0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Pengelolaan Otonomi dan Pendapatan Daerah

Dokumen ini membahas tentang otonomi daerah, pendapatan asli daerah (PAD), dan belanja daerah. Otonomi daerah memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola keuangan dan pembangunan sesuai potensi daerah, dengan PAD sebagai sumber utama pendapatan. Selain itu, belanja daerah mencakup pengeluaran untuk aset tetap dan pengembangan infrastruktur yang mendukung pelayanan publik.

Diunggah oleh

Kuala Kuala
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Pengelolaan Otonomi dan Pendapatan Daerah

Dokumen ini membahas tentang otonomi daerah, pendapatan asli daerah (PAD), dan belanja daerah. Otonomi daerah memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola keuangan dan pembangunan sesuai potensi daerah, dengan PAD sebagai sumber utama pendapatan. Selain itu, belanja daerah mencakup pengeluaran untuk aset tetap dan pengembangan infrastruktur yang mendukung pelayanan publik.

Diunggah oleh

Kuala Kuala
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Otonomi Daerah

2.1.1. Definisi Otonomi Daerah

Otonomi daerah adalah keleluasan dalam hak dan wewenang serta

kewajiban dan tangung jawab badan pemerintahan daerah untuk mengatur dan

mengurus rumah tangganya sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerahnya

sebagai wujud dari manifestasi desentralisasi atau devolusi. Senada dengan hal

tersebut, menurut Kaloh (dalam Ferizaldi, 2016) bahwa inti dari pelaksanaan

otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan pemerintahan daerah

(discreationary power) untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar

prakarsa, kreativitas, dan peran aktif masyarakat dalam mengembangkan dan

memajukan daerahnya. Mas’ud Said (dalam Ferizaldi, 2016) menegaskan bahwa

tahap paling akhir dari otonomi daerah adalah perkembangan dan kemampuan

keuangan daerah, dan di Indonesia kemampuan keuangan daerah diukur dengan

Pendapatan Asli Daerah (PAD). APBD merupakan faktor penting dalam

penyelenggaraan pemerintahan di daerah. terdapat tiga dimensi berkenaan dengan

pentingnya pengelolaan keuangan daerah, yaitu a) dimensi kebijaksaaan yakni

bahwa pengendalian keuangan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi

kehidupan penduduk daerah, sehingga kebijakan yang ditempuh dapat

menyebabkan kemakmuran atau sebaliknya kelemahan dapat membawa kejatuhan

bagi penduduk daerah. Selanjutnya b) dimensi kepandaian mengendalikan,

maksudnya bahwa kepandaian mengendalikan keuangan daerah yang baik dapat

10
11

mengarahkan kebijaksanaan untuk melindungi dan memperbesar harta daerah, dan

c) dimensi anggaran, artinya anggaran adalah alat utama pada pengendalian

keuangan daerah, sehingga rencana anggaran yang diperhadapkan pada legislatif

di Indonesia haruslah tepat agar tidak menimbulkan kekurangan atau kerugian

bagi daerah tersebut.

2.2. Definisi Pendapatan

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mendefinisikan pendapatan

sebagai semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah

ekuitas dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah

dan tidak perlu dibayar Kembali oleh pemerintah. Secara umum pendapatan

dapat dipahami sebagai hak pemerintah daerah yang menambah kekayaan bersih

yang terjadi akibat transaksi masa lalu. Pendapatan pemerintah daerah berbeda

dengan penerimaan pemerintah daerah. Penerimaan daerah adalah semua jenis

penerimaan kas yang masuk ke rekening kas daerah baik yang murni berasal dari

pendapatan daerah maupun dari penerimaan pembiayaan.

2.3. Pendapatan Asli Daerah

Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Pasal 1 menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah

pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah

sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menurut Halim (2007) PAD adalah


12

penerimaan daerah yang diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri

yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan

perundangan-undangan yang berlaku. Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun

2004 Pasal 3 menyatakan bahwa PAD bertujuan memberikan kewenangan

kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai

dengan potensi Daerah sebagai perwujudan Desentralisasi. Berdasarkan tujuan

tersebut dapat disimpulkan bahwa PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah

semata-mata ditujukan untuk pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah

agar hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Artinya,

semakin besar dana PAD yang diperoleh oleh daerah akan sebanding dengan laju

pembangunan di daerah tersebut.

2.3.1. Sumber Pendapatan Asli Daerah

Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Pasal 6 mengatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), bersumber

dari : pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.

1. Pajak daerah

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, Pajak Daerah, yang

selanjutnya disebut dengan Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah

yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara


13

langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat. Menurut (Suwarno Dan Suhartiningsih, 2008), pajak

daerah berpotensi terus digali dalam rangka menambah pendapatan

daerah. Sumber pendapatan pajak lokal memberikan kontribusi signifikan

bagi pendapatan daerah. Berdasarkan Undang-undang No.28 tahun 2009,

jenis pajak daerah terdiri dari pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota.

1) Jenis pajak provinsi yaitu :

a. Pajak Kendaraan Bermotor

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

d. Pajak Air Permukaan

e. Pajak Rokok

2) Jenis pajak kabupaten/kota yaitu :

a. Pajak Hotel

b. Pajak Restoran

c. Pajak Hiburan

d. Pajak Reklame

e. Pajak Penerangan Jalan

f. Pajak Mineral Bukan Logam Dan Batuan

g. Pajak Parkir

h. Pajak Air Tanah

i. Pajak Sarang Burung Walet

j. Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan


14

k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

2. Retribusi Daerah

Selain pajak daerah, sumber pendapatan dearah yang cukup besar

perannya dalam menyumbang pada terbentuknya pendapatan asli daerah

adalah retribusi daerah. Retribusi Daerah Menurut Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009 adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas

jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau

diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau

Badan. Retribusi daerah dibagi menjadi 3 jenis, yang terdapat dalam UU

No. 28 tahun 2009, yaitu Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan

Retribusi Perizinan Tertentu.

1. Jasa Umum

a. Retribusi pelayanan kesehatan

b. Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan

c. Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta

catatan sipil

d. Retribusi pemakaman dan Pengabuan Mayat

e. Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum

f. Retribusi Pelayanan Pasar

g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor

h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran

i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta

j. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang


15

k. Retribusi Penyedotan Kaskus

l. Retribusi Pengolahan Limbah Cair

m. Retribusi Pelayanan Pendidikan

n. Retribusi Pengendalian Menara Komunikasi.

2. Jasa Usaha

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan

c. Retribusi Tempat Pelelangan

d. Retribusi Terminal

e. Retribusi Tempat Khusus Parkir

f. Retribusi Tempat Penginapan/ Persinggahan/Villa

g. Retribusi Rumah Potong Hewan

h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhan

i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

j. Retribusi Penyeberangan di Air, dan

k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

3. Perizinan Tertentu

a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan

b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Berakohol

c. Retribusi Izin Gangguan

d. Retribusi Izin Trayek, dan

e. Retribusi Izin Usaha Perikanan


16

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Penerimaan PAD lainnya yang menduduki peran penting setelah pajak

Daerah dan retribusi Daerah adalah bagian pemerintah daerah atas laba

BUMD. Tujuan didirikannya BUMD adalah dalam rangka penciptaan

lapangan kerja atau mendukung pembagunan ekonomi daerah setelah itu,

BUMD juga membantu dalam melayani masyarakat dan merupakan salah

satu sumber penerimaan daerah. . Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan ini mencakup yaitu:

a. Bagian laba atas penyertaan modal pada Perusahaan Milik Daerah/

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

b. Bagian laba atas penyertaan modal pada Perusahaan Milik

Pemerintah/ Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

c. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta

atau kelompok usaha masyarakat.

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Hasil suatu pendapatan daerah adalah berasal dari pendapatan asli daerah.

Dana yang bersumber dari pendapatan asli daerah tersebut merupakan

satu diantara fakor penunjang dalam melaksanakan kewajiban daerah

untuk membiayai belanja rutin serta biaya pembangunan daerah. Dan juga

merupakan alat untuk memasukan uang sebanyak-banyaknya ke kas

daerah guna menunjang pelaksanaan pembangunan daerah, serta untuk

mengatur dan meningkatkan kondisi sosial ekonomi pemakai jasa


17

tersebut. Tentu dalam hal ini tidak terlepas dari adanya badan yang diberi

tugas untuk mengatur hal tersebut. Menurut Undang-Undang No. 33

Tahun 2004, Pasal 6 Lain-lain PAD yang sah meliputi :

1. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan

2. Jasa giro

3. Pendapatan bunga

4. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing

5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan

dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah.

2.4. Definisi Belanja

Belanja adalah semua pengeluaran dari bendahara pengeluaran atau

bendahara umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode

tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh kembali pembayarannya

oleh Pemerintah (Ritonga & Suhartono, 2012:47) . Berdasarkan Standar

Akuntansi Pemerintahan, belanja daerah dapat didefinisikan sebagai semua

pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dalam

periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya

kembali oleh Pemerintah Daerah. Belanja dapat dipahami sebagai kewajiban

Pemerintah Daerah yang mengurangi kekayaan bersih yang terjadi akibat

transaksi masa lalu. Namun dalam hal ini perlu dipahami bahwa belanja daerah

berbeda dengan pengeluaran daerah. Tidak semua pengeluaran yang dilakukan

Pemerintah Daerah yang menyebabkan berkurangnya kas di rekening Kas Umum


18

Daerah dikategorikan sebagai belanja. Namun setiap belanja merupakan

pengeluaran Pemerintah Daerah. Pengeluaran Pemerintah Daerah dapat berupa

belanja atau bisa juga merupakan pengeluaran pembiayaan. Kedua jenis

pengeluaran ini baik belanja daerah maupun pengeluaran pembiayaan sama-sama

membutuhkan bukti pengeluaran kas. Perbedaannya adalah untuk pengeluaran

pembiayaan membutuhkan bukti pendukung berupa bukti memorial dan perlu

persetujuan DPRD.

2.5. Belanja Modal

Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, belanja modal merupakan

pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi

manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi belanja modal

untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tak berwujud.

Menurut (syafitri, 2012), belanja modal adalah pengeluaran anggaran yang

dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset

tetap/inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Untuk menambah aset tetap, Pemerintah Daerah mengalokasikan dana dalam

bentuk belanja modal dalam APBD. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada

kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana baik untuk kelancaran pelaksanaan

tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Belanja modal meliputi antara

lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset
19

tak berwujud. Aset tetap yang dimiliki pemerintah daerah sebagai akibat adanya

belanja modal merupakan syarat utama dalam memberikan pelayanan publik.

Dalam Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang diatur dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 yang merupakan perubahan atas Peraturan

Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, Belanja Modal dapat diklasifikasikan dalam

lima kategori utama :

1) Belanja Modal Tanah

Belanja Modal Tanah adalah pengeluaran anggaran atau biaya yang

digunakan untuk pengadaan, pembebasan atau penyelesaian balik nama

dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah,

pembuatan sertifikat dan pengeluaran lainnya yang berhubungan dengan

perolehan hak atas tanah sampai dengan tanah yang dimaksud dalam

kondisi siap pakai.

2) Belanja Modal Peralatan dan Mesin

Belanja Modal Peralatan dan Mesin merupakan pengeluaran anggaran

atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan atau

penggatian dan peningkatan kapasitas peralatan mesin serta inventaris

atau aset kantor yang memberikan manfaat lebih dari satu periode

akuntansi (dua belas bualan) sampai dengan peralatan dan mesin yang

dimaksud dalam kondisi siap pakai.

3) Belanja Modal Gedung dan Bangunan

Belanja Modal Gedung dan Bangunan merupakan pengeluaran anggaran

atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan atau


20

penggatian termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan

pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah

kapasitas sampai dengan gedung dan bangunan yang dimaksud dalam

kondisi siap pakai.

4) Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan

Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan merupakan pengeluaran

anggaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan, penggantian,

peningkatan, pembangunan, pembuatan serta perawatan, termasuk

pengeluaran untuk perencanaan, pengawasa dan pengelolaan jalan,

irigasi dan jaringan yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

5) Belanja Modal Fisik Lainnya

Belanja Modal Fisik Lainnya merupakan pengeluaran anggaran atau

biaya yang digunakan untuk pengadaan, penambahan, penggantian,

peningkatan pembangunan, pembuatan serta perawatan terhadap fisik

lainnya yang tidak dapat dikategorikan dalam Belanja Modal Tanah,

Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal Gedung dan

Banguan, serta Belanja Modal Irigasi, Jalan, dan Jaringan. Belanja Modal

Fisik Lainnya juga termasuk Belanja Modal kontak sewa beli, pembelian

barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk

museum, hewan, ternak

dan tumbuhan, buku- buku, dan jurnal ilmiah.


21

2.6. Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia dapat digunakan sebagai alat ukur

keberhasilan pembangunan di suatu daerah dan satu diantara petunjuk untuk

melihat apakah pembangunan yang telah dilakukan sesuai dengan yang

ditetapkan. Upaya peningkatan IPM tidak terlepas dari peran pemerintah dalam

mengalokasikan sumber-sumber pendapatan daerah pada belanja daerah untuk

sektor-sektor yang dapat menaikkan IPM seperti bidang pendidikan, kesehatan,

dan infrastruktur. Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah

Daerah, yaitu adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan. UNDP

(United Nation Development Programme) memberikan ukuran terhadap

keberhasilan pembangunan manusia yakni dengan Indeks Pembangunan Manusia

(Human Development Index). Indeks Pembangunan Manusia atau disingkat IPM

merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata dari Indeks Harapan

Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Standar Hidup Layak yang tertuang dalam

Paritas Daya Beli (purchasing power parity). Sejak otonomi daerah, maka setiap

daerah diharapkan untuk mengetahui ukuran IPM daerahnya sendiri baik untuk

keperluan perencanaan maupun untuk evaluasi khususnya dalam mengetahui

perkembangan dan sebaran hasil pembangunan bidang manusia. IPM merupakan

indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas

hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM dapat menentukan peringkat atau

level pembangunan suatu wilayah/negara.


22

2.6.1. Komponen Pembangunan Manusia

Lembaga United Nations Development Programme (UNDP) telah

mempublikasikan laporan pembangunan sumber daya manusia dalam ukuran

kuantitatif yang disebut Human Development Indeks (HDI). Meskipun HDI

merupakan alat ukur pembangunan sumber daya manusia yang dirumuskan secara

konstan, diakui tidak akan pernah menangkap gambaran pembangunan sumber

daya manusia secara sempurna. Adapun indikator yang dipilih untuk mengukur

dimensi HDI adalah sebagai berikut: (UNDP, Human Development Report 1993:

105-106 dalam Siswati dan Hermawati,2018)

1. Longevity, diukur dengan variabel harapan hidup saat lahir atau life expectancy

of birth dan angka kematian bayi per seribu penduduk atau infant mortality

rate.

2. Educational Achievement, diukur dengan dua indikator, yakni melek huruf

penduduk usia 15 tahun ke atas (adult literacy rate) dan tahun rata-rata

bersekolah bagi penduduk 25 tahun ke atas (the mean years of schooling).

3. Access to resource, dapat diukur secara makro melalui PDB rill perkapita

dengan terminologi purchasing power parity dalam dolar AS dan dapat

dilengkapi dengan tingkatan angkatan kerja.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa komponen-

komponen yang mempengaruhi IPM antara lain :


23

1. Derajat kesehatan dan panjangnya umur yang terbaca dari angka harapan

hidup (life expecntacy rate), parameter kesehatan dengan indikator angka

harapan hidup, mengukur keadaan sehat dan berumur panjang.

2. Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf rata-rata lamanya

sekolah, parameter pendidikan dengan angka melek huruf dan lamanya

sekolah, mengukur manusia yang cerdas, kreatif, terampil, dan bertaqwa.

3. Pendapatan yang diukur dengan daya beli masyarakat (purchasing power

parity), parameter pendapatan dengan indikator daya beli masyarakat,

mengukur manusia yang mandiri dan memiliki akses untuk layak.

Indeks pembangunan manusia merupakan indeks dasar yang tersusun

dari dimensi-dimensi:

1. Umur panjang dan kehidupan yang sehat, dengan indikator angka harapan

hidup.

2. Pengetahuan, yang diukur dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan

Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

3. Standar hidup yang layak, dengan indikator pengeluaran per kapita

disesuaikan. Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh

Perserikatan BangsaBangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja

pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan kategori sebagai

berikut :

a. Sangat Tinggi : IPM > 80

b. Tinggi : IPM antara 70 < IPM < 80


24

c. Sedang : IPM antara 60 < IPM < 70

d. Rendah : IPM < 60

IPM dihitung sebagai rata-rata geometrik dari indeks kesehatan, pendidikan,

dan pengeluaran. Cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia, yaitu :

1. Angka Harapan Hidup

Angka Harapan Hidup (AHH), dijadikan indikator dalam mengukur

kesehatan suatu individu di suatu daerah. Angka Harapan Hidup (AHH)

adalah rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang

selama hidup. Angka Harapan Hidup (AHH) diartikan sebagai umur yang

mungkin dicapai seseorang yang lahir pada tahun tertentu. Angka harapan

hidup dihitung menggunakan pendekatan tak langsung (indirect

estimation). Ada dua jenis data yang digunakan dalam penghitungan

Angka Harapan Hidup (AHH) yaitu Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak

Masih Hidup (AMH). Sementara itu untuk menghitung indeks harapan

hidup digunakan nilai maksimum harapan hidup sesuai standar UNDP,

dimana angka tertinggi sebagai batas atas untuk penghitungan indeks

dipakai 85 tahun dan terendah 25 tahun (standar UNDP). Usia harapan

hidup dapat panjang jika status kesehatan, gizi, dan lingkungan yang baik.

2. Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan


25

Indikator pengeluaran perkapita digunakan untuk mengukur standar hidup

manusia. Indikator ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan serta peluang

yang ada untuk merealisasikan pengetahuan dalam berbagai Penelitian

produktif sehingga menghasilkan output baik berupa barang maupun jasa

sebagai pendapatan. Kemudian pendapatan yang ada menciptakan

pengeluaran atau konsumsi. Pengeluaran perkapita memberikan gambaran

tingkat daya beli PPP (Purchasing Power Parity) masyarakat, dan sebagai

salah satu komponen yang digunakan dalam melihat status pembangunan

manusia di suatu wilayah.

3. Rata-rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan yang

dicapai oleh masyarakat di suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama

sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Asumsi

yang berlaku secara umum bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan

seseorang maka semakin tinggi pula kualitas seseorang, baik pola pikir

maupun pola tindakannya. Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai

jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan

formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah

suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam

penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke

atas.

1. Rata-rata Lama Sekolah - RLS (Mean Years of Schooling - MYS)

Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang


26

digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.

Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah

suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung

dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk

berusia 25 tahun ke atas.

2. Angka Harapan Lama Sekolah - HLS (Expected Years of

Schooling EYS) Angka Harapan Lama Sekolah didefinisikan

lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan

oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan

bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-

umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah

per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka

Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun

ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi

pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang

ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang

diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Berikut ini tabel

perbedaan indikator metode lama dan baru pada IPM :

Tabel 2.1
Perbedaan Indikator Metode Lama dan Metode Baru

Dimensi Metode Lama Metode Baru

Kesehatan Angka Harapan Hidup saat Angka Harapan Hidup saat


lahir (AHH) lahir (AHH)
27

Pengetahuan Angka Melek Huruf (AMH) Harapan Lama Sekolah (HLS)


Kombinasi Angka Partisipasi Rata-Rata Lama Sekolah
Kasar (APK) (RLS)
Standar Hidup Layak PDB per Kapita PNB Per Kapita
Perhitungan Rata-Rata Aritmatik Rata-Rata Geometrik
Sumber : Indeks Pembangunan Manusia 2015, BPS 2016

2.7. Kerangka Pemikiran

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pembiayaan bagi

pemerintah daerah dalam menciptakan infrastruktur daerah. PAD diperoleh dari

hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Pengeluaran pemerintah daerah akan

disesuaikan dengan penerimaan daerah atau perubahan pendapatan terjadi sebelum

pendapatan pengeluaran. Setiap penyusunan APBD, alokasi belanja modal harus

disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan mempertimbangkan PAD yang

diterima. PAD ini digunakan oleh pemerintah daerah salah satunya untuk

pembiayaan atas belanja daerah, oleh karena itu pemerintah daerah semakin

berusaha keras untuk menggunakan segala potensi daerah yang dimilikinya untuk

memperoleh peningkatan PAD. Dengan adanya peningkatan dari PAD diharapkan

dapat berdampak positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia.

Belanja Modal merupakan pengeluaran pemerintah yang mencerminkan

pengeluaran dalam bentuk pembelian atau pengadaan atau pembangunan aset tetap

berwujud yang digunakan untuk menunjang kegiatan pemerintahan seperti tanah,

peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan aset tetap lainnya.

Belanja modal dilakukan oleh Pemda (Pemerintah Daerah) dalam pengadaan aset
28

daerah sebagai investasi, pada akhirnya mampu untuk meningkatkan sarana dan

prasarana publik sehingga menunjang peningkatan pelayanan sektor publik. Belanja

modal memiliki peran yang penting terhadap peningkatan indeks pembangunan

manusia.

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat digambarkan suatu kerangka

pemikiran teoritis yang menggambarkan variabel-variabel yang telah dijelaskan

sebelumnya :

H1
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
(X1)
Indeks
H3 Pembangunan
Manusia
(Y)
Belanja Modal
(X2)
H2

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

2.8. Hipotesis

1. Pengaruh PAD Terhadap IPM

PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi

asli daerah, pendapatan asli daerah juga berperan sebagai sumber utama

pendapatan daerah yang dapat dipergunakan oleh daerah dalam melaksanakan

pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhannya guna

memperkecil ketergantungan pemerintah daerah. Dalam Penelitian yang


29

dilakukan oleh (Pradnyantari dan Dwirandra,2017) menyatakan bahwa

Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif dan signifikan pada Indeks

Pembangunan Manusia di Kabupaten/Kota Provinsi Bali. Semakin

meningkatnya PAD yang diperoleh oleh pemerintah daerah memungkinkan

daerah untuk memperbaiki dan meningkatkan pelayanan publik, membiayai

pembangunan daerahnya yang akhirnya berimbas pada peningkatan tingkat

kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan IPM.

Dan menurut penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018) menyatakan bahwa

PAD memiliki pengaruh positif dan signifikan pada IPM Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Tengah, artinya semakin meningkat PAD maka peningkatan

IPM juga meningkat, berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah :

H1 : Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap IPM

2. Pengaruh Belanja Modal Terhadap IPM

Belanja modal merupakan suatu pengeluaran yang dapat dikatakan sebagai

pengeluaran rutin untuk pembentukan modal. Belanja modal meliputi belanja

modal untuk perolehan tanah, Gedung dan bangunan, peralatan, aset tak

berwujud, . aset- aset tersebut memiliki umur yang Panjang dan berkontribusi

untuk meningkatkan kapasitas produksi. Untuk menambah aset tetap,

pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk belanja modal dalam

APBD. Dalam penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018), belanja modal

berpengaruh positif dan signifikan pada peningkatan IPM, dengan terdapatnya

pengaruh positif tersebut artinya belanja modal juga berpengaruh positif


30

terhadap IPM. Dapat dikatakan, semakin meningkat belanja modal maka

peningkatan IPM juga meningkat.

H2: Belanja Modal berpengaruh terhadap IPM

3. Pengaruh PAD dan Belanja Modal Terhadap IPM

Pendapatan dan pengeluaran pemerintah memiliki hubungan yang sangat

penting terutama relevansinya terhadap suatu kebijakan yang akan diambil dan

terkait dengan penggunaan anggaran. Pentingnya penyusunan anggaran akan

berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi serta akan berdampak pada indeks

pembangunan manusia. Dalam penelitian Syahbin (2018), PAD tidak

berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat tetapi berhasil melakukan uji

asumsi klasik dan variabel tersebut mampu menjelaskan variasi kesejahteraan

masyarakat. Dan dalan penelitian Yanto, Ridwan, dan Fattah (2018) menyatakan

bahwa belanja modal berpengaruh positif dan signifikan pada peningkatan IPM,

yang artinya semakin meningkar belanja modal maka peningkatan IPM juga

meningkat.

H3 : Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal berpengaruh secara simultan

terhadap IPM
31

2.9. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan acuan untuk penelitian selanjutnya yang

mana penelitian-penelitian tersebut untuk membandingkan hasil penelitian yang

dilakukan selanjunya. Ada beberapa penelitian terdahulu yang menjadi landasan

dalam melakukan penelitian ini yaitu:

Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu

NO Nama Peneliti/Judul Metode Penelitian Perbedaan Hasil Penelitian


Variabel

1 Adiputra (2015) : Pengaruh Metode penelitian yang Terdapat Hasil penelitian


PAD, Dana Perimbangan dan digunakan adalah perbedaan pada menunjukkan
SiLPA Terhadap Kualitas metode penelitian alat analisis bahwa pengaruh
Pembangunan Manusia Dengan kuantitatif. dalam penelitian secara langsung
Alokasi Belanja Modal Sebagai Pengambilan sampel ini hanya PAD dan
Variabel Intervening pada penelitian ini menggunakan SiLPA yang
Pemerintah Kabupaten/Kota di menggunakan metode SPSS versi 25, berpengaruh
Bali periode 2008- 2013. purposive sampling dan objek penelitian terhadap kualitas
memperoleh masing- pada Kab/Kota pembangunan
masing 54 data. Teknik Bali periode manusia.
analisis yang 2008- 2013. Sedangkan
digunakan adalah Sedangkan pengaruh secara
analisisvjalur dengan penelitian ini tidak langsung,
SPSS versi 19. pada Provinsi di PAD, DAU, DAK,
Kalimantan dan DBH tidak
periode 2015- berpengaruh
2020. terhadap kualitas
pembangunan
manusia melalui
alokasi belanja
modal.

2 Riva Ubar Harahap (2017) : Metode analisis yang Terdapat Hasil penelitian ini
Pengaruh Dana Alokasi Umum, digunakan adalah perbedaam menyimpulkan
Dana Alokasi Khusus, Dan kuantitatif dengan alat objek penelitian bahwa Dana
Dana Bagi Hasil Terhadap analisis : regresi pada Kab/Kota Alokasi Umum,
Indeks Pembangunan Manusia berganda dengan Sumatera Utara Dana Alokasi
Pada Kab./Kota Propinsi melakukan metode uji merupakan data Khusus dan Dana
Sumatera Utara merupakan data asumsi klasik dengan tahun 2005, Bagi Hasil
tahun 2005, 2006, 2007 model penelitian 2006, 2007 berpengaruh secara
sedangkan data IPM merupakan terbaik sedangkan data simultan terhadap
data tahun 2006, 2007, 2008. IPM merupakan Indeks
data tahun 2006, Pembangunan
2007, 2008. . Manusia. Hasilnya
32

Sedangkan konsisten dengan


penelitian ini hipotesis penelitian.
pada Provinsi di Dana Alokasi
Kalimantan Umum, Dana
periode 2015- Alokasi Khusus dan
2020 Dana Bagi Hasil
tidak berpengaruh
secara parsial
terhadap Indeks
Pembangunan
Manusia. Hasilnya
konsisten dengan
hipotesis penelitian.

3 Sari dan Supadmi (2016) : Metode analisis yang Terdapat PAD dan Belanja
Pengaruh Pendapatan Asli digunakan adalah perbedaan Modal berpengaruh
Daerah dan Belanja Modal pada kuantitatif dengan alat dalam penelitian positif dan
Peningkatan Indeks analisis yang ini, yaitu objek signifikan pada
Pembangunan Manusia di digunakan adalah penelitian pada Peningkatan Indeks
Provinsi Bali tahun 2009-2013. regresi berganda Kab/Kota Bali Pembangunan
dengan melakukan periode 2009- Manusia di Provinsi
metode uji asumsi 2013. Bali.
klasik Sedangkan
penelitian ini
pada Provinsi di
Kalimantan
periode 2015-
2020.

Anda mungkin juga menyukai