BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Otonomi Daerah
2.1.1. Definisi Otonomi Daerah
Otonomi daerah adalah keleluasan dalam hak dan wewenang serta
kewajiban dan tangung jawab badan pemerintahan daerah untuk mengatur dan
mengurus rumah tangganya sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerahnya
sebagai wujud dari manifestasi desentralisasi atau devolusi. Senada dengan hal
tersebut, menurut Kaloh (dalam Ferizaldi, 2016) bahwa inti dari pelaksanaan
otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan pemerintahan daerah
(discreationary power) untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar
prakarsa, kreativitas, dan peran aktif masyarakat dalam mengembangkan dan
memajukan daerahnya. Mas’ud Said (dalam Ferizaldi, 2016) menegaskan bahwa
tahap paling akhir dari otonomi daerah adalah perkembangan dan kemampuan
keuangan daerah, dan di Indonesia kemampuan keuangan daerah diukur dengan
Pendapatan Asli Daerah (PAD). APBD merupakan faktor penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan di daerah. terdapat tiga dimensi berkenaan dengan
pentingnya pengelolaan keuangan daerah, yaitu a) dimensi kebijaksaaan yakni
bahwa pengendalian keuangan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi
kehidupan penduduk daerah, sehingga kebijakan yang ditempuh dapat
menyebabkan kemakmuran atau sebaliknya kelemahan dapat membawa kejatuhan
bagi penduduk daerah. Selanjutnya b) dimensi kepandaian mengendalikan,
maksudnya bahwa kepandaian mengendalikan keuangan daerah yang baik dapat
10
11
mengarahkan kebijaksanaan untuk melindungi dan memperbesar harta daerah, dan
c) dimensi anggaran, artinya anggaran adalah alat utama pada pengendalian
keuangan daerah, sehingga rencana anggaran yang diperhadapkan pada legislatif
di Indonesia haruslah tepat agar tidak menimbulkan kekurangan atau kerugian
bagi daerah tersebut.
2.2. Definisi Pendapatan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mendefinisikan pendapatan
sebagai semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah
ekuitas dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah
dan tidak perlu dibayar Kembali oleh pemerintah. Secara umum pendapatan
dapat dipahami sebagai hak pemerintah daerah yang menambah kekayaan bersih
yang terjadi akibat transaksi masa lalu. Pendapatan pemerintah daerah berbeda
dengan penerimaan pemerintah daerah. Penerimaan daerah adalah semua jenis
penerimaan kas yang masuk ke rekening kas daerah baik yang murni berasal dari
pendapatan daerah maupun dari penerimaan pembiayaan.
2.3. Pendapatan Asli Daerah
Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Pasal 1 menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah
pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menurut Halim (2007) PAD adalah
12
penerimaan daerah yang diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri
yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan
perundangan-undangan yang berlaku. Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 Pasal 3 menyatakan bahwa PAD bertujuan memberikan kewenangan
kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai
dengan potensi Daerah sebagai perwujudan Desentralisasi. Berdasarkan tujuan
tersebut dapat disimpulkan bahwa PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah
semata-mata ditujukan untuk pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah
agar hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Artinya,
semakin besar dana PAD yang diperoleh oleh daerah akan sebanding dengan laju
pembangunan di daerah tersebut.
2.3.1. Sumber Pendapatan Asli Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Pasal 6 mengatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), bersumber
dari : pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.
1. Pajak daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, Pajak Daerah, yang
selanjutnya disebut dengan Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah
yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
13
langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Menurut (Suwarno Dan Suhartiningsih, 2008), pajak
daerah berpotensi terus digali dalam rangka menambah pendapatan
daerah. Sumber pendapatan pajak lokal memberikan kontribusi signifikan
bagi pendapatan daerah. Berdasarkan Undang-undang No.28 tahun 2009,
jenis pajak daerah terdiri dari pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota.
1) Jenis pajak provinsi yaitu :
a. Pajak Kendaraan Bermotor
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
d. Pajak Air Permukaan
e. Pajak Rokok
2) Jenis pajak kabupaten/kota yaitu :
a. Pajak Hotel
b. Pajak Restoran
c. Pajak Hiburan
d. Pajak Reklame
e. Pajak Penerangan Jalan
f. Pajak Mineral Bukan Logam Dan Batuan
g. Pajak Parkir
h. Pajak Air Tanah
i. Pajak Sarang Burung Walet
j. Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan
14
k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.
2. Retribusi Daerah
Selain pajak daerah, sumber pendapatan dearah yang cukup besar
perannya dalam menyumbang pada terbentuknya pendapatan asli daerah
adalah retribusi daerah. Retribusi Daerah Menurut Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas
jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
Badan. Retribusi daerah dibagi menjadi 3 jenis, yang terdapat dalam UU
No. 28 tahun 2009, yaitu Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan
Retribusi Perizinan Tertentu.
1. Jasa Umum
a. Retribusi pelayanan kesehatan
b. Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan
c. Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta
catatan sipil
d. Retribusi pemakaman dan Pengabuan Mayat
e. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum
f. Retribusi Pelayanan Pasar
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
j. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang
15
k. Retribusi Penyedotan Kaskus
l. Retribusi Pengolahan Limbah Cair
m. Retribusi Pelayanan Pendidikan
n. Retribusi Pengendalian Menara Komunikasi.
2. Jasa Usaha
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan
c. Retribusi Tempat Pelelangan
d. Retribusi Terminal
e. Retribusi Tempat Khusus Parkir
f. Retribusi Tempat Penginapan/ Persinggahan/Villa
g. Retribusi Rumah Potong Hewan
h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhan
i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
j. Retribusi Penyeberangan di Air, dan
k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.
3. Perizinan Tertentu
a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan
b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Berakohol
c. Retribusi Izin Gangguan
d. Retribusi Izin Trayek, dan
e. Retribusi Izin Usaha Perikanan
16
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Penerimaan PAD lainnya yang menduduki peran penting setelah pajak
Daerah dan retribusi Daerah adalah bagian pemerintah daerah atas laba
BUMD. Tujuan didirikannya BUMD adalah dalam rangka penciptaan
lapangan kerja atau mendukung pembagunan ekonomi daerah setelah itu,
BUMD juga membantu dalam melayani masyarakat dan merupakan salah
satu sumber penerimaan daerah. . Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan ini mencakup yaitu:
a. Bagian laba atas penyertaan modal pada Perusahaan Milik Daerah/
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
b. Bagian laba atas penyertaan modal pada Perusahaan Milik
Pemerintah/ Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
c. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta
atau kelompok usaha masyarakat.
4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Hasil suatu pendapatan daerah adalah berasal dari pendapatan asli daerah.
Dana yang bersumber dari pendapatan asli daerah tersebut merupakan
satu diantara fakor penunjang dalam melaksanakan kewajiban daerah
untuk membiayai belanja rutin serta biaya pembangunan daerah. Dan juga
merupakan alat untuk memasukan uang sebanyak-banyaknya ke kas
daerah guna menunjang pelaksanaan pembangunan daerah, serta untuk
mengatur dan meningkatkan kondisi sosial ekonomi pemakai jasa
17
tersebut. Tentu dalam hal ini tidak terlepas dari adanya badan yang diberi
tugas untuk mengatur hal tersebut. Menurut Undang-Undang No. 33
Tahun 2004, Pasal 6 Lain-lain PAD yang sah meliputi :
1. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan
2. Jasa giro
3. Pendapatan bunga
4. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan
dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah.
2.4. Definisi Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran dari bendahara pengeluaran atau
bendahara umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode
tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh kembali pembayarannya
oleh Pemerintah (Ritonga & Suhartono, 2012:47) . Berdasarkan Standar
Akuntansi Pemerintahan, belanja daerah dapat didefinisikan sebagai semua
pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dalam
periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh Pemerintah Daerah. Belanja dapat dipahami sebagai kewajiban
Pemerintah Daerah yang mengurangi kekayaan bersih yang terjadi akibat
transaksi masa lalu. Namun dalam hal ini perlu dipahami bahwa belanja daerah
berbeda dengan pengeluaran daerah. Tidak semua pengeluaran yang dilakukan
Pemerintah Daerah yang menyebabkan berkurangnya kas di rekening Kas Umum
18
Daerah dikategorikan sebagai belanja. Namun setiap belanja merupakan
pengeluaran Pemerintah Daerah. Pengeluaran Pemerintah Daerah dapat berupa
belanja atau bisa juga merupakan pengeluaran pembiayaan. Kedua jenis
pengeluaran ini baik belanja daerah maupun pengeluaran pembiayaan sama-sama
membutuhkan bukti pengeluaran kas. Perbedaannya adalah untuk pengeluaran
pembiayaan membutuhkan bukti pendukung berupa bukti memorial dan perlu
persetujuan DPRD.
2.5. Belanja Modal
Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, belanja modal merupakan
pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi
manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi belanja modal
untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tak berwujud.
Menurut (syafitri, 2012), belanja modal adalah pengeluaran anggaran yang
dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset
tetap/inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Untuk menambah aset tetap, Pemerintah Daerah mengalokasikan dana dalam
bentuk belanja modal dalam APBD. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada
kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana baik untuk kelancaran pelaksanaan
tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Belanja modal meliputi antara
lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset
19
tak berwujud. Aset tetap yang dimiliki pemerintah daerah sebagai akibat adanya
belanja modal merupakan syarat utama dalam memberikan pelayanan publik.
Dalam Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 yang merupakan perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, Belanja Modal dapat diklasifikasikan dalam
lima kategori utama :
1) Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Tanah adalah pengeluaran anggaran atau biaya yang
digunakan untuk pengadaan, pembebasan atau penyelesaian balik nama
dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah,
pembuatan sertifikat dan pengeluaran lainnya yang berhubungan dengan
perolehan hak atas tanah sampai dengan tanah yang dimaksud dalam
kondisi siap pakai.
2) Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Peralatan dan Mesin merupakan pengeluaran anggaran
atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan atau
penggatian dan peningkatan kapasitas peralatan mesin serta inventaris
atau aset kantor yang memberikan manfaat lebih dari satu periode
akuntansi (dua belas bualan) sampai dengan peralatan dan mesin yang
dimaksud dalam kondisi siap pakai.
3) Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja Modal Gedung dan Bangunan merupakan pengeluaran anggaran
atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan atau
20
penggatian termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan
pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah
kapasitas sampai dengan gedung dan bangunan yang dimaksud dalam
kondisi siap pakai.
4) Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan merupakan pengeluaran
anggaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penggantian,
peningkatan, pembangunan, pembuatan serta perawatan, termasuk
pengeluaran untuk perencanaan, pengawasa dan pengelolaan jalan,
irigasi dan jaringan yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.
5) Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja Modal Fisik Lainnya merupakan pengeluaran anggaran atau
biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan, penggantian,
peningkatan pembangunan, pembuatan serta perawatan terhadap fisik
lainnya yang tidak dapat dikategorikan dalam Belanja Modal Tanah,
Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal Gedung dan
Banguan, serta Belanja Modal Irigasi, Jalan, dan Jaringan. Belanja Modal
Fisik Lainnya juga termasuk Belanja Modal kontak sewa beli, pembelian
barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk
museum, hewan, ternak
dan tumbuhan, buku- buku, dan jurnal ilmiah.
21
2.6. Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia dapat digunakan sebagai alat ukur
keberhasilan pembangunan di suatu daerah dan satu diantara petunjuk untuk
melihat apakah pembangunan yang telah dilakukan sesuai dengan yang
ditetapkan. Upaya peningkatan IPM tidak terlepas dari peran pemerintah dalam
mengalokasikan sumber-sumber pendapatan daerah pada belanja daerah untuk
sektor-sektor yang dapat menaikkan IPM seperti bidang pendidikan, kesehatan,
dan infrastruktur. Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah, yaitu adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan. UNDP
(United Nation Development Programme) memberikan ukuran terhadap
keberhasilan pembangunan manusia yakni dengan Indeks Pembangunan Manusia
(Human Development Index). Indeks Pembangunan Manusia atau disingkat IPM
merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata dari Indeks Harapan
Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Standar Hidup Layak yang tertuang dalam
Paritas Daya Beli (purchasing power parity). Sejak otonomi daerah, maka setiap
daerah diharapkan untuk mengetahui ukuran IPM daerahnya sendiri baik untuk
keperluan perencanaan maupun untuk evaluasi khususnya dalam mengetahui
perkembangan dan sebaran hasil pembangunan bidang manusia. IPM merupakan
indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas
hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM dapat menentukan peringkat atau
level pembangunan suatu wilayah/negara.
22
2.6.1. Komponen Pembangunan Manusia
Lembaga United Nations Development Programme (UNDP) telah
mempublikasikan laporan pembangunan sumber daya manusia dalam ukuran
kuantitatif yang disebut Human Development Indeks (HDI). Meskipun HDI
merupakan alat ukur pembangunan sumber daya manusia yang dirumuskan secara
konstan, diakui tidak akan pernah menangkap gambaran pembangunan sumber
daya manusia secara sempurna. Adapun indikator yang dipilih untuk mengukur
dimensi HDI adalah sebagai berikut: (UNDP, Human Development Report 1993:
105-106 dalam Siswati dan Hermawati,2018)
1. Longevity, diukur dengan variabel harapan hidup saat lahir atau life expectancy
of birth dan angka kematian bayi per seribu penduduk atau infant mortality
rate.
2. Educational Achievement, diukur dengan dua indikator, yakni melek huruf
penduduk usia 15 tahun ke atas (adult literacy rate) dan tahun rata-rata
bersekolah bagi penduduk 25 tahun ke atas (the mean years of schooling).
3. Access to resource, dapat diukur secara makro melalui PDB rill perkapita
dengan terminologi purchasing power parity dalam dolar AS dan dapat
dilengkapi dengan tingkatan angkatan kerja.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa komponen-
komponen yang mempengaruhi IPM antara lain :
23
1. Derajat kesehatan dan panjangnya umur yang terbaca dari angka harapan
hidup (life expecntacy rate), parameter kesehatan dengan indikator angka
harapan hidup, mengukur keadaan sehat dan berumur panjang.
2. Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf rata-rata lamanya
sekolah, parameter pendidikan dengan angka melek huruf dan lamanya
sekolah, mengukur manusia yang cerdas, kreatif, terampil, dan bertaqwa.
3. Pendapatan yang diukur dengan daya beli masyarakat (purchasing power
parity), parameter pendapatan dengan indikator daya beli masyarakat,
mengukur manusia yang mandiri dan memiliki akses untuk layak.
Indeks pembangunan manusia merupakan indeks dasar yang tersusun
dari dimensi-dimensi:
1. Umur panjang dan kehidupan yang sehat, dengan indikator angka harapan
hidup.
2. Pengetahuan, yang diukur dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan
Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)
3. Standar hidup yang layak, dengan indikator pengeluaran per kapita
disesuaikan. Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh
Perserikatan BangsaBangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja
pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan kategori sebagai
berikut :
a. Sangat Tinggi : IPM > 80
b. Tinggi : IPM antara 70 < IPM < 80
24
c. Sedang : IPM antara 60 < IPM < 70
d. Rendah : IPM < 60
IPM dihitung sebagai rata-rata geometrik dari indeks kesehatan, pendidikan,
dan pengeluaran. Cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia, yaitu :
1. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH), dijadikan indikator dalam mengukur
kesehatan suatu individu di suatu daerah. Angka Harapan Hidup (AHH)
adalah rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang
selama hidup. Angka Harapan Hidup (AHH) diartikan sebagai umur yang
mungkin dicapai seseorang yang lahir pada tahun tertentu. Angka harapan
hidup dihitung menggunakan pendekatan tak langsung (indirect
estimation). Ada dua jenis data yang digunakan dalam penghitungan
Angka Harapan Hidup (AHH) yaitu Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak
Masih Hidup (AMH). Sementara itu untuk menghitung indeks harapan
hidup digunakan nilai maksimum harapan hidup sesuai standar UNDP,
dimana angka tertinggi sebagai batas atas untuk penghitungan indeks
dipakai 85 tahun dan terendah 25 tahun (standar UNDP). Usia harapan
hidup dapat panjang jika status kesehatan, gizi, dan lingkungan yang baik.
2. Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan
25
Indikator pengeluaran perkapita digunakan untuk mengukur standar hidup
manusia. Indikator ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan serta peluang
yang ada untuk merealisasikan pengetahuan dalam berbagai Penelitian
produktif sehingga menghasilkan output baik berupa barang maupun jasa
sebagai pendapatan. Kemudian pendapatan yang ada menciptakan
pengeluaran atau konsumsi. Pengeluaran perkapita memberikan gambaran
tingkat daya beli PPP (Purchasing Power Parity) masyarakat, dan sebagai
salah satu komponen yang digunakan dalam melihat status pembangunan
manusia di suatu wilayah.
3. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan yang
dicapai oleh masyarakat di suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama
sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Asumsi
yang berlaku secara umum bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula kualitas seseorang, baik pola pikir
maupun pola tindakannya. Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai
jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan
formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah
suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam
penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke
atas.
1. Rata-rata Lama Sekolah - RLS (Mean Years of Schooling - MYS)
Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang
26
digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.
Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah
suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung
dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk
berusia 25 tahun ke atas.
2. Angka Harapan Lama Sekolah - HLS (Expected Years of
Schooling EYS) Angka Harapan Lama Sekolah didefinisikan
lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan
oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan
bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-
umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah
per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka
Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun
ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi
pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang
ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang
diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Berikut ini tabel
perbedaan indikator metode lama dan baru pada IPM :
Tabel 2.1
Perbedaan Indikator Metode Lama dan Metode Baru
Dimensi Metode Lama Metode Baru
Kesehatan Angka Harapan Hidup saat Angka Harapan Hidup saat
lahir (AHH) lahir (AHH)
27
Pengetahuan Angka Melek Huruf (AMH) Harapan Lama Sekolah (HLS)
Kombinasi Angka Partisipasi Rata-Rata Lama Sekolah
Kasar (APK) (RLS)
Standar Hidup Layak PDB per Kapita PNB Per Kapita
Perhitungan Rata-Rata Aritmatik Rata-Rata Geometrik
Sumber : Indeks Pembangunan Manusia 2015, BPS 2016
2.7. Kerangka Pemikiran
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pembiayaan bagi
pemerintah daerah dalam menciptakan infrastruktur daerah. PAD diperoleh dari
hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Pengeluaran pemerintah daerah akan
disesuaikan dengan penerimaan daerah atau perubahan pendapatan terjadi sebelum
pendapatan pengeluaran. Setiap penyusunan APBD, alokasi belanja modal harus
disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan mempertimbangkan PAD yang
diterima. PAD ini digunakan oleh pemerintah daerah salah satunya untuk
pembiayaan atas belanja daerah, oleh karena itu pemerintah daerah semakin
berusaha keras untuk menggunakan segala potensi daerah yang dimilikinya untuk
memperoleh peningkatan PAD. Dengan adanya peningkatan dari PAD diharapkan
dapat berdampak positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia.
Belanja Modal merupakan pengeluaran pemerintah yang mencerminkan
pengeluaran dalam bentuk pembelian atau pengadaan atau pembangunan aset tetap
berwujud yang digunakan untuk menunjang kegiatan pemerintahan seperti tanah,
peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan aset tetap lainnya.
Belanja modal dilakukan oleh Pemda (Pemerintah Daerah) dalam pengadaan aset
28
daerah sebagai investasi, pada akhirnya mampu untuk meningkatkan sarana dan
prasarana publik sehingga menunjang peningkatan pelayanan sektor publik. Belanja
modal memiliki peran yang penting terhadap peningkatan indeks pembangunan
manusia.
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat digambarkan suatu kerangka
pemikiran teoritis yang menggambarkan variabel-variabel yang telah dijelaskan
sebelumnya :
H1
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
(X1)
Indeks
H3 Pembangunan
Manusia
(Y)
Belanja Modal
(X2)
H2
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
2.8. Hipotesis
1. Pengaruh PAD Terhadap IPM
PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi
asli daerah, pendapatan asli daerah juga berperan sebagai sumber utama
pendapatan daerah yang dapat dipergunakan oleh daerah dalam melaksanakan
pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhannya guna
memperkecil ketergantungan pemerintah daerah. Dalam Penelitian yang
29
dilakukan oleh (Pradnyantari dan Dwirandra,2017) menyatakan bahwa
Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif dan signifikan pada Indeks
Pembangunan Manusia di Kabupaten/Kota Provinsi Bali. Semakin
meningkatnya PAD yang diperoleh oleh pemerintah daerah memungkinkan
daerah untuk memperbaiki dan meningkatkan pelayanan publik, membiayai
pembangunan daerahnya yang akhirnya berimbas pada peningkatan tingkat
kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan IPM.
Dan menurut penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018) menyatakan bahwa
PAD memiliki pengaruh positif dan signifikan pada IPM Kabupaten/Kota
Provinsi Sulawesi Tengah, artinya semakin meningkat PAD maka peningkatan
IPM juga meningkat, berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah :
H1 : Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap IPM
2. Pengaruh Belanja Modal Terhadap IPM
Belanja modal merupakan suatu pengeluaran yang dapat dikatakan sebagai
pengeluaran rutin untuk pembentukan modal. Belanja modal meliputi belanja
modal untuk perolehan tanah, Gedung dan bangunan, peralatan, aset tak
berwujud, . aset- aset tersebut memiliki umur yang Panjang dan berkontribusi
untuk meningkatkan kapasitas produksi. Untuk menambah aset tetap,
pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk belanja modal dalam
APBD. Dalam penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018), belanja modal
berpengaruh positif dan signifikan pada peningkatan IPM, dengan terdapatnya
pengaruh positif tersebut artinya belanja modal juga berpengaruh positif
30
terhadap IPM. Dapat dikatakan, semakin meningkat belanja modal maka
peningkatan IPM juga meningkat.
H2: Belanja Modal berpengaruh terhadap IPM
3. Pengaruh PAD dan Belanja Modal Terhadap IPM
Pendapatan dan pengeluaran pemerintah memiliki hubungan yang sangat
penting terutama relevansinya terhadap suatu kebijakan yang akan diambil dan
terkait dengan penggunaan anggaran. Pentingnya penyusunan anggaran akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi serta akan berdampak pada indeks
pembangunan manusia. Dalam penelitian Syahbin (2018), PAD tidak
berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat tetapi berhasil melakukan uji
asumsi klasik dan variabel tersebut mampu menjelaskan variasi kesejahteraan
masyarakat. Dan dalan penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018) menyatakan
bahwa belanja modal berpengaruh positif dan signifikan pada peningkatan IPM,
yang artinya semakin meningkar belanja modal maka peningkatan IPM juga
meningkat.
H3 : Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal berpengaruh secara simultan
terhadap IPM
31
2.9. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan acuan untuk penelitian selanjutnya yang
mana penelitian-penelitian tersebut untuk membandingkan hasil penelitian yang
dilakukan selanjunya. Ada beberapa penelitian terdahulu yang menjadi landasan
dalam melakukan penelitian ini yaitu:
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
NO Nama Peneliti/Judul Metode Penelitian Perbedaan Hasil Penelitian
Variabel
1 Adiputra (2015) : Pengaruh Metode penelitian yang Terdapat Hasil penelitian
PAD, Dana Perimbangan dan digunakan adalah perbedaan pada menunjukkan
SiLPA Terhadap Kualitas metode penelitian alat analisis bahwa pengaruh
Pembangunan Manusia Dengan kuantitatif. dalam penelitian secara langsung
Alokasi Belanja Modal Sebagai Pengambilan sampel ini hanya PAD dan
Variabel Intervening pada penelitian ini menggunakan SiLPA yang
Pemerintah Kabupaten/Kota di menggunakan metode SPSS versi 25, berpengaruh
Bali periode 2008- 2013. purposive sampling dan objek penelitian terhadap kualitas
memperoleh masing- pada Kab/Kota pembangunan
masing 54 data. Teknik Bali periode manusia.
analisis yang 2008- 2013. Sedangkan
digunakan adalah Sedangkan pengaruh secara
analisisvjalur dengan penelitian ini tidak langsung,
SPSS versi 19. pada Provinsi di PAD, DAU, DAK,
Kalimantan dan DBH tidak
periode 2015- berpengaruh
2020. terhadap kualitas
pembangunan
manusia melalui
alokasi belanja
modal.
2 Riva Ubar Harahap (2017) : Metode analisis yang Terdapat Hasil penelitian ini
Pengaruh Dana Alokasi Umum, digunakan adalah perbedaam menyimpulkan
Dana Alokasi Khusus, Dan kuantitatif dengan alat objek penelitian bahwa Dana
Dana Bagi Hasil Terhadap analisis : regresi pada Kab/Kota Alokasi Umum,
Indeks Pembangunan Manusia berganda dengan Sumatera Utara Dana Alokasi
Pada Kab./Kota Propinsi melakukan metode uji merupakan data Khusus dan Dana
Sumatera Utara merupakan data asumsi klasik dengan tahun 2005, Bagi Hasil
tahun 2005, 2006, 2007 model penelitian 2006, 2007 berpengaruh secara
sedangkan data IPM merupakan terbaik sedangkan data simultan terhadap
data tahun 2006, 2007, 2008. IPM merupakan Indeks
data tahun 2006, Pembangunan
2007, 2008. . Manusia. Hasilnya
32
Sedangkan konsisten dengan
penelitian ini hipotesis penelitian.
pada Provinsi di Dana Alokasi
Kalimantan Umum, Dana
periode 2015- Alokasi Khusus dan
2020 Dana Bagi Hasil
tidak berpengaruh
secara parsial
terhadap Indeks
Pembangunan
Manusia. Hasilnya
konsisten dengan
hipotesis penelitian.
3 Sari dan Supadmi (2016) : Metode analisis yang Terdapat PAD dan Belanja
Pengaruh Pendapatan Asli digunakan adalah perbedaan Modal berpengaruh
Daerah dan Belanja Modal pada kuantitatif dengan alat dalam penelitian positif dan
Peningkatan Indeks analisis yang ini, yaitu objek signifikan pada
Pembangunan Manusia di digunakan adalah penelitian pada Peningkatan Indeks
Provinsi Bali tahun 2009-2013. regresi berganda Kab/Kota Bali Pembangunan
dengan melakukan periode 2009- Manusia di Provinsi
metode uji asumsi 2013. Bali.
klasik Sedangkan
penelitian ini
pada Provinsi di
Kalimantan
periode 2015-
2020.