Pembinaan Anak Tunarungu Wicara
Pembinaan Anak Tunarungu Wicara
BERKEBUTUHAN KHUSUS
‘‘TUNARUNGU WICARA”
DOSEN PENGAMPU :
Kelompok 1
Dengan mengucapkan puji syukur kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkat dan rahmat nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok.
Pada kesempatan kali ini kami mengucapakan terimakasih kepada Dosen Pengampu
mata kuliah Pembinaan Anak Berbakat dan Berkebutuhan Khusus , Bapa Dosen Rafael
Lisinus Ginting, [Link].,[Link]. yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam
penyusunan tugas ini serta pihak pihak yang telah memberikan dukungan moral mau pun
materi sehingga tugas kelompok ini dapat di selesaikan dengan tepat.
Kami berharap makalah kelompok kami ini dapat berguna bagi pembaca dalam
menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca [Link] juga menyadari bahwa makalah
ini jauh dari kata sempurna jika terdapat kesalahan pada penulisana nama, gelar, kata ataupun
penggunaan bahasa kami mohon maaf. Oleh sebab itu kami berharap jika ada kritik, saran,
usulan, dari pembaca yang sifat nya membangun demi menyempurnakan tugas ini.
Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Kelompok 1
i
DAFTAR ISI
2.5 Beberapa kasus yang sering muncul pada tuna rungu dan tunawicara adalah: ... 16
2
BAB I
PENDAHULUAN
4
BAB II
PEMBAHASAN
a. Kelompok I: Kehilangan 15-30 dB, mild hearing losses atau ketunarunguan ringan; daya
tangkap terhadap suara cakapan manusia normal.
b. Kelompok II Kehilangan 31-60 dB, moderate hearing losses atau ketunarunguan atau
ketunarunguan sedang; daya tangkap terhadap suara percakapan manusia hanya
sebagaian.
c. Kelompok III Kehilangan 61-90 dB: severe hearing losses atau ketunarunguan berat; daya
tangkap terhadap suara cakapan manusia tidak ada.
d. Kelompok IV Kehilangan 91-120 dB: profound hearing losses atau ketunarunguan sangat
berat; daya tangkap terhadap suara percakapan manusia tidak ada sama sekali.
D. Karakteristik Anak Tunarungu
Menurut Melinda (2013: 20) karakteristik anak tunarungu adalah:
1. Tidak mampu mendengar
2. Terlambat didalam perkembangan bahasanya.
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
4. Kurang atau tidak tanggap bila diajak bicara
5. Ucapan kata tidak jelas
6. Kualitas suara monoton dan kurang baik
7. Sering memiringkan suara untuk mencari sumber bunyi
8. Banyak perhatian terhadap getaran
9. Cepat tersinggung kadang introvert
10. Irama bahasa dan irama gerak kurang baik
11. Sulit untuk memahami bahasa yang abstrak
Perkembangan fisik anak tunarungu tidak mengalami hambatan, dapat melakukan aktifitas
gerak dengan baik hanya keseimbangannya kurang baik, hal ini karena pengaruh struktur
anatomis pada labyrinth. Pada aktivitas sehari-hari yang yang sangat terlihat sekali pada
tunarungu adalah dalam kegiatan bicara dan bahasa. Mereka sangat sulit untuk untuk melakukan
bicara reseptif dan ekspresif, semuanya perlu adanya adanya latihan, bimbingan dan binaan yang
efektif melakukan proses pembelajaran.
9
Menurut Suparno dalam Melinda (2013: 40), karakteristik anak tunarungu yang umumnya
dimikili oleh anak tunarungu di antara lain adalah sebagai berikuti:
a. Segi fisik/motorik
1. Cara berjalannya agak kaku dan cenderung membentuk.
2. Pernapasannya pendek.
3. Gerakan matanya cepat dan beringas.
4. Gerakan tangan dan kakinya.
b. Segi bahasa
1. Miskin kosa kata
2. Sulit mengartikan ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang abstrak (idiematik)
bentuk kiasan-kiasan.
3. Sulit memahami kalimat-kalimat yang kompleks atau kalimat panjang tentu
4. Kurang menguasai irama dan gaya bahasa.
c. ciri-ciri anak tunarungu adalah sebagai berikut:
1. Sering memiringkan kepalanya dalam usaha mendengar
2. Banyak pehatian terhadap getaran
3. Terrlambat dalam pengembangan bahasa
4. Tidak ada reaksi terhadap bunyi atau suara
5. Terlambat pengembangan bahasa
6. Sering mengunakan isyarat dalam berkomunikasi
7. Kurang atau tidak tangap dalam diajak bicara
8. Ucapan tidak jelas, kualitas suara aneh monoton.
Kebanyakan anak tunarungu udak berbeda dengan anak pada umumnya tetapi mereka
memerlukan perhatian kusus ketika pembelajaran antara lain:
A. Berbicara dengan anak harus berhadapan, tidak mengajak bicara dengan cara
membelakanginya.
B. Bicara sejajar di sekolah inklusif maka anak hendaknya didudukan paling depan,
sehingga lebih mudah untuk membaca ujaran guru
C. Bicara dengan jelas dan melodis
D. Bicara wajar dan tidak dibuat-buat
10
E. Mulut jangan tertutup benda lain, misal rokok, permen, cadar, dan lainnya ketika bicara
F. Bicara jangan terlalu cepat atau terlalu lambat
G. Bicara sejajar dan berhadapan
H. Bila memakai isyarat, lakukan dengan jelas dan simultan
1. Pengirim pesan dan isi pesan atau materi Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide
untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami mnlfi orang yang
menerima peran sesuai dengan yang dimaksudkannya. Peran adalah informasi yang akan
disampaikan atau diekspesikan oleh pengirim pesan. Materi pesan dapat berupa:
a. Informasi
b. ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan lain sebagainya.
2. Simbol isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau symbol sehingga pesannya dapat
dipahami oleh orang lain. Biasanya seseorang manager menyampaikan pesan dalam bentuk
kata-kata, gerakan anggota badan. Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak,
membujuk, mengubah sikap, prilaku atau menunjukan arah tertentu.
3. Media/ penghubung
Adalah alat untuk menyampaikan pesan sepeti: tv, radio, surat kabar, papan
pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan
yang akan disun dafinil penerima pesan, situasi, dsb.
4. Mengartikan kode/ isyarat
Setelah pesan diterima melalui indra (telinga, mata, dan seterusnya) maka sipenerima
pesan harus dapat mengartikan simbo/ kode dari pesan tersebut. Sehingga dapat dimengerti.
5. penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari si pengirim meskipun
dalam bentuk kode isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
6. Balikan
Balikan adalah isyarat atau tanggapa yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk
11
verbal maupun non verbal. Tanpa balikan seseorang pengirim Pesan tidak akan tahu dampak
pesannya terhadap si penerima pesan. Hal ini penting bagi manajer atau bagi pengirim pesan
untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan penahanan yang benar dan tepat.
Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan.
Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan
langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan
apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak. Balikan yang diberikan oleh orang lain
didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan.
Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang
Diterimanya.
KARAKTERISTIK TUNAWICARA
Tuna wicara merupakan ketidakmampuan seseorang untuk berbicara hal ini disebabkan adanya
gangguan pada organ sebagai berikut: pita suara, paru-paru, mulut, lidah, langit-langit dan
tenggorokan tidak berfungsinya organ pendengaran perkembangan bahasa yang terlambat
kerusakan pada sistem saraf dan struktur otot tidak mampu mengontrol gerak itu semua
mengakibatkan hambatan dalam berbicara.
Seorang anak yang menderita kelainan bicara atau tunawicara memiliki beberapa penyebab,
Menurut Mangunsong, dkk (1998) faktor penyebab tuna wicara adalah sebagai berikut:
(1) Gangguan kelancaran berbicara, yang mencangkup
(a) Gangguan emosi,
(b) kerusakan otak,
(c) kerusakan syarat
(d)gangguan organ bicara,
(2) kelainan artikulasi
(3) Kelainan suara, yang mencangkup
(a)penyakit seperti laringitis yang menyebabkan suara menjadi serak,
(b) terdapat tumor pita suara,
(c)kelainan pada pitch atau tinggi rendahnya nada suara terlalu tinggi, rendah, atau monoton,
(d) kelainan bahasa disebabkan difungsi susunan syaraf pusat atau kerusakan susunan syarat
pusat yang secara medis sulit diperbaiki.
Terdapat beberapa macam gangguan bicara yang ada disekitar yang harus diketahui yaitu
(a) Articulation yang berarti kesulitan komunikasi dalam pengucapan Gagap, kesulitan dalam
12
mengucapkan kalimat secara fasih,
(b) Cerebral-Palsy speech, yang berarti kelainan bicara akibat adanya kerusakan otak,
(c) Speech problem due impaired hearing, yang berarti kelainan bicara akibat gangguan
pendengaran,
(d) Retarted Speech Development, yang berarti Kelainan bicara akibat perkembangan bicara itu
sendiri.
Adapun ciri ciri dari tunawicara yang perlu kita fahami ada beberapa macam yaitu Gangguan
suara (voice disorder) Gangguan suara yaitu ketiadaan atau abnormalitas produksi kualitas suara,
pola titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), resonansi, dan atau durasi bicara. Gangguan ini
merujuk pada suara yang tidak atau kurang enak didengar, mengacaukan dan/ atau
membingungkan konteks komunikasi.
Terdapat lima ciri anak yang mengalami gangguan suara, antara lain:
1. Adanya gangguan kualitas suara sehingga menjadi bernada rendah, tinggi, atau hanya berupa
hembusan napas.
2. Ketidakseimbangan antara resonansi di mulut dengan resonansi hidung yang menimbulkan
suara nasal dan tidak adanya resonansi hidung.
3. Suara yang lemah atau terlalu nyaring.
4. Suara bernada terlalu tinggi atau terlalu rendah.
5. Adanya penyimpangan nada dan kenyaringan suara.
Gagap (stuttering) Gagap (stuttering), yaitu adanya gangguan atau kerusakan kecepatan atau
ritme yang mungkin disertai dengan perilaku perjuangan keras untuk mengatasinya (strugle
behavior). Stuttering banyak terjadi pada anak usia permulaan.
Adapun ciri-ciri anak yang mengalami gangguan kelancaran bicara atau stuttering adalah:
1. Adanya suara-suara tambahan, pengulangan-pengulangan, perpanjangan, interjection, dan
perbaikan-perbaikan.
2. Bicaranya patah-patah dan sering terjadi pengentian-penghentian.
3. Adanya kelainan irama.
4. Intonasi dan tekanan suara kurang bervariasi.
5. Kecepatan bicara terlalu lambat atau terlalu cepat. (Valencia, E. V, 2019)
Karakteristik psikologis dan perilaku yang ada di dalam diri anak yang tunawicara adapun
13
berbicara Karakteristik anak tunawicara, (Ramadhan, 2013:22):
1. Berbicara keras dan tidak jelas atau suara terdengar sengau.
2. Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya untuk memahami maksud
pembicaraan.
3. Telinga mengeluarkan cairan atau lendir
4. Cenderung pendiam, karena kesulitan mengungkapkan perasaannya.
Ciri-Ciri Anak Mengalami Gangguan Bahasa dan Bicara (Tunawicara) yaitu, Kesulitan
menangkap isi pembicaraan orang lain, tidak lancar berbicara, sering menggunakan tanda-tanda
untuk berkomunikasi, serak tidak lancar mengucapkan kata-kata tertentu dan tidak disertai
organ/ucapan yang tidak lengakp celah.
2.3 Permasalahan
14
1. Tidak mampu mendengar.
2. Terlambat perkembangan bahasa,
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
5. Ucapan kata tidak jelas,
6. Kualitas suara aneh/monoton,
7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
8. Banyak perhatian terhadap getaran.
9. Keluar nanah dari kedua telinga.
10. Terdapat kelainan organis telinga.
2.5 Beberapa kasus yang sering muncul pada tuna rungu dan tunawicara
adalah:
1. Kesulitan berbicara: Anak tunarungu kesulitan berbicara karena tidak bisa mendengar
suara-suara di kehidupan sehari-hari. Mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasan
dengan baik saat berbicara.
2. Kesulitan berbahasa: Anak tunarungu kesulitan berbahasa, seperti kesulitan
menggunakan lambang, mengucapkan lambang, dan menggabungkan lambang-lambang.
3. Miskin kosakata: Anak tunarungu cenderung memiliki kosakata yang terbatas.
4. Sulit memahami ungkapan bahasa: Anak tunarungu kesulitan memahami ungkapan
bahasa yang mengandung arti kiasan dan kata-kata abstrak.
5. Kurang menguasai irama dan gaya bahasa: Anak tunarungu kurang menguasai irama dan
gaya bahasa.
6. Sulit memahami kalimat kompleks: Anak tunarungu sulit memahami kalimat-kalimat
kompleks.
Tuna rungu disebabkan oleh saraf-saraf pendengaran yang tidak berfungsi secara normal.
Sedangkan tuna wicara atau gangguan bicara dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran sejak
lahir atau kerusakan pada organ, seperti lidah yang terlalu pendek.
2. Latihan Pengenalan Suara dan Kata: Terapis menyebutkan kata-kata atau suara, dan anak
diminta untuk menunjuk atau mengambil objek yang sesuai atau mengulangi kata tersebut.
Misalnya, setelah mendengar kata "kucing," anak mungkin diminta untuk menunjuk
gambar kucing atau mengatakan kata itu kembali.
3. Storytelling dan Dialog Sederhana: Anak dilibatkan dalam percakapan atau mendengarkan
cerita sederhana, kemudian diajak untuk merespons atau menceritakan kembali bagian dari
cerita tersebut. Ini membantu dalam memperkuat kemampuan mendengar dan memahami
konteks percakapan.
3. Terapi Bermain
Menurut Freud, bermain adalah fantasi atau lamunan sehingga anak dapat memproyeksikan
harapan-harapan maupun konflik pribadi (Gee dan Meredirth, 1997). Menurut Sudono, bermain
adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa alat yang mengasilkan pengertian atau
memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.
Terapi bermain digunakan untuk meningkatkan proses interpersonal anak dalam belajar dan
bersosialisasi. Setiap anak perlu melewati fase ini sebagai ladasan dasar tumbuh kembang anak.
Anak penyandang disabilitas seringkali mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dan
18
menyesuaikan diri. Pola asuh orang tua yang responsive, dimana orang tua siap sedia menanggapi
kebutuhan anak, menciptakan rasa aman, kepercayaan, dan juga ketergantungan (Yum dkk.,
2020). Intervensi pembelajaran non-formal diperlukan untuk mendukung perkembangan anak
diluar dari pembelajaran formal dan pola asuh yang diterapkan di rumah.
Homo Ludens diartikan manusia adalah makhluk bermain. Sejak 1870 penelitian menyatakan
permainan memberi tiga nilai yakni nilai kognitif, emosional, dan sosial. Bermain menjadi
landasan dasar bagi perkembangan diri anak. Terapi bermain merupakan metode terapi dengan
media bermain dengan unsur petualangan. Tujuannya adalah membantu anak yang kesulitan
mengekspresikan diri atau berinteraksi, atau yang kesulitan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya atau orang lain. Baik di Sekolah Luar Biasa, di ruang terapi atau di ruang
konseling yang terstruktur, bermain merupakan kebutuhan yang sah untuk tumbuh kembang anak
di mana pun dan kapan pun.
Terapi bermain anak menjadi aktivitas yang diperlukan anak dengan tujuan menciptakan
suasana baru untuk sang anak belajar mengekspresikan dan mengembangkan diri. Terapi bermain
dilakukan di ruang khusus untuk anak diberi kebebasan memilih permainan yang ia inginkan.
Terapi bermain dapat berwujud mewarnai, menggambar, bermain peran, bermusik, membuat
kerajinan tangan dan membangun sesuatu. Media yang digunakan dapat menggunakan dan tidak
menggunakan alat, contoh alat permainan yang digunakan adalah kotak pasir, alat musik, block
susun, kostum, boneka, alat olahraga, dan sebagainya. Sedangkan terapi tanpa alat dapat
menggunakan teknik cerita terapeutik, musik, tarian dan gerakan, drama atau permainan peran,
dan visualisasi kreatif. Terapis akan membantu anak menyesuaikan metode bermain yang tepat
untuk sang anak. Intervensi yang dilakukan terapis merupakan hasil penilaiannya sebelum anak
melakukan terapi bermain (pre-test).
Dengan demikian terapis dapat menentukan metode yang digunakan, lama sesi, orang yang
terlibat, fasilitas, dan sarana yang dibutuhkan. Jumlah pertemuan atau sesi terapi ditentukan dari
kondisi anak, namun biasanya terapi berlangsung selama 30-45 menit. Setiap sesi terapi bermain
tidak hanya bermain, namun terapis melakukan proses dialog dan diskusi untuk mendorong anak
mengekspresikan pikiran dan emosi anak. Melalui terapi bermainanak dapat mengembangkan
rasa percaya diri, menumbuhkan empati kepada orang lain, melatih kemampuan kognitif,
meningkatkan kemandirian dan kemampuan sosialisasi. Menurut Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, pada usia bermain ini anak masih belum mampu mengendalikan emosinya.
Sehingga terapi bermain menjadi wadah yang ideal bagi anak penyandang Tunarungu dalam
19
mengembangkan kemampuan wicara dan bahasa sekaligus sosial dengan teman-teman
sebayanya dan terapis.
Beberapa contoh permainan dalam ruangan terapi bermain anak untuk membantu pengembangan
wicara dan bahasa anak penyandang Tunarungu dengan memperdayakan indra lainnya. Hal-hal
tersebut dapat diimplementasikan dalam sebuah ruang arsitektural.
20
menggunakan perangkat mobile (Wang dalam Kinash, 2012 : 639). Terdapat tiga kualifikasi
penting mengenai mobile learning, yaitu (1) perangkat mobile yang berarti membebaskan anak
untuk berpindah sesuai dengan lingkungan dan topik pelajaran yang ini dipelajari, (2)
menggunakan perangkat mobile berarti pembelajaran yang dilakukan bersifat informal dan dapat
dilakukan dimana saja, dan (3) mobile learning tidak hanya melibatkan pengajar dan pelajar,
tetapi juga bagaimana pelajar berinteraksi dengan komunitas (Kinash, 2012: 639-640). Perangkat
mobile saat ini sudah memberikan efek ketergantungan tersendiri bagi anak-anak di usia sekolah.
Baik itu berupa telepon seluler, e-book reader, tablet, maupun perangkat mobile lainnya.
Ketergantungan terhadap perangkat mobile ini dapat memberikan keuntungan dalam proses
belajar.
Dengan memanfaatkan ketertarikan terhadap perangkat mobile, proses pembelajaran dapat
dilakukan dengan lebih interaktif, inovatif, dan terkoneksi. Di samping itu, masing-masing anak
juga dapat bermain sekaligus belajar serta mendapatkan umpan balik (feedback) melalui
teknologi yang sudah terintegrasi dengan materi pembelajaran. Terdapat tiga langkah untuk
memulai penggunaan perangkat mobile untuk pembelajaran, yaitu
(1) menentukan target atau tujuan dari pembelajaran dengan perangkat mobile sehingga
terhindar dari kesalahan penggunaan aplikasi,
(2) melakukan survey tentang jenis perangkat mobile yang dimiliki anak,
(3) melibatkan siswa dalam memilih aplikasi untuk pembelajaran dengan perangkat mobile
(Robledo, 2012: 1-3).
Selain berfungsi untuk membantu pembelajaran, perangkat mobile memiliki kegunaan dalam
dunia kesehatan, khususnya terapi bagi anak. Di dalam perangkat mobile terdapat aplikasi atau
program yang dirancang untuk melatih anak dengan kesulitan bicara yang disebabkan oleh
kelainan organ bicara, kelainan neurologis, gejala autis, dan tunarungu (Drigas, 2014:50). Pada
dekade terakhir, teknologi yang digunakan dalam terapi wicara dapat mengambil peran penting
bagi penyandang kelainan bicara dan terapis. Meskipun pada awalnya diragukan, tetapi pada
kenyataanya, teknologi dapat memberikan hasil yang lebih efektif dan efisien dibandingkan
dengan terapi wicara tradisional (Drigas, 2014: 53).
Sekelompok peneliti di Thailand mencoba untuk membuat program terapi wicara berbasis
komputer atau e-training. Dalam penelitian tersebut dijelaskan mengenai konsep e-training yang
menggunakan perekam suara dan animasi untuk mengajarkan anak tunarungu dapat
mengucapkan kata berbahasa Thailand dengan benar.
21
Konsep tersebut dibuat untuk mengatasi keterbatasan pola terapi wicara tradisional dengan
melibatkan tiga aspek, yaitu teaching, training, dan tracking (Witsawakiti, 2006: 41.1).
Pembuatan program e-training berbahasa Thailand didasari atas masalah keterbatasan jumlah
terapis yang berakibat pada terhambatnya proses terapi wicara. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, alat terapi berbasis elektronik dinilai tepat.
Melalui program ini anak tunarungu dapat berlatih berbicara dengan bahasa Thailand
dimanapun dan kapanpun mereka berada. Di samping itu, program ini dibuat untuk
mengintegrasi semua peralatan terapi wicara yang sebelumnya terpisah pada proses terapi wicara
tradisional (Witsawakiti, 2006: 41.3).
Di Persia, sekelompok pengembang merancang software untuk terapi wicara anak tunarungu.
Software ini merupakan gabungan beberapa video kreatif dan menghibur yang terdiri atas 300
video artikulasi disertai 26 posisi lidah yang berbeda-beda. Software ini juga dilengkapi dengan
aktivitas interaksi dan sinkronisasi dengan kondisi di rumah dan pusat terapi wicara. Hasil
pengujian setelah menggunakan software ini menunjukkan bahwa anak tunarungu usia 2-6 tahun
berhasil bicara sesuai dengan yang ditargetkan(Drigas, 2014: 50-51).
22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembahasan dapat disimpulkan bahwa anak tunawicara membutuhkan perhatian khusus
dalam proses belajar mengajar. Ciri-ciri anak tunawicara seperti sulit bersosialisasi, sulit
berkomunikasi, dan sering menunjukkan kemarahan ketika apa yang diinginkannya tidak
tercapai memerlukan penanganan khusus agar anak dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan potensinya. Namun, dengan dukungan yang tepat seperti terapi wicara, alat bantu dengar,
dan penggunaan bahasa isyarat, individu tunarungu wicara dapat mengembangkan kemampuan
komunikasi yang efektif. Kesadaran dan dukungan masyarakat juga sangat penting untuk
memastikan mereka mendapatkan akses yang setara dalam berbagai aspek kehidupan, seperti
pendidikan, pekerjaan, dan layanan sosial.
3.2 Saran
Guru, orang tua, dan anggota masyarakat perlu diberi pelatihan tentang cara berinteraksi
dengan anak tunawicara, serta memahami kebutuhan dan potensi mereka. Ini juga termasuk
meningkatkan kesadaran di sekolah dan lingkungan sosial lainnya.
24
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, R. R. (2013). Terapi Bermain Bagi anak Tunarungu. Jurnal INSANIA , 231-243.
Andari, T. W. (2014). Transformasi media berbasis digital untuk melatih keterampilan bicara bagi anak
tunarungu . Jurnal Transformasi media berbasis digital , 381-390.
Aysyah, D. N. (2023). Penanganan Anak Tunawicara: Studi Kasus. Jurnal Ilmiah PGSD FKIP
Universitas Mandiri, 454-468.
Handojo, H. L. (2024). Implementasi Desain sarana Terapi bermain untuk pengembangan kemampuan
wicara dan bahasa anak penyandang Tunarungu . Jurnal Stupi , 603-612.
Mawardah, M. (2023). Terapi Wicara dan Auditori Verbal Terhadap Perkembangan Bahasa Pada anak
Tunarungu. Jurnal Ilmiah PSYCHE, 17-28.
Muliasari, L. A. (2021). Analisis kebutuhan dan perilaku ABK tuna rungu dan wicara dalam pembelajaran
matematika dasar di SKh kabupaten Pandeglang. Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran
Matematika , 9-22.
Mutiara, S. (2023). Karakteristik an model bimbingan atau pendidikan islam bagi ABK Tuna Wicara di
Masyarakat kelurahan lubuk lintang . Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan , 113-124.
Nofiaturrahmah, F. (2018). Problematika anak tunarungu dan cara mengatasinya . Jurnal Quality , 1-15.
25