0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

PPI: Ancaman Kelahiran Prematur

Partus Prematurus Iminens (PPI) adalah ancaman persalinan sebelum 37 minggu yang ditandai dengan kontraksi uterus dan perubahan serviks. Faktor risiko termasuk usia ibu, riwayat penyakit, dan trauma, sementara diagnosis melibatkan kriteria kontraksi dan perubahan serviks. Penatalaksanaan medis mencakup penggunaan tokolitik, kortikosteroid, dan antibiotika, dengan perhatian pada komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.

Diunggah oleh

Nurul Wafiah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

PPI: Ancaman Kelahiran Prematur

Partus Prematurus Iminens (PPI) adalah ancaman persalinan sebelum 37 minggu yang ditandai dengan kontraksi uterus dan perubahan serviks. Faktor risiko termasuk usia ibu, riwayat penyakit, dan trauma, sementara diagnosis melibatkan kriteria kontraksi dan perubahan serviks. Penatalaksanaan medis mencakup penggunaan tokolitik, kortikosteroid, dan antibiotika, dengan perhatian pada komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.

Diunggah oleh

Nurul Wafiah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATERI

2.1 Konsep Partus Prematur Imminiens (PPI)


2.1.1 Pengertian
Partus Prematurus Iminens (PPI) adalah ancaman pada kehamilan dimana
timbulnya tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan (20 minggu37
minggu) dan berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gr (Mahran Nisa &
Dewi Puspitasari, 2020). Kelahiran prematur merupakan masalah yang
terjadi dengan prevalensi tinggi di dunia dan menjadi tantangan bagi
seluruh dokter khususnya dokter kandungan untuk mengetahui penyebab
dan pencegahan kelahiran premature (Arya et al., 2020). Menurut Widiana
et al., (2019) Partus Prematurus Imminens (PPI) atau ancaman kelahiran
prematur merupakan adanya kontraksi uterus disertai dengan perubahan
serviks berupa dilatasi dan effacement sebelum 37 minggu usia kehamilan
serta dapat menyebabkan kelahiran premature.
2.1.2 Etiologi dan faktor resiko
Ada beberapa faktor resiko menurut Panada et al., (2022) yang dapat
dikaitkan dengan sebab terjadinya kelahiran premature yaitu:
a. Faktor ibu
1) Usia ibu
Ibu yang mempunyai risiko persalinan prematur adalah ibu dengan usia
kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Ibu dengan usia kurang dari 20
tahun memiliki kondisi psikis yang kurang dan dimana fungsi reproduksi
masih tergolong belum kuat.
2) Memiliki riwayat penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi.
Diabetes Melitus adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh
kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin. Kondisi ini dapat
mengakibatkan kerusakan di berbagai jaringan dalam tubuh mulai dari
pembuluh darah, mata, ginjal, jantung dan syaraf yang dapat memicu
komplikasi persalinan jika terjadi pada ibu hamil dan mengakibatkan
persalinan prematur. Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan wanita
hamil mengalami persalinan prematur karena tekanan darah yang tinggi akan
menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan
tonus otot rahim berkontraksi.
3) Riwayat abortus
Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko lebih tinggi untuk
terjadinya persalinan prematur.
4) Trauma
Ibu dengan riwayat trauma seperti jatuh, terpukul pada perut atau riwayat
pembedahan sebelumnya seperti seksio sesarea. Melakukan hubungan
seksual dapat menimbulkan trauma karena menyebabkan rangsangan pada
uterus sehingga terjadi kontraksi dan sperma yang yang mengandung
hormon prostaglandin dapat merangsang terjadinya kontraksi uterus.
5) Faktor pekerjaan
Beban kerja yang berat bisa meningkatkan hormon prostaglandin, dengan
peningkatan inilah yang dapat memicu terjadinya persalinan prematur. Ibu
hamil
Menurut andalas et al., (2018) faktor risiko yang berperan pada
persalinan preterm antara lain, yaitu: kehamilan multipel, polihidramnion,
anomali uterus, dilatasi serviks 2 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat
abortus 2 kali atau lebih pada trimester kedua, riwayat persalinan preterm
sebelumnya, riwayat menjalani prosedur operasi pada serviks (cone
biopsy, loop electrosurgical excision procedure), penggunaan cocaine atau
amphetamine, serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada
kehamilan 32 minggu, operasi besar pada abdomen setelah trimester
pertama.
2.1.3 Tanda dan gejala Partus Prematur Imminiens (PPI)
Menurut Widiana et al., (2019) Partus prematurus iminen ditandai
dengan: Kontraksi uterus ada rasa sakit ataupun tidak, Panggul terasa
berat, Kejang uterus yang mirip dismenorea, Keluarnya cairan dari
pervaginam, Nyeri punggung. Menurut Danar et al., (2022) jika proses
persalinan berkelanjutan akan terjadi tanda klinik sebagai berikut :
1) Kontraksi berlangsung sekitar 4 kali per 20 menit atau 8 kali dalam
satu jam
2) Terjadi perubahan progresif serviks seperti pembukaan lebih dari
1cm, perlunakan sekitar 75-80 % bahkan terjadi penipisan servik
3) Terjadi HIS tetapi pembukaan tak lebih dari 4 cm
2.1.4 Patofisiologi Partus Prematur Imminiens (PPI)

Gambar 2.1 Pathway PPI (Yuanita, 2021)

2.1.5 Diagnosis PPI


Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman PPI
(Wiknjosastro, 2010) dalam jurnal Widiana, (2019) yaitu:
1) Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau antara 140 dan 259 hari,
2) Kontraksi uterus (his) teratur, yaitu kontraksi yang berulang sedikitnya
setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3) Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku
menstruasi, rasa tekanan intrapelvik dan nyeri pada punggung bawah
(low back pain),
4) Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah,
5) Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-
80%, atau telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm,
6) Selaput amnion seringkali telah pecah,
7) Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika.
Kriteria lain yang diusulkan oleh American Academy of Pediatrics
dan The American Collage of Obstetricians and Gynecologists (1997) ,
dalam jurnal (Mustika & Minata, 2021) ntuk mendiagnosis PPI ialah
sebagai berikut:
1) Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi empat kali dalam 20 menit
atau delapan kali dalam 60 menit plus perubahan progresif pada
serviks,
2) Dilatasi serviks lebih dari 1 cm,
3) Pendataran serviks sebesar 80% atau lebih.

2.1.6 Prognosis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prognosis PPI:
a. Usia kehamilan : Semakin mendekati 37 minggu, semakin baik
prognosisnya. Bayi di atas 34 minggu umumnya punya peluang hidup
yang tinggi.
b. Penanganan medis tepat waktu : Tocolitik, kortikosteroid, dan
magnesium sulfat dapat sangat membantu meningkatkan hasil janin.
c. Berat badan janin : Bayi dengan berat ≥ 2.000 gram cenderung
memiliki prognosis yang lebih baik
d. Adanya infeksi atau ketuban pecah dini : Dapat memperburuk
prognosis karena meningkatkan risiko sepsis dan kelahiran lebih awal.
e. Kondisi umum ibu : Hipertensi, diabetes, atau anemia dapat
memperburuk kondisi kehamilan (Mahran, 2020)

2.1.7 Pemeriksaan penunjang Partus Prematur Imminiens (PPI)


Menurut Mustika & Minata, (2021) dan Yuanita, (2021) pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Laboratorium
a. Pemeriksaan kultur urine
b. Pemeriksaan gas dan pH darah janin
c. Pemeriksaan darah tepi ibu : jumlah leukosit
d. C-reactive protein. CRP ada pada serum penderita infeksi akut dan
dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk mempresipitasi fraksi
polisakarida somatik non spesifik kuman pneumococcus yang
disebut fraksi C. CRP, dibentuk di hepatosit sebagai reaksi
terhadap IL-1, IL-6, TNF.
2) Amniosintesis : hitung leukosit, pewarnaan Gram bakteri (+) pasti
amnionitis, kultur, kadar IL-1, IL-6, kadar glukosa cairan amnion
3) Pemeriksaan ultrasonografi
a. Oligohidramnion : berhubungan dengan korioamnionitis dan koloni
bakteri pada amnion.
b. Penipisan serviks : bila ketebalan serviks < 3 cm (USG), dapat
dipastikan akan terjadi persalinan preterm.
c. Kardiotokografi : kesejahteraan janin, frekuensi dan kekuatan
kontraksi
d. Sonografi seviks transperineal dapat menghindari manipulasi
intravagina terutama pada kasus KPD dan plasenta previa
2.1.8 Penatalaksanaan medis Partus Prematur Imminiens (PPI)
Penatalaksanaan medis partus premature imminiens menurut Yulinda,
(2018) yaitu:
1. Tatalaksana Umum
Tatalaksana Umum mencakup pemberian tokolitik, kortikosteroid, dan
antiboitika profilaksis. Namun beberapa kasus memerlukan penyesuaian.
2. Tatalaksana Khusus
Jika ditemui salah satu dari keadaan berikut ini, tokolitik tidak perlu
diberikan dan bayi dilahirkan secara pervaginam atau perabdominam
sesuai kondisi kehamilan :
a. Usia kehamilan dibawah 24 dan diatas 34 minggu
b. Pembukaan > 3 cm
c. Ada tanda infeksi intrauterin, preeklamsia, atau perdarahan aktif
d. Ada gawat janin
e. Janin meninggal atau adannya kelainan kongenital yang
kemungkinan hidupnya kecil
f. Bila kondisi seperti diatas di rujuk RS
Lakukan terapi konservatif (ekspektan) dengan tokolitik, kortikosteron,
dan antibiotika jika syarat ini terpenuhi :
a) Umur kehamilan antara 24-34 minggu
b) Dilatasi servick kurang dari 3 cm
c) Tidak ada infeksi intrauterin, preeklamsia, atau perdarahan aktif
d) Tidak ada gawat janin

Tokolitik hanya diberikan pada 48 jam pertama untuk memberikan


kesempatan pemberian kortikosteroid. Obat – obat tokolitik yang
digunakan adalah :
1. Nifedipin : 3 x 10 mg per oral
2. Salbutamol : dosis awal 10 mg IV dalam 1 liter cairan infus 10
tetes/menit. Jika kontraksi masih ada, naikkan kecepatan 10
tetes/menit setiap 30 menit sampai kontraksi berhenti / denyut nadi
> 120/menit kemudian dosis dipertahankan hingga 12 jam setelah
kontraksi hilang.
Berikan kortikosteroid untuk pematangan paru janin. Obat pilihannya
adalah :
a) Deksametasone 6 mg IM setiap 12 jam sebanyak 4 kali
b) Betametasone 12 mg setiap 24 jam sebanyak 2 kali

Pilihan antibiotika diberikan untuk persalinan preterm adalah

1. Ampisilin : 2 g IV setiap 6 jam


2. Penisilin G 2 juta unit IV setiap 6 jam
3. Klindamisin : 3 x 300 mg PO (jika terjadi terhadap penisilin)
Antibiotika yang diberikan jika persalinan preterm disertai dengan
ketuban pecah dini adalah eritromisin 4x 400 mg per oral. Bila dalam
observasi pemberian tokolitik masih ada kontraksi atau ada tanda
persalinan segera rujuk RS.

Penatalaksanaan kebidanan pada partus premature imminiens menurut


Yulinda, (2018) yaitu:
1) Anjurkan di rawat rumah sakit dengan tirah baring
2) Lakukan pemeriksaan usia kehamilan, tanda-tanda vital, kondisi
janin, letak plasenta, periksa DJJ, periksa dalam

2.1.9 Komplikasi Partus Prematur Imminiens (PPI)


Menurut Drastita et al., (2022) komplikasi partus prematurus iminens yang
terjadi pada ibu dan janin yaitu sebagai berikut :

a. Pada ibu
Komplikasi Pada Ibu Penjelasan
Infeksi intrauterin Risiko meningkat jika ketuban pecah dini
(korioamnionitis) (KPD) terjadi
Perdarahan Antepartum Akibat abrupsio plasenta atau serviks
yang membuka terlalu cepat
Efek samping obat-obatan Tocolitik bisa menyebabkan hipotensi
(nifedipine), takikardia, atau sesak (beta
agonis)
Stress dan Kecemasan Kekhawatiran akan keselamatan bayi
dapat berdampak psikologis
Risiko persalinan berulang Pada kehamilan selanjutnya, risiko
prematur meningkat
Intervensi medis lebih Seperti pemasangan infus, kateter, atau
invasif operasi sesar darurat jika kondisi
memburuk

b. Pada Janin

Komplikasi Pada Ibu Penjelasan


Sindrom Gnagguan Napas arena paru belum matang, terutama jika
(RDS) <34 minggu
Infeksi Neonatal Sistem imun belum matang → mudah
terkena sepsis
Asfiksia Kekurangan oksigen saat lahir.
Masalah jangka panjang Perdarahan di otak bayi prematur
Hipoglekemia dan Bayi kecil sulit menjaga suhu dan kadar
gangguan termogulasi gula darah
Perdarahan intraventrikular Perdarahan di otak bayi prematur
(IVH)
Enterokolitis nekrotikan Peradangan usus serius pada neonatus
(NEC) prematur
Prematuritas ekstrem Usia kehamilan <28 minggu → risiko
kematian dan morbiditas tinggi
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah, S., Manggau, M. A., & Nasruddin, A. M. (2017). Analisis Efektifitas


Dan Efek Samping Penggunaan Off-Label Rute Pemberian Dari Nifedipine
Sebagai Tokolitik Pada Partus Preterm Imminens di Rumah sakit Makassar.
Majalah Farmasi Dan Farmakologi, 21(3), 75–79triani, L., Firawati, &
Raehan. (2021). Buku Ajar Kehamilan (1st ed.). Deepublish

Hidayati, L. (2016). Faktor Risiko Terjadinya Persalinan Prematur Mengancam di


RSUD dr. Soetomo Surabaya. Universitas Airlangga

Karmelita, D. M. (2020). Efektivitas Nipedipin Sebagai Tokolitik Dalam


Persalinan Prematur. Jurnal Kedokteran STM (Sains Dan Teknologi Medik),
3(2), 49– 58.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Nasional


Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Persalinan Prematur. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.

Mahran Nisa K, Dewi Puspitasari R. G3P2A0 Hamil 30 Minggu Belum Inpartu


dengan Partus Prematurus Imminens dan Riwayat Asma. Medula.
2020;10(1):16–21

Mustika, E., & Minata, F. (2021). Analisis Hubungan Faktor Maternal Dan
Penyakit Kronik Pada Persalinan Prematur. Jurnal Kesehatan Dan
Pembangunan, 11(21), 19–27. [Link]

Panada Sedianing Drastita et al. (2022) ‘Faktor Risiko Terjadinya Persalinan


Prematur’, Oksitosin : Jurnal Ilmiah Kebidanan, 9(1), pp. 40–50. doi:
10.35316/oksitosin.v9i1.1531

Refisari, N. (2020). Pengaruh pemberian nifedipin terhadap tekanan darah ibu


hamil pada partus prematurus imminens di RSUD dr. Moewardi Surakarta.
Saifuddin, A. B. (2020). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Susanti, S., Tinggi, S., Kesehatan, I., Tasikmalaya, R., & Raya, J. (2020).
Gambaran Komplikasi Persalinan Pada Ibu Hamil Dengan Faktor Resiko
Usia Terlalu Tua Di Puskesmas Cisayong Kabupaten Tasikmalaya (Vol. 2,
Issue 2).
Widiana, I.K.O. et al. (2019) ‘Karakteristik Pasien Partus Prematurus Imminens di
RSUP Sanglah Denpasar Periode 1 April 2016-30 September 2017’, E-
Jurnal Medika, 8(3). Available at:
[Link]

Yulinda, R (2018). Gambaran Penatalaksanaan Asuahan Kebidanan Pada Ny. Y


G3P1A1 Garvida 35 Minggu 4 Hari Dengan Persalinan Prematur Murni Di
Klinik P A Bekasi.

Anda mungkin juga menyukai