0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan25 halaman

Pembinaan Anak Tunarungu Wicara

Bb

Diunggah oleh

Tri Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan25 halaman

Pembinaan Anak Tunarungu Wicara

Bb

Diunggah oleh

Tri Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PEMBINAAN ANAK BERBAKAT DAN

BERKEBUTUHAN KHUSUS
‘‘TUNARUNGU WICARA”

DOSEN PENGAMPU :

Rafael Lisinus Ginting, [Link]., [Link]


DISUSUN OLEH :

Kelompok 1

1. Tania Ramadhani 1233151004


2. Putri Estania Sitohang 1233151014
3. Elizabeth Parulian Pasaribu 1233351002
4. Naila Aulia Afifa 1233351007
5. Nabila Dhiyaa Rizqi 1231151007

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2024
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkat dan rahmat nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok.
Pada kesempatan kali ini kami mengucapakan terimakasih kepada Dosen Pengampu
mata kuliah Pembinaan Anak Berbakat dan Berkebutuhan Khusus , Bapa Dosen Rafael
Lisinus Ginting, [Link].,[Link]. yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam
penyusunan tugas ini serta pihak pihak yang telah memberikan dukungan moral mau pun
materi sehingga tugas kelompok ini dapat di selesaikan dengan tepat.
Kami berharap makalah kelompok kami ini dapat berguna bagi pembaca dalam
menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca [Link] juga menyadari bahwa makalah
ini jauh dari kata sempurna jika terdapat kesalahan pada penulisana nama, gelar, kata ataupun
penggunaan bahasa kami mohon maaf. Oleh sebab itu kami berharap jika ada kritik, saran,
usulan, dari pembaca yang sifat nya membangun demi menyempurnakan tugas ini.
Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Medan, September 2024

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................................ 3

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................. 4

1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ 5

2.1 Cara Mengenali Tunarungu Wicara....................................................................... 5

2.2 Karakteristik Tunarungu Wicara ........................................................................... 8

2.3 Permasalahan ....................................................................................................... 14

2.4 Kajian Pustaka ..................................................................................................... 15

2.5 Beberapa kasus yang sering muncul pada tuna rungu dan tunawicara adalah: ... 16

2.6 Bentuk Terapi ...................................................................................................... 16

BAB III PENUTUP............................................................................................................... 23

3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 23

3.2 Saran .................................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 24

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Usia dini merupakan masa keemasan dimana anak akan bertumbuh dan berkembang
secara pesat dan anak belajar segala sesuatu dengan cepat. Perkembangan pada anak usia
dini dapat dilihat dari beberapa aspek meliputi nilai agama moral, kognitif, fisik motorik,
bahasa, seni dan juga sosial emosional. Anak-anak yang menerima rangsangan dari usia
dini dapat mengembangkan kesehatan fisik dan mental mereka sehingga dapat
mempengaruhi prestasi akademik, moral, dan produktivitas.
Semua anak memiliki kesempatan belajar yang sama tanpa mengakui adanya
perbedaan, termasuk anak berkebutuhan khusus. Menurut Lestariningrum dijelaskan
bahwa selain dapat mengakomodir seluruh kebutuhan siswa juga dapat memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan atau bakat istmewa untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu sesuai kebutuhan dan kemampuannya, mewujudkan
penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif
serta membangun karakter, nilai dan norma bagi semua siswa.
Gallagher (1979) menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus berbeda dari anak
yang lainnya dalam beberapa hal seperti ciri mental, kemampuan sensorik, ciri neurologis
atau fisik, perilaku sosial, dan kelancaran berkomunikasi serta kombinasi dari penyakit-
penyakit tersebut (Kismawiyati, 2018). Selain intelektual, sosial, emosional dan fisik anak
tersebut yang kurang baik, tetapi juga merupakan anak yang cenderung memiliki
kemampuan intelektual yang lebih tinggi dari anak lain atau teman sebayanya (Rahmawati
et al., 2017). Anak berkebutuhan khusus berhak untuk hidup mandiri, mencapai minat dan
kesempatan yang sama seperti anak yang lainnya. Terdapat beberapa definisi dari para ahli
berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus Gearheart mendefinisikan anak dengan
kebutuhan khusus sebagai anak yang memerlukan persyaratan pendidikan yang berbeda
dari rata-rata anak normal dan untuk belajar secara efektif memerlukan program,
pelayanan, fasilitas dan materi khusus (Amanulla, 2022).
Tunawicara atau disabilitas wicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau
3
hambatan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Hal ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya atau disfungsi organ bicara, seperti rongga
mulut, lidah, langit-langit mulut seperti rongga mulut dan pita suara, selain tidak adanya
atau disfungsi organ pendengaran, mengakibatkan keterlambatan perkembangan bahasa
(Akhmad et al., 2021). Tunawicara juga merupakan anak yang mengalami kelainan suara,
pengucapan/kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa,
isi bahasa/fungsi bahasa (Linda & Muliasari, 2021).

1.2 Rumusan Masalah

1. Cara mengenali Tunarungu Wicara?

2. Karakteristik Tunarungu Wicara?

3. Permasalahan Tunarungu Wicara?

4. Kajian Pustaka Tunarungu Wicara?

5. Kasus yang sering muncul Tunarungu Wicara?

6. Bentuk Terapi Tunarungu Wicara?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui Cara mengenali Tunarungu Wicara.

2. Untuk mengetahui Karakteristik Tunarungu Wicara.

3. Untuk mengetahui Permasalahan Tunarungu Wicara.

4. Untuk mengetahui Kajian Pustaka Tunarungu Wicara.

5. Untuk mengetahui Kasus yang sering muncul Tunarungu Wicara.

6. Untuk mengetahui Bentuk Terapi Tunarungu Wicara.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Cara Mengenali Tunarungu Wicara


Mengenal Anak Tunarungu Secara bahasa tunarungu berasal dari kata tuna yang berarti luka,
rusak, kurang, tidak memiliki (Alwi, 2002 : 1223). Sementara itu rungu berarti pendengaran
(Alwi, 2002 : 970). Jadi secara bahasa tunarungu dapat diartikan dengan keadaan memiliki
pendengaran yang kurang. Kemudian secara istilah tunarungu diartikan sebagai dengan
hilangnya kemampuan pendengaran seseorang baik itu sebagian ( hard of hearing) maupun
seluruhnya (deaf). Hal itu menjadikan kemampuan pendengaran seseorang tidak berfungsi
(Kosasih, 2012 : 173).
Lebih lanjut Rini Hildayani, dkk (2012 : 8.16) tunarungu dapat dilihat dari dua sudut pandang.
Pertama, sudut pandang yang berorientasi fisiologis. Sudut pandang ini menyebutkan bahwa
anak yang tidak dapat mendengar bunyi pada tingkat intensitas (kenyaringan) tertentu
diklasifikasi sebagai tuli, selain itu dipandang sebagai hard of hearing. Sensitivitas pendengaran
tersebut diukur dengan decibel (dB) dan orang yang tuli adalah orang yang kehilangan
pendengaran sekitar 90 dB atau lebih.
Kedua, sudut pandang orientasi edukasional. Sudut pandang ini memiliki perhatian yang besar
terhadap berapa banyaknya pendengaran yang hilang yang dapat mempengaruhi kemampuan
anak untuk berbicara dan mengem bangkan bahasa. Jadi dapat dikatakan bahwa para profesional
membuat kategori mengenai tunarungu berdasarkan kemampuan berbicara seseorang.
Bagi sudut pandang yang berorientasi edukasional, usia ketika terjadinya gangguan
pendengaran merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Menurut sudut pandang ini ada
hubungan yang erat antara kehilangan pendengaran dan keterlambatan bahasa. Semakin awal se
seorang mengalami kehilangan pendengaran, maka semakin terganggu per kembangan
bahasanya. Itulah sebabnya ada istilah yang digunakan oleh para profesional dalam hal ini, yaitu
orang yang terlahir tuli dan orang yang tuli.
beberapa saat setelah lahir (Hildayani, dkk, 2002 : 8.17). Baik orang yang terlahir tuli maupun
orang yang tuli beberapa saat setelah lahir, dalam perspektif pendidikan ketuliannya dapat
disembuh [Link] ditinjau dari tujuan pendidikannya, anak tunarungu dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
5
1. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slightlosses), ciri-cirinya
antara lain :
a. Kemampuan mendengar masih baik karena berada di garis batas antara pendengaran normal
dan kekurangan pendengaran taraf ringan.
b. Tidak mengalami kesulitan memahami pembicaraan dan dapat mengikuti sekolah biasa
dengan syarat tempat duduknya perlu diperhatikan, terutama harus duduk di dekat guru.
c. Dapat belajar bicara secara efektif melalui kemampuan mendengarnya.
d. Perlu diperhatikan kekayaan perbendaharaan bahasanya agar perkem bangan bicara dan
bahasanya tidak terhambat.
e. Disarankan yang bersangkutan menggunakan alat bantu dengar untuk meningkatkan
ketajaman daya pendengarannya.
2. Anak tuna rungu yang kehilangan pendengaran antara 30-40 dB (mildlosses), ciri-cirinya
yaitu :
a. Dapat mengerti percakapan biasa pada jarak sangat dekat.
b. Tidak mengalami kesulitan untuk mengekspresikan isi hatinya.
c. Tidak dapat menangkap suatu percakapan yang lemah.
d. Kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicaranya.
e. Untuk menghindari kesulitan bicara perlu mendapatkan bimbingan yang baik dan intensif.
f. Ada kemungkinan sebaiknya dimasukkan ke kelas khusus.
g. Disarankan menggunakan alat bantu dengar untuk menambah ketajaman daya
pendengarannya.
3. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 Db (moderate losses), ciri-
cirinya sebagai berikut :
a. Dapat mengerti percakapan keras padajarak dekat kira-kira 1 meter sebab ia kesulitan
menangkap percakapan pada jarak normal.
b. Sering terjadi mis-understanding terhadap lawan bicaranya jika ia diajak bicara.
c. Penyandang tunarungu kelompok ini mengalami kelainan bicara terutama pada huruf
konsonan, misalnya huruf K atau G yang mungkin diucapkan menjadi T dan D.
d. Kesulitan menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan.
e. Perbendaharaan kosakatanya sangat terbatas.
4. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75 dB (severelosses), ciri-cirinya
antara lain :
6
a. Mengalami kesulitan membedakan suara.
b. Tidak memiliki kesadaran bahwa benda-benda yang ada disekitarnya memiliki getaran
suara.
5. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran 75 dB ke atas (profoundlylosses). Ciri dari
anak tunarungu kelompok ini adalah ia hanya dapat mendengar suara keras sekali pada jarak kira-
kira 2,54 cm atau sama sekali tidak bisa mendengar. Biasanya ia tidak menyadari bunyi keras,
mungkin juga ada reaksi jika dekat telinga. Anak tunarungu kelompok ini walaupun
menggunakan pengeras suara, tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap suara (Efendi,
2006 : 59-61).
Tunawicara atau kelainan berbicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau hambatan
dalam berkomunikasi verbal sehingga mengalami kesulita dalam berkomunikasi. Hal ini
mungkin disebabkan oleh adanya kerusakan atau tidak berfungsinya organ bicara, seperti rongga
mulut, lidah, langit-langit mulut seperti rongga mulut dan pita suara, selain tidak adanya atau
disfungsi organ pendengaran, mengakibatkan keterlambatan perkembangan bahasa (Akhmad et
al.,2021).
Tunawicara juga merupakan anak yang mengalami Kelainan suara, pengucapan/kelancaran
bicara, sehingga mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa/fungsi bahasa
(Linda &Muliasari, 2021).
Menurut Patton (1991) bahwa gangguan bicara atau kelainan berbicara ini adalah seseorang
yang tidak mampu menggunakan organ Vokalnya untuk menyampaikan pikirannya
kepadapendengar (orang lain)itu. Ini dapat disebabkan oleh kerusakan otak, langit-langit mulut
sumbing, bibir sumbing, tuli, dll (Gumilar & Prawahandaru, 2011). Akibatnya, informasi yang
sangat sederhana saja dan mudah untuk disampaikan kepada lawan bicara, sebaliknya, lebih sulit
dipahami dan membingungkan bagi lawan bicara biasa. Biasanya, keanehan bahasa tersebut
muncul dari segi ekspresi,kelancaran, intonasi dan struktur tuturan yang disampaikan tidak sesuai
sehingga membuat lawan bicara bingung.
Menurut Njiokiktjien (dalam Rahmi et al., 2020) bahwa anak tunarungu disebut juga anak
disfonik karena kefasihan mereka terganggu akibat penggunaan tata bahasa yang kurang baik
dan kemampuan mengungkapkan perintah yang kurang baik, serta cacat bicara secara spontan,
sehingga pelafalannya buruk. Ciriciri anak yang memiliki gangguan bahasa yaitu berbicara
dengan keras dan tidak jelas, suka memperhatikan gerakan bibir atau gestur teman bicaranya,
telinga berair, menggunakan alat bantu saat bibir sumbing, mereka suka Melakukan gerakan
7
tubuh, cenderung memiliki suara, hidung dan lidah yang pelan (Setiawati & Nai’mah, 2020).
Masalah yang sangat umum bagi penyandang tunawicara adalah komunikasi yang terbatas
dengan orang biasa atau orang lain yang normal (Pasek Suyadnya et al., 2018).

2.2 Karakteristik Tunarungu Wicara


A. Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara
Anak Tunarungu dalam segi bicara dan bahasa mengalami hambatan, hal ini disebabkan
adanya hubungan yang erat antara bahasa dan bicara dengan ketajaman pendengaran, mengingat
bahasa dan bicara merupakan hasil proses peniruan sehingga anak tunarungu dalam segi bahasa
memiliki ciri yang khas yaitu sangat terbatas dalam pernilihan kosa kata, sulit mengartikan arti
kiasan dan kata-kata yang bersifat abstrak.
B. Karakteristik dalam segi emosi dan sosial
Keterbatasan yang terjadi dalam komunikasi pada anak tunarungu mengakibatkan perasaan
terasing dari lingkungannya. Anak tunarungu mampu melihat semua kejud 3 dari dupi tidak
mampu memahami dan mengikutinya secara menyeluruh sehingga menimbulkan emosi yang
tidak stabil, mudah curiga, dan kurang percaya diri. Dalam pergaulan cenderung memisahkan
diri terutama dengan anak normal, hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan untuk
melakukan komunikasi secara lisan. Berikut dilihat dari segi emosi dan sosial anak tunarungu:
a) Egosentrisme yang melebihi anak normal.
b) Memiliki persaan takut akan lingkungan yang lebih luas..
c) Ketergantungan terhadap orang lain.
d) Perhatian mereka lebih sukar dialihkan.
e) Umumnya anak tunarungu memiliki sifat yang polos, sederhana, dan tidak banyak
masalah.
f) Lebih mudah marah dan cepat tersinggung.
C. Klasifikasi Anak Tunarungu
Untuk keperluan layanan pendidikan khusus, para ahli berpendapat klasifikasi mutlak
diperlukan. Hal ini sangat menentukan dalam pemilihan alat bantu mendengar yang sesuai
dengan sisa pendengarannya dan menunjang pembelajaran yang efektif. Dengan menentukan
tingkat kehilangan pendengaran dan pemilihan alat bantu dengar serta layanan khusus yang tepat,
8
akan menghasilkan akselerasi secara optimal dalam mempersepsi bunyi bahasa dan wicara.
Klasifikasi ketunarunguan sangat bervariasi menurut Boothroyd dalam Melinda (2013: 20)
seperti pada gambar Klasifikasi dan karakteristik

a. Kelompok I: Kehilangan 15-30 dB, mild hearing losses atau ketunarunguan ringan; daya
tangkap terhadap suara cakapan manusia normal.
b. Kelompok II Kehilangan 31-60 dB, moderate hearing losses atau ketunarunguan atau
ketunarunguan sedang; daya tangkap terhadap suara percakapan manusia hanya
sebagaian.
c. Kelompok III Kehilangan 61-90 dB: severe hearing losses atau ketunarunguan berat; daya
tangkap terhadap suara cakapan manusia tidak ada.
d. Kelompok IV Kehilangan 91-120 dB: profound hearing losses atau ketunarunguan sangat
berat; daya tangkap terhadap suara percakapan manusia tidak ada sama sekali.
D. Karakteristik Anak Tunarungu
Menurut Melinda (2013: 20) karakteristik anak tunarungu adalah:
1. Tidak mampu mendengar
2. Terlambat didalam perkembangan bahasanya.
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
4. Kurang atau tidak tanggap bila diajak bicara
5. Ucapan kata tidak jelas
6. Kualitas suara monoton dan kurang baik
7. Sering memiringkan suara untuk mencari sumber bunyi
8. Banyak perhatian terhadap getaran
9. Cepat tersinggung kadang introvert
10. Irama bahasa dan irama gerak kurang baik
11. Sulit untuk memahami bahasa yang abstrak
Perkembangan fisik anak tunarungu tidak mengalami hambatan, dapat melakukan aktifitas
gerak dengan baik hanya keseimbangannya kurang baik, hal ini karena pengaruh struktur
anatomis pada labyrinth. Pada aktivitas sehari-hari yang yang sangat terlihat sekali pada
tunarungu adalah dalam kegiatan bicara dan bahasa. Mereka sangat sulit untuk untuk melakukan
bicara reseptif dan ekspresif, semuanya perlu adanya adanya latihan, bimbingan dan binaan yang
efektif melakukan proses pembelajaran.
9
Menurut Suparno dalam Melinda (2013: 40), karakteristik anak tunarungu yang umumnya
dimikili oleh anak tunarungu di antara lain adalah sebagai berikuti:

a. Segi fisik/motorik
1. Cara berjalannya agak kaku dan cenderung membentuk.
2. Pernapasannya pendek.
3. Gerakan matanya cepat dan beringas.
4. Gerakan tangan dan kakinya.
b. Segi bahasa
1. Miskin kosa kata
2. Sulit mengartikan ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang abstrak (idiematik)
bentuk kiasan-kiasan.
3. Sulit memahami kalimat-kalimat yang kompleks atau kalimat panjang tentu
4. Kurang menguasai irama dan gaya bahasa.
c. ciri-ciri anak tunarungu adalah sebagai berikut:
1. Sering memiringkan kepalanya dalam usaha mendengar
2. Banyak pehatian terhadap getaran
3. Terrlambat dalam pengembangan bahasa
4. Tidak ada reaksi terhadap bunyi atau suara
5. Terlambat pengembangan bahasa
6. Sering mengunakan isyarat dalam berkomunikasi
7. Kurang atau tidak tangap dalam diajak bicara
8. Ucapan tidak jelas, kualitas suara aneh monoton.

Kebanyakan anak tunarungu udak berbeda dengan anak pada umumnya tetapi mereka
memerlukan perhatian kusus ketika pembelajaran antara lain:
A. Berbicara dengan anak harus berhadapan, tidak mengajak bicara dengan cara
membelakanginya.
B. Bicara sejajar di sekolah inklusif maka anak hendaknya didudukan paling depan,
sehingga lebih mudah untuk membaca ujaran guru
C. Bicara dengan jelas dan melodis
D. Bicara wajar dan tidak dibuat-buat
10
E. Mulut jangan tertutup benda lain, misal rokok, permen, cadar, dan lainnya ketika bicara
F. Bicara jangan terlalu cepat atau terlalu lambat
G. Bicara sejajar dan berhadapan
H. Bila memakai isyarat, lakukan dengan jelas dan simultan

1. Pengirim pesan dan isi pesan atau materi Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide
untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami mnlfi orang yang
menerima peran sesuai dengan yang dimaksudkannya. Peran adalah informasi yang akan
disampaikan atau diekspesikan oleh pengirim pesan. Materi pesan dapat berupa:
a. Informasi
b. ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan lain sebagainya.

2. Simbol isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau symbol sehingga pesannya dapat
dipahami oleh orang lain. Biasanya seseorang manager menyampaikan pesan dalam bentuk
kata-kata, gerakan anggota badan. Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak,
membujuk, mengubah sikap, prilaku atau menunjukan arah tertentu.

3. Media/ penghubung
Adalah alat untuk menyampaikan pesan sepeti: tv, radio, surat kabar, papan
pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan
yang akan disun dafinil penerima pesan, situasi, dsb.
4. Mengartikan kode/ isyarat
Setelah pesan diterima melalui indra (telinga, mata, dan seterusnya) maka sipenerima
pesan harus dapat mengartikan simbo/ kode dari pesan tersebut. Sehingga dapat dimengerti.
5. penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari si pengirim meskipun
dalam bentuk kode isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
6. Balikan
Balikan adalah isyarat atau tanggapa yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk

11
verbal maupun non verbal. Tanpa balikan seseorang pengirim Pesan tidak akan tahu dampak
pesannya terhadap si penerima pesan. Hal ini penting bagi manajer atau bagi pengirim pesan
untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan penahanan yang benar dan tepat.
Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan.
Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan
langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan
apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak. Balikan yang diberikan oleh orang lain
didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan.
Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang
Diterimanya.
KARAKTERISTIK TUNAWICARA
Tuna wicara merupakan ketidakmampuan seseorang untuk berbicara hal ini disebabkan adanya
gangguan pada organ sebagai berikut: pita suara, paru-paru, mulut, lidah, langit-langit dan
tenggorokan tidak berfungsinya organ pendengaran perkembangan bahasa yang terlambat
kerusakan pada sistem saraf dan struktur otot tidak mampu mengontrol gerak itu semua
mengakibatkan hambatan dalam berbicara.
Seorang anak yang menderita kelainan bicara atau tunawicara memiliki beberapa penyebab,
Menurut Mangunsong, dkk (1998) faktor penyebab tuna wicara adalah sebagai berikut:
(1) Gangguan kelancaran berbicara, yang mencangkup
(a) Gangguan emosi,
(b) kerusakan otak,
(c) kerusakan syarat
(d)gangguan organ bicara,
(2) kelainan artikulasi
(3) Kelainan suara, yang mencangkup
(a)penyakit seperti laringitis yang menyebabkan suara menjadi serak,
(b) terdapat tumor pita suara,
(c)kelainan pada pitch atau tinggi rendahnya nada suara terlalu tinggi, rendah, atau monoton,
(d) kelainan bahasa disebabkan difungsi susunan syaraf pusat atau kerusakan susunan syarat
pusat yang secara medis sulit diperbaiki.
Terdapat beberapa macam gangguan bicara yang ada disekitar yang harus diketahui yaitu
(a) Articulation yang berarti kesulitan komunikasi dalam pengucapan Gagap, kesulitan dalam
12
mengucapkan kalimat secara fasih,
(b) Cerebral-Palsy speech, yang berarti kelainan bicara akibat adanya kerusakan otak,
(c) Speech problem due impaired hearing, yang berarti kelainan bicara akibat gangguan
pendengaran,
(d) Retarted Speech Development, yang berarti Kelainan bicara akibat perkembangan bicara itu
sendiri.
Adapun ciri ciri dari tunawicara yang perlu kita fahami ada beberapa macam yaitu Gangguan
suara (voice disorder) Gangguan suara yaitu ketiadaan atau abnormalitas produksi kualitas suara,
pola titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), resonansi, dan atau durasi bicara. Gangguan ini
merujuk pada suara yang tidak atau kurang enak didengar, mengacaukan dan/ atau
membingungkan konteks komunikasi.
Terdapat lima ciri anak yang mengalami gangguan suara, antara lain:
1. Adanya gangguan kualitas suara sehingga menjadi bernada rendah, tinggi, atau hanya berupa
hembusan napas.
2. Ketidakseimbangan antara resonansi di mulut dengan resonansi hidung yang menimbulkan
suara nasal dan tidak adanya resonansi hidung.
3. Suara yang lemah atau terlalu nyaring.
4. Suara bernada terlalu tinggi atau terlalu rendah.
5. Adanya penyimpangan nada dan kenyaringan suara.

Gagap (stuttering) Gagap (stuttering), yaitu adanya gangguan atau kerusakan kecepatan atau
ritme yang mungkin disertai dengan perilaku perjuangan keras untuk mengatasinya (strugle
behavior). Stuttering banyak terjadi pada anak usia permulaan.
Adapun ciri-ciri anak yang mengalami gangguan kelancaran bicara atau stuttering adalah:
1. Adanya suara-suara tambahan, pengulangan-pengulangan, perpanjangan, interjection, dan
perbaikan-perbaikan.
2. Bicaranya patah-patah dan sering terjadi pengentian-penghentian.
3. Adanya kelainan irama.
4. Intonasi dan tekanan suara kurang bervariasi.
5. Kecepatan bicara terlalu lambat atau terlalu cepat. (Valencia, E. V, 2019)

Karakteristik psikologis dan perilaku yang ada di dalam diri anak yang tunawicara adapun
13
berbicara Karakteristik anak tunawicara, (Ramadhan, 2013:22):
1. Berbicara keras dan tidak jelas atau suara terdengar sengau.
2. Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya untuk memahami maksud
pembicaraan.
3. Telinga mengeluarkan cairan atau lendir
4. Cenderung pendiam, karena kesulitan mengungkapkan perasaannya.

Ciri-Ciri Anak Mengalami Gangguan Bahasa dan Bicara (Tunawicara) yaitu, Kesulitan
menangkap isi pembicaraan orang lain, tidak lancar berbicara, sering menggunakan tanda-tanda
untuk berkomunikasi, serak tidak lancar mengucapkan kata-kata tertentu dan tidak disertai
organ/ucapan yang tidak lengakp celah.

2.3 Permasalahan

Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)


Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen
maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran
adalah:
1. Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB),
2. Gangguan pendengaran ringan (41-55dB), 3. Gangguan pendengaran sedang (56-70dB),
3. Gangguan pendengaran berat (71-90dB),
4. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki Gangguan
pendengaran ekstrim/tuli (di atas 91dB).
hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi
dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara
internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda- beda di setiap negara. saat ini dibeberapa
sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan
bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam
memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Berikut identifikasi anak yang mengalami
gangguan pendengaran:

14
1. Tidak mampu mendengar.
2. Terlambat perkembangan bahasa,
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
5. Ucapan kata tidak jelas,
6. Kualitas suara aneh/monoton,
7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
8. Banyak perhatian terhadap getaran.
9. Keluar nanah dari kedua telinga.
10. Terdapat kelainan organis telinga.

2.4 Kajian Pustaka

1. Pengertian Anak Tunarungu


Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan
seseorang tidak dapat menangkap berbagai ransangan, terutama melalui indera pendengarannya.
Batasan pengertian anak tunarungu telah banyak dikemukakan oleh para ahli yang semuanya itu
pada dasarnya mengandun pengertian yang sama.
2. Penyebab Ketunarunguan
a) Faktor dalam Diri Anak
1) Keturunan dari salah satu kedua orangtuanya yang mengalami ketunarunguan.
2) Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit Campak Jerman (Rubella).
3) Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah Toxaminia.
b) Faktor Luar dari Anak
1) Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran.
2) Meningitis atau radang selaput otak
3) Otitis media (radang pada bagian telinga tengah)
4) Penyakit lain atau kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerusakan alat-alat pendengaran
bagian tengah dan dalam.
3. Dampak ketunarunguan
Menurut Arthur Borthroyd dalam Sadja’ah (2005, hlm.1) berbagai dampak yang ditimbulkan
sebagai akibat ketunarunguan mempengaruhi dalam hal : masalah persepsi auditif, masalah
15
bahasa dan komunikasi, masalah intelektual dan kognitif, masalah pendidikan, masalah sosial,
masalah emosi, bahkan masalah vokasional.
a) Dampak Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Tunarungu
b) Dampak Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Tunarungu
c) Dampak Terhadap Perkembangan Emosi Anak Tunarungu
d) Dampak Terhadap Perkembangan Sosial Anak Tunarungu
e) Dampak Terhadap Perkembangan Perilaku Anak Tunarungu.

2.5 Beberapa kasus yang sering muncul pada tuna rungu dan tunawicara
adalah:

1. Kesulitan berbicara: Anak tunarungu kesulitan berbicara karena tidak bisa mendengar
suara-suara di kehidupan sehari-hari. Mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasan
dengan baik saat berbicara.
2. Kesulitan berbahasa: Anak tunarungu kesulitan berbahasa, seperti kesulitan
menggunakan lambang, mengucapkan lambang, dan menggabungkan lambang-lambang.
3. Miskin kosakata: Anak tunarungu cenderung memiliki kosakata yang terbatas.
4. Sulit memahami ungkapan bahasa: Anak tunarungu kesulitan memahami ungkapan
bahasa yang mengandung arti kiasan dan kata-kata abstrak.
5. Kurang menguasai irama dan gaya bahasa: Anak tunarungu kurang menguasai irama dan
gaya bahasa.
6. Sulit memahami kalimat kompleks: Anak tunarungu sulit memahami kalimat-kalimat
kompleks.

Tuna rungu disebabkan oleh saraf-saraf pendengaran yang tidak berfungsi secara normal.
Sedangkan tuna wicara atau gangguan bicara dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran sejak
lahir atau kerusakan pada organ, seperti lidah yang terlalu pendek.

2.6 Bentuk Terapi


1. Terapi Wicara
Terapi wicara merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk orang dengan gangguan
perilaku khususnya komunikasi. Terapi wicara adalah suatu ilmu/kiat yang mempelajari perilaku
komunikasi normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita
gangguan perilaku komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara,
16
irama/kelancaran, sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan.
Contoh terapi wicara yang diterapkan pada anak tunarungu, dapat melibatkan beberapa metode
dan latihan, seperti:
[Link] Pengucapan Bunyi:
Anak diminta untuk meniru suara-suara tertentu yang dicontohkan oleh terapis, seperti
mengucapkan huruf-huruf vokal (a, i, u, e, o) dan konsonan (b, c, d). Anak mencoba meniru
bunyi-bunyi ini dengan tujuan meningkatkan artikulasi.
[Link] Pengenalan Suara Lingkungan:
Anak dilatih untuk mengenali dan merespons suara-suara dari lingkungan, seperti suara
kendaraan atau suara binatang (misalnya, membedakan suara kucing dan bebek). Ini membantu
mereka untuk lebih sadar dan responsif terhadap suara di sekitar mereka.
[Link] Pengenalan Nama Sendiri:
Terapi dapat melibatkan latihan agar anak tunarungu mulai mengenali dan merespons ketika
namanya dipanggil. Sebagai contoh, setelah mendapatkan terapi, anak mulai menoleh saat
namanya dipanggil 2 hingga 3 kali dengan memberikan waktu tunggu.
[Link] Pemahaman dan Penggunaan Bahasa:
Anak diajarkan untuk memahami perintah sederhana dan mulai mengasosiasikan kata-kata
dengan objek atau tindakan tertentu. Misalnya, mengenali kata-kata yang berkaitan dengan
warna, ukuran, atau bentuk.

2. Terapi Auditori Verbal (AVT)


Terapi Auditori Verbal (AVT) adalah sebuah pendekatan khusus yang bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan mendengar dan berbicara pada anak-anak yang mengalami
gangguan pendengaran, termasuk tunarungu. Terapi ini memanfaatkan alat bantu dengar atau
implan koklea untuk membantu anak-anak memaksimalkan sisa pendengaran yang mereka miliki
sehingga mereka bisa belajar berkomunikasi secara lisan.
Metode dan Teknik dalam AVT
[Link] Mendengar (Auditory Training): Anak dilatih untuk mengenali berbagai suara di
lingkungan mereka, dari suara sederhana seperti bunyi lonceng atau suara hewan hingga
percakapan manusia. Latihan ini dimulai dengan suara yang paling mudah dikenali dan bertahap
menuju suara yang lebih kompleks.
[Link] Bahasa Lisan: Terapis memberikan contoh bagaimana menggunakan bahasa lisan
17
dalam situasi sehari-hari. Anak diajari untuk mendengarkan dan kemudian meniru atau
merespons apa yang mereka dengar.
[Link] dengan Aktivitas Sehari-hari: Terapi dilakukan dalam konteks kegiatan sehari-hari,
seperti saat bermain atau berbicara tentang hal-hal yang menarik minat anak, untuk membuat
latihan menjadi lebih alami dan bermakna bagi anak.
[Link] Orang Tua: Orang tua dilibatkan secara aktif dalam terapi. Mereka diajarkan cara-
cara untuk merangsang pendengaran dan berbicara di rumah, memastikan bahwa anak-anak
mereka mendapat latihan terus menerus di luar sesi terapi formal.
Contoh Latihan dalam AVT
1. 6 Ling Sound Test: Anak diminta untuk mendengarkan dan merespons suara-suara yang
mencakup seluruh spektrum frekuensi penting untuk memahami ucapan (a, i, u, m, s, sh).
Ini membantu memastikan bahwa alat bantu dengar atau implan koklea bekerja dengan
baik dan anak dapat mendengar semua suara penting.

2. Latihan Pengenalan Suara dan Kata: Terapis menyebutkan kata-kata atau suara, dan anak
diminta untuk menunjuk atau mengambil objek yang sesuai atau mengulangi kata tersebut.
Misalnya, setelah mendengar kata "kucing," anak mungkin diminta untuk menunjuk
gambar kucing atau mengatakan kata itu kembali.

3. Storytelling dan Dialog Sederhana: Anak dilibatkan dalam percakapan atau mendengarkan
cerita sederhana, kemudian diajak untuk merespons atau menceritakan kembali bagian dari
cerita tersebut. Ini membantu dalam memperkuat kemampuan mendengar dan memahami
konteks percakapan.

3. Terapi Bermain
Menurut Freud, bermain adalah fantasi atau lamunan sehingga anak dapat memproyeksikan
harapan-harapan maupun konflik pribadi (Gee dan Meredirth, 1997). Menurut Sudono, bermain
adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa alat yang mengasilkan pengertian atau
memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.
Terapi bermain digunakan untuk meningkatkan proses interpersonal anak dalam belajar dan
bersosialisasi. Setiap anak perlu melewati fase ini sebagai ladasan dasar tumbuh kembang anak.
Anak penyandang disabilitas seringkali mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dan
18
menyesuaikan diri. Pola asuh orang tua yang responsive, dimana orang tua siap sedia menanggapi
kebutuhan anak, menciptakan rasa aman, kepercayaan, dan juga ketergantungan (Yum dkk.,
2020). Intervensi pembelajaran non-formal diperlukan untuk mendukung perkembangan anak
diluar dari pembelajaran formal dan pola asuh yang diterapkan di rumah.
Homo Ludens diartikan manusia adalah makhluk bermain. Sejak 1870 penelitian menyatakan
permainan memberi tiga nilai yakni nilai kognitif, emosional, dan sosial. Bermain menjadi
landasan dasar bagi perkembangan diri anak. Terapi bermain merupakan metode terapi dengan
media bermain dengan unsur petualangan. Tujuannya adalah membantu anak yang kesulitan
mengekspresikan diri atau berinteraksi, atau yang kesulitan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya atau orang lain. Baik di Sekolah Luar Biasa, di ruang terapi atau di ruang
konseling yang terstruktur, bermain merupakan kebutuhan yang sah untuk tumbuh kembang anak
di mana pun dan kapan pun.
Terapi bermain anak menjadi aktivitas yang diperlukan anak dengan tujuan menciptakan
suasana baru untuk sang anak belajar mengekspresikan dan mengembangkan diri. Terapi bermain
dilakukan di ruang khusus untuk anak diberi kebebasan memilih permainan yang ia inginkan.
Terapi bermain dapat berwujud mewarnai, menggambar, bermain peran, bermusik, membuat
kerajinan tangan dan membangun sesuatu. Media yang digunakan dapat menggunakan dan tidak
menggunakan alat, contoh alat permainan yang digunakan adalah kotak pasir, alat musik, block
susun, kostum, boneka, alat olahraga, dan sebagainya. Sedangkan terapi tanpa alat dapat
menggunakan teknik cerita terapeutik, musik, tarian dan gerakan, drama atau permainan peran,
dan visualisasi kreatif. Terapis akan membantu anak menyesuaikan metode bermain yang tepat
untuk sang anak. Intervensi yang dilakukan terapis merupakan hasil penilaiannya sebelum anak
melakukan terapi bermain (pre-test).
Dengan demikian terapis dapat menentukan metode yang digunakan, lama sesi, orang yang
terlibat, fasilitas, dan sarana yang dibutuhkan. Jumlah pertemuan atau sesi terapi ditentukan dari
kondisi anak, namun biasanya terapi berlangsung selama 30-45 menit. Setiap sesi terapi bermain
tidak hanya bermain, namun terapis melakukan proses dialog dan diskusi untuk mendorong anak
mengekspresikan pikiran dan emosi anak. Melalui terapi bermainanak dapat mengembangkan
rasa percaya diri, menumbuhkan empati kepada orang lain, melatih kemampuan kognitif,
meningkatkan kemandirian dan kemampuan sosialisasi. Menurut Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, pada usia bermain ini anak masih belum mampu mengendalikan emosinya.
Sehingga terapi bermain menjadi wadah yang ideal bagi anak penyandang Tunarungu dalam
19
mengembangkan kemampuan wicara dan bahasa sekaligus sosial dengan teman-teman
sebayanya dan terapis.
Beberapa contoh permainan dalam ruangan terapi bermain anak untuk membantu pengembangan
wicara dan bahasa anak penyandang Tunarungu dengan memperdayakan indra lainnya. Hal-hal
tersebut dapat diimplementasikan dalam sebuah ruang arsitektural.

4. Media Berbasis Digital untuk Melatih Keterampilan Bicara Anak Tunarungu


Di akhir abad 20, teknologi digital mulai berkembang. Teknologi yang berbasis angka ini
jugaberperan dalam membangun sebuah dunia virtual. Virtual sendiri berasal dari kata virtus
dalam bahasa latin yang artinya kekuatan atau ketahanan (Shield, 2011: 2). Secara filosofis,
virtual didefinisikan sebagai sesuatu yang nyata namun tidak konkret. Virtual dibedakan dengan
konkret (hal nyata yang aktual) dan abstrak (posibilitas yang ideal) (Shield, 2011: 2). Virtual juga
merupakan sebuah idealisasi nyata seperti memori atau mimpi.
Teknologi digital membuat memori bergerak dari alam virtual ke alam material. Memori yang
tidak terwujud pun menjadi dapat dihadirkan melalui alat peraga. Perangkat mobile merupakan
salah satu sarana yang berfungsi sebagai penghubung ide yang ada pada dunia virtual menjadi
tampak di dunia material. Dalam paparan ini, perangkat mobile menempati fungsi sebagai sarana
pembelajaran (mobile learning) dan terapi.
Secara sederhana, mobile learning diartikan sebagai pembelajaran yang dilakukan dengan

20
menggunakan perangkat mobile (Wang dalam Kinash, 2012 : 639). Terdapat tiga kualifikasi
penting mengenai mobile learning, yaitu (1) perangkat mobile yang berarti membebaskan anak
untuk berpindah sesuai dengan lingkungan dan topik pelajaran yang ini dipelajari, (2)
menggunakan perangkat mobile berarti pembelajaran yang dilakukan bersifat informal dan dapat
dilakukan dimana saja, dan (3) mobile learning tidak hanya melibatkan pengajar dan pelajar,
tetapi juga bagaimana pelajar berinteraksi dengan komunitas (Kinash, 2012: 639-640). Perangkat
mobile saat ini sudah memberikan efek ketergantungan tersendiri bagi anak-anak di usia sekolah.
Baik itu berupa telepon seluler, e-book reader, tablet, maupun perangkat mobile lainnya.
Ketergantungan terhadap perangkat mobile ini dapat memberikan keuntungan dalam proses
belajar.
Dengan memanfaatkan ketertarikan terhadap perangkat mobile, proses pembelajaran dapat
dilakukan dengan lebih interaktif, inovatif, dan terkoneksi. Di samping itu, masing-masing anak
juga dapat bermain sekaligus belajar serta mendapatkan umpan balik (feedback) melalui
teknologi yang sudah terintegrasi dengan materi pembelajaran. Terdapat tiga langkah untuk
memulai penggunaan perangkat mobile untuk pembelajaran, yaitu
(1) menentukan target atau tujuan dari pembelajaran dengan perangkat mobile sehingga
terhindar dari kesalahan penggunaan aplikasi,
(2) melakukan survey tentang jenis perangkat mobile yang dimiliki anak,
(3) melibatkan siswa dalam memilih aplikasi untuk pembelajaran dengan perangkat mobile
(Robledo, 2012: 1-3).
Selain berfungsi untuk membantu pembelajaran, perangkat mobile memiliki kegunaan dalam
dunia kesehatan, khususnya terapi bagi anak. Di dalam perangkat mobile terdapat aplikasi atau
program yang dirancang untuk melatih anak dengan kesulitan bicara yang disebabkan oleh
kelainan organ bicara, kelainan neurologis, gejala autis, dan tunarungu (Drigas, 2014:50). Pada
dekade terakhir, teknologi yang digunakan dalam terapi wicara dapat mengambil peran penting
bagi penyandang kelainan bicara dan terapis. Meskipun pada awalnya diragukan, tetapi pada
kenyataanya, teknologi dapat memberikan hasil yang lebih efektif dan efisien dibandingkan
dengan terapi wicara tradisional (Drigas, 2014: 53).
Sekelompok peneliti di Thailand mencoba untuk membuat program terapi wicara berbasis
komputer atau e-training. Dalam penelitian tersebut dijelaskan mengenai konsep e-training yang
menggunakan perekam suara dan animasi untuk mengajarkan anak tunarungu dapat
mengucapkan kata berbahasa Thailand dengan benar.
21
Konsep tersebut dibuat untuk mengatasi keterbatasan pola terapi wicara tradisional dengan
melibatkan tiga aspek, yaitu teaching, training, dan tracking (Witsawakiti, 2006: 41.1).
Pembuatan program e-training berbahasa Thailand didasari atas masalah keterbatasan jumlah
terapis yang berakibat pada terhambatnya proses terapi wicara. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, alat terapi berbasis elektronik dinilai tepat.

Melalui program ini anak tunarungu dapat berlatih berbicara dengan bahasa Thailand
dimanapun dan kapanpun mereka berada. Di samping itu, program ini dibuat untuk
mengintegrasi semua peralatan terapi wicara yang sebelumnya terpisah pada proses terapi wicara
tradisional (Witsawakiti, 2006: 41.3).
Di Persia, sekelompok pengembang merancang software untuk terapi wicara anak tunarungu.
Software ini merupakan gabungan beberapa video kreatif dan menghibur yang terdiri atas 300
video artikulasi disertai 26 posisi lidah yang berbeda-beda. Software ini juga dilengkapi dengan
aktivitas interaksi dan sinkronisasi dengan kondisi di rumah dan pusat terapi wicara. Hasil
pengujian setelah menggunakan software ini menunjukkan bahwa anak tunarungu usia 2-6 tahun
berhasil bicara sesuai dengan yang ditargetkan(Drigas, 2014: 50-51).

22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembahasan dapat disimpulkan bahwa anak tunawicara membutuhkan perhatian khusus
dalam proses belajar mengajar. Ciri-ciri anak tunawicara seperti sulit bersosialisasi, sulit
berkomunikasi, dan sering menunjukkan kemarahan ketika apa yang diinginkannya tidak
tercapai memerlukan penanganan khusus agar anak dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan potensinya. Namun, dengan dukungan yang tepat seperti terapi wicara, alat bantu dengar,
dan penggunaan bahasa isyarat, individu tunarungu wicara dapat mengembangkan kemampuan
komunikasi yang efektif. Kesadaran dan dukungan masyarakat juga sangat penting untuk
memastikan mereka mendapatkan akses yang setara dalam berbagai aspek kehidupan, seperti
pendidikan, pekerjaan, dan layanan sosial.

3.2 Saran
Guru, orang tua, dan anggota masyarakat perlu diberi pelatihan tentang cara berinteraksi
dengan anak tunawicara, serta memahami kebutuhan dan potensi mereka. Ini juga termasuk
meningkatkan kesadaran di sekolah dan lingkungan sosial lainnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R. R. (2013). Terapi Bermain Bagi anak Tunarungu. Jurnal INSANIA , 231-243.
Andari, T. W. (2014). Transformasi media berbasis digital untuk melatih keterampilan bicara bagi anak
tunarungu . Jurnal Transformasi media berbasis digital , 381-390.
Aysyah, D. N. (2023). Penanganan Anak Tunawicara: Studi Kasus. Jurnal Ilmiah PGSD FKIP
Universitas Mandiri, 454-468.
Handojo, H. L. (2024). Implementasi Desain sarana Terapi bermain untuk pengembangan kemampuan
wicara dan bahasa anak penyandang Tunarungu . Jurnal Stupi , 603-612.
Mawardah, M. (2023). Terapi Wicara dan Auditori Verbal Terhadap Perkembangan Bahasa Pada anak
Tunarungu. Jurnal Ilmiah PSYCHE, 17-28.
Muliasari, L. A. (2021). Analisis kebutuhan dan perilaku ABK tuna rungu dan wicara dalam pembelajaran
matematika dasar di SKh kabupaten Pandeglang. Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran
Matematika , 9-22.
Mutiara, S. (2023). Karakteristik an model bimbingan atau pendidikan islam bagi ABK Tuna Wicara di
Masyarakat kelurahan lubuk lintang . Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan , 113-124.
Nofiaturrahmah, F. (2018). Problematika anak tunarungu dan cara mengatasinya . Jurnal Quality , 1-15.

25

Anda mungkin juga menyukai