0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Hasil Belajar dan Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas tentang hasil belajar, pengertian pembelajaran matematika, karakteristik siswa, materi pertambahan, dan media pembelajaran. Hasil belajar mencakup kemampuan siswa setelah proses belajar, sedangkan pembelajaran matematika bertujuan untuk mengembangkan pemikiran analitis dan logis. Media pembelajaran yang efektif, termasuk benda konkret, sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.

Diunggah oleh

sapri0885
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Hasil Belajar dan Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas tentang hasil belajar, pengertian pembelajaran matematika, karakteristik siswa, materi pertambahan, dan media pembelajaran. Hasil belajar mencakup kemampuan siswa setelah proses belajar, sedangkan pembelajaran matematika bertujuan untuk mengembangkan pemikiran analitis dan logis. Media pembelajaran yang efektif, termasuk benda konkret, sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.

Diunggah oleh

sapri0885
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar

Sebelum membahas tentang pengertian hasil belajar. Maka kita harus


memahami pengertian belajar itu sendiri. Belajar merupakan salah satu kebutuhan
manusia, dengan belajar manusia dapat menambah ilmu pengetahuan. Belajar
adalah aktifitas mental atau (Psikhis) yang terjadi karena adanya interaksi aktif
antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan
yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek kognitif, psikomotor dan afektif.
Perubahan tersebut dapat berubah sesuatu yang sama sekali baru atau
penyempurnaan / peningkatan dari hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
Proses belajar terjadi sepanjang hidup manusia, belajar dapat dilakukan kapan saja
dan dimana saja. Belajar dapat dilakukan secara formal seperti sekolah dan
informal. Salah satu yang menjadi pertanda manusia telah belajar adalah adanya
perubahan sikap dan tingkah laku. Perubahan tingkah laku pada manusia terjadi
karena bertambahnya ilmu pengetahuan.

Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan siswa yang diperoleh setelah


kegiatan belajar (Nugraha, 2020). Hasil belajar adalah kompetensi atau
kemampuan tertentu yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar dan meliputi keterampilan kognitif, afektif, maupun psikomotor
(Wulandari, 2021).
Menurut Gagne (dalam Reni Marlina 2018:1) hasil belajar berupa :
1) Informasi verbal yaitu kemampuan untuk mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan.
2) Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan untuk memperesentasikan
sebuah konsep dan lambang.
3) Strategi kognitif yaitu kemampuan untuk menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya.
4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
5) Sikap adalah kemampuan untuk menerima atau menolak objek berdasarkan
penelitian terhadap objek tersebut.

B. Pengertian Pembelajaran Matematika

Pembelajaran Matematika adalah ilmu dasar yang dapat melatih


kemampuan berfikir analitis, logis, dan sistematis dalam menyelesaikan suatu
masalah. Matematika ialah kajian yang menuntun seseorang untuk membangun
penalaran deduktif. Pembelajaran Matematika tidak sekedar berkaitan dengan
angka, simbol, maupun perhitungan tetapi proses memberikan pengalaman siswa
dengan lingkugannya sehingga dapat menciptakan perubahan pada ranah afektif,
kognitif, dan psikomotorik. Pembelajaran Matematika salah satu ilmu
pengetahuan yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar dapat menghadapi
berbagai perubahan keadaan serta pola pikir kehidupan sehari hari.

Menurut Arianti dkk (2019) Pembelajaran Matematika adalah suatu proses


interaksi antara guru dengan siswa dalam suatu bentuk aktifitas yang
terorganisir memperoleh informasi, mampu memahami dan memiliki kemampuan
untuk mengkomunikasikan kembali informasi yang diperoleh sebelumnya.
Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupakan cara utama
untuk kelangsungan proses pembelajaran matematika. Adapun tujuan
pembelajaran matematika menurut Jayanti dkk (2020) Salah satu tujuan
pembelajaran matematika disekolah agar siswa mampu menyelesaikan soal-soal
serta dapat menemukan jawaban atas masalah yang dihadapi dengan
menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri dengan usahanya
sendiri, bukan hasil dari orang lain.
Sebagai salah satu mata pelajaran yang selalu ada pada setiap kurikulum
mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, Matematika
mempelajari ilmu dasar yang berkaitan dengan kehidupan sehari – hari seperti
materi mengoperasikan bilangan, membedakan bilangan romawi, desimal,
maupun bilangan bulat, operasi pengukuran, menghitung volume benda,
membantu berhitung saat melangsungkan transaksi jual beli, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, banyak yang beranggapan


matematika kurang menarik sehingga timbulah asumsi masalah tersebut dapat
terselesaikan dengan menggunakan permainan dalam pembelajaran. Pada
penelitian ini materi pembelajaran Matematika kelas I yang digunakan pada
pengembangan media pembelajaran Pohon JURANG (Jumlah Kurang) yaitu
materi mengenai Penjumlahan dan Pengurangan dengan capaian pembelajaran
sebagai berikut :

Tabel 1.1 Capaian Pembelajaran Matematika

Pembelajaran Capaian Pembelajaran Tujuan Pembelajaran Indikator

Pembelajaran Pada akhir fase A, peserta didik Peserta didik dapat 1. Menunjukkan cara
1 menunjukkan pemahaman dan melakukan operasi melakukan operasi
memiliki intuisi bilangan (number penjumlahan dan hitung penjumlahan
sense) pada bilangan cacah sampai pengurangan (C2)
100, mereka dapat membaca, menggunakan benda- 2. Melakukan cara operasi
menulis, menentukan nilai tempat, benda konkret yang hitung penjumlahan
membandingkan, mengurutkan, banyaknya sampai 20. (C3)
serta melakukan komposisi 3. Mengevaluasi cara
(menyusun) dan dekomposisi melakukan operasi
(mengurai) bilangan. Peserta didik hitung penjumlahan
dapat melakukanz operasi (C5)
penjumlahan dan pengurangan 4. Mempraktekkan
menggunakan benda-benda operasi hitung
konkret yang banyaknya sampai penjumlahan. (P3)
20. Peserta didik menunjukkan
pemahaman pecahan sebagai
bagian dari keseluruhan melalui
konteks membagi sebuah benda
atau kumpulan benda sama
banyak, pecahan yang
diperkenalkan adalah setengah dan
seperempat.
Pembelajaran Pada akhir fase A, peserta didik Peserta didik dapat 1. Menjelaskan cara
2 menunjukkan pemahaman dan melakukan operasi melakukan operasi
memiliki intuisi bilangan (number penjumlahan dan hitung pengurangan
sense) pada bilangan cacah sampai pengurangan (C2)
100, mereka dapat membaca, menggunakan benda- 2. Melakukan cara operasi
menulis, menentukan nilai tempat, benda konkret yang hitung pengurangan
membandingkan, mengurutkan, banyaknya sampai 20. (C3)
serta melakukan komposisi 3. Mengevaluasi cara
(menyusun) dan dekomposisi melakukan operasi
(mengurai) bilangan. Peserta didik hitung pengurangan.
dapat melakukanz operasi (C5) Mempraktekkan
penjumlahan dan pengurangan operasi hitung
menggunakan benda-benda pengurangan. (P3)
konkret yang banyaknya sampai
20. Peserta didik menunjukkan
pemahaman pecahan sebagai
bagian dari keseluruhan melalui
konteks membagi sebuah benda
atau kumpulan benda sama
banyak, pecahan yang
diperkenalkan adalah setengah dan
seperempat.

 Karakteristik Siswa Kelas II

Proses belajar mengajar di kelas yang efektif akan terbentuk salah satunya
berdasarkan pandangan guru terhadap karakteristik siswa. Dengan demikian,
penting bagi seorang guru untuk mengenali dan memahami karakter siswa
sehingga dapat dengan mudah untuk mengelola segala sesuatu yang berkaitan
dengan pembelajaran termasuk juga pemilihan metode serta strategi yang
berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, kemampuan yang dimiliki
siswa sehingga komponen pembelajaran dapat sesuai dengan karakteristik dari
siswa yang akhirnya pembelajaran tersebut dapat lebih bermakna.

Siswa pada jenjang Sekolah Dasar berada pada tahap perkembangan


kognitif operasional konkrit yang dimana siswa sudah cukup matang dalam
mengoperasikan pemikiran logika untuk objek fisik yang ada saat ini. Menurut
Septianti dkk (2020) siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit,
pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada
fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas
pada objek-objek konkret, dan mampu melakukan konservasi. Berdasarkan
pendapat Puji Asmaul Chusna dkk (2020) berkata bahwa pada masa usia sekolah
dasar, sesuai dengan perkembangnnya mereka memiliki karakteristik yang unik
senang bermain, bergerak, bermain dengan kelompok, senang melakukan secara
langsung, masih cengeng sulit memahami perkataan orang lain, senang
diperhatikan dan senang meniru.

Berdasarkan beberapa paparan yang dikemukakan oleh para ahli di atas,


dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa dalam belajar berikut proses
pembelajaran yang dilakukan oleh siswa pada jenjang Sekolah Dasar, masih perlu
ditingkatkan. Beberapa siswa masih terlihat dominan dan tertarik dengan
pembelajaran sambil bermain dengan objek konkret yang dapat memberikan
pengalaman belajar langsung pada siswa.

C. Materi Pertambahan

Pertambahan atau penjumlahan merupakan ilmu dasar matematika. Kita


tidak akan mampu menguasai ilmu matematika yang lebih tinggi jika kita tidak
mampu menguasai operasional penjumlahan dan pengurangan. Oleh karena itu
pentingnya mengajarkan dasar yang sangat kokoh terhadap siswa SD tentang
penjumlahan. Karena jika mereka sudah menguasai operasional hitung, mereka
dapat mempelajari ilmu matematika yang lebih tinggi. Penjumlahan merupakan
operasi matematika yang menjumlahkan satu angka dengan angka lain sehingga
menghasilkan suatu hasil tertentu yang pasti. Simbol untuk operasi penjumlahan
adalah tanda tambah (+) contoh 2+3= 5.

Apatkah kalian menghitung jumlah jari tangan? Menghitung jumlah


mainan? Hal tersebut merupakan ilmu matematika. Matematika adalah ilmu dasar
yang sangat diperlukan dalam ilmu bermasyarakat. Dengan menguasai
perhitungan Jasar saja, Anda dapat bertahan hidup dengan cara berdagang
Pedagang yang sukses, selain mereka memiliki ilmu okonomi yang baik, mereka
juga memiliki ilmu matematika yang baik pula.

Mata pelajaran matematika adalah salah satu mata pelajaran inti yang
diajarkan di hampir semua tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD)
hingga perguruan tinggi. pembelajaran matematika bukan hanya tentang
penguasaan rumus dan kalkulasi semata, tetapi juga tentang pengembangan
pemikiran logis, kreatifitas, dan kemampuan pemecahan masalah yang berguna
dalam kehidupan sehari-hari serta di berbagai bidang profesi.

D. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam


keberhasilan proses pembelajaran. Media pembelajaran ialah segala benda dan
peristiwa berupa alat yang dimanfaatkan oleh guru maupun siswa sebagai
perantara dan pengantar informasi dari sumber kepada penerimanya dengan
tujuan menunjang kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran yang
diciptakan harus memperhatikan keefektivitas maupun kelengkapannya agar dapat
membantu pemahaman siswa dalam memahami suatu materi pembelajaran.
Dengan adanya media pembelajaran berupa software maupun hardware dapat
mempengaruhi efektivitas dan efeisensi dalam komunikasi antara guru, siswa
serta lingkungan belajar.

Media pembelajaran yaitu suatu bentuk peralatan, metode, atau teknik


yang digunakan dalam menyalurkan pesan dan dapat merangsang perhatian,
minat, pikiran, dan perasaan siswa, dalam mempertegas bahan pelajaran, sehingga
dapat membangkitkan minat dan motivasi dalam mengikuti proses belajar
mengajar (Febrita dkk., 2019). Penarapan media pembelajaran dikelas
memberikan dampak positif untuk meningkatkan kreativitas serta
menigkatkan motivasi belajar siswa yang masih minim dilakukan pada suatu
pembelajaran tertentu.

Berdasarkan pendapat ahli yang telah di jabarkan diatas dapat


disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat bantu yang dapat
merangsang pola pembelajaran agar dapat mencapai keberhasilan dari proses
belajar mengajar. Kehadiran media pembelajaran dapat membantu guru
dalam memberikan segala bentuk informasi kepada siswa sehingga dapat
menciptakan suasana belajar mengajar yang menarik, menyenangkan, dan
efektif untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

2. Jenis – Jenis Media Pembelajaran

Pada hakikatnya media pembelajaran merupakan suatu wadah maupun


upaya untuk membantu siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan
minatnya, Guru sejatinya perlu mengetahui apa saja kriteria di dalam pemilihan
media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran memiliki berbagai jenis
maupun klasifikasinya sendiri. Menurut Batubara (2020) jenis– jenis media
pembelajaran yang terdiri dari benda nyata (realia), manusia, model, teks, visual,
audio, dan multimedia.

Adapun pengertian dari masing- masing jenis media pembelajaran tersebut


adalah sebagai berikut :
 Benda nyata (realia), yaitu benda nyata yang dapat diamati manusia, seperti
tumbuhan, hewan, dan lainnya.
 Manusia, yaitu orang yang diminta untuk menyampaikan ataupun
mendemonstrasikan suatu suatu informasi, seperti reporter dan instruktur
senam.
 Model, yaitu benda tiruan yang bersifat tiga dimensi sehingga dapat disentuh
langsung oleh penggunanya, seperti miniatur ka’bah, globe, dan lainnya.
 Teks, yaitu rangkaian huruf atau angka, seperti buku teks, buku cerita, dan
lainnya.
 Visual, yaitu bahan grafis yang menyampaikan informasi lewat indra
penglihatan, seperti gambar dan bagan.
 Audio, yaitu perangkat yang menyampaikan informasi lewat indera
pendengaran, seperti MP3 player, radio, audio cast, dan lainnya, dan
 Multimedia, yaitu media hasil teknologi komputer yang mampu merangkai
dan mengintegrasikan media audio, teks, dan gambar bergerak ke dalam
sebuah produk, seperti video, aplikasi pembelajaran, animasi, simulasi, web,
kelas virtual, dan lainnya.

Sedangkan menurut Rudi Bretas dikutip dari (Rahma, 2019) media


pembelajaran dibedakan menjadi 7 klasifikasi media yaitu :
1. Media audio visual gerak, seperti film suara, pita video, film, dan tv.
2. Media audio visual diam, seperti film rangkai suara, halaman suara.
3. Audio semi gerak seperti tulisan jauh bersuara.
4. Media visual bergerak, seperti film bisu, grafik, bagan, diagram.
5. Media visual diam, seperti halaman cetak, foto,microphone, slide bisu.
6. Media audio seperti radio, telepon, dan pita video.
7. Media cetak, seperti buku, modul, bahan ajar mandiri.
Dari beberapa pernyataan para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa jenis
– jenis media pembelajaran terdiri dari audio, visual, audio visual maupun alat
peraga. Media audio adalah media yang dapat dirasakan panca indera yaitu
telinga, media visual adalah sebuah media yang terhubung langsung dengan
kegiatan meraba, melihat, dan membaca, sedangkan media audio visual adalah
sebuah media komunikatif yang disajikan dalam bentuk gambar maupun video.
Dengan adanya berbagai jenis media pembelajaran tersebut guru bisa memberikan
stimulus respon dengan siswa dengan baik.

3. Media Pembelajaran Benda Konkret

Media pembelajaran benda konkret adalah sebuah media nyata yang


digunakan dalam kegiatan proses pembelajaran yang membutuhkan perantara alat
peraga untuk mempelajarinya. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Af’ida (2017)
yang menyatakan bahwa media pembelajaran benda konkret adalah benda-benda
asli atau tiruan dalam bentuk nyata (berwujud), dapat dilihat dan dapat diraba
yang digunakan sebagai sumber belajar untuk menyampaikan informasi melalui
ciri fisiknya sendiri, seperti ukurannya, bentuknya, beratnya, susunannya,
warnyanya, fungsinya, dan sebagainya.

Berdasarkan definisi mengenai media pembelajaran benda konkret diatas


dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran benda konkret merupakan media
benda nyata yang dapat memberikan rangsangan yang penting bagi siswa. Media
ini menjadi salah satu upaya inovasi terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas
dan dapat diimplementasikan secara berkelompok dengan tujuan untuk
menstimulasi serta meningkatkan kreatifitas siswa terhadap suatu permasalahan.
E. Kerangka Pikir
Adapun kerangka pikir dari penelitian yaitu sebagai berikut :
Kondisi Ideal Kondisi Lapangan
1. Pembelajaran dapat didukung dengan 1. Guru menggunakan media
adanya media pembelajaran yang pembelajaran multimedia berupa
variatif dan memotivasi minat siswa video pembelajaran dan media
khususnya dalam pembelajaran konkret seperti flashcard.
matematika kelas 2. 2. Media pembelajaran yang digunakan
2. Media pembelajaran yang digunakan meliputi benda – benda disekitar
dapat bersifat inovatif, interaktif, dan kelas.
menarik. 3. Siswa masih pada kategori level dasar
3. Siswa kelas 2 dapat menguasai materi dalam menguasai materi penjumlahan
penjumlahan dan pengurangan pada dan pengurangan pembelajaran
pembelajaran matematika. matematika.

Analisis Kebutuhan
Membutuhkan media pembelajaran konkret yang menarik dan memberikan pengalaman
langsung pada siswa terhadap materi pembelajaran

Model Pengembangan
Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE dengan 5 tahapan yaitu (1)
Analyze (melakukan studi lapangan dan studi pustaka), (2) Design (merancang kerangka
model/bentuk), (3) Development (mengembangkan media dan validasi media), (4)
Implementation (uji coba produk), dan (5) Evaluation (evaluasi formatif dan sumatif)

Subyek Penelitian Teknik Pengumpulan Data Instrumen Penelitian


1. Pedoman observasi
Siswa kelas 2 SDN 1. Observasi
2. Pedoman wawancara
Padang Ratu 2. Wawancara
3. Angket/Kuesioner
3. Angket/ Kuesioner
4. Dokumentasi
4. Dokumentasi
Pengembangan Media Konkret Pada Pembelajaran Matematika Kelas 2 Sekolah
Dasar

Anda mungkin juga menyukai