0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan31 halaman

Malam Pertama Takumi di Rumah Ayanami

Diunggah oleh

galendoburuk111
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan31 halaman

Malam Pertama Takumi di Rumah Ayanami

Diunggah oleh

galendoburuk111
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bab 1: Kedatangan Pria Baru

Matahari senja perlahan mulai tenggelam di balik gedung-gedung


apartemen kota Tokyo, meninggalkan rona jingga keemasan yang
memancar melalui jendela kaca besar di ruang tamu apartemen kecil
keluarga Ayanami. Ruangan itu sederhana namun rapi, dipenuhi sentuhan
feminin dari sang pemilik rumah. Vas bunga segar di atas meja, bantal-
bantal bermotif bunga sakura di sofa, serta aroma samar lilin aromaterapi
lavender yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan, menciptakan
suasana yang hangat sekaligus menenangkan. Di sudut ruang makan,
terdapat meja kayu kecil tempat seorang wanita tengah sibuk menata
piring dan gelas, memastikan semuanya tampak sempurna untuk tamu
spesial malam itu. Wanita itu adalah Mizuki Ayanami, seorang janda
berusia 35 tahun dengan paras yang masih sangat cantik untuk usianya.
Rambut hitam panjangnya diikat sederhana ke belakang, membiarkan
beberapa helai rambut halus terjatuh manja di sisi wajah ovalnya. Kulitnya
putih bersih, halus, dengan riasan tipis yang hanya menonjolkan
keindahan alami wajahnya. Tubuhnya, meski sudah pernah melahirkan,
tetap terjaga proporsinya. Payudaranya besar dan penuh, menonjol nyata
di balik dress putih ketat yang membalut tubuh indahnya, sementara
pinggulnya bulat dan padat, memancarkan aura keibuan yang menggoda.
Senyum lembut tak pernah lepas dari bibir tipisnya saat ia memeriksa
sekali lagi hidangan di atas meja.

Tak jauh dari sana, putrinya, Hikari Ayanami, duduk di sofa sambil
memandangi ibunya yang sibuk. Gadis berusia 17 tahun itu adalah
cerminan masa muda sang ibu. Rambut panjang lurus berwarna hitam
legam tergerai indah hingga pinggang, kulit putih mulus seperti porselen,
dan mata besar kecokelatan yang memancarkan rasa ingin tahu sekaligus
kepolosan khas usia remaja. Tubuhnya sudah berkembang sangat dewasa
untuk seusianya—pinggang ramping, dada yang besar seperti warisan
genetis ibunya, serta kaki panjang yang jenjang. Malam itu, ia
mengenakan kaus rumah longgar berwarna merah muda dan celana
pendek ketat yang nyaris memperlihatkan lekuk bokong mudanya.
Kakinya ia tekuk di atas sofa, sambil sesekali memainkan ponselnya,
mencoba mengalihkan pikiran dari rasa canggung yang perlahan
menggelayut di hatinya.
“Mama, jadi... dia benar-benar akan datang malam ini?” suara lembut
Hikari memecah keheningan, sedikit ragu, sambil mengangkat kepalanya
memandang ibunya yang kini menatapnya penuh pengertian.

“Iya, sayang,” jawab Mizuki sambil tersenyum, suaranya lembut


menenangkan, namun di balik matanya tampak ada sedikit ketegangan.
“Takumi-san akan datang makan malam. Dia... akan menginap juga.”

Hikari menggigit bibir bawahnya, mencoba menelan rasa aneh yang


menggelitik di perutnya. Ini pertama kalinya ibunya membawa pria ke
rumah sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu. Selama ini, hanya
mereka berdua yang hidup bersama, saling menopang satu sama lain
dalam suka dan duka. Hubungan mereka bukan sekadar ibu dan anak;
lebih seperti sahabat karib yang saling berbagi segalanya. Namun malam
ini, seseorang baru akan memasuki lingkaran kecil mereka. Seorang pria
dewasa yang mungkin saja akan mengubah segalanya.

“Kamu yakin... dia orang yang baik?” tanya Hikari lirih, meski matanya
menatap serius.

Mizuki menghampiri anaknya, duduk di sebelahnya, lalu menggenggam


tangan putrinya dengan lembut. “Mama sudah mengenalnya beberapa
bulan. Dia pria yang sangat baik, perhatian, dan... mama merasa nyaman
bersamanya, Hikari.” Suaranya sedikit bergetar saat mengucapkan
kalimat terakhir, seakan mengandung harapan dan ketakutan yang
bercampur menjadi satu. “Tapi mama juga mengerti, ini tidak mudah
untukmu. Itulah kenapa mama ingin kamu mengenalnya secara perlahan.
Tidak ada yang akan berubah antara kita. Kamu tetap prioritas utama
mama.”

Hikari mengangguk kecil, masih menunduk, lalu berusaha tersenyum.


“Baiklah... aku akan mencoba mengenalnya, mama.” Meski bibirnya
tersenyum, dadanya terasa sesak. Ada rasa penasaran, kecanggungan,
dan entah mengapa sedikit rasa cemburu yang samar.

Tiba-tiba suara bel berbunyi, memecah momen hening itu. Mizuki


langsung berdiri dengan gerakan cekatan, namun masih berusaha tenang.
Ia merapikan gaun putihnya, memeriksa rambutnya sejenak di kaca, lalu
berjalan menuju pintu sambil menarik napas dalam. Hikari mengikuti dari
belakang, rasa penasaran kini bercampur dengan sedikit degupan jantung
yang lebih cepat.

Pintu dibuka perlahan, memperlihatkan sosok pria tinggi dengan setelan


kasual rapi. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, mata tajam
namun hangat, dan senyum sopan yang menunjukkan kepercayaan diri.
Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebarnya
yang menambah kesan dewasa. Ia membawa sekotak kue dalam
bungkusan kertas mewah.

“Selamat malam, Mizuki-san,” ucap pria itu dengan suara baritonnya yang
dalam dan menenangkan. “Maaf kalau datang agak cepat.”

Mizuki membalas senyuman itu dengan lembut. “Tidak apa-apa, Takumi-


san. Ayo masuk.”

Begitu Takumi melangkah ke dalam, matanya langsung bertemu dengan


Hikari yang berdiri tak jauh di belakang ibunya. Sesaat, matanya sedikit
membesar, seperti tak menyangka melihat kecantikan gadis remaja itu.
Hikari, yang juga memperhatikan pria itu dengan seksama, merasakan
ada hawa maskulin kuat terpancar dari sosok Takumi. Wajahnya merah
seketika, tubuhnya sedikit kaku.

“Ah, ini putriku, Hikari,” ujar Mizuki memperkenalkan. “Hikari, ini Takumi-
san.”

Takumi menundukkan sedikit tubuhnya, menunjukkan rasa hormat.


“Senang bertemu denganmu, Hikari-chan.”

Hikari buru-buru membalas dengan membungkukkan badan kecil. “S-


senang bertemu juga, Takumi-san,” ucapnya gugup. Ada sesuatu dalam
cara pria itu memandangnya, bukan tatapan cabul, tapi lebih seperti pria
dewasa yang tak bisa tidak mengagumi keindahan seorang gadis muda.
Mizuki segera mengalihkan perhatian semua orang. “Ayo, makan malam
sudah siap. Semoga kamu suka masakan rumah, Takumi-san.”

Meja makan kecil itu pun dipenuhi hidangan buatan Mizuki yang tampak
menggugah selera. Ada nikujaga, ayam teriyaki, salad segar, dan
semangkuk miso sup panas. Takumi memuji masakan Mizuki berulang kali
sepanjang makan malam, membuat sang ibu tersenyum bahagia. Sesekali
ia menatap Hikari, mencoba melibatkan gadis itu dalam percakapan,
menanyakan hal-hal ringan seperti sekolah, hobi, dan cita-cita. Meski
masih terasa canggung, perlahan suasana mencair. Hikari merasa,
setidaknya, pria ini tidak menyeramkan seperti yang ia bayangkan.

Setelah makan malam selesai, mereka bertiga pindah ke ruang tamu,


menikmati teh hangat. Obrolan mengalir lebih santai, meski sesekali mata
Takumi tak bisa sepenuhnya menghindar dari keindahan tubuh Mizuki
yang duduk menyilangkan kaki di depannya, serta dari sekilas pandang ke
arah Hikari yang kini duduk bersila di lantai, kaus longgarnya semakin
memperlihatkan bentuk dadanya yang padat saat ia membungkuk
menuang teh.

“Wah, putrimu sangat mandiri ya, Mizuki-san,” puji Takumi. “Jarang gadis
seusianya sudah begitu membantu ibunya.”

Mizuki tertawa kecil. “Kami sudah seperti partner sehari-hari. Kalau tidak
ada Hikari, mama mungkin sudah gila mengurus semuanya sendiri.”

Hikari tersenyum malu, pipinya memerah mendengar pujian dari pria


dewasa itu. Ada perasaan aneh yang muncul, seperti bangga sekaligus
grogi karena perhatian yang diberikan Takumi padanya. Tatapan mata pria
itu begitu dewasa, hangat, namun memiliki semacam aura maskulin yang
perlahan membangkitkan rasa penasaran aneh dalam dirinya yang masih
polos.

Waktu berlalu cepat. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam


ketika Mizuki berdiri dari sofa, menatap Takumi dengan senyum sedikit
canggung. “Ah... sepertinya sudah cukup larut. Kamar tamu sudah mama
siapkan, Takumi-san. Silakan beristirahat, ya.”
Takumi berdiri dan mengangguk sopan. “Terima kasih banyak, Mizuki-san.
Dan terima kasih juga makan malamnya, Hikari-chan.” Tatapannya sekali
lagi mengarah sebentar ke gadis itu, sebelum ia mengikuti Mizuki ke arah
lorong menuju kamar tamu. Hikari hanya membalas dengan senyum kaku,
menundukkan wajahnya yang kini semakin panas.

Begitu mereka menghilang dari pandangan, Hikari termenung sejenak di


ruang tamu, memeluk bantal kecil di pangkuannya. Pikirannya berputar-
putar, memikirkan pria itu. Ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh,
sebuah ketertarikan yang ia sendiri belum benar-benar mengerti.
Bagaimana pria itu memandangnya, bagaimana suaranya terdengar
begitu dalam, dan terutama bagaimana ibunya tampak begitu bahagia di
dekatnya. Sesuatu di dalam dirinya mulai terusik.

Sementara itu, di ujung lorong apartemen yang sunyi, pintu kamar tamu
diketuk perlahan oleh Mizuki. Takumi menoleh, menatap wanita cantik
yang kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan berbeda dari
sebelumnya. Tak ada lagi kehangatan formal seorang tuan rumah. Mata
Mizuki kini berbinar lembut, penuh harap, bibirnya mengulas senyum kecil
yang mengundang.

“Takumi-san... bolehkah... malam ini kau tidur di kamarku saja?”

Takumi menatapnya sejenak, sebelum perlahan mengangguk dengan


senyum tipis. “Dengan senang hati.”

Pintu kamar utama pun tertutup pelan, meninggalkan lorong gelap, dan
memulai sebuah malam yang perlahan akan mengubah segalanya.
Bab 2: Malam Pertama

Kamar tidur Mizuki dipenuhi dengan aroma lembut bunga melati dari
diffuser elektrik yang diletakkan di sudut ruangan. Lampu tidur di meja
kecil samping ranjang memancarkan cahaya kuning temaram,
menciptakan suasana yang begitu intim dan menenangkan. Seprai putih
bersih terhampar rapi di atas kasur king size dengan headboard kayu
gelap yang elegan. Di tengah ruangan, Takumi duduk di tepi ranjang,
kedua tangannya bertumpu di sisi tubuhnya, sementara matanya
perlahan menyapu seluruh sudut ruangan. Ada keheningan yang
menegangkan namun mengandung ekspektasi, seolah udara di sekitarnya
menggetarkan permukaan kulitnya.

Mizuki menutup pintu perlahan di belakangnya. Gaun putih yang sejak


tadi ia kenakan tampak begitu pas membalut tubuhnya, memperlihatkan
lekuk-lekuk sempurna yang menggoda. Ia menatap Takumi dengan mata
setengah menunduk namun penuh rasa percaya diri yang sensual.
Senyuman tipis mengembang di bibir merah mudanya, sementara kedua
tangannya dengan perlahan meraih tali kecil di pundaknya. Tanpa berkata
sepatah kata pun, ia menurunkan tali gaun itu, membiarkan bagian
atasnya melorot turun, memperlihatkan bra renda hitam yang menahan
payudaranya yang besar dan berat. Gaun putih itu kini tergelincir turun
melewati perut rata dan pinggul bulatnya, hingga akhirnya jatuh
menggenang di sekitar kakinya yang telanjang.

Takumi mengerjapkan matanya pelan, sedikit terkejut namun tak bisa


memalingkan pandangan dari pemandangan di hadapannya. Napasnya
tertahan sejenak, seolah dadanya dipenuhi udara panas. Mizuki kini hanya
mengenakan bra hitam renda tipis yang nyaris tak mampu sepenuhnya
menutupi bentuk penuh payudaranya, serta celana dalam senada yang
menempel ketat di lekuk bawah perutnya. Di antara sela kain tipis itu, ada
sedikit bekas basah yang samar-samar terlihat, seakan mengabarkan
betapa sang wanita telah dipenuhi hasrat sejak beberapa waktu lalu.

“Takumi-san…” suara Mizuki akhirnya pecah, lirih namun penuh godaan,


“malam ini… aku ingin menyerahkan semuanya padamu.”
Takumi menelan ludahnya, suaranya agak serak menahan ketegangan.
“Mizuki… kau… sangat cantik malam ini… sungguh, aku hampir tak
percaya sedang melihatmu seperti ini.”

Mizuki tersenyum kecil, menatap pria di hadapannya dengan tatapan


yang semakin membakar. “Kau sudah menungguku, bukan? Jangan
menahan dirimu... Aku milikmu malam ini.”

Langkah kaki Mizuki ringan mendekat ke arah Takumi, hingga tubuhnya


berdiri tepat di hadapan pria itu yang kini mendongakkan kepalanya.
Tanpa menunggu aba-aba, Mizuki membungkukkan tubuhnya sedikit ke
depan, tangan halusnya meraih sisi wajah Takumi, menariknya pelan, lalu
bibir mereka akhirnya bersentuhan. Awalnya lembut, sekadar kecupan
yang manis, namun dalam hitungan detik ciuman itu berubah menjadi
lebih dalam, lebih panas. Lidah Mizuki perlahan menyelinap masuk ke
dalam mulut Takumi, mengajak permainan basah yang panas. Takumi
membalas, membiarkan lidahnya menari, saling beradu, melilit,
mengeksplorasi rasa manis dan hangat dari rongga mulut wanita di
depannya.

Sambil terus berciuman, tangan Takumi yang sejak tadi terdiam kini mulai
bergerak. Jari-jarinya yang besar dan hangat perlahan merambat naik ke
sisi pinggang Mizuki, menyusuri punggungnya, lalu berhenti tepat di
bawah payudara besar yang naik turun akibat napas berat sang wanita.
Dengan gerakan perlahan namun tegas, Takumi meremas lembut salah
satu payudara Mizuki yang penuh, merasakan kehangatan daging kenyal
itu di balik lapisan tipis kain bra. Mizuki mengeluarkan desahan kecil ke
dalam mulut Takumi, tubuhnya sedikit bergetar, matanya terpejam
menikmati sentuhan itu.

“Ahh… Takumi-san…,” desah Mizuki di sela ciumannya, napasnya berat,


“sentuhanmu… membuatku gila…”

Takumi melepaskan ciuman mereka sejenak, menatap mata Mizuki yang


setengah terpejam sambil menarik napas dalam. “Aku bahkan belum bisa
menahan diri melihatmu, Mizuki… tubuhmu luar biasa… payudaramu...
besar sekali…”
Mizuki mengulum senyum kecil lalu, dengan satu gerakan cekatan, ia
melepas kaitan bra-nya yang berada di belakang punggung. Tali kecil itu
terlepas, dan bra renda hitam itu meluncur jatuh ke lantai,
memperlihatkan kedua payudara indahnya secara penuh. Kedua
gundukan montok itu bergerak naik turun mengikuti ritme napas Mizuki,
puting merah mudanya menegang, berdiri tegak, seolah menantikan
sentuhan lebih lanjut.

Takumi menatapnya dengan sorot mata yang semakin membara,


“Payudaramu… sungguh indah… aku ingin menyentuhnya lebih lama…”

Mizuki merapatkan tubuhnya ke Takumi, mempertemukan kulit hangat


mereka. “Sentuhlah, Takumi-san... semuanya… semua milikmu…”

Takumi pun menunduk, mulutnya mengecup salah satu puting Mizuki,


sementara tangannya masih mengelus gundukan satunya. Mizuki
mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Takumi erat.

Beberapa saat kemudian, Mizuki melepaskan diri perlahan, lalu turun dari
pangkuan Takumi, kini berlutut di depannya. Dengan tatapan penuh
hasrat, ia menatap Takumi dari bawah, suaranya manja dan berbisik,
“Sekarang… giliranku memanjakanmu.”

Kedua tangannya mulai meraba bagian bawah tubuh Takumi, menelusuri


paha pria itu dengan sentuhan lembut dan menggoda, hingga akhirnya
berhenti di atas tonjolan keras yang kini menegang hebat di balik celana
panjangnya.

“Aku bisa merasakan betapa kerasnya…” bisik Mizuki sambil mengusap


lembut tonjolan itu. “Kau benar-benar sudah menunggu lama untukku,
ya…”

Takumi hanya bisa mengangguk pelan, nafasnya berat. “Aku hampir tidak
tahan lagi, Mizuki…”
Dengan gerakan perlahan namun penuh gairah, Mizuki membuka kancing
celana Takumi, menurunkan resletingnya perlahan, lalu menarik celana
panjang itu ke bawah, memperlihatkan celana dalam pria yang sudah
sangat menegang, membentuk siluet batang keras yang terjebak di balik
kain tipis.

“Besarnya…” gumam Mizuki lirih, matanya membelalak kecil menatap


bentuk batang pria dewasa di depannya. Perlahan, ia membuka celana
dalam Takumi, membebaskan batang keras panjang dan tebal itu berdiri
tegak.

“Ahh… luar biasa…,” Mizuki menatapnya sambil menjilat bibirnya, “aku


ingin merasakanmu di dalam mulutku…”

Mizuki membuka mulut perlahan dan mulai menyambut batang panas itu
dengan bibirnya. Awalnya ujung kepala kemerahan itu masuk ke dalam
mulut hangat Mizuki, lidahnya melingkari bagian kepala dengan gerakan
melingkar pelan, merasakan tekstur licin dan lembutnya, sementara
tangannya menggenggam pangkal batang, mengontrol kedalaman
penetrasi mulutnya. Suara isapan pelan mulai terdengar, disertai dengan
desahan berat dari Takumi yang merasakan kenikmatan mengalir cepat ke
seluruh tubuhnya.

“Mmmhh… lezat sekali…” desah Mizuki sambil terus memainkan


batangnya dengan lidahnya yang lincah.

Sambil menikmati sensasi mulut Mizuki, Takumi secara naluriah


menggerakkan kakinya. Ujung jari kakinya perlahan menggesek bagian
bawah tubuh Mizuki, tepat di antara kedua pahanya yang terbuka. Ia
merasakan kelembutan kain celana dalam Mizuki yang tipis, serta
kehangatan basah dari baliknya.

“Kau sudah sangat basah di sini, Mizuki…” bisik Takumi pelan, kakinya
menekan lembut ke tengah bagian bawahnya.
“Ahh… Takumi-san… jangan… kaki…,” desah Mizuki dengan wajah
memerah, suaranya gemetar antara malu dan terangsang. “Kau… bisa
merasakan bulu-buluku, ya?”

Takumi mengangguk kecil sambil mengelus kain basah itu dengan


gerakan melingkar. “Ya… begitu lebat… aku bisa merasakannya meski
masih terbungkus... menggoda sekali…”

Beberapa saat berlalu, Mizuki mempercepat gerakan kepalanya, isapan


dan jilatan lidahnya semakin kuat, seiring dengan denyutan keras di
dalam batang Takumi yang menandakan klimaks pria itu sudah mendekat.
Napas Takumi semakin berat, tubuhnya menegang, dan akhirnya, dengan
satu desahan panjang, Takumi melepaskan klimaksnya ke dalam mulut
Mizuki. Mizuki tidak mundur, sebaliknya ia menelan semuanya perlahan,
merasakan cairan panas itu mengalir melewati tenggorokannya, sebelum
akhirnya menjilat sisa-sisa yang menempel di batang Takumi.

Setelah membersihkan sisa cairan dengan lidahnya, Mizuki mengangkat


wajahnya, menatap Takumi dengan mata berbinar, napasnya masih
sedikit terengah. “Lezat sekali… semuanya…”

Takumi membelai lembut rambut panjang Mizuki yang jatuh berantakan.


“Kau sungguh… wanita yang luar biasa, Mizuki…”

Setelah beberapa detik menikmati keheningan penuh hasrat itu, keduanya


perlahan mulai melepaskan sisa kain yang masih menempel di tubuh
masing-masing, bersiap melangkah ke babak berikut dari malam panas
yang baru saja dimulai.

Bab 3: Malam yang Membuka Segalanya

Pakaian terakhir yang menempel di tubuh mereka kini telah terlepas seluruhnya. Kain-kain
tipis yang semula menutupi tubuh mereka kini berserakan di lantai kamar, menjadi saksi bisu
dari hasrat yang menggelegak. Cahaya kuning temaram dari lampu tidur menciptakan kilauan
samar di atas kulit putih mulus Mizuki yang kini berbaring penuh di atas ranjang king size
itu. Kedua pahanya perlahan dibuka lebar, memperlihatkan bagian tengah tubuhnya yang
sejak tadi sudah basah kuyup. Kain celana dalam hitam tipis yang basah itu menempel ketat,
memperlihatkan bentuk bibir kewanitaannya dengan jelas. Bekas basahnya begitu nyata,
membentuk bercak besar di tengahnya.

Mizuki menatap Takumi dengan sorot mata penuh nafsu yang membara, nafasnya masih
berat dan tidak teratur. Ia membisikkan suara manja, “Takumi-san… lihatlah aku… lihat
betapa basahnya aku menunggumu…”

Takumi, yang kini berdiri di tepi ranjang, menelan ludah dalam-dalam. Batangnya yang keras
kembali menegang penuh setelah tadi melepaskan klimaks pertama. Ia menunduk, menatap
pemandangan di hadapannya dengan mata penuh hasrat. Dengan kedua tangannya yang
besar, ia meraih pinggiran celana dalam Mizuki, menariknya perlahan melewati kedua
pahanya yang indah, hingga akhirnya celana dalam itu terlepas sepenuhnya, meninggalkan
Mizuki benar-benar telanjang di bawah sorot matanya.

Mata Takumi membelalak pelan saat melihat pemandangan di depannya. Di antara kedua
paha yang putih halus itu, tampak lubang kewanitaan Mizuki yang merekah lembab,
dikelilingi oleh bulu-bulu hitam lebat yang tumbuh alami, menciptakan kontras sensual yang
begitu menggoda.

“Indah sekali…” bisik Takumi nyaris seperti gumaman kagum. “Begitu lebat... begitu
alami… aku tidak pernah membayangkan seindah ini, Mizuki…”

Mizuki tersenyum kecil sambil sedikit mengangkat pinggulnya, menawarkan dirinya lebih
dalam. “Semua ini… hanya milikmu malam ini, Takumi-san… jangan hanya menatap…
cicipilah…”

Takumi perlahan menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke sela paha Mizuki.


Aroma manis dan tajam khas kewanitaannya mulai memenuhi indera penciumannya. Dengan
lembut, kedua tangannya membuka sedikit bibir kewanitaan Mizuki, memperlihatkan bagian
merah muda yang licin dan berkilau karena cairan kenikmatan yang sudah membanjir sejak
lama. Ia mengeluarkan nafas hangat di atasnya, membuat tubuh Mizuki sedikit bergetar.

Lalu, tanpa menunggu lebih lama, Takumi mulai menempelkan lidahnya pada bagian puncak
kelopaknya. Lidahnya yang hangat menjilat perlahan, menyapu seluruh permukaan yang
basah itu. Mizuki langsung melenguh pelan, punggungnya sedikit melengkung.

“Ahh… Takumi-san… ya… seperti itu… teruslah…” desahnya dengan suara bergetar penuh
kenikmatan.

Takumi terus menjilati, mempermainkan lidahnya secara bergantian; sesekali menelusuri


bibir luar, lalu kembali mengitari titik puncak sensitif di atasnya. Cairan Mizuki semakin
melimpah, menetes membasahi seprai di bawah pinggulnya. Takumi memperdalam
jilatannya, kadang menyelipkan lidahnya masuk ke lubang yang kini terus menganga
menantikan penetrasi, membuat Mizuki mengerang lebih keras.
“Ahhh… ya… ya… jangan berhenti… lebih dalam, Takumi-san… aku… aku tidak tahan
lagi…” suara Mizuki semakin nyaring, napasnya tercekat-tekat.

Takumi pun mempercepat gerakan lidahnya, sementara tangannya menekan kedua paha
Mizuki agar tetap terbuka lebar. Lidahnya menari liar, menghisap, menjilat, dan mengusap
secara bergantian, hingga tubuh Mizuki mulai bergetar hebat. Sekujur tubuhnya menegang,
jari-jarinya mencengkeram seprai erat, kepalanya terdongak ke belakang.

“Ahhh… AHHH!!! TAKUMI-SAAANNN…!!!” jerit Mizuki ketika akhirnya ia mencapai


puncak klimaksnya. Cairan hangatnya memancar deras membasahi wajah Takumi,
bercampur dengan napasnya yang terengah-engah. Pinggul Mizuki bergetar hebat, tubuhnya
sedikit kejang akibat ledakan kenikmatan yang luar biasa itu.

Takumi mengangkat wajahnya perlahan, cairan Mizuki masih menetes dari dagu dan
bibirnya, namun matanya bersinar puas. “Kau begitu manis, Mizuki… rasamu begitu lezat…”
bisiknya lirih.

Mizuki tersenyum dengan mata yang setengah terpejam, napasnya masih berat. “Sekarang…
saatnya kau masuk ke dalamku… aku ingin merasakanmu… sepenuhnya…”

Tanpa berkata, Takumi naik ke atas ranjang, memosisikan tubuhnya di antara paha Mizuki
yang masih terbuka. Batangnya yang keras kini menempel tepat di pintu masuk kewanitaan
Mizuki yang sudah terbuka lebar dan licin. Dengan gerakan perlahan, Takumi menekan
batangnya, kepala kemerahan itu perlahan menyelip masuk ke dalam.

“Ahh… ahhh… besar sekali… ahh…,” desah Mizuki saat batang keras itu perlahan
menerobos dinding lembab dalam dirinya.

Takumi mendesah panjang, merasakan kehangatan luar biasa yang menyelimuti batangnya
sepenuhnya. “Kau begitu sempit… hangat sekali, Mizuki…”

Batang Takumi perlahan masuk semakin dalam, hingga akhirnya sepenuhnya tertanam
hingga pangkal. Mizuki melenguh panjang, tubuhnya kembali melengkung menahan nikmat.
Takumi berhenti sejenak, membiarkan Mizuki menyesuaikan diri dengan ukuran dirinya,
sebelum akhirnya mulai bergerak maju mundur perlahan.

“Mmmhh… ahhh… ya… ya… lebih dalam, Takumi-san… gerakkan… seperti itu…” suara
Mizuki semakin nyaring setiap Takumi menghentakkan dorongannya ke dalam.

Takumi mulai mempercepat gerakannya, setiap hentakan masuk lebih dalam, menciptakan
suara basah yang berirama di sela desahan panas mereka. Kasur berderit pelan mengikuti
irama gerakan mereka.

Sementara itu, di kamar sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding tipis, Hikari duduk di
lantai kamarnya. Tubuhnya gemetar menahan panas di wajahnya. Sejak beberapa menit lalu,
ia telah mendengarkan dengan jelas suara desahan ibunya yang nyaring, suara ranjang yang
berderit, dan kini suara hentakan tubuh pria itu masuk ke dalam tubuh ibunya.

Pipinya merah padam, napasnya cepat. Tangannya sejak tadi sudah menyelinap masuk ke
dalam celana pendeknya. Jemarinya yang mungil memainkan bagian kewanitaannya yang
kini basah kuyup, cairan kenikmatan mengalir deras membasahi celana dalamnya. Ia tak
kuasa lagi menahan rasa panas yang membakar tubuh mudanya.

“Ahh… ahh… mama…,” bisiknya pelan sambil memejamkan mata, membayangkan apa
yang sedang dilakukan ibunya di kamar sebelah. Jemarinya bergerak cepat di antara
kelopaknya yang licin, bermain di atas titik puncaknya.

Suara jeritan ibunya yang nyaring di seberang dinding membuat tubuh Hikari semakin
bergetar. Puncaknya pun mendekat. Dengan sekali sentakan tangan, tubuhnya menegang,
kakinya menekan lantai, mulutnya ternganga lebar meski tak berani mengeluarkan suara
keras.

“Ahhh… mamaaa… ahhh… ahhh!” bisiknya, tubuhnya sedikit bergetar, cairan hangat
meleleh deras dari dalamnya membasahi lantai kayu di bawahnya.

Namun setelah ledakan kenikmatan itu reda, Hikari masih belum puas. Kepalanya kini
dipenuhi rasa penasaran yang semakin membuncah. Rasa ingin tahu menaklukkan rasa malu.
Ia berdiri pelan, menarik napas cepat, dan tanpa pikir panjang lagi, membuka pintu kamarnya
dengan hati berdebar.

Langkah kakinya ringan tapi cepat menuju kamar ibunya. Ia menggenggam kenop pintu
kamar ibunya, menariknya perlahan. Pintu kamar terbuka.

Di hadapannya, di bawah cahaya kuning temaram, terlihat ibunya berbaring telanjang


sepenuhnya di atas ranjang, kedua kakinya mengangkang lebar, sementara Takumi berada di
atas tubuh ibunya, batangnya masih sepenuhnya tertanam di dalam lubang ibunya yang kini
mengembang basah.

Keduanya sontak menoleh ke arah pintu, terkejut, namun di wajah mereka justru terpancar
rasa terlarang yang membakar, bukan kemarahan. Hikari berdiri terpaku di ambang pintu,
pipinya merah, dadanya naik turun, matanya melebar menatap pemandangan panas yang
selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Bab 4: Hasrat yang Tak Bisa Dibendung


Pintu kamar kini terbuka sepenuhnya, memperlihatkan pemandangan
intim antara Mizuki dan Takumi yang masih saling menyatu dalam
gerakan maju mundur yang perlahan namun dalam. Napas berat
keduanya bergema di udara, bersatu dengan aroma keringat, gairah, dan
aroma tubuh mereka yang bercampur menjadi satu. Di ambang pintu,
Hikari berdiri dengan tubuh sedikit gemetar, wajahnya merah padam,
dada naik turun cepat, dan mata lebarnya menatap langsung ke arah
tubuh telanjang ibunya yang saat itu masih menahan batang keras Takumi
sepenuhnya di dalam tubuhnya.

Takumi terkejut melihat kehadiran Hikari, matanya sedikit melebar, namun


tubuhnya tetap tertanam di dalam Mizuki. Mizuki yang melihat anak
perempuannya berdiri di sana, juga terkejut seketika, tubuhnya
menegang, napasnya tercekat.

"H-Hikari…?!" seru Mizuki dengan suara gemetar di sela desahannya yang


belum sepenuhnya reda. "A-Apa yang kau lakukan di sini…?"

Hikari yang sejak tadi dipenuhi oleh dorongan yang tak tertahankan, kini
menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca namun penuh tekad.
Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan, tapi sangat jelas terdengar. "Mama…
aku… aku sudah tidak tahan lagi…"

Tubuh Hikari yang mungil itu kini bergerak cepat, tanpa menunggu
persetujuan siapa pun, ia mulai melepaskan kaos tipis yang
dikenakannya. Dengan satu gerakan, kaos itu meluncur turun dari
tubuhnya, memperlihatkan kulit putih mulus dan payudaranya yang
besar, hampir sama besarnya dengan milik sang ibu. Putingnya yang
berwarna merah muda kini menegang kencang, berdiri tegas di udara
dingin. Celana pendek dan celana dalamnya pun ditarik sekaligus hingga
terlepas seluruhnya, membebaskan bagian selangkangannya yang kini
benar-benar basah, cairan bening mengilap di antara kelopaknya yang
masih rapat namun licin. Kulit bagian bawahnya mulus tanpa bulu,
tampak bersih dan begitu menggoda di bawah cahaya temaram kamar.

Takumi menatapnya dengan mata yang membara, napasnya semakin


berat. Mizuki sendiri terdiam sesaat, tubuhnya bergetar melihat
keberanian putrinya. Namun di dalam hatinya, Mizuki seakan mengerti
sepenuhnya apa yang sedang dirasakan anak gadisnya saat ini. Ia sendiri
pernah, bahkan baru saja, merasakan gelombang kenikmatan yang sama.
Hasrat liar yang tak bisa ditahan ketika gairah tubuh menguasai akal
sehat.

Tanpa aba-aba, Hikari menaiki ranjang, merangkak perlahan hingga


tubuhnya kini tepat di atas wajah Mizuki. Dengan perlahan ia menurunkan
tubuhnya, menempatkan bagian bawah tubuhnya yang sudah sangat
basah tepat di atas bibir ibunya. Cairan hangat dari kelopaknya menetes
perlahan ke pipi Mizuki yang hanya bisa menatap bagian intim putrinya
dari jarak sangat dekat.

"M-Mama…" suara Hikari gemetar, "tolong aku… aku… aku juga ingin
merasakannya..."

Mizuki sempat terdiam sesaat, namun nafas panas Hikari yang membelai
wajahnya, aroma manis khas gadis mudanya yang membanjiri indera
penciuman, membuat tubuh Mizuki bergetar. Akhirnya, seperti terbawa
oleh gelombang hasrat yang begitu kuat, Mizuki mendongakkan
wajahnya, menempelkan bibirnya ke kelopak basah putrinya, lalu mulai
menjilatinya dengan perlahan.

"Lembut sekali…" bisik Mizuki di antara jilatan pertamanya, suaranya


penuh kenikmatan.

“Ahhh… mama… yaaa… enak sekali…” desah Hikari, tangannya


mencengkeram kepala ibunya, pinggulnya perlahan menggoyang
mengikuti irama jilatan.

Takumi yang melihat pemandangan terlarang di hadapannya menjadi


semakin terangsang. Batangnya yang masih tertanam di dalam Mizuki
semakin keras, denyutannya begitu kuat. Ia mulai kembali menggerakkan
pinggulnya, menghentakkan batang kerasnya ke dalam tubuh Mizuki.

"Ahhh… Takumi-san… lebih dalam… lebih cepat… ahhh!" jerit Mizuki


sambil terus menjilati bagian intim Hikari yang menekan wajahnya.
Takumi mulai meningkatkan ritmenya, hentakannya kini jauh lebih dalam
dan cepat, menciptakan suara basah yang keras memenuhi ruangan,
bersatu dengan suara desahan tinggi dari ibu dan anak itu.

Suasana kamar dipenuhi suara-suara erotis: suara jilatan Mizuki di kelopak


licin Hikari, hentakan tubuh Takumi yang menghantam panggul Mizuki,
serta teriakan manja Hikari yang semakin mendekati puncaknya.

"M-Mamaaa… aku… aku hampir keluar… aaahhh…!" jerit Hikari dengan


nafas tercekat.

Takumi pun merasakan bahwa puncaknya semakin dekat. "Mizuki… aku…


aku juga akan keluar… ahhh…"

Mizuki yang tubuhnya digoyang keras dari bawah juga menjerit, “Ahh…
aku juga… aku tidak tahan lagi… keluarkan di dalamku… Takumi-san!”

Takumi menghentak beberapa kali dengan dorongan keras yang dalam,


tubuhnya menegang, lalu mengerang panjang saat akhirnya ia
menyemburkan cairan panasnya jauh ke dalam lubang Mizuki.

“Ahhhhh…!!” desah panjang Mizuki bersamaan dengan semburan Takumi


memenuhi bagian dalamnya, dinding kewanitaannya meremas batang
Takumi erat, tubuhnya bergetar hebat saat mencapai puncak klimaks.

Di saat yang sama, tubuh Hikari yang duduk di atas wajah ibunya juga
menegang, cairan kenikmatannya meledak deras, menyembur langsung
membasahi wajah Mizuki. "Ahhhh… mamaaa… aku keluar... ahhh!"
jeritnya dengan suara tinggi, tubuhnya bergetar hebat di atas kepala
ibunya.

Takumi menarik batangnya perlahan keluar, batangnya yang masih


setengah keras kini terlepas dari Mizuki, dan dari dalam lubang Mizuki
yang terbuka, cairan kental Takumi mengalir keluar, meleleh perlahan
membasahi pangkal paha dan seprai di bawahnya.

Mizuki terbaring di bawah mereka, wajahnya basah oleh cairan putrinya,


tubuhnya masih bergetar ringan akibat sisa orgasme yang dahsyat. Napas
berat memenuhi ruangan, menyisakan keheningan yang panas dan
lengket, udara kamar dipenuhi aroma campuran dari tubuh, keringat, dan
cairan kenikmatan mereka bertiga.

Bab 5: Awal yang Terlarang

Setelah ledakan kenikmatan yang begitu dahsyat, ketiganya kini terbaring


di atas ranjang besar itu, tubuh mereka yang basah oleh keringat dan
cairan kenikmatan masih saling bersentuhan erat. Nafas mereka mulai
melambat, namun kehangatan di dalam kamar itu justru semakin padat,
seolah udara penuh dengan aroma hasrat yang belum sepenuhnya reda.
Hikari kini merebahkan tubuhnya di samping ibunya, wajahnya masih
sedikit merah, nafasnya masih berat, matanya menatap Takumi dengan
sorot mata yang berbeda. Ada getaran penasaran, hasrat, dan dorongan
liar yang selama ini terkubur dalam dirinya.

Dengan perlahan, Hikari membuka kedua pahanya lebar-lebar,


memperlihatkan kembali selangkangannya yang sudah basah kuyup.
Cairan bening masih terlihat berkilauan di antara kelopaknya yang merah
muda, sisa kenikmatan sebelumnya masih menetes perlahan. Suaranya
lirih, penuh permohonan, namun sekaligus menggoda.

“Takumi-san…” bisiknya dengan suara bergetar, “aku… ingin


merasakannya juga… sama seperti mama…”

Takumi menatap tubuh muda Hikari yang kini begitu terbuka dan siap
untuknya. Batangnya yang sempat sedikit mengendur kini perlahan
kembali menegang, mengeras sepenuhnya, terpancing oleh
pemandangan menakjubkan di depannya. Ia mengangguk pelan, matanya
membara.
“Baiklah, Hikari… aku akan membuatmu merasakan semuanya…
perlahan, karena ini pertama kalimu…” ucap Takumi dengan suara berat,
hampir berbisik, namun penuh keyakinan.

Takumi bergerak mendekat, memosisikan tubuhnya di antara paha Hikari


yang terbuka. Dengan satu tangan, ia memegang batang kerasnya,
sementara tangan lainnya perlahan mengelus paha halus Hikari yang
bergetar menahan tegang. Ia menempelkan kepala batangnya ke pintu
lubang kewanitaan Hikari, menggesekannya pelan ke atas dan ke bawah,
membasahi kepala batangnya dengan cairan licin yang telah mengalir
dari gadis muda itu.

“Mmhh… ahhh… hangat sekali… lembut sekali…” gumam Takumi sambil


terus menggesekkan kepalanya di antara bibir lembut itu.

“Ahhh… Takumi-san… masuklah… aku ingin merasakannya…” Hikari


memohon, napasnya tercekat.

Takumi perlahan menekan kepalanya, mencoba menyelip masuk ke


dalam. Kepala batang yang besar itu perlahan menerobos pintu ketat
Hikari, membuat bibir mungil itu perlahan terbelah menelan bagian
ujungnya. Hikari mendesah keras, tubuhnya menegang.

“Aaahh… sakit… tapi… enak… ahhh…” desah Hikari, matanya memejam


erat, tangannya mencengkram seprai kuat-kuat.

Takumi menghela nafas berat, mencoba sepelan mungkin memasukkan


batangnya lebih dalam. Ketika akhirnya sebagian besar batangnya masuk,
Takumi melihat sedikit bercak merah keluar dari lubang Hikari, bercampur
dengan cairan licin yang membasahi selangkangannya.

“Mizuki…” bisik Takumi pelan sambil menatap sang ibu, “Hikari… ini…
pertama kalinya…”
Mizuki menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk — ada
rasa haru, bangga, dan dorongan panas yang justru semakin membakar
dirinya.

“Iya… dia gadis baik… perlahan saja… buat dia menikmati semuanya,
Takumi-san…” bisik Mizuki dengan suara serak, napasnya memburu.

Setelah seluruh batangnya masuk sepenuhnya, Takumi berhenti sejenak,


membiarkan tubuh Hikari beradaptasi. Ia merasakan dinding kewanitaan
Hikari yang masih perawan kini memeluk batangnya erat, hangat dan
licin.

“Rasanya… sempit sekali… hangat sekali…” desah Takumi dengan suara


parau.

Hikari menggigit bibirnya, menatap Takumi dengan mata berair. “Aahhh…


Takumi-san… gerakkan… perlahan saja…”

Takumi mulai menarik batangnya perlahan keluar, lalu mendorongnya


kembali masuk dengan gerakan maju mundur yang sangat pelan dan
dalam. Setiap dorongan membuat tubuh Hikari gemetar, desahannya
mulai berubah dari kesakitan menjadi kenikmatan yang perlahan muncul.

“Ahh… ahh… seperti itu… enak sekali…,” desah Hikari, napasnya mulai
bergetar.

Melihat putrinya kini mulai menikmati, Mizuki pun tidak tahan untuk
hanya berdiam. Ia bangkit perlahan, menundukkan tubuhnya ke atas dada
Hikari. Dengan bibirnya yang panas, Mizuki mulai mencium, lalu
menghisap puting putrinya yang kini menegang kencang.

“Mmhh… putingmu keras sekali, Hikari… manis sekali… mama suka


sekali…” bisik Mizuki di sela isapannya, lidahnya memutar di sekitar
puting Hikari.
“Ahhh… mamaaa… ahhh… mama jangan hisap seperti itu… aku… jadi
semakin enak… ahhh…” jerit Hikari, tubuhnya kini terjepit di antara
Takumi yang menghentak dari bawah, dan ibunya yang menghisap penuh
nafsu dari atas.

Sementara itu, tangan kiri Mizuki perlahan menyelinap ke


selangkangannya sendiri, menyentuh bibir kewanitaannya yang masih
menganga setelah dihujani Takumi sebelumnya. Jari-jarinya menelusup
masuk, merasakan licinnya campuran cairan miliknya sendiri dan cairan
kental Takumi yang tadi tumpah di dalamnya.

“Mmhh… ahh… licin sekali… masih penuh dengan benihmu, Takumi-


san…” bisik Mizuki dengan suara berat, sementara jarinya terus bermain
di dalam lubangnya sendiri.

Takumi mempercepat ritme hentakannya, batangnya kini keluar masuk


dengan suara basah yang semakin nyaring. Dinding kewanitaan Hikari
meremas batangnya erat setiap dorongan, membuatnya nyaris
kehilangan kendali.

“H-Hikari… aku… aku akan segera keluar…” desah Takumi, wajahnya


memerah menahan ledakan.

“Ahhh… aku juga… ahhh… aku mau keluar… ahh… Takumi-san… lebih
cepat… lebih dalam… ahhh!” jerit Hikari dengan napas tercekat, tubuhnya
bergetar hebat di bawah hentakan Takumi.

Mizuki yang tak sanggup lagi menahan desahannya juga melenguh keras.
“Aku juga… ahh… aku… aaahhh… keluar… ahh!” jerit Mizuki, jarinya
mempercepat gerakan di dalam lubangnya yang licin.

Takumi menghentak keras untuk terakhir kalinya, batangnya tertancap


sepenuhnya, tubuhnya menegang, lalu melepaskan semburan panasnya
ke dalam lubang muda Hikari.
“AAHHHH!!” desah panjang Takumi, menyemprotkan benih hangatnya
dalam jumlah banyak ke dalam tubuh Hikari, memenuhi bagian terdalam
gadis muda itu.

“AAHHHHH… Takumi-san… hangat… ahhh… aku keluar juga… ahhh!” jerit


Hikari, tubuhnya bergetar keras, cairan kenikmatannya menyembur
bercampur dengan semburan Takumi.

Di saat bersamaan, Mizuki juga mencapai puncaknya, tubuhnya


menegang kencang, jari-jarinya yang bermain di dalam lubangnya kini
dibanjiri cairan kenikmatan yang memancar sangat deras, bercampur
dengan sisa benih Takumi yang sebelumnya.

“Aaahhhhhh… aahhh… aku keluar lagi… banyak sekali… ahhh!” jerit


Mizuki, tubuhnya menggigil hebat.

Ketiganya kini terbaring kelelahan, tubuh mereka basah oleh keringat,


nafas mereka masih berat dan tidak teratur. Cairan bercampur itu
menetes perlahan dari lubang-lubang mereka, membanjiri seprai yang kini
penuh noda putih dan basah. Keheningan panas kembali menyelimuti
ruangan, menyisakan keintiman terlarang yang begitu dalam.

Bab 6: Permainan Tubuh dan Cairan

Nafas mereka perlahan mulai kembali teratur setelah gelombang orgasme


yang baru saja melanda tubuh ketiganya. Hikari terbaring lemas di
samping ibunya, tubuh mudanya yang baru saja merasakan penetrasi
pertama kini terasa begitu sensitif, sementara dari lubang mungilnya
yang masih sedikit terbuka, cairan kental hasil semburan Takumi perlahan
meleleh, membentuk garis putih yang mengalir turun membasahi pangkal
pahanya. Mizuki membelai rambut putrinya lembut, sementara Takumi
yang masih berada di antara kedua tubuh mereka menatap dengan mata
membara.

Batang Takumi yang sempat sedikit mengendur kini kembali mengeras,


terpancing oleh pemandangan di hadapannya yang begitu liar dan
menakjubkan: dua tubuh wanita cantik, satu ibu dan satu anak, yang
sama-sama telanjang dengan tubuh bersimbah cairan kenikmatan.

Dengan suara berat, Takumi berkata pelan, “Hikari… naiklah ke atas tubuh
ibumu. Tungginkan tubuhmu di atasnya.”

Hikari menatap Takumi dengan mata yang masih berair, lalu melirik ke
arah Mizuki yang membalas dengan senyuman penuh kasih, mengangguk
kecil. Tanpa ragu, Hikari perlahan merangkak naik ke atas tubuh ibunya.
Kedua lututnya menapak di sisi pinggul Mizuki, dan dengan perlahan ia
menundukkan tubuhnya ke depan, membuat bokongnya yang putih mulus
dan licin terangkat sempurna, memamerkan bagian intimnya yang masih
mengalirkan sisa cairan putih kental dari lubang sempitnya.

Kini, tubuh Hikari dan Mizuki benar-benar saling menindih. Payudara


mereka yang sama-sama besar dan montok saling beradu, menekan satu
sama lain dengan lembut. Puting mereka yang sama-sama keras saling
bergesekan, menambah rasa panas yang membakar tubuh keduanya.

“Mmhhh… payudaramu lembut sekali, Hikari…” bisik Mizuki dengan napas


memburu, tangannya membelai lembut punggung putrinya.

“Mama juga… besar sekali… ahhh… rasanya aneh tapi enak sekali saling
menempel seperti ini…” desah Hikari sambil memejamkan matanya,
tubuhnya bergetar halus di atas ibunya.

Takumi yang menyaksikan pemandangan luar biasa di hadapannya, kini


memosisikan diri di belakang mereka. Ia menunduk, memegang batang
kerasnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menyentuh
kedua bokong Hikari dan Mizuki yang kini saling menumpuk. Dengan
perlahan, Takumi menempatkan batang panasnya di antara celah kedua
lubang mereka yang begitu kontras: satu milik Mizuki yang dipenuhi bulu
hitam lebat, satu lagi milik Hikari yang mulus bersih dengan sisa cairan
kental yang terus menetes.
“Aku tidak akan memasukinya… hanya menggesekkan batangku di antara
lubang kalian… rasanya hangat sekali…” bisik Takumi dengan suara berat.

Batang keras Takumi mulai menggesek maju mundur di antara kelopak


mereka berdua. Setiap gerakan batangnya menyapu bulu-bulu lebat
Mizuki, lalu menyapu bagian licin Hikari, membuat suara basah bergema
di udara.

“Ahhh… hangat sekali, Takumi-san…” desah Mizuki, tubuhnya bergetar


setiap batang itu menyapu kelopaknya.

“Mmhh… batangnya keras sekali… ahh… enak… lebih cepat, Takumi-


san…” bisik Hikari yang tubuhnya bergetar manja.

Sementara batang Takumi terus bergerak, Mizuki dan Hikari saling


menatap dengan mata yang basah penuh gairah. Tanpa aba-aba, Mizuki
menundukkan wajahnya ke arah dada putrinya, sementara Hikari
melakukan hal yang sama. Bibir mereka masing-masing menempel ke
puting satu sama lain, mulai saling menyedot dan menghisap penuh
nafsu.

“Mamaaa… ahhh… hisapanmu… enak sekali… ahh…” jerit Hikari sambil


menghisap keras puting Mizuki.

“Nnnnhhh… Hikari… putingmu manis sekali…” desah Mizuki, lidahnya


berputar cepat mengelilingi puting keras putrinya, sesekali menghisap
dan menariknya dengan manja.

Takumi yang melihat kedua wanita itu saling bermain di atas ranjang,
semakin mempercepat gerakan gesekannya. Batangnya bergerak lebih
cepat, bergesekan di antara celah basah yang licin, menciptakan suara
basah berirama yang semakin nyaring.

“Ahhh… Mizuki… Hikari… aku… sebentar lagi… aku akan keluar…” desah
Takumi keras, nafasnya berat.
Mizuki yang terus memainkan puting putrinya ikut mendesah keras,
“Ahhh… keluarkan di sini, Takumi-san… ahhh… tumpahkan semuanya di
tubuh kami….”

Takumi mempercepat hentakan terakhirnya, batangnya bergesek keras di


antara lubang mereka yang licin, hingga akhirnya dengan satu desahan
panjang:

“AAHHH...!!!”

Takumi meledak, menyemburkan cairan kentalnya yang banyak,


menembak keluar di sela-sela tubuh Mizuki dan Hikari. Semburan hangat
itu mengenai perut Mizuki terlebih dahulu, lalu mengalir ke bawah,
membasahi perut Hikari yang tepat berada di atas ibunya.

“Hangat… banyak sekali… ahhh…” bisik Hikari sambil mendesah panjang.

Takumi perlahan mengusap batangnya yang masih meneteskan sisa-sisa


cairan kental, sementara Mizuki dan Hikari kini terbaring kembali
berdampingan. Cairan kental Takumi mengalir perlahan di antara perut
mereka, bercampur menjadi genangan kecil di atas kulit putih mereka
yang kini licin dan mengilap.

Dengan tangan lembutnya, Takumi perlahan meratakan cairan itu di atas


perut Mizuki dan Hikari, mengusapnya ke seluruh bagian kulit halus
mereka berdua, membuat suara basah dan aroma hangat memenuhi
udara kamar.

“Lihatlah… tubuh kalian begitu indah dipenuhi benihku… begitu


memuaskan….” Bisik Takumi lirih, senyumnya terukir puas di wajahnya.

Mizuki menatap Takumi dengan mata penuh gairah yang belum


sepenuhnya padam, sementara Hikari memejamkan matanya, menikmati
sensasi lembut tangan Takumi yang mengoleskan cairan hangat itu ke
seluruh perut dan dada mereka.

Keheningan kembali menyelimuti kamar, hanya suara napas berat mereka


bertiga yang terdengar, mengisi udara yang masih dipenuhi aroma panas
kenikmatan.

Bab 7: Keintiman Setelah Malam Panas

Setelah ledakan kenikmatan yang begitu panjang, akhirnya keheningan


manis memenuhi kamar. Cahaya lampu temaram masih menyinari tubuh
ketiganya yang terbaring lemas di atas ranjang besar yang kini penuh
dengan noda basah, bercak putih kental bercampur dengan keringat dan
cairan kenikmatan mereka.

Mizuki dan Hikari kini berbaring saling berhadapan. Mizuki menarik


putrinya dalam pelukannya, tubuh Hikari yang mungil sepenuhnya
tenggelam dalam dekapan ibunya. Payudara besar Mizuki yang montok
kini sepenuhnya menutupi wajah Hikari, menekan pipinya dengan
kelembutan yang hangat dan nyaman. Hikari memejamkan matanya,
bibirnya sedikit tersenyum puas. Dengan kedua tangannya, ia meremas
perlahan kedua payudara ibunya yang menempel di wajahnya, merasakan
kelembutan kenyal yang menghangatkan pipi dan telapak tangannya.

“Mmhh… hangat sekali, mama… payudaramu seperti bantal empuk…”


bisik Hikari setengah mengigau, suaranya manja, pelan, penuh
kenyamanan.

Mizuki tersenyum lembut, membelai rambut panjang putrinya yang


tergerai indah. “Kalau Hikari suka, mama bisa memelukmu seperti ini
setiap malam…” bisik Mizuki, suaranya mengandung kehangatan keibuan
yang penuh kasih sayang, meski hasrat malam sebelumnya masih terasa
samar di balik kelembutan suaranya.

“Mmhh… aku suka sekali, mama… aku ingin seperti ini… setiap malam…”
Hikari mengeratkan pelukannya, meremas kedua payudara ibunya dengan
lembut, lalu melanjutkan, “bau tubuh mama… aroma kita… semuanya…
masih terasa panas…”

Mereka berdua tenggelam dalam dekapan itu, tubuh mereka yang sama-
sama telanjang kini saling bersentuhan rapat. Perut mereka yang
semalam dilumuri cairan kental Takumi kini masih terasa licin, lengket,
dan hangat. Setiap gerakan kecil mereka membuat cairan itu bergeser di
antara kulit mereka, menambah sensasi basah yang aneh namun
memabukkan. Aroma khas tubuh mereka bertiga masih memenuhi udara
kamar.

Sementara itu, Takumi yang terbaring di samping mereka mulai terbangun


perlahan. Matanya terbuka, mengamati kedua wanita yang masih tertidur
lelap dalam pelukan intim mereka. Senyuman kecil muncul di wajah
Takumi, merasa puas dan kagum dengan keindahan yang baru saja
mereka lalui. Ia memperhatikan bagaimana tubuh Mizuki dan Hikari begitu
cocok saling berpelukan — payudara besar mereka saling menekan, kulit
mereka yang licin oleh cairan kental masih berkilauan diterpa cahaya pagi
yang mulai merayap pelan ke dalam kamar.

Takumi bangkit perlahan dari tempat tidur, berusaha sebisa mungkin tidak
membangunkan keduanya. Ia menunduk, menatap sebentar wajah tenang
mereka yang masih tertidur, lalu memutuskan untuk meninggalkan kamar
tanpa membangunkan mereka. Ia tak ingin mengganggu ketenangan
mereka setelah malam yang begitu intens. Takumi tahu, pagi ini tubuh
mereka pasti masih lelah dan sensitif setelah semua yang terjadi
semalam.

Tanpa membersihkan diri, tanpa mengenakan kembali pakaian


sepenuhnya, Takumi mengenakan hanya celananya, lalu berjalan perlahan
meninggalkan ruangan. Aroma tubuh mereka bertiga masih menempel di
kulitnya. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan
suasana kamar yang kini hanya berisi Mizuki dan Hikari dalam kehangatan
keintiman mereka.

Beberapa waktu berlalu, sinar matahari pagi mulai menembus tirai kamar,
menyinari wajah Mizuki yang perlahan membuka matanya. Ia menarik
nafas panjang, menikmati kehangatan tubuh putrinya yang masih
menempel erat di pelukannya. Ia menundukkan wajahnya, menatap Hikari
yang masih memejamkan mata dengan bibir mungil yang sedikit terbuka,
wajahnya tenang, penuh kedamaian.

“Hikari…” bisik Mizuki pelan, mengusap rambut putrinya dengan lembut.

Mata Hikari perlahan membuka, melihat wajah ibunya dari jarak begitu
dekat. Ia tersenyum kecil, mengeratkan pelukannya.

“Pagi, mama…” bisiknya manja, suaranya masih serak oleh sisa kantuk.

Mizuki membalas senyum itu. “Pagi, sayang…”

Hikari lalu menyadari sesuatu. Ia melirik ke samping, namun tak


menemukan Takumi di sana. “Mama… Takumi-san… sudah pergi?”

Mizuki mengangguk pelan. “Sepertinya iya. Mungkin dia tidak ingin


membangunkan kita…”

Hikari mengerucutkan bibirnya manja, lalu memeluk tubuh ibunya lebih


erat lagi. Tubuh mereka kini benar-benar saling melekat rapat, perut
mereka saling menempel, dan sekali lagi mereka merasakan sensasi
lengket dari cairan kental yang semalam diratakan oleh Takumi di perut
mereka. Setiap gerakan kecil membuat cairan yang kini sudah sedikit
mengental itu bergeser, menambah sensasi basah di antara kulit mereka
yang bersih, lembut, dan kini saling menggosok.

“Mmhhh… masih terasa lengket ya, mama…” gumam Hikari dengan


senyum kecil, sementara pipinya menekan payudara ibunya.

Mizuki tersenyum, membelai punggung putrinya dengan lembut. “Iya…


benih Takumi-san masih ada di tubuh kita. Mama masih bisa merasakan
panasnya di dalamku…” bisiknya lembut, nafasnya terasa sedikit berat
saat mengingat lagi semua kenikmatan yang mereka alami semalam.
“Aku juga… masih bisa merasakan dia… di dalamku tadi…” bisik Hikari
malu-malu, pipinya memerah, tapi ada kebahagiaan di matanya.

Mereka berdua kembali tenggelam dalam pelukan hangat di atas ranjang


yang masih basah oleh sisa-sisa malam liar mereka.

Bab 8: Sentuhan Hangat di Kamar Mandi

Setelah beberapa saat berbaring dalam kehangatan pelukan, akhirnya


Mizuki perlahan menggerakkan tubuhnya, membuka matanya yang masih
sedikit berat, lalu menatap wajah putrinya yang juga menatapnya penuh
senyum. Cahaya pagi sudah masuk penuh ke dalam kamar,
menghangatkan ruangan dan menambah nuansa lembut pada kulit
mereka yang masih telanjang dan sedikit lengket oleh sisa kenikmatan
semalam.

“Hikari… bagaimana kalau kita mandi bersama?” bisik Mizuki dengan


suara lembut, jemarinya menyapu rambut panjang Hikari yang terurai
berantakan.

Hikari mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru
saja ditawari permen manis. “Ayo, mama. Tubuh kita lengket sekali, aku
ingin membersihkan semuanya sambil… bersama mama.” Suaranya
manja dan sedikit mengandung godaan.

Mizuki tersenyum, lalu keduanya bangkit perlahan dari ranjang,


membiarkan genangan cairan kental yang melekat di kulit mereka
menetes turun mengikuti gerakan tubuh mereka. Mereka berjalan pelan
menuju kamar mandi, tanpa kain sehelai pun yang menutupi tubuh indah
mereka.

Begitu memasuki kamar mandi yang luas, Mizuki menyalakan shower air
hangat. Uap pelan mulai memenuhi ruangan, menciptakan kabut tipis
yang membuat kulit mereka terlihat semakin lembut berkilauan. Air
hangat mulai mengalir membasahi tubuh mereka, membilas perlahan
cairan kenikmatan yang menempel di kulit.

Sambil berdiri di bawah shower, Hikari menatap punggung ibunya yang


indah. Lekuk tubuh Mizuki begitu sempurna — pinggang ramping,
punggung halus, hingga pinggul lebar yang proporsional, dan tentu saja,
bulu hitam lebat di bawah tubuhnya yang sesekali terlihat samar dari
belakang. Dengan suara pelan, Hikari berkata, “Mama… boleh aku yang
menggosok punggung mama?”

Mizuki menoleh sedikit ke belakang dan tersenyum lembut. “Tentu,


sayang. Silakan.”

Hikari mengambil spons lembut yang sudah diberi sabun berbusa, lalu
perlahan menggosok punggung ibunya. Namun saat ia maju sedikit
mendekat, tubuhnya ikut menempel pada tubuh Mizuki dari belakang.
Payudara Hikari yang besar dan montok kini menekan punggung ibunya,
menambah sensasi hangat dari sentuhan air.

“Mmmhh… punggung mama halus sekali…” bisik Hikari, sementara busa


sabun menutupi kulit putih ibunya. Gerakan gosokannya lembut, sesekali
membuat kedua payudara mereka bersentuhan lebih erat dengan gerakan
maju mundur kecil.

Mizuki menahan nafas sejenak merasakan payudara putrinya menempel


di punggungnya. “Hikari… payudaramu juga terasa begitu lembut di
punggung mama… nakal sekali kau…” bisiknya sambil tersenyum nakal.

Tangan Hikari tak berhenti sampai situ. Setelah puas menggosok


punggung, kedua tangannya perlahan merayap ke depan, menyelinap
memeluk perut ibunya, lalu naik ke atas, meraih kedua payudara besar
milik Mizuki. Jemarinya dengan lembut meremasnya perlahan, menikmati
kelembutan kenyal yang begitu menggoda.
“Mmhh… mama… payudaramu… benar-benar besar dan empuk sekali…
bahkan lebih besar dari punyaku…” bisik Hikari penuh kekaguman,
nafasnya hangat membelai tengkuk Mizuki.

Mizuki sedikit mendongakkan kepala, menikmati sentuhan putrinya.


“Hmmm… tanganmu lihai sekali, Hikari… mama tidak menyangka putriku
akan begitu berani…” bisiknya dengan desahan manja.

Setelah beberapa saat puas bermain dengan payudara ibunya, tangan


Hikari mulai turun perlahan ke bawah, menyusuri perut rata Mizuki,
hingga akhirnya sampai ke selangkangan yang lebat dengan bulu hitam
yang sudah basah oleh air dan busa.

Dengan lembut, jemarinya mengusap bagian itu, merasakan bulu-bulu


lembut basah yang memenuhi area tersebut, sementara ujung jarinya
menelusup perlahan ke sela bibir kewanitaan Mizuki yang licin.

“Mama…” bisik Hikari, “kenapa punyamu berbulu lebat begini…


sementara punyaku bersih mulus tanpa bulu…”

Mizuki terkekeh kecil, tubuhnya sedikit bergetar karena sentuhan lembut


Hikari di lubangnya. “Itu karena mama sudah dewasa sepenuhnya,
sayang… bulu itu tumbuh seiring bertambahnya usia. Kau masih muda…
tapi nanti, kalau kau sudah seusia mama… mungkin punyamu juga akan
tumbuh lebat seperti ini…” bisik Mizuki menggoda, tangannya meraih
tangan Hikari yang kini bermain di lubangnya, memandunya sedikit.

“Begitu ya… hmmm… aku penasaran bagaimana nanti bentuknya…” bisik


Hikari sambil terus mengusap perlahan, merasakan licinnya lubang
Mizuki.

Setelah beberapa menit bermain, akhirnya Mizuki berbalik badan,


menatap Hikari dengan senyum penuh godaan. “Sekarang… giliranku
menggosokmu, sayang.”
Hikari tersenyum malu-malu, mengangguk. Ia membalikkan badan,
membiarkan punggungnya menghadap Mizuki. Dengan spons yang penuh
busa, Mizuki mulai menggosok punggung Hikari, menelusuri kulit putih
mulus itu dengan gerakan lembut.

“Mmhh… punggungmu halus sekali, Hikari… begitu mulus… kulitmu


seperti sutra…” bisik Mizuki sambil terus menggosok perlahan.

Setelah puas membersihkan tubuh mereka, kini mereka masuk ke bathtub


kecil di sudut kamar mandi. Bathtub itu cukup sempit untuk berdua,
membuat tubuh mereka saling menempel erat ketika mereka duduk saling
berhadapan di dalam air hangat.

Mizuki menekuk kakinya, lalu kedua telapak kakinya secara nakal


merayap ke selangkangan Hikari yang terbuka di depannya. Dengan
lembut, ujung jari kakinya menyelusup ke dalam lubang kecil Hikari yang
masih sangat sensitif.

“Ahhh… mamaaa… nakal…” desah Hikari dengan suara manja, pipinya


langsung memerah. “Kakimu… masuk ke dalamku…”

Mizuki tersenyum nakal, menatap wajah memerah putrinya. “Rasanya


bagaimana, sayang?” bisiknya sambil terus menggerakkan jari kakinya di
dalam lubang kecil Hikari yang licin itu.

“Mmhh… enak sekali… hangat… ahhh… mama memang selalu tahu cara
membuatku… meleleh…” bisik Hikari sambil menahan desahan yang terus
keluar dari bibir mungilnya.

Mereka berdua larut dalam kehangatan air yang mulai beriak perlahan
karena gerakan tubuh mereka yang saling bermain di dalam bathtub
sempit itu. Suasana kamar mandi kini kembali dipenuhi suara basah,
desahan manja, dan keintiman yang tak lagi mengenal batas antara ibu
dan anak.

Anda mungkin juga menyukai