0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan24 halaman

Penggunaan Tes Multikecerdasan dalam BK

D

Diunggah oleh

Tri Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan24 halaman

Penggunaan Tes Multikecerdasan dalam BK

D

Diunggah oleh

Tri Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

ASSESMENT BIMBINGAN DAN KONSELING TEKNIK TES

Penggunaan Hasil Tes Multikecerdasan Dalam Bimbingan Konseling

DOSEN PENGAMPU

Prof. Dr. Sri Milfayetty., MS. Kons., [Link].

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

Ayu Septiani (1232151006)

Elizabeth Parulian Pasaribu (1233351002)

Lenarti Situmorang (1233151072)

Tania Ramadhani (1233151004)

Tri Puspita Nur Utami (1233151009)

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2025
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya sehingga penulis masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini
adalah guna memenuhi penyelesaian tugas pada mata kuliah Assesment Bimbingan Dan
Konseling Teknik Tes, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan menambah
pengetahuan serta wawasan pembaca.

Dalam penulisan makalah ini, penulis tentu saja tidak dapat menyelesaikannya sendiri
tanpa bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada: Ibu
Prof. Dr. Sri Milfayetty., MS. Kons., [Link]. selaku Dosen Pengampu yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena
itu, kami meminta maaf dan mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari para
pembaca guna perbaikan untuk kedepannya.

Akhir kata kami mengucapkan selamat membaca dan makalah ini dapat bermanfaat
dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca.

Medan, 22 April 2025

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah.........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................1

1.3 Tujuan Masalah.......................................................................................................2

1.4 Manfaat Masalah.....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN......................................................................................................3

2.1 Pengertian Tes Multikecerdasan.............................................................................3

2.2 Pengenalan Tes Multikecerdasan........................................................................... 4

2.3 Penggunaan Hasil Tes Multikecerdasan.................................................................8

2.4 Penggunaan Hasil Tes Multikecerdasan dalam BK Sesuai Kode Etik................ 25

BAB III PENUTUP............................................................................................................27

3.1 Kesimpulan...........................................................................................................27

3.2 Saran.....................................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................28

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam dunia pendidikan, pengembangan potensi peserta didik tidak hanya berfokus
pada aspek akademik semata, melainkan juga mencakup aspek psikologis dan kepribadian.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk memahami karakteristik dan potensi siswa
secara lebih menyeluruh adalah melalui tes multikecerdasan. Tes ini mengacu pada teori
Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa
setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, seperti kecerdasan linguistik, logika-
matematis, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, spasial, dan naturalis.

Tes multikecerdasan menjadi alat penting dalam bidang Bimbingan dan Konseling
(BK) karena dapat membantu guru BK memahami potensi dominan yang dimiliki oleh siswa.
Melalui hasil tes ini, konselor dapat merancang strategi pelayanan yang lebih personal dan
efektif, serta membantu siswa dalam pengambilan keputusan, baik dalam hal akademik,
peminatan jurusan, maupun pengembangan diri secara keseluruhan.

Namun, dalam pelaksanaannya, penggunaan hasil tes multikecerdasan juga harus


memperhatikan aspek etis dan profesional. Kode etik Bimbingan dan Konseling mengatur
bahwa setiap data hasil asesmen siswa, termasuk hasil tes multikecerdasan, harus dijaga
kerahasiaannya, digunakan secara bijak, dan tidak menimbulkan labelisasi negatif terhadap
peserta didik. Hal ini penting agar penggunaan hasil tes benar-benar menjadi sarana
pemberdayaan siswa, bukan sebaliknya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian tes multikecerdasan?

2. Apa pengenalan tes multikecerdasan?

3. Apa penggunaan hasil tes multikecerdasan?

4. Apa penggunaan hasil tes multikecerdasan dalam BK sesuai kode etik?

1
1.3 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui tes multikecerdasan.

2. Untuk mengetahui pengenalan tes multikecerdasan.

3. Untuk mengetahui penggunaan hasil tes multikecerdasan.

4. Untuk mengetahui penggunaan hasil tes multikecerdasan dalam BK sesuai kode etik.

1.4 Manfaat Masalah

1. Memahami tes multikecerdasan.

2. Memahami pengenalan tes multikecerdasan.

3. Memahami penggunaan hasil tes multikecerdasan.

4. Memahami penggunaan hasil tes multikecerdasan dalam BK sesuai kode etik.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tes Multikecerdasan

Tes multiple intelligences atau tes multikecerdasan merupakan suatu alat asesmen
psikologis dan pendidikan yang dirancang untuk mengidentifikasi beragam jenis kecerdasan
yang dimiliki oleh setiap individu, berdasarkan teori kecerdasan majemuk yang
dikembangkan oleh Howard Gardner. Teori ini menentang pandangan tradisional yang
menyederhanakan kecerdasan sebagai satuan angka tunggal seperti IQ, dan justru
memperluas definisi kecerdasan ke dalam delapan domain utama, yaitu: kecerdasan
linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal,
dan naturalistik. Beberapa sumber juga menyebutkan tambahan kecerdasan seperti
eksistensial dan spiritual sebagai bentuk pengembangan dari model dasar Gardner.

Tes ini digunakan untuk mengetahui kecenderungan atau dominasi tipe kecerdasan
seseorang, baik dalam konteks pendidikan maupun pengembangan diri. Tidak seperti tes
akademik konvensional yang hanya mengukur aspek kognitif, tes multikecerdasan menilai
kemampuan individu dalam konteks kehidupan nyata, seperti kemampuan dalam berinteraksi
sosial (interpersonal), memahami diri sendiri (intrapersonal), mengelola tubuh dan gerak
(kinestetik), serta mengapresiasi musik atau alam.

Menurut Laila Rahmah dalam jurnalnya, tes multiple intelligences dapat membantu
guru mengenali potensi siswa secara lebih menyeluruh, sehingga memungkinkan penerapan
metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa. Demikian pula
dijelaskan dalam jurnal Universitas Negeri Padang bahwa alat ini merupakan instrumen
penting dalam strategi pembelajaran diferensial, di mana pengajar dapat memfasilitasi proses
belajar berdasarkan kekuatan dominan yang dimiliki oleh peserta didik.

Dengan kata lain, tes multikecerdasan bukan sekadar alat ukur, tetapi merupakan
pendekatan pedagogis yang menghargai keunikan setiap individu, mendorong pengembangan
potensi secara holistik, serta membantu dalam perencanaan pembelajaran yang lebih
manusiawi, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Tes ini menjadi sangat relevan di era
pendidikan modern, di mana keberagaman kemampuan dianggap sebagai kekayaan yang
perlu
3

dihargai dan diberdayakan, bukan diseragamkan.

2.2 Pengenalan Tes Multikecerdasan

Teori multiple inteligensi atau kecerdasan majemuk ditemukan dan dikembangkan oleh
Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate
School of Education, Harvard Univercity, Amerika Serikat. Gardner mendefinisikan
inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk
dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Berdasarkan
pengertian ini, dapat dipahami bahwa inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk
menjawab soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Akan
tetapi inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan yang nyata
dan dalam situasi yang bermacam-macam. Gardner menekankan pada kemampuan
memecahkan persoalan yang nyata, karena seseorang memiliki kemampuan inteligensi yang
tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang nyata, bukan hanya dalam teori.
Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya
bermacam-macam dan kompleks, semakin tinggi inteligensinya. Penemuan Gardner tentang
intelegensi seseorang telah mengubah konsep kecerdasan.

Menurut Gardner, kecerdasan seseorang diukur bukan dengan tes tertulis, tetapi
bagaimana seseorang dapat memecahkan problem nyata dalam kehidupan. Intelegensi
seseorang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan jumlahnya banyak, hal ini berbeda
dengan konsep lama yang menyatakan bahwa inteligensi seseorang tetap mulai sejak lahir
sampai kelak dewasa, dan tidak dapat diubah secara signifikan. Bagi Gardner suatu
kemampuan disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan
seseorang untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya. Hal
ini memicu upaya keras dari Howard Gardner untuk melakukan penelitian dengan melibatkan
para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang pada akhirnya melahirkan teori multiple
intelligences (kecerdasan jamak).

Multipe intelelligences yang telah dikemukakan Gardner diterjemahkan dalam kata


yang berbeda pada beberapa buku.

 Pada Alder (2001) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) diterjemahkan sebagai
kecerdasan yang berlipat ganda
4

 Uno (2009: 123) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) mengartikan sebagai
kecerdasan ganda.
 Efendi (2005:135) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) diterjemahkan sebagai
kecerdasan majemuk, dengan menggunakan serapan diartikan sebagai multi
inteligensi.

Gardner (2003) mengemukakan kecerdasan majemuk didasari bahwa orang mempunyai


kekuatan memahami berbeda dan gaya pemahaman yang kontras. Membawa visi alternatif
yang didasarkan pada panganan mengenai pikiran yang berbeda secara radikal, dan visi
menghasilkan pandangan mengenai sekolah yang amat berbeda, sekolah yang terpusat pada
individual, yang menerima pandangan multi dimensi dari kecerdasan. Tujuh
inteligensi/kecerdasan yang kemudian disebut multi inteligensi. Ketujuh jenis kecerdasan,
yakni :(1) kecerdasan verbal-linguistik; (2) kecerdasan logis-matematik; (3) kecerdasan
visual-spasial; (4) kecerdasan berirama-musik; (5) kecerdasan jasmaniah-kinestetik; (6)
kecerdasan interpersonal; (7) kecerdasan intrapersonal; Gardner (Andi Ichsan Mahardika,
2011).

Teori Multiple intelligences Multiple intelligences adalah sebuah teori yang


menyatakan bahwa manusia memiliki tujuh jenis kecerdasan. Setelah melakukan beberapa
penelitian lagi, akhirnya dalam bukunya Intelligences Reframed, Howard Gardner
menambahkan dua jenis kecerdasan lainnya, sehingga saat ini sudah terdapat sembilan jenis
kecerdasan yang dimiliki manusia. Kesembilan jenis kecerdasakan berdasarkan teori Gardner
adalah sebagai berikut:

1. Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan dalam menggunakan dan mengolah kata-kata


dengan efektif baik itu secara lisan atau tertulis sebagaimana yang dimiliki pencipta puisi,
editor, jurnalis, sastrawan, dan aktor. Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan dan
pengembangan bahasa secara umum. Orang dengan kecerdasan linguistik mempunyai
kepekaan yang tinggi terhadap makna kata-kata (semantik), aturan diantara kata-kata
(sintaksis), pada suara dan ritme ungkapan kata (fonologi), dan terhadap perbedaan fungsi
bahasa (pragmatik) (Suparno, 2013:26–27). Anak dengan kecerdasan linguistik biasanya
senang membaca, pandai bercerita, senang menulis cerita atau puisi, senang belajar bahasa
asing, mempunyai perbendaharaan kata yang baik.
5

2. Kecerdasan Logis-Matematis

Kecerdasan logis matematis adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan


penggunaan bilangan dan logika matematika secara efektif. Kecerdasan logis matematis
biasanya dimiliki oleh akuntan pajak, scientist, programmer komputer, dan ahli matematika
(Ula, 2013:90) Seseorang dengan kecerdasan logis matematis yang tinggi biasanya memiliki
ketertarikan terhadap angka-angka, senang menghitung, mudah mengingat angka-angka serta
skor-skor, menikmati permainan yang menggunakan strategi seperti catur atau game strategi,
senang menghabiskan waktu dengan mengerjakan kuis asah otak atau teka-teki logika
(Musfiroh, 2017:9).

3. Kecerdasan Visual Spasial

Kecerdasan visual spasial adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual


secara tepat. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berpikir dalam dengan gambar
dan cenderung mudah belajar melalui sajian-sajian visual seperti film, gambar, video dan
peragaan yang menggunakan model dan slide. Kecerdasan jenis ini banyak dimiliki oleh
arsitek, fotografer, mekanik, navigator, dekorator dan lain sebagainya (Ula, 2013:91–92).
Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya lebih mengingat wajah daripada nama,
senang menggambarkan ide-idenya atau membuat sketsa untuk membantunya menyelesaikan
masalah, senang dengan bongkar pasang, senang menonton film atau video.

4. Kecerdasan Musikal

Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan,


mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi
kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar, kemampuan
memainkan alat musik, kemampuan bernyanyi, kemampuan untuk mencipta lagu,
kemampuan untuk menikmati lagu, musik, dan nyanyian Seorang anak yang memiliki
kecerdasan musikal biasanya senang bernyanyi, senang mendengarkan musik, senang belajar
jika diiringi irama, peka terhadap suara, senang membuat suara-suara musikal dengan
tubuhnya (bersenandung, bertepuk tangan, atau menghentakkan kaki).

5. Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk

mengekspresikan gagasan dan perasaan. Anak dengan kecerdasan kinestetik cenderung suka
bergerak dan aktif, mudah dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik serta suka
bergerak sambil berpikir, mereka juga senang berakting, senang meniru gerak-gerik atau
ekspresi teman-temannya, senang berolahraga, terampil membuat suatu kerajinan, senang
menggunakan gerakangerakan untuk membantunya mengingat berbagai hal.

6. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap


perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain
sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini
juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, selain kemampuan menjalin persahabatan yang
akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi,
menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan
sebagainya.

7. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap


perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun
kelemahan yang ada pada dirinya sendri. Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini senang
melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian
mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan
kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri.

8. Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan


alam, misalnya senang berada dilingkungan alam yang terbuka, seperti pantai, gunung, cagar
alam, atau hutan. Seorang anak dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi
lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora
dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya.

9. Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial merupakan kemampuan seseorang untuk menjawab
persoalanpersoalan terdalam terkait eksistensi manusia. Kecerdasan ini tampak pada para
filsuf

eksistensial yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup
manusia.

Kegiatan yang dapat mengembangkan kecerdasan ini antara lain: bercakap-cakap


tentang kehidupan, menulis buku harian tentang kehidupan sehari-hari, menonton film
bersama tentang makna kehidupan, cerita interaktif, penanaman nilai-nilai ibadah, dan
lainlain (Istiningsih and Nisa dalam Berliana & Atikah, 2023).

2.3 Penggunaan Hasil Tes Multikecerdasan

Kecerdasan atau intelegensi adalah kemampuan umum tunggal yang dimiliki seseorang
pada tingkat yang berbeda dan berlaku untuk berbagai jenis tugas (Habibah, 2021). Dalam
bidang pendidikan inteligensi atau kecerdasan digunakan untuk menentukan prestasi belajar
individu ataupun kelompok, untuk beradaptasi di sekolah, di tempat kerja dan dalam
menghadapi siswa. Salah satu cara untuk menerima tes untuk memulai atau melanjutkan
pendidikan adalah tes kecerdasan. Individu atau kelompok dalam memecahkan masalah,
cepat atau lambat faktor penentunya adalah faktor kecerdasan orang ataupun kelompok yang
bersangkutan. Kecerdasan dan keberhasilan dalam pendidikan adalah dua hal yang saling
berhubungan. Biasanya, seorang anak dengan kecerdasan tinggi akan memiliki catatan yang
membanggakan di kelasnya, dan prestasinya akan memudahkannya untuk berhasil (Mangiwa
et al., 2014; Saptoto et al., 2012).

Tes kecerdasan, dapat digunakan untuk seleksi masuk sekolah dan perguruan tinggi.
Kapasitas mental selalu menjadi salah satu pertimbangan diterima atau tidaknya seseorang.
karena dianggap mengganggu kemampuan menalar, menganalisis, dan memecahkan masalah
di tempat kerja. Dalam bimbingan dan konseling kita mengenal adanya tes kecerdasan
individual dan tes kecerdasan kelompok yang berada pada ranahnya tes psikologi (Mangiwa
et al., 2014).

Intelligences) Kecerdasan kemampuan Majemuk atau berfikir inteligensi individu


(Multiple adalah dalam menyelesaikan suatu masalah. Kecerdasan atau inteligensi dapat
diartikan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan,
menguasainya, serta mempraktikkannya dalam suatu masalah.

Manfaat Penggunaan tes Multikecerdasan

Adapun manfaat dari penggunaan tes psikologi dalam dunia bimbingan dan konseling
untuk mengetahui kecerdasan umum, yaitu kemampuan keseluruhan individu ataupun
kelompok untuk bertindak dengan tujuan, berpikir rasional, dan beradaptasi secara efektif
dengan lingkungan, koordinasi sensorimotorik (motorik kasar dan halus), yang
mempengaruhi kemampuan anak dalam mengontrol diri dan melakukan kegiatan belajar
seperti menulis, menyanyi, Kemampuan berbicara untuk melihat apakah individu atau
kelompok sudah memiliki kemampuan berbicara yang sesuai dengan usianya atau lebih
muda. Hal ini dicari karena kemampuannya menyerap materi pembelajaran di sekolah
formal, Kognisi visual, artinya berkaitan dengan kemampuan anak dalam memproses
informasi visual, pemahaman simbol, memori, konsentrasi, kemampuan anak untuk
memusatkan perhatiannya, hubungan sosial, kemampuan anak untuk terlibat dalam interaksi
sosial dan penilaian sosial Kematangan emosi, yaitu seberapa baik seorang anak dapat
menampilkan respon emosional sesuai dengan tuntutan lingkungan (Nur’aeni, 2012;
Nurussakinah Daulay, 2014).

1. Tes Kecerdasan Individual

Ada beberapa tes kecerdasan individu yang harus diperhatikan oleh konselor ketika
bekerja dengan klien dari segala usia. Bagian ini menjelaskan tes kecerdasan individu yang
paling populer. Stanford-Bine, Skala Wechsler, Baterai Kaufman, Sistem Skor Kognitif
Naglieri, Woodcock-Johnson.

1. Stanford – Binet

Pada tahun 2003, Stanford-Binet Intelligence Scales, Edisi Kelima (SB5) dirilis sebagai
pembaruan untuk Edisi Keempat. Revisi ini mengikuti model hierarkis kemampuan kognitif
Cattell-Horn-Carroll. Mengelola baterai penuh membutuhkan waktu 45-75 menit. Ini dapat
diberikan kepada kandidat berusia 2 hingga 85 tahun ke atas (Hays, 2013).
Seperti pada versi sebelumnya, setiap karakter akan diberikan tugas yang berbeda
berdasarkan kemampuannya. Tes dimulai dengan dua subtes perutean (Deret Objek Matriks
dan Kosakata) untuk menentukan titik awal untuk subtes yang tersisa. Tergantung pada
kinerja subtes ini, pemeriksa akan memulai masing-masing dari delapan tes lainnya di salah
satu dari lima tingkat perkembangan. Kemudian, setiap tes berlanjut sampai setidaknya tiga
dari empat

item hilang. Ini menetapkan ambang batas untuk pengujian di mana item berikut diperkirakan
akan gagal: Subtes perutean hanya membutuhkan waktu 15-20 menit dan dapat digunakan
sendiri sebagai tes IQ yang dihilangkan.

Baterai menghasilkan skor IQ Skala Penuh, IQ Nonverbal dan Verbal, dan lima Indeks
Faktor: Penalaran Cairan, Pengetahuan, Penalaran Kuantitatif, Pemrosesan Visual – Spasial,
dan Memori Kerja. Tes verbal mengharuskan peserta tes untuk membaca dan berbicara
bahasa Inggris sesuai usia. Tes nonverbal membutuhkan koordinasi motorik halus untuk
memanipulasi dan menunjuk objek. Skor standar memiliki ratarata 100 tetapi, tidak seperti
edisi sebelumnya, memiliki standar deviasi 15, seperti dalam tes kecerdasan utama lainnya.
Skor subtes individu memiliki ratarata 10 dan standar deviasi 3. Sampel standar dari 4.800
orang yang dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, ras / etnis, wilayah geografis,
dan tingkat pendidikan untuk mencocokkan data sensus AS (S et al., 2012).

2. Timbangan Wechsler

a. Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler – Edisi Keempat

Skala 1939 direvisi pada tahun 1955 untuk memperbaiki banyak kekurangan yang
dijelaskan dalam bentuk sebelumnya. Formulir yang direvisi ini telah menjadi Skala
Kecerdasan Dewasa Wechsler (WAIS). WAIS direvisi lagi pada tahun 1981 untuk membuat
WAISR dan menstandarisasi sampel yang dipilih agar sesuai. Persentase Penduduk AS
menurut Ras, Pekerjaan, Pendidikan, dan Lokasi (Hays, 2013).

WAISIV dinormalisasi menggunakan 2.200 sampel yang dikelompokkan berdasarkan


usia, jenis kelamin, ras/etnis, wilayah geografis, dan tingkat pendidikan. Pembatasan
disertakan dalam manual, termasuk penafian terkait bahasa dan pertimbangan status
perkembangan/keterampilan. WAISIV menyediakan IQ skala penuh (FSIQ), general ability
quotient (GAI), dan skor indeks rata-rata 100 (yaitu, indeks untuk masing-masing dari empat
komponen). SDnya 15. Skor FSIQ dihasilkan menggunakan 10 subtes inti dan GAI dihitung
dari 6 subtes. Skor subtes rata-rata 10 dan standar deviasi 3 untuk 13 kelompok umur.

b. Skala Kecerdasan Wechsler untuk Anak-anak

Skala Kecerdasan Wechsler (WISC) untuk Anak-anak pada awalnya dikembangkan


sebagai perpanjangan dari Skala Kecerdasan Wechsler Bellevue untuk anak-anak usia 6-16.

10

Direvisi pada tahun 1974 (WISCR), berisi lebih banyak item yang berfokus pada anak-anak,
lebih banyak karakter Afrika-Amerika dan wanita, dan lebih mewakili anak-anak dari
populasi A.S.

Sampel disediakan. Edisi yang direvisi, diperbarui dan distandarisasi ulang diterbitkan
sebagai WISC III pada tahun 1991 dan yang keempat sebagai WISC IV pada tahun 2003.
Integrated WISC IV diterbitkan pada tahun 2004 dan mencakup WISC IV dan WISC III yang
diperbarui dan direvisi sebagai alat proses. Sampel standar WISCIV terdiri dari 2.200 anak
berusia 6 hingga 16 tahun, dengan 200 di masing-masing dari 11 kelompok usia. Sampel
dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan orang tua, wilayah
geografis, dan ras/etnis.

Skor indeks dan skor IQ penuh memiliki mean (100) dan standar deviasi (15) yang
sama dengan WAISIV. Kriteria diberikan untuk setiap kelompok usia 4 bulan dari 6 hingga
16 tahun. WISC telah terbukti menjadi alat yang berguna untuk mendiagnosis
ketidakmampuan belajar dan intelektual. Ada juga WISCIV versi Spanyol.

3. Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI-III)

Pada tahun 1967, versi WISC yang diperluas dikembangkan untuk anak-anak berusia 4
hingga 6,5 tahun, yang disebut Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler (WPPSI), dan direvisi
menjadi WPP SIR pada tahun 1989. Pada tahun 2002, WPPSI direvisi untuk membaginya
menjadi dua kelompok usia, memungkinkan rentang usia yang lebih rendah hingga 2,5 tahun.
Anak-anak usia 2,5-4 mengambil 4 subtes dan 7 subtes. Orang-orang antara usia 4 dan 7
memiliki IQ lisan, IQ yang dicapai, dan skor IQ lengkap. Ada subtes tambahan dan opsional
yang dapat menggantikan subtes inti tertentu (Hays, 2013).

Subtes spesifik yang digunakan bervariasi berdasarkan kelompok usia dan kebutuhan
untuk pengujian tambahan. Subtes WPPSI adalah sebagai berikut:
a. Kosakata: memilih gambar yang tepat yang dikutip oleh penguji dari empat set atau
memberikan definisi kata-kata yang dibacakan;
b. Penamaan Gambar: penamaan gambar; Jurnal Sinestesia ISSN 2721-9283
c. Desain Blok: membuat ulang model atau gambar dari buku stimulus menggunakan
balok;

11

d. Perakitan Objek: menyatukan potongan puzzle untuk membentuk keseluruhan yang


bermakna dalam waktu 90 detik;
e. Informasi: memilih gambar dari empat pilihan dalam menanggapi pertanyaan
informasi penguji atau menanggapi topik pengetahuan umum;
f. Word Reasoning: mengidentifikasi konsep umum di antara petunjuk-petunjuk
spesifik;
g. Pemahaman: menanggapi pertanyaan berdasarkan pengetahuan tentang situasi umum;
h. Kesamaan: melengkapi kalimat yang tidak lengkap dengan mengidentifikasi
kesamaan konsep yang disebutkan dalam kalimat;
i. Penalaran Matriks: memilih bagian yang hilang dari matriks yang tidak lengkap dari
beberapa opsi respons;
j. Konsep Gambar: memilih satu gambar per baris dari dua atau tiga baris untuk
membentuk kelompok;
k. Pencarian Simbol: memindai grup pencarian dan menunjukkan apakah simbol target
cocok dengan simbol mana pun dalam grup pencarian; dan
l. Penyelesaian Gambar: melihat gambar dan mengidentifikasi bagian yang hilang.

4. Wechsler Disingkat Skala Kecerdasan

Ada juga Wechsler Abbreviation Intelligence Scale (WAIS), yang merupakan


singkatan dari Wechsler equipment. Hanya membutuhkan waktu 15-30 menit untuk
mengelola WASI dan cocok untuk orang berusia 6-89 tahun. Ini adalah prosedur sederhana
yang terkait dengan WISC III dan WAIS III. Hasilnya kurang stabil dan tidak boleh
digunakan jika perkiraan yang lebih akurat dari versi lengkap diperlukan (Hays, 2013).

5. Baterai Kaufman

Baru-baru ini, beberapa tes, termasuk tes Kaufman dan sistem Dasnaglieri, telah
dikembangkan menggunakan teori kecerdasan neuropsikologis Luria. Dikenal sebagai model
PASS. Teori ini didasarkan pada perencanaan (memilih strategi untuk memecahkan masalah
secara efisien), A-attention (perhatian selektif terhadap rangsangan dan menekan rangsangan
yang bersaing), dan simultan S (beberapa rangsangan dalam satu entitas).Untuk
mengintegrasikan), dan Continuous (berfungsi dalam urutan serial tertentu) (Hays, 2013).

Kaufman telah mengembangkan beberapa baterai tes kecerdasan, termasuk Kaufman


Rating Battery (KABCII) untuk anak-anak dan Kaufman Youth and Adult Intelligence Test

12

(KAIT). KABCII terdiri dari 18 subtes, hingga 10 di antaranya dilakukan sesuai dengan usia
anak. Dirancang untuk anak-anak usia 3-18, ini memberikan hasil untuk enam indikator
kompetensi yang berbeda. Ini distandarisasi oleh Tes Prestasi Pendidikan Kaufman. KABCII
juga dapat mengisolasi hasil pemrosesan dan dianggap lebih adil secara lintas budaya
daripada kebanyakan tes kecerdasan yang sebanding dengan Skor mengkristal.

KAIT terdiri dari 6 subtes inti dan 4 subtes tambahan dengan baterai yang diperpanjang
dan dinormalisasi dari 11 hingga 85 tahun. Ini memberikan skor untuk kecerdasan kristal dan
cairan dan skor IQ komposit, masing-masing dengan faktor kepercayaan lebih dari 0,90.
Bentuk singkat Tes Kecerdasan Pendek Kaufman dapat diselesaikan dalam waktu 15-30
menit dan terdiri dari bagian kosakata (melalui foto) dan bagian matriks yang berisi foto dan
pola abstrak. Ini berguna jika kendala waktu mencegah Anda menggunakan ukuran panjang.

6. Woodcock – Johnson

The Woodcock-Johnson III (r) Diagnostic Reading Battery (WJ III DRB) terdiri dari 10
subtes yang menilai aspek membaca, termasuk pengenalan fonetik, pengetahuan fonetik,
pemahaman bacaan, kosakata lisan, dan pemahaman lisan. Delapan dari sepuluh subtes
berasal dari versi standar atau yang disempurnakan dari Tes Kemampuan WJ III (WJ III
ACH), dan dua lainnya berasal dari Tes Kemampuan Kognitif WJ III (WJ III COG). DRB
WJIII menggunakan sampel referensi yang sama dengan WJIII dan melibatkan lebih dari
8.800 individu dalam prosedur pengambilan sampel tiga langkah. Buku pegangan ini berisi
informasi yang luas tentang keandalan dan validitas DRB WJ III (Hays, 2013).

2. Tes Kecerdasan Kelompok

Tes Kecerdasan Kelompok untuk Penggunaan Sekolah

1. Tes Kemampuan Kognitif


Tes Kemampuan Kognitif, Formulir 6 (CogAT6) adalah versi terbaru dari Tes
Kecerdasan Large-Thorndike. Ada dua edisi tes. Edisi utama untuk 3 level dari taman kanak-
kanak hingga kelas 2 dan edisi multi level untuk kelas 3 hingga 12. CogAT6 terdiri dari tiga
baterai yang dievaluasi verbal, kuantitatif dan non-verbal. Kemampuan, setiap baterai terdiri
dari tiga tes skor komposit yang terpisah. Bagian non-verbal tidak menggunakan bahasa atau
angka, melainkan menggunakan bentuk geometris untuk tugas-tugas yang memerlukan

13

klasifikasi, analogi, atau komposisi angka. Bagian ini meminimalkan sekolah formal,
pemahaman bacaan yang buruk, atau dampak dari penutur asli bahasa Inggris. Anda dapat
mengubah skor mentah untuk setiap bagian Skor stanin dan persentil untuk usia dan tingkat
kelas. Hal ini memungkinkan Anda untuk membandingkan tiga skor di kedua kelompok
standar dan setiap individu. Selain itu, Anda dapat mengonversi skor menjadi skor standar
dengan rata rata 100 dan standar deviasi 16, untuk menghasilkan standar deviasi usia atau
skor IQ. Tes kognitif dibakukan dari TK sampai kelas 9, bersama dengan tes keterampilan
dasar Iowa (Hays, 2013).

Tes tersebut distandarisasi pada sampel 180.000 siswa yang mewakili Sensus AS dan
menemukan prediksi yang tinggi dan stabil di semua tingkat kelas antara skor CogAT6 dan
skor masa depan Tes Kinerja Iowa.

2. Tes Keterampilan Kognitif

Tes Keterampilan Kognitif adalah versi modern dari Tes Kematangan Mental
California yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Dalam bentuk aslinya, perangkat ini
dirancang sebagai tes kelompok yang setara dengan Stanford-Binet, dengan hasil yang serupa
dengan yang diberikan secara individual dengan Stanford-Binet. Selain untuk menguji
kemampuan linguistik dan nonverbal, juga termasuk bagian untuk menilai memori jangka
pendek. Ada 6 level, masing-masing dirancang untuk 2 level kelas dari Kelas 2 hingga Kelas
12. Tes kognitif utama tersedia di Grade K-1. Usia dan nilai Stannabenzene, persentil, dan
kriteria penilaian standar tersedia untuk setiap subtes. Indeks keterampilan kognitif majemuk
memberikan skor IQ deviasi. Ini distandarisasi di Terra Nova dan California Achievement
Tests-5 (Hays, 2013).

3. Otis – Tes Kemampuan Sekolah Lennon


Tes Kemampuan Sekolah Otis – Lennon, Edisi ke-8 (OLSAT8) mencakup tujuh tingkat
dari taman kanak-kanak hingga kelas 12. Tes ini diterbitkan dalam dua format dan
menghasilkan hasil linguistik dan non-verbal berdasarkan 36 item subtes dan skor IQ
keseluruhan. Tes ini adalah versi terbaru dari serangkaian tes Otis sebelumnya. OLSAT8
dinormalisasi bersama dengan Metropolitan Achievement Test 8 dan Stanford Achievement
Test 10 (Hays, 2013).

14

Contoh Lampiran
Nama Kegiatan : Pemberian motivasi kepada peserta didik

Tujuan : Mempersiapkan mental dan pemberian konsep kepada peserta didik mengenai
kecerdasan majemuk yang mereka miliki beserta jenis kegiatan yang tepat
untuk

mengembangkan kecerdasan mereka

Waktu : 30 menit Aktivitas :


1. Peneliti memberikan pertanyaan kepada orang tua mengenai perkiraan
jenis kecerdasan yang dimiliki anakanak mereka.
2. Peneliti menjelaskan prosedur tes kecerdasan majemuk yang sudah
dilakukan oleh anak-anak mereka.
3. Peneliti mensosialisasikan secara umum jenis kegiatan ekstrakurikuler
yang tersedia di tahun ajaran 2014/2015.
4. Peneliti membagikan hasil tes kecerdasan majemuk kepada tiap-tiap
peserta didik beserta dengan rekomendasi jenis kegiatan yang sesuai
dengan kecerdasan peserta didik.
5. Peneliti meminta orang tua untuk memotivasi anakanaknya agar dapat
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sudah direkomendasikan secara
akfif.
6. Peneliti memberikan waktu kepada orang tua untuk berdiskusi dengan
anak-anaknya.
7. Peneliti memberikan lembar komitmen mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler.
Materi Kegiatan :

Draff Form Tes Kecerdasan Majemuk


Multiple Intelligences Test
1=sangat tidak setuju; 2=sedikit tidak setuju; 3=sedikit setuju; 4= sangat setuju
Kelas:
Nama: ____________________

_______________________
Tulis angka 1, 2,3, atau 4 hanya di
kotak yang berwarna terang
Saya dapat bermain alat musik
Sering ada potongan lagu muncul di pikiran saya
Saya mudah mengarang cerita
Saya berlari, melompat dan memiliki keseimbangan yang baik

Musik sangat penting buat saya


Saya pembohong yang hebat (jika saya mau)
Saya senang berolahraga atau menari
Saya senang bersama-sama dengan orang lain
Saya lebih mudah memahami sesuatu dengan gambar,
21
16
grafik, dan diagram

Saya mudah mengingat kutipan penggalan, kalimat, puisi atau


kata-kata dalam lagu
Saya selalu mengenali tempat-tempat yang pernah saya
kunjungi
Ketika saya berkonsentrasi, saya cenderung seolah-olah
menggambar sesuatu di otak saya atau mencoret-coret
Saya dapat menghitung cepat dalam pikiran saya 22
Salah satu pelajaran kesenangan saya adalah pelajaran bahasa 16

Saya menyelesaikan masalah dengan hati-hati dengan


mempertimbangkan akibatnya
Saya akan senang dan berani melakukan olahraga yang
berbahaya
Saya senang berolahraga sendiri (renang, lari, jogging)
Saya mudah mengingat nomor telepon
Saya selalu punya tujuan dan rencana untuk hari esok
Saya tahu jika seseorang suka atau tidak suka dengan saya
Saya hanya perlu terlibat dan mencoba, saat belajar sesuatu
yang baru
Saya dapat membayangkan suatu gambar saat sedang
menutup mata
Saya menghitung tanpa menggunakan jari
Saya senang pelajaran musik di sekolah
Saya melakukan permainan yang menggunakan bola dengan
mudah dan menyenangkan
Saya senang pelajaran Matematika di sekolah
Saya selalu tahu bagaimana perasaan saya
Saya menulis diari
Pelajaran yang paling saya senangi adalah Art
Saya sangat senang membaca
Saya merasa bersalah jika melihat seseorang menangis namun
tidak dapat membantu apa-apa
Saya senang olahraga beregu
Bernyanyi membuat hati saya senang
Saya senang saat sendirian
Teman-teman selalu datang pada saya untuk minta nasehat

24

2.4 Penggunaan Hasil Tes Multikecerdasan dalam BK Sesuai Kode Etik

Tes hasil multikecerdasan merupakan alat asesmen yang digunakan untuk mengetahui
kecenderungan tipe kecerdasan seseorang berdasarkan teori Howard Gardner. Dalam konteks
bimbingan dan konseling (BK), penggunaan tes ini sangat relevan untuk memahami potensi,
gaya belajar, dan arah pengembangan diri konseli. Namun, penggunaannya harus
berpedoman pada kode etik konselor agar tidak terjadi pelanggaran hak dan kepentingan
konseli.

1. Prinsip Kode Etik dalam Penggunaan Tes

Menurut Kode Etik Konselor Indonesia yang disusun oleh ABKIN (2007), terdapat
sejumlah prinsip dasar yang wajib dipatuhi oleh konselor saat menggunakan instrumen
asesmen, termasuk tes multikecerdasan:

a. Kerahasiaan (Confidentiality)

Hasil tes kecerdasan majemuk merupakan bagian dari informasi pribadi konseli.
Konselor wajib menjaga kerahasiaan data tersebut dan hanya menggunakan atau
membagikannya dengan izin tertulis dari konseli atau pihak yang berwenang. “Konselor
berkewajiban melindungi informasi yang diperoleh dari konseli selama proses konseling
berlangsung kecuali dengan izin tertulis dari konseli” (ABKIN, 2007, pasal tentang
kerahasiaan).

b. Persetujuan Informasi (Informed Consent)

Sebelum melaksanakan tes, konselor harus menjelaskan kepada konseli tujuan,


manfaat, serta cara penggunaan hasil tes tersebut. Konseli berhak menyetujui atau menolak
mengikuti asesmen.

c. Kompetensi Profesional

Penggunaan dan interpretasi tes harus dilakukan oleh konselor yang memiliki
pengetahuan dan keterampilan terkait. Kesalahan interpretasi karena kurangnya kompetensi
dapat menyesatkan proses bimbingan. “Konselor menggunakan teknik dan prosedur yang
sesuai dengan kompetensi dan pelatihan profesional yang telah diperolehnya” (ABKIN,
2007).

25

d. Penggunaan yang Sesuai Tujuan


Tes digunakan untuk mendukung proses konseling secara tepat, bukan sebagai satu-
satunya dasar pengambilan keputusan. Tes hasil multikecerdasan seharusnya menjadi bagian
dari asesmen holistik terhadap konseli.

e. Tidak Menyebabkan Labelisasi atau Diskriminasi

Tes tidak boleh dijadikan alat untuk melabeli konseli sebagai “lemah” atau “tidak
cerdas” karena setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Konselor wajib
memandang hasil tes sebagai potensi, bukan batasan.

Penerapan Praktis Sesuai Etika

Dalam praktiknya, penggunaan tes hasil multikecerdasan secara etis mencakup


langkah-langkah seperti:

a. Menyampaikan tujuan asesmen secara terbuka kepada konseli.

b. Memberikan hasil interpretasi secara positif dan konstruktif.

c. Menjadikan hasil sebagai bahan pertimbangan dalam merancang layanan bimbingan


individual maupun klasikal.

d. Melibatkan konseli dalam proses pemaknaan hasil asesmen agar mereka merasa dihargai
dan dipahami.

26

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tes multikecerdasan merupakan alat yang penting dalam dunia pendidikan untuk
mengidentifikasi berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki individu, berdasarkan teori
kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Teori ini memperluas
konsep kecerdasan dari yang sebelumnya hanya berfokus pada aspek kognitif, menjadi
mencakup berbagai kemampuan seperti linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal,
kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistik. Tes ini tidak hanya memberikan
gambaran menyeluruh tentang potensi siswa, tetapi juga menjadi dasar penting dalam
penerapan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Pemahaman
terhadap berbagai jenis kecerdasan ini memungkinkan pendidikan menjadi lebih manusiawi,
adaptif, dan berpusat pada pengembangan potensi unik setiap individu.

3.2 Saran

Melihat pentingnya pemahaman tentang teori kecerdasan majemuk dan penerapan tes
multikecerdasan dalam dunia pendidikan, maka disarankan kepada para pendidik agar mulai
mengintegrasikan pendekatan ini dalam proses pembelajaran di kelas. Guru hendaknya tidak
hanya mengandalkan hasil tes akademik konvensional, tetapi juga menggunakan asesmen
kecerdasan majemuk untuk mengenali kekuatan dan kelemahan peserta didik secara lebih
menyeluruh. Dengan begitu, metode pembelajaran dapat disesuaikan untuk mengoptimalkan
potensi masing-masing siswa. Selain itu, penting juga bagi sekolah untuk memberikan
pelatihan kepada guru agar lebih memahami teori ini serta mampu mengimplementasikannya
secara efektif dalam pembelajaran. Di sisi lain, siswa dan orang tua juga perlu diberikan
pemahaman bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari nilai-nilai akademis, tetapi juga dari
kemampuan nyata dalam berbagai aspek kehidupan.

27

DAFTAR PUSTAKA
ABKIN. (2007). Kode Etik Konselor Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Amadhani, A. (2020). Urgensi Pengetahuan Multiple Intelligences dalam Dunia Pendidikan.


Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2(2), 55–65

BIBLIOGRAPHY Berliana, D., & Atikah, C. (2023). TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DAN
IMPLIKASINYA DALAM. Jurnal Citra Pendidikan, 3(3), 1108-1117.

Corey, G., Corey, M. S., & Callanan, P. (2011). Issues and Ethics in the Helping Professions
(8th ed.). Belmont: Brooks/Cole.

Dewi Widaryanti, D. H. (2018). Meningkatkan Hasil Belajar siswa dengan memanfaatkan


kecerdasan majemuk pada penerapan model kooperatif Tipe STAD . Jurnal Penelitian
Pembelajaran Matematika Sekolah , 25-34.

Fitriani, A., & Safitri, D. (2023). Analisis Pengaruh Gaya Belajar dan Kecerdasan Majemuk
Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(1), 284–292.

Laila, R. (2021). Penerapan Teori Multiple Intelligences dalam Pembelajaran PAI untuk
Mengembangkan Potensi Kecerdasan Siswa. Artikel Publikasi Pascasarjana IAIN
Tulungagung.

Nurhasanah, D., & Wahyuni, D. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Multiple
Intelligences pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Palembang. Jurnal Pendidikan
dan Pembelajaran, 13(2), 158–169.

Prayitno. (2017). Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Padang: UNP
Press.

Sabarrudin, W. F. (2022). Tes Psikologi: Tes kecerdasan Individual dan Kelompok dalam
Bimbingan dan Konseling . Jurnal Sinestesia , 215-223.

28

Anda mungkin juga menyukai