0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Metode Pembelajaran Berbasis Masalah

Metode Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah nyata sebagai konteks untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mandiri siswa. PBL memiliki ciri-ciri seperti fokus pada siswa, penggunaan masalah otentik, dan pembelajaran dalam kelompok kecil, serta melibatkan langkah-langkah sistematis dalam proses pembelajaran. Model ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan partisipatif, di mana guru berperan sebagai fasilitator.

Diunggah oleh

Zakia imania
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Metode Pembelajaran Berbasis Masalah

Metode Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah nyata sebagai konteks untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mandiri siswa. PBL memiliki ciri-ciri seperti fokus pada siswa, penggunaan masalah otentik, dan pembelajaran dalam kelompok kecil, serta melibatkan langkah-langkah sistematis dalam proses pembelajaran. Model ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan partisipatif, di mana guru berperan sebagai fasilitator.

Diunggah oleh

Zakia imania
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Metode Belajar Problem Base Learning

A. Pengertian metode belajar problem base learning

Model pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil

yang dikutip (Trianto, 2010: 15) adalah suatu rencana atau pola yang dapat

digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang),

merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas

atau yang lain. Maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual

yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman

belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai

pedoman/acuan bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam

merencanakan aktivitas belajar mengajar. Salah satu model yang saat ini sedang

menjadi perhatian kalangan pendidik adalah model Problem Based Learning

(PBL) yaitu model pembelajaran yang di dalamnya melibatkan sasaran didik

untuk berusaha memecahkan masalah dengan beberapa tahap metode ilmiah

sehingga siswa diharapkan mampu untuk mempelajari pengetahuan yang

berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan mampu

memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah.

PBL akan menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang berusaha

menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata, sebagai sebuah konteks

bagi peserta didik untuk berlatih bagaimana cara berpikir kritis dan mendapatkan

keterampilan untuk memecahkan masalah. (Ibrahim, M, dan M. Nur, 2010 dan

Butcher, C 2006) Berdasar pada pendapat di atas disimpulkan bahwa model

adalah sebuah rancangan pembelajaran jangka panjang, di dalamnya berisi

tentang kerangka konseptual yang dapat dijadikan penuntun mencapai tujuan

pembelajaran. Jika ditambahkan dengan model Problem Based Learning, maka


sesungguhnya model ini berisi tentang berbagai konsep pembelajaran berbasis

masalah, peserta didik disuguhi berbagai problem dan diberi kesempatan untuk

memecahkan sendiri masalahnya. Model ini menurut (Slavin, R. E., 2008)

bertujuan agar peserta tangguh dan mandiri, terbiasa mengambil inisiatif dan

terampil menggunakan pemikiran kritis memecahkan masalah.

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebuah

pendekatan yang memberi pengetahuan baru peserta didik untuk menyelesaikan

suatu masalah, dengan begitu pendekatan ini adalah pendekatan pembelajaran

partisipatif yang bisa membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran

yang menyenangkan karena dimulai dengan masalah yang penting dan relevan

(bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik

memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata). Meski demikian,

guru tetap diharapkan untuk mengarahkan pembelajar menemukan masalah yang

relevan dan aktual serta realistik

B. Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Model pembelajaran banyak macamnya, oleh sebab itu untuk

membedakannya harus dilihat dengan ciri-ciri tertentu, misalnya model

pembelajaran berbasis masalah mempunyai ciri-ciri antara lain:

 pertama, bahwa PBL sebagai sebuah rangkaian kegiatan, mulai

dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi, Dalam proses

pelaksanaan pembelajaran peserta didik tidak hanya sekadar

mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran,

akan tetapi diharapkan aktif berpikir, berkomunikasi, mencari

dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya. Oleh sebab

itu peserta didik pada akhirnya terbiasa aktif dan berpartisipasi,


tidak diam dan menunggu hasil dari orang lain, artinya

pembelajaran berbasis masalah tidak pernah hampa dalam

aktivitas berpikir untuk sampai pada kesimpulan memecahkan

masalah.

 Kedua, pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah

sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Oleh sebab itu

pembelajaran dapat dilaksanakan bilamana masalah sudah

ditemukan, tanpa masalah tidak mungkin ada proses

pembelajaran. Pendidik diharapkan memberi peluang bagi

peserta didik untuk menemukan masalah sendiri, dianjurkan

untuk yang dekat dengan lingkungan dan masalahnya sedang

aktual, tentu saja aturannya tidak bisa keluar dari kurikulum dan

konsisten dapat pencapaian tujuan pembelajaran.

 Ketiga, pembelajaran berbasis masalah, betapapun juga, tetap

dalam kerangka pendekatan ilmiah dan dilakukan dengan

menggunakan pendekatan berpikir deduktif dan induktif (Jujun,

S., 2010) Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan

empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui

tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses

penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

Selain ciri, model PBM juga mempunyai karakteristik yang

membedakannya dengan model pembelajaran yang lain.

Karakteristik dimaksud dikemukakan oleh Barrow, yang dikutip

oleh (Sanjaya, W, 2010) sebagai berikut:


 pertama, learning is student-centered artinya proses pembelajaran

dalam PBL lebih berorientasi pada siswa sebagai orang belajar.

Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme

dimana siswa didorong untuk dapat mengembangkan

pengetahuannya sendiri.

 Kedua, adalah authentic problems form the organizing focus for

learning, artinya masalah yang disajikan kepada siswa adalah

masalah yang otentik sehingga siswa mampu dengan mudah

memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam

kehidupan profesionalnya nanti. Otentik memang penting, karena

ini adalah prasyarat bagi kerangka konsep ilmu pengetahuan,

bahwa ilmu itu sesuatu yang objektif, bukan sesuatu yang fiktif,

itu sebabnya ilmu pengetahuan harus melalui proses yang disebut

“logico, hipotético, dan ferifikasi”, bahwa ilmu pengetahuan itu

tidak hanya logis artinya masuk dalam kerangka akal dan pikiran

manusia, akan tetapi di dalam selalu terselip dugaan antara salah

dan benar oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian (Jujun, S.,

2010).

 Ketiga adalah new information is acquired through selfdirected

learning. Bahwa dalam proses pemecahan masalah seringkali

siswa belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan

prasyaratnya, sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri

melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya. Hal

ini tentu menjadi pembelajaran lagi, karena bagaimanapun juga

siswa dituntut untuk memecahkan masalah, dan harus berusaha


mencari referensi yang relevan tentu dalam kerangka ilmiah

dengan tahapan-tahapan tertentu.

 Keempat adalah Learning occurs in small groups. Agar terjadi

interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun

pengetahuan secara kolaboratif, maka PBM dilaksanakan dalam

kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian

tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas.

 Kelima adalah Teachers act as facilitators. Artinya pada

pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator.

Namun, walaupun begitu guru harus selalu memantau

perkembangan aktivitas siswa dan mendorong siswa agar

mencapai target yang hendak dicapai.

C. Langkah-langkah Model Problem Based Learning Melaksanakan pembelajaran

berbasis masalah harus mendapat perhatian secara serius sebab model ini

mempunyai ciri-ciri tersendiri dan berbeda dengan model pembelajaran yang

lain, salah dalam langkah akan mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Berikut akan dikemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis

Masalah seperti dikemukakan oleh John Dewey seorang ahli pendidikan

berkebangsaan Amerika. Beliau memaparkan enam langkah dalam pembelajaran

berbasis masalah ini sebagai berikut:

1. Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan

masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya

guru telah menetapkan masalah tersebut.

2. Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis

dari berbagai sudut pandang.


3. Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai

kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.

4. Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan

berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.

5. Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil

kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan

6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik

menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil

pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sedangkan menurut David Johnson & Johnson dalam (Trianto, 2010)

memaparkan 5 langkah melalui kegiatan kelompok:

1. Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang

mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan masalah yang dikaji.

Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang masalah yang sedang

dikaji.

2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebabsebab terjadinya masalah.

3. Merumuskan alternatif strategi. Menguji setiap tindakan yang telah

dirumuskan melalui diskusi kelas.

4. Menentukan & menerapkan strategi pilihan. Pengambilan keputusan tentang

strategi mana yang dilakukan.

5. Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.


Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah:

1. Menyadari Masalah. Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang harus

dipecahkan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah peserta didik

dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan oleh manusia dan

lingkungan sosial.

2. Merumuskan Masalah. Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan

kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data- data yang harus

dikumpulkan. Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas masalah.

3. Merumuskan Hipotesis. peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab

akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai

kemungkinan penyelesaian masalah.

4. Mengumpulkan Data. peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang

relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengumpulkan

data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga sudah

dipahami.

5. Menguji Hipotesis. Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah

dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji.

6. Menentukan Pilihan Penyelesaian. Kecakapan memilih alternatif penyelesaian

yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan

yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.

Anda mungkin juga menyukai