Esensi Demokrasi Pancasila di Indonesia
Esensi Demokrasi Pancasila di Indonesia
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Demokrasi Indonesia
Berlandaskan Pancasila Dan UUD 1945.” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ibu
Revita Yuni,[Link].,[Link]. Pada mata kuliah KEWARGANEGARAAN. Selain itu, makalah ini
juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang demokrasi Indonesia yang berlandaskan
Pancasila UUD 1945 bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Revita Yuni,[Link].,[Link]. selaku dosen
yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasansesuai
dengan bidang studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.
Kelompok 5
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................1
DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... 2
BAB I.......................................................................................................................................................3
PENDAHULUAN.................................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang Masalah.................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah..............................................................................................................3
C. Tujuan................................................................................................................................ 4
BAB II....................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN..................................................................................................................................... 5
A. Makna dan Prinsip Demokrasi........................................................................................ 5
B. Bentuk Demokrasi.........................................................................................................16
C. Hakikat Demokrasi Indonesia (Demokrasi Pancasila)..................................................20
D. Dinamika Demokrasi.....................................................................................................23
E. Demokrasi Pancasila..................................................................................................... 24
F. Pendidikan Demokrasi.................................................................................................. 27
G. Pengertian Demokrasi................................................................................................... 28
H. Pengertian Pendidikan Demokrasi................................................................................ 30
BAB III....................................................................................................................................33
PENUTUP...............................................................................................................................33
A. Kesimpulan................................................................................................................... 33
B. Saran..............................................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 34
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945 telah mengalami perjalanan panjang dalam membangun sistem pemerintahan yang
inklusif dan berkeadilan. Demokrasi di Indonesia tidak hanya menjadi tuntutan konstitusi, tetapi
juga merupakan cerminan dari nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan dalam beragama,
bernegara, dan bernegara. Meskipun telah mengalami kemajuan signifikan dalam praktik
demokrasi, namun tantangan dan permasalahan yang dihadapi tetap menjadi isu yang
memerlukan perhatian serius.
Dalam konteks demokrasi Indonesia yang berbasis Pancasila dan UUD 1945, tentu tak lepas
dari dinamika politik, sosial, dan ekonomi yang terus berubah seiring dengan perkembangan
zaman. Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya mewujudkan demokrasi yang sejati antara
lain adalah keterlibatan masyarakat yang lebih aktif dalam proses pengambilan keputusan
publik, peningkatan kualitas kepemimpinan, serta perlindungan terhadap hak asasi manusia dan
kebebasan berpendapat. Semua aspek ini merupakan komponen penting yang harus
diperhatikan agar demokrasi Indonesia dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Selain itu, adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi turut membawa dampak
dalam dinamika demokrasi Indonesia. Peran media massa dan platform digital telah
memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi politik dan mengungkapkan pendapat
mereka. Sebagai akibatnya, transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik semakin menjadi
fokus penting dalam menjaga integritas sistem demokrasi Indonesia. Oleh karena itu, penting
untuk terus melakukan evaluasi, reformasi, dan inovasi dalam memperkuat fondasi demokrasi
berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila dan UUD 1945.
B. Tujuan
1. Mengetahui makna dan prinsip demokrasi
2. mengetahui apa saja bentuk demokrasi
3. memberikan penjelasan mengenai hakikat demokrasi indonesia demokrasi pancasila
4. memberikan penjelasan tentang dinamika demokrasi di indonesia
[Link] apa itu demokrasi pancasila
6. dan pendidikan demokrasi
3
C. Rumusan Masalah
1. Apa makna dan prinsip demokrasi
2. Apa saja bentuk demokrasi
3. Bagaimana hakikat demokrasi indonesi demokrasi pancasila
4. Apa dinamika demokrasi di Indonesia
5. Apa itu demokrasi pancasila
6. Apa itu pendidikan demokrasi
4
BAB II
PEMBAHASAN
Demokrasi sebagai suatu sistem telah dijadikan alternatif dalam berbagai tatanan
aktivitas bermasyarakat dan bernegara di beberapa Negara. Seperti diakui oleh Moh. Mahfud
MD, ada dua alasan dipilihnya demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara. Pertama,
hampir semua negara didunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang
fundamamental.; Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan
arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan Negara sebagai organisasi tertingginya.
Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar pada warga masyarakat
tentang demokrasi.
Pengertian demokrasi dapat dilihat dari tinjauan bahasa (epistemologis) dan istilah
(terminologis). Secara epistemologis "demokrasi" terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa
Yunani yaitu "demos" yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan "cretein" atau
"cratos" yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos-
cratos adalah keadaan Negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di
tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa,
pemerintah rakyat dan oleh rakyat. Sementara itu, pengertian demokrasi secara istilah
sebagaimana dikemukakan para ahli sebagai berikut:
a. Menurut Joseph A. Schemer
Demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan
polituk dimana individu- individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara
perjuangan kompetitif atas suara rakyat.
b. Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang
penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas
yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
c. Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl
Demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai tanggung
jawab atas tindakan-tindakan mereka diwilayah publik oleh warganegara, yang
5
bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerjasama dengan para wakil
mereka yang terpilih.
d. Henry B. Mayo
Menyatakan demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang
menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil- wakil
yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan- pemilihan berkala yang
didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana
terjaminnya kebebasan politik.
Affan Ghaffar (2000) memaknai demokrasi dalam dua bentuk yaitu pemaknaan secara
normatif (demokrasi normatife) dan empirik (demokrasi empirik):
a. Demokrasi Normatif adalah demokrasi yang secara ideal hendak dilakukan oleh
sebuah Negara.
b. Demokrasi Empirik adalah demokrasi dalam perwujudannya pada dunia politik
praktis.
Makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara mengandung pengertian
bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam masalah-masalah mengenai kehidupannya,
termasuk dalam menilai kebijakan Negara, karena kebijakan Negara tersebut akan menentukan
kehidupan rakyat. Dengan demikian Negara yang menganut sistem demokrasi adalah Negara
yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Dari sudut organisasi,
demokrasi berarti pengorganisasian Negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau atas
persetujuan rakyat karena kedaulatan ditangan rakyat.
Kesimpulan-kesimpulan dari beberapa pendapat diatas adalah bahwa hakikat demokrasi sebagai
suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada
keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik dalam penyelenggaraan berada di tangan rakyat
mengandung pengertian tiga hal, yaitu:
a) Pemerintahan dari rakyat (government of the people) Mengandung pengertian yang
berhubungan dengan pemerintah yang sah dan diakui (ligimate government) dimata rakyat.
Sebaliknya ada pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligimate government).
Pemerintahan yang diakui adalah pemerintahan yang mendapat pengakuan dan dukungan
rakyat. Pentingnya legimintasi bagi suatu pemerintahan adalah pemerintah dapat
menjalankan roda birokrasi dan program- programnya.
b) Pemerintahan oleh rakyat (government by the people) pemerintahan oleh rakyat berarti
bahwa suatu pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan
sendiri. Pengawasan yang dilakukan oleh rakyat (sosial control) dapat dilakukan secara
6
langsung oleh rakyat maupun tidak langsung (melalui DPR).
c) Pemerintahan untuk rakyat (government for the people) Mengandung pengertian bahwa
kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah dijalankan untuk kepentingan
rakyat. Pemerintah diharuskan menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat
dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung.
7
nilai dan semangat musyawarah. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika
masing-masing pribadi atau kelompok yang bersangkutan memiliki kesediaan psikologis untuk
melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah, dan bahwa setiap orang pada
dasarnya baik, berkecenderungan baik, dan beriktikad baik.
e. Pemenuhan segi- segi ekonomi
Masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari
perencanaan sosial-budaya. Warga dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana, dan harus
memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik
demokrasi. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus
mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial.
f. Kerja sama antar warga untuk mempercayai iktikad baik masing-masing. Kerja sama antar
warga untuk mempercayai iktikad baik masing-masing. kemudian jalinan dukung-
mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang
ada, merupakan segi penunjang efisiensi untuk demokrasi. Pengakuan akan kebebasan
nurani (freedom of conscience), persamaan percaya pada iktikad baik orang dan kelompok
lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif
dan optimis.
g. Pandangan hidup demokratis harus dijadikan unsur yang menyatu dengan pendidikan
demokrasi. Pandangan hidup demokrasi terlaksana dalam abad kesadaran universal
sekarang ini, maka nilai-nilai dan pengertian pengertiannya harus dijadikan unsur yang
menyatu dengan sistem pendidikan kita. Perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh
memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi
perbedaan dan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk mentukan pemimpin atau
kebijakan. Jadi pendidikan demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik, melainkan
telah membumi dalam interaksi dan pergaulan sosial baik dikelas maupun diluar kelas.
Tumbuh dan berkembangnya demokrasi dalam suatu Negara memerlukan ideology yang
terbuka, yaitu ideologi yang tidak dirumuskan "sekali dan untuk selamanya" (once and for
all), tidak dengan ideology tertutup yaitu ideology yang konsepnya (presept) dirumuskan "
sekali dan untuk selamanya" sehingga cenderung ketinggalan zaman (obsolete, seperti
terbukti dengan ideology komunisme).
Dalam konteks ini Pancasila-sebagai ideology Negara harus ditatap dan ditangkap
sebagai ideology terbuka, yaitu lepas dari kata literalnya dalam pembukaan UUD 1945.
Penjabaran dan perumusan presept-nya harus dibiarkan terus berkembang seiring dengan
dinamika masyarakat dan pertumbuhan kualitatifnya, tanpa membatasi kewenangan
8
penafsiran hanya pada suatu lembaga "resmi " seperti di negeri-negeri komunis. Karena itu,
ideology Negara- Pancasila-Indonesia dalam perjumpaannya dengan konsep dan sistem
demokrasi terbuka terhadap kemungkinan proses-proses 'coba dan salah (trial and error).
dengan kemungkinan secara terbuka pula untuk terus menerus melakukan koreksi dan
perbaikan, justru titik kuat suatu ideology yang ada pada suatu Negara ketika berhadapan
dengan demokrasi adalah ruang keterbukaan. Karena demokrasi dengan segala
kekurangannya, ialah kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri melalui
keterbukaannya itu. Jadi bila demokrasi ingin tumbuh dan berkembang dalam Negara
Indonesia yang mempunyai ideology Pancasila mensyaratkan ideology tersebut sebagai
ideology terbuka.
9
Keenam syarat tersebut harus terpenuhi dalam suatu pemerintahan yang demokratis.
Jika tidak, apalagi terdapat praktik-praktik yang bertentangan dengan keenam prinsip tersebut,
maka sistem pemerintahan itu kurang layak disebut pemerintahan yang demokratis.
Praktik demokrasi dapat dilihat sebagai gaya hidup serta tatanan masyarakat. Dalam
pengertian ini, suatu masyarakat demokratis mempunyai nilai- nilai sebagai berikut:
1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga. Dalam alam demokrasi,
perbedaan pendapat dan kepentingan dianggap sebagai hal yang wajar. Perselisihan harus
diselesaikan dengan perundingan dan dialog, untuk mencapai kompromi, konsensus, atau
mufakat.
2. Menjamin terselenggaranya perubahan dalam masyarakat secara damai atau tanpa gejolak.
Pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijaksanaannya terhadap perubahan-perubahan
tersebut dan mampu mengendalikannya.
3. Menyelenggarakan pergantian kepemimpinan secara teratur. Dalam masyarakat demokratis,
pergantian kepemimpinan atas dasar keturunan, pengangangkatan diri sendiri, dan coup
d'etat (perebutan kekuasaan) dianggap sebagai cara-cara yang tidak wajar.
4. Menekan penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Golongan minoritas yang biasanya
akan terkena paksaan akan lebih menerimanya apabila diberi kesempatan untuk ikut
merumuskan kebijakan.
5. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman. Untuk itu perlu terciptanya
masyarakat yang terbuka dan kebebasan politik dan tersedianya berbagai alternatif dalam
tindakan politik. Namun demikian, keanekaragaman itu tetap berada dalam kerangka
persatuan bangsa dan negara.
6. Menjamin tegaknya keadilan. Dalam masyarakat demokratis, keadilan merupakan cita-cita
bersama, yang menjangkau seluruh anggota masyarakat.
10
makna berbeda. Istilah rechtsstaat banyak dianut di negara-negara Eropa Kontinental yang
bertumpu pada sisitem civil law, sedangkan the rule of law banyak dikembangkan dinegara-
negara Anglo Saxon yang bertumpu pada Common Law. Civil law menitikberatkan pada
administration law, sedangkan common law menitikberatkan pada judicial. Konsep rechtsstaat
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Adanya perlindungan terhadap HAM
b. Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga Negara untuk
menjamin perlindungan HAM.
c. Pemerintahan berdasarkan peraturan.
d. Adanya peradilan administrasi.
e. Adapun the rule of law dicirikan oleh:
f. Adanya supremasi aturan- aturan hukum
g. Adanya kesamaan kedudukan di depan hukum (equality before the law).
h. Adanya jaminan perlindungan HAM
Dengan demikian konsep Negara hukum sebagai gabungan dari kedua konsep diatas dapat
dicirikan sebagai berikut:
a. Adanya perlindungan terhadap HAM.
b. Adanya supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan.
c. Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga Negara.
d. Adanya lembaga peradilan yang bebas dan mandiri.
Macam-macam Demokrasi
a. Berdasarkan ideologi
Berdasarkan sudut pandang ideologi, sistem politik demokrasi dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu demokrasi konstitusional atau demokrasi liberal dan demokrasi rakyat.
1) Demokrasi konstitusional (demokrasi liberal)
Dasar pelaksanaan demokrasi konstitusional adalah kebebasan individu. Ciri khas pemerintahan
demokrasi konstitusional adalah kekuasaan pemerintahannya terbatas dan tidak diperkenankan
banyak campur tangan dan bertindak sewenang-wenang terhadap warganya. Kekuasaan
pemerintah dibatasi oleh konstitusi.
2) Demokrasi rakyat
Demokrasi rakyat mencita-citakan kehidupan tanpa kelas sosial dan tanpa kepemilikan pribadi.
Demokrasi rakyat merupakan bentuk khusus demokrasi yang memenuhi fungsi diktator proletar.
12
Pada masa Perang Dingin, sistem demokrasi rakyat berkembang di negara-negara Eropa Timur,
seperti Cekoslovakia, Polandia, Hungaria, Rumania, Bulgaria, Yugoslavia, dan Tiongkok.
Sistem politik demokrasi rakyat disebut juga "demokrasi proletar" yang berhaluan Marxisme-
komunisme.
2) Demokrasi material
13
Demokrasi material adalah sistem politik demokrasi yang menitikberatkan pada upayaupaya
menghilangkan perbedaan dalam bidang-bidang ekonomi, sedangkan persamaan bidang politik
kurang diperhatikan bahkan kadang-kadang dihilangkan. Usaha untuk mengurangi perbedaan di
bidang ekonomi dilakukan oleh partai penguasa dengan mengatasnamakan negara di mana
segala sesuatu sebagai hak milik negara dan hak milik pribadi tidak diakui.
3) Demokrasi gabungan
Demokrasi gabungan adalah demokrasi yang menggabungkan kebaikan serta membuang
keburukan demokrasi formal dan demokrasi material. Persamaan derajat dan hak setiap orang
diakui, tetapi demi kesejahteraan seluruh aktivitas rakyat dibatasi. Upaya yang dilakukan oleh
pemerintah untuk kesejahteraan rakyat, jangan sampai mengabdikan apalagi menghilangkan
persamaan derajat dan hak asasi manusia.
14
c. Manajemen yang terbuka
Untuk mencegah terciptanya negara yang kaku dan otoriter, rakyat perlu diikutsertakan
dalam menilai pemerintahan. Hal tersebut dapat terwujud apabila pemerintah
mempertanggungjawabkan pelaksanaan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
kemasyarakatannya di hadapan rakyat.
d. Kebebasan individu
Dalam demokrasi, negara harus menjamin kebebasan warga negara dalam berbagai bidang.
Misalnya, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan berusaha, dan sebagainya.
Namun tentunya, kebebasan tersebut harus dilakukan dengan bertanggung jawab. Perlu
diingat bahwa kebebasan satu orang akan dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dengan
demikian, setiap masyarakat dapat melakukan kebebasan yang dijamin undang- undang
dengan tidak merugikan kepentingan orang lain.
e. Peradilan yang bebas
Melalui pembagian kekuasaan, lembaga yudikatif memiliki kebebasan dalam menjalankan
perannya. Lembaga ini tidak dapat dipengaruhi lembaga negara yang lain. Dalam praktik
kenegaraan, hukum berada dalam kedudukan tertinggi. Semua yang bersalah di hadapan
hukum, harus mempertanggungjawabkan kesalahannya.
f. Pengakuan hak minoritas
Setiap negara memiliki keanekaragaman masyarakat. Keberagaman tersebut dapat dilihat
dari suku, agama, ras, maupun golongan. Keberagaman dalam suatu negara menciptakan
adanya istilah kelompok mayoritas maupun kelompok minoritas. Kedua kelompok memiliki
hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Untuk itu, negara wajib melindungi
semua warga negara tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
g. Pemerintahan yang berdasarkan hukum
Dalam kehidupan bernegara, hukum memiliki kedudukan tertinggi. Hukum menjadi
instrumen untuk mengatur kehidupan negara. Dengan demikian negara bersamaan
kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan.
h. Supremasi hukum
Penghormatan terhadap hukum harus dikedepankan baik oleh pemerintah maupun rakyat.
Tidak terdapat kesewenang-wenangan yang bisa dilakukan atas nama hukum. Oleh karena
itu, pemerintahan harus didasari oleh hukum yang berpihak pada keadilan.
i. Pers yang bebas
Dalam sebuah negara demokrasi, kehidupan dan kebebasan pers harus dijamin oleh negara.
Pers harus bebas menyuarakan hati nuraninya terhadap pemerintah maupun diri seorang
15
pejabat.
j. Beberapa partai politik
Partai politik menjadi wadah bagi warga negara untuk menyalurkan aspirasi politiknya.
Setiap warga negara memiliki kebebasan untuk memilih partai politik yang sesuai dengan
hati nuraninya. Maka dari itu, mulai bergulirnya reformasi, negara memberikan kebebasan
bagi semua warga negara untuk mendirikan partai politik. Pada tahun 1999, dilaksanakan
pemilihan umum multipartai pertama kali sejak Orde Baru. Mulai Pemilu 1999, setiap
partai politik memiliki asas sesuai dengan perjuangan politik masing-masing. Tidak lagi
dikenal asas tunggal bagi setiap partai politik. Namun tentunya, pendirian partai politik
harus sesuai dengan peraturan yang ada. Selain itu, warga negara tidak diperbolehkan
mendirikan partai dengan asas maupun ideologi yang dilarang oleh undang-undang.
Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian dituangkan ke dalam
konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan dicirikan. Ciri-ciri ini yang kemudian
dijadikan tolok ukur untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu
negara. Tolok ukur tersebut meliputi empat aspek, yaitu:
a. Masalah pembentukan negara
Proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan kualitas, watak, dan pola
hubungan yang akan terbangun. Pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu
instrument penting yang dapat mendukung proses pembentukan pemerintahan yang baik.
b. Dasar kekuasaan negara
Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawabannya
secara langsung kepada rakyat.
c. Susunan kekuasaan negara
Kekuasaan negara hendaknya dijalankan secara distributif. Hal ini dilakukan untuk
menghindari pemusatan kekuasaan dalam satu tangan.
d. Masalah kontrol rakyat
Kontrol masyarakat dilakukan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau negara
sesuai dengan keinginan rakyat.
B. BENTUK DEMOKRASI
1. Demokrasi Langsung
Demokrasi langsung adalah bentuk pemerintahan di mana warga negara secara langsung
terlibat dalam proses pengambilan keputusan tanpa perantara atau wakil. Dalam demokrasi
langsung, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif
16
dalam pembuatan undang-undang, kebijakan, dan keputusan penting lainnya yang
mempengaruhi kehidupan mereka. Bentuk ini berbeda dari demokrasi perwakilan, di mana
warga negara memilih wakil untuk membuat keputusan atas nama mereka.
a. Prinsip-Prinsip Demokrasi Langsung
-Partisipasi Aktif: Setiap warga negara memiliki kesempatan untuk berpartisipasi langsung
dalam proses pengambilan keputusan. Partisipasi ini dapat berupa voting dalam
referendum atau pemilihan umum, menghadiri pertemuan publik, atau memberikan
masukan terhadap kebijakan yang sedang dirumuskan.
-Kesetaraan Suara: Dalam demokrasi langsung, setiap suara dianggap setara. Tidak ada satu
suara yang memiliki bobot lebih dari yang lain, sehingga semua warga negara memiliki hak
yang sama dalam mempengaruhi hasil keputusan.
-Transparansi dan Akuntabilitas: Demokrasi langsung menuntut transparansi dalam proses
pengambilan keputusan. Informasi mengenai isu-isu yang akan diputuskan harus tersedia
secara terbuka, sehingga warga negara dapat membuat keputusan yang berdasarkan
informasi yang lengkap. Selain itu, pengambilan keputusan dalam demokrasi langsung
biasanya diawasi secara ketat oleh publik, memastikan bahwa prosesnya berjalan dengan
jujur dan adil.
17
lokal atau negara-negara dengan populasi yang relatif kecil. Salah satu contoh yang sering
dikutip adalah Swiss, di mana demokrasi langsung digunakan secara luas baik di tingkat federal
maupun kantonal. Di Swiss, warga negara memiliki hak untuk mengajukan referendum
terhadap undang-undang yang disahkan oleh parlemen atau untuk mengusulkan perubahan
konstitusi.
Namun, dalam skala yang lebih besar, seperti di negara-negara dengan populasi besar,
demokrasi langsung dapat menjadi sulit diterapkan. Proses pengambilan keputusan bisa menjadi
lambat dan tidak efisien karena jumlah orang yang harus dilibatkan dalam setiap keputusan.
Selain itu, ada juga risiko bahwa sebagian besar warga negara mungkin tidak memiliki
pengetahuan atau minat yang cukup untuk membuat keputusan yang kompleks dan berdampak
luas.
18
kewajiban untuk mempertimbangkan kepentingan umum dalam pengambilan keputusan.
-Pemilihan Umum: Pemilihan umum adalah mekanisme utama yang memungkinkan warga
negara untuk memilih perwakilan mereka. Pemilihan harus dilakukan secara teratur, bebas,
dan adil, memberikan kesempatan yang sama bagi semua warga negara untuk memilih dan
dipilih. Pemilu juga memungkinkan rakyat untuk mengevaluasi kinerja wakil-wakil mereka
dan memilih untuk mempertahankan atau menggantinya.
-Akuntabilitas dan Responsibilitas: Dalam demokrasi tidak langsung, para wakil yang dipilih
harus bertanggung jawab kepada rakyat yang mereka wakili. Mereka harus dapat
mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan mereka, baik melalui pemilihan ulang
maupun melalui mekanisme lain seperti pertanggungjawaban parlemen. Wakil yang tidak
memenuhi harapan konstituen mereka dapat kehilangan dukungan dalam pemilihan
berikutnya.
-Pemecahan Kekuasaan: Demokrasi tidak langsung sering kali melibatkan pembagian
kekuasaan antara berbagai cabang pemerintahan, seperti eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Sistem ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dengan memberikan
mekanisme checks and balances, di mana setiap cabang memiliki wewenang untuk
mengawasi dan membatasi kekuasaan cabang lainnya.
19
C. Hakikat Demokrasi Indonesia (Demokrasi Pancasila)
Secara etimilogi demokrasi terdiri daru dua kata yang berasal dari Yunani yaitu:
“demos” yang berarti rakyat atau kekuasaan suatu tempat dan “cratein” yang berarti kekuasaan
atau kedaulatan. Jadi :demos-cratos” atau “demos-cratos” (demokrasi) adalah kekuasaan atau
kedaulatan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan rakyat, rakyat yang berkuasa,
pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Adapun pengertian demokrasi dari para ahli
yaitu:
1. Josefh A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai
keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan dengan
cara perjuangan komperatif atas suara rakyat.
2. Sidney Hook dekrasi adalah bentuk pemerintahab dimana keputusan-keputusan pemerintahan
yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang
diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
3. Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl demokrasi merupakan suatu system pemerintahan
dimana pemerintahan dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka diwilayah public
oleh warga Negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama
dengan para wakil mereka yang telah terpilih. Jadi demokrasi adalah gagasan atau pandangan
hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi
semua warga Negara.
Hakikat demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara memberikan
penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian sebagai
berikut :
1. Pemerintahan dari rakyat (Government Of the People).
Pemerintahan dari rakyat berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui di mata rakyat.
Pemerintahan yang diakui merupakan pemerintahan yang telah mendapat pengakuan dan
dukungan dari rakyat. Hal tersebut sangat penting bagi pemerintah karena akan membantu
menjalankan roda birokrasi dan program- programnya.
2. Pemerintahan oleh rakyat (Government by the People)
Pemerintahan oleh rakyat artinya pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan
karena dorongan sendiri. Pengawasan dilakukan oleh rakyat bisa dilakukan secara langsung
oleh rakyat. Atau bisa juga dilakukan secara tidak langsung melalui DPR.
3. Pemerintahan untuk rakyat (Government for the People)
Kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah harus dijalankan untuk kepentingan
rakyat. Pemerintah wajib menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya.
20
Pada hakikatnya sebuah negara dapat disebut sebagai negara yang demokratis, apabila di dalam
pemerintahan tersebut rakyat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan
keputusan, memiliki persamaan dimata hukum dan memperoleh pendapatan yang layak Karena
terjadi distribusi pendapat yang adil(Nurwardani, 2016 :172-173). Adapun hal tersebut tertuang
ke dalam pernyataan berikut:
a) Partisipasi dalam pembuatan keputusan
Dalam negara yang menganut sistem pemerintahan, demokrasi kekuasaan tertinggi
berada di tangan rakyat dan pemerintahan dijalankan berdasarkan kehendak rakyat. Aspirasi
dan kemauan rakyat harus dipenuhi dan pemerintahan dijalankan berdasarkan konstitusi yang
merupakan arah dan pedoman dalam melaksanakan hidup bernegara. Para pembuat kebijakan
memperhatikan seluruh aspirasi rakyat yang berkembang. Kebijakan yang dikeluarkan harus
dapat mewakili berbagai keinginan masyarakat yang beragam.
b) Persamaan kedudukan di depan hukum
Seiring dengan adanya tuntutan agar pemerintah harus berialan baik dan dapat
mengayomi rakyat dibutuhkan adanya hukum. Hukum itu mengatur bagaimana seharusya
penguasa bertindak, bagaimana hak dan kewajiban dari penguasa dan juga rakyatnya. Semua
rakyat memiliki kedudukan yang sama di depan hukum. Artinya, hukum harus dijalankan
secara adil dan benar. Hukum tidak boleh pandang bulu. Siapa saja yang bersalah dihukum
sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk menciptakan hal itu harus ditunjang dengan adanya aparat
penegak hukum yang tegas dan bijaksana, bebas dari pengaruh pemerintahan yang berkuasa,
dan berani menghukum siapa saja yangbersalah.
c) Distribusi pendapatan secara adil
Dalam negara demokrasi, semua bidang dijalankan dengan berdasarkan pennsip
keadilan bersama dan tidak berat sebelah, termasuk di dalam bidang ekonomi. Semua warga
negara berhak memperoleh pendapatan yang layak.
Pengertian Demokrasi Pancasila. Menurut Darmihardjo (Budiyanto, 2005: 54), mengatakan
bahwa demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada kepribadian dan
falsafah hidup bangsa Indonesia, yang perwujudannya adalah seperti dalam ketentuan-ketentuan
Pembukaan UUD 1945. Lebih lanjut Yudi Latif (2011:383) mengatakan dalam demokrasi
Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan dengan tanggung
jawab [Link] rancangan TAP MPR RI tentang demokrasi pancasila, disebutkanbahwa
demokrasi Pancasila adalahnorma yang mengatur penyelenggaraan kedaulatan rakyat dan
penyelanggaraan pemerintahan negara dalam kehidupann politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan bagi setiap warga negara Republik Indonesia, organisasi kekuatan sosial
21
politik, organisasi kemasyarakatan dan lembaga kemasyarakatan lainnya serta lembaga-
lembaga negara baik di pusat maupun daerah. (Agustam, 2011:83).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang
dihayati oleh bangsa dan Negara Indonesia yang dijiwai dandiintegrasikan oleh sila-sila
Pancasila atau nilai-nilai luhur Pancasila. Secara luas demokrasi Pancasila berarti kedaulatan
rakyat yang berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila pada bidang politik, ekonomi, dan sosial.
Secara sempit demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Demokrasi Indonesia dikatakan demokrasi pancasila, dimana pinsip pinsip demokrasi
yang dijalankan berdasarkan pada nilai-nilai Pancasia. Demokrasi Pancasila dapat diartikan
secara luas maupun sempit, sebagai berkut:
a) Secara luas demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai
Pancasila baik sebagai pedoman penyelenggaraan maupun sebagai cita-cita.
b) Secara sempit demokrasi Pancasila berari kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan [Link] beberapa pengertian
disimpulkan demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dihayati oleh bangsa dan Negara
Indonesia yang dijiwai dandiintegrasikan oleh sila-sila Pancasila atau nilai-nilai luhur Pancasila.
Secaraluas demokrasi Pancasila berarkedaulatan rakyat yang berdasarkan pada nilai-nilai
Pancasila pada bidang politik, ekonomi, dan sosial. Secara sempit demokrasi Pancasila berarti
kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
Nilai-nilai Pancasila yaitu nilai: ketuhanan, kemanusian,persatuan, kerakyatan dan nilai
keadilan sangat mendukung demokrasi. Nilai- nilai Pancasila menentang sistem otoriter atau
kediktatoran. Demokrasi Pancasila dalam arti sempit adalah berdasar pada sia keempat
Pancasila yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan. Dengan demikian, demokrasi Pancasiladalam arti sempit adalah masalah
pengambilan keputusan yaiu pengambilan keputusan yang dipimpin oleh hitmad kebiaksanaan.
Wujud dari pengambilan keputusan yang dipimpin oleh hidmad kebilaksanaan
adalahmusyawarah mufakat (Dirjendikti, 2012:100).
22
D. Dinamika Demokrasi
Sejarah demokrasi di Indonesia dapat dibagi menjadi empat periode utama. Periode
pertama adalah periode 1945-1950, periode 1950-1959, periode 1959-1998, dan periode setelah
jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998. Periode 1945-1950 adalah era ketika Indonesia
mengadopsi konstitusi sementara dan membentuk negara demokratis. Pada periode ini,
Indonesia mengalami banyak pergantian kepemimpinan dan kudeta, dan stabilitas politik sangat
lemah. Pada tahun 1950, Indonesia mengadopsi konstitusi yang lebih lengkap dan resmi, yaitu
UUD 1950. Konstitusi ini menetapkan sistem pemerintahan demokratis dengan tiga cabang
kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Periode kedua adalah periode 1950-1959, ketika Indonesia mengadopsi konstitusi resmi
yang menetapkan sistem pemerintahan demokratis dengan tiga cabang kekuasaan: eksekutif,
legislatif, dan yudikatif. Namun, pada masa ini, Indonesia masih mengalami instabilitas politik
dan kekerasan politik. Pada tahun 1959, Indonesia mengadopsi konstitusi baru yaitu UUD 1945
yang masih digunakan hingga saat ini. Konstitusi ini menegaskan prinsip-prinsip demokrasi,
seperti hak asasi manusia, hak untuk memilih dan dipilih, kebebasan berbicara dan pers, dan
pemisahan kekuasaan.
Periode ketiga adalah periode 1959-1998, ketika Indonesia mengadopsi UUD 1945 yang
masih digunakan hingga saat ini. Pada masa Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto,
hak-hak sipil dibatasi dan oposisi politik ditindas. Meskipun Indonesia mengalami pertumbuhan
ekonomi yang pesat pada masa ini, hak asasi manusia dan demokrasi tidak diperjuangkan. Pada
masa Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto (1966-1998), hak-hak sipil dibatasi dan
oposisi politik ditindas. Orde Baru dipenuhi dengan pelanggaran hak asasi manusia dan
penganiayaan terhadap kelompok-kelompok minoritas politik dan agama (Edward Aspinall &
Fealy, 2010; Sahrasad, 2017).
Periode keempat adalah periode setelah jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998.
Indonesia kembali ke sistem demokrasi multi-partai dan pemilihan umum bebas dan adil telah
diadakan secara teratur. Dalam suasana euphoria politik Indonesia berhasil menyelenggarakan
pemilihan umum dengan damai yang diikuti partai politik yang sebagian besar baru.
Penyelenggaraan pemilihan umum pun juga diorganisasi oleh Komisi Pemilihan Umum yang
tidak lagi didominasi pihak pemerintah. Suasana ini tentu membangun normalisasi system dan
suasana politik Indonesia (Edward Aspinall, 2005). Setelah jatuhnya rezim Soeharto pada tahun
1998, Indonesia kembali ke sistem demokrasi multi-partai. Indonesia telah mengalami
kemajuan dalam memperkuat demokrasi dan melindungi hak asasi manusia. Indonesia telah
mengalami kemajuan dalam memperkuat demokrasi dan melindungi hak asasi manusia.
23
Pemilihan umum bebas dan adil telah diadakan secara teratur, meskipun masih terdapat
beberapa kendala seperti masalah korupsi, kekerasan politik (Edward Aspinall, 2015), dan
diskriminasi terhadap minoritas.
E. Demokrasi Pancasila
Demokrasi yang secara resmi mengkristal di dalam UUD 1945 dan. yang saat ini
berlaku di Indonesia biasa disebut Demokrasi Pancasila. Dasar- dasar konstitusional bagi
demokrasi di Indonesia sebagaimana yang berlaku sekarang ini sudah ada dan berlaku jauh
sebelum tahun 1965, tetapi istilah Demokrasi Pancasila itu baru dipopulerkan sesudah lahir
Orde Baru (1966). Pengertian Demokrasi Pancasila. Menurut Darmihardjo (Budiyanto, 2005:
54), mengatakan bahwa demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada
kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang perwujudannya adalah seperti dalam
ketentuan- ketentuan Pembukaan UUD 1945. Lebih lanjut Yudi Latif (2011:383) mengatakan
dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan
dengan tanggung jawab sosial,
Dalam rancangan TAP MPR RI tentang demokrasi pancasila, disebutkan bahwa
demokrasi Pancasila adalah norma yang mengatur penyelenggaraan kedaulatan rakyat dan
penyelanggaraan pemerintahan negara dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan bagi setiap warga negara Republik Indonesia, organisasi. kekuatan sosial
politik, organisasi kemasyarakatan dan lembaga kemasyarakatan lainnya serta lembaga-
lembaga negara baik di pusat maupun daerah. (Agustam, 2011:83).
Istilah Demokrasi Pancasila lahir sebagai reaksi terhadap Demokrasi Terpimpin di
bawah Pemerintahan Sukarno. Gagasan Demokrasi Terpimpin, seperti diketahui telah
dibakukan secara yuridis dalam bentuk Ketetapan MPRS No. VIII/MPRS/1965 tentang:
Prinsip-prinsip Musyawarah untuk Mufakat dalam Demokrasi Terpimpin sebagai Pedoman bagi
Lembaga- lembaga Permusyawaratan/Perwakilan. Ketika Orde Baru lahir, konsep Demokrasi
Terpimpin mendapat penolakan keras, sehingga pada tahun 1968, MPRS kembali
mengeluarkan Ketetapan No. XXXVII/MPRS/1968, tentang Pencabutan Ketetapan MPRS No.
VIII/MPRS/1965 dan tentang Pedoman Pelaksanaan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah
Kebijaksanaan dalam Permusyaratan/Perwakilan atau sesuai dengan diktum Tap tersebut
tentang Demokrasi Pancasila.
Demokrasi Indonesia dikatakan demokrasi pancasila, dimana prinsip- prinsip demokrasi
yang dijalankan berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila Demokrasi Pancasila dapat diartikan
secara luas maupun sempit, sebagai berikut: a) Secara luas demokrasi Pancasila berarti
24
kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila baik sebagai pedoman
penyelenggaraan maupun sebagai cita-cita. b) Secara sempit demokrasi Pancasila berarti
kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
Demokrasi Pancasila dalam arti luas adalah kedaulatan atau kekuasaan tertinggi ada
pada rakyat yang dalam penyelenggaraannya dijiwai oleh nilai- nilai Pancasila. Nilai-nilai
Pancasila yaitu nilai: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan nilai keadilan sangat
mendukung demokrasi. Nilai- nilai Pancasila menentang sistem otoriter atau kediktatoran.
Demokrasi Pancasila dalam arti sempit adalah berdasar pada sila keempat Pancasila yaitu
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Dengan demikian, demokrasi Pancasila dalam arti sempit adalah masalah pengambilan
keputusan yaitu pengambilan keputusan yang dipimpin oleh hitmat kebijaksanaan. Wujud dari
pengambilan keputusan yang dipimpin oleh hidmat kebijaksanaan adalah dengan musyawarah
mufakat (Dirjendikti, 2012:100).
Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila. Menurut Jimly Asshiddiqie (2011:198) prinsip-
prinsip demokrasi Pancasila adalah kebebasan atau persamaan (freedom/equality). kedaulatan
rakyat (people's sovereignity), dan pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab. Adapun
penjelasan dari prinsip-prinsip demokrasi Pancasila tersebut adalah:
1) Kebebasan atau persamaan (freedom/equality)
Kebebasan/persamaan adalah dasar demokrasi. Kebebasan dianggap sebagai sarana mencapai
kamajuan dan memberikan hasil maksimal dari usaha orang tanpa pembatasan dari penguasa.
Dengan prinsip persamaan semua orang dianggap sama, tanpa dibeda-bedakan dan memperoleh
akses dan kesempatan bersama untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensinya.
Kebebasan yang dikandung dalam demokrasi Pancasila ini tidak berarti free fight liberalism
yang tumbuh di Barat, tapi kebebasan yang tidak mengganggu hak dan kebebasan orang lain.
2) Kedaulatan sovereignity) Rakyat (people's sovereignity)
Dengan konsep kedaulatan rakyat, hakikat kebijakan yang dibuat adalah kehendak rakyat dan
untuk kepentingan. rakyat. Mekanisme semacam ini akan mencapai dua hal. Pertama, kecil
kemungkinan terjadinya. penyalahgunaan kekuasaan, sedangkan kedua, terjaminya kepentingan
rakyat dalam tugas-tugas pemerintahan. Perwujudan lain konsep kedaulatan. adalah pengawas
oleh rakyat. Pengawasan dilakukan karena demokrasi tidak mempercayai kebaikan hati
penguasa.
3) Pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab
a) Dewan Perwakilan Rakyat yang representatif
25
b) Badan kehakiman/peradilan yang bebas dan merdeka
c) Pers yang bebas
d) Prinsip negara hukum
e) Sistem dwi partai atau multi partai
f) Pemilihan umum yang demokratis
g) Prinsip mayoritas
h) Jaminan akan hak-hak dasar dan hak-hak minoritas.
Negara kita, prinsip-prinsip demokrasi telah disusun sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh
dalam masyarakat, meski harus dikatakan baru sebatas demokrasi prosedural, dalam proses
pengambilan keputusan lebih mengedepankan voting ketimbang musyawarah untuk mufakat,
yang sejatinya merupakan asas asli demokrasi Indonesia. Praktek demokrasi ini tanpa dilandasi
mental state yang berakar dari nilai-nilai luhur bangsa merupakan gerakan omong kosong
belaka. (Agustam, 2011:83).
Dalam sejarah ketatanegaraan negara Republik Indonesia yang telah lebih dari setengah
abad, perkembangan demokrasi mengalami pasang sudah Praktik demokrasi Indonesia
berhubungan dengan periodisasi demokrasi yang pernah dan berlaku dan sejarah Indonesia.
Mirriam Budiardjo (2008:127-128) menyatakan bahwa dipandang dari sudut perkembangan
sejarah demokrasi Indonesia sampai masa orde baru dapat dibagi dalam 4 (empat) masa, yaitu:
(a) Masa pertama Republik Indonesia (1945-1959) yang dinamakan masa demokrasi
konstitusional yang menonjolkan peranan parlemen dan partai- partai dan karena itu dinamakan
demokrasi parlementer.
(b) Masa kedua Republik Indonesia (1959-1965) yaitu masa demokrasi terpimpin yang banyak
aspek menyimpang dari demokrasi konstitusional yang secara formal merupakan landasannya
dan menunjukkan beberapa aspek demokrasi rakyat.
c) Masa ketiga Republik Indonesia (1965-1998) yaitu masa demokrasi ( Pancasila yang
merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan sistem presidensil.
(d) Masa keempat Republik Indonesia (1998-sekarang) yaitu masa reformasi yang
menginginkan tegaknya demokrasi di Indonesia sebagai koreksi terhadap praktik-praktik politik
yang terjadi pada masa ketiga Republik Indonesia.
26
F. Pendidikan Demokrasi
Saat ini di alam demokrasi harus ditumbuhkan kesadaran bahwa demokrasi hanya akan
tumbuh kuat jika didukung oleh warga-warga yang demokratis, yakni warga yang memiliki dan
menjalankan sikap hidup demokratis. Ini artinya warga negara yang bersikap dan berbudaya
hidup demokratis menjadi syarat bagi berjalannya negara demokrasi. Sebagaimana dikatakan
Bahmueller dalam Udin Winataputra (2001:72) bahwa perkembangan demokrasi suatu negara
tergantung pada sejumlah faktor yang menentukan, yakni: tingkat perkembangan ekonomi,
perasaan akan identitas nasional, pengalaman sejarah dan budaya kewarganegaraan. Budaya
kewarganegaraan mencerminkan tradisi demokrasi yang ada di masyarakat.
Jika di masyarakat tumbuh budaya demokrasi, maka akan sangat mendukung
perkembangan demokrasi negara yang bersangkutan. Oleh karena itu, tradisi atau budaya
demokrasi di masyarakat perlu untuk ditumbuhkembangkan. Menumbuhkembangkan budaya
demokrasi tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan demokrasi. Pendidikan demokras bada
hakikatnya adalah sosialisasi nilai-nilai demokrasi supaya bisa diterima dan dijalankan oleh
warganegara. Pendidikan demokrasi secara subtani menyangkut sosialisasi, diseminasi,
aktualisasi dan implementasi sistem,nilai konsep dan praktik demokrasi melalui pendidikan
(Ditjendikti, 2012:107).
Demokrasi sangat penting untuk kehidupan bangsa dan negara. Demokrasi didasarkan
pada suara rakyat. Dunia saat ini melihat pertumbuhan demokrasi yang sangat pesat. Para
konstitusionalis dan politisi berpendapat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang
dapat menjamin kesejahteraan rakyat karena memberikan kesempatan kepada rakyat sebesar
mungkin untuk berpartisipasi atau berpartisipasi aktif dalam pemerintahan. Demokrasi
memungkinkan pemerintahan negara untuk berubah sesuai dengan situasi dan aspirasi
masyarakat.
Dalam beberapa negara, krisis demokrasi telah menjadi masalah besar. Ini dapat terjadi
karena kurangnya partisipasi politik, kurangnya kepercayaan terhadap lembaga demokrasi, dan
peningkatan otoritarianisme. Banyak masyarakat, terutama generasi muda tidak sadar politik.
Mereka mungkin tidak menyadari betapa pentingnya berpartisipasi dalam politik untuk
menentukan masa depan mereka dan negara mereka.
Di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini, arus informasi yang cepat dapat
menjadi baik dan buruk. Informasi semakin mudah diakses, tetapi hal ini juga menimbulkan
masalah haru, seperti penyebaran berita palsu dan polarisasi opini. Ini dapat meningkatkan
ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan institusi politik serta mengancam stabilitas
demokrasi.
27
Selain itu, akses yang tidak merata terhadap pendidikan demokratis merupakan kendala
yang signifikan dalam proses membangun masyarakat demokratis. Akses ke pendidikan
demokratis seringkali terbatas di banyak tempat, terutama di daerah terpencil dan pedesaan. Ini
disebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai, tenaga kerja yang tidak memadai, dan
sistem pendidikan yang tidak dapat memasukkan materi tentang pendidikan demokratis ke
dalam kurikulum sekolah.
Di era polarisasi politik dan kesenjangan yang semakin meningkat, pentingnya
pendidikan demokratis menjadi semakin jelas. Pendidikan demokratis mencakup pemahaman
tentang struktur politik dan keterampilan emosional dan sosial yang diperlukan untuk
berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. Hal ini membantu menumbuhkan
rasa toleransi, inklusi, dan penghormatan perbedaan, yang merupakan sifat penting untuk
masyarakat yang efektif.
G. Pengertian Demokrasi
Secara etimologis (bahasa), demokrasi berasal dari kata Yunani, demos yang berarti
"rakyat" dan cratos/cratein yang berarti "pemerintahan" atau "kekuasaan". Secara bahasa,
demokrasi adalah "pemerintahan rakyat" atau "kekuasaan rakyat" (Juliardi, 2017). Sedangkan,
dari segi terminologi, demokrasi pada dasarnya adalah sebuah rencana kelembagaan untuk
mengambil keputusan politik di mana individu diberi wewenang untukmemutuskan bagaimana
bersaing berdasarkan suara terbanyak (Schumpeter, 1950).
Demokrasi berasal dari Yunani kuno dan berkembang dalam kehidupan nasional pada
abad ke-4 SM. Pada abad ke-6 SM, ia digunakan dalam politik nasional, dan terus dipraktikkan
sampai abad ke-6 SM. Pada saat itu, demokrasinya adalah demokrasi langsung, di mana seluruh
warga negara memiliki suara langsung dalam pengambilan keputusan politik. Pada saat itu,
Yunani adalah negara kota (polis) dengan populasi kurang lebih 300.000 orang yang terbatas
pada satu kota dan sekitarnya. Ada batasan meskipun semua warga negara terlibat. Misalnya,
perempuan, anak-anak, dan budak dilarang terlibat dalam aktivitas pemerintahan (Susanti, 2019:
50). Samuel Huntington menjelaskan bahwa sistem politik bersifat demokratis karena
masyarakat dapat memilih dengan bebas dan hampir semua warga negara dewasa mempunyai
hak untuk memilih, Pengambil keputusan kolektif yang paling berkuasa dalam sistem ini dipilih
melalui pemilu yang adil, jujur, dan teratur (Susanti, 2019: 51).
Pengetahuan normatif dan empiris dapat berkontribusi pada kemajuan demokrasi
Indonesia. Sebagai konstitusi negara, UUD 1945 memberikan dasar untuknya. Alinea keempat
Pembukaan UUD 1945 adalah bukti bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam
28
Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa "Maka berdirilah kemerdekaan nasional Indonesia.
dalam Konstitusi yang dirumuskan." Negara Indonesia dibentuk dalam susunan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan pada rakyat. Tanda ini juga mengandung
bukti normatif. Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara
demokrasi dengan menyatakan bahwa "Kedaulatan ada di tangan rakyat dan harus dihormati."
Selain itu, Pasal 28 menegaskan bahwa "Kebebasan berserikat dan berkumpul serta menyatakan
pendapat dan berpikir secara lisan" dan hahwa "Kedaulatan juga harus dilaksanakan sesuai
dengan Konstitusi."
Dalam demokrasi terdapat model model didalamnya, berikut terdapat dua model
demokrasi yang dalam prakteknya akan membawa makna bagi semua warga negara:
1. Presidensial dan Parlementer
Dalam demokrasi presidensial, presiden memiliki otoritas politik yang kuat dan otoritas
pengambilan keputusan. Sistem pemerintahan yang dikenal sebagai sistem presidensial
bergantung pada peran presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, Pemerintahan
presidensial memiliki banyak fitur. Dalam sistem ini, kekuasaan eksekutif lebih kuat daripada
legislatif.
2. Demokrasi Perwakilam dan Demokrasi Langsung
Demokrasi langsung, juga dikenal sebagai demokrasi murni, adalah jenis demokrasi di mana
orang-orang menjalankan kekuasaannya secara langsung tanpa menggunakan parlemen,
perwakilan, atau perantara. Demokrasi ini memerlukan partisipasi politik yang luas.
Ketika suatu pemerintah perlu mengeluarkan undang-undang atau kebijakan tertentu,
peraturannya ditentukan oleh rakyat. Mereka memberikan suara pada isu-isu dan membantu
menentukan nasib negara.
Dilihat dari paham yang dianut demokrasi dapat dibedakan dalam beberapa macam,
yaitu:
1. Demokrasi Liberal
Negara-negara Barat menggunakan sistem pemerintahan ini, yang sangat menjunjung tinggi
kebebasan individu untuk bergerak, berpikir, dan berbicara. Meskipun kesetaraan diprioritaskan
dalam politik, persaingan bebas masih lazim dalam ekonomi. Ini menciptakan perbedaan antara
buruh (kelompok ekonomi lemah) dan kapitalis (kelompok ekonomi kuat). 2. Demokrasi
Sosialis
Negara-negara yang menganut demokrasi sosialis menekankan konsep kesetaraan dan
menghilangkan perbedaan kelas sosial. Akibatnya, hak individu tidak ada di negara- negara
29
sosialis yang ada adalah hak kolektif atau umum.
3. Demokasi Pancasila
Demokrasi Pancasila berpusat pada kekeluargaan dan gotong royong untuk meningkatkan
kemakmuran rakyat. Mengandung elemen kesadaran beragama berdasarkan kebenaran, kasih
sayang, dan keluhuran budi pekerti, serta individualitas dan keberlanjutan budaya Indonesia.
Setiap warga negara memiliki kebebasan untuk mengatur diri mereka sendiri, yang merupakan
ciri dari negara demokrasi. Salah satunya adalah otonomi wilayah, Otonomi ini memberikan
pemerintah daerah kebebasan untuk mengendalikan dirinya sendiri dari pemerintah pusat.
Menurut Bingham Power Jr. (Susanti 2019), ciri-ciri negara demokrasi termasuk legitimasi
pemerintahan, peraturan di negara dengan minimal dua partai politik, hak pilih setiap warga,
dan perlindungan rahasia setiap warga, warga negara merasa aman dalam hal kebebasan,
demokrasi, dan ekonomi setelah pemilu.
30
2001) menyatakan "seek only to familiarize people with the precepts of democracy, but also to
produce citizens who are principled, independent, inquisitive, and analytic in their outlook" atau
pendidikan bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan dan praktik demokrasi, tetapi juga
menghasilkan warga negara yang berpendirian teguh, mandiri, memiliki sikap selalu ingin tahu,
dan berpandangan jauh ke depan (Budi Juliardi, 2016:102).
Pendidikan demokrasi pada dasarnya bertujuan untuk mendidik siswa menjadi warga
negara demokratis melalui sosialisasi dan transformasi nilai-nilai demokrasi serta
pengembangan perilaku yang dapat mencerminkan kehidupan negara dan masyarakat
demokratis. Tujuan utama pendidikan demokrasi adalah untuk mendidik siswa menjadi warga
negara yang mampu berpikir kritis dan bertindak demokratis melalui kegiatan pembelajaran
yang meningkatkan kesadaran mereka, ada dua hal yang berkaitan dengan pendidikan
demokrasi, yaitu:
1. Demokrasi merupakan proses pembelajaran sosial yang terjadi secara bertahap dan tidak
serta merta dapat ditiru oleh kelompok sosial lainnya.
31
kewarganegaraan merupakan bagian dari pemerintahan demokratis, persyaratan seperti itu
secara teoritis tidak salah. Pendidikan demokratis dapat dimasukkan ke dalam bidang studi yang
berbeda, seperti sejarah, kewarganegaraan, atau kelompok ilmu sosial lainnya. Oleh karena itu,
pendidikan demokrasi dapat dianggap sebagai mata pelajaran independen. Dengan demikian,
pendidikan demokrasi dapat dikategorikan sebagai bidang akademik tersendiri. Sekolah pernah
mengajar mata pelajaran sosial. Tetapi saat ini, kewarganegaraan harus didefinisikan dan
dibatasi pada pendidikan demokratis di Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan juga dapat
berfungsi sebagai pendidikan demokrasi (Winarno 2014). Pendidikan demokrasi dalam arti luas
dapat dilaksanakan baik secara informal, formal, maupun nonformal. Secara informal,
pendidikan demokrasi dapat berlangsung di lingkungan rumah yang mengedepankan nilai-nilai
demokrasi. Sekolah menyelenggarakan pendidikan formal dan demokratis baik dalam format
sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan demokrasi informal saat ini berlangsung di kelompok
masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, partai politik, dan media.
Program pendidikan demokrasi berkaitan dengan dua hal yaitu, desain sekolah dan materi
pelajaran. Ini adalah masalah yang sangat penting bagi pendidikan. Perjanjian ini menyangkut
penggabungan pendidikan demokratis ke dalam kegiatan kurikulum negara, baik secara
eksplisit dimasukkan dalam mata pelajaran atau kursus atau dimasukkan ke dalam mata
pelajaran umum. Prinsip pemerintahan femokratis berbasis aturan di rendah maka dari itu
Pendidikan kewarganegaraan kemudian berperan penting dalam membangun budaya
pemerintah.
32
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demokrasi Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah bahwa
demokrasi Indonesia mengutamakan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat yang berlandaskan
pada nilai-nilai moral dan etika yang terkandung dalam Pancasila. Dalam sistem ini,
kedaulatan berada di tangan rakyat, namun pelaksanaannya harus sesuai dengan nilai-nilai
dasar Pancasila, seperti Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
UUD 1945 sebagai dasar konstitusi negara memberikan landasan hukum dan struktur bagi
pelaksanaan demokrasi tersebut, memastikan bahwa pemerintah menjalankan
kekuasaannya sesuai dengan hukum dan bertanggung jawab kepada rakyat. Demokrasi
yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 menekankan pentingnya musyawarah untuk
mencapai mufakat, penghargaan terhadap hak asasi manusia, serta keadilan sosial dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
B. Saran
33
DAFTAR PUSTAKA
,
34