MAKALAH
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Disusun Oleh: Kelompok 3
Tingkat 2C
Angel Monalisa (243110335)
Anita Yusreni Br Harahap (243110336)
Citra Pratiwi Syalma (243110339)
Nanda Wulandari (243110357)
Nurul Hafizhoh (243110359)
Suci Ramadhani (243110368)
Zahara Sabila Azmi (243110373)
Dosen Pembimbing:
Ns. Yossi Suryarinilsih,. [Link]. [Link]. MB
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN PADANG
KEMENKES POLTEKKES PADANG
2025/2026
A. DASAR TEORI
1. Pengertian
Pengertian Dehidrasi
Dehidrasi adalah suatu kondisi ketika jumlah cairan yang keluar dari tubuh
melebihi jumlah cairan yang masuk, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan
antara kebutuhan dan ketersediaan cairan tubuh. Cairan tubuh sangat penting dalam
proses fisiologis, seperti transportasi nutrien dan oksigen ke sel, pembuangan sisa
metabolisme, pengaturan suhu tubuh, serta menjaga keseimbangan elektrolit.
Kekurangan cairan dapat memengaruhi volume darah, tekanan darah, dan fungsi
organ vital. Dehidrasi dapat terjadi akibat kehilangan cairan melalui keringat
berlebihan, muntah, diare, buang air kecil berlebihan, luka bakar, atau kombinasi dari
beberapa faktor tersebut. Selain itu, asupan cairan yang kurang, misalnya pada kondisi
akses air yang terbatas atau penurunan rasa haus pada lansia, juga dapat memicu
terjadinya dehidrasi. Kondisi ini dapat diklasifikasikan menjadi dehidrasi ringan,
sedang, dan berat, bergantung pada persentase kehilangan cairan terhadap berat
badan. Apabila tidak segera ditangani, dehidrasi dapat menyebabkan gangguan fungsi
organ, syok hipovolemik, bahkan kematian.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dehidrasi
Faktor yang Mempengaruhi Dehidrasi
1) Asupan Cairan yang Tidak Cukup
Kurangnya konsumsi air harian dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan,
terutama jika kebutuhan cairan meningkat karena cuaca panas atau aktivitas fisik.
2) Aktivitas Fisik yang Berat
Saat berolahraga atau melakukan aktivitas berat, tubuh kehilangan cairan melalui
keringat. Jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, risiko dehidrasi
meningkat.
3) Suhu Lingkungan
Cuaca panas dan lembap meningkatkan penguapan air dari tubuh, baik melalui
keringat maupun pernapasan, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi.
4) Penyakit atau Kondisi Medis
Kondisi seperti demam, diare, muntah, dan infeksi saluran kemih dapat
menyebabkan kehilangan cairan secara cepat.
5) Penyakit atau Kondisi Medis
Kondisi seperti demam, diare, muntah, dan infeksi saluran kemih dapat
menyebabkan kehilangan cairan secara cepat.
6) Usia
Anak-anak: Lebih rentan karena persentase air dalam tubuh mereka lebih tinggi
dan mereka lebih cepat kehilangan cairan saat sakit.
Lansia: Kemampuan untuk merasakan haus berkurang, dan fungsi ginjal menurun
seiring usia, sehingga lebih mudah mengalami dehidrasi.
7) Obat-obatan
Obat seperti diuretik (yang meningkatkan produksi urin) dapat meningkatkan
kehilangan cairan.
8) Kondisi Kesehatan Tertentu
Misalnya, penderita diabetes yang tidak terkontrol bisa sering buang air kecil,
menyebabkan kehilangan cairan.
Dehidrasi terjadi bila kehilangan cairan sangat besar sementara pemasukan
cairan sangat kurang. Beberapa kondısı yang sering menyebabkan dehidrası antara
lain:
1. Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan ketulangan
cairan dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak-anak meninggal
setiap tahun karena dehidrasiakibat diare.
2. Muntah sering menyebabkan dehidrası karena sangat sulit untuk
menggantikan cairanyang keluar dengan cara minum.
3. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang
panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan
mengeluarkan keringat. Bilakeadaan ini berlangsung lama sementara
pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.
4. Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis
akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing
sehingga penderitadiabetes akan mengeluh sering kebelakang untuk kencing.
5. Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrası akibat keluarnya cairan
berlebihan padakulit yang rusak oleh luka bakar.
6. Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan
untuk jatuh kekondisi dehidrası
3. Tingkatan Dehidrasi
Derajat keparahan menurut WHO (2013) & IDAI (2022):
1. Dehidrasi Ringan
Dehidrasi ringan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan sekitar 3–5%
dari berat badan pada anak. Kondisi ini biasanya belum mengganggu fungsi
tubuh secara signifikan, sehingga anak masih tampak aktif dan sadar penuh.
Tanda-tandanya meliputi rasa haus yang meningkat, membran mukosa mulut
sedikit kering, mata masih tampak normal, turgor kulit kembali dengan cepat
setelah dicubit, dan produksi urin masih dalam batas normal meskipun
mungkin sedikit berkurang. Jika pada tahap ini anak segera mendapatkan
asupan cairan yang cukup, dehidrasi dapat cepat teratasi tanpa komplikasi.
2. Dehidrasi Sedang
Dehidrasi sedang ditandai dengan kehilangan cairan sekitar 5–10%
dari berat badan pada anak. Pada tahap ini, tubuh mulai menunjukkan tanda
gangguan sirkulasi dan keseimbangan cairan. Anak biasanya tampak gelisah
atau rewel, mata mulai cekung, turgor kulit kembali lebih lambat (sekitar 1–2
detik), dan membran mukosa mulut terasa kering. Produksi air mata berkurang
saat menangis dan frekuensi buang air kecil menjadi lebih jarang, dengan
warna urin lebih pekat. Rasa haus biasanya meningkat, sehingga anak minum
dengan lahap. Jika tidak segera diberikan terapi rehidrasi, kondisi ini dapat
berkembang menjadi dehidrasi berat.
3. Dehidrasi Berat
Dehidrasi berat adalah keadaan gawat darurat medis di mana
kehilangan cairan tubuh melebihi 10% dari berat badan anak. Kondisi ini
mengancam jiwa karena fungsi organ vital mulai terganggu akibat kekurangan
volume darah yang signifikan. Anak tampak sangat lemas, letargi, bahkan
tidak sadar. Mata terlihat sangat cekung, membran mukosa mulut dan bibir
sangat kering, serta tidak ada air mata saat menangis. Turgor kulit kembali
sangat lambat (>2 detik) dan ekstremitas terasa dingin. Denyut nadi menjadi
cepat dan lemah, tekanan darah menurun, serta jumlah urin sangat sedikit atau
bahkan tidak ada (anuria). Jika tidak segera dilakukan rehidrasi intensif
melalui pemberian cairan intravena, dehidrasi berat dapat menyebabkan syok
hipovolemik, gagal ginjal akut, koma, hingga kematian.
4. Tanda dan Gejala Dehidrasi
Tanda dan gejala:
Menurut WHO ada 3 derajat dehidrasi pada anak, yaitu :
a. Tidak dehidrasi
1) Kesadaranya baik
2) Mata terlihat normal, kecuali jika mata cekung karena bawaan
3) Terdapat air mata saat menangis
4) Denyut nadi mudah diraba
5) Kondisi mulut dan lidah basah
6) Cara minum normal dan tidak haus
7) Ketika dicubit, kulit dapat kembali kekondisi semula dengan cepat (kurang
dari 1 detik)
b. Derajat dehidrasi ringan atau sedang
1) Terlihat gelisa dan rewel
2) Kndisi mata terlihat cekung dan kering
3) Tidak ada air mata saat menangis
4) Mulut dan lidah terlihat kering
5) Denyut nadi teraba
6) Terdapat rasa haus dan ingin minum dalam jumlah banyak
7) Jika dicubit kulit akan kembali ke kondisi semula dengan lambat ( kurang
dari 2 detik)
c. Derajat dehidrasi berat
1) Selalu merasa lesu
2) Kondisi mata terlihat kering dan cekung
3) Tidak ada air mata saat menangis
4) Mulut dan lidah terlihat kering
5) Denyut nadi teraba lemah
6) Tidak ingin minum atau tidak bisa minum
7) Ketika dicubit,kulit akan kembali ke kondisi semula dengan Sangat lambat
(lebih dari 2 detik)
8)
Tanda Khusus pada Bayi/Anak:
1) Frekuensi BAK: <4 popok basah/24 jam pada bayi bisa mengarah
dehidrasi.
2) Popok/ urin: lebih gelap, kuning pekat
3) Ubun-ubun besar cekung.
4) Tangisan tanpa air mata.
5) Berat badan turun cepat saat sakit (indikator kehilangan cairan).
Tanda pada Remaja & Dewasa:
1) Haus, mulut kering, pusing saat berdiri (hipotensi ortostatik), jantung
berdebar.
2) Kram otot, lemah, konsentrasi menurun, sakit kepala.
3) Urin sedikit & pekat; warna bisa menjadi kuning tua/amber.
4) Pada berat: kebingungan, kulit sangat kering, mata cekung, hipotensi,
pingsan.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Kasus
An A, anak laki-laki usia 7 tahun, dibawa ibunya karena demam tinggi sejak 2 hari
lalu, muntah lebih dari 5 kali sehari, dan tidak minum dengan cukup, tidak nafsu
makan. Anak tampak lemas, tampilan mata cekung, turgor lambat, mukosa kering,
dan menangis tanpa air mata. Berat badan turun 1.5 kg dalam 3 hari.
Vital sign:
a. Suhu: 39,1°C
b. Nadi: 120x/menit
c. RR: 26x/menit
d. TD: 90/60 mmHg
e. Urin: <2x dalam 24 jam, warna pekat
Lab:
a. Na+: 146 mmol/L
b. K+: 0a: 102 m
c. Glukosa: 102 mg/dL
2. Analisis Data
No. Data Penyebab Masalah
1. Ds: pasien demam tinggi Kehilangan cairan Hipovolemia
sejak 2 hari, muntah lebih aktif dan (Dehidrasi)
dari 5 kali sehari, tidak nafsu kekurangan intake
makan dan tidak minum cairan.
dengan cukup.
Do: anak tampak lemas,
tampilan mata cekung, turgor
lambat, mukosa kering, berat
badan turun 1,5 kg dalam 3
hari dan menangis tanpa air
mata.
3. Diagnosa Keperawatan
No. Diagnosa Perencanaan
Keperawatan
Tujuan (SLKI) Intervensi (SIKI)
1. Hipovolemia Setelah dilakukan Manajemen
berhubungan intervensi Hipovolemia (I.03116)
dengan kehilangan keperawatan selama Observasi:
cairan aktif dan 3x24 jam, maka a. Periksa tanda dan
kekurangan intake keseimbangan cairan gejala
cairan dibuktikan (L.03020) meningkat hipovolemia
dengan Turgor kulit dengan kriteria hasil: b. Monitor intake
menurun, Membran a. Membran dan output cairan
mukosa kering, mukosa
Terapeutik:
Tekanan darah lembab cukup
menurun dan meningkat a. Hitung
volume urine b. Dehidrasi kebutuhan cairan
menurun. (D.0023) cukup b. Berikan posisi
menurun modified
c. Tekanan darah Trendelenburg
membaik c. Berikan asupan
d. Mata cekung cairan oral
membaik
e. Turgor kulit Edukasi:
membaik
a. Anjurkan
f. Berat badan
memperbanyak
cukup
asupan cairan
membaik
oral
b. Anjurkan
menghindari
perubahan posisi
mendadak
Kolaborasi:
a. Kolaborasi
pemberian cairan
IV isotonis
b. Kolaborasi
pemberian cairan
IV hipotonis
c. Kolaborasi
pemberian cairan
koloid
d. Kolaborasi
pemberian
produk darah
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner & Suddarth’s
Textbook of Medical-Surgical Nursing (12th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (2020). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi 7 Jilid II. Jakarta: Interna Publishing.
Rachmawati, D. A., & Prasetyowati, I. (2015). Hubungan pengetahuan ibu tentang diare
dengan tingkat dehidrasi pada balita.
Sulistyoningsih, H. (2012). Gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Popkin, B. M., D’Anci, K. E., & Rosenberg, I. H. (2010). Water, hydration and health.
Nutrition Reviews, 68(8), 439–458. [Link]
WHO. (2005). Dehydration treatment and prevention. World Health Organization Guidelines.
Mayo Clinic. (2022). Dehydration - Symptoms and causes. Retrieved from
[Link]
World Health Organization. (2013). Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines
for the Management of Common Childhood Illnesses (2nd ed.). Geneva: WHO Press.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2022). Pedoman Tatalaksana Diare Akut pada Anak. Jakarta:
UKK Gastroenterologi-Hepatologi.
Kliegman, R. M., St Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson, K. M.
(2020). Nelson Textbook of Pediatrics (21st ed.). Philadelphia: Elsevier.
UNICEF & WHO. (2009). Diarrhoea: Why children are still dying and what can be done.
New York: United Nations Children’s Fund and World Health Organization.
World Health Organization. (2013). Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines
for the Management of Common Childhood Illnesses (2nd ed.). Geneva: WHO Press.