LAPORAN PENDAHULUAN Respiratory Distress Syndrome
(RDS) DI RUANG TULIP BLUD RSUD BANJAR
Stase Keperawatan Maternitas
Oleh :
JHIDAN RAMADHAN
NIM. 2406277114
PROGRAM PENDIDIKAN STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI KESEHATANMUHAMMADIYAH CIAMIS
Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.20, Ciamis, Kec. Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa
Barat 46216
2025
2
1.1 Konsep Dasar Penyakit
1.1.1 Pengertian Respiratory Distress Sindrome (RDS)
Respiratory Distress Syndrome adalah penyakit yang disebabkan
oleh ketidakmaturan dari sel tipe II dan ketidakmampuan sel tersebut untuk
menghasilkan surfaktan yang memadai. Respiratory Distress Syndrome
terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi
surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22,
makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
Terdapat 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu
prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, maupun seksio sesaria
(Nugraha, 2014).
Kegawatan nafas pada neonatus merupakan masalah yang dapat
menyebabkan henti nafas bahkan kematian, sehingga dapat meningkatkan
morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. Kegawatan pemafasan
dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pemafasan yang dapat
menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak
atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pemafasan adalah
terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh. Bayi akan
beradapatasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktitkan
metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan lama,
melabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan
memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka
akan terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia, dan
3
hal ini dapat menyebabkan kematian neonatus (Marfuah, 2013).
1.1.2 Etiologi
Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari
faktor ibu, faktor plasenta, faktor janin dan faktor [Link] ibu
meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit
pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti
hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta
meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis,
plasenta tidak menempel pada tempatnya. Faktor janin atau neonatus
meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat
antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur, kelainan kongenital pada
neonatus dan lain-lain. Faktor persalinan meliputi partus lama, partus
dengan tindakan dan lain-lain. Sindroma gagal nafas adalah perkembangan
imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada
paru-paru (Marmi & Rahardjo, 2012).
Penyebab SGNN adalah penyakit membran hialin (PMH) yang
terjadi akibat kekurangan surfaktan. Surfaktan adalah suatu kompleks
lipoprotein yang merupakan bagian dari permukaan yang ada di alveoli,
untuk mencegah kolapsnya paru. Ketidakadekuatan surfaktan menimbulkan
kolaps paru, sehingga menyebabkan hipoksia, retensi CO2 dan asidosis
(Maya, 2012).
4
1.1.3 Anatomi Fisiologis
Anatomi sistem respirasi saluran napas atas terdiri atas hidung
bagian luar (external nose), hidung bagian dalam (internal nose), faring, dan
laring. Saluran napas bawah terdiri atas trakea, bronki dan bronkioli serta
otot bantu pernafasan yaitu diafragma. Lalu ada parenkim paru yang
merupakan organ berupa kumpulan alveoli mengelilingi cabang-cabang
pohon bronkus. Paru kanan terdiri dari tiga bagian, yaitu lobus atas kanan,
lobus tengah kanan, dan lobus bawah kanan, sedangkan paru kiri
mempunyai dua lobus, yaitu lobus atas kiri dan lobus bawah kiri, setiap
lobus mempunyai bronkus lobusnya masing-masing. Fisiologi dalam sistem
pernafsan ialah ketika kita menghirup udara, udara akan masuk melalui
saluran hidung dan nasal. Setelah udara dihangatkan dan di lembabkan di
hidung,udara masuk ke faring. Di Faring terdapat dua saluran yang memiliki
tugas berbeda yakni trachea sebagai saluran udara masuk keparu dan
esophagus sebagai saluran pencernaan masuk ke lambung. Sebelum ke
trachea, udara akan melewati laring (kotak suara), ketika udara masuk pita
suara akan bergetar sehingga menimbulkan bunyi. Trakhea memiliki cabang
utama, bronkus kanan dan kiri dan masing- masing cabang masuk ke paru
kanan kiri. Setiap cabang akan terus bercabang-cabang sampai cabang
terkecil,sempit dan banyak. Cabang terkecil disebut bronkiolus dan paling
ujung bronkiolus terdapat alveolus sebagai tempat pertukaran udara dengan
darah. Alveolus adalah suatu kantung udara kecil,bendinding tipis dan dapat
mengembang yang di kelilingi oleh kapiler paru. Alveolus memiliki satu
5
lapisan sel alveolus tipe 1 yang gepeng, dan jaringan padat kapiler paru
juga memiliki satu lapisan sel. Ruang interstisium memisahkan udara dalam
alveolus dan darah dan udara dalam kapiler paru. Selain itu, epitel alveolus
juga mengandung sel alveolus tipe II yang berfungsi untuk mengeluarkan
surfaktan paru yakni kompleks fosfolipoprotein yang mempermudah
pengembangan paru dan di dalam lumen kantung udara juga terdapat
magrofag untuk pertahanan tubuh. Pori-pori khon terdapat pada dinding
alveolus berfungsi sebagai tempat aliran udara antara alveolusalveolus yang
berdekatan ketika alveolus tersumbat. Proses ini di sebut ventilasi kolateral.
Molenaar (2014) dalam penelitiannya mengatakan bahwa dalam
keadaan normal, usia juga mempengaruhi frekuensi pernapasan dan
kapasitas paru. Frekuensi pernapasan pada orang dewasa antara 12-20 kali
permenit, pada anak- anak sekitar 24 kali permenit sedangkan pada bayi
sekitar 30-40 kali permenit. Mulai dari fase anak-anak sampai dewasa
terjadi pertumbuhan paru sehingga pada waktu itu nilai fungsi paru semakin
besar bersamaan dengan pertambahan usia. Beberapa waktu nilai fungsi
paru menetap kemudian menurun secara perlahan- lahan, biasanya umur 30
tahun sudah mulai mengalami penurunan.
1.1.4 Patofisiologi
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap
sepenuhnya untuk berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal
ini merupakan faktor utama terjadinya RDS. Ketidaksiapan paru
menjalankan fungsinya tersebut terutama disebabkan oleh kekurangan atau
6
tidak adanya surfaktan. Kekurangan atau ketidakmatangan fungsi sufaktan
menimbulkan ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli
saat ekspirasi. Tanpa surfaktan, janin tidak dapat menjaga parunya tetap
mengembang. Setiap kali bernafas menjadi sukar dan memerlukan usaha
yang keras untuk mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas
(ekspirasi). Hal ini mengakibatkan bayi lebih banyak menghabiskan oksigen
untuk menghasilkan energi daripada menerima sehingga menyebabkan bayi
kelelahan. Dengan meningkatnya kekelahan, bayi akan semakin sedikit
membuka alveolinya. Ketidakmampuan mempertahankan pengembangan
paru ini dapat menyebabkan atelektasis (Wijanarti, 2020).
Kolaps paru (atelektasis) akan menyebabkan terganggunya ventilasi
pulmonal sehingga terjadi hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah kontraksi
vaskularisasi pulmonal yang menimbulkan penurunan oksigenasi jaringan
dan selanjutnya menyebabkan metabolisme anaerobik. Metabolisme
anaerobik menghasilkan timbunan asam laktat sehingga terjadi asidosis
metabolik pada bayi dan penurunan curah jantung yang menurunkan perfusi
ke organ vital. Asidosis dan atelektasis juga menyebabkan aliran darah paru
menurun dan mengakibatkan berkurangnya pembentukan zat surfaktan
(Wijanarti, 2020). Atelektasis menyebabkan paru tidak mampu
mengeluarkan karbon dioksida dari sisa pernapasan sehingga terjadi asidosis
respiratorik. Penurunan pH menyebabkan vasokonstriksi yang semakin
berat. Dengan penurunan sirkulasi paru dan perfusi alveolar, PaO2 akan
menurun tajam, pH juga akan menurun tajam, serta materi yang diperlukan
7
untuk produksi surfaktan tidak mengalir ke dalam alveoli (Wijanarti, 2020).
Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh pH, suhu dan perfusi
normal, asfiksia, hipoksemia dan iskemia paru terutama dalam hubungannya
dengan hipovolemia, hipotensi dan stress dingin dapat menekan sintesis
surfaktan. Lapisan epitel paru dapat juga terkena trauma akibat kadar
oksigen yang tinggi dan pengaruh penatalaksanaan pernapasan yang
mengakibatkan penurunan surfaktan lebih lanjut (Wijanarti, 2020). Akibat
lain adalah kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolus yang
menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya
fibrin, selanjutnya fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik
membentuk suatu lapisan yang disebut membran hialin. Membran hialin ini
melapisi alveoli dan menghambat pertukaran gas sehingga timbul masalah
gangguan pertuka gas (Wijanarti, 2020).
1.1.5 Pemeriksaan Penunjang
Cecily & Sowden (2009) menyebutkan pemeriksaan penunjang pada
bayi dengan RDS yaitu:
1. Kajian foto thoraks
1) Pola retikulogranular difus bersama udara yang saling tumpang
tindih.
2) Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, hipoinflasi paru.
3) Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkena
(bayi dari ibu diabetes, hipoksia atau gagal jantung kongestif).
4) Bayangan timus yang besar.
8
5) Bergranul merata pada bronkogram udara yang menandakan penyakit
berat jika muncuk pada beberapa jam pertama.
2. Gas darah arteri-hipoksia dengan asidosis respiratorik dan atau metabolic
1) Hitung darah lengkap.
2) Elektrolit, kalsium, natrium, kalium, glukosa serum.
3) Tes cairan amnion (lesitin banding spingomielin) untuk
menentukan maturitas paru.
4) Oksimetri nadi untuk menentukan hipoksia
1.1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis Menurut Cecily & Sowden (2009)
penatalaksanaan medis pada bayi RDS (Respiratory Distress Syndrom)
yaitu:
1) Perbaiki oksigenasi dan pertahankan volume paru optimal
a. Penggantian surfaktan melalui selang endotrakeal.
b. Tekanan jalan napas positif secara kontinu melalui kanul nasal
untuk mencegah kehilangan volume selama ekspirasi.
c. Pemantauan transkutan dan oksimetri nadi.
d. Fisioterapi dadaTindakan kardiorespirasi tambahan.
2) Pertahankan kestabilan suhu.
3) Berikan asupan cairan, elektrolit, dan nutrisi yang tepat.
4) Pantau nilai gas darah arteri, Hb dan Ht serta bilirubin
5) Lakukankan transfusi darah seperlunya.
6) Hematokrit guna mengoptimalkan oksigenasi.
9
7) Pertahankan jalur arteri untuk memantau PaO₂ dan pengambilan sampel
darah.
8) Berikan obat yang diperlukan.
Penatalaksanaan Keperawatan Menurut Surasmi (2003)
penatalaksanan keperawatan terhadap RDS meliputi tindakan pendukung
yang sama dalam pengobatan pada bayi prematur dengan tujuan mengoreksi
ketidakseimbangan. Pemberian minum per oral tidak diperbolehkan selama
fase akut penyakit ini karena dapat menyebabkan aspirasi. Pemberian
minum dapat diberikan melalui perenteral.
2.7.1 Pengkajian
1. Anamnese
a. Biodata klien: Berisi identitas, nama, alamat, nama ibu,
tanggal MRS dan nomor registrasi satunya adalah jenis
kelamin. Insidens RDS tertinggi adalah pada bayi preterm
laki-laki. Hal ini sesuai dengan data jenis kelamin BBLR di
RSUD Kanjuruhan Kepanjen
b. Tahun 2021, bahwa sebanyak 57,7% BBLR preterm yang
mengalami RDS berjenis kelamin laki-laki. Penyebab hal ini
adalah adanya hormon androgen pada laki-laki yang dapat
menurunkan produksi surfaktan oleh sel pneumosit tipe II.
c. Keluhan Utama : berupa keluhan klien ( dari penuturan ibu )
saat klien dibawa kerumah sakit. Respiratory Distress
Syndrome pada neonatus biasanya ditandai dengan takipnea,
10
retraksi dada, sianosis, rintihan saat ekspirasi dan otot
pernapasan yang lemah yang terjadi segera setelah lahir.
Gejala ini biasanya memburuk dalam 12 hingga 24 jam
pertama setelah dilahirkan. Hal inilah yang menjadi salah
satu alasan paling umum seorang bayi dirawat di unit
perawatan intensif neonatal (NICU) (Hermansen & Anand,
2015).
d. Riwayat Penyakit Sekarang: pengkajian terhadap status
kesehatan ibu yang berhubungan dengan faktor pencetus
terjadinya RDS pada bayi.
e. Riwayat Penyakit Dahulu : pengkajian terhadap Riwayat
kesehatan dan kehamilan ibu yang dirasa mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin. Seperti konsumsi
obat, suplemen lain dan alkoholisme.
f. Riwayat Perkembangan: ersonal social ( kepribadian/ tingkah
laku social ) : berhubungan dengan lingkungan nya.
g. Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan
anak untuk mengamati sesuatu melakukan gerakan yang
melibatkan bagian tubuh tertentu saja misal memegang ibu
jari ibu
h. Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan
sikap tubuh.
i. Kognitif dan Bahasa : Kemampuan memberikan respon
11
terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan
2. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat maternal
a. Menderita penyakit seperti diabetes mellitus ataupun
hipertensi
b. Kondisi seperti perdarahan plasenta
c. Tipe dan lamanya persalinan
d. Stress fetal atau intrapartus
2) Status infant saat lahir
a. Prematur, umur kehamilan
b. Apgar score, apakah terjadi aspiksia
c. Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar
3. Pemeriksaan fisik
a. Cardiovaskular
a) Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia
berat
b) Murmur
c) Denyut jantung dalam batas normal
b. Integumen
a) Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral
b) Pitting edema pada tangan dan kaki
c) Mottling
c. Neurologis
12
a) Immobilitas, kelemahan, flaciditas
b) Penurunan suhu tubuh
d. Pulmonary
a) Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin
80 – 100 x)
b) Nafas grunting
c) Nasal flaring
d) Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
e) Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral)
berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin.
f) Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea.
e. Status Behavioral : Lethargy
4. Study Diagnostik
a. Rontqen dada: untuk melihat densitas atelektasis dan
elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar.
b. Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.
c. Data laboratorium.
d. Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan
bahan cairan amnion (untuk janin yang mempunyai
predisposisi RDS)
e. Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih
mengindikasikan maturitas paru.
13
f. Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu
g. Tingkat phosphatidylinositol
h. Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2
kurang dari 60 mmHg, saturasi oksigen 92% – 94%, pH 7,31
– 7,45 i. Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari
release potassium dari sel alveolar yang rusak
2.7.2 Diagnosa
1. Pola napas tidak efektif
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dnegan imaturitas
neurologis
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membrane alveolus-kapiler
4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
makanan
5. Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan oksigen
6. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas
7. Ikterik neontaus berhubungan dengan kesulitan transisi ke
kehidupan ekstra uterin
14
2.7.3 Intervensi
Intervensi keperawatan ini sesuai dengan Tim Pokja SIKI DPP PPNI
(2017) serta tujuan dan kriteria hasil sesuai dengan Tim Pokja SLKI DPP
PPNI (2017), yaitu:
Diagnosa 1 Pola Napas Tidak Efektif
Setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam setiap pertemuan diharapkan
pola napas membaik.
Kriteria hasil: Pola napas (L.01004)
1. Ventilasi semenit meningkat
2. Kapasitas vital meningkat
3. Diameter thoraks anterior posterior meningkat
4. Dispnea menurun
5. Penggunaan otot bantu napas menurun
6. Pemanjangan fase ekspirasi menurun
7. Frekuensi napas membaik
8. Kedalaman napas membaik
Intervensi Manajemen Jalan napas (1.01011)
Observasi
1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing,
ronkhi kering)
3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
Terpeutik
15
1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-till dan chin-lift
(jaw- thrust jika curiga trauma servikal)
2. Posisikan semi fowler atau fowler
3. Berikan oksigen
Edukasi
1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
Diagnosa 2 Perfusi Perifer Tidak Efektif
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka perfusi
perifer membaik.
Kriteria hasil: Perfusi Perifer (L.02011)
1. Warna kulit tidak pucat
2. Edema tidak ada
3. Akral tidak dingin dan pucat
4. Pengisian kapiler membaik
5. Turgor kulit membaik
Intervensi Perawatan Sirkulasi (1.02079)
Observasi
1. Periksa sirkulasi perifer (mis. Nadi perifer, edema, pengisian
kapiler, warna, suhu, ankle brachial index).
2. Monitor panas kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
Terapeutik
1. Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
keterbatasan perfusi
16
2. Hindari penekanan dan pemasangan tourniquet pada area yang
cedera
3. Lakukan pencegahan infeksi
4. Lakukan hidrasi
Kolaborasi
pemberian obat atau tranfusi darah
Diagnosa 3 Gangguan Pertukaran Gas
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 Jam maka
pertukaran gas membaik.
Kriteria hasil: Pertukaran gas (L. 01003)
1. Dispnea menurun ,
2. Pola nafas membaik (RR: 16 – 22 x/menit)},
3. SpO2 ≥90%,
4. PaO2 >80 mmHg,
5. PaCO2 35-45 mmHg,
6. pH 7.35-7.45,
7. Bunyi nafas tambahan menurun
Intervensi Terapi Oksigen (1.01026)
Obervasi
1. Monitor bunyi napas
2. Monitor kecepatan aliran oksigen
Monitor efektifitas terapi oksigen (seperti oksimetri, Analisa Gas
Darah)
17
3. Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen
Teraupetik
1. Bersihkan secret pada mulut, hidung, dan trakea, Jika perlu
2. Gunakan oksigen yang sesuai dengan tingkat mobilitas klien
Kolaborasi
Kolaborasi penentuan dosis oksigen
Diagnosa 4 Defisit Nutrisi
Setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam setiap pertemuan diharapkan
pola asupan nutrisi membaik.
Kriteria hasil: Status nutrisi bayi (L.03031)
1. Berat badan naik dalam rentan normal >2500 gram
2. Panjang badan dalam rentan normal >50 cm
3. Kulit tidak kuning
4. Skera tidak kuning
5. Membran mukosa tidak kuning
Intervensi manajemen nutrisi (1.03119)
Observasi
1. Identifikasi status nutrisi
1. Identifikais alergi
2. Monitor asupan makanan
3. Monitor berat badan
4. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik
18
5. Lakukan oral hygiene sebelum pemberian nutrisi
6. Lakukan retensi cairan lambung sebelum pemberian nutrisi
Diagnosa 5 Termoregulasi tidak efektif (D. 0149)
Setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam setiap pertemuan diharapkan
pola asupan nutrisi membaik.
Kriteria hasil: Termoregulasi (L.14135)
1. Tidak menggigil
2. suhu tubuh (36-37oC)
3. frekuensi nadi (120-160x/menit)
4. CRT <2detik
Intervensi regulasi temperatut (1.4578)
Observasi:
1. Monitor suhu bayi menjadi stabil (36-37) setiap 3 jam sekali
2. Monitor nadi (120-160 x/menit) dan RR (40-60x/menit)
3. Monitor suhu kulit (tidak panas)
4. Monitor cairan incubator
5. Monitor suhu inkubator
Teraupetik
1. Pertahankan kelembababan incubator
2. Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi (ASI dalam 3 jam sekali)
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian anti piretik
19
Diagnosa 6 Penurunan curah jantung (D. 0008)
Setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam setiap pertemuan diharapkan
curah jantung membaik.
Kriteria hasil: curah jantung (L.02008)
1. Kekuatan nadi perifer membaik
2. Tidak dispnea
3. Tidak bradikardi
4. Tidak takikardi
5. Tidak ada ditensi vena jugularis
6. Tidak pucat atau sianosis
Intervensi perawatan jantung (1.02075)
Observasi
7. Identifikasi tanda / gejala primer penurunan curah jantung (meliputi
dispneu, kelelahan,edema, ortonea, paroxysmal nocturnal dyspnea
,peningkatan CVP).
8. Identifikasi tanda / gejala primer penurunan curah jantung (meliputi
peningkatan berat badan, heptomegali, distensi vena jugularis, palpitasi,
ronchi, oliguria,batuk, kulit pucat).
9. Monitor intake dan output cairan
Terapeutik
1. Posisikan pasien semi fowler atau fowler dengan kaki kebawah atau
posisi nyaman
2. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
20
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian antiaritmia.
Diagnosa 7 Ikterik Neonatus (D. 0024)
Setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam setiap pertemuan diharapkan
ikterik membaik.
Kriteria hasil: adaptasi neonatus (L.10098)
1. Suhu tubuh dalam rentan normal (36,5-37)
2. Sklera berwarna putih
3. Kadar glukosa darah membaik (50-80 mg/dl)
4. Warna kulit merah
Intervensi fototerapi neonatus (1.05175)
Observasi :
1. Monitor ikterik pada sklera dan kulit
2. Monitor suhu dan tanda vital
3. Monitor intake dan output cairan
4. Monitor tanda-tanda kekurangan cairan
Terapeutik :
1. Siapkan fototerapi
2. Lepaskan pakaian
3. Berikan penutup mata
4. Berikan asupan cairan
Kolaborasi :
Kolaborasi pemeriksaan bilirubin
21
2.7.4 Implementasi
Implementasi digunakan untuk membantu pasien dalam mencapai
tujuan yang sudah ditetapkan melalui penerapan rencana asuhan
keperawatan dalam bentuk intervensi. Pada tahap ini perawat harus
memiliki kemampuan dalam berkomunikasi yang efektif, mampu
menciptakan hubungan saling percaya dan saling bantu, observasi
sistematis, mampu memberikan pendidikan kesehatan, kemampuan dalam
advokasi dan evaluasi (Asmadi, 2008). Implementasi adalah
tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana perawatan.
Tindakan ini mncangkup tindakan mandiri dan kolaborasi (Tarwoto &
Wartonah, 2011).
2.7.5 Evaluasi
Evaluasi bertujuan untuk mencapai tujuan yang sudah disesuaikan
dengan kriteria hasil selama tahap perencanaan yang dapat dilihat melalui
kemampuan pasien untuk mencapai tujuan tersebut (Setiadi, 2012).
40
2.8 Pathway
Primer Sekunder
Bayi prematur Perdarahan antepartum, Ibu diabetes Seksio sesaria Aspirasi mekonium Asfiksia Resusitasi Pneumotorak,
hipertensi hipotensi (pada ibu) neonatorum neonatus sindrom wilson,
Pernapasan intra uterin mikity
Pembentukan Gangguan perfusi darah Hiperinsulinemia
membran hialin janin Pemberian kadar
uterus
surfaktan paru Sumbatan jalan napas O2 yang tinggi
belum sempurna Sirkulasi utero plasenter parsial oleh air ketuban dan Insufisiensi pada
kurang baik Imaturitas paru Mengalir ke janin mekonium bayi prematur
Gangguan Trauma akibat
pematangan paru
bayi yang berisi air Kerusakan surfaktan
Bayi prematur; dismaturitas Menekan sintesis
Pertumbuhan surfaktan paru belum matang
Penurunan produksi surfaktan
Ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi
Surfaktan menurun Kolaps paru (atelektasis) saat ekspirasi
Janin tidak dapat menjaga
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME
rongga paru tetap
Kolaps paru
Retensi CO2 Peningkatan pulmonary
Tekanan negatif intra Kerusakan endotel kapiler
Kontriksi vaskularisasi Asidosis respiratorik
Hipoperfusi Pembalikan parsial
Transudasi alveoli Membran hialin Pe↓ pH dan PaO2
Usaha inspirasi yang lebih Masukan oral
P↓ oksigenasi jaringan
Pembentukan fibrin melapisi alveoli Aliran darah dari
tidak adekuat/ Vasokontriksi berat Me↓nya aliran
Metabolisme anaerob kanan ke kiri
- Dispena Peningkatan Fibrin & jaringan yang
- Takipnea nekrotik membentuk Menghambat Pe↓ sirkulasi paru melalui arteriosus
metabolisme dan foramen ovale
- Apnea Timbunan asam laktat membran hialin
(membutuhkan
- Retraksi dinding MK : gangguan
glikogen lebih Asidosis metabolik MK : penurunan
dada banyak Penurunan curah
- Pernapasan cuping Kurangnya cadangan jantung
MK : Defisit
hidung glikogen dan lemak coklat M↓nya perfusi ke Paru Me↓nya aliran darah pulmonal
- Mengorok
Hipoglikemia Respon menggigil pada MK : perfusi perifer
Bayi kehilanganpanas tubuh/tdk MK : Termoregulasi
Albumin dan bilirubin tidak
berikatan Bilirubin meningkat MK: Ikterik neonatus
Gambar 2.8 Kerangka masalah
DAFTAR PUSTAKA
Agrina, Meta Febri. Afnani Toyibah, J. (2017). TINGKAT KEJADIAN
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS) ANTARA BBLR
PRETERM DAN BBLR DISMATUR. JURNAL INFORMASI KESEHATAN
INDONESIA, VOLUME 3, NO. 2, NOVEMBER 2017: 125-131.
Hermansen CL, A. M. (2015). Newborn Respiratory Distress. American Family
Physician. 11(92): 995-1002.
Marfuah, Wisnu B, D. S. (2013). Faktor Risiko Kegawatan Nafas Pada Neonatus
di RSD. Dr. Haryoto Kabupaten Lumajang Tahun 2013. Jurnal Ilmu
Keperawatan ; 2(1): 119-127.
Nakahara M, Goto S, Kato E, Itakura A, T. S. . (2020). Respiratory Distress
Syndrome in Infants Delivered via Cesarean from Mothers with Preterm
Premature Rupture of Membranes: A Propensity Scrore Analysis. Hindawi
journal of pregnancy..P. 6. [Link]
Nugraha, S. A. (2014). LOW BIRTH WEIGHT INFANT WITH RESPIRATORY
DISTRESS SYNDROME.
IDAI. (2012). standar pelayanan medis kesehatan anak. jakarta.
WHO. (2011). World Health Statistics. Available at [Link]
/whostat/EN_WHS2011_Full. pdf.
Setiyani, A. (2016). Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Pra
Sekolah.
Maya, F. dan. (2012). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. (1 st). Yogyakarta.
Kusumaningrum, R. Y., Murti, B., & Prasetya, H. (2017). Low Birth , Prematurity
, and Pre-Eclampsia as Risk Factors of Neonatal Asphyxia, 49–54.
Cecily & Sowden. (2009). Buku Saku Keperawatan Pedriatik. jakarta: EGC.
Marmi &Rahardjo. (2012). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Prasekolah.
surasmi. (2008). Perawatan Bayi Risiko Tinggi.
Molenaar, Ray E, dkk. (2014). Forced Expiratory Volume In One Second (FEV1)
Pada Penduduk yang Tinggal di Dataran Tinggi. Jurnal EBiomedik.
Universitas Sam Ratulangi: Manado.
Marbun, S. S. (2017). Pengkajian Fisik Bayi Baru Lahir Penampilan Dan
Perilaku Bayi Baru Lahir Serta Rencana Asuhan Bayi 2-6 Hari.
Rochsitasari, N. (2011). Perbedaan Frekuensi Defekasi dan Konsistensi Tinja
Bayi Sehat Usia 0–4 Bulan yang Mendapat Asi Eksklusif, Non Eksklusif, dan
23
Susu Formula.
Febriyanti, F., S. (2014). Studi komparasi pemenuhan kebutuhan tidur bayi yang
mendapatkan pijat dengan spa pada bayi usia 3-12 bulan di Klinik Srikandi
Rumah Bunda Asri Medikal Centre Yogyakarta. Jurnal Tidak
Dipublikasikan.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI), Edisi I, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2019), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI), Edisi I, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2019), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
24