0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan33 halaman

Pengertian dan Bentuk Akhlakul Karimah

jurnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan33 halaman

Pengertian dan Bentuk Akhlakul Karimah

jurnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Pembentukan Akhlakul Karimah

1. Pengertian Akhlakul Karimah

Pada studi keagamaan terutama dalam menelisik arti dan makna dari

kata akhlak memiliki beragam interpretasi. Pada konteks definisi akhlak,

dalam pemaknaannya dapat menggunkan dua pendekatan. Pertama,

pendekatan linguistik (bahasa). Kedua, pendekatan terminologik (istilah).

Berdasarkan sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim

masdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai

dengan timbangan atau wazantsulasi mazid af’ala, yuf’ilu, if’alan yang

berarti al-sayijah (perangai). Sedangkan ath-thabiah (kelakuan, tabiat, watak

dasar), al-‘adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik),

dan al-din (agama).1

Akhlak (li utammima makarimal akhlak) sesungguhnya memiliki

makna yang sangat luas dan mendalam. Insan cerdas komperhensif sebagai

salah satu visi pendidikan nasional. Yakni meliputi cerdas spiritual, cerdas

emosional dan sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestestis merupakan

manifestasi dari makarimal aqhlak atau Akhlakul Karimah.

1
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm.1

12
13

Tetapi, kata akhlak yang berasal dari akhlaqa sebagaimana dipaparkan

diatas memiliki makna yang kurang tepat. Karena, isim mashdar dari kata

akhlaqa bukan akhlaq melainkan ikhlaq. Maka, timbul pendapat berbeda

dengan mengatakan bahwa, secara linguistik kata akhlaq adalah isim jamid

atau isim ghairu mustaq. Dimana, isim yang tidak memiliki akar kata,

melainkan kata tersebut sudah sedemikian adanya. Kata akhlaq adalah jamak

dari kata khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan kata akhlaq.

Kedua kata tersebut dapat dijumpai pada ayat yang berbuyi “wainnaka

la’ala khuluqin ‘adliim”.

Ada dua bacaan populer bagi ayat di atas. Pertama adalah (‫)خلق‬

khuluqyakni dengan dhummah pada huruf kha’ dan lam atau dengan kata

lain U setelah (Kh dan L). Kata ini berarti potensi kejiwaan yang mantap

pada diri seseorang yang mengantarnya melahirkan aneka kelakuan secara

mudah dan tanpa di buat-buat. Potensi ini dikembangkan melalui

pendidikan, latihan dan keteladanan. Jika positif dia melahirkan

khuluq/akhlak yang baik, dan sebaliknya pun demikian.2 Sedangkan, untuk

yang kedua Bacaan yang kedua adalah (‫ )خلق‬khalq yakni fatkhah pada huruf

kha’ dan sukun pada huruf lam.

Kata tersebut diambil dari kata khalaqa yang berarti menciptakan atau

menjadikan. Berdasarkan makna tersebut, maka lahir makna baru yaitu

2
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera
Hati, 2006), hlm. 104
14

kebohongan. Karena, yang berbohong menciptakan sesuatu dalam benaknya

yang berbeda dari kenyataan.

Hal tersebut ditinjau dari segi tafsir. Namun, berbeda dengan

terminologi bahasa Indonesia. Akhlak berasal dari kata khalaqa yang berarti

mencipta, membuat dan menjadikan. Selanjutnya, Akhlaq secara etimologi

berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat manusia.

Akhlak secara kebahasaan bisa baik dan buruk tergantung pada tata nilai

yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosisologis di Indonesia

akhlak memiliki konotasai baik.3 Sehingga, orang yang berakhlak berarti

orang yang berakhlak baik.

Terdapat hal lain mengenai akhlak berdasarkan terminologiny, seperti

kata akhlak yang dikemukakan oleh beberapa pakar, diantaranya:

a. Ibnu Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang

mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui

pertimbangan pikiran.

b. Imam Ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa

yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan

tidak memerlukan pertimbangan pemikiran.

3
Zainuddin Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 29
15

c. Prof. Dr. Ahmad Amin, akhlak adalah kehendak yang dibiasakan.

Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu

dinamakan akhlak.4

d. Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang

melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk tanpa

membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.5

Berdasar beberapa pendapat diatas tentang akhlak, dapat ditarik suatu

kesimpulan bahwasanya akhlak merupakan sifat, perangai, tingkah laku baik

atau buruk yang kemudian melahirkan berbagai macam perbuatan dan

menjadi kebiasaan yang tidak membutuhkan pertimbangan dalam

melakukannya.

Beranjak dari akhlak terminologi selanjutnya adalah karimah.

Pengertian karimah menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti

baik, dan terpuji.6 Kata karimah digunakan untuk menunjukkan perbuatan

akhlak terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Selanjutnya kata alkarimah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan

perbuatan yang terpuji yang skalanya besar, seperti menafkahkan harta

dijalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lain sebagainya.

4
Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2004), hlm. 4
5
Amirulloh Syarbini dan Akhmad Khusaeri, Metode Islam dalam Membina Akhlak Remaja, (Jakarta:
PT. Alex Media Komputindo, 2012), hlm. 34
6
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam http//[Link],
diakses pada tanggal 13 Januari 2020
16

Akhlak mulia atau yang biasanya disebut dengan akhlak karimah

menurut Al-Ghazali adalah keadaan batin yang baik. Di dalam batin

manusia, yaitu dalam jiwanya terdapat empat tingkatan, dan dalam diri orang

yang berakhlak baik, semua tingkatan itu tetap baik, moderat dan saling

mengharmonisasikan.7 Terdapat sejumlah ciri yang menunjukkan akhlak

mulia menurut Dr. Iman Abdul Mukmin Sa’addudin dalam bukunya

Meneladani Akhlak Nabi, ciri itu beriringan dengan semangat Islam dan

semangat bimbingannya. Ciri tersebut yaitu bersifat universal, selalu relevan,

rasional, bertanggungjawab secara kolektif, dan setiap perbuatan ada

ganjarannya.8

Akhlak dalam penelitian ini dispesifikasikan menjadi tiga yaitu akhlak

kepada Allah, akhlak kepada diri sendiri, dan akhlak kepada orang lain.

Selain akhlak, terdapat juga istilah etika dan moral. Perbedaannya terletak

pada standar masing-masing. Akhlak standarnya adalah al-Qur’an dan as-

Sunnah. Standar etika terlebih adalah pertimbangan akal dan pikiran,

kemudian moral standarnya adalah hukum kebiasaan umum yang berlaku di

masyarakat.

7
M. Abul Quasem, Etika Al-Ghazali; Etika Majemuk di dalam Islam, (Bandung: Pustaka, 1988), hlm. 82
8
Iman Abdul Mukmin Sa’addudin, Meneladani Akhlak Nabi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006),
hlm. 27
17

2. Bentuk Akhlakul Karimah

1. Zuhud

Zuhud menurut bahasa memiliki arti meninggalkan keduniaan.

Sedangkan secara istilah, Zuhud yaitu meninggalkan sesuatu yang

disayangi atau disukai yang bersifat material atau keduniaan yang

mewah dengan mengharap dan menginginkan sesuatu yang lebih baik

yang bersifat kebahagiaan akhirat. Seseorang yang memiliki harta yang

melimpah hendaknya digunakan sebagai alat untuk mencari kebahagiaan

yang hakiki yaitu kebahagiaan di akhirat. Seperti yang terkandung dalam

Dalil Naqli tentang zuhud dalam QS. AN- Nisa ayat 77 yang artinya :

“………..Katakanlah kesenangan didunia ini hanya sebentar


(sedikit ) dan akhirat itu lebih baik bagi orang – orang yang
bertaqwa.”

Maknanya, Zuhud bukan berarti melarang manusia untuk memiliki

harta dan tidak memiliki kesenangan dunia. Akan tetapi harta dan dunia

tidak menghalangi untuk menunaikan tugas manusia yaitu untuk

beribadah kepada Allah swt. Harta sering kali menjadi penghalang bagi

manusia untuk beribadah.

1) Ciri – ciri orang zuhud, yaitu:

a. Selalu merasa cukup atas harta yang dimiliki.

b. Senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan walaupun

sedikit.

c. Hidup sederhana.
18

d. Lebih mengutamakan cintanya kepada ALLAH dibanding cinta

kepada dunia.

2. Tawakal

Pengertian tawakal secara bahasa yaitu menyerahkan suatu

urusan kepada pihak lain. Sedangkan secara Istilah yaitu menyerahkan

sepenuh nya segala perkara setelah berusaha (ikhtiar) kepada ALLAH

swt. Sikap bertawakal menjadikan seesorang menjadi tidak putus asa

jika sesuatu yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan , dan

tidak akan sombong jika suatu yang diusahakan berhasil . Dalil yang

menjelaskan tentang tawakal yaitu QS. Al- maidah ayat 11 :

Terjemahan:

Artinya : ”Hai orang – orang yang beriman , ingatlah kamu


akan nikmat Allah (yang diberikan Nya) kepadamu , di waktu suatu
kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu
(untuk berbuat jahat ) maka Alloh menahan tangan mereka dari
kamu . Dan bertawakalah kepada ALLAH , dan hanya kepada
ALLAH saja orang – orang mukmin itu harus bertawakal .”
19

A) Ciri – ciri orang yang hidupnya tawakal :

a. Tidak pernah berkeluh kesah .

b. Ridha terhadap diri dan keadaannya.

c. Selalu merasaka ketenangan.

3. Ikhlas

Ikhlas yaitu mengerjakan sesuatu pekerjaan semata–mata

mengharap ridho ALLAH swt. Dalil Naqli tentang ikhlas yaitu

terkandung dalam QS. AZ-ZUMAR Ayat 11 ;

Artinya :

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya


menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama.”

Ciri – ciri yang dimiliki orang yang ikhlas :

a. Tidak kecewa saat amal perbuatannya diremehkan oleh orang lain.

b. Tidak merasa bangga , ketika perilakunya dipuji.

c. Tidak memuji dengan apa yang dikerjakan.9

Sedangkan menurut Yatimin Adullah dalam bukunya Studi Akhlak

dalam Perspektif Al-Qur’an10 (Abdullah, 2007: 192-193) meyebutkan

9
Aryanti, Anis. Aklakul Karimah Beserta Penjelasan dan Contohnya. Diakses dari
[Link] 20 Februari 2019
20

nilai-nilai luhur yang tercakup dalam akhlaqul karimah sebagai sifat

terpuji adalah sebagai berikut:

1. Berlaku jujur (al-amanah)

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain)

3. Memelihara kesucian diri (al-fitrah)

4. Kasih sayang (ar-rahman)

5. Berlaku hemat

6. Menerima apa adanya dan sederhana

7. Perlakuan baik kepada sesama

8. Melakukan kebenaran yang hakiki

9. Pemaaf terhadap orang yang pernah berbuat salah kepadanya

10. Adil dalam tindakan dan perbuatan

11. Malu melakukan kesalahan, melanggar larangan Allah dan

melakukan dosa

12. Sabar dalam menghadapi segala musibah

13. Syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada sesame

manusia

14. Sopan santun terhadap sesama manusia.

10
Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: AMZAH, 2007, hlm. 33
21

4. Akhlak terhadap Allah

Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dankesadaran

bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Adapunperilaku yang dikerjakan

adalah:

a. Bersyukur kepada Allah

Manusia diperintahkan untuk memuji dan bersyukurkepada Allah

karena orang yang bersyukur akan mendapattambahan nikmat

sedangkan orang yang ingkar akanmendapat siksa.

b) Meyakini kesempurnaan Allah

Meyakini bahwa Allah mempunyai sifat [Link] yang

dilakukan adalah suatu yang baik dan terpuji.

c) Taat terhadap perintah-Nya

Tugas manusia di dunia ini adalah untuk beribadah. Karena itu taat

terhadap aturanNya merupakanbagian dariperbuatan baik.

5. Akhlak terhadap sesama manusia

Banyak sekali rincian tentang perlakuan terhadap sesamamanusia.

Petunjuk mengenai hal itu tidak hanya berbentuklarangan melakukan

hal-hal yang negatif seperti membunuh,menyakiti badan, atau

mengambil harta tanpa alasan yang benar. Melainkan juga menyakiti

hati dengan jalanmenceritakan aib [Link] sisi lain, manusia juga

didudukkan secara wajar. Karenanabi dinyatakan sebagai manusia

seperti manusia lain. Namundinyatakan pula beliau adalah Rasul yang


22

memperoleh wahyu Illahi. Atas dasar itu beliau memperoleh

penghormatanmelebihi manusia lainnya.

6. Akhlak terhadap lingkungan

Lingkungan di sini adalah segala sesuatu yangberada di sekitar manusia,

baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa.

Dasar yang digunakan sebagai pedoman akhlak terhadap lingkungan

adalah tugas kekhalifahannya di bumi yang mengandung arti

pengayoman, pemeliharaan serta pembimbingan agar setiap makhluk

mencapai tujuan pencitaannya.

3. Faktor-Faktor Pembentukan Akhlak

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa akhlak

merupakan tingkah laku baik-buruk, salah-benar, penilaian ini dipandang

dari sudut hukum yang ada di dalam ajaran agama. Akhlak berbeda dengan

moral, sebab moral dalam pengertian bahasa Latin yaitu mos, yang berarti

adat istiadat yang menjadi dasar untuk mengukur apakah perbuatan

seseorang baik atau buruk. Juga akhlak berbeda dengan etika yang artinya

adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh

berkaitan dengan moralitas.11

Sehingga jelas dalam topik pembahasan ini setiap perbuatan yang

ditampilkan oleh manusia dapat dikatakan berakhlak jika bersesuaian dengan

ajaran agama. Memang akhlak adalah sifat jiwa yang tidak kelihatan. Tapi

11
Anwar Hafid dkk. 2013. Konsep Dasar Ilmu Pendidikan (Bandung: Alfabeta) hlm. 110.
23

yang kelihatan itu ialah “kelakuan” atau “muamalah”. Akan tetapi patut

untuk diketahui bahwa kelakuan adalah gambaran dan bukti adanya akhlak,

dan akhlak yang baik akan diketahui dengan perbuatan yang baik yang

timbul dengan teratur.12

Berbicara tentang akhlak, maka tidak bisa dilepaskan dari mencari

akar kata dari mana istilah akhlak itu sendiri. Secara etimologis akhlak

berasal dari bahasa Arab yakni jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti,

perangai, tingkah laku atau tabiat. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia akhlak diartikan dengan budi pekerti; tabiat; kelakuan; watak.

Sedangkan orang yang berakhlak itu adalah mempunyai pertimbangan

untuk membedakan yang baik dan buruk; berkelakuan baik.13 M. Quraish

Shihab14 mengatakan bahwa walaupun di Indonesia penyebutan akhlak

sudah dibakukan tapi akar kata itu terambil dalam bahasa Arab (budi pekerti,

perangai, tingkah laku atau tabiat). Allah SWT berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar

berbudi pekerti yang agung”.

Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi SAW., dan

salah satunya yang paling populer adalah sebagai berikut:

12
Ahmad Amin. 1995. Etika (Ilmu Akhlak), terj. Farid Ma’ruf. Cet. Kedelapan (Jakarta: Bulan
Bintang). Hlm. 63
13
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Kamus Pusat
Bahasa, 2001), hlm. 27.
14
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung:
Mizan, 1996), hlm. 336.
24

‫انوببعثتألتونهكبرماألخالق‬

Artinya: Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak

yang mulia.

Oleh karena itulah jika dilihat secara terminologis akhlak mempunyai

banyak definisi. Di sini ada beberapa definisi yang diketengahkan tentang

akhlak sebagai berikut:

Menurut imam al-Ghazali yang dikutif oleh Yunahar Ilyas adalah:

‫فبلخلكعببرةعنهيئتفىالنفسراسختعنهبتصدراالفعبل‬

‫ بسهىلتويسرهنغيرحبجتالىفكرورؤيت‬.

Artinya: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang

menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,

tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.15

Imam Ghazali memberikan pengertian khuluq sebagai berikut:

“Khuluq adalah peri keadaan jiwa yang tertanam amat dalam, yang dari

padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan

pemikiran dan sikap hati-hati. Jika keadaan jiwa itu melahirkan perbuatan-

perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syara’, maka peri keadaan

jiwa itu disebut khuluq yang baik. Namun, jika perbuatan-perbuatan yang

dilahirkan adalah perbuatan yang buruk dan tercela menurut akal dan syara’,

maka peri keadaan jiwa yang menjadi sumbernya itu disebut khuluq yang

buruk.

15
Ibid, hlm.1-2.
25

Sedangkan menurut Ahmad Amin yang dikutip oleh Sudarsono

merumuskan pengertian akhlak sebagai berikut: Akhlaq ialah suatu ilmu

yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya

dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang

harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan

untuk melakukan apa yang harus diperbuat.16

Akhlakul karimah atau Akhlak mulia atau terpuji yaitu suatu sikap

yang baik sesuai ajaran agama islam. Seseorang yang memiliki akhlakul

karimah maka akan disenangi oleh sesama manusia. Bahkan tidak hanya itu

jika seesorang berperilaku sesuai ajaran agama islam maka sudah pasti baik

dimata ALLAH. Serta, kelak akan masuk dalam surga bersama Nabi

Muhammad saw, seperti yang terkandung dalam Hadist Nabi Muhammad :

“sesungguhnya (orang) yang paling aku cintai diantara kalian dan

orang yang paling dekat tempatnya dariku pada hari kiamat adalah

orang yang paling baik budi pekertinya dintara kalian.”

4. Metode Pembentukan Akhlakul Karimah

Metode pembentukan akhlakul karimah dalam kepribadian Islami pada

siswa yang sebaiknya diikuti oleh para guru. Di bawah ini kami akan bahas

beberapa metode tersebut secara sekilas. Adapun metode-metode itu adalah

sebagai berikut:

16
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, (Jakarta: Rineka Cipta,2005), hlm. 125-126
26

a. Metode Teladan yang Baik

Anak-anak seiring sekali menajadikan kedua orang tuanya sebagai

teladan dalam bertindak dan bergaul. Jika tindak tanduk mereka

mengikuti ajaran Islam, maka anak-anak akan mengikuti ajaran Islam

ini. Tindak tanduk yang Islami itu adalah merupakan salah satu

metode dalam mengajarkan nilai-nilai Islam.17Keteladanan adalah

peniru ulung. Segala informasi yang masuk, baik melalui penglihatan

dan pendengaran orang-orang disekitarnya.18

b. Metode Pembiasaan

Metode untuk melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan

rutin terhadap anak diperlakukan pembiasaan. Misalnya agar anak

dapat melaksanakan shalat secara benar dan rutin maka mereka perlu

dibiasakan shalat sejak masih kecil, dari waktu ke waktu.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “suruh shalat

anak-anakmu yang telah berusia 7 tahun, dan pukulah mereka karena

meninggalkan shalat, jika sudah berumur 10 tahun...” (HR. Abu

Dawud).19

Maksud dari hadis ini adalah tuntunan bagi para pendidik

dalam melatih atau membiasakan anak untuk melaksanakan shalat


17
Syekh Khalid bin Abdurrahman Al-„Akk, Cara Islam Mendidik Anak,(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2006), hal 69
18
Supendi S. dkk.,Pendidikan Dalam Keluarga lebih Utama,(Jakarta : Lentera jayamadina,2007),hal
12
19
Abu Zakariya Muhyidin Yahya bin An Nawawi, Riyadlu as Sholihin,(Bairut: Almaktabah Al Islami,
2001), hal 21.
27

ketika mereka berusia tujuh tahun dan memukulnya (tanpa

cidera/bekas) ketika mereka berumur sepuluh tahun atau lebih apabila

mereka tidak mengerjakannya.20 Pada pembentukan karakter di

pencak silat sebelum melaksanakan olahraga dilakukan sholat jamaah.

Agar senantiasa ingat pada Tuhan mereka.

5. Ekstrakurikuler Pagar Nusa

a) Ekstrakurikuler

Kegiatan ektrakurikuler merupakan kegiatan yang biasa dilakukan

di luar kelas dan di luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuh

kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki peserta

didik. Baik berkaitan dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang

didapatkannya. Tentu nya dalam pengertian khusus untuk membimbing

peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam

dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pelajaran yang

diselenggarakan di luar jama pelajaran biasa. Kegiatan ini dilaksanakan

sore hari bagi sekolah-sekolah yang masuk pagi. Kegiatan ini

dilaksanakan pagi hari bagi sekolah-sekolah yang masuk sore.

Ekstrakurikuler ini sering dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu

bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa. Misalnya

20
Pepsi Yuwindra, Pembinaan Prilaku Keagamaan di Panti Asuhan Hikmatul Hayat Sumbergempol
Tulungagung, (Tulungagung: skripsi, 2015), hal. 50
28

olahraga, kesenian, dan berbagai kegiatan keterampilan dan

kepramukaan.21

1) Jenis-Jenis Ekstrakurikuler

Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler dapat dibagi menjadi dua,

yaitu: Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat atau berkelanjutan.

yaitu jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan secara terus-

menerus selamastau periode tertentu. Untuk menyelesaikan satu

program kegiatan ekstrakulikuler ini biasanya diperlukan waktu yang

lama. Serta, kegiatan ekstrakulikuler yang bersifat periodik atau

sesaat, yaitu kegiatan ekstrakulikuler yang dilaksanakan waktu-waktu

tertentu.22

Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah akan

memberikan banyak manfaat tidak hanya terhadap siswa tetapi juga

bagi efektivitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Begitu

banyak fungsi dan makna kegiatan ekstrakurikuler dalam menunjang

tercapainya tujuan pendidikan. Hal ini akan terwujud, manakala

pengelolaan kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan secara maksimal.

Khususnya pengaturan siswa, peningkatan disiplin siswa dan semua

petugas. Biasanya mengatur siswa di luar jam-jam pelajaran lebih

sulit dari mengatur mereka dalam kelas.

21
Daryanto, 2013, Administrasi dan Manajemen Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta), hal. 145-146.
22
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 290
29

Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler

melibatkan banyak pihak, memerlukan peningkatan administrasi

yang lebih tinggi. Pengembangan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk

memberikan pengarahan dan pembinaan juga menjaga agar kegiatan

tersebut tidak menganggu atau merugikan aktivitas akademis. Pada

konteks ini dimaksud, pembina ekstrakurikuler adalah guru atau

petugas khusus yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk membina

kegiatan esktrakurikuler.23

Adapun tugas-tugas seorang pembina kegiatan ekstrakurikuler

oleh Made Pidate dalam bukunya Supervisi Pendidikan bisa

dijadikan indikator pengembangan ekstrakurikuler sebagai berikut:

1. Tugas mengajar yaitu merencanakan aktivitas, membimbing

aktivitas dan mengevaluasinya.

2. Ketatausahaan yaitu mengadakan presensi, menerima dan

mengatur keuangan, mengumpulkan nilai dan memberikan tandan

penghargaan.

3. Tugas-tugas umum, yaitu mengadakan pertandingan,

pertunjukkan, perloombaan, dan lain-lain.24

23
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 302-303.
24
Ibid, hlm. 303
30

b) Pencak Silat Pagar Nusa

Pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.

Jenis kebudayaan bela diri ini berkembang sejalan dengan sejarah

masyarakat Indonesia yang sangat baik. Kebudayaan menjadi sesuatu

kebiasaan yang dipelajari dan diperoleh dari tradisi masyarakat dan cara-

cara hidup dari anggota masyarakat termasuk pola hidup mereka, cara

berfikir, perasaan, perbuatan dan tingkah laku.25

Beragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan

zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh

situasi dan kondisinya.26 Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan

corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama.

Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang

dimiliki dari warisan yang turun temurun.

Pencak silat adalah olahraga beladiri yang juga mengandung nilai-

nilai seni tradisional dari Indonesia. Pencak adalah gerak langkah

keindahan dengan menghindar, yang disertakan gerakan berunsur

komedi. Pencak dapat diperlombakan sebagai sarana hiburan. Sedangkan

silat adalah unsur teknik bela menangkis, dan menyerang. Pencak silat

diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren.

25
Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan
IPTEK, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 123
26
Asikin, Pelajaran Pencak Silat, Bandung: Terate 2011, hlm. 2
31

Silat menjadi bagian dari latihan spiritual. Kemudian berkembang

dari ilmu bela diri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan

bela negara untuk menghadapi penjajah asing. Menyadari pentingnya

mengembangkan peranan pencak silat maka dirasa perlu adanya

organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat

aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948,

terbentuklahIkatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), IPSI tercatat sebagai

organisasi silat Nasional tertua di dunia. Menurut [Link] Pencak Silat

adalah

“Pencak adalah gerak bela-serang, yang teratur menurut


system, waktu, dan tempat yang selalu menjaga kehormatan
masing-masing secara kstaria, tidak mau melukai [Link]
pencak lebih menunjukkan dari segi lahiriah. Silat adalah gerak-
bela-serang yang erat hubungannya dengan rohani, sehingga
menghidupsuburkan naluri yang menggerakkan hati nurani
manusia, langsung menyerah kepada Tuhan Yang Maha Esa”27

Sedangkan menurut RM. Imam Koesoepangat, pencak adalah

gerakan bela diri tanpa lawan. Sedangkan silat adalah gerakan bela diri

yang tidak bisa dipertandingkan. Disini pencak silat merupakan sebuah

seni yang memiliki prinsip-prinsip dasar. Prinsip dasar pencak silat adalah

membela diri yang didalamnya terdapat nilai menyerang dan bertahan.

Menyerang dan bertahan menjadi sebuah hal yang harus dimiliki oleh

27
O’ong Maryono, Pencak Silat Merentang Waktu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hlm. 5
32

atlet pencak silat, ini yang akan menentukan kualitas seorang atlet pencak

silat.28

Seni bela diri di Indonesia sangat beragam, diantaranya adalah

Taekwondo, Karate, Jujitsu, Kungfu, Pencak Silat dan lain sebagainya.

Hanyasaja yang lebih dominan adalah pencak silat. Pencak Silat

merupakan warisan dari kebudayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dulu

dan seiring dengan perkembangan zaman banyak pula berdirinya

organisasi pencak silat.

Beberapa diantaranya yaitu Tapak Suci (TS), Kera Sakti (KS),

Perisai Diri (PD), Persinas Asad (PA), Joko Tole (JT), Sawunggaling,

Pencak Organisasi (PO), Merpati Putih (MP), Persaudaraan Setia Hati

Terate (PSHT), Nur Harias (NH), Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar

Nusa (PS NU PN) dan lain sebagainya. Tidak hanya menjamur

dimasyarakat, olahraga pencak silat juga dimiliki oleh Organisasi

Masyarakat Islam. Tapak Suci dan Pagar Nusa contohnya Tapak Suci

adalah pencak silat resminya Muhammadiyah, maka Pagar Nusa adalah

pencak silat resminya Nahdlatul Ulama.

Pagar Nusa adalah Badan Otonom Nahdlatul Ulama yang berfungsi

membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada seni

pengembangan bela diri.29 Nama Pagar Nusa diciptakan oleh [Link]

28
Murhananto, Menyelami Pencak Silat, Jakarta: Puspa Swara, Cet Pertama, 1993, hlm. 2
29
Peserta Kongres, Hasil Kongres II, Lamongan, 2012, hlm. 13
33

Ridlwan dari Surabaya, putra dari KH. Ridwan Abdullah yang

menciptakan lambang Nahdlatul Ulama (NU). Awalnya nama yang

disepakati adalah Lembaga Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa

yang disingkat LPS NU PN. Kemudian menjadi Ikatan Pencak Silat

Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (IPS NU PN), dan sekarang menjadi Pencak

Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PS NU PN).

Pagar Nusa adalah satu-satunya wadah yang sah bagi organisasi

pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama berdasarkan keputusan

muktamar. Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama yang

penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana

lembaga-lembaga Nahdlatul Ulama lainnya. Status resmi kelembagaan

inilah yang membuat pagar nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan

oleh seluruh warga Nahdlatul Ulama dengan tanpa mengecualikan pencak

silat atau beladiri lainnya.

Ciri khas pagar nusa yang membuatnya berbeda dengan organisasi

sejenis lainnya, adalah faham dan tradisi keagamaan yang spesifik yakni,

Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang juga sering disebut kelompok

tradisionalisme di kalangan Islam.30Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah

orang yang mengikuti tuntunan dan kelompok (pengikut Nabi SAW) atau

orang yang mengikuti sunnah Nabi. Pagar Nusa sebagai bagian dari

kultur dan tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama, juga menganut asas

30
Ibid, hlm. 52
34

ketaatan menjalankan tradisi keagamaan dan petunjuk dari ulama sebagai

pihak yang memiliki otoritas keagamaan.

Pagar Nusa didirikan pada tanggal 3 Januari 1986 di pondok

pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Surat keputusan NU tentang

pengesahan pendirian dan kepengurusan disahkan pada 16 Juli 1986

berawal dari sebuah perhatian tentang surutnya dunia persilatan di

pelantaran pondok pesantren.31 Padahal pencak silat merupakan

kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pondok

pesantren. Tanda-tanda kemunduran persilatan di pelantaran pondok

pesantren yaitu hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan

pencak silat.

Awalnya pondok pesantren bisa diibaratkan sebagai sentral kegiatan

pencak silat. Kiai atau Ulama pengasuh pondok pesantren selalu

melengkapi dirinya dengan ilmu pencak silat khususnya aspek tenaga

dalam yang dipadu dengan beladiri. Pada saat itu seorang kiai atau ulama

juga menjadi pendekar pencak silat. Keadaan yang demikian mendorong

para ulama pimpinan pondok pesantren, pendekar serta tokoh-tokoh

pencak silat untuk musyawarah khususnya mencari jalan keluar, yaitu

membuat suatu wadah yang khusus mengelola pencak silat Nahdlatul

Ulama. Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama

31
Buku Panduan Pagar Nusa, hlm. 2
35

dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu

tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya.

Pagar Nusa didirikan untuk menjadi wadah perkumpulan perguruan

pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Wadah ini tetap

membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan

untuk mengembangkan diri. Artinya walaupun ada perbedaan namun

tetap satu saudara. Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul

Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama

sebagaimana lembaga –lembaga NU lainnya. Status resmi kelembagaan

inilah yang menjadikan pagar nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan

oleh seluruh warga NU.32

6. Pembentukan Akhlakul Karimah melalui Ekstrakulikuler Pagar Nusa

Pencak silat yang tumbuh dan berkembang dibumi pertiwi adalah buah

karya manusia, sekaligus sebagai pedoman orientasi kehidupan bagi dirinya.

Sebagai refleksi dari nilai-nilai masyarakat, pencak silat merupakan sebuah

sistem budaya yang saling pengaruh mempengaruhi dengan alam

lingkungannya, dan tak dapat terpisahkan dari derap langkah aktifitas

manusia. Alunan kehidupan sehari-hari membentuk identitas pencak silat

dengan memberikan kepadanya status dan peranan sosial yang bersifat multi-

dimensional. Dalam kehidupan nyata, pencak silat selain sebagai sarana bela

32
Sugeng Riyadi Syamsoedin, Wakil Ketua II Pagar Nusa Provinsi Jambi 03 April 2017
36

diri juga berperan dalam memelihara kesegaran jasmani, mewujudkan rasa

estetika dan budaya, serta menyalurkan aspirasi spiritual manusia.

Bila pada tingkat perseorangan pencak silat mampu membina manusia

agar menjadi warga teladan yang mematuhi norma-norma masyarakat. Pada

tingkat kolektif pencak silat berfungsi sebagai kekuatan kohesif yang dapat

merangkul individu-individu dan mengikat mereka dalam suatu hubungan

sosial yang menyeluruh.33 Menurut pandangan masyarakat rumpun melayu

yang menjadi sumber asal pencak silat, dalam hidup manusia memiliki

kedudukan sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, makhluk sosial, dan

makhluk alam semesta.

Maka falsafah pencak silat, seperti yang dirumuskan oleh IPSI dalam

nilai-nilai luhur pencak silat, menegakkan nilai-nilai yang berkaitan dengan

empat macam kedudukan manusia tersebut, yaitu nilai-nilai agama, pribadi

(individual), sosial, dan alam semesta (universal), dengan menentukan bahwa:

a. Manusia (pencak silat) sebagai makhluk Tuhan wajib mematuhi dan

melaksanakan secara konsisten dan konsekuen nilai-nilai ke-Tuhanan

dan keagamaan baik secara vertical maupun horizontal. Secara vertikal,

ia wajib menyembah Tuhan sebagai rasa terima kasih atas eksistensi

dirinya dan hidupnya serta berbagai karuniaNya yang lain. Secara

horizontal, ia wajib mengamalkan ajaran Tuhan dan agama dalam

kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat maupun kehidupan dialam

33
Oong Maryono, Pencak Silat Merentang Waktu, Yogyakarta: Yayasan Galang, 1999, hlm. 115
37

semesta. Semua amalan tersebut dapat dirangkum dengan kata-kata

bertakwa dan beriman kepada Tuhan.

b. Manusia (pencak silat) sebagai makhluk individu atau makhluk pribadi

wajib meningkatkan dan mengembangkan kualitas kepribadiannya

untuk mencapai kepribadian yang luhur, yakni kepribadian yang bernilai

dan berkualitas tinggi serta ideal menurut pandangan masyarakat dan

ajaran agama.

c. Manusia (pencak silat) sebagai makhluk sosial wajib memiliki

pemikiran, orientasi, wawasan, pandangan, motivasi, sikap, tingkah

laku, dan perbuatan sosial yang luhur, dalam arti bernilai dan berkualitas

tinggi serta ideal menurut pandangan masyarakat dan ajaran agama.

Seluruhnya dapat dirangkum sebagai sikap pengabdian sosial.

d. Manusia (pencak silat) sebagai makhluk alam semesta berkewajiban

untuk melestarikan kondisi dan keseimbangan alam semesta yang

memberikan kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan kepada manusia

sebagai karunia Tuhan. Hal itu dapat disebut sebagai sikap mencintai

lingkungan hidup.34

Dengan berbagai macam filosofi luhur yang terkandung dalam setiap

langkah dan jurus pencak silat seorang pesilat juga diharuskan memiliki budi

pekerti luhur dan kemampuan aktualisasi diri dengan prinsip tata karma dan

akhlaqul karimah. Hal ini sesuai dengan nilai dan salah satu dari empat aspek

34
Ibid, Hlm. 75
38

yang terkandung dalam pencak silat yakni pencak silat membangun dan

mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Seorang pesilat,

apalagi seorang pendekar harus menjaga, melestarikan dan membela nilai-

nilai dasar kebudayaannya. Seperti ketekunan, kesabaran, kejujuran,

kepahlawanan, kepatuhan, dan kesetiaan Serta memberikan landasan tentang

apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan kepada warga

masyarakat.35

7. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menjadi pertimbangan pembuatan proposal ini

yaitu milik Fahrudin dkk36, Sisworo37, Akhmad38, Abdul Muis.39 Penelitian

tersebut menjadi perbandingan tema yang akan menjadi bahan kajian

selanjutnya bagi peneliti. Selain tema yang diusung keempat peneliti tersebut

beririsan, terdapat beberapa celah penelitian yang belum dilakukan.

35
Ferri Lesmana, Panduan Pencak Silat I, Pekan Baru: Zanafa Publishing, 2017, hlm. 36
36
Fahrudin, dkk. Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam
Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa. Edu-Riligia: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Keagamaan Vol. 1
No. 4 2017
37
Adyanto, Sisworo Putut dkk. Karakter Siswa Anggota …
38
Ayub, Akhmat. Internalisasi nilai-nilai akhlak melalui matapelajaran pencak silat Persaudaraan
Setia Hati Terate (PSHT) siswa kelas Va di MTs Nurul Islam Ngaliyan Semarang, Diss. UIN
Walisongo, 2014.
39
MUIS, ABDUL. “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI
EKSTRAKULIKULER PENCAK SILAT TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH DI SD
MUHAMMADIYAH 1 MENGANTI GRESIK.” Jurnal penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar
6.12 (2018)
39

1. Penelitian yang dilakukan oleh Fahrudin dkk40, tujuan penelitian ini

dilakukan untuk menggambarkan tiga hal. Pertama, tentang perencanaan

dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Kurikulum Karakter 2013

dalam upaya menumbuhkan akhlakul karimah siswa di Sekolah Menengah

Kejuruan Negeri 1 Pematangsiantar. Berdasarkan temuan penelitian

diperoleh informasi: Pertama, perencanaan pembelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Kurikulum Karakter 2013 dalam upaya menumbuhkan

siswa akhlakul karimah tentang perencanaan pembelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Karakter yang meliputi; persiapan program tahunan,

program semester, program mingguan dan harian, dan dalam persiapan

Rencana Pelajaran (RPP). Kedua, Proses Pembelajaran dan Pendidikan

Agama Islam dan Kurikulum Karakter 2013 dalam upaya akhlakul

karimah pembinaan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1

Pematangsiantar dilakukan dengan; penerapan Pendidikan Agama Islam

dan Pembelajaran Berbasis Karakter, penerapan pembelajaran dengan

pendekatan habituasi dan keteladanan, bimbingan keakraban pada saat

pembelajaran uji pre test, budidaya akhlakul karimah pada pembentukan

uji kompetensi, dan penanaman akhlak pada pst test. Ketiga, penilaian

pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Kurikulum Karakter 2013

dalam upaya menumbuhkan akhlakuk karimah siswa di Sekolah

40
Fahrudin, dkk. Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam
Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa. Edu-Riligia: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Keagamaan Vol. 1
No. 4 2017
40

Menengah Kejuruan Negeri 1 Pematangsiantar dilakukan dengan

penilaian otentik yang mencakup penilaian kompetensi sikap, penilaian

koompetensi pengetahuan, dan penilaian keterampilan yang berkaitan

dengan penguasaan akhlakuk karimah.

2. Kemudian, penelitian dari Sisworo41, tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengidentifikasi karakteristik siswa anggota ekstrakulikuler pencak

silat ditinjau dari nilai-nilai karakter. Sedangkan metode yang digunakan

adalah deskripif kualitatif. Hasil observasi yang dicapai yakni

membuktikan bahwa karakteristik siswa ekstrakulikuler pencak silat

mencapai kategori tinggi berdasarkan nilai angket siswa. Selain itu hasil

wawancara kepada pelatih ekstrakulikuler dan wali kelas menyatakan

bahwa dengan mengikuti ekstrakulikuler pencak silat memberikan dampak

positif bagi siswa.

3. Selanjutnya penelitian dari Ajat Sudrajat42 bertujuan untuk

mendeskripsikan secara lebih rinci pembentukan karakter terpuji di SD

Muhammadiyah Condongcatur Yogyakarta. Metode yang digunakan tidak

disebutkan dalam jurnal yang ditulis. Namun menyebutkan bahwa

pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, pengamatan, dan

pencermatan dokumen. Adapun hasil yang diperoleh, berdasarkan data

dapat diketahui bahwa ada tiga program yang menjadi tekanan pihak

Adyanto, Sisworo Putut dkk. Karakter Siswa Anggota …


41
42
Sudrajat, ajat dan Ari Wibowo. Pembentukan Karakter Terpuji di Sekolah Dasar Muhammadiyah
Condongcatur. Jurnal Pendidikan Karakter 2.2 (2013)
41

sekolah dalam membangun karakter terpuji, yaitu melalui: (1) kultur

sekolah bermutu yang mencakup mutu input, mutu akademik, dan mutu

nonakademik; (2) kultur sekolah Islam dengan fokus penanaman karakter

religius, keterbukaan, kepedulian, kebersamaan, dan kerja sama; (3) kultur

disiplin dengan fokus penanaman karakter antara lain religius,

kedisiplinan, kepedulian, dan kebersamaan.

4. Lebih lanjut, penelitian milik Akhmad43 tujuan penelitian ini tidak

disebutkan dalam karya ilmiah yang dikerjakan. Akan tetapi penelitian ini

menyebutkan menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan teknik

analisis deskriptif analitik. Sedangkan hasil penelitian menunjukkan: (a)

Terdapat Lima dasar atau Panca Dasar ajaran yang diluncurkan oleh

PSHT dalam berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Yaitu Persaudaraan,

Olah Raga, Bela Diri, Kesenian, dan Kerokhanian. Selanjutnya dapat

disingkronkan dengan akhlak Islam, ruang lingkup akhlak dalam Islam

dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu akhlak terhadap Allah, akhlak

terhadap sesame manusia, dan akhlak terhadap lingkungan. (b)

internalisasi nilai-nilai akhlak melalui mata pelajaran pencak silat terhadap

tingkah laku siswa merupakan upaya untuk mewujudkan terjadinya proses

pengembalian nilai-nilai akhlak oleh peserta didik untuk diwujudkan

dalam tingkah laku sehari-hari. Demi terwujudnya proses tersebut,

43
Ayub, Akhmat. Internalisasi nilai-nilai akhlak melalui matapelajaran pencak silat Persaudaraan
Setia Hati Terate (PSHT) siswa kelas Va di MTs Nurul Islam Ngaliyan Semarang, Diss. UIN
Walisongo, 2014.
42

diperlukan adanya pengembangan upaya-upaya dalam tahapan proses

internalisasi nilai-nilai akhlak, strategi, pendekatan dan metode, serta

pengembangan aspek-aspek yang memiliki peran penting dalam tahapan

proses intrnalisasi nilai-nilai akhlak Islam.

5. Selanjutnya penelitian dari Abdul Muis44, tujuan penelitian ini

mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter, perencanaan,

pelaksanaan, evaluasi, perubahan karakter, serta faktor pendukung dan

factor penghambat tentang pendidikan karakter melalui ekstrakulikuler

pencak silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah di SD Muhammadiyah 1

Menganti. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif

kualitatif. Sedangkan hasil penelitian menunjukkan (a) pendidikan

karakter yang diutamakan berdasarkan sifat-sifat Rasulullah SAW, (b)

pelaksanaan pendidikan karakter diimplementasikan kegiatan

ektrakurikuler, dan kegiatan khas SD Muhammadiyah 1, (c) faktor

pendukung pendidikan karakter yaitu dukungan dari orang tua serta

koordinasi yang baik antara sekolah dengan orang tua dengan sekolah

serta sekolah dengan pelatih ekstrakurikuler, (d) faktor penghambat

pendidikan karakter yaitu kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan

sekolah.

44
MUIS, ABDUL. “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI
EKSTRAKULIKULER PENCAK SILAT TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH DI SD
MUHAMMADIYAH 1 MENGANTI GRESIK.” Jurnal penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar
6.12 (2018)
43

Berdasarkan penelitian terdahulu yang disuguhkan oleh peneliti.

Aspek yang belum tersentuh oleh kelima peneliti di atas adalah melihat

lebih spesifik bentuk-bentuk ajaran yang terdapat pada ekstrakulikuler

pencak silat. Serta, mendeskripsikan proses pembentukan akhlakul

karimah yang dilakukan pada ekstrakulikuler khusunya pada pencak silat

pagar nusa Man 2 Tulungagung.

6. Kerangka Penelitian

Akhlakhu Karimah

Ajaran Akhlakul Karimah pada Pembentukan Akhlakul Karimah


Ekstrakulikuler Pencak SIlat Pagar pada Siswa Ekstrakulikuler Pencak
Nusa Silat Pagar Nusa

Akhlak mewujud pada tiga


1. Tidak Sombong dimensi:
Kegiatan dan Latihan
2. Tawakal 1. Akhlak pada Allah Ekstrakulikuler Pencak Silat Pagar
3. Ikhlas 2. Akhlak Kepada Sesama Manusia Nusa
3. Akhlak Kepada Lingkungan

Penjelasan:
44

Akhlakul Karimah merupakan perilaku terpuji yang dianjurkan oleh agama.

Perilaku terpuji dapat dibentuk melalui beragam cara. Salah satunya melalui

ekstrakulikuler pencak silat. Dimana didalam pencak silat khususnya pagar nusa

memiliki ajaran dan membentuk karakter siswa dalam berperilaku akhlakul karimah.

Ajaran akhlakul karimah diantaranya ridak sombong, tawakal, ikhlas. Sedangkan,

akhlak sendiri mewujud pada tiga dimensi yakni akhlak pada Tuhan (Allah), akhlak

kepada sesama manusia, dan akhlak kepada lingkungan. Dalam kerangka penelitian

ini ajaran akhlakul karimah diatas diimplementasikan melalui beragam kegiatan dari

latihan ekstrakulikuler pagar nusa dalam membentuk karakter dan perilaku siswa.

Anda mungkin juga menyukai