0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Tahapan dan Penerapan Design Thinking

Design Thinking adalah metode pemecahan masalah yang berfokus pada pemahaman pengguna dan menciptakan solusi inovatif melalui tahapan empati, definisi, ideasi, prototyping, dan pengujian. Contoh penerapannya dapat dilihat di Estonia dengan proyek e-Estonia yang mengubah birokrasi menjadi digital. Metode ini meningkatkan kreativitas, empati, dan efektivitas solusi dalam berbagai profesi.

Diunggah oleh

mhmmdrvnnh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Tahapan dan Penerapan Design Thinking

Design Thinking adalah metode pemecahan masalah yang berfokus pada pemahaman pengguna dan menciptakan solusi inovatif melalui tahapan empati, definisi, ideasi, prototyping, dan pengujian. Contoh penerapannya dapat dilihat di Estonia dengan proyek e-Estonia yang mengubah birokrasi menjadi digital. Metode ini meningkatkan kreativitas, empati, dan efektivitas solusi dalam berbagai profesi.

Diunggah oleh

mhmmdrvnnh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Design Thinking:

Pengertian, Tahapan
dan Contoh
Penerapannya.
Apa itu Design Thinking?
Design Thinking adalah proses berulang dimana kita berusaha memahami
pengguna, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah
dalam upaya mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang mungkin
tidak langsung terlihat dengan tingkat awal pemahaman kita. Pada saat
yang sama, Design Thinking menyediakan pendekatan berbasis solusi
untuk menyelesaikan masalah. Ini adalah cara berpikir dan bekerja serta
kumpulan metode langsung.

Design Thinking berputar di sekitar minat yang mendalam dalam


mengembangkan pemahaman dari orang-orang yang menjadi tujuan
perancangan produk atau layanan. Hal ini membantu kita mengamati dan
mengembangkan empati dengan target pengguna. Design Thinking
membantu kita dalam proses bertanya: mempertanyakan masalah,
mempertanyakan asumsi, dan mempertanyakan keterkaitannya.

Design Thinking sangat berguna dalam mengatasi masalah-masalah yang


tidak jelas atau tidak dikenal, dengan melakukan reframing masalah
dengan cara-cara yang berpusat pada manusia, menciptakan banyak ide
dalam brainstorming, dan mengadopsi pendekatan langsung dalam
pembuatan prototype dan testing. Design Thinking juga melibatkan
eksperimen yang sedang berjalan: membuat sketsa,
membuat prototype, testing, dan mencoba berbagai konsep dan ide.

Tahapan dalam Proses Design Thinking


1. Empathise

Tahap pertama dari proses Design Thinking adalah untuk mendapatkan


pemahaman empatik tentang masalah yang dicoba untuk diselesaikan. Ini
melibatkan para ahli konsultasi untuk mencari tahu lebih banyak tentang
bidang yang menjadi perhatian melalui pengamatan, keterlibatan, dan
empati dengan orang-orang untuk memahami pengalaman dan motivasi
mereka sehingga memperoleh pemahaman pribadi yang lebih jelas
tentang masalah yang terlibat. Empati sangat penting untuk proses
desain yang berpusat pada manusia seperti Design Thinking, dan empati
memungkinkan pemikir desain untuk mengesampingkan asumsi mereka
sendiri tentang dunia untuk mendapatkan wawasan tentang pengguna
dan kebutuhan mereka.

2. Define

Selama tahap Define, kita mengumpulkan informasi yang telah kita buat
dan kumpulkan selama tahap Empathise. Disinilah kita akan menganalisis
pengamatan dan mensistesisnya untuk menentukan masalah inti yang
telah diidentifikasi. Kita harus berusaha menidentifikasi masalah sebagai
pernyataan masalah dengan cara yang berpusat pada manusia.
Sebagai ilustrasi, alih-alih mengidentifikasi masalah sebagai keinginan
atau kebutuhan perusahaan seperti, “Kita perlu meningkatkan pangsa
pasar produk makanan diantara remaja perempuan sebesar 5%,” cara
yang lebih baik untuk mendefinisikan masalah adalah jadilah, “Gadis
remaja perlu makan makanan bergizi agar dapat berkembang, menjadi
sehat dan tumbuh.”

Tahap Define akan membantu para desainer dalam sebuah tim untuk
mengumpulkan ide-ide hebat untuk membangun fitur, fungsi, dan elemen
lain yang akan memungkinkan mereka untuk menyelesaikan masalah
atau, paling tidak, memungkinkan pengguna untuk menyelesaikan
masalah sendiri dengan tingkat kesulitan minimal.

3. Ideate

Selama tahap ketiga dari proses Design Thinking, desainer siap untuk
mulai menghasilkan ide. Kita telah tumbuh untuk memahami pengguna
dan kebutuhan mereka di tahap Empathize, dan kita telah menganalisis
dan mensistesis pengamatan Anda di tahap Define, dan berakhir dengan
pernyataan masalah yang berpusat pada manusia. Dengan latar belakang
yang kuat, kita dan anggota tim dapat mulai “berpikir di luar kotak” untuk
mengidentifikasi solusi baru untuk pernyataan masalah yang dibuat, dan
kita dapat mulai mencari cara alternatif untuk melihat masalah.
Ada ratusan teknik Ideation seperti Brainstorm, Brainwrite, Worst Possible
Idea, dan SCRAMPER. Sesi Brainstorm dan Worst Possible Idea biasanya
digunakan untuk merangsang pemikiran bebas dan untuk memperluas
ruang masalah. Penting untuk mendapatkan sebanyak mungkin ide atau
solusi masalah. Kita harus memilih beberapa teknik Ideation lainnya pada
akhir fase Ideation untuk membantu kita menyelidiki dan menguji ide-ide
kita sehingga kita dapat menemukan cara terbaik untuk memecahkan
masalah atau menyediakan elemen-elemen yang diperlukan untuk
menghindarinya.
4. Prototype

Tim desain akan menghasilkan sejumlah versi produk yang murah dan
diperkecil atau fitur spesifik yang ditemukan dalam produk, sehingga
mereka dapat menyelidiki solusi masalah yang dihasilkan pada tahap
sebelumnya. Prototype dapat dibagikan dan diuji dalam tim itu sendiri, di
departemen lain, atau pada sekelompok kecil orang diluar tim desain. Ini
adalah fase eksperimental, dan tujuannya adalah untuk mengidentifikasi
solusi terbaik untuk setiap masalah yang diidentifikasi selama tiga tahap
pertama. Solusi diimplementasikan dalam prototype, dan satu per satu,
mereka diselidiki dan diterima, diperbaiki dan diperiksa ulang, dan ditolak
berdasarkan pengalaman pengguna.
Pada akhir tahap ini, tim desain akan memiliki gagasan yang lebih baik
tentang kendala yang melekat pada produk dan masalah yang ada, dan
memiliki pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana pengguna yang
sebenarnya akan berperilaku, berpikir, dan rasakan ketika berinteraksi
dengan bagian akhir produk.

5. Test

Desainer menguji produk lengkap secara ketat menggunakan solusi


terbaik yang diidentifikasi selama fase prototyping. Ini adalah tahap akhir
dari design thinking, tetapi dalam proses berulang, hasil yang dihasilkan
selama fase testing sering digunakan untuk mendefinisikan kembali satu
atau lebih masalah dan menginformasi pemahaman pengguna, kondisi
penggunaan, bagaimana orang berpikir, berperilaku, dan merasakan, dan
berempati. Bahkan selama fase ini, perubahan dan penyempurnaan
dilakukan untuk menyingkirkan solusi masalah dan memperoleh
pemahaman sedalam mungkin terhadap produk dan penggunanya.

Contoh Penerapan dalam Digital Business


Contoh Design Thinking yang diterapkan dalam skala besar dapat
dilihat di Estonia, negara pasca-Soviet. Proyek Estonia dikenal sebagai e-
Estonia, sebuah rencana revolusioner yang berpotensi untuk mengubah
negara dari negara tradisional menjadi masyarakat digital masa depan.
Apa yang ingin dilakukan e-Estonia adalah menghubungkan
semua untaian negara – baik itu pemungutan suara, layanan kesehatan,
pajak, pendidikan, kepolisian dan sebagainya – pada satu platform. Hal ini
akan merampingkan aspek besar kehidupan orang. Misalnya,
menghilangkan kebutuhan untuk mengisi formulir yang tak terhitung
jumlahnya sehingga satu lembaga-katakanlah, bank – dapat mengakses
informasi Anda dari yang lain – seperti kantor pajak. Pada dasarnya,
semua proses birokrasi dapat diselesaikan secara online, memungkinkan
warga negara untuk menjalani hidup mereka tanpa repot. Bayangkan bisa
menghabiskan waktu berharga bersama teman atau keluarga alih-alih
pergi ke TPS?
Manfaat mengambil risiko inovatif ini dan menciptakan pemerintahan
virtual sangat banyak. Salah satu manfaatnya adalah bahwa negara telah
berhasil menghemat sekitar 2% dari PDB untuk biaya, yang merupakan
persentase yang sama setiap anggota NATO diharapkan membayar untuk
perlindungan.

Menambah manfaat ini adalah kenyataan bahwa karena pemerintahnya


virtual, negara secara efektif tidak berbatas. Akibatnya, pengusaha kini
dapat berinvestasi dan menguji produk mereka di Estonia, di mana pun
mereka berasal. Jadi, Estonia tidak hanya menghemat uang untuk
pengeluaran, tetapi juga mendorong investasi dari seluruh dunia. Revolusi
digital Estonia jauh berbeda dengan negara asalnya, ketika negara itu
terkenal dengan industri penebangan kayunya. Sekarang ini Estonia
adalah negara yang terkenal di dunia dalam inovasi digital.

Apa yang bisa kita pelajari dari Estonia ketika menerapkannya pada
bisnis? Yaitu, inti dari prinsip-prinsip pemikiran desain adalah gagasan
bahwa itu bukan hanya tentang kreativitas. Design Thinking bertujuan
untuk menantang konvensi dan menyatukan titik-titik dengan berpikir
melintasi banyak garis lintang dan bola. Prinsip-prinsip pemikiran desain
bahkan mempertanyakan proses desain yang sebenarnya

Design thinking adalah salah satu metode yang dapat membantu memecahkan
masalah secara kreatif di tempat kerja. Tidak heran jika menurut data dari Onetikk,
75% organisasi menerapkan design thinking dalam pekerjaan mereka.

Meski bertujuan memecahkan masalah, design thinking berbeda dari problem-


solving. Strategi problem-solving cenderung berpusat pada masalah yang dihadapi.
Di lain sisi, design thinking lebih fokus menemukan penyebab masalah dan
solusinya.

Bagaimana maksudnya, dan seperti apa contoh design thinking di dunia kerja?
Lantas, bisakah menerapkan design thinking untuk semua jenis pekerjaan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Jobstreet akan mengupas tuntas tentang arti,
manfaat, hingga contoh penerapan design thinking di berbagai pekerjaan dalam
artikel ini.

Pada akhir artikel, kamu juga bisa mendapat informasi tentang tips
menerapkan design thinking. Yuk, kita pelajari bersama!
 Apa Itu Design Thinking?

 Kenapa Design Thinking Penting Dipahami?

 Elemen dan Tahapan Design Thinking

 Contoh Penerapan Design Thinking di Berbagai Profesi

 Tips Menerapkan Contoh Design Thinking dalam Proses Kerja

 Kesimpulan

 Pertanyaan Seputar Design Thinking

Apa Itu Design Thinking?

Sebelum melihat contoh design thinking, mari pahami dulu tentang metode satu ini.
Dilansir dari McKinsey & Company, design thinking adalah pendekatan pemecahan
masalah yang sistematis dan berfokus pada kebutuhan pelanggan (human-
centered).

Pengertian tersebut tidak lepas dari karakteristik design thinking yang berbasis
solusi. Artinya, kepentingan pengguna menjadi fokus utama dalam design thinking.

Dalam praktiknya, metode design thinking mendorongmu untuk mengidentifikasi


masalah yang dihadapi pengguna. Prosesnya biasanya mengharuskan kamu untuk
belajar dari pengalaman sebelumnya, sehingga kamu bisa melakukan perbaikan dan
menemukan solusi yang efektif.

Lantas, apa bedanya design thinking dan problem-solving? Sebetulnya, design


thinking bisa dikatakan sebagai salah satu metode dalam problem-solving.

Bedanya, problem-solving pada umumnya berpusat pada masalah yang muncul.


Sementara itu, design thinking fokus pada penyebab masalah dan solusi untuk
mengatasinya.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Penyebab


utamanya adalah produk mereka belum dikenal banyak orang.
Nah, dengan design thinking, pemecahan masalah akan fokus pada
peningkatan brand awareness daripada fokus pada masalah, yaitu penurunan
pendapatan. Solusinya bisa dengan menjalankan campaign di media sosial atau
mengadakan event.

Berdasarkan contoh masalah design thinking tersebut, terlihat bahwa metode satu
ini dapat membantu menemukan solusi yang tepat sasaran. Lebih dari itu, masih
ada alasan lain kenapa kamu perlu mendalami design thinking. Apa saja alasan
tersebut?

Kenapa Design Thinking Penting


Dipahami?

Manfaat utama design thinking adalah menciptakan solusi yang mengutamakan


pengguna. Secara lebih spesifik, berikut beberapa alasan kenapa perlu menguasai
kemampuan design thinking:

1. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah


Seperti yang telah disebutkan, design thinking termasuk salah satu metode problem-
solving. Jadi, dengan menguasai design thinking, bisa meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah di dunia kerja.

2. Meningkatkan kreativitas dan inovasi


Output utama design thinking adalah solusi yang dapat mengatasi masalah secara
efektif. Dalam proses mencari solusi, harus mengerahkan kreativitas dan inovasi.
Dari sinilah bisa meningkatkan kedua skill tersebut.

3. Meningkatkan empati dan pemahaman terhadap


pengguna
Design thinking memungkinkan mendapatkan solusi yang mengutamakan
kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, harus bisa memposisikan diri sebagai
pengguna dan memahami sudut pandang mereka. Proses tersebut dapat
meningkatkan skill empatimu.
4. Menghasilkan solusi yang lebih efektif dan efisien
KetikaD berhasil memahami sudut pandang dan masalah pengguna, kamu akan
mampu menghasilkan solusi efektif yang dapat menjawab masalah pengguna.
Dengan begitu, kepuasan pengguna pun akan meningkat.

5. Meningkatkan peluang keberhasilan proyek


Apa yang terjadi saat solusi yang dibuat berhasil menjawab masalah pengguna
dengan tepat?

Tentu, peluang pelanggan untuk membeli produkmu pun akan semakin besar,
bahkan tidak segan untuk repeat order. Akhirnya, solusi yang dibuat dapat
mendukung keberhasilan proyek.

Nah, agar bisa merasakan manfaat yang telah disebutkan tadi, proses design
thinking harus memenuhi elemen tertentu. Apa saja elemen yang dimaksud?

Elemen dan Tahapan Design Thinking

Elemen design thinking umumnya terdiri dari empati, define, ideasi, prototipe, dan uji
coba. Mari kita kulik penjelasannya satu per satu di bawah ini.

1. Empati
Penerapan design thinking berawal dari tahap empathize atau empati. Tujuannya
untuk mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pengguna secara mendalam.

Pada umumnya, contoh empathize design thinking melibatkan dua aktivitas utama,
yaitu observe (mengamati) dan understand (memahami).

Observe adalah aktivitas mengamati pengguna dan lingkungan yang menjadi


sasaran target pasar dari produk. Observe bisa dilakukan dengan wawancara,
survei, atau teknik lain.

Melalui pengamatan, kamu dapat menumbuhkan empati terhadap pengguna,


sehingga bisa lebih memahami apa yang menjadi masalah dan kebutuhan mereka.
Setelah mengumpulkan data dari proses observasi, barulah kamu bisa lanjut ke
tahap selanjutnya, yaitu define.

2. Definisikan
Setelah melakukan observasi, susunlah seluruh data hasil observasi secara teratur
dan lakukan analisis. Hasil analisis biasanya akan menunjukkan masalah utama
yang dialami oleh pengguna.

Namun, tahapan design thinking ini tidak hanya berhenti sampai di situ. Kamu masih
harus merancang strategi untuk mencari solusi atas masalah tersebut.

3. Ideasi
Berikutnya, carilah ide-ide solusi berdasarkan masalah pengguna yang telah kamu
identifikasi. Kamu harus mengerahkan kreativitas agar bisa menemukan solusi
inovatif untuk menyelesaikan masalah.

Lakukan brainstorming untuk menghasilkan ide yang beragam. Tulis semua ide yang
muncul di kepala, bahkan yang terdengar kurang masuk akal sekalipun.

Selain brainstorming, masih ada cara lain yang bisa kamu lakukan untuk ideasi.
Beberapa di antaranya adalah mind mapping, focus group discussion,
dan brainwriting.

4. Prototipe
Dalam praktiknya, tidak semua ide yang terkumpul akan dikembangkan dalam
proses design thinking. Namun, pelajari setiap ide yang telah kamu catat.

Kamu bisa menerapkan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kelebihan,


kekurangan, peluang, dan ancaman dari setiap ide.

Kemudian, saringlah ide-ide berdasarkan hasil analisis tersebut, kemudian pilih yang
paling mampu mengatasi masalah pengguna.

Setelah itu, gunakan prototipe ide-ide yang terpilih untuk menciptakan produk.
Kemungkinan besar, kamu akan membuat prototipe berulang kali hingga
menciptakan produk yang benar-benar mampu menjawab masalah atau kebutuhan
pengguna.
5. Uji
Contoh tahapan design thinking umumnya diakhiri dengan uji coba. Dalam tahap ini,
kamu menguji prototipe secara langsung kepada pengguna.

Pengujian dilakukan untuk melihat apakah produk yang akan diluncurkan sudah
sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau belum, serta menantang asumsi awalmu.

Umumnya, tahap ini menguji efisiensi penggunaan produk, kemudahan pengguna,


tingkat kepuasan pengguna terhadap produk, dan seberapa sering muncul
kesalahan pada produk.

Setelah selesai, catatlah setiap masukan dan feedback dari pengguna. Akan lebih
baik jika kamu membuat prototipe ulang sesuai feedback tersebut. Kemudian,
lakukan uji ulang untuk mengetahui pendapat pengguna.

Agar kamu punya gambaran lebih jelas tentang design thinking, Jobstreet telah
menyiapkan contoh penerapannya dalam berbagai profesi. Yuk, cari tahu di bawah
ini!

Contoh Penerapan Design Thinking di


Berbagai Profesi

Pada awalnya, design thinking identik dengan pekerjaan yang berhubungan dengan
IT. Contoh penerapannya berupa desain UI dan UX serta pengembangan aplikasi.

Namun, seiring perkembangan zaman, semakin banyak profesi yang ikut


mengadopsi design thinking untuk memecahkan masalah. Berikut beberapa
contohnya:

1. Marketer
Misalnya, sebuah perusahaan saus sambal tidak mampu mencapai target penjualan.
Mereka kemudian meminta tim marketing untuk mencari penyebab dan solusinya.
Dalam kasus ini, contoh empathize design thinking adalah ketika tim marketing
melakukan survei. Berdasarkan pengumpulan data dan analisis hasil survei, ternyata
tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk saus sambal cenderung rendah.

Penyebab utamanya ada pada kemasan produk yang memiliki tutup botol di bagian
atas. Desain tersebut membuat pengguna harus membalikkan dan menuang botol
untuk mengeluarkan saus.

Tim marketing pun menyampaikan penemuan masalah tersebut ke berbagai divisi


terkait, termasuk tim produksi. Mereka kemudian berembuk untuk mencari ide-ide
solutif.

Hasilnya, seluruh tim terkait sepakat meluncurkan saus sambal dengan kemasan
baru yang tutup botolnya berada di bawah.

Perusahaan pun membuat prototipe kemasan produk baru sesuai proses desain
yang disepakati. Kemudian, tim marketing mengujikan prototipe tersebut kepada
target pengguna.

Hasilnya, sebagian besar pengguna memberikan respons positif dengan beberapa


catatan kecil.

Tim marketing lalu menyampaikan feedback tersebut kepada tim produksi untuk
bahan perbaikan. Setelah melakukan uji ulang atas prototipe kedua, barulah mereka
lebih percaya diri untuk meluncurkan saus sambal dengan kemasan baru.

2. Programmer
Apakah ada di antara kamu yang berlangganan Netflix? Platform streaming satu ini
ternyata menerapkan design thinking dalam sistem programming mereka, lho!

Netflix ingin meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Di sisi lain,


mereka tidak ingin pengguna melakukan terlalu banyak aktivitas memusingkan
dalam platform.

Untuk memahami kebutuhan pengguna, Netflix mengobservasi perilaku pengguna


pada platform mereka. Ternyata, banyaknya opsi tontonan di Netflix terkadang dapat
membuat pengguna bingung memilih.

Sebagai solusi yang ditawarkan, Netflix menyediakan tombol Shuffle untuk


memudahkan pengguna dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, fitur tersebut juga
dapat memberikan kejutan kepada pengguna, sekaligus bisa memperkaya jenis
tontonan mereka.

3. Dokter
Contoh design thinking produk juga bisa kamu temukan dalam bidang kesehatan.
Bahkan, kamu yang berprofesi sebagai dokter juga bisa menerapkannya untuk
memecahkan suatu masalah.

Sebagai contoh, seorang dokter membuka praktik resmi di rumahnya sendiri. Saat
bertemu pasien, banyak dari mereka yang menyampaikan keluhan sama, yakni
merasa lelah sebelum bertemu dokter karena harus menunggu terlalu lama.

Untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan tidak nyaman pasien, dokter pun
memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia bertanya kepada setiap pasien soal
situasi di ruang tunggu klinik. Sang dokter menanyakan banyak hal, mulai dari waktu
tunggu, fasilitas, hingga ekspektasi pasien.

Setelah mengumpulkan data, dokter menemukan bahwa sebetulnya pasien bersedia


menunggu. Namun, akan lebih baik jika dokter memberikan perkiraan waktu kapan
mereka bisa masuk ke ruangan. Sebab, selama ini pasien baru bisa mendaftar
antrean saat sudah sampai di klinik.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dokter akhirnya membuat sistem antrean yang
lebih praktis, yakni pendaftaran antrean melalui WhatsApp.

Nantinya, salah satu tim dokter akan memberi tahu pada pukul berapa pasien harus
datang. Dengan begitu, pasien tidak perlu menunggu terlalu lama di klinik.

4. UI/UX Designer
Siapa, sih, yang tidak tahu merek Apple? Merek gadget satu ini terkenal akan
tampilan produk-produknya yang simpel dan mudah digunakan. Ternyata, salah satu
rahasia di balik kelebihan tersebut adalah penerapan design thinking dalam
pengembangan UI dan UX.

Apple ingin para pengguna bisa mengakses fitur-fitur produk mereka dengan mudah.
Mereka pun mempelajari kebutuhan pengguna sebelum mengembangkan UI dan
UX produk.
Berdasarkan hasil analisis, Apple berhasil menentukan dua fokus utama untuk
mengembangkan UI dan UX, yaitu simplicity dan intuitiveness.

Simplicity mendorong tim desain Apple untuk merancang UI dan UX yang


sederhana, tapi tetap elegan. Dengan begitu, pengguna baru sekalipun dapat
memahami navigasi produk dengan cepat.

Selain itu, Apple juga menggunakan ikon yang intuitif sehingga para pengguna bisa
mengakses pengaturan menu dengan mudah.

5. Graphic Designer
Contoh masalah design thinking dalam desain grafis adalah ketika harus
melakukan rebranding suatu perusahaan atau bisnis.

Misalnya, perusahaan tas mengalami penurunan sales setelah beberapa tahun


beroperasi. Berdasarkan hasil riset pada tahap empati, ternyata pengguna merasa
bahwa desain tas mereka sudah ketinggalan zaman.

Perusahaan kembali melakukan riset untuk lebih memahami pengguna dan


preferensi mereka. Dalam tahap ideasi, mereka memutuskan bahwa merilis produk
baru saja tidaklah cukup.

Solusi terbaik adalah melakukan rebranding total untuk menonjolkan image dinamis
dan modern. Sebagai graphic designer, kamu bisa membuat prototipe panduan
visual dan desain logo baru. Lalu, ujikan prototipe tersebut kepada target pengguna
untuk mengetahui respons mereka.

Setelah itu, lakukan perbaikan berdasarkan respons tersebut hingga kamu


menghasilkan desain yang disepakati bersama.

6. Guru
Siapa bilang design thinking hanya berlaku untuk pekerjaan di bidang korporat?
Profesi guru juga bisa merapkannya, lho.

Contoh tahapan design thinking untuk guru tidak berbeda dari profesi lain. Kamu
bisa memulainya dengan mengidentifikasi masalah.

Misalnya, setelah berulang kali mengamati kelas ketika mengajar, kamu memahami
bahwa para murid memiliki attention span yang cenderung singkat.
Baru 60 menit mengajar misalnya, kamu sudah melihat banyak murid yang terlihat
tidak fokus.

Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, kamu pun mengadakan


sesi sharing seputar pengajaran untuk mendengarkan keluhan dan masukan dari
murid.

Ternyata, mayoritas murid merasa bahwa cara mengajarmu kurang interaktif. Jadi,
pada tahap ideasi, kamu bisa menuliskan beragam ide untuk meningkatkan interaksi
dan lebih hands-on saat mengajar.

Lalu, selama beberapa minggu ke depan, kamu menerapkan satu per satu ide
tersebut untuk melihat respons murid. Hasilnya, ditemukan bahwa ada 3-5 ide
pengajaran hands-on yang memberikan respons di atas rata-rata. Nah, kamu bisa
mengembangkan ide tersebut untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih
optimal.

7. HR
Sebagai HR, kamu bisa menerapkan design thinking untuk meningkatkan
pengalaman kerja karyawan.

Contohnya, sebuah perusahaan memiliki turnover rate yang tinggi. Setelah


melakukan survei untuk mencari sumber masalah, ternyata banyak karyawan
merasa kurang dihargai oleh perusahaan.

Berdasarkan analisis hasil survei, mayoritas karyawan setuju bahwa perusahaan


tidak memberikan apresiasi yang layak atas kerja keras mereka. Untuk memperbaiki
kondisi tersebut, HR bisa mengajak manajemen untuk melakukan ideasi.

Setelah menyaring ide-ide yang muncul, mereka sepakat untuk memberikan bonus
kepada karyawan yang berhasil mencapai target. HR pun membuat prototipe
kebijakan terkait sistem bonus tersebut dan kemudian menerapkannya secara
bulanan.

Namun, ternyata periode bulanan kurang efektif karena karyawan butuh lebih
banyak waktu untuk mencapai target. Akhirnya, pemberian bonus pun diubah
menjadi sistem kuarter atau tiap tiga bulan sekali.

Baca Juga: Notion: Apa Itu dan Cara Menggunakan untuk Produktivitas Kerja
8. Product Developer
Untuk bagian ini, kita bisa belajar banyak dari contoh design thinking produk yang
diterapkan Google. Dalam mengembangkan produk, Google selalu mengutamakan
empati, ideasi, dan eksperimen. Sebagai contoh, kita bisa melihat proses
pembuatan Loon, produk untuk memperluas jangkauan koneksi internet.

Proyek Loon berangkat dari empati Google terhadap daerah-daerah yang belum
terpapar internet, baik karena kurangnya biaya maupun aspek geografis. Setelah
melakukan ideasi, Google sepakat meluncurkan balon internet bernama Loon.

Berbentuk seperti balon udara, Loon memiliki cara kerja menyerupai satelit. Google
menerbangkan Loon ke lapisan stratosfer.

Desain Loon memungkinkan teknologi tersebut untuk melayang di bawa orbit satelit
tanpa mengganggu lalu lintas penerbangan.

Google melakukan uji coba prototipe Loon sejak 2013 hingga 2020. Selama periode
tersebut, Google berhasil menyediakan koneksi internet bagi daerah-daerah yang
sebelumnya kesulitan untuk mengaksesnya.

9. Business Development
Airbnb pernah menerapkan design thinking untuk mengatasi masalah
dalam business development. Kala itu, Airbnb menyadari bahwa audiens merasa
ragu untuk menjadi konsumen mereka.

Berdasarkan hasil pengamatan, ternyata orang-orang kesulitan menilai kualitas


tempat penginapan mereka. Penyebabnya karena host mengunggah foto dalam
resolusi yang kurang baik.

Agar lebih memahami pengguna, para founder Airbnb pun mengerahkan banyak
waktu dan tenaga untuk berkeliling. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya
dibutuhkan traveler ketika mencari tempat istirahat.

Setelah melakukan ideasi, solusi Airbnb adalah berinvestasi pada kamera yang
mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi.

Dengan begitu, para host bisa mengunggah foto fasilitas kamar dengan resolusi
tinggi dengan harapan para traveler bisa lebih percaya untuk menginap di sana.
Solusi tersebut ternyata sangat efektif. Hanya dalam waktu kurang-lebih seminggu,
Airbnb sukses mendapatkan penghasilan hingga berlipat ganda.

10. Layanan Masyarakat


Metode design thinking juga bisa diterapkan untuk meningkatkan layanan
masyarakat.

Contoh kasusnya misalnya, di sebuah kantor kelurahan menyediakan layanan


administratif, seperti pembuatan surat pengantar nikah, surat keterangan kelahiran,
surat keterangan wali nikah, dan sebagainya.

Namun, ketika melakukan survei tingkat kepuasan pelanggan, kantor kelurahan


tersebut mendapatkan nilai yang cenderung rendah.

Agar kualitas pelayanan bisa meningkat, tim kelurahan pun melakukan observasi
lebih lanjut untuk memahami masalah. Setelah menyebar angket kepada
masyarakat di kelurahan tersebut, mayoritas orang merasa bahwa jam operasional
layanan terlalu singkat.

Kantor hanya buka saat hari kerja pada jam tertentu. Padahal, masyarakat juga
harus bekerja pada hari-hari tersebut.

Tim kantor kelurahan akhirnya melakukan diskusi untuk mencari ide terbaik. Mereka
sepakat untuk membuka layanan saat akhir pekan dengan sistem shift. Jadi, para
petugas akan bergantian berjaga di kantor untuk melayani masyarakat.

Setelah melakukan uji coba selama tiga bulan, kantor kelurahan kembali mengukur
tingkat kepuasan masyarakat. Hasilnya, masyarakat jauh lebih puas terhadap
layanan mereka, sehingga kantor kelurahan pun memutuskan untuk terus
beroperasi tiap akhir pekan.

11. Arsitek
Para arsitek bisa menerapkan design thinking untuk merancang desain bangunan
yang mengutamakan kebutuhan klien.

Misalnya pada tahap empathize, arsitek bisa mengobrol dengan calon penghuni
untuk mengetahui preferensi dan kebutuhan mereka. Lalu, ia melakukan survei
untuk mengumpulkan data kontur site, luas lahan, arah mata ingin, dan sebagainya.
Setelah seluruh data tersebut terkumpul, arsitek melakukan analisis untuk
merumuskan masalah utama yang ingin ditargetkan. Beberapa metode analisis yang
bisa digunakan adalah task analysis, assumption mapping, problem
statement, serta comparative analysis.

Berdasarkan hasil analisis data, arsitek melakukan brainstorming dengan anggota


tim untuk menemukan konsep desain yang dapat menjawab masalah.

Selain itu, arsitek juga bisa membuat affinity maps untuk mengelompokkan ide-ide
perancangan arsitektur. Metode ini dapat membantu mengidentifikasi temuan yang
akan memandu pembuatan desain lebih lanjut.

Selanjutnya, arsitek akan membuat prototipe produk berdasarkan ide yang telah
disepakati. Bentuknya bisa berupa gambar skematik, model fisik, atau tampilan 3D.
Setelah itu, arsitek bisa melakukan pengujian hingga mendapatkan kualitas produk
yang diinginkan.

12. Sales
Sebagai contoh, ada salah satu perusahaan kecantikan menerapkan design
thinking untuk mengatasi penurunan penjualan. Target konsumen perusahaan
tersebut adalah wanita berusia 45 tahun ke atas. Sayangnya, para konsumen
tersebut beralih ke produk kompetitor.

Untuk memahami masalah, perusahaan melakukan riset pasar. Ternyata, kini wanita
usia 30-an sudah sadar akan masalah penuaan.

Banyak dari mereka yang mencari produk skincare untuk mengatasi penuaan dini.
Bahkan, mereka rela untuk membayar mahal.

Berdasarkan penemuan tersebut, perusahaan kecantikan memutuskan fokus pada


produk skincare anti-aging untuk konsumen berusia 30-an. Mereka juga melakukan
analisis kompetitor untuk mencari tahu produk yang belum ada di pasaran.

Hasil riset menunjukkan bahwa belum ada kompetitor yang membuat


produk skincare khusus untuk warna kulit tidak merata. Akhirnya, mereka
membuat prototipe produk skincare tersebut.

Setelah itu, pengujian pun dilakukan berulang kali hingga mendapatkan produk
berkualitas tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna. Hasilnya,
perusahaan kecantikan tersebut berhasil menaikkan penjualan.
13. Penulis
Dua penulis bernama A dan B bekerja di media online yang sama. Saat evaluasi
performa kerja, A mendapat feedback dari atasan bahwa banyak artikel buatannya
yang memiliki sedikit views.

Di sisi lain, B memiliki performa sangat baik karena artikel-artikelnya mendatangkan


banyak views.

Untuk mengetahui penyebab masalah tersebut, A mengumpulkan data aktivitas


pengguna pada situs media online. Ia juga membandingkan artikelnya dengan artikel
milik B.

Setelah melakukan analisis, A jadi memahami bahwa artikelnya memiliki judul yang
kurang catchy jika dibandingkan artikel milik B. Lalu, kebanyakan tulisan A terdiri
dari paragraf panjang, sehingga berpotensi membuat pembaca merasa lelah.

Sebagai usaha menciptakan solusi, A berusaha belajar dari B untuk memperbaiki


tulisan. Ia juga melakukan uji coba berbagai teknik search engine
optimization (SEO) agar artikelnya lebih mudah ditemukan pembaca. Di bulan
berikutnya, ia pun bisa meningkatkan jumlah views.

Tips Menerapkan Contoh Design


Thinking dalam Proses Kerja

Dari berbagai contoh di atas, terjawab sudah bahwa design thinking merupakan
metode yang bisa diterapkan untuk pekerjaan apa pun.

Nah, agar kamu bisa menerapkan design thinking secara maksimal, perhatikan tips-
tips berikut:

1. Memahami kebutuhan pengguna


Pada dasarnya, design thinking adalah proses pemecahan masalah yang fokus
pada kebutuhan pengguna.
Oleh sebab itu, kamu harus bisa memahami kebutuhan pengguna untuk
memecahkan masalah mereka. Itulah kenapa empati menjadi tahap pertama dalam
proses design thinking.

Dengan berempati, kamu dapat memposisikan diri sebagai pengguna produk. Hal itu
dapat membantumu memahami sudut pandang pengguna, sehingga kamu punya
gambaran tentang masalah atau kebutuhan mereka.

Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk memahami kebutuhan pengguna seperti
survei, wawancara, focus group discussion, dan observasi.

2. Mendefinisikan masalah dengan jelas


Setelah memahami kebutuhan pengguna, kamu akan mendapat sedikit gambaran
tentang masalah yang mereka hadapi.

Nah, agar bisa mendefinisikan masalah tersebut dengan jelas, kumpulkan seluruh
data yang telah kamu dapatkan dari tahap sebelumnya. Kemudian, analisis data
untuk menemukan pola atau situasi yang menjadi masalah utama.

Berdasarkan temuan tersebut, buatlah problem statement untuk memudahkanmu


dalam menentukan langkah selanjutnya.

Cukup tuliskan problem statement dalam 1-2 kalimat singkat. Contohnya seperti,
“Karyawan merasa tidak dihargai oleh perusahaan karena kurangnya bentuk
apresiasi nyata.”

3. Menghasilkan ide yang kreatif


Berangkat dari problem statement yang telah ditulis, temukan ide-ide kreatif yang
berpotensi menjadi solusi. Lakukan proses kreatif bersama tim agar bisa
menghasilkan banyak ide sekaligus.

Sebaiknya, hilangkan overthinking dalam proses ini. Tuliskan ide apa pun yang
muncul, bahkan jika ide tersebut terdengar terlalu out of the box.

Setelah mengumpulkan ide, baca ulang dan identifikasi satu per satu ide tersebut.
Saringlah beberapa ide yang paling solutif dalam memecahkan masalah pengguna.

4. Membuat prototipe dan menguji ide


Buatlah prototipe produk sesuai ide yang telah difilter. Selanjutnya,
ujikan prototipe kepada target pengguna yang menjadi responden untuk mengetahui
efektivitas produk bagi pengguna.

Pada proses pengujian, perhatikan reaksi mereka saat menggunakan prototipe


produkmu. Tanyakan pula pendapat mereka terkait produk tersebut, dan catatlah
setiap feedback dari pengguna.

5. Belajar dari feedback


Pelajari seluruh feedback yang diberikan pengguna saat pengujian prototipe produk.
Jika memungkinkan, lakukan perbaikan dan buatlah prototipe baru. Kemudian,
lakukan pengujian ulang kepada target pengguna.

Dengan kata lain, tahap pembuatan dan pengujian prototipe produk bisa
berlangsung berulang kali. Proses ini begitu penting agar nantinya kamu dapat
menghasilkan produk berkualitas tinggi yang mampu mengatasi masalah pengguna.

Kesimpulan
Kini, kamu telah memahami arti dan contoh design thinking. Metode ini melibatkan
proses pemecahan masalah yang fokus pada memenuhi kebutuhan manusia
sebagai pengguna.

Dengan karakteristik tersebut, design thinking mampu meningkatkan


kemampuan problem-solving, kreativitas, kemampuan empati, serta menghasilkan
solusi yang lebih efektif dan efisien. Hasilnya, peluang keberhasilan proyek juga ikut
meningkat.

Kabar baiknya lagi, profesi apa pun bisa menerapkan design thinking dalam
pekerjaan sehari-hari. Kemampuan design thinking dapat menjadi bekal untuk
menunjang kariermu. Kamu dapat mencantumkannya sebagai skill dalam CV untuk
menarik perhatian rekruter.

Yuk, persiapkan diri kamu untuk menggapai pekerjaan impian dengan membaca
berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK.

Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dan terhubung
dengan pakar industri di KariKu dalam aplikasi Jobstreet.
Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja
yang tepat.

Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati
kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam
satu genggaman saja! Semoga berhasil!

Pertanyaan Seputar Design Thinking


1. Design thinking itu apa?
Design thinking adalah proses pemecahan masalah yang fokus pada
kepentingan manusia sebagai pengguna.

2. Apa kelebihan metode design thinking?


Beberapa kelebihan design thinking adalah sifatnya yang mengutamakan
pengguna dan berbasis solusi, sehingga membantumu untuk menemukan ide
secara tepat sasaran.

3. Apakah design thinking hanya untuk profesional?


Tidak, design thinking juga bisa diterapkan oleh kalangan murid dan
mahasiswa sekalipun.

4. Design thinking bisa digunakan untuk pekerjaan apa saja?


Pekerjaan apa pun bisa menggunakan design thinking, mulai dari marketer,
programmer, desainer grafis, penulis, arsitek, product developer, layanan
masyarakat, bahkan hingga dokter dan guru.

5. Bagaimana cara mempelajari design thinking?


Kamu bisa mempelajari design thinking melalui buku, artikel, jurnal,
kelas online, pelatihan, atau workshop. Cara lainnya adalah dengan belajar
dari senior di tempat kerja.

6. Apa yang membedakan design thinking dengan metode problem


solving lainnya?Sebetulnya, design thinking bisa dikatakan sebagai salah
satu metode dalam problem-solving. Bedanya, problem-solving pada
umumnya berpusat pada masalah yang muncul. Sementara itu, design
thinking fokus pada penyebab masalah dan solusi untuk mengatasinya.

7. Bagaimana cara memulai menerapkan design thinking dalam pekerjaan?


Kamu bisa mulai menerapkan design thinking dengan mengikuti langkah-
langkah berikut:
- Tumbuhkan empati untuk memahami kebutuhan pengguna.
- Definisikan masalah pengguna dengan jelas.
- Tuliskan ide-ide kreatif untuk mengatasi masalah pengguna.
- Membuat prototipe dan menguji ide kepada target pengguna.
- Lakukan perbaikan berdasarkan feedback.

8. Apa saja tantangan dalam menerapkan design thinking?


Beberapa tantangan dalam menerapkan design thinking adalah sebagai
berikut:
- Kurangnya sumber daya, terutama untuk pembuatan dan pengujian
prototipe produk.
- Waktu terbatas, sedangkan design thinking butuh banyak waktu.
- Riset pengguna kurang mendalam.
- Kesulitan menemukan ide yang solutif.
- Kesulitan mendefinisikan masalah pengguna.
- Budaya tempat kerja kurang mendukung kolaborasi.

More from this category: Keterampilan di tempat kerja

Anda mungkin juga menyukai