semua Program Keahlian
Penyusun : Eka Ambarahmawati, [Link]

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA


Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan
Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan
solutif untuk mengatasi perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila; menerapkan
perilaku taat hukum berdasarkan peraturan yang berlaku; menganalisis tataurutan peraturan
perundang-undangan di Indonesia; menyajikan asal usul dan makna semboyan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni dalam keberagaman; dan mengenal
gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan;
menerapkan perilaku, peran dan kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban; memahami
sistem pertahanan dan keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa
dan negara; menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan
nasional.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai
berikut.

Elemen Deskripsi
Memahami sejarah kelahiran Pancasila dan perumus Pancasila, bendera
negara, lagu kebangsaan, lambang negara Garuda Pancasila, dan simbol
Pancasila beserta sila-sila Pancasila; memahami kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup bangsa, dan ideologi negara serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari; memahami makna keterkaitan
Pancasila bahasa persatuan di lingkungan dengan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia; menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai
dasar negara dan pandangan hidup bangsa; mendeskripsikan rumusan dan
Pancasila
keterkaitan sila-sila dalam Pancasila; menghubungkan sila-sila dalam Pancasila
sebagai suatu kesatuan yang utuh; menganalisis peluang dan tantangan
penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan global dalam konteks Pancasila
sebagai ideologi negara, mengidentifikasi makna sila- sila Pancasila, dan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari; dan menunjukkan sikap bangga
menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan di lingkungan sekitar
Memahami pembukaan, sejarah,kedudukan, dinamika pemberlakuan Undang-
Undang Dasar 1945; menganalisis makna kesatuan Pancasila dengan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; memahami, mematuhi,
dan menerapkan aturan, norma, hak, dan kewajiban dalam kedudukannya
Undang-Undang
sebagai anggota sekolah, keluarga, tempat tinggal, dan sebagai warga negara;
Dasar Negara
menggunakan hak dan menerapkan kewajiban sebagai warga negara;
Republik
mempraktikkan musyawarah untuk membuat kesepakatan dan aturan
Indonesia Tahun
bersama, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
1945
keluarga dan sekolah; mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai
warga negara dalam era keterbukaan informasi; menerapkan perilaku taat
hukum berdasarkan peraturan yang berlaku, dan merumuskan solusi dari
permasalahan sebagai upaya perlindungan hukum untuk mewujudkan harmoni
dengan sesama manusia dan lingkungan.
Mengenal Bhinneka Tunggal Ika; mengidentifikasi identitas diri, keluarga dan
teman sesuai budaya, suku bangsa, bahasa, agama dan kepercayaan;
menghargai keberagaman suku bangsa, agama dan kepercayaan, ras, dan
antargolongan serta menerima keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat;
memahami pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah
Bhinneka Tunggal sebagai identitas nasional; menumbuhkan sikap tanggung jawab dan berperan
Ika aktif melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah; memahami
prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang
inklusif dan berkeadilan; menganalisis potensi konflik dan memberi solusi yang
berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat; dan
merancang kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik
hidup sehari-hari.

Memahami Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, mengenal dan


mengidentifikasi karakteristik lingkungan sekolah, tempat tinggal,
kabupaten/kota,dan provinsi sebagai wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI); menunjukkan perilaku kerja sama dalam berbagai bentuk
keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia; menunjukkan
perilaku gotong royong untuk menjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan
sekolah dan sekitar sebagai wujud bela negara, berpartisipasi aktif untuk
Negara Kesatuan
menjaga keutuhan wilayah NKRI; memahami peran dan kedudukannya sebagai
Republik
warga negara Indonesia; memahami sistem pertahanan dan keamanan negara,
Indonesia
menganalisis peran Indonesia dalam hubungan antarnegara; menganalisis dan
merumuskan solusi terkait ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan
(ATHG) yang dihadapi Indonesia; menganalisis sistem pemerintahan Indonesia,
dan peran lembaga-lembaga negara dalam bidang politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan dan keamanan; memahami nilai-nilai Pancasila dalam
konteks pembangunan nasional; dan mendemonstrasikan praktik demokrasi
berlandaskan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
C. RASIONAL DAN KONTEKS
Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, dan sistematis untuk mewujudkan proses
pembelajaran dan suasana belajar agar murid secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki ilmu tentang agama dan penerapannya di masyarakat, akhlak mulia,
pengendalian diri dan memahami batasan-batasan, kepribadian, kecerdasan, sopan santun,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, dan ideologi
negara harus diinternalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
melalui pendidikan untuk membentuk warga negara yang mencintai bangsa dan negara
Indonesia serta memahami perjuangan mencapai cita-cita berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Pendidikan menumbuhkembangkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan murid
yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk
mewujudkan kompetensi tersebut membutuhkan pembelajaran dan praktik baik yang
menghubungkan antara murid dan lingkungan sekitar serta perlu mengaitkannya dengan
pendekatan pembelajaran mendalam.
Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang berisi muatan Pendidikan Pancasila dan
Pendidikan Kewarganegaraan yang bertujuan membentuk murid menjadi warga negara yang
cerdas, amanah, jujur, berbudi luhur dan bertanggung jawab.
Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang mewujudkan dimensi profil
lulusan, diaplikasikan melalui praktik belajar kewarganegaraan berdasarkan Pancasila,
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat Bhinneka Tunggal
Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia.

D. CAPAIAN BERDASARKAN ELEMEN

Elemen Capaian Pembelajaran

Pancasila Peserta didik mampu menganalisis cara pandang para pendiri negara
tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara; Peserta didik mampu
menganalisis fungsi dan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara,
ideologi negara, dan identitas nasional; peserta didik mengenali dan
menggunakan produk dalam negeri sekaligus mempromosikan budaya
lokal dan nasional.

Undang-Undang Peserta didik mampu menganalisis hak dan kewajiban warga negara
Dasar Negara yang diatur dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Republik Indonesia Tahun 1945; peserta didik mendemonstrasikan praktik kemerdekaan
Tahun 1945 berpendapat warga negara dalam era keterbukaan informasi sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila; peserta didik mampu menganalisis kasus
pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dan perumusan solusi secara kreatif, kritis, dan inovatif untuk
memecahkan kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban.

Bhinneka Tunggal Ika Peserta didik mampu menginisiasi kegiatan bersama atau gotong
royong dalam praktik hidup sehari-hari untuk membangun masyarakat
sekitar dan masyarakat Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila;

Negara Kesatuan Peserta didik mampu memberi contoh dan memiliki kesadaran akan
Republik Indonesia hak dan kewajibannya sebagai warga sekolah, warga masyarakat dan
warga negara; Peserta didik mampu memahami peran dan
kedudukannya sebagai warga negara Indonesia.
ALUR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Profil
Capaian Pelajar Alokasi
Elemen Tujuan Pembelajaran Kata Kunci Glosarium
Pembelajaran Pancasil Waktu
a

Pancasi Peserta didik mampu 10.A1. Peserta didik Bernalar Rumusan dan isi Rumusan , 2 JP
la menganalisis cara mampu menganalisis kritis pancasila tokoh
pandang para pendiri cara pandang para
negara tentang pendiri negara tentang
rumusan Pancasila rumusan Pancasila
sebagai dasar negara; sebagai dasar negara.
Peserta didik mampu
menganalisis fungsi 10.A 2 Peserta didik Kreatif Peluang dan Nilai 2 JP
dan kedudukan mampu menganalisis tantangan Pancasila
Pancasila sebagai fungsi dan kedudukan
dasar negara, ideologi Pancasila sebagai
negara, dan identitas dasar negara, ideologi
nasional; peserta didik negara, dan identitas
mengenali dan nasional.
menggunakan produk 10.A 3 Peserta didik Bernalar Klasifikasi Nilai Nilai 2 JP
dalam negeri sekaligus mengenali dan kritis Pancasila Pancasila
mempromosikan menggunakan produk
budaya lokal dan dalam negeri sekaligus Beriman Penerapan nilai- Nilai 2 JP
nasional. mempromosikan dan nilai Pancasila Pancasila
budaya lokal dan bertaqw
nasional. a
terhadap
Tuhan
YME,
berahlak
Mulia

Bergoto Perwujudan Nilai 2 JP


ng Pelaksanaan Pancasila
royong nilai- nilai
Pancasila

Bernalar Penanaman nilai- Nilai 2 JP


kritis nilai Pancasila Pancasila

Beriman Peluang dan Penanaman 2 JP


dan tantangan NilaiPancasila
bertaqw
a
terhadap
Tuhan
YME,
berahlak
Mulia

Kreatif Membumikan Aspek 2 JP


Pancasila kehidupan

Mandiri Kekurangan dan Nilai 2 JP


kelebihan Pancasila
masing- masing
dalam anggota
kelompok

Beriman Menelaah Pelanggaran 2 JP


dan penyebab Nilai
bertaqw pelanggaran Pancasila
a Pelaksanaan
terhadap nilai Pancasila
Tuhan
YME,
berahlak
Mulia

Berbalar Hal penting dan Kebutuhan 2 JP


Kritis berharga masyarakat

Undang Peserta didik mampu 10.B.1 Peseta didik Berbalar Pelaksanaan Norma dan 2 JP
- menganalisis hak dan menganalisis dengan Kritis norma dan aturan, hak
Undang kewajiban warga mengamati, menyesuaikan aturan, hak dan dan
Dasar negara yang diatur dan menampilkan kewajiban warga kewajiban
Negara dalam Undang- Pelaksanaan norma negara warga negara
Republi Undang Dasar Negara danaturan, hak dan
k Republik Indonesia kewajiban warga negara yang
Indones Tahun 1945; peserta diatur dalam konstitusi dan
ia didik norma yang berlaku
Tahun mendemonstrasikan
1945 praktik kemerdekaan 10.B.2 Peserta didik Kreatif Menemukan Norma dan 2 jp
berpendapat warga menemukan, mengoreksi dan pelanggaran aturan
negara dalam era melaporkan Pelanggaran norma dan
keterbukaan informasi norma dan aturan yang aturan
sesuai dengan nilai- berlaku dalam kehidupan
nilai Pancasila; peserta sehari hari
didik mampu 10.B.3 Peserta didik Bergoto Mempratikan Norma hasil 2 jp
menganalisis kasus mengasosiasikan, ng membuat kesepakatan
pelanggaran hak dan mempraktikkan dan royong kesepakatan bersama
pengingkaran mengusulkan membuat
kewajiban kesepakatan bersamadi bersama
sebagaimana diatur sekolah terkait dengan norma
dalam Undang-Undang yang harus dipatuhi oleh
Dasar Negara Republik seluruh peserta
Indonesia Tahun 1945
dan perumusan solusi 10.B.4 Peserta didik Mandiri Rumusan Pancasila dan 2 JP
secara kreatif, kritis, Menggambarkan, Pancasila dan UUD NRI
dan inovatif untuk memposisikan dan menata UUD NRI 1945 1945
memecahkan kasus jalannya sidang BPUPKI
pelanggaran hak dan dalam merumuskan Pancasila
pengingkaran dan UUD NegaraRepublik
kewajiban. IndonesiaTahun 1945

10.B.5 Peserta didik Bergoto Latar belakang Amandemen 2 JP


menguraikan, mengumpulkan ng amandemen UUD NRI
dan membuktikan latar Royong UUD NRI1945 1945
belakang dilaksanakannya
amandemen UUD Negara
Republik Indonesia Tahun
1945

10.B.6 Peserta didik Bernalar Tahapanamande Amandemen 2 JP


menyimpulkan, Kritis men UUD UUD NRI
mengonstruksi NRI1945 1945
danmembuktikan Tahapan
Amandemen UUD Negara
Republik Indonesia Tahun
1945

10.B.7 Peserta didik Bernalar Penyusunan Penyusunan 2 JP


menyusun, menseketsa dan kritis regulasi antar regulasi
memadukan peta konsep lembaga negara
penyusunan regulasi antar
lembaga negara di Indonesia

10.B.8 Peserta didik Bernalar Mekanisme Perumusan 2 JP


menyimpulkan, membentuk Kritis perumusan regulasi
dan mendukung mekanisme regulasi
perumusan regulasiyang
berlaku diIndonesia

10.B.9 Peserta didik Mandiri Langkah-langkah Sengketa dan 2 JP


menyajikan, membuat dan dalam pertentangan
menata langkah - langkah penyusunan antar
yang dilakukan dalam regulasi,penyele regulasi
penyusunan regulasi, saian sengketa
penyelesaian sengketa jika
terjadi tumpang tindih,
pertentangan antara satu
regulasi dengan regulasi
yang setara

10.B.10 Peserta didik Bernalar Menunjukkan Regulasi 2 JP


menunjukkan, mengoreksi Kritis contoh, tumpang
dan mempertanyakan contoh tindih,
tumpang tindih, kesesuaian, kesesuaian dan
dan pertentangan antara satu pertentangan
regulasi dengan regulasi regulasi
yang setara.

Bhinek Peserta didik mampu 10.C.1 Peserta didik Berbhine Pembentukan Kelompok 4 JP
a menginisiasi kegiatan mengkritik, kaanGlo identitas lokal,
Tungga bersama atau gotong mempresentasikan dan bal regional,
l Ika royong dalam praktik melengkapi dengan cara nasional dan
hidup sehari-hari untuk mengidentifikasi pengaruh global
membangun keanggotaan kelompok
masyarakat sekitar lokal,regional, nasional, dan
dan masyarakat global terhadap
Indonesia berdasarkan pembentukan identitas
nilai-nilai Pancasila;
10.C.2 Peserta didik Beriman Menganalisis Nilai, 2 JP
menganalisis, mengumpulkan dan makna dan nilai keragaman
dan memilih makna dan nilai Bertakw dari keragaman
dari keragaman dalam a
kehidupan berbangsa terhadap
Tuhan
YME,
Berakhla
k mulia

10.C.3 Peserta didik Mandiri Mengidentifikasi Mengidentifik 2 JP


menginisiasi, mengoreksi dan respon terhadap asi respon
memilah dengan cara kondisi dan terhadap
mengidentifikasi respon keadaan kondisi dan
terhadap kondisi dankeadaan keadaan
yang ada di lingkungan dan
masyarakat untuk
menghasilkan kondisi dan
keadaan yang lebih baik.

10.C.4 Peserta didik Berbhine Mengidentifikasi Pertukaran 2 JP


mengidentifikasi, merancang kaan pertukaran budaya
dan mendukung pertukaran global budaya
budaya dan kolaborasi dalam
dunia yangsaling terhubung

10.C.5 Peserta didik Berbhine Pertukaran Kearifan 2 JP


mengkaji, mengumpulkan kaan budaya dan lokal, produk
dan memadukan makna dan
manfaat hidup dalam global kolaborasi dalam negeri
kebinekaan, kaya akan
kearifan lokal, dan memilih
produk dalam negeri

10.C.6 Peserta didik Bernalar Dampak Pertukaran 2 JP


mengasosiasikan, mengemas kritis pertukaran budaya,
dan menanggapi dampak budaya kolaborasi
pertukaran budaya dan dalam dunia
kolaborasi dalam dunia yang
saling terhubung

10.C.7 Peserta didik Berbhine Manfaat dan Kebhinekaan, 2 JP


menyajikan, memanipulasi kaan keuntungan kearifan
dan mengelola hasil diskusi global pertukaran lokal, produk
manfaat dan keuntungan budaya dalam negeri
pertukaran budaya dan
kolaborasi dalam dunia
yangsaling terhubung,

10.C.8 Peserta didik Berbhine Diskusi manfaat Kebhinekaan, 2 JP


menyajikan, memadankan kaan dan keuntungan kearifan
dan menampilkan hasil kajian global pertukaran lokal, produk
makna dan manfaat hidup budaya dalam negeri
dalam kebinekaan, kaya akan
kearifan lokal, danmemilih
produk dalam negeri

Negara Peserta didik mampu 10.D.1 Peserta didik Bernalar Contoh kasus Kasus 2 JP
Kesatu memberi contoh dan mengidentifikasikan, kritis wilayah yang wilayah
an memiliki kesadaran mengilustrasikan dan diperebutkan
Republi akan hak dan membuktikan contoh kasus
k kewajibannya sebagai wilayah yang diperebutkan
Indones warga sekolah, warga berdasarkan fakta dan
ia masyarakat dan warga regulasi,
negara; Peserta didik
mampu memahami 10.D.2 Peserta didik Berbhine Praktik baik Keutuhan 4 JP
peran dan menelaah, kaan menjaga NKRI
kedudukannya sebagai mendemontrasikan dan global keutuhan NKRI
warga negara mendukung beberapa praktik
Indonesia. baik dan sikap menjaga
keutuhanNKRI yang telah
dilakukan oleh
orang/kelompok sebelumnya

10.D.3 Peserta didik Bernalar Mengidentifikasi Sistem 2 JP


menganalisis, kritis konsep sistem pertahanan
mengoperasikan dan pertahanan dan dan
meyakini konsep sistem keamanan keamanan
pertahanan dan keamanan Nasional nasional
Nasionaldalam menjaga
keutuhan NKRI

10.D.4 Peserta didik Kreatif Langkah-langkah Sistem 2 JP


menyusun, merancang dan peningkatan pertahanan
melengkapi Langkah-langkah sistem dan
peningkatan sistem pertahanan dan keamanan
pertahanan dan keamanan keamanan nasional
nasional nasional

10.D.5 Peserta didik Bergoto Sistem Hambatan, 2 JP


menyimpulkan, ng pertahanan dan tantangan,
mempresentasikan dan royong keamanan gangguan
menampilkan hasil kajian nasional dan ancaman
Hambatan,Tantangan,ganggu
an dan ancaman dalam
pelaksanakan sistem
pertahanan dan keamanan
nasional

10.D.6 Peserta didik Mandiri Upaya Sistem 2 JP


menyimpulkan, peningkatan pertahanan
menggunakan dan sistem dan
mengusulkan upaya - upaya pertahanan dan keamanan
yang dilakukan dalam keamanan Nasional
peningkatan sistem Nasional
pertahanan dan keamanan
Nasional

10.D.7 Peserta didik Berbhine Peran Indonesia Peran 2 JP


mengidentifikasi, kaan Indonesia
mengumpulkan dan global sebagai
melaporkan peran Indonesia negara
sebagai negara kesatuan kesatuan
dalam pergaulan antar
bangsa dan negara di dunia

10.D.8 Peserta didik Bernalar Kerangka berfikir Negara 2 JP


memutuskan, kritis tentang peran kesatuan,
mempresentasikan dan Indonesia pergaulan
mendukung hasil antar bangsa
mengembangkan kerangka
berfikir peran Indonesia
sebagai negara kesatuan
dalampergaulan antar bangsa
dan negara di dunia.

JUMLAH ALOKASI WAKTU 72


PEMBAGIAN JAM PELAJARAN DALAM SEMESTER
DAN RANGKUMAN AKTIVITAS KEGIATAN PEMBELAJARAN
CAPAIAN PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
(Keputusan BSKAP Nomor : 32 Tahun 2024)

A. RASIONAL
Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi
negara harus diinternalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui
pendidikan untuk membentuk warga negara yang mencintai bangsa dan negara
Indonesia. Pendidikan menumbuhkembangkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan
keterampilan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Kompetensi tersebut membutuhkan pembelajaran dan praktik baik yang
menghubungkan antara peserta didik dan lingkungan sekitar.
Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi
negara harus diinternalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui
pendidikan untuk membentuk warga negara yang mencintai bangsa dan negara
Indonesia.
Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang berisi muatan pendidikan Pancasila
dan pendidikan kewarganegaraan yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi
warga negara yang cerdas, amanah, jujur, dan bertanggung jawab. Pendidikan
Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang mewujudkan profil pelajar
Pancasila, diaplikasikan melalui praktik belajar kewarganegaraan berdasarkan
Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat
Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. TUJUAN
Mata pelajaran Pendidikan Pancasila bertujuan untuk membentuk peserta didik yang:
1. berakhlak mulia dengan didasari keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa melalui sikap mencintai sesama manusia, lingkungan, dan negara untuk
mewujudkan persatuan, demokrasi, dan keadilan sosialdengan menanamkan
penyadaran, keteladanan, dan pembiasaan;
2. memahami makna dan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, pandangan
hidup, dan ideologi negara, serta mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
3. mematuhi konstitusi dan norma yang berlaku serta menyelaraskan perwujudan
hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara di masyarakat global;
4. memahami jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang berbineka dan
berupaya untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka
Tunggal Ika, serta bersikap adil dan menghargai perbedaan SARA, status sosial-
ekonomi, jenis kelamin, dan penyandang disabilitas; dan
5. mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesiadan berperan
aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

C. KARAKTERISTIK
Karakteristik mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
1. menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan dan karakter ber-Pancasila;
2. menumbuhkan kesadaran untuk melaksanakan Undang- Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 serta menjaga ketertiban dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
3. menciptakan keselarasan, mencegah konflik, dan mewujudkan persatuan dan
kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika;
4. menjaga lingkungan dan mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia; dan
5. mengembangkan praktik belajar kewarganegaraan yang berlandaskan Pancasila,
Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal
Ika, dan

Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan Pancasila berisi elemen Pancasila,


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika,
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Elemen dan deskripsi elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai
berikut.
Elemen Deskripsi
Pancasila Memahami sejarah kelahiran, perumusan, dan penetapan
Pancasila, dan kedudukannya sebagai dasar negara,
pandangan hidup bangsa dan ideologi negara, serta makna,
nilai, dan hubungan sila-sila Pancasila sebagai suatu
kesatuan yang utuh; memahami bendera, lagu kebangsaan,
dan bahasa Indonesia; memahami hubungan Pancasila
dengan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia; menerapkan cara berpikir dan
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan
menunjukkan sikap bangga sebagai anak Indonesia.
Undang-Undang Dasar Mematuhi peraturan dan norma yang berlaku; menjalankan
Negara Republik hak dan kewajiban; menunjukkan perilaku demokratis
Indonesia Tahun 1945 dalam perumusan peraturan; dan memahami periodisasi
pemberlakuan undang-undang dasar di Indonesia serta
perubahan Undang- Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Bhinneka Tunggal Ika Menunjukkan rasa bangga terhadap jati diri sebagai bangsa
Indonesia; memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal
sosial untuk membangun keselarasan dan memberikan
solusi yang berkeadilan; menjaga, melestarikan,
memanfaatkan, dan mengembangkan tradisi, kearifan lokal,
dan budaya dalam masyarakat global.
Negara Kesatuan Mengkaji karakteristik lingkungan tempat tinggal dan
Republik Indonesia sekitarnya; memahami bentuk negara, bentuk
pemerintahan, sistem pemerintahan, dan lembaga-lembaga
negara dalam mewujudkan pembangunan nasional
berdasarkan Pancasila; melaksanakan praktik demokrasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memahami
sistem pertahanan dan keamanan negara, peran Indonesia
dalam hubungan antarbangsa dan negara, dan solusi terkait
ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG)
sebagai wujud bela negara.

D. CAPAIAN PEMBELAJARAN FASE E (UMUMNYA UNTUK KELAS X


SMA/MA/SMK/MAK/PROGRAM PAKET C)
Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan
Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan
gagasan solutif untuk mengatasi perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila;
menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan peraturan yang berlaku; menganalisis
tataurutan peraturan perundang-undangan di Indonesia; menyajikan asal usul dan
makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni
dalam keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem
ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan; menerapkan perilaku, peran dan
kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban; memahami sistem pertahanan dan
keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan negara;
menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan
nasional.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara
tentang dasar negara; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara;
merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi perilaku yang
bertentangan dengan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Dasar Peserta didik menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
Negara Republik peraturan yang berlaku di masyarakat; menganalisis tata urutan
Indonesia Tahun 1945 peraturan perundang- undangan di Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika Peserta didik menyajikan asal usul dan makna semboyan
Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial; membangun harmoni
dalam keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai
perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan
berkeadilan.
Negara Kesatuan Peserta didik menerapkan perilaku sesuai dengan hak dan
Republik Indonesia kewajiban sebagai warga sekolah, warga masyarakat dan warga
negara; serta memahami peran dan kedudukannya sebagai
Warga Negara Indonesia; memahami sistem pertahanan dan
keamanan negara; menganalisis peran Indonesia dalam hubungan
antarbangsa dan negara; serta menguraikan nilai-nilai Pancasila
yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB 1 : PANCASILA SEBAGAI PEMERSATU BANGSA

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMKN 4 BANJAR
Nama Penyusun : EKA AMBARAHMAWATI, [Link].,Gr.
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 14 JP (7 kali pertemuan @ 2JP)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


Sebelum memulai pembelajaran, identifikasi kesiapan peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
● Pengetahuan Awal: Peserta didik telah mempelajari hubungan Pancasila dengan UUD NRI Tahun
1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI di jenjang SMP (Kelas IX). Mereka memiliki pemahaman dasar
tentang Pancasila sebagai dasar negara, namun mungkin belum mendalami gagasan pendiri bangsa
atau dinamika perumusannya. Guru akan melakukan asesmen awal untuk menggali pemahaman
mereka tentang Pancasila secara umum.
● Minat: Peserta didik menunjukkan minat terhadap isu-isu kebangsaan, sejarah perjuangan bangsa,
atau fenomena keberagaman di Indonesia. Beberapa mungkin tertarik pada diskusi tentang persatuan
dan tantangan yang dihadapinya. Guru dapat memantik minat dengan kasus-kasus aktual yang
berkaitan dengan persatuan bangsa.
● Latar Belakang: Peserta didik berasal dari berbagai suku, agama, dan latar belakang sosial.
Keberagaman ini menjadi kekayaan yang dapat dimanfaatkan dalam diskusi tentang Pancasila
sebagai pemersatu. Mereka mungkin memiliki pengalaman langsung terkait keberagaman di
lingkungan sekitar.
● Kebutuhan Belajar:
 Auditori: Kebutuhan belajar auditori akan dipenuhi dengan menyajikan rekaman pidato tokoh
nasional, diskusi kelompok, dan presentasi lisan.
 Visual: Kebutuhan belajar visual akan dipenuhi dengan menampilkan teks pidato, infografis sejarah
perumusan Pancasila, foto/video dokumenter, dan peta konsep.
 Kinestetik: Kebutuhan belajar kinestetik akan dipenuhi melalui kegiatan simulasi sidang BPUPK,
bermain peran, membuat poster/proyek kolaboratif, atau kunjungan virtual ke museum sejarah.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN


● Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
 Konseptual: Peserta didik akan memahami gagasan pendiri bangsa tentang dasar negara,
dinamika perumusan Pancasila (sidang BPUPK), kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan
pandangan hidup bangsa, serta aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

 Prosedural: Peserta didik akan menguasai langkah-langkah menganalisis ide-ide rumusan dasar
negara, mengidentifikasi relevansi nilai Pancasila, serta merancang dan mengimplementasikan
perilaku sesuai Pancasila.

● Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan karena Pancasila
adalah dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia. Peserta didik sebagai generasi penerus perlu
memahami, menghayati, dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila untuk menjaga persatuan dan
kesatuan di tengah keberagaman. Hal ini penting dalam menghadapi tantangan polarisasi dan
perpecahan di masyarakat.
● Tingkat Kesulitan: Materi disajikan secara bertahap, dimulai dari pemahaman konsep historis
perumusan Pancasila, kemudian mendalami kedudukan dan fungsi Pancasila, hingga pada tahapan
aktualisasi nilai dalam konteks kehidupan nyata. Tingkat kesulitan dapat disesuaikan dengan contoh
kasus atau sumber belajar yang digunakan.
● Struktur Materi: Materi tersusun secara sistematis dari pengenalan (Gagasan Pendiri Bangsa),
dilanjutkan dengan dinamika (Proses Perumusan Pancasila), kemudian pendalaman (Kedudukan
Pancasila), dan diakhiri dengan implementasi (Aktualisasi Nilai Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa).
● Integrasi Nilai dan Karakter:
 Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia: Menerapkan
nilai-nilai ketuhanan dalam menghargai perbedaan agama, toleransi, dan menjunjung tinggi nilai-
nilai moral.
 Kewargaan: Menumbuhkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan bangga sebagai warga negara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Menghargai keberagaman sebagai kekayaan bangsa.
 Bernalar Kritis: Menganalisis ide-ide tokoh, mengevaluasi dinamika perumusan Pancasila, dan
merumuskan solusi atas permasalahan yang mengancam persatuan.
 Kolaborasi/Bergotong Royong: Bekerja sama dalam kelompok untuk mendiskusikan topik,
menganalisis kasus, dan merancang proyek aktualisasi Pancasila.
 Kemandirian: Melakukan studi literatur secara mandiri dan merumuskan gagasan personal tentang
aktualisasi Pancasila.
 Komunikasi: Mengembangkan kemampuan menyampaikan gagasan, berargumen, dan
mempresentasikan hasil diskusi secara efektif dan santun.

D. DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN


Dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini adalah:
● Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia: Peserta didik
mampu menghargai keberagaman keyakinan dan praktik keagamaan sebagai bentuk implementasi
sila pertama Pancasila, serta menumbuhkan sikap toleransi dan menghormati sesama.
● Kewargaan: Peserta didik mampu menunjukkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan bangga
sebagai warga negara Indonesia yang majemuk namun tetap bersatu di bawah payung Pancasila.
Mereka juga aktif berpartisipasi dalam menjaga persatuan bangsa.
● Bernalar Kritis: Peserta didik mampu menganalisis gagasan-gagasan pendiri bangsa tentang dasar
negara, mengevaluasi dinamika perumusan Pancasila, serta merumuskan cara-cara aktualisasi
Pancasila dalam konteks kekinian untuk menjaga persatuan.
● Kolaborasi/Bergotong Royong: Peserta didik mampu bekerja sama dalam kelompok untuk
mendiskusikan berbagai perspektif tentang Pancasila, menganalisis kasus-kasus terkait persatuan,
dan merancang proyek bersama yang mengaktualisasikan nilai Pancasila.
● Kemandirian: Peserta didik mampu melakukan studi literatur secara mandiri tentang Pancasila dan
dinamika perumusannya, serta mengembangkan pemikiran personal tentang pentingnya Pancasila
sebagai pemersatu bangsa.
● Komunikasi: Peserta didik mampu menyampaikan gagasan dan argumen tentang Pancasila secara
lisan maupun tulisan dengan jelas, logis, dan persuasif, serta berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas.
DESAIN PEMBELAJARAN

A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024


Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi
perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila; menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
peraturan yang berlaku; menganalisis tataurutan peraturan perundang-undangan di Indonesia; menyajikan
asal usul dan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif
dan berkeadilan; menerapkan perilaku, peran dan kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban;
memahami sistem pertahanan dan keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa
dan negara; menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.

Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara tentang
dasar negara; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar
negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan
solutif untuk mengatasi perilaku yang bertentangan dengan nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Dasar Negara Peserta didik menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan peraturan
Republik Indonesia Tahun 1945 yang berlaku di masyarakat; menganalisis tata urutan peraturan
perundang- undangan di Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika Peserta didik menyajikan asal usul dan makna semboyan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai modal sosial; membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan
sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan.
Negara Kesatuan Republik Peserta didik menerapkan perilaku sesuai dengan hak dan kewajiban
Indonesia sebagai warga sekolah, warga masyarakat dan warga negara; serta
memahami peran dan kedudukannya sebagai Warga Negara
Indonesia; memahami sistem pertahanan dan keamanan negara;
menganalisis peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan
negara; serta menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan
dalam pembangunan nasional.

B. LINTAS DISIPLIN ILMU


● Sejarah: Memahami latar belakang sejarah perumusan Pancasila, peran tokoh pendiri bangsa, dan
dinamika peristiwa yang melatarbelakanginya.
● Sosiologi/Antropologi: Menganalisis keberagaman masyarakat Indonesia (suku, agama, budaya)
dan tantangan yang dihadapinya, serta peran Pancasila dalam menjaga integrasi sosial.
● Pendidikan Kewarganegaraan: Memahami hak dan kewajiban warga negara, sistem pemerintahan,
dan pentingnya partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai nilai Pancasila.
● Bahasa Indonesia: Kemampuan membaca kritis, menulis ringkasan, dan mempresentasikan gagasan
secara efektif dan persuasif.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Gagasan Pendiri Bangsa tentang Dasar Negara (2 JP)
● Menganalisis: Peserta didik mampu menganalisis gagasan-gagasan pendiri bangsa tentang dasar
negara (Moh. Yamin, Mr. Supomo, Ir. Soekarno) dengan tepat.
● Menyajikan: Peserta didik mampu menyajikan ringkasan gagasan para tokoh secara lisan atau tulisan
dengan jelas.
Pertemuan 2: Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPK (2 JP)
● Menguraikan: Peserta didik mampu menguraikan proses dan dinamika sidang BPUPK dalam
perumusan Pancasila sebagai dasar negara dengan benar.
● Mengidentifikasi: Peserta didik mampu mengidentifikasi nilai-nilai luhur dan semangat gotong royong
dalam proses perumusan Pancasila.
Pertemuan 3: Kedudukan dan Fungsi Pancasila (2 JP)
● Menganalisis: Peserta didik mampu menganalisis kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai dasar
negara dan pandangan hidup bangsa dengan tepat.
● Menjelaskan: Peserta didik mampu menjelaskan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang mampu
menyatukan keberagaman bangsa.
Pertemuan 4-5: Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa (4 JP)
● Merumuskan: Peserta didik mampu merumuskan bentuk-bentuk aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
● Merancang: Peserta didik mampu merancang proyek sederhana atau kampanye digital yang
mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
Pertemuan 6-7: Presentasi Proyek Aktualisasi Pancasila (4 JP)
● Mempresentasikan: Peserta didik mampu mempresentasikan proyek aktualisasi Pancasila sebagai
pemersatu bangsa dengan percaya diri dan komunikatif.
● Menunjukkan: Peserta didik mampu menunjukkan sikap toleransi dan semangat persatuan dalam
berinteraksi dengan sesama.

D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


● Gagasan Pendiri Bangsa tentang Dasar Negara: Pemikiran tokoh-tokoh penting dalam merumuskan
pondasi negara.
● Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPK: Proses musyawarah dan mufakat para
pendiri bangsa dalam mencapai konsensus.
● Kedudukan dan Fungsi Pancasila: Pancasila sebagai pondasi negara dan pedoman hidup yang
menyatukan bangsa.
● Aktualisasi Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa: Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam
menghadapi tantangan keberagaman dan menjaga keutuhan bangsa, seperti isu SARA, hoaks, dan
intoleransi.

F. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK
● Model Pembelajaran: Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) dan Diskusi
Kelompok (Group Discussion).
● Pendekatan: Deep Learning (Mindful Learning, Meaningful Learning, Joyful Learning)
 Mindful Learning: Peserta didik belajar untuk menyadari dan memahami secara mendalam nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, sejarah perumusannya, serta relevansinya dalam
konteks kehidupan saat ini. Mereka didorong untuk merenungkan makna setiap sila dan
bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan secara sadar.
 Meaningful Learning: Pembelajaran menjadi bermakna karena peserta didik menghubungkan
konsep Pancasila dengan realitas kehidupan sehari-hari dan tantangan kebangsaan. Mereka
merasakan langsung bagaimana Pancasila menjadi solusi atas permasalahan yang mengancam
persatuan, dan melihat relevansinya dalam membangun masa depan bangsa yang harmonis.
 Joyful Learning: Pembelajaran dirancang menyenangkan melalui kegiatan diskusi yang dinamis,
simulasi sejarah, proyek kolaboratif, dan penggunaan media interaktif (video, infografis). Peserta
didik diberi kesempatan untuk berekspresi, berkolaborasi, dan merasakan kebanggaan sebagai
bagian dari bangsa yang berPancasila.

● Metode Pembelajaran: Ceramah interaktif, tanya jawab, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi,
proyek, dan presentasi.
● Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
 Diferensiasi Konten: Menyediakan beragam sumber belajar (teks, video, infografis, rekaman
pidato) tentang Pancasila dan sejarah perumusannya; menyajikan contoh kasus aktual yang
bervariasi tingkat kompleksitasnya.
 Diferensiasi Proses: Mengatur kelompok berdasarkan minat atau gaya belajar; menyediakan
panduan studi kasus yang terstruktur; memberikan pilihan aktivitas analisis (misalnya, membuat
peta pikiran, tabel, atau presentasi singkat); pendampingan individual atau kelompok saat
merancang proyek.
 Diferensiasi Produk: Memberikan kebebasan memilih format proyek aktualisasi Pancasila
(misalnya, poster, video pendek, artikel, kampanye media sosial, pertunjukan simulasi);
memungkinkan presentasi dalam berbagai format (lisan, visual, digital).

KEMITRAAN PEMBELAJARAN
● Lingkungan Sekolah: Pemanfaatan fasilitas sekolah (aula untuk simulasi, perpustakaan untuk
referensi) dan kerja sama dengan guru mata pelajaran lain (misalnya Sejarah) untuk integrasi materi.
● Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Jika memungkinkan, mengundang narasumber dari
kepolisian/TNI/tokoh masyarakat yang kompeten dalam bidang kebangsaan untuk berbagi
pengalaman tentang persatuan. Mengamati isu-isu persatuan di lingkungan masyarakat sebagai
bahan studi kasus.
● Mitra Digital: Situs web resmi pemerintah (Kemendikbudristek, BPIP) untuk sumber data dan
informasi. Platform berita daring untuk studi kasus aktual.

LINGKUNGAN BELAJAR
● Ruang Fisik: Ruang kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok dan simulasi. Area terbuka untuk
presentasi proyek.
● Ruang Virtual: Akses internet untuk mencari informasi, mengakses sumber digital, dan menggunakan
aplikasi untuk merancang proyek.
● Budaya Belajar: Mendorong budaya toleransi, saling menghargai perbedaan, musyawarah untuk
mufakat, semangat gotong royong, dan aktif berpartisipasi dalam menjaga persatuan.

PEMANFAATAN DIGITAL
● Perpustakaan Digital/Sumber Daring: Komputer/Laptop dan akses internet untuk mencari pidato asli
para pendiri bangsa, artikel sejarah perumusan Pancasila, atau data tentang keberagaman di
Indonesia.
● Forum Diskusi Daring: (Opsional, dapat diintegrasikan melalui Google Classroom) untuk berbagi
hasil analisis, diskusi, atau pengunggahan draf proyek.
● Penilaian Daring: Kuis interaktif via Kahoot! atau Quizizz untuk menguji pemahaman konsep atau
sejarah Pancasila.
● Alat Desain/Presentasi Digital: Google Slides, Canva untuk membuat infografis, poster, atau materi
presentasi. Aplikasi edit video/audio untuk proyek video atau podcast.

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


PERTEMUAN 1
PERTEMUAN 1 (2 JP: 90 MENIT)
Topik: Gagasan Pendiri Bangsa tentang Dasar Negara
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
● Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek kehadiran.
● Apersepsi (Mindful Learning): Guru menampilkan foto-foto pendiri bangsa (Ir. Soekarno, Moh.
Yamin, Mr. Supomo) dan bertanya: "Siapa saja tokoh-tokoh ini? Apa peran mereka dalam sejarah
bangsa kita?" "Menurut kalian, mengapa sebuah negara perlu memiliki dasar negara?"
● Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana para pendiri bangsa kita berjuang untuk menemukan dasar
negara yang bisa menyatukan kita semua?" "Apakah gagasan mereka masih relevan hingga saat ini?"
● Motivasi (Meaningful Learning): Guru menyampaikan bahwa dengan mempelajari gagasan pendiri
bangsa, kita akan memahami betapa berharganya Pancasila sebagai hasil pemikiran mendalam dan
perjuangan yang luar biasa, sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air.
● Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Menganalisis dan menyajikan ringkasan gagasan para tokoh
pendiri bangsa.

KEGIATAN INTI ( 65 MENIT )


● Asesmen Diagnostik (Assessment as Learning): Guru melakukan asesmen awal dengan menggali
pemahaman peserta didik tentang Pancasila secara umum. Contoh: "Sebutkan 5 sila dalam Pancasila!
Apa makna sila pertama menurutmu?". Guru mencatat respons untuk memetakan pengetahuan awal.
● Eksplorasi Sumber (Mindful Learning): Peserta didik membaca atau menyimak rekaman
pidato/ringkasan gagasan Moh. Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Soekarno tentang dasar negara (dari buku
siswa, hlm. 6-10, atau sumber digital). (Diferensiasi konten: Menyediakan ringkasan atau poin-poin
utama gagasan bagi yang membutuhkan).
● Analisis Gagasan (Bernalar Kritis): Dalam kelompok, peserta didik menganalisis pokok-pokok
gagasan dari setiap tokoh. Mereka mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan dalam pandangan para
tokoh. (Diferensiasi proses: Menyediakan lembar kerja perbandingan gagasan tokoh).
● Diskusi Kelompok (Kolaborasi & Komunikasi): Setiap kelompok mendiskusikan inti dari setiap
gagasan dan mengapa gagasan tersebut penting pada masanya.
● Menyajikan Ringkasan: Peserta didik menyajikan ringkasan gagasan para tokoh secara lisan atau
tulisan. Guru mendorong presentasi yang interaktif.
● Penguatan Konsep: Guru memberikan penguatan tentang esensi gagasan setiap tokoh dan
bagaimana semangat musyawarah mewarnai proses perumusan dasar negara.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
 Konten: Menyediakan teks atau audio/video pidato yang disesuaikan dengan preferensi belajar.
 Produk: Peserta didik dapat menyajikan ringkasan gagasan dalam bentuk tabel, peta pikiran, atau
presentasi singkat.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi (Mindful Learning): Peserta didik diajak merefleksikan pembelajaran: "Apa yang paling
berkesan dari pemikiran para pendiri bangsa tentang dasar negara?" "Mengapa penting bagi kita untuk
mengetahui sejarah perumusan Pancasila?"
● Rangkuman: Guru bersama peserta didik merangkum materi tentang gagasan pendiri bangsa.
● Tindak Lanjut: Guru memberikan tugas rumah untuk mencari tahu tentang peristiwa penting selama
sidang BPUPK.
● Penutup: Guru menutup pelajaran dengan salam dan doa.

PERTEMUAN 2 (2 JP: 90 MENIT)


Topik: Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPK
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
● Pembukaan: Salam, doa, cek kehadiran.
● Apersepsi: Mengulas singkat gagasan pendiri bangsa yang sudah dipelajari.
● Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana gagasan-gagasan hebat itu akhirnya bisa disepakati menjadi
Pancasila yang kita kenal sekarang?" "Apa yang bisa kita pelajari dari cara para pendiri bangsa
berdiskusi untuk mencapai mufakat?"
● Motivasi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Guru menyampaikan bahwa proses perumusan
Pancasila adalah bukti semangat gotong royong dan toleransi yang luar biasa, sehingga patut kita
teladani.
● Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Menguraikan proses dan dinamika sidang BPUPK serta
mengidentifikasi nilai luhur di dalamnya.

KEGIATAN INTI (65 MENIT)


● Simulasi/Video Dokumenter (Joyful Learning): Guru dapat memutar video dokumenter singkat
tentang sidang BPUPK atau mengadakan simulasi singkat suasana sidang (Diferensiasi konten:
Menyediakan video atau teks deskripsi proses sidang).
● Studi Kasus Dinamika Sidang (Bernalar Kritis): Peserta didik dalam kelompok mempelajari
dinamika penting selama sidang BPUPK, termasuk perbedaan pendapat dan bagaimana jalan tengah
dicapai (misalnya, pembahasan Piagam Jakarta dan perubahan frasa sila pertama).
● Mengidentifikasi Nilai Luhur (Meaningful Learning & Kewargaan): Peserta didik mengidentifikasi
nilai-nilai luhur yang terkandung dalam proses perumusan Pancasila, seperti musyawarah mufakat,
toleransi, semangat gotong royong, dan patriotisme.
● Diskusi dan Refleksi (Kolaborasi & Komunikasi): Setiap kelompok mendiskusikan relevansi nilai-
nilai tersebut dengan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Bagaimana nilai-nilai itu dapat
diterapkan untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.
● Presentasi dan Penguatan Konsep: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Guru
memberikan penguatan tentang pentingnya dinamika ini dalam membentuk Pancasila yang inklusif
dan merangkul semua.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
 Proses: Memberikan opsi untuk membuat lini masa peristiwa penting atau narasi deskriptif tentang
dinamika sidang.
 Produk: Peserta didik dapat menyajikan analisis dinamika dalam bentuk peta konsep, infografis,
atau narasi singkat.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi: Guru dan peserta didik merefleksikan nilai-nilai yang dipelajari dari dinamika perumusan
Pancasila. "Apa yang membuatmu bangga dengan proses perumusan Pancasila?"
● Rangkuman: Merangkum materi.
● Tindak Lanjut: Mempersiapkan diri untuk memahami kedudukan dan fungsi Pancasila.
● Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 3 (2 JP: 90 MENIT)
Topik: Kedudukan dan Fungsi Pancasila
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
● Pembukaan: Salam, doa, cek kehadiran.
● Apersepsi: Mengulas singkat proses perumusan Pancasila dan bagaimana ia akhirnya menjadi dasar
negara.
● Pertanyaan Pemantik: "Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar negara kita? Apa artinya bagi
kehidupan kita sehari-hari?" "Bagaimana Pancasila bisa menjadi 'rumah bersama' bagi seluruh rakyat
Indonesia yang berbeda-beda?"
● Motivasi (Meaningful Learning): Guru menyampaikan bahwa pemahaman mendalam tentang
kedudukan dan fungsi Pancasila akan menjadikan kita warga negara yang kuat dan mampu menjaga
keutuhan bangsa.
● Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Menganalisis kedudukan dan fungsi Pancasila serta
menjelaskan Pancasila sebagai ideologi terbuka.

KEGIATAN INTI (65 MENIT)


● Eksplorasi Konsep (Mindful Learning): Peserta didik membaca materi tentang kedudukan dan
fungsi Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, jiwa bangsa, perjanjian luhur, dan
ideologi terbuka (dari buku siswa, hlm. 11-15, atau sumber lain).
● Diskusi Kelompok (Bernalar Kritis & Kolaborasi): Dalam kelompok, peserta didik menganalisis
setiap kedudukan dan fungsi Pancasila. Mereka mendiskusikan contoh konkret dari setiap fungsi
dalam kehidupan nyata.
● Pancasila sebagai Ideologi Terbuka (Bernalar Kritis): Guru memfasilitasi diskusi tentang Pancasila
sebagai ideologi terbuka, bagaimana ia mampu menerima perkembangan zaman tanpa kehilangan
nilai-nilai dasarnya, dan bagaimana ini berperan dalam menyatukan keberagaman.
● Studi Kasus Relevansi: Peserta didik menganalisis kasus-kasus aktual (misalnya, isu intoleransi,
berita hoaks) dan mendiskusikan bagaimana Pancasila berperan sebagai solusi atau panduan untuk
menyelesaikannya.
● Presentasi dan Penguatan: Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka. Guru
memberikan penguatan tentang urgensi Pancasila sebagai perekat bangsa.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
 Proses: Menyediakan diagram atau visualisasi konsep kedudukan dan fungsi Pancasila.
 Produk: Peserta didik dapat membuat infografis, mind map, atau ringkasan poin-poin penting
tentang kedudukan dan fungsi Pancasila.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi: Guru dan peserta didik merefleksikan pemahaman tentang Pancasila. "Apa yang paling
kalian pahami tentang Pancasila sebagai pemersatu bangsa hari ini?"
● Rangkuman: Merangkum materi.
● Tindak Lanjut: Meminta peserta didik mulai memikirkan contoh aktualisasi Pancasila di lingkungan
sekitar.
● Penutup: Salam dan doa.

PERTEMUAN 4-5 (4 JP: 180 MENIT)


Topik: Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT TIAP PERTEMUAN)
● Pembukaan: Salam, doa, cek kehadiran.
● Apersepsi: Mengingatkan kembali kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi terbuka.
● Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana kita bisa mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata
sehari-hari?" "Apa peran kita sebagai pelajar dalam menjaga persatuan bangsa melalui Pancasila?"
● Motivasi (Meaningful Learning & Kewargaan): Guru menyampaikan bahwa aktualisasi Pancasila
adalah tanggung jawab setiap warga negara, dan melalui proyek ini, peserta didik dapat berkontribusi
nyata bagi persatuan bangsa.
● Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Merumuskan dan merancang proyek aktualisasi Pancasila.

KEGIATAN INTI (700 MENIT TIAP PERTEMUAN)


● Identifikasi Permasalahan (Bernalar Kritis): Peserta didik dalam kelompok mengidentifikasi
permasalahan di lingkungan sekitar (sekolah, masyarakat) yang terkait dengan isu persatuan,
toleransi, atau keberagaman (misalnya, kasus perundungan, konflik antar kelompok, penyebaran
hoaks).
● Brainstorming Solusi Berbasis Pancasila (Kreativitas & Kolaborasi): Setiap kelompok melakukan
brainstorming untuk merumuskan ide-ide proyek atau kampanye yang dapat menjadi solusi atas
permasalahan tersebut, dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila (misalnya, kampanye anti-hoaks,
program toleransi di sekolah, kegiatan gotong royong).
● Perancangan Proyek (Kemandirian & Kolaborasi): Peserta didik merancang detail proyek
aktualisasi Pancasila: tujuan, sasaran, langkah-langkah pelaksanaan, media yang digunakan, dan
pembagian tugas. (Diferensiasi proses: Guru menyediakan template atau panduan perancangan
proyek yang bervariasi).
● Penyusunan Draf Karya/Kampanye (Kreativitas): Peserta didik mulai menyusun draf produk proyek
(misalnya, desain poster, skrip video kampanye, materi presentasi simulasi) dan mengumpulkan
data/informasi yang diperlukan.

● Umpan Balik dan Revisi: Guru dan sesama peserta didik memberikan umpan balik konstruktif
terhadap draf proyek, fokus pada kesesuaian dengan nilai Pancasila dan potensi dampak positifnya.
Peserta didik merevisi proyek berdasarkan masukan.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
■ Proses: Menyediakan panduan yang bervariasi untuk perancangan proyek; pendampingan
individual atau kelompok sesuai kebutuhan.
■ Produk: Peserta didik bebas memilih format proyek (poster, video, artikel, presentasi) sesuai minat
dan keahlian.

KEGIATAN PENUTUP (5 MENIT TIAP PERTEMUAN)


● Refleksi: Guru dan peserta didik merefleksikan progres proyek.
● Tindak Lanjut: Menyampaikan target dan persiapan untuk pertemuan berikutnya (penyelesaian
proyek dan persiapan presentasi).
● Penutup: Salam.

PERTEMUAN 6-7 (4 JP: 180 MENIT)


Topik: Presentasi Proyek Aktualisasi Pancasila

KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT SETIAP PERTEMUAN)


● Pembukaan: Salam, doa, cek kehadiran.
● Apersepsi: Mengingatkan kembali semangat aktualisasi Pancasila.
● Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana kita bisa menyampaikan pesan persatuan dan nilai Pancasila
agar dapat menginspirasi banyak orang?" "Apa yang ingin kalian tunjukkan dari proyek kalian?"
● Motivasi (Joyful Learning & Komunikasi): Guru menyampaikan bahwa ini adalah kesempatan untuk
menunjukkan kontribusi nyata mereka dalam menjaga persatuan bangsa.
● Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Mempresentasikan proyek aktualisasi Pancasila dan
menunjukkan sikap toleransi.

KEGIATAN INTI (60 MENIT SETIAP PERTEMUAN)


● Persiapan Akhir Presentasi (Kemandirian): Peserta didik melakukan persiapan akhir presentasi,
termasuk pengaturan teknis (proyektor, suara), dan gladi bersih.
● Presentasi Proyek (Komunikasi & Kewargaan): Setiap kelompok mempresentasikan proyek
aktualisasi Pancasila mereka. Presentasi dapat berupa:
 Pemaparan desain poster/infografis.
 Pemutaran video kampanye.
 Simulasi skenario penyelesaian konflik berbasis Pancasila.
 Penjelasan konsep kampanye media sosial.
● Sesi Tanya Jawab/Umpan Balik (Bernalar Kritis & Kolaborasi): Setelah presentasi, guru
memfasilitasi sesi tanya jawab dan umpan balik dari teman-teman dan guru. Fokus pada kekuatan
proyek, potensi perbaikan, dan relevansi dengan nilai Pancasila.
● Diskusi dan Penguatan Nilai (Meaningful Learning & Keimanan): Guru memimpin diskusi tentang
pentingnya konsistensi dalam mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta
bagaimana nilai-nilai Pancasila membantu menjaga keharmonisan dan toleransi di tengah
keberagaman.

● Pembelajaran Berdiferensiasi:
 Proses: Memberikan panduan spesifik untuk presentasi sesuai format proyek yang dipilih
(misalnya, tips presentasi video, cara efektif menggunakan poster).
 Produk: Presentasi dalam berbagai format (lisan, visual, digital) sesuai preferensi dan keahlian
kelompok.

KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT SETIAP PERTEMUAN)


● Refleksi Akhir (Mindful Learning): Guru dan peserta didik melakukan refleksi menyeluruh tentang
seluruh proses pembelajaran bab ini, mulai dari memahami gagasan pendiri bangsa hingga mampu
mengaktualisasikan Pancasila dalam proyek nyata. "Apa pelajaran terbesar yang kalian dapatkan dari
bab ini?" "Bagaimana kalian akan menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari setelah
ini?"
● Penghargaan: Guru memberikan apresiasi atas kerja keras, kreativitas, dan partisipasi aktif peserta
didik dalam menjaga persatuan bangsa.
● Tindak Lanjut: Menyampaikan garis besar materi bab selanjutnya.
● Penutup: Salam dan doa.

G. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
● Tanya Jawab: "Sebutkan 5 sila dalam Pancasila! Apa makna sila pertama menurutmu?" untuk
menggali pengetahuan awal.
● Kuis Singkat: Kuis singkat tentang tokoh pendiri bangsa atau konsep dasar persatuan.

ASESMEN FORMATIF
● Tanya Jawab: Seputar materi yang sedang dibahas, seperti "Apa inti gagasan Moh. Yamin tentang
dasar negara?", "Bagaimana dinamika sidang BPUPK menunjukkan semangat toleransi?", "Sebutkan
contoh aktualisasi sila kedua Pancasila!".
● Diskusi Kelompok: Penilaian partisipasi dan kontribusi peserta didik dalam diskusi dan studi kasus.
● Latihan Soal/LKPD:
 "Ringkaslah gagasan dasar negara dari Ir. Soekarno!".
 "Jelaskan mengapa Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka!".
 "Identifikasi dua permasalahan di lingkunganmu yang bisa diselesaikan dengan nilai Pancasila,
dan berikan ide solusinya!".
● Observasi: Pengamatan guru terhadap sikap toleransi, semangat gotong royong, dan kemampuan
bernalar kritis peserta didik selama kegiatan kelompok dan diskusi.
● Produk (Proses):
 Tabel perbandingan gagasan tokoh.
 Peta konsep kedudukan dan fungsi Pancasila.
 Draf rancangan proyek aktualisasi Pancasila.

ASESMEN SUMATIF
● Produk (Proyek):
 Produk Proyek Aktualisasi Pancasila: "Rancang dan hasilkan sebuah produk (misalnya poster
digital, infografis, video kampanye singkat, atau skrip simulasi) yang mengaktualisasikan salah
satu atau beberapa nilai Pancasila sebagai pemersatu bangsa, dengan target audiens di
lingkungan sekolah atau masyarakat!" (menggunakan Rubrik Penilaian Proyek Aktualisasi
Pancasila).
 Laporan Proyek: "Buatlah laporan singkat yang menjelaskan tujuan, proses, dan dampak yang
diharapkan dari proyekmu!"

● Praktik (Kinerja):
 Presentasi Proyek: "Presentasikan proyek aktualisasi Pancasila yang telah kamu buat di depan
kelas. Jelaskan bagaimana proyekmu dapat berkontribusi pada persatuan bangsa dan tunjukkan
sikap toleransi dalam interaksimu!" (menggunakan Rubrik Penilaian Presentasi Proyek).

● Tes Tertulis: Tes akhir bab untuk mengukur pemahaman konseptual tentang Pancasila sebagai
pemersatu bangsa (pilihan ganda atau esai singkat).
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB 2 : MEMBANGUN BUDAYA TAAT HUKUM

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMKN 4 BANJAR
Nama Penyusun : EKA AMBARAHMAWATI, [Link].,Gr.
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 28 Jam Pelajaran (14 Pertemuan @ 2 JP)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


● Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang aturan atau norma
yang berlaku di lingkungan rumah dan sekolah. Mereka mungkin sudah mengetahui beberapa
peraturan perundang-undangan umum (misalnya, lalu lintas, dilarang merokok di sekolah). Namun,
pemahaman mendalam tentang konsep hukum, tata urutan peraturan perundang-undangan, serta
pentingnya kesadaran hukum dan sanksi mungkin masih terbatas.
● Minat: Minat peserta didik terhadap topik hukum bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada isu-isu
keadilan atau kasus-kasus hukum yang sedang ramai dibicarakan, sementara yang lain mungkin
merasa topik ini kering. Penting untuk mengaitkan materi dengan kasus-kasus nyata dan relevan
dengan kehidupan remaja.
● Latar Belakang: Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang keluarga dan lingkungan sosial,
yang memengaruhi pemahaman dan pengalaman mereka terkait ketaatan hukum. Beberapa mungkin
terbiasa dengan disiplin ketat, sementara yang lain mungkin belum terlalu terbiasa. Perlu pendekatan
yang beragam untuk mengakomodasi perbedaan ini.
● Kebutuhan Belajar:
○ Visual: Membutuhkan infografis, video dokumenter singkat, atau tayangan slide yang menjelaskan
hierarki hukum atau contoh pelanggaran/ketaatan hukum.
○ Auditori: Membutuhkan diskusi kelompok, mendengarkan studi kasus, atau presentasi dari
narasumber.
○ Kinestetik: Membutuhkan aktivitas bermain peran (simulasi sidang, musyawarah), membuat poster
kampanye kesadaran hukum, atau proyek penyelidikan kasus.
○ Beberapa peserta didik mungkin memerlukan bimbingan ekstra dalam memahami konsep abstrak
hukum, sementara yang lain mungkin siap untuk analisis kasus yang lebih kompleks.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN


● Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai: Pengetahuan konseptual (pengertian hukum, norma, sanksi,
tata urutan peraturan perundang-undangan), pengetahuan prosedural (langkah-langkah partisipasi
dalam penegakan hukum), dan pengetahuan metakognitif (strategi untuk mengembangkan kesadaran
hukum diri dan orang lain, refleksi terhadap perilaku taat hukum).
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan. Peserta didik sehari-
hari berinteraksi dengan berbagai aturan, baik di rumah, sekolah, maupun di jalan. Memahami hukum
akan membantu mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab, menghindari pelanggaran,
dan berkontribusi pada ketertiban masyarakat. Materi ini juga membekali mereka untuk menghadapi
tantangan di era digital (misalnya, UU ITE, penyebaran hoaks).
● Tingkat Kesulitan: Konsep dasar hukum dan norma relatif mudah dipahami. Namun, memahami
hierarki peraturan perundang-undangan, menganalisis kasus pelanggaran hukum, serta merumuskan
solusi untuk membangun budaya taat hukum membutuhkan tingkat penalaran kritis yang lebih tinggi.
Materi ini juga menuntut perubahan sikap dan perilaku.
● Struktur Materi: Materi diawali dengan pengenalan konsep dasar hukum dan norma, dilanjutkan
dengan tata urutan peraturan perundang-undangan, kemudian membahas pentingnya ketaatan hukum
dan sanksi, serta diakhiri dengan peran serta dalam membangun budaya taat hukum.
● Integrasi Nilai dan Karakter:
○ Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Menyadari bahwa hukum positif selaras
dengan nilai-nilai agama tentang keadilan dan ketertiban.
○ Kewargaan: Mendorong sikap patuh hukum sebagai wujud cinta tanah air dan tanggung jawab
sebagai warga negara.
○ Penalaran Kritis: Mengembangkan kemampuan menganalisis kasus pelanggaran hukum dan
dampaknya.
○ Kolaborasi: Melatih kerja sama dalam menyelesaikan proyek kampanye kesadaran hukum.
○ Kemandirian: Mendorong kesadaran hukum dari diri sendiri tanpa paksaan.
○ Integritas: Menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan dalam penegakan hukum.
○ Tanggung Jawab: Bertanggung jawab atas tindakan dan dampaknya terhadap lingkungan.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN


Berdasarkan tujuan pembelajaran, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Peserta didik menyadari hukum sebagai bagian
dari ketertiban ilahi dan cerminan keadilan.
● Kewargaan: Peserta didik memiliki kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara yang patuh
hukum.
● Penalaran Kritis: Peserta didik mampu menganalisis permasalahan terkait ketaatan hukum dan
merumuskan solusi.
● Kreativitas: Peserta didik mampu mengembangkan ide-ide inovatif untuk kampanye kesadaran
hukum.
● Kolaborasi: Peserta didik mampu bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
● Kemandirian: Peserta didik menunjukkan inisiatif dan kesadaran diri dalam mempraktikkan ketaatan
hukum.
● Komunikasi: Peserta didik mampu menyampaikan gagasan dan argumen terkait hukum dengan jelas
dan persuasif.

DESAIN PEMBELAJARAN

A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024


Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi
perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila; menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
peraturan yang berlaku; menganalisis tataurutan peraturan perundang-undangan di Indonesia; menyajikan
asal usul dan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif
dan berkeadilan; menerapkan perilaku, peran dan kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban;
memahami sistem pertahanan dan keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa
dan negara; menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.

Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara tentang dasar
B. negara; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, pandangan
hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi
perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Peserta didik menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan peraturan yang
Dasar Negara berlaku di masyarakat; menganalisis tata urutan peraturan perundang- undangan
Republik di Indonesia.
Indonesia Tahun
1945
Bhinneka Tunggal Peserta didik menyajikan asal usul dan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Ika sebagai modal sosial; membangun harmoni dalam keberagaman; dan mengenal
gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan
berkeadilan.
Negara Kesatuan Peserta didik menerapkan perilaku sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai
Republik warga sekolah, warga masyarakat dan warga negara; serta memahami peran dan
Indonesia kedudukannya sebagai Warga Negara Indonesia; memahami sistem pertahanan
dan keamanan negara; menganalisis peran Indonesia dalam hubungan
antarbangsa dan negara; serta menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus
diwujudkan dalam pembangunan nasional.
LINTAS DISIPLIN ILMU
● Sosiologi: Memahami interaksi sosial, peran norma dalam masyarakat, dan dampak pelanggaran hukum
terhadap stabilitas sosial.
● Ilmu Hukum: Memahami konsep dasar hukum, sistem hukum, dan penegakan hukum.
● Sejarah: Memahami perkembangan sistem hukum di Indonesia dan hubungannya dengan sejarah
bangsa.
● Pendidikan Agama: Memahami hubungan antara hukum positif dan norma agama, serta pentingnya
moralitas dalam ketaatan hukum.
● Bahasa Indonesia: Kemampuan berkomunikasi lisan dan tulis yang efektif dalam menyampaikan ide
terkait hukum atau menyusun teks kampanye.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Memahami Konsep Dasar Hukum dan Norma
Setelah kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
● Mengidentifikasi definisi dan perbedaan antara hukum dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan, adat)
dengan tepat berdasarkan contoh kasus nyata.
● Menganalisis fungsi dan tujuan adanya hukum dan norma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara secara kritis.
● Menjelaskan jenis-jenis sanksi pelanggaran hukum dan norma, serta dampaknya terhadap individu dan
masyarakat secara mandiri.

Pertemuan 2: Mengenal Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia


Setelah kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
● Mengidentifikasi tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia sesuai dengan hierarki yang
berlaku dengan akurat.
● Memberikan contoh peraturan perundang-undangan dari setiap tingkatan hierarki dan menjelaskan
relevansinya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
● Menyimpulkan pentingnya ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan bagi tegaknya keadilan dan
ketertiban.

Pertemuan 3: Menumbuhkan Kesadaran Hukum dan Perilaku Taat Hukum


Setelah kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
● Menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran hukum di kalangan remaja dan masyarakat
secara umum dengan penalaran kritis.
● Merumuskan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran hukum dan perilaku taat
hukum dalam kehidupan sehari-hari (di rumah, sekolah, masyarakat).
● Menyajikan contoh-contoh perilaku taat hukum yang sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku di
lingkungan sekitar secara kreatif.

Pertemuan 4: Berperan Aktif Membangun Budaya Taat Hukum


Setelah kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
● Merancang sebuah kampanye sederhana (misalnya, poster digital, video pendek, infografis) tentang
pentingnya budaya taat hukum di lingkungan sekolah atau masyarakat.
● Mempresentasikan hasil rancangan kampanye dengan argumen yang persuasif dan komunikatif.
● Menyusun rencana tindakan pribadi untuk menerapkan perilaku taat hukum dalam kehidupan sehari-hari
dan menjadi teladan bagi orang lain.

D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


● Fenomena pelanggaran lalu lintas di kalangan remaja.
● Peraturan sekolah dan sanksi pelanggarannya (misalnya, tidak membawa HP, terlambat datang,
seragam).
● Kasus-kasus penyebaran hoaks atau cyberbullying dan hubungannya dengan UU ITE.
● Pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan masyarakat sebagai bentuk ketaatan norma.
● Studi kasus tentang ketidaktaatan hukum yang berdampak pada masyarakat (misalnya, buang sampah
sembarangan, merusak fasilitas umum).
● Peran media sosial dalam membentuk kesadaran hukum.

E. KERANGKA PEMBELAJARAN
● 1. Praktik Pedagogik:
○ Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) untuk menganalisis kasus pelanggaran hukum
dan Project-Based Learning (PjBL) untuk merancang kampanye kesadaran hukum.
○ Strategi Pembelajaran:
■ Mindful Learning: Aktivitas refleksi pribadi, sesi silent contemplation terhadap nilai-nilai
Pancasila, diskusi mendalam tentang dilema moral.
■ Meaningful Learning: Studi kasus nyata, simulasi peran, menghubungkan konsep hukum
dengan pengalaman pribadi.
■ Joyful Learning: Permainan edukasi interaktif, pembuatan proyek kreatif, diskusi kelompok yang
dinamis, penggunaan media populer.

○ Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, tanya jawab, curah pendapat (brainstorming), studi kasus,
simulasi, presentasi, proyek, observasi lingkungan.
● 2. Kemitraan Pembelajaran:
○ Lingkungan Sekolah: Guru mata pelajaran lain (Sejarah, Bahasa Indonesia, TIK) untuk integrasi
materi dan pembuatan proyek digital, Petugas Tata Tertib/Kesiswaan untuk informasi peraturan
sekolah, Perpustakaan sekolah sebagai sumber referensi.
○ Lingkungan Luar Sekolah: Narasumber (Kepolisian, Tokoh Masyarakat, Praktisi Hukum, Aparatur
Desa/Kelurahan), orang tua/wali untuk mendukung penanaman budaya taat hukum di rumah.
○ Masyarakat: Mengamati perilaku masyarakat terkait ketaatan hukum (misalnya, di jalan raya, di
tempat umum), melakukan wawancara singkat dengan masyarakat tentang pandangan mereka
terhadap hukum.
● 3. Lingkungan Belajar:
○ Ruang Fisik: Fleksibel, dapat diatur untuk diskusi kelompok, simulasi, atau presentasi. Kelas dengan
area diskusi, sudut baca, atau wall display untuk poster kampanye.
○ Ruang Virtual: Platform Google Classroom untuk berbagi materi, tugas, dan pengumpulan
pekerjaan. Padlet/Jamboard untuk brainstorming ide kampanye. Zoom/Google Meet untuk sesi
diskusi daring atau mendatangkan narasumber.
○ Budaya Belajar: Lingkungan yang terbuka, kolaboratif, dan mendukung ekspresi pendapat.
Mendorong rasa ingin tahu, menghargai perbedaan pandangan, dan menekankan pentingnya
tanggung jawab dan integritas.
● 4. Pemanfaatan Digital:
○ Perpustakaan Digital: Mengakses e-book tentang hukum dan peraturan, artikel daring dari situs
resmi pemerintah atau lembaga hukum.
○ Forum Diskusi Daring: Google Classroom atau platform diskusi lain untuk melanjutkan
pembahasan, tanya jawab, atau berbagi temuan di luar jam pelajaran.
○ Penilaian Daring: Kuis interaktif melalui Kahoot atau Quizizz untuk menguji pemahaman konsep.
Pengumpulan proyek kampanye digital melalui Google Classroom.
○ Alat Interaktif: Mentimeter untuk polling opini atau membuat word cloud dari isu-isu hukum yang
menarik. YouTube untuk menonton video edukasi tentang hukum atau berita terkait pelanggaran
hukum. Aplikasi desain grafis (Canva) untuk membuat poster/infografis kampanye.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1: MEMAHAMI KONSEP DASAR HUKUM DAN NORMA
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
○ Mindful Learning: Guru mengajak peserta didik memejamkan mata sejenak, membayangkan hidup
tanpa aturan. Lalu, guru bertanya: "Apa yang kalian rasakan? Bagaimana kehidupan kita jika tidak
ada hukum dan norma?" (Memberi waktu untuk merenung dan berbagi).
○ Joyful Learning: Guru menampilkan video pendek atau karikatur lucu tentang situasi chaos karena
tidak ada aturan (misalnya, antrean kacau, lalu lintas semrawut). Guru memancing tawa dan diskusi
ringan.
○ Meaningful Learning: Guru mengaitkan video/karikatur dengan pentingnya hukum dan norma dalam
kehidupan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dan menjelaskan alur kegiatan.

KEGIATAN INTI (60 MENIT)


○ Memahami (20 menit):
■ Guru membagikan berbagai kasus nyata yang melibatkan norma (agama, kesusilaan,
kesopanan, adat) dan hukum (diferensiasi konten: kasus dengan tingkat kompleksitas yang
berbeda).
■ Peserta didik secara individu atau berpasangan diminta mengidentifikasi jenis norma/hukum yang
relevan dan potensi sanksinya.
■ Diskusi kelas: Guru memfasilitasi diskusi untuk merumuskan definisi dan perbedaan antara
hukum dan norma berdasarkan analisis kasus. Guru memberikan scaffolding (bimbingan
bertahap) bagi yang kesulitan.
○ Mengaplikasi (25 menit):
■ Peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan 2-3 skenario
pelanggaran (diferensiasi proses: beberapa kelompok mendapatkan skenario yang lebih terbuka
untuk diskusi, yang lain lebih terstruktur).
■ Setiap kelompok diminta menganalisis fungsi hukum/norma yang dilanggar, dampak
pelanggaran, dan merumuskan sanksi yang sesuai (jika ada).
■ Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Guru memberikan umpan balik dan
penguatan.
○ Merefleksi (15 menit):
■ Guru meminta peserta didik menuliskan di buku catatan atau media digital (misalnya Padlet):
"Apa definisi hukum dan norma menurut saya sekarang?" dan "Bagaimana pemahaman ini
mengubah cara pandang saya terhadap aturan di sekitar?"
■ Beberapa peserta didik diminta untuk membacakan refleksinya.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
○ Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan pemahaman peserta
didik. Guru menekankan kembali poin-poin kunci tentang pentingnya hukum dan norma.
○ Menyimpulkan Pembelajaran: Peserta didik secara kolaboratif merumuskan kesimpulan
pembelajaran hari ini (definisi, perbedaan, fungsi, dan sanksi hukum/norma).
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberikan pengantar untuk pertemuan berikutnya
(tata urutan peraturan perundang-undangan) dan memberikan tugas eksplorasi sederhana (misalnya,
mencari tahu contoh peraturan di daerah mereka).

PERTEMUAN 2: MENGENAL TATA URUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA


KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
○ Mindful Learning: Guru memulai dengan pertanyaan: "Apakah kalian tahu bahwa setiap aturan di
Indonesia punya 'tingkatan'?" "Mengapa penting ada tingkatan aturan?" Guru meminta peserta didik
untuk merenungkan konsekuensi jika tidak ada hierarki aturan.
○ Joyful Learning: Guru dapat menggunakan analogi piramida atau tangga untuk menjelaskan hierarki
aturan, membuat game tebak-tebakan "aturan mana yang lebih tinggi/rendah?".
○ Meaningful Learning: Guru mengaitkan analogi tersebut dengan tata urutan peraturan perundang-
undangan dan menjelaskan pentingnya hierarki untuk menciptakan ketertiban hukum. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.

KEGIATAN INTI (60 MENIT)


○ Memahami (20 menit):
■ Guru menampilkan infografis atau diagram tata urutan peraturan perundang-undangan. Guru
menjelaskan secara rinci setiap tingkatan (UUD NRI 1945, TAP MPR, UU/Perppu, PP, Perpres,
Perda Prov, Perda Kab/Kota) dengan memberikan contoh konkret dari setiap tingkatan.
■ Peserta didik diberikan lembar kerja dengan kolom-kolom hierarki. Mereka diminta mengisi
contoh peraturan yang relevan dengan kehidupan mereka di setiap tingkatan (diferensiasi
konten: guru menyediakan daftar peraturan yang dapat dipilih untuk peserta didik yang kesulitan).
○ Mengaplikasi (25 menit):
■ Peserta didik dalam kelompok kecil menganalisis kasus yang melibatkan beberapa tingkatan
peraturan (misalnya, kasus pelanggaran lalu lintas dikaitkan dengan UU Lalu Lintas dan Perda
terkait parkir).
■ Setiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana peraturan dari tingkatan yang berbeda
saling terkait dan mana yang memiliki kekuatan hukum lebih tinggi dalam kasus tersebut.
○ Merefleksi (15 menit):
■ Guru meminta peserta didik merefleksikan: "Apa yang paling menantang dari memahami hierarki
peraturan perundang-undangan?" dan "Bagaimana pemahaman ini akan membantu saya dalam
menghadapi aturan di masyarakat?"
■ Refleksi dapat dituliskan dalam bentuk exit ticket atau dibagikan secara lisan.

KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)


○ Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan penguatan pada pemahaman hierarki peraturan dan
mengklarifikasi miskonsepsi.
○ Menyimpulkan Pembelajaran: Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan pentingnya tata
urutan peraturan perundang-undangan untuk kepastian hukum.
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberitahu bahwa pertemuan selanjutnya akan
fokus pada menumbuhkan kesadaran hukum dan memberikan tugas untuk mencari berita atau artikel
tentang pelanggaran hukum di kalangan remaja.

PERTEMUAN 3: MENUMBUHKAN KESADARAN HUKUM DAN PERILAKU TAAT HUKUM


KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
○ Mindful Learning: Guru memulai dengan pertanyaan: "Mengapa banyak orang tahu ada aturan, tapi
masih melanggar?" "Apa yang membuat seseorang memilih untuk taat atau tidak taat hukum?" Guru
meminta peserta didik merenungkan motivasi di balik perilaku manusia.
○ Joyful Learning: Guru dapat memutar video edukasi pendek (misalnya, iklan layanan masyarakat)
tentang pentingnya taat hukum atau kartun yang menggambarkan dampak positif ketaatan hukum.
○ Meaningful Learning: Guru mengaitkan video dengan pentingnya kesadaran hukum dan
menjelaskan bahwa ketaatan hukum tidak hanya karena takut sanksi, tetapi karena kesadaran diri.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
○ Memahami (20 menit):
■ Guru memfasilitasi diskusi berdasarkan berita/artikel yang ditemukan peserta didik tentang
pelanggaran hukum (diferensiasi proses: beberapa kelompok mempresentasikan, yang lain
menanggapi).
■ Guru memandu analisis faktor-faktor penyebab pelanggaran hukum (misalnya, kurangnya
pengetahuan, lingkungan, ekonomi, penegakan hukum lemah). Guru juga menjelaskan
pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran hukum.
○ Mengaplikasi (25 menit):
■ Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan satu kategori
lingkungan (misalnya, di rumah, di sekolah, di jalan, di media sosial).
■ Setiap kelompok diminta merumuskan minimal 5 upaya konkret yang dapat dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran hukum dan perilaku taat hukum di lingkungan tersebut. Mereka juga
harus memberikan contoh perilaku taat hukum yang relevan.
■ Setiap kelompok mempresentasikan ide-ide mereka.
○ Merefleksi (15 menit):
■ Guru mengajak peserta didik merefleksikan: "Apa satu hal kecil yang akan saya mulai lakukan
besok untuk lebih taat hukum?" dan "Bagaimana saya bisa mempengaruhi teman-teman saya
untuk lebih taat hukum?"
■ Refleksi dapat dituliskan dalam jurnal atau disampaikan secara lisan.

KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)


○ Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik terhadap ide-ide upaya penumbuhan
kesadaran hukum, menyoroti ide-ide yang paling realistis dan berdampak.
○ Menyimpulkan Pembelajaran: Peserta didik secara kolaboratif menyimpulkan bahwa membangun
budaya taat hukum dimulai dari diri sendiri dan perlu dukungan lingkungan.
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberitahu bahwa pertemuan selanjutnya adalah
puncaknya, yaitu merancang kampanye dan berkomitmen untuk menjadi teladan taat hukum.

PERTEMUAN 4: BERPERAN AKTIF MEMBANGUN BUDAYA TAAT HUKUM


KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
○ Mindful Learning: Guru meminta peserta didik membayangkan diri mereka sebagai "agen
perubahan" yang ingin membuat lingkungan lebih tertib. Guru bertanya: "Apa pesan paling penting
yang ingin kalian sampaikan kepada orang lain tentang pentingnya taat hukum?"
○ Joyful Learning: Guru dapat memutar musik bertema semangat kebangsaan atau video motivasi
tentang gotong royong dan ketertiban.
○ Meaningful Learning: Guru menekankan bahwa belajar hukum bukan hanya tahu, tetapi juga
bertindak dan menginspirasi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu membuat
kampanye nyata.

KEGIATAN INTI (60 MENIT)


○ Memahami (20 menit):
■ Guru menjelaskan berbagai format kampanye (poster digital, video pendek, infografis, jingle,
komik). Guru memberikan panduan singkat tentang elemen-elemen kampanye yang efektif
(pesan jelas, menarik, target audiens).
■ Peserta didik dalam kelompok kecil (diferensiasi produk: kelompok dapat memilih format
kampanye yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka) merancang konsep kampanye
mereka.
○ Mengaplikasi (25 menit):
■ Setiap kelompok mulai membuat draf kampanye mereka. Guru berkeliling memberikan
bimbingan teknis atau ide kreatif.
■ Kelompok menyiapkan presentasi singkat tentang kampanye mereka, meliputi tujuan, pesan
utama, target audiens, dan mengapa kampanye ini efektif.
○ Merefleksi (15 menit):
■ Setiap kelompok mempresentasikan rancangan kampanye mereka. Kelompok lain memberikan
masukan konstruktif (misalnya, melalui sesi gallery walk atau peer review digital).
■ Setiap peserta didik menuliskan "Komitmen Pribadi Taat Hukum" di secarik kertas atau forum
daring, mencakup minimal 3 perilaku taat hukum yang akan mereka praktikkan secara konsisten.

KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)


○ Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kualitas rancangan
kampanye, menyoroti kreativitas dan relevansi pesan. Guru memberikan penguatan terhadap
komitmen pribadi peserta didik.
○ Menyimpulkan Pembelajaran: Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan bahwa
membangun budaya taat hukum adalah tanggung jawab bersama dan dimulai dari diri sendiri.
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif peserta
didik selama bab ini dan mendorong mereka untuk terus menjadi agen perubahan yang positif di
masyarakat.

G. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
○ Self-Assessment: Peserta didik mengisi jurnal refleksi setelah setiap pertemuan tentang
pemahaman mereka terhadap konsep, kesulitan, dan bagaimana mereka berencana meningkatkan
ketaatan hukum.

○ Peer Assessment: Peserta didik saling menilai konsep kampanye kelompok lain berdasarkan rubrik
yang telah disediakan (kreativitas, pesan, relevansi).
○ Komitmen Pribadi: Penulisan komitmen pribadi untuk taat hukum sebagai bentuk refleksi dan
perencanaan tindakan.

ASESMEN FORMATIF
○ Kuis Singkat/Tanya Jawab Lisan: Menguji pemahaman konsep dasar (hukum, norma, hierarki
peraturan) di awal atau tengah pembelajaran. (Misalnya, menggunakan Kahoot atau Quizizz).
○ Lembar Kerja Analisis Kasus: Mengidentifikasi jenis norma/hukum dan dampak pelanggaran
(formatif).
○ Umpan Balik Guru: Memberikan umpan balik konstruktif secara langsung selama proses diskusi
kelompok, perancangan kampanye, dan presentasi.
○ Pengamatan (Observasi): Guru mengamati partisipasi, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis
peserta didik selama kegiatan kelompok dan diskusi.

ASESMEN SUMATIF
○ Tes Tertulis: Soal esai untuk menganalisis kasus pelanggaran hukum, menjelaskan tata urutan
peraturan perundang-undangan, dan merumuskan upaya penumbuhan kesadaran hukum.
○ Penilaian Kinerja/Proyek:
■ Proyek Kampanye Kesadaran Hukum: Penilaian terhadap produk kampanye (poster
digital/video pendek/infografis) dan presentasinya, berdasarkan rubrik yang mencakup aspek
kreativitas, relevansi pesan, keefektifan komunikasi, dan kolaborasi.
■ Penilaian Kinerja Diskusi Kelompok: Dinilai berdasarkan kemampuan menganalisis kasus,
merumuskan ide, dan berpartisipasi aktif dalam diskusi.

○ Portofolio: Kumpulan tugas individu (jurnal refleksi, analisis berita, lembar kerja) dan tugas kelompok
(konsep kampanye, foto/dokumentasi proses) untuk menunjukkan perkembangan belajar peserta
didik sepanjang bab.

MODUL AJAR DEEP LEARNING


MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB 3 : MENGELOLA KEBINEKAAN SEBAGAI MODAL SOSIAL PEMBANGUNAN NASIONAL

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMKN 4 BANJAR
Nama Penyusun : EKA AMBARAHMAWATI, [Link].,Gr.
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 24 jam pelajaran ( 12 pertemuan @ 2 JP )
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


● Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya sudah memiliki pemahaman dasar tentang keberagaman
di Indonesia (suku, agama, budaya) dari jenjang pendidikan sebelumnya. Beberapa mungkin sudah
mengenal konsep gotong royong, namun perlu diperdalam pemahaman tentang kebinekaan sebagai
modal sosial pembangunan.
● Minat: Topik keberagaman dan gotong royong seringkali menarik bagi peserta didik karena relevan
dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka mungkin tertarik pada studi kasus atau cerita nyata
tentang bagaimana keberagaman berhasil dikelola.
● Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, sehingga pengalaman
mereka dalam menghadapi dan mengelola keberagaman juga bervariasi. Ada yang mungkin tinggal di
lingkungan yang sangat majemuk, ada pula yang kurang.
● Kebutuhan Belajar: Beberapa peserta didik mungkin lebih suka belajar melalui diskusi dan berbagi
pengalaman, sementara yang lain lebih nyaman dengan tugas proyek atau presentasi. Ada yang
memerlukan bimbingan lebih dalam memahami konsep abstrak seperti "modal sosial". Diperlukan
diferensiasi dalam metode penyampaian dan penugasan.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN


● Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (definisi kebinekaan, modal sosial,
gotong royong), prosedural (cara mengidentifikasi masalah keberagaman, merumuskan solusi gotong
royong), dan metakognitif (merefleksikan peran diri dalam menjaga harmoni dan keberlanjutan
pembangunan).
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Sangat relevan. Peserta didik hidup dalam masyarakat yang
beragam. Materi ini membekali mereka dengan pemahaman dan keterampilan untuk hidup rukun,
berkolaborasi, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan maju, mulai dari
lingkungan terdekat hingga skala nasional.
● Tingkat Kesulitan: Cukup kompleks karena melibatkan pemahaman konsep-konsep sosiologis dan
kewarganegaraan, serta kemampuan untuk menganalisis isu-isu aktual terkait keberagaman. Namun,
dengan pendekatan berbasis pengalaman dan proyek, kesulitan dapat diminimalisir.
● Struktur Materi: Berdasarkan buku yang diunggah, materi ini disusun secara sistematis, dimulai dari
memahami sejarah dan makna kebinekaan, mengenal gotong royong, hingga melaksanakan kegiatan
bersama berlandaskan gotong royong.
● Integrasi Nilai dan Karakter: Materi ini sangat kuat dalam mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar
Pancasila, terutama berkebinekaan global (memahami dan menghargai keberagaman), gotong royong
(kolaborasi, kepedulian, berbagi), bernalar kritis (menganalisis masalah sosial), mandiri (mengambil
inisiatif), dan kewargaan (bertanggung jawab sebagai warga negara).

D DIMENSI PROFIL LULUSAN


● Kewargaan: Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam menjaga harmoni kebinekaan
dan berpartisipasi dalam pembangunan.
● Penalaran Kritis: Mampu menganalisis isu-isu terkait keberagaman, mengidentifikasi akar masalah,
dan merumuskan solusi yang konstruktif.
● Kolaborasi: Bekerja sama secara efektif dengan individu dari berbagai latar belakang untuk mencapai
tujuan bersama dalam konteks gotong royong.
● Kemandirian: Mengambil inisiatif dan bertanggung jawab dalam berperan aktif menjaga persatuan dan
kesatuan.
● Komunikasi: Mampu menyampaikan gagasan, pendapat, dan solusi terkait pengelolaan kebinekaan
secara efektif dan persuasif.

DESAIN PEMBELAJARAN

A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024


Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi
perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila; menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
peraturan yang berlaku; menganalisis tataurutan peraturan perundang-undangan di Indonesia; menyajikan
asal usul dan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif
dan berkeadilan; menerapkan perilaku, peran dan kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban;
memahami sistem pertahanan dan keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa
dan negara; menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.

Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara
tentang dasar negara; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan
gagasan solutif untuk mengatasi perilaku yang bertentangan dengan
nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Dasar Negara Peserta didik menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
Republik Indonesia Tahun 1945 peraturan yang berlaku di masyarakat; menganalisis tata urutan
peraturan perundang- undangan di Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika Peserta didik menyajikan asal usul dan makna semboyan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai modal sosial; membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan
sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan.
Negara Kesatuan Republik Peserta didik menerapkan perilaku sesuai dengan hak dan kewajiban
Indonesia sebagai warga sekolah, warga masyarakat dan warga negara; serta
memahami peran dan kedudukannya sebagai Warga Negara
Indonesia; memahami sistem pertahanan dan keamanan negara;
menganalisis peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan
negara; serta menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus
diwujudkan dalam pembangunan nasional.

B. LINTAS DISIPLIN ILMU


● Sejarah: Memahami sejarah terbentuknya kebinekaan Indonesia dan peran gotong royong dalam
perjuangan bangsa.
● Sosiologi: Mengkaji struktur sosial, interaksi antar kelompok, dan dinamika sosial terkait keberagaman.
● Ekonomi: Memahami konsep "modal sosial" dalam pembangunan ekonomi inklusif dan berkeadilan.
● Geografi: Mengidentifikasi persebaran keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
● Seni Budaya: Mengapresiasi kekayaan budaya sebagai salah satu bentuk kebinekaan.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Memahami Kebinekaan sebagai Aset Bangsa
● Melalui diskusi kelompok, peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai bentuk keberagaman yang
ada di Indonesia (suku, agama, budaya, bahasa, adat) dengan tepat (Pengetahuan).
● Dengan menganalisis studi kasus sederhana, peserta didik dapat menjelaskan konsep kebinekaan
sebagai modal sosial pembangunan nasional dengan argumen yang relevan (Pengetahuan).
● Peserta didik menunjukkan sikap menghargai dan menerima perbedaan sebagai kekayaan bangsa
(Sikap).

Pertemuan 2: Mengimplementasikan Gotong Royong sebagai Solusi Kebersamaan


● Melalui studi literatur dan diskusi, peserta didik mampu mengidentifikasi prinsip-prinsip gotong royong
dan bentuk-bentuk implementasinya dalam kehidupan sehari-hari (Pengetahuan).
● Peserta didik dapat merancang sebuah proyek gotong royong sederhana yang relevan dengan
lingkungan sekolah atau komunitas mereka (Keterampilan).
● Peserta didik menunjukkan sikap proaktif dan kolaboratif dalam perencanaan kegiatan gotong royong
(Sikap).

Pertemuan 3: Merefleksikan Peran dalam Mengelola Kebinekaan


● Melalui pengalaman langsung atau simulasi, peserta didik mampu mengidentifikasi tantangan dalam
mengelola kebinekaan dan merumuskan strategi penyelesaiannya (Pengetahuan).
● Peserta didik dapat menyusun laporan atau presentasi singkat tentang hasil proyek gotong royong dan
dampaknya terhadap keharmonisan dan pembangunan (Keterampilan).
● Peserta didik menunjukkan sikap tanggung jawab dan komitmen untuk menjadi agen perubahan
dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman (Sikap).

D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


● "Indonesiaku, Bhinneka Itu Indah: Menggali Kekuatan dalam Perbedaan": Membahas contoh
nyata keberagaman yang berhasil menjadi kekuatan di berbagai daerah di Indonesia, bukan menjadi
sumber konflik.
● "Gotong Royong Kekinian: Solusi Bersama untuk Tantangan Lingkungan dan Sosial di
Komunitasku": Fokus pada bagaimana gotong royong dapat diterapkan untuk mengatasi isu-isu lokal,
seperti kebersihan lingkungan, penanganan sampah, atau kegiatan sosial di sekitar sekolah.
● "Dari Kebinekaan Menuju Prestasi: Kisah Sukses Tim atau Kelompok dengan Latar Belakang
Beragam": Mengangkat contoh tim olahraga, organisasi, atau kelompok studi yang anggotanya
beragam namun berhasil mencapai tujuan besar berkat kolaborasi.

E. KERANGKA PEMBELAJARAN
1. PRAKTIK PEDAGOGIK:
○ Model: Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) dan Pembelajaran Kolaboratif. Peserta didik akan
merencanakan dan melaksanakan proyek gotong royong sederhana.
○ Strategi:
■ Problem-Based Learning: Mengawali dengan isu nyata terkait keberagaman atau konflik sosial.
■ Case Study: Menganalisis studi kasus pengelolaan kebinekaan di berbagai daerah.
■ Role Play/Simulasi: Untuk memahami perspektif yang berbeda dalam konflik keberagaman.
■ Group Investigation: Kelompok meneliti aspek tertentu dari kebinekaan dan gotong royong.
○ Metode: Diskusi kelompok, curah pendapat, simulasi, observasi lapangan (jika memungkinkan),
perencanaan proyek, presentasi hasil.

2. KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
○ Lingkungan Sekolah: OSIS (untuk kegiatan gotong royong di sekolah), guru mata pelajaran lain
(seperti Sejarah, Sosiologi, Agama) untuk perspektif lintas disiplin.
○ Lingkungan Luar Sekolah: Tokoh masyarakat/pemuka adat/agama setempat (untuk diskusi tentang
praktik menjaga kerukunan), komunitas relawan (untuk belajar tentang gotong royong dalam skala
yang lebih besar).
○ Masyarakat: Melalui media massa (berita, dokumenter tentang kerukunan antar umat
beragama/suku), atau mengundang narasumber dari organisasi non-pemerintah yang berfokus pada
keberagaman.

3. LINGKUNGAN BELAJAR:
○ Ruang Fisik: Kelas yang fleksibel (dapat diatur untuk diskusi besar atau kelompok kecil), aula
sekolah (untuk simulasi atau presentasi proyek), lingkungan sekolah (untuk proyek gotong royong
sederhana).
○ Ruang Virtual: Google Classroom (untuk distribusi materi, pengumpulan tugas, forum diskusi),
YouTube (untuk video dokumenter tentang keberagaman/gotong royong), Padlet/Jamboard (untuk
curah pendapat visual).
○ Budaya Belajar: Lingkungan yang terbuka, inklusif, menghargai perbedaan pendapat, mendorong
empati, dan menumbuhkan semangat kolaborasi. Guru menjadi fasilitator dan teladan dalam
menghargai keberagaman.

4. PEMANFAATAN DIGITAL:
○ Perpustakaan Digital: Akses artikel, e-book, atau jurnal tentang kebinekaan dan gotong royong.
○ Forum Diskusi Daring: Google Classroom atau platform lain untuk diskusi asinkron tentang isu-isu
keberagaman, berbagi ide proyek, atau refleksi personal.
○ Penilaian Daring: Kuis awal/akhir melalui Google Form atau Kahoot. Mentimeter untuk curah
pendapat cepat atau polling.
○ Pembuatan Produk: Penggunaan aplikasi presentasi (Canva, Google Slides), aplikasi infografis, atau
aplikasi video editing sederhana untuk mendokumentasikan proyek.

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


PERTEMUAN 1
KEGIATAN PENDAHULUAN
○ Pembukaan (Mindful): Guru memulai dengan mengajak peserta didik melakukan latihan kesadaran
singkat (misalnya, mengamati lingkungan kelas, suara-suara di sekitar, dan merasakan napas). Guru
kemudian mengajak mereka memfokuskan pikiran pada tema "Kebinekaan sebagai Kekuatan".
○ Apersepsi (Meaningful & Joyful):
■ Guru menampilkan video pendek atau kolase gambar yang menunjukkan kekayaan keberagaman
Indonesia (pakaian adat, rumah adat, upacara keagamaan, makanan khas).
■ Diferensiasi Konten/Proses: Guru bertanya: "Apa yang kalian rasakan saat melihat
keberagaman ini? Apa yang membuat Indonesia unik?" (memancing emosi dan pengetahuan
awal). Bagi yang belum terlalu familiar, guru dapat memberikan konteks tambahan atau
pertanyaan yang lebih spesifik.
■ Guru menggunakan Mentimeter untuk mengumpulkan "satu kata" tentang apa arti keberagaman
bagi mereka. Ini memungkinkan semua siswa berpartisipasi dan merasa suaranya didengar.
○ Motivasi (Joyful): Guru menjelaskan bahwa keberagaman adalah anugerah, namun juga tantangan.
"Kita akan belajar bagaimana mengelola anugerah ini agar menjadi kekuatan terbesar kita untuk
membangun Indonesia yang lebih maju dan harmonis, dimulai dari diri kita sendiri."
○ Kesepakatan Kelas: Bersama-sama menyepakati norma belajar yang menjunjung tinggi toleransi,
saling menghargai, dan keterbukaan dalam berdiskusi.
KEGIATAN INTI
○ Fase 1: Memahami (Understanding - Menggali Makna Kebinekaan)
■ Eksplorasi Konsep:
■ Guru menyediakan materi tentang sejarah kebinekaan (misalnya, Bhinneka Tunggal Ika),
definisi, dan manifestasinya dalam kehidupan sehari-hari. Materi disajikan dalam berbagai
format (teks, infografis, video singkat).
■ Diferensiasi Konten/Proses: Peserta didik memilih sumber belajar yang paling sesuai
dengan gaya belajarnya. Guru dapat menyiapkan kelompok dengan materi yang berbeda
(misalnya, satu kelompok fokus pada kebinekaan suku, kelompok lain pada agama, dsb.)
untuk kemudian saling berbagi (Jigsaw).
■ Diskusi Kelompok (Kolaborasi): Setiap kelompok menganalisis satu studi kasus
konflik/keharmonisan terkait keberagaman (disediakan oleh guru). Mereka mengidentifikasi
penyebab, dampak, dan bagaimana kebinekaan berperan di dalamnya.
■ Pembelajaran Bermakna: Peserta didik berdiskusi tentang bagaimana keberagaman bisa
menjadi "modal sosial" dalam konteks lokal mereka (keluarga, sekolah, lingkungan RT/RW).
■ Guru Berperan: Memfasilitasi diskusi, mengklarifikasi konsep, dan memastikan setiap
anggota kelompok berkontribusi.

○ Fase 2: Mengaplikasi (Applying - Merancang Aksi Gotong Royong)


■ Identifikasi Masalah & Solusi:
■ Guru memandu peserta didik untuk mengidentifikasi masalah di lingkungan sekolah atau
komunitas yang dapat diselesaikan dengan semangat gotong royong (misalnya, kebersihan
kelas/sekolah, bantuan bagi teman yang sakit, proyek taman sekolah).
■ Diferensiasi Proses: Guru memberikan panduan kerangka proyek yang berbeda, dari yang
sangat terstruktur (bagi siswa yang butuh arahan) hingga lebih terbuka (bagi siswa yang
mandiri).
■ Perencanaan Proyek (Kreativitas & Kolaborasi): Dalam kelompok, peserta didik merancang
proyek gotong royong sederhana. Mereka menentukan tujuan, sasaran, langkah-langkah
pelaksanaan, pembagian tugas, dan sumber daya yang dibutuhkan.
■ Produk Rencana: Setiap kelompok membuat proposal proyek (bisa dalam bentuk mind map,
presentasi sederhana, atau narasi singkat).
■ Feedback Session: Kelompok saling memberikan umpan balik terhadap proposal proyek
masing-masing untuk perbaikan.

○ Fase 3: Merefleksi (Reflecting - Menjadi Agen Perubahan)


■ Pelaksanaan Proyek (jika waktu memungkinkan/penugasan rumah): Guru memberikan
kesempatan kepada kelompok untuk melaksanakan proyek gotong royong yang telah dirancang
(misalnya, gotong royong membersihkan kelas, penggalangan dana kecil untuk kegiatan sosial,
dsb.).
■ Refleksi Pengalaman (Mindful & Meaningful): Setelah proyek atau simulasi, peserta didik
diminta untuk merefleksikan pengalaman mereka: "Apa tantangan yang kalian hadapi?
Bagaimana kalian mengatasinya dengan semangat gotong royong? Apa pelajaran yang kalian
dapatkan tentang mengelola perbedaan?"
■ Diferensiasi Produk: Peserta didik diberi pilihan untuk menyampaikan refleksinya:
■ Menulis narasi pengalaman singkat (jurnal reflektif).
■ Membuat vlog singkat tentang pengalaman proyek dan pesan yang ingin disampaikan.
■ Membuat poster digital berisi pesan-pesan tentang kebinekaan dan gotong royong.
■ Berbagi Cerita (Komunikasi): Beberapa peserta didik berbagi refleksi mereka di kelas,
menciptakan inspirasi bersama.

KEGIATAN PENUTUP
○ Umpan Balik Konstruktif (Assessment as Learning):
■ Guru memberikan apresiasi atas ide-ide proyek dan refleksi yang telah dihasilkan.
■ Guru menyoroti beberapa contoh kolaborasi yang efektif atau analisis yang mendalam dari
peserta didik.
■ Guru memberikan umpan balik individual/kelompok mengenai proposal proyek atau hasil refleksi,
mengidentifikasi kekuatan dan area untuk perbaikan.
○ Menyimpulkan Pembelajaran (Meaningful Learning):
■ Guru mengajak peserta didik untuk menyimpulkan secara bersama-sama bahwa kebinekaan
adalah modal sosial yang besar dan gotong royong adalah kunci untuk mengelolanya demi
pembangunan nasional yang harmonis dan berkelanjutan.
■ Pertanyaan Penutup (Joyful): "Apa satu hal paling penting yang akan kalian lakukan mulai besok
untuk menjadi agen pengelola kebinekaan di lingkungan kalian?"
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya (Mindful Learning):
■ Guru menginformasikan topik untuk pertemuan berikutnya (misalnya, peran Pancasila dalam
menjaga integrasi nasional).
■ Peserta didik diminta untuk mencari contoh-contoh aktual tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila
digunakan untuk menyelesaikan konflik atau membangun persatuan di Indonesia. Ini melatih
kemandirian dan kesadaran mereka terhadap isu-isu kontemporer.
○ Doa Penutup: Bersama-sama menutup pembelajaran dengan doa.

G. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
○ Observasi Partisipasi: Guru mengamati keterlibatan peserta didik dalam diskusi kelompok, kerja
sama dalam proyek, dan kemampuan menyampaikan pendapat. (Menggunakan daftar cek/rubrik
observasi).
○ Refleksi Diri: Peserta didik menulis jurnal refleksi singkat tentang pemahaman mereka, tantangan,
dan pembelajaran yang didapat dari aktivitas kelompok atau proyek.
○ Peer Assessment: Peserta didik memberikan umpan balik konstruktif terhadap kinerja kelompok lain
dalam presentasi proposal proyek.

ASESMEN FORMATIF
○ Pre-test/Kuis Diagnostik: Kuis singkat di awal bab (misalnya, melalui Google Form) untuk
mengetahui pengetahuan awal peserta didik tentang keberagaman dan gotong royong. Hasilnya
digunakan untuk menyesuaikan tingkat kesulitan dan fokus materi.
○ Lembar Kerja Analisis Studi Kasus: Penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam
menganalisis studi kasus terkait keberagaman dan mengidentifikasi solusinya. Guru memberikan
umpan balik tertulis untuk membimbing perbaikan.
○ Draft Proposal Proyek: Guru memberikan umpan balik formatif terhadap rancangan proyek gotong
royong yang dibuat kelompok untuk memastikan tujuan dan langkah-langkahnya jelas dan realistis.

ASESMEN SUMATIF
○ Penilaian Kinerja (Presentasi Proposal/Laporan Proyek): Rubrik penilaian mencakup aspek:
■ Kedalaman pemahaman tentang konsep kebinekaan dan gotong royong.
■ Kreativitas dan kelayakan rancangan proyek.
■ Kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam presentasi.
■ Dampak proyek (jika dilaksanakan) atau potensi dampaknya.
○ Penilaian Produk (Esai Refleksi/Vlog/Poster): Rubrik penilaian mencakup aspek:
■ Kedalaman refleksi personal terhadap pengalaman belajar.
■ Keterkaitan refleksi dengan konsep kebinekaan dan gotong royong.
■ Kejelasan dan kreativitas penyampaian.
■ Kemandirian dalam menghasilkan produk.

○ Penilaian Berbasis Kelas (Diskusi Aktif): Guru dapat memberikan skor partisipasi berdasarkan
kualitas kontribusi peserta didik dalam diskusi kelas yang menunjukkan penalaran kritis dan
kemampuan berkomunikasi.
○ Portofolio: Kumpulan seluruh hasil kerja peserta didik (lembar kerja, proposal proyek, produk refleksi)
untuk melihat perkembangan kompetensi mereka secara holistik.
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB 4 : MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMKN 4 BANJAR
Nama Penyusun : EKA AMBARAHMAWATI, [Link].,Gr.
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 14 JP ( 6 Pertemuan @ 2 JP )
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


Sebelum memulai pembelajaran, identifikasi kesiapan peserta didik dapat dilakukan melalui observasi awal
dan beberapa pertanyaan pemantik:
● Pengetahuan Awal: Sebagian besar peserta didik kemungkinan sudah memiliki pemahaman dasar
tentang konsep "warga negara" dan mungkin sedikit tentang hak dan kewajiban. Namun, pemahaman
tentang peran serta dan tanggung jawab yang lebih mendalam mungkin bervariasi. Beberapa mungkin
hanya mengasosiasikan warga negara dengan identitas formal (KTP/Kartu Pelajar).
● Minat: Minat peserta didik terhadap isu-isu kewarganegaraan dapat bervariasi. Ada yang mungkin
sangat peduli dengan isu sosial dan politik, sementara yang lain mungkin merasa topik ini kurang
relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Penting untuk mengetahui minat ini agar pembelajaran
dapat dikemas secara menarik dan kontekstual.
● Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang keluarga, sosial, dan ekonomi yang
beragam. Pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat dan negara akan
memengaruhi cara mereka memahami konsep kewarganegaraan. Beberapa mungkin memiliki
pengalaman positif dalam partisipasi masyarakat, sementara yang lain mungkin cenderung apatis.
● Kebutuhan Belajar: Ada peserta didik yang lebih suka belajar melalui diskusi dan studi kasus, ada
yang lebih visual dengan infografis atau video, dan ada pula yang lebih kinestetik melalui proyek atau
simulasi. Beberapa mungkin membutuhkan dukungan lebih dalam mengaitkan teori dengan praktik
nyata, sementara yang lain siap untuk analisis yang lebih kompleks.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN


● Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (definisi hak dan kewajiban, asas
kewarganegaraan), prosedural (cara menjalankan hak dan kewajiban, berpartisipasi dalam negara),
serta metakognitif (merefleksikan peran diri sebagai warga negara dan dampak tindakan). Materi ini
juga sangat menekankan pada aspek sikap dan nilai-nilai.
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi ini sangat relevan dengan kehidupan nyata peserta didik
karena:
○ Membekali peserta didik menjadi individu yang bertanggung jawab di lingkungan sekolah,
masyarakat, dan negara.
○ Meningkatkan kesadaran akan hak-hak mereka dan kewajiban yang harus dipenuhi.
○ Mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan dan menjaga persatuan bangsa.
○ Membangun pemahaman tentang peran Indonesia dalam hubungan internasional.
○ Membantu mengatasi isu-isu pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban yang terjadi di
masyarakat.

● Tingkat Kesulitan: Materi ini memiliki tingkat kesulitan sedang. Konsep hak dan kewajiban cukup
mudah dipahami, tetapi mengaitkannya dengan kasus nyata dan mendorong penerapan dalam sikap
sehari-hari memerlukan penalaran kritis dan kesadaran diri. Beberapa konsep seperti asas
kewarganegaraan mungkin memerlukan penjelasan lebih rinci.
● Struktur Materi (Mengacu pada buku yang diunggah):
○ Hak dan Kewajiban Warga Negara.
○ Kedudukan, Tugas, dan Tanggung Jawab Warga Negara.
○ Peran Negara dalam Hubungan Internasional.
○ Penerapan Nilai Persatuan di Masyarakat.

● Integrasi Nilai dan Karakter:


○ Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Mendorong peserta didik untuk bersikap adil,
jujur, dan bertanggung jawab sebagai manifestasi dari nilai-nilai agama.
○ Kewargaan: Menumbuhkan rasa memiliki terhadap negara, mematuhi hukum, dan berpartisipasi
aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
○ Penalaran Kritis: Menganalisis kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban, serta
mencari solusi.
○ Kreativitas: Menciptakan ide-ide untuk mempromosikan partisipasi warga negara yang baik.
○ Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah dan proyek.
○ Kemandirian: Bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan sebagai warga negara.
○ Komunikasi: Mengemukakan pendapat, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan secara efektif.
○ Persatuan dan Kesatuan: Menghargai perbedaan, gotong royong, dan menjaga kerukunan.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN


Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai
meliputi:
● Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Tercermin dalam sikap jujur, bertanggung jawab,
dan adil dalam menjalankan hak dan kewajiban.
● Kewargaan: Mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara
yang bertanggung jawab, serta peduli terhadap isu-isu kebangsaan.
● Penalaran Kritis: Menganalisis informasi tentang hak dan kewajiban, mengidentifikasi masalah, dan
menemukan solusi yang relevan.
● Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama, menghargai
perbedaan pendapat.
● Kemandirian: Bertanggung jawab atas hak dan kewajibannya, serta mampu mengambil inisiatif dalam
berkontribusi.
● Komunikasi: Menyampaikan gagasan dan pendapat secara jelas dan bertanggung jawab, baik lisan
maupun tulisan.

DESAIN PEMBELAJARAN

A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024


Pada fase ini, peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara, kedudukan Pancasila sebagai
dasar negara, pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk mengatasi
perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila; menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan
peraturan yang berlaku; menganalisis tataurutan peraturan perundang-undangan di Indonesia; menyajikan
asal usul dan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif
dan berkeadilan; menerapkan perilaku, peran dan kedudukan sesuai dengan hak dan kewajiban;
memahami sistem pertahanan dan keamanan negara serta peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa
dan negara; menguraikan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.

Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Peserta didik menganalisis cara pandang para pendiri negara tentang
dasar negara; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara,
pandangan hidup, dan ideologi negara; merumuskan gagasan solutif untuk
mengatasi perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Dasar Peserta didik menerapkan perilaku taat hukum berdasarkan peraturan
Negara Republik yang berlaku di masyarakat; menganalisis tata urutan peraturan
Indonesia Tahun 1945 perundang- undangan di Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika Peserta didik menyajikan asal usul dan makna semboyan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai modal sosial; membangun harmoni dalam
keberagaman; dan mengenal gotong royong sebagai perwujudan sistem
ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan.
Negara Kesatuan Peserta didik menerapkan perilaku sesuai dengan hak dan kewajiban
Republik Indonesia sebagai warga sekolah, warga masyarakat dan warga negara; serta
memahami peran dan kedudukannya sebagai Warga Negara Indonesia;
memahami sistem pertahanan dan keamanan negara; menganalisis peran
Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan negara; serta menguraikan
nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan dalam pembangunan nasional.

B. LINTAS DISIPLIN ILMU


● Sosiologi: Struktur masyarakat, interaksi sosial, peran individu dalam kelompok, isu-isu sosial.
● Sejarah: Sejarah perjuangan bangsa, pembentukan negara, tokoh-tokoh pahlawan yang
menginspirasi kewarganegaraan.
● Ekonomi: Hak dan kewajiban ekonomi warga negara, peran pemerintah dalam pembangunan.
● Ilmu Hukum: Dasar-dasar hukum terkait hak dan kewajiban warga negara, konstitusi.
● Geografi: Kondisi geografis Indonesia dan kaitannya dengan semangat persatuan.
● Pendidikan Agama: Nilai-nilai moral dan etika dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (4 JP): Memahami Hak dan Kewajiban Warga Negara
● Subjek belajar: Peserta didik
● Pengetahuan/Keterampilan/Sikap: Mengidentifikasi dan menjelaskan konsep hak dan kewajiban
warga negara, serta mengidentifikasi contoh-contoh implementasinya dalam kehidupan sehari-hari (di
sekolah dan masyarakat).
● Kondisi/Konteks: Melalui studi kasus (video/artikel berita) tentang pelanggaran hak dan
pengingkaran kewajiban, serta diskusi kelompok.
● Tingkat Pencapaian: Peserta didik mampu menjelaskan minimal 3 hak dan 3 kewajiban warga
negara dengan tepat, serta memberikan minimal 2 contoh implementasinya di lingkungan sekolah
dan masyarakat.

Pertemuan 2 (2 JP): Menjelajahi Kedudukan, Tugas, dan Tanggung Jawab Warga Negara
● Subjek belajar: Peserta didik
● Pengetahuan/Keterampilan/Sikap: Menganalisis kedudukan warga negara, mengidentifikasi tugas
dan tanggung jawab warga negara dalam konteks pembangunan nasional, serta memahami asas
kewarganegaraan Indonesia.
● Kondisi/Konteks: Melalui studi literatur (buku/artikel daring) dan diskusi kelas yang dipandu, serta
simulasi peran.
● Tingkat Pencapaian: Peserta didik mampu menjelaskan kedudukan warga negara dan minimal 3
tugas serta tanggung jawabnya, serta membedakan asas ius sanguinis dan ius soli dengan contoh
yang relevan.

Pertemuan 3 (2 JP): Peran Indonesia dalam Hubungan Internasional


● Subjek belajar: Peserta didik
● Pengetahuan/Keterampilan/Sikap: Menjelaskan pentingnya hubungan internasional bagi Indonesia,
mengidentifikasi peran Indonesia dalam organisasi internasional, dan menunjukkan sikap positif
warga negara dalam mendukung hubungan internasional.
● Kondisi/Konteks: Melalui presentasi infografis atau video tentang isu-isu global, diskusi kelompok,
dan curah pendapat.
● Tingkat Pencapaian: Peserta didik mampu menjelaskan minimal 2 alasan pentingnya hubungan
internasional, menyebutkan minimal 2 peran Indonesia dalam organisasi internasional, dan
merumuskan minimal 1 sikap positif warga negara dalam mendukung hubungan internasional.

Pertemuan 4 (2 JP): Menerapkan Nilai Persatuan di Masyarakat


● Subjek belajar: Peserta didik
● Pengetahuan/Keterampilan/Sikap: Menganalisis pentingnya nilai persatuan dan kesatuan di tengah
keberagaman, serta merancang dan mengusulkan tindakan nyata untuk menerapkan nilai persatuan
di lingkungan sekolah atau masyarakat.
● Kondisi/Konteks: Melalui studi kasus konflik akibat perpecahan, diskusi kelompok, dan proyek mini.
● Tingkat Pencapaian: Peserta didik mampu menjelaskan minimal 3 pentingnya nilai persatuan di
tengah keberagaman dan mengusulkan minimal 2 tindakan nyata untuk meningkatkan persatuan di
lingkungan sekitar.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
● "Hak dan Kewajibanku di Sekolah: Membangun Budaya Warga Negara yang Baik Sejak Dini"
● "Generasi Muda Anti-Pelanggaran: Mengapa Penting Menjalankan Kewajiban?"
● "Indonesia di Mata Dunia: Peranku sebagai Warga Negara Global"
● "Bhineka Tunggal Ika dalam Aksi: Menjaga Persatuan di Era Digital"

E. KERANGKA PEMBELAJARAN
1. Praktik Pedagogik (Model, Strategi, Metode):
○ Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL) untuk
pertemuan terakhir.
○ Pendekatan: Deep Learning (Mindful Learning, Meaningful Learning, Joyful Learning).
○ Strategi:
■ Mindful Learning: Refleksi awal tentang tanggung jawab diri, jurnal rasa syukur atas hak yang
dimiliki, jeda singkat untuk fokus sebelum diskusi kompleks.
■ Meaningful Learning: Mengaitkan konsep dengan isu-isu aktual (berita, kasus viral), studi
kasus yang relevan dengan kehidupan remaja, mengundang narasumber (jika
memungkinkan).
■ Joyful Learning: Permainan peran, simulasi, debat ringan, proyek kreatif (poster/video
kampanye), kuis interaktif.
○ Metode: Diskusi kelompok, studi kasus, curah pendapat, simulasi, presentasi, debat, lokakarya
mini.

2. Kemitraan Pembelajaran:
○ Lingkungan Sekolah: OSIS (untuk proyek terkait hak dan kewajiban di sekolah), guru Bimbingan
Konseling (untuk diskusi etika dan tanggung jawab), perpustakaan sekolah (literatur).
○ Lingkungan Luar Sekolah: Ketua RT/RW (untuk diskusi tentang hak dan kewajiban di
masyarakat), Karang Taruna (untuk kolaborasi proyek sosial), Polsek/Koramil setempat (untuk
diskusi tentang hukum dan ketertiban), lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang HAM
atau kepemudaan.
○ Masyarakat: Melakukan wawancara singkat dengan tokoh masyarakat atau tetangga tentang
pandangan mereka tentang warga negara yang baik.

3. Lingkungan Belajar:
○ Ruang Fisik: Kelas yang dapat diatur fleksibel untuk diskusi kelompok, aula sekolah (untuk
simulasi atau presentasi besar), taman sekolah (untuk diskusi reflektif).
○ Ruang Virtual: Google Classroom (pengelolaan materi, tugas, pengumuman), platform video
conference (untuk mengundang narasumber jarak jauh), YouTube (video dokumenter/berita terkait
isu kewarganegaraan), Padlet/Jamboard (untuk kolaborasi ide).
○ Budaya Belajar: Budaya saling menghargai pendapat, berani berpendapat dengan santun,
bertanggung jawab dalam tugas, empati terhadap masalah sosial, serta inisiatif dalam
berkontribusi.

4. Pemanfaatan Digital:
○ Perpustakaan Digital: Mengakses artikel berita daring, jurnal ilmiah tentang kewarganegaraan,
undang-undang dasar.
○ Forum Diskusi Daring: Fitur diskusi di Google Classroom, atau grup chat kelas untuk berbagi
tautan artikel/video dan berdiskusi singkat.
○ Penilaian Daring: Kuis di Google Forms, upload tugas di Google Classroom, presentasi via Google
Meet/Zoom.
○ Aplikasi Interaktif: Kahoot! atau Quizizz (untuk kuis interaktif), Mentimeter (untuk brainstorming
atau survei singkat), Canva atau aplikasi editor video (untuk proyek kampanye).
○ Google Classroom: Sebagai pusat pengelolaan pembelajaran, termasuk materi, tugas, dan
komunikasi.

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


PERTEMUAN 1
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
○ Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning): Guru mengajak peserta didik untuk mengamati
sejenak lingkungan kelas atau lingkungan di luar jendela, kemudian meminta mereka untuk
menyebutkan 1 hal yang mereka syukuri sebagai warga negara Indonesia. Ini dapat diungkapkan
secara lisan atau ditulis singkat di jurnal.
○ Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Guru memulai dengan tayangan video singkat atau
potongan berita yang mengilustrasikan sebuah dilema atau masalah yang berkaitan dengan hak dan
kewajiban warga negara (misalnya, masalah sampah, ketertiban lalu lintas, atau partisipasi pemilu).
Kemudian guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Menurut kalian, apa yang salah dari situasi ini?
Apa peran kita sebagai warga negara?"
○ Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning): Guru dapat mengadakan kuis singkat
menggunakan Kahoot! atau Mentimeter dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seputar pengetahuan
umum tentang Indonesia atau hak-hak dasar yang mereka miliki (misalnya, hak mendapatkan
pendidikan).
○ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan relevansinya dengan kehidupan
sehari-hari mereka.

KEGIATAN INTI (60-70 MENIT)


○ Pembelajaran Memahami (Understanding):
■ Guru menyajikan konsep-konsep dasar (hak, kewajiban, peran negara) melalui berbagai media
(presentasi interaktif, infografis, video animasi).
■ Peserta didik dalam kelompok kecil menganalisis studi kasus atau skenario yang disajikan guru,
mengidentifikasi hak dan kewajiban yang relevan.
■ Diskusi kelas dipandu oleh guru untuk mengelaborasi pemahaman dan mengklarifikasi
miskonsepsi.
■ Diferensiasi Konten: Guru menyediakan materi bacaan dengan tingkat kompleksitas yang
berbeda (misalnya, ringkasan konsep untuk yang membutuhkan bantuan, artikel mendalam untuk
yang ingin eksplorasi lebih).
○ Pembelajaran Mengaplikasi (Applying):
■ Peserta didik melakukan simulasi peran (misalnya, rapat RT membahas masalah lingkungan) atau
proyek mini (misalnya, membuat poster kampanye "Ayo Patuh Aturan Sekolah").
■ Guru memberikan bimbingan dan umpan balik selama proses aplikasi, mendorong peserta didik
untuk menghubungkan teori dengan praktik.
■ Diferensiasi Proses: Guru memberikan pilihan cara bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan
materi (misalnya, membuat mind map, presentasi, atau debat). Guru juga menyediakan alat bantu
yang berbeda (misalnya, template untuk membuat poster, panduan debat).
○ Pembelajaran Merefleksi (Reflecting):
■ Peserta didik menuliskan refleksi singkat tentang bagaimana konsep "warga negara yang baik"
dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
■ Diskusi kelompok tentang "Apa tantangan terbesar dalam menjadi warga negara yang baik di era
sekarang?"
■ Guru meminta peserta didik untuk berbagi satu pelajaran penting yang mereka dapatkan dari
kegiatan hari itu.
■ Diferensiasi Produk: Peserta didik dapat memilih bentuk refleksi yang berbeda (tulisan, rekaman
suara, atau gambar).

KEGIATAN PENUTUP (10-15 MENIT)


○ Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kinerja peserta didik
selama pembelajaran, mengapresiasi partisipasi dan ide-ide kreatif, serta memberikan saran perbaikan
untuk area yang masih kurang.
○ Menyimpulkan Pembelajaran: Bersama peserta didik, guru merumuskan poin-poin kunci
pembelajaran hari itu. Guru dapat menggunakan Mentimeter untuk membuat word cloud dari kata-kata
kunci yang mereka pelajari tentang "warga negara yang baik".
○ Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru meminta peserta didik untuk memikirkan satu isu
kewarganegaraan di lingkungan mereka yang ingin mereka pelajari lebih lanjut atau berikan solusinya.
Guru memberikan tugas mandiri berupa pengamatan singkat di lingkungan sekitar tentang perilaku
warga negara (positif/negatif) untuk persiapan pertemuan selanjutnya. Guru juga dapat mengunggah
materi pengayaan atau tautan berita relevan di Google Classroom.

G. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASSESSMENT AS LEARNING (SEBAGAI PEMBELAJARAN):
○ Jurnal Refleksi: Peserta didik menuliskan refleksi harian/mingguan tentang pemahaman mereka,
kendala yang dihadapi, dan bagaimana mereka berencana untuk menjadi warga negara yang lebih
baik.
○ Diskusi Kelas/Kelompok: Guru mengamati keaktifan, kualitas argumen, dan kemampuan kolaborasi
peserta didik selama diskusi.
○ Peer Assessment (Penilaian Sejawat): Peserta didik saling menilai partisipasi dan kontribusi dalam
proyek kelompok atau simulasi.
○ Self Assessment (Penilaian Diri): Peserta didik menilai sendiri pemahaman dan sikap mereka
terhadap materi, menggunakan daftar periksa sikap warga negara yang baik.

ASSESSMENT FOR LEARNING (UNTUK PEMBELAJARAN):


○ Kuis Pra-Pembelajaran/Singkat (Formative Quiz): Menggunakan Google Forms atau Kahoot! untuk
mengecek pengetahuan awal atau pemahaman konsep dasar di awal sesi.
○ Observasi Guru: Guru mencatat perilaku peserta didik terkait sikap peduli, bertanggung jawab, dan
partisipasi aktif selama pembelajaran.
○ Umpan Balik Lisan/Tertulis: Guru memberikan umpan balik segera selama proses diskusi,
pengerjaan tugas, atau proyek, untuk mengarahkan pemahaman peserta didik.
○ Peta Konsep/Mind Map: Peserta didik membuat peta konsep tentang hak dan kewajiban atau peran
Indonesia di dunia, untuk mengukur pemahaman struktural mereka.

ASSESSMENT OF LEARNING (AKHIR PEMBELAJARAN):


○ Penilaian Proyek (Produk): Peserta didik membuat proyek kampanye (poster digital/video
pendek/infografis) yang mengusung tema "Menjadi Warga Negara yang Baik" atau "Meningkatkan
Persatuan". Penilaian berdasarkan rubrik yang mencakup kreativitas, relevansi isi, daya persuasif, dan
kualitas presentasi.
○ Penilaian Kinerja (Presentasi/Simulasi): Peserta didik mempresentasikan hasil analisis kasus atau
menjalankan simulasi peran yang menunjukkan pemahaman mereka tentang hak dan kewajiban.
○ Tes Tertulis (Esai Analisis Kasus): Peserta didik menganalisis sebuah kasus nyata yang berkaitan
dengan isu kewarganegaraan, mengidentifikasi masalah, dan mengusulkan solusi berdasarkan konsep
yang telah dipelajari.
○ Portofolio: Kumpulan tugas individu (jurnal, analisis kasus, rancangan proyek) yang menunjukkan
perkembangan belajar peserta didik selama bab ini.
PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS PENDIDIKAN
CABANG DINAS PENDIDIKAN WILAYAH XIII
SMK NEGERI 4 BANJAR
Jalan Pangandaran No. 344 Desa Sukamukti Kecamatan Pataruman
Kota Banjar 46316 Telp. (0265) 744356/(0265) 7459581 Fax. -
E- mail : smkn4banjar@[Link] ; Website : [Link]
PROGRAM TAHUNAN
SATUAN PENDIDIKAN : SMK NEGERI 4 BANJAR
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
KELAS :X
TAHUN PELAJARAN : 2025 / 2026

A. Perhitungan Jumlah Minggu Dalam Satu Tahun Pelajaran


JUMLAH MINGGU
NO SEMESTER BULAN TDK KETERANGAN
KALDIK EFEKTIF
EFEKTIF
1 Juli 4 2 2 Libur Semester 2/MPLS
2 Agustus 4 4 0
3 September 5 4 1 PTS
Ganjil
4 Oktober 4 4 0
5 Nopember 4 4 0
6 Desember 5 0 5 PSAS, dan Libur smt 1
JUMLAH 26 18 8
7 Januari 4 3 1 Libur smt 1
8 Pebruari 4 4 0
9 Maret 5 2 3 PSAJ/Libur IED
Genap
10 April 4 4 0
11 Mei 4 4 0
12 Juni 5 1 4 PSAT dan Libur Smt 2
JUMLAH 26 18 8
JUMLAH TOTAL 52 36 16

B. Distribusi Minggu Efektif


Jumlah Minggu Efektif
NO Keterangan
1 Tahun Semester 1 Semester 2
1 36 18 18

C. Jumlah Jam Belajar

Jumlah Jam Belajar


No Keterangan
1 Minggu Semester 1 Semester 2 1 Tahun
1 2 36 36 72

D. Jumlah Minggu Dan Jam Belajar


No Uraian Semester 1 Semester 2 Keterangan
1 Minggu Efektif 18 18
2 Minggu tidak efektif 8 8
3 Minggu Cadangan 2 2
4 Jam Belajar Efektif 36 36
5 Jam Belajar Tidak Efektif 16 16
6 Jam Belajar Cadangan 2 2

E. Distribusi Jam Pembelajaran


Semester No. Materi Pembelajaran JP
1.1 Gagasan – Gagasan Para Pendiri Bangsa tentang Dasar Negara 2
1.2 Dinamika Kelahiran Pancasila 4
1.3 Kedudukan Pancasila 4
1.4 Akualisasi Pancasila 4
Ganjil 2.1 Membangun Kesadaran Hukum 2
2.2 Menerapkan Perilaku Taat Hukum 4
2.3 Kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban 2
2.4 Produk Hierarki Peraturan Perundang Undangan 2
2.5 Hubungan Pancasila dengan Peraturan Perundang-Undangan 2
Semester No. Materi Pembelajaran JP
3.1 Asal Usul dan Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika 4
3.2 Gotong Royong Sebagai Perwujudan Ekonomi Pancasila 4
Prinsip Gotong Royong untuk Membangun Harmoni dalam
3.3 4
Keberagaman
4.1 Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara 4
Genap 4.2 Hak dan Kewajiban Sebagai Warga Negara 2
4.3 Posisi, Tugas, Tanggung Jawab sebagai Warga Negara 2
4.4 Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara Indonesia 2
4.5 Peran Indonesia dalam Hubungan Antarnegara 2
4.6 Nilai - Nilai Pancasila dalam Pembangunan Nasional 2
Jumlah JP Semester Genap 64

KRITERIA KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN (KKTP)


PANCASILA FASE E KELAS X

Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


Satuan Pendidikan : SMKN 4 BANJAR
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
Fase E Kelas/Semester : X (Sepuluh) / I ( Ganjil )

Skala atau Interval Nilai


0 – 40% 41 – 65% 66 – 85% 86 – 100%
Bab dan Unit Alur dan Tujuan Belum
Belum Sudah Sudah
mencapai
Pembelajaran mencapai, mencapai mencapai
ketuntasan,
remedial ketuntasan, ketuntasan,
remedial di
di seluruh tidak perlu perlu
bagian yang
bagian remedial pengayaan
diperlukan
Bab 1 Unit 1  Peserta didik
Menggali Ide mengidentiikasi
Pendiri Bangsa cara pandang
tentang Dasar para pendiri
Negara bangsa tentang
rumusan dan isi
Pancasila,
termasuk di
dalamnya
pandangan para
pendiri bangsa
tentang
hubungan
agama dan
negara terkait
frasa
“Ketuhanan,
dengan
kewajiban
menjalankan
syariat Islam
bagi pemeluk-
pemeluknya”
dalam Piagam
Jakarta.
Bab 1 Unit 2  Peserta didik
Penerapan diharapkan
Pancasila dalam mampu
Konteks menelaah
Berbangsa bagaimana
penerapan nilai-
nilai Pancasila
dalam
kehidupan
bermasyarakat
dan berbangsa
sekarang ini.
Dengan
demikian,
secara relektif,
peserta didik
dapat melihat
praktik
kehidupan
berbangsa (baik
yang terjadi di
lingkungan
terdekat maupun
dalam konteks
nasional) yang
sesuai dan yang
tidak sesuai
dengan nilai
Pancasila.
Bab 1 Unit 3  Peserta didik
Peluang dan diharapkan
Tantangan mampu
Penerapan mengidentiikasi
Pancasila peluang dan
tantangan
penerapan nilai-
nilai Pancasila
dalam
kehidupan
peserta didik di
dunia yang
saling
terhubung, di
mana, seseorang
dapat
berinteraksi
dengan orang
lain di wilayah,
daerah, dan
bahkan negara
yang berbeda.
Bab 1 Unit 4  Peserta didik
Proyek Gotong diharapkan
Royong dapat
Kewarganegaraan menginisiasi
kegiatan,
menetapkan
tujuan,
menentukan
target bersama,
mengidentiikasi
kekurangan dan
kelebihan
masing- masing
anggota
kelompok, serta
mampu
mengidentiikasi
hal-hal penting
dan berharga
yang dapat
diberikan
kepada orang-
orang yang
membutuhkan,
baik dalam
skala kecil
maupun besar.
Bab 2 Unit 1  Peserta didik
Pengenalan dapat
Konstitusi dalam mendeskripsika
Pengalaman Hidup n dan membuat
Sehari-Hari kesimpulan
penting terkait
dengan materi
yang dipelajari,
yakni Deinisi
Konstitusi,
Tujuan
Konstitusi, Jenis
Konstitusi,
Sejarah
Perubahan
Konstitusi UUD
NRI Tahun
1945, dan
mengaitkan
dengan pasal
atau ayat dalam
Konstitusi UUD
NRI Tahun
1945 yang
dirasakan terkait
dengan
pengalaman
hidup sehari-
hari, seperti
pendidikan,
kesehatan, dan
lain sebagainya.
Bab 2 Unit 2  Peserta didik
Pengenalan Norma dapat
dalam Kehidupan menganalisis
Sehari-Hari norma dan
menerapkan
dalam
kehidupan
sehari- hari,
baik sebagai
peserta didik
maupun sebagai
warga
masyarakat.
Bab 2 Unit 3  Peserta didik
Hubungan Erat mampu
Pancasila dan menguraikan
UUD NRI Tahun hubungan antara
1945 Pancasila dan
UUD NRI
Tahun 1945,
sedikitnya,
meliputi: a)
Pancasila
sebagai ideologi
dan falsafah
negara sekaligus
merupakan
sumber dari
segala sumber
hukum, b) UUD
NRI Tahun
1945 merupakan
konstitusi
tertulis negara
Indonesia,
posisinya
menjadi sumber
hukum di
Indonesia, dan
c) contoh
hubungan erat
antara Pancasila
dan UUD NRI
Tahun 1945.
Bab 2 Unit 4  Peserta didik
Membuat dapat
Kesepakatan menganalisis
Bersama dan
mempraktikkan
bagaimana
membuat
kesepakatan
bersama dalam
sebuah
pertemuan.
Bab 2 Unit 5  Peserta didik
Produk dan dapat
Hierarki Peraturan menguraikan
Perundang- berbagai produk
Undangan perundang-
undangan yang
ada di
Indonesia,
posisi hierarki,
muatan masing-
masing produk
perundang-
undangan,
hingga siapa
yang
memproduksi
berbagai jenis
perundang-
undangan
tersebut.
Bab 2 Unit 6  Peserta didik
Hubungan Antar dapat
Peraturan mengidentiikasi
Perundang- hubungan antar
Undangan perundang-
undangan,
apakah sinkron
atau tumpang
tindih.
Bab 2 Unit 7  Peserta didik
Menganalisis dapat
Peraturan menganalisis
Perundang- satu peraturan
undangan perundang-
undangan:
apakah telah
diarahkan untuk
mencapai tujuan
pendirian negara
RI, melayani
rakyat
kebanyakan,
dan tidak
berpotensi
terjadi korupsi.

Keterangan
0 - 40 % : Belum mencapai, remedial di seluruh bagian
41 - 65 % : Belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
66 - 85 % : Sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial
86 - 100% : Sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih
KRITERIA KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN (KKTP)
PANCASILA FASE E KELAS X

Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


Satuan Pendidikan : SMKN 4 BANJAR
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
Fase E Kelas/Semester : X (Sepuluh) / II ( Genap )

Skala atau Interval Nilai


0 – 40% 41 – 65% 66 – 85% 86 – 100%

Alur dan Tujuan Belum


Bab dan Unit Belum Sudah Sudah
mencapai
Pembelajaran mencapai, mencapai mencapai
ketuntasan,
remedial di ketuntasan, ketuntasan,
remedial di
seluruh tidak perlu perlu
bagian yang
bagian remedial pengayaan
diperlukan
Bab 3 Unit 1  Peserta didik
Mengidentiikasi diharapkan
Identitas Individu mampu
dan Identitas menjelaskan apa
Kelompok yang dimaksud
identitas, baik
pada aspek jenis
identitas maupun
pembentukannya
. Peserta didik
juga diharapkan
mampu
memberikan
contoh tentang
masingmasing
jenis identitas
dan mengaitkan
konsep identitas
tersebut dengan
Pancasila.
Bab 3 Unit 2  Peserta didik
Mengenali, diharapkan dapat
Menyadari dan mengenali dan
Menghargai membangun
Keragaman kesadaran bahwa
Identitas ada keragaman
identitas yang
kita miliki
sebagai sebuah
bangsa.
Pembelajaran
Unit 2 ini juga
ditujukan agar
peserta didik
dapat
menunjukkan
penghargaannya
terhadap
keragaman
budaya, baik
yang ada di
Indonesia
maupun dunia.
Bab 3 Unit 3  Peserta didik
Kolaborasi mampu
Antarbudaya di menjelaskan
Indonesia Indonesia
sebagai sebuah
negara yang
terbentuk dari
keragaman
budaya. Melalui
pembelajaran di
Unit 3, peserta
didik juga
diharapkan
mampu
mengidentiikasi
pentingnya
melakukan
kolaborasi
budaya yang ada
di Indonesia.
Selain itu,
peserta didik
diharapkan
mampu
memberikan
respons atas
kondisi dan
keadaan tidak
baik yang ada di
lingkungan dan
masyarakat
menjadi lebih
baik.
Bab 3 Unit 4  Peserta didik
Pertukaran diharapkan
Budaya di Pentas mampu
Global mengidentiikasi
tradisi, kearifan,
serta kebudayaan
masyarakat di
negara lain.
Selain itu,
peserta didik
juga diharapkan
mampu
menampilkan
atau
mempromosikan
budaya, tradisi
atau nilainilai
yang dimiliki
oleh bangsa
Indonesia ke
masyarakat
dunia.
Bab 3 Unit 5  Peserta didik
Belajar Dari diharapkan dapat
Kekayaan Tradisi menjelaskan
makna dan
manfaat hidup
dalam
kebinekaan, kaya
akan kearifan
lokal, serta
memiliki
kebanggaan atas
produk dalam
negeri. Selain
itu, peserta didik
juga diharapkan
mampu
menunjukkan
produk dan
kearifan lokal
kebanggaan
bangsa Indonesia
yang bisa
digunakan untuk
mengantisipasi
tindakantindakan
intoleransi atau
diskriminasi.
Bab 4 Unit 1  Peserta didik
Paham dapat
Kebangsaan, menjelaskan dan
Nasionalisme, menganalisis
dan Menjaga dasardasar
NKRI ilosois paham
kebangsaan dan
nasionalisme
dalam konteks
menjaga
keutuhan NKRI
atas kasus
sengketa batas
wilayah.
Diharapkan pula
muncul empati
dan semangat
patriotisme bagi
peserta didik,
setelah
mengetahui
tentang
bagaimana
konsep
kebangsaan
dirumuskan oleh
founding fathers
(para pendiri
bangsa), dan
dengan begitu,
dapat memupuk
rasa cinta pada
NKRI.
Bab 4 Unit 2  Peserta didik
NKRI dan dapat
Kedaulatan menjelaskan
Wilayah konsep (sejarah,
fakta, dan
regulasi) NKRI,
terkait dengan
subtema
sengketa batas
wilayah. Peserta
didik juga dapat
melakukan
identiikasi
beberapa contoh
kasus wilayah
yang
diperebutkan
berdasarkan
fakta dan
regulasi.
Bab 4 Unit 3  Peserta didik
Sengketa Batas diharapkan
Wilayah Antara mampu
Indonesia dan menjelaskan dan
Malaysia menganalisis
latarbelakang
terjadinya
sengketa batas
wilayah antara
Indonesia dan
Malaysia.
Peserta didik
tidak hanya
diajak untuk
mengetahui akar
sejarah
terjadinya
sengketa batas
wilayah, tetapi
juga dapat
melakukan
praktik baik
sebagai sikap
dan
keikutsertaannya
dalam menjaga
keutuhan NKRI.

Keterangan
0 - 40 % : Belum mencapai, remedial di seluruh bagian
41 - 65 % : Belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
66 - 85 % : Sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial
86 - 100% : Sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih
DOKUMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN PEMBELAJARAN

ASESMEN DIAGNOSTIK
● Tanya Jawab: "Sebutkan 5 sila dalam Pancasila! Apa makna sila pertama menurutmu?" untuk
menggali pengetahuan awal.
● Kuis Singkat: Kuis singkat tentang tokoh pendiri bangsa atau konsep dasar persatuan.

ASESMEN FORMATIF
● Tanya Jawab: Seputar materi yang sedang dibahas, seperti "Apa inti gagasan Moh. Yamin tentang
dasar negara?", "Bagaimana dinamika sidang BPUPK menunjukkan semangat toleransi?", "Sebutkan
contoh aktualisasi sila kedua Pancasila!".
● Diskusi Kelompok: Penilaian partisipasi dan kontribusi peserta didik dalam diskusi dan studi kasus.
● Latihan Soal/LKPD:
 "Ringkaslah gagasan dasar negara dari Ir. Soekarno!".
 "Jelaskan mengapa Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka!".
 "Identifikasi dua permasalahan di lingkunganmu yang bisa diselesaikan dengan nilai Pancasila,
dan berikan ide solusinya!".
● Observasi: Pengamatan guru terhadap sikap toleransi, semangat gotong royong, dan kemampuan
bernalar kritis peserta didik selama kegiatan kelompok dan diskusi.
● Produk (Proses):
 Tabel perbandingan gagasan tokoh.
 Peta konsep kedudukan dan fungsi Pancasila.
 Draf rancangan proyek aktualisasi Pancasila.

ASESMEN SUMATIF
● Produk (Proyek):
 Produk Proyek Aktualisasi Pancasila: "Rancang dan hasilkan sebuah produk (misalnya poster
digital, infografis, video kampanye singkat, atau skrip simulasi) yang mengaktualisasikan salah
satu atau beberapa nilai Pancasila sebagai pemersatu bangsa, dengan target audiens di
lingkungan sekolah atau masyarakat!" (menggunakan Rubrik Penilaian Proyek Aktualisasi
Pancasila).
 Laporan Proyek: "Buatlah laporan singkat yang menjelaskan tujuan, proses, dan dampak yang
diharapkan dari proyekmu!"
● Praktik (Kinerja):
 Presentasi Proyek: "Presentasikan proyek aktualisasi Pancasila yang telah kamu buat di depan
kelas. Jelaskan bagaimana proyekmu dapat berkontribusi pada persatuan bangsa dan tunjukkan
sikap toleransi dalam interaksimu!" (menggunakan Rubrik Penilaian Presentasi Proyek).
● Tes Tertulis: Tes akhir bab untuk mengukur pemahaman konseptual tentang Pancasila sebagai
pemersatu bangsa (pilihan ganda atau esai singkat).
FORMAT MEDIA DAN ALAT PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : PENDIDIKAN PANCASILA
Kelas : X (Sepuluh)
Guru Mapel : Eka Ambarahmawati, [Link]
Kompetensi Keahlian : Semua Kompetensi Keahlian

NO NAMA ALAT BAHAN


1 LAPTOP / GADGET Buku Paket Siswa
Buku Paket Guru
Power Point/ Canva
Akses Internet / Youtube/ Google
2 LKPD Buku Paket Siswa
Buku Paket Guru
Power Point/ Canva
Akses Internet / Youtube/ Google
KISI-KISI SOAL
Mata Pelajaran : PENDIDIKAN PANCASILA
Kelas :X
Kompetensi Keahlian : Semua Kompetensi Keahlian
Semester : Ganjil

KISI-KISI
UJIAN SEKOLAH
TAHUN PELAJARAN 2024/2025
:
Pendidik
Muatan
an
Pelajara
:
n
Pancasil
a
Kelas : XII

N
Lev
o.
N Pokok Indikat el Indikator
Elemen S
o Materi or Kog Soal
o
nitif
al
1 PANCA Mengan Siswa dapat
SILA alisis menentukan
C3 1
kedudu apa itu dasar
kan negara
Menggali Pancasi Disajikan
ide la deskripsi
pendiri sebagai para
bangsa dasar perumus
tentang negara, pancasila.
dasar pandan C2 Siswa dapat 2
negara gan menentukan
hidup, siapa yang
dan memperkena
ideologi lkan
negara Pancasila
Penerap Mengan Disajikan
an alisis desktipsi
1
Pancasil nilai C2 tentang
1
a dalam instrum Pancasila
konteks ental sila ke - 4
berbangs dan nilai C2 Siswa dapat 1
a dan praktis menentukan 2
bernegar dalam hubungan
antara sila
ke-1 dan sila
a
ke- 2
Peluang
dan
tantanga
n Siswa dapat
penerap menentukan 1
C1
an peran 3
Pancasil Pancasila
a dalam
kehidupa
n global
Ber- Pancasi
Pancasil la
siswa dapat
a dalam
Ber- menentukan 2
kesehari C2
Pancasi nilai praktis 3
an di
la Pancasila
masyara
dalam
kat
Keseha
siswa dapat
rian di
Saya menentukan 2
Masyar
dan nilai yang 4,
akat C2
Pancasil terkandung 2
a dalam sila 5
ke- 4
Ber- Mengan
siswa dapat
Pancasi alisis
Saya memberikan
la contoh
Ber- contoh 2
dalam perilaku C2
Pancasil penerapan 6
Kehidu ber-
a Pancasila
pan Pancasi
sila ke- 4
Global la
2 Undang Mengan siswa dapat
Pengena
- alisis menentukan
lan
Undang contoh C2 contoh 3
Norma
Dasar norma norma
dalam
Negara dan kesopanan
Kehidup
Republi kekuata Siswa dapat
an
k n menentukan
sehari- C2 4
Indones mengik keterikatan
hari
ia atnya norma
Tahun Ide Menyeb C2 Siswa dapat 1
1945 Pendiri utkan menentukan 4
Bangsa tanggal tanggal
tentang disahka disahkannya
Konstitus nnya UUD NRI
i UUD Tahun 1945
NRI
Tahun
1945
Mengan
alisis
Apa Disajikan
yang deskripsi
dimaksu tentang apa
Dinamika
d yang di
Perkemb
mayara maksud 1
angan C2
kat masyarakat 5
Konstitus
Global Global dalam
i
dalam konteks
Bhinnek bhinneka
a Tunggal Ika
Tunggal
Ika
3 Bhinne Mengide
Siswa dapat
ka ntifikasi Menyeb
menunjukkan
Tungga Identitas utkan
salah satu
l Ika Individu contoh
C2 contoh 5
dan identitas
identifikasi
Identitas kelomp
identitas
Kelompo ok
kelompok
k
Mengan
alisis
Kolabora siswa dapat
salah
si menunjukkan
satu
antarbud salah satu
tujuan C2 6
aya di tujuan
kolabor
Indonesi kolaborasi
asi
a antarbudaya
antarbu
daya
Disajikan
Mengan deskripsi
Pertukar
alisis tentang
an
tujuan salah satu
Budaya C2 7
kolabor cara untuk
di pentas
asi menyatukan
global
budaya semua
budaya
Kolabora Mengan C2 Disajikan 1
si alisis deskripsi 6
Budaya apa tentang apa
yang yang
dimaksu dimaksud
d dengan
kolabor kolaborasi
asi budaya
budaya dalam
menurut konteks
konteks
Bhinnne
Bhinneka
ka
Tunggal Ika
Tunggal
Ika
Mengan
alisis
apa Siswa dapat
yang menentukan
Interaksi dimaksu apa yang
Budaya d dimaksud
Nusantar dengan dengan 1
C2
a di Interaks Interaksi 7
Kancah i Budaya
Dunia Budaya Nusantara di
Nusanta Kancah
ra di Dunia
Kancah
Dunia
Mengan
alisis
tentang Siswa dapat
apa menentukan
yang apa yang
Merawat
dimaksu dimaksud
tradisi
d dengan 1
lokal dan C2
dengan Merawat 8
khebinne
Merawa tradisi lokal
kaan
t tradisi dan
lokal khebinnekaa
dan n
khebinn
ekaan
Mengan
alisis
tentang
Siswa dapat
apa
menentukan
yang
apa yang
Stereotip dimaksu
dimaksud
, d
dengan 1
Diskrimin dengan C2
stereotop 9
asi dan stereoti
dalam
bullying p dalam
konteks
konteks
bhinneka
bhinnek
Tunggal Ika
a
tunggal
ika
4 Negara Paham Disajika siswa dapat
C2 8
Kesatu Kebangs n data, menentukan
an contoh
Republi aan, ancama contoh yang
k Nasionali n bukan
Indones sme dan terhada ancaman
ia Menjaga p terkadap
NKRI keutuha NKRI
n NKRI
Disajika
Sengket n data,
a batas batas siswa dapat
wilayah wilayah menentukan
antara antara C2 contoh kasus 9
Indonesi malaysi batas
a dan a dan wilayah
Malaysia INdones
ia
Mengan
alisis
cara
penyele siswa dapat
NKRI saian menentukan
dan sengket upaya
1
kedaulat a batas C2 penyelesaian
0
an wilayah sengketa
Wilayah antara batas
Indones wilayah
a dan
Malaysi
a
Mengan
alisis
penyeb
Sengket ab
Disajikan
a batas utama
data, siswa
wilayah sengket
dapat
blok a
menentukan 2
ambalat wilayah C2
penyebab 0
antara blok
utama
Indonesi ambalat
sengketa
a dan antara
blok ambalat
Malaysia Indones
ia dan
Malaysi
a
Cara- Mengan C2 siswa dapat 2
cara alisis menanalisis 1
penyeles apa apa yang
aian yang dimaksud
sengketa dimaksu dengan
Internasi d penyelesaian
dengan
penyele
sengketa
onal saian
internasional
secara sengket
secara
damai a
damai
Internas
ional
Mengan
alisis
penyele siswa dapat
Penyeles
saian menganalisis
aian blok
sengket apa yang
ambalat
a Batas dilakukan
dan
wilayah peerintah 2
sistem C2
blok untuk 2
keamana
ambatal menyelesaik
n dan
antara an sengketa
pertahan
Indones batas
an di laut
ia dan wilayah
Malaysi
a
5 Disajikan
data terkait
pasal 28I
UUD RI 1945
2
C2 terkait hak
8
untuk hidup
dan hak
Kesada untuk tidak di
Pelangg Mengan
ran siksa
aran Hak alisis
Warga Disajikan
dan apa
Negara data terkait
Pengingk yang
dalam pasal 30
aran dimaksu
Mengha UUD RI
Kewajiba d
dapi 1945, terkait
n warga dengan
Kasus ancaman
negara implem
Pelang siber dan
yang entasi 2
garan C2 kewajiban
bertenta prinsip 9
Hak warna
ngan hukum
dan negara di
dengan yang
Pengin dalam usaha
UUD NRI bisa di
gkaran pertahanan
Tahun terapka
Kewajib dan
1945 n
an keamanan
NKRI
Disajikan
data terkait
3
C2 pasal 31
0
UUD RI
1945, terkait
upaya
pemerintah
dan
masyarakat
untuk
mengatasi
kendala
geografis
siswa di
dalam
menempuh
pendidikan
Disajikan
deskripsi
kasus
terhadap
pengingkara
n kewajiban,
siswa dapat
3
C2 menganalisis
1
apakah hal
tersebut
termasuk
kedalam
pengingkara
n hak &
kewajiban
Disajikan
deskripsi
kasus
terhadap
pengingkara
n kewajiban,
siswa dapat
3
C2 menganalisis
2
apakah hal
tersebut
termasuk
kedalam
pengingkara
n hak &
kewajiban
Menginis Mengan C2 Siswa dapat 3
iasi alisis menentukan 3
proyek kategori apa yang
kampany pelangg dikategorikan
e anti aran sebagai
pelangga hak di pelanggaran
ran hak dalam hak dalam
dan pemilu pemilu
pengingk
aran
kewajiba
n warga
negara
Kasus Disajikan
Pelangg deskripsi,
aran hak pelanggaran
Mengan
dan warga 3
alisis C2
pengingk negara 4
kasus
aran terhadap
pelangg
kewajiba lingkungan
aran
n serta sekitar
warga
upaya
negara Disajikan
warga
terhada deskripsi,
negara
p pelanggaran
dalam
lingkung warga 3
mencega C2
an negara 5
hnya di
sekitar terhadap
lingkung
lingkungan
an
sekitar
sekitar
Gagasan Mengan Disajikan
solutif alisis data terkait
mengata Gagasa pasal 28I
si n solutif UUD RI 1945
3
pelangga mengat C2 terkait hak
6
ran hak asi untuk hidup
dan pelangg dan hak
pengingk aran untuk tidak di
aran hak dan siksa
kewajiba penging Disajikan
n karan deskripi,
kewajib terkait pasal
an 28E UUD RI
1945, dan
bagaimana
3
C2 cara
7
mengimplem
entasikan
terhadap
kasus-kasus
pelanggaran
HAM
C2 Disajikan 3
data terkait 8
pasal 30
UUD RI
1945, terkait
ancaman
siber dan
kewajiban
warna
negara di
dalam usaha
pertahanan
dan
keamanan
NKRI
6 Praktek Mengan
Disajikan
Gotong alisis
deskripsi
Royong Kerjasa artikel
artikel, terkait
dalam ma yang
kegiatan 3
Kehidu dalam berkaita C2
gotong 9
pan bergoton n
royong di
Masyar g royong dengan
lingkungan
akat gotong
masyarakat
Indones royong
ia Mengan
alisis
Disajikan
terkat
deskripsi
artikel,
artikel, terkait
contoh
contoh 4
budaya C2
kegiatan 0
gotong
gotong
royong
royong di
di
masyarakat
masyar
akat
Mengan
Praktik alisis
kegiatan bagaim
gotong ana
royong cara
siswa dapat
melaksa
menentukan
nakan
rancangan
kegiata
kegiatan 4
n C2
terkait 1
kebersi
kebersihan di
han
lingkungan
lingkung
sekolah
an
sekolah
secara
terenca
na
7 Menelu keduduk Mengan C2 siswa dapat 4
sur an dan alisis menentukan 2
Lembag fungsi lembag faktor
a lembaga a- enyebab
lembag
terjadinya
a
negara pelanggaran
hukum
hukum
negara
siswa dapat
Mengan menyebutka
alisis n bentuk
peran kerjasama
dan Presiden dan 4
C2
fungsi DPR terkait 3
Preside fungsi &
n dan perannya
DPR masing-
masing
siswa dapat
menyebutka
n
Peran
Negara kewenangan
lembaga
prinsipil 4
negara C2
lembaga 4
dalam
negara yang
berbagai
Mengan tercantum
bidang
alisis dalam UUD
kewena NRI 1945
ngan siswa dapat
lembag menyebutka
a n upaya
negara pelajar
dalam
4
C2 melaksanaka
5
n fungsi dan
kewenangan
nya di
lingkungan
sekolah
8 Mengan
alisis
Disajikan
perbeda
data, siswa
Menjadi an
dapat
pelopor demokr
membedaka
Pemilih Demokra asi
C2 n demokrasi
4
Pemula si Pancasi 6
Pancasila
dalam la
dengan
Demokr dengan
demokrasi
asi demokr
lainnya
Indones asi yang
ia lain
Mengan Siswa dapat
4
Pemilu alisis C2 menganalisis
7
tujuan apa yang
Pemilu,
dimaksud
dari
dengan
rakyat,
Pemilu dari
untuk
rakyat, untuk
rakyat,
rakyat, oleh
oleh
rakyat
rakyat
siswa dapat
Mengan
menyebutka
alisis
n peran
1. Dasar negara Indonesia
peran adalah..
utama dari 4
a. Pancasilautama C2
Komisi 8
lembag
b. Burung garuda Pemilihan
a
c. UUD 1945 Umum
Pemilu
d. Bhinneka Tunggal Ika ( KPU)
e. Pemerintahan siswa dapat
2. Mengan
Proses pembuatan menyebutka
Pancasila menjadi dasar negara melalui proses yang panjang. Yang
alisis n tujuan
4
pertama kali memperkenalkan istilah Pancasila adalah..
tujuan C2 utama
a. Ir. Soekarno 9
pemilu dilaksanakan
b. Drs. Moh. Hatta
legislatif nya pemilu
c. Muh. Yamin legislatif
d. Soepomo Disajikan
Mengan
e. Dr. Radjiman Widyodiningra data secara
3. Contoh norma alisis
kesopanan adalahdeskripsi,

apa siswa
a. Menghormati yangorang yang lebih tua
mampu
b. Larangandimaksu
mencuri menyebutka 5
c. Aturan makan C2
d di rumah napa yang 0
pemilumakan
d. Berdoa sebelum dimaksud
e. Berdoa sebelum berpergiandengan
secara
4. langsun
Jenis norma dengan pemilu
daya mengikat paling lemah adalah …
g secara
a. Cara
langsung
b. Kebiasaan
c. Kelakuan
d. Adat istiadat
e. Kesopanan
5. Salah satu contoh identitas kelompok adalah ....
a. Keluarga
b. Suku bangsa
c. Agama
d. Ras
e. Bersaudara
6. Kolaborasi antarbudaya di Indonesia bertujuan untuk .....
a. Disebutkan tujuan bersama dengan menghargai perbedaan
b. Menciptakan konflik antarbudaya
c. Mendorong persaingan antarbudaya
d. Mendorong terjadinya perbedaan
e. Mendorong terjadinya chauvinisme
7. Menyatukan semua budaya menjadi satu merupakan salah satu cara untuk ....
a. Diplomasi budaya
b. Memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia
PROGRAM REMEDIAL DAN PENGAYAAN

Sekolah : SMKN 4 BANJAR


Kelas :X
Semester : I (SATU)
Tahun : 2025

Rencana Program Hasil


No No. CP Nama Peserta Didik Tanggal Pelaksanaan Simpulan
Remidial Pengayaan Sebelum Sesudah

Anda mungkin juga menyukai