0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Kembalinya Russell Potter di Hogwarts

Dokumen ini adalah naskah drama berjudul 'Russell Potter: Dibawah Kutukan Gelap' yang berfokus pada konflik di Hogwarts ketika sihir gelap kembali muncul. Tokoh utama, Clarence, memperingatkan murid-muridnya tentang kembalinya Russell Potter dan pengaruhnya terhadap Josephine. Cerita menyoroti tema persahabatan dan perjuangan melawan manipulasi sihir gelap.

Diunggah oleh

samantha.c.lawy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Kembalinya Russell Potter di Hogwarts

Dokumen ini adalah naskah drama berjudul 'Russell Potter: Dibawah Kutukan Gelap' yang berfokus pada konflik di Hogwarts ketika sihir gelap kembali muncul. Tokoh utama, Clarence, memperingatkan murid-muridnya tentang kembalinya Russell Potter dan pengaruhnya terhadap Josephine. Cerita menyoroti tema persahabatan dan perjuangan melawan manipulasi sihir gelap.

Diunggah oleh

samantha.c.lawy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tokoh-Tokoh:

1.​ Clarence - narrator


2.​ Zoe
3.​ Josephine
4.​ Samantha
5.​ Russell - Russell Potter

Judul: Russell Potter: Dibawah Kutukan Gelap

Tokoh-Tokoh:

●​ Clarence – narator & profesor


●​ Zoe
●​ Josephine
●​ Samantha
●​ Russell – Russell Potter

Clarence (narator):​
Di Sekolah Hogwarts, segalanya sempat tenang. Sampai suatu malam, sihir gelap
kembali. Dan para murid hampir kehilangan satu sama lain.

SCENE 1 – KORIDOR HOGWARTS

(Di koridor sekolah Hogwarts. Samantha dan Zoe berbicara sambil membawa
buku.)

Samantha:​
Kamu ngerasa nggak sih, akhir-akhir ini Josephine… berubah?

Zoe:​
Iya banget. Dia nggak pernah bareng kita lagi… dan cara dia ngomong kayak dingin
banget gitu…
Samantha:​
Dulu dia yang paling rame, paling banyak ide kalau kita main petak umpet sihir.
Sekarang cuma diam.

Zoe:​
Aku pernah coba ajak dia duduk bareng di kantin, tapi dia langsung pindah tempat.​
Kayak… dia takut kita tahu sesuatu.

(Masuk Profesor Clarence.)

Clarence:​
Samantha. Zoe. Aku mau kalian waspada. Aku mendeteksi energi sihir gelap yang
familiar.

Samantha:​
Sihir gelap? Tapi bukannya sudah dilarang sejak Insiden Russell?

Clarence:​
Ya. Tapi aku yakin bahwa Russell Potter telah kembali. Dan dia tidak sendiri.

Samantha:​
Maksud Profesor… Josephine?

Clarence:​
Dia mungkin dikendalikan oleh Russell.

Zoe:​
Kutukan Imperio. Seseorang di bawah pengaruhnya tidak terlihat jahat. Tapi mereka...
bisa sangat berbahaya. Apalagi kalau mood-nya lagi jelek.

Samantha:​
Tapi Josephine tuh dulu aja takut sama laba-laba. Masa dia sekarang jadi pengikut
penyihir gelap?

Zoe:​
Yahh… Siapa tahu mungkin dia sudah menjadi orang lebih berani. Biasanya aku bakal
senang jika orang menjadi lebih berani tapi ini tidak baik. Sama sekali.

Clarence:​
Kalau kalian lihat hal aneh dari dia lagi… kabari aku. Segera. Jangan hadapi sendiri.
SCENE 2 – RUANG LATIHAN TERLARANG

(Profesor Clarence, Zoe dan Samantha keluar. Ruang berubah menjadi ruang
latihan. Josephine berdiri diam dan Russell tiba-tiba muncul dari bayangan.)

Russell:​
HA! Bagus, mereka semua masih percaya padamu. Mereka pikir kamu bisa
diselamatkan.

Josephine: (seperti tidak ada emosi)​


Perintah selanjutnya?

Russell:​
Saat mereka datang, kamu jangan ragu-ragu. Jangan beri mereka waktu bicara. Dan
kalau mereka ajak nostalgia... tutup telinga.

Josephine:​
Baik.

Russell:​
Ah, Hogwarts. Tempat penuh kenangan... dan trauma. Bleh.​
Dulu aku pikir tempat ini istimewa. Ternyata hanya penjara dengan buku pelajaran dan
kurikulum basi.

Clarence (narator):​
Russell dulunya murid terbaik: berbakat dan dihormati. Tapi dia percaya bahwa dunia
harus dipimpin oleh yang kuat… Yaitu dia. Russell Potter. Dan untuk itu, dia butuh
pengikut. Bahkan dia sampai menggunakan kutukan untuk memaksa orang menjadi
pengikutnya.

SCENE 3 – AULA TERTUTUP

(Samantha dan Zoe pelan-pelan masuk ke Aula Tertutup. Mereka melihat


Josephine berdiri dengan tongkat siap.)

Zoe:​
Jos… ini aku, Zoe. Kita teman, ingatkan?
Josephine: (tanpa ekspresi, mengangkat tongkat sedikit lebih tinggi)​
Pergi.

Samantha:​
Josephine! Kamu bukan ini! Dia cuma manipulasi kamu!

Russell: (diam-diam muncul)​


Manipulasi? Aku hanya membuka potensi tersembunyi. Kalian membatasi diri dengan
"baik" dan "buruk". Aku bebaskan dia dari semua itu.

Zoe:​
Kamu tuh membuat dia melawan keinginannya diri sendiri!

Russell:​
Aku kasih dia tujuan.

Samantha:​
Jos! Ingat ngga, pas kita hampir dihukum bareng karena diam-diam ambil kue dari
dapur? Kamu nangis ketawa. Kamu adalah orang baik. Bukan tentara Russell!

Josephine: (bingung) Tangannya sedikit gemetar.​


Aku… aku…

Zoe:​
Lihat aku, Jos. Kamu masih di sana, aku tahu itu. Jangan pergi terlalu jauh.

Russell: (mengarahkan tongkat sihir ke Zoe dan Samantha, ancaman terlihat jelas)

Samantha:​
Kamu ngga harus patuh, Jos! Lawan dia! Kita di sini!

Josephine:​
Samantha… Zoe…

Zoe:​
Kita masih percaya padamu. Bahkan sekarang.

Josephine: (menunduk, suara gemetar)​


Aku ingat... suara kalian. Tawa kita. Rasanya... hangat.

(Josephine menjatuhkan tongkat. Cahaya sihirnya padam.)

Russell:​
Pengecut.
Zoe:​
Kamu yang pengecut. Nyerang temen sendiri? Menyiksa orang buat kuasa?

Josephine: (menoleh ke Russell, marah. Dia berdiri di sisi Zoe dan Samantha)​
Aku bukan milikmu, Russell. Aku bebas. Dan aku tidak sendiri.

(Saat melihat bahwa dia kalah jumlah, Russell keluar dari Aula.)

Russell:​
Pertarungan ini belum selesai.

Clarence (narator):​
Dan malam itu, sihir gelap mundur. Tapi bekasnya tertinggal. Kami belajar bahwa
musuh bukan selalu monster, kadang mereka adalah temanmu. Dan juga bahwa
harapan bisa datang dari mereka yang hampir hilang.

Props/Costume if we have:

Clarence (Profesor & Narator):

●​ Jubah panjang seperti profesor


●​ Kacamata bulat (opsional)
●​ Tongkat sihir
●​ Bisa tambahkan syal atau bros untuk kesan profesor bijak

Samantha & Zoe (Murid Hogwarts):

●​ Seragam sekolah: kemeja putih, rok/selana hitam, dan dasi warna-warni sesuai
asrama (misalnya merah untuk Gryffindor)
●​ Jubah sihir pendek
●​ Tas selempang kecil
●​ Buku & tongkat sihir

Josephine (Sebelum & Sesudah Dikendalikan):

●​ Seragam sama seperti Samantha & Zoe, tapi...


●​ Setelah dikendalikan: makeup pucat, ekspresi datar, rambut lebih acak
●​ Tambahan jubah gelap saat di ruang latihan

Russell Potter (Tokoh Antagonis):

●​ Jubah hitam panjang


●​ Tongkat sihir berdesain tajam atau aneh
●​ Bisa tambahkan topeng setengah muka atau efek mata hitam (pakai face paint)
●​ Gaya jalan pelan dan penuh percaya diri

General Props:

●​ Lights/Eerie Music

Anda mungkin juga menyukai