Fenomena utama yang terjadi pada soal ini adalah pembiasan cahaya.
Pembiasan adalah peristiwa di
mana cahaya membelok saat melewati dua medium yang memiliki kerapatan optik berbeda. Dalam
kasus ini, mediumnya adalah air (tempat ikan berada) dan udara (tempat pemanah berada).
Dari peristiwa pada bisa diketahui:
Air lebih rapat daripada udara. Ketika sinar cahaya datang dari ikan (medium lebih rapat) menuju mata
pemanah (medium kurang rapat), cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Garis normal adalah
garis imajiner yang tegak lurus dengan permukaan air.
Karena cahaya membelok menjauhi garis normal, otak akan menginterpretasikan seolah-olah cahaya
datang dari jalur yang lurus. Akibatnya, posisi ikan yang terlihat (posisi semu) akan berada lebih dangkal
(dari permukaan air) atau lebih atas daripada posisi ikan yang sebenarnya.
Mari evaluasi masing-masing pernyataannya:
Strategi pemanah membidik lebih rendah dari posisi ikan yang terlihat merupakan strategi yang tepat
berdasarkan prinsip pembiasan cahaya. Seperti yang sudah dijelaskan, akibat pembiasan cahaya,
pemanah akan melihat ikan berada pada posisi yang lebih atas dari posisi aslinya. Untuk bisa mengenai
sasaran, pemanah harus mengarahkan tombaknya ke posisi asli ikan, yaitu lebih rendah dari posisi ikan
yang ia lihat. Jadi, strategi ini sepenuhnya benar dan didasarkan pada pemahaman tentang prinsip
pembiasan cahaya. [PERNYATAAN PERTAMA BENAR]
Penambahan kecepatan saat melempar tombak dapat meminimalisir kesalahan bidikan yang terjadi
akibat pembiasan cahaya. Kesalahan bidikan di sini disebabkan oleh fenomena optik (pembiasan), bukan
karena faktor kecepatan. Masalahnya adalah di mana pemanah harus membidik. Melempar tombak
lebih cepat mungkin akan memberi ikan lebih sedikit Fenomena utama yang terjadi pada soal ini adalah
pembiasan cahaya. Pembiasan adalah peristiwa di mana cahaya membelok saat melewati dua medium
yang memiliki kerapatan optik berbeda. Dalam kasus ini, mediumnya adalah air (tempat ikan berada)
dan udara (tempat pemanah berada).
Dari peristiwa pada bisa diketahui:
Air lebih rapat daripada udara. Ketika sinar cahaya datang dari ikan (medium lebih rapat) menuju mata
pemanah (medium kurang rapat), cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Garis normal adalah
garis imajiner yang tegak lurus dengan permukaan air.
Karena cahaya membelok menjauhi garis normal, otak akan menginterpretasikan seolah-olah cahaya
datang dari jalur yang lurus. Akibatnya, posisi ikan yang terlihat (posisi semu) akan berada lebih dangkal
(dari permukaan air) atau lebih atas daripada posisi ikan yang sebenarnya.
Mari evaluasi masing-masing pernyataannya:
Strategi pemanah membidik lebih rendah dari posisi ikan yang terlihat merupakan strategi yang tepat
berdasarkan prinsip pembiasan cahaya. Seperti yang sudah dijelaskan, akibat pembiasan cahaya,
pemanah akan melihat ikan berada pada posisi yang lebih atas dari posisi aslinya. Untuk bisa mengenai
sasaran, pemanah harus mengarahkan tombaknya ke posisi asli ikan, yaitu lebih rendah dari posisi ikan
yang ia lihat. Jadi, strategi ini sepenuhnya benar dan didasarkan pada pemahaman tentang prinsip
pembiasan cahaya. [PERNYATAAN PERTAMA BENAR]
Penambahan kecepatan saat melempar tombak dapat meminimalisir kesalahan bidikan yang terjadi
akibat pembiasan cahaya. Kesalahan bidikan di sini disebabkan oleh fenomena optik (pembiasan), bukan
karena faktor kecepatan. Masalahnya adalah di mana pemanah harus membidik. Melempar tombak
lebih cepat mungkin akan memberi ikan lebih sedikit