BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan hidup Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang
tidak ternilai harganya sehingga harus senantiasa dijaga, dikelola dan
dikembangkan dengan baik agar dapat menjadi sumber penghidupan bagi manusia
dan makhluk lainnya. Demi meningkatkan kualitas hidup antara manusia dan
lingkungan sekitar tentu sangat berhubungan erat karena manusia berinteraksi dan
saling mempengaruhi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan
timbal balik baik itu positif maupun negatif.
Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal
33 Ayat 3 sebagai landasan Konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam
dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, sesuai dengan isinya yang berbunyi
“Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”.1
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), lingkungan hidup sangat penting bagi
kehidupan manusia. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilaku mereka,
yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan berikehidupan, dan
kesejahteraan.2
Beberapa hal yang menunjukkan masalah lingkungan hidup global saat ini
termasuk kerusakan atmosfir yang disebabkan oleh perubahan iklim, kerusakan
lapisan ozon, penipisan sumber daya hutan, penipisan keanekaragaman hayati,
pencemaran dan penipisan sumber daya kelautan, dan kemiskinan dan penurunan
kualitas hidup. Untuk mengatasi masalah lingkungan hidup tersebut Undang-
Undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dibuat. Kata
"perlindungan" yang menegaskan bahwa lingkungan hidup harus menjadi bagian
terpenting dari kebijakan pembangunan. Pengendalian pemanfaatan sumber daya
1
Indonesia, Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2
Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Pasal 1.
1
2
alam adalah salah satu tanda urgensi untuk memprioritaskan lingkungan hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan
hidup tidak hanya dilakukan terhadap efeknya, tetapi juga sejak perencanaan
pemanfaatan sumber daya dilakukan.3
Pada dasarnya, masalah lingkungan hidup berkaitan dengan ekologi
manusia dan masalah lingkungan timbul sebagai akibat dari pencemaran. Penyebab
utamanya adalah banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh individu dan
perusahaan atau badan hukum korporasi yang beroperasi, yang melibatkan unsur
kesengajaan dan kelalaian. Namun dalam beberapa kasus hukum pidana mungkin
lebih baik. Di era globalisasi industri, tindak pidana kejahatan lingkungan hidup
sering terjadi di lingkungan tempat bisnis beroperasi, mencemari dan merusak
lingkungan. Perusahaan-perusahaan ini mengelola lingkungan mereka dengan
melanggar aturan yang berlaku dan berdampak negatif pada masyarakat sekitar
termasuk kerusakan lingkungan, pergeseran tanah, dan pencemaran
udara. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis
untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah pencemaran dan
kerusakan mencakup perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan,
pengawasan, dan penegakan hukum.4 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Hal ini menjadi syarat penting
bagi lingkungan hidup Indonesia, karna denga nada nya peraturan tersebut bisa
memberikan hal positif bagi lingkungan hidup di indonesia5
Penjelasan Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 proses pembangunan yang
diselenggarakan dengan cara tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan
dan kualitas kehidupan generasi masa kini dan yang akan datang. Hanya saja dalam
pelaksanaannya tersebut terkadang pembangunan lebih cenderung kepada
3
[Link]. Reda Rizal, Studi Kelayakan Lingkungan (Jakarta: Lembaga Penelitian Dan Pengabdian
Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”.2016), hlm. 1.
4
Masrudi Muhtar, Perlindungan & Pengolaan Lingkungan Hidup (Jakarta: Prestasi Pustaka
Jakarta.2015), hlm.5.
5
Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Pasal 1 ayat (2)
3
pembangunan ekonomi semata dan mengesampingkan unsur lingkungan, sehingga
yang terjadi adalah banyaknya dampak negatif dan kerusakan lingkungan, sebagai
contoh adalah pembangunan sektor jalan. Banyaknya lapangan pekerjaan di bidang
kontruksi tidak hanya membawa dampak positif akan tetapi juga membawa dampak
negatif, baik pada perubahan struktur sosial, budaya, ekonomi masyarakat maupun
pada kualitas lingkungan. Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah dampak
negatif terhadap kualitas lingkungan baik itu kualitas air, udara maupun tanah.
Untuk mengendalikan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas
perusahaan tersebut maka diperlukan kontrol yang kuat dari seluruh stakeholder
perusahaan, pemerintah dan seluruh masyarakat. Pembangunan yang ideal
menuntut pelaksanaannya terdapat perencanaan yang mempertimbangkan berbagai
dimensi secara seimbang dan proporsional.6
"Setiap Usaha dan/atau Kegiatan Yang Berdampak Penting Terhadap
Lingkungan wajib memiliki Amdal".7 Menurut UU No 32 Tahun 2009 Pasal 22
yang merupakan salah satu instrumen dari Undang-Undang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, merupakan salah satu kajian lingkungan. Amdal
adalah dokumen perencanaan dan pencegahan jadi jika kegiatan yang dinilai
memiliki dampak lingkungan yang signifikan maka perlu dilakukanya penyelidikan
lingkungan yang menyeluruh termasuk rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup.8
Salah satu tujuan dan sasaran analisis mengenai dampak lingkungan
(AMDAL) adalah untuk memastikan bahwa usaha atau kegiatan pembangunan
dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan hidup.
Diharapkan bahwa AMDAL memungkinkan usaha atau kegiatan pembangunan
untuk memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efektif dengan
mengurangi dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap
lingkungan hidup. Tidak selalu kelayakan lingkungan yang dibuat oleh
pengusaha dalam bentuk Amdal menghasilkan hasil yang memuaskan. Lebih dari
6
Iwan Nugroho dan Rochmin Dahuri, Pembangunan Wilayah : Perspektif Ekonomi, Sosial dan
Lingkungan (Jakarta : LP3ES, 2004). hlm. 3.
7
Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Pasal 14.
8
Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Pasal 22.
4
9.000 dokumen Amdal telah disetujui, tetapi tidak ada yang memastikan bahwa
kerusakan lingkungan akan berkurang, Ini karena penegakkan hukum lingkungan
hidup yang lemah selain kurangnya kinerja komisi Amdal. Oleh karna itulah kinerja
AMDAL harus ditingkatkan. Selain itu, dari perspektif pemrakarsa, AMDAL dan
pelaksanaannya masih dianggap sebagai pusat biaya (hanya meningkatkan biaya
keuangan), dan menganggap bahwa tidak ada perbedaan antara membuat
AMDAL atau tidak dan melaksanakan AMDAL atau tidak.9
Kerusakan pada lingkungan adalah pengaruh sampingan dari tindakan manusia
untuk mencapai tujuan yang mempunyai risiko terhadap lingkungan.10 Kerusakan
pada lingkungan bisa saja dilakukan karna adanya kegiatan manusia yang berakibat
pada lingkungan. Kegiatan tersebut bisa saja di lakukan dengan sengaja hanya
untuk kepentingan pribadi Dalam literatur masalah-masalah lingkungan dapat
dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu pencemaran lingkungan (Pollution),
pemanfaatan lahan secara salah (Land Misuse) dan pengurasan atau habisnya
sumber daya alam (Natural Resource Depeletion). Akan tetapi, jika dilihat dari
perspektif hukum yang berlaku di Indonesia, masalah-masalah lingkungan hanya
dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yakni Pencemaran lingkungan
(Environmental Pollution) dan Perusakan lingkungan hidup.11
Salah satu kecamatan di kabupaten Bogor memiliki cukup banyak perusahaan
tambang. Kondisi georafis yang terdiri dari jajaran bukit-bukit dan di lewati oleh
sungai Cisadane terlihat indah dan asri. Namun kondisi saat ini tidaklah seindah
yang dibayangkan, jajaran bukit-bukit ini ternyata dilihat sebagai peluang usaha
bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bidang pertambangan. Perusahaan
tambang andesit pun tak dipungkiri menyebabkan adanya kerusakan lingkungan.
Rawannya kerusakan lingkungan yang dikhawatirkan yakni adanya pencemaran
udara. Andesit didapat dari peledakan bukit-bukit, yang kemudian dihaluskan
menjadi butiran pasir. Butiran pasir andesit merupakan partikel pertikel kecil yang
dapat berhamburan di udara. Butiran pasir-pasir yang berhamburan di udara besar
9
Iid Moh. Abdul Wahid, Efektifitas Pelaksanaan Amdal Pertambangan Batu Bara PT. Adaro
Indonesia Di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan, Tesis pada Program Magister Ilmu
Lingkungan Universitas Padjajaran, (Bandung : UNPAD,2015), hlm. 3.
10
R.F Saragih, Mengenal Hukum Lingkungan Di Indonesia (Jakarta: Roda Inti Media,1999),
hlm.103
11
Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan Di Indonesia (Depok: PT Raja Grafindo, 2019), hlm. 1.
5
kemungkinan mempengaruhi kualitas udara lingkungan sekitar. Hal tersebut bisa
berdampak kepada lingkungan dan bisa berdampak pada kesehatan warga yang
tinggal di area wilayang pertambangan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana cara mengurangi dampak lingkungan pada kegiatan blasting
di bidang pertambangan ?
2. Bagaimana pengaturan amdal pada kegiatan yang berdampak penting
terhadap lingkungan ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah di uraikan diatas maka penelitian
ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis cara mengurangi dampak lingkungan pada kegiatan
blasting di bidang pertambangan.
2. Untuk menganalisis pengaturan amdal pada kegiatan yang berdampak
penting terhadap lingkungan.
D. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini dan tujuan
yang ingin dicapai, maka di harapkan maka penelitian ini dapat memberikan
kegunaan sebagai berikut :
1. Kegunaan teoritis :
Secara teoritis hasil penelitian di harapkan dapat bermanfaat bagi bacaan
atau bahan kajian hukum serta untuk menambah dan memperluas ilmu
pengetahuan hukum dalam bidang hukum lingkungan hasil penelitian ini
diharapkan memberikan kontribusi dan masukan bagi pelaksaan
penelitian di bidang yang sama dan bagi pihak pihak yang
berkepentingan terhadap amdal.
2. Secara Praktis :
6
Hasil penelitian ini di harapkan memberikan manfaat secara praktis
bagi masyarakat dan pemerintah tentang dampak lingkungan yang
terjadi.
E. Kerangka Pemikiran
Negara Indonesia telah mengikrarkan diri sebagai negara hukum yang
demoktaris, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 bahwa:
“Indonesia adalah negara hukum.” Artinya negara yang Indonesia menjunjung
supremasi hukum untuk menegakkan dan memosisikan hukum pada tempat yang
tertinggi dari segala-galanya, menjadikan hukum sebagai komandan atau panglima,
melindungi, dan mengatur seluruh warga negara tanpa memandang status dan
kedudukannya.12 Kepastian hukum dalam hal perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa undang-undang ini mendayagunakan
berbagai ketentuan hukum, baik hukum administrasi, hukum perdata, maupun
hukum pidana.13
Ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjelaskan lingkungan hidup
adalah “kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan peri kehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lainnya.” Menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, bahwa tujuan
dari perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di antaranya yaitu melindungi
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup; menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;
menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem; serta
menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup14
Dalam Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
diberikan semacam penafsiran otentik mengenai arti lingkungan hidup. Dalam
12
Muhamad Sandi Is, “Kepastian Hukum Terhadap Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Di Indonesia”, Jurnal Yudisial Vol. 13 No. 3 (Desember 2020), hlm. 312.
13
Ibid,. hlm. 315
14
Ibid., hlm. 316.
7
undang-undang ini yang dimaksud dengan lingkungan hidup yaitu kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk didalamnya
manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Berdasarkan berbagai
pengertian tersebut maka unsur lingkungan memiliki keistimewaan yaitu
dimaksukkannya manusia dan perilakunya sebagai komponen lingkungan. Hal ini
mengandung arti bahwa manusia tanpa perilakunya, tidak mungkin bisa membawa
lingkungan ke arah kerusakan atau pencemaran.15
Kerusakan lingkungan bisa di akibatkan karna ada nya kelalaian baik dari
kegiatan Perusahaan yang berdampak penting bagi lingkungan atau kurang nya
perhatian dari pemerintah untuk mengkaji kegiatan yang berhubungan langsung
dengan lingkungan. Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem, terdiri
dari atas berbagai subsistem, yang mempunyai aspek sosial, budaya, ekonomi dan
ekologis dengan corak ragam yang berbeda yang menyebabkan daya tampung dan
daya dukung yang berbeda pula.16 Sebagai subsistem atau bagian (komponen) dari
“sistem hukum nasional” Indonesia, hukum lingkungan Indonesia di dalam dirinya
membentuk suatu sistem, dan sebagai suatu sistem, hukum lingkungan Indonesia
mempunyai subsistem yang terdiri atas:
1. Hukum Penataan Lingkungan
2. Hukum Acara Lingkungan
3. Hukum Perdata Lingkungan
4. Hukum Pidana Lingkungan
5. Hukum Lingkungan Internasional
Sebagaimana telah diuraikan tentang pembagian hukum lingkungan yang dapat
dibedakan menjadi empat bidang besar, maka uraian mengenai hukum lingkungan
Indonesia pun dapat menggunakan acuan empat bidang besar tersebut, yaitu:
1. Hukum Penataan Ruang (termasuk pengendalian penggunaan tanah
dan sumber-sumber daya lingkungan);
2. Hukum Konservasi (hayati, buatan, termasuk benda cagar budaya);
15
Supriyadi, Hukum Lingkungan di Indonesia,Sebuah Pengantar(Jakarta: Sinar Grafika, 2006)
hlm. 169.
16
Amiruddin A. Dajaan Imami dkk, Asas Subsidiaritas Kedudukan & Implementasi dalam
Penegakan Hukum Lingkungan, (Bandung; Bestari, 2009), hlm 4.
8
3. Hukum Kependudukan (termasuk kebutuhan sumber daya
manusia);
4. Hukum Pencemaran Lingkungan (dalam kaitannya dengan
pencegahan dan penanggulangan pencemaran).
Masing-masing komponen dari Hukum Lingkungan Indonesia tersebut, yaitu
Hukum Penataan Ruang, Hukum Konservasi, Hukum Kependudukan, dan Hukum
Pencemaran Lingkungan, harus selalu dapat dikaitkan dan mengacu pada
keseluruhan peraturan yang berlaku di Indonesia. Pembagian demikian
menggunakan pendekatan “sumber daya”.17
Asas asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tertuang dalam
Pasal 2 Undang-Undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
pada intinya mengamanatkan bahwa PPLH dilaksanakan berdasarkan 14 asas
berikut ini:
1. Asas tanggung jawab Negara, mengandung arti bahwa:
a. Negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa
kini maupun generasi masa depan.
b. Negara menjamin hak warga Negara atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat.
c. Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan
sumber daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup
2. Asas kelestarian dan keberlanjutan, adalah bahwa setiap orang
memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi
mendatang dan terhadap sesama generasinya dalam satu organisasi
dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan
memperbaiki kualitas lingkungan hidup
3. Asas keserasian dan keseimbangan, adalah bahwa pemanfaatan
lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti
17
Muhammad Erwin, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan
Lingkungan Hidup (Bandung : Refika Aditama 2008), hlm 13.
9
kepentingan sosial ekonomi, sosial, Budaya, perlindungan serta
pelestarian ekosistem
4. Asas keterpaduan, adalah bahwa PPLH dilakukan dengan
memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai kompenen
terkait
5. Asas manfaat, adalah bahwa segala usaha dan/atau kegiatan
pembangunanyang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber
daya alam dan lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat dan harkat manusia selaras dengan lingkungannya
6. Asas kehati-hatian, adalah bahwa ketidakpastian mengenai dampak
suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk
menundah langkah-langkah meminimalisasi atau menghindari
ancaman terhadap pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup
7. Asas keadilan, adalah bahwa PPLH harus mencerminkan keadilan
secara profesional bagi setiap warga Negara, baik lintas daerah,
lintas generasi maupun lintas gender
8. Asas ekoregion, adalah bahwa PPLH harus memperhatikan
karakteristik sumber daya alam, ekosistem, kondisi geografis,
Budaya masyarakat setempat, dan kearifan lokal
9. Asas keanekaragaman hayati, adalah bahwa PPLH harus
memperhatikan upaya terpadu untuk mempertahankan keberadaan,
keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam hayati yang terdiri
dari sumberdaya alam nabati dan sumber daya alam hewani yang
bersama dengan unsur nonhayati disekitarnya secara keseluruhan
membentuk ekosistem
10. Asas pencemar membayar, adalah bahwa setiap penanggung jawab
yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran atau
kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan
lingkungan
10
11. Asas partisipatif, adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong
untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan
pelaksanaan PPLH, baik secara langsung maupun tidak langsung.
12. Asas kearifan lokal, adalah bahwa dalam PPLH harus
memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dan tata kehidupan
masyarakat
13. Asas tata kelola pemerintahan yang baik, adalah bahwa PPLH
dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efesiensi,
dan keadilan
14. Asas otonomi daerah, adalah bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah mengatur dan mengurus diri sendiri urusan pemerintahan
dibidang PPLH dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman
daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.18
Pembangunan berkelanjutan menjadi tema umum pembangunan di seluruh
negara-negara di dunia. Pembangunan berkelanjutan memadukan tiga pilar
pembangunan yaitu bidang ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup secara
proporsioanal. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan pilar lingkungan hidup
adalah melaksanakan kegiatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau
Environmental Impact Assessment (EIA).
Kegiatan Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan kegiatan untuk
menilai suatu kegiatan yang akan dilaksanakan tidak berdampak merugikan
lingkungan (flora, fauna, tanah, air, tataguna lahan, ekonomi, sosial, budaya,
kesehatan masyarakat dan komponen lingkungan lainnya. Kegiatan Amdal ini
merupakan kegiatan yang sangat penting dan strategis dalam pengelolaan
sumberdaya dan lingkungan dan merupakan bagian penting dalam pembangunan
berwawasan lingkungan. Analisis mengenai dampak lingkungan menjadi syarat
wajib para pelaku usaha untuk memenuhi syarat kegiatannya yang berhubungan
atau berdampak langsung terhadap lingkungan di sekitar lokasi kegiatan itu sendiri
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Izin Lingkungan
disebutkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai
dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
18
A.M. Yunus Wahid, Pengantar Hukum Lingkungan(Jakarta: Prenada Media , 2018), hlm. 174.
11
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Di Indonesia. Amdal ini dibuat saat
perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap
lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah
aspek fisik- kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya dan kesehatan
masyarakat. Pada dasarnya tidak hanya lingkungan yang perlu di perhatikan tetapi
masyarakat terdampakpun perlu di perhatikan, karna suatu kegiatan bisa saja
berdampak kepada masyarakat sekitar terutama daerah sekitar, tempat mata
pencaharian, dan yang terpenting merupakan Kesehatan masyarakat itu sendiri, Jadi
peran pemerintah selain menganalisis resiko terhadap lingkungan, sangat penting
juga untuk menganalisis dampak terhadap kesekatan dari suatu kegiatan yang harus
memenuhi syarat amdal.
Sejak tahun 1980, kegiatan Amdal ini dilaksanakan oleh Pusat Studi
Lingkungan beberapa perguruan tinggi negeri dan beberapa konsultan yang
menggunakan tenaga ahli dari perguruan tinggi. Walaupun sudah dilaksanakan
sejak tahun delapan puluhan, kegiatan Amdal yang dilaksanakan oleh Pusat Studi
Lingkungan masih mengalami berbagai kendala dan masalah sehingga mulai tidak
optimal, sehingga harus didiskusikan berbagai upaya untuk mengoptimalkan peran
Pusat Studi Lingkungan dalam Penyelenggaraan Amdal. Landasan hukum
pelaksanaan Amdal adalah :
1. Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup,
2. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Izin
Lingkungan.19
Setiap usaha atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup
wajib memiliki Amdal. Dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:
1. Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana
usaha atau kegiatan
2. Luas wilayah penyebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
19
Indonesia, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
12
4. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak;
5. Sifat kumulatif dampak
6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak
7. Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi20
Kegunaan Amdal khususnya dalam usaha menjaga kualitas lingkungan adalah
mencegah agar potensi sumberdaya alam yang dikelola tidak rusak terutama
sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, Menghindari efek samping dari
pengolahan sumber daya terhadap sumber daya alam lainnya, proyek-proyek lain
dan masyarakat agar tidak timbul pertentangan-pertentangan, Mencegah terjadinya
perusakan lingkungan akibat pencemaran, misalnya timbulnya pencemaran air,
udara, tanah, kebisingan dan sebagainya sehingga tidak mengganggu kesehatan,
kenyamanan dan keselamatan masyarakat, dan Agar dapat diketahui manfaat yang
berdayaguna dan berhasilguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara.21
Istilah Lingkungan Hidup berasal dari bahasa-bahasa asing seperti:
environment (Inggris), l’environment (Perancis), Umwelt (Jerman) dan Millieu
(Belanda). Mengenai pengertian lingkungan hidup telah dikemukakan oleh
beberapa pakar lingkungan hidup serta rumusan yang ada dalam undang-undang.
Munadjat Danusaputra mendefinisikan lingkungan hidup sebagai berikut
“lingkungan hidup yaitu semua benda dan kondisi termasuk didalamnya manusia
dan tingkah laku dan perbuatannya yang terdapat dalam ruang di mana manusia
berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan
jasad hidup lainnya”.22 Lingkungan hidup Indonesia tentu berbeda dengan
lingkungan hidup dengan negara lain, seperti lingkungan hidup Jepang, Amerika,
Malaysia, dan negara-negara lain. Lingkungan hidup Indonesia adalah lingkungan
hidup yang ada dalam batas-batas wilayah negara Republik Indonesia. Didalam
Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dijelaskan
20
Pasal 22 uuplh
21
Otto Soewarmoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan , cetakan ketujuh (Yogyakarta:
GADJAH MADA UNIVRSITY PRESS, 1997), hlm. 72.
22
Munadjat Danusaputra, Hukum Lingkungan Suatu Pengantar (Jakarta: CV Gramedia.1986),
hlm 2
13
bahwa lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah,
baik wilayah negara maupun wilayah administratif.23
F. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengunakan metode penelitian
sebagai berikut:
1. Spesifikasi penelitian
Dalam penelitian ini Spesifikasi penelitian bersifat deskriptif analitis, yaitu
meggambarkan, menguraikan dan memaparkan secara jelas hal-hal yang
berkaitan dengan permasalahan yang hendak diungkapkan. Penelitian ini akan
membahas permasalahan yang diteliti tentang implementasi izin lingkungan
berdasarkan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pada metode blasting di bidang kontruksi pembangunan jalan dan penegakan
hukum administratif terhadap kegiatan yang tidak memiliki izin amdal dalam
pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan peneliti untuk menjawab masalah ini adalah
penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif adalah penelitian
kepustakaan/sekunder. untuk itu peneliti akan mengumpulkan data sekunder
sebagai alat untuk mengkaji tentang bagaimana peraturan Amdal Di dalam Undang
Undang Nomor 32 Tahun 2009:
A. Bahan-bahan hukum primer, yaitu peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan isi penelitian yaitu:
1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
2) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 2017 mengenai Pedoman Keterlibatan Masyarakat Dalam
Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan
23
R.M. Gatot P. Soemartono, Hukum Lingkungan Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2010) hlm
19
14
3) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Tentang
Penyelengaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
B. Bahan Hukum Sekunder, merupakan bahan hukum yang erat kaitannya
dengan bahan hukum primer, untuk membantu menganalisis dan memahami
bahan hukum primer yaitu terdiri dari:
1) Buku-buku
2) Jurnal atau karya ilmiah .
C. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan lain yang ada relevansinya
dengan pokok permasalahan yang menjelaskan serta 20 memberikan
informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang
berasal dari ensikopedia.
3. Metode Pendekatan
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode pendekatan perundang-
undangan. Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan
perundang-undangan (statute approach), dan pendekatan konseptual
(conceptual approach). Pendekatan Perundang-Undangan ini bersangkutan
dengan Peraturan Perundang-Undangan lingkungan hidup yang menjadi
permasalahan pokok dalam penelitian ini. Dan pendekatan konseptual dengan
melihat penyelesaian masalah dengan memberikan sudut pandang, dengan
dilihat dari konsep-konsep hukum, asas-asas dsb. Hal ini semua digunakan
sebagai argumentasi dalam penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data bahan hukum yang digunakan dalam penelitan ini
adalah studi kepustakaan atau dokumen. Studi kepustakaan atau dokumen adalah
kegiatan mengumpulkan dan memeriksa atau menelusir dokumen-dokumen atau
kepustakaan yang dapat memberikan informasi atau keterangan yang dibutuhkan
oleh peneliti. Artinya pengumpulan bahan-bahan dilakukan dengan cara data
kepustakaan (library research), mengidentifikasi peraturan perundang-
undangan, meneliti bahan pustaka, membaca buku-buku dan sumber lainnya
yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
15
5. Metode Analisa Data
Data yang terkumpul atau tersaji dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif
merupakan analisis data yang tidak menggunakan angka melainkan memberikan
gambaran-gambaran (deskripsi) dengan kata-kata atas temuan-temuan, dan
karenanya lebih mengutamakan mutu/kualitas dari data, dan bukan kuantitas.
Selanjutnya dalam penarikan kesimpulan pada penelitian ini digunakan metode
deduktif. Teknis analisis kualitatif dilakukan dengan cara menganalisa bahan
hukum berdasarkan konsep, teori, peraturan perundang- undangan, pandangan
pakar ataupun pandangan penulis sendiri, kemudian dilakukan interprestasi
untuk menarik suatu kesimpulan dari permasalahan penelitian ini. Yang diteliti
dan dipelajari adalah obyek penelitian yang utuh.