BAB II
KERANGKA DASAR TEORI
A. Kemampuan Berpikir Kritis
1. Berpikir
Berpikir berasal dari kata dasar “pikir”. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia “pikir” berarti akal budi, ingatan, angan-angan; kata
dalam hati, pendapat (pertimbangan). Berpikir dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia artinya menggunakan akal budi untuk mem-
pertimbangkan dan memutuskan sesuatu.
Menurut Reason (Nurdwiandari: 2018) berpikir adalah sebuah
proses atau kegiatan pikiran seseorang untuk dapat lebih dari sekedar
hanya mengingat atau memahami. Siswono (2016) berpikir merupakan
suatu kegiatan mental yang dialami seseorang ketika mereka dihadapkan
pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Berpikir sebagai kemampuan
mental dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu berpikir logis,
analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Dari berbagai jenis berpikir, berpikir
kritis dan kreatif yang termasuk dalam perwujudan dari berpikir tingkat
tinggi (high order thinking). Dalam memandang keterkaitan antara
berpikir kreatif dan berpikir kritis terdapat dua pandangan yaitu; pertama,
memandang berpikir kreatif bersifat intuitif berbeda dengan berpikir kritis
(analitis) yang didasarkan pada logika, dan kedua memandang berpikir
kreatif merupakan kombinasi berpikir analitis dan intuitif. Berpikir intuitif
artinya berpikir untuk mendapatkan sesuatu dengan menggunakan naluri
8
9
atau perasaan (feelings) secara tiba-tiba (insight) tanpa didasari fakta-fakta
umum.
Dari kedua pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan
yang pertama memaknai berpikir kritis dan berpikir kreatif memiliki
fungsi yang berbeda sedangkan untuk pandangan yang kedua memaknai
berpikir kreatif dan berpikir kritis tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu,
peneliti lebih memilih pandangan yang pertama yaitu berpikir kreatif dan
berpikir kritis memiliki fungsi yang berbeda, sehingga untuk mengetahui
tujuan dari berpikir tersebut haruslah dipilah salahsatunya dan dalam
penelitian ini sendiri dipilihlah berpikir kritis guna memenuhi tujuan
pembahasan ini.
2. Berpikir Kritis
Menurut Beyer (Saputra: 2020) berpikir kritis adalah sebuah cara
berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas
sesuatu (pernyataan-pernyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian).
Menurut Rudinow dan Barry (Saputra: 2020) berpikir kritis adalah sebuah
proses yang menekankan sebuah basis kepercayaan-kepercayaan yang
logis dan rasional, dan memberikan serangkaian standar dan prosedur
untuk menganalisis, menguji dan mengevaluasi. Menurut Ennis (Kurniati:
2019) berpikir kritis sebagai suatu proses berpikir yang mempunyai tujuan
untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai
apa yang akan diyakini dan apa yang akan dilakukan.
10
Berdasarkan pengertian-pengertian berpikir kritis di atas maka
dapat dikatakan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir
yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir
reflektif terhadap suatu permasalahan.
3. Indikator Berpikir Kritis
Facione (Siregar, dkk: 2018) mengungkapkan bahwa berpikir kritis
sebagai proses berpikir yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu
untuk membuktikan suatu hal atau menemukan solusi dari suatu masalah.
Dengan demikian, berpikir kritis tidak hanya dilakukan ketika seseorang
meragukan suatu hal, meragukan kebenaran dari suatu informasi, akan
tetapi berpikir kritis dapat dilakukan ketika seseorang ingin mencari solusi
yang tepat, benar, dan logis dari masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
Ennis (Fridanianti, dkk: 2018) mengungkapkan bahwa orang yang
berpikir kritis idealnya memiliki beberapa kriteria atau elemen dasar yang
disingkat dengan FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity,
and Overview) yaitu:
Tabel 2.1 Kriteria dan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Kriteria Berpikir Kritis Indikator
F (Focus) a. Siswa memahami permasalahan pada soal yang
diberikan
R (Reason) a. Siswa memberikan alasan berdasarkan
fakta/bukti yang relevan pada setiap langkah
dalam membuat keputusan maupun kesimpulan
I (Inference) a. Siswa membuat kesimpulan dengan tepat
b. Siswa memilih reason (R) yang tepat untuk
mendukung kesimpulan yang dibuat
11
S (Situation) a. Siswa menggunakan semua informasi yang
sesuai dengan permasalahan
C (Clarity) a. Siswa menggunakan penjelasan yang lebih
lanjut tentang apa yang dimaksudkan dalam
kesimpulan yang dibuat
b. Jika terdapat istilah dalam soal, siswa dapat
menjelaskan hal tersebut
c. Siswa memberikan contoh kasus yang mirip
dengan soal tersebut
O (Overview) a. Siswa meneliti atau mengecek kembali secara
menyeluruh mulai dari awal sampai akhir (yang
dihasikkan FRISC)
Adaptasi (Ennis: 2011)
Facione (2015) menyajikan kesepakatan para ahli mengenai
rincian bentuk kemampuan berpikir kritis pada masing-masing indikator
yang disajikan dalam table berikut ini.
Tabel 2.2 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Facione
Core Critical Thinking Skill
Indikator Penjelasan Para Ahli Sub Indikator
Interpretasi “ Untuk memahami dan mengekspresikan - Categorize
makna atau signifikansi dari berbagai (Mengkategorikan)
pengalaman, situasi, data, peristiwa, - Decode significance
penilaian, konvensi, kepercayaan, aturan, (Menguraikan arti
prosedur, atau kriteria.” penting)
- Clarity meaning
(Makna kejelasan)
Analisis “Untuk mengidentifikasi hubungan - Examine ideas
inferensial yang dimaksudkan dan aktual (Memeriksa ide)
antara pernyataan, pertanyaan, konsep, - Identify arguments
deskripsi, atau bentuk representasi (Identidikasi
lainnya yang dimaksudkan untuk argument)
mengeskpresikan kepercayaan, penilaian, - Identify reasons and
pengalaman, alasan, informasi, atau claims (Identifikasi
pendapat.” alasan dan klaim)
Inferensi “Untuk mengidentifikasi dan - Query evidence
mengamankan elemen yang diperlukan (Bukti permintaan)
12
untuk menarik kesimpulan yang masuk - Conjecture
akal; untuk membentuk dugaan dan alternatives
hipotesis; untuk mempertimbangkan (Alternatif dugaan)
informasi yang relevan dan untuk - Draw logically valid
mengurangi konsekuensi yang mengalir or justified
dari data, pernyataanm prisip, bukti, conclusions
penilaian, kepercayaan, pendapat, (Membuat
konsep, deskripsi, pertanyaan, atau kesimpulan yang sah
bentuk representasi lainnya.” secara logis atau yang
dibenarkan)
Evaluasi “Untuk menilai kredibilitas pernyataan - Assess credibility of
atau representasi lain yang merupakan claims (Menilai
akun atau deskripsi presepsi, pengalaman, kredibilitas atau
situasi, penilaian, kepercayaan, atau klaim)
pendapat seseorang; dan untuk menilai - Assess quality of
kekuatan logis dari hubungan inferensial arguments that were
aktual atau yang dimaksudkan antara made using inductive
pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau or deductive
bentuk representasi lainnya.” reasoning (Menilai
kualitas argument
yang dibuat
menggunakan
penalaran induktif
atau deduktif)
Explanation “Untuk menyatakan dan membenarkan - State result
alasan itu dalam pertimbangan, (Menyatakan hasil)
konseptual, metodologism kriteriologis, - Justify prosedures
dan kontekstual yang menjadi dasar hasil (Membenarkan hasil)
seseorang; dan untuk menyajikan alasan - Present arguments
seseorang dalam bentuk argumen (Memberikan alasan)
meyakinkan.”
Self- “Sadar diri untuk memonitor aktivitas - Self-monitor
regulation kognitif seseorang, elemen-elemen yang (Monitoring diri)
digunakan dalam aktivitas tersebut, dan - Self-correct
hasil yang dididik, khususnya dengan (Mengoreksi diri)
menerapkan keterampilan dalam analisis,
dan evaluasi terhadap penilaian
inferensial seseorang dengan pandangan
13
terhadap pertanyaan, konfirmasi, validasi,
atau mengoreksi salah satu dari keduanya,
alasan atau hasil seseorang.”
(Facione: 2015)
Pada penelitian Fithriyah, dkk (2016) indikator kemampuan
berpikir kritis yang digunakan adalah indikator kemampuan berpikir kritis
dari Facione (2015) antara lain:
1. Interpretasi (Interpretation), yaitu kemampuan dapat memahami dan
mengekspresikan makna/arti dari permasalahan.
2. Analisis (Analysis), yaitu kemampuan dapat mengidentifikasi dan
menyimpulkan hubungan antar pernyataan, pertanyaan, konsep,
deskripsi, atau bentuk lainnya.
3. Evaluasi (Evaluation), yaitu kemampuan dapat mengakses
kredibilitas pernyataan/representasi serta mampu mengakses secara
logika hubungan antar pernyataan, deskripsi, pertanyaan maupun
konsep.
4. Inferensi (Inference), yaitu kemampuan dapat mengidentifikasi dan
mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam menarik
kesimpulan.
5. Eksplanasi (Explanation), yaitu kemampuan dapat menetapkan dan
memberikan alasan secara logis berdasarkan hasil yang diperoleh.
6. Regulasi Diri (Self Regulation), yaitu kemampuan untuk
memonitoring aktivitas kognitif seseorang, unsur-unsur yang
digunakan dalam aktivitas menyelesaikan permasalahan, khususnya
dalam menerapkan kemampuan dalam menganilisis dan
mengevaluasi.
14
Pada penelitian ini kemampuan berpikir kritis mengacu pada
indikator menurut Facione yaitu interpretasi, analisis, evaluasi dan
inferensi. Untuk dua indikator lainnya yaitu eksplanasi dan regulasi diri
tidak dituliskan kembali karena menurut Karim dan Normaya (2015)
kecakapan eksplanasi dan regulasi diri keduanya menjelaskan apa yang
mereka pikir dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan yang telah
didapat pada saat inferensi. Berikut ini merupakan indikator berpikir kritis
menurut Facione (Fithriyah, dkk: 2016) yang telah dimodifikasi oleh
peneliti:
Tabel 2.3 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Indikator Sub Indikator
Interpretasi a. Mampu mengelompokkan informasi yang diterima
sehingga mempunyai arti dan bermakna jelas.
b. Mampu mengklarifikasikan makna sehingga dapat
menjelaskan lebih detail tentang pernyataan yang terdapat
pada soal.
Analisis a. Memeriksa informasi atau fakta yang terdapat dalam soal
dan menguraikannya sehingga dapat menentukan ide
(strategi penyelesaian) untuk menyelesaikan soal.
b. Mengidentifikasi hubungan antara ide atau konsep
sehingga dapat memberikan pernyataan atau alasan
pendukung ide (strategi penyelesaian) untuk menentukan
penyelesaian soal yang tepat.
Evaluasi a. Memeriksa kebenaran suatu pernyataan yang telah
disampaikan dengan menggunakan strategi yang tepat
dalam menyelesaikan soal.
Inferensi a. Menjawab lebih dari satu jawaban atau solusi yang benar
dan tepat.
b. Memberikan bukti logis melalui langkah-langkah
penyelesaian dalam menarik kesimpulan.
Adaptasi Facione (Fithriyah dkk: 2016)
15
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis
Pencapaian yang baik dari berpikir kritis dalam mempelajari
matematika tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Zahfri
(Dores, dkk: 2020) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan
berpikir kritis siswa diantaranya:
a) Kondisi fisik
Kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologis yang paling dasar bagi
manusia. Ketika kondisi fisik terganggu maka kondisi tersebut akan
sangat mempengaruhi pikirannya yang berakibat ia tidak dapat
berkonsentrasi dan berpikir cepat.
b) Motivasi
Motivasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan rangsangan,
dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau melakukan
sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c) Kecemasan
Kecemasan merupakan keadaan emosional yang ditandai
dengan kegelisahan dan ketakutan terhadap kemungkinan bahaya dan
kecemasan dapat timbul secara otomatis jika seseorang menerima
stimulus berlebihan.
d) Perkembangan intelektual
Intelektual merupakan kemampuan mental seseorang untuk
merespon dan menyelesaikan suatu persoalan atau masalah. Tingkat
16
perkembangan intelektual setiap orang berbeda-beda disesuaikan
dengan tingkat perkembangannya.
e) Interaksi
Menurut Parameswari (Dores, dkk: 2020) menyatakan bahwa
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan
berpikir kritis adalah interaksi antara pengajar dan siswa. Suasana
pembelajaran yang kondusif mampu meningkatkan semangat siswa
dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat berkonsentrasi dalam
memecahkan masalah yang diberikan.
5. Manfaat Berpikir Kritis
Menurut Wahidin (Cahyani dan Putri : 2019) pada proses
pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis memiliki
beberapa keuntungan yang akan diperoleh, antara lain:
a) Belajar menjadi lebih ekonomis, yakni bahwa apa yang diperoleh dan
pengajarannya akan tahan lama dalam pikiran siswa.
b) Cenderung menambah semangat belajar dan antusias baik pada guru
maupun pada siswa.
c) Diharapkan siswa dapat memiliki sikap ilmiah
d) Siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah baik pada saat
proses belajar mengajar di kelas maupun dalam menghadapi
permasalahan nyata yang akan dialaminya.
Menurut April (Prameswari, dkk : 2018) manfaat berpikir kritis
dapat dijabarkan seperti di bawah ini:
17
a) Memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif
Seseorang yang terbiasa berpikir kritis mampu memiliki banyak
alternatif jawaban serta ide-ide kreatif. Jika ia mempunyai suatu
masalah, ia tidak hanya terpaku pada satu jalan keluar atau penyelesaian,
melainkan ia akan memiliki banyak opsi atau pilihan penyelesaian dari
masalah tersebut.
b) Mudah memahami sudut pandang orang lain
Berpikir kritis dapat membuat pikiran dan otak bekerja lebih
fleksibel. Jika seseorang terbiasa berpikir kritis maka ia tidak akan
terlalu kaku dalam berpikir ketika menerima pendapat atau ide-ide dari
orang lain. Orang tersebut akan lebih mudah untuk menerima pendapat
orang lain dan persepsi yang berbeda dari persepsi miliknya sendiri.
c) Menjadi rekan kerja yang baik
Banyak manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari berpikir kritis.
Manfaat-manfaat itu pada umumnya saling berkaitan. Misalnya saja
ketika seseorang mampu terbuka, serta tidak kaku dalam menerima
pendapat orang lain. Ia tentu akan lebih dihormati oleh rekan kerjanya,
karena mampu menerima pendapat orang lain dengan pikiran terbuka.
d) Lebih mandiri
Berpikir kritis membuat seseorang mampu berpikir lebih
mandiri, artinya tidak harus selalu mengandalkan orang lain. Saat
dihadapkan pada situasi yang rumit dan sulit serta harus segera
mengambil keputusan, ia tidak perlu menunggu seseorang untuk
menyelesaikan masalahnya, karena ia sendiri mampu dalam
18
menyelesaikan masalah tersebut. Dengan memiliki pikiran yang kritis,
seseorang dapat memunculkan ide-ide, gagasan, serta saran-saran
penyelesaian masalah yang baik. Berpikir kritis juga membuat otak
akan terbiasa terlatih untuk berpikir lebih kritis, tajam, kreatif, serta
inovatif.
e) Sering menemukan peluang baru
Dengan berpikir kritis, lebih memungkinkan seseorang untuk
menemukan peluang-peluang baru dalam segala hal bisa dalam
pekerjaan maupun bisnis. Berpikir kritis membuat pikiran menjadi
lebih tajam dalam menganalisa suatu masalah atau keadaan.
f) Meminimalkan salah presepsi
Salah persepsi akan sering terjadi bila seseorang tidak terbiasa
berpikir kritis. Saat ia menerima sebuah pernyataan dari orang lain dan
orang lain percaya akan pernyataan tersebut, maka orang yang memiliki
pemikiran kritis akan mencari kebenaran dari persepsi tersebut. Orang
yang terbiasa berpikir kritis tidak akan mudah salah dalam sebuah
persepsi yang belum tentu benar, hanya karena orang lain mengatakan
hal tersebut adalah benar. Dengan demikian, berpikir kritis mampu
meminimalkan salah persepsi.
g) Tidak mudah ditipu
Seseorang yang terbiasa berpikir kritis mampu berpikir lebih
rasional serta beralasan. Orang yang berpikir kritis akan mengambil
keputusan berdasarkan fakta, atau ia akan menganalisa suatu anggapan
terlebih dahulu kemudian dikaitkan dengan sebuah fakta. Sehingga hal
19
tersebut akan memudahkannya untuk tidak tertipu atau ditipu oleh
orang lain. Ketika orang yang berpikir kritis menerima suatu informasi,
ia akan memproses informasi tersebut apakah relevan atau mustahil,
sehingga informasi yang ia dapat bisa disimpulkan sebagai informasi
yang benar atau mengandung unsur kebohongan.
B. Soal Cerita
Soal cerita merupakan permasalahan kehidupan sehari-hari yang
disajikan ke dalam bentuk soal yang berupa narasi atau cerita. Menurut Atim
(Ayu & Rakhmawati: 2019) soal cerita adalah suatu permasalahan yang
disajikan dalam bentuk kalimat yang mudah dipahami dan mempunyai makna
tersendiri. Soal cerita matematika adalah soal yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari yang mana dalam mencari penyelesaiannya
menggunakan kalimat matematika yang memuat operasi hitung, bilangan, dan
relasi (<, >, ≤, ≥, =). Menurut Wahyudin (2016) soal cerita dapat disajikan
dalam bentuk lisan maupun tulisan, soal cerita yang berbentuk tulisan berupa
sebuah kalimat yang mengilustrasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa soal cerita adalah soal yang
disajikan dalam rangkaian kata-kata yang berhubungan dengan pengalaman
atau kehidupan sehari-hari yang mana dalam mencari penyelesaiannya
menggunakan kalimat matematika yang memuat operasi hitung, bilangan dan
relasi.
Ketika menyelesaikan soal cerita sebaiknya menggunakan prosedur
atau tahapan yang sistematis untuk memperoleh jawaban yang sesuai. Hal
tersebut bertujuan agar kesalahan yang dilakukan siswa pada satu tahap tidak
20
akan mempengaruhi kesalahan pada tahap lain. Menurut Goodstein (Ayu &
Rakhmawati: 2019) siswa harus memahami empat tahapan dalam proses
pengerjaan soal cerita, yaitu:
a. Kemampuan mengidentifikasi operasi matematika yang diperlukan
b. Mengidentifikasi bagian informasi yang relevan
c. Terampil memformulasikan komputasi secara tepat dan sesuai
d. Ketepatan dalam melakukan komputasi
Menurut Hartini (Mawasdi dan Yunianta: 2018) mengungkapkan
bahwa ada kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa dalam menyelesaikan
soal cerita yaitu:
a. Kemampuan verbal, yaitu kemampuan dalam memahami soal dan
menginterpretasikannya sehingga mampu mengubahnya ke dalam model
matematika.
b. Kemampuan algoritma, yaitu kemampuan siswa dalam menentukan
algoritma yang tepat dalam menyelesaikan soal, ketelitian perhitungan
serta kemampuan siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil perhitungan
yang siswa tersebut lakukan dan mengaitkannya dengan soal awal yang
akan diselesaikan.
Menurut Utami, dkk (2018) soal cerita merupakan bentuk evaluasi
kemampuan peserta didik dalam memahami konsep dasar matematika yang
telah dipelajari yang berupa soal penerapan rumus. Oleh sebab itu, peserta
didik dapat dikatakan memiliki kemampuan matematika apabila terampil
dengan benar menyelesaikan soal matematikanya.
21
C. Adversity Quotient (AQ)
1. Pengertian Adversity Quotient
Adversity dalam Bahasa Indonesia bermakna kesulitan dan dapat
diartikan sebagai suatu kondisi ketidakbahagiaan atau ketidakberuntungan.
Menurut Aulia (Saidah & Aulia: 2014) kemampuan Adversity merupakan
sebuah kemampuan untuk membangun karakter yang mencerminkan
pribadi dan meningkatkan kepercayaan diri, serta kemampuan untuk
menghadapi segala sesuatu yang mengandung resiko dan keluar dari
kondisi tidak menyenangkan. Stoltz (2007) mengartikan Adversity
Quotient (AQ) sebagai ukuran untuk mengetahui respons seseorang dalam
menghadapi kesulitan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
Adversity Quotient adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam
menghadapi setiap kesulitan atau suatu masalah.
2. Karakteristik Seseorang Berdasarkan Kategori Adversity Quotient
Berdasarkan respon seseorang dalam menghadapi kesulitan, Stoltz
(Ningrum: 2017) dapat mengkategorikan seseorang menjadi tiga jenis
yaitu:
a) Quitters (orang-orang yang berhenti)
Yaitu orang-orang yang mundur, berhenti dalam menghadapi
kesulitan. Para quitters menolak segala bentuk tantangan dalam
kehidupan. Para quitters ini adalah orang-orang yang memiliki AQ
rendah
22
b) Campers (orang-orang yang berkemah)
Yaitu orang-orang yang mau menghadapi tantangan sampai
tingkat tertentu kemudian berhenti karena telah merasa cukup puas
dengan apa yang telah mereka capai atau karena bosan dalam
menghadapi situasi yang tidak bersahabat. Campers mudah merasa
puas terhadap apa yang sudah dicapai dan mengabaikan segala
kemungkinan yang masih dapat terjadi. Para campers adalah orang-
orang yang memiliki AQ sedang.
c) Climbers (si pendaki)
Yaitu orang-orang yang dalam hidupnya terus menerus
berusaha melakukan perbaikan-perbaikan. Climbers menyambut baik
adanya tantangan dalam hidup dan selalu memikirkan kemungkinan-
kemungkinan untuk mampu melewati kesulitan dalam kehidupan.
Climbers adalah orang yang sangat gigih dan ulet dalam mengahadapi
kesulitan. Para climbers ini adalah orang-orang yang memiliki AQ
tinggi.
Ketika menghadapi kesulitan quitters akan menyerah sebelum
mencoba, campers akan berusaha sampai tingkat tertentu kemudian
berhenti, dan climbers akan terus bertahan menghadapi kesulitan. Oleh
karena itu, quitters disebut orang-orang yang berhenti, campers disebut
orang-orang berkemah dan climbers disebut orang-orang yang mendaki.
3. Pengukuran dan Pengkategorian Adversity Quotient
Menurut Stoltz (2007) untuk mengukur AQ seseorang digunakan
instrumen yang disebut Adversity Respone Profile (ARP). ARP ini
23
memberikan gambaran singkat yang baru dan sangat penting mengenai apa
yang mendorong seseorang dan apa yang mungkin menghambat seseorang
untuk melepaskan seluruh potensinya.
ARP terdiri dari beberapa butir soal yang menggambarkan sebuah
peristiwa. Pada setiap peristiwa ada dua pertanyaan yang digunakan untuk
mengukur dimensi-dimensi AQ yaitu CO2RE. Pada setiap pertanyaan
disertai pilihan mengenai respons seseorang dalam menghadapi sebuah
peristiwa. Berdasarkan skor yang nanti akan diperoleh dari ARP ini, AQ
seseorang dapat dikategorikan menjadi climber (166-200), peralihan
climber-camper (135-165), camper (95-134), peralihan camper-quitter
(60-94), dan quitter (0-59). Tidak ada perbedaan antara orang yang
memiliki AQ 134 dan orang yang memiliki AQ 135. Namun, ada
perbedaan antara orang-orang yang memiliki kategori climber, camper,
dan quitter.
4. Dimensi-dimensi Adversity Quotient
Menurut Stoltz (Yanti dan Syazali: 2016) Adversity Quotient
memiliki empat dimensi yang masing-masing merupakan bagian respon
seseorang dalam menghadapi masalah. Dimensi-dimensi ini berfungsi
untuk menentukan AQ keseluruhan seseorang. Menurut Stoltz (2007)
dimensi tersebut antara lain control (C/kendali), origin dan ownership
(O2/asal-usul dan pengakuan), reach (R/jangkauan) dan endurance
(E/daya tahan). Berikut ini diuraikan tiap-tiap dimensi tersebut.
24
a) Control (C)
Dimensi pertama adalah C yang merupakan singkatan dari
control atau kendali. Perbedaaan antara respon AQ yang rendah dan
yang tinggi dalam dimensi ini cukup dramatis. Mereka yang skor AQ
lebih tinggi merasakan kendali yang lebih besar atas peristiwa dalam
hidup daripada orang yang mempunyai skor AQ rendah.
Orang yang skornya rendah pada dimensi C ini cenderung
berpikir bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan sama sekali. Keuletan
dan tekad yang tak kenal lelah timbul dari skor AQ yang tinggi dan ia
kebal terhadap ketidakberdayaaan. Dengan merasakan tingkat kendali
bahkan yang sangat kecil sekalipun akan membawa pengaruh yang
sangat kuat pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran yang
mengikutinya.
b) Origin & Ownership (O2)
Dimensi kedua adalah O2 yaitu origin (asal usul) dan ownership
(pengakuan). Origin atau asal usul ada kaitannya dengan rasa bersalah.
Orang yang memiliki AQ rendah cenderung menempatkan rasa
bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang
terjadi. Rasa bersalah yang kadarnya tepat dapat mengubah orang untuk
bertindak, tetapi rasa bersalah yang berlebihan dapat menimbulkan
kelumpuhan (orang enggan berbuat apa-apa untuk memperbaiki)
karena akan menjadi berkecil hati.
Orang yang mempunyai skor asal usulnya rendah cenderung
berpikir bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya. Semakin
25
rendah skor asal usul maka semakin besar kecenderungan menyalahkan
diri sendiri, sebaliknya semakin tinggi skor asal usul orang semakin
dapat menempatkan perannya dalam suatu kesalahan pada tempat yang
sewajarnya.
Hal yang lebih penting lagi dalam menghadapi kesulitan adalah
bersedia mengakui akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan bersedia
memikul tanggung jawab. Hal tersebut adalah setengah kedua dari
dimensi O2 yaitu ownership atau pengakuan. Semakin tinggi skor
pengakuan seseorang maka semakin besar ia mengakui akibat dari suatu
perbuatan apapun penyebabnya, dan ketika skor pengakuan seseorang
semakin rendah maka semakin besar ia tidak mengakui akibat-akibat
dari suatu perbuatan apapun penyebabnya. Skor pada dimensi O2 adalah
gabungan dari skor origin dan skor ownership.
c) Reach (R)
Dimensi ketiga adalah R yaitu reach (jangkauan). Semakin
rendah skor pada dimensi ini maka semakin besar kemungkinannya
orang tersebut menganggap peristiwa-peristiwa buruk sebagai bencana
dengan membiarkannya meluas. Sebaliknya, semakin tinggi skor pada
dimensi ini maka semakin besar kemungkinan seseorang membatasi
jangkauan masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi.
d) Endurance (E)
Dimensi keempat adalah E yaitu endurance (daya tahan).
Semakin rendah skor seseorang pada dimensi ini maka semakin besar
26
kemungkinan orang tersebut akan menganggap kesulitan dan
penyebabnya akan berlangsung lama.
D. Hubungan Berpikir Kritis dan Adversity Quotient
Yuliatin dan Ismail (2019) mengungkapkan bahwa berpikir sebagai
suatu aktivitas kognitif yang muncul ketika seseorang dihadapkan pada suatu
masalah yang harus diselesaikan dan salah satu bentuk berpikir yang digunakan
untuk menyelesaikan masalah yaitu berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan
sebuah cara ketika ingin mengambil keputusan karena berpikir kritis muncul
saat seseorang dihadapkan pada situasi atau masalah yang dapat terjadi kapan
saja. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ennis (Kurniati: 2019) bahwa berpikir
kritis sebagai suatu proses berpikir yang mempunyai tujuan untuk membuat
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai apa yang akan
diyakini dan apa yang akan dilakukan.
Adversity Quotient (AQ) merupakan suatu kecerdasan untuk
menghadapi kesulitan. AQ menunjukkan seberapa mampu seseorang bertahan
sampai pada akhirnya mencapai kemenangan, mundur di tengah jalan, atau
menghindar dari tantangan. AQ dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe yaitu
quitter, camper, dan climber. Supardi (Nurfitriyanti, dkk: 2020) juga
menjelaskan bahwa AQ bukan hanya kemampuan seseorang dalam mengatasi
kesulitan yang ada, akan tetapi juga diharapkan dapat mengubah pandangan
seseorang mengenai sebuah kesulitan yang dianggap sebagai sebuah peluang
baru untuk mencapai kesuksesan yang dinginkan.
27
Menurut Yuliatin dan Ismail (2019) AQ mempengaruhi seseorang
dalam membuat keputusan. Setiap kategori AQ baik climber, camper, maupun
quitter masing-masing akan menggunakan cara yang berbeda ketika
mengambil suatu keputusan. Perbedaan itulah yang mengakibatkan berpikir
kritis setiap siswa menjadi berbeda. Arman, dkk (2019) juga menyatakan
bahwa tinggi rendahnya kecerdasan adversitas seseorang dapat mempengaruhi
kemampuan berpikir kritis matematis walaupun kontribusinya tidak terlalu
besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Stoltz (2007) yang menyatakan bahwa
individu dengan kecerdasan adversitas yang baik ketika mengalami kesulitan
cenderung merasa bertanggung jawab (ownership) atas masalah yang
dihadapinya, mampu mengontrol masalah dan cermat dalam mencari
pemecahan masalah dari masalah yang dihadapinya tersebut serta fokus
terhadap solusi.
Berdasarkan dari pembahasan sebelumnya yang mengungkapkan
bahwa berpikir kritis itu penting, karena merupakan cara ketika mengambil
keputusan. Ternyata kemampuan berpikir kritis berkaitan dengan kecerdasan
adversitas yang bisa membuat individu bertahan dan berusaha mendorong
dirinya untuk menemukan solusi yang tepat ketika dihadapkan dengan
permasalahan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berpikir kritis
melibatkan AQ ketika ingin mengambil keputusan.
E. Hipotesis Penelitian
Sugiyono (2015) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaaan. Berdasarkan
28
pengertian tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “Terdapat
hubungan yang signifikan antara adversity quotient dan kemampuan berpikir
kritis siswa dalam menyelesaikan soal cerita”.
F. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Hidayat dan Veny Triyana Andika
Sari (2019) yang berjudul “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan
Adversity Quotient Siswa SMP”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh
hasil penelitian (1) AQ memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian
kemampuan berpikir kritis matematis siswa sebesar 61% sedangkan
sisanya (39%) dipengaruhi oleh faktor dari luar AQ; (2) Terdapat
perbedaan pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa ditinjau
berdasarkan tingkatan AQ (climber, camper, quitter).
2. Penelitian yang dilakukan oleh Novita Nurul Aini dan Mohammad
Mukhlis (2020) yang berjudul “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
pada Soal Cerita Matematika Berdasarkan Teori Polya ditinjau dari
Adversity Quotient”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil
penelitian (1) Siswa bertipe climber mampu memenuhi semua indikator
pemecahan masalah pada soal cerita yang meliputi indikator memahami
masalah, merencanakan strategi pemecahan masalah, melaksanakan
rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali hasil pemecahan
masalah; (2) Siswa bertipe camper memenuhi semua indikator pemecahan
masalah kecuali pada tahap memeriksa kembali hasil penelitian
29
pemecahan masalah; (3) Siswa bertipe quitter dalam menyelesaikan soal
cerita memenuhi tahap memahami masalah dan merencanakan strategi
pemecahan masalah akan tetapi masih kurang tepat, sedangkan tahap
melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa hasil
pemecahan masalah tidak terpenuhi oleh siswa quitter.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Nita Rahayu dan Fitri Alyani (2020) yang
berjudul “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Ditinjau dari Adversity
Quotient”. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil sebagian besar
peserta didik berada pada tipe campers, AQ memberikan pengaruh positif
terhadap pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa, AQ dan
kemampuan berpikir kritis matematis memiliki kolerasi/hubungan yang
signifikan sehingga terdapat penjabaran mengenai tipe-tipe AQ.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Leonard dan Niky Amanah (2014) yang
berjudul “Pengaruh Adversity Quotient (AQ) Dan Kemampuan Berpikir
Kritis Terhadap Prestasi Belajar Matematika”. Berdasarkan hasil analisis
data, diperoleh hasil adanya pengaruh positif Adversity Quotient (AQ) dan
kemampuan berpikir kritis siswa secara bersama-sama terhadap prestasi
belajar matematika, adanya pengaruh positif Adversity Quotient (AQ)
tergadap prestasi belajar matematika, dan adanya pengaruh positif
kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar matematika.