ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF
PADA NY. S G1P0000 UK 39-40 MINGGU THI+ KPP <6 jam + FETAL
TAKIKARDI+ ISK DENGAN SECTIO CESAREA
PADA TANGGAL 18 JUNI 2025
DI RUANG VK RSUD HAJI PROVINSI JAWA TIMUR
Disusun guna memenuhi tugas Stase Asuhan Kebidanan Pada Kasus Komplikasi
dan Kegawatdaruratan
OLEH :
NURUL WAFIAH
(P17312245055)
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
TAHUN 2025
1
LEMBAR PENGESAHAN
LASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF
PADA NY. S G1P0000 UK 39-40 MINGGU THIU + LETJUR+ PRESKEP+
KPP <6 jam + ISK PADA TANGGAL 19 JUNI 2025 DI RUANG VK
RSUD HAJI PROVINSI JAWA TIMUR
AN KIE REMAJA
PADA Nn. V USIA 15 TAHUN DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGINE
DAN KEPUTIHAN DI POLINDES MULYOAGUNG KECAMATAN DAU
TANGGAL 28 SEPTEMBER 2024
Ini telah diperiksa dan disahkan pada tanggal
Mahasiswa
Nurul Wafiah
NIM. P17312245055
Preseptor Akademik Preseptor Klinik
(….………………………) (….………………………)
ii
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan segala
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Stase Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada Ny. S G1 P0000 Uk 39-40 Minggu THIU + Letjur+ Preskep+
KPP <6 Jam + ISK Pada Tanggal 18 Juni 2025 Di Ruang Vk RSUD Haji Provinsi
Jawa Timur.
Penulis tidak akan mampu untuk menyusun serta menyelesaikan tugas Stase
Asuhan Kebidanan Pada Kasus Komplikasi dan Kegawatdaruratan ini tanpa
adanya bimbingan dari berbagai pihak yang telah membantu selama proses
penyelesaian tugas ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Rita Yulifah, [Link]., [Link], selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik K
esehatan Kemenkes Malang.
2. selaku Ketua Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemen
kes Malang.
3. Endah Kamila, SST., [Link] selaku pembimbing institusi kebidanan
4. Siti Aisyah, [Link] selaku pembimbing klinik praktik
5. Semua perawat ataupun staf Ruang VK RSUD Haji Surabaya yang telah
membantu serta memberikan banyak ilmu baru untuk kami
6. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas praktik
kebidanan
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini banyak sekali
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap adanya
kritik dan saran yang bersifat membangun, semoga dengan tersusunnya asuhan
kebidanan kehamilan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya
penulis mengucapkan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan kata.
Surabaya, Juni 2025
Penulis
iii
DAFTAR PUSTAKA
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2 Tujuan........................................................................................................ 3
1.3 Metode Penelitian...................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 5
2.1 Teori Tentag KPP...................................................................................... 5
2.2 Konsep Teori Tentang ISK........................................................................ 10
2.3 Konsep Manajemen Kebidanan................................................................. 19
BAB III TINJAUAN KASUS.......................................................................... 28
BAB IV UPAYA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
KELUARGA ................................................................................................... 39
BAB V TELAAH ARTIKEL JURNAL........................................................... 40
5.1 Identitas Jurnal........................................................................................... 40
5.2 Telaah Jurnal (Terapi) .............................................................................. 40
BAB VI PEMBAHASAN ............................................................................... 42
BAB VII PENUTUP......................................................................................... 44
7.1 .Kesimpulan............................................................................................... 44
7.2 .Penutup..................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 45
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan merupakan indikator
utama kesejahteraan suatu negara, serta mencerminkan kualitas sistem pelayanan
kesehatan yang ada. Namun demikian, hingga saat ini, kegawatdaruratan obstetri
masih menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian ibu,
terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Proses persalinan yang
berlangsung cepat dan tidak dapat diprediksi sering kali diiringi dengan komplikasi
yang memerlukan intervensi segera, tepat, dan terkoordinasi. Ketidaksiapan dalam
mengenali dan menangani komplikasi tersebut dapat berujung pada kondisi yang
mengancam nyawa, baik bagi ibu maupun bayinya.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2023, diperkirakan
sebanyak 287.000 ibu meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi yang berkaitan
dengan kehamilan dan persalinan, dengan 94% di antaranya terjadi di negara
berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia sendiri, angka kematian ibu
masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI)
tahun 2023, angka kematian ibu berada pada angka 189 per 100.000 kelahiran
hidup, yang masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) sebesar
70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Fakta ini menunjukkan bahwa
penanganan kegawatdaruratan obstetri belum optimal, khususnya ketika ibu hamil
datang dengan kondisi klinis yang sudah diperberat oleh masalah kesehatan lain
seperti anemia, ketuban pecah prematur, kehamilan post date.
Pecahnya ketuban sebelum waktunya meningkatkan risiko serius seperti
infeksi intraamniotik (korioamnionitis), sepsis maternal, serta komplikasi perinatal
seperti kelahiran prematur dan morbiditas neonatus. Faktor risiko utama meliputi
infeksi genital, riwayat KPP sebelumnya, serviks inkompeten, serta kondisi seperti
anemia, yang berkaitan dengan lemahnya struktur membran ketuban. kerusakan
kolagen dan mikrofraktur pada membran janin, serta peningkatan tekanan
intraamniotik yang memicu kegagalan struktural selaput ketuban.
Dalam praktik klinis kebidanan masalah KPP menjadi tantangan tersendiri
karena dapat memperburuk kondisi fisiologis ibu dan janin secara signifikan. Hal
ini memerlukan kesiapan klinis yang tinggi dari tenaga kesehatan, terutama bidan
sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan maternal di berbagai fasilitas pelayanan.
Penanganan kasus kegawatdaruratan persalinan yang disertai dengan ketuban pecah
prematur membutuhkan pendekatan yang holistik, dimulai dari identifikasi risiko
sejak awal, pemantauan yang ketat selama proses persalinan, stabilisasi kondisi ibu,
serta koordinasi dan kolaborasi dengan tim kesehatan secara multidisipliner apabila
terjadi komplikasi lebih lanjut. Ketepatan dalam mengambil keputusan klinis,
kecepatan dalam bertindak, serta kemampuan untuk mengintegrasikan pengetahuan
dan keterampilan menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.
Laporan ini disusun sebagai bentuk kajian komprehensif terhadap asuhan
kebidanan dalam menangani kasus kegawatdaruratan persalinan dengan ketuban
pecah prematur pada Ny. S, G2P1001, yang dirawat di RSUD Haji Provinsi Jawa
Timur. Melalui laporan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas
mengenai tata laksana klinis, peran serta tanggung jawab bidan dalam memberikan
asuhan yang tepat, serta pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kebidanan. Selain itu, laporan ini juga bertujuan untuk memperkuat pemahaman
mahasiswa kebidanan dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya deteksi dini dan
penatalaksanaan cepat pada kasus-kasus serupa, guna mencegah morbiditas dan
mortalitas maternal di masa yang akan datang.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran dan analisis komprehensif mengenai asuhan kebidanan
kegawatdaruratan yang diberikan kepada Ny. S, G2P1001 janin tunggal, hidup,
intrauterin (T/H/I) inpartu kala I fase laten dengan masalah ketuban pecah prematur
di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, sebagai upaya meningkatkan kualitas
penatalaksanaan kebidanan yang cepat, tepat, dan terintegrasi dalam menangani
kasus persalinan berisiko tinggi.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian data subjektif kepada Ny. S, G2P1001 janin
tunggal, hidup, intrauterin (T/H/I) inpartu kala I fase laten dengan masalah
ketuban pecah prematur di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur
2. Melakukan pengkajian data objektif kepada Ny. S, G2P1001 janin tunggal,
hidup, intrauterin (T/H/I) inpartu kala I fase laten dengan masalah ketuban
pecah prematur di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur
3. Membuat assesment masalah yang dialami Ny. S, G2P1001 janin tunggal,
hidup, intrauterin (T/H/I) inpartu kala I fase laten dengan masalah ketuban
pecah prematur di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur
4. menyusun dan evakuasi asuhan yang diberikan kepada Ny. S, G2P1001
janin tunggal, hidup, intrauterin (T/H/I) inpartu kala I fase laten dengan
masalah ketuban pecah prematur di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur
1.3 Metode pengumpulan Data
1.3.1 Anamnesa
Melakukan tanya jawab secara langsung pada pasien
1.3.2 Observasi
Melakukan pengamatan langsung pada pasien, data dan kasus diperoleh dari
pengamatan langsung pada pasien
1.3.3 Studi pustaka
Melalui pengumpulan studi literatur dari buku maupun sumber lain untuk
mendapatkan dasar ilmiah yang berhubungan dengan kasus ini
1.3.4 Dokumentasi
Pencatatan dari keadaan/kejadian yang dilihat dalam pelaksanaan asuhan
kebidanan
1.4 Sistematika
1.4.1 BAB 1 PENDAHULUAN
Berisi tentang gambaran mengenai permasalahan, yang terdiri dari latar
belakang, tujuan, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan
1.4.2 BAB 2 TINJAUAN TEORI
Berisi tentang konsep teori (termasuk telaah jurnal dan evidence based dalam
kehamilan dan juga konsep manajemen kebidanan)
1.4.3 BAB 3 TINJAUAN KASUS
Berisi tentang pengelolaan kasus yang dilakukan oleh penulis dengan metode
manajemen SOAP
1.4.4 BAB 4 UPAYA PEMBERDAYAAN
Berisi tentang uapaya pemberdayaan wanita
1.4.5 BAB 5 TELAAH JURNAL
Berisi jurnal tentang kasus yang diangkat
1.4.5 BAB 6 PEMBAHASAN
Menganalisis apakah kasusnya sesuai dengan teori atau tidak
1.4.6 BAB 7 PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran tentang asuhan kebidanan yang sudah
/diberikan oleh pasien.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Teori Tentang Ketuban Pecah Prematur (KPP)
2.2.1 Defenisi
Ketuban pecah prematur (KPP) atau Premature Rupture of
Membranes (PROM) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum proses
persalinan dimulai, yaitu sebelum adanya kontraksi uterus secara
teratur. Jika pecah terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, kondisi
ini disebut Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM).
Ketuban pecah pada usia kehamilan ≥37 minggu disebut Term PROM.
KPP dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu dan janin, terutama
jika terjadi sebelum usia kehamilan 34 minggu (Cunningham, 2022).
2.2.2 Etiologi
Penyebab pasti KPP seringkali tidak diketahui, namun beberapa faktor
risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya KPP antara
lain:
a. Infeksi vagina atau serviks
Infeksi seperti gonorrhea, streptococcus, group B dan
grandelavaginalis bacteriolis fragilis, lactobacilli, shaphylococus.
Bakteri ini melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan
adanya pembukaan dan perubahan serviks dan pecahnya selaput
ketuban.
b. Serviks yang inkompetensia
Kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada
servik uteri (akibat persalinan, curetage).
c. Tekanan intrauterin
Tekanan intrauterin yang meninggi atau meningkat secara
berlebihan (overdistensi uterus) pada usia lebih dari 37 minggu
sering mengalami KPP.
d. Keadaan fetus yang abnormal
Kelainan letak janin dalam rahim, misalnya letak sungsang atau
letak lintang dapat menyebabkan KPP.
e. Trauma yang didapat
Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan
dalam, maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya ketuban
pecah dini karena biasanya disertai infeksi.
f. Riwayat KPP
Ibu hamil yang memiliki riwayat KPP pada kehamilan sebelumnya
beresiko 2-4 kali mengalami KPP kembali akibat adanya penurunan
kandungan kolagen dan membran sehingga memicu terjadinya KPP.
g. Makrosomia
Berat badan neonates >4000 gram menimbulkan overdistensi uterus
yang mengakibatkan uterus menipis/selaput merangsang dan pecah.
h. Hipermoftalitas
Kontraksi otot uterus rahim menjadi meningkat yang menekan
selaput amnion.
i. Faktor lain
1. Faktor golongan darah yang tidak sesuai menimbulkan
kelemahan bawaan pada bayi, termasuk kelemahan jaringan
kulit ketuban.
2. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
3. Faktor multi graviditas, merokok, dan perdarahan antepartum.
4. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C)
(ACOG, 2020).
2.2.3 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ketuban pecah prematur, antara lain :
a. Keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
b. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak,
mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri
pucat dan bergaris warna darah.
c. Cairan yang mengalir tidak berhenti atau kering karena terus
diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila duduk atau berdiri, kepala
janin yang sudah terletak dibawah biasanya “mengganjal” atau
“menyumbat” kebocoran untuk sementara.
d. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung
janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi
(Nugroho, 2016).
2.2.4 Patofisiologis
Pecahnya selaput ketuban dalam persalinan umumnya disebabkan
oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Ketuban pecah karena
pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimiawi yang menyebabkan
selaput ketuban menjadi rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban
sudah rapuh. Ada keseimbangan antara sintesis dan degradasi matriks
ekstraseluler. Perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen
menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan menyebabkan ketuban
pecah (Saifuddin, 2014). Terjadi peningkatan pada periodonitis dan
ketuban pecah dini cenderung terjadi. Selaput ketuban sangat kuat pada
awal kehamilan. Pada trimester ketiga, selaput ketuban mudah pecah.
Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan
pembesaran rahim, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pada trimester
akhir, terjadi perubahan biokimiawi pada selaput ketuban (Saifuddin,
2014).
2.2.5 Teknik Diagnosa
Diagnosis KPP ditegakkan melalui:
a. Anamnesis: Pasien melaporkan keluarnya cairan dari vagina secara
tiba-tiba dan terus-menerus.
b. Pemeriksaan spekulum: Melihat cairan keluar dari os serviks.
c. Tes laboratorium:
1. Nitrazine test: Menguji pH cairan vagina; cairan ketuban
bersifat basa (pH 7–7,4).
2. Ferning test: Mengamati pola kristalisasi cairan ketuban di
bawah mikroskop.
3. Tes protein cairan amnion: Mengukur kadar protein seperti
PAMG-1 atau IGFBP-1 untuk mendeteksi kebocoran cairan
ketuban (Moore, 2016).
2.2.6 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan ketuban pecah prematur pada kehamilan preterm
1. Rawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenbreg,
tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah
terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan mencapai 37
minggu.
2. Berikan antibiotik (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila
tidak tahan ampisilin) dan metronidazole 2x500 mg selama 7
hari.
3. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air
ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk
memacu kematangan paru janin dan kalau memungkinkan
periksa kadar listin dan spingomielin tiap minggu. Sediaan
terdiri atas betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2
hari atau deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
5. Jika usia 32-37 minggu belum inpartu, tidak ada infeksi, tes
busa (-) beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
6. Jika usia kehamilan 32-37 minggu sudah inpartu, tidak ada
infeksi berikan antibiotik (salbutamol), deksametason dan
induksi sesudah 24 jam.
7. Jika usia kehamilan 32-37 minggu ada infeksi beri antibiotik
dan lakukan induksi.
8. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi
intrauterine) bergantung pada usia janin dan risiko infeksi
(Lockhart dan Lyndon, 2014).
b. Penatalaksanaan ketuban pecah prematur pada kehamilan aterm
1. Kehamilan >37 minggu induksi dengan oksitosin bila gagal SC.
Dapat pula diberikan misoprostol 50 µg intra vaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali.
2. Bila ada tanda-tanda infeksi beri antibiotik dosis tinggi dan
persalinan diakhiri dengan :
a) Induksi persalinan
Induksi adalah proses stimulasi untuk merangsang kontraksi
rahim sebelum kontraksi alami terjadi, dengan tujuan untuk
mempercepat proses persalinan. Sebelum melakukan
induksi persalinan maka harus dihitung untuk melihat
seberapa matangnya serviks
Tabel 2.1 Bishop Score
Faktor Nilai
0 1 2 3
Pembukaan serviks 0 1-2 3-4 >5
Pendataran serviks (%) 0-30 40-50 60-70 >80
Penurunan kepala (cm) -3 -2 -1,0 +1, +2
Konsistensi serviks Keras Sedang Lunak Amat lunak
Posisi serviks Posterior Tengah Anterior Anterior
1) Bila skor pelvic <5, maka lakukan pematangan serviks
kemudiana induksi jika tidak berhasil akhiri persalinan
dengan SC
2) Jika skor >5 maka lakukan induksi persalinan, partus
pervaginam
3) Jika skor ≥ 6, maka induksi cukup dilakukan dengan
oksitosin
4) Jika ≤5 maka matangkan dulu serviks dengan
prostaglandin atau cateter folley.
b) Persalinan secara normal/pervaginam
Persalinan normal adalah proses persalinan melalui kejadian
secara alami dengan adanya kontraksi rahim ibu dan dilalui
dengan pembukaan untuk mengeluarkan bayi.
c) Sectio Caesarea
Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding
depan perut untuk melahirkan janin dari dalam rahim.
c. Penatalaksanaan lanjutan
1. Kaji denyut jantung janin setiap jam, suhu, nadi setiap 2 jam.
2. Lakukan DJJ setiap jam sebelum persalinan.
3. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu untuk menghindari
terjadinya infeksi (ACOG, 2020).
2.2.7 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi akibat ketuban pecah dini yaitu :
a. Komplikasi pada Ibu
1. Infeksi intrapranatal dalam persalinan
2. Infeksi peurperalis/masa nifas
3. Dry labour (partus lama)
4. Perdarahan post partum
5. Meningkatkan tindakan operatif obstetric khususnya SC
6. Morbilitas dan mortalitas maternal (Izati 2020).
b. Komplikasi pada Janin
1. Prematuritas, masalah yang dapat terjadi pada persalinan
prematur diantaranya adalah respiratory distress syndrome,
neonatal feeding problem, dan hipotermia.
2. Prolaps funiculli (penurunan tali pusat) hipoksia dan afiksia
sekunder (kekurangan oksigen pada bayi).
3. Sindrom deformitas janin
4. Morbilitas dan mortalitas perinatal (Izati 2020).
2.2 Konsep Teori ISK
2.2.1 Pengertian ISK
Infeksi Saluran Kencing (ISK) adalah infeksi akibat berkembang
biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan
normal air kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme
lain. Infeksi saluran kemih dapat terjadi pada pria maupun wanita dari
semua umur, dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering
menderita infeksi ini daripada pria. (Luthfia, 2019). Jenis infeksi saluran
kemih, antara lain :
a. Kandung kemih (sistisis)
b. Urethra ( Uretritis)
c. Prostat (Prostatitis)
d. Ginjal ( Pielonefritis)
2.2.2 Etiologi
a. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan Infeksi Saluran
Kencing :
a. E. coli 90% menyebabkan ISK Uncomplicated
b. Pseudomnas, prosteus, Klebsiella : penyebab ISK Complicated
c. Enterobacter, staphylococus epidemis, enterococus ,dan lain –
lain .
b. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut antara lain :
a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat
pengososngan kandung kemih yang kurang efektif.
b. Mobilisasi yang menurun
c. Nutrisi yang kurang baik
d. Sistem imunitas yang menurun, baik selular maupun humoral
e. Adanyahambatan pada aliran urin
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
c. Secara khusus, etiologi ISK berdasarkan jenisnya
a. Sistis
1) Disebabkan oleh bakteri dari vagina yang berpindah dari
uretra ke kandung kemih.
2) Wanita yang menderita isk setelah melakukan hubungan
intim, dikarenakan uretra yang cidera.
3) Vistula vesikovaginal (hubungan abnormal antara kandung
kemih dan vagina )
4) Akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan
selama penbedahan
b. Urethritis
1) Penyebab bisa berupa bakteri, jamur atau virus yang
berasal dari usus besar sampai ke vagina melalui anus.
2) Nesseria gonorrhoea penyebab gonore, bakteri yang
masuk ke vagina atau penis pada saat melakukan hubungan
seksual.
3) Paling sering disebabkan oleh gonococus
c. Prostattitis
Disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di akibatkan oleh urin
yang tertahan pada kandung kemih sehingga menjalar dan
terjadilah radang pada prostat (Putra, 2023)
2.2.3 Tanda dan Gejala
a. Rasa nyeri atau panas saat buang air kecil (disuria)
b. Frekuensi buang air kecil meningkat meski urin yang keluar sediki
c. Desakan untuk buang air kecil secara mendesak (urgensi)
d. Nyeri di perut bagian bawah atau pinggang (bisa menunjukkan
infeksi saluran kemih bagian atas atau pielonefritis)
e. Urin keruh atau berbau menyengat
f. Urin berdarah (hematuria) – kadang disertai warna urin yang gelap
g. Demam dan menggigil – lebih sering muncul jika infeksi sudah
menyebar ke ginjal
h. Mual dan muntah – biasanya pada kasus infeksi saluran atas
i. Kelelahan atau tidak enak badan (Abdullah, 2023)
2.2.4 Patofisiologi
a. Perubahan Hormonal
Peningkatan hormon progesteron selama kehamilan menyebabkan
relaksasi otot polos, termasuk dinding ureter dan kandung kemih.
Hal ini menyebabkan:
1) Penurunan tonus ureter dan kandung kemih → aliran urin
melambat (stasis urin).
2) Refluks vesikoureter → memungkinkan urin kembali ke atas
menuju ginjal.
Stasis urin menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan
bakteri.
b. Perubahan Anatomi
1) Pembesaran rahim (uterus gravidarum) akan menekan ureter,
terutama di sisi kanan → memperlambat pengosongan urin dari
ginjal → hidronefrosis fisiologis.
2) Tekanan ini juga memperbesar kemungkinan kolonisasi bakteri
dari bawah ke atas.
c. Perubahan pada Urin
1) Urin ibu hamil mengandung lebih banyak glukosa dan asam
amino, yang mendukung pertumbuhan bakteri.
2) Penurunan keasaman urin (pH lebih basa) → melemahkan
pertahanan alami terhadap bakteri.
d. Penurunan Imunitas
1) Kehamilan menyebabkan modulasi sistem imun untuk
mencegah penolakan terhadap janin.
2) Akibatnya, pertahanan terhadap infeksi, termasuk infeksi
saluran kemih, menjadi berkurang.
e. Masuknya Bakteri
1) Bakteri (terutama Escherichia coli) dari area perineum mudah
masuk ke uretra yang pendek, kemudian naik ke kandung
kemih (sistitis), bahkan hingga ke ginjal (pielonefritis)
2) Pada sebagian ibu hamil, bakteriuria bisa asimptomatik, tetapi
tetap berpotensi menyebabkan infeksi berat jika tidak diobati
(Nafisah, 2023)
2.2.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Urinalisis (Pemeriksaan Urin Rutin)
Pemeriksaan pertama dan paling sederhana.
Parameter penting:
1) Leukosit (piuria) → tanda adanya infeksi
2) Nitrit positif → menunjukkan adanya bakteri gram negatif (terutama
E. coli)
3) Proteinuria ringan
4) Darah dalam urin (hematuria)
b. Urin Kultur dan Uji Kepekaan Antibiotik
1) Gold standard untuk diagnosis ISK.
2) Mengidentifikasi jenis bakteri penyebab serta antibiotik efektif.
3) Diagnosis bakteriuria asimptomatik ditegakkan jika: ditemukan
≥10⁵ CFU/mL bakteri dalam urin tanpa gejala
4) Harus dilakukan pada semua ibu hamil, bahkan tanpa gejala ISK,
karena risiko komplikasi serius.
c. Hitung Darah Lengkap (Hb, Leukosit, dll)
Menilai adanya infeksi sistemik.
1) Leukositosis dapat terjadi bila infeksi menyebar
2) Dapat disertai peningkatan LED atau CRP (jika dilakukan).
d. Pemeriksaan USG Abdomen/Traktus Urinarius
Dilakukan jika dicurigai adanya komplikasi seperti:
1) Pielonefritis
2) Batu ginjal
3) Hidronefrosis
4) Membantu menilai kondisi ginjal, ureter, dan kandung kemih
(Lutfhia, 2019)
2.2.6 Penatalaksanaan
Pencegahan infeksi saluran kemih (ISK) pada ibu hamil sangat penting
karena kondisi ini bisa meningkatkan risiko komplikasi seperti
kelahiran prematur, preeklampsia, dan infeksi pada bayi baru lahir.
Berikut beberapa langkah efektif yang bisa dilakukan:
a. Cukupi kebutuhan cairan: Minum air putih minimal 2 liter per
hari membantu melancarkan aliran urin dan mengurangi risiko
bakteri berkembang biak.
b. Jangan menahan buang air kecil: Kebiasaan ini bisa
menyebabkan bakteri bertahan lebih lama di kandung kemih
c. Jaga kebersihan area genital: Bersihkan dari depan ke belakang
setelah buang air kecil atau besar untuk mencegah perpindahan
bakteri dari anus ke uretra.
d. Buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seksual: Ini
membantu mengeluarkan bakteri yang mungkin masuk ke
saluran kemih.
e. Hindari penggunaan produk iritan: Seperti sabun wangi atau
pembersih kewanitaan yang bisa mengganggu keseimbangan
flora normal.
f. Konsumsi makanan bergizi dan suplemen sesuai anjuran dokter:
Ini membantu memperkuat sistem imun ibu hamil (Nafisah,
2023)
2.3 Konsep Teori Seksio Sesarea
2.3.1 Definisi Sectio Sesarea
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak
lewatinsisi pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn, 2010: 634).
Sectio caesarea (SC) adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi
dengan berat di atas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus
yang masih utuh (Prawirohardjo, 2010: 536).Pelahiran sesarea (juga
dikenal dengan sectio caesarea atau SC) adalah pelahiran janin
melalui insisi yang dibuat pada dinding abdomen dan uterus. Tindakan
ini dipertimbangkan sebagai pembedahan abdomen mayor (Reeder,
2011: 461).
2.3.2 Klasifikasi Seksio Sesarea
a. Persalinan Sectio Caesarea Melintang (Segmen bawah)
Persalinan sectio caesarea melintang atau segmen bawah,
merupakan persalinan sesarea yang pada umumnya dipilih karena
berbagai alasan. Karena insisi dibuat pada segmen bawah uterus
yang merupakan bagian paling tipis dengan aktivitas uterus yang
paling sedikit, maka pada tipe insisi ini kehilangan darah minimal.
Area ini lebih mudah mengalami pemulihan dan mengurangi
kemungkinan terjadinya ruptur jaringan parut pada kehamilan
berikutnya. Selain itujuga insidensi peritonitis, ileus paralisis dan
perlekatan usus lebih rendah(Reeder, 2011: 463).
b. Persalinan Sectio Caesarea Membujur (Segmen bawah)
Insisi membujur dibuat dengan skalpel dan dilebarkan
dengan gunting tumpul untuk menghindari cidera pada bayi. Insisi
membujur mempunyai keuntungan, yaitu kalau perlu luka insisi
bisa diperlebar ke atas. Pelebaran ini diperlukan kalau bayinya
besar, pembentukan segmen bawah jelek, ada malposisi janin
seperti letak lintang atau kalau ada anomali janin seperti
kehamilan kembar yang menyatu (conjoined twins). Sebagaimana
ahli kebidanan menyukai jenis insisi ini untuk plasenta previa.
Salah satu kerugian utamanya adalah perdarahan dari tepi sayatan
yang lebih banyak karena terpotongnya otot, juga sering luka
insisi tanpa dikehendaki meluas ke segmen atas sehingga nilai
penutupan retroperitoneal yang lengkap akan hilang (Oxorn,
2010: 642).
c. Sectio Caesarea Klasik
Sebuah insisi tegak lurus dibuat langsung pada dinding
korpus uterus. Janin dan plasenta dikeluarkan dan isnsisi ditutup
dengan tiga lapisan jahitan menggunakan benang yang dapat
diserap. Tindakan ini dilakukan dengan menembus lapisan uterus
yang paling tebal pada korpus uterus. Hal ini terutama bermanfaat
ketika kandung kemih dan segmen bawah mengalami pelekatan
yang ekstensif akibat sectio caesarea sebelumnya. Kadang kala,
tindakan ini dipilih saat janin dalam posisi melintang atau pada
kasus plasenta previa anterior (Reeder, 2011: 463).
d. Sectio CaesareaExtraperitoneal
Pembedahan extraperitoneal dikerjakan untuk
menghindari perlunya histerektomi pada kasus-kasus yang
mengalmi infeksi luas dengan mencegah peritonitis generalisata
yang sering bersifat fatal. Ada beberapa metode sectio
caesareaextraperitoneal seperti metode Waters, Latzko dan
Norton. Teknik pada prosedur ini relatif sulit, sering tanpa sengaja
masuk dalam cavum peritonei dan insidensi cedera vesika urinaria
meningkat. Perawatan prenatal yang lebih baik, penurunan
insidensi kasus-kasus yang terlantar dan tersedianya darah serta
antibodi telah mengurangi perlunya teknik extraperitoneal.
Metode ini tidak boleh dibuang, tetapi disimpan sebagai cadangan
bagi kasus-kasus tertantu (Oxorn, 2010: 643-644)
e. Histerektomi Sectio Caesarea
Pembedahan ini merupakan sectio caesarea yang dilanjutkan
dengan pengeluaran uterus. Kalau mungkin histerektomi harus
dikerjakan lengkap (histerektomi total). Akan tetapi, karena
pembedahan subtotal lebih mudah dan dapat dikerjakan lebih cepat,
maka pembedahan subtotal menjadi prosedur pilihan kalau pasien
dalam keadaan jelek akibat sebab-sebab lain. Pada kasus semacam
ini, tujuan pembedahan adalah menyelesaikannya secepat mungkin
(Oxorn, 2010: 644).
2.3.3 Etiologi Seksio Sesarea
Secsio caesarea dapat disebabkan oleh faktor ibu, janin atau
plasenta yang mengganggu atau menghalangi kelahiran melalui
vagina. Tidak ada indikator mutlak untuk kelahiran sectio caesarea,
tetapi kebanyakan dilakukan berdasarkan keuntungan janin. Faktor
janin mencangkup gawat janin, penyakit atau anomali, malposisi
atau malpresentasi, prolaps tali pusat dan makrosomia yang
menyebabkan CPD (Disproporsi Kepala Panggul). Indikasi ibu
meliputi gangguan hipertensi, diabetes, herpes genetalia aktif,
human papilloma virus yang menghalangi jalan lahir, HIV dengan
muatan virus lebih dari 1000 dan panggul sempit yang tidak
memungkinkan penurunan janin abnormalitas plasenta mencangkup
plasenta previa atau abrupsio plasenta total yang mengganggu ibu
atau janin. Ibu diatas 35 tahun mempunyai angka kelahiran SC
sebesar 30% hampir dua kali lipat dibandingkan ibu remaja. Ibu
lainnya yang lebih cenderung melakukan kelahiran SC adalah ibu
yang mempunyai asuransi pribadi, memiliki status sosial ekonomi
tinggi ataupun melahirkan di rumah sakit swasta (Green &
Wilkonson, 2012 dalam skripsi Riska, 2017: 11). Menurut Reeder,
Martin & Koniak (2011) indikasi persalinan SC yang dibenarkan
dapat terjadi secara tunggal atau secara kombinasi, merupakan suatu
hal yang sifatnya relative dari pada mutlak dan dapat
diklarifikasikan sebagai berikut :
a. Ibu dan janin
Distosia (kemajuan persalinan yang abnormal) adalah indikasi
yang paling umumnya ditunjukan sebagai suatu kegagalan
kemajuan dalam persalinan. Hal ini mungkin berhubungan
dengan ketidak sesuaian antara ukuran panggul dan ukuran
kepala janin (disproporsi sefalopelvik), kegagalan induksi atau
aksi kontraksi uterus yang abnormal
b. Ibu
Penyakit ibu yang berat seperti penyakit jantung berat, diabetes
mellitus, preeklamsi berat atau eklamsia, kanker serviks atau
infeksi berat (yaitu virus herpes simpleks tipe II atau herpes
genetalia dalam fase aktif atau dalam 2 minggu lesi aktif).
Persalinan tersebut membutuhkan persalinan sectio caesarea
karena beberapa alasan yaitu untuk mempercepat pelahiran
dalam suatu kondisi yang kritis, karena klien dan janin tidak
mampu menoleransi persalian atau janin akan terpajan dengan
resiko bahaya yang meningkat saat melalui jalan lahir
pembedahan uterus sebelumnya, termasuk miomektomi,
pelahiran sectio caesarea sebelumnya dengan insisi klasik atau
rekontruksi uterus, obstruksi jalan lahir karena adanya fibroid
atau tumor ovarium
c. Janin
Gawat janin seperti dengan kasus prolaps tali pusat, insufisiensi
uteroplacenta berat, malpresentasi, seperti letak melintang, janin
denganpresentasi dahi, kehamilan ganda dengan bagian
terendah janin kembar adalah pada posisi melintang bokong.
d. Disfungsi uterus
Disfungsi uterus mencangkup kerja uterus yang tidak
terkoordinasikan, inersia, cincin konstruksi dan
ketidakmampuan dilatasi serviks. Partus menjadi lama dan
kemajuannya mungkin terhenti sama sekali. Keadaan ini sering
disertai disproporsi dan malpresentasi (Oxorn, 2010: 635)
e. Distosia Jaringan Lunak
Distosia jaringan lunak (soft tissue dystocia) dapat menghalangi
atau mempersulit kelahiran yang normal. Ini mencangkup keadaan
seperti cicatri pada saluran genetalia, kekakuan serviks akibat
cedera atau pembedahan dan atresia atau stenosis vagina.
Kelahiran vagina yang dipaksa akan mengakibatkan laserasi yang
luas dan perdarahan (Oxorn, 2010: 635).
2.3.4 Patofisiologi Sectio Caesarea
Terjadi kelainan pada ibu dan kelainan pada janin menyebabkan
persalinan normal tidak memungkinkan akhirnya harus dilakukan
persalinan sectio caesarea (Jitowiyono, 2010 dalam skripsi Riska,
2017: 13). Frekuensi lahir mati dan angka kematian neonatus tentu
saja akan bergantung pada alasan dilakukannya persalinan sectio
caesarea serta usia gestasi janin. Secara umum, kemungkinan terjadi
trauma lahir lebih kecil pada sectio caesarea daripada partus per
vagina, namun sectio caesarea tidak menjamin bahwa cedera tidak
terjadi. Pada kenyataanya, janin dapat terluka saat dilakukan insisi
kedalam uterus. Perlu ditekankan bahwa angka kesakitan janin telah
sangat menurun setelah penerapan sectio caesarea untuk berbagai
keadaan, seperti presentasi bokong tertentu, janin letak lintang dan
plasenta previa (Gant & Cunningham, 2010 dalam skripsi Riska,
2017: 13).
2.3.5 Kontra Indikasi Sectio Caesarea
Menurut Harry Oxorn & William (2010) sectio caesarea tidak
boleh dilakukan apabila ada keadaan berikut ini :
a. Kalau janin sudah mati atau berada dalam keadaan jelek
sehingga kemungkinan hidup kecil. Dalam keadaan ini tidak
ada alasan untuk melakukan operasi berbahaya yang tidak
diperlukan.
b. Kalau jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan
fasilitas untuksectio caesarea ekstraperitoneal tidak tersedia.
c. Kalau dokter bedahnya tidak berpengalaman, kalau
keadaannya tidak menguntungkan bagi pembedahan, atau
kalau tidak tersedia tenaga asisten yang memadai (Oxorn,
2010: 639-640).
2.3.6 Komplikasi Sectio Caesarea
Menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2010)persalinan dengan
operasi memiliki komplikasi lima kali lebih besar dari pada persalinan
normal. Komplikasi yang terjadi setelah SC dapat berupa komplikasi
fisik maupun psikologis
a. Komplikasi jangka pendek
1) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika
cabang-cabang arteri ikut terbuka, misalnya perdahahan
akibat : Atonia uteri, Pelebaran insisi uterus, Kesulitan
mengeluarkan plasenta,Hematoma ligamentum.
2) Infeksi
Infeksi luka akibat persalinan sectio caesarea berbeda
dengan luka persalinan normal. Luka persalinan normal
sedikit lebih mudah terlihat, sedangkan luka operasi sectio
caesarea lebih besar dan berlapis-lapis. Untuk diketahui,
ada sekitar 7 lapisan mulai darikulit perut sampai dengan
dinding rahim, yang setelah operasi selesai masing-masing
lapisan akan dijahit. Bila penyembuhan tidak sempurna
kuman akan lebih mudah menginfeksi sehingga luka lebih
parah. Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan
suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifatberat
seperti :Traktus genetalia, Insisi, Traktus urinaria, Paru-
paru dan traktus respiratorius atas
3) Keloid
Keloid atau jaringan parut muncul pada organ tertentu
karena pertumbuhan berlebihan sel-sel pembentuk organ
tersebut. Ukuran sel meningkat dan terjadilah tonjolan
jaringan parut. Perempuan yang mempunyai
kecenderungan keloid tiap mengalami luka akan
mengalami keloid pada sayatan bekas operasi. Suatu
komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang
kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada
kehamilan berikutnya bila terjadi rupture uteri.
Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan
sesudah persalinan sectio caesarea klasik (Jitowiyono &
Kristiyanasari, 2010 dalam skripsi Riska, 2017: 18).
b. Komplikasi jangka panjang
1) Masalah psikologi
Berdasarkan penelitian, perempuan yang mengalami operasi
sectio caesarea mempunyai perasaan negatif usai menjalani
(tanpa memperhatikan kepuasan hasil operasi). Depresi pasca
persalinan juga merupakan masalh yang sering muncul.
Beberapa mengalami reaksi stress pasca trauma berupa
mimpi buruk, kilas balik atau ketakutan luar biasa terhadap
kehamilan. Masalah psikologis ini lama-lama akan
mengganggu kehidupan rumah tangga atau menyulitkan
pendekatan pada bayi. Hal ini bisa muncul jika ibu tidak siap
menghadapi operasi. (Oxorn, 2010: 646).
2.3.7 Penatalaksanaan Sectio Caesarea
Ibu yang mengalami komplikasi obstetrik atau memerlukan
observasi ketat setelah resiko persalinan sectio caesarea. Fasilitas
perawatan intensif atau ketergantungan tinggi harus siap tersedia di
rumah sakit yang sama. Perawatan umum untuk ibu menurut Fraser
(2012) yaitu sebagai berikut :
a. Kaji tanda-tanda vital dengan interval diatas (15 menit), pastikan
kondisinya stabil.
b. Lihat tinggi fundus uteri, adanya perdarahan dari luka dan jumlah
lokea.
c. Pertahankan keseimbangan cairan.
d. Pastikan analgesia yang ada kuat. Penggunaan analgesia epidural
secaraterus-menerus sangat berguna.
e. Tangani kebutuhan khusus dengan indikasi langsung untuk sectio
caesarea misalnya kondisi medis seperti diabetes melitus.
f. Anjurkan fisioterapi dan ambulasi dini jika tidak ada
kontraindikasi.
g. Sebelum pemulangan harus diberikan kesempatan yang sesuai
dengan keadaan dan tanggung jawab dari [Link]
h. Jadwalkan kesempatan untuk melakukan pengkajian ulang pasca
melahirkan guna memastikan penyembuhan total, mendiskusikan
kehamilan berikutnya dan memastikan tindakan lanjut perawatan
untuk kondisi medisnya (Fraser, 2012 dalam skripsi Zulfa, 2017:
16). Menurut Rosdahl & Kowalski (2014) prabedah pelahiran
melalui sectio caesarea dapat terjadwal atau dapat pula darurat.
Sebagai seseorang perawat, harus mempersiapkan keluarga untuk
prosedur tersebut.
1) Praoperatif sectio caesarea
a) Persiapan kamar operasi
(1) Kamar operasi telah dibersihkan sebelum dipakai.
(2) Peralatan dan obat-obatan telah siap semua
termasuk kain operasi.
b) Persiapan pasien
(1) Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi
(2) Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak
keluarga pasien
(3) Perawat memberikan support kepada pasien
(4) Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan
(rambut pubis dicukur dan sekitar abdomen telah
dibersihkan dengan antiseptik)
c) Pemeriksaan laboratorium (darah, urine)
d) Pemeriksaan USG
e) Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.
2) Postoperasi sectio caesarea
Ibu harus diberi asuhan pasca bedah rutin. Kaji
tanda-tanda vital, observasi lokea (rabas vagina) dan insisi,
serta kaji fundus. Pengkajian fundus sulit untuk dilakukan
karena adomen terpasang balutan, tetapi pengkajian
tersebut penting dilakukan untuk mencegah perdarahan.
Catat asupan dan pengeluaran 24 jam setelah pembedahan.
Tingkatkan diet sesuai toleransi. Beri perawatan perineum
dan obat oksitosik sesuai program. Ambulasi dini dan
latihan nafas sangat penting. Klien biasanya pulang pada
hari ketiga atau keempat pasca bedah (Rosdahl &
Kowalski, 2014 dalam skripsi Riska, 2017: 15).
2.4 Konsep Dasar Fetal Takikardi
2.4.1 Definisi
Fetal takikardi (takikardia janin) adalah kondisi di mana denyut
jantung janin melebihi 160 denyut per menit (bpm) secara persisten
selama lebih dari 10 menit. Kondisi ini merupakan salah satu bentuk
kelainan irama jantung janin dan bisa menjadi tanda stres janin atau
masalah lain yang memerlukan perhatian medis.
2.4.2 Penyebab Fetal Takikardi
a. Maternal (dari ibu): demam (infeksi intrauterin, seperti
korioamnionitis), hipertermi, dehidrasi, anemia berat,
hipertiroidisme dan penggunaan obat tertentu (β-simpatomimetik,
antikolinergik, kokain, dll)
b. Fetal (dari janin): hipoksia ringan, anemia janin (misalnya karena
isoimunisasi Rh, perdarahan fetomaternal), disritmia jantung, infeksi
intrauterin (misalnya parvovirus B19) dan kelainan kongenital
c. lasenta/lingkungan intrauterin: ketuban pecah dini dengan infeksi
distres janin ringan
2.4.3 Komplikasi Fetal Takikardi
a. Distres Janin
Penurunan oksigenasi janin akibat kerja jantung yang tidak
efisiendapat menyebabkan asidosis jika berlangsung lama
b. Kegagalan Jantung Janin (Hydrops Fetalis)disebabkan oleh:
Disritmia jantung (misalnya supraventricular tachycardia/SVT),
anemia janin berat dapat menyebabkan penumpukan cairan di
rongga tubuh janin (paru, peritoneum, kulit)
c. Kematian Intrauterin (IUFD)
Jika takikardi disertai hipoksia berat atau gangguan irama jantung
yang fatal risiko lebih tinggi bila penyebab tak teratasi (misal:
infeksi berat, anemia janin)
d. Persalinan Prematur atau Seksio Sesarea Darurat
Takikardi sering memicu keputusan untuk persalinan dini, terutama
jika muncul tanda-tanda distres janin dapat meningkatkan risiko
morbiditas neonatal (gangguan pernapasan, prematuritas)
e. Asfiksia Perinatal
Jika terjadi saat persalinan atau menjelang persalinan tanpa
penanganan bisa berujung pada kerusakan neurologis jangka
panjang
f. Komplikasi Neonatal
Bayi lahir dengan: gangguan irama jantung neonatal, gagal napas
neonatorum, dan perlu perawatan intensif NICU
2.4.4 Pencegahan Terjadinya Fetal Takikardi
a. Menjaga Kesehatan Ibu secara Umum
1) Mengontrol suhu tubuh ibu
2) Segera tangani demam atau infeksi selama kehamilan
b. Cukup hidrasi
1) Hindari dehidrasi
2) Menghindari stres berlebihan
3) Istirahat cukup, dukungan psikologis, dan relaksasi
c. Mencegah Infeksi Intrauterin
1) Pantau dan obati infeksi saluran kemih (ISK), keputihan
infeksius, dan infeksi sistemik sejak dini
2) Edukasi ibu hamil untuk menjaga kebersihan organ intim dan
perineum
3) Hindari hubungan seksual yang berisiko saat ketuban belum
utuh
d. Kontrol Penyakit Kronis Ibu
Hipertiroidisme: Kontrol dengan antitiroid dan evaluasi antibodi TSI
Anemia pada ibu: Suplementasi zat besi dan asam folat
Rh-isoimunisasi: Pemberian anti-D immunoglobulin pada ibu Rh-
negatif sesuai indikasi
e. Hindari Obat-obatan dan Zat yang Memicu
1) Edukasi ibu untuk tidak menggunakan obat bebas seperti:
2) β-simpatomimetik (misal salbutamol berlebihan)
3) Kokain, kafein berlebihan, atau alkohol
4) Konsultasi sebelum mengonsumsi suplemen/herbal
f. Pemantauan Kehamilan Rutin
1) USG dan CTG berkala pada kehamilan risiko tinggi
2) Deteksi dini anemia janin (jika ibu Rh-negatif atau ada riwayat
sebelumnya)
3) Deteksi dini gangguan irama jantung dengan USG Doppler atau
EKG janin jika dicurigai
g. Persiapan Persalinan Aman
Persiapkan tempat persalinan dengan fasilitas CTG, resusitasi
neonatal, dan NICU jika ada faktor risiko serta waspadai ketuban
pecah dini, mekonium, atau infeksi saat proses persalinan
2.4.5 Tatalaksana Fetal Takikardi
2.5 Konsep Manajemen Kebidanan
2.5.1 Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan merupakan metode atau bentuk
pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan sehingga langkahlangkah kebidanan merupakan alur pikir
bidan dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan klinis.
Asuhan kebidanan yang diberikan harus dicatat secara benar, sederhana,
jelas dan logis sehingga perlu metode pendokumentasian. Metode
pendokumentasian yang digunakan dalam asuhan kebidanan adalah
dengan SOAP yaitu Subjektif, Objektif, Assessment, dan Planning
(Handayani, 2012).
2.5.2 Proses manajemen kebidanan (7 langkah)
Manajemen proses terdiri dari tujuh langkah yang berurutan
dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai
dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh
langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang diterapkan
dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan lagi
menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dapat berubah sesuai dengan
kebutuhan pasien. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Langkah I : Pengumpulan dan analisa data dasar
a. Biodata
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan klien secara keseluruhan yang terdiri atas data istri dan
suami, meliputi nama ibu dan suami, umur, suku, agama,
pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
1) Nama
Nama jelas dan lengkap agar mengetahui identitas,
membedakan klien, dan untuk mengenal atau memanggil
nama ibu dan suami dan untuk mencegah kekeliruan bila ada
nama yang sama.
2) Usia
Kehamilan pada usia yang terlalu muda (< 19 tahun) atau
terlalu tua (>40 tahun) dapat meningkatkan resiko kasus
abortus (POGI, 2019). Hal ini disebabkan oleh karena usia
ibu, baik itu terlalu tua ataupun terlalu muda, dapat
mempengaruhi komplikasi obstetri (Esposito, 2022).
3) Agama
Dalam hal ini berhubungan dengan perawatan penderita yang
berkaitan dengan ketentuan agama. Antara lain dalam keadaan
yang gawat ketika memberi pertolongan dan perawatan dapat
diketahui dengan siapa harus berhubungan, misalnya agama
Islam memanggil ustad dan sebagainya.
4) Pendidikan
Menentukan metode untuk memberikan konseling sesuai
tingkat pendidikan dan pemahaman ibu. merupakan faktor
yang mempengaruhi sikap seseorang dalam memperlakukan
dirinya dan menjaga kesehatan dirinya. Dengan adanya
pengetahuan yang cukup yang ibu hamil diharapkan dapat
memberikan pelayanan terbaik untuk dirinya sendiri dalam
menjaga kesehatan nya dan menghindari perilaku-perilaku
yang dapat beresikopada kehamilannya.
5) Pekerjaan
Menetukan pola komunikasi yang dipilih selama asuhan dan
mengukur tingkat sosial ekonomi berhubungan dengan
kebiasaan sehari-hari ibu. Hal ini dikarenakan semakin berat
pekerjaan, semakin berat juga aktivitas fisiknya (Asiah, 2019).
6) Alamat
Pengkajian guna mengetahui jarak rumah dan tempat
persalinan. Menilai apakah lingkungan sekitar tempat tinggal
ibu berpengaruh pada kondisi ibu saat ini.
b. Alasan masuk dan keluhan utama
Alasan ibu datang ke tempat pelayanan kesehatan dan keluhan
yang dirasakan ibu sekarang. dalam kasus persalinan, keluhan
yang sering dirasakan oleh ibu seperti nyeri perut bagin bawah
dan keluar darah seperti menstruasi merupakan salah satu tanda
dari abortus (ACOG, 2017; Songthamwat et al, 2018).
c. Riwayat kehamilan sekarang
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan mengenai riwayat
kehamilan ibu yang sekarang, meliputi:
1) Keluhan yang dialami ibu selama hamil, pada setiap kasus
keluhan yang sering dialami seperti nyeri perut, pusing dan
sakit kepala akibat dari hipertensi atau preeklampsi, mual
muntah, mengalami sesak karena ukuran perut yang lebih
besar, sering buang air kecil.
2) Pergerakan janin pertama kali, pada kehamilan kembar
pergerakan janin dapat dirasakan ibu pada satu sisi perut atau
pada keseluruhan perut ibu.
d. Riwayat kebidanan
1) Riwayat menstruasi
Data ini digunakan nuntuk mendapatkan gambaran tentang
keadaan dasar dari organ reproduksi pasien. Beberapa data
yang harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara lain
yaitu menarche (usia pertama kali mengalami menstruasi yang
pada umumnya wanita Indonesia mengalami menarche pada
usia sekitar 12 sampai 16 tahun), siklus menstruasi (jarak
antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya
dalam hitungan hari yang biasanya sekitar 21 sampai 34 hari),
volume darah data ini menjelaskan seberapa banyak darah
menstruasi yang dikeluarkan biasanya acuan yang digunakan
berupa kriteria banyak atau sedikitnya, keluhan, beberapa
wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika
mengalami menstruasi dan dapat merujuk kepada diagnosa
tertentu. Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) untuk
menghitung usia kehamilan ibu berdasarkan siklus haid ibu.
Ibu yang mengalami PPI akan merasakan kontraksi atau
bahkan persalinan pada usia kehamilan 20 minggu hingga
kurang dari 37 minggu (Yeni, dkk, 2020).
2) Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita karena akan memberikan
petunjuk bagi kita tentang organ reproduksi pasien. Ada
beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat
dengan personal hygine pasien, atau kebiasaan lain yang tidak
mendukung kesehatan reproduksinya.
3) Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui penggunaan metode kontrasepsi ibu secara
lengkap dan untuk merencanakan penggunaan metode
kontrasepsi setelah masa nifas.
4) Riwayat Obstetri
Informasi esensial tentang kehamilan terdahulu mencakup
bulan dan tahun kehamilan tersebut berakhir, usia gestasi pada
saat itu, tipe persalinan (spontan, forsep, ekstraksi vakum,
atau bedah sesar), berat lahir, jenis kelamin, dan komplikasi
lain. Dalam kasus ini data obstetri yang dikumpulkan berupa
riwayat kehamilan dan persalinan lalu ibu, apakah ada riwayat
hamil dan melahirkan kembar atau tidak (Dutton dkk,2012).
5) Riwayat kesehatan
Data riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
penanda akan adanya penyulit masa hamil. Riwayat kesehatan
ini mencakup data tentang pola makan, status gizi, riwayat
kehamilan sebelumnya, dan adanya gejala khas seperti mudah
lelah, pusing, atau tampak pucat. Riwayat penyakit kronis
atau infeksi yang dapat memperburuk kondisi anemia.
Pengkajian ini menjadi dasar dalam menentukan diagnosis
kebidanan dan perencanaan asuhan yang tepat untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut bagi ibu dan janin (POGI,
2019; Suman dan Luther, 2021)
6) Riwayat keluarga
Informasi tentang keluarga pasien penting untuk
mengidentifikasi wanita yang beresiko menderita penyakit
genetik yang dapat mempengaruhi hasil akhir kehamilan atau
beresiko memiliki bayi yang menderita pentakit genetik.
(Dutton dkk, 2012).
7) Riwayat sosial
Riwayat sosial yang perlu untuk diketahui seperti status
perkawinan, sumber dukungan, respon ibu tehadap kehamilan
ini, respon keluarga terhadap kehamilan ini, pengetahuan ibu
tentang perawatan kehamilan, adat istiadat setempat yang
berkaitan dengan masa hamil, perencanaan KB. Berdasarkan
kasus ini, data yang diperlukan meliputi, respon keluarga
mengenai kehamilan ibu sekarang ini (kehamilan kembar)
terutama suami. Hal ini penting untuk dikaji karena
berdasarkan data inilah akan didapatkan gambaran mengenai
suasana rumah tangga pasangan ataupun lingkungannya
mendukung atau tidak. Ibu hamil yang berasal dari
lingkungan sosial ekonomi rendah cenderung memiliki
keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi, sehingga
berisiko lebih tinggi mengalami anemia (Suman dan Luther,
2021).
8) Pola kehidupan sehari-hari
Data pola kehidupan sehari-hari yang perlu untuk dikaji
adalah pola makan ibu, pola minum, pola istirahat, dan
aktivitas sehari-hari. Aspek yang dikaji mencakup pola makan
sehari-hari, frekuensi dan kualitas tidur, aktivitas fisik, serta
kebiasaan konsumsi minuman seperti teh atau kopi yang dapat
menghambat penyerapan zat besi. Ibu hamil yang memiliki
pola makan tidak seimbang, jarang mengonsumsi makanan
bergizi tinggi seperti sayuran hijau, daging, atau kacang-
kacangan, serta tidak rutin mengonsumsi suplemen zat besi,
berisiko lebih tinggi mengalami anemia. Selain itu, aktivitas
berlebih tanpa istirahat cukup atau stres berlebihan juga dapat
memperburuk kondisi tubuh ibu (Prawirohardjo, 2016).
e. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik digunakan untuk mengetahui kondisi
pasien secara menyeluruh. Langkah-langkah pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan secara sistematis, meliputi:
1) Keadaan umum pasien
Untuk mengetahui data ini bidan perlu mengamati keadaan
pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan
laporkan dengan kriteria sebagai berikut :
a) Baik: jika pasien memperlihatkan respon yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik
pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan
b) Lemah, jika ia kurang atau tidak memberikan respon
yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta pasien
sudah tidak mampu lagi berjalan sendiri.
2) Kesadaran (komposmentis, somnolen, apatis, dan lainnya)
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien
dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai
koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
3) Pemeriksaan tanda-tanda vital
a) Tekanan darah, dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90
mmHg. Bila tekanan darah meningkat, yaitu sistolik 30
mmHg atau lebih dan diastolik 15 mmHg atau lebih,
kelainan ini dapat berlanjut menjadi preeklampsia dan
eklampsia kalau tidak ditangani dengan cepat (Nurain et
al, 2019) .
b) Nadi, dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60-
100 x/i menit. Denyut nadi akan meningkat dan melebihi
100 x/i menit jika ibu dalam keadaan tegang, ketakutan
dan cemas, demam, gangguan jantung dan jika sedang his
dalam proses persalinan ataupun mengidentifikasi adanya
infeksi. Pada ibu dengan anemia, sering ditemukan tanda-
tanda seperti nadi cepat (takikardia).
c) Pernapasan, untuk mengetahui fungsi sistem pernapasan.
Normalnya 16-24 x/i menit.
d) Suhu tubuh, normalnya adalah 36,5-37,50°C. Kenaikan
suhu yang mencapai >38°C mengarah pada tanda-tanda
infeksi (POGI, 2019).
e) Inspeksi adalah memeriksa dengan cara melihat atau
memandang meliputi:
(1) Mata
(2) Bentuk simetris, konjungtiva normal warna merah
muda, bila pucat menandakan anemia. Sklera normal
berwarna putih, bila kuning menandakan ibu mungkin
terinfeksi hepatitis, bila merah kemungkinan ada
konjugtivitis, kelopak mata yang bengkak
kemungkinan adanya preeklampsia. Konjungtiva yang
pucat menjadi satu tanda bahwa ibu mengalami
anemia yang juga menjadi faktor risiko perdarahan
pada saat partus (Offiah et al. 2012).
(3) Wajah
Pada wajah ada tidak oedem, pucat/tidak. Wajah pucat
sebagai salah satu tanda gejala anemia (Offiah et al.,
2012)
(4) Abdomen
Melalui palpasi dapat ditentukan usia kehamilan
berdasarkan TFU, bagian-bagian janin dalam rahim,
letak janin dalam rahim, sejauh mana bagian terendah
janin masuk dalam panggul, ada atau tidaknya
keseimbangan antara ukuran kepala janin dengan
panggul, janin tunggal atau kembar, letak DJJ, dan
perkiraan taksiran berat badan janin dalam rahim.
Malpresentasi juga diketahui sebagai faktor resiko
ketuban pecah prematur (KPP), dimana KPP juga
meningkatkan kejadian PPI (Varney, 2007).
(5) Genitalia
Pada ibu hamil dengan anemia, mukosa genetalia,
khususnya vulva dan vagina, sering tampak pucat
akibat rendahnya kadar hemoglobin. Kondisi ini
mencerminkan suplai oksigen yang kurang optimal ke
jaringan tubuh. (Russel, 2020).
(6) Ektremitas atas dan bawah
Pada kasus anemia, tangan dan kaki sering tampak
pucat dan terasa dingin akibat berkurangnya sirkulasi
darah dan kadar hemoglobin yang rendah. Ibu juga
mungkin mengeluhkan kelemahan otot dan mudah
lelah saat melakukan aktivitas ringan. (Russel, 2020).
f) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan USG untuk untuk menilai kesejahteraan
janin dan sebagai upaya mendeteksi keadaan janin
didalam kandungan (Metzger, 2010). Selain dengan
melakukan pemeriksaan usg maka diagnose dapat
ditetapkan apakah ibu mengalami abortus inkomplit
atau blighted ovum (Suman dan Luther, 2021).
2. Pemeriksaan dalam dilakukan untuk mengetahui
apakah serviks membuka atau tidak yang menandakan
sala satu tanda dari gejala abortus pada kehamilan
2. Langkah II : Merumuskan diagnosa/masalah aktual
Interpretasi data (data dari hasil pengkajian) mencakup
diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan. Data dasar yang sudah
dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosa
masalah yang spesifik (Varney, 2007).
a. Diagnosis
Diagnosa yang ditegakkan dalam ruang lingkup praktik
kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa
kebidanan
Contoh: G…P…A…. usia 11-12 minggu, tunggal, hidup,
intrauterine, presentasi, dengan abortus inkomplit
b. Masalah Aktual
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan
dari hasil pengkajian yang menyertai diagnosa seperti cemas, dan
stress (Hidayah, Lestari and Fudji Hastuti, 2019).
3. Langkah III : Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Identifikasi masalah dan diagnosa potensial disesuaikan dengan
diagnosa aktual dan masalah yang dialami ibu. Dibutuhkan langkah
untuk mencegah diagnosa potensial yang mungkin terjadi untuk
mencegah adanya perburukan kondisi ibu (Varney, 2007).
Diagnosa dan masalah potensial yang mungkin terjadi pada
kehamilan gemelli adalah sebagai berikut:
a. Diagnosa Potensial
Ibu hamil akan mengalami nyeri perut bagian bawah, perdarahan
hebat hingga sedang, dan keguguran tidak lengkap
b. Masalah Potensial
Masalah potensial pada ibu yaitu dapat terjadi perdarahan secara
terus menerus, resiko terjadinya infeksi, risiko syok hipovolemik
dan gangguan kecemasan (Komalasari dkk, 2015).
4. Langkah IV : Melaksanakan tindakan segera atau kolaborasi
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera,
baik tindakan intervensi, tindakan konsultası, kolaborasi dengan
dokter atau rujukan berdasarkan kondisi pasien (Vamey, 2007)
5. Langkah V : Perencanaan tindakan/intervensi
Perencanaan tindakan pada kasus ada kasus abortus inkomplit,
rencana tindakan bertujuan untuk mengatasi sisa jaringan konsepsi
dalam uterus, mencegah komplikasi seperti perdarahan dan infeksi,
serta menjaga keselamatan ibu. Langkah awal meliputi stabilisasi
kondisi pasien, termasuk pemantauan tanda-tanda vital, evaluasi
jumlah perdarahan, dan pemeriksaan laboratorium seperti hemoglobin,
hematokrit, serta golongan darah. USG dilakukan untuk memastikan
adanya sisa jaringan dalam rahim. Bila kondisi pasien stabil, tindakan
evakuasi dapat dilakukan menggunakan misoprostol secara
medikamentosa atau dilatasi dan kuretase (D&C) secara manual,
tergantung pada kondisi klinis dan ketersediaan fasilitas. Terapi
antibiotik profilaksis juga diberikan untuk mencegah infeksi. Selain
tindakan medis, pasien perlu mendapatkan dukungan psikologis dan
edukasi tentang perawatan pascakeguguran, tanda-tanda komplikasi,
serta perencanaan kehamilan di masa depan.
6. Langkah VI : Pelaksanaan tindakan asuhan kebidanan
Implementasi dapat dikerjakan secara keseluruhan oleh bidan
atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Bidan harus
bertanggungjawab terhadap tindakan secara langsung maupun
tindakan kolaborasi dan konsultasi. Implementasi yang efisien akan
meningkatkan kualitas pelayanan pada pasien.
7. Langkah VII : Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dan seluruh asuhan yang sudah
diberikan, apakah telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah diagnosa.
Dari 7 proses pikir di dokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu:
1. Proses pikir langkah I di dokumentasikan dalam bentuk subjektif (S)
dan objektif (O).
2. Proses pikir langkah II,III dan IV di dokumentasikan dalam bentuk
assessment (A).
3. Proses pikir langkah V, VI, dan VII di dokumentasikan dalam
bentuk planning (P) (Tresnawati, 2013).
BAB III
TINJAUAN KASUS
Hari/ Tanggal : 18 Juni 2025
MRS : 01.10 WIB
Tempat : Ruang Ponek RSUD Haji Surabaya
Pengkaji : Nurul Wafiah
Tanggal MKB : 18 Juni 2025
Jam MKB : 02.40 WIB
3.1 Data Subjektif
1. Identitas
Nama Istri : Ny. S Nama Suami : Tn. D
Umur : 29 tahun Umur : 30 tahun
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP
Suku : Padang Suku : Padang
Alamat : xxxxx
2. Alasan Datang
Ibu datang ke rumah sakit dengan rujukan dari Puskesmas
3. Keluhan Saat Ini
keluar cairan dari kemaluan banyak pada pukul 23.00 tanpa disertai
kenceng-kenceng. Sejak ketuban keluar gerakan janin dirasakan semakin
sedikit.
4. Riwayat Menstruasi
1. HPHT : 17-09-24
2. TP : 24-06-25
3. Haid pertama : Usia 13 tahun
4. Lamanya : 6-7 hari
5. Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
6. Keluhan : Tidak ada
5. Riwayat Kehamilan Sekarang
a. Trimester 1 : ibu periksa kehamilan sebanyak 2 kali dipuskesmas umur
kehamilan 10 minggu dan 12 minggu dengan keluhan mual,
didapatkan berat badan ibu 61 kg. Ibu diberikan vitamin asam folat
dan kalk diminum 1x1 saat malam hari. KIE mengenai makan sedikit
tapi sering agar kebutuhan nutrisi terpenuhi, KIE pola istirahat, cara
mengatasi keluhan mual seperti makan sedikit tapi sering, hindari
hubungan seksual sampai usia kehamilan diatas 4 bulan dan ANC
teratur.
b. Trimester 2
Ibu periksa kehamilan sebanyak 1 kali dengan dokter dipuskesmas
untuk USG, periksa laboratorium dan tidak ada keluhan dengan berat
badan saat pemeriksaan yaitu 67 kg. Adapun hasil USG Uk 27 minggu
BPD 7,3 cm Afg, Gestasions 1, Fl 4,57 cm Avg, Fetal weight 994,68
gram, letak sunsang, plasenta di fundus, ketuban cukup. Hasil
pemeriksaan LAB HB : 12 g/dl, Golda B+, Protein urine : negatif,
Albumin : negatif, Hbsag, Shypilis dan HIV : non reaktif. Ibu
diberikan vitamin tablet tambah darah diminum 1x1 saat malam hari.
Ibu diberikan KIE nutrisi, KIE pola istirahat, personal hygine, tanda
bahaya kehamilan dan ketidaknyamanan kehamilam
c. Trimester 3
Ibu periksa kehamilan sebanyak 2 kali 1 kali dengan bidan dan 1 kali
dengan dokter untuk USG serta tidak ada keluhan. Hasil USG Uk 38
minggu BPD 9,27 cm Afg, Gestasions 1, Fl 6,91 cm Avg, Fetal weight
3,172 gram, letak kepala, plasenta di fundus, ketuban [Link]
melanjutkan vitamin yang diberikan yaitu tablet tambah darah
diminum 1x1 saat malam hari. Ibu diberikan KIE nutrisi, KIE pola
istirahat, personal hygine, tanda-tanda persalinan, P4K atau persiapan
persalinan.
6. Riwayat Obstetri
Anak Umur JK BBL Jenis Penolong Keadaan Tempat
ke Anak Persalinan Anak Persalinan
1 Hamil Ini
7. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan kontrasepsi dan belum
berencana menggunakannya
8. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi makanan atau obat, tidak
sedang menderita penyakit menurun (darah tinggi, asma, dan
kencing manis), penyakit menahun (jantung, ginjal) dan penyakit
menular seperti (HIV/AIDS, penyakit kuning dan menular
seksual), tidak ada keturunan kembar. Selain itu ibu mengatakan
tidak pernah demam >38 c, Flu, diare dan tidak pernah dirawat
dirumah sakit atau puskesmas.
b) Riwayat Kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah mempunyai riwayat alergi makanan
atau obat, tidak pernah menderita penyakit menurun (darah tinggi,
asma, dan kencing manis), penyakit menahun (jantung, ginjal) dan
penyakit menular seperti (HIV/AIDS, penyakit kuning dan
menular seksual) serta tidak ada keturunan kembar
9. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita
penyakit menurun (darah tinggi, asma, dan kencing manis), penyakit
menahun (jantung, ginjal) dan penyakit menular seperti (HIV/AIDS,
penyakit kuning dan menular seksual) serta tidak ada keturunann
kembar
10. Pola Kehidupan Sehari-hari
Pola Sebelum Hamil Selama Hamil Keluhan
Nutrisi Makan : 2-3x sehari Makan : 3x sehari porsi Tidak
porsi sedang dengan sedang dengan menu yang ada
menu berbeda yaitu (1 berbeda-beda setiap hari (1
centong nasi, 2-4 centong nasi, 2-3 potong
potong tahu/tempe, 1 tahu/tempe, 1 butir telor,
butir telor, atau 1 atau 1 potong ayam, dan 3-
potong ayam, dan 3-4 4 sendok sayur dan buah
sendok sayur dan jarang).
buah jarang). Minum : 7-8 gelas
Minum : 5-6 gelas Ibu makan terakhir Pukul
21.00 WIB porsi sedang
yaitu nasi, tahu/tempe dan
sayur
Minum terakhir pukul
01.30 WIB
Eliminas BAK : 3–4 kali BAK : 6-7 kali Tidak
i BAB : 1 hari sekali BAB : 1 hari sekali ada
Personal Mandi 2x sehari, Mandi 2x sehari, gosok Tidak
hygiene gosok gigi 2x, ganti gigi 2x, ganti pakaian luar ada
pakaian luar 1 kali, 2 kali, ganti pakaian dalam
ganti pakaian dalam 2x
2x
Istirahat Tidur malam jam Tidur siang sekitar 1 – 2 Tidak
dan tidur 22.00/23.00-05.00 jam, tidur malam jam ada
WIB 21.00/22.00– 05.00 WIB
Aktivitas Melakukan kegiatan Melakukan kegiatan Tidak
rumah tangga seperti rumah tangga seperti ada
mencuci, mengepel, mencuci, mengepel,
menyapu memasak menyapu memasak dll dan
dll. biasanya dibantu oleh
orangtua atau suami
Pola 2 -3x seminggu 3-4x sebulan Tidak
seksual ada
11. Psikologis, Sosial, Spiritual, Budaya
a) Psikologi
(1) Ibu, suami dan keluarga cemas dan khawatir
(2) Ibu dan keluarga menanyakan tentang keadaannya saat ini
(3) Keluarga selalu mendampingi ibu
b) Social
Hubungan ibu dan suami dalam keluarga, kerabat serta tetangga
dalam keadaan baik
c) Budaya
Ibu mengatakan dalam keluarga ibu tidak ada budaya yang
membahayakan ibu dan janin seperti pijat oyok, jamu. Ibu juga
tidak merokok dan mengkonsumsi minuman mengandung
alkohol
3.2 Data Objektif
1. Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
2. Antropometri
TB : 159 cm
BB sebelum hamil : 58 kg
BB sekarang : 61 kg
LILA : 26 cm
3. TTV
TD : 106/86 mmHg
RR : 20x/menit
N : 86x/menit
S : 36,5º C
4. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Wajah : tidak oedema, tidak tampak pucat, tidak ada
cloasma gravidarum
Mata : kedua mata simetris, konjungtiva tampak sedikit
pucat, sclera putih
Mulut : bibir lembab, tampak pucat, tidak ada sariawan
Gigi : terdapat karies gigi geraham bawah satu sebelah
kanan
Payudara : simetris, areola kehitaman, puting susu menonjol
Perut : tidak ada bekas luka operasi, tampak linea nigra
Palpasi
Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid, tidak
ada pembesaran kelenjar limfe, dan tidak ada
pembesaran vena jugularis
Payudara : tidak nyeri tekan, tidak teraba benjolan, ASI-/-
Abdomen : tampak linea nigra, strie alba, tidak ada bekas SC
Leopold 1
Pada bagian fundus teraba lunak, tidak melenting,
kesan bokong, 3 jari bawah PX
Leopold 2
Pada perut kanan ibu teraba keras, memanjang
seperti papan (punggung kanan) dan pada perut kiri
ibu teraba bagian kecil kecil janin
Leopold 3
Pada perut bawah ibu teraba bulat, melenting dan
tidak dapat di goyangkan
Leopold 4
Divergen (Sebagian masuk PAP)
TFU : 32 cm
TBJ : (32-11)x155 = 3.255 gram
Auskultasi
DJJ 158 x/m
Ekstermitas bengkak pada kedua kaki, tidak terdapat varises,
refleks patella positif +/+
Pemeriksaan dalam Pukul 01.20 WIB oleh Bidan
Vulva/Vagina : lendir
Pembukaan : seujung
EFF : <25%
Ketuban : (-) Jernih, Kertas lakmus positif
Tidak teraba bagian berdenyut disekitar bagian terdahulu
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan penunjang tanggal 18 Juni 2025
pmx lab (day/month/years) dl lab :
HEMATOLOGI
Darah lengkap
- Hb 12 g/dL
- Leukosit 6.970 /mm3
- Hematokrit 37.8 %
- Trombosit 335,000 /mm3
- Eritrosit 4.20mm6
- MCV 90,0 fl
- MCH 28,6pg
- MCHC 31,7%
- Eosinofil 3,2 %
- Basofil 0,6 %
- Neutrofil 69,1%
- Limphosit 19,8 %
- Monosit 7,3%
- IG% 0,4%
FH (RJ)
- PPT 9,0 c : 10,5detik
- APTT23,0 C : 26,2 detik
INR 0,80-
Kimia klinik
- GDA 96 mg/dL
- Albumin 3.2
- HBS Ag Device (-)
Imuno-serologi - Rapid Anti-HIV
R1 : ARKAN → Non reaktif
URINE LENGKAP (DAY/MONTH/YEARS)
Bj 1.020-
pH6.0-
Nitrit -
Protein -
Glukosa normal
Keton -
Urobilin normal
Bilirubin -
Sedimen ery 0-2 plp
Leko 8-10plp
Cylind -
Epithel10-15 plp
Bact +
Cryst +
Lain-lain _
ISK
USG (07/06/2025)
AFI : cukup
Letak plasenta : Plasenta Fundus
EFW :3.172gr
Pemeriksaan NST tanggal 18-06-2025
DJJ berada diatas normal dengan rata-rata 162-167 x/m
HIS Tidak ada
Gerakan Janin saat NST 4 kali
3.3 Assesment
G1P0000 39/40mgg + THIU + KPP <6 jam + Fetal Takikardi + ISK
3.4 Plan
Tanggal Tatalaksana Petugas
dan Jam
18/06/2025 Melakukan pendekatan dengan ibu dengan menyapa, Mahasiswa
01.15 WIB senyum dan sapa jika ingin melakukan pemeriksaan, S
pengkajian atau tindakan; ibu terbuka dengan Bidan Y
menjawab segala pertanyaan yang diajukan
Ponek
01.25WIB Memberikan informed consent MRS, pemeriksaan Mahasiswa
dalam pemeriksaan laboratorium (hematologi, kimia S
klinik, dan urine lengkap) medis, pemberian obat Bidan Y
sesuai advis dokter ; ibu telah mengerti dan bersedia
Ponek
tanda tangan pada lembar informed consent
01.35 WIB Melakukan pemeriksaan dengan kertas lakmus untuk Mahasiswa
mengetahui pengeluaran cairan apakah ketuban atau S
bukan; kertas lakmus berubah warna menjadi biru Bidan Y
(+)
Ponek
01.45 WIB Memberikan KIE tentang kondisi pasien saat ini
bahwa ibu mengalami ketuban pecah prematur yang
dapat membahayakan kondisi janin dalam Mahasiswa
kandungan sehingga diperlukan pemeriksaan lebih S
lanjut menggunakan alat NST untuk mengetahui
kondisi janin saat ini ; ibu bersedia dan telah Bidan Y
dilakukan pemeriksaan NST dengan hasil DJJ
berada diatas normal dengan rata-rata 162-167 x/m,
HIS Tidak ada, gerakan Janin saat NST 4 kali
01.55 WIB Melakukan pemasangan oksigen pada ibu ; telah
dipasang oksigen 3 lpm
02.00 WIB Melakukan Kolaborasi dengan DPJP obgyn :
Cek Laboratorium (Hematologi, kimia klinik, urine
lengkap)
Cefradoxil 2x1 tab
Evaluasi pembukaan jika tidak terdapat kemajuan
SC ronde 2
02.10 WIB Menjelaskan kepada ibu, suami dan keluarga tentang
rencana operasi seksio sesarea yang akan dilakukan
pada ibu dengan memberikan informend consent SC
dan KB ; ibu, suami dan keluarga bersedia
menandatangani inromed cinsent SC akan tetapi ibu
menolak untuk dilakukan pemasangan KB pasca SC
02.20 WIB Melakukan kolaborasi dengan dokter anastesi untuk
rencana opreasi SC Ny Siti Ronde 2 dengan advis ;
Acc SC
Infus Rl 21 Tpm
Puasakan
02. 25 WIB Menganjurkan ibu untuk puasa makan 8 jam dan
puasa minum 4 jam; ibu bersedia dan sudah mulai
puasa
02.38 WIB Menyiapkan alat dan bahan untuk mengambil darah Mahasiswa
ibu secara intravena ; telah dilakukan pengambilan S
darah dan sudah dikirm ke laboratorium medis Bidan Y
02.45 WIB Memindahkan pasien dari ruang ponek ke VK Mahasiswa
dengan persiapan yaitu rekam medis pasien disertai S
hasil pemeriksaan tanda-tanda vita, pemeriksaan Bidan Y
dalam, pemeriksaan NST, buku KIA, dan obat-
obattan ; pasien telah dipindah ke ruang Vk
02.45 WIB Memfasiltasi keluhan, observasi TTV dan kebutuhan Mahasiswa
ibu seperti membantu mengambil barang jika ada S
keluarga yang membawa, dan memberikan Bidan Y
dukungan emosional ; ibu merasa senang karena
sudah dibantu dan diberikan dukungan
02.50 WIB Menganjurkan ibu untuk tidur miring kiri agar Mahasiswa
kebutuhan oksigen bayi terpenuhi ; ibu bersedia S
untuk miring kiri Bidan Y
03.00 WIB Memberikan cefradoxil 2x1 tab pukul 03.00 WIB Mahasiswa
secara oral S
Bidan Y
05.00 WIB Melakukan evaluasi pembukaan dengan hasil Mahasiswa
Vulva/Vagina : lendir S
Pembukaan : seujung (tetap) Bidan Y
EFF : <25%
Ketuban : (-) Hijauh
05.05 WIB Melakukan kolaborasi dengan dokter anak untuk SC Mahasiswa
ronde 2 ; acc S
Bidan Y
05.15 WIB Menghubungi ruang NICU untuk Inden SC ronde 2 Mahasiswa
pagi ini ; telpon telah diterima oleh bidan C yang
shif malam Bidan Y
05.20 WIB Mendaftar OK melalui KRU ; telah dilakukan Mahasiswa
pendaftaran OK ronde 2 Bidan Y
07. 30 WIB Melakukan Pemeriksaan TTV, dan DJJ pada Ny siti Mahasiswa
untuk dikirm ke OK dengan hasil : Bidan Y
TV
TD : 106/86 mmHg
RR : 20x/menit
N : 86x/menit
S : 36,5º C
DJJ : 157 x/m
His : tidak ada
08.00 WIB Pasien telah dikirim ke OK Mahasiswa
Bidan Y
08.10 WIB Melakukan timbang terima di ruang OK dengan Mahasiswa
melampirkan berkas :
1. Hasil pemeriksaan laboratorium (terlampir) Bidan Y
2. Informed conset SC (terlampir)
3. Infus terpasang pukul 05.45 WIB hari ini baru
masuk 1 botol sisa 300 cc
4. Informed consent (terlampir)
CATATAN PERKEMBANGAN I
Tgl/Jam Tempat SOAP Petugas
18/06/25 Al-Aqsha 4 S
19.00 WIB ibu mengatakan nyeri pada luka jahitan bekas
operasi, ibu sudah bisa miring kiri dan kanan
O
U : Baik, Kesadaran : komposmentis, TD :
110/88 mmHg, N : 96x/mnt, S : 36,2°C, RR : 20
x/mnt, Spo2 :99% , TFU setinggi pusat, kontraksi
uterus keras, pengeluaran lochea rubra
A
P1001, post SC <7jam a.i KPP<10 jam + Fetal
Takiakardi + ISK
19.10 WIB P
Mennjelaskan pada ibu dan keluarga bahwa nyeri
yang dirasakan ibu adalah hal yang normal karena Mahasiswa
hilangnya efek dari bius dan mengajarkan ibu
teknik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri ; Ibu
memahami penjelasan yang diberikan mengenai Bidan S
rasa nyeri yang dirasakan, dan ibu melakukan
teknik relaksasi dan nyeri berkurang
19.15 WIB Menganjurkan pasien untuk berbicara dengan
bayi atau keluarga, menyusui bayi, dan menarik
napas panjang untuk mengurangi rasa nyeri yang
dialami ; ibu mengerti dan keluarga bersedia
19.25 WIB Menganjurkan ibu untuk mobilisasi bertahap
yaitu miring kiri, miring kanan, belajar duduk di
berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk
memperlancar peredaran darah, mencegah
kekakuan sendi dan otot dan mempercepat proses
penyembuhan ; ibu bersedia untuk mobilisasi
bertahap
19.32 WIB Memberikan ibu KIE tentang tanda bahaya masa
nifas yaitu demam tinggi >38 C, bengkak wajah,
tangan muka, perdarahan, nyeri perut hebat,
pandangan kabur, keluar cairan berbau busuk dari
kemaluan dan bayi baru lahir yaitu demam >38 C,
tidak mau menyusui, memuntahkan ASI yang
diminum dan kejang ; ibu mengerti tentang
penjelasan tanda bahaya masa nifas dan bayi baru
lahir serta dapat menyebutkan
19.40 WIB Menganjurkan ibu menjaga personal hyginenya
dengan sering mencuci tangan, menganti
pembalut setiap 4 jam sekali, ganti pakaian luar 2
kali sehari, gosok gigi 3 kali, mencuci kemaluan
dari arah depan ke belakang ; ibu bersedia
melakukan anjuran yang diberikan
CATATAN PERKEMBANGAN II
Tgl/Jam Tempat SOAP Petugas
19/06/25 Al-Aqsha 4 S
15.00 WIB ibu mengatakan nyeri luka jahitan bekas operasi,
sudah bisa miring kiri dan kanan, sudah bisa
duduk dan ASI keluar sedikit
O
KU/baik, Kesadaran Composmentis, TD10/88
mmHg, N : 96x/mnt, S : 36,2°C, RR : 20 x/mnt,
Spo2 :99% , TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi
uterus keras, lochea rubra, ASI keluar sedikit
A
P1001, post SC hari pertama a.i KPP<10 jam +
Fetal Takiakardi + ISK
15.05 WIB P Mahasiswa
Memberitahu ibu hasil pemeriksaan TTV dalam Bidan N
batas normal dan ibu dalam keadaan baik ; ibu
mengetahui kondisinya
15.10 WIB Mengingatkan ibu untuk tetap makan makanan
yang bergizi, tinggi protein seperti daging,
kacang-kacangan, telur, ataupun susu, dan sedikit
demi sedikit mengkonsumsi sayuran agar dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan
mengkonsumsi makanan yang diberikan oleh RS
serta minum 1-2 liter perhari ; ibu bersedia makan
dan minum sesuai dengan anjuran
15.15 WIB Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayi
walaupun ASI keluar sedikit untuk meransang
produksi agar; ibu bersedia menyusui bayi
15.21 WIB Memberikan pendidikan kesehatan mengenai ASI
eksklusif dan teknik menyusui yang benar ; ibu
mengerti tentang penjelasan yang diberika
15.27 WIB Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui kapan
saja tidak ada batasan waktu, minimal 2 jam
sekali dan kitika bayi ingin menyusui ; ibu
mengerti dan akan sering menyusui bayinya
15.32 WIB Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI
Esklusif sampai 6 bulan tanpa tambahan makanan
maupun minuman apapun ; ibu memahami
penjelasan yang diberikan
15.39 WIB Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sampai
payudara terasa kosong, lalu pindah ke payudara
sisi yang lain. Bila bayi sudah kenyang dan
payudara masih terasa penuh maka kosongkan
dengan cara diperah ; ibu mengerti tentang
penjeasan yang diberikan
CATATAN PERKEMBANGAN III
Tanggal/Jam Ruangan SOAP Petugas
20/06/2025 Al-Aqsha 4 S:
15.00 WIB Ibu mengatakan ASI masih keluar sedikit, sudah
bisa miring kiri dan kanan, sudah bisa duduk dan
berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil,
ibu sudah buang air besar hari ini 1 kali.
O:
KU : Baik, Kesadaran : komposmentis, TD :
110/80 mmHg, N : 88x/mnt, S : 36,5°C, RR : 22
x/mnt, Spo2 :99% , TFU 2 jari bawah pusat,
kontraksi uterus keras, lochea rubra, ASI keluar
sedikit
A:
P1001, post SC hari kedua a.i KPP<10 jam +
Fetal Takiakrdi + ISK
P:
Memberitahu ibu hasil pemeriksaan TTV dalam
15.20 WIB batas normal ; ibu mengetahui kondisinya saat
ini
Memberitahu ibu dan mengajarkan ibu tentang
perawatan payudara dan pijat oksitosin di rumah
untuk memperlancar produksi ASI dan
15.30 WIB membersihkan puting; ibu dan suami bersedia
untuk dilakukan perawatan payudara dan bisa
melakukannya sendiri Mahasiswa
Memberitahu ibu dan keluarga tentang
perawatan bayi sehari-hari dirumah yaitu seperti Bidan A
15. 40 WIB memandikan bayi, menjemur bayi, merawat tali
pusat dengan kasa kering, dan menganti popok ;
ibu mengerti tentang perawatan bayi sehari-hari
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
dengan tidur siang 1-2 jam dan tidur malam
kurang lebih 8 jam dan jika bayi tidur maka ibu
15.55 WIB juga ; ibu bersedia untuk menjaga pola istirahat
dirumah
Menganjurkan ibu untuk menunda hubungan
seksual sampai dengan masa nifas 40 hari dan
segera menggunakan alat kontrasepsi ;ibu
16.05 WIB mengerti dan akan konsultasi ke bidan terkait
dengan kontrasepsi
Memberikan KIE kepada ibu tentang alat
kontrasepsi jangka panjang yaitu IUD, implant
16. 20 WIB dan MOW ; ibu telah mengetahui tentang
kontrasepsi jangka panjang
Memberitahu ibu untuk tidak melakukan
aktivitas berat ataupun mengangkat beban berat
16.35 WIB dirumah ; ibu dan suami mengerti dan bersedia
Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang kembali
ke rumah sakit 7 hari lagi dan melakukan
16. 40 WIB
perawatan luka operasi atau ganti perban di
BAB VI
UPAYA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA
(Pendekatan IDEAL: Identify, Define, Explore, Act, Look Back)
1.1 Identify (Mengidentifikasi Masalah)
Ny. S telah melahirkan, namun masih dalam masa nifas awal dengan risiko
pemulihan yang lambat karena riwayat KPP dan ISK. Keluarga juga belum
memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya pemenuhan gizi ibu nifas
dan peran ayah dalam pemberian ASI eksklusif.
1.2 Define (Mendefinisikan Masalah Utama)
Masalah utama yang dihadapi:
a. Rendahnya pengetahuan keluarga mengenai perawatan ibu nifas dan
bayi baru lahir.
b. Minimnya dukungan terhadap ibu dalam inisiasi menyusui dini dan
pemberian ASI eksklusif.
1.3 Explore (Menjelajahi Alternatif Solusi)
a. Edukasi tentang nutrisi dan istirahat ibu nifas.
b. Penyuluhan tentang tanda bahaya masa nifas dan neonatal.
c. Keterlibatan keluarga (terutama suami) dalam membantu perawatan bayi
dan ibu.
d. Pemberdayaan ayah dalam pemantauan ASI dan kebutuhan ibu.
1.4 Act (Melakukan Tindakan Nyata)
a. Melakukan edukasi kepada suami dan keluarga tentang pentingnya asupan
zat besi dan cairan selama menyusui.
b. Memberikan leaflet tentang perawatan payudara.
c. Mendorong ibu dan keluarga mencatat waktu menyusui dan BAK/BAK
bayi sebagai bentuk pemantauan.
BAB V
TELAAH ARTIKEL ILMIAH
1.1 Identitas Artikel
Judul : Ketuban Pecah Prematur dan tatalaksana
Nama Jurnal : Jurnal kedokteran syiah kuala
Penulis : MUH. Andalas
Tanggal Publikasi : 2019
1.2 Hasil Telaah Artikel
No. Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak Tidak
Diketahui
1. Apakah terdapat kesamaan dengan
baku emas?
Penjelasan :Ya. Penegakan diagnosis
dilakukan menggunakan standar
klinis, termasuk anamnesis,
pemeriksaan fisik, inspekulo, tes
Nitrazin, dan USG. Nitrazin test
adalah salah satu metode baku dalam
mendiagnosis Ketuban Pecah Dini
(KPD).
2. Apakah sampel subyek penelitian
meliputi spektrum penyakit dari yamg
ringan sampai yang berat, penyakit
yang terobati dan tidak dapat diobati?
Penjelasan: Tidak sepenuhnya. Studi
ini berupa laporan kasus tunggal,
bukan penelitian kohort atau uji
diagnostik dengan banyak subjek,
sehingga spektrum kondisi tidak
terlihat.
3. Apakah lokasi penelitian disebutkan
dengan jelas?
Penjelasan: Ya. Penelitian dilakukan
di RSUDZA (Rumah Sakit Umum
Daerah Zainoel Abidin) Aceh,
ditunjukkan melalui afiliasi penulis.
4. Apakah presisi uji diagnostik dan
variasi pengamatan dijelaskan?
Penjelasan: Sebagian. Disebutkan
sensitivitas/false positive dan false
negative dari Nitrazin test, namun
tidak ada data statistik presisi dari
kasus ini secara kuantitatif
5. Apakah istilah “normal” dijelaskan?
Penjelasan: Ya. Dijelaskan rentang pH
normal vagina (4,5–5,5) dan
perbedaan dengan cairan amnion (pH
7,0–7,5), untuk menjelaskan hasil
Nitrazin test.
6. Apabila uji diagnostik yang diteliti
merupakan bagian dari suatu uji
kelompok diagnostik, apakah
kontribusinya pada kelompok uji
diagnostik tersebut dijelaskan?
Penjelasan: Ya. Pemeriksaan
diagnostik dilakukan secara
kombinatif: anamnesis, inspekulo,
Nitrazin test, dan USG. Kontribusi
masing-masing metode dijelaskan
secara terpisah
7. Apakah cara dan teknik melakukan uji
diagnostik yang sedang diteliti
dijelaskan, sehingga dapat direplikasi?
Penjelasan: Sebagian. Deskripsi cukup
rinci tentang tes inspekulo, valsava,
dan Nitrazin test, tetapi tidak
dijelaskan prosedur langkah demi
langkah.
8. Apakah kegunaan uji diagnostik yang
sedang diteliti disebutkan?
Penjelasan: Ya. Tujuan uji diagnostik
disebutkan jelas untuk mendiagnosis
ketuban pecah dini secara dini dan
menentukan penatalaksanaan yang
tepat, termasuk keputusan untuk
tindakan seksio sesarea
BAB VI
PEMBAHASAN
Ny “S” usia 29 tahun G1P0000 UK 39-40 minggu, ibu datang ke rumah
sakit rujukan dari PKM dengan keluhan keluar cairan dari kemaluan banyak pada
pukul 00.00 tanpa disertai kenceng-kenceng. Hari Pertama Haid Terakhir ibu
adalah 17 September 2024. Dengan rumus Neagle, dapat diketahui bahwa hari
perkiraan lahir ibu adalah tanggal 24 Juni 2025. Terhitung dari HPHT sampai
dengan hari ini tanggal 17 Juni 2025 usia kehamilan ibu yakni 39-40 minggu. Ibu
mengatakan dari awal kehamilan sampai saat ini telah melakukan kunjungan
ANC ke fasilitas kesehatan sebayak 7 kali 2 kali dokter dan 5 kali dengan bidan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan TTV, keadaan umum ibu baik, kesadaran
komposmentis, tekanan darah 120/86 mmHg, nadi : 86 x/mnt, respirasi : 20 x/mnt,
suhu : 36,5ºC. Hasil TTV dalam batas normal. Pada pemeriksaan penunjang
pemeriksaan urine serta Bact + Cryst + Lain-lain _ ISK
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan salah satu masalah penting dalam
bidang obstetri yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada ibu dan bayi serta
dapat meningkatkan kesakitan dan kematian pada ibu dan bayi. Ketuban pecah
dini juga berkaitan dengan penyulit yang berdampak buruk terhadap kesehatan
dan kesejahteraan maternal maupun terhadap pertumbuhan dan perkembangan
janin intrauterin, sehingga hal tersebut dapat meningkatkan masalah kesehatan di
Indonesia (Rohmawati, 2019).
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya KPP. Salah
satu faktor utama adalah infeksi, baik infeksi saluran kemih (ISK), infeksi vagina,
maupun infeksi intrauterin seperti chorioamnionitis, yang dapat melemahkan
membran ketuban melalui pelepasan enzim perusak jaringan dan proses inflamasi.
Selain itu, riwayat ANC, riwayat KPP pada kehamilan sebelumnya juga
meningkatkan risiko kejadian serupa di kehamilan berikutnya. Kehamilan ganda
(seperti kembar dua atau lebih) juga menjadi faktor risiko karena peningkatan
tekanan intrauterin yang mempercepat peregangan dan pelemahan selaput ketuban
(Ayu, 2019).
Faktor lain yang berperan meliputi perdarahan pervaginam pada trimester
kedua atau ketiga, merokok selama kehamilan, serta status gizi ibu yang buruk,
terutama kekurangan vitamin C dan seng yang penting dalam menjaga kekuatan
jaringan kolagen pada membran ketuban. Trauma fisik atau prosedur invasif
seperti amniosentesis juga dapat meningkatkan risiko ketuban pecah prematur.
Selain itu, kelebihan cairan ketuban (polihidramnion) dan serviks yang lemah
(inkompetensi serviks) dapat menyebabkan tekanan berlebih pada kantung
ketuban, mempercepat pecahnya membran sebelum waktunya (Aryunita, 2020).
Selaput ketuban pada saat usia kehamilan diatas 37 minggu akan melemah.
Hal ini dapat disebabkan oleh adanya pembesaran uterus, kontraksi janin, dan
pergerakan janin. Pada usia kehamilan diatas 37 minggu juga akan terjadi
perubahan biokimia yang terjadi pada matriks ekstraseluler amnion, korion, dan
apotosis membran janin sehingga menyebabkan selaput ketuban menjadi mudah
pecah. Hal ini juga bisa disebabkan karena kurangnya asupan nutrisi pada saat
kehamilan dan kurang rutin untuk melakukan pemeriksaan ANC selama
kehamilan. Pemeriksaan ANC sangat penting selama kehamilan, guna untuk
mengetahui apabila terdapat faktor risiko yang dapat mencetus terjadinya KPD
sehingga hal tersebut dapat menurunkan risiko kejadian KPD (Maria, 2017)
KPD lebih sering terjadi pada kehamilan aterm (<37 minggu)
dibandingkan pada kehamilan preterm (>37 minggu). Penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu, Febrianti dan Octaviani (2019),
dengan hasil ada hubungan antara usia kehamilan terhadap kejadian KPD di RSIA
Sitti Khadijah 1 Makassar dengan nilai p (0,05) >(0,05). Begitu juga dengan
penelitian oleh Barokah dan Agustina (2021), yaitu dengan nilai p = 0.035 < 0.05
yang berarti ada pengaruh antara usia kehamilan dengan kejadian KPD
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu komplikasi yang sering
terjadi selama kehamilan dan dapat menimbulkan dampak serius apabila tidak
ditangani dengan baik. Salah satu komplikasi yang sering dikaitkan dengan ISK
adalah Ketuban Pecah Dini (KPD), yaitu kondisi pecahnya selaput ketuban
sebelum waktunya, baik sebelum atau sesudah usia kehamilan mencapai 37
minggu, namun sebelum tanda-tanda persalinan muncul. (Inamayrt, 2017)
Hubungan antara ISK dan KPD dapat dijelaskan melalui mekanisme
infeksi dan inflamasi. Ketika terjadi ISK, bakteri penyebab infeksi, seperti
Escherichia coli, dapat memicu respons imun tubuh yang menghasilkan zat-zat
peradangan seperti sitokin dan prostaglandin. Zat ini dapat merangsang pelepasan
enzim seperti metaloproteinase yang merusak kolagen pada membran ketuban,
sehingga menyebabkan membran menjadi lebih rapuh dan mudah pecah (safari,
2017)
Selain itu, infeksi dari saluran kemih juga dapat menyebar secara naik
(ascending infection) ke dalam rongga rahim dan menyebabkan infeksi membran
ketuban (chorioamnionitis), yang merupakan penyebab langsung dari ketuban
pecah sebelum waktunya. Risiko ini meningkat apabila ISK tidak segera dideteksi
dan diobati, terutama pada ibu hamil dengan daya tahan tubuh yang menurun.
Oleh karena itu, deteksi dini ISK melalui skrining urin selama kehamilan sangat
penting, meskipun ibu hamil tidak merasakan gejala. Pencegahan KPD dapat
dilakukan dengan menjaga kebersihan saluran kemih, memenuhi kebutuhan cairan
tubuh, serta memberikan terapi antibiotik yang sesuai pada kasus ISK. Dengan
penanganan yang tepat, risiko terjadinya KPP akibat ISK dapat diminimalkan,
sehingga kehamilan dapat berlangsung lebih aman dan optimal hingga waktu
persalinan.
Berdasarkan dari hasil pemeriksaan dokter menyarankan untuk dilakukan
pemasangan infus, evaluasi pembukaan jika tidak terjadi penambahan pembukaan
maka akan dilakukan tindakan persalinan dengan seksio sesar dan pemberian
cefadroxil 2x1 tablet.
Ketuban yang merembes berwarna hijau menunjukkan adanya
kontaminasi mekonium dalam cairan ketuban, yang sering kali menjadi indikator
awal terjadinya fetal distress. Dalam kondisi ini, evaluasi cepat terhadap kondisi
janin sangat penting, terutama melalui pemantauan denyut jantung janin dengan
kardiotokografi (CTG). Apabila ditemukan tanda-tanda gawat janin, seperti
bradikardia, deselerasi variabel yang berulang, atau variabilitas denyut jantung
yang menurun, maka tindakan seksio sesarea harus segera dilakukan tanpa
menunggu persalinan berlangsung secara spontan. Bahkan tanpa tanda gawat
janin sekalipun, ketuban yang merembes dalam waktu lebih dari 12–18 jam
meningkatkan risiko infeksi intrauterin (korioamnionitis), sehingga tindakan
operasi juga perlu dipertimbangkan, terutama jika serviks belum membuka atau
persalinan tidak menunjukkan kemajuan. Oleh karena itu, ketuban hijau yang
merembes, khususnya dalam kehamilan cukup bulan, menjadi kondisi yang
menuntut pengambilan keputusan cepat untuk menyelamatkan janin dan
mencegah komplikasi lebih lanjut (Puspitasari, 2019).
Pasien diberikan antibiotik Cefadroxil, yang merupakan antibiotik
golongan sefalosporin generasi pertama. Pemberian antibiotik ini bisa berkaitan
dengan profilaksis infeksi pasca operasi atau adanya indikasi infeksi pada ibu,
seperti ketuban pecah dini (KPD) atau infeksi saluran kemih. Cefadroxil efektif
terhadap bakteri gram positif dan sebagian gram negatif, dan sering digunakan
dalam konteks obstetri untuk mencegah atau mengatasi infeksi ringan sampai
sedang (safari, 2017). Sehingga berdasrkan penatalaksanaan diatas maka sesuai
dengan teori dan kondisi ibu saat ini.
Berdasarkan data-data yang terkumpul dalam pengkajian dan pemeriksaan
meliputi inspeksi, palpasi dan auskultasi ditemukan adanya masalah pada Ny. S
yaitu ketuban pecah prematur, dan ISK. Dengan demikian kehamilan Ny. S
merupakan kehamilan yang membutuhkan pertolongan segera dengan melakukan
kolaborasi dengan dokter spesialis osbtetri dan ginekologi serta tetap dilakukan
observasi.
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pengkajian pada Ny. S didapatkan data bahwa ibu
berusia 29 tahun dan ini merupakan kehamilan pertama. Keluhan keluar
cairan dari kemaluan banyak pada pukul 00.00 tanpa disertai kenceng-
kenceng. Hari Pertama Haid Terakhir ibu adalah 17 September 2024. Dengan
rumus Neagle, dapat diketahui bahwa hari perkiraan lahir ibu adalah tanggal
24 Juni 2025. Dari data yang ada telah dilakukan analisa sesuai keadaan klien
dengan diagnosa G1P0000 39/40mgg + THIU + Letjur + Preskep+ KPP <6
jam + IS. Adapun penatalaksanaan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan
pasien.
7.2 Saran
7.2.1 Bagi Bidan
Bidan diharapkan memahami konsep dasar dari suatu kasus
kompleks sehingga dapat melakukan manajemen asuhan yang
komprehensif sehingga dapat mengatasi masalah yang dihadapi pasien
saat ini serta mencegah terjadinya perburukan kondisi pasien.
7.2.2 Bagi Instansi Kesehatan
Agar lebih meningkatkan pelayanan dalam menangani kasus
persalinan fisiologis maupun patologis, baik dari segi sarana prasarana
maupun tenaga kesehatan yang ada.
7.2.3 Bagi Institusi Pendidikan
Agar lebih meningkatkan mutu pendidikan dalam proses
pembelajaran baik teori maupun praktek. Agar mahasiswa dapat
meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang teori-teori persalinan
fisiologis maupun patologis sehingga mahasiswa mempunyai bekal
yang mumpuni ketika ada di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. 2021. Frequently Asked Questions Preterm Labor and Birth
[Link]
Hodnett, E. D., Gates, S., Hofmeyr, G. J., & Sakala, C. (2013). Continuous
support for women during childbirth. Cochrane Database of Systematic
Reviews, 2013(7), CD003766.
[Link]
Hwang, H., S., et al. (2015). Practice patterns in the management of threatened
preterm erm labor in Korea: A multicenter retrospective study. Obstetrics &
gynecology science, 58(3), 203-209.
[Link]
Icesmi Sukarni K, Margareth ZH, 2013. Kehamilan, Persalinan, dan Nifas.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Nugroho, Taufan. 2017. Buku Ajar Asuhan Kebidanan I (Kehamilan).
Yogyakarta: Nuha Medika.
Rahayu B. Hubungan Faktor-Faktor Usia Ibu, Paritas, Umur Kehamilan, Dan
Over Distensi Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Di Rumah Sakit
Yogyakarta. Media Ilmu Kesehat. 2018;7(2):137–42.
Puspita DF, Novianty K, Rahmadini AF. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini
Pada Ibu Bersalin Di BPM Sri Puspa Kencana, [Link]. di Kabupaten Bogor.
Keywords Qual Methods. 2021;2(1):1–10.
Rohmawati N, Fibriana IA. Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Umum Daerah
Ungaran. Higeia J Public Heal Res Dev. 2018;2(1):23–32.
Maria A, Sari USC. Hubungan Usia Kehamilan dan Paritas Ibu Bersalin dengan
Ketuban Pecah Dini. J Vokasi Kesehat. 2016;II(1):10–6. Aryunita. Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini pada Ibu Bersalin di
Rumah Bersalin
Novida Efrianti Str, Keb. 2020;8(4):630–2. Inamyart, M., & Supriyatiningsih.
(2017). “Hubungan Faktor risiko infeksi Saluran kemih dan faktor Risiko
paritas terhadap kejadian Ketuban Pecah Dini di RSKIA Sadewa.” Jurnal
Kebidanan 04, 4–5.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman pelayanan
antenatal terpadu. Direktorat Gizi Masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil kesehatan Indonesia
tahun 2022. Pusat Data dan Informasi Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia
tahun 2022 (edisi revisi). Kementerian Kesehatan RI.
Lazarov. (2016). Complications Of Multiple Pregnancies. Overwiew. Trakia
Journal of Sciences, No 1, pp.108-111,
National Institute for Health and Care Excellence. (2021). Intrapartum care for
healthy women and babies. [Link]
Oxorn, Harry dan William R. (2010). Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi
Persalinan. Yogyakarta: C.V Andi Offse t.
World Health Organization. (2023). Maternal mortality.
[Link]
Yadeta, T. A., Worku, A., Egata, G., et al. (2020). Maternal anemia and its effect
on progression of labor and delivery outcomes: A prospective cohort study.
BMC Pregnancy and Childbirth, 20, 229. [Link]
020-02895-9