0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan22 halaman

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Dokumen ini membahas tentang kemampuan berpikir kritis, termasuk definisi, indikator, faktor yang mempengaruhi, dan manfaatnya dalam pembelajaran. Berpikir kritis didefinisikan sebagai proses evaluasi dan analisis yang melibatkan keterampilan kognitif untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, faktor-faktor seperti kondisi fisik, motivasi, kecemasan, perkembangan intelektual, dan interaksi juga berperan penting dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa.

Diunggah oleh

arthursimanjuntak9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan22 halaman

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Dokumen ini membahas tentang kemampuan berpikir kritis, termasuk definisi, indikator, faktor yang mempengaruhi, dan manfaatnya dalam pembelajaran. Berpikir kritis didefinisikan sebagai proses evaluasi dan analisis yang melibatkan keterampilan kognitif untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, faktor-faktor seperti kondisi fisik, motivasi, kecemasan, perkembangan intelektual, dan interaksi juga berperan penting dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa.

Diunggah oleh

arthursimanjuntak9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KERANGKA DASAR TEORI

A. Kemampuan Berpikir Kritis

1. Berpikir

Berpikir berasal dari kata dasar “pikir”. Menurut Kamus Besar

Bahasa Indonesia “pikir” berarti akal budi, ingatan, angan-angan; kata

dalam hati, pendapat (pertimbangan). Berpikir dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia artinya menggunakan akal budi untuk mem-

pertimbangkan dan memutuskan sesuatu.

Menurut Reason (Nurdwiandari: 2018) berpikir adalah sebuah

proses atau kegiatan pikiran seseorang untuk dapat lebih dari sekedar

hanya mengingat atau memahami. Siswono (2016) berpikir merupakan

suatu kegiatan mental yang dialami seseorang ketika mereka dihadapkan

pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Berpikir sebagai kemampuan

mental dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu berpikir logis,

analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Dari berbagai jenis berpikir, berpikir

kritis dan kreatif yang termasuk dalam perwujudan dari berpikir tingkat

tinggi (high order thinking). Dalam memandang keterkaitan antara

berpikir kreatif dan berpikir kritis terdapat dua pandangan yaitu; pertama,

memandang berpikir kreatif bersifat intuitif berbeda dengan berpikir kritis

(analitis) yang didasarkan pada logika, dan kedua memandang berpikir

kreatif merupakan kombinasi berpikir analitis dan intuitif. Berpikir intuitif

artinya berpikir untuk mendapatkan sesuatu dengan menggunakan naluri

8
9

atau perasaan (feelings) secara tiba-tiba (insight) tanpa didasari fakta-fakta

umum.

Dari kedua pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan

yang pertama memaknai berpikir kritis dan berpikir kreatif memiliki

fungsi yang berbeda sedangkan untuk pandangan yang kedua memaknai

berpikir kreatif dan berpikir kritis tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu,

peneliti lebih memilih pandangan yang pertama yaitu berpikir kreatif dan

berpikir kritis memiliki fungsi yang berbeda, sehingga untuk mengetahui

tujuan dari berpikir tersebut haruslah dipilah salahsatunya dan dalam

penelitian ini sendiri dipilihlah berpikir kritis guna memenuhi tujuan

pembahasan ini.

2. Berpikir Kritis

Menurut Beyer (Saputra: 2020) berpikir kritis adalah sebuah cara

berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas

sesuatu (pernyataan-pernyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian).

Menurut Rudinow dan Barry (Saputra: 2020) berpikir kritis adalah sebuah

proses yang menekankan sebuah basis kepercayaan-kepercayaan yang

logis dan rasional, dan memberikan serangkaian standar dan prosedur

untuk menganalisis, menguji dan mengevaluasi. Menurut Ennis (Kurniati:

2019) berpikir kritis sebagai suatu proses berpikir yang mempunyai tujuan

untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai

apa yang akan diyakini dan apa yang akan dilakukan.


10

Berdasarkan pengertian-pengertian berpikir kritis di atas maka

dapat dikatakan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir

yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir

reflektif terhadap suatu permasalahan.

3. Indikator Berpikir Kritis

Facione (Siregar, dkk: 2018) mengungkapkan bahwa berpikir kritis

sebagai proses berpikir yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu

untuk membuktikan suatu hal atau menemukan solusi dari suatu masalah.

Dengan demikian, berpikir kritis tidak hanya dilakukan ketika seseorang

meragukan suatu hal, meragukan kebenaran dari suatu informasi, akan

tetapi berpikir kritis dapat dilakukan ketika seseorang ingin mencari solusi

yang tepat, benar, dan logis dari masalah-masalah yang dihadapi dalam

kehidupan sehari-hari.

Ennis (Fridanianti, dkk: 2018) mengungkapkan bahwa orang yang

berpikir kritis idealnya memiliki beberapa kriteria atau elemen dasar yang

disingkat dengan FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity,

and Overview) yaitu:

Tabel 2.1 Kriteria dan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis


Kriteria Berpikir Kritis Indikator
F (Focus) a. Siswa memahami permasalahan pada soal yang
diberikan
R (Reason) a. Siswa memberikan alasan berdasarkan
fakta/bukti yang relevan pada setiap langkah
dalam membuat keputusan maupun kesimpulan
I (Inference) a. Siswa membuat kesimpulan dengan tepat
b. Siswa memilih reason (R) yang tepat untuk
mendukung kesimpulan yang dibuat
11

S (Situation) a. Siswa menggunakan semua informasi yang


sesuai dengan permasalahan
C (Clarity) a. Siswa menggunakan penjelasan yang lebih
lanjut tentang apa yang dimaksudkan dalam
kesimpulan yang dibuat
b. Jika terdapat istilah dalam soal, siswa dapat
menjelaskan hal tersebut
c. Siswa memberikan contoh kasus yang mirip
dengan soal tersebut
O (Overview) a. Siswa meneliti atau mengecek kembali secara
menyeluruh mulai dari awal sampai akhir (yang
dihasikkan FRISC)
Adaptasi (Ennis: 2011)

Facione (2015) menyajikan kesepakatan para ahli mengenai

rincian bentuk kemampuan berpikir kritis pada masing-masing indikator

yang disajikan dalam table berikut ini.

Tabel 2.2 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Facione


Core Critical Thinking Skill
Indikator Penjelasan Para Ahli Sub Indikator
Interpretasi “ Untuk memahami dan mengekspresikan - Categorize
makna atau signifikansi dari berbagai (Mengkategorikan)
pengalaman, situasi, data, peristiwa, - Decode significance
penilaian, konvensi, kepercayaan, aturan, (Menguraikan arti
prosedur, atau kriteria.” penting)
- Clarity meaning
(Makna kejelasan)
Analisis “Untuk mengidentifikasi hubungan - Examine ideas
inferensial yang dimaksudkan dan aktual (Memeriksa ide)
antara pernyataan, pertanyaan, konsep, - Identify arguments
deskripsi, atau bentuk representasi (Identidikasi
lainnya yang dimaksudkan untuk argument)
mengeskpresikan kepercayaan, penilaian, - Identify reasons and
pengalaman, alasan, informasi, atau claims (Identifikasi
pendapat.” alasan dan klaim)
Inferensi “Untuk mengidentifikasi dan - Query evidence
mengamankan elemen yang diperlukan (Bukti permintaan)
12

untuk menarik kesimpulan yang masuk - Conjecture


akal; untuk membentuk dugaan dan alternatives
hipotesis; untuk mempertimbangkan (Alternatif dugaan)
informasi yang relevan dan untuk - Draw logically valid
mengurangi konsekuensi yang mengalir or justified
dari data, pernyataanm prisip, bukti, conclusions
penilaian, kepercayaan, pendapat, (Membuat
konsep, deskripsi, pertanyaan, atau kesimpulan yang sah
bentuk representasi lainnya.” secara logis atau yang
dibenarkan)
Evaluasi “Untuk menilai kredibilitas pernyataan - Assess credibility of
atau representasi lain yang merupakan claims (Menilai
akun atau deskripsi presepsi, pengalaman, kredibilitas atau
situasi, penilaian, kepercayaan, atau klaim)
pendapat seseorang; dan untuk menilai - Assess quality of
kekuatan logis dari hubungan inferensial arguments that were
aktual atau yang dimaksudkan antara made using inductive
pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau or deductive
bentuk representasi lainnya.” reasoning (Menilai
kualitas argument
yang dibuat
menggunakan
penalaran induktif
atau deduktif)
Explanation “Untuk menyatakan dan membenarkan - State result
alasan itu dalam pertimbangan, (Menyatakan hasil)
konseptual, metodologism kriteriologis, - Justify prosedures
dan kontekstual yang menjadi dasar hasil (Membenarkan hasil)
seseorang; dan untuk menyajikan alasan - Present arguments
seseorang dalam bentuk argumen (Memberikan alasan)
meyakinkan.”
Self- “Sadar diri untuk memonitor aktivitas - Self-monitor
regulation kognitif seseorang, elemen-elemen yang (Monitoring diri)
digunakan dalam aktivitas tersebut, dan - Self-correct
hasil yang dididik, khususnya dengan (Mengoreksi diri)
menerapkan keterampilan dalam analisis,
dan evaluasi terhadap penilaian
inferensial seseorang dengan pandangan
13

terhadap pertanyaan, konfirmasi, validasi,


atau mengoreksi salah satu dari keduanya,
alasan atau hasil seseorang.”
(Facione: 2015)

Pada penelitian Fithriyah, dkk (2016) indikator kemampuan

berpikir kritis yang digunakan adalah indikator kemampuan berpikir kritis

dari Facione (2015) antara lain:

1. Interpretasi (Interpretation), yaitu kemampuan dapat memahami dan

mengekspresikan makna/arti dari permasalahan.

2. Analisis (Analysis), yaitu kemampuan dapat mengidentifikasi dan

menyimpulkan hubungan antar pernyataan, pertanyaan, konsep,

deskripsi, atau bentuk lainnya.

3. Evaluasi (Evaluation), yaitu kemampuan dapat mengakses

kredibilitas pernyataan/representasi serta mampu mengakses secara

logika hubungan antar pernyataan, deskripsi, pertanyaan maupun

konsep.

4. Inferensi (Inference), yaitu kemampuan dapat mengidentifikasi dan

mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam menarik

kesimpulan.

5. Eksplanasi (Explanation), yaitu kemampuan dapat menetapkan dan

memberikan alasan secara logis berdasarkan hasil yang diperoleh.

6. Regulasi Diri (Self Regulation), yaitu kemampuan untuk

memonitoring aktivitas kognitif seseorang, unsur-unsur yang

digunakan dalam aktivitas menyelesaikan permasalahan, khususnya

dalam menerapkan kemampuan dalam menganilisis dan

mengevaluasi.
14

Pada penelitian ini kemampuan berpikir kritis mengacu pada

indikator menurut Facione yaitu interpretasi, analisis, evaluasi dan

inferensi. Untuk dua indikator lainnya yaitu eksplanasi dan regulasi diri

tidak dituliskan kembali karena menurut Karim dan Normaya (2015)

kecakapan eksplanasi dan regulasi diri keduanya menjelaskan apa yang

mereka pikir dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan yang telah

didapat pada saat inferensi. Berikut ini merupakan indikator berpikir kritis

menurut Facione (Fithriyah, dkk: 2016) yang telah dimodifikasi oleh

peneliti:

Tabel 2.3 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis


Indikator Sub Indikator
Interpretasi a. Mampu mengelompokkan informasi yang diterima
sehingga mempunyai arti dan bermakna jelas.
b. Mampu mengklarifikasikan makna sehingga dapat
menjelaskan lebih detail tentang pernyataan yang terdapat
pada soal.
Analisis a. Memeriksa informasi atau fakta yang terdapat dalam soal
dan menguraikannya sehingga dapat menentukan ide
(strategi penyelesaian) untuk menyelesaikan soal.
b. Mengidentifikasi hubungan antara ide atau konsep
sehingga dapat memberikan pernyataan atau alasan
pendukung ide (strategi penyelesaian) untuk menentukan
penyelesaian soal yang tepat.
Evaluasi a. Memeriksa kebenaran suatu pernyataan yang telah
disampaikan dengan menggunakan strategi yang tepat
dalam menyelesaikan soal.
Inferensi a. Menjawab lebih dari satu jawaban atau solusi yang benar
dan tepat.
b. Memberikan bukti logis melalui langkah-langkah
penyelesaian dalam menarik kesimpulan.
Adaptasi Facione (Fithriyah dkk: 2016)
15

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis

Pencapaian yang baik dari berpikir kritis dalam mempelajari

matematika tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Zahfri

(Dores, dkk: 2020) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan

berpikir kritis siswa diantaranya:

a) Kondisi fisik

Kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologis yang paling dasar bagi

manusia. Ketika kondisi fisik terganggu maka kondisi tersebut akan

sangat mempengaruhi pikirannya yang berakibat ia tidak dapat

berkonsentrasi dan berpikir cepat.

b) Motivasi

Motivasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan rangsangan,

dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau melakukan

sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c) Kecemasan

Kecemasan merupakan keadaan emosional yang ditandai

dengan kegelisahan dan ketakutan terhadap kemungkinan bahaya dan

kecemasan dapat timbul secara otomatis jika seseorang menerima

stimulus berlebihan.

d) Perkembangan intelektual

Intelektual merupakan kemampuan mental seseorang untuk

merespon dan menyelesaikan suatu persoalan atau masalah. Tingkat


16

perkembangan intelektual setiap orang berbeda-beda disesuaikan

dengan tingkat perkembangannya.

e) Interaksi

Menurut Parameswari (Dores, dkk: 2020) menyatakan bahwa

salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan

berpikir kritis adalah interaksi antara pengajar dan siswa. Suasana

pembelajaran yang kondusif mampu meningkatkan semangat siswa

dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat berkonsentrasi dalam

memecahkan masalah yang diberikan.

5. Manfaat Berpikir Kritis

Menurut Wahidin (Cahyani dan Putri : 2019) pada proses

pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis memiliki

beberapa keuntungan yang akan diperoleh, antara lain:

a) Belajar menjadi lebih ekonomis, yakni bahwa apa yang diperoleh dan

pengajarannya akan tahan lama dalam pikiran siswa.

b) Cenderung menambah semangat belajar dan antusias baik pada guru

maupun pada siswa.

c) Diharapkan siswa dapat memiliki sikap ilmiah

d) Siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah baik pada saat

proses belajar mengajar di kelas maupun dalam menghadapi

permasalahan nyata yang akan dialaminya.

Menurut April (Prameswari, dkk : 2018) manfaat berpikir kritis

dapat dijabarkan seperti di bawah ini:


17

a) Memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif

Seseorang yang terbiasa berpikir kritis mampu memiliki banyak

alternatif jawaban serta ide-ide kreatif. Jika ia mempunyai suatu

masalah, ia tidak hanya terpaku pada satu jalan keluar atau penyelesaian,

melainkan ia akan memiliki banyak opsi atau pilihan penyelesaian dari

masalah tersebut.

b) Mudah memahami sudut pandang orang lain

Berpikir kritis dapat membuat pikiran dan otak bekerja lebih

fleksibel. Jika seseorang terbiasa berpikir kritis maka ia tidak akan

terlalu kaku dalam berpikir ketika menerima pendapat atau ide-ide dari

orang lain. Orang tersebut akan lebih mudah untuk menerima pendapat

orang lain dan persepsi yang berbeda dari persepsi miliknya sendiri.

c) Menjadi rekan kerja yang baik

Banyak manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari berpikir kritis.

Manfaat-manfaat itu pada umumnya saling berkaitan. Misalnya saja

ketika seseorang mampu terbuka, serta tidak kaku dalam menerima

pendapat orang lain. Ia tentu akan lebih dihormati oleh rekan kerjanya,

karena mampu menerima pendapat orang lain dengan pikiran terbuka.

d) Lebih mandiri

Berpikir kritis membuat seseorang mampu berpikir lebih

mandiri, artinya tidak harus selalu mengandalkan orang lain. Saat

dihadapkan pada situasi yang rumit dan sulit serta harus segera

mengambil keputusan, ia tidak perlu menunggu seseorang untuk

menyelesaikan masalahnya, karena ia sendiri mampu dalam


18

menyelesaikan masalah tersebut. Dengan memiliki pikiran yang kritis,

seseorang dapat memunculkan ide-ide, gagasan, serta saran-saran

penyelesaian masalah yang baik. Berpikir kritis juga membuat otak

akan terbiasa terlatih untuk berpikir lebih kritis, tajam, kreatif, serta

inovatif.

e) Sering menemukan peluang baru

Dengan berpikir kritis, lebih memungkinkan seseorang untuk

menemukan peluang-peluang baru dalam segala hal bisa dalam

pekerjaan maupun bisnis. Berpikir kritis membuat pikiran menjadi

lebih tajam dalam menganalisa suatu masalah atau keadaan.

f) Meminimalkan salah presepsi

Salah persepsi akan sering terjadi bila seseorang tidak terbiasa

berpikir kritis. Saat ia menerima sebuah pernyataan dari orang lain dan

orang lain percaya akan pernyataan tersebut, maka orang yang memiliki

pemikiran kritis akan mencari kebenaran dari persepsi tersebut. Orang

yang terbiasa berpikir kritis tidak akan mudah salah dalam sebuah

persepsi yang belum tentu benar, hanya karena orang lain mengatakan

hal tersebut adalah benar. Dengan demikian, berpikir kritis mampu

meminimalkan salah persepsi.

g) Tidak mudah ditipu

Seseorang yang terbiasa berpikir kritis mampu berpikir lebih

rasional serta beralasan. Orang yang berpikir kritis akan mengambil

keputusan berdasarkan fakta, atau ia akan menganalisa suatu anggapan

terlebih dahulu kemudian dikaitkan dengan sebuah fakta. Sehingga hal


19

tersebut akan memudahkannya untuk tidak tertipu atau ditipu oleh

orang lain. Ketika orang yang berpikir kritis menerima suatu informasi,

ia akan memproses informasi tersebut apakah relevan atau mustahil,

sehingga informasi yang ia dapat bisa disimpulkan sebagai informasi

yang benar atau mengandung unsur kebohongan.

B. Soal Cerita

Soal cerita merupakan permasalahan kehidupan sehari-hari yang

disajikan ke dalam bentuk soal yang berupa narasi atau cerita. Menurut Atim

(Ayu & Rakhmawati: 2019) soal cerita adalah suatu permasalahan yang

disajikan dalam bentuk kalimat yang mudah dipahami dan mempunyai makna

tersendiri. Soal cerita matematika adalah soal yang berkaitan dengan

kehidupan sehari-hari yang mana dalam mencari penyelesaiannya

menggunakan kalimat matematika yang memuat operasi hitung, bilangan, dan

relasi (<, >, ≤, ≥, =). Menurut Wahyudin (2016) soal cerita dapat disajikan

dalam bentuk lisan maupun tulisan, soal cerita yang berbentuk tulisan berupa

sebuah kalimat yang mengilustrasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa soal cerita adalah soal yang

disajikan dalam rangkaian kata-kata yang berhubungan dengan pengalaman

atau kehidupan sehari-hari yang mana dalam mencari penyelesaiannya

menggunakan kalimat matematika yang memuat operasi hitung, bilangan dan

relasi.

Ketika menyelesaikan soal cerita sebaiknya menggunakan prosedur

atau tahapan yang sistematis untuk memperoleh jawaban yang sesuai. Hal

tersebut bertujuan agar kesalahan yang dilakukan siswa pada satu tahap tidak
20

akan mempengaruhi kesalahan pada tahap lain. Menurut Goodstein (Ayu &

Rakhmawati: 2019) siswa harus memahami empat tahapan dalam proses

pengerjaan soal cerita, yaitu:

a. Kemampuan mengidentifikasi operasi matematika yang diperlukan

b. Mengidentifikasi bagian informasi yang relevan

c. Terampil memformulasikan komputasi secara tepat dan sesuai

d. Ketepatan dalam melakukan komputasi

Menurut Hartini (Mawasdi dan Yunianta: 2018) mengungkapkan

bahwa ada kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa dalam menyelesaikan

soal cerita yaitu:

a. Kemampuan verbal, yaitu kemampuan dalam memahami soal dan

menginterpretasikannya sehingga mampu mengubahnya ke dalam model

matematika.

b. Kemampuan algoritma, yaitu kemampuan siswa dalam menentukan

algoritma yang tepat dalam menyelesaikan soal, ketelitian perhitungan

serta kemampuan siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil perhitungan

yang siswa tersebut lakukan dan mengaitkannya dengan soal awal yang

akan diselesaikan.

Menurut Utami, dkk (2018) soal cerita merupakan bentuk evaluasi

kemampuan peserta didik dalam memahami konsep dasar matematika yang

telah dipelajari yang berupa soal penerapan rumus. Oleh sebab itu, peserta

didik dapat dikatakan memiliki kemampuan matematika apabila terampil

dengan benar menyelesaikan soal matematikanya.


21

C. Adversity Quotient (AQ)

1. Pengertian Adversity Quotient

Adversity dalam Bahasa Indonesia bermakna kesulitan dan dapat

diartikan sebagai suatu kondisi ketidakbahagiaan atau ketidakberuntungan.

Menurut Aulia (Saidah & Aulia: 2014) kemampuan Adversity merupakan

sebuah kemampuan untuk membangun karakter yang mencerminkan

pribadi dan meningkatkan kepercayaan diri, serta kemampuan untuk

menghadapi segala sesuatu yang mengandung resiko dan keluar dari

kondisi tidak menyenangkan. Stoltz (2007) mengartikan Adversity

Quotient (AQ) sebagai ukuran untuk mengetahui respons seseorang dalam

menghadapi kesulitan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

Adversity Quotient adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam

menghadapi setiap kesulitan atau suatu masalah.

2. Karakteristik Seseorang Berdasarkan Kategori Adversity Quotient

Berdasarkan respon seseorang dalam menghadapi kesulitan, Stoltz

(Ningrum: 2017) dapat mengkategorikan seseorang menjadi tiga jenis

yaitu:

a) Quitters (orang-orang yang berhenti)

Yaitu orang-orang yang mundur, berhenti dalam menghadapi

kesulitan. Para quitters menolak segala bentuk tantangan dalam

kehidupan. Para quitters ini adalah orang-orang yang memiliki AQ

rendah
22

b) Campers (orang-orang yang berkemah)

Yaitu orang-orang yang mau menghadapi tantangan sampai

tingkat tertentu kemudian berhenti karena telah merasa cukup puas

dengan apa yang telah mereka capai atau karena bosan dalam

menghadapi situasi yang tidak bersahabat. Campers mudah merasa

puas terhadap apa yang sudah dicapai dan mengabaikan segala

kemungkinan yang masih dapat terjadi. Para campers adalah orang-

orang yang memiliki AQ sedang.

c) Climbers (si pendaki)

Yaitu orang-orang yang dalam hidupnya terus menerus

berusaha melakukan perbaikan-perbaikan. Climbers menyambut baik

adanya tantangan dalam hidup dan selalu memikirkan kemungkinan-

kemungkinan untuk mampu melewati kesulitan dalam kehidupan.

Climbers adalah orang yang sangat gigih dan ulet dalam mengahadapi

kesulitan. Para climbers ini adalah orang-orang yang memiliki AQ

tinggi.

Ketika menghadapi kesulitan quitters akan menyerah sebelum

mencoba, campers akan berusaha sampai tingkat tertentu kemudian

berhenti, dan climbers akan terus bertahan menghadapi kesulitan. Oleh

karena itu, quitters disebut orang-orang yang berhenti, campers disebut

orang-orang berkemah dan climbers disebut orang-orang yang mendaki.

3. Pengukuran dan Pengkategorian Adversity Quotient

Menurut Stoltz (2007) untuk mengukur AQ seseorang digunakan

instrumen yang disebut Adversity Respone Profile (ARP). ARP ini


23

memberikan gambaran singkat yang baru dan sangat penting mengenai apa

yang mendorong seseorang dan apa yang mungkin menghambat seseorang

untuk melepaskan seluruh potensinya.

ARP terdiri dari beberapa butir soal yang menggambarkan sebuah

peristiwa. Pada setiap peristiwa ada dua pertanyaan yang digunakan untuk

mengukur dimensi-dimensi AQ yaitu CO2RE. Pada setiap pertanyaan

disertai pilihan mengenai respons seseorang dalam menghadapi sebuah

peristiwa. Berdasarkan skor yang nanti akan diperoleh dari ARP ini, AQ

seseorang dapat dikategorikan menjadi climber (166-200), peralihan

climber-camper (135-165), camper (95-134), peralihan camper-quitter

(60-94), dan quitter (0-59). Tidak ada perbedaan antara orang yang

memiliki AQ 134 dan orang yang memiliki AQ 135. Namun, ada

perbedaan antara orang-orang yang memiliki kategori climber, camper,

dan quitter.

4. Dimensi-dimensi Adversity Quotient

Menurut Stoltz (Yanti dan Syazali: 2016) Adversity Quotient

memiliki empat dimensi yang masing-masing merupakan bagian respon

seseorang dalam menghadapi masalah. Dimensi-dimensi ini berfungsi

untuk menentukan AQ keseluruhan seseorang. Menurut Stoltz (2007)

dimensi tersebut antara lain control (C/kendali), origin dan ownership

(O2/asal-usul dan pengakuan), reach (R/jangkauan) dan endurance

(E/daya tahan). Berikut ini diuraikan tiap-tiap dimensi tersebut.


24

a) Control (C)

Dimensi pertama adalah C yang merupakan singkatan dari

control atau kendali. Perbedaaan antara respon AQ yang rendah dan

yang tinggi dalam dimensi ini cukup dramatis. Mereka yang skor AQ

lebih tinggi merasakan kendali yang lebih besar atas peristiwa dalam

hidup daripada orang yang mempunyai skor AQ rendah.

Orang yang skornya rendah pada dimensi C ini cenderung

berpikir bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan sama sekali. Keuletan

dan tekad yang tak kenal lelah timbul dari skor AQ yang tinggi dan ia

kebal terhadap ketidakberdayaaan. Dengan merasakan tingkat kendali

bahkan yang sangat kecil sekalipun akan membawa pengaruh yang

sangat kuat pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran yang

mengikutinya.

b) Origin & Ownership (O2)

Dimensi kedua adalah O2 yaitu origin (asal usul) dan ownership

(pengakuan). Origin atau asal usul ada kaitannya dengan rasa bersalah.

Orang yang memiliki AQ rendah cenderung menempatkan rasa

bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang

terjadi. Rasa bersalah yang kadarnya tepat dapat mengubah orang untuk

bertindak, tetapi rasa bersalah yang berlebihan dapat menimbulkan

kelumpuhan (orang enggan berbuat apa-apa untuk memperbaiki)

karena akan menjadi berkecil hati.

Orang yang mempunyai skor asal usulnya rendah cenderung

berpikir bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya. Semakin


25

rendah skor asal usul maka semakin besar kecenderungan menyalahkan

diri sendiri, sebaliknya semakin tinggi skor asal usul orang semakin

dapat menempatkan perannya dalam suatu kesalahan pada tempat yang

sewajarnya.

Hal yang lebih penting lagi dalam menghadapi kesulitan adalah

bersedia mengakui akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan bersedia

memikul tanggung jawab. Hal tersebut adalah setengah kedua dari

dimensi O2 yaitu ownership atau pengakuan. Semakin tinggi skor

pengakuan seseorang maka semakin besar ia mengakui akibat dari suatu

perbuatan apapun penyebabnya, dan ketika skor pengakuan seseorang

semakin rendah maka semakin besar ia tidak mengakui akibat-akibat

dari suatu perbuatan apapun penyebabnya. Skor pada dimensi O2 adalah

gabungan dari skor origin dan skor ownership.

c) Reach (R)

Dimensi ketiga adalah R yaitu reach (jangkauan). Semakin

rendah skor pada dimensi ini maka semakin besar kemungkinannya

orang tersebut menganggap peristiwa-peristiwa buruk sebagai bencana

dengan membiarkannya meluas. Sebaliknya, semakin tinggi skor pada

dimensi ini maka semakin besar kemungkinan seseorang membatasi

jangkauan masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi.

d) Endurance (E)

Dimensi keempat adalah E yaitu endurance (daya tahan).

Semakin rendah skor seseorang pada dimensi ini maka semakin besar
26

kemungkinan orang tersebut akan menganggap kesulitan dan

penyebabnya akan berlangsung lama.

D. Hubungan Berpikir Kritis dan Adversity Quotient

Yuliatin dan Ismail (2019) mengungkapkan bahwa berpikir sebagai

suatu aktivitas kognitif yang muncul ketika seseorang dihadapkan pada suatu

masalah yang harus diselesaikan dan salah satu bentuk berpikir yang digunakan

untuk menyelesaikan masalah yaitu berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan

sebuah cara ketika ingin mengambil keputusan karena berpikir kritis muncul

saat seseorang dihadapkan pada situasi atau masalah yang dapat terjadi kapan

saja. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ennis (Kurniati: 2019) bahwa berpikir

kritis sebagai suatu proses berpikir yang mempunyai tujuan untuk membuat

keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai apa yang akan

diyakini dan apa yang akan dilakukan.

Adversity Quotient (AQ) merupakan suatu kecerdasan untuk

menghadapi kesulitan. AQ menunjukkan seberapa mampu seseorang bertahan

sampai pada akhirnya mencapai kemenangan, mundur di tengah jalan, atau

menghindar dari tantangan. AQ dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe yaitu

quitter, camper, dan climber. Supardi (Nurfitriyanti, dkk: 2020) juga

menjelaskan bahwa AQ bukan hanya kemampuan seseorang dalam mengatasi

kesulitan yang ada, akan tetapi juga diharapkan dapat mengubah pandangan

seseorang mengenai sebuah kesulitan yang dianggap sebagai sebuah peluang

baru untuk mencapai kesuksesan yang dinginkan.


27

Menurut Yuliatin dan Ismail (2019) AQ mempengaruhi seseorang

dalam membuat keputusan. Setiap kategori AQ baik climber, camper, maupun

quitter masing-masing akan menggunakan cara yang berbeda ketika

mengambil suatu keputusan. Perbedaan itulah yang mengakibatkan berpikir

kritis setiap siswa menjadi berbeda. Arman, dkk (2019) juga menyatakan

bahwa tinggi rendahnya kecerdasan adversitas seseorang dapat mempengaruhi

kemampuan berpikir kritis matematis walaupun kontribusinya tidak terlalu

besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Stoltz (2007) yang menyatakan bahwa

individu dengan kecerdasan adversitas yang baik ketika mengalami kesulitan

cenderung merasa bertanggung jawab (ownership) atas masalah yang

dihadapinya, mampu mengontrol masalah dan cermat dalam mencari

pemecahan masalah dari masalah yang dihadapinya tersebut serta fokus

terhadap solusi.

Berdasarkan dari pembahasan sebelumnya yang mengungkapkan

bahwa berpikir kritis itu penting, karena merupakan cara ketika mengambil

keputusan. Ternyata kemampuan berpikir kritis berkaitan dengan kecerdasan

adversitas yang bisa membuat individu bertahan dan berusaha mendorong

dirinya untuk menemukan solusi yang tepat ketika dihadapkan dengan

permasalahan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berpikir kritis

melibatkan AQ ketika ingin mengambil keputusan.

E. Hipotesis Penelitian

Sugiyono (2015) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan jawaban

sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah

penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaaan. Berdasarkan


28

pengertian tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “Terdapat

hubungan yang signifikan antara adversity quotient dan kemampuan berpikir

kritis siswa dalam menyelesaikan soal cerita”.

F. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Hidayat dan Veny Triyana Andika

Sari (2019) yang berjudul “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan

Adversity Quotient Siswa SMP”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh

hasil penelitian (1) AQ memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian

kemampuan berpikir kritis matematis siswa sebesar 61% sedangkan

sisanya (39%) dipengaruhi oleh faktor dari luar AQ; (2) Terdapat

perbedaan pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa ditinjau

berdasarkan tingkatan AQ (climber, camper, quitter).

2. Penelitian yang dilakukan oleh Novita Nurul Aini dan Mohammad

Mukhlis (2020) yang berjudul “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah

pada Soal Cerita Matematika Berdasarkan Teori Polya ditinjau dari

Adversity Quotient”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil

penelitian (1) Siswa bertipe climber mampu memenuhi semua indikator

pemecahan masalah pada soal cerita yang meliputi indikator memahami

masalah, merencanakan strategi pemecahan masalah, melaksanakan

rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali hasil pemecahan

masalah; (2) Siswa bertipe camper memenuhi semua indikator pemecahan

masalah kecuali pada tahap memeriksa kembali hasil penelitian


29

pemecahan masalah; (3) Siswa bertipe quitter dalam menyelesaikan soal

cerita memenuhi tahap memahami masalah dan merencanakan strategi

pemecahan masalah akan tetapi masih kurang tepat, sedangkan tahap

melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa hasil

pemecahan masalah tidak terpenuhi oleh siswa quitter.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Nita Rahayu dan Fitri Alyani (2020) yang

berjudul “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Ditinjau dari Adversity

Quotient”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil sebagian besar

peserta didik berada pada tipe campers, AQ memberikan pengaruh positif

terhadap pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa, AQ dan

kemampuan berpikir kritis matematis memiliki kolerasi/hubungan yang

signifikan sehingga terdapat penjabaran mengenai tipe-tipe AQ.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Leonard dan Niky Amanah (2014) yang

berjudul “Pengaruh Adversity Quotient (AQ) Dan Kemampuan Berpikir

Kritis Terhadap Prestasi Belajar Matematika”. Berdasarkan hasil analisis

data, diperoleh hasil adanya pengaruh positif Adversity Quotient (AQ) dan

kemampuan berpikir kritis siswa secara bersama-sama terhadap prestasi

belajar matematika, adanya pengaruh positif Adversity Quotient (AQ)

tergadap prestasi belajar matematika, dan adanya pengaruh positif

kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar matematika.

Anda mungkin juga menyukai